Orang-orang
sudah mengenal Badrun sebagai lelaki yang gemar foya-foya, terutama orang-orang
di desa tempat tinggalnya. Hampir seluruh waktu hidupnya ia gunakan untuk bersenang-senang,
menuruti hawa nafsu yang tak pernah cukup, sehingga ia tak pernah beribadah
sedikit pun.
Badrun bukan orang kaya, juga bukan
orang miskin, namun ia pekerja keras. Jika sedang butuh uang, lelaki 32 tahun
itu langsung bekerja untuk mendapatkan sejumlah uang yang ia inginkan.
Sayangnya, uang hasil jerih payahnya itu hanya ia habiskan untuk bermaksiat. Ia
tidak pernah main wanita. Hobinya hanya mabuk, merokok, main kartu dan ngobrol
bersama teman-temannya dengan suara gaduh. Ia ngobrol sampai larut malam,
bahkan juga sering sampai pagi. Tidak heran kalau tetangganya banyak yang
mengeluh.
Statusnya duda. Istrinya ia ceraikan
4 bulan yang lalu. Istrinya yang cantik,
manis dan pintar itu minta cerai karena ia merasa Badrun sudah tidak
memperhatikannya lagi. Badrun sudah tidak memperlakukannya sebagai seorang
istri. Bahkan Badrun sering memukulnya karena ia selalu menasehati agar Badrun
berhenti minum memabukkan dan ngobrol-ngobrol yang tidak berfaedah sampai larut
malam. Ia selalu berharap agar Badrun mau bertobat.
Setelah menceraikan sang istri,
Badrun tidak sedih atau menyesal sedikit pun. Bahkan ia semakin gembira hidup sendirian
di rumah kontrakannya yang kecil namun rapi. Ia bisa semakin bebas berfoya-foya
bersama kawan-kawannya yang juga bejat. Demikianlah akhlak Badrun sehari-hari,
sehingga wajar jika ia dijuluki ‘Si
Rakus’ oleh setiap orang yang sudah mengenalnya.
*****
Suatu hari, Badrun ingin jalan-jalan
ke kota dengan motor bebeknya. Melihat cuaca pagi yang begitu cerah dan segar,
Badrun langsung mengurungkan niatnya untuk pergi dengan kendaraan. Ia pun pergi
dengan berjalan kaki.
“Sekalian olah raga.” Gumam pria
bertubuh pendek namun kekar ini. Sekitar 40 menit setelah Badrun
meninggalkan desanya, ia bertemu dengan
Kyai Isa, orang alim dan sholeh yang juga sudah terkenal di desanya Badrun dan
sekitarnya.
“Assalamu’alaikum..” sapa pria
berusia 37 tahunan itu sambil tersenyum ramah. Posturnya langsing dan agak
tinggi. Rambut agak gondrong, muka brewokan rapi. Ia dan Badrun bersalaman.
Badrun yang sebenarnya tidak suka dengan kehadiran Isa, pura-pura tersenyum
gembira. Isa berkata lembut, “Kalau Mas Badrun tidak keberatan, ijinkan aku
menemani Mas Badrun jalan-jalan.”
“Tapi Kyai sibuk?”
Isa tersenyum sambil menggelengkan
kepala. “Kebetulan hari ini aku lagi senggang.”
Badrun yang sebenarnya ingin menjauhi
Isa, bergumam, “Katanya dia sakti karena kesholehannya. Aku jadi
penasaran…kesaktian macam apa yang dia miliki. Ya sudahlah, daripada penasaran
terus, lebih baik kujalani dulu. Siapa tahu, nanti aku juga bisa dapat
kesaktiannya. Hah ha!”
Dengan pura-pura gembira,
Badrun meminta Isa untuk menemaninya jalan-jalan. Isa benar-benar seperti
mendapat nikmat besar. Ia yang sudah lama mendengar nama Si Rakus, pagi ini bisa bertemu
langsung, bahkan bisa berkenalan dengan pria yang selama ini baru didengarnya.
Setengah jam kemudian, tibalah mereka
di hutan yang tidak lebat. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Isa mengeluarkan
tiga potong roti gandum dari tasnya. Ia berikan yang sepotong pada Badrun.
Seusai makan, Isa pergi ke sungai untuk minum dan membasuh muka. Begitu
kembali, Isa terkejut melihat roti yang masih sepotong tadi hilang.
“Mana rotinya?”
“Aku tidak tahu..” sahut Badrun
tenang. Isa tersenyum ramah, lalu mengajak Badrun berjalan lagi. Setelah hari
semakin siang, mereka beristirahat lagi di bawah pohon rindang. Isa melihat
seekor rusa betina yang sedang mengasuh dua anaknya. Isa menangkap yang seekor,
lalu ia sembelih binatang lucu itu, kemudian membakarnya.
“Ini menu makan siang kita,” ujarnya.
Badrun yang kebetulan membawa sedikit garam, langsung membumbui rusa bakar itu
dengan garamnya. Setelah kenyang
menyantap rusa bakar, Isa mengarahkan kelima jari kanannya ke jasad rusa yang
tinggal tumpukan tulang dan sedikit daging, lalu berkata, “Hiduplah lagi..atas
ijin Allah.”
Seketika itu juga rusa yang dimakannya
bersama Badrun hidup lagi dengan kondisi
fisik utuh seperti sedia kala. Ia langsung kembali ke ibu dan saudaranya. Tentu
saja Badrun melotot. Ia berseru dalam hati, ”Luar biasa! Sungguh luar biasa!
Dia benar-benar sakti mandraguna, seperti yang diomongkan orang selama ini.”
Isa yang melihat Badrun
terlongong-longong, berkata lembut, “Demi Allah, Zat yang memperlihatkan keajaiban ini…siapa
yang mengambil sepotong roti tadi?”
“Aku tidak tahu.” Sahut Badrun
pura-pura tenang. Hatinya bergetar keras oleh keajaiban yang pertama kali ia
lihat dalam hidupnya. Namun karena angkuh, ia berusaha untuk terlihat
wajar-wajar saja. Kemudian keduanya meneruskan
perjalanan mereka yang tertunda.
Tak lama kemudian, tibalah dua pria ini di tepi sungai yang arusnya tenang.
Isa memegang tangan Badrun, lalu
mengajaknya berjalan di atas sungai sampai ke seberang. Badrun kian
terperangah. Hatinya berseru, “Ini benar-benar luar biasa! Dia benar-benar
manusia setengah malaikat! Atau bisa juga malaikat sendiri.”
Isa kembali bertanya dengan lembut,
“Demi Zat yang memperlihatkan keajaiban ini, kutanya sekali lagi. Siapa yang
sudah mengambil roti tadi?”
“Aku tidak tahu.”
Isa tersenyum. Beberapa saat kemudian
Isa mengambil tanah dan kerikil, lalu berkata, “Jadilah emas atas ijin Allah.”
Seketika itu juga tanah dan kerikil
di genggaman tangan kanannya itu berubah menjadi emas. Ia taruh emas itu di
atas kayu, lalu ia bagi menjadi tiga bagian. Ia tatap Badrun yang masih
bengong, lalu berujar, “Satu untukku, satu untuk kamu, satu lagi untuk yang
mengambil roti.”
“AKU!” seru Badrun gembira. “Aku yang
sudah makan roti tadi! Maafkan aku Kyai. Tadi aku masih lapar. Aku terpaksa bohong karena nggak enak sama
Kyai.”
“Akhirnya kamu mau jujur,” gumam Isa tersenyum, “Benar-benar rakus.”
Akhirnya Isa memberikan semua emas
itu pada Badrun, lalu memohon diri. Badrun pun bersorak gembira. la berkata, “Dengan harta ini, aku
bisa meraih apapun yang kuinginkan. Ha
ha ha! Badrun memang selalu mujur!”
Namun tak lama kemudian
Badrun terkejut oleh kehadiran dua pria kekar bertampang sangar. Keduanya
membawa golok. Rupanya mereka perampok, dan sekarang mereka juga menginginkan
emas di tangan Badrun. Badrun yang biasanya pemberani, kali ini ketakutan.
Namun ia yang angkuh, jelas tidak mau langsung menyerah. Ia memutuskan untuk
membagi emasnya pada dua perampok tersebut.
“Baik, kami setuju.” Sahut salah satu
perampok. Setelah keduanya berdamai dengan Badrun, pria yang berkumis meminta
kawannya yang berbaju merah untuk membeli makanan di warung yang ada di sekitar
tempat itu. Si baju merah pun pergi mencari makan. Di tengah jalan, iblis
membisiki hatinya, “Buat apa kamu bagi emas itu untuk mereka? Lebih baik kamu
lahap semua. Betul tidak?”
Dia yang lemah iman, langsung
mengiyakan bisikan iblis itu. Makanan yang ia beli itu langsung ia bumbui
racun. Demikian juga dengan Badrun dan
pria berkumis yang masih menunggu makanan datang. Badrun berkata, “Buat
apa kita bagi emas ini untuk dia? Lebih
baik untuk kita berdua saja. Gimana?”
“Setuju sekali!” sahut si kumis.
Begitu kawannya datang, ia langsung mengambil goloknya, lalu ia tusukkan ke
dada kiri kawannya sendiri. Setelah si baju merah mati, ia dan Badrun langsung
menyantap makanan yang tadi dibeli kawannya. Beberapa suap masih terasa lezat,
namun sesaat kemudian Badrun berkata, “Rasanya kok jadi aneh?”
Beberapa detik setelah berkata
begitu, Badrun seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Matanya melotot,
kulitnya membiru, tubuhnya mengejang,
dan akhirnya matilah ia. Rupanya Si Rakus tersengat racun di makanan
tersebut. Tentu saja si kumis terkejut bukan main. Dan beberapa detik kemudian
ia mengalami hal yang sama. Ia mati oleh racun hasil racikan kawannya sendiri.
Tak lama kemudian datanglah Isa
bersama lima santrinya yang masih muda belia. Kelima pemuda itu
terlongong-longong. Sangat berbeda dengan sang guru yang terlihat tenang. Ia
mendekati jasad Badrun dan dua perampok, lalu berkata lembut pada semua
muridnya, “Beginilah dunia dan segala
nikmatnya. Karena itu, berhati-hatilah kalian terhadap dunia.”

0 comments:
Post a Comment