Di sebuah
negeri antah berantah, hiduplah seorang raja Muslim yang sangat taat pada agama.
Namanya Luqman. Ia sudah terkenal sebagai raja yang sholeh. Negeri yang dipimpinnya hanya sebuah negeri kecil, namun
kehidupannya sangat tentram dan damai. Semua itu berkat sistem pemerintahan
yang adil dan bijaksana.
Di suatu malam yang dingin, Luqman
dan salah seorang pembantunya berjalan-jalan ke pelosok desa yang jarang
dijamah orang. Luqman sengaja melakukan itu agar ia bisa lebih tahu keadaan
rakyatnya. Beberapa langkah kemudian Luqman melihat nyala api. Ia tatap
pembantunya, lalu berkata, “Ada yang menyalakan api unggun. Mungkin ada yang
lagi kedinginan. Ayo kita ke sana!”
Luqman dan pembantunya bergegas ke
tempat nyala api itu. Setelah sampai, pria bertubuh gempal ini melihat seorang
wanita berusia hampir 50 tahun. Wanita itu bersama tiga anaknya yang masih
kecil. Dua perempuan satu lelaki. Mereka duduk mengitari wajan besar di atas
api unggun. Tiga bocah yang masih polos itu mengeluh kelaparan.
“Kami lapar Ibu..lapar.” ujar seorang
anak perempuan. “Sudah dua hari aku tidak makan. Perutku perih sekali!”
“Bersabarlah Nak!” sahut sang Ibu
menenangkan. “Tunggu sampai makanannya masak.”
“Kami sudah menunggu sejak tadi
sore,” kata seorang anak lelaki, “masa’ sampai sekarang makanannya belum
masak!?”
Kata-kata itu sangat mengiris hati
sang Ibu. Luqman yang sudah mendekat, berkata, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” sahut sang Ibu
agak cuek.
“Apa aku boleh mendekat?”
“Mendekatlah kalau anda membawa
kebaikan. Kalau tidak, pergilah!”
“Apa yang sedang terjadi di sini?”
“Kami sudah dua hari tidak makan.
Kami kedinginan dan kelaparan.”
“Apa Ibu tidak berniat melapor ke
paduka raja?”
“Paduka Luqman!?” sahut si wanita agak kesal. “Huh! Dia yang
seharusnya tahu keadaan kami. Dia punya kuda banyak dan pasukan. Kalau dia tahu
rakyatnya ada yang kelaparan dan kedinginan, harusnya dia tidak bisa makan
kenyang dan tidur nyenyak.”
Kata-kata itu sangat menusuk hati Luqman yang terdalam. Amarah pemuda
pembantu Luqman meledak. Hatinya berseru, “Kurang ajar kamu! Perempuan bodoh
tak tahu diri! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!”
Pemuda bertubuh atletis ini hendak
menindak sang wanita, namun Luqman mencegahnya, memintanya untuk bersabar dan
mau mengerti keadaan wanita di hadapannya.
Setelah hening beberapa saat, Luqman dan pembantunya mohon pamit pada
wanita yang tidak begitu menggubris kehadiran mereka. Sambil berjalan pulang, Luqman menatap langit
malam yang dihiasi bintang. Hatinya yang terasa pedih, bergumam;
“Ya Allah..ampunilah aku kalau selama
ini aku belum bisa jadi pemimpin yang baik. Ampunilah aku kalau selama ini aku
masih egois, masih mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang
banyak, dan masih jarang memperhatikan kebutuhan dan penderitaan rakyatku.”
Sesaat kemudian, tibalah dua pria ini
di gudang penyimpanan makanan. Luqman mengambil sekarung gandum, lalu berkata
pada pembantunya, “Ayo, naikkan ke bahuku! Cepat!”
“Jangan Paduka,” sahut si Pembantu,
“biar saya saja yang membawa.”
Niat baik itu malah membuat Luqman
marah. Ia berkata, “Apa kamu juga mau memikul dosaku pada hari kiamat nanti!?”
Si Pembantu tidak bisa menjawab.
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menaikkan karung gandum itu ke bahu
Luqman. Luqman pun kembali ke rumah wanita tadi dengan tergesa-gesa. Ia juga
membawa ember kecil berisi minyak samin. Ketika sampai di tujuan, Luqman
melihat api yang memasak air di wajan besar itu nyaris mati. Ketiga anak yang kelaparan tadi
sudah tidur.
Setelah diam beberapa saat, Luqman
menambah air di wajan tersebut, lalu memasukkan gandum di karung dengan kedua
tangannya. Ia aduk gandum dan air itu dengan sendok besar dari kayu. Setelah
matang, ia berkata pada si wanita, “Sekarang bangunkan anak-anakmu. Makanan
sudah siap.”
Ketiga anak yang kelaparan itu
langsung makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, mereka tidur lagi dengan
pulas. Ibunya menatap Luqman dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata lembut, “Aku
tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa
bilang, jazakallahu khairan katsira. Semoga
Allah membalas kebaikan anda ini dengan pahala yang berlipat ganda.”
“Amin!” sahut Luqman tersenyum. Ia
langsung memohon diri karena sudah mengantuk. Si Pembantu yang masih berdiri di
hadapan sang wanita, berkata,
“Besok Bu Imah dipersilahkan datang
ke istana raja. Tuan Luqman akan memberikan hak Ibu sebagai rakyat yang
dipelihara negara.”
“Baiklah. Insya Allah besok pagi aku
ke sana. Makasih banyak ya Mas?”
“Sama-sama.”
Keesokan harinya, Halimah atau Imah
mendatangi istana negara untuk menemui rajanya. Ketika bertemu sang raja, mata
Imah melotot. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Sang raja yang selama ini
baru ia dengar namanya itu ternyata lelaki yang semalam telah menyantuni ketiga
anaknya yang kelaparan. Dengan tubuh bergetar
keras, Imah berlutut di hadapan Luqman, lalu berkata,
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya,
Paduka Luqman. Mohon maaf kalau tadi malam saya berbuat atau bicara kurang
sopan terhadap Paduka. Hukumlah saya.”
Luqman meminta Imah untuk berdiri,
lalu berkata lembut, “Ibu Halimah, kita ini sama di mata Allah SWT. Yang
membedakan hanya tingkat ketakwaan kita kepadaNya.”
Malam harinya, tepatnya pada dini
hari menjelang Shubuh, Imah sholat tahajud dengan sangat khusyuk. Seusai
sholat, wanita setengah abad berwajah lumayan ini berdoa;
“Ya Allah ya Rahman ya Rahim…Tuhan
yang Maha Pengasih dan Penyayang…penuhilah dunia ini dengan orang-orang seperti
Tuan Luqman, agar kedamaian bisa terus menyelimuti kehidupan di alam fana ini. Jadikanlah
pemimpin-pemimpin masa depan negeri kecil ini seperti Paduka Luqman. Jadikanlah
pemimpin-pemimpin masa depan sebagai Luqman-Luqman junior, agar negeri kecil
ini bisa terus mendapat curahan kasih sayangMu.
Ya Allah ya Tuhan kami…muliakanlah
akhlak para pemimpin di seluruh dunia. Kalau tidak, singkirkan saja mereka.
Dengan kasihMu yang seluas langit dan bumi, muliakanlah akhlak para pemimpin di
setiap negara, termasuk Negara Tercinta Republik Indonesia. Jadikanlah akhlak
pemimpinnya seperti akhlak Luqman, baik pemimpin yang sekarang maupun yang akan
datang. Allahumma amin.
Yogyakarta, November 2011 (HARRY PUTER)

0 comments:
Post a Comment