Saturday, 29 June 2013

Pemimpin Teladan

Di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang raja Muslim yang sangat taat pada agama. Namanya Luqman. Ia sudah terkenal sebagai raja yang sholeh.  Negeri  yang dipimpinnya hanya sebuah negeri kecil, namun kehidupannya sangat tentram dan damai. Semua itu berkat sistem pemerintahan yang adil dan bijaksana.




          Di suatu malam yang dingin, Luqman dan salah seorang pembantunya berjalan-jalan ke pelosok desa yang jarang dijamah orang. Luqman sengaja melakukan itu agar ia bisa lebih tahu keadaan rakyatnya. Beberapa langkah kemudian Luqman melihat nyala api. Ia tatap pembantunya, lalu berkata, “Ada yang menyalakan api unggun. Mungkin ada yang lagi kedinginan. Ayo kita ke sana!”
           Luqman dan pembantunya bergegas ke tempat nyala api itu. Setelah sampai, pria bertubuh gempal ini melihat seorang wanita berusia hampir 50 tahun. Wanita itu bersama tiga anaknya yang masih kecil. Dua perempuan satu lelaki. Mereka duduk mengitari wajan besar di atas api unggun. Tiga bocah yang masih polos itu mengeluh kelaparan.
          “Kami lapar Ibu..lapar.” ujar seorang anak perempuan. “Sudah dua hari aku tidak makan. Perutku perih sekali!”
          “Bersabarlah Nak!” sahut sang Ibu menenangkan. “Tunggu sampai makanannya masak.”
           “Kami sudah menunggu sejak tadi sore,” kata seorang anak lelaki, “masa’ sampai sekarang makanannya belum masak!?”
          Kata-kata itu sangat mengiris hati sang Ibu. Luqman yang sudah mendekat, berkata, “Assalamu’alaikum.”
          “Wa’alaikumussalam,” sahut sang Ibu agak cuek.          
          “Apa aku boleh mendekat?”
          “Mendekatlah kalau anda membawa kebaikan. Kalau tidak, pergilah!”
          “Apa yang sedang terjadi di sini?”
          “Kami sudah dua hari tidak makan. Kami kedinginan dan kelaparan.”
          “Apa Ibu tidak berniat melapor ke paduka raja?”
          “Paduka Luqman!?”  sahut si wanita agak kesal. “Huh! Dia yang seharusnya tahu keadaan kami. Dia punya kuda banyak dan pasukan. Kalau dia tahu rakyatnya ada yang kelaparan dan kedinginan, harusnya dia tidak bisa makan kenyang dan tidur nyenyak.”
            Kata-kata itu sangat menusuk hati Luqman yang terdalam. Amarah pemuda pembantu Luqman meledak. Hatinya berseru, “Kurang ajar kamu! Perempuan bodoh tak tahu diri! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!”
          Pemuda bertubuh atletis ini hendak menindak sang wanita, namun Luqman mencegahnya, memintanya untuk bersabar dan mau mengerti keadaan wanita di hadapannya.  Setelah hening beberapa saat, Luqman dan pembantunya mohon pamit pada wanita yang tidak begitu menggubris kehadiran mereka.  Sambil berjalan pulang, Luqman menatap langit malam yang dihiasi bintang. Hatinya yang terasa pedih, bergumam;
          “Ya Allah..ampunilah aku kalau selama ini aku belum bisa jadi pemimpin yang baik. Ampunilah aku kalau selama ini aku masih egois, masih mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak, dan masih jarang memperhatikan kebutuhan dan penderitaan rakyatku.”
          Sesaat kemudian, tibalah dua pria ini di gudang penyimpanan makanan. Luqman mengambil sekarung gandum, lalu berkata pada pembantunya, “Ayo, naikkan ke bahuku! Cepat!”
          “Jangan Paduka,” sahut si Pembantu, “biar saya saja yang membawa.”
          Niat baik itu malah membuat Luqman marah. Ia berkata, “Apa kamu juga mau memikul dosaku pada hari kiamat nanti!?”
          Si Pembantu tidak bisa menjawab. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menaikkan karung gandum itu ke bahu Luqman. Luqman pun kembali ke rumah wanita tadi dengan tergesa-gesa. Ia juga membawa ember kecil berisi minyak samin. Ketika sampai di tujuan, Luqman melihat api yang memasak air di wajan besar itu nyaris mati. Ketiga anak yang kelaparan tadi sudah tidur. 
           Setelah diam beberapa saat, Luqman menambah air di wajan tersebut, lalu memasukkan gandum di karung dengan kedua tangannya. Ia aduk gandum dan air itu dengan sendok besar dari kayu. Setelah matang, ia berkata pada si wanita, “Sekarang bangunkan anak-anakmu. Makanan sudah siap.”
          Ketiga anak yang kelaparan itu langsung makan dengan lahapnya. Setelah kenyang, mereka tidur lagi dengan pulas. Ibunya menatap Luqman dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata lembut, “Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa bilang, jazakallahu khairan katsira. Semoga Allah membalas kebaikan anda ini dengan pahala yang berlipat ganda.”
          “Amin!” sahut Luqman tersenyum. Ia langsung memohon diri karena sudah mengantuk. Si Pembantu yang masih berdiri di hadapan sang wanita, berkata,
          “Besok Bu Imah dipersilahkan datang ke istana raja. Tuan Luqman akan memberikan hak Ibu sebagai rakyat yang dipelihara negara.”              
          “Baiklah. Insya Allah besok pagi aku ke sana. Makasih banyak ya Mas?”
          “Sama-sama.”
          Keesokan harinya, Halimah atau Imah mendatangi istana negara untuk menemui rajanya. Ketika bertemu sang raja, mata Imah melotot. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Sang raja yang selama ini baru ia dengar namanya itu ternyata lelaki yang semalam telah menyantuni ketiga anaknya yang kelaparan. Dengan tubuh bergetar  keras, Imah berlutut di hadapan Luqman, lalu berkata,
          “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Paduka Luqman. Mohon maaf kalau tadi malam saya berbuat atau bicara kurang sopan terhadap Paduka. Hukumlah saya.”    
          Luqman meminta Imah untuk berdiri, lalu berkata lembut, “Ibu Halimah, kita ini sama di mata Allah SWT. Yang membedakan hanya tingkat ketakwaan kita kepadaNya.”
          Malam harinya, tepatnya pada dini hari menjelang Shubuh, Imah sholat tahajud dengan sangat khusyuk. Seusai sholat, wanita setengah abad berwajah lumayan ini berdoa;
          “Ya Allah ya Rahman ya Rahim…Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang…penuhilah dunia ini dengan orang-orang seperti Tuan Luqman, agar kedamaian bisa terus menyelimuti kehidupan di alam fana ini. Jadikanlah pemimpin-pemimpin masa depan negeri kecil ini seperti Paduka Luqman. Jadikanlah pemimpin-pemimpin masa depan sebagai Luqman-Luqman junior, agar negeri kecil ini bisa terus mendapat curahan kasih sayangMu.
          Ya Allah ya Tuhan kami…muliakanlah akhlak para pemimpin di seluruh dunia. Kalau tidak, singkirkan saja mereka. Dengan kasihMu yang seluas langit dan bumi, muliakanlah akhlak para pemimpin di setiap negara, termasuk Negara Tercinta Republik Indonesia. Jadikanlah akhlak pemimpinnya seperti akhlak Luqman, baik pemimpin yang sekarang maupun yang akan datang. Allahumma amin.

Yogyakarta, November 2011 (HARRY PUTER)
                                                                                     

0 comments:

Post a Comment

 
;