Hari Sabtu tanggal 5 Juli 2008 besok, Iskandar
dan Isma akan berangkat ke Bandung, sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab
sebelumnya. Isma dan Kandar akan mengucapkan: ‘Selamat tinggal, perum. Bumi Indah tercinta.’ Alangkah sedihnya
sebagian besar penduduk Bumi Indah, terutama ibu-ibu arisan dan jama’ah
pengajian Al-furqan. Mereka harus kehilangan salah satu tetangga terbaik
mereka. Ismayani Puspita Iskandar, penjual kue bolu yang cantik, pintar dan
pemurah. Walaupun hanya dua setangah tahun tinggal di komplek Bumi Indah,
kehadirannya benar-benar sudah memberi arti yang sangat besar bagi kehidupan
komplek elit tersebut.
Showing posts with label Bolu-Bolu Cinta. Show all posts
Showing posts with label Bolu-Bolu Cinta. Show all posts
Singkat
cerita, tibalah Hamdi cs di desa Kates Abang. Sebuah desa terpencil di ujung
utara Pulau Jawa. Waktu menunjukkan pukul empat kurang seperempat. Seorang pria
tua dari desa sebelah melarang Hamdi cs masuk ke desa mati tersebut. Alasannya
karena desa itu sangat angker. Siapa pun yang sudah masuk ke desa Kates Abang,
yang akan keluar hanya namanya. Desa itu memang terkenal dengan hal-hal
ghaibnya, termasuk untuk mendalami ilmu-ilmu santet. Lelaki tua itu mengatakan,
yang bisa masuk ke desa keram
Malam itu Kandar
berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap.
Semuanya terlihat hitam pekat. Kandar benar-benar merinding. Bagaimana mungkin
ada tempat yang tidak tersinari cahaya sedikit pun? Segelap-gelapnya malam,
tetap ada secuil cahaya yang bersinar, entah itu cahaya bulan atau bintang. Benarkah
Kandar sedang berada di goa? Tiba-tiba Kasman muncul di hadapan Kandar. Wajahnya yang
buruk itu terlihat semakin mengerikan. Ia berseru, “Musuh bebuyutanku, manusia
yan
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”
Sudah dua minggu Hamdi meninggalkan
rumah. Retno yang masih membenci Hamdi, mulai merasa resah. Perlahan-lahan,
penyesalan mulai tumbuh di lubuk hatinya yang terdalam. Setelah dua minggu
Hamdi minggat, Retno dan Sujar mulai merasa kehilangan Hamdi, terutama Retno.
Ia teringat dengan kata-kata Endah kemarin. Biar bagaimanapun, Hamdi itu tetap
anak kandungnya, darah dagingnya. Endah juga mengatakan, apa yang sudah
diperbuat Hamdi sekarang ini masih sedikit lebih baik dari
Cinta memang
segalanya. Cinta itu anugerah terbesar untuk semua makhluk hidup. Tanpa cinta,
kehidupan takkan pernah ada. Manusia tidak akan bekerja atau beraktivitas,
kecuali karena cinta. Sama halnya dengan niat atau keinginan. Tidak ada satu
pun manusia yang melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas, kecuali karena
didasari niat. Tidak mungkin seseorang keluar dari rumahnya, kecuali karena
punya niat. Tidak mungkin seseorang bekerja keras membanting tulang, kecuali
karena punya niat. Tidak mungkin seseorang menginginkan sesuatu, kecuali karena
ia mencintai sesuatu itu.
Angin malam
bertiup pelan. Hembusannya yang segar membuat dedaunan bergerak pelan. Bintang
gemintang berkilauan, laksana kedipan mata bidadari. Pesona lampu alam itu
membuat suasana malam semakin indah. Waktu menunjukkan pukul 22.00, atau jam 10
malam. Suasana komplek Bumi Indah sudah sepi. Sebagian besar penduduknya sudah
pada kembali ke peraduan masing-masing. Kecuali seorang lelaki penghuni rumah
yang letaknya persis di sebelah utara masjid Al-Furqan. Tubuhnya sudah
berbaring di ranjang, namun matanya belum tertutup. Semua itu karena hati dan
pikirannya selalu tercurah pada perempuan cantik penjual kue bolu.
Sang surya hampir tenggelam. Warna
langit mulai kemerah-merahan. Anak-anak muda pada bermain bola di lapangan Bumi
Indah. Sore yang indah ini melengkapi kegembiraan pemuda-pemuda itu. Hamdi dan
sepedanya melewati lapangan itu. Rupanya ia sedang keliling kampung sekaligus
olah raga. Beberapa genjotan kemudian, Hamdi tiba di rumah kosong yang sudah
dipenuhi semak belukar lebat. Sambil sesekali melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran, mata Hamdi mendadak terbelalak. Ia melihat sesuatu di semak belukar
yang dilewatinya. Ia turun dari sepedanya, kemudian mengambil sesuatu yang
dilihatnya itu. Hamdi terkejut. Ternyata itu sebuah dompet perempuan berwarna
coklat muda.
Siang itu Kandar sholat Jum’at di
masjid Al-Furqan. Setelah sholat selesai, Kandar tidak langsung pulang. Ia
duduk di dekat tembok shaf ketiga.
Dilihatnya seorang lelaki muda yang baru selesai berdoa. Lelaki itu duduk
bersila di shaf pertama. Ia
mengenakan baju koko hijau tua dan sarung coklat. Ketika lelaki itu hendak melangkah keluar,
ia melihat Kandar
yang berdiri di shaf ketiga. Lelaki blesteran Arab-Jawa ini tersenyum ke arahnya
sambil mengangguk. Spontan saja pria bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian mereka
saling mendekat. Kandar menjulurkan tangannya sambil menyapa, “Assalamu’alaikum Ustadz Hamdi.”
Terlebih dahulu, kami perkenalkan tokoh utama dalam
novel ini. Hamdi Rusmanto, seorang pemuda sholeh yang gagah dan lumayan
ganteng. Usia dewasa, sekitar 30-31 tahun. Ia putra sulung dari empat
bersaudara. Ia sudah termasuk tokoh penting di komplek Bumi Indah, komplek tempat
tinggalnya. Ia menjadi imam tetap di masjid Al-Furqan, masjid satu-satunya di
perumahan elit tersebut. Demikian juga dengan Hasan Sujardi atau Sujar, ayah kandung Hamdi. Dialah
takmir utama masjid Al-Furqan, masjid yang berada persis di sebelah selatan
rumahnya. Dialah yang pertama kali memberi saran kepada seluruh penduduk Bumi
Indah untuk membangun masjid Al-Furqan, masjid yang tidak begitu besar namun
indah. Kisah ini berlangsung di akhir tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2008.
Subscribe to:
Posts (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact