Showing posts with label Bolu-Bolu Cinta. Show all posts
Showing posts with label Bolu-Bolu Cinta. Show all posts
Monday, 8 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Tamat)

Hari Sabtu tanggal 5 Juli 2008 besok, Iskandar dan Isma akan berangkat ke Bandung, sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya. Isma dan Kandar akan mengucapkan: ‘Selamat tinggal,  perum. Bumi Indah tercinta.’ Alangkah sedihnya sebagian besar penduduk Bumi Indah, terutama ibu-ibu arisan dan jama’ah pengajian Al-furqan. Mereka harus kehilangan salah satu tetangga terbaik mereka. Ismayani Puspita Iskandar, penjual kue bolu yang cantik, pintar dan pemurah. Walaupun hanya dua setangah tahun tinggal di komplek Bumi Indah, kehadirannya benar-benar sudah memberi arti yang sangat besar bagi kehidupan komplek elit tersebut.
Sunday, 7 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Delapan)

Singkat cerita, tibalah Hamdi cs di desa Kates Abang. Sebuah desa terpencil di ujung utara Pulau Jawa. Waktu menunjukkan pukul empat kurang seperempat. Seorang pria tua dari desa sebelah melarang Hamdi cs masuk ke desa mati tersebut. Alasannya karena desa itu sangat angker. Siapa pun yang sudah masuk ke desa Kates Abang, yang akan keluar hanya namanya. Desa itu memang terkenal dengan hal-hal ghaibnya, termasuk untuk mendalami ilmu-ilmu santet. Lelaki tua itu mengatakan, yang bisa masuk ke desa keram
Saturday, 6 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Tujuh)

Malam itu Kandar berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap. Semuanya terlihat hitam pekat. Kandar benar-benar merinding. Bagaimana mungkin ada tempat yang tidak tersinari cahaya sedikit pun? Segelap-gelapnya malam, tetap ada secuil cahaya yang bersinar, entah itu cahaya bulan atau bintang. Benarkah Kandar sedang berada di goa? Tiba-tiba Kasman muncul di hadapan Kandar. Wajahnya yang buruk itu terlihat semakin mengerikan. Ia berseru, “Musuh bebuyutanku, manusia yan
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”


Friday, 5 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Enam)

Sudah dua minggu Hamdi meninggalkan rumah. Retno yang masih membenci Hamdi, mulai merasa resah. Perlahan-lahan, penyesalan mulai tumbuh di lubuk hatinya yang terdalam. Setelah dua minggu Hamdi minggat, Retno dan Sujar mulai merasa kehilangan Hamdi, terutama Retno. Ia teringat dengan kata-kata Endah kemarin. Biar bagaimanapun, Hamdi itu tetap anak kandungnya, darah dagingnya. Endah juga mengatakan, apa yang sudah diperbuat Hamdi sekarang ini masih sedikit lebih baik dari
Thursday, 4 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Lima)

Cinta memang segalanya. Cinta itu anugerah terbesar untuk semua makhluk hidup. Tanpa cinta, kehidupan takkan pernah ada. Manusia tidak akan bekerja atau beraktivitas, kecuali karena cinta. Sama halnya dengan niat atau keinginan. Tidak ada satu pun manusia yang melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas, kecuali karena didasari niat. Tidak mungkin seseorang keluar dari rumahnya, kecuali karena punya niat. Tidak mungkin seseorang bekerja keras membanting tulang, kecuali karena punya niat. Tidak mungkin seseorang menginginkan sesuatu, kecuali karena ia mencintai sesuatu itu.

Wednesday, 3 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Empat)

Angin malam bertiup pelan. Hembusannya yang segar membuat dedaunan bergerak pelan. Bintang gemintang berkilauan, laksana kedipan mata bidadari. Pesona lampu alam itu membuat suasana malam semakin indah. Waktu menunjukkan pukul 22.00, atau jam 10 malam. Suasana komplek Bumi Indah sudah sepi. Sebagian besar penduduknya sudah pada kembali ke peraduan masing-masing. Kecuali seorang lelaki penghuni rumah yang letaknya persis di sebelah utara masjid Al-Furqan. Tubuhnya sudah berbaring di ranjang, namun matanya belum tertutup. Semua itu karena hati dan pikirannya selalu tercurah pada perempuan cantik penjual kue bolu. 


Tuesday, 2 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Tiga)

Sang surya hampir tenggelam. Warna langit mulai kemerah-merahan. Anak-anak muda pada bermain bola di lapangan Bumi Indah. Sore yang indah ini melengkapi kegembiraan pemuda-pemuda itu. Hamdi dan sepedanya melewati lapangan itu. Rupanya ia sedang keliling kampung sekaligus olah raga. Beberapa genjotan kemudian, Hamdi tiba di rumah kosong yang sudah dipenuhi semak belukar lebat. Sambil sesekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, mata Hamdi mendadak terbelalak. Ia melihat sesuatu di semak belukar yang dilewatinya. Ia turun dari sepedanya, kemudian mengambil sesuatu yang dilihatnya itu. Hamdi terkejut. Ternyata itu sebuah dompet perempuan berwarna coklat muda.

Monday, 1 July 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Dua)

              Siang itu Kandar sholat Jum’at di masjid Al-Furqan. Setelah sholat selesai, Kandar tidak langsung pulang. Ia duduk di dekat tembok shaf ketiga. Dilihatnya seorang lelaki muda yang baru selesai berdoa. Lelaki itu duduk bersila di shaf pertama. Ia mengenakan baju koko hijau tua dan sarung coklat. Ketika lelaki itu hendak melangkah keluar, ia melihat Kandar yang berdiri di shaf ketiga. Lelaki blesteran Arab-Jawa ini tersenyum ke arahnya sambil mengangguk. Spontan saja pria bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian mereka saling mendekat. Kandar menjulurkan tangannya sambil menyapa, “Assalamu’alaikum Ustadz Hamdi.”
      
Saturday, 29 June 2013 0 comments

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Pertama)

Terlebih dahulu, kami perkenalkan tokoh utama dalam novel ini. Hamdi Rusmanto, seorang pemuda sholeh yang gagah dan lumayan ganteng. Usia dewasa, sekitar 30-31 tahun. Ia putra sulung dari empat bersaudara. Ia sudah termasuk tokoh penting di komplek Bumi Indah, komplek tempat tinggalnya. Ia menjadi imam tetap di masjid Al-Furqan, masjid satu-satunya di perumahan elit tersebut. Demikian juga dengan Hasan Sujardi atau Sujar, ayah kandung Hamdi. Dialah takmir utama masjid Al-Furqan, masjid yang berada persis di sebelah selatan rumahnya. Dialah yang pertama kali memberi saran kepada seluruh penduduk Bumi Indah untuk membangun masjid Al-Furqan, masjid yang tidak begitu besar namun indah. Kisah ini berlangsung di akhir tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2008.  

 
;