Tuesday, 2 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Tiga)

Sang surya hampir tenggelam. Warna langit mulai kemerah-merahan. Anak-anak muda pada bermain bola di lapangan Bumi Indah. Sore yang indah ini melengkapi kegembiraan pemuda-pemuda itu. Hamdi dan sepedanya melewati lapangan itu. Rupanya ia sedang keliling kampung sekaligus olah raga. Beberapa genjotan kemudian, Hamdi tiba di rumah kosong yang sudah dipenuhi semak belukar lebat. Sambil sesekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, mata Hamdi mendadak terbelalak. Ia melihat sesuatu di semak belukar yang dilewatinya. Ia turun dari sepedanya, kemudian mengambil sesuatu yang dilihatnya itu. Hamdi terkejut. Ternyata itu sebuah dompet perempuan berwarna coklat muda.



         Masya Allah. Dompet siapa ini? Kok bisa sampai sini?.....Hah! kelihatannya   masih bagus..jadi tidak mungkin pemiliknya membuangnya dengan sengaja. Ahh…ini pasti masih diperlukan. Ini pasti jatuh dari saku pemiliknya.”
         Hening sesaat. Hamdi berdiri mematung. Ia benar-benar bingung. Apa yang harus ia lakukan terhapap dompet itu? Setelah merenung beberapa detik, akhirnya Hamdi mantap untuk membuka dompet tersebut. Ia tidak ingin mendapat masalah panjang. Ia tidak ingin pusing hanya karena sebuah dompet. Ia bergumam, “Siapa tahu ada identitas pemiliknya. Kalau ada, akan segera kukembalikan. Hahh..walaupun bukan urusanku, aku wajib mengembalikan benda ini ke pemiliknya. Aku hanya ingin mengembalikan hak orang, bukan karena ingin ikut campur. Hahh..waktuku tidak boleh habis gara-gara dompet ini.”
         Hamdi membuka dompet itu. Di dalamnya ada uang sebanyak dua ratus ribu. Hamdi tersentak, “Masya Allah. Banyak juga. Pemiliknya pasti sedang mencari.”
         Selanjutnya, Hamdi menemukan KTP beridentitas perempuan. Hamdi seperti  pernah melihat perempuan di foto itu. Namanya: Ismayani Puspita. Alamatnya: Bumi Indah nomer D-15. Tentu saja Hamdi semakin tersentak. Batinnya mengeluh, “Ya Allah. Kenapa dompet ini bukan milik laki-laki? Kenapa harus aku yang menemukan dompet ini?”
         Hening sejenak. Hamdi semakin kebingungan. Ia sempat berpikir, dompet itu akan ia titipkan ke orang lain yang mungkin dekat dengan Isma. Mungkin Bu Darti atau siapa, yang rumahnya berdekatan dengan rumah Iskandar. Hamdi bergumam, “Kalau kutitipkan Bu Darti atau Bu Pur, nanti bisa merepotkan mereka. Ditambah lagi, ada kemungkinan mereka akan berpikiran atau berprasangka kurang sedap. Ehm…(menatap dompet itu) ya sudahlah, kukembalikan sendiri saja.”
         Beberapa saat kemudian, tibalah Hamdi dan sepedanya di rumah Kandar. Saat berdiri di depan pagar rumah Kandar, jantung Hamdi ini bergetar. Keringat dingin membasahi wajahnya. Sedetik kemudian ia tersentak, “Masya Allah! Astaghfirullah! Kenapa aku harus deg-degan? Kenapa aku harus merasa was-was?! Ohh…(memejamkan mata) Tidak! Demi Allah! aku ke sini hanya ingin mengembalikan dompet ini ke pemiliknya. Hanya itu! Bismillah..
         Hamdi membunyikan bel di dekat pintu. Sesaat kemudian, muncullah seorang gadis muda yang lugu dan agak ndeso. Wajahnya lumayan cantik. Usianya hampir 20 tahun. Rupanya ia pembantunya Iskandar. Ia tersenyum manis seraya mengangguk. Hamdi yang agak kikuk, membalas senyum itu. Tanpa basa-basi, Hamdi langsung menjelaskan tujuan utamanya. Ia serahkan dompet coklat muda itu pada si gadis manis. Alangkah gembiranya Murni, nama gadis PRT itu. Ia menjelaskan, Isma sudah kebingungan sejak tadi siang. Ia tidak begitu mempermasalahkan uang dua ratus ribunya. Ia hanya mencemaskan KTP dan surat undangan nikah dari teman kuliahnya dulu. Sambil tersenyum manis, Murni berkata, “Sekarang Mbak Isma lagi mandi. Apa mau ditunggu dulu?”
         “Oh tidak usah (wajah merah-biru, gugup campur gembira)! Ini sudah mau Maghrib, saya mau langsungan saja. Mari Mbak Murni. Assalamu’alaikum.”
         Wa’alaikum salam. Makasih banyak Mas Hamdi.”
         “Sama-sama,“ sahut Hamdi tersipu. Sesaat kemudian, Murni mendekati Isma yang baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya diikat handuk. Murni langsung menceritakan semuanya. Tentu saja Isma tersentak gembira. Dilihatnya isi dompetnya  masih utuh. Isma menempelkan dompetnya di dadanya, lalu bergumam, “Maha Besar Allah. Lelaki alim itu sudah menolongku. Ohh (menatap dompetnya)..untung jatuh di tangan orang sebaik dia. Kalau jatuh di tangan bandit, uang ini pasti sudah ludes. Subhanallah.”
      Malamnya, seusai sholat Maghrib, telpon di rumah Hamdi berdering. Dina, adik bungsu Hamdi yang kebetulan duduk di dekat telpon, langsung mengangkatnya. Ia mendengar suara perempuan yang mencari Hamdi. Ternyata itu Isma. Tanpa ada pikiran apapun, Dina langsung memanggil kakaknya yang baru selesai sholat Maghrib. Hamdi agak terkejut mendengar Isma menelponnya. Dengan hati setengah dag-dig-dug, Hamdi menerima telpon yang dipegang Dina, lalu menempelkannya di telinga kirinya. Dengan suasana hati agak tegang, pria berjambang cukup lebat ini berkata lirih, “Assalaamu’alaikum…”
         “Wa’alaikum salam,” sahut Isma tersenyum gembira. Ia langsung mengutarakan keinginannya. Ia hanya ingin berterima kasih pada Hamdi atas pertolongannya tadi sore. Ia benar-benar lega karena barang-barang yang sangat diperlukannya masih utuh. Ia tidak tahu, apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan Hamdi tadi sore. Ia benar-benar merasa berhutang budi pada Hamdi. Mendengar itu, Hamdi tersenyum malu. “Tidak perlu begitu, tadi saya cuma kebetulan lewat kok.”
         “Kebetulan yang membawa berkah,” sahut Isma tersenyum manis. Tentu saja Hamdi semakin tersipu. Katanya, “Lain kali Mbak Isma hati-hati ya?”
         “Iya Mas, Insya Allah. Ehm…sekarang Mas Hamdi sedang apa? Saya ngganggu tidak?”
         “Oh tidak, sama sekali tidak.”
         “Tidak lagi sibuk di masjid kan?”
         “Ini baru keluar dari masjid. Ah..orang kecil seperti saya ini sibuk apa?”
         “Hih hi hi. Terlalu merendah.”
         Hamdi tersenyum. “Oh iya, saya mau tanya. Kalau saya boleh tahu, kenapa dompet Bu Kandar bisa sampai di tempat tadi? Memang apa yang sudah dialami Bu Kandar?”
         Pertanyaan itu membuat Isma agak terkejut. Kegembiraannya langsung berkurang banyak. Meskipun bibir indahnya masih tersenyum, kegundahan di wajahnya terlihat semakin besar. Dengan tetap berusaha tersenyum, Isma berkata agak gugup, “Tadi aku…ehm…wah, kemungkinan besar tidak bisa kuceritakan sekarang. Kapan-kapan saja ya?”
         Kata-kata itu membuat Hamdi agak terkejut. Namun karena tidak ingin pusing, Hamdi langsung mengiyakan. Setelah menutup telpon, Hamdi masuk ke kamarnya, kemudian duduk menghadap meja yang penuh buku. Hamdi tersenyum kecut, lalu bergumam, “Perempuan cantik, jago membuat roti-roti lezat, kamu sudah agak ngganggu aku. Lihatlah, dzikirku agak terganggu karena dirimu. …Kalau aku lagi santai, tidak masalah..tapi sekarang aku lagi mengkhusyukkan hati.” Diam sejenak, lalu melanjutkan, “Perempuan cantik..mudah-mudahan besok kamu tidak nggangu aku lagi.”
         Tidak berlebihan Hamdi berkata demikian, sebab ia memang sedang membaca kitab suci Al-Quran dan buku-buku agama. Setelah larut malam, dimana kebanyakan orang sudah pada kembali ke peraduannya, Hamdi masih membaca buku di ranjang yang ada di kamarnya. Beberapa menit kemudian Hamdi mulai merasakan apa yang dirasakan banyak orang. Ngantuk. Sudah beberapa kali ia menguap. Dilihatnya arlojinya yang  ia taruh di meja. Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh. Hamdi bergumam, “Rupanya memang sudah cukup malam. Hoaah (menguap)! Pantas aku sudah ngantuk. Ehmm..( keluar kamar, lalu masuk kamar mandi )”
         Setelah menggosok gigi di kran yang berada di kamar belakang, kamarnya Asyraf, Hamdi siap berangkat ke peraduannya. Ketika Hamdi melewati dapur, matanya terbentur pada sebuah kerdus hijau muda yang tergeletak di lantai dapur. Hamdi menghentikan langkahnya, kemudian memungut kerdus bekas wadah kue itu. Di bagian atasnya ada tulisan: Bakpia Pandan Mbak Isma.  Hamdi mengamati kerdus bekas bakpia itu. Seiring dengan itu, pikirannya langsung menerawang ke peristiwa tadi sore, ketika ia mengembalikan dompet Isma yang nyaris hilang, juga saat Isma menelponnya sehabis Maghrib tadi.
         Telinga batin Hamdi langsung mendengar suara Isma saat menelpon tadi. Suara empuk milik seorang perempuan cantik dan kalem. Hening sejenak. Hamdi masih  berdiri di situ. Tangan kanannya masih terus memegang kerdus hijau muda itu.  Pikiran pria berdada bidang ini sudah terbang tinggi ke langit khayal, dan itu sama sekali tidak disadarinya. Kerdus bakpia itu benar-benar membuat rasa kantuknya berkurang banyak. Sesaat kemudian Hamdi tersenyum, lalu bergumam, “Kamu memang hebat, perempuan cantik. Kamu bisa membuat makanan biasa menjadi luar biasa. Kamu bisa membuat makanan yang rasanya lain dari yang lain.”
         Setelah bicara dalam hati, wajah ayu Isma muncul di pikirannya. Dilihatnya Isma yang berkaca mata itu tersenyum manis. Namun untunglah, Hamdi langsung sadar dari lamunannya yang sudah agak berlebihan. Hamdi yang taat pada agama ini langsung bisa mengendalikan pikirannya. Hamdi memejamkan kedua matanya sambil ber-istighfar. Selanjutnya, kerdus itu ia buang ke ember sampah, setelah ia tinggalkan dapur.      
                                                           *****

         Beberapa hari kemudian, tepatnya di pagi yang cerah dan sejuk, Hamdi jogging mengelilingi Bumi Indah. Kaos biru tuanya basah oleh keringat. Walaupun sudah ngos-ngosan, Hamdi tetap berusaha untuk terus berlari pelan. Beberapa langkah kemudian, tibalah Hamdi di gang atau blok rumahnya Isma. Hamdi memperlambat langkahnya. Ia melihat Isma dan pembantunya sedang kebingungan. Dua perempuan itu berdiri di samping mobil Daihatsu Taruna mereka. Rupanya mobil besar itu sedang macet. Berkali-kali sang sopir berusaha menghidupkan mesin mobil yang dikendarainya, namun masih belum berhasil.
         “Terus gimana Mas Tris?” Tanya Isma kebingungan. Sutris, pria 40 tahunan berkumis cukup tebal, menyahut, “Ini harus didorong Mbak.”
         “Waduh!” seru Murni. “Kang Tris jelas tidak bisa mendorong sendirian. Mobil  ini berat banget!”
         “Memang,” sahut Tris. “Makanya, sekarang cari bantuan.”    
         “Lho, ada apa ini?!” Tanya Bu Darti yang baru belanja di tukang sayur keliling. Setelah Isma menjelaskan semuanya, Darti tersenyum. “Ya sudah, biar dibantu Waluyo.”
         Darti yang masih berjual-beli dengan penjual sayur, langsung memanggil Waluyo, pembantunya yang kebetulan sedang ada di depan. Waluyo, pemuda berusia sekitar 21 tahun. Warna kulit agak gelap. Badan agak pendek namun cukup berotot. Kedua lengannya seperti lengan kuli bangunan. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung  membantu Sutris mendorong mobil milik Iskandar itu.   
         “Lho, ada apa itu?” Tanya Hamdi dalam batin. Ia langsung menghentikan larinya. Kini ia berdiri sekitar 30 meter dari tempat kejadian. Dilihatnya Sutris dan Waluyo sedang berusaha mendorong mobil Taruna merah. Sutris mendorong sembari memegang setir, sedangkan Waluyo mendorong bagian belakang mobil besar itu. Hamdi bergumam, “Rupanya mobil besar itu macet. Wah, kalau cuma dua orang, jelas sulit sekali, apalagi yang satu pegang setir. Wah..berarti yang mendorong cuma satu orang. Mobil sebesar itu hanya didorong satu orang?! Wah..itu hampir tidak mungkin!”
         Hening beberapa detik. Hamdi masih termangu-mangu. Dilihatnya Waluyo yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya, namun Taruna merah itu hanya bergerak sedikit sekali. Sutris yang posisinya tidak nyaman, mendorong sekaligus memegang setir, jelas susah sekali untuk membuat mobil itu bergerak lebih cepat. Kejadian ini semakin menyentuh hati Hamdi yang masih berdiri mematung di perempatan blok yang menuju rumah Isma. Melihat Waluyo dan Sutris nyaris tidak mampu mendorong mobil itu, batinnya langsung berseru, “Jangan ragu lagi! Mereka benar-benar butuh bantuan! Bismillah..”
         Hamdi yang jiwa sosialnya tinggi ini langsung berlari mendekati mobil Isma, kemudian membantu Waluyo mendorong mobil tersebut. Ia meminta Sutris untuk konsentrasi pada setir saja, sebab mobilnya sudah ia dorong bersama pemuda di samping kanannya itu. Kini Sutris sudah memegang kendali mobil. Sedetik kemudian Hamdi memberi aba-aba untuk memulai mendorong mobil besar itu. Hamdi dan Waluyo mendorong Taruna merah itu dengan seluruh kekuatan mereka. Beberapa detik kemudian mesin mobil itu mulai hidup, dan akhirnya bisa berjalan dengan lancar.
         Setelah mesin mobil itu bisa hidup, Sutris, Murni dan Isma mendekati Hamdi dan Waluyo yang ngos-ngosan, terutama Hamdi. Tadi ia sudah berkeringat karena lari pagi, dan sekarang keringatnya semakin membanjir karena mendorong sebuah mobil besar. Alangkah gembiranya Sutris, Waluyo, Murni dan Isma, terutama Isma. Demikian pula dengan Darti dan orang-orang yang ada di gang itu, yang kebetulan melihat kejadian ini. Hamdi bertanya, “Mobilnya kenapa Pak?”
         Acqu-nya agak rewel, juga karena sudah lama tidak saya servis.”
         “Wah, jadi merepotkan Mas Hamdi...” sambung Isma tersenyum gembira. Hamdi tersenyum, “Tidak ada yang merepotkan. Sudah jadi kewajiban kita untuk saling membantu dan menolong yang lemah.”
         Kata-kata Hamdi itu membuat Isma semakin gembira. Sesaat kemudian Hamdi memohon diri. Ketika Hamdi mau melanjutkan larinya, Isma memanggilnya dengan lembut. Hamdi menoleh. Dilihatnya Isma yang masih berdiri di samping pembantunya. Dua perempuan, majikan dan pembantu, sama-sama cantik. Isma tersenyum manis, lalu bertutur lembut, “Makasih banyak ya?”
         Hamdi agak menunduk karena tersipu. Sedetik kemudian ia menyahut, “Sama-sama Mbak.”
         Setelah berkata begitu, Hamdi langsung melanjutkan larinya yang tertunda. Ia menatap Sutris, lalu berseru, “Mari Pak Tris!”
         “Trima kasih Mas Hamdi!” sahut Tris yang berdiri di samping Taruna. Hamdi yang tadi sudah ngos-ngosan, kini berlari kencang lagi. Senyum manis Isma benar-benar membuat tenaganya muncul lagi. Ia berlari sekuat tenaga. Senyum menawan perempuan setengah Arab itu benar-benar melenyapkan kelelahannya. Isma yang masih berdiri di tempatnya, bergumam, “Dua kali sudah dia menolongku. Menolongku dalam waktu yang cukup singkat. Seminggu.”
         Isma tersenyum manis sekali, tanda hatinya sedang merasakan kebahagiaan yang cukup besar. Tanpa ingin melamunkan Hamdi lagi, Isma langsung masuk ke rumahnya. Beberapa saat kemudian tibalah Hamdi di rumahnya. Setelah keringatnya kering, ia langsung mandi, kemudian sarapan dengan dua potong roti tawar dan segelas susu coklat. Setelah mengenakan baju koko coklat tua dan sarung hijau, Hamdi langsung sholat Dhuha di masjid Al-Furqan, masjid yang jaraknya dengan rumahnya hanya terpaut sekitar 3 meter.
          Seusai sholat, Hamdi teringat dengan peristiwa yang dialaminya beberapa jam tadi. Wajah ayu Isma langsung muncul di benaknya. Senyum manisnya yang begitu menawan, suara lembutnya yang tadi mengatakan; “Makasih banyak ya?” juga sikapnya yang kalem dan hangat. Semua itu benar-benar mengusik hati dan pikiran Hamdi, lelaki dewasa yang masih perjaka. Sekarang pikirannya banyak terfokus pada segala hal tentang Isma. Pesona perempuan penjual roti itu benar-benar sudah menguasai hatinya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Hamdi harus mengakui dengan jujur, mengakui bahwa ia semakin tertarik pada Isma.
         Untuk beberapa saat Hamdi terus melamunkan Isma. Wajah perempuan muallaf  itu masih terus hadir di pikirannya. Namun tak lama kemudian ia tersentak sadar. Hatinya berseru, “Astaghfirullahal’azhim! Ini masjid! Dan aku juga habis sholat Dhuha. Masa’ habis sholat aku melamunkan perempuan?! Perempuan asing lagi! Hahh ( menggelengkan kepala, lalu menepuk dahinya )!”
         Setelah berdzikir, Hamdi meninggalkan masjid, lalu masuk ke rumahnya sambil bergumam, “Sudah berkali-kali aku jatuh cinta, dan berkali-kali pula aku gagal. Dan Alhamdulillah, semuanya bisa kuterima dengan lapang dada. Demikian pula dengan yang kualami sekarang ini. …..Aku hanya tertarik dan simpati sama Isma. ….Yah, hanya simpati, hanya suka, hanya mengagumi…Tidak boleh lebih dari itu. Tidak boleh!”
         Sanggupkah Hamdi menjalankan prinsipnya itu? Kita lihat saja selanjutnya. Sekarang mari kita tengok keadaan Isma. Ketika malam telah menyelimuti bumi, Isma masih melamun di ruang keluarga. Ia duduk di depan TV yang berada di dekat meja makan. Jarum jam menunjuk ke angka 10. Waktu yang sudah cukup malam untuk ukuran kota menengah seperti Yogyakarta. Menengah karena tidak besar dan tidak kecil. Kota adem ayem yang sebagian besar penduduknya tidak hobi begadang sampai malam. Tidak seperti kota besar semacam Jakarta atau Surabaya, dimana sebagian besar penduduknya hobi begadang sampai malam, bahkan sampai dini hari, layaknya acara di kafe dan diskotik.    
         Di Yogyakarta Kota Gudeg, jam sepuluh malam itu keadaannya sudah cukup sepi, entah keadaan di pusat atau keramaian kota, maupun di wilayah-wilayah pinggiran. Tapi kalau di Jakarta atau di Bandung, jam sepuluh malam itu keadaannya masih ramai. Kira-kira sama dengan jam tujuh malam di Yogyakarta, bahkan mungkin masih lebih sore lagi. Begitulah kurang lebih, perbedaan suasana Kota Metropolitan dengan Kota Pelajar ini.
         Kini kita lihat Isma yang masih melamun di depan TV. Ia tidak sedang nonton TV, sebab TV di hadapannya itu tidak dinyalakan. Wajahnya terlihat membingungkan. Separoh senang separoh susah, namun kelihatannya lebih banyak senangnya. Wanita berambut ngombak ini sedang melamunkan sesuatu yang dicintainya, namun ia juga sadar kalau sesuatu yang dicintainya itu tidak bisa diraihnya. Sama halnya dengan Hamdi, sekarang Isma juga sedang melamunkan pria berdada lebar itu. Sekarang ini Isma sedang merasakan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang sudah berhubungan erat dengan Hamdi.
          Setelah menolong menemukan dompetnya, Hamdi kembali menolong Sutris mendorong mobil Taruna merahnya. Dua pertolongan besar itu diterimanya dalam selang waktu yang cukup singkat. Tujuh hari atau seminggu. Dua pertolongan yang akan selalu hidup di kamar hatinya untuk selamanya. Dua pertolongan yang sudah membangkitkan rasa cintanya yang sudah cukup lama hilang. Dua pertolongan itu benar-benar menjadi peristiwa yang sangat istimewa dalam hidupnya.
          Karena asyik melamun, Isma sampai tidak menyadari kehadiran Murni yang berdiri di belakangnya. Pembantu lumayan cantik itu tersenyum manis. Ia mendekati Isma dengan langkah pelan, kemudian menyentuh bahu kiri majikannya sambil bertanya, “Belum tidur Mbak?”
         “Eh, kamu..”sahut Isma terkejut. “Huh..kukira siapa?!”
         “Kaget ya (tersenyum geli)? Ini kan sudah cukup malam. Mbak Is kok belum tidur?”
         Pertanyaan itu membuat Isma agak gugup. Sambil tersenyum agak mengejek, Murni melanjutkan, “Lagi ngelamun ya? Hih hi hii. Ngelamunin siapa Mbak?”
         “Ngelamun apa ah (gugup)! Kamu ini. Kalau ngomong jangan ngawur!”
         “Alaah, Mbak Isma ini..sama saya saja pakai malu. Hih hi hii. Ehm..kalau boleh saya tebak..Mbak Isma lagi ngelamunin Dik Tari almarhum. Betul?”
         Isma tersenyum kecut. “Kenapa kamu tidak menebak aku lagi ngelamunin Mas Kandar?”
         “Lho, memang Bapak belum pulang?”
         “Belum, tapi mungkin sebentar lagi.”
         Murni mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Tidak ngelamunin Dik Tari, juga tidak ngelamunin Bapak. Lalu ngelamunin siapa ya?”
         Ngelamunin diriku sendiri,” sahut Isma tanpa menatap Murni. Sedetik kemudian Murni tersentak gembira. “Ooo…aku tahu!”
         “Apa?!” jawab Isma terkejut, namun pura-pura tenang. Murni melanjutkan, “Pasti Mbak Is lagi ngelamunin peristiwa kemarin pagi. Iya kan?!”
         Isma tersenyum malu. Hatinya membenarkan omongan Murni itu. Ia hendak berkata jujur, namun sedetik kemudian ia langsung mengalihkan pembicaraan. Ia merasa belum saatnya untuk menceritakan sejujurnya tentang perasaannya terhadap Hamdi. Murni yang tidak curiga sedikit pun, langsung memohon diri ke belakang. Gadis manis, lugu dan cerdas ini mengaku sudah ngantuk berat. Kini Isma sendiri lagi di ruang keluarga. Ia kembali memikirkan Hamdi. Lelaki alim itu benar-benar sudah mencuri hatinya. Sekarang yang ada di hatinya hanya Hamdi. Kehadirannya membuat Kandar terlihat sangat kecil, bahkan nyaris lenyap. Bayangan Hamdi membuat Kandar nyaris terusir dari kamar cintanya yang terdalam.
         Beberapa menit kemudian terdengarlah suara mobil yang masuk ke garasi. Rupanya Kandar baru pulang kantor. Begitu masuk ke ruang keluarga, Kandar melihat istrinya sedang melamun. Kandar tersenyum, “Suami datang kok diam saja sih?”
         Isma tersentak melihat suaminya sudah berdiri di sampingnya. Ia langsung pura-pura tersenyum gembira. Ketika Kandar mencium pipinya, ia terlihat tidak senang. Ia bertanya, “Kok sampai malam Pa? nglembur ya?”
         “Iya Sayang, tadi kita meeting penting (memeluk bahu Isma, lalu mengajaknya ke kamar). Tadi kita ada tamu dari Belgia.”
         Isma mengangguk-angguk. Walaupun berusaha ikut gembira, gejolak di hatinya tetap terlihat di wajah ayunya. Terlihat sekali kalau senyumnya itu hanya dibuat-buat. Sungguh berbeda dengan senyum yang ia berikan pada Hamdi. Hati kecilnya mengatakan, kedatangan suaminya itu tidak membuatnya senang. Justru sebaliknya, kepulangan suaminya itu sudah mengganggu kesenangannya. Yah, kesenangan melamunkan Hamdi.
         Ketika suami-istri ini sudah mau tidur, sang istri masih terlihat gelisah. Ketika Kandar hendak memeluk atau menciumnya, ia langsung membalikkan tubuhnya. Kini posisinya membelakangi Kandar. Bagi Isma, pria di sampingnya itu sudah tidak begitu menyenangkan, walaupun pria itu pasangan hidupnya yang sah. Untung Kandar sudah ngantuk berat, jadi dia tidak menyadari reaksi istrinya yang sangat berbeda dari biasanya. Kalau mau jujur, sekarang ini Isma sudah melakukan penolakan halus terhadap suaminya sendiri. Benarkah yang terjadi semua ini? Benarkah Isma sudah jatuh cinta pada Hamdi?
         Sejak peristiwa pagi itu, Ismayani Puspita benar-benar berubah. Sejak pagi itu, Hamdi benar-benar sudah menjadi raja di hati dan pikiran Isma. Penjual kue bolu yang sering ditinggal suaminya ini seperti merasakan cinta sejati yang didambakannya selama ini, dan cinta itu tidak pernah ia temukan pada diri suaminya. Setiap saat, suaminya yang super sibuk itu sering mencampakkan dirinya. Apalagi akhir-akhir ini, dimana Kandar terlihat semakin sibuk dengan bisnisnya yang memang sukses besar. Kalau sudah tergila-gila bisnis, Kandar menjadi lupa segalanya, termasuk istrinya. Hal itulah yang membuat Isma sering menganggap Kandar lebih mencintai pekerjaannya dibanding istrinya sendiri. Kandar yang memang angkuh itu sekarang sering marah-marah hanya karena kesalahan sepele. Kandar yang sekarang terlihat semakin sibuk, sering memarahi Isma hanya karena Isma membuat kesalahan kecil.
         Keesokan harinya, sekitar jam setengah tujuh, Hamdi kedatangan tamu yang baginya istimewa. Tamu itu Murni. Ia membawa kue dari majikan perempuannya. Kue itu untuk Hamdi dan keluarganya. Hamdi agak terkejut dengan semua yang ia terima itu, walaupun di satu sisi ia juga gembira. Dan yang lebih mengejutkan lagi, nanti sore Isma mengundang Hamdi ke rumahnya, katanya Isma mau memberi sesuatu untuk Hamdi. Ketika Hamdi hendak bertanya lebih jauh, Murni sudah hilang dari hadapannya.  
         Dengan perasaan ragu, Hamdi melangkah ke meja makan, kemudian membuka kerdus yang diterimanya dari Murni itu. Ada berbagai macam roti di kerdus itu. Ada roti pisang, roti coklat, bakpia dan apem ala Isma, dan lain-lain. Beberapa saat kemudian, ketika Retno hendak menyediakan sarapan pagi di meja makan, ia melihat kue-kue itu. Spontan saja ia bertanya, siapa yang memberi kue-kue lezat itu? Hamdi yang berada di kamar, mendengar suara ibunya itu. Dengan tetap berada di kamar, Hamdi menjelaskan kalau kue-kue itu diberi Bu Kandar dengan cuma-cuma. Alangkah gembiranya Retno mendengar itu. Ia langsung mencoba kue-kue itu satu potong, setelah itu ia menelpon Isma untuk berterima kasih.
         Hamdi yang melamun di kamar, mendengar ibunya berbincang dengan Isma di telpon. Ia benar-benar masih bingung dengan undangan Isma nanti sore. Dengan posisi duduk di ranjang, Hamdi bergumam, “Kenapa dia harus mengundang aku? ....Dia tidak perlu berterima kasih sejauh ini. Kemarin kan aku hanya kebetulan lewat rumahnya. …Kalaupun mau berterima kasih, harusnya cukup dengan memberi kami roti-roti itu. …..Sekarang dia sudah memberi roti-roti itu…tapi nanti sore dia mau memberi sesuatu lagi. Bahkan katanya hadiah istimewa. Ahh ( menggelengkan kepala). Ya Allah, kenapa masalahnya jadi serumit ini? Kenapa sekarang mata hatiku selalu melihat perempuan cantik itu?”
         Diam sejenak. Hamdi semakin merasa tidak karuan. Hatinya gelisah, namun kegembiraan yang ia rasakan lebih besar. Ia ingin menolak undangan Isma itu. Ia sangat ragu untuk menerima undangan Isma itu. Namun keinginannya untuk datang ke rumah Isma nanti sore lebih besar, lebih kuat. Kembali mulut hatinya bicara, “Perempuan yang sekarang selalu ada di pikiranku itu semakin dekat sama aku. Dan yang paling menakjubkan, nanti sore dia mengundangku ke rumahnya. Oohh..Maha Suci Allah…semua ini kenyataan. Semua ini bukan mimpi.”
         Diam sebentar sambil menutup muka dengan kedua tangannya. Beberapa saat kemudian, dengan wajah yang terlihat lebih tenang, Hamdi bicara lagi dalam batin. “Tapi sudahlah, tidak perlu dipusingkan. Dia kan istri orang, jadi kenapa aku harus berpikiran aneh-aneh? Dia kan istri orang, jadi kenapa aku harus berharap terlalu jauh?”…Ya sudah kalau begitu. Insya Allah, nanti sore aku ke rumahnya. Toh aku hanya menjalankan salah satu kewajibanku sebagai seorang Muslim. Memenuhi undangan saudaranya yang seiman. …Misalkan nanti sore acaranya makan bersama, pasti dia bersama suaminya, jadi kenapa aku harus pusing? Hahh. Kalaupun nanti acaranya bukan makan bersama, paling dia mau memberi aku roti lagi. Yah..roti yang mungkin dibuat lebih khusus.”…Hah ha. Benar juga ya? Kenapa aku harus buruk sangka terhadap sesuatu yang belum pasti terjadi?”
         Diam sejenak. Dengan suasana hati yang sudah lega, Hamdi tersenyum. “Kemungkinan besar, semua ini karena aku terlalu cepat gembira. Kemungkinan besar, semua ini karena GR-ku sendiri. Heh he.”
         Sorenya, Hamdi datang lagi ke rumah Isma dengan sepeda onthel kesayangannya. Begitu pintu rumah Isma terbuka, muncullah Murni. Sore ini Murni terlihat lebih cantik dari kemarin-kemarin. Mungkin karena dandannya yang agak lain dari biasanya. Setiap lelaki yang belum tahu status Murni, pasti akan mengatakan kalau Murni itu bukan pembantu rumah tangga. Murni tersenyum gembira melihat kehadiran Hamdi. Ia langsung mempersilahkan Hamdi duduk di ruang tamu. Hamdi bertanya, “Tidak duduk di sini (serambi) saja Mbak?”
         Murni tersenyum manis. “Mbak Isma yang meminta Mas Hamdi duduk di dalam.”
         Hamdi tersipu. “Oh begitu. Ehm…ya sudah.”
         Kini Hamdi duduk di ruang tamu rumah Isma. Wajahnya merah-kuning karena terlalu gembira. Ia bergumam, “Pembantu dan majikan sama-sama cantik. Pembantunya cantik, majikannya lebih cantik.”
         Hening sejenak. Ditatapnya seisi ruangan itu, lalu kembali bergumam. “Subhanallah. Hebat sekali ruangan ini. Kecil tapi rapi. Seperti kamar hotel. Ahh…siapa arsitek rumah ini?”
         Sesaat kemudian Murni muncul lagi. Ia membawa nampan berisi segelas teh hangat dan cawan berisi dua pisang goreng. Hamdi tersentak gembira. “Masya Allah! apa-apaan ini?! Mbak Murni tidak usah repot-repot.” 
         Murni tersenyum. “Tidak ada yang repot Mas..semua ini sudah jadi tugas Murni.”
         Hamdi yang semakin gembira ini terlihat semakin tegang. Keringat dingin mulai membasahi mukanya yang bulat agak lonjong. Ia bertanya, “Pak Kandarnya ada?”
         “Oh, Bapak masih di kantor. Biasanya sampai malam.”
         “Jadi (terkejut)? Yang di rumah siapa?!”
         “Ya cuma kami berdua.”
         “Kami berdua?!” sahut Hamdi semakin terkejut. Murni mengangguk, “Iya, saya ama Mbak Isma.”
         Ketegangan semakin dirasakan Hamdi. Sambil menunduk, Hamdi bergumam, “Ya Allah ya Rabbii. Jadi dia mau menemui aku sendirian?! Jadi aku mau ber-ikhtilat (berduaan) sama perempuan yang bukan mahramku?!”
         Setelah menaruh hidangan di meja, Murni berkata lembut, “Saya ke dalam dulu ya Mas? Silahkan dinikmati ala kadarnya.” 
         “Makasih banyak lho Mbak..”
         “Iya Mas, sama-sama (agak kemayu).”
         Murni hilang ke dalam, namun sebenarnya ia masih di situ. Ia sembunyi di balik tirai pembantas ruang tamu dan ruang keluarga. Gadis manis ini mengintip Hamdi. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala, setelah itu bergumam, “Baru sekarang  rumah ini kedatangan tamu seperti dia. Hmm…kelihatannya dia seorang kyai..seorang ustadz.“
         Murni yang lugu ini terus mengamati Hamdi dengan seksama. Gadis asli Wonosari ini melihat seorang pemuda dewasa bertubuh tegap. Usianya antara 31-33 tahun. Postur tergolong tinggi, dada bidang, tapi tidak selebar dada petinju atau pegulat kelas berat. Kepala besar, muka bulat agak lonjong. Kumis tipis, jenggot rapi,  tidak tebal tidak tipis. Jambang di kedua pipinya cukup lebat. Jidat kelabu di dahinya cukup tebal, tanda tekun beribadah. Sore ini Hamdi mengenakan baju koko merah tua dan celana congkrang hitam. Celana yang tingginya sekitar 5 cm di atas kaki. Murni yang semakin asyik menatap Hamdi, bergumam, “Ganteng juga. …Dia terlalu polos untuk sampai di rumah ini. Hih hi hii. Kelihatannya dia memang sosok istimewa. Sosok yang memiliki nilai lebih.”
         Setelah puas menatap Hamdi, Murni langsung menghilang ke belakang. Hamdi sendiri semakin resah. Sejak tadi Hamdi hanya menatap bawah. Sesekali juga menatap luar, menatap serambi atau taman rumah Isma. Walaupun semakin tegang,  Hamdi tetap berusaha untuk positif thinking. Hatinya bergumam, “Berduaan kalau cuma sebentar, dan kalau memang ada perlu yang penting sekali, Insya Allah tidak masalah. Yang penting dia sudah minta ijin suaminya. Toh di sini juga tidak sepi sekali, jadi Insya Allah bukan seperti berduaan yang dimaksud Quran-Hadits. Lagipula, aku dan Isma tidak berduaan di rumah ini. Ada Murni.”   
         Hamdi berusaha menenangkan hatinya dengan terus berbaik sangka. Beberapa menit kemudian, Isma muncul dari tirai yang dilalui Murni tadi. Melihat sang tuan rumah muncul, Hamdi langsung berdiri. Hamdi terperangah. Wanita yang kini selalu menggoda hati dan pikirannya itu kembali hadir di hadapannya. Sore yang indah ini benar-benar seindah diri Isma. Ia kelihatan cantik sekali. Ia memakai baju lengan pendek biru muda. Rok merah tua terjulur sampai ke dua telapak kakinya. Rambut ngombaknya dibiarkan terurai hingga bahu ke bawah sedikit. Sore ini ia tidak mengenakan kaca mata. Dilihatnya Hamdi yang terlongong-longong. Namun karena tidak ingin terjadi apa-apa, pria berdada tegap ini langsung menunduk. Ia tidak berani menatap Isma terlalu lama.
         Dengan posisi masih berdiri, Hamdi mengangguk sambil tersenyum, “Mbak mengundang saya?”              
         Isma mengangguk sambil tersenyum manis sekali. Kini mereka berduaan di ruang tamu. Isma yang cukup santun ini duduk agak jauh dari Hamdi. Jarak mereka terpaut sekitar 2 meter kurang sedikit. Hamdi yang jantungnya semakin dag-dig-dug, hanya menundukkan kepalanya. Setelah hening beberapa detik, Isma membuka pembicaraan. Ia sangat berterima kasih atas dua pertolongan Hamdi yang diterimanya dalam jangka waktu yang singkat. Baginya, dua pertolongan Hamdi itu sangat besar nilainya. Karena itu, sore ini ia ingin kembali berterima kasih pada Hamdi.
         Alangkah tersanjungnya Hamdi mendengar semua itu. Ia mengatakan, semua yang sudah ia lakukan itu biasa saja, hanya kebetulan. Mendengar penjelasan itu, Isma menyahut, “Biasa bagi Mas Hamdi, tapi sangat berkesan di hati saya.”
         Indah sekali kata-kata Isma itu. Sudah kata-katanya indah, nadanya lembut, yang mengucapkan seorang wanita muda dan cantik. Hamdi yang semakin kikuk, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Isma terus menatap Hamdi dengan tersenyum manis, namun Hamdi hanya sesekali saja menatap Isma. Keringat dingin membasahi muka dan wajahnya. Terlihat sekali kalau sore ini ia sangat bahagia, namun di satu sisi ia tetap harus menjaga hati dan pandangannya. Isma sendiri terlihat gembira sekali. Ia bisa merasakan gejolak hati Hamdi. Semua itu karena perasaannya yang  begitu lembut, juga karena perasaan cintanya pada Hamdi semakin kuat.
         Sesaat kemudian, Isma meminta Murni untuk menyerahkan tanda terima kasihnya pada Hamdi. Murni menyerahkan sebungkus plastik hitam pada Hamdi. Hamdi menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Setelah Murni masuk ke dalam, Hamdi kembali duduk di hadapan Isma. Kegembiraan yang ia rasakan itu membuatnya semakin gugup. Tanpa menatap Isma, Hamdi yang sudah kasmaran ini berkata, “Saya tidak tahu harus harus bagaimana, harus bilang apa. Tapi besok lagi tidak perlu seperti ini.”
         Isma tersenyum. “Tidak apa-apa Mas. Semua ini sudah jadi rejeki Mas, jadi tidak boleh ditolak.”
         Hamdi yang tidak berani menatap Isma, berkata, “Amal perbuatan itu yang pentingnya nilainya, kualitasnya. Dan kualitas suatu amal itu bisa dilihat dari niat pelakunya. Niat itulah tolok ukur segalanya. Walaupun amalan itu di mata manusia remeh, kecil, sepele, kalau dilakukan dengan seikhlas-ikhlasnya, dengan niat hanya mencari ridho atau cinta Allah, amal sepele itu akan menjadi besar nilainya.”
         Hening sejenak. Hamdi yang lebih banyak menundukkan kepala, bergumam, “Aku kok merasa semakin dekat dengan Si Cantik ini.”
         Demikian pula dengan Isma. Istri Kandar ini bergumam, “Ini tidak mungkin. Selama ini aku selalu dekat dengan Mas Kandar. Tapi aku tidak pernah merasa sedamai ini. Oohh..benarkah lelaki di hadapanku ini memang lebih menyenangkan dari suamiku sendiri? Benarkah semua yang kurasakan ini? benarkah ya Allah?!”     
         Tampaknya memang benar. Ketika Hamdi memohon diri, Isma langsung mencegahnya. Ia meminta agar Hamdi tidak usah terburu-buru. Isma mengatakan, sekarang masih sore, langit masih terang, dan sholat Maghrib masih agak lama. Tentu saja Hamdi terkejut setengah mati, terkejut karena terlalu gembira. Hati kecilnya mengatakan, ia memang masih ingin di situ bersama Isma. Permohonan pamitnya itu hanya basa-basi. Kegembiraannya semakin bertambah ketika Isma ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting bagi Isma. Sesuatu yang berhubungan erat dengan pertanyaan Hamdi kemarin.
         “Pertanyaan saya kemarin?” Tanya Hamdi tegang. Isma mengangguk, “Kemarin, waktu Mas menemukan dompet saya, Mas Tanya, kenapa dompet saya bisa sampai di tempat itu. Iya kan?”
         Hamdi yang kini berani menatap Isma, mengangguk. Hamdi semakin bingung ketika melihat raut muka Isma berubah menjadi sedih, padahal beberapa detik tadi Isma masih tersenyum gembira. Ada apa gerangan? Isma yang sekarang terlihat murung, berkata lembut, “Sekarang akan kujawab pertanyaan Mas kemarin. Akan kujawab dan kujelaskan sejujurnya.”       
         “Astaghfirullahal’azhim!” seru mulut hati Hamdi. “Perempuan cantik, apa yang sudah menimpamu? Kenapa tiba-tiba kamu jadi sedih? Apakah yang ingin kamu sampaikan itu penting sekali?!”
         “Terus terang,” tutur Isma, “aku mau sekalian curhat sama Mas Hamdi.”
         “Curhat?!” sahut Hamdi tersentak. Isma yang kini terlihat sedih, mengangguk. Senyum manisnya tadi langsung musnah oleh kedukaannya. Tampaknya ia memang sedang mendendam masalah berat. Terlihat sekali kalau perempuan blesteran Arab ini sedang berusaha keras untuk menguatkan hatinya. Terlihat sekali kalau hatinya sedang menyimpan derita berat yang sudah ia rasakan cukup lama. Setelah mengatur nafas, Isma berkata, “Semua ini gara-gara Mas Kandar. ….Dompetku bisa sampai sana karena Mas Kandar.”
         “Karena Pak Kandar?!” sahut Hamdi melotot. Isma mengangguk lemah. Tanpa ragu lagi, Isma langsung menceritakan semuanya. Pagi itu Isma ‘disemprot’ Kandar karena di meja makan belum ada sarapan, padahal Kandar harus segera berangkat ke kantor karena pekerjaannya yang menggunung. Pagi itu Isma dan Murni memang agak terlambat menyediakan sarapan. Itu karena Isma kecapaian. Semalam Isma dan Murni membantu Darti yang akan mengadakan dua acara di rumahnya. Arisan keluarga dan pengajian. Sehari penuh Isma dan Murni membantu Darti. Isma baru tidur jam setengah satu dini hari, sedangkan Murni hanya tidur dua jam. Akibatnya, Isma bangun kesiangan, dan baru mengerjakan sholat Shubuh ketika langit sudah terang.
         Ia melihat Kandar sudah duduk menghadap meja makan. Dilihatnya suaminya itu sudah dandan rapi, tanda akan segera berangkat ke kantor. Di meja makan masih ada sepiring sayur dan sedikit lauk pauk, namun sudah tidak bisa dimakan karena sudah bau. Kandar yang sedang terburu-buru itu langsung marah-marah. Isma yang ketakutan, langsung memanggil Murni, namun pembantunya itu tidak muncul-muncul. Isma pun mendatangi kamar Murni. Ia melihat Murni berbaring lemas di ranjang. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Isma langsung menyentuh dahinya. Ternyata suhu badannya cukup panas. Pagi itu Murni terkena flu agak berat. Semua itu karena ia  terlalu lelah bekerja.    
         Kemarin, beberapa jam sebelum Isma dan Murni seharian bekerja di rumah Darti, Isma melihat Murni sudah tidak enak badan. Murni mengaku, sejak dini hari tadi badannya sudah panas-dingin alias meriang. Isma yang kalem, jelas tidak tega menyuruh Murni ikut bekerja. Ia langsung menyuruh Murni pulang dan istirahat, namun Murni tetap bersikeras ingin membantu majikannya yang sangat ia hormati itu. Murni mengatakan, sakitnya itu hanya sakit ringan, jadi tidak perlu dipikir serius. Isma pun pasrah melihat semangat kerja pembantunya yang setia itu. Ia biarkan saja Murni bekerja keras sampai malam.
         Darti sendiri hanya meminta Isma membantunya beberapa jam saja, namun karena Isma merasa berhutang budi pada Darti, akhirnya Isma mantap untuk membantu tetangga baiknya itu sampai acaranya selesai. Isma mengatakan, selama ini Darti sudah sering membantunya, termasuk menjadi teman curhatnya. Dengan demikian, Isma punya kewajiban untuk ganti membantu Darti.  Bagi Isma, bantuan yang sudah ia berikan itu masih tidak ada apa-apanya jika dibanding kebaikan Darti selama ini. Akibat semua itu, Isma dan Murni lelah berat. Apalagi Murni yang seolah tidak pernah berhenti bekerja. Murni pun K.O di ranjangnya. Semua itu karena semalam Murni isah-isah, mencuci gelas, piring, mangkok, panci, dan lain-lain yang menggunung.
         Sesaat kemudian, Isma kembali dikejutkan oleh teriakan Kandar yang menusuk telinga dan hati. Murni yang teler, langsung bangkit dari tidurnya. Dengan posisi duduk, Murni ingin membuatkan breakfast untuk majikan lelakinya yang galak itu, namun Isma melarangnya. Isma jelas tidak tega melihat Murni yang sedang sakit itu disuruh-suruh, walaupun itu sudah menjadi pekerjaan dan kewajibannya.  
         Karena tidak ada yang disuruh, Isma langsung bertindak sendiri. Ia pergi ke warung dengan motor bebeknya. Setibanya di warung makan, Isma membeli makanan dengan tergesa-gesa, dan makanan yang ia beli juga apa adanya. Ketika melewati rumah kosong yang sudah dipenuhi semak belukar lebat, Isma mempercepat laju motornya. Isma seperti melihat wajah Kandar yang marah-marah. Hal itulah yang membuat Isma semakin tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa, Isma tidak menyadari  dompetnya jatuh dari tasnya. Dompet coklat muda itu jatuh di rerumputan lebat.
         Setelah sampai di rumah, Isma langsung menghampiri meja makan. Ia hendak menghidangkan sarapan pagi untuk Kandar yang sudah terburu-buru. Namun Kandar sudah tidak ada di meja makan. Ketika Isma hendak menghidangkan makanan yang baru saja ia beli itu, Kandar sudah siap berangkat ke kantor. Isma terkejut. Dilihatnya Kandar yang ‘dingin.’ Suaminya itu lewat di depannya tanpa berkata apapun. Kandar melangkah keluar rumah tanpa menyapa istrinya sedikit pun. Isma yang bengong, sedetik kemudian langsung mendekati Kandar yang sudah mau masuk  mobil Taruna merah. Isma yang ketakutan ini berkata lembut,
         “Maaf banget Mas…aku kesiangan. …Mas tahu sendiri kan? Aku dan Murni capek banget. Kemarin kami kerja seharian. …Aku hanya ingin membantu Bu Darti. Beliau sudah banyak membantu aku, membantu kita. ….Sekarang Murni…”
         “Cukup!” bentak Kandar. Ia membalikkan tubuhnya, lalu mendekati istrinya yang ketakutan. Dengan muka merah, Kandar berkata, “Membantu ya membantu, tapi kamu jangan sampai melupakan kewajibanmu! Huhh (semakin marah)! Tetangga ya tetangga, tapi rumah sendiri tetap jauh lebih penting! Huhh! Tetangga dibantu, tapi suami sendiri malah ditelantarkan! Huhh! kamu ini!..”
         “Paa (agak marah)! Aku tidak bermaksud begitu! Cobalah Papa sedikit memahami keadaanku..”
         “Diam kamu! Perempuan goblog! Perempuan cerewet! Sudah salah malah melawan! Huhh! Aku sudah terbiasa disiplin, jadi kamu dan pembantu goblog itu jangan lamban! 
         Kandar masuk mobil, lalu membanting pintunya. Tanpa menatap Isma lagi, Kandar berkata, “Awas kalau besok terlambat lagi. Aku bisa lebih keras sama kamu! Ngerti!?” 
         Sedetik kemudian, mobil besar yang dikemudikan Sutris itu lenyap dari hadapan Isma yang masih berdiri mematung. Isma yang terluka hatinya ini masuk ke dalam dengan langkah gontai. Ia duduk menghadap meja makan. Ditatapnya semua makanan yang baru saja dibelinya. Kedua matanya berkaca-kaca. Beberapa menit kemudian, air mata derita membasahi kedua pipinya nan empuk seperti kue apem. Perkataan dan perlakuan suaminya tadi benar-benar mematahkan hatinya. 
         Kepedihan hatinya sekarang ini hampir sama dengan ketika ia kehilangan Tari, permata hatinya satu-satunya. Namun karena sudah belajar agama pada Ustadzah Aminah, sekarang Isma terlihat lebih tenang dan lebih tegar. Walaupun hatinya terasa sangat pedih, ia tetap berusaha melirihkan volume tangisnya. Ia hanya menangis ala kadarnya, tidak sampai menjerit-jerit, apalagi histeris. Karena sudah tenggelam dalam sungai kepedihan, Isma tidak menyadari kehadiran Murni. Gadis itu berdiri di pintu menuju ruang belakang. Ia melihat majikannya menangis sesenggukan. Dengan langkah gontai, Murni yang loyo ini mendekati Isma, kemudian berlutut di hadapan sang majikan. Sedetik kemudian Murni ikut menangis. Kedua tangannya memeluk tangan kiri Isma, lalu ia sentuhkan ke pipinya. Dengan suara terbata-bata, babu cantik ini berkata, “Sudah Mbak, jangan sedih. Hik, hik. Nanti saya tidak kerasan lho.”
         Isma mengangguk. Tangan kanannya mengelus pipi dan rambut Murni yang acak-acakan. Dengan air mata masih terus mengalir, Isma berkata lembut, “Hari ini kamu istirahat saja. …Sebelum sakitmu sembuh total, aku mengharamkan kamu bekerja. Ngerti?”
         Murni mengangguk mantap, setelah itu kembali ke kamarnya. Sekarang balik ke Isma dan Hamdi. Isma yang larut dalam kisah sedihnya, menjadi agak melamun. Kedua matanya berkaca-kaca. Namun sedetik kemudian ia sadar dari lamunannya.  Ia usap air matanya yang menetes setitik, lalu berkata, “Begitulah kisahnya.“
         Hamdi hanya melongo. Ia ikut trenyuh dengan kisah Isma yang cukup menyedihkan. Isma mengatakan, perlakukan buruk Kandar terhadap dirinya itu tidak hanya sekali-dua kali. Semua itu sudah menjadi sarapannya sehari-hari. Sejak Kandar dan Isma menikah, mereka hanya bahagia sebentar. Kira-kira hanya setahun mereka merasakan kebahagiaan rumah tangga. Setelah itu Isma selalu merasa terhimpit oleh perlakuan Kandar yang sombong dan pemarah. Ketika bertengkar, Isma yang cantik dan sabar ini selalu mengalah, padahal posisinya selalu di pihak yang benar. Isma hanya membuat kesalahan kecil, Kandar sudah memarahinya berlebihan. Sebaliknya, ketika Kandar berbuat kesalahan besar, Isma selalu menegurnya dengan sangat halus, namun yang ia dapat hanya cacian. Kandar selalu mengatakan, “Aku paling benci berurusan sama orang yang sok menasehati! Apalagi anak ingusan seperti kamu! Huhh! Berani benar kamu menasehati orang tua!? Huhh! Sejak kapan kamu berani menasehati aku? Haa?!”
         Kandar mengatakan ‘anak kecil’ karena usianya memang jauh di atas Isma. Usia mereka terpaut 13 tahun lebih empat bulan. Saat menikah, usia Kandar 36 tahun, Isma  23 tahun. Namun setelah menjadi suami-istri, Kandar tidak pernah menunjukkan sikap dewasa. Dalam kehidupan sehari-harinya dengan Isma, Kandar malah sering menampakkan sifat egois dan kekanak-kanakan, dan memang itulah sifat aslinya. Ia tidak bisa bersikap sebagaimana orang yang usianya jauh di atas istrinya. Justru sebaliknya, Isma yang jauh lebih muda itu malah bisa bersikap jauh lebih dewasa dari suaminya. Selama lima tahun hidup seatap, hanya sekali-dua kali saja Isma berani marah dan melawan Kandar. Selebihnya, Isma selalu pasrah menerima perlakuan semena-mena suaminya.
         Tanpa kehadiran Utari, kehidupan rumah tangga mereka sudah kandas di tengah jalan. Kehadiran gadis cilik itu sedikit banyak bisa meredam perlakuan buruk Kandar terhadap Isma. Kandar selalu mengatakan, untung Isma bisa memberinya keturunan. Kalau tidak, kemungkinan besar Kandar sudah memperlakukan Isma dengan lebih buruk. Sejak mereka sering ribut, Kandar selalu mengancam akan menceraikan Isma. Isma sendiri mengakui dengan jujur, kalau ia sudah tidak mempedulikan Tari lagi, sekarang ini ia sudah minggat. Walaupun tidak minta dicerai, berkali-kali Isma selalu minta dipulangkan ke kampung halamannya. Kalau Kandar tidak mau mengantar, ia akan pulang sendiri bersama Tari.
         Namun hal itu tidak mungkin ia lakukan, sebab Kandar selalu menahan Tari. Kandar merasa lebih berhak memiliki Tari. Berkat kehadiran Tari, Kandar mau memperlakukan istrinya dengan baik, walaupun dengan hati dongkol. Demikianlah kehdupan rumah tangga Isma dan Iskandar. Sampai sekarang Isma masih terus diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Isma benar-benar sudah lama menderita. Untung Isma punya tetangga sebaik Bu Darti, perempuan sabar yang penuh pengertian. Kalau tidak, sekarang ini Isma sudah tidak bisa tersenyum. Berkat kehadiran Darti, Isma bisa mengurangi beban hatinya yang menumpuk.
         Kini Isma menangis lagi, namun tangisnya tidak sampai sesenggukan. Menyadari Hamdi ada di hadapannya, ia langsung menghapus air matanya. Hamdi yang semakin termangu-mangu, memberanikan diri untuk bertanya: “Tapi kenapa Mbak menceritakan semua ini ke saya?”
         “Itu karena (suara agak terbata-bat )…Mas kuanggap orang yang cocok untuk kujadikan teman curhatku.”
         “APA (melotot)!? Saya…saya orang yang cocok untuk jadi teman curhat Mbak Isma?”
         Isma yang matanya berkaca-kaca, mengangguk mantap. Hamdi melongo untuk beberapa detik. Ia tidak berani menatap Isma lagi. Dua insan yang sedang kasmaran ini belum berani bicara lagi. Setelah diam sekitar satu menit, Isma berkata, “Entah gimana tanggapan Mas Hamdi..yang jelas aku lega sekali, bisa menceritakan semua ini. Sekarang beban di hatiku berkurang banyak.”
         Setelah berkata begitu, Isma terlihat lebih lega. Walaupun matanya masih  basah, kedamaian di wajahnya sudah terlihat lagi. Hamdi yang tidak ingin menggemparkan suasana, langsung memohon diri. Ia merasa sudah cukup bertemu  Isma agak lama. Hamdi berterima kasih atas hadiah yang diterimanya. Isma yang sebenarnya masih ingin ditemani Hamdi, terpaksa membiarkan Hamdi pulang. Kini Isma berdiri di samping pagar rumahnya. Ia menatap Hamdi dan sepedanya yang sesaat lagi hilang dari hadapannya.    
        
                                                *****
        
         Sejak peristiwa sore itu, jiwa Hamdi mengalami perubahan besar. Hatinya benar-benar sudah tertambat pada Isma, setelah sebelumnya Hamdi memang sudah tergoda, bahkan sudah mulai jatuh cinta pada Isma. Pagi, siang, sore dan malam, wajah ayu Isma selalu hadir di pikiran Hamdi. Wajahnya yang cantik namun sederhana, senyum manisnya yang amat menawan, juga tutur katanya yang selembut sutra. Semua itu sudah masuk ke kamar hati Hamdi yang terdalam. Karena kasmaran berat, ibadah Hamdi menjadi turun drastis. Ketika sholat, dzikir maupun membaca  Al-Quran, wajah Isma selalu muncul di benak Hamdi. Pria berdada tegap ini sadar kalau semua itu godaan setan. Ia langsung berusaha mengusir bayangan Isma dengan dzikrullah, namun usahanya itu sia-sia. Semakin kuat usaha Hamdi untuk mengusir Isma dari pikirannya, wajah jelita itu justru semakin kuat hadir di mata batinnya. Sungguh, Hamdi Rusmanto benar-benar bingung. Pria alim ini tidak bisa lagi mengerjakan sholat dengan khusyuk.
         Sekarang Hamdi sedang ‘semedi’ di masjid Al-Furqan. Ia duduk bersila di shaf pertama. Keadaan masjid sudah gelap. Semua lampu sudah dimatikan. Kecuali lampu yang menerangi Hamdi yang sedang berusaha keras membersihkan hati dan pikirannya. Heningnya malam tidak sehening hati Hamdi yang bergejolak. Kepalanya menunduk. Kedua matanya terpejam. Mulutnya terus berkomat-kamit. Tak henti-hentinya ia menyebut, “Subhaanallah, wal hamdu lillaah, wa laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar.” Beberapa menit kemudian, Hamdi yang mukanya penuh peluh ini membuka matanya, lalu bergumam,
         “Benarkah yang sudah kudengar kemarin? .....Kemarin dia bilang, aku teman curhat yang cocok untuk dia. …..Oohh…benarkah aku tidak salah dengar? Benarkah yang kualami semua ini? benarkah semua ini bukan mimpi? Benarkah ya Allah..?”
         Hening sejenak. Begitu tenangnya suasana masjid Al-Furqan. Siapapun yang bersih jiwanya, pasti bisa mengerjakan sholat dan dzikir dengan khusyuk. Sekarang Hamdi sedang berdoa di tempat yang bersih dan tenang, namun ketenangan suasana itu hanya bisa dirasakan badannya. Ketenangan suasana itu berbeda jauh dengan hatinya yang sedang goncang. Walaupun suasana masjid begitu tenang, Hamdi seperti mendengar keributan, sebagaimana ributnya suasana di toko, pasar atau swalayan. Yah, keributan karena sedang terjadi duel hebat antara setan dan malaikat.    
         “Kenapa ya Allah?” gumam Hamdi yang masih tampak gelisah. “Kenapa Engkau belum mengusir wajahnya dari hatiku? Bukankah Engkau sendiri yang mengatakan pada hamba-hambaMu: “Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tentram karena mengingat Allah. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” *

      Catatan kaki :  * Al-Quran surat Ar-Ra’du, surat ke 13 ayat ke 28

         “Sudah berkali-kali aku menyebut asmaMu yang Agung, tapi kenapa Engkau belum menentramkan hatiku? Kenapa Engkau belum mengusir penjual kue bolu itu dari hati dan pikiranku? Kenapa ya Allah, Gusti Yang Maha Pemurah?”
         Hening sebentar, lalu bergumam lagi, “Setelah gadis-gadis yang kucintai pada menikah, hatiku kosong dari segala tambatan hati. Setelah gadis-gadis yang kucintai jadi milik orang, hatiku terlepas dari segala macam keinginan untuk mencintai wanita, apalagi memiliki teman hidup. …Di satu sisi aku agak sedih, tapi di sisi lain aku bisa merasa plong. Dan rasa plong-ku ini lebih besar. …Dengan hati kosong dari ‘si rambut panjang,’ hatiku bisa lebih terfokus ke ibadah dan pekerjaan.”
         “Tapi sekarang…ohh. Sekarang hatiku sudah tertambat lagi pada cinta. Yah..cinta yang ada pada diri seorang perempuan muallaf. Perempuan yang baru kehilangan buah hatinya. …Sekarang aku benar-benar sedang dapat godaan berat. …Aku jatuh cinta lagi. …Dan yang paling menyiksa hati…perempuan yang kucintai itu sudah bersuami.”
         Hening sebentar. Hamdi benar-benar tidak bisa merasakan heningnya malam dan tenangnya suasana rumah Allah. Ia tampak semakin gelisah, padahal ia sudah berkali-kali menyebut namaNya. Karena sudah lelah, akhirnya Hamdi pasrah saja. Ia   berbaring di lantai masjid yang dilapisi karpet. Ia bergumam lagi, “Perempuan cantik setengah Arab, jago membuat makanan lezat…aku sudah berusaha mati-matian mengusir kamu dari kamar cinta di hatiku, tapi sampai sekarang belum bisa. Yahh…karena aku sudah lelah…kubiarkan saja dirimu hadir di kamar hatiku..toh semua ini belum tentu dari setan. …Dan siapa tahu…wajah elokmu itu malah bisa menentramkan hatiku, mengisi kekosongan jiwaku, dan membangkitkan semangat bekerjaku. Amin!”
         Demikianlah keadaan Hamdi sekarang. Ia benar-benar sudah jatuh hati pada Isma. Demikian pula sebaliknya. Lihatlah keadaan Isma sekarang. Sejak menjamu Hamdi sore itu, Isma sering menghabiskan waktunya untuk melamun dan melamun. Apalagi yang ia lamunkan kalau bukan Hamdi. Sejak pertemuan sore itu, Isma selalu ingin bersama Hamdi. Isma yang sedang kasmaran berat ini menjadi lupa dengan statusnya sebagai Nyonya Iskandar. Akibat jatuh cinta pada lelaki lain, Isma menjadi lupa kalau ia sudah bersuami. Hamdi dan Isma benar-benar sedang mendapat godaan maha berat. Hamdi yang mengaku sering gagal dalam bercinta, sekarang bisa dikatakan beruntung. Sekarang ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
         Kini Isma sedang melamun di ruang tamu. Wajahnya terlihat tidak bergairah. Semua itu karena ia sedang memendam rindu berat pada seseorang. Ia sedang mendambakan cinta kasih yang selama ini belum pernah ia rasakan. Cintanya yang sudah begitu berat itu membuat beban di hatinya semakin menumpuk. Sedetik kemudian ia meneteskan air mata. Murni yang kebetulan melewati ruang tamu, terkejut melihat tuan putrinya menangis. Ia langsung duduk di samping Isma, lalu memeluk kedua bahunya. Gadis manis yang sifatnya mirip Isma ini bertutur, “Ya Allah Mbak! Ada apa lagi ini?! Oohh…kenapa Mbak kelihatan sedih sekali?!”
         Pertanyaan Murni itu membuat Isma semakin sedih. Tangisnya semakin sesenggukan. Murni bicara lagi, “Kalau ada masalah cerita dong Mbak..jangan dipendam sendiri. Saya kan sudah lama ikut Mbak, jadi kenapa Mbak masih merasa tidak enak sama saya?! ...Selain sama Bu Darti, Mbak Isma juga bisa curhat sama Murni yang bodoh ini.  Oohh (mata berkaca-kaca)…memang apa yang sudah terjadi Mbak?! Apa Bapak menyakiti Mbak lagi?”
         Isma menggelengkan kepala, kemudian mengelus kepala Murni yang sebelah kiri. Air matanya mengalir semakin deras. Murni yang kalem seperti Isma, langsung ikut menangis sesenggukan. Kini yang terdengar di ruang tamu hanya desah tangis yang mengiris hati. Pembantu dan majikan yang sangat akur ini berpelukan erat. Mereka hanya bisa melukiskan kesedihan mereka dengan menangis pilu. Beberapa saat kemudian, tetes air mata Isma mulai berkurang, demikian juga Murni. Sambil mengatur nafas yang terasa sangat berat, Isma berkata, “Bukan Mas Kandar yang membuatku begini.”
         “Terus siapa?!” Tanya Murni penasaran. Isma memejamkan mata. Dengan kondisi hati yang sudah terasa lebih tenang, Isma berkata, “Aku mau cerita. Tapi kamu harus janji dulu sama aku.”
         “Janji apa?”
         “Janji untuk tidak menceritakan ke siapapun, kecuali Bu Darti. Bisa?”
         Murni mengangguk. “Insya Allah. Akan kubuktikan kalau aku bukan gadis yang hobi ngrumpi. …Kalau aku sampai bohong, Mbak bisa langsung mendepak aku dari rumah ini.”    
         Isma mengangguk mantap. Walaupun belum bisa tersenyum, kepedihan di wajahnya sudah berkurang banyak. Tanpa ragu lagi, Isma langsung menceritakan semuanya pada Murni. Isma menceritakan segala beban hatinya dengan sejujur-jujurnya. Beberapa saat kemudian Murni tersenyum. Aku sudah menebak.”
         “Sejak kapan kamu tahu?”
         “Sejak pagi itu. Sejak dia membantu Kang Tris mendorong mobil.”
         Hening sejenak. Murni yang sudah bisa tersenyum, memeluk kedua bahu Isma yang matanya masih basah, lalu bicara lagi. “Apa yang Mbak alami ini sangat wajar, soalnya Mas Hamdi itu orangnya baik banget. Sudah alim, suka menolong orang, dan lain sebagainya. Apalagi dia masih bujang. Hi hi hi. …Tapi saya juga heran..lelaki jempolan seperti dia kok masih sendiri. Kenapa ya? …Apa mungkin…dia banyak masalah ya?”
         “Aku sependapat Mur,” sahut Isma yang air matanya sudah mengering. “Mungkin dia memang banyak masalah …terutama masalah keluarga.”
         “Aku juga mau ngomong begitu Mbak (sambil menepuk lengan kanan Isma yang di atas siku). “Kalau dipikir-pikir, Mas Hamdi itu kurang apa? Wajah lumayan  ganteng, gagah, alim, imam masjid, dari keluarga menengah ke atas, dan sejenisnya. Hih hi hii. Dia memang oke banget. …..Ehmm…kalau mau jujur..dia dan Mbak Isma cocok banget.”
         “Kamu ini!” kata Isma sambil menepuk bahu kanan Murni. “Jangan ngawur ah (tersenyum malu)!”
         “Sumpah Mbak, demi Allah! Mbak cocok banget sama dia. Betul!”  
         Kedua pipi Isma memerah karena tersanjung. Ia menundukkan kepala, lalu tersenyum manis sekali. Senyum menawan yang menghapus kesedihannya beberapa saat tadi. Alangkah leganya Murni melihat Tuan Putrinya sudah bisa tersenyum lagi.  Dua perempuan cantik ini melanjutkan perbincangan mereka yang semakin serius. Kali ini Hamdi yang menjadi topik pembicaraan mereka. Murni bertanya, “Terus sekarang masalahnya apa?”
         Pertanyaan itu membuat Isma sedih lagi, walaupun tidak sampai menangis lagi. Karena sudah percaya penuh pada Murni, Isma tidak ragu lagi untuk menceritakan beban hatinya yang paling mendasar. Murni sendiri bilang, seberat apapun beban di hati Isma itu, kalau bisa hilang dengan diceritakan kepada Murni, ya sebaiknya diceritakan saja. Walaupun mungkin nanti bisa berdampak buruk, hal itu lebih baik daripada dipendam di hati, yang tentunya bisa membuat Isma menderita berat.
         Alangkah gembiranya Isma mendengar kata-kata pembantu setianya itu. Ia langsung mengungkapkan hasratnya yang paling mengganjal di hatinya. Ia ingin mengungkapkan perasaan cintanya itu pada Hamdi. Ia tidak peduli dengan tanggapan Hamdi nanti. Ia juga tidak peduli dengan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpanya nanti. Yang penting ia sudah mengeluarkan beban terberat di hatinya. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa melegakan hati Isma, kecuali mengatakan: “I love you” kepada Hamdi. Isma juga sudah memikirkan matang-matang tentang cara yang akan ia lakukan nanti. Ia akan melakukannya dengan sehalus dan sesopan mungkin.
         Demikianlah keinginan Isma saat ini. Keinginan yang sangat mencengangkan. Keinginan yang amat sangat sulit diwujudkan untuk perempuan berstatus istri seperti Isma. Namun sekali lagi, Isma tidak peduli dengan masalah apapun yang harus ia hadapi nanti. Pokoknya Isma hanya ingin melegakan hatinya. Tentu saja Murni kebingungan, namun tak lama kemudian ia mengangguk mantap, “Kalau memang hanya itu yang bisa melegakan hati Mbak Isma, ya lakukan saja. Aku  dukung.”
         “Kamu mendukung?!” Tanya Isma tersentak gembira. Murni mengangguk sambil tersenyum. Isma langsung memeluk Murni sambil berujar, “Makasih banyak ya Mur. Oohh..kamu benar-benar sudah seperti sahabatku, saudaraku. Makasih banyak sekali ya?”
         “Sama-sama Mbak. Semua ini sudah seharusnya kulakukan, sebab selama ini Mbak sudah  terlalu baik sama aku.”
         Setelah curhat pada Murni, Isma ganti curhat pada Darti, tetangga terbaiknya. Semula Isma agak ragu untuk menceritakan hasratnya itu, namun karena Isma percaya pada kebaikan akhlak Darti selama ini, akhirnya Isma mantap untuk menceritakan beban yang sudah membuatnya menderita selama beberapa minggu ini. Awalnya Darti sedikit terkejut mendengar hasrat Isma itu, namun karena ia perempuan sholelah, perempuan jujur, sabar dan penuh pengertian, akhirnya ia bisa memaklumi masalah yang menimpa sahabat mudanya itu. Kini Darti dan Isma berpelukan erat sambil menangis. Isma menaruh kepalanya di dada Darti. Darti yang tangisnya hanya lirih, mengelus rambut Isma yang tangisnya sesenggukan. Perempuan lima puluh tahunan ini berkata lembut,
         Insya Allah, aku akan membantu Mbak Is semampuku. …..Besok carilah waktu yang tepat.”
         Isma mengangguk lemah. “Insya Allah Bu. …Aku janji sama Bu Darti. Semua ini tidak akan kulakukan dengan ngawur atau ceroboh. …Semua ini akan kulakukan dengan sebaik-baiknya.”
         “Bagus sekali (tersenyum lega). Nah, sekarang akan kuceritakan tentang keluarga Pak Hasan Sujardi..biar Mbak Is punya gambaran tentang Mas Hamdi dan latar belakang keluarganya. Aku hanya akan menceritakan apa yang kuketahui. Demi Allah, aku tidak berniat menambah atau mengurangi.”
         Isma tersentak. “Jadi Ibu tahu tentang Mas Hamdi dan keluarganya?!”
         “Sedikit banyak tahu,“ jawab Darti tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, sekarang kuceritakan.”
         Sebelum bercerita, Darti mengatakan kalau semua yang ia ketahui itu hanya ia dengar dari Bu Mardiyono atau Bu Endah, sahabatnya Bu Sujardi atau Retno, ibunda Hamdi. Seperti yang sudah diceritakan di bab sebelumnya, Hamdi sudah menganggap Endah sebagai ibu keduanya. Usia Endah dan Retno terpaut 5 tahun. Endah 59 tahun, Retno 54 tahun. Dua ibu itu sudah seperti kakak-adik. Selain karena sangat akrab, wajah Endah dan Retno juga mirip. Hamdi sendiri sering mengatakan, kemiripan wajah Endah dengan wajah Retno melebihi kemiripan wajah Sari, bibinya Hamdi, adik kandungnya Retno yang sekarang tinggal di Bandung.     
         Setiap ada masalah, apalagi masalah besar, Hamdi dan ayah-ibunya selalu curhat pada Endah Martini, begitulah nama lengkapnya. Hamdi sangat bersyukur memiliki teman curhat seperti Endah. Demikian pula Retno dan Sujar. Retno yang galak itu memang harus punya teman curhat seperti Endah, Perempuan Anti Marah, begitulah julukan yang diberikan ibu-ibu Bumi Indah kepada perempuan asli Kediri itu. Semua orang yang sudah mengenal Endah, tidak ada yang menganggap julukan itu berlebihan, sebab kenyataannya memang begitu. Endah, perempuan lembut yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah di atas setengah abad, memang sosok wanita yang amat sangat sabar. Hamdi yang tidak pernah cocok dengan ibunya sendiri, selalu mencurahkan segala beban hatinya pada Endah. Hamdi yang mengaku sering dimarahi ibunya sendiri, selalu mengadukan masalah yang menimpanya pada Sang Ibu Kedua.
         Begitu dekatnya hubungan Endah dan Retno, sehingga wajar kalau Endah mengetahui segala hal tentang Hamdi sekeluarga. Kedekatan Endah dan Retno ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk Bumi Indah, termasuk Darti. Dengan demikian, kalau ada orang yang berurusan atau punya masalah dengan Retno, orang tersebut, terutama ibu-ibu jama’ah pengajian Al-Furqan, selalu mengadu ke Endah. Kalau orang-orang itu tidak berani menyelesaikan sendiri urusan mereka dengan Retno, mereka langsung menjadikan Endah sebagai perantara.
         Sekarang Hamdi sekeluarga sedang mendapat masalah besar. Mereka sedang mendapat cobaan yang sangat berat dari Allah SWT. Dan sekali lagi, hanya Endah yang sudah mengetahui masalah itu. Selain sabar, Endah juga sangat terpercaya dalam memegang amanat. Endah sudah mengetahui keganasan mulut kaum hawa di Bumi Indah, terutama ibu-ibu pengajian dan arisan. Walaupun hampir setiap hari mendatangi pengajian di Al-Furqan maupun di masjid lain, ibu-ibu itu tetap hobi ngrumpi. Karena itu, Endah sangat hati-hati terhadap mereka. Dia tidak akan menceritakan masalah yang menimpa keluarga Sujardi pada sembarang orang. Dia hanya akan menceritakan hal itu pada mereka yang benar-benar terpercaya, dan itu amat sangat sedikit. Ibaratnya, seribu satu, atau sepuluh ribu satu, atau bahkan mungkin lima puluh ribu satu.
         Jika ada seratus orang yang mengikuti pengajian, mungkin hanya dua lima  orang yang benar-benar menyerap ilmu agama yang diberikan ustadz-nya. Dari seratus orang itu, mungkin hanya dua lima orang yang benar-benar memahami dan menghayati materi pengajian tersebut. Dari dua lima orang itu, mungkin hanya lima orang yang sudah mengamalkan ilmu agama itu dalam kehidupan sehari-harinya. Sama halnya dengan penduduk Bumi Indah. Hanya segelintir dari mereka yang bisa memegang amanat, termasuk amanat untuk menutupi aib atau kejelekan saudara seimannya.
         Karena Hasan Sujardi sudah termasuk tokoh nomor satu di komplek Bumi Indah, segala yang berhubungan dengan Sujar dan keluarganya, pasti akan menjadi topik menarik bagi para tetangganya yang hobi menggunjing. Berkat menjadi ketua takmir masjid Al-Furqan, Sujar menjadi tokoh terkondang di perum. elit Bumi Indah. Apalagi Sujar juga memiliki putra yang menjadi imam masjid. Putra yang bisa menjadi contoh untuk anak-anak muda Muslim di Bumi Indah. Berkat semua itulah, seluruh penduduk Bumi Indah menghormati Sujar dan Hamdi.
         Namun sekarang mereka sedang mendapat ujian berat dari Sang Pencipta. Retno sering berkata, “Kalau aku tidak punya Allah, sekarang aku sudah minum minuman keras. Nanti kalau aku mabuk, masalah yang sedang kuhadapi ini seolah hilang. Hih hii. Kalau aku sudah tidak mempercayai akhirat, surga dan neraka, sekarang kepalaku sudah kubenturkan ke tembok, biar aku tidak usah pusing memikirkan masalah ini.”
         Perkataan itu sering ia ucapkan ketika ia memarahi Hamdi. Mendengar kata-kata itu, Darwan, adik ketiga Hamdi yang juga sholeh, yang sekarang kerja di Padang,  berseru, “Istighfar Maa! Istighfar! Ittaqillaah..ittaqillaah! (takutlah atau bertakwalah  kepada Allah  Mama tidak boleh ngomong begitu lagi! Putus asa itu termasuk dosa besar! “Janganlah  engkau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang perputus asa dari rahmat Allah, kecuali  orang-orang kafir.” *  
               
            Catatan kaki : * Al-Quran surat Yusuf, surat ke 12 ayat ke 87

         Walaupun Retno sekeluarga sudah mati-matian menutup musibah yang sedang menimpa keluarganya, tetap saja ada dari tetangganya yang mengetahui masalah tersebut. Dan yang membuat Retno marah besar sekaligus cemas, tetangganya yang mengetahui masalahnya itu tergolong orang yang mulutnya ganas, yang hobinya mengorek aib tetangganya, lalu ia sebarkan ke seluruh Bumi Indah. Tetangga yang mulutnya mengerikan itu rumahnya dekat dengan rumah Retno. Jarak rumahnya dengan rumah Retno hanya terpaut sekitar 10 meter. Letaknya di sebelah timur  masjid Al-Furqan. Namanya Sita. Ia perempuan berusia 35 tahun. Badan langsing, wajah manis, kulit sawo matang. Anaknya satu, lelaki. Sekarang kelas 1 SMA. Namanya Fardan. Dia seorang remaja yang tampan dan pendiam. Dia cukup sering membantu kegiatan kampung, termasuk kegiatan masjid. Dialah satu-satunya keturunan Sita dan Agung, suaminya yang sekarang dinas di Sukabumi.
         Walaupun Sita dan Fardan cukup rajin datang ke masjid, Sita itu tetap seorang perempuan berakhlak tidak baik. Walaupun Sita itu tergolong perempuan berwajah lumayan, banyak orang yang menganggap dirinya tidak enak dilihat. Padahal kalau seseorang itu cantik atau tampan, seharusnya enak dilihat, namun kenyataannya? Tidak sedikit penduduk Bumi Indah yang menganggap Sita itu tidak menyenangkan. Bagi yang sudah mengenal Sita dengan baik, termasuk Retno, dia tidak akan ragu untuk mengatakan: Sita itu menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan. Yah, semua itu karena mulutnya yang lebih berbisa dari racun ular kobra. Dan masih banyak lagi penduduk Bumi Indah yang kesukaannya berjalan ke sana kemari untuk membicarakan aib tetangganya sendiri.
         “Dan Alhamdulillah,“ tutur Darti,aku termasuk orang yang sedikit itu. Aku termasuk orang yang dipercaya Bu Endah. Makanya, beliau mau menceritakan semua ini ke aku. Tapi beliau pesan agar aku jangan bilang Bu Sujar.”
         “Bilang apa?”
         “Ya bilang kalau beliau sudah menceritakan semua ini ke aku. …Nah, sekarang akan kuceritakan masalah yang sedang menimpa keluarga Bu Sujar. …Tapi sebelumnya, Mbak Is harus meyakinkan aku dulu.”
         “Meyakinkan apa?”
         “Meyakinkan kalau Mbak Is bisa menutup aibnya Bu Sujar sekeluarga.”
         Isma tersenyum. “Apa selama ini Bu Darti pernah melihat atau mendengar aku ngomel ke sana kemari?”
         Darti menggelengkan kepala sambil tersenyum. Isma melanjutkan, “Apa Bu Darti menganggap hubungan kita selama ini belum dekat?”
         Darti kembali menggelengkan kepala. Isma tersenyum, “Kalau begitu, apa lagi yang Ibu ragukan.”
         Darti tersenyum. “Mbak Ayu, Insya Allah aku percaya Mbak Ayu tidak suka menggunjing ke sana-sini.”
         Isma tersenyum manis. “Kalau kita ingin dihargai orang, terlebih dahulu kita  harus menghargai orang. Kalau kita tidak ingin kejelekan kita terungkap, ya kita jangan suka mengorek kejelekan orang lain, apalagi orang lain itu saudara kita sesama muslimah. …Ustadzah Aminah pernah menyampaikan sebuah hadits. Kalau tidak keliru, artinya begini. Barang siapa yang menutupi kejelekan atau kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah juga akan menutupi kejelekannya, baik di dunia ini, terlebih lagi di akhirat kelak.”
         “Nah, aku tidak ingin masalahku tentang Mas Hamdi ini diketahui orang. Hanya diketahui sedikit orang saja aku tidak mau, apalagi diketahui banyak orang. Apalagi orang-orang yang mulutnya ganas. Makanya itu, aku juga wajib menutupi masalah yang sedang melanda keluarga Bu Sujar. Apalagi aku dan Bu Sujar juga sudah cukup akrab.”      
         Kata-kata Isma itu membuat Darti tersenyum lega. Ia benar-benar percaya kalau Isma bisa memegang amanat. Lagipula, Darti juga sudah melihat sendiri keluhuran akhlak Isma selama ini. Baru setahun lebih sedikit Isma menjadi penduduk Bumi Indah,  namanya sudah terkenal di kawasan elit tersebut. Bahkan di perumahan dan kampung-kampung sebelah pun, nama Ismayani Puspita sudah cukup menjadi buah bibir. Semua itu berkat dua hal. Kemahirannya membuat kue lezat, dan akhlaknya yang luhur. Kebanyakan orang berpendapat, Isma itu perempuan yang anteng dan berjiwa sosial tinggi. Ia tidak suka neko-neko (aneh-aneh). 
         Karena sudah percaya sepenuh hati pada Isma, Darti langsung memulai ceritanya, cerita tentang keluarga Hasan Sujardi, orang tua lelaki yang kini menjadi tambatan hati Isma. Hasan Sujardi dan istrinya, Retno Tri Maryani, sama-sama asli Magetan, Jatim. Usia mereka terpaut cukup jauh. Tujuh setengah tahun. Ketika Sujar sudah mau lulus kuliah, Retno baru kuliah semester awal. Mereka bertemu di kursus yang diselenggarakan di Bantul. Setelah berkenalan, mereka baru sadar kalau mereka berasal dari kota yang sama. Setelah semakin akrab, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati mereka. Selanjutnya, mereka mantap untuk hidup bersama selamanya. Mereka pun menikah, dan dikaruniai tiga putra. Semuanya gagah dan tampan. Mereka ialah:
         Hamdi Rusmanto, Ardan Ibrahim, Darwan Tri Hartono. Tujuh tahun kemudian, Retno dan Sujar kembali dikaruniai buah hati. Kali ini perempuan. Betapa bahagianya Retno dengan karunia itu. Ia sangat berterima kasih kepada Yang Maha Sempurna. Sejak melahirkan Darwan, Retno selalu mendambakan anak perempuan. Setelah cukup lama menanti, selang tujuh tahun sejak kelahiran Darwan, akhirnya Retno berhasil memiliki apa yang sangat ia inginkan. Buah hatinya yang bungsu itu ia beri nama Rina Septiyani. Septi dari kata September, bulan lahirnya.  
         Namun sayang seribu sayang, kebahagiaan Retno itu hanya berlangsung sebentar. Ketika Septi berusia setahun setengah, Allah SWT memanggilnya ke alam abadi. Gadis mungil yang amat menggemaskan itu pergi dari pangkuan Retno untuk selamanya. Hanya setahun setengah Retno merasakan kebahagiaan memiliki buah hati perempuan. Kepergian Septi benar-benar membuat tanah tempat Retno berpijak seperti terbelah. Retno sedih selama tiga bulan. Untung ada sang suami yang sholeh. Lelaki berwatak tegas itu selalu mengingatkan Retno untuk tidak sedih berlarut-larut. Sujar selalu mengatakan, “Ingatlah Ma, kita masih punya tiga buah hati yang masih membutuhkan kasih sayang kita. Tiga buah hati yang menjadi harta karun kita yang tak ternilai harganya. Insya Allah, mereka bisa menjadi tambatan hati kita di masa mendatang, dan Insya Allah untuk selamanya.”
         Nasehat luhur itu akhirnya bisa melenyapkan kesedihan Retno. Delapan tahun kemudian, Sujar dan Retno menemukan anak hilang di sebuah yayasan. Anak perempuan berusia 10 tahun itu sudah sebatang kara sejak usianya 3 tahun. Setelah ortunya pergi untuk selamanya, gadis cilik bernama Dina itu diasuh pamannya, adik kandung ayahnya, sampai usianya 7 tahun. Namun setelah itu, paman dan bibinya merasa keberatan untuk memeliharanya. Karena keberatan, akhirnya Dina ditelantarkan begitu saja. Gadis manis itu dilempar ke sana-sini oleh saudara-saudara dan teman-teman almarhum ayah-ibunya.
         Setelah berusia 10 tahun, gadis cilik asli Purwokerto itu ditemukan terdampar di sebuah yayasan anak yatim-piatu. Retno dan Sujar tidak sengaja menemukan anak itu. Waktu itu Sujar dan istrinya baru pulang dari dinas di Nganjuk, kemudian mampir di rumah Kasno, teman kuliah Sujar di fak Sastra UGM. Saat itulah, Kasno bercerita tentang seorang anak hilang di sebuah panti asuhan yang berada di dekat rumahnya. Menurut berita yang didengar Kasno, anak perempuan itu sangat ingin diadopsi. Karena tertarik, Sujar dan Retno langsung meminta Kasno untuk mengantar mereka.  
         Begitu melihat Dina, Sujar dan Retno, terutama Retno, langsung jatuh hati pada anak berhidung mancung itu. Apalagi kata Pak Harno dan Bu Fatimah, pemimpin  yayasan tersebut, Dina itu anak yang sangat menyenangkan. Dia cerdas, rajin, sopan, lembut dan dewasa. Pikirannya lebih dewasa dari usianya yang masih 10 tahun kurang 4 bulan. Harno dan Fatimah sendiri sebenarnya menyayangkan seandainya Dina diambil orang. Namun karena Harno merasa sudah tidak mampu lagi menolong Dina dari segi ekonomi, akhirnya Harno dan istrinya mengikhlaskan Dina diadopsi orang. 
         Awalnya Dina menolak karena takut pada Retno yang galak. Namun setelah tiga kali pertemuan, akhirnya Dina mau diambil sebagai anak oleh keluarga Hasan Sujardi. Sebelum mengadopsi Dina, Retno dan Sujar konsultasi dulu dengan ketiga putranya. Awalnya Ardan dan Darwan menolak, terutama Ardan yang egonya tinggi. Namun setelah melihat keseriusan sang ibu untuk memiliki pengganti Septi, akhirnya mereka setuju. Darwan yang lebih dulu mengatakan ‘setuju.’ Alangkah bahagianya Retno mendengar keputusan ketiga putranya. Tiga bulan kemudian, jadilah Dina Kurnia Sari sebagai putri sulung Hasan Sujardi. Darwan yang semula anak bungsu, sekarang memiliki adik. Saat pertama menjadi adik Darwan, Dina merasa kaku dan asing karena masih takut. Namun setelah sebulan lebih, akhirnya Dina bisa menemukan kedamaian menjadi putri bungsu Hasan Sujardi dan Retno Tri Maryani.     
         Setahun kemudian, saat Dina berusia 11 tahun, Dina mendapat kesempatan berduaan dengan sang ibu. Saat itu belum begitu malam, namun Retno sudah mau tidur karena seharian bekerja berat. Dina duduk di samping perempuan asing yang kini sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya. Retno yang sudah setengah tidur, mengelus rambut Dina yang lurus agak ngombak. Dua perempuan cantik ini tersenyum gembira. Setelah itu Dina tengkurap, lalu menaruh kepalanya di dada Retno. Beberapa detik kemudian Dina mengangkat kepalanya. Gadis cilik ini menatap sang ibu yang kelelahan, lalu berkata lembut, “Apa sekarang ini Mama masih merindukan Septi?”
         Retno tersenyum. “Mama akan selalu merindukan dia. …Maklumlah..dia darah dagingku. …Tapi Alhamdulillah, sekarang Gusti Allah sudah memberi ganti buat Mama. Ganti yang sama baiknya dengan Septi.”
         “Siapa itu Mah?”
         “Ya siapa lagi kalau bukan kamu (menyentuh hidung Dina yang mancung).”
         Alangkah bahagianya Dina mendengar kata-kata indah itu. Ia tersenyum manis sekali, kemudian berkata, “Makasih banyak Mah.”
         “Sama-sama Sayang.”
         Sedetik kemudian Dina kembali menaruh kepala kecilnya di dada sang ibu. Dengan mata berkaca-kaca, Dina berkata lembut, “Dina sayang banget sama Mama.”
         Retno yang matanya juga berkaca-kaca, mengelus rambut Dina, lalu menimpali, “Mama juga sayang banget sama kamu..sebagaimana Mama menyayangi Septi.”
         Sejak saat itu, hingga keempat putra Sujar tumbuh dewasa, Darwan-lah yang hubungannya paling dekat dengan adik angkatnya itu. Dina sendiri juga mengakui hal itu. Ia sering bilang, dari ketiga kakaknya yang semua lelaki, Darwan-lah yang paling bisa momong dia. Darwan-lah yang paling bisa mengerti dirinya. Lalu bagaimana dengan Hamdi? Apa dia tidak bisa momong Dina. Ketika Dina curhat pada Endah, Dina mengatakan, “Saya dan Mas Hamdi juga dekat, tapi kedekatan kami tidak seperti kedekatan saya sama Mas Darwan. Itu karena ada sedikit ketidakcocokan di antara kami.”
         “Tapi kamu tetap sering curhat sama dia kan?” Tanya Endah. Dina tersenyum. “Ya jelaslah Bu. Saya bersyukur sekali, punya kakak sulung seperti Mas Hamdi. Kalau Mas Darwan lagi tidak ada, saya selalu curhat sama Mas Hamdi. Kalau Mas Hamdi tidak ada, baru sama Mama.”            
         Demikianlah cerita tentang Sujar, Retno, Hamdi dan ketiga adiknya. Sekarang Sujar menjadi dosen UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), dulu IKIP, Jurusan Bahasa Asing dan Sejarah. Sedangkan istrinya yang dulu juga pernah menjadi guru SMA 3 B Padmanaba, sekarang menjadi ibu rumah tangga. Kalau sedang punya waktu senggang, Retno dan beberapa temannya berdagang pakaian perempuan, terutama pakaian Muslimah, juga berdagang gorengan. Namun itu sudah cukup lama berlalu, dan itu juga hanya kadang-kadang saja dilakukan Retno.
         “Begitulah Mbak Is,” tutur Darti yang tampak begitu semangat bercerita. Isma yang jiwanya larut dalam kisah ini, berkata, “Pantas..Dina itu tidak ada miripnya sama Pak-Bu Sujar, Mas Hamdi atau Mas Darwan. …Ah (tersenyum), waktu pertama kenal Bu Sujar dulu, aku sempat mengira Dina itu istrinya Mas Hamdi.”
         “Aku juga mengira begitu,“ sahut Darti tersenyum. “Nah, kisah tentang asal-usul keluarga Pak Sujar sudah kuceritakan. Sekarang akan kuceritakan kisah selanjutnya. Kisah tentang masalah besar yang sedang menimpa keluarga Bu Sujar.”
         Sejak tahun 1998, Sujar mendapat rejeki melimpah dari Yang Maha Pengasih. Dengan niat ingin mensyukuri nikmat tersebut, Sujar membangun sebuah toko kelontong atau supermarket besar di wilayah utara Yogyakarta, tepatnya di Kaliurang.  Disamping profesi utamanya sebagai pemberi ilmu, suatu profesi yang dalam kaca mata Islam merupakan profesi yang amat sangat mulia, Sujar juga ingin mencoba bisnis, suatu pekerjaan yang sudah lama sekali ia tinggalkan.
         “Kata Bu Mardi,” ujar Darti, “waktu kuliah dulu Pak Sujar pernah jualan telur sama pakaian. Itulah pekerjaan beliau sebelum jadi guru besar. Jadi dunia bisnis sudah tidak asing bagi beliau. …..Hanya saja, karena dunia wiraswasta sudah beliau tinggalkan cukup lama, beliau jadi agak kesulitan saat memulai proyek itu. Tapi Alhamdulillah, berkat bantuan teman-teman beliau yang bisnisman, tokonya jadi dalam waktu setahun dua bulan.”
         Akhir tahun 1999, Sujar berhasil mendirikan supermarket besar di Jl. Kaliurang km 14, juga toko kayu yang letaknya hanya sekitar 30 meter dari toko tersebut. Tokonya diberi nama Maryani, diambil dari nama belakang Retno. Sedangkan toko kayunya diberi nama Darwan, nama putra ketiganya, sebab memang Darwan yang memegang toko kayu tersebut. Menurut Sujar dan Retno, dari semua putranya, Darwan-lah yang paling berbakat dalam bisnis. Semua kawan dan tetangga Sujar pun mengakui hal itu. Mereka sependapat, adik ketiga Hamdi itu memang berbakat, rajin, jujur dan amanah. Darwan yang saat itu masih kuliah di Pertanian UGM, mendapat amanat yang cukup besar dari sang ayah. Sedangkan Ardan yang angkuh dan agak pemalas, diminta Sujar untuk memegang toko Maryani. Ardan minta ijin ayahnya untuk merekrut semua temannya yang sealiran dan sepemikiran dengan dia. Pemuda bertubuh atletis yang tinggi hati itu ingin merekrut semua temannya yang penganggur atau yang di PHK. Ardan ingin menjadikan semua temannya itu sebagai bawahannya. Sujar pun mengijinkan keinginan putra keduanya yang manja itu.
         Dua bisnis Sujar yang cukup besar itu berjalan lancar. Supermarket Maryani dan toko kayu Darwan. Hal itu jelas membuat ekonomi keluarga Hasan Sujardi semakin mapan. Namanya di masyarakat pun semakin harum. Semua kawan Sujar, baik kawan yang sekantor maupun orang-orang Bumi Indah, sering mengatakan: “Pak Sujar memang hebat. Wajar kalau beliau disegani kawan maupun lawan. Sudah ilmuwan, sholeh, kaya, ketua takmir masjid Al-Furqan, dan lain-lain.” Begitulah komentar kebanyakan orang yang sudah mengenal Hasan Sujardi. 
         Sayangnya, empat tahun kemudian, tepatnya di pertengahan tahun 2003, kelancaran usaha dua toko besar itu mulai mengalami penurunan drastis. Supermarket Maryani yang ditangani Ardan itu nyaris ambruk. Kemungkinan besar, semua itu tidak lepas dari kinerja Ardan yang kurang beres. Sedangkan toko kayu Darwan, masih sedikit lebih baik. Walaupun bisa dikatakan nyaris hancur, usahanya masih jalan, masih bisa memberi sedikit penghasilan untuk pemiliknya. Atau setidaknya masih bisa untuk makan sehari-hari. Namun tak lama kemudian, dua usaha Sujar yang sudah berjalan selama 3,5 tahun itu musnah. Toko Maryani yang terlebih dahulu gulung tikar. Selang dua bulan kemudian,  toko kayu Darwan menyusul. Begitulah nasib bisnis Sujar yang sebenarnya sudah bisa dikatakan sukses.
         Remuknya dua usaha besar itu sangat mempengaruhi perekonomian rumah tangga Sujar. Apalagi anak-anaknya belum ada yang mentas, walaupun saat itu usia mereka sudah tergolong dewasa. Sejak pertengahan tahun 2004, setahun setelah toko kayu Darwan musnah, ekonomi rumah tangga keluarga Sujar semakin terpuruk. Sampai detik ini, pertengahan tahun 2007, dampak kegagalan bisnis besar itu semakin terasa menyakitkan bagi Sujar dan anak istrinya. Sudah tiga tahun ini Sujar memiliki hutang yang semakin hari semakin menggunung. Selama tiga tahun ini Sujar dan Retno, terutama Retno, pusing tujuh keliling. Mereka selalu dikejar-kejar para piutang yang meminta kembali hak mereka. Apalagi pihak piutang yang dari bank, yang nyaris setiap hari meminta uang mereka pada Sujar dan Retno yang lagi bokek berat. 
         Retno mendatangi semua kenalannya, baik tetangganya maupun temannya yang di luar Bumi Indah, untuk meminjam uang. Retno yang lagi kalang kabut itu selalu ditemani Endah, kakak sekaligus sahabat abadinya. Retno berhutang untuk membayar hutang. Ibaratnya, menggali lobang untuk menutup lobang lain. Retno pinjam uang pada si A, untuk melunasi hutangnya pada si B. Jika besok si A menagih, Retno akan mendatangi si C untuk mengembalikan uang si A. Begitulah seterusnya. Sujar sendiri hanya bisa gigit jari. Ia tidak bisa membantu istrinya melunasi hutang. Gajinya sebagai dosen cuma berapa? Apalagi dosen di jaman  serba susah seperti sekarang ini.
         Saat Retno sedang stress karena ditagih hutang, ia tidak ingin diganggu siapapun. Ia tidak ingin diganggu sedikit pun. Kalau ada orang yang mengganggu dia sedikit, walaupun itu tidak sengaja, dia langsung marah, lalu memaki orang itu. Atau bisa juga dalam bentuk lain. Kalau Retno sedang diam sambil cemberut, lalu ada orang bertanya sesuatu kepadanya, pertanyaan itu tidak dia jawab. Pertanyaan itu hanya dia anggap angin lalu. Kebiasaan Retno yang kurang baik ini sudah diketahui banyak orang. Pokoknya kalau Retno sedang seperti itu, berarti dia sedang ditagih hutang. Dari keempat anaknya, Hamdi dan Ardan yang sering ia semprot, terutama Hamdi. Saat Retno sedang diam dengan wajah merah menyala, Hamdi bertanya sesuatu. Saat itulah, api amarah Retno langsung menyala. Retno sering mengomel pada Hamdi, “Aku ini lagi pusing memikirkan hutangku yang segunung! Jadi jangan kamu ganggu dengan hal-hal atau pertanyaan-pertanyaan sepele!”
         Begitulah Retno kalau sudah kalap. Padahal bisa saja pertanyaan yang diajukan Hamdi itu menyangkut hal penting, namun Retno selalu menganggapnya remeh. Yah, sangat remeh kalau dibanding masalahnya yang sangat ruwet. Hamdi yang sebenarnya juga merasa sebal dan ingin marah, lebih memilih diam. Hal itu wajar, sebab ia merasa diremehkan. Ketika ia mau melampiaskan amarahnya dengan cara berkata-kata keras, Dina dan Endah langsung memintanya untuk istighfar. Hamdi pun mati-matian menahan amarahnya dengan eling Gusti Allah. Berkat rahmatNya, akhirnya Hamdi berhasil menahan amarahnya yang sudah meluap. Hamdi pun sadar dengan kondisi jiwa ibunya yang memang sedang tertekan. Berkat ibadahnya yang selama ini sangat kuat, akhirnya Hamdi bersedia mengalah, dan mau untuk lebih memperhatikan derita Retno.    
         “Begitulah kisahnya,” ujar Darti dengan wajah memelas. “Bu Sujar sendiri sering bilang..kalau tidak punya teman sebaik Bu Endah, mungkin beliau sudah menderita panjang. Beliau akan selalu susah dalam hidupnya. Subhanallah. Bu Endah itu memang jempolan. Dia benar-benar cocok jadi psikolog-nya keluarga Bu Sujar.”
         “Kasihan sekali Bu Sujar,” tutur Isma yang wajahnya juga mengiba. Ia seperti bisa merasakan derita ibunya lelaki yang ia cinta itu. Ia melanjutkan, “Nasib beliau hampir sama aku...sama-sama kehilangan anak perempuan yang masih sangat dini. … Tapi beliau masih lebih beruntung. Beliau masih punya tiga putra.”
         Diam sekitar lima detik, lalu bicara lagi. “Dan sekarang..Mas Hamdi sekeluarga sedang mendapat cobaan berat dari sisi ekonomi. …Oh…Mas Hamdi dan keluarganya sangat pantas dikasihani.”
         Darti tersenyum, lalu menyentuh bahu kiri Isma. “Kita hanya bisa berdoa. Semoga Allah segera menyelesaikan masalah mereka. Allah itu Maha Penyayang. Dia tidak akan memberi cobaan kepada hambaNya, kecuali cobaan yang sesuai dengan kemampuan si hamba.” *
         “Betul sekali Bu,” sahut Isma mengangguk seraya tersenyum. “Yang penting Bu Sujar sekeluarga tetap berbaik sangka pada Allah. Bu Sujar harus yakin, semua cobaan atau masalah, pasti ada hikmahnya.”

         Catatan Kaki : * Al-Quran surat Al-Baqarah, surat ke 2 ayat terakhir (286)

                                                        * * * * *

         Pagi itu, ketika Isma baru pulang dari belanja di warung, ada sesosok tubuh yang mengawasi Isma dengan seksama. Sosok pria itu memakai pakaian serba gelap. Mulai dari jaketnya, hingga helm dan cadarnya yang begitu rapat, sehingga wajahnya tidak terlihat. Ia dan motor bebeknya berada di samping tiang listrik yang jaraknya dengan rumah Isma terpaut sekitar 25 meter. Ia terus mengawasi Isma yang berjalan kaki. Setelah perempuan itu masuk ke rumahnya, sosok aneh ini membuka cadarnya, dan tampaklah wajahnya yang cukup seram.
         Ia seorang lelaki dewasa sebaya Hamdi. Usianya sekitar 32 tahun. Bibir agak tebal, kulit coklat tua. Ia memelototi Isma dengan penuh kebencian. Ia seperti menaruh dendam mendalam pada Isma. Bibirnya menyeringai, berusaha menahan api dendam di dadanya. Hal itu membuat wajahnya terlihat semakin sangar. Sebenarnya wajahnya tidak jelek. Wajahnya biasa saja. Namun karena hatinya sudah dipenuhi bara dendam yang membara, wajahnya menjadi terlihat jauh lebih mengerikan dari harimau terbuas yang sedang marah.
         Sambil cengar-cengir, pria aneh ini berkata lirih, “Isma…kamu akan segera merasakan derita kakakku. …Kamu…dan suamimu yang brengsek itu!”
         Setelah mengumpat dengan pelan, ia mengambil HP di sakunya, kemudian menelpon seseorang. Sesaat kemudian, telponnya diterima oleh seorang pria yang misterius pula. Telpon dari Hand Phone itu ia terima dengan telpon biasa. Pria itu duduk di kursi besar dan empuk. Ia berada di sebuah ruangan gelap. Pria yang tadi menelpon, berkata, “Aku sudah sampai Kang. Tadi Isma lewat di depanku persis.”
         “Lewat di depanmu?” Tanya suara berat dan serak. Si pria pemegang HP mengangguk mantap. “Kira-kira tiga menit yang lalu. Sekarang aku ada di timur rumahnya. Ehm..apa perlu aku melewati rumahnya?”
         “Tidak perlu. Yang penting kamu sudah survey. Ehm (menghisap rokok)..ya sudah, sekarang kamu boleh balik. Besok langsung kamu praktekkan saja.”
         “Baik Kang.”
         Setelah menutup pembicaraan dengan Si Aneh, Si Sangar ini kembali memelototi rumah Isma, lalu berkata, “Iskandar…Isma…kalian sudah menghancurkan hidup Kang Kasman. …Aku tidak terima. Tidak terima! …Tapi sabar saja. Toh sebentar lagi kalian juga akan menderita panjang. Bahkan derita kalian bisa melebihi derita Kang Kasman. …Tunggu saja tanggal mainnya.”
         Setelah puas mengumpat, lelaki yang kelihatannya orang jahat ini langsung meninggalkan komplek Bumi Indah. Sedangkan pria misterius yang ditelponnya tadi sekarang masih duduk di posisinya. Sambil mengepulkan asap rokok, pria aneh ini mengangguk-angguk. Wajahnya belum bisa digambarkan. Wajahnya masih tertutup gelapnya ruangan. Tapi yang jelas, wajah pria aneh ini mengerikan. Kulit dahi dan kulit pipi di bawah matanya berkerut. Dengan mata melotot, ia acungkan kepalan kanannya di depan mukanya, lalu mengumpat, “Iskandar keparat! Sebentar lagi kamu akan mampus! Akan kukembalikan penderitaan tujuh tahun yang lalu. Tunggu saja, brengsek!”
         Siapakah orang-orang aneh ini? Kenapa mereka begitu membenci Iskandar dan Isma? Urusan apa yang sudah terjadi di antara mereka dan Iskandar? Kita tunggu saja tanggal mainnya, sebagaimana yang sudah dikatakan Si Sangar tadi. Beberapa hari kemudian, Iskandar mendapat tenaga tambahan yang bisa membantu Murni mengurus rumah tangganya. Pembantu barunya itu laki-laki. Kata Supar, salah seorang anak buahnya di kantor, calon pembantunya itu asli Wonogiri. Ia mengaku sudah lama menganggur, padahal ia sudah beristri. Setelah gagal mencari pekerjaan ke sana-sini, akhirnya ia bertemu Supar, salah satu anak buah Kandar yang handal.
         Kini Supar sedang menghadap Kandar di ruangan pribadi Kandar. Suami Isma itu berkata, “Ya sudah kalau begitu, nanti biar kurundingkan dulu sama istriku. Besok orangnya dibawa ke sini dulu. Kalau memang cocok, ya langsung suruh datang ke rumah.”        
         “Baik Boss,” sahut Supar, pemuda 27 tahunan bertubuh kurus. Besok paginya Supar membawa calon PRT itu ke hadapan Kandar. Ternyata lelaki itu Si Sangar yang kemarin ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga Kandar. Saat menghadap Kandar, ia terpaksa berlaku lemah lembut. Meskipun begitu, kebengisan di wajahnya tetap terlihat. Kandar sendiri agak terkejut melihat calon pembantunya itu. Setelah Supar membawa dia pergi, Kandar bergumam, “Kalau melihat wajahnya, dia bukan orang baik, tapi kalau melihat potongannya, dia kelihatan sudah pengalaman. …Aahh..sungguh membingungkan (menggelengkan kepala). Sekarang ini susah sekali cari pembantu bagus. Bagus kerjanya, bagus kelakuannya. …Tapi sudahlah, jangan buruk sangka dulu. Pokoknya ada yang membantu Isma dan Murni.“      
         Besoknya, setelah menghadap Isma di rumah, lelaki aneh yang mengaku bernama Hartoyo itu mengungkapkan keseriusannya untuk bekerja. Ia sangat mengharapkan kesediaan Kandar dan Isma untuk menerimanya bekerja di rumahnya. Isma yang sebenarnya terlihat ragu, ragu karena agak takut, akhirnya mau menerima Toyo sebagai pembantu barunya. Isma berkata, “Sebenarnya rumah ini sudah cukup ditangani Murni. Tapi kalau untuk pekerjaan-pekerjaan berat, aku jelas tidak tega menyuruh Murni.“
         “Makanya itu,” sahut Kandar tersenyum, “kita butuh dia. …Ehm (menatap Toyo sambil mengangguk). Kapan kamu ke sini?”
         “Terserah Pak-Bu Kandar,” sahut Toyo pura-pura gembira, padahal hatinya sangat membenci suami-istri di hadapannya itu. Kandar tersenyum, “Baik. Besok kamu sudah bisa tinggal di sini. Kamarmu di dekat WC..sebelah selatan kamarnya Murni.“
         Setelah keluar dari rumah Kandar, senyum gembira Toyo langsung musnah.  Kini ia dan motornya berada di sekitar 10 meter dari rumah Kandar. Ia tatap rumah  kecil yang mewah itu dengan tatapan mata harimau yang hendak menerkam rusa. Sedetik kemudian ia tersenyum angkuh, lalu bergumam, “Sebentar lagi, Iskandar keparat. Sebentar lagi!”    
         Setelah meninggalkan Bumi Indah, Toyo kembali menelpon si pria aneh yang tidak lain adalah Kasman, kakak kandungnya. Si Aneh yang sekarang tetap berada di tempatnya kemarin, di ruangan gelap, bertanya, “Gimana Isma?”
         “Dia tidak berubah Kang. Dia tetap cantik dan mempesona.”
         Kasman tersenyum dan mengangguk-angguk. “Dia akan selalu mempesona. Hah ha ha.”
         Tawa Kasman yang berat dan serak itu  terdengar sangat mengerikan. Suaranya lebih mengerikan dari auman singa atau lolongan serigala. Besoknya, Toyo sudah resmi menjadi pembantu rumah tangga Isma. Baru hari pertama bekerja,  Toyo sudah menunjukkan kinerjanya yang jempolan. Dia sangat rajin, disiplin dan terampil. Semua itu tidak lepas dari badannya yang kekar dan gesit. Memang benar dugaan Kandar kemarin. Walaupun Toyo berwajah agak bengis, pengalaman kerjanya sudah segudang. Kerjanya yang hebat itu jelas sangat membantu Murni dan Sutris.
         Beberapa hari kemudian, tepatnya di pagi hari, Isma yang sedang berada di ruang tamu, melihat Toyo yang sedang membersihkan taman. Isma yang kelihatan cemas, bergumam, “Orang ini memang hebat. Sudah kuat, terampil, rajin, tidak pernah mengeluh kalau disuruh. …Ehmm…dia memang layak diacungi jempol.”
         Hening sejenak. Isma terus menatap Toyo yang bekerja dengan rajin. Toyo memakai kaos hijau ketat, sehingga tampaklah kedua lengannya yang berotot, juga dadanya yang cukup lebar. Posturnya sedang, tidak tinggi tidak pendek. Isma yang terlihat semakin cemas, kembali bergumam, “Sudah sepuluh hari dia kerja di sini. …Selama sepuluh hari ini, dia tidak menunjukkan kekurangan sedikit pun. Kerjanya terlihat semakin hebat. …Tapi anehnya, setiap ketemu dia, setiap berdekatan dengan dia, aku selalu merasa takut. …Firasatku mengatakan..dia bukan orang baik. …Dan firasat ini sudah muncul sejak pertama ketemu dia. …Aku sudah berusaha untuk tidak buruk sangka. Aku sudah berusaha untuk tidak berpikiran kotor. Tapi..rasa cemas ini tetap ada. Bahkan semakin hari semakin besar. …Ohh…ya Allah..benarkah semua ini cuma perasaanku sendiri? Atau memang ada yang tidak beres dengan lelaki bernama Hartoyo ini?”
         “Mbak Is..” panggil Murni yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Isma terkejut. Kehadiran Murni itu langsung menyadarkan Isma dari lamunannya yang sudah mendalam. Murni hanya bertanya, kue yang sudah dibuat Isma itu untuk arisan nanti sore atau untuk rapat RT besok pagi. Isma mengatakan, kue coklat dan pandan itu untuk arisan nanti sore.
         Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Sabtu sore tanggal 30 juni 2007, rumah Isma kelihatan ramai. Rupanya di rumah Kandar sedang ada pesta kecil-kecilan yang cukup meriah. Ada sekitar sepuluh orang yang berada di ruang makan rumah Kandar. Di situ juga ada Darti dan ibu-ibu pengajian Al-Furqan yang lain. Mereka menghadap meja makan yang penuh makanan lezat. Sambil tersenyum gembira, mereka menatap Isma dan  Kandar yang berdiri menghadap kue tart. Kandar mengatakan, hari ini hari bahagianya Isma. Sabtu sore yang indah ini Isma ulang tahun yang ke 29.
         Alangkah bahagianya Isma melihat kehadiran semua tamunya yang kebanyakan tetangganya sendiri. Isma yang bahagia itu menangis terharu. Sebelum memotong kue tart untuk dibagikan ke para hadirin, Kandar dan Murni meminta Isma untuk mengatakan sesuatu sebagai pembukaan. Dengan mata berkaca-kaca, Isma berkata lembut, “Yang paling penting bagi saya…sekarang ini…Allah SWT sudah menghilangkan kesedihan saya…kesedihan karena kehilangan Tari. …Berkat kasih sayangNya yang seluas langit dan bumi, sekarang ini saya sudah bisa mengikhlaskan kepergian Tari ke alam baka. …Dan untuk sore yang indah ini…dan mudah-mudahan juga penuh berkah…saya haturkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada semua hadirin. …Tanpa bantuan anda semua, acara ini tidak mungkin bisa diadakan.”
         “Tanpa bantuan Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, Mbak-Mbak, dan Mas-Mas semua…hik (menghapus air mata bahagia)…saya tidak akan bisa sukses seperti sekarang ini. …Mudah-mudahan..Gusti Allah SWT, berkenan membalas kebaikan anda semua.”
         “Amin!” sahut semuanya.
         “Mudah-mudahan pula,“ geram Toyo dalam batin, “aku bisa segera membalas dendam Kang Kasman. …Mudah-mudahan, aku bisa segera memberi pelajaran buat kalian. Terutama kamu (memelototi Kandar), brengsek!”    
         Isma melanjutkan, “Yah..ini saja yang bisa saya sampaikan. Ini saja yang saya anggap penting. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih yang tak terhingga.”
         Semua hadirin mengucapkan selamat buat Isma. Yang perempuan pada berpelukan. Darti yang menempelkan pipinya di pipi Isma, berkata, “Sambutanmu tadi bagus sekali. Aku benar-benar terharu. Selamat ya Mbak Ayu. Mudah-mudahan Mbak Ayu dan Mas Kandar bisa sukses selalu.”
         “Amin. Makasih banyak Bu. Tanpa kehadiran Ibu, aku tidak mungkin bisa setabah ini.”
         Darti yang kedua tangannya menyentuh kedua bahu Isma, tersenyum, “Kalau hati lagi resah, langsung saja memohon ketegaran dan ketenangan pada Gusti Allah SWT. Dialah sebaik-baik tempat memohon. Dialah Sang Pemberi yang terbaik. Tidak ada yang bisa memberi yang terbaik untuk segala keinginan kita, kecuali Dia.”
         Isma ingin membagi kebahagiaannya itu kepada semua orang yang dicintainya, terutama orang yang paling dicintainya saat ini. Yah, siapa lagi kalau bukan lelaki sholeh bertubuh gempal yang profesi sambilannya mengurus masjid. Besok paginya, Murni mengantar roti ke rumah Sujar, dan Hamdi yang menerimanya. Murni mendapat pesan dari Isma. Katanya, dari semua makanan lezat itu, ada yang khusus untuk Hamdi. Jenis makanannya pun berbeda. Donat dan bakpao hijau, bakpao pandan ala Isma. Sungguh beruntung Murni, sebab bingkisan khusus itu diterima sendiri oleh Hamdi.
         Setelah Murni pergi, Hamdi menatap kue-kue yang khusus untuk dia. Kebahagiaan tiada tara merebak ke seluruh rongga hatinya. Sambil tersenyum gembira, Hamdi yang hatinya berbunga-bunga ini berkata dalam batin, “Kok dia bisa tahu roti kesukaanku? Padahal aku tidak pernah bilang ke dia, atau ke siapapun. Selama ini aku selalu bilang, semua makanan buatannya enak banget. Aku tidak pernah bilang, dari semua yang enak ini ada yang paling enak, paling spesial. …Tapi…ahh. …Ini benar-benar kenikmatan besar. Maha Suci Allah.”
         Hamdi yang sedang bahagia ini bertekad untuk membalas pemberian Isma itu. Ia akan membalasnya dengan sesuatu yang setimpal. Karena Isma sudah memberinya sesuatu yang sifatnya spesial atau khusus,  maka ia juga akan memberi Isma sesuatu yang serupa. Tiga hari kemudian, Hamdi menitipkan bingkisan khusus untuk Isma itu pada Murni. Isma terkejut setengah mati. Terkejut karena terlalu gembira. Isma menerima sebuah bingkisan berbentuk segi empat. Bingkisan yang bentuknya seperti buku itu dibungkus dengan kertas kado kuning. Dengan jantung bergetar, Isma membuka bingkisan itu.   
         Isinya dua buah buku berukuran kecil dan tipis. Buku pertama tentang nasehat orang-orang sholeh dan kisah-kisah hikmah, juga kisah tentang orang-orang non muslim yang bijak. Sedangkan buku kedua berbentuk novel tentang perjuangan seorang pedagang besar yang usahanya sempat hancur, namun berhasil sukses lagi berkat kegigihannya. Isma melihat nama pengarang novel itu. Namanya: Hamdi Rusmanto. Isma tersentak gembira.
         “Jadi buku ini karangannya?…Jadi dia juga bisa nulis? Oohh..hebat sekali dia.”
         Isma mencium buku itu, lalu ia tempelkan di dadanya. Hatinya mengatakan, setelah mengetahui Hamdi juga bisa menulis novel, rasa cintanya pada putra sulung Sujar itu semakin besar. Tentu saja hal ini membuat sosok Kandar semakin musnah dari kamar cinta di hatinya. Untuk saat ini, Isma hanya melihat suaminya itu sebagai sosok yang harus ia hormati, tanpa perlu ia cintai lagi. Bayangan sosok Hamdi yang begitu besar itu membuat bayangan sosok Kandar menjadi terlihat sangat kecil. Kehadiran sang suami dengan kehadiran Hamdi, seperti semut dan gajah.
         Tanpa ragu lagi, Isma langsung memencet-mencet tombol HP-nya, lalu mengirim pesan untuk Hamdi. Sesaat kemudian, Hamdi yang sedang membaca buku di ruang tamu, mendengar HP-nya berbunyi. Hamdi tidak langsung melihat SMS yang masuk ke HP-nya. Ia masih melanjutkan bacaannya. Selang sepuluh menit, baru Hamdi melangkah ke HP-nya yang ia taruh di atas lemari yang berada di dekat kulkas. Ia baca SMS itu. Intinya, Isma hanya mau berterima kasih atas kado yang diterimanya. Isma mengaku amat menyukai dua buku itu, terutama yang novel. Isma akan langsung membaca dua buku itu. Isma akan mengakhirkan membaca buku yang ia anggap lebih baik.
         Dari dua buku itu, Isma menganggap buku karya Hamdi lebih baik. Dengan demikian, buku novel itu akan ia baca nanti atau besok-besok. Sekarang ia akan membaca dulu buku yang satunya, buku tentang petuah orang-orang bijak dan kisah-kisah Islami. Hamdi tersenyum setelah membaca SMS Isma itu. Ia langsung membalas, “Mbak Is kan belum membaca buku itu, jadi kenapa Mbak bisa mengatakan novel saya lebih bagus dari buku itu?”
         Isma tersenyum manis, lalu membalas, “Aku memang belum membaca, tapi aku bisa menilai isinya setelah mengetahui siapa pengarangnya.  Dari segi kualitas, dua buku ini sama bagusnya, tapi buku karangan takmir masjid Al-Furqan ini memiliki   nilai lebih. Dan kemungkinan besar, nilai lebih itu hanya bisa dinikmati oleh Isma.”
         Demikianlah jawaban Isma. Hening sejenak. Hamdi memejamkan mata, menggelengkan kepala, kemudian mengelus dada. Ia berkata lirih, “Benarkah ya Allah? Benarkah semua kebahagiaan yang kuterima ini?”
         Setelah berkata begitu, Hamdi kembali duduk di kursi ruang tamu. Wajahnya  terlihat semakin gado-gado. Bahagia, bingung dan sedih berkumpul di kamar asmara di hatinya. Ia bergumam, “Ini semua bukan mimpi. Ini semua kenyataan. …Aku yang sudah berkali-kali gagal dalam asmara…kali ini bisa mendapatkan cinta yang kuidamkan. …Ooh..benar-benar sulit bagiku untuk mempercayai semua ini. …Tinggal selangkah lagi..aku dan dia..sudah jadi pasangan kekasih.”
         Tidak berlebihan jika Hamdi berpendapat begitu. Kenyataan memang sudah berbicara demikian. Untuk saat ini, hanya satu yang harus dilakukan Hamdi atau Isma. Mengungkapkan perasaan cinta masing-masing. Hamdi atau Isma tinggal mengucapkan :“I love you..” setelah itu mereka akan menjadi pasangan kekasih. Hamdi dan Isma yang sudah dimabuk asmara itu menjadi lupa akan status mereka. Hamdi yang alim, yang imamnya sholat jama’ah masjid Al-Furqan, menjadi lupa kalau Isma itu istri orang. Demikian pula sebaliknya. Isma yang cintanya pada Kandar semakin luntur, menjadi tidak peduli dengan statusnya sebagai Ny. Iskandar. Benarkah Hamdi yang sholeh ini sedang mengalami penurunan iman? Benarkah Isma yang sudah dikenal sebagai perempuan baik-baik itu akan berselingkuh?
        
                                                          * * * * *

         Selain mendapat kue spesial dari Isma, Hamdi juga mendapat minuman rasa apel yang dikemas dalam dua gelas plastik, atau gelas yang bentuknya sama dengan gelas untuk mengemas Aqua. Selain itu, Hamdi juga menemukan selembar kertas yang ada tulisannya tentang jus sari apel itu.  Kalimat pertama menerangkan tentang Isma yang dulu berjualan minuman sari apel tersebut. Namun karena pasarnya sedikit, akhirnya Isma memutuskan untuk meminum sendiri minuman-minuman bergizi tersebut, lalu banting setir menjadi pembuat kue bolu. Sebagian dari minuman sari apel itu ia simpan di kulkas, dan akan ia berikan kepada siapapun yang meminta. 
         Selanjutnya, tulisan di kertas itu menerangkan tentang manfaat apel. Minuman itu asli dari apel hijau. Ada kalimat yang berbunyi: Apel, Buah Ajaib Penangkal Penyakit. Kemudian ada peribahasa Inggris yang berbunyi : An apple a day keeps the doctor away. Makanlah apel setiap hari, maka tubuh akan terhindar dari penyakit. Bukan hanya penyakit ringan seperti flu dan diare yang bisa ditangkal dengan apel, tapi juga kanker, serangan jantung dan stroke.
         Disamping itu, apel juga sudah terbukti bermanfaat untuk wanita usia menopause. Menurut penelitian US Apple Association pada tahun 1992, apel mengandung boron yang dapat membantu tubuh wanita untuk mempertahankan kadar estrogen pada saat menopause. Gangguan penyakit pada saat menopause, seperti ancaman penyakit jantung dan osteoporosis (kekeroposan tulang) karena kurangnya hormon estrogen, dapat dicegah dengan boron yang terkandung dalam apel. Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa apel, sebagaimana buah-buahan lain, mengandung banyak serat, fitokimia dan flavonoid.
         Menurut Institut Kanker Nasional Amerika Serikat, jika dibandingkan buah-buahan lain, apel paling banyak mengandung flavonoid. Zat ini mampu menurunkan resiko terkena penyakit kanker paru-paru sampai 50 persen. Selain itu, ada kabar baik untuk kaum pria. Hasil penelitian Mayo Clinic di As pada tahun 2001 membuktikan, apel mampu mencegah pertumbuhan sel kanker prostat. Fitokimia di dalam apel akan berfungsi sebagai antioksidan yang akan melawan kolesterol jahat (LDL), yang berpotensi menyumbat pembuluh darah. Antioksidan akan mencegah kerusakan sel-sel atau jaringan pembuluh darah. Pada saat yang sama, antioksidan akan meningkatkan kolesterol baik (HDL), yang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah.
         Kandungan serat apel terhitung besar, sekitar lima gram untuk setiap buah berukuran sedang. Jumlah ini lebih tinggi dari kandungan serat yang ada pada kebanyakan produk sereal. Serat ini bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dan menurunkan berat badan. Nah, tunggu apalagi? Segera masukkan Sari Apel SPAT (Sentral Pengembangan Agrobisnis Terpadu) ke dalam menu harian anda. Demikianlah keterangan singkat tentang minuman Sari Apel buatan SPAT- Jatim.

                                                             *****

         Hari-hari berikutnya, Hamdi semakin tenggelam dalam lautan asmara. Setiap mengerjakan sholat, berdoa, membaca kitab suci atau bekerja, wajah elok Isma selalu terbayang di benaknya. Sungguh sulit bagi Hamdi untuk melupakan senyum manis Isma yang begitu menawan. Wanita blesteran Arab itu benar-benar sudah menjadi ratu di istana hati Hamdi. Kini Hamdi sedang melamun di kamarnya. Pria berdada lebar ini tiduran di ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar, Hamdi terus mewaspadai langkah-langkah iblis ­laknatullahi ‘alaih.* Hamdi berpikir, jika bayangan Isma itu membuat hatinya tidak khusyuk beribadah, berarti itu benar-benar dari setan. Hamdi sangat mengerti hal itu, namun di sisi lain Hamdi juga tidak berani memvonis terlalu cepat. Hamdi tidak ingin terlalu cepat mengatakan, Isma-lah penyebab utama ketidakkhusyukan ibadahnya akhir-akhir ini.  
         Beberapa saat kemudian lamunan Hamdi terhenti oleh adzan Dhuhur yang dikumandangkan oleh Asyraf. Hamdi tersentak, “Astaghfirullahal’azhim! Iblis sudah membuat lamunanku menjadi indah. Oohh (menggelengkan kepala, lalu menutup muka dengan kedua tangan)..Tidak. Tidak! Jangan berkhayal terlalu tinggi! Jangan! Oh..Maha Suci Allah..sucikanlah hatiku. Sucikanlah.”

         Catatan kaki : * Yang selalu dilaknat Allah

         Begitu adzan selesai berkumandang, Hamdi mengambil air wudhu, kemudian bergegas ke masjid Al-Furqan. Begitu masuk masjid, Hamdi melihat seorang pemuda yang tersenyum ke arahnya. Pemuda itu berdiri di shaf terakhir. Ia sedang melihat jadwal sholat yang ditempel di dinding masjid. Spontan saja Hamdi membalas senyum ramah itu. Sedetik kemudian mereka bersalaman. Hamdi berkata, “Kalau tidak salah…Akhi Nurman?”
         “Betul Mas,” sahut Nurman tersenyum gembira. Hamdi melanjutkan, “Selama ini kita sudah sering ketemu, tapi baru bisa kenalan sekarang.”
         “Iya Mas. Memang baru sekarang kesempatan saya untuk ketemu Mas Hamdi.”
         “Antum tinggal di mana?”
         “Di Wisma Al-Kahfi. Atas perintah Mas Ardi Wahyudi, ketuanya YIS (Yayasan Islam Syafi‘i ), Insya Allah, saya mau tinggal di sini.”
         “Mau tinggal di sini?” sahut Hamdi tersentak gembira. “Mau menemani Asyraf?”
         Nurman tersenyum seraya mengangguk mantap. Hamdi menyentuh bahunya, “Subhanallah. Ini luar biasa.” Diam sebentar. Ditatapnya Asyraf yang berdiri di dekat mimbar, lalu bicara lagi, “Akhirnya kamu dapat teman Raf.”
         “Saya suruh Mas,” sahut Asyraf tersenyum. Hamdi kembali menatap Nurman, “Kapan antum mau tinggal di sini?”
         Insya Allah besok malam.”
         “Bagus sekali. Makasih banyak ya?”
         “Sama-sama Mas.”
         Seusai sholat Dhuhur, Asyraf mengantar Nurman menghadap Sujar dan Retno. Asyraf langsung menjelaskan maksudnya mengantar Nurman. Sujar yang tersenyum gembira, berkata, “Siapapun orangnya, asal bisa membantu kamu, aku dan Ibu pasti mengijinkan.“
        “Terima kasih banyak Pak!” jawab Nurman semangat. Besok malamnya, Nurman sudah resmi jadi takmir masjid Al-Furqan. Alangkah gembiranya Hamdi sekeluarga melihat Asyraf mendapat teman untuk mengurus rumah Allah. Suatu pekerjaan yang cukup berat. Suatu pekerjaan yang bisa dilakukan dengan ringan oleh mereka yang mukhlisin, yang hatinya benar-benar sudah ikhlas, yang hatinya benar-benar hanya ingin mendapat ridhoNya. Sebab yang bisa memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada apapun selain Allah. Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.*
         Kebahagiaan Hamdi semakin bertambah. Setelah nyaris mendapatkan cinta Isma, kini Hamdi mendapat tambahan tenaga untuk mengurus Al-Furqan. Hamdi yang selama ini tidak tega melihat Asyraf mengurus Al-Furqan sendirian, sekarang bisa merasa lega. Hamdi sangat berharap, mudah-mudahan Nurman bisa menjadi teman yang cocok untuk Asyraf. Jika melihat potongannya, Hamdi yakin kalau Nurman itu sudah termasuk pemuda Muslim yang tangguh. Asyraf sendiri sudah meyakinkan Hamdi akan semangat Nurman untuk menjadi takmir masjid.

         Catatan kaki : * Al-Quran surat At-Taubah, surat ke 9 ayat ke 18

         Nurman, seorang asli Jombang, Jatim, berwajah lumayan tampan. Kulit sawo matang, postur tinggi sedang, sekitar 168-170 cm, sedikit lebih pendek dari Hamdi. Badan juga sedang, tidak gemuk tidak kurus. Dada tidak lebar namun tegap. Perut tidak buncit, rata dengan dada. Kedua lengannya cukup berotot. Hidung agak mancung, jenggot tipis rapi. Kebanyakan orang yang sudah mengenal Nurman, akan sering mengatakan,  baju kebesarannya Nurman itu kaos kerah.
         Memang benar. Kalau pergi ke mana-mana, Nurman memang sering memakai kaos berkerah. Hamdi pun sering melihat Nurman berpakaian seperti itu. Bagi Nurman, kaos kerah itu bisa dipakai kapan pun dan di mana pun. Kaos kerah itu bisa dipakai saat santai maupun formal. Resmi bisa, santai bisa. Begitulah semboyan Nurman tentang pakaian faforitnya itu. Walaupun begitu, kalau sedang menghadiri acara yang sangat penting dan sangat formal, yang mengharuskan pesertanya memakai baju atau kemeja, entah kemeja lengan panjang atau pendek, Nurman jelas akan memakai kemeja.
         Setelah seminggu lebih tinggal di rumah Sujar, Nurman Susanto, begitulah nama lengkapnya, berhasil membuktikan kalau dirinya bisa menjadi takmir masjid yang baik. Asyraf sendiri merasa sangat terbantu dengan kehadiran pemuda bertubuh atletis itu. Asyraf yang sebulan lagi mau pamit, sangat berharap agar Nurman bisa menggantikan dirinya dengan sebaik-baiknya. Asyraf mau pamit karena ada pekerjaan di tempat lain. Sebenarnya Asyraf masih ingin jadi takmir Al-Furqan, namun karena pekerjaan itu menyangkut kewajibannya terhadap ortunya, mau tidak mau Asyraf harus meninggalkan rumah Hamdi untuk selamanya. Bagi orang-orang sholeh, kewajiban terhadap  keluarga itu tetap yang nomor satu, selama kewajiban itu tidak melanggar syariat Islam. (Bersambung)

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;