Sang surya hampir tenggelam. Warna
langit mulai kemerah-merahan. Anak-anak muda pada bermain bola di lapangan Bumi
Indah. Sore yang indah ini melengkapi kegembiraan pemuda-pemuda itu. Hamdi dan
sepedanya melewati lapangan itu. Rupanya ia sedang keliling kampung sekaligus
olah raga. Beberapa genjotan kemudian, Hamdi tiba di rumah kosong yang sudah
dipenuhi semak belukar lebat. Sambil sesekali melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran, mata Hamdi mendadak terbelalak. Ia melihat sesuatu di semak belukar
yang dilewatinya. Ia turun dari sepedanya, kemudian mengambil sesuatu yang
dilihatnya itu. Hamdi terkejut. Ternyata itu sebuah dompet perempuan berwarna
coklat muda.
Karya: Harry Puter
“Masya
Allah. Dompet siapa ini? Kok bisa sampai sini?.....Hah! kelihatannya masih bagus..jadi tidak mungkin pemiliknya
membuangnya dengan sengaja. Ahh…ini pasti masih diperlukan. Ini pasti jatuh
dari saku pemiliknya.”
Hening sesaat. Hamdi berdiri mematung.
Ia benar-benar bingung. Apa yang harus ia lakukan terhapap dompet itu? Setelah
merenung beberapa detik, akhirnya Hamdi mantap untuk membuka dompet tersebut.
Ia tidak ingin mendapat masalah panjang. Ia tidak ingin pusing hanya karena
sebuah dompet. Ia bergumam, “Siapa tahu ada identitas pemiliknya. Kalau ada,
akan segera kukembalikan. Hahh..walaupun bukan urusanku, aku wajib mengembalikan benda ini ke
pemiliknya. Aku hanya ingin mengembalikan hak orang, bukan karena ingin ikut campur.
Hahh..waktuku tidak boleh habis gara-gara dompet ini.”
Hamdi
membuka dompet itu. Di dalamnya ada uang sebanyak dua ratus ribu. Hamdi
tersentak, “Masya Allah. Banyak juga. Pemiliknya pasti sedang mencari.”
Selanjutnya, Hamdi menemukan KTP
beridentitas perempuan. Hamdi seperti
pernah melihat perempuan di foto itu. Namanya: Ismayani Puspita.
Alamatnya: Bumi Indah nomer D-15. Tentu saja Hamdi semakin tersentak. Batinnya
mengeluh, “Ya Allah. Kenapa dompet ini bukan milik laki-laki? Kenapa harus aku
yang menemukan dompet ini?”
Hening sejenak. Hamdi semakin
kebingungan. Ia sempat berpikir, dompet itu akan ia titipkan ke orang lain yang
mungkin dekat dengan Isma. Mungkin Bu Darti atau siapa, yang rumahnya berdekatan
dengan rumah Iskandar. Hamdi bergumam, “Kalau kutitipkan Bu Darti atau Bu Pur,
nanti bisa merepotkan mereka. Ditambah lagi, ada kemungkinan mereka akan berpikiran
atau berprasangka kurang sedap. Ehm…(menatap dompet itu) ya sudahlah,
kukembalikan sendiri saja.”
Beberapa saat kemudian, tibalah Hamdi
dan sepedanya di rumah Kandar.
Saat berdiri di depan pagar rumah Kandar, jantung Hamdi ini bergetar.
Keringat dingin membasahi wajahnya. Sedetik kemudian ia tersentak, “Masya
Allah! Astaghfirullah! Kenapa aku
harus deg-degan? Kenapa aku harus
merasa was-was?! Ohh…(memejamkan mata) Tidak! Demi Allah! aku ke sini hanya
ingin mengembalikan dompet ini ke pemiliknya. Hanya itu! Bismillah..”
Hamdi membunyikan bel di dekat pintu.
Sesaat kemudian, muncullah seorang gadis muda yang lugu dan agak ndeso. Wajahnya lumayan cantik. Usianya
hampir 20 tahun. Rupanya ia pembantunya Iskandar. Ia tersenyum manis seraya
mengangguk. Hamdi yang agak kikuk, membalas senyum itu. Tanpa basa-basi, Hamdi
langsung menjelaskan tujuan utamanya. Ia serahkan dompet coklat muda itu pada
si gadis manis. Alangkah gembiranya Murni, nama gadis PRT itu. Ia menjelaskan,
Isma sudah kebingungan sejak tadi siang. Ia tidak begitu mempermasalahkan uang
dua ratus ribunya. Ia hanya mencemaskan KTP dan surat undangan nikah dari teman kuliahnya
dulu. Sambil tersenyum manis, Murni berkata, “Sekarang Mbak Isma lagi mandi.
Apa mau ditunggu dulu?”
“Oh tidak usah (wajah merah-biru, gugup campur
gembira)! Ini sudah mau Maghrib, saya mau langsungan saja. Mari Mbak Murni. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum
salam. Makasih banyak Mas Hamdi.”
“Sama-sama,“ sahut Hamdi tersipu.
Sesaat kemudian, Murni mendekati Isma yang baru keluar dari kamar
mandi. Rambutnya diikat handuk. Murni langsung menceritakan semuanya. Tentu
saja Isma tersentak gembira. Dilihatnya isi dompetnya masih utuh. Isma menempelkan dompetnya di
dadanya, lalu bergumam, “Maha Besar Allah. Lelaki alim itu sudah menolongku.
Ohh (menatap dompetnya)..untung jatuh di tangan orang sebaik dia. Kalau jatuh di tangan
bandit, uang ini pasti sudah ludes. Subhanallah.”
Malamnya, seusai sholat Maghrib, telpon
di rumah Hamdi berdering. Dina, adik bungsu Hamdi yang kebetulan duduk di dekat
telpon, langsung mengangkatnya. Ia mendengar
suara perempuan yang mencari Hamdi. Ternyata itu Isma. Tanpa ada pikiran apapun,
Dina langsung memanggil kakaknya yang baru selesai sholat Maghrib. Hamdi agak
terkejut mendengar
Isma menelponnya. Dengan hati setengah dag-dig-dug, Hamdi menerima telpon yang
dipegang Dina, lalu menempelkannya di telinga kirinya. Dengan suasana hati agak
tegang, pria berjambang cukup lebat ini berkata lirih, “Assalaamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam,” sahut Isma
tersenyum gembira. Ia langsung mengutarakan keinginannya. Ia hanya ingin
berterima kasih pada Hamdi atas pertolongannya tadi sore. Ia benar-benar lega
karena barang-barang yang sangat diperlukannya masih utuh. Ia tidak tahu, apa
yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan Hamdi tadi sore. Ia benar-benar
merasa berhutang budi pada Hamdi. Mendengar itu, Hamdi tersenyum malu. “Tidak
perlu begitu, tadi saya cuma kebetulan lewat kok.”
“Kebetulan yang membawa berkah,” sahut
Isma tersenyum manis. Tentu saja Hamdi semakin tersipu. Katanya, “Lain kali
Mbak Isma hati-hati ya?”
“Iya Mas, Insya Allah. Ehm…sekarang Mas Hamdi sedang apa? Saya ngganggu
tidak?”
“Oh tidak, sama sekali tidak.”
“Tidak lagi sibuk di masjid kan?”
“Ini baru keluar dari masjid. Ah..orang kecil seperti saya
ini sibuk apa?”
“Hih hi hi. Terlalu merendah.”
Hamdi tersenyum. “Oh iya, saya mau
tanya. Kalau saya boleh tahu, kenapa dompet Bu Kandar bisa sampai di tempat
tadi? Memang apa yang sudah dialami Bu Kandar?”
Pertanyaan itu membuat Isma agak
terkejut. Kegembiraannya langsung berkurang banyak. Meskipun bibir indahnya
masih tersenyum, kegundahan di wajahnya terlihat semakin besar. Dengan tetap
berusaha tersenyum, Isma berkata agak gugup, “Tadi aku…ehm…wah, kemungkinan
besar tidak bisa kuceritakan sekarang. Kapan-kapan saja ya?”
Kata-kata itu membuat Hamdi agak
terkejut. Namun karena tidak ingin pusing, Hamdi langsung mengiyakan. Setelah
menutup telpon, Hamdi masuk ke kamarnya,
kemudian duduk menghadap meja yang penuh buku. Hamdi tersenyum kecut, lalu
bergumam, “Perempuan cantik, jago membuat roti-roti lezat, kamu sudah agak ngganggu
aku. Lihatlah, dzikirku agak
terganggu karena dirimu. …Kalau aku lagi santai, tidak masalah..tapi sekarang aku
lagi mengkhusyukkan hati.” Diam sejenak, lalu melanjutkan, “Perempuan
cantik..mudah-mudahan besok kamu tidak nggangu aku lagi.”
Tidak berlebihan Hamdi berkata
demikian, sebab ia memang sedang membaca kitab suci Al-Quran dan buku-buku
agama. Setelah larut malam, dimana kebanyakan orang sudah pada kembali ke
peraduannya, Hamdi masih membaca buku di ranjang yang ada di kamarnya. Beberapa
menit kemudian Hamdi mulai merasakan apa yang dirasakan banyak orang. Ngantuk.
Sudah beberapa kali ia menguap. Dilihatnya arlojinya yang ia taruh di meja. Waktu menunjukkan pukul
sebelas lebih sepuluh. Hamdi bergumam, “Rupanya memang sudah cukup malam. Hoaah
(menguap)! Pantas aku sudah ngantuk. Ehmm..( keluar kamar, lalu masuk kamar
mandi )”
Setelah menggosok gigi di kran yang
berada di kamar belakang, kamarnya Asyraf, Hamdi siap berangkat ke peraduannya.
Ketika Hamdi melewati dapur, matanya terbentur pada sebuah kerdus hijau muda
yang tergeletak di lantai dapur. Hamdi menghentikan langkahnya, kemudian
memungut kerdus bekas wadah kue itu. Di bagian atasnya ada tulisan: Bakpia
Pandan Mbak Isma. Hamdi mengamati kerdus
bekas bakpia itu. Seiring dengan itu, pikirannya langsung menerawang ke
peristiwa tadi sore, ketika ia mengembalikan dompet Isma yang nyaris hilang,
juga saat Isma menelponnya sehabis Maghrib tadi.
Telinga batin Hamdi langsung mendengar suara Isma saat
menelpon tadi. Suara empuk milik seorang perempuan cantik dan kalem. Hening
sejenak. Hamdi masih berdiri di situ.
Tangan kanannya
masih terus memegang kerdus hijau muda itu.
Pikiran pria berdada bidang ini sudah terbang tinggi ke langit khayal,
dan itu sama sekali tidak disadarinya. Kerdus bakpia itu benar-benar membuat
rasa kantuknya berkurang banyak. Sesaat kemudian Hamdi tersenyum, lalu
bergumam, “Kamu memang hebat, perempuan cantik. Kamu bisa membuat makanan biasa
menjadi luar biasa. Kamu bisa membuat makanan yang rasanya lain dari yang
lain.”
Setelah bicara dalam hati, wajah ayu
Isma muncul di pikirannya. Dilihatnya Isma yang berkaca mata itu tersenyum manis.
Namun untunglah, Hamdi langsung sadar dari lamunannya yang sudah agak berlebihan.
Hamdi yang taat pada agama ini langsung bisa mengendalikan pikirannya. Hamdi
memejamkan kedua matanya sambil ber-istighfar.
Selanjutnya, kerdus itu ia buang ke ember sampah, setelah ia tinggalkan dapur.
*****
Beberapa hari kemudian, tepatnya di
pagi yang cerah dan sejuk, Hamdi jogging mengelilingi
Bumi Indah. Kaos biru tuanya basah oleh keringat. Walaupun sudah ngos-ngosan,
Hamdi tetap berusaha untuk terus berlari pelan. Beberapa langkah kemudian, tibalah
Hamdi di gang atau blok rumahnya Isma. Hamdi memperlambat langkahnya. Ia melihat
Isma dan pembantunya sedang kebingungan. Dua perempuan itu berdiri di samping
mobil Daihatsu Taruna mereka. Rupanya mobil besar itu sedang macet. Berkali-kali
sang sopir berusaha menghidupkan mesin mobil yang dikendarainya, namun masih
belum berhasil.
“Terus gimana Mas Tris?” Tanya Isma
kebingungan. Sutris, pria 40 tahunan berkumis cukup tebal, menyahut, “Ini harus
didorong Mbak.”
“Waduh!” seru Murni.
“Kang Tris jelas tidak bisa mendorong sendirian. Mobil ini berat banget!”
“Memang,” sahut Tris. “Makanya,
sekarang cari bantuan.”
“Lho, ada apa ini?!” Tanya Bu Darti
yang baru belanja di tukang sayur keliling. Setelah Isma menjelaskan semuanya,
Darti tersenyum. “Ya sudah, biar dibantu Waluyo.”
Darti yang masih berjual-beli dengan
penjual sayur, langsung memanggil Waluyo, pembantunya yang kebetulan sedang ada
di depan. Waluyo, pemuda berusia sekitar 21 tahun. Warna kulit agak gelap.
Badan agak pendek namun cukup berotot. Kedua lengannya seperti lengan kuli
bangunan. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung
membantu Sutris mendorong mobil milik Iskandar itu.
“Lho, ada apa itu?” Tanya Hamdi dalam
batin. Ia langsung menghentikan larinya. Kini ia berdiri sekitar 30 meter dari tempat
kejadian. Dilihatnya Sutris dan Waluyo sedang berusaha mendorong mobil Taruna
merah. Sutris mendorong sembari memegang setir, sedangkan Waluyo mendorong
bagian belakang mobil besar itu. Hamdi bergumam, “Rupanya mobil besar itu
macet. Wah, kalau cuma dua orang,
jelas sulit sekali, apalagi yang satu pegang setir. Wah..berarti yang mendorong
cuma satu orang. Mobil sebesar itu hanya didorong satu orang?! Wah..itu hampir
tidak mungkin!”
Hening beberapa detik. Hamdi masih
termangu-mangu. Dilihatnya Waluyo yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya,
namun Taruna merah itu hanya bergerak sedikit sekali. Sutris yang posisinya
tidak nyaman, mendorong sekaligus memegang setir, jelas susah sekali untuk
membuat mobil itu bergerak lebih cepat. Kejadian ini semakin menyentuh hati
Hamdi yang masih berdiri mematung di perempatan blok yang menuju rumah Isma.
Melihat Waluyo dan Sutris nyaris tidak mampu mendorong mobil itu, batinnya
langsung berseru, “Jangan ragu lagi! Mereka benar-benar butuh bantuan! Bismillah..”
Hamdi yang jiwa sosialnya tinggi ini
langsung berlari mendekati mobil Isma, kemudian membantu Waluyo mendorong mobil
tersebut. Ia meminta Sutris untuk konsentrasi pada setir saja, sebab mobilnya
sudah ia dorong bersama pemuda di samping kanannya itu. Kini Sutris sudah memegang
kendali mobil. Sedetik kemudian Hamdi memberi aba-aba untuk memulai mendorong
mobil besar itu. Hamdi dan Waluyo mendorong Taruna merah itu dengan seluruh
kekuatan mereka. Beberapa detik kemudian mesin mobil itu mulai hidup, dan
akhirnya bisa berjalan dengan lancar.
Setelah mesin mobil itu bisa hidup,
Sutris, Murni dan Isma mendekati Hamdi dan Waluyo yang ngos-ngosan, terutama
Hamdi. Tadi ia sudah berkeringat karena lari pagi, dan sekarang keringatnya
semakin membanjir karena mendorong sebuah mobil besar. Alangkah gembiranya
Sutris, Waluyo, Murni dan Isma, terutama Isma.
Demikian pula dengan Darti dan orang-orang yang ada di gang itu, yang kebetulan
melihat kejadian ini. Hamdi bertanya, “Mobilnya kenapa Pak?”
“Acqu-nya agak rewel, juga karena sudah lama tidak saya servis.”
“Wah, jadi merepotkan Mas Hamdi...”
sambung Isma tersenyum gembira. Hamdi tersenyum, “Tidak ada yang merepotkan.
Sudah jadi kewajiban kita untuk saling membantu dan menolong yang lemah.”
Kata-kata Hamdi itu membuat Isma
semakin gembira. Sesaat kemudian Hamdi memohon diri. Ketika Hamdi mau
melanjutkan larinya, Isma memanggilnya dengan lembut. Hamdi menoleh. Dilihatnya
Isma yang masih berdiri di samping pembantunya. Dua perempuan, majikan dan
pembantu, sama-sama cantik. Isma tersenyum manis, lalu bertutur lembut,
“Makasih banyak ya?”
Hamdi agak menunduk karena tersipu.
Sedetik kemudian ia menyahut, “Sama-sama
Mbak.”
Setelah berkata begitu, Hamdi langsung
melanjutkan larinya yang tertunda. Ia menatap Sutris, lalu berseru, “Mari Pak
Tris!”
“Trima kasih Mas Hamdi!” sahut Tris
yang berdiri di samping Taruna. Hamdi yang tadi sudah ngos-ngosan, kini berlari
kencang lagi. Senyum manis Isma benar-benar membuat tenaganya muncul lagi. Ia
berlari sekuat tenaga. Senyum menawan perempuan setengah Arab itu benar-benar
melenyapkan kelelahannya. Isma yang masih berdiri di tempatnya, bergumam, “Dua
kali sudah dia menolongku. Menolongku dalam waktu yang cukup singkat.
Seminggu.”
Isma tersenyum manis sekali, tanda
hatinya sedang merasakan kebahagiaan yang cukup besar. Tanpa ingin melamunkan
Hamdi lagi, Isma langsung masuk ke rumahnya. Beberapa saat kemudian tibalah
Hamdi di rumahnya. Setelah keringatnya kering, ia langsung mandi, kemudian
sarapan dengan dua potong roti tawar dan segelas susu coklat. Setelah
mengenakan baju koko coklat tua dan sarung hijau, Hamdi langsung sholat Dhuha
di masjid Al-Furqan, masjid yang jaraknya dengan rumahnya hanya terpaut sekitar
3 meter.
Seusai sholat, Hamdi teringat dengan
peristiwa yang dialaminya beberapa jam tadi. Wajah ayu Isma langsung muncul di
benaknya. Senyum manisnya yang begitu menawan, suara lembutnya yang tadi
mengatakan; “Makasih banyak ya?” juga sikapnya yang kalem dan hangat. Semua itu
benar-benar mengusik hati dan pikiran Hamdi, lelaki dewasa yang masih perjaka.
Sekarang pikirannya banyak terfokus pada segala hal tentang Isma. Pesona
perempuan penjual roti itu benar-benar sudah menguasai hatinya. Mau tidak mau,
suka tidak suka, Hamdi harus mengakui dengan jujur, mengakui bahwa ia semakin
tertarik pada Isma.
Untuk beberapa saat Hamdi terus
melamunkan Isma. Wajah perempuan muallaf itu masih terus hadir di pikirannya. Namun tak
lama kemudian ia tersentak sadar. Hatinya berseru, “Astaghfirullahal’azhim! Ini masjid! Dan aku juga habis sholat Dhuha.
Masa’ habis sholat aku melamunkan perempuan?! Perempuan asing lagi! Hahh (
menggelengkan kepala, lalu menepuk dahinya )!”
Setelah berdzikir, Hamdi meninggalkan
masjid, lalu masuk ke rumahnya sambil bergumam, “Sudah berkali-kali aku jatuh
cinta, dan berkali-kali pula aku gagal. Dan Alhamdulillah,
semuanya bisa kuterima dengan lapang dada. Demikian pula dengan yang
kualami sekarang ini. …..Aku hanya tertarik dan simpati sama Isma. ….Yah, hanya
simpati, hanya suka, hanya mengagumi…Tidak boleh lebih dari itu. Tidak boleh!”
Sanggupkah Hamdi menjalankan
prinsipnya itu? Kita lihat saja selanjutnya. Sekarang mari kita tengok keadaan
Isma. Ketika malam telah menyelimuti bumi, Isma masih melamun di ruang
keluarga. Ia duduk di depan TV yang berada di dekat meja makan. Jarum jam
menunjuk ke angka 10. Waktu yang sudah cukup malam untuk ukuran kota menengah seperti Yogyakarta. Menengah karena tidak besar dan tidak kecil. Kota adem ayem yang sebagian besar penduduknya tidak hobi begadang
sampai malam. Tidak seperti kota
besar semacam Jakarta
atau Surabaya,
dimana sebagian besar penduduknya hobi begadang sampai malam, bahkan sampai
dini hari, layaknya acara di kafe dan diskotik.
Di Yogyakarta Kota Gudeg, jam sepuluh
malam itu keadaannya sudah cukup sepi, entah keadaan di pusat atau keramaian kota, maupun di
wilayah-wilayah pinggiran. Tapi kalau di Jakarta
atau di Bandung,
jam sepuluh malam itu keadaannya masih ramai. Kira-kira sama dengan jam tujuh
malam di Yogyakarta, bahkan mungkin masih
lebih sore lagi. Begitulah kurang lebih, perbedaan suasana Kota Metropolitan
dengan Kota Pelajar ini.
Kini kita lihat Isma yang masih
melamun di depan TV. Ia tidak sedang nonton TV, sebab TV di hadapannya itu
tidak dinyalakan. Wajahnya terlihat membingungkan. Separoh senang separoh
susah, namun kelihatannya lebih banyak senangnya. Wanita berambut ngombak ini sedang melamunkan sesuatu
yang dicintainya, namun ia juga sadar kalau sesuatu yang dicintainya itu tidak
bisa diraihnya. Sama halnya dengan Hamdi, sekarang Isma juga sedang melamunkan
pria berdada lebar itu. Sekarang ini Isma sedang merasakan sesuatu yang luar biasa.
Sesuatu yang sudah berhubungan erat dengan Hamdi.
Setelah
menolong menemukan dompetnya, Hamdi kembali menolong Sutris mendorong mobil
Taruna merahnya. Dua pertolongan besar itu diterimanya dalam selang waktu yang
cukup singkat. Tujuh hari atau seminggu. Dua pertolongan yang akan selalu hidup
di kamar hatinya untuk selamanya. Dua pertolongan yang sudah membangkitkan rasa
cintanya yang sudah cukup lama hilang. Dua pertolongan itu benar-benar menjadi
peristiwa yang sangat istimewa dalam hidupnya.
Karena
asyik melamun, Isma sampai tidak menyadari kehadiran Murni
yang berdiri di belakangnya. Pembantu lumayan cantik itu tersenyum manis. Ia
mendekati Isma dengan langkah pelan, kemudian menyentuh bahu kiri majikannya sambil bertanya, “Belum
tidur Mbak?”
“Eh, kamu..”sahut Isma terkejut. “Huh..kukira
siapa?!”
“Kaget ya (tersenyum geli)? Ini kan sudah cukup malam.
Mbak Is kok belum tidur?”
Pertanyaan itu membuat Isma agak
gugup. Sambil tersenyum agak mengejek, Murni melanjutkan, “Lagi ngelamun ya?
Hih hi hii. Ngelamunin siapa Mbak?”
“Ngelamun apa ah (gugup)! Kamu ini. Kalau
ngomong jangan ngawur!”
“Alaah, Mbak Isma ini..sama saya saja
pakai malu. Hih hi hii. Ehm..kalau boleh saya tebak..Mbak Isma lagi ngelamunin Dik Tari almarhum. Betul?”
Isma tersenyum kecut. “Kenapa kamu
tidak menebak aku lagi ngelamunin Mas
Kandar?”
“Lho, memang Bapak belum pulang?”
“Belum, tapi mungkin sebentar lagi.”
Murni mengangguk-angguk sambil
tersenyum. “Tidak ngelamunin Dik
Tari, juga tidak ngelamunin Bapak. Lalu
ngelamunin siapa ya?”
“Ngelamunin
diriku sendiri,” sahut Isma tanpa menatap Murni.
Sedetik kemudian Murni tersentak gembira.
“Ooo…aku tahu!”
“Apa?!” jawab Isma terkejut, namun
pura-pura tenang. Murni melanjutkan, “Pasti Mbak Is lagi ngelamunin peristiwa kemarin pagi. Iya kan?!”
Isma tersenyum malu. Hatinya
membenarkan omongan Murni itu. Ia hendak
berkata jujur, namun sedetik kemudian ia langsung mengalihkan pembicaraan. Ia
merasa belum saatnya untuk menceritakan sejujurnya tentang perasaannya terhadap
Hamdi. Murni yang tidak curiga sedikit pun, langsung memohon diri ke belakang.
Gadis manis, lugu dan cerdas ini mengaku sudah ngantuk berat. Kini Isma sendiri
lagi di ruang keluarga. Ia kembali memikirkan Hamdi. Lelaki alim itu
benar-benar sudah mencuri hatinya. Sekarang yang ada di hatinya hanya Hamdi.
Kehadirannya membuat Kandar terlihat sangat kecil, bahkan nyaris lenyap.
Bayangan Hamdi membuat Kandar nyaris terusir dari kamar cintanya yang terdalam.
Beberapa menit kemudian terdengarlah suara mobil yang masuk ke garasi.
Rupanya Kandar baru pulang kantor. Begitu masuk ke ruang keluarga, Kandar
melihat istrinya sedang melamun. Kandar tersenyum, “Suami datang kok diam saja
sih?”
Isma tersentak melihat suaminya sudah
berdiri di sampingnya. Ia langsung pura-pura tersenyum gembira. Ketika Kandar
mencium pipinya, ia terlihat tidak senang. Ia bertanya, “Kok sampai malam Pa? nglembur ya?”
“Iya Sayang, tadi kita meeting penting (memeluk bahu Isma, lalu
mengajaknya ke kamar). Tadi kita ada tamu dari Belgia.”
Isma mengangguk-angguk. Walaupun
berusaha ikut gembira, gejolak di hatinya tetap terlihat di wajah ayunya.
Terlihat sekali kalau senyumnya itu hanya dibuat-buat. Sungguh berbeda dengan
senyum yang ia berikan pada Hamdi. Hati kecilnya mengatakan, kedatangan
suaminya itu tidak membuatnya senang. Justru sebaliknya, kepulangan suaminya
itu sudah mengganggu kesenangannya. Yah, kesenangan melamunkan Hamdi.
Ketika suami-istri ini sudah mau
tidur, sang istri masih terlihat gelisah. Ketika Kandar hendak memeluk atau
menciumnya, ia langsung membalikkan tubuhnya. Kini posisinya membelakangi Kandar. Bagi Isma, pria
di sampingnya itu sudah tidak begitu menyenangkan, walaupun pria itu pasangan
hidupnya yang sah. Untung Kandar sudah ngantuk berat, jadi dia tidak menyadari
reaksi istrinya yang sangat berbeda dari biasanya. Kalau mau jujur, sekarang
ini Isma sudah melakukan penolakan halus terhadap suaminya sendiri. Benarkah
yang terjadi semua ini? Benarkah Isma sudah jatuh cinta pada Hamdi?
Sejak peristiwa pagi itu, Ismayani
Puspita benar-benar berubah. Sejak pagi itu, Hamdi benar-benar sudah menjadi
raja di hati dan pikiran Isma. Penjual kue bolu yang sering ditinggal suaminya
ini seperti merasakan cinta sejati yang didambakannya selama ini, dan cinta itu
tidak pernah ia temukan pada diri suaminya. Setiap saat, suaminya yang super
sibuk itu sering mencampakkan dirinya. Apalagi akhir-akhir ini, dimana Kandar
terlihat semakin sibuk dengan bisnisnya yang memang sukses besar. Kalau sudah
tergila-gila bisnis, Kandar menjadi lupa segalanya, termasuk istrinya. Hal
itulah yang membuat Isma sering menganggap Kandar lebih mencintai pekerjaannya
dibanding istrinya sendiri. Kandar yang memang angkuh itu sekarang sering
marah-marah hanya karena kesalahan sepele. Kandar yang sekarang terlihat
semakin sibuk, sering memarahi Isma hanya karena Isma membuat kesalahan kecil.
Keesokan harinya, sekitar jam setengah
tujuh, Hamdi kedatangan tamu yang baginya istimewa. Tamu itu Murni.
Ia membawa kue dari majikan perempuannya. Kue itu untuk Hamdi dan keluarganya.
Hamdi agak terkejut dengan semua yang ia terima itu, walaupun di satu sisi ia
juga gembira. Dan yang lebih mengejutkan lagi, nanti sore Isma mengundang Hamdi
ke rumahnya, katanya Isma mau memberi sesuatu untuk Hamdi. Ketika Hamdi hendak
bertanya lebih jauh, Murni sudah hilang dari hadapannya.
Dengan perasaan ragu, Hamdi melangkah
ke meja makan, kemudian membuka kerdus yang diterimanya dari Murni
itu. Ada
berbagai macam roti di kerdus itu. Ada
roti pisang, roti coklat, bakpia dan apem ala Isma, dan lain-lain. Beberapa
saat kemudian, ketika Retno hendak menyediakan sarapan pagi di meja makan, ia
melihat kue-kue itu. Spontan saja ia bertanya, siapa yang memberi kue-kue lezat
itu? Hamdi yang berada di kamar, mendengar
suara ibunya itu. Dengan tetap berada di kamar, Hamdi menjelaskan kalau kue-kue
itu diberi Bu Kandar dengan cuma-cuma. Alangkah gembiranya Retno mendengar itu. Ia langsung
mencoba kue-kue itu satu potong, setelah itu ia menelpon Isma untuk berterima
kasih.
Hamdi yang melamun di kamar, mendengar ibunya
berbincang dengan Isma di telpon. Ia benar-benar masih bingung dengan undangan
Isma nanti sore. Dengan posisi duduk di ranjang, Hamdi bergumam, “Kenapa dia
harus mengundang aku? ....Dia tidak perlu berterima kasih sejauh ini. Kemarin kan aku hanya kebetulan
lewat rumahnya. …Kalaupun mau berterima kasih, harusnya cukup dengan memberi
kami roti-roti itu. …..Sekarang dia sudah memberi roti-roti itu…tapi nanti sore
dia mau memberi sesuatu lagi. Bahkan katanya hadiah istimewa. Ahh (
menggelengkan kepala). Ya Allah, kenapa masalahnya jadi serumit ini? Kenapa sekarang
mata hatiku selalu melihat perempuan cantik itu?”
Diam sejenak. Hamdi semakin merasa
tidak karuan. Hatinya gelisah, namun kegembiraan yang ia rasakan lebih besar.
Ia ingin menolak undangan Isma itu. Ia sangat ragu untuk menerima undangan Isma
itu. Namun keinginannya untuk datang ke rumah Isma nanti sore lebih besar,
lebih kuat. Kembali mulut hatinya bicara, “Perempuan yang sekarang selalu ada
di pikiranku itu semakin dekat sama aku. Dan yang paling menakjubkan, nanti sore
dia mengundangku ke rumahnya. Oohh..Maha Suci Allah…semua ini kenyataan.
Semua ini bukan mimpi.”
Diam sebentar sambil menutup muka
dengan kedua tangannya. Beberapa saat kemudian, dengan wajah yang terlihat
lebih tenang, Hamdi bicara lagi dalam batin. “Tapi sudahlah, tidak perlu
dipusingkan. Dia kan
istri orang, jadi kenapa aku harus berpikiran aneh-aneh? Dia kan istri orang, jadi kenapa aku harus
berharap terlalu jauh?”…Ya sudah kalau begitu. Insya Allah, nanti sore aku ke rumahnya. Toh aku hanya menjalankan
salah satu kewajibanku sebagai seorang Muslim. Memenuhi undangan saudaranya yang seiman. …Misalkan
nanti sore acaranya makan bersama, pasti dia bersama suaminya, jadi kenapa aku
harus pusing? Hahh. Kalaupun nanti acaranya bukan makan bersama, paling dia mau
memberi aku roti lagi. Yah..roti yang mungkin dibuat lebih khusus.”…Hah ha.
Benar juga ya? Kenapa aku harus buruk sangka terhadap sesuatu yang belum pasti
terjadi?”
Diam
sejenak. Dengan suasana hati yang sudah lega, Hamdi tersenyum. “Kemungkinan
besar, semua ini karena aku terlalu cepat gembira. Kemungkinan besar, semua ini
karena GR-ku sendiri. Heh he.”
Sorenya, Hamdi datang lagi ke rumah
Isma dengan sepeda onthel kesayangannya.
Begitu pintu rumah Isma terbuka, muncullah Murni.
Sore ini Murni terlihat lebih cantik dari
kemarin-kemarin. Mungkin karena dandannya yang agak lain dari biasanya. Setiap
lelaki yang belum tahu status Murni, pasti akan mengatakan kalau Murni itu bukan pembantu rumah tangga. Murni tersenyum
gembira melihat kehadiran Hamdi. Ia langsung mempersilahkan Hamdi duduk di
ruang tamu. Hamdi bertanya, “Tidak duduk di sini (serambi) saja Mbak?”
Murni tersenyum manis. “Mbak Isma yang
meminta Mas Hamdi duduk di dalam.”
Hamdi tersipu. “Oh begitu. Ehm…ya
sudah.”
Kini Hamdi duduk di ruang tamu rumah
Isma. Wajahnya merah-kuning karena terlalu gembira. Ia bergumam, “Pembantu dan
majikan sama-sama cantik. Pembantunya cantik, majikannya lebih cantik.”
Hening sejenak. Ditatapnya seisi
ruangan itu, lalu kembali bergumam. “Subhanallah.
Hebat sekali ruangan ini. Kecil tapi rapi. Seperti kamar hotel. Ahh…siapa
arsitek rumah ini?”
Sesaat kemudian Murni
muncul lagi. Ia membawa nampan berisi segelas teh hangat dan cawan berisi dua pisang
goreng. Hamdi tersentak gembira. “Masya
Allah! apa-apaan ini?! Mbak Murni tidak usah repot-repot.”
Murni tersenyum. “Tidak ada yang repot
Mas..semua ini sudah jadi tugas Murni.”
Hamdi yang semakin gembira ini
terlihat semakin tegang. Keringat dingin mulai membasahi mukanya yang bulat
agak lonjong. Ia bertanya, “Pak Kandarnya ada?”
“Oh, Bapak masih di kantor. Biasanya
sampai malam.”
“Jadi (terkejut)? Yang di rumah
siapa?!”
“Ya cuma kami berdua.”
“Kami berdua?!” sahut Hamdi semakin terkejut.
Murni mengangguk, “Iya, saya ama Mbak Isma.”
Ketegangan semakin dirasakan Hamdi.
Sambil menunduk, Hamdi bergumam, “Ya Allah ya Rabbii. Jadi dia mau menemui aku
sendirian?! Jadi aku mau ber-ikhtilat
(berduaan) sama perempuan yang bukan mahramku?!”
Setelah menaruh hidangan di meja,
Murni berkata lembut, “Saya ke dalam dulu ya Mas? Silahkan dinikmati ala
kadarnya.”
“Makasih banyak lho Mbak..”
“Iya Mas, sama-sama (agak kemayu).”
Murni hilang ke dalam, namun sebenarnya ia
masih di situ. Ia sembunyi di balik tirai pembantas ruang tamu dan ruang
keluarga. Gadis manis ini mengintip Hamdi. Ia tersenyum sambil menggelengkan
kepala, setelah itu bergumam, “Baru sekarang rumah ini kedatangan tamu seperti dia. Hmm…kelihatannya
dia seorang kyai..seorang ustadz.“
Murni yang lugu ini terus mengamati
Hamdi dengan seksama. Gadis asli Wonosari ini melihat seorang pemuda dewasa bertubuh
tegap. Usianya antara 31-33 tahun. Postur tergolong tinggi, dada bidang, tapi tidak selebar
dada petinju atau pegulat kelas berat. Kepala besar, muka bulat agak lonjong.
Kumis tipis, jenggot rapi, tidak tebal
tidak tipis. Jambang di kedua pipinya cukup lebat. Jidat kelabu di dahinya
cukup tebal, tanda tekun beribadah. Sore ini Hamdi mengenakan baju koko merah
tua dan celana congkrang hitam. Celana yang tingginya sekitar 5 cm di atas
kaki. Murni yang semakin asyik menatap Hamdi, bergumam, “Ganteng juga. …Dia
terlalu polos untuk sampai di rumah ini. Hih hi hii. Kelihatannya dia memang
sosok istimewa. Sosok yang memiliki nilai lebih.”
Setelah puas menatap Hamdi, Murni
langsung menghilang ke belakang. Hamdi sendiri semakin resah. Sejak tadi Hamdi
hanya menatap bawah. Sesekali juga menatap luar, menatap serambi atau taman
rumah Isma. Walaupun semakin tegang, Hamdi
tetap berusaha untuk positif thinking. Hatinya
bergumam, “Berduaan kalau cuma sebentar, dan kalau memang ada perlu yang
penting sekali, Insya Allah tidak
masalah. Yang penting dia sudah minta ijin suaminya. Toh di sini juga tidak sepi
sekali, jadi Insya Allah bukan
seperti berduaan yang dimaksud Quran-Hadits. Lagipula, aku dan Isma tidak
berduaan di rumah ini. Ada
Murni.”
Hamdi berusaha menenangkan hatinya
dengan terus berbaik sangka. Beberapa menit kemudian, Isma muncul dari tirai
yang dilalui Murni tadi. Melihat sang tuan
rumah muncul, Hamdi langsung berdiri. Hamdi terperangah. Wanita yang kini
selalu menggoda hati dan pikirannya itu kembali hadir di hadapannya. Sore yang indah ini benar-benar
seindah diri Isma. Ia kelihatan cantik sekali. Ia memakai baju lengan pendek
biru muda. Rok merah tua terjulur sampai ke dua telapak kakinya. Rambut
ngombaknya dibiarkan terurai hingga bahu ke bawah sedikit. Sore ini ia tidak
mengenakan kaca mata. Dilihatnya Hamdi yang terlongong-longong. Namun karena
tidak ingin terjadi apa-apa, pria berdada tegap ini langsung menunduk. Ia tidak
berani menatap Isma terlalu lama.
Dengan posisi masih berdiri, Hamdi
mengangguk sambil tersenyum, “Mbak mengundang saya?”
Isma mengangguk sambil tersenyum manis
sekali. Kini mereka berduaan di ruang tamu. Isma yang cukup santun ini duduk
agak jauh dari Hamdi. Jarak mereka terpaut sekitar 2 meter kurang sedikit.
Hamdi yang jantungnya semakin dag-dig-dug, hanya menundukkan kepalanya. Setelah
hening beberapa detik, Isma membuka pembicaraan. Ia sangat berterima kasih atas
dua pertolongan Hamdi yang diterimanya dalam jangka waktu yang singkat.
Baginya, dua pertolongan Hamdi itu sangat besar nilainya. Karena itu, sore ini
ia ingin kembali berterima kasih pada Hamdi.
Alangkah tersanjungnya Hamdi mendengar
semua itu. Ia mengatakan, semua yang sudah ia lakukan itu biasa saja, hanya
kebetulan. Mendengar penjelasan itu, Isma menyahut, “Biasa bagi Mas Hamdi, tapi
sangat berkesan di hati saya.”
Indah sekali kata-kata Isma itu. Sudah
kata-katanya indah,
nadanya lembut, yang mengucapkan seorang wanita muda dan cantik. Hamdi yang
semakin kikuk, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Isma terus menatap Hamdi
dengan tersenyum manis, namun Hamdi hanya sesekali saja menatap Isma. Keringat
dingin membasahi muka dan wajahnya. Terlihat sekali kalau sore ini ia sangat
bahagia, namun di satu sisi ia tetap harus menjaga hati dan pandangannya. Isma
sendiri terlihat gembira sekali. Ia bisa merasakan gejolak hati Hamdi. Semua
itu karena perasaannya yang begitu
lembut, juga karena perasaan cintanya pada Hamdi semakin kuat.
Sesaat kemudian, Isma meminta Murni
untuk menyerahkan tanda terima kasihnya pada Hamdi. Murni menyerahkan sebungkus
plastik hitam pada Hamdi. Hamdi menerimanya dengan hati berbunga-bunga. Setelah
Murni masuk ke dalam, Hamdi kembali duduk di hadapan Isma. Kegembiraan yang ia
rasakan itu membuatnya semakin gugup. Tanpa menatap Isma, Hamdi yang sudah
kasmaran ini berkata, “Saya tidak tahu harus harus bagaimana, harus bilang apa.
Tapi besok lagi tidak perlu seperti ini.”
Isma tersenyum. “Tidak apa-apa Mas.
Semua ini sudah jadi rejeki Mas, jadi tidak boleh ditolak.”
Hamdi yang tidak berani menatap Isma,
berkata, “Amal perbuatan itu yang pentingnya nilainya, kualitasnya. Dan
kualitas suatu amal itu bisa dilihat dari niat pelakunya. Niat itulah tolok
ukur segalanya. Walaupun amalan itu di mata manusia remeh, kecil, sepele, kalau
dilakukan dengan seikhlas-ikhlasnya, dengan niat hanya mencari ridho atau cinta
Allah, amal sepele itu akan menjadi besar nilainya.”
Hening sejenak. Hamdi yang lebih
banyak menundukkan kepala, bergumam, “Aku kok merasa semakin dekat dengan Si Cantik ini.”
Demikian pula dengan Isma. Istri
Kandar ini bergumam, “Ini tidak mungkin. Selama ini aku selalu dekat dengan Mas
Kandar. Tapi aku tidak pernah merasa sedamai ini. Oohh..benarkah lelaki di
hadapanku ini memang lebih menyenangkan dari suamiku sendiri? Benarkah semua
yang kurasakan ini? benarkah ya Allah?!”
Tampaknya memang benar. Ketika Hamdi
memohon diri, Isma langsung mencegahnya. Ia meminta agar Hamdi tidak usah terburu-buru.
Isma mengatakan, sekarang masih sore, langit masih terang, dan sholat Maghrib
masih agak lama. Tentu saja Hamdi terkejut setengah mati, terkejut karena
terlalu gembira. Hati kecilnya mengatakan, ia memang masih ingin di situ bersama
Isma. Permohonan pamitnya itu hanya basa-basi. Kegembiraannya semakin bertambah
ketika Isma ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting bagi Isma.
Sesuatu yang berhubungan erat dengan pertanyaan Hamdi kemarin.
“Pertanyaan saya kemarin?” Tanya Hamdi
tegang. Isma mengangguk, “Kemarin, waktu Mas menemukan dompet saya, Mas Tanya,
kenapa dompet saya bisa sampai di tempat itu. Iya kan?”
Hamdi yang kini berani menatap Isma,
mengangguk. Hamdi semakin bingung ketika melihat raut muka Isma berubah menjadi
sedih, padahal beberapa detik tadi Isma masih tersenyum gembira. Ada apa gerangan? Isma
yang sekarang terlihat murung, berkata lembut, “Sekarang akan kujawab
pertanyaan Mas kemarin. Akan kujawab dan kujelaskan sejujurnya.”
“Astaghfirullahal’azhim!”
seru mulut hati Hamdi. “Perempuan cantik, apa yang sudah menimpamu? Kenapa
tiba-tiba kamu jadi sedih? Apakah yang ingin kamu sampaikan itu penting
sekali?!”
“Terus terang,” tutur Isma, “aku mau
sekalian curhat sama Mas Hamdi.”
“Curhat?!” sahut Hamdi tersentak. Isma
yang kini terlihat sedih, mengangguk. Senyum manisnya tadi langsung musnah oleh
kedukaannya. Tampaknya ia memang sedang mendendam
masalah berat. Terlihat sekali kalau perempuan blesteran Arab ini sedang
berusaha keras untuk menguatkan hatinya. Terlihat sekali kalau hatinya sedang
menyimpan derita berat yang sudah ia rasakan cukup lama. Setelah mengatur nafas,
Isma berkata, “Semua ini gara-gara Mas Kandar. ….Dompetku bisa sampai sana karena Mas Kandar.”
“Karena Pak Kandar?!” sahut Hamdi melotot.
Isma mengangguk lemah. Tanpa ragu lagi, Isma langsung menceritakan semuanya.
Pagi itu Isma ‘disemprot’ Kandar karena di meja makan belum ada sarapan,
padahal Kandar harus segera berangkat ke kantor karena pekerjaannya yang
menggunung. Pagi itu Isma dan Murni memang agak terlambat menyediakan sarapan.
Itu karena Isma kecapaian. Semalam Isma dan Murni membantu Darti yang akan
mengadakan dua acara di rumahnya. Arisan keluarga dan pengajian. Sehari penuh
Isma dan Murni membantu Darti. Isma baru tidur
jam setengah satu dini hari, sedangkan Murni hanya tidur dua jam. Akibatnya,
Isma bangun kesiangan, dan baru mengerjakan sholat Shubuh ketika langit sudah
terang.
Ia melihat Kandar sudah duduk menghadap meja makan. Dilihatnya
suaminya itu sudah dandan rapi, tanda akan segera berangkat ke kantor. Di meja
makan masih ada sepiring sayur dan sedikit lauk pauk, namun sudah tidak bisa
dimakan karena sudah bau. Kandar yang sedang terburu-buru itu langsung
marah-marah. Isma yang ketakutan, langsung memanggil Murni, namun pembantunya
itu tidak muncul-muncul. Isma pun mendatangi kamar Murni. Ia melihat Murni
berbaring lemas di ranjang. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Isma langsung
menyentuh dahinya. Ternyata suhu badannya cukup panas. Pagi itu Murni terkena
flu agak berat. Semua itu karena ia
terlalu lelah bekerja.
Kemarin, beberapa jam sebelum Isma dan
Murni seharian bekerja di rumah Darti, Isma melihat Murni sudah tidak enak
badan. Murni mengaku, sejak dini hari tadi badannya sudah panas-dingin alias
meriang. Isma yang kalem, jelas tidak tega menyuruh Murni ikut bekerja. Ia langsung
menyuruh Murni pulang dan istirahat, namun Murni
tetap bersikeras ingin membantu majikannya yang sangat ia hormati itu. Murni
mengatakan, sakitnya itu hanya sakit ringan, jadi tidak perlu dipikir serius. Isma
pun pasrah melihat semangat kerja pembantunya yang setia itu. Ia biarkan saja Murni bekerja keras sampai malam.
Darti sendiri hanya meminta Isma
membantunya beberapa jam saja, namun karena Isma merasa berhutang budi pada
Darti, akhirnya Isma mantap untuk membantu tetangga baiknya itu sampai acaranya
selesai. Isma mengatakan, selama ini Darti sudah sering membantunya, termasuk
menjadi teman curhatnya. Dengan demikian, Isma punya kewajiban untuk ganti membantu
Darti. Bagi Isma, bantuan yang sudah ia
berikan itu masih tidak ada apa-apanya jika dibanding kebaikan Darti selama
ini. Akibat semua itu, Isma dan Murni lelah berat. Apalagi Murni yang seolah
tidak pernah berhenti bekerja. Murni pun K.O di ranjangnya. Semua itu karena
semalam Murni isah-isah, mencuci gelas, piring, mangkok,
panci, dan lain-lain yang menggunung.
Sesaat kemudian, Isma kembali
dikejutkan oleh teriakan Kandar
yang menusuk telinga dan hati. Murni yang teler, langsung bangkit dari
tidurnya. Dengan posisi duduk, Murni ingin membuatkan breakfast untuk majikan lelakinya yang galak itu, namun Isma
melarangnya. Isma jelas tidak tega melihat Murni
yang sedang sakit itu disuruh-suruh, walaupun itu sudah menjadi pekerjaan dan
kewajibannya.
Karena tidak ada yang disuruh, Isma
langsung bertindak sendiri. Ia pergi ke warung dengan motor bebeknya. Setibanya
di warung makan, Isma membeli makanan dengan tergesa-gesa, dan makanan yang ia
beli juga apa adanya. Ketika melewati rumah kosong yang sudah dipenuhi semak
belukar lebat, Isma mempercepat laju motornya. Isma seperti melihat wajah
Kandar yang marah-marah. Hal itulah yang membuat Isma semakin tergesa-gesa.
Karena tergesa-gesa, Isma tidak menyadari dompetnya jatuh dari tasnya. Dompet coklat
muda itu jatuh di rerumputan lebat.
Setelah sampai di rumah, Isma langsung
menghampiri meja makan. Ia hendak menghidangkan sarapan pagi untuk Kandar yang sudah
terburu-buru. Namun Kandar sudah tidak ada di meja makan. Ketika Isma hendak
menghidangkan makanan yang baru saja ia beli itu, Kandar sudah siap berangkat
ke kantor. Isma terkejut. Dilihatnya Kandar yang ‘dingin.’ Suaminya itu lewat
di depannya tanpa berkata apapun. Kandar melangkah keluar rumah tanpa menyapa
istrinya sedikit pun. Isma yang bengong, sedetik kemudian langsung mendekati
Kandar yang sudah mau masuk mobil Taruna
merah. Isma yang ketakutan ini berkata lembut,
“Maaf banget Mas…aku kesiangan. …Mas
tahu sendiri kan?
Aku dan Murni capek banget. Kemarin kami kerja seharian. …Aku hanya ingin
membantu Bu Darti. Beliau sudah banyak membantu aku, membantu kita. ….Sekarang
Murni…”
“Cukup!” bentak Kandar. Ia membalikkan tubuhnya, lalu
mendekati istrinya yang ketakutan. Dengan muka merah, Kandar berkata, “Membantu
ya membantu, tapi kamu jangan sampai melupakan kewajibanmu! Huhh (semakin marah)!
Tetangga ya tetangga, tapi rumah sendiri tetap jauh lebih penting! Huhh! Tetangga
dibantu, tapi suami sendiri malah ditelantarkan! Huhh! kamu ini!..”
“Paa (agak marah)! Aku tidak
bermaksud begitu! Cobalah Papa sedikit memahami keadaanku..”
“Diam kamu! Perempuan goblog!
Perempuan cerewet! Sudah salah malah melawan! Huhh! Aku sudah terbiasa
disiplin, jadi kamu dan pembantu goblog itu jangan lamban!
Kandar masuk mobil, lalu membanting pintunya.
Tanpa menatap Isma lagi, Kandar
berkata, “Awas kalau besok terlambat lagi. Aku bisa lebih keras sama kamu!
Ngerti!?”
Sedetik kemudian, mobil besar yang
dikemudikan Sutris itu lenyap dari hadapan Isma yang masih berdiri mematung.
Isma yang terluka hatinya ini masuk ke dalam dengan langkah gontai. Ia duduk
menghadap meja makan. Ditatapnya semua makanan yang baru saja dibelinya. Kedua
matanya berkaca-kaca. Beberapa menit kemudian, air mata derita membasahi kedua
pipinya nan empuk seperti kue apem. Perkataan dan perlakuan suaminya tadi
benar-benar mematahkan hatinya.
Kepedihan hatinya sekarang ini hampir
sama dengan ketika ia kehilangan Tari, permata hatinya satu-satunya. Namun
karena sudah belajar agama pada Ustadzah Aminah, sekarang Isma terlihat lebih
tenang dan lebih tegar. Walaupun hatinya terasa sangat pedih, ia tetap berusaha
melirihkan volume tangisnya. Ia hanya menangis ala kadarnya, tidak sampai
menjerit-jerit, apalagi histeris. Karena sudah tenggelam dalam sungai
kepedihan, Isma tidak menyadari kehadiran Murni.
Gadis itu berdiri di pintu menuju ruang belakang. Ia melihat majikannya
menangis sesenggukan. Dengan langkah gontai, Murni
yang loyo ini mendekati Isma, kemudian berlutut di hadapan sang majikan.
Sedetik kemudian Murni ikut menangis. Kedua
tangannya memeluk tangan kiri Isma, lalu ia sentuhkan ke pipinya. Dengan suara
terbata-bata, babu cantik ini berkata, “Sudah Mbak, jangan sedih. Hik, hik.
Nanti saya tidak kerasan lho.”
Isma mengangguk. Tangan kanannya mengelus
pipi dan rambut Murni yang acak-acakan. Dengan
air mata masih terus mengalir, Isma berkata lembut, “Hari ini kamu istirahat
saja. …Sebelum sakitmu sembuh total, aku mengharamkan kamu bekerja. Ngerti?”
Murni mengangguk mantap, setelah itu kembali
ke kamarnya. Sekarang balik ke Isma dan Hamdi. Isma yang larut dalam kisah
sedihnya, menjadi agak melamun. Kedua matanya berkaca-kaca. Namun sedetik
kemudian ia sadar dari lamunannya. Ia
usap air matanya yang menetes setitik, lalu berkata, “Begitulah kisahnya.“
Hamdi hanya melongo. Ia ikut trenyuh dengan kisah Isma yang cukup
menyedihkan. Isma mengatakan, perlakukan buruk Kandar terhadap dirinya itu
tidak hanya sekali-dua kali. Semua itu sudah menjadi sarapannya sehari-hari. Sejak
Kandar dan Isma menikah, mereka hanya bahagia sebentar. Kira-kira hanya setahun
mereka merasakan kebahagiaan rumah tangga. Setelah itu Isma selalu merasa
terhimpit oleh perlakuan Kandar
yang sombong dan pemarah. Ketika bertengkar, Isma yang cantik dan sabar ini
selalu mengalah, padahal posisinya selalu di pihak yang benar. Isma hanya
membuat kesalahan kecil, Kandar
sudah memarahinya berlebihan. Sebaliknya, ketika Kandar berbuat kesalahan
besar, Isma selalu menegurnya dengan sangat halus, namun yang ia dapat hanya
cacian. Kandar selalu mengatakan, “Aku paling benci berurusan sama orang yang sok
menasehati! Apalagi anak ingusan seperti kamu! Huhh! Berani benar kamu
menasehati orang
tua!? Huhh! Sejak kapan kamu berani menasehati aku? Haa?!”
Kandar mengatakan ‘anak kecil’ karena
usianya memang jauh di atas Isma. Usia mereka terpaut 13 tahun lebih empat
bulan. Saat menikah, usia Kandar
36 tahun, Isma 23 tahun. Namun setelah
menjadi suami-istri, Kandar
tidak pernah menunjukkan sikap dewasa. Dalam kehidupan sehari-harinya dengan Isma, Kandar
malah sering menampakkan sifat egois dan kekanak-kanakan, dan memang itulah
sifat aslinya. Ia tidak bisa bersikap sebagaimana orang yang usianya jauh di atas istrinya.
Justru sebaliknya, Isma yang jauh lebih muda itu malah bisa bersikap jauh lebih
dewasa dari suaminya. Selama lima
tahun hidup seatap, hanya sekali-dua kali saja Isma berani marah dan melawan
Kandar. Selebihnya, Isma selalu pasrah menerima perlakuan semena-mena suaminya.
Tanpa
kehadiran Utari, kehidupan rumah tangga mereka sudah kandas di tengah jalan. Kehadiran gadis
cilik itu sedikit banyak bisa meredam perlakuan buruk Kandar terhadap Isma. Kandar selalu
mengatakan, untung Isma bisa memberinya keturunan. Kalau tidak, kemungkinan
besar Kandar
sudah memperlakukan Isma dengan lebih buruk. Sejak mereka sering ribut, Kandar selalu mengancam
akan menceraikan Isma. Isma sendiri mengakui dengan jujur, kalau ia sudah tidak
mempedulikan Tari lagi, sekarang ini ia sudah minggat. Walaupun tidak minta
dicerai, berkali-kali Isma selalu minta dipulangkan ke kampung halamannya. Kalau
Kandar tidak mau mengantar, ia akan pulang sendiri bersama Tari.
Namun hal itu tidak mungkin ia
lakukan, sebab Kandar
selalu menahan Tari. Kandar merasa lebih berhak memiliki Tari. Berkat kehadiran
Tari, Kandar mau memperlakukan istrinya dengan baik, walaupun dengan hati
dongkol. Demikianlah kehdupan rumah tangga Isma dan Iskandar. Sampai sekarang
Isma masih terus diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Isma benar-benar sudah
lama menderita. Untung Isma punya tetangga sebaik Bu Darti, perempuan sabar yang
penuh pengertian. Kalau tidak, sekarang ini Isma sudah tidak bisa tersenyum.
Berkat kehadiran Darti, Isma bisa mengurangi beban hatinya yang menumpuk.
Kini Isma menangis lagi, namun
tangisnya tidak sampai sesenggukan. Menyadari Hamdi ada di hadapannya, ia
langsung menghapus air matanya. Hamdi yang semakin termangu-mangu, memberanikan
diri untuk bertanya: “Tapi kenapa Mbak menceritakan semua ini ke saya?”
“Itu karena (suara agak terbata-bat
)…Mas kuanggap orang
yang cocok untuk kujadikan teman curhatku.”
“APA (melotot)!? Saya…saya orang yang
cocok untuk jadi teman curhat Mbak Isma?”
Isma yang matanya berkaca-kaca, mengangguk
mantap. Hamdi melongo untuk beberapa detik. Ia tidak berani menatap Isma lagi.
Dua insan yang sedang kasmaran ini belum berani bicara lagi. Setelah diam
sekitar satu menit, Isma berkata, “Entah gimana tanggapan Mas Hamdi..yang jelas
aku lega sekali, bisa menceritakan semua ini. Sekarang beban di hatiku
berkurang banyak.”
Setelah berkata begitu, Isma terlihat
lebih lega. Walaupun matanya masih basah, kedamaian di wajahnya sudah terlihat
lagi. Hamdi yang tidak ingin menggemparkan suasana, langsung memohon diri. Ia merasa
sudah cukup bertemu Isma agak lama.
Hamdi berterima kasih atas hadiah yang diterimanya. Isma yang sebenarnya masih
ingin ditemani Hamdi, terpaksa membiarkan Hamdi pulang. Kini Isma berdiri di
samping pagar rumahnya. Ia menatap Hamdi dan sepedanya yang sesaat lagi hilang
dari hadapannya.
*****
Sejak
peristiwa sore itu, jiwa Hamdi mengalami perubahan besar. Hatinya benar-benar
sudah tertambat pada Isma, setelah sebelumnya Hamdi memang sudah tergoda,
bahkan sudah mulai jatuh cinta pada Isma. Pagi, siang, sore dan malam, wajah
ayu Isma selalu hadir di pikiran Hamdi. Wajahnya yang cantik namun sederhana,
senyum manisnya yang amat menawan, juga tutur katanya yang selembut sutra.
Semua itu sudah masuk ke kamar hati Hamdi yang
terdalam. Karena kasmaran berat, ibadah Hamdi menjadi turun drastis. Ketika
sholat, dzikir maupun membaca Al-Quran, wajah Isma selalu muncul di benak
Hamdi. Pria berdada tegap ini sadar kalau semua itu godaan setan. Ia langsung berusaha
mengusir bayangan Isma dengan dzikrullah,
namun usahanya
itu sia-sia. Semakin kuat usaha
Hamdi untuk mengusir Isma dari pikirannya, wajah jelita itu justru semakin kuat
hadir di mata batinnya. Sungguh, Hamdi Rusmanto benar-benar bingung. Pria alim
ini tidak bisa lagi mengerjakan sholat dengan khusyuk.
Sekarang Hamdi sedang ‘semedi’ di
masjid Al-Furqan. Ia duduk bersila di shaf
pertama. Keadaan masjid sudah gelap.
Semua lampu sudah dimatikan. Kecuali lampu yang menerangi Hamdi yang sedang
berusaha keras membersihkan hati dan pikirannya. Heningnya malam tidak sehening
hati Hamdi yang bergejolak. Kepalanya menunduk. Kedua matanya terpejam.
Mulutnya terus berkomat-kamit. Tak henti-hentinya ia menyebut, “Subhaanallah, wal hamdu lillaah, wa laa
ilaaha illallaah, Allaahu Akbar.” Beberapa menit kemudian, Hamdi yang
mukanya penuh peluh ini membuka matanya, lalu bergumam,
“Benarkah yang sudah kudengar kemarin?
.....Kemarin dia bilang, aku teman curhat yang cocok untuk dia.
…..Oohh…benarkah aku tidak salah dengar? Benarkah yang kualami semua ini?
benarkah semua ini bukan mimpi? Benarkah ya Allah..?”
Hening sejenak. Begitu tenangnya
suasana masjid Al-Furqan. Siapapun yang bersih jiwanya, pasti bisa mengerjakan
sholat dan dzikir dengan khusyuk.
Sekarang Hamdi sedang berdoa di tempat yang bersih dan tenang, namun ketenangan
suasana itu hanya bisa dirasakan badannya. Ketenangan suasana itu berbeda jauh
dengan hatinya yang sedang goncang. Walaupun suasana masjid begitu tenang,
Hamdi seperti mendengar keributan, sebagaimana ributnya suasana di toko, pasar
atau swalayan. Yah, keributan karena sedang terjadi duel hebat antara setan dan
malaikat.
“Kenapa ya Allah?” gumam Hamdi yang
masih tampak
gelisah. “Kenapa Engkau belum mengusir wajahnya dari hatiku? Bukankah Engkau sendiri yang mengatakan
pada hamba-hambaMu: “Orang-orang yang
beriman, hati mereka menjadi tentram karena mengingat Allah. ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” *
Catatan kaki : * Al-Quran surat Ar-Ra’du, surat ke 13 ayat ke 28
“Sudah berkali-kali aku menyebut
asmaMu yang Agung, tapi kenapa Engkau belum menentramkan hatiku? Kenapa Engkau
belum mengusir penjual kue bolu itu dari hati dan pikiranku? Kenapa ya Allah,
Gusti Yang Maha Pemurah?”
Hening sebentar, lalu bergumam lagi,
“Setelah gadis-gadis yang kucintai pada menikah, hatiku kosong dari segala
tambatan hati. Setelah gadis-gadis yang kucintai jadi milik orang, hatiku terlepas dari segala macam
keinginan untuk mencintai wanita, apalagi memiliki teman hidup. …Di satu sisi
aku agak sedih, tapi di sisi lain aku bisa merasa plong. Dan rasa plong-ku
ini lebih besar. …Dengan hati kosong dari ‘si rambut panjang,’ hatiku bisa
lebih terfokus ke ibadah dan pekerjaan.”
“Tapi sekarang…ohh. Sekarang hatiku
sudah tertambat lagi pada cinta. Yah..cinta yang ada pada diri seorang
perempuan muallaf. Perempuan yang baru
kehilangan buah hatinya. …Sekarang aku benar-benar sedang dapat godaan berat.
…Aku jatuh cinta lagi. …Dan yang paling menyiksa hati…perempuan yang kucintai
itu sudah bersuami.”
Hening sebentar. Hamdi benar-benar
tidak bisa merasakan heningnya malam dan tenangnya suasana rumah Allah. Ia
tampak semakin gelisah, padahal ia sudah berkali-kali menyebut namaNya. Karena
sudah lelah, akhirnya Hamdi pasrah saja. Ia
berbaring di lantai masjid yang
dilapisi karpet. Ia bergumam lagi, “Perempuan cantik setengah Arab, jago
membuat makanan lezat…aku sudah berusaha mati-matian mengusir kamu dari kamar cinta di hatiku, tapi sampai sekarang belum bisa.
Yahh…karena aku sudah lelah…kubiarkan saja dirimu hadir di kamar hatiku..toh
semua ini belum tentu dari setan. …Dan siapa tahu…wajah elokmu itu malah bisa
menentramkan hatiku, mengisi kekosongan jiwaku, dan membangkitkan semangat
bekerjaku. Amin!”
Demikianlah keadaan Hamdi sekarang. Ia
benar-benar sudah jatuh hati pada Isma. Demikian pula sebaliknya. Lihatlah
keadaan Isma sekarang. Sejak menjamu Hamdi sore itu, Isma sering menghabiskan
waktunya untuk melamun dan melamun. Apalagi yang ia lamunkan kalau bukan Hamdi.
Sejak pertemuan sore itu, Isma selalu ingin bersama Hamdi. Isma yang sedang
kasmaran berat ini menjadi lupa dengan statusnya sebagai Nyonya Iskandar. Akibat
jatuh cinta pada lelaki lain, Isma menjadi lupa kalau ia sudah bersuami. Hamdi
dan Isma benar-benar sedang mendapat godaan maha berat. Hamdi yang mengaku
sering gagal dalam bercinta, sekarang bisa dikatakan beruntung. Sekarang ini
cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Kini Isma sedang melamun di ruang
tamu. Wajahnya terlihat tidak bergairah. Semua itu karena ia sedang memendam
rindu berat pada seseorang. Ia sedang mendambakan cinta kasih yang selama ini
belum pernah ia rasakan. Cintanya yang sudah begitu berat itu membuat beban di
hatinya semakin menumpuk. Sedetik kemudian ia meneteskan air mata. Murni yang
kebetulan melewati ruang tamu, terkejut melihat tuan putrinya menangis. Ia
langsung duduk di samping Isma, lalu memeluk kedua bahunya. Gadis manis yang
sifatnya mirip Isma ini bertutur, “Ya Allah Mbak! Ada apa lagi ini?! Oohh…kenapa Mbak kelihatan
sedih sekali?!”
Pertanyaan Murni itu membuat Isma
semakin sedih. Tangisnya semakin sesenggukan. Murni bicara lagi, “Kalau ada
masalah cerita dong Mbak..jangan dipendam sendiri. Saya kan sudah lama ikut Mbak, jadi kenapa Mbak
masih merasa tidak enak sama saya?! ...Selain sama Bu Darti, Mbak Isma juga
bisa curhat sama Murni yang bodoh ini.
Oohh (mata berkaca-kaca)…memang apa yang sudah terjadi Mbak?! Apa Bapak
menyakiti Mbak lagi?”
Isma menggelengkan kepala, kemudian
mengelus kepala Murni yang sebelah kiri. Air matanya mengalir semakin deras.
Murni yang kalem seperti Isma, langsung ikut menangis sesenggukan. Kini yang
terdengar di ruang tamu hanya desah tangis yang mengiris hati. Pembantu dan
majikan yang sangat akur ini berpelukan erat. Mereka hanya bisa melukiskan
kesedihan mereka dengan menangis pilu. Beberapa saat kemudian, tetes air mata
Isma mulai berkurang, demikian juga Murni. Sambil mengatur nafas yang terasa
sangat berat, Isma berkata, “Bukan Mas Kandar yang membuatku begini.”
“Terus siapa?!” Tanya Murni penasaran.
Isma memejamkan mata. Dengan kondisi hati yang sudah terasa lebih tenang, Isma
berkata, “Aku mau cerita. Tapi kamu harus janji dulu sama aku.”
“Janji apa?”
“Janji untuk tidak menceritakan ke
siapapun, kecuali Bu Darti. Bisa?”
Murni mengangguk. “Insya Allah. Akan kubuktikan kalau aku
bukan gadis yang hobi ngrumpi. …Kalau
aku sampai bohong, Mbak bisa langsung mendepak aku dari rumah ini.”
Isma mengangguk mantap. Walaupun belum
bisa tersenyum, kepedihan di wajahnya sudah berkurang banyak. Tanpa ragu lagi,
Isma langsung menceritakan semuanya pada Murni. Isma menceritakan segala beban
hatinya dengan sejujur-jujurnya. Beberapa saat kemudian Murni
tersenyum. “Aku
sudah menebak.”
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Sejak pagi itu. Sejak dia membantu
Kang Tris mendorong mobil.”
Hening sejenak. Murni yang sudah bisa
tersenyum, memeluk kedua bahu Isma yang matanya masih basah, lalu bicara lagi.
“Apa yang Mbak alami ini sangat wajar, soalnya Mas Hamdi itu orangnya baik
banget. Sudah alim, suka menolong orang,
dan lain sebagainya. Apalagi dia masih bujang. Hi hi hi. …Tapi saya juga
heran..lelaki jempolan seperti dia kok masih sendiri. Kenapa ya? …Apa
mungkin…dia banyak masalah ya?”
“Aku sependapat Mur,”
sahut Isma yang air matanya sudah mengering. “Mungkin dia memang banyak masalah
…terutama masalah keluarga.”
“Aku juga mau ngomong begitu Mbak (sambil menepuk lengan kanan Isma yang di atas
siku). “Kalau
dipikir-pikir, Mas Hamdi itu kurang apa? Wajah lumayan ganteng, gagah, alim, imam masjid, dari keluarga menengah ke atas,
dan sejenisnya. Hih hi hii. Dia memang oke banget. …..Ehmm…kalau mau jujur..dia
dan Mbak Isma cocok banget.”
“Kamu ini!” kata Isma sambil menepuk
bahu kanan Murni. “Jangan ngawur ah (tersenyum
malu)!”
“Sumpah Mbak, demi Allah! Mbak cocok
banget sama dia. Betul!”
Kedua pipi Isma memerah karena
tersanjung. Ia menundukkan kepala, lalu tersenyum manis sekali. Senyum menawan
yang menghapus kesedihannya beberapa saat tadi. Alangkah leganya Murni melihat
Tuan Putrinya sudah bisa tersenyum lagi.
Dua perempuan cantik ini melanjutkan perbincangan mereka yang semakin
serius. Kali ini Hamdi yang menjadi topik pembicaraan mereka. Murni bertanya, “Terus
sekarang masalahnya apa?”
Pertanyaan itu membuat Isma sedih
lagi, walaupun tidak sampai menangis lagi. Karena sudah percaya penuh pada Murni, Isma tidak ragu lagi untuk menceritakan beban
hatinya yang paling mendasar. Murni sendiri bilang, seberat apapun beban di
hati Isma itu, kalau bisa hilang dengan diceritakan kepada Murni,
ya sebaiknya diceritakan saja. Walaupun mungkin nanti bisa berdampak buruk, hal
itu lebih baik daripada dipendam di hati, yang tentunya bisa membuat Isma
menderita berat.
Alangkah gembiranya Isma mendengar kata-kata
pembantu setianya itu. Ia langsung mengungkapkan hasratnya yang paling
mengganjal di hatinya. Ia ingin mengungkapkan perasaan cintanya itu pada Hamdi.
Ia tidak peduli dengan tanggapan Hamdi nanti. Ia juga tidak peduli dengan
hal-hal buruk yang mungkin akan menimpanya nanti. Yang penting ia sudah
mengeluarkan beban terberat di hatinya. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa
melegakan hati Isma, kecuali mengatakan: “I
love you” kepada Hamdi. Isma juga sudah memikirkan matang-matang tentang
cara yang akan ia lakukan nanti. Ia akan melakukannya dengan sehalus dan
sesopan mungkin.
Demikianlah keinginan Isma saat ini. Keinginan yang sangat
mencengangkan. Keinginan yang amat sangat sulit diwujudkan untuk perempuan
berstatus istri seperti Isma. Namun sekali lagi, Isma tidak peduli dengan
masalah apapun yang harus ia hadapi nanti. Pokoknya Isma hanya ingin melegakan
hatinya. Tentu saja Murni kebingungan, namun tak lama kemudian ia mengangguk
mantap, “Kalau memang hanya itu yang bisa melegakan hati Mbak Isma, ya lakukan
saja. Aku dukung.”
“Kamu mendukung?!” Tanya Isma
tersentak gembira. Murni mengangguk sambil tersenyum. Isma langsung memeluk
Murni sambil berujar, “Makasih banyak ya Mur.
Oohh..kamu benar-benar sudah seperti sahabatku, saudaraku. Makasih banyak
sekali ya?”
“Sama-sama
Mbak. Semua ini sudah seharusnya
kulakukan, sebab selama ini Mbak sudah
terlalu baik sama aku.”
Setelah curhat pada Murni,
Isma ganti curhat pada Darti, tetangga terbaiknya. Semula Isma agak ragu untuk
menceritakan hasratnya itu, namun karena Isma percaya pada kebaikan akhlak
Darti selama ini, akhirnya Isma mantap untuk menceritakan beban yang sudah
membuatnya menderita selama beberapa minggu ini. Awalnya Darti sedikit terkejut
mendengar hasrat Isma itu, namun karena ia perempuan sholelah, perempuan jujur,
sabar dan penuh pengertian, akhirnya ia bisa memaklumi masalah yang menimpa
sahabat mudanya itu. Kini Darti dan Isma berpelukan erat sambil menangis. Isma
menaruh kepalanya di dada Darti. Darti yang tangisnya hanya lirih, mengelus
rambut Isma yang tangisnya sesenggukan. Perempuan lima puluh tahunan ini berkata lembut,
“Insya
Allah, aku akan membantu Mbak Is semampuku. …..Besok carilah waktu yang
tepat.”
Isma mengangguk lemah. “Insya Allah Bu. …Aku janji sama Bu
Darti. Semua ini tidak akan kulakukan dengan ngawur atau ceroboh. …Semua ini
akan kulakukan dengan sebaik-baiknya.”
“Bagus sekali (tersenyum lega). Nah, sekarang
akan kuceritakan tentang keluarga Pak Hasan Sujardi..biar Mbak Is punya
gambaran tentang Mas Hamdi dan latar belakang keluarganya. Aku hanya akan
menceritakan apa yang kuketahui. Demi Allah, aku tidak berniat menambah atau mengurangi.”
Isma tersentak. “Jadi Ibu tahu tentang
Mas Hamdi dan keluarganya?!”
“Sedikit banyak tahu,“ jawab Darti
tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, sekarang kuceritakan.”
Sebelum bercerita, Darti mengatakan
kalau semua yang ia ketahui itu hanya ia dengar dari Bu Mardiyono atau Bu
Endah, sahabatnya Bu Sujardi atau Retno, ibunda Hamdi. Seperti yang sudah
diceritakan di bab sebelumnya, Hamdi sudah menganggap Endah sebagai ibu
keduanya. Usia Endah dan Retno terpaut 5 tahun. Endah 59 tahun, Retno 54 tahun.
Dua ibu itu sudah seperti kakak-adik. Selain karena sangat akrab, wajah Endah
dan Retno juga mirip. Hamdi sendiri sering mengatakan, kemiripan wajah Endah
dengan wajah Retno melebihi kemiripan wajah Sari, bibinya Hamdi, adik
kandungnya Retno yang sekarang tinggal di Bandung.
Setiap ada masalah, apalagi masalah
besar, Hamdi dan ayah-ibunya selalu curhat pada Endah Martini, begitulah nama
lengkapnya. Hamdi sangat bersyukur memiliki teman curhat seperti Endah.
Demikian pula Retno dan Sujar. Retno yang galak itu memang harus punya teman
curhat seperti Endah, Perempuan Anti Marah, begitulah julukan yang diberikan
ibu-ibu Bumi Indah kepada perempuan asli Kediri
itu. Semua orang yang sudah mengenal Endah, tidak ada yang menganggap julukan
itu berlebihan, sebab kenyataannya
memang begitu. Endah, perempuan lembut yang masih terlihat cantik di usianya
yang sudah di atas setengah abad, memang sosok wanita yang amat sangat sabar.
Hamdi yang tidak pernah cocok dengan ibunya sendiri, selalu mencurahkan segala
beban hatinya pada Endah. Hamdi yang mengaku sering dimarahi ibunya sendiri,
selalu mengadukan masalah yang menimpanya pada Sang Ibu Kedua.
Begitu dekatnya hubungan Endah dan
Retno, sehingga wajar kalau Endah mengetahui segala hal tentang Hamdi
sekeluarga. Kedekatan Endah dan Retno ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk
Bumi Indah, termasuk Darti. Dengan demikian, kalau ada orang yang berurusan
atau punya masalah dengan Retno, orang tersebut, terutama ibu-ibu jama’ah
pengajian Al-Furqan, selalu mengadu ke Endah. Kalau orang-orang itu tidak
berani menyelesaikan sendiri urusan mereka dengan Retno, mereka langsung
menjadikan Endah sebagai perantara.
Sekarang Hamdi sekeluarga sedang
mendapat masalah besar. Mereka sedang mendapat cobaan yang sangat berat dari
Allah SWT. Dan sekali lagi, hanya Endah yang sudah mengetahui masalah itu.
Selain sabar, Endah juga sangat terpercaya dalam memegang amanat. Endah sudah
mengetahui keganasan mulut kaum hawa di Bumi Indah, terutama ibu-ibu pengajian
dan arisan. Walaupun hampir setiap hari mendatangi pengajian di Al-Furqan
maupun di masjid lain, ibu-ibu itu tetap hobi ngrumpi. Karena itu, Endah sangat hati-hati terhadap mereka. Dia
tidak akan menceritakan masalah yang menimpa keluarga Sujardi pada sembarang orang. Dia hanya akan
menceritakan hal itu pada mereka yang benar-benar terpercaya, dan itu amat
sangat sedikit. Ibaratnya, seribu satu, atau sepuluh ribu satu, atau bahkan
mungkin lima
puluh ribu satu.
Jika ada seratus orang yang mengikuti
pengajian, mungkin hanya dua lima
orang yang benar-benar menyerap ilmu
agama yang diberikan ustadz-nya. Dari seratus orang itu, mungkin hanya dua lima orang yang benar-benar memahami dan
menghayati materi pengajian tersebut. Dari dua lima orang itu, mungkin hanya lima orang yang sudah
mengamalkan ilmu agama itu dalam kehidupan sehari-harinya. Sama halnya dengan
penduduk Bumi Indah. Hanya segelintir dari mereka yang bisa memegang amanat,
termasuk amanat untuk menutupi aib atau kejelekan saudara seimannya.
Karena Hasan Sujardi sudah termasuk
tokoh nomor satu di komplek Bumi Indah, segala yang berhubungan dengan Sujar
dan keluarganya, pasti akan menjadi topik menarik bagi para tetangganya yang
hobi menggunjing. Berkat menjadi ketua takmir masjid Al-Furqan, Sujar menjadi
tokoh terkondang di perum.
elit Bumi Indah. Apalagi Sujar juga memiliki putra yang menjadi imam masjid. Putra yang bisa menjadi
contoh untuk anak-anak muda Muslim di Bumi Indah. Berkat semua itulah, seluruh
penduduk Bumi Indah menghormati Sujar dan Hamdi.
Namun sekarang mereka sedang mendapat
ujian berat dari Sang Pencipta. Retno sering berkata, “Kalau aku tidak punya
Allah, sekarang aku sudah minum minuman keras. Nanti kalau aku mabuk, masalah
yang sedang kuhadapi ini seolah hilang. Hih hii. Kalau aku sudah tidak
mempercayai akhirat, surga dan neraka, sekarang kepalaku sudah kubenturkan ke
tembok, biar aku tidak usah
pusing memikirkan masalah ini.”
Perkataan itu sering ia ucapkan ketika
ia memarahi Hamdi. Mendengar kata-kata itu, Darwan, adik ketiga Hamdi yang juga
sholeh, yang sekarang kerja di Padang,
berseru, “Istighfar Maa! Istighfar!
Ittaqillaah..ittaqillaah! (takutlah atau bertakwalah kepada Allah Mama tidak boleh ngomong begitu lagi! Putus
asa itu termasuk dosa besar! “Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tidak ada yang perputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang
kafir.” *
Catatan kaki : * Al-Quran surat Yusuf, surat ke 12 ayat ke 87
Walaupun Retno sekeluarga sudah
mati-matian menutup musibah yang sedang menimpa keluarganya, tetap saja ada
dari tetangganya yang mengetahui masalah tersebut. Dan yang membuat Retno marah
besar sekaligus cemas, tetangganya yang mengetahui masalahnya itu tergolong
orang yang mulutnya ganas, yang hobinya mengorek aib tetangganya, lalu ia
sebarkan ke seluruh Bumi Indah. Tetangga yang mulutnya mengerikan itu rumahnya
dekat dengan rumah Retno. Jarak rumahnya dengan rumah Retno hanya terpaut
sekitar 10 meter. Letaknya di sebelah timur
masjid Al-Furqan. Namanya Sita. Ia perempuan berusia 35 tahun. Badan
langsing, wajah manis, kulit sawo matang. Anaknya satu, lelaki. Sekarang kelas
1 SMA. Namanya Fardan. Dia seorang remaja yang tampan dan pendiam. Dia cukup
sering membantu kegiatan kampung, termasuk kegiatan masjid. Dialah satu-satunya
keturunan Sita dan Agung, suaminya yang sekarang dinas di Sukabumi.
Walaupun Sita dan Fardan cukup rajin
datang ke masjid, Sita itu tetap seorang perempuan berakhlak tidak baik.
Walaupun Sita itu tergolong perempuan berwajah lumayan, banyak orang yang
menganggap dirinya tidak enak dilihat. Padahal kalau seseorang itu cantik atau
tampan, seharusnya enak dilihat, namun kenyataannya? Tidak sedikit
penduduk Bumi Indah yang menganggap Sita itu tidak menyenangkan. Bagi yang
sudah mengenal Sita dengan baik, termasuk Retno, dia tidak akan ragu untuk
mengatakan: Sita itu menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan. Yah, semua itu
karena mulutnya yang lebih berbisa dari racun ular kobra. Dan masih banyak lagi
penduduk Bumi Indah yang kesukaannya berjalan ke sana kemari untuk membicarakan aib
tetangganya sendiri.
“Dan Alhamdulillah,“ tutur Darti, “aku termasuk orang yang sedikit itu. Aku termasuk orang yang
dipercaya Bu Endah. Makanya, beliau mau menceritakan semua ini ke aku. Tapi
beliau pesan agar aku jangan bilang Bu Sujar.”
“Bilang apa?”
“Ya bilang kalau beliau sudah
menceritakan semua ini ke aku. …Nah, sekarang akan kuceritakan masalah yang
sedang menimpa keluarga Bu Sujar. …Tapi sebelumnya, Mbak Is harus meyakinkan
aku dulu.”
“Meyakinkan apa?”
“Meyakinkan kalau Mbak Is bisa menutup
aibnya Bu Sujar sekeluarga.”
Isma tersenyum. “Apa selama ini Bu
Darti pernah melihat atau mendengar aku ngomel ke sana kemari?”
Darti menggelengkan kepala sambil
tersenyum. Isma melanjutkan, “Apa Bu Darti menganggap hubungan kita selama ini
belum dekat?”
Darti kembali menggelengkan kepala.
Isma tersenyum, “Kalau begitu, apa lagi yang Ibu ragukan.”
Darti tersenyum. “Mbak Ayu, Insya Allah aku percaya Mbak Ayu tidak
suka menggunjing ke sana-sini.”
Isma tersenyum manis. “Kalau kita
ingin dihargai orang, terlebih dahulu kita harus menghargai orang. Kalau kita tidak ingin kejelekan kita
terungkap, ya kita jangan suka mengorek kejelekan orang lain, apalagi orang
lain itu saudara kita sesama muslimah. …Ustadzah Aminah pernah menyampaikan
sebuah hadits. Kalau tidak keliru, artinya begini. Barang siapa yang menutupi
kejelekan atau kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah juga akan
menutupi kejelekannya, baik di dunia ini, terlebih lagi di akhirat kelak.”
“Nah, aku tidak ingin masalahku
tentang Mas Hamdi ini diketahui orang.
Hanya diketahui sedikit orang saja aku tidak mau, apalagi diketahui banyak
orang. Apalagi orang-orang
yang mulutnya ganas. Makanya itu, aku juga wajib menutupi masalah yang sedang
melanda keluarga Bu Sujar. Apalagi aku dan Bu Sujar juga sudah cukup akrab.”
Kata-kata Isma itu membuat Darti
tersenyum lega. Ia benar-benar percaya kalau Isma bisa memegang amanat. Lagipula,
Darti juga sudah melihat sendiri keluhuran akhlak Isma selama ini. Baru setahun
lebih sedikit Isma menjadi penduduk Bumi Indah,
namanya sudah terkenal di kawasan elit tersebut. Bahkan di perumahan dan
kampung-kampung sebelah pun, nama Ismayani Puspita sudah cukup menjadi buah
bibir. Semua itu berkat dua hal. Kemahirannya membuat kue lezat, dan akhlaknya
yang luhur. Kebanyakan orang
berpendapat, Isma itu perempuan yang anteng dan berjiwa sosial tinggi. Ia tidak
suka neko-neko (aneh-aneh).
Karena sudah percaya sepenuh hati pada
Isma, Darti langsung memulai ceritanya, cerita tentang keluarga Hasan Sujardi,
orang tua lelaki yang kini menjadi tambatan hati Isma. Hasan Sujardi dan
istrinya, Retno Tri Maryani, sama-sama asli Magetan, Jatim. Usia mereka terpaut
cukup jauh. Tujuh setengah tahun. Ketika Sujar sudah mau lulus kuliah, Retno
baru kuliah semester awal. Mereka bertemu di kursus yang diselenggarakan di
Bantul. Setelah berkenalan, mereka baru sadar kalau mereka berasal dari kota yang sama. Setelah
semakin akrab, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati mereka. Selanjutnya,
mereka mantap untuk hidup bersama selamanya. Mereka pun menikah, dan dikaruniai
tiga putra. Semuanya gagah dan tampan.
Mereka ialah:
Hamdi Rusmanto, Ardan Ibrahim, Darwan
Tri Hartono. Tujuh tahun kemudian, Retno dan Sujar kembali dikaruniai buah
hati. Kali ini perempuan. Betapa bahagianya Retno dengan karunia itu. Ia sangat
berterima kasih kepada Yang Maha Sempurna. Sejak melahirkan Darwan, Retno
selalu mendambakan anak perempuan. Setelah cukup lama menanti, selang tujuh
tahun sejak kelahiran Darwan, akhirnya Retno berhasil memiliki apa yang sangat
ia inginkan. Buah hatinya yang bungsu itu ia beri nama Rina Septiyani. Septi
dari kata September, bulan lahirnya.
Namun sayang seribu sayang,
kebahagiaan Retno itu hanya berlangsung sebentar. Ketika Septi berusia setahun
setengah, Allah SWT memanggilnya ke alam abadi. Gadis mungil yang amat
menggemaskan itu pergi dari pangkuan Retno untuk selamanya. Hanya setahun
setengah Retno merasakan kebahagiaan memiliki buah hati perempuan. Kepergian
Septi benar-benar membuat tanah tempat Retno berpijak seperti terbelah. Retno
sedih selama tiga bulan. Untung ada sang suami yang sholeh. Lelaki berwatak
tegas itu selalu mengingatkan Retno untuk tidak sedih berlarut-larut. Sujar
selalu mengatakan, “Ingatlah Ma, kita masih punya tiga buah hati yang masih
membutuhkan kasih sayang kita. Tiga buah hati yang menjadi harta karun kita
yang tak ternilai
harganya. Insya Allah, mereka bisa
menjadi tambatan hati kita di masa mendatang, dan Insya Allah untuk selamanya.”
Nasehat luhur itu akhirnya bisa
melenyapkan kesedihan Retno. Delapan tahun kemudian, Sujar dan Retno menemukan
anak hilang di sebuah yayasan. Anak perempuan berusia 10 tahun itu sudah
sebatang kara sejak usianya 3 tahun. Setelah ortunya pergi untuk selamanya,
gadis cilik bernama Dina itu diasuh pamannya, adik kandung ayahnya, sampai
usianya 7 tahun. Namun setelah itu, paman dan bibinya merasa keberatan untuk
memeliharanya. Karena keberatan, akhirnya Dina ditelantarkan begitu saja. Gadis
manis itu dilempar ke sana-sini oleh saudara-saudara dan teman-teman almarhum
ayah-ibunya.
Setelah berusia 10 tahun, gadis cilik
asli Purwokerto itu ditemukan terdampar di sebuah yayasan anak yatim-piatu.
Retno dan Sujar tidak sengaja menemukan anak itu. Waktu itu Sujar dan istrinya
baru pulang dari dinas di Nganjuk, kemudian mampir di rumah Kasno, teman kuliah
Sujar di fak Sastra UGM. Saat itulah, Kasno bercerita tentang seorang anak hilang
di sebuah panti asuhan yang berada di dekat rumahnya. Menurut berita yang didengar
Kasno, anak perempuan itu sangat ingin diadopsi. Karena tertarik, Sujar dan
Retno langsung meminta Kasno untuk mengantar mereka.
Begitu melihat Dina, Sujar dan Retno,
terutama Retno, langsung jatuh hati pada anak berhidung mancung itu. Apalagi
kata Pak Harno dan Bu Fatimah, pemimpin
yayasan tersebut, Dina itu anak yang sangat menyenangkan. Dia cerdas,
rajin, sopan, lembut dan dewasa. Pikirannya lebih dewasa dari usianya yang
masih 10 tahun kurang 4 bulan. Harno dan Fatimah sendiri sebenarnya
menyayangkan seandainya Dina diambil orang. Namun karena Harno merasa sudah
tidak mampu lagi menolong Dina dari segi ekonomi, akhirnya Harno dan istrinya
mengikhlaskan Dina diadopsi orang.
Awalnya Dina menolak karena takut pada
Retno yang galak. Namun setelah tiga kali pertemuan, akhirnya Dina mau diambil
sebagai anak oleh keluarga Hasan Sujardi. Sebelum mengadopsi Dina, Retno dan
Sujar konsultasi dulu dengan ketiga putranya. Awalnya Ardan dan Darwan menolak,
terutama Ardan yang egonya tinggi. Namun setelah melihat keseriusan sang ibu
untuk memiliki pengganti Septi, akhirnya mereka setuju. Darwan yang lebih dulu
mengatakan ‘setuju.’ Alangkah bahagianya Retno mendengar keputusan ketiga putranya. Tiga
bulan kemudian, jadilah Dina Kurnia Sari sebagai putri sulung Hasan Sujardi. Darwan
yang semula anak bungsu, sekarang memiliki adik. Saat pertama menjadi adik
Darwan, Dina merasa kaku dan asing karena masih takut. Namun setelah sebulan
lebih, akhirnya Dina bisa menemukan kedamaian menjadi putri bungsu Hasan
Sujardi dan Retno Tri Maryani.
Setahun kemudian, saat Dina berusia 11
tahun, Dina mendapat kesempatan berduaan dengan sang ibu. Saat itu belum begitu
malam, namun Retno sudah mau tidur karena seharian bekerja berat. Dina duduk di
samping perempuan asing yang kini sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya. Retno
yang sudah setengah tidur, mengelus rambut Dina yang lurus agak ngombak. Dua
perempuan cantik ini tersenyum gembira. Setelah itu Dina tengkurap, lalu
menaruh kepalanya di dada Retno. Beberapa detik kemudian Dina mengangkat
kepalanya. Gadis cilik ini menatap sang ibu yang kelelahan, lalu berkata
lembut, “Apa sekarang ini Mama masih merindukan Septi?”
Retno tersenyum. “Mama akan selalu
merindukan dia. …Maklumlah..dia darah dagingku. …Tapi Alhamdulillah, sekarang Gusti Allah sudah memberi ganti buat Mama.
Ganti yang sama baiknya dengan Septi.”
“Siapa itu Mah?”
“Ya siapa lagi kalau bukan kamu (menyentuh
hidung Dina yang mancung).”
Alangkah bahagianya Dina mendengar
kata-kata indah itu. Ia tersenyum manis sekali, kemudian berkata, “Makasih
banyak Mah.”
“Sama-sama Sayang.”
Sedetik
kemudian Dina kembali menaruh kepala kecilnya di dada sang ibu. Dengan mata berkaca-kaca,
Dina berkata lembut, “Dina sayang banget sama Mama.”
Retno yang matanya juga berkaca-kaca,
mengelus rambut Dina, lalu menimpali, “Mama juga sayang banget sama
kamu..sebagaimana Mama menyayangi Septi.”
Sejak saat itu, hingga keempat putra
Sujar tumbuh dewasa, Darwan-lah yang hubungannya paling dekat dengan adik
angkatnya itu. Dina sendiri juga mengakui hal itu. Ia sering bilang, dari
ketiga kakaknya yang semua lelaki, Darwan-lah yang paling bisa momong dia. Darwan-lah yang paling bisa
mengerti dirinya. Lalu bagaimana dengan Hamdi? Apa dia tidak bisa momong Dina. Ketika Dina curhat pada
Endah, Dina mengatakan, “Saya dan Mas Hamdi juga dekat, tapi kedekatan kami
tidak seperti kedekatan saya sama Mas Darwan. Itu karena ada sedikit ketidakcocokan
di antara kami.”
“Tapi kamu tetap sering curhat sama
dia kan?”
Tanya Endah. Dina tersenyum. “Ya jelaslah Bu. Saya bersyukur sekali, punya
kakak sulung seperti Mas Hamdi. Kalau Mas Darwan lagi tidak ada, saya selalu
curhat sama Mas Hamdi. Kalau Mas Hamdi tidak ada, baru sama Mama.”
Demikianlah cerita tentang Sujar, Retno,
Hamdi dan ketiga adiknya. Sekarang Sujar menjadi dosen UNY (Universitas Negeri
Yogyakarta), dulu IKIP, Jurusan Bahasa Asing dan Sejarah. Sedangkan istrinya
yang dulu juga pernah menjadi guru SMA 3 B Padmanaba, sekarang menjadi ibu
rumah tangga. Kalau sedang punya waktu senggang, Retno dan beberapa temannya
berdagang pakaian perempuan, terutama pakaian Muslimah, juga berdagang
gorengan. Namun itu sudah cukup lama berlalu, dan itu juga hanya kadang-kadang
saja dilakukan Retno.
“Begitulah Mbak Is,” tutur Darti yang
tampak begitu semangat bercerita. Isma yang jiwanya larut dalam kisah ini,
berkata, “Pantas..Dina itu tidak ada miripnya sama Pak-Bu Sujar, Mas Hamdi atau
Mas Darwan. …Ah (tersenyum), waktu pertama kenal Bu Sujar dulu, aku sempat
mengira Dina itu istrinya Mas Hamdi.”
“Aku juga mengira begitu,“ sahut Darti
tersenyum. “Nah, kisah tentang asal-usul keluarga Pak Sujar sudah kuceritakan.
Sekarang akan kuceritakan kisah selanjutnya. Kisah tentang masalah besar yang
sedang menimpa keluarga Bu Sujar.”
Sejak tahun 1998, Sujar mendapat
rejeki melimpah dari Yang Maha Pengasih. Dengan niat ingin mensyukuri nikmat
tersebut, Sujar membangun sebuah toko kelontong atau supermarket besar di
wilayah utara Yogyakarta, tepatnya di
Kaliurang. Disamping profesi utamanya
sebagai pemberi ilmu, suatu profesi yang dalam kaca mata Islam merupakan
profesi yang amat sangat mulia, Sujar juga ingin mencoba bisnis, suatu
pekerjaan yang sudah lama sekali ia tinggalkan.
“Kata Bu Mardi,” ujar Darti, “waktu kuliah
dulu Pak Sujar pernah jualan telur sama pakaian. Itulah pekerjaan beliau sebelum jadi guru besar. Jadi
dunia bisnis sudah tidak asing bagi beliau. …..Hanya saja, karena dunia
wiraswasta sudah beliau tinggalkan cukup lama, beliau jadi agak kesulitan saat
memulai proyek itu. Tapi Alhamdulillah,
berkat bantuan teman-teman beliau yang bisnisman, tokonya jadi dalam waktu
setahun dua bulan.”
Akhir tahun 1999, Sujar berhasil
mendirikan supermarket besar di Jl. Kaliurang km 14, juga toko kayu yang
letaknya hanya sekitar 30 meter dari toko tersebut. Tokonya diberi nama
Maryani, diambil dari nama belakang Retno. Sedangkan toko kayunya diberi nama
Darwan, nama putra ketiganya, sebab memang Darwan yang memegang toko kayu
tersebut. Menurut Sujar dan Retno, dari semua putranya, Darwan-lah yang paling
berbakat dalam bisnis. Semua kawan dan tetangga Sujar pun mengakui hal itu.
Mereka sependapat, adik ketiga Hamdi itu memang berbakat, rajin, jujur dan
amanah. Darwan yang saat itu masih kuliah di Pertanian UGM, mendapat amanat
yang cukup besar dari sang ayah. Sedangkan Ardan yang angkuh dan agak pemalas,
diminta Sujar untuk memegang toko Maryani. Ardan minta ijin ayahnya untuk
merekrut semua temannya yang sealiran dan sepemikiran dengan dia. Pemuda
bertubuh atletis yang tinggi hati itu ingin merekrut semua temannya yang
penganggur atau yang di PHK. Ardan ingin menjadikan semua temannya itu sebagai
bawahannya. Sujar pun mengijinkan keinginan putra keduanya yang manja itu.
Dua bisnis Sujar yang cukup besar itu
berjalan lancar. Supermarket Maryani dan toko kayu Darwan. Hal itu jelas
membuat ekonomi keluarga Hasan Sujardi semakin mapan. Namanya di masyarakat pun
semakin harum. Semua kawan Sujar, baik kawan yang sekantor maupun orang-orang Bumi
Indah, sering mengatakan: “Pak Sujar memang hebat. Wajar kalau beliau disegani
kawan maupun lawan. Sudah ilmuwan, sholeh, kaya, ketua takmir masjid Al-Furqan,
dan lain-lain.” Begitulah komentar kebanyakan orang yang sudah mengenal Hasan
Sujardi.
Sayangnya, empat tahun kemudian,
tepatnya di pertengahan tahun 2003, kelancaran usaha dua toko besar itu mulai
mengalami penurunan drastis. Supermarket Maryani yang ditangani Ardan itu
nyaris ambruk. Kemungkinan besar, semua itu tidak lepas dari kinerja Ardan yang
kurang beres. Sedangkan toko kayu Darwan, masih sedikit lebih baik. Walaupun
bisa dikatakan nyaris hancur, usahanya masih jalan, masih bisa memberi sedikit
penghasilan untuk pemiliknya. Atau setidaknya masih bisa untuk makan
sehari-hari. Namun tak lama kemudian, dua usaha Sujar yang sudah berjalan
selama 3,5 tahun itu musnah. Toko Maryani yang terlebih dahulu gulung tikar.
Selang dua bulan kemudian, toko kayu
Darwan menyusul. Begitulah nasib bisnis Sujar yang sebenarnya sudah bisa
dikatakan sukses.
Remuknya dua usaha besar itu sangat
mempengaruhi perekonomian rumah tangga Sujar. Apalagi anak-anaknya belum ada
yang mentas, walaupun saat itu usia
mereka sudah tergolong dewasa. Sejak pertengahan tahun 2004, setahun setelah
toko kayu Darwan musnah, ekonomi rumah tangga keluarga Sujar semakin terpuruk. Sampai
detik ini, pertengahan tahun 2007, dampak kegagalan bisnis besar itu semakin
terasa menyakitkan bagi Sujar dan anak istrinya. Sudah tiga tahun ini Sujar
memiliki hutang yang semakin hari semakin menggunung. Selama tiga tahun ini
Sujar dan Retno, terutama Retno, pusing tujuh keliling. Mereka selalu
dikejar-kejar para piutang yang meminta kembali hak mereka. Apalagi pihak
piutang yang dari bank, yang nyaris setiap hari meminta uang mereka pada Sujar
dan Retno yang lagi bokek berat.
Retno mendatangi semua kenalannya,
baik tetangganya maupun temannya yang di luar Bumi Indah, untuk meminjam uang.
Retno yang lagi kalang kabut itu selalu ditemani Endah, kakak sekaligus sahabat
abadinya. Retno berhutang untuk membayar hutang. Ibaratnya, menggali lobang
untuk menutup lobang lain. Retno pinjam uang pada si A, untuk melunasi
hutangnya pada si B. Jika besok si A menagih, Retno akan mendatangi si C untuk
mengembalikan uang si A. Begitulah seterusnya. Sujar sendiri hanya bisa gigit
jari. Ia tidak bisa membantu istrinya melunasi hutang. Gajinya sebagai dosen
cuma berapa? Apalagi dosen di jaman serba susah seperti sekarang ini.
Saat Retno sedang stress karena
ditagih hutang, ia tidak ingin diganggu siapapun. Ia tidak ingin diganggu
sedikit pun. Kalau ada orang yang mengganggu dia sedikit, walaupun itu tidak
sengaja, dia langsung marah, lalu memaki orang itu. Atau bisa juga dalam bentuk
lain. Kalau Retno sedang diam sambil cemberut, lalu ada orang bertanya sesuatu
kepadanya, pertanyaan itu tidak dia jawab. Pertanyaan itu hanya dia anggap
angin lalu. Kebiasaan Retno yang kurang baik ini sudah diketahui banyak orang. Pokoknya
kalau Retno sedang seperti itu, berarti dia sedang ditagih hutang. Dari keempat
anaknya, Hamdi dan Ardan yang sering ia semprot, terutama Hamdi. Saat Retno
sedang diam dengan wajah merah menyala, Hamdi bertanya sesuatu. Saat itulah, api
amarah Retno langsung menyala. Retno
sering mengomel pada Hamdi, “Aku ini lagi pusing memikirkan hutangku yang
segunung! Jadi jangan kamu ganggu dengan hal-hal atau pertanyaan-pertanyaan
sepele!”
Begitulah Retno kalau sudah kalap.
Padahal bisa saja pertanyaan yang diajukan Hamdi itu menyangkut hal penting,
namun Retno selalu menganggapnya remeh. Yah, sangat remeh kalau dibanding
masalahnya yang sangat ruwet. Hamdi yang sebenarnya juga merasa sebal dan ingin
marah, lebih memilih diam. Hal itu wajar, sebab ia merasa diremehkan. Ketika ia
mau melampiaskan amarahnya dengan cara berkata-kata keras, Dina dan Endah
langsung memintanya untuk istighfar. Hamdi
pun mati-matian menahan amarahnya dengan eling
Gusti Allah. Berkat rahmatNya, akhirnya Hamdi berhasil menahan amarahnya
yang sudah meluap. Hamdi pun sadar dengan kondisi jiwa ibunya yang memang
sedang tertekan. Berkat ibadahnya yang selama ini sangat kuat, akhirnya Hamdi
bersedia mengalah, dan mau untuk lebih memperhatikan derita Retno.
“Begitulah kisahnya,” ujar Darti
dengan wajah memelas. “Bu Sujar sendiri sering bilang..kalau tidak punya teman
sebaik Bu Endah, mungkin beliau sudah menderita panjang. Beliau akan selalu
susah dalam hidupnya. Subhanallah. Bu
Endah itu memang jempolan. Dia benar-benar cocok jadi psikolog-nya keluarga Bu
Sujar.”
“Kasihan sekali Bu Sujar,” tutur Isma
yang wajahnya juga mengiba. Ia seperti bisa merasakan derita ibunya lelaki yang
ia cinta itu. Ia melanjutkan, “Nasib beliau hampir sama aku...sama-sama
kehilangan anak perempuan yang masih sangat dini. … Tapi beliau masih lebih
beruntung. Beliau masih punya tiga putra.”
Diam sekitar lima detik, lalu bicara lagi. “Dan sekarang..Mas Hamdi sekeluarga sedang
mendapat cobaan berat dari sisi ekonomi. …Oh…Mas Hamdi dan keluarganya sangat
pantas dikasihani.”
Darti tersenyum, lalu menyentuh bahu
kiri Isma. “Kita hanya bisa berdoa. Semoga Allah segera menyelesaikan masalah
mereka. Allah itu Maha Penyayang. Dia
tidak akan memberi cobaan kepada hambaNya, kecuali cobaan yang sesuai dengan
kemampuan si hamba.” *
“Betul sekali Bu,” sahut Isma
mengangguk seraya tersenyum. “Yang penting Bu Sujar sekeluarga tetap berbaik
sangka pada Allah. Bu Sujar harus yakin, semua cobaan atau masalah, pasti ada
hikmahnya.”
Catatan Kaki : * Al-Quran surat Al-Baqarah, surat ke 2 ayat terakhir
(286)
* * * * *
Pagi itu, ketika Isma baru pulang dari
belanja di warung, ada sesosok tubuh yang mengawasi Isma dengan seksama. Sosok
pria itu
memakai pakaian serba gelap. Mulai dari jaketnya, hingga helm dan cadarnya yang
begitu rapat, sehingga wajahnya tidak terlihat. Ia dan motor bebeknya berada di
samping tiang listrik yang jaraknya dengan rumah Isma terpaut sekitar 25 meter.
Ia terus mengawasi Isma yang berjalan kaki. Setelah perempuan itu masuk ke
rumahnya, sosok aneh ini membuka cadarnya, dan tampaklah wajahnya yang cukup
seram.
Ia seorang lelaki dewasa sebaya Hamdi.
Usianya sekitar 32 tahun. Bibir agak tebal, kulit coklat tua. Ia memelototi
Isma dengan penuh kebencian. Ia seperti menaruh dendam mendalam pada Isma.
Bibirnya menyeringai, berusaha menahan api dendam di dadanya. Hal itu membuat
wajahnya terlihat semakin sangar.
Sebenarnya wajahnya tidak jelek. Wajahnya biasa saja. Namun karena hatinya
sudah dipenuhi bara dendam yang membara, wajahnya menjadi terlihat jauh lebih
mengerikan dari harimau terbuas yang sedang marah.
Sambil cengar-cengir, pria aneh ini
berkata lirih, “Isma…kamu akan segera merasakan derita kakakku. …Kamu…dan
suamimu yang brengsek itu!”
Setelah mengumpat dengan pelan, ia
mengambil HP di sakunya, kemudian menelpon seseorang. Sesaat kemudian,
telponnya diterima oleh seorang pria yang misterius pula. Telpon dari Hand Phone itu ia terima dengan telpon
biasa. Pria itu duduk di kursi besar dan empuk. Ia berada di sebuah ruangan gelap. Pria
yang tadi menelpon, berkata, “Aku sudah sampai Kang. Tadi Isma lewat di depanku
persis.”
“Lewat di depanmu?” Tanya suara berat
dan serak. Si pria pemegang HP mengangguk mantap. “Kira-kira tiga menit yang
lalu. Sekarang aku ada di timur rumahnya. Ehm..apa perlu aku melewati
rumahnya?”
“Tidak perlu. Yang penting kamu sudah survey. Ehm (menghisap rokok)..ya sudah,
sekarang kamu boleh balik. Besok langsung kamu praktekkan saja.”
“Baik Kang.”
Setelah menutup pembicaraan dengan Si
Aneh, Si Sangar ini kembali
memelototi rumah Isma, lalu berkata, “Iskandar…Isma…kalian sudah menghancurkan
hidup Kang Kasman. …Aku tidak terima. Tidak terima! …Tapi sabar saja. Toh
sebentar lagi kalian juga akan menderita panjang. Bahkan derita kalian bisa
melebihi derita Kang Kasman. …Tunggu saja tanggal mainnya.”
Setelah puas mengumpat, lelaki yang
kelihatannya orang jahat ini langsung meninggalkan komplek Bumi Indah.
Sedangkan pria misterius yang ditelponnya tadi sekarang masih duduk di
posisinya. Sambil mengepulkan asap rokok, pria aneh ini mengangguk-angguk.
Wajahnya belum bisa digambarkan. Wajahnya masih tertutup gelapnya ruangan. Tapi
yang jelas, wajah pria aneh ini mengerikan. Kulit dahi dan kulit pipi di bawah
matanya berkerut. Dengan mata melotot, ia acungkan kepalan kanannya di depan mukanya,
lalu mengumpat, “Iskandar keparat! Sebentar lagi kamu akan mampus! Akan
kukembalikan penderitaan tujuh tahun yang lalu. Tunggu saja, brengsek!”
Siapakah orang-orang aneh ini? Kenapa mereka
begitu membenci Iskandar dan Isma? Urusan apa yang sudah terjadi di antara
mereka dan Iskandar? Kita tunggu saja tanggal mainnya, sebagaimana yang sudah
dikatakan Si Sangar tadi. Beberapa
hari kemudian, Iskandar mendapat tenaga tambahan yang bisa membantu Murni
mengurus rumah tangganya. Pembantu barunya itu laki-laki. Kata Supar, salah
seorang anak buahnya di kantor, calon pembantunya itu asli Wonogiri. Ia mengaku
sudah lama menganggur, padahal ia sudah beristri. Setelah gagal mencari
pekerjaan ke sana-sini, akhirnya ia bertemu Supar, salah satu anak buah Kandar
yang handal.
Kini Supar sedang menghadap Kandar di
ruangan pribadi Kandar. Suami Isma itu berkata, “Ya sudah kalau begitu, nanti biar kurundingkan dulu sama
istriku. Besok orangnya dibawa ke sini dulu. Kalau memang cocok, ya langsung
suruh datang ke rumah.”
“Baik Boss,” sahut Supar, pemuda 27
tahunan bertubuh kurus. Besok paginya Supar membawa calon PRT itu ke hadapan
Kandar. Ternyata lelaki itu Si Sangar yang
kemarin ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga Kandar. Saat menghadap
Kandar, ia terpaksa berlaku lemah lembut. Meskipun begitu, kebengisan di
wajahnya tetap terlihat. Kandar sendiri agak terkejut melihat calon pembantunya
itu. Setelah Supar membawa dia pergi, Kandar bergumam, “Kalau melihat wajahnya,
dia bukan orang baik, tapi kalau melihat potongannya, dia kelihatan sudah
pengalaman. …Aahh..sungguh membingungkan (menggelengkan kepala). Sekarang ini
susah sekali cari pembantu bagus. Bagus kerjanya, bagus kelakuannya. …Tapi
sudahlah, jangan buruk sangka dulu. Pokoknya ada yang membantu Isma dan Murni.“
Besoknya,
setelah menghadap Isma di rumah, lelaki aneh yang mengaku bernama Hartoyo itu
mengungkapkan keseriusannya untuk bekerja. Ia sangat mengharapkan kesediaan
Kandar dan Isma untuk menerimanya bekerja di rumahnya. Isma yang sebenarnya
terlihat ragu, ragu karena agak takut, akhirnya mau menerima Toyo sebagai
pembantu barunya. Isma berkata, “Sebenarnya rumah ini sudah cukup ditangani
Murni. Tapi kalau untuk pekerjaan-pekerjaan berat, aku jelas tidak tega
menyuruh Murni.“
“Makanya itu,” sahut Kandar tersenyum,
“kita butuh dia. …Ehm (menatap Toyo sambil mengangguk). Kapan kamu ke sini?”
“Terserah Pak-Bu Kandar,” sahut Toyo
pura-pura gembira, padahal hatinya sangat membenci suami-istri di hadapannya
itu. Kandar tersenyum, “Baik. Besok kamu sudah bisa tinggal di sini. Kamarmu di
dekat WC..sebelah selatan kamarnya Murni.“
Setelah keluar dari rumah Kandar,
senyum gembira Toyo langsung musnah. Kini
ia dan motornya berada di sekitar 10 meter dari rumah Kandar. Ia tatap
rumah kecil yang mewah itu dengan
tatapan mata harimau yang hendak menerkam rusa. Sedetik kemudian ia tersenyum
angkuh, lalu bergumam, “Sebentar lagi, Iskandar keparat. Sebentar lagi!”
Setelah meninggalkan Bumi Indah, Toyo
kembali menelpon si pria aneh yang tidak lain adalah Kasman, kakak kandungnya.
Si Aneh yang sekarang tetap berada di tempatnya kemarin, di ruangan gelap,
bertanya, “Gimana Isma?”
“Dia tidak berubah Kang. Dia tetap
cantik dan mempesona.”
Kasman tersenyum dan mengangguk-angguk.
“Dia akan selalu mempesona. Hah ha ha.”
Tawa Kasman yang berat dan serak
itu terdengar sangat mengerikan.
Suaranya lebih mengerikan dari auman singa atau lolongan serigala. Besoknya,
Toyo sudah resmi menjadi pembantu rumah tangga Isma. Baru hari pertama
bekerja, Toyo sudah menunjukkan
kinerjanya yang jempolan. Dia sangat rajin, disiplin dan terampil. Semua itu
tidak lepas dari badannya yang kekar dan gesit. Memang benar dugaan Kandar
kemarin. Walaupun Toyo berwajah agak bengis, pengalaman kerjanya sudah
segudang. Kerjanya yang hebat itu jelas sangat membantu Murni dan Sutris.
Beberapa hari kemudian, tepatnya di
pagi hari, Isma yang sedang berada di ruang tamu, melihat Toyo yang sedang membersihkan
taman. Isma yang kelihatan cemas, bergumam, “Orang ini memang hebat. Sudah kuat,
terampil, rajin, tidak pernah mengeluh kalau disuruh. …Ehmm…dia memang layak
diacungi jempol.”
Hening sejenak. Isma terus menatap Toyo
yang bekerja dengan rajin. Toyo memakai kaos hijau ketat, sehingga tampaklah
kedua lengannya yang berotot, juga dadanya yang cukup lebar. Posturnya sedang,
tidak tinggi tidak pendek. Isma yang terlihat semakin cemas, kembali bergumam,
“Sudah sepuluh hari dia kerja di sini. …Selama sepuluh hari ini, dia tidak
menunjukkan kekurangan sedikit pun. Kerjanya terlihat semakin hebat. …Tapi
anehnya, setiap ketemu dia, setiap berdekatan dengan dia, aku selalu merasa takut.
…Firasatku mengatakan..dia bukan orang baik. …Dan firasat ini sudah muncul
sejak pertama ketemu dia. …Aku sudah berusaha untuk tidak buruk sangka. Aku
sudah berusaha untuk tidak berpikiran kotor. Tapi..rasa cemas ini tetap ada.
Bahkan semakin hari semakin besar. …Ohh…ya Allah..benarkah semua ini cuma
perasaanku sendiri? Atau memang ada yang tidak beres dengan lelaki bernama
Hartoyo ini?”
“Mbak Is..” panggil Murni yang
tiba-tiba muncul di ruang tamu. Isma terkejut. Kehadiran Murni itu langsung
menyadarkan Isma dari lamunannya yang sudah mendalam. Murni hanya bertanya, kue yang sudah
dibuat Isma itu untuk arisan nanti sore atau untuk rapat RT besok pagi. Isma
mengatakan, kue coklat dan pandan itu untuk arisan nanti sore.
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari
Sabtu sore tanggal 30 juni 2007, rumah Isma kelihatan ramai. Rupanya di rumah
Kandar sedang ada pesta kecil-kecilan yang cukup meriah. Ada sekitar sepuluh
orang yang berada di ruang makan rumah Kandar. Di situ juga ada Darti dan
ibu-ibu pengajian Al-Furqan yang lain. Mereka menghadap meja makan yang penuh
makanan lezat. Sambil tersenyum gembira, mereka menatap Isma dan Kandar yang berdiri menghadap kue tart.
Kandar mengatakan, hari ini hari bahagianya Isma. Sabtu sore yang indah ini
Isma ulang tahun yang ke 29.
Alangkah bahagianya Isma melihat
kehadiran semua tamunya yang kebanyakan tetangganya sendiri. Isma yang bahagia
itu menangis
terharu. Sebelum memotong kue tart untuk dibagikan ke para hadirin, Kandar dan
Murni meminta Isma untuk mengatakan sesuatu sebagai pembukaan. Dengan mata
berkaca-kaca, Isma berkata lembut, “Yang paling penting bagi saya…sekarang
ini…Allah SWT sudah menghilangkan kesedihan saya…kesedihan karena kehilangan
Tari. …Berkat kasih sayangNya yang seluas langit dan bumi, sekarang ini saya
sudah bisa mengikhlaskan kepergian Tari ke alam baka. …Dan untuk sore yang
indah ini…dan mudah-mudahan juga penuh berkah…saya haturkan terima kasih yang
sebesar-sebesarnya kepada semua hadirin. …Tanpa bantuan anda semua, acara ini
tidak mungkin bisa diadakan.”
“Tanpa bantuan Ibu-Ibu, Bapak-Bapak,
Mbak-Mbak, dan Mas-Mas semua…hik (menghapus air mata bahagia)…saya tidak akan
bisa sukses seperti sekarang ini. …Mudah-mudahan..Gusti Allah SWT, berkenan
membalas kebaikan anda semua.”
“Amin!” sahut semuanya.
“Mudah-mudahan pula,“ geram Toyo dalam
batin, “aku bisa segera membalas dendam Kang Kasman. …Mudah-mudahan, aku bisa
segera memberi pelajaran buat kalian. Terutama kamu (memelototi Kandar),
brengsek!”
Isma melanjutkan, “Yah..ini saja yang bisa saya sampaikan. Ini saja yang
saya anggap penting. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih untuk semuanya.
Terima kasih yang tak terhingga.”
Semua hadirin mengucapkan selamat buat
Isma. Yang perempuan pada berpelukan. Darti yang menempelkan pipinya di pipi
Isma, berkata, “Sambutanmu tadi bagus sekali. Aku benar-benar terharu. Selamat
ya Mbak Ayu. Mudah-mudahan Mbak Ayu dan Mas Kandar bisa sukses selalu.”
“Amin. Makasih banyak Bu. Tanpa
kehadiran Ibu, aku tidak mungkin bisa setabah ini.”
Darti yang kedua tangannya menyentuh
kedua bahu Isma, tersenyum, “Kalau hati lagi resah, langsung saja memohon
ketegaran dan ketenangan pada Gusti Allah SWT. Dialah sebaik-baik tempat
memohon. Dialah Sang Pemberi yang terbaik. Tidak ada yang bisa memberi yang
terbaik untuk segala keinginan kita, kecuali Dia.”
Isma ingin membagi kebahagiaannya itu
kepada semua orang yang dicintainya, terutama orang yang paling dicintainya
saat ini. Yah, siapa lagi kalau bukan lelaki sholeh bertubuh gempal yang
profesi sambilannya mengurus masjid. Besok paginya, Murni mengantar roti ke
rumah Sujar, dan Hamdi yang menerimanya. Murni mendapat pesan dari Isma.
Katanya, dari semua makanan lezat itu, ada yang khusus untuk Hamdi. Jenis
makanannya pun berbeda. Donat dan bakpao hijau, bakpao pandan ala Isma. Sungguh
beruntung Murni, sebab bingkisan khusus itu diterima sendiri oleh Hamdi.
Setelah Murni pergi, Hamdi menatap
kue-kue yang khusus untuk dia. Kebahagiaan tiada tara merebak ke seluruh rongga
hatinya. Sambil tersenyum gembira, Hamdi yang hatinya berbunga-bunga ini
berkata dalam batin, “Kok dia bisa tahu roti kesukaanku? Padahal aku tidak
pernah bilang ke dia, atau ke siapapun. Selama ini aku selalu bilang, semua
makanan buatannya enak banget. Aku tidak pernah bilang, dari semua yang enak
ini ada yang paling enak, paling spesial. …Tapi…ahh. …Ini benar-benar
kenikmatan besar. Maha Suci Allah.”
Hamdi yang sedang bahagia ini bertekad
untuk membalas pemberian Isma itu. Ia akan membalasnya dengan sesuatu yang
setimpal. Karena Isma sudah memberinya sesuatu yang sifatnya spesial atau
khusus, maka ia juga akan memberi Isma
sesuatu yang serupa. Tiga hari kemudian, Hamdi menitipkan bingkisan khusus
untuk Isma itu pada Murni. Isma terkejut setengah mati. Terkejut karena terlalu
gembira. Isma menerima sebuah bingkisan berbentuk segi empat. Bingkisan yang
bentuknya seperti buku itu dibungkus dengan kertas kado kuning. Dengan jantung
bergetar, Isma membuka bingkisan itu.
Isinya dua buah buku berukuran kecil
dan tipis. Buku pertama tentang nasehat orang-orang sholeh dan kisah-kisah
hikmah, juga kisah tentang orang-orang non muslim yang bijak. Sedangkan buku
kedua berbentuk novel tentang perjuangan seorang pedagang besar yang usahanya
sempat hancur, namun berhasil sukses lagi berkat kegigihannya. Isma melihat nama
pengarang novel itu. Namanya: Hamdi Rusmanto. Isma tersentak gembira.
“Jadi buku ini karangannya?…Jadi dia juga
bisa nulis? Oohh..hebat sekali dia.”
Isma mencium buku itu, lalu ia
tempelkan di dadanya. Hatinya mengatakan, setelah mengetahui Hamdi juga bisa
menulis novel, rasa cintanya pada putra sulung Sujar itu semakin besar. Tentu
saja hal ini membuat sosok Kandar semakin musnah dari kamar cinta di hatinya.
Untuk saat ini, Isma hanya melihat suaminya itu sebagai sosok yang harus ia
hormati, tanpa perlu ia cintai lagi. Bayangan sosok Hamdi yang begitu besar itu
membuat bayangan sosok Kandar menjadi terlihat sangat kecil. Kehadiran sang
suami dengan kehadiran Hamdi, seperti semut dan gajah.
Tanpa ragu lagi, Isma langsung memencet-mencet
tombol HP-nya, lalu mengirim pesan untuk Hamdi. Sesaat kemudian, Hamdi yang
sedang membaca buku di ruang tamu, mendengar HP-nya berbunyi. Hamdi tidak
langsung melihat SMS yang masuk ke HP-nya. Ia masih melanjutkan bacaannya.
Selang sepuluh menit, baru Hamdi melangkah ke HP-nya yang ia taruh di atas lemari
yang berada di dekat kulkas. Ia baca SMS itu. Intinya, Isma hanya mau berterima
kasih atas kado yang diterimanya. Isma mengaku amat menyukai dua buku itu,
terutama yang novel. Isma akan langsung membaca dua buku itu. Isma akan
mengakhirkan membaca buku yang ia anggap lebih baik.
Dari dua buku itu, Isma menganggap
buku karya Hamdi lebih baik. Dengan demikian, buku novel itu akan ia baca nanti
atau besok-besok. Sekarang ia akan membaca dulu buku yang satunya, buku tentang
petuah orang-orang bijak dan kisah-kisah Islami. Hamdi tersenyum setelah
membaca SMS Isma itu. Ia langsung membalas, “Mbak
Is kan belum membaca buku itu, jadi kenapa Mbak bisa mengatakan novel saya
lebih bagus dari buku itu?”
Isma tersenyum manis, lalu membalas, “Aku memang belum membaca, tapi aku bisa
menilai isinya setelah mengetahui siapa pengarangnya. Dari segi kualitas, dua buku ini sama
bagusnya, tapi buku karangan takmir masjid Al-Furqan ini memiliki nilai lebih. Dan kemungkinan besar, nilai
lebih itu hanya bisa dinikmati oleh Isma.”
Demikianlah jawaban Isma. Hening
sejenak. Hamdi memejamkan mata, menggelengkan kepala, kemudian mengelus dada.
Ia berkata lirih, “Benarkah ya Allah? Benarkah semua kebahagiaan yang kuterima ini?”
Setelah berkata begitu, Hamdi kembali
duduk di kursi ruang tamu. Wajahnya
terlihat semakin gado-gado. Bahagia, bingung dan sedih berkumpul di
kamar asmara di hatinya. Ia bergumam, “Ini semua bukan mimpi. Ini semua
kenyataan. …Aku yang sudah berkali-kali gagal dalam asmara…kali ini bisa
mendapatkan cinta yang kuidamkan. …Ooh..benar-benar sulit bagiku untuk
mempercayai semua ini. …Tinggal selangkah lagi..aku dan dia..sudah jadi
pasangan kekasih.”
Tidak berlebihan jika Hamdi
berpendapat begitu. Kenyataan memang sudah berbicara demikian. Untuk saat ini,
hanya satu yang harus dilakukan Hamdi atau Isma. Mengungkapkan perasaan cinta
masing-masing. Hamdi atau Isma tinggal mengucapkan :“I love you..” setelah
itu mereka akan menjadi pasangan kekasih. Hamdi dan Isma yang sudah dimabuk
asmara itu
menjadi lupa akan status mereka. Hamdi yang alim, yang imamnya sholat jama’ah
masjid Al-Furqan, menjadi lupa kalau Isma itu istri orang. Demikian pula
sebaliknya. Isma yang cintanya pada Kandar semakin luntur, menjadi tidak peduli
dengan statusnya sebagai Ny. Iskandar. Benarkah Hamdi yang sholeh ini sedang
mengalami penurunan iman? Benarkah Isma yang sudah dikenal sebagai perempuan
baik-baik itu akan berselingkuh?
*
* * * *
Selain mendapat kue spesial dari Isma,
Hamdi juga mendapat minuman rasa apel yang dikemas dalam dua gelas plastik,
atau gelas yang bentuknya sama dengan gelas untuk mengemas Aqua. Selain itu, Hamdi
juga menemukan selembar kertas yang ada tulisannya tentang jus sari apel
itu. Kalimat pertama menerangkan tentang
Isma yang dulu berjualan minuman sari apel tersebut. Namun karena pasarnya
sedikit, akhirnya Isma memutuskan untuk meminum sendiri minuman-minuman bergizi
tersebut, lalu banting setir menjadi pembuat kue bolu. Sebagian dari minuman
sari apel itu ia simpan di kulkas, dan akan ia berikan kepada siapapun yang
meminta.
Selanjutnya, tulisan di kertas itu
menerangkan tentang manfaat apel. Minuman itu asli dari apel hijau. Ada kalimat
yang berbunyi: Apel, Buah Ajaib Penangkal Penyakit. Kemudian ada peribahasa
Inggris yang berbunyi : An apple a day
keeps the doctor away. Makanlah apel setiap hari, maka tubuh akan terhindar
dari penyakit. Bukan hanya penyakit ringan seperti flu dan diare yang bisa
ditangkal dengan apel, tapi juga kanker, serangan jantung dan stroke.
Disamping itu, apel juga sudah
terbukti bermanfaat untuk wanita usia menopause. Menurut penelitian US Apple Association pada tahun 1992,
apel mengandung boron yang dapat
membantu tubuh wanita untuk mempertahankan kadar estrogen pada saat menopause. Gangguan
penyakit pada saat menopause, seperti ancaman penyakit jantung dan osteoporosis (kekeroposan tulang) karena
kurangnya hormon estrogen, dapat dicegah dengan boron yang terkandung dalam apel. Sudah banyak penelitian yang
menyatakan bahwa apel, sebagaimana buah-buahan lain, mengandung banyak serat, fitokimia dan flavonoid.
Menurut Institut Kanker Nasional
Amerika Serikat, jika dibandingkan buah-buahan lain, apel paling banyak
mengandung flavonoid. Zat ini mampu
menurunkan resiko terkena penyakit kanker paru-paru sampai 50 persen. Selain
itu, ada kabar baik untuk kaum pria. Hasil penelitian Mayo Clinic di As pada tahun
2001 membuktikan, apel mampu mencegah pertumbuhan sel kanker prostat. Fitokimia di dalam apel akan berfungsi
sebagai antioksidan yang akan melawan kolesterol jahat (LDL), yang berpotensi
menyumbat pembuluh darah. Antioksidan akan mencegah kerusakan sel-sel atau
jaringan pembuluh darah. Pada saat yang sama, antioksidan akan meningkatkan
kolesterol baik (HDL), yang bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung dan
pembuluh darah.
Kandungan serat apel terhitung besar,
sekitar lima gram untuk setiap buah berukuran sedang. Jumlah ini lebih tinggi
dari kandungan serat yang ada pada kebanyakan produk sereal. Serat ini
bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dan menurunkan berat badan. Nah, tunggu
apalagi? Segera masukkan Sari Apel SPAT (Sentral Pengembangan Agrobisnis
Terpadu) ke dalam menu harian anda. Demikianlah keterangan singkat tentang
minuman Sari Apel buatan SPAT- Jatim.
*****
Hari-hari berikutnya, Hamdi semakin tenggelam
dalam lautan asmara. Setiap mengerjakan sholat, berdoa, membaca kitab suci atau
bekerja, wajah elok Isma selalu terbayang di benaknya. Sungguh sulit bagi Hamdi
untuk melupakan senyum manis Isma yang begitu menawan. Wanita blesteran Arab
itu benar-benar sudah menjadi ratu di istana hati Hamdi. Kini Hamdi sedang
melamun di kamarnya. Pria berdada lebar ini tiduran di ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar, Hamdi
terus mewaspadai langkah-langkah iblis laknatullahi
‘alaih.* Hamdi berpikir, jika bayangan Isma itu membuat hatinya tidak
khusyuk beribadah, berarti itu benar-benar dari setan. Hamdi sangat mengerti
hal itu, namun di sisi lain Hamdi juga tidak berani memvonis terlalu cepat.
Hamdi tidak ingin terlalu cepat mengatakan, Isma-lah penyebab utama
ketidakkhusyukan ibadahnya akhir-akhir ini.
Beberapa saat kemudian lamunan Hamdi
terhenti oleh adzan Dhuhur yang dikumandangkan oleh Asyraf. Hamdi tersentak, “Astaghfirullahal’azhim! Iblis sudah
membuat lamunanku menjadi indah. Oohh (menggelengkan kepala, lalu menutup muka
dengan kedua tangan)..Tidak. Tidak! Jangan berkhayal terlalu tinggi! Jangan!
Oh..Maha Suci Allah..sucikanlah hatiku. Sucikanlah.”
Catatan kaki : * Yang selalu dilaknat
Allah
Begitu adzan selesai berkumandang, Hamdi
mengambil air wudhu, kemudian bergegas ke masjid Al-Furqan. Begitu masuk masjid,
Hamdi melihat seorang pemuda yang tersenyum ke arahnya. Pemuda itu berdiri di shaf terakhir. Ia sedang melihat jadwal
sholat yang ditempel di dinding masjid. Spontan saja Hamdi membalas senyum
ramah itu. Sedetik kemudian mereka bersalaman. Hamdi berkata, “Kalau tidak
salah…Akhi Nurman?”
“Betul Mas,” sahut Nurman tersenyum
gembira. Hamdi melanjutkan, “Selama ini kita sudah sering ketemu, tapi baru
bisa kenalan sekarang.”
“Iya Mas. Memang baru sekarang
kesempatan saya untuk ketemu Mas Hamdi.”
“Antum tinggal di mana?”
“Di Wisma Al-Kahfi. Atas perintah Mas
Ardi Wahyudi, ketuanya YIS (Yayasan Islam Syafi‘i ), Insya Allah, saya mau tinggal di sini.”
“Mau tinggal di sini?” sahut Hamdi
tersentak gembira. “Mau menemani Asyraf?”
Nurman tersenyum seraya mengangguk
mantap. Hamdi menyentuh bahunya, “Subhanallah.
Ini luar biasa.” Diam sebentar. Ditatapnya Asyraf yang berdiri di dekat
mimbar, lalu bicara lagi, “Akhirnya kamu dapat teman Raf.”
“Saya suruh Mas,” sahut Asyraf
tersenyum. Hamdi kembali menatap Nurman, “Kapan antum mau tinggal di sini?”
“Insya
Allah besok malam.”
“Bagus sekali. Makasih banyak ya?”
“Sama-sama Mas.”
Seusai sholat Dhuhur, Asyraf mengantar
Nurman menghadap Sujar dan Retno. Asyraf langsung menjelaskan maksudnya
mengantar Nurman. Sujar yang tersenyum gembira, berkata, “Siapapun orangnya,
asal bisa membantu kamu, aku dan Ibu pasti mengijinkan.“
“Terima kasih banyak Pak!” jawab Nurman
semangat. Besok malamnya, Nurman sudah resmi jadi takmir masjid Al-Furqan.
Alangkah gembiranya Hamdi sekeluarga melihat Asyraf mendapat teman untuk
mengurus rumah Allah. Suatu pekerjaan yang cukup berat. Suatu pekerjaan yang
bisa dilakukan dengan ringan oleh mereka yang mukhlisin, yang hatinya benar-benar sudah ikhlas, yang hatinya
benar-benar hanya ingin mendapat ridhoNya.
Sebab yang bisa memakmurkan masjid-masjid
Allah hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan
sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada apapun selain Allah.
Mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.*
Kebahagiaan Hamdi semakin bertambah.
Setelah nyaris mendapatkan cinta Isma, kini Hamdi mendapat tambahan tenaga
untuk mengurus Al-Furqan. Hamdi yang selama ini tidak tega melihat Asyraf
mengurus Al-Furqan sendirian, sekarang bisa merasa lega. Hamdi sangat
berharap, mudah-mudahan Nurman bisa menjadi teman yang cocok untuk Asyraf. Jika
melihat potongannya, Hamdi yakin kalau Nurman itu sudah termasuk pemuda Muslim
yang tangguh. Asyraf sendiri sudah meyakinkan Hamdi akan semangat Nurman untuk
menjadi takmir masjid.
Catatan kaki : * Al-Quran surat At-Taubah,
surat ke 9 ayat ke 18
Nurman, seorang asli Jombang, Jatim, berwajah lumayan tampan.
Kulit sawo matang, postur tinggi sedang, sekitar 168-170 cm, sedikit lebih
pendek dari Hamdi. Badan juga sedang, tidak gemuk tidak kurus. Dada tidak lebar
namun tegap. Perut tidak buncit, rata dengan dada. Kedua lengannya cukup
berotot. Hidung agak mancung, jenggot tipis rapi. Kebanyakan orang yang sudah
mengenal Nurman, akan sering mengatakan,
baju kebesarannya Nurman itu kaos kerah.
Memang benar. Kalau pergi ke
mana-mana, Nurman memang sering memakai kaos berkerah. Hamdi pun sering melihat
Nurman berpakaian seperti itu. Bagi Nurman, kaos kerah itu bisa dipakai kapan
pun dan di mana pun. Kaos kerah itu bisa dipakai saat santai maupun formal.
Resmi bisa, santai bisa. Begitulah semboyan Nurman tentang pakaian faforitnya
itu. Walaupun begitu, kalau sedang menghadiri acara yang sangat penting dan
sangat formal, yang mengharuskan pesertanya memakai baju atau kemeja, entah
kemeja lengan panjang atau pendek, Nurman jelas akan memakai kemeja.
Setelah
seminggu lebih tinggal di rumah Sujar, Nurman Susanto, begitulah nama
lengkapnya, berhasil membuktikan kalau dirinya bisa menjadi takmir masjid yang
baik. Asyraf sendiri merasa sangat terbantu dengan kehadiran pemuda bertubuh
atletis itu. Asyraf yang sebulan lagi mau pamit, sangat berharap agar Nurman
bisa menggantikan dirinya dengan sebaik-baiknya. Asyraf mau pamit karena ada
pekerjaan di tempat lain. Sebenarnya Asyraf masih ingin jadi takmir Al-Furqan,
namun karena pekerjaan itu menyangkut kewajibannya terhadap ortunya, mau tidak
mau Asyraf harus meninggalkan rumah Hamdi untuk selamanya. Bagi orang-orang
sholeh, kewajiban terhadap keluarga itu
tetap yang nomor satu, selama kewajiban itu tidak melanggar syariat Islam. (Bersambung)Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment