Siang itu Kandar sholat Jum’at di
masjid Al-Furqan. Setelah sholat selesai, Kandar tidak langsung pulang. Ia
duduk di dekat tembok shaf ketiga.
Dilihatnya seorang lelaki muda yang baru selesai berdoa. Lelaki itu duduk
bersila di shaf pertama. Ia
mengenakan baju koko hijau tua dan sarung coklat. Ketika lelaki itu hendak melangkah keluar,
ia melihat Kandar
yang berdiri di shaf ketiga. Lelaki blesteran Arab-Jawa ini tersenyum ke arahnya
sambil mengangguk. Spontan saja pria bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian mereka
saling mendekat. Kandar menjulurkan tangannya sambil menyapa, “Assalamu’alaikum Ustadz Hamdi.”
“Wa’alaikumussalaam,” sahut Hamdi sambil menjabat tangan Kandar dengan kedua tangannya. “Selama ini saya sudah sering melihat Bapak, tapi baru tahu kalau Bapak ini Pak Kandar.”
“Wa’alaikumussalaam,” sahut Hamdi sambil menjabat tangan Kandar dengan kedua tangannya. “Selama ini saya sudah sering melihat Bapak, tapi baru tahu kalau Bapak ini Pak Kandar.”
Kandar tersenyum gembira. “Selama ini
saya juga baru melihat anda sekilas. Jadi ini Ustadz Hamdi, imam utama masjid
ini?”
Hamdi tersipu. “Bapak terlalu
berlebihan. Masjid ini tidak punya imam tetap. Imamnya gonta-ganti. Saya juga
bukan ustadz, jadi Bapak jangan panggil saya ‘ustadz’. Teman-teman takmir yang
pantas dikatakan ustadz. Kalau saya..ustadz gadungan.”
Senyum gembira Kandar semakin lebar.
“Justru yang seperti inilah yang layak dikatakan ustadz sejati. Orang suci itu
tidak pernah merasa dirinya suci. Itu karena dia rendah hati. Nah, sama dengan
Mas Hamdi ini (menyentuh bahu kiri Hamdi).”
Hamdi semakin tersipu. Katanya, “Oh
iya, saya hampir lupa (kedua tangannya menyentuh kedua bahu Kandar). Saya ikut berduka cita atas
kepergian putri tunggal Bapak. Maaf banget, waktu itu saya lagi pergi, jadi
tidak bisa ikut takziyah.”
Iskandar tersenyum. Hamdi melanjutkan,
“Saya hanya bisa berdoa, semoga arwah Dik Tari bisa mendapat tempat yang damai
di sisi Allah SWT.”
“Amin. Makasih banyak Mas Hamdi.”
Dua lelaki ini melanjutkan
perbincangan mereka sambil berjalan keluar masjid. Hamdi berkata, “Saya kira
rumah Bapak jauh dari sini.”
“Oh tidak, cuma situ kok. Yah..dari
sini kira-kira seratus meter lebih
sedikit.”
Setelah keduanya sampai di pagar masjid,
Kandar dan Hamdi kembali bersalaman. Kandar berkata, “Kalau ada waktu,
kapan-kapan Mas Hamdi main ke rumah saya.”
“Insya
Allah Pak, akan saya sediakan waktu.”
Setelah Kandar pulang, Hamdi bergumam
sambil tersenyum. “Jadi dia penjual lampu-lampu antik itu? Orang Cilacap blesteran Arab. Jadi
dia tetangga baru kita yang katanya pedagang sukses, agak sombong, sulit diajak
bergaul, tidak pernah menyapa tetangga sendiri, dan lain sebagainya.”
Beberapa waktu kemudian, tepatnya di malam
hari, masjid Al-Furqan menyelenggarakan pengajian. Jama’ah yang hadir tidak
begitu banyak, dan kebanyakan kaum hawa yang sudah berusia di atas empat puluh.
Hanya satu-dua yang masih muda, yang usianya mungkin antara 27-32 tahun. Saat
itulah Hamdi melihat seorang ibu muda yang cantik. Seorang wanita yang
kelihatannya keturunan Arab. Ia memakai kaca mata dan kerudung putih minim. Kerudung
yang hanya menutup rambut dan leher, tidak sampai terjulur ke dada. Yah, siapa
lagi dia kalau bukan Ny. Iskandar. Pengajian ini tidak memakai hijab (penghalang, penutup) antara
lelaki dan perempuan, sehingga jama’ah wanitanya bisa terlihat jelas oleh
Hamdi.
Dari semua ibu-ibu yang hadir,
Isma-lah yang paling muda dan paling cantik, jadi wajar kalau dirinya terlihat
cukup ‘menyolok’ di antara jama’ah perempuan. Sambil terus mencuri pandang
dengan hati-hati, Hamdi bergumam, “Siapa dia? Aku kok baru lihat sekarang?
Orang barukah?”
Demikian pula sebaliknya. Beberapa hari
kemudian, ketika Isma ikut sholat Shubuh berjama’ah di masjid Al-Furqan, ia
bisa melihat sang imam dengan jelas. Setelah sholat dan berdoa, para jama’ah
lelaki pada meninggalkan masjid. Tinggal Hamdi yang masih duduk bersila di
tempat imam. Ia masih berdzikir dengan khusyuk. Beberapa detik kemudian, Hamdi
selesai berdoa. Ia tinggalkan tempat imam dengan langkah pelan. Saat itulah
Isma mencuri pandang. Isma yang duduk di shaf
paling belakang, menutup mukanya dengan mukena. Kedua mata indahnya terus
menatap Hamdi yang melangkah keluar masjid.
Isma melihat seorang pemuda dewasa
yang mengenakan baju batik dan sarung kotak-kotak biru putih. Usianya kira-kira
30-31 tahun. Postur tergolong
tinggi menurut ukuran Asia. Tingginya
kira-kira 175 cm. Kulit kuning kecoklatan. Beratnya kurang lebih sama dengan
tingginya. Dada tegap dan cukup lebar. Hidung agak mancung. Kumis nyaris tidak
ada. Jenggot tipis agak tebal menghiasi dagunya. Jambang di kedua pipinya cukup
tebal.
Isma terus melirik imamnya masjid
Al-Furqan ini
sambil tersenyum manis. Gumamnya, “Jadi dia yang selama ini sudah sering
kudengar? Jadi dia imam utama masjid indah
ini? Jadi dia putra sulung Pak Hasan Sujardi? Maha Suci Allah. Wibawanya tidak
kalah sama bapaknya.”
Hamdi yang masih agak ngantuk,
berjalan dengan kedua mata setengah terpejam. Ia tidak sadar, ada sepasang mata
Indah yang meliriknya dengan teliti. Beberapa waktu kemudian, tepatnya di sore
yang cerah, perum.
Bumi Indah mengadakan rapat keamanan kampung. Hamdi hadir di acara itu. Ia
hanya mewakili ibunya yang tidak bisa datang karena sedang tidak enak badan.
Kebetulan Isma juga datang. Ia duduk sekitar 4 meter di hadapan Hamdi. Sore ini
Hamdi bisa melihat Isma dengan jelas, lebih jelas dibanding saat pengajian
kemarin.
Hamdi melihat seorang wanita cantik
berkaca mata. Wanita yang wajahnya perpaduan Arab-Jawa. Rambutnya yang ngombak dan tebal dibiarkan terurai.
Panjangnya sedikit di bawah bahu. Hidung mancung, kulit kuning langsat. Sore
ini Isma mengenakan baju lengan pendek putih. Seorang muslimah anyaran seperti Isma, baru kadang-kadang
saja mengenakan jilbab. Ia hanya berkerudung kalau sedang mengikuti pengajian. Sejak
awal acara ini, Isma selalu menatap Hamdi dengan senyumnya nan memukau. Hamdi
bergumam,
“Jadi dia ibu muda yang baru
kehilangan anaknya? Yang katanya muallaf.
Jadi dia yang katanya jago membuat
segala macam makanan? Terutama kue bolu.”
Isma pun bergumam, “Sungguh
menyenangkan orang ini. Polos tapi berwibawa. Kesholehannya bisa dilihat dari
cahaya di wajahnya, juga dari ketenangan sikapnya. Subhanallah. Cocok jadi imam masjid.”
Hamdi yang sholeh ini langsung menjaga
pandangannya. Wanita cantik di hadapanya itu bukan mahram-nya, jadi dia tidak boleh menatapnya terlalu lama. Ia langsung
menunduk atau menatap arah lain. Setelah rapat selesai, Hamdi diberi jajan oleh
Pak Parto, Pak RW-nya Bumi Indah. Jajan itu ditaruh di cawan plastik. Jajan itu
terdiri dari tiga jenis makanan. Pisang goreng, lemper dan kue bolu pandan.
Setelah melahap pisang dan lemper, Hamdi ganti menyantap kue bolu hijau itu.
Setelah habis, Hamdi mendekati Pak-Bu RW, lalu bertanya. Siapa yang membuat kue
bolu yang baru saja dimakannya itu? Apakah kue bolu itu sekarang masih ada?
“Sudah
habis Mas,” sahut Bu RW tersenyum. “Enak ya?”
“Enak sekali,” sahut Hamdi tersenyum.
Bu RW berkata, “Jadi Mas belum pernah mencicipi kue lezat yang sudah terkenal
di komplek kita ini?”
“Belum Bu. Baru sekarang ini saya
mencicipi kue bolu selezat ini.”
“Mas Hamdi ketinggalan jaman..” ujar Parto. Istrinya berkata,
“Itu buatan Bu Kandar, ibu muda yang baru kehilangan anak tunggalnya.”
“Oo Bu Kandar,“ sahut Hamdi
mengangguk-angguk. Setibanya di rumah, Hamdi langsung melaporkan semuanya
kepada ibunya. Sang ibu tersenyum. “Sudah dua kali aku makan roti buatan Isma.
Hihh..jadi kamu baru merasakan sekarang?”
“Iya Mah. Ahh..aku jadi ingin terus makan
roti itu.”
Bu Sujar tersenyum. “Ya sudah,
besok-besok biar kupesankan Bu Kandar.”
Sore yang cerah memayungi bumi. Hamdi
mendatangi rumah Isma dengan bersepeda. Ia diutus ibunya mengambil kue bolu
pesanan sang ibu. Ia membunyikan bel di dekat pintu rumah Kandar. Sekitar 10 detik kemudian pintu rumah
terbuka, dan muncullah Isma. Begitu melihat siapa yang datang, Isma tersenyum
gembira, namun Hamdi gugup bukan main. Sore ini Hamdi bisa melihat Isma lagi,
bahkan kali ini ia bisa melihat tetangga barunya itu dengan sejelas-jelasnya. Apalagi
sore ini Isma tampil cukup seksi. Ia hanya memakai kaos kuning ketat tanpa lengan, dan celana ketat
yang tingginya sedikit di atas lutut. Untuk lelaki sholeh seperti Hamdi,
penampilan seperti itu jelas sudah norak. Rasa takut dan gembira bercampur aduk
di hatinya. Dengan wajah merah hitam karena tegang, Hamdi langsung mengutarakan
maksudnya.
“Tunggu sebentar ya Mas?” sahut Isma
sambil tersenyum manis sekali. Hamdi yang gugup ini mengangguk. Sementara Isma
masuk ke dalam, Hamdi sibuk menenangkan hati dan pikirannya yang goncang. Ia
pejamkan matanya seraya menggelengkan kepala. Ia bergumam, “Masya Allah. Jadi
dia Nyonya Iskandar yang jago membuat makanan lezat?! Aahh…astaghfirullaah. Tidak. Tidak! jaga pandangan. Jaga pandangan!”
Sesaat kemudian Isma keluar lagi sambil
menyerahkan tas kresek hitam. Hamdi yang mukanya merah hitam, langsung menerima
tas kresek itu sambil berterima kasih. Lelaki berdada tegap ini berusaha untuk
tidak menatap Isma lagi. Isma kembali tersenyum manis. Tanpa menatap Isma lagi,
Hamdi langsung memohon diri. Ia genjot sepedanya sekuat tenaga. Isma yang masih
berdiri di dekat pagar rumahnya, menatap kepergian Hamdi. Sedetik kemudian ia
bergumam, “Aku bisa melihat dia lagi.
Melihat lebih jelas. Ahh (tersenyum manis)...”
Sementara itu, Hamdi yang sudah tiba
di rumah, langsung meneguk air di gelas besar, kemudian membasuh mukanya dengan
air di wastafel. Hening beberapa detik. Dengan muka basah kuyub, Hamdi
bergumam, “Sore ini aku bisa melihat dia lagi.
Kali
ini di posisi yang paling jelas. …..Saat kulihat di pengajian dan rapat RW kemarin, kelihatannya dia…dia tidak begitu
cantik. …Tapi setelah kulihat dari dekat… Subhanallah.
Ternyata dia cantik sekali. Aahh (menggelengkan
kepala, lalu membasahi mukanya lagi).”
Sekitar lima menit Hamdi berdiri di depan wastafel
yang ada kacanya. Selama itu pula Hamdi terus melamunkan Isma. Hati pria alim
ini benar-benar sedang terlena. Sambil terus memejamkan mata, menundukkan dan
menggelengkan kepala, pria bertubuh tegap ini bergumam, “Tidak!....Ini tidak
boleh terjadi!....Tidak boleh! Aku tidak boleh memikirkan dia terus! Dia bukan siapa-siapaku! Jadi aku tidak boleh
berlebihan mengkhayalkan dia. Tidak boleh! Ooh…semua ini salahku sendiri. Aku
sudah berdosa.”….Harusnya tadi aku tidak memandangnya terlalu lama. Ooh..ya
Allah, ampunilah hambaMu yang bodoh dan lemah ini. Ampunilah aku yang sudah
mengumbar pandangan berlebihan. Ampunilah aku yang sudah memandang perempuan
yang bukan mahram-ku* dengan berlebihan.”
Hamdi terus menenangkan perasaannya
dengan dzikir. Beberapa detik
kemudian Hamdi sudah merasa tenang lagi. Berkat ibadahnya yang selama ini cukup
rajin dan kuat, akhirnya Allah berkenan memberinya cahaya ketenangan. Beberapa
saat kemudian Hamdi menyantap kue bolu buatan Isma. Hamdi menganggap kue itu
sudah tidak begitu enak. Itu karena hatinya sudah tertambat pada sesuatu yang
jauh lebih besar. Ketika menyantap kue lezat itu, hati dan pikiran Hamdi lebih
tertambat pada pembuatnya. Namun untunglah, lelaki sholeh berdada bidang ini
langsung sadar lagi. Ia pejamkan matanya, lalu bergumam,
“Semua ini dari iblis terkutuk! Huhh!
Kendalikan dirimu Hamdi…kendalikan dirimu. Maha Suci Allah, Maha Besar Allah,
usirlah Isma dari hati dan pikiranku.”
Catatan Kaki:
*Yang betul mahram, bukan muhrim, sebab muhrim artinya orang yang berihram
(rukun Haji).
*****
Satu bulan kemudian, tepatnya di akhir
tahun 2006, Hamdi mendapat cobaan yang cukup berat. Lelaki berwajah lumayan
ganteng ini terserang demam berdarah akut.
Sejak pagi, Hamdi merasa pusing dan meriang. Sujar, Retno, ibunda Hamdi, serta
kedua adiknya, laki-laki yang nomor dua, perempuan yang nomor empat alias yang
bungsu, mengira Hamdi hanya terserang flu biasa atau kelelahan. Hamdi sudah
istirahat, sudah tidur cukup lama, dengan maksud agar pusing dan meriangnya
segera hilang. Hamdi juga sudah makan jeruk empat buah, sudah menelan Decolgen
dan CDR sesuai petunjuk pemakaiannya, namun panas-dingin yang ia rasakan tetap
tidak berkurang.
Bahkan setelah diberi obat turun panas
oleh dokter Dewi, suhu panas di badannya tetap tidak turun. Bahkan beberapa jam
kemudian badan Hamdi malah semakin panas. Tentu saja hal ini membuat
ayah-ibunya semakin gelisah. Dina, adik bungsu Hamdi yang manis, yang wajahnya
tidak mirip sedikit pun dengan ayah atau ibunya, berkata, “Jangan-jangan Mas
Hamdi terkena flu burung.”
“Ah, kamu ini..” sahut Sujar yang
duduk menghadap meja makan. “Jangan berlebihan. Insya Allah, flu burung tidak akan sampai sini.”
“Tapi ini aneh banget,” ujar Retno
yang duduk di samping suaminya. “Obat anti panas dari dokter Dewi tadi tidak
ada artinya. Padahal kata kebanyakan dokter, obat itu biasanya manjur.”
“Anti biotik juga tidak membantu,”
sambung Sujar sambil menelan pisang. Suami-istri yang sudah berusia lanjut ini
menatap putra sulung mereka yang tergeletak lemas di ranjang yang berada di
depan TV. Dina mendekati kakaknya yang tiduran dengan selimut, lalu duduk di
sampingnya. Gadis manis berusia sekitar 19-20 tahun ini menyentuh dahi dan lengan
kanan sang kakak sulung. Ia berkata lirih, “Ya Allah…panas banget. Kelihatannya
malah tambah panas.”…Pusing banget ya Mas?”
Hamdi mengangguk lemas. “Tadi…aku sempat
ingin muntah. Uuhh…”
“Kenapa ya?” Tanya Sujar semakin
cemas. Dina menyahut, “Kemungkinan besar..dia kena DB.”
“Firasatku juga mengatakan begitu,”
sambung Ardan, adik kedua Hamdi yang baru masuk ke ruangan tersebut. Retno yang
semakin cemas, berkata, “Ya sudah kalau begitu, nanti malam kita bawa ke PKU.”
“Tidak usah,” sahut Hamdi dengan suara
lemah. Retno yang sudah emosi, menyahut, “Tidak usah gimana sih?! Kamu ini sakit
parah lho! Nanti serumah bisa ketularan!”
“Iya Mas,” sahut Dina lembut. “Kamu kan imamnya Al-Furqan.
Kalau kamu sakit lama, nanti jama’ahmu gimana?”
“Tapi aku tidak ingin merepotkan
kalian. Hahh (menahan pusing yang teramat sangat) Nanti kita harus keluar biaya yang tidak
sedikit…padahal keuangan kita lagi down.”
Sujar tersenyum kecut, “Kenapa kamu harus ikut
memikirkan biaya?! Huhh! Kamu ini…”
Retno menyambung, “Soal duit, biar
bapak-ibumu ini yang ngurus. Yang penting kamu cepat sembuh.”
“Lagipula…” sambung Ardan…”kamu belum tentu
kena DB. Makanya, sekarang kamu harus mau diperiksa, biar semuanya pasti.“
“Tapi…”
“Sudahlah Mas,” potong Dina yang
terlihat paling sabar. “Papa-Mama benar. Sekarang Mas harus mau dibawa ke PKU.
Toh Mas juga tidak mau menderita seperti ini kan?”
Akhirnya Hamdi pasrah. Senin akhir
tahun 2006 ini benar-benar menjadi hari yang cukup pahit dalam hidup Hamdi.
Malam harinya, Hamdi dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Jl. KH Ahmad Dahlan. Setelah
diperiksa, Hamdi dinyatakan positif terkena DB akut. Mau tidak mau, suka tidak suka, Hamdi harus mondok di RS sampai sembuh. Selama
dirawat di PKU, Retno yang paling sering menjaga Hamdi. Hamdi dirawat oleh dr. Muhammad
Iqbal, dokter spesialis bedah yang sudah bertahun-tahun menangani DB. Sambil menyentuh tangan
Hamdi yang diletakkan di dada, lelaki tua yang badannya masih gagah ini tersenyum
empuk.
“Sabar ya Mas Hamdi.”
“Insya
Allah Pak..doakan saja.”
“Saya pasti mendoakan. Ehm..Hamdi atau
Hamid?”
“Terserah. Pokoknya yang mudah bagi Dokter
Iqbal.”
Dokter Iqbal tersenyum. Setelah itu ia
tinggalkan Hamdi yang masih berbaring lemas. Setelah dr. Iqbal lenyap, Hamdi
bergumam, “Alangkah baiknya Bapak itu. Sudah dokter, ustadz, kaya. Subhanallah. Semoga Allah berkenan
memuliakannya. Amin.”
Hari-hari berikutnya Hamdi benar-benar
harus sabar. Kehidupannya seperti orang
cacat. Pagi, siang, sore dan malam, hanya makan-tidur yang bisa ia lakukan.
Kalau mau ke kamar mandi, ia harus berjalan
dengan tertatih-tatih. Ia lakukan semua itu dengan super hati-hati. Sholat lima waktu pun ia lakukan
dengan berbaring. Malam itu, di mana udaranya terasa nikmat, Hamdi merasakan badannya sudah lebih baik. Di
antara sadar dan tidak, lelaki berdada bidang yang masih lajang ini bergumam,
“Benar-benar menyakitkan. Benar-benar
diluar dugaanku. …Tapi biarlah semua ini kujalani saja. …Aku wajib berbaik
sangka pada Gusti Allah SWT. Yah…mudah-mudahan, sakitku yang parah ini sedikit
banyak bisa menghapus dosa dan maksiatku selama ini. Dosa dan maksiatku yang
menggunung. Amin.”
Pagi itu, sekitar pukul sembilan,
Hamdi kedatangan ibu-ibu yang mayoritas jama’ah pengajian masjid Al-Furqan. Ada sepuluh ibu-ibu yang
menjenguk Hamdi. Kebanyakan dari mereka sudah berusia kepala empat, bahkan
kepala lima.
Hanya satu-dua yang masih muda. Yang satu putih dan agak gemuk. Usianya
maksimal 35 tahun. Yang satu lagi berkaca mata dan berambut ngombak. Badan
ramping, hidung mancung, bibir indah.
Usianya 28-29 tahun, maksimal 30 tahun. Yah, siapa lagi dia kalau bukan
Ismayani Puspita.
Ia berjalan paling belakang. Saat
semuanya sudah masuk ke kamar Hamdi, Isma masih berdiri di depan pintu kamar. Ia melihat nama pasien di tembok dekat pintu
tersebut. Di kertas itu ada tulisan; Sdr. Hamdi Rusmanto. Usia 31 tahun. Isma
tersenyum manis seraya mengangguk-angguk. Ia bergumam, “Jadi nama lengkapnya
Hamdi Rusmanto. Hmm…nama yang bagus...seperti orangnya. Hih hi.”
“Bu Sujar ini gimana sih?!” kata
seorang ibu kepada Retno. “Kok tidak memberi tahu kami?”
“Iya nih,” kata ibu yang lain. “Kami
baru tahu tadi malam, dikasih tahu Bu Mardi.”
Retno tersenyum malu. “Kami tidak mau
kalian ikut repot, ikut susah.”
“Susah
apa ah!” sahut seorang ibu bertubuh gemuk. “Tidak ada kata susah bagi kita yang
sudah seperti saudara. Justru kita akan semakin susah kalau tidak bisa membantu
Bu Sujar.”
Seorang ibu berusia 42 tahun, berwajah
manis dan berkulit sawo matang, bertutur, “Sudah seminggu lebih Mas Hamdi tidak
sholat di masjid, tidak ngimami. Kami sebagai jamaahnya, jelas cemas sekali.
Hihh..kukira Mas Hamdi keluar kota.”
“Memang Bu..”sahut Hamdi yang masih
berbaring setengah duduk. “Kota
PKU.”
Semua tertawa gembira. Kamar Hamdi yang
tadi sepi, kini seperti pasar. Seorang nenek berkata, “Kalau imamnya sakit,
jama’ahnya bisa lebih sakit.”
Bu Yono atau Bu Darti, berkata, “Kalau
Mas Hamdi tidak segera sembuh, nanti Al-Furqan tidak ada imamnya.”
Hamdi tersipu. “Banyak yang bisa jadi
imam. Ada Ustadz Abu Muslih dan Akh Ikhwan Muslim, juga Akh Haris.”
“Tapi tidak sebaik Mas Hamdi,” sahut
Bu Prastowo, seorang ibu bertubuh tinggi besar. Hamdi menimpali, “Imam sholat
itu yang penting kesholehannya, bukan baik-buruk bacaannya. Kesholehan tiga
orang itu jauh di atas saya yang amburadul ini.”
“Ah, Mas Hamdi ini. Dari dulu sukanya
merendah.”
“Terlalu merendah itu tidak baik lho
Mas,” sambung Bu Darti.
Retno
sangat berterima kasih pada semua ibu yang sudah membawa aneka macam oleh-oleh
untuk Hamdi. Alangkah gembiranya Hamdi mendapat perhatian yang begitu besar
dari sebagian besar tetangganya, terutama ibu-ibu jama’ah Al-Furqan. Apalagi
saat Isma menatapnya dengan tersenyum manis. Jantung Hamdi mulai bergetar
ketika Isma mendekatinya, kemudian menaruh bungkusan hitam di meja dekat
ranjangnya. Dengan tersenyum manis, wanita yang baru 4 tahun jadi muslimah ini
berkata lembut, “Ini jajanan buatan saya, juga sedikit oleh-oleh dari suami
saya. Semoga Mas Hamdi cepat sembuh.”
“Amin. Makasih Mbak.”
Dengan tetap tersenyum manis ke arah
Hamdi yang berbaring, Isma melangkah mundur dengan slow. Senyum memukau itu benar-benar bagaikan hujan deras yang
menyiram tanah yang sudah lama gersang. Kehadiran perempuan ayu itu benar-benar
menghibur hati Hamdi. Walaupun badan sakit, kalau hatinya benar-benar terhibur,
akan berpengaruh besar bagi kondisi badannya. Kehadiran Isma benar-benar
membuat Hamdi seperti mendapat kekuatan besar. Kekuatan besar untuk cepat
sembuh.
Siangnya, ganti bapak-bapak jama’ah
Al-Furqan yang menjenguk Hamdi. Iskandar pun hadir, walaupun dia bukan jama’ah
pengajian. Walaupun tidak pernah mendatangi pengajian atau arisan kampung, Kandar
sudah merasa cukup dekat dengan Hamdi. Hamdi pun gembira sekali dijenguk Kandar. Besok paginya,
di waktu yang sama, Hamdi kembali mendapat tamu. Mereka tiga lelaki muda.
Usianya 23-27 tahun. Yang satu kurus tinggi, rambut agak keriting. Dia terlihat
yang paling tua dari semuanya. Namanya Haris, arek Ponorogo lulusan Biologi
MIPA UGM. Yang satu lagi kurus, kecil, tapi tidak kecil sekali. Rambut dan
jambang keriting. Jenggot tipis tidak teratur. Dialah yang dipanggil Ustadz Abu
Muslih, ustadz muda yang juga kuliah di Biologi MIPA. Dia angkatan 2000, adik
kelasnya Haris satu angkatan. Hingga penghujung tahun 2006 ini ia belum lulus.
Itu karena ia sibuk berdakwah. Dakwah manhaj*
Salaf.
* Catatan Kaki: Jalan/Prinsip Beragama
Sedangkan yang satunya lagi berpostur
sedang. Tidak tinggi tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus. Kulit agak hitam,
wajah manis, muka bulat agak lonjong. Dialah Muhammad Nur Ikhwan Muslim,
mahasiswa Teknik Mesin UGM angkatan 2002. Kini tiga orang ini duduk di samping ibunya Hamdi.
Mereka melihat Hamdi masih tidur pulas. Beberapa menit kemudian Hamdi sadar.
Kehadiran tiga pemuda itu membuatnya tersentak gembira. Sang ibu mengatakan,
ini sudah hari kelima. Kalau tidak ada halangan, satu-dua hari lagi Hamdi boleh pulang. Hamdi
sendiri merasakan tubuhnya semakin sehat, walaupun sakitnya masih lebih banyak.
“DB itu biasanya memang seminggu,“
tutur Haris. Abu Muslih berkata, “Para jama’ah
Al-Furqan sudah pada menanyakan anda lho Mas.”
Ikhwan tersenyum, “Motornya ada di
garasi, tapi orangnya kok tidak ada? Saya kira antum (kamu, anda) keluar kota.”
Hamdi tersenyum, “Kota PKU.”
Semuanya tersenyum gembira. Hamdi bertanya,
“Gimana persiapan
sholat Id-nya? Yang khotbah jadi Ustadz Aris?”
“Insya
Allah,” sahut Abu Muslih. Retno tersenyum, “Merekalah yang sudah membersihkan
lapangan.”
Hamdi tersenyum gembira. “Makasih
banyak sekali. Jazakallaahu khairan
katsiira.*
*Catatan Kaki: semoga Allah membalas
amal kalian dengan kebaikan yang melimpah.”
Amin..” Sahut semuanya. Idul Adha tahun ini nyaris
bersamaan waktunya dengan tahun baru 2007. Hanya selang sehari. Malam itu,
dimana tahun 2006 akan segera berakhir, Hamdi masih berbaring di ranjang.
Keadaan kamarnya sudah agak gelap. Kamarnya hanya diterangi satu lampu yang
berada di dekat pintu keluar-masuk kamar tersebut. Sambil menatap langit-langit
kamar, pria bertubuh tegap ini bergumam, “Sayang sekali…Idul Adha tahun ini aku
tidak bisa sholat di lapangan Bumi Indah. …Aku tidak bisa sholat di kampung
halamanku sendiri..sebagaimana yang sudah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya.”
“Ahh…aku juga tidak bisa membantu para
ikhwan Salaf mengurus kegiatan sembelih menyembelih sapi dan kambing. ….Tapi
sudahlah, tidak usah
mengeluh berlebihan. Sekali lagi, aku wajib khusnuzhan
(baik sangka) pada Allah. Aku juga harus yakin…DB yang kualami ini pasti
ada hikmahnya. Pasti!”
Setelah keluar dari RS PKU, Hamdi
istirahat di rumah selama seminggu. Setelah
sembuh total, Hamdi kembali melanjutkan pekerjaannya yang tidak tetap
alias serabutan. Siang itu Hamdi bermain di rumah Bu Mardiyono atau Bu Mardi, seorang
wanita cantik berusia hampir 60 tahun. Bu Mardi atau Bu Endah itu sudah
dianggap ibu kedua oleh Hamdi. Bu Endah dan Retno sudah seperti saudara. Setiap
ada masalah apapun, terutama masalah keluarga, Hamdi langsung datang ke rumah
Endah untuk curhat. Hamdi sekeluarga benar-benar beruntung, bisa memiliki teman
sebaik Endah. Wanita asli Kediri
itu tingkat kesabarannya sudah tinggi sekali. Tidak heran jika kebanyakan orang
selalu mengatakan, Bu Mardi atau Tante Endah itu tidak bisa marah. Beliau
selalu murah senyum. Menghadapi masalah seberat apapun, wanita yang satu itu selalu tenang. Tidak
heran kalau ia selalu dijadikan teman curhat oleh Hamdi dan Retno, terutama
Retno yang tergolong galak. Bahkan ia juga dijadikan teman curhat oleh banyak orang, terutama
tetangga-tetangganya.
Kini Hamdi dan Endah sedang berbincang
di taman belakang rumah Endah. Mereka sedamg asyik membahas Ikhwan, takmir
Al-Furqan yang hendak pamit karena mau menikah tiga bulan lagi. Hamdi cukup
menyayangkan hal itu. Setelah Ikhwan keluar dari Bumi Indah nanti, masjid
Al-Furqan akan kesulitan mencari takmir yang kualitasnya seperti Ikhwan Muslim.
Hamdi mengatakan, Ikhwan itu sosok pemuda Muslim yang sangat tangguh. Ibadahnya
benar-benar rajin dan kuat. Walaupun masih ada Abu Muslih, kepergian Ikhwan
nanti pasti akan berpengaruh. Setelah Ikhwan pergi nanti, Abu Muslih pasti akan
mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai takmir masjid Al-Furqan.
“Tapi mau gimana lagi?” ujar Hamdi
tersenyum. “Kalau memang sudah saatnya nikah. Kalau jodohnya memang sudah
datang…yah..”
Endah tersenyum, “Kamu
sendiri..segeralah cari istri, biar tidak kesepian terus. Ingat anakku, umurmu
sudah kepala tiga.”
Hamdi tersenyum. “Biar kedua adikku
dulu.. terutama Dina yang dengar-dengar sudah ada yang mau melamar.”
“Dina itu umurnya berapa?”
“Dua satu, tanggal 20 November
kemarin. Sama aku selisih 10 tahun kurang 3 bulan.”
“Tidak apa-apa dilangkahi kedua
adikmu?”
Hamdi tersenyum. “Ibu tahu sendiri kan? Sekarang aku masih
seperti ini, masih amburadul. Status tidak jelas, pekerjaan ngalor-ngidul.”
Endah tersenyum. “Sejak dulu hobimu menjelekkan
diri. Hahh. …Terus besok siapa yang mengganti Ikhwan?”
“Itulah yang kita belum tahu. Abu
Muslih sendiri masih agak bingung. …Tapi Insya
Allah, besok pasti ada, walau mungkin tidak sebaik Ikhwan.”
“Kamu masih punya waktu dua bulan
untuk bersama dia, serumah sama dia, makan bersama dia, sholat berjama’ah sama dia, pengajian sama
dia, dll.”
“Betul sekali Bu.”
*****
Dua bulan kemudian, tanggal 6 Maret
2007, Hamdi ulang tahun yang ke-31. Seusai pengajian khusus putra di masjid Al-Furqan,
Bu Sujar meminta sebagian jama’ah untuk tidak pulang dulu, terutama para pemuda
yang sering membantu mengurus pengajian Al-Furqan. Ustadz Arifin Rodin, ustadz
yang memberi ceramah, juga dijamu oleh Hamdi sekeluarga. Siang itu rumah Hasan
Sujardi cukup penuh dengan tamu. Sebenarnya Hamdi tidak ingin ultahnya
dirayakan dengan pesta, apalagi pesta besar-besaran. Tapi mau bagaimana lagi?
Sang bunda sudah telanjur memesan makanan yang jumlahnya tidak sedikit.
Mendengar Hamdi terus mengeluh, Retno langsung marah-marah. Maksudnya ingin
membahagiakan Hamdi, tapi putra sulungnya yang dua bulan lalu terkena DB ini
malah mengeluh, tidak berterima kasih.
Hamdi yang sudah latihan sabar, hanya
diam saja ketika Retno memarahinya. Bara emosi Retno semakin meledak. Namun untunglah,
Endah yang baru datang, langsung menenangkan suasana. Endah menghibur Hamdi.
Katanya, “Pesta ultahmu ini masih tergolong
sederhana. Percayalah. Papa-Mamamu sudah tahu kesukaanmu.”
Nasehat Endah itu merasuk ke hati
Hamdi. Hamdi pun akhirnya pasrah menerima segala kenikmatan di hadapannya itu.
Setelah suasana terasa damai, makan siang dimulai. Hamdi dan semuanya, termasuk
dua teman takmirnya, Ustadz Abu Muslih dan Nur Ikhwan Muslim, duduk di lantai
yang dilapisi karpet. Ada
sekitar 10 lelaki yang menyantap makan siang di ruang keluarga rumah Hamdi,
yang rata-rata masih pemuda. Acara makan siang berlangsung dengan marak. Siang
ini rumah Hasan Sujardi dinaungi kabut kebahagiaan. Setelah selesai makan,
Ustad Rodin, pria agak gemuk berjenggot tebal, bertanya, “Sebenarnya semua ini
dalam rangka apa?”
Hamdi tersenyum. Retno langsung
menjelaskan semuanya. Setelah pada tahu, semuanya semakin gembira. Ustad Arifin
Rodin yang bergelar Lc, gelar yang diraihnya setelah lulus dari Islamic University of Madinah, mendekati
Hamdi yang duduk di samping Abu Muslih dan Ikhwan, lalu menjulurkan tangan
kanannya seraya berkata, “Selamat ya Mas. Semoga sukses selalu.”
“Amin (menjabat tangan Rodin
dengan kedua tangannya)! Makasih banyak Ustadz. Do’akan saja, semoga saya yang
amburadul ini bisa segera jadi orang sholeh.”
“Sekarang sudah sholeh kok,” sahut
Roni, tetangga Hamdi yang masih duduk di bangku SMA. Ikhwan yang duduk samping
kanan Hamdi, menyambung, “Ustadz, Mas Hamdi minta didoakan, semoga cepat dapat
jodoh.”
Mendengar itu, semua hadirin tertawa
gembira. Rodin menatap Hamdi sambil mengangguk-angguk. “Baiklah, Insya Allah akan saya doakan.”
Hamdi yang kikuk ini langsung menyikut
lengan kiri Ikhwan, lalu berkata, “Ustadz tidak usah menggubris omongannya.”
Abu Muslih tersenyum, “Itu doa yang baik lho
Mas..”
“Betul sekali,” sambung Ikhwan. “Doa
untuk kebaikan itu tidak boleh ditolak. Betul tidak semuanya?!”
“BETUL SERATUS PERSEN!” sahut semuanya
serentak. Setelah pada menyantap nasi, mereka ganti menyantap cemilan, kemudian
ngobrol sendiri-sendiri. Hamdi yang masih duduk di antara Ikhwan dan Abu
Muslih, berkata pada Ikhwan. “Antum tidak bisa di sini lebih lama lagi?...Yah..mungkin
ditambah satu bulan lagi.”
Pertanyaan itu hanya membuat Ikhwan
menundukkan kepala sambil tersenyum malu. Abu Muslih berkata, “Dia sudah tidak
tahan Mas.”
Hamdi tersenyum. “Terus siapa yang
nanti mengganti antum menemani Ustadz Muslih?”
Ikhwan tersenyum. “Besok pasti ada, Insya Allah.”
“Ya memang ada..tapi yang sekualitas
antum..wah. Susah banget.”
Hening sejenak. Ikhwan tersenyum.
“Antum (menepuk bahu kanan
Hamdi) juga harus segera cari. Ehm…apa mau kucarikan?”
Hamdi tersenyum. “Biar Darwan dulu.”
“Kok Mas Darwan dulu? Hahh. Antum
ini..”
“Tidak
apa-apa. Keadaannya sudah jauh lebih mapan dari aku.”
Darwan itu adik Hamdi yang ketiga,
yang sekarang dinas di Padang.
Dialah yang dulu meminta Abu Muslih dan Ikhwan Muslim untuk menjadi takmir
Al-Furqan.
Setelah makan
siang selesai, Sujar memberi uang dua ratus ribu rupiah kepada Hamdi, sebagai
hadiah ultahnya. Betapa gembiranya Hamdi. Ia cium tangan kanan ayah-ibunya. Ia
benar-benar bersyukur kepada Allah SWT, bersyukur atas segala kenikmatan yang
ia rasakan siang ini. Ia bergumam, “Andaikan aku punya pacar, teman baik
wanita, atau bahkan calon istri, tentu dia sudah kutraktir. …Untuk saat ini,
aku hanya punya istri impian. Heh he.”
*****
Beberapa hari kemudian, seusai sholat
Shubuh berjama’ah di masjid Al-Furqan, Hamdi bertemu Isma lagi. Ketika Isma
hendak pulang, Hamdi mencegahnya. Hamdi hanya ingin berterima kasih atas kue
tart untuk ultahnya kemarin. Kue tart coklat buatan Isma. Hamdi berkata, “Saya
baru tahu kalau itu buatan Bu Kandar. Tadi malam saya diberi tahu Bu Mardi.
Wah..rasanya pas banget. Tidak
terlalu manis.”
“Makasih” sahut Isma tersipu. “Tapi
saya jarang membuat yang seperti itu.”
“Kenapa?”
“Ya karena jarang yang pesan. Hanya di
waktu-waktu tertentu saja..seperti ultah Mas kemarin. Tapi Alhamdulillah, walaupun jarang membuat kue tart, begitu ada yang
pesan, saya langsung bisa membuat.”
“Itu karena Bu Kandar sudah
pengalaman,” sahut Hamdi semakin semangat. ”Selain kue bolu, saya juga menunggu
donat dan kue tartnya. Pokoknya makasih banyak untuk semuanya.”
“Sama-sama Mas (tersenyum semakin
manis).“
Setelah Isma pulang, Hamdi masih
berdiri di situ. Ia bergumam, “Mukena itu membuatnya semakin cantik. Maha Suci
Allah.”
Sama halnya dengan Isma. Ia tidak
langsung pulang. Ia masih berdiri di gapura masjid. Sesaat kemudian, ketika
Hamdi meninggalkan masjid, Isma membalikkan tubuhnya dengan perlahan.
Dilihatnya Hamdi yang berjalan pulang ke rumah. Sambil terus menatap Hamdi,
wanita jelita ini tersenyum, lalu bergumam, “Sungguh menyenangkan orang itu.
Rendah hati, santun, sedikit humoris. Hihh..kukira sudah berkeluarga. Ternyata
masih bujang.”
Dua minggu kemudian, tepatnya di awal
bulan April, Ikhwan memohon diri pada Sujar dan Retno. Ia mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga, juga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas
kesalahan yang mungkin pernah ia lakukan selama ia tinggal di rumah Hasan Sujardi.
Pemuda berwajah manis itu hanya berharap, mudah-mudahan masjid Al-Furqan bisa segera mendapat
takmir pengganti yang jauh lebih baik dari dirinya. Mendengar pernyataan itu, Sujar
tersenyum renyah, “Justru sebaliknya, kami akan segera mendapat takmir yang
jauh lebih buruk dari Ikhwan.”
Dua minggu kemudian, Ikhwan Muslim
melangsungkan pernikahannya di rumahnya yang ada di Gedongkuning. Abu Umair Nur
Ikhwan Muslim menikah dengan Ummu Umair Nurul Qanita, wanita cantik dan
sholehah yang usianya 2 tahun di atas Ikhwan. Walimahan atau pesta pernikahannya dilangsungkan dengan amat sangat
sederhana. Walimahan ala Salafush Shalih. Walimahan ala Rasulullah SAW yang sudah banyak
ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Acaranya hanya
pengajian, setelah itu makan bersama dengan kerdusan. Tamu pria dan wanita
dipisah. Tidak ada nyanyian, nasyid, dangdutan atau kethoprakan.
Setelah acara selesai, para tamu pada
bersalaman dan berpelukan dengan mempelai pria dan wanita. Tamu lelaki dengan
mempelai lelaki, tamu perempuan dengan mempelai perempuan. Kini Ikhwan
berpelukan erat dengan Hamdi, setelah sebelumnya berpelukan dengan Ustadz Aris
Munandar, staf pengajar Ponpes Taruna Al-Quran. Ikhwan bertutur, “Segera nyusul
lho Mas.”
Hamdi tersenyum, “Insya Allah, setelah ketemu jodohnya..juga setelah keadaanku
seperti antum.”
Setelah Ikhwan keluar dari rumah Sujar
untuk selamanya, Abu Muslih mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya
sebagai takmir masjid Al-Furqan. Memang benar apa yang dikatakan Hamdi kepada
Endah kemarin. Kehilangan pengurus masjid sebaik Ikhwan memang seperti
kehilangan separoh kekuatan. Apalagi Muslih sangat sibuk. Ia jarang sekali di
rumah karena harus mengajar ngaji di sana-sini.
Kadang ia hanya pulang sebentar untuk mengumandangkan adzan, dimana saat itu
masjid Al-Furqan belum ada yang mengumandangkan adzan. Setelah sholat jama’ah
yang dipimpin Hamdi selesai, ustadz muda berambut kriting itu langsung ngelayap lagi. Dengan demikian, perannya
sebagai pengurus Al-Furqan menjadi berkurang banyak. Belum lagi kuliah
biologinya yang sudah nyaris tujuh tahun. Pihak kampus sudah beberapa kali
menegurnya, bahkan pintu DO juga sudah terbuka lebar untuknya.
Retno pun sering mengatakan, silahkan
kalau Abu Muslih
mau jadi ustadz, tapi kuliahnya jangan sampai terbengkelai. Silahkan jadi ustadz,
tapi kuliahnya juga harus selesai. Dengan demikian, kedua ortunya di Kulon
Progo bisa bangga melihat putranya memiliki dua gelar. Gelar formal dan non formal. Gelar
formalnya menjadi sarjana, dan non formalnya menjadi ustadz. Sebab kenyataannya
cukup banyak ikhwan Salaf yang kuliahnya tidak selesai karena sudah jadi ustadz.
Ada seorang
ustadz muda yang sekarang kuliah di Riyadh.
Saat itu kuliahnya hampir selesai. Ia tinggal menyelesaikan skripsi, setelah
itu ia akan jadi sarjana Teknik UGM. Teman-teman dekatnya selalu mengatakan,
jika mau menuntut ilmu agama di Timur Tengah, akan lebih sempurna lagi kalau
kuliahnya sudah finish. Setelah merenung
masak-masak, ustadz muda ini akhirnya mantap untuk menggarap skripsinya.
Dengan semangat; “Laa haula walaa quwwata illaa billaah,” Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah
SWT, ustadz muda asli Aceh ini berangkat ke kampusnya. Namun begitu kakinya
menginjak kampus, semangatnya redup 95 persen. Dilihatnya suasana kampus yang
terasa tidak kondusif. Dengan sangat berat hati, ustadz muda pemilik suara
indah ini menyatakan tidak sanggup menamatkan studinya yang tinggal sebentar.
Setelah menyendiri di salah satu pondok pesantren Salaf, akhirnya ia mantap untuk
berangkat ke Riyadh.
Lalu ada lagi contoh yang lain. Seorang ustadz yang kuliah di KG (Kedokteran
Gigi) UGM. Kuliahnya tinggal sebentar, namun akhirnya mereka tinggalkan kampus
masing-masing demi sesuatu yang bagi mereka jauh lebih berharga. Apalagi kalau
bukan menimba ilmu agama.
Demikianlah contoh orang-orang yang
sukses menjadi ustadz, namun gagal menyelesaikan studinya yang sebenarnya
tinggal satu-dua langkah. Dan masih cukup banyak lagi contoh yang lain. Nah,
dengan melihat pengalaman-pengalaman di atas, ibunda Hamdi tidak ingin Abu
Muslih seperti mereka. Ibunda Hamdi sangat menyayangkan kalau Abu Muslih tidak
menamatkan kuliahnya yang tinggal sedikit. Beberapa hari kemudian, sekitar
sebulan setelah Ikhwan menikah, Abu Muslih yang semakin sibuk itu juga mohon pamit pada Pak-Bu Sujar dan
Hamdi. Alasannya karena kegiatan dakwahnya semakin padat, juga karena ia ingin
menyelesaikan studi biologinya yang terbengkelai. Hamdi dan ayah-ibunya tidak
keberatan, sebab alasannya sangat bisa dimaklumi.
Meskipun begitu, di satu sisi Hamdi
sekeluarga sangat menyayangkan keputusan Abu Muslih yang sudah bulat itu. Ya tentu saja,
sebab Abu Muslih
sudah memberi peran yang amat besar untuk masjid Al-Furqan. Berkat Abu Muslih
dan Ikhwan Muslim, masjid Al-Furqan menjadi makmur. Kegiatan agamanya
benar-benar hidup. Berkat mereka pula, pengajian-pengajian Salaf di masjid
Al-Furqan menjadi marak. Namun sekarang, ustadz asli Kulon Progo itu hendak
menyusul Ikhwan. Kemungkinan besar, sepuluh hari lagi ia sudah melepas tugasnya
sebagai takmir masjid Al-Furqan, jantungnya perumahan Bumi Indah.
Sungguh, keputusan Muslih yang sudah
pasti itu sangat berat bagi Sujar dan istrinya. Namun untunglah, mahasiswa
biologi MIPA itu benar-benar pemuda yang bertakwa kepada Allah SWT. Ia sangat
tahu diri, sangat mengerti dengan apa yang harus ia lakukan untuk masjid
Al-Furqan. Beberapa hari sebelum pergi, Abu Muslih yang nama aslinya Ardi
Wahyudi itu sudah menemukan pengganti dirinya. Seorang mahasiswa Peternakan UGM
angkatan 2003. Dia takmir masjid Al-Ashri Bumi Rejo, kampung yang berada di
sebelah utara Bumi Indah. Namanya Muhammad Asyraf Pranowo. Ia seorang pemuda
berpostur agak kecil dan berkulit kuning terang. Wajahnya berjerawat agak
banyak. Sebelum resmi menjadi takmir Al-Furqan, Asyraf sudah cukup sering
mengikuti pengajian di masjidnya Bumi Indah itu. Ia juga sudah tahu Hamdi
Rusmanto. Hamdi pun sudah pernah melihatnya, baik di Al-Furqan maupun di Al-Ashri.
Tinggal sehari lagi, Asyraf sudah
resmi jadi pengurus baru masjid Al-Furqan. Retno sempat bertanya, apakah Asyraf
akan sendirian mengurus masjid? Untuk hal itu, Ardi dan teman-temannya masih
berusaha mencarikan teman untuk Asyraf. Menurut Ardi, kualitas Asyraf sebagai
pengurus masjid sudah bisa dikatakan jempolan. Ardi berani mengatakan, kinerja
Asyraf sudah bisa diandalkan untuk jangka waktu yang cukup lama. Malam itu,
seusai sholat berjama’ah di Al-Furqan, Asyraf mendekati Hamdi yang baru selesai
sholat sunnah ba’diyah (sesudah)
Isya.’ Sambil tersenyum malu, Asyraf mengatakan kalau ia akan tinggal di rumah
Hamdi malam ini. Hamdi tersenyum gembira.
“Baik, sekarang menghadap bapak-ibuku
dulu.”
Asyraf mengangguk mantap. Hamdi melanjutkan,
“Barang-barangmu sudah dibawa?”
“Baru mau saya angkut.”
“Apa perlu kubantu.”
“Tidak usah, makasih, nanti ada teman yang
membantu.”
“Ehmm..(mengangguk) ya sudah kalau begitu. Sekarang
ke rumahku dulu.”
Besok paginya, Asyraf sudah resmi
menjadi takmir Al-Furqan. Sejak pagi hingga sore, Asyraf bekerja dengan tekun.
Selain membersihkan masjid, Asyraf juga rajin membersihkan halaman dan serambi
rumah Hamdi. Pemuda yang satu ini memang enak dilihat. Walaupun tidak tampan,
ia sumeh ( murah senyum) dan mudah
dimintai tolong. Ia selalu kelihatan bersahaja. Wajar kalau kebanyakan orang menganggap ia tidak
pernah atau tidak bisa marah.
Setelah tiga minggu tinggal di rumah
Hamdi, Asyraf benar-benar sudah bisa membuktikan etos kerjanya sebagai pengurus
masjid yang baik. Pak-Bu Sujar pun mengacungkan jempol untuk pemuda asli Banyuwangi ini. Apa yang dikatakan Ardi tentang
Asyraf kemarin sudah terbukti. Walaupun kualitasnya masih di bawah Ardi dan
Ikhwan, setidaknya Asyraf sudah bisa menyenangkan kedua ortu Hamdi, terutama
sang ibu yang pemarah. (Bersambung)
****
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment