Monday, 1 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Dua)

              Siang itu Kandar sholat Jum’at di masjid Al-Furqan. Setelah sholat selesai, Kandar tidak langsung pulang. Ia duduk di dekat tembok shaf ketiga. Dilihatnya seorang lelaki muda yang baru selesai berdoa. Lelaki itu duduk bersila di shaf pertama. Ia mengenakan baju koko hijau tua dan sarung coklat. Ketika lelaki itu hendak melangkah keluar, ia melihat Kandar yang berdiri di shaf ketiga. Lelaki blesteran Arab-Jawa ini tersenyum ke arahnya sambil mengangguk. Spontan saja pria bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian mereka saling mendekat. Kandar menjulurkan tangannya sambil menyapa, “Assalamu’alaikum Ustadz Hamdi.”
      
   Wa’alaikumussalaam,” sahut Hamdi sambil menjabat tangan Kandar dengan kedua tangannya. “Selama ini saya sudah sering melihat Bapak, tapi baru tahu kalau Bapak ini Pak Kandar.”
         Kandar tersenyum gembira. “Selama ini saya juga baru melihat anda sekilas. Jadi ini Ustadz Hamdi, imam utama masjid ini?”
         Hamdi tersipu. “Bapak terlalu berlebihan. Masjid ini tidak punya imam tetap. Imamnya gonta-ganti. Saya juga bukan ustadz, jadi Bapak jangan panggil saya ‘ustadz’. Teman-teman takmir yang pantas dikatakan ustadz. Kalau saya..ustadz gadungan.”
         Senyum gembira Kandar semakin lebar. “Justru yang seperti inilah yang layak dikatakan ustadz sejati. Orang suci itu tidak pernah merasa dirinya suci. Itu karena dia rendah hati. Nah, sama dengan Mas Hamdi ini (menyentuh bahu kiri Hamdi).”
         Hamdi semakin tersipu. Katanya, “Oh iya, saya hampir lupa (kedua tangannya menyentuh kedua bahu Kandar). Saya ikut berduka cita atas kepergian putri tunggal Bapak. Maaf banget, waktu itu saya lagi pergi, jadi tidak bisa ikut takziyah.
         Iskandar tersenyum. Hamdi melanjutkan, “Saya hanya bisa berdoa, semoga arwah Dik Tari bisa mendapat tempat yang damai di sisi Allah SWT.”
         “Amin. Makasih banyak Mas Hamdi.”
         Dua lelaki ini melanjutkan perbincangan mereka sambil berjalan keluar masjid. Hamdi berkata, “Saya kira rumah Bapak jauh dari sini.”
         “Oh tidak, cuma situ kok. Yah..dari sini kira-kira seratus meter lebih sedikit.”
         Setelah keduanya sampai di pagar masjid, Kandar dan Hamdi kembali bersalaman. Kandar berkata, “Kalau ada waktu, kapan-kapan Mas Hamdi main ke rumah saya.”
         Insya Allah Pak, akan saya sediakan waktu.”
         Setelah Kandar pulang, Hamdi bergumam sambil tersenyum. “Jadi dia penjual lampu-lampu antik itu? Orang Cilacap blesteran Arab. Jadi dia tetangga baru kita yang katanya pedagang sukses, agak sombong, sulit diajak bergaul, tidak pernah menyapa tetangga sendiri, dan lain sebagainya.”
         Beberapa waktu kemudian, tepatnya di malam hari, masjid Al-Furqan menyelenggarakan pengajian. Jama’ah yang hadir tidak begitu banyak, dan kebanyakan kaum hawa yang sudah berusia di atas empat puluh. Hanya satu-dua yang masih muda, yang usianya mungkin antara 27-32 tahun. Saat itulah Hamdi melihat seorang ibu muda yang cantik. Seorang wanita yang kelihatannya keturunan Arab. Ia memakai kaca mata dan kerudung putih minim. Kerudung yang hanya menutup rambut dan leher, tidak sampai terjulur ke dada. Yah, siapa lagi dia kalau bukan Ny. Iskandar. Pengajian ini tidak memakai hijab (penghalang, penutup) antara lelaki dan perempuan, sehingga jama’ah wanitanya bisa terlihat jelas oleh Hamdi.
         Dari semua ibu-ibu yang hadir, Isma-lah yang paling muda dan paling cantik, jadi wajar kalau dirinya terlihat cukup ‘menyolok’ di antara jama’ah perempuan. Sambil terus mencuri pandang dengan hati-hati, Hamdi bergumam, “Siapa dia? Aku kok baru lihat sekarang? Orang barukah?”   
         Demikian pula sebaliknya. Beberapa hari kemudian, ketika Isma ikut sholat Shubuh berjama’ah di masjid Al-Furqan, ia bisa melihat sang imam dengan jelas. Setelah sholat dan berdoa, para jama’ah lelaki pada meninggalkan masjid. Tinggal Hamdi yang masih duduk bersila di tempat imam. Ia masih berdzikir dengan khusyuk. Beberapa detik kemudian, Hamdi selesai berdoa. Ia tinggalkan tempat imam dengan langkah pelan. Saat itulah Isma mencuri pandang. Isma yang duduk di shaf paling belakang, menutup mukanya dengan mukena. Kedua mata indahnya terus menatap Hamdi yang melangkah keluar masjid.
         Isma melihat seorang pemuda dewasa yang mengenakan baju batik dan sarung kotak-kotak biru putih. Usianya kira-kira 30-31 tahun. Postur tergolong tinggi menurut ukuran Asia. Tingginya kira-kira 175 cm. Kulit kuning kecoklatan. Beratnya kurang lebih sama dengan tingginya. Dada tegap dan cukup lebar. Hidung agak mancung. Kumis nyaris tidak ada. Jenggot tipis agak tebal menghiasi dagunya. Jambang di kedua pipinya cukup tebal.
         Isma terus melirik imamnya masjid Al-Furqan ini sambil tersenyum manis. Gumamnya, “Jadi dia yang selama ini sudah sering kudengar? Jadi dia imam utama masjid indah ini? Jadi dia putra sulung Pak Hasan Sujardi? Maha Suci Allah. Wibawanya tidak kalah sama bapaknya.”
         Hamdi yang masih agak ngantuk, berjalan dengan kedua mata setengah terpejam. Ia tidak sadar, ada sepasang mata Indah yang meliriknya dengan teliti. Beberapa waktu kemudian, tepatnya di sore yang cerah, perum. Bumi Indah mengadakan rapat keamanan kampung. Hamdi hadir di acara itu. Ia hanya mewakili ibunya yang tidak bisa datang karena sedang tidak enak badan. Kebetulan Isma juga datang. Ia duduk sekitar 4 meter di hadapan Hamdi. Sore ini Hamdi bisa melihat Isma dengan jelas, lebih jelas dibanding saat pengajian kemarin.               
         Hamdi melihat seorang wanita cantik berkaca mata. Wanita yang wajahnya perpaduan Arab-Jawa. Rambutnya yang ngombak dan tebal dibiarkan terurai. Panjangnya sedikit di bawah bahu. Hidung mancung, kulit kuning langsat. Sore ini Isma mengenakan baju lengan pendek putih. Seorang muslimah anyaran seperti Isma, baru kadang-kadang saja mengenakan jilbab. Ia hanya berkerudung kalau sedang mengikuti pengajian. Sejak awal acara ini, Isma selalu menatap Hamdi dengan senyumnya nan memukau. Hamdi bergumam, 
         “Jadi dia ibu muda yang baru kehilangan anaknya? Yang katanya muallaf.  Jadi dia yang katanya jago membuat segala macam makanan? Terutama kue bolu.”
         Isma pun bergumam, “Sungguh menyenangkan orang ini. Polos tapi berwibawa. Kesholehannya bisa dilihat dari cahaya di wajahnya, juga dari ketenangan sikapnya. Subhanallah. Cocok jadi imam masjid.”
         Hamdi yang sholeh ini langsung menjaga pandangannya. Wanita cantik di hadapanya itu bukan mahram-nya, jadi dia tidak boleh menatapnya terlalu lama. Ia langsung menunduk atau menatap arah lain. Setelah rapat selesai, Hamdi diberi jajan oleh Pak Parto, Pak RW-nya Bumi Indah. Jajan itu ditaruh di cawan plastik. Jajan itu terdiri dari tiga jenis makanan. Pisang goreng, lemper dan kue bolu pandan. Setelah melahap pisang dan lemper, Hamdi ganti menyantap kue bolu hijau itu. Setelah habis, Hamdi mendekati Pak-Bu RW, lalu bertanya. Siapa yang membuat kue bolu yang baru saja dimakannya itu? Apakah kue bolu itu sekarang masih ada?
         “Sudah habis Mas,” sahut Bu RW tersenyum. “Enak ya?”
         “Enak sekali,” sahut Hamdi tersenyum. Bu RW berkata, “Jadi Mas belum pernah mencicipi kue lezat yang sudah terkenal di komplek kita ini?”
         “Belum Bu. Baru sekarang ini saya mencicipi kue bolu selezat ini.”
         “Mas Hamdi ketinggalan jaman..” ujar Parto. Istrinya berkata, “Itu buatan Bu Kandar, ibu muda yang baru kehilangan anak tunggalnya.”
         “Oo Bu Kandar,“ sahut Hamdi mengangguk-angguk. Setibanya di rumah, Hamdi langsung melaporkan semuanya kepada ibunya. Sang ibu tersenyum. “Sudah dua kali aku makan roti buatan Isma. Hihh..jadi kamu baru merasakan sekarang?”
         “Iya Mah. Ahh..aku jadi ingin terus makan roti itu.”
         Bu Sujar tersenyum. “Ya sudah, besok-besok biar kupesankan Bu Kandar.”
         Sore yang cerah memayungi bumi. Hamdi mendatangi rumah Isma dengan bersepeda. Ia diutus ibunya mengambil kue bolu pesanan sang ibu. Ia membunyikan bel di dekat pintu rumah Kandar. Sekitar 10 detik kemudian pintu rumah terbuka, dan muncullah Isma. Begitu melihat siapa yang datang, Isma tersenyum gembira, namun Hamdi gugup bukan main. Sore ini Hamdi bisa melihat Isma lagi, bahkan kali ini ia bisa melihat tetangga barunya itu dengan sejelas-jelasnya. Apalagi sore ini Isma tampil cukup seksi. Ia hanya memakai kaos  kuning ketat tanpa lengan, dan celana ketat yang tingginya sedikit di atas lutut. Untuk lelaki sholeh seperti Hamdi, penampilan seperti itu jelas sudah norak. Rasa takut dan gembira bercampur aduk di hatinya. Dengan wajah merah hitam karena tegang, Hamdi langsung mengutarakan maksudnya.
         “Tunggu sebentar ya Mas?” sahut Isma sambil tersenyum manis sekali. Hamdi yang gugup ini mengangguk. Sementara Isma masuk ke dalam, Hamdi sibuk menenangkan hati dan pikirannya yang goncang. Ia pejamkan matanya seraya menggelengkan kepala. Ia bergumam, “Masya Allah. Jadi dia Nyonya Iskandar yang jago membuat makanan lezat?! Aahh…astaghfirullaah. Tidak. Tidak! jaga pandangan. Jaga pandangan!”
         Sesaat kemudian Isma keluar lagi sambil menyerahkan tas kresek hitam. Hamdi yang mukanya merah hitam, langsung menerima tas kresek itu sambil berterima kasih. Lelaki berdada tegap ini berusaha untuk tidak menatap Isma lagi. Isma kembali tersenyum manis. Tanpa menatap Isma lagi, Hamdi langsung memohon diri. Ia genjot sepedanya sekuat tenaga. Isma yang masih berdiri di dekat pagar rumahnya, menatap kepergian Hamdi. Sedetik kemudian ia bergumam, “Aku bisa melihat dia lagi.  Melihat lebih jelas. Ahh (tersenyum manis)...
         Sementara itu, Hamdi yang sudah tiba di rumah, langsung meneguk air di gelas besar, kemudian membasuh mukanya dengan air di wastafel. Hening beberapa detik. Dengan muka basah kuyub, Hamdi bergumam, “Sore ini aku bisa melihat dia lagi.  Kali ini di posisi yang paling jelas. …..Saat kulihat di pengajian dan rapat  RW kemarin, kelihatannya dia…dia tidak begitu cantik. …Tapi setelah kulihat dari dekat… Subhanallah.  Ternyata dia cantik sekali. Aahh (menggelengkan kepala, lalu membasahi mukanya lagi).”
         Sekitar lima menit Hamdi berdiri di depan wastafel yang ada kacanya. Selama itu pula Hamdi terus melamunkan Isma. Hati pria alim ini benar-benar sedang terlena. Sambil terus memejamkan mata, menundukkan dan menggelengkan kepala, pria bertubuh tegap ini bergumam, “Tidak!....Ini tidak boleh terjadi!....Tidak boleh! Aku tidak boleh memikirkan dia terus!  Dia bukan siapa-siapaku! Jadi aku tidak boleh berlebihan mengkhayalkan dia. Tidak boleh! Ooh…semua ini salahku sendiri. Aku sudah berdosa.”….Harusnya tadi aku tidak memandangnya terlalu lama. Ooh..ya Allah, ampunilah hambaMu yang bodoh dan lemah ini. Ampunilah aku yang sudah mengumbar pandangan berlebihan. Ampunilah aku yang sudah memandang perempuan yang bukan mahram-ku* dengan berlebihan.”    
         Hamdi terus menenangkan perasaannya dengan dzikir. Beberapa detik kemudian Hamdi sudah merasa tenang lagi. Berkat ibadahnya yang selama ini cukup rajin dan kuat, akhirnya Allah berkenan memberinya cahaya ketenangan. Beberapa saat kemudian Hamdi menyantap kue bolu buatan Isma. Hamdi menganggap kue itu sudah tidak begitu enak. Itu karena hatinya sudah tertambat pada sesuatu yang jauh lebih besar. Ketika menyantap kue lezat itu, hati dan pikiran Hamdi lebih tertambat pada pembuatnya. Namun untunglah, lelaki sholeh berdada bidang ini langsung sadar lagi. Ia pejamkan matanya, lalu bergumam,
         “Semua ini dari iblis terkutuk! Huhh! Kendalikan dirimu Hamdi…kendalikan dirimu. Maha Suci Allah, Maha Besar Allah, usirlah Isma dari hati dan pikiranku.”

Catatan Kaki: *Yang betul mahram, bukan muhrim, sebab muhrim artinya orang yang berihram (rukun Haji).

                                                              *****

         Satu bulan kemudian, tepatnya di akhir tahun 2006, Hamdi mendapat cobaan yang cukup berat. Lelaki berwajah lumayan ganteng ini terserang demam berdarah akut. Sejak pagi, Hamdi merasa pusing dan meriang. Sujar, Retno, ibunda Hamdi, serta kedua adiknya, laki-laki yang nomor dua, perempuan yang nomor empat alias yang bungsu, mengira Hamdi hanya terserang flu biasa atau kelelahan. Hamdi sudah istirahat, sudah tidur cukup lama, dengan maksud agar pusing dan meriangnya segera hilang. Hamdi juga sudah makan jeruk empat buah, sudah menelan Decolgen dan CDR sesuai petunjuk pemakaiannya, namun panas-dingin yang ia rasakan tetap tidak berkurang.
         Bahkan setelah diberi obat turun panas oleh dokter Dewi, suhu panas di badannya tetap tidak turun. Bahkan beberapa jam kemudian badan Hamdi malah semakin panas. Tentu saja hal ini membuat ayah-ibunya semakin gelisah. Dina, adik bungsu Hamdi yang manis, yang wajahnya tidak mirip sedikit pun dengan ayah atau ibunya, berkata, “Jangan-jangan Mas Hamdi terkena flu burung.”
         “Ah, kamu ini..” sahut Sujar yang duduk menghadap meja makan. “Jangan berlebihan. Insya Allah, flu burung tidak akan sampai sini.”   
         “Tapi ini aneh banget,” ujar Retno yang duduk di samping suaminya. “Obat anti panas dari dokter Dewi tadi tidak ada artinya. Padahal kata kebanyakan dokter, obat itu biasanya manjur.”
         “Anti biotik juga tidak membantu,” sambung Sujar sambil menelan pisang. Suami-istri yang sudah berusia lanjut ini menatap putra sulung mereka yang tergeletak lemas di ranjang yang berada di depan TV. Dina mendekati kakaknya yang tiduran dengan selimut, lalu duduk di sampingnya. Gadis manis berusia sekitar 19-20 tahun ini menyentuh dahi dan lengan kanan sang kakak sulung. Ia berkata lirih, “Ya Allah…panas banget. Kelihatannya malah tambah panas.”…Pusing banget ya Mas?”
         Hamdi mengangguk lemas. “Tadi…aku sempat ingin muntah. Uuhh…”
         “Kenapa ya?” Tanya Sujar semakin cemas. Dina menyahut, “Kemungkinan besar..dia kena DB.”
         “Firasatku juga mengatakan begitu,” sambung Ardan, adik kedua Hamdi yang baru masuk ke ruangan tersebut. Retno yang semakin cemas, berkata, “Ya sudah kalau begitu, nanti malam kita bawa ke PKU.”
         “Tidak usah,” sahut Hamdi dengan suara lemah. Retno yang sudah emosi, menyahut, “Tidak usah gimana sih?! Kamu ini sakit parah lho! Nanti serumah bisa ketularan!”
         “Iya Mas,” sahut Dina lembut. “Kamu kan imamnya Al-Furqan. Kalau kamu sakit lama, nanti jama’ahmu gimana?”
         “Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian. Hahh (menahan pusing yang teramat sangat)  Nanti kita harus keluar biaya yang tidak sedikit…padahal keuangan kita lagi down.”
         Sujar tersenyum kecut, “Kenapa kamu harus ikut memikirkan biaya?! Huhh! Kamu ini…”
         Retno menyambung, “Soal duit, biar bapak-ibumu ini yang ngurus. Yang penting kamu cepat sembuh.”
         “Lagipula…” sambung Ardan…”kamu belum tentu kena DB. Makanya, sekarang kamu harus mau diperiksa, biar semuanya pasti.“
         “Tapi…”
         “Sudahlah Mas,” potong Dina yang terlihat paling sabar. “Papa-Mama benar. Sekarang Mas harus mau dibawa ke PKU. Toh Mas juga tidak mau menderita seperti ini kan?”
         Akhirnya Hamdi pasrah. Senin akhir tahun 2006 ini benar-benar menjadi hari yang cukup pahit dalam hidup Hamdi. Malam harinya, Hamdi dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Jl. KH Ahmad Dahlan. Setelah diperiksa, Hamdi dinyatakan positif terkena DB akut. Mau tidak mau, suka tidak suka, Hamdi harus mondok di RS sampai sembuh. Selama dirawat di PKU, Retno yang paling sering menjaga Hamdi. Hamdi dirawat oleh dr. Muhammad Iqbal, dokter spesialis bedah yang sudah bertahun-tahun menangani DB. Sambil menyentuh tangan Hamdi yang diletakkan di dada, lelaki tua yang badannya masih gagah ini tersenyum empuk.
         “Sabar ya Mas Hamdi.”
         Insya Allah Pak..doakan saja.”
         “Saya pasti mendoakan. Ehm..Hamdi atau Hamid?”
         “Terserah. Pokoknya yang mudah bagi Dokter Iqbal.”
         Dokter Iqbal tersenyum. Setelah itu ia tinggalkan Hamdi yang masih berbaring lemas. Setelah dr. Iqbal lenyap, Hamdi bergumam, “Alangkah baiknya Bapak itu. Sudah dokter, ustadz, kaya. Subhanallah. Semoga Allah berkenan memuliakannya. Amin.”
         Hari-hari berikutnya Hamdi benar-benar harus sabar. Kehidupannya seperti orang cacat. Pagi, siang, sore dan malam, hanya makan-tidur yang bisa ia lakukan. Kalau mau ke kamar mandi, ia harus berjalan dengan tertatih-tatih. Ia lakukan semua itu dengan super hati-hati. Sholat lima waktu pun ia lakukan dengan berbaring. Malam itu, di mana udaranya terasa nikmat,  Hamdi merasakan badannya sudah lebih baik. Di antara sadar dan tidak, lelaki berdada bidang yang masih lajang ini bergumam,
         “Benar-benar menyakitkan. Benar-benar diluar dugaanku. …Tapi biarlah semua ini kujalani saja. …Aku wajib berbaik sangka pada Gusti Allah SWT. Yah…mudah-mudahan, sakitku yang parah ini sedikit banyak bisa menghapus dosa dan maksiatku selama ini. Dosa dan maksiatku yang menggunung. Amin.”
         Pagi itu, sekitar pukul sembilan, Hamdi kedatangan ibu-ibu yang mayoritas jama’ah pengajian masjid Al-Furqan. Ada sepuluh ibu-ibu yang menjenguk Hamdi. Kebanyakan dari mereka sudah berusia kepala empat, bahkan kepala lima. Hanya satu-dua yang masih muda. Yang satu putih dan agak gemuk. Usianya maksimal 35 tahun. Yang satu lagi berkaca mata dan berambut ngombak. Badan ramping, hidung mancung, bibir indah. Usianya 28-29 tahun, maksimal 30 tahun. Yah, siapa lagi dia kalau bukan Ismayani Puspita.
         Ia berjalan paling belakang. Saat semuanya sudah masuk ke kamar Hamdi, Isma masih berdiri di depan pintu kamar. Ia melihat nama pasien di tembok dekat pintu tersebut. Di kertas itu ada tulisan; Sdr. Hamdi Rusmanto. Usia 31 tahun. Isma tersenyum manis seraya mengangguk-angguk. Ia bergumam, “Jadi nama lengkapnya Hamdi Rusmanto. Hmm…nama yang bagus...seperti orangnya. Hih hi.”
         “Bu Sujar ini gimana sih?!” kata seorang ibu kepada Retno. “Kok tidak memberi tahu kami?”
         “Iya nih,” kata ibu yang lain. “Kami baru tahu tadi malam, dikasih tahu Bu Mardi.”
         Retno tersenyum malu. “Kami tidak mau kalian ikut repot, ikut susah.”
         “Susah apa ah!” sahut seorang ibu bertubuh gemuk. “Tidak ada kata susah bagi kita yang sudah seperti saudara. Justru kita akan semakin susah kalau tidak bisa membantu Bu Sujar.”
         Seorang ibu berusia 42 tahun, berwajah manis dan berkulit sawo matang, bertutur, “Sudah seminggu lebih Mas Hamdi tidak sholat di masjid, tidak ngimami.  Kami sebagai jamaahnya, jelas cemas sekali. Hihh..kukira Mas Hamdi keluar kota.”
         “Memang Bu..”sahut Hamdi yang masih berbaring setengah duduk. “Kota PKU.”
         Semua tertawa gembira. Kamar Hamdi yang tadi sepi, kini seperti pasar. Seorang nenek berkata, “Kalau imamnya sakit, jama’ahnya bisa lebih sakit.”
         Bu Yono atau Bu Darti, berkata, “Kalau Mas Hamdi tidak segera sembuh, nanti Al-Furqan tidak ada imamnya.”
         Hamdi tersipu. “Banyak yang bisa jadi imam. Ada Ustadz Abu Muslih dan Akh Ikhwan Muslim, juga Akh Haris.”
         “Tapi tidak sebaik Mas Hamdi,” sahut Bu Prastowo, seorang ibu bertubuh tinggi besar. Hamdi menimpali, “Imam sholat itu yang penting kesholehannya, bukan baik-buruk bacaannya. Kesholehan tiga orang itu jauh di atas saya yang amburadul ini.”
         “Ah, Mas Hamdi ini. Dari dulu sukanya merendah.”
         “Terlalu merendah itu tidak baik lho Mas,” sambung Bu Darti.
          Retno sangat berterima kasih pada semua ibu yang sudah membawa aneka macam oleh-oleh untuk Hamdi. Alangkah gembiranya Hamdi mendapat perhatian yang begitu besar dari sebagian besar tetangganya, terutama ibu-ibu jama’ah Al-Furqan. Apalagi saat Isma menatapnya dengan tersenyum manis. Jantung Hamdi mulai bergetar ketika Isma mendekatinya, kemudian menaruh bungkusan hitam di meja dekat ranjangnya. Dengan tersenyum manis, wanita yang baru 4 tahun jadi muslimah ini berkata lembut, “Ini jajanan buatan saya, juga sedikit oleh-oleh dari suami saya. Semoga Mas Hamdi cepat sembuh.”
         “Amin. Makasih Mbak.”
         Dengan tetap tersenyum manis ke arah Hamdi yang berbaring, Isma melangkah mundur dengan slow. Senyum memukau itu benar-benar bagaikan hujan deras yang menyiram tanah yang sudah lama gersang. Kehadiran perempuan ayu itu benar-benar menghibur hati Hamdi. Walaupun badan sakit, kalau hatinya benar-benar terhibur, akan berpengaruh besar bagi kondisi badannya. Kehadiran Isma benar-benar membuat Hamdi seperti mendapat kekuatan besar. Kekuatan besar untuk cepat sembuh.
         Siangnya, ganti bapak-bapak jama’ah Al-Furqan yang menjenguk Hamdi. Iskandar pun hadir, walaupun dia bukan jama’ah pengajian. Walaupun tidak pernah mendatangi pengajian atau arisan kampung, Kandar sudah merasa cukup dekat dengan Hamdi. Hamdi pun gembira sekali dijenguk Kandar. Besok paginya, di waktu yang sama, Hamdi kembali mendapat tamu. Mereka tiga lelaki muda. Usianya 23-27 tahun. Yang satu kurus tinggi, rambut agak keriting. Dia terlihat yang paling tua dari semuanya. Namanya Haris, arek Ponorogo lulusan Biologi MIPA UGM. Yang satu lagi kurus, kecil, tapi tidak kecil sekali. Rambut dan jambang keriting. Jenggot tipis tidak teratur. Dialah yang dipanggil Ustadz Abu Muslih, ustadz muda yang juga kuliah di Biologi MIPA. Dia angkatan 2000, adik kelasnya Haris satu angkatan. Hingga penghujung tahun 2006 ini ia belum lulus. Itu karena ia sibuk berdakwah. Dakwah manhaj* Salaf.
    * Catatan Kaki: Jalan/Prinsip Beragama
          Sedangkan yang satunya lagi berpostur sedang. Tidak tinggi tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus. Kulit agak hitam, wajah manis, muka bulat agak lonjong. Dialah Muhammad Nur Ikhwan Muslim, mahasiswa Teknik Mesin UGM angkatan 2002.  Kini tiga orang ini duduk di samping ibunya Hamdi. Mereka melihat Hamdi masih tidur pulas. Beberapa menit kemudian Hamdi sadar. Kehadiran tiga pemuda itu membuatnya tersentak gembira. Sang ibu mengatakan, ini sudah hari kelima. Kalau tidak ada halangan, satu-dua hari lagi Hamdi boleh pulang. Hamdi sendiri merasakan tubuhnya semakin sehat, walaupun sakitnya masih lebih banyak.
         “DB itu biasanya memang seminggu,“ tutur Haris. Abu Muslih berkata, “Para jama’ah Al-Furqan sudah pada menanyakan anda lho Mas.”
         Ikhwan tersenyum, “Motornya ada di garasi, tapi orangnya kok tidak ada? Saya  kira antum (kamu, anda) keluar kota.”
         Hamdi tersenyum, “Kota PKU.”
         Semuanya tersenyum gembira. Hamdi bertanya, “Gimana persiapan sholat Id-nya? Yang khotbah jadi Ustadz Aris?”
         Insya Allah,” sahut Abu Muslih. Retno tersenyum, “Merekalah yang sudah membersihkan lapangan.”
         Hamdi tersenyum gembira. “Makasih banyak sekali. Jazakallaahu khairan katsiira.*
         *Catatan Kaki: semoga Allah membalas amal kalian dengan kebaikan yang melimpah.
         Amin..” Sahut semuanya. Idul Adha tahun ini nyaris bersamaan waktunya dengan tahun baru 2007. Hanya selang sehari. Malam itu, dimana tahun 2006 akan segera berakhir, Hamdi masih berbaring di ranjang. Keadaan kamarnya sudah agak gelap. Kamarnya hanya diterangi satu lampu yang berada di dekat pintu keluar-masuk kamar tersebut. Sambil menatap langit-langit kamar, pria bertubuh tegap ini bergumam, “Sayang sekali…Idul Adha tahun ini aku tidak bisa sholat di lapangan Bumi Indah. …Aku tidak bisa sholat di kampung halamanku sendiri..sebagaimana yang sudah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya.”
         “Ahh…aku juga tidak bisa membantu para ikhwan Salaf mengurus kegiatan sembelih menyembelih sapi dan kambing. ….Tapi sudahlah, tidak usah mengeluh berlebihan. Sekali lagi, aku wajib khusnuzhan (baik sangka) pada Allah. Aku juga harus yakin…DB yang kualami ini pasti ada hikmahnya. Pasti!”
         Setelah keluar dari RS PKU, Hamdi istirahat di rumah selama seminggu. Setelah  sembuh total, Hamdi kembali melanjutkan pekerjaannya yang tidak tetap alias serabutan. Siang itu Hamdi bermain di rumah Bu Mardiyono atau Bu Mardi, seorang wanita cantik berusia hampir 60 tahun. Bu Mardi atau Bu Endah itu sudah dianggap ibu kedua oleh Hamdi. Bu Endah dan Retno sudah seperti saudara. Setiap ada masalah apapun, terutama masalah keluarga, Hamdi langsung datang ke rumah Endah untuk curhat. Hamdi sekeluarga benar-benar beruntung, bisa memiliki teman sebaik Endah. Wanita asli Kediri itu tingkat kesabarannya sudah tinggi sekali. Tidak heran jika kebanyakan orang selalu mengatakan, Bu Mardi atau Tante Endah itu tidak bisa marah. Beliau selalu murah senyum. Menghadapi masalah seberat apapun, wanita yang satu itu selalu tenang. Tidak heran kalau ia selalu dijadikan teman curhat oleh Hamdi dan Retno, terutama Retno yang tergolong galak. Bahkan ia juga dijadikan teman curhat oleh banyak orang, terutama tetangga-tetangganya.
         Kini Hamdi dan Endah sedang berbincang di taman belakang rumah Endah. Mereka sedamg asyik membahas Ikhwan, takmir Al-Furqan yang hendak pamit karena mau menikah tiga bulan lagi. Hamdi cukup menyayangkan hal itu. Setelah Ikhwan keluar dari Bumi Indah nanti, masjid Al-Furqan akan kesulitan mencari takmir yang kualitasnya seperti Ikhwan Muslim. Hamdi mengatakan, Ikhwan itu sosok pemuda Muslim yang sangat tangguh. Ibadahnya benar-benar rajin dan kuat. Walaupun masih ada Abu Muslih, kepergian Ikhwan nanti pasti akan berpengaruh. Setelah Ikhwan pergi nanti, Abu Muslih pasti akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai takmir masjid Al-Furqan.
         “Tapi mau gimana lagi?” ujar Hamdi tersenyum. “Kalau memang sudah saatnya nikah. Kalau jodohnya memang sudah datang…yah..”
         Endah tersenyum, “Kamu sendiri..segeralah cari istri, biar tidak kesepian terus. Ingat anakku, umurmu sudah kepala tiga.”
         Hamdi tersenyum. “Biar kedua adikku dulu.. terutama Dina yang dengar-dengar sudah ada yang mau melamar.”
         “Dina itu umurnya berapa?”
         “Dua satu, tanggal 20 November kemarin. Sama aku selisih 10 tahun kurang 3 bulan.”
         “Tidak apa-apa dilangkahi kedua adikmu?”
         Hamdi tersenyum. “Ibu tahu sendiri kan? Sekarang aku masih seperti ini, masih amburadul. Status tidak jelas, pekerjaan ngalor-ngidul.
         Endah tersenyum. “Sejak dulu hobimu menjelekkan diri. Hahh. …Terus besok siapa yang mengganti Ikhwan?”    
         “Itulah yang kita belum tahu. Abu Muslih sendiri masih agak bingung. …Tapi Insya Allah, besok pasti ada, walau mungkin tidak sebaik Ikhwan.”
         “Kamu masih punya waktu dua bulan untuk bersama dia, serumah sama dia, makan bersama dia, sholat berjama’ah sama dia, pengajian sama dia, dll.”
         “Betul sekali Bu.”
                                                   *****

         Dua bulan kemudian, tanggal 6 Maret 2007, Hamdi ulang tahun yang ke-31. Seusai pengajian khusus putra di masjid Al-Furqan, Bu Sujar meminta sebagian jama’ah untuk tidak pulang dulu, terutama para pemuda yang sering membantu mengurus pengajian Al-Furqan. Ustadz Arifin Rodin, ustadz yang memberi ceramah, juga dijamu oleh Hamdi sekeluarga. Siang itu rumah Hasan Sujardi cukup penuh dengan tamu. Sebenarnya Hamdi tidak ingin ultahnya dirayakan dengan pesta, apalagi pesta besar-besaran. Tapi mau bagaimana lagi? Sang bunda sudah telanjur memesan makanan yang jumlahnya tidak sedikit. Mendengar Hamdi terus mengeluh, Retno langsung marah-marah. Maksudnya ingin membahagiakan Hamdi, tapi putra sulungnya yang dua bulan lalu terkena DB ini malah mengeluh, tidak berterima kasih.
         Hamdi yang sudah latihan sabar, hanya diam saja ketika Retno memarahinya. Bara emosi Retno semakin meledak. Namun untunglah, Endah yang baru datang, langsung menenangkan suasana. Endah menghibur Hamdi. Katanya, “Pesta ultahmu ini masih tergolong sederhana. Percayalah. Papa-Mamamu sudah tahu kesukaanmu.”
         Nasehat Endah itu merasuk ke hati Hamdi. Hamdi pun akhirnya pasrah menerima segala kenikmatan di hadapannya itu. Setelah suasana terasa damai, makan siang dimulai. Hamdi dan semuanya, termasuk dua teman takmirnya, Ustadz Abu Muslih dan Nur Ikhwan Muslim, duduk di lantai yang dilapisi karpet. Ada sekitar 10 lelaki yang menyantap makan siang di ruang keluarga rumah Hamdi, yang rata-rata masih pemuda. Acara makan siang berlangsung dengan marak. Siang ini rumah Hasan Sujardi dinaungi kabut kebahagiaan. Setelah selesai makan, Ustad Rodin, pria agak gemuk berjenggot tebal, bertanya, “Sebenarnya semua ini dalam rangka apa?”
         Hamdi tersenyum. Retno langsung menjelaskan semuanya. Setelah pada tahu, semuanya semakin gembira. Ustad Arifin Rodin yang bergelar Lc, gelar yang diraihnya setelah lulus dari Islamic University of Madinah, mendekati Hamdi yang duduk di samping Abu Muslih dan Ikhwan, lalu menjulurkan tangan kanannya seraya berkata, “Selamat ya Mas. Semoga sukses selalu.”
         “Amin (menjabat tangan Rodin dengan kedua tangannya)! Makasih banyak Ustadz. Do’akan saja, semoga saya yang amburadul ini bisa segera jadi orang sholeh.”
         “Sekarang sudah sholeh kok,” sahut Roni, tetangga Hamdi yang masih duduk di bangku SMA. Ikhwan yang duduk samping kanan Hamdi, menyambung, “Ustadz, Mas Hamdi minta didoakan, semoga cepat dapat jodoh.”
         Mendengar itu, semua hadirin tertawa gembira. Rodin menatap Hamdi sambil mengangguk-angguk. “Baiklah, Insya Allah akan saya doakan.”
         Hamdi yang kikuk ini langsung menyikut lengan kiri Ikhwan, lalu berkata, “Ustadz tidak usah menggubris omongannya.”
         Abu Muslih tersenyum, “Itu doa yang baik lho Mas..”
         “Betul sekali,” sambung Ikhwan. “Doa untuk kebaikan itu tidak boleh ditolak. Betul tidak semuanya?!”
         “BETUL SERATUS PERSEN!” sahut semuanya serentak. Setelah pada menyantap nasi, mereka ganti menyantap cemilan, kemudian ngobrol sendiri-sendiri. Hamdi yang masih duduk di antara Ikhwan dan Abu Muslih, berkata pada Ikhwan. “Antum tidak bisa di sini lebih lama lagi?...Yah..mungkin ditambah satu bulan lagi.”  
         Pertanyaan itu hanya membuat Ikhwan menundukkan kepala sambil tersenyum malu. Abu Muslih berkata, “Dia sudah tidak tahan Mas.”
         Hamdi tersenyum. “Terus siapa yang nanti mengganti antum menemani Ustadz Muslih?”
         Ikhwan tersenyum. “Besok pasti ada, Insya Allah.”
         “Ya memang ada..tapi yang sekualitas antum..wah. Susah banget.”
         Hening sejenak. Ikhwan tersenyum. “Antum (menepuk bahu kanan Hamdi) juga harus segera cari. Ehm…apa mau kucarikan?”
         Hamdi tersenyum. “Biar Darwan dulu.”
         “Kok Mas Darwan dulu? Hahh. Antum ini..”
         “Tidak apa-apa. Keadaannya sudah jauh lebih mapan dari aku.”
         Darwan itu adik Hamdi yang ketiga, yang sekarang dinas di Padang. Dialah yang dulu meminta Abu Muslih dan Ikhwan Muslim untuk menjadi takmir Al-Furqan.
Setelah makan siang selesai, Sujar memberi uang dua ratus ribu rupiah kepada Hamdi, sebagai hadiah ultahnya. Betapa gembiranya Hamdi. Ia cium tangan kanan ayah-ibunya. Ia benar-benar bersyukur kepada Allah SWT, bersyukur atas segala kenikmatan yang ia rasakan siang ini. Ia bergumam, “Andaikan aku punya pacar, teman baik wanita, atau bahkan calon istri, tentu dia sudah kutraktir. …Untuk saat ini, aku hanya punya istri impian. Heh he.”
    
                                                    *****
         Beberapa hari kemudian, seusai sholat Shubuh berjama’ah di masjid Al-Furqan, Hamdi bertemu Isma lagi. Ketika Isma hendak pulang, Hamdi mencegahnya. Hamdi hanya ingin berterima kasih atas kue tart untuk ultahnya kemarin. Kue tart coklat buatan Isma. Hamdi berkata, “Saya baru tahu kalau itu buatan Bu Kandar. Tadi malam saya diberi tahu Bu Mardi. Wah..rasanya pas banget. Tidak terlalu manis.”
         “Makasih” sahut Isma tersipu. “Tapi saya jarang membuat yang seperti itu.”
         “Kenapa?”
         “Ya karena jarang yang pesan. Hanya di waktu-waktu tertentu saja..seperti ultah Mas kemarin. Tapi Alhamdulillah, walaupun jarang membuat kue tart, begitu ada yang pesan,  saya langsung bisa membuat.”
         “Itu karena Bu Kandar sudah pengalaman,” sahut Hamdi semakin semangat. ”Selain kue bolu, saya juga menunggu donat dan kue tartnya. Pokoknya makasih banyak untuk semuanya.”
         “Sama-sama Mas (tersenyum semakin manis).“
         Setelah Isma pulang, Hamdi masih berdiri di situ. Ia bergumam, “Mukena itu membuatnya semakin cantik. Maha Suci Allah.”
         Sama halnya dengan Isma. Ia tidak langsung pulang. Ia masih berdiri di gapura masjid. Sesaat kemudian, ketika Hamdi meninggalkan masjid, Isma membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Dilihatnya Hamdi yang berjalan pulang ke rumah. Sambil terus menatap Hamdi, wanita jelita ini tersenyum, lalu bergumam, “Sungguh menyenangkan orang itu. Rendah hati, santun, sedikit humoris. Hihh..kukira sudah berkeluarga. Ternyata masih bujang.”
         Dua minggu kemudian, tepatnya di awal bulan April, Ikhwan memohon diri pada Sujar dan Retno. Ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, juga memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang mungkin pernah ia lakukan selama ia tinggal di rumah Hasan Sujardi. Pemuda berwajah manis itu hanya berharap, mudah-mudahan masjid Al-Furqan bisa segera mendapat takmir pengganti yang jauh lebih baik dari dirinya. Mendengar pernyataan itu, Sujar tersenyum renyah, “Justru sebaliknya, kami akan segera mendapat takmir yang jauh lebih buruk dari Ikhwan.”
         Dua minggu kemudian, Ikhwan Muslim melangsungkan pernikahannya di rumahnya yang ada di Gedongkuning. Abu Umair Nur Ikhwan Muslim menikah dengan Ummu Umair Nurul Qanita, wanita cantik dan sholehah yang usianya 2 tahun di atas Ikhwan. Walimahan atau pesta pernikahannya dilangsungkan dengan amat sangat sederhana. Walimahan ala Salafush Shalih. Walimahan ala Rasulullah SAW yang sudah banyak ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Acaranya hanya pengajian, setelah itu makan bersama dengan kerdusan. Tamu pria dan wanita dipisah. Tidak ada nyanyian, nasyid, dangdutan atau kethoprakan.
         Setelah acara selesai, para tamu pada bersalaman dan berpelukan dengan mempelai pria dan wanita. Tamu lelaki dengan mempelai lelaki, tamu perempuan dengan mempelai perempuan. Kini Ikhwan berpelukan erat dengan Hamdi, setelah sebelumnya berpelukan dengan Ustadz Aris Munandar, staf pengajar Ponpes Taruna Al-Quran. Ikhwan bertutur, “Segera nyusul lho Mas.”
         Hamdi tersenyum, “Insya Allah, setelah ketemu jodohnya..juga setelah keadaanku seperti antum.”
         Setelah Ikhwan keluar dari rumah Sujar untuk selamanya, Abu Muslih mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai takmir masjid Al-Furqan. Memang benar apa yang dikatakan Hamdi kepada Endah kemarin. Kehilangan pengurus masjid sebaik Ikhwan memang seperti kehilangan separoh kekuatan. Apalagi Muslih sangat sibuk. Ia jarang sekali di rumah karena harus mengajar ngaji di sana-sini. Kadang ia hanya pulang sebentar untuk mengumandangkan adzan, dimana saat itu masjid Al-Furqan belum ada yang mengumandangkan adzan. Setelah sholat jama’ah yang dipimpin Hamdi selesai, ustadz muda berambut kriting itu langsung ngelayap lagi. Dengan demikian, perannya sebagai pengurus Al-Furqan menjadi berkurang banyak. Belum lagi kuliah biologinya yang sudah nyaris tujuh tahun. Pihak kampus sudah beberapa kali menegurnya, bahkan pintu DO juga sudah terbuka lebar untuknya.
         Retno pun sering mengatakan, silahkan kalau Abu Muslih mau jadi ustadz, tapi kuliahnya jangan sampai terbengkelai. Silahkan jadi ustadz, tapi kuliahnya juga harus selesai. Dengan demikian, kedua ortunya di Kulon Progo bisa bangga melihat putranya memiliki dua gelar. Gelar formal dan non formal. Gelar formalnya menjadi sarjana, dan non formalnya menjadi ustadz. Sebab kenyataannya cukup banyak ikhwan Salaf yang kuliahnya tidak selesai karena sudah jadi ustadz. Ada seorang ustadz muda yang sekarang kuliah di Riyadh. Saat itu kuliahnya hampir selesai. Ia tinggal menyelesaikan skripsi, setelah itu ia akan jadi sarjana Teknik UGM. Teman-teman dekatnya selalu mengatakan, jika mau menuntut ilmu agama di Timur Tengah, akan lebih sempurna lagi kalau kuliahnya sudah finish. Setelah merenung masak-masak, ustadz muda ini akhirnya mantap untuk menggarap skripsinya.
         Dengan semangat; “Laa haula walaa quwwata illaa billaah,”  Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT, ustadz muda asli Aceh ini berangkat ke kampusnya. Namun begitu kakinya menginjak kampus, semangatnya redup 95 persen. Dilihatnya suasana kampus yang terasa tidak kondusif. Dengan sangat berat hati, ustadz muda pemilik suara indah ini menyatakan tidak sanggup menamatkan studinya yang tinggal sebentar. Setelah menyendiri di salah satu pondok pesantren Salaf, akhirnya ia mantap untuk berangkat ke Riyadh. Lalu ada lagi contoh yang lain. Seorang ustadz yang kuliah di KG (Kedokteran Gigi) UGM. Kuliahnya tinggal sebentar, namun akhirnya mereka tinggalkan kampus masing-masing demi sesuatu yang bagi mereka jauh lebih berharga. Apalagi kalau bukan menimba ilmu agama.
         Demikianlah contoh orang-orang yang sukses menjadi ustadz, namun gagal menyelesaikan studinya yang sebenarnya tinggal satu-dua langkah. Dan masih cukup banyak lagi contoh yang lain. Nah, dengan melihat pengalaman-pengalaman di atas, ibunda Hamdi tidak ingin Abu Muslih seperti mereka. Ibunda Hamdi sangat menyayangkan kalau Abu Muslih tidak menamatkan kuliahnya yang tinggal sedikit. Beberapa hari kemudian, sekitar sebulan setelah Ikhwan menikah, Abu Muslih yang semakin sibuk itu juga mohon pamit pada Pak-Bu Sujar dan Hamdi. Alasannya karena kegiatan dakwahnya semakin padat, juga karena ia ingin menyelesaikan studi biologinya yang terbengkelai. Hamdi dan ayah-ibunya tidak keberatan, sebab alasannya sangat bisa dimaklumi.
         Meskipun begitu, di satu sisi Hamdi sekeluarga sangat menyayangkan keputusan Abu Muslih yang sudah bulat itu. Ya tentu saja, sebab Abu Muslih sudah memberi peran yang amat besar untuk masjid Al-Furqan. Berkat Abu Muslih dan Ikhwan Muslim, masjid Al-Furqan menjadi makmur. Kegiatan agamanya benar-benar hidup. Berkat mereka pula, pengajian-pengajian Salaf di masjid Al-Furqan menjadi marak. Namun sekarang, ustadz asli Kulon Progo itu hendak menyusul Ikhwan. Kemungkinan besar, sepuluh hari lagi ia sudah melepas tugasnya sebagai takmir masjid Al-Furqan, jantungnya perumahan Bumi Indah.
         Sungguh, keputusan Muslih yang sudah pasti itu sangat berat bagi Sujar dan istrinya. Namun untunglah, mahasiswa biologi MIPA itu benar-benar pemuda yang bertakwa kepada Allah SWT. Ia sangat tahu diri, sangat mengerti dengan apa yang harus ia lakukan untuk masjid Al-Furqan. Beberapa hari sebelum pergi, Abu Muslih yang nama aslinya Ardi Wahyudi itu sudah menemukan pengganti dirinya. Seorang mahasiswa Peternakan UGM angkatan 2003. Dia takmir masjid Al-Ashri Bumi Rejo, kampung yang berada di sebelah utara Bumi Indah. Namanya Muhammad Asyraf Pranowo. Ia seorang pemuda berpostur agak kecil dan berkulit kuning terang. Wajahnya berjerawat agak banyak. Sebelum resmi menjadi takmir Al-Furqan, Asyraf sudah cukup sering mengikuti pengajian di masjidnya Bumi Indah itu. Ia juga sudah tahu Hamdi Rusmanto. Hamdi pun sudah pernah melihatnya, baik di Al-Furqan maupun di Al-Ashri.
         Tinggal sehari lagi, Asyraf sudah resmi jadi pengurus baru masjid Al-Furqan. Retno sempat bertanya, apakah Asyraf akan sendirian mengurus masjid? Untuk hal itu, Ardi dan teman-temannya masih berusaha mencarikan teman untuk Asyraf. Menurut Ardi, kualitas Asyraf sebagai pengurus masjid sudah bisa dikatakan jempolan. Ardi berani mengatakan, kinerja Asyraf sudah bisa diandalkan untuk jangka waktu yang cukup lama. Malam itu, seusai sholat berjama’ah di Al-Furqan, Asyraf mendekati Hamdi yang baru selesai sholat sunnah ba’diyah (sesudah) Isya.’ Sambil tersenyum malu, Asyraf mengatakan kalau ia akan tinggal di rumah Hamdi malam ini. Hamdi tersenyum gembira.
         “Baik, sekarang menghadap bapak-ibuku dulu.”
         Asyraf mengangguk mantap. Hamdi melanjutkan, “Barang-barangmu sudah dibawa?”
         “Baru mau saya angkut.”
         “Apa perlu kubantu.”
         “Tidak usah, makasih, nanti ada teman yang membantu.”
         “Ehmm..(mengangguk) ya sudah kalau begitu. Sekarang ke rumahku dulu.”
         Besok paginya, Asyraf sudah resmi menjadi takmir Al-Furqan. Sejak pagi hingga sore, Asyraf bekerja dengan tekun. Selain membersihkan masjid, Asyraf juga rajin membersihkan halaman dan serambi rumah Hamdi. Pemuda yang satu ini memang enak dilihat. Walaupun  tidak tampan, ia sumeh ( murah senyum) dan mudah dimintai tolong. Ia selalu kelihatan bersahaja. Wajar kalau kebanyakan orang menganggap ia tidak pernah atau tidak bisa marah.
         Setelah tiga minggu tinggal di rumah Hamdi, Asyraf benar-benar sudah bisa membuktikan etos kerjanya sebagai pengurus masjid yang baik. Pak-Bu Sujar pun mengacungkan jempol untuk pemuda asli Banyuwangi ini. Apa yang dikatakan Ardi tentang Asyraf kemarin sudah terbukti. Walaupun kualitasnya masih di bawah Ardi dan Ikhwan, setidaknya Asyraf sudah bisa menyenangkan kedua ortu Hamdi, terutama sang ibu yang pemarah. (Bersambung)

                                                           ****

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;