Terlebih dahulu, kami perkenalkan tokoh utama dalam
novel ini. Hamdi Rusmanto, seorang pemuda sholeh yang gagah dan lumayan
ganteng. Usia dewasa, sekitar 30-31 tahun. Ia putra sulung dari empat
bersaudara. Ia sudah termasuk tokoh penting di komplek Bumi Indah, komplek tempat
tinggalnya. Ia menjadi imam tetap di masjid Al-Furqan, masjid satu-satunya di
perumahan elit tersebut. Demikian juga dengan Hasan Sujardi atau Sujar, ayah kandung Hamdi. Dialah
takmir utama masjid Al-Furqan, masjid yang berada persis di sebelah selatan
rumahnya. Dialah yang pertama kali memberi saran kepada seluruh penduduk Bumi
Indah untuk membangun masjid Al-Furqan, masjid yang tidak begitu besar namun
indah. Kisah ini berlangsung di akhir tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2008.
Sudah lima bulan komplek Bumi Indah kedatangan
penduduk baru. Mereka sepasang suami istri muda dengan satu anak perempuan
balita. Penduduk baru itu tinggal di rumah yang jaraknya dengan rumah Hamdi
terpaut sekitar 150 meter. Mereka datang dari Cilacap. Iskandar nama penduduk baru
itu. Ia seorang lelaki keturunan Arab. Pekerjaannya berdagang barang pecah
belah. Usianya sekitar 42 tahun. Postur pendek, hidung pesek, rambut agak
keriting. Meskipun keturunan Arab, wajahnya lebih banyak Indonesianya, lebih
banyak Jawanya. Ia dan istri-anaknya tinggal di sebuah rumah yang tidak besar
namun mewah. Mereka tinggal bersama seorang sopir dan seorang pembantu
perempuan.
Istrinya bernama Ismayani Puspita.
Sama halnya dengan Iskandar, Isma juga blesteran Arab-Jawa. Usianya sekitar
27-28 tahun, usia yang terpaut cukup jauh dengan sang suami. Ia baru tiga tahun masuk Islam, atau
dua tahun setelah dinikahi Iskandar. Sekarang ibu muda ini sedang sibuk
menyediakan waktu untuk mempelajari Islam, agama barunya yang ia yakini
merupakan agama yang ajarannya paling sempurna. Kehadiran keluarga blesteran
Arab ini cukup memberi kesejukan bagi seluruh penduduk lama perumahan Bumi
Indah.
Namun sayang, Iskandar termasuk lelaki
yang egonya masih cukup tinggi. Sejak menjadi penduduk perum. Bumi Indah, ia
jarang sekali bergaul dengan tetangganya, baik tetangga yang rumahnya hanya di
samping kanan-kiri rumahnya, maupun tetangga yang rumahnya terpaut jauh dengan
kediamannya. Saat pertama menjadi penduduk Bumi Indah, Kandar tidak
memperkenalkan dirinya kepada para penduduk komplek elit tersebut. Setelah
selang agak lama, baru Kandar
memperkenalkan dirinya. Itupun karena terpaksa, karena keluarganya sedang
membutuhkan bantuan para tetangga barunya. Kandar hanya mau bergaul dengan
tetangganya kalau keadaan dirinya sudah sangat kepepet. Kandar juga tidak pernah datang ke acara-acara kampung
semacam arisan, pengajian, rapat RT-RW, dan semacamnya.
Sesekali Kandar pernah ditegur dengan
halus oleh tetangga depan rumahnya persis. Tetangga itu menyarankan agar Kandar
mau mendatangi pengajian atau arisan. Tidak harus rutin, satu-dua kali saja
sudah bagus sekali. Apalagi para tetangga juga tahu kalau Kandar itu orang sibuk, jarang sekali di
rumah. Sebagian besar penduduk komplek Bumi Indah sudah tahu kalau Kandar itu bisnisman
sukses. Namun pria sombong itu tidak pernah menggubris saran para tetangganya itu. Ia selalu
berdalih tidak punya waktu. Dengan tersenyum angkuh ia berkata, “Pedagang super
sibuk seperti aku ini sudah bagus sesekali mau menyapa penduduk sini. Harusnya
mereka sudah berterima kasih, sudah mau
menghormati dan menghargai aku. Harusnya mereka bangga punya tetangga seperti
aku. Huh! Dasar para tetangga! Bodoh semua! Bisanya cuma menggunjing. Terutama
ibu-ibu pengajian dan arisan! Huh! Perempuan-perempuan cerewet itu hanya asal
ngomong! Mereka belum tahu siapa Suryo Iskandar. Huhh! Tapi sudahlah, tidak
perlu kupusingkan lagi. Yang penting aku tetap dianggap orang terhormat. Yang
penting aku tetap bisnisman sukses. Hah haa!”
Begitulah sifat asli Iskandar. Sungguh
berbeda dengan sifat istrinya yang kalem dan mudah bergaul dengan siapapun.
Wajar jika sebagian besar penduduk Bumi Indah bisa langsung menerima Isma
sebagai tetangga baru mereka yang ramah. Walaupun seorang muallaf, di mata sebagian besar penduduk Bumi Indah, Isma jauh
lebih menyenangkan dari suaminya yang seorang Muslim sejak lahir. Ketika baru
sebulan menjadi warga perum.
Bumi Indah, Isma sudah mendapat respon positif dari para tetangganya, terutama
tetangga yang tinggal di kanan-kiri rumahnya.
Setelah tiga bulan menjadi warga
komplek Bumi Indah, kehidupan sehari-hari Isma dengan semua tetangganya semakin
menyenangkan. Semua itu tidak lepas dari kelebihan yang ia miliki. Selain
cantik, kalem dan tidak banyak bicara, Isma juga pandai membuat berbagai macam
makanan lezat, terutama kue bolu. Setiap Bumi Indah mengadakan acara, Isma
sering diminta membuat makanan untuk suguhan para hadirin. Berkat semua itulah,
nama Ismayani Puspita semakin kondang di telinga seluruh penduduk Bumi Indah.
Sekarang sudah lima bulan Nyonya Iskandar menjadi warga
komplek Bumi Indah. Kue-kue bolu ciptaannya yang lezat itu semakin naik daun.
Rasanya benar-benar lain dari yang lain. Mau pesan kue bolu jenis apa, tinggal
bilang Mbak Isma. Ada
bolu gulung, bolu kukus, bolu lapis, bolu zebra coklat, zebra hijau, dan
lain-lain. Seiring dengan waktu yang terus berjalan, Isma sering mendapat
pesanan dari sebagian besar penduduk Bumi Indah, bahkan juga dari para penduduk
komplek atau kampung yang menjadi tetangganya Bumi Indah. Nama Ismayani Puspita
semakin terkenal, walaupun banyak juga yang belum melihat orangnya. Kebanyakan orang hanya mendengar,
sekarang di komplek Bumi Indah ada penjual kue bolu yang sangat lezat. Rasanya
benar-benar lebih lezat dari kebanyakan kue bolu yang dijual di toko-toko roti,
baik toko besar maupun kecil.
Orangnya cantik, ramah, enak diajak
bicara, dan sebagainya. Begitulah berita yang tersebar di perum. Bumi Indah dan
sekitarnya. Meskipun demikian, Isma yang ternyata mantan dokter gigi ini tidak
menjadi sombong. Perempuan cantik berkaca mata ini malah semakin rendah hati.
Hal itulah yang membuat nama dan dirinya semakin harum di seluruh pelosok Bumi
Indah.
Seorang ibu penduduk Bumi Indah
berkata, “Kalau mau, Mbak Isma itu bisa membuat toko roti besar. Dia bisa jadi
terkenal di seluruh Jogja, bahkan di seluruh Indonesia..soalnya roti bolunya enak
banget. Sumpah. Dari semua roti bolu yang pernah saya cicipi, belum ada yang
seenak rotinya Mbak Isma.”
“Itu tidak berlebihan,” sambung ibu yang
lain. “Saya sependapat. Bagi saya sekeluarga, kue bolu itu secara umum biasa
saja, tidak begitu enak. Tapi setelah mencicipi kuenya Bu Kandar..wah. Terutama
yang bolu pandan. Itu kesukaan suami saya.”
“Betul seratus persen..” sambung ibu yang lain
lagi. “Berkat bolunya Mbak Isma, aku dan anak-anakku jadi semangat sekali makan
roti yang selama ini kami anggap tidak begitu enak.”
Seorang ibu muda menyambung, “Mbak
Isma memang jempolan. Sudah cantik, cerdas, ramah, dokter gigi, jago membuat
makanan lezat. Tapi sayang..suaminya seperti itu. Hih. Perempuan sebaik Mbak
Isma, harus jadi istrinya orang sombong, orang yang tidak pernah mau bergaul
dengan tetangga sendiri. Ah..kasihan Mbak Isma.”
“Suaminya tidak usah diurus!”
sambung seorang nenek. “Yang penting Mbak Isma-nya. Hih hii.”
Yang lain menimpali, “Tidak masalah
Mbak Isma berhenti jadi dokter gigi. Toh sekarang dia malah dapat profesi yang
mungkin bisa dikatakan lebih sukses.”
“Jelas lebih sukses,” sambung seorang
gadis manis. “Dokter gigi hanya mengurus gigi. Kalau membuat makanan lezat,
bisa untuk kepentingan orang banyak.”
Begitulah komentar warga Bumi Indah,
terutama komentarnya kaum hawa yang memang cenderung hobi ngerumpi. Mendengar semua pujian itu, Isma hanya menanggapi dengan
tersenyum manis. Isma berkata lembut, “Saya tidak pernah merasa ahli membuat
roti lezat. Tapi kalau ibu-ibu dan mbak-mbak semua menganggap kue bolu saya
lezat, saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”
“Mbak Isma..” tutur seorang ibu.. “dulu
di sini pernah ada seorang ibu yang jago membuat kue. Bu Tomo, atau Bu Warti.
Orangnya nyentrik. Tiga tahun yang lalu dia dan keluarganya pindah ke Gombong.
Dia pintar membuat kue apa saja. Rasanya benar-benar beda.”….. (diam sejenak
atau diam beberapa detik) “Tapi setelah ku bandingkan dengan kue bolu buatan
Mbak Isma, sebagian besar dari kami sepakat, kue-kuenya Bu Warti masih belum
seenak bolu-bolunya Mbak Isma.”
“Benarkah?” Tanya Isma semakin
tersanjung. Perempuan berusia sekitar 50 tahun itu tersenyum. “Buat apa aku bohong? Demi Allah..roti
bolunya Mbak Isma itu roti bolu terlezat yang pernah kurasakan. Makanya, Mbak Isma
mendirikan toko roti saja. Namanya…Bolu Isma. Hih hi hi.”
Isma tersenyum manis sekali. Ia
bertutur lembut, “Makasih banyak Bu Daryo. Mudah-mudahan, semua ini bisa
membuat saya semakin semangat dalam berkarya.”
“Amin!” sahut semuanya. Hari-hari
berikutnya Isma semakin sibuk di dapur. Semua itu karena konsumen kue bolunya
semakin membludak. Waktu terus
berjalan. Kebahagiaan Isma sebagai penduduk baru perum. Bumi Indah semakin
bertambah. Namun sayang, beberapa minggu kemudian, Isma dan Kandar harus
mendapat cobaan maha berat dari Allah SWT. Cobaan yang sebenarnya sudah ia
rasakan cukup lama, namun menjadi tidak terasa berkat kesibukannya membuat kue
bolu.
Utari atau Tari, putri satu-satunya
yang masih balita, buah cintanya dengan Iskandar, meninggal karena asma berat
yang sudah dideritanya sejak lama. Tari
meninggal di RS Sardjito, Yogyakarta,
setelah sebelumnya dirawat selama sepuluh hari. Wanita cilik yang menggemaskan
itu meninggal pada jam tiga dini hari. Ia meninggal dalam pelukan ibunya.
Penjual kue bolu itu menyaksikan sendiri kepergian putri tunggalnya ke alam baka.
Setelah jasad Tari tidak bernyawa,
Isma menangis sesenggukan. Ia mau berteriak. Namun untunglah, para suster
langsung berusaha menghibur dan menenangkan Ny. Iskandar yang
mengguncang-guncangkan tubuh Tari yang hendak ditutup selimut oleh perawat
lelaki.
Kandar yang masih bergembira ria di
toko barang pecah belahnya, begitu mendengar kematian putri tunggalnya,
langsung seperti disambar halilintar. Sama halnya dengan Isma, Kandar juga
menangis sesenggukan di hadapan jenazah
Tari. Bedanya, tangis Kandar
masih lebih pelan dari tangis istrinya. Siang itu, komplek Bumi Indah diliputi
kabut kedukaan yang cukup tebal. Suryo Iskandar dan Ismayani Puspita kehilangan
buah hati mereka satu-satunya. Buah hati yang masih polos, yang menggemaskan,
yang selalu menjadi penyejuk mata orang tuanya. Namun mau bagaimana lagi? Jika
Allah sudah menghendaki sesuatu, tak ada satu pun dari makhlukNya yang bisa
mencegah, apalagi merubah. Dengan jiwa teramat pedih, Isma harus merelakan
kepergian buah hatinya untuk selamanya.
Jam satu siang Tari dimakamkan di
pekuburan Bumi Kulon, kampung tetangganya Bumi Indah. Ketika tubuh kecil itu
dikuburkan, Isma kembali menangis histeris. Ia berteriak, “TARIII!!! Allaahu Akbar!!!”
Sedetik kemudian ia tak sadarkan diri. Tubuh rampingnya nyaris ambruk di tanah,
namun tidak jadi berkat kesigapan seorang ibu berusia 40 tahunan. Ia menahan
tubuh Isma yang tak sadarkan diri, kemudian memeluknya sambil duduk. Sedetik
kemudian ia ikut menangis. Perhatian para hadirin langsung tertuju ke Isma.
Kandar yang masih berdiri di depan kuburan anaknya, langsung menghampiri
istrinya. Ia elus dahi dan pipi istrinya yang basah oleh peluh dan air mata
derita.
Lelaki yang selama ini angkuh dan
keras ini menangis, lalu berkata dengan suara terbata-bata, “Mah, kamu jangan
begini. Aku juga sedih banget. Tapi semua ini sudah takdir, jadi kita harus
ikhlas. Kita harus ikhlas Mah.”
“Iya Mbak Is..” sambung ibu yang sudah
menolong Isma, yang kini memeluknya. Dengan mata basah, ibu baik hati ini
berkata, “Kalau Mbak Is sedih berlebihan, nanti arwah Tari bisa terganggu lho.
Hik hik. Sabarlah Mbak Is..hik hik. Dzikrullah..eling
Gusti Allah..biar Mbak Is bisa mendapat ketegaran dan ketenangan hati. Hik
hik hik. Kalau kita mau berlapang dada dalam menghadapi segala cobaan, walaupun
cobaan itu sangat berat, Insya Allah,
kita akan mendapat hikmahnya. Hikmah yang tentu sangat luar biasa. Hik hik.
Sama dengan yang sekarang dialami Mbak Is.”
“Bu Yono benar Mbak Is,” sambung gadis manis
berjilbab hitam yang juga duduk di samping Isma. Sambil ikut menangis, gadis muda
itu
melanjutkan, “Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, jadi tidak mungkin memberi
cobaan di luar batas kemampuan kita. Hik hik (mengelus dahi Isma). Tari masih
suci, masih bersih dari dosa..jadi Insya
Allah, dia bisa langsung masuk surgaNya yang penuh dengan kenikmatan.
Kenikmatan yang tidak bisa habis.”
Isma yang sudah setengah sadar,
seperti bisa menyerap semua nasehat luhur itu. Beberapa menit kemudian Isma
sudah bisa berdiri tegak lagi. Ia sandarkan kepalanya di dada sang suami yang
terlihat lebih tegar. Meskipun masih sedih berat, wajah perempuan cantik ini
sudah terlihat lebih tenang. Ia bersyukur bisa pingsan, karena tidak perlu
melihat permata hatinya dikubur untuk selamanya.
Setelah suasana terasa lebih tenang,
beberapa hadirin pada meninggalkan pemakaman. Namun sebagian besar masih berada
di situ. Semuanya menatap Pak-Bu
Kandar yang masih berdiri mematung
di depan makam putri mereka. Hasan Sujardi, ketua takmir masjid Al-Furqan,
mendekati Pak-Bu Kandar. Pria berusia kepala enam itu menatap Isma yang masih
lemas. Kaca matanya tidak dipakai, sehingga tampaklah matanya yang merah karena
derita batin yang teramat berat. Setelah mengatur nafas, Sujar berkata lembut,
“Ikhlaskan kepergian Tari, Bu Kandar.
Dengan begitu, Insya Allah, dia bisa menghadap Gusti Allah dengan tenang. Dalam
sebuah hadits diterangkan..jika kita meratapi kepergian orang yang kita cintai dengan berlebihan,
ratapan itu bisa berubah menjadi siksa buat si arwah. Nah, Mbak Isma tidak
ingin Tari terkena azab kan?”
Isma yang loyo ini hanya menggelengkan
kepala. Sujar melanjutkan, “Kalau begitu, hentikan kesedihan anda yang sudah
berlebihan. Cobalah latihan bersabar, mengendalikan diri, mengendalikan
emosi.”…..Memang sulit sekali, tapi itulah jihad terbesar. Itulah jihad yang
sesungguhnya. Jihadun nafs. Jihad
mengendalikan hawa nafsu.”….Kalau anda ingin menghilangkan derita hati yang
sekarang anda rasakan, langsung diadukan saja kepada Allah. Caranya..ya dzikrullah. Dzikrullah terus.”…. Begitu hatimu merasa sedih lagi, ya langsung
ingat Allah lagi. Insya Allah, dengan
begitu terus, Allah Yang Maha Welas Asih pasti berkenan memberimu kedamaian dan
ketegaran hati. Dengan begitu terus, Insya
Allah, anda bisa mengikhlaskan kepulangan Tari ke alam baka.” Diam sejenak,
lalu melanjutkan, “Yah, memang hanya itu satu-satunya cara meraih ketenangan
hati. Hati itu raja dalam diri kita, jadi harus yang paling kita perhatikan.
Betul tidak Mbak Is?”
Isma yang terlihat semakin tenang,
mengangguk mantap. Hening sejenak. Sujar ganti menatap Kandar, lalu berkata,
“Pak Kandar, sebagai suami, anda punya kewajiban untuk terus menasehati dan menenangkan
Mbak Isma. Anda sendiri juga harus sering dzikrullah.
Itu kalau anda ingin segera meraih ketengangan batin.”
Kandar mengangguk mantap. “Iya Pak
Ustadz, saya ngerti. Saya juga tidak mau sedih berlarut-larut. Disamping bisa
mengganggu arwah Tari, nanti saya juga tidak bisa bekerja dengan baik dan
benar.“
“Alhamdulillaah..”
tutur Sujar sambil mengangguk dan tersenyum. Ia sentuh bahu kiri Kandar. “Menyibukkan
diri dengan kegiatan positif juga sudah termasuk ingat Allah. Yah, saya dan
semuanya hanya bisa berdoa, semoga Pak-Bu Iskandar diberi ketegaran hati, agar
bisa tahu hikmah di balik cobaan berat ini.”
“Amin. Makasih banyak Ustadz Sujar (membungkuk
sambil menjabat erat tangan Sujar dengan kedua tangannya).”
Isma yang sudah terlihat lebih tabah,
menyambung, “Insya Allah, nasehat
Ustadz Sujar akan saya kerjakan dengan sebaik-baiknya.”
Setelah kembali ke rumah, Isma kembali
menangis tersedu-sedu, namun tangisnya sudah jauh lebih terkontrol dibanding
saat melihat buah hatinya hendak dikubur tadi. Beberapa hari setelah pemakaman
Tari, Isma masih terus berduka. Pagi, siang, sore dan malam, Ny. Iskandar hanya
bisa menangis dan menangis. Wajah Tari yang begitu imut itu masih terbayang
terus di benaknya. Bahkan Isma bisa merasakan lebih dari itu. Isma merasa,
seolah Tari masih berada di sampingnya, di hadapannya, di pelukannya. Isma
masih bisa mendengar
suara Tari yang empuk. Isma mendengar suara Tari yang sedang belajar menyanyi,
meminta makan karena lapar, meminta susu karena haus, meminta digendong,
dibelikan mainan, diajak bermain, dan sejenisnya.
Bayangan sosok Tari yang masih begitu
kuat itu membuat Isma ling lung. Air matanya sampai kering, nafsu makannya
menurun drastis. Ia benar-benar belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Beberapa hari
kemudian Isma sudah tidak menangis lagi, namun keadaannya masih menyedihkan.
Waktunya habis untuk melamun dan melamun. Dalam sehari semalam, ia lebih banyak
diam. Jumlah bicaranya bisa dihitung jari. Wanita cantik ini hanya bicara kalau
ada hal yang penting sekali. Ia benar-benar sedang menjalani puasa bicara.
Tentu saja hal ini membuat Kandar
bingung berat. Kandar yang iman dan agamanya lemah, hanya bisa ikut stress
berat. Malam itu Kandar melihat Isma melamun di sofa yang berada di ruang
keluarga rumah mereka. Kandar langsung memeluk kedua bahu istrinya. Dengan
senyuman ramah, Kandar
mengajak istrinya makan malam. Dengan wajah loyo dan suara teramat lemah, Isma
berkata, “Mas makan duluan ya? Aku belum lapar.”
Dengan wajah kecewa, Kandar menggelengkan kepala. “Dari tadi
pagi, dari tadi malam, dari kemarin-kemarin, kamu selalu bilang belum lapar.
Hahh (menyandarkan tubuh di sofa). Mama, kamu tidak boleh seperti ini terus,
nanti kamu bisa sakit. Kamu harus mau makan, walau hanya dua-tiga sendok.”
Hening beberapa detik. Isma
menundukkan wajahnya, setelah itu kembali menatap depan. Beginilah keadaan
Iskandar dan Isma sekarang. Isma merasa, kesuksesannya dalam bisnis kue bolu
tidak ada artinya secuil pun. Apalah arti kemahirannya membuat kue lezat jika
dibandingkan
kehadiran Utari, hartanya yang paling berharga. Isma benar-benar merasa
kehilangan setengah nyawanya, bahkan mungkin lebih dari setengah. Namun di satu
sisi Isma wajib bersyukur kepada Tuhan. Sejak Tari pergi selamanya, jiwa Kandar
mulai mengalami perubahan. Walau hanya sedikit, itu sudah cukup untuk
mengurangi kesedihan Isma yang menggunung. Kandar yang biasanya angkuh dan
galak, kini menjadi lebih rendah hati. Sedikit-sedikit ia sudah mau bergaul
dengan tetangganya.
Setelah bosan sedih setiap hari, Isma
teringat nasehat Sujar kemarin. Ia renungkan dalam-dalam nasehat orang tua sholeh itu.
Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. Tanpa pikir panjang lagi,
Isma langsung meningkatkan ibadahnya. Dengan ilmu agama yang masih sangat
minim, Isma beribadah semampunya. Ia hanya berusaha beribadah dengan secuil
ilmu agama yang dimilikinya. Tidak boleh lebih dari itu, tapi juga tidak boleh
dikurangi.
Isma pun bersungguh-sungguh dalam dzikrullah. Ia beribadah dengan segenap
jiwa raganya. Tujuan utamanya hanya satu. Meraih kedamaian hati. Sholat lima waktu yang selama
ini masih sering ia tinggalkan, kini ia kerjakan dengan sekomplit-komplitnya.
Setelah sholat wajib terpenuhi dengan sempurna, ia menambah ibadahnya dengan
ibadah-ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Awalnya memang teramat berat untuk
dikerjakan, tapi demi meraih tujuan yang sangat mulia, akhirnya Isma memutuskan untuk maju terus pantang
mundur. Terus menerus Isma menangis di hadapan Allah. Ia adukan segala derita
batinnya kepada Zat Yang Maha Sempurna.
Tiga minggu kemudian, Isma sudah bisa
tersenyum lagi. Usaha kerasnya untuk membersihkan hati dan pikiran, sedikit
banyak sudah terwujud. Apalagi sejak ia berkenalan dengan Dewi Aminah, ustadzah
dari kampung Bumi Wetan. Aminah sering memberi taushiyah (nasehat) kepada Isma. Taushiyah yang membuat derita Isma semakin berkurang banyak. Perempuan
sholehah berjilbab lebar itu benar-benar bisa mengerti kesedihan Isma. Hal
itulah yang membuat mereka semakin akrab. Aminah juga yang membuat ilmu agama
Isma bertambah sedikit demi sedikit.
Selain itu, Isma juga sering dihibur
oleh Bu Yono atau Bu Darti, perempuan yang kemarin menolong Isma di makam Tari.
Perempuan yang rumahnya berada di satu gang dengan rumah Isma, hanya terpaut satu rumah. Bagi Isma, Bu
Darti itu tetangga terbaiknya. Sejak Isma menjadi warga Bumi Indah, Bu Darti
itu satu-satunya tetangga yang bisa langsung kenal baik dengan Isma, jadi wajar
kalau saat Isma pingsan kemarin dia yang paling peduli terhadap Ny. Kandar.
Perempuan yang usianya hampir setengah abad itu memang mirip Isma. Sudah
cantik, pintar, lembut, jiwa sosial tinggi. Dialah orang pertama yang menjadi
konsumen kue bolu Isma. Dia pula yang sudah mengenalkan Isma dengan Ustadzah
Aminah.
Sebulan setelah meninggalnya Tari,
Isma benar-benar sudah pulih dari luka hatinya yang mendalam. Ia sangat
berterima kasih pada tiga orang ini. Sujar, Darti dan Ustadzah Aminah. Baginya,
tiga orang inilah yang sudah memberinya bantuan besar untuk menyembuhkan luka
batinnya. Walaupun badannya menjadi lebih kurus, wajahnya sudah cerah lagi.
Tentu saja semua tetangga baiknya ikut lega bukan main, terutama ibu-ibu
pengajian dan arisan, yang sebagian besar dari mereka termasuk pelanggan kuenya. (Bersambung)
Karya: Harry Puter
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment