Saturday, 29 June 2013

Buku Menjual Nama

             Naskah ini masih berhubungan dengan dua naskah penulis sebelumnya. Selain karya seni dalam bentuk visual atau media elektronik berupa film dan sinetron, kita juga perlu menyorot karya seni dan sastra dalam bentuk media cetak, yaitu buku. Buku adalah gudangnya ilmu. Dari buku kita bisa meraih secuil hingga segunung ilmu. Walaupun di jaman modern ini orang bisa meraih ilmu pengetahuan lewat internet, orang yang mencari ilmu lewat buku tetap terhitung banyak, bahkan
kemungkinan besar masih lebih banyak dari yang melalui internet. Salah satu alasannya, buku bisa dibawa ke mana-mana, entah yang tebal maupun yang tipis. Kita bisa melihat para pengunjung toko buku di manapun. Jumlah pengunjungnya relatif banyak. Hanya saja, banyak dari kita yang hanya membaca buku-buku tertentu saja, khususnya kaum muda. Mayoritas dari mereka hanya suka membaca buku yang lagi best seller atau lagi terkenal. Itulah salah satu sebab munculnya pendapat yang berbunyi: Minat baca mayoritas masyarakat kita dibilang masih rendah.
          Alhamdulillah, kita patut bersyukur dengan munculnya para penulis muda yang sekarang menjadi penulis kondang, bahkan juga sudah diakui oleh manca negara. Kita sebut: Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih-nya, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya, Dewi Lestari atau Dee dengan Super Nova-nya, Ahmad Fuadi dengan trilogi Negeri Lima Menara-nya, Donny Dirgantoro dengan  5 cm-nya, Taufiqurrahman Al-Azizi dengan Munajat Cinta-nya, atau Raditya Dika dengan Cinta Dalam Kardus-nya. Naskah-naskah tersebut berkualitas, diakui masyarakat, dan akhirnya diangkat ke layar lebar. Kemampuan menulis mereka sudah bisa dikatakan setara dengan penulis-penulis terdahulu macam Achdiat Karta Mihardja, Buya Hamka, Mira W, Marga T atau NH Dini. Kepopuleran Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih atau Laskar Pelangi hampir menyamai kepopuleran Harry Potter-nya JK Rowling, penulis wanita terkaya di Inggris.
          Namun sayang, keadaan mulai berubah seiring dengan berjalannya waktu. Sebagaimana film atau sinetron yang semakin terkenal di masyarakat, pengarang atau penulis yang bukunya semakin terkenal, menjadi agak lupa diri. Penulis kondang yang awalnya belum kondang, dimana saat itu ia benar-benar menulis dengan idealisme-nya, menjadi tidak begitu idealis karena bisnis atau tuntutan pasar. Idealisme-nya semakin terkikis oleh komersialisme. Ketika namanya sama sekali belum dikenal di dunia sastra, ia bisa menulis dengan sepenuh hatinya. Ia menulis dengan seluruh idealisme-nya. Ia benar-benar ingin menciptakan karya yang berkualitas tinggi, dan tidak begitu memikirkan apakah karyanya nanti bisa diterima masyarakat luas atau tidak, bisa jadi terkenal atau tidak.
          Atas ijin Allah SWT, karyanya menjadi terkenal, yang tentu saja membuat namanya ikut terkenal. Sekali dua kali ia masih bisa mempertahankan kualitas naskahnya. Ia masih bisa menciptakan karya yang berkualitas, yang tidak sekedar memenuhi tuntutan pasar. Namun setelah beberapa kali, idealisme-nya mulai goyah oleh keinginan untuk bisnis. Prinsip awalnya yang selalu menomorsatukan kualitas sebuah karya tulis, semakin lama semakin melemah karena godaan komersialis. Pada akhirnya, penulis-penulis hebat tersebut, entah siapa dia, tidak perlu kita sebutkan, hanya menulis untuk kepentingan bisnis atau komersialis. Akibatnya, hanya namanya yang masih terkenal, sedangkan karya tulisnya sudah banyak yang amburadul. Namanya masih terkenal, namun buku hasil karyanya hanya buku yang menjual namanya. Pokoknya nama penulisnya sudah tenar, entah karyanya masih berkualitas atau sudah tidak karuan, diterbitkan saja, yang penting laku. Demikianlah prinsip beberapa penerbit buka di negara kita. 
          Hal ini tidak berlaku bagi penerbit-penerbit buku di manca negara, khususnya di barat. Di sana, walaupun penulisnya sudah terkenal, kalau karya tulisnya buruk, ya tetap tidak diterbitkan. Penerbit-penerbit buku di sana tetap menomorsatukan kualitas karya tulis. Walaupun penulis sepopuler JK Rowling dengan Harry Potter-nya, Sir Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya, Alfred Hithchock dengan Trio Detektif-nya, Stephen King dengan naskah-naskah horor-nya, atau Agatha Christie dengan Miss Marple-nya, kalau mereka menulis asal-asalan, ya tetap tidak diterbitkan. Sebaliknya, walaupun penulisnya sama sekali belum terkenal, penulisnya masih kelas teri, kalau tulisan hasil karyanya sangat bagus, kemungkinan besar akan diterbitkan. Penerbit buku di sana sangat membedakan antara nama kondang penulis dengan karya tulisnya.
          Sekali lagi penulis katakan: penulis tidak memungkiri bisnis atau komersialisme, sebab itu memang untuk hidup. Namun sebisa mungkin, idealisme tetap harus ada, syukur tetap dinomorsatukan. Kalau  tujuan utama menulis hanya bisnis, ya tidak masalah, tapi kalau bisa idealisme tetap harus ada, sebab hanya itu satu-satunya jalan bagi penulis untuk tetap menjaga kualitas naskahnya. Penulis hebat atau kondang harus sadar, jika ia hanya berkarya untuk bisnis, hal itu malah bisa menjatuhkan nama baiknya, dan sekarang hal itu benar-benar sudah terjadi. Sekarang ini banyak naskah yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, namun kualitasnya bisa dibilang rendah. Sebaliknya, banyak naskah yang sebenarnya cukup berkualitas, namun tidak atau belum ada penerbit yang mau menerbitkannya. Alasannya karena penulisnya tidak atau belum terkenal, sehingga penerbit takut kalau nanti mengalami kesulitan dalam menjual (tidak laku). Itu alasan yang logis, alasan yang harus bisa diterima dan dimaklumi oleh semua penulis yang naskahnya belum terbit, termasuk Penulis Kelas Coro ini.
          Lalu bagaimana kalau ada penulis atau penerbit buku yang berkata: “Kami  menulis atau menjual buku untuk hidup, untuk makan, minum, beli pakaian, tempat tinggal dan lain-lain. Jadi buku yang kami tulis dan kami jual ya yang harus bisa menghasilkan uang dengan mudah. Untuk itu, kami hanya menerbitkan buku-buku yang sudah terkenal, yang bisa cepat laku.” Mengenai pendapat ini penulis bisa berkomentar: “Itu semua alasan yang tidak bisa dipungkiri. Tapi kalau kita tetap ingin menjadi penulis idealis, penulis yang benar-benar mengutamakan kualitas, penulis yang tidak terpengaruh selesa pasar, bahkan tidak ingin terkenal, ya kita harus punya kerjaan lain yang sekedar untuk makan. Dengan demikian, yang jadi sambilan ya menulisnya, sedangkan kerjaan utama kita ya yang bisa untuk makan dan beli tempat tinggal itu. Penulis yang benar-benar ingin menulis apa yang ingin dia tulis, tidak menulis karena untuk bisnis, mau tidak mau dia harus menjadikan hobi menulisnya sebagai sambilan saja.    
          Demikian saja pembahasan singkat tentang kualitas buku di negara kita. Mari kita berdoa, semoga penulis-penulis kondang yang sudah penulis sebutkan di atas tetap bisa menjaga kualitas naskah mereka. Amin. Semoga naskah singkat ini ada manfaatnya bagi siapapun yang ingin menjadi penulis, seniman atau sastrawan besar. Amin. Kritik, saran, nasehat atau apapun istilahnya, selalu penulis tunggu dari para pembaca yang budiman. Wassalam.
                                                                                        Yogyakarta, 29 Juni 2013
                                         Harry Puter PKC (Penulis Kelas Coro)
          Nama asli Penulis: Harry Prabowo. Dijuluki Harry Puter karena muter-muter cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter karena ditolak-tolak. Penulis tinggal di Yogyakarta. Punya tujuh naskah, semuanya berbentuk novel. Yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku baru tiga naskah, sedangkan yang empat masih dalam bentuk file. Trima kasih.

0 comments:

Post a Comment

 
;