Naskah ini masih berhubungan dengan dua naskah penulis sebelumnya. Selain
karya seni dalam bentuk visual atau media elektronik berupa film dan sinetron,
kita juga perlu menyorot karya seni dan sastra dalam bentuk media cetak, yaitu
buku. Buku adalah gudangnya ilmu. Dari buku kita bisa meraih secuil hingga
segunung ilmu. Walaupun di jaman modern ini orang bisa meraih ilmu pengetahuan
lewat internet, orang yang mencari ilmu lewat buku tetap terhitung banyak,
bahkan
kemungkinan besar masih lebih banyak dari yang melalui internet. Salah satu alasannya, buku bisa dibawa ke mana-mana, entah yang tebal maupun yang tipis. Kita bisa melihat para pengunjung toko buku di manapun. Jumlah pengunjungnya relatif banyak. Hanya saja, banyak dari kita yang hanya membaca buku-buku tertentu saja, khususnya kaum muda. Mayoritas dari mereka hanya suka membaca buku yang lagi best seller atau lagi terkenal. Itulah salah satu sebab munculnya pendapat yang berbunyi: Minat baca mayoritas masyarakat kita dibilang masih rendah.
kemungkinan besar masih lebih banyak dari yang melalui internet. Salah satu alasannya, buku bisa dibawa ke mana-mana, entah yang tebal maupun yang tipis. Kita bisa melihat para pengunjung toko buku di manapun. Jumlah pengunjungnya relatif banyak. Hanya saja, banyak dari kita yang hanya membaca buku-buku tertentu saja, khususnya kaum muda. Mayoritas dari mereka hanya suka membaca buku yang lagi best seller atau lagi terkenal. Itulah salah satu sebab munculnya pendapat yang berbunyi: Minat baca mayoritas masyarakat kita dibilang masih rendah.
Alhamdulillah, kita patut bersyukur dengan munculnya para penulis
muda yang sekarang menjadi penulis kondang, bahkan juga sudah diakui oleh manca
negara. Kita sebut: Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-Ayat Cinta dan Ketika
Cinta Bertasbih-nya, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya, Dewi Lestari atau
Dee dengan Super Nova-nya, Ahmad Fuadi dengan trilogi Negeri Lima Menara-nya,
Donny Dirgantoro dengan 5 cm-nya,
Taufiqurrahman Al-Azizi dengan Munajat Cinta-nya, atau Raditya Dika dengan
Cinta Dalam Kardus-nya. Naskah-naskah tersebut berkualitas, diakui masyarakat,
dan akhirnya diangkat ke layar lebar. Kemampuan menulis mereka sudah bisa
dikatakan setara dengan penulis-penulis terdahulu macam Achdiat Karta Mihardja,
Buya Hamka, Mira W, Marga T atau NH Dini. Kepopuleran Ayat-Ayat Cinta, Ketika
Cinta Bertasbih atau Laskar Pelangi hampir menyamai kepopuleran Harry
Potter-nya JK Rowling, penulis wanita terkaya di Inggris.
Namun sayang, keadaan mulai
berubah seiring dengan berjalannya waktu. Sebagaimana film atau sinetron yang
semakin terkenal di masyarakat, pengarang atau penulis yang bukunya semakin
terkenal, menjadi agak lupa diri. Penulis kondang yang awalnya belum kondang,
dimana saat itu ia benar-benar menulis dengan idealisme-nya, menjadi tidak
begitu idealis karena bisnis atau tuntutan pasar. Idealisme-nya semakin
terkikis oleh komersialisme. Ketika namanya sama sekali belum dikenal di dunia
sastra, ia bisa menulis dengan sepenuh hatinya. Ia menulis dengan seluruh
idealisme-nya. Ia benar-benar ingin menciptakan karya yang berkualitas tinggi,
dan tidak begitu memikirkan apakah karyanya nanti bisa diterima masyarakat luas
atau tidak, bisa jadi terkenal atau tidak.
Atas ijin Allah SWT,
karyanya menjadi terkenal, yang tentu saja membuat namanya ikut terkenal.
Sekali dua kali ia masih bisa mempertahankan kualitas naskahnya. Ia masih bisa
menciptakan karya yang berkualitas, yang tidak sekedar memenuhi tuntutan pasar.
Namun setelah beberapa kali, idealisme-nya mulai goyah oleh keinginan untuk
bisnis. Prinsip awalnya yang selalu menomorsatukan kualitas sebuah karya tulis,
semakin lama semakin melemah karena godaan komersialis. Pada akhirnya,
penulis-penulis hebat tersebut, entah siapa dia, tidak perlu kita sebutkan,
hanya menulis untuk kepentingan bisnis atau komersialis. Akibatnya, hanya
namanya yang masih terkenal, sedangkan karya tulisnya sudah banyak yang
amburadul. Namanya masih terkenal, namun buku hasil karyanya hanya buku yang
menjual namanya. Pokoknya nama penulisnya sudah tenar, entah karyanya masih berkualitas
atau sudah tidak karuan, diterbitkan saja, yang penting laku. Demikianlah
prinsip beberapa penerbit buka di negara kita.
Hal ini tidak berlaku bagi
penerbit-penerbit buku di manca negara, khususnya di barat. Di sana, walaupun
penulisnya sudah terkenal, kalau karya tulisnya buruk, ya tetap tidak
diterbitkan. Penerbit-penerbit buku di sana tetap menomorsatukan kualitas karya
tulis. Walaupun penulis sepopuler JK Rowling dengan Harry Potter-nya, Sir
Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya, Alfred Hithchock dengan Trio
Detektif-nya, Stephen King dengan naskah-naskah horor-nya, atau Agatha Christie
dengan Miss Marple-nya, kalau mereka menulis asal-asalan, ya tetap tidak
diterbitkan. Sebaliknya, walaupun penulisnya sama sekali belum terkenal,
penulisnya masih kelas teri, kalau tulisan hasil karyanya sangat bagus,
kemungkinan besar akan diterbitkan. Penerbit buku di sana sangat membedakan
antara nama kondang penulis dengan karya tulisnya.
Sekali lagi penulis
katakan: penulis tidak memungkiri bisnis atau komersialisme, sebab itu memang
untuk hidup. Namun sebisa mungkin, idealisme tetap harus ada, syukur tetap
dinomorsatukan. Kalau tujuan utama
menulis hanya bisnis, ya tidak masalah, tapi kalau bisa idealisme tetap harus
ada, sebab hanya itu satu-satunya jalan bagi penulis untuk tetap menjaga
kualitas naskahnya. Penulis hebat atau kondang harus sadar, jika ia hanya
berkarya untuk bisnis, hal itu malah bisa menjatuhkan nama baiknya, dan
sekarang hal itu benar-benar sudah terjadi. Sekarang ini banyak naskah yang
sudah diterbitkan dalam bentuk buku, namun kualitasnya bisa dibilang rendah.
Sebaliknya, banyak naskah yang sebenarnya cukup berkualitas, namun tidak atau
belum ada penerbit yang mau menerbitkannya. Alasannya karena penulisnya tidak
atau belum terkenal, sehingga penerbit takut kalau nanti mengalami kesulitan
dalam menjual (tidak laku). Itu alasan yang logis, alasan yang harus bisa
diterima dan dimaklumi oleh semua penulis yang naskahnya belum terbit, termasuk
Penulis Kelas Coro ini.
Lalu bagaimana kalau ada
penulis atau penerbit buku yang berkata: “Kami
menulis atau menjual buku untuk hidup, untuk makan, minum, beli pakaian,
tempat tinggal dan lain-lain. Jadi buku yang kami tulis dan kami jual ya yang
harus bisa menghasilkan uang dengan mudah. Untuk itu, kami hanya menerbitkan
buku-buku yang sudah terkenal, yang bisa cepat laku.” Mengenai pendapat ini
penulis bisa berkomentar: “Itu semua alasan yang tidak bisa dipungkiri. Tapi
kalau kita tetap ingin menjadi penulis idealis, penulis yang benar-benar
mengutamakan kualitas, penulis yang tidak terpengaruh selesa pasar, bahkan
tidak ingin terkenal, ya kita harus punya kerjaan lain yang sekedar untuk
makan. Dengan demikian, yang jadi sambilan ya menulisnya, sedangkan kerjaan utama
kita ya yang bisa untuk makan dan beli tempat tinggal itu. Penulis yang
benar-benar ingin menulis apa yang ingin dia tulis, tidak menulis karena untuk
bisnis, mau tidak mau dia harus menjadikan hobi menulisnya sebagai sambilan
saja.
Demikian saja pembahasan
singkat tentang kualitas buku di negara kita. Mari kita berdoa, semoga
penulis-penulis kondang yang sudah penulis sebutkan di atas tetap bisa menjaga
kualitas naskah mereka. Amin. Semoga naskah singkat ini ada manfaatnya bagi
siapapun yang ingin menjadi penulis, seniman atau sastrawan besar. Amin.
Kritik, saran, nasehat atau apapun istilahnya, selalu penulis tunggu dari para
pembaca yang budiman. Wassalam.
Yogyakarta, 29 Juni 2013
Harry Puter PKC (Penulis Kelas Coro)
Nama asli Penulis:
Harry Prabowo. Dijuluki Harry Puter karena muter-muter
cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter
karena ditolak-tolak. Penulis tinggal di Yogyakarta. Punya tujuh naskah,
semuanya berbentuk novel. Yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku baru tiga
naskah, sedangkan yang empat masih dalam bentuk file. Trima kasih.

0 comments:
Post a Comment