Sekitar tahun 2001-2002, ketika penulis kuliah di D-2 Komunikasi Jurnalistik PPKP UNY, ada seorang dosen wanita yang ketika mengajar menyinggung sedikit tentang sinetron-sinetron masa kini. Dosen penulis itu sebut saja Bu Sri (bukan nama sebenarnya, sebab nama sebenarnya penulis sudah agak lupa). Saat itu Bu Sri mengkritik sinetron ‘Tersanjung’ yang episode-nya sampai 6. Satu episode bisa sekitar 70 seri. Bu Sri merasa sebel atau jengkel, dan mungkin juga banyak orang yang jengkel terhadap sinetron tersebut. Bu Sri berkata,
“Dumeh atau mentang-mentang rating-nya semakin meningkat, penggemarnya semakin banyak, jumlah serinya langsung diperbanyak. Hasilnya, ceritanya malah semakin tidak karuan. Tentu saja penilaian masyarakat menjadi berubah. Masyarakat menjadi bosan, walaupun yang menonton sinetron tersebut masih banyak. Masih banyak karena ingin segera tahu ending atau akhir ceritanya seperti apa. Kalau menurut saya, yang terbaik untuk cerita serial, entah film atau drama, justru yang jumlah seri atau episode-nya tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Ceritanya ringkas tapi padat. Insya Allah, yang seperti itu akan lebih dikenang masyarakat. Insya Allah, yang seperti akan lebih berkesan di hati masyarakat. “
Begitulah komentar salah seorang
dosen penulis di PPKP UNY. Penulis mererspon positif tanggapan di atas. Sebenarnya masih banyak sinetron selain
‘Tersanjung’ yang ceritanya cuma diputer-puter.
Kita bisa ambil contoh: Misteri Gunung Merapi (Sembara vs Mak Lampir),
Angling Darmo, atau Tutur Tinular. Menurut penulis, jumlah seri ketiga sinetron
silat tersebut terlalu banyak, walaupun akhirnya juga selesai. Begitu pula sinetron-sinetron sekarang.
Contohnya: TBH (Tukang Bubur Naik Haji) dan RKS (Raden Kian Santang). Ceritanya
bertele-tele. Ketika konflik sudah nyaris selesai, konflik sudah mencapai
puncak, ceritanya malah ditambah atau diputar-putar lagi, muncul lagi
tokoh-tokoh baru yang seharusnya tidak perlu. Tokoh-tokoh baru tersebut
tujuannya hanya untuk memperpanjang cerita. Cerita yang awalnya cukup bagus,
menjadi tidak karuan karena diputer-puter.
Cerita yang awalnya dibangun dengan idealisme, menjadi tidak jelas karena
faktor bisnis.
Cerita itu harus dibatasi. Jangan
sampai membuat pemirsa menjadi bosan. Pemirsa yang sebelumnya menyukai drama
atau sinetron tersebut, menjadi jenuh karena apa yang mereka lihat terkesan
tidak ada habisnya. Kalau mayoritas pemirsa menganggap cerita tersebut bagusnya
sudah selesai, ya sudah, diselesaikan saja. Kalau mayoritas masyarakat menganggap
cerita tersebut bagusnya cuma sampai seri ke 25, ya sudah, ditamatkan saja di
seri 25, jangan malah ditambah menjadi seri ke 35 atau 45. Jadi intinya, karya
seni itu juga perlu memperhatikan bisnis atau penilaian masyakat, tapi
idealisme tetap harus ada, bahkan harus tetap jadi prioritas utama. Kalau
bisnis sudah menjadi tujuan utama, ya tidak apa-apa, boleh-boleh saja, tapi
idealisme tetap harus ada, walaupun cuma berapa persen.
Seingat penulis, hampir tidak ada
film atau drama seri jadul yang berkesan di hati, yang jumlah episode-nya
mencapai ratusan. Bahkan seingat penulis, tidak ada serial silat, telenovela
atau drama yang bagi penulis menyentuh hati, yang jumlah seri-nya di atas 70.
Penulis berani menjamin, Insya Allah. Walaupun sinetron-sinetron sekarang,
sinetron yang jumlah seri-nya dipanjangkan sampai ratusan, masih ditonton
banyak orang, dalam jangka waktu yang tidak lama, mayoritas pemirsa akan merasa
jenuh atau bosan. Kenapa bosan? Ya karena ceritanya terkesan semakin
mengada-ada. Kenapa mengada-ada? Ya karena harusnya sudah selesai, malah
ditambah lagi seri-nya. Kenapa seri-nya ditambah-tambah? Ya karena penontonnya
masih banyak. Nanti kalau penontonnya semakin sedikit, ceritanya langsung
ditamatkan.
Idealis harus tetap
di atas komersialis
Sampai sekarang penulis masih
terkesan dengan nasehat Bu Sri yang berbunyi: “Ceritanya ringkas tapi padat.”
Kalimat inilah yang melatarbelakangi judul naskah singkat ini. kalimat inilah
yang Insya Allah akan menjadi prinsip kami dalam membuat atau menulis suatu
cerita. Dan mudah-mudahan kalimat ini juga bisa dijadikan prinsip oleh para
penulis seni dan sastra di manapun. Penulis yang idealis, Insya Allah akan
melahirkan karya yang bagus dan menyentuh hati, walaupun bagus tidaknya suatu
karya itu relatif. Penulis yang idealis
itu benar-benar menomorsatukan kualitas, setelah itu baru memikirkan bisnis
atau respon masyarakat.
Mungkin ada pembaca yang suatu saat
nanti akan berkomentar: “Sinetron sekarang memang bertele-tele, jumlah
episode-nya terlalu banyak, dll. Tapi nyatanya? Jumlah penontonnya masih
banyak, walaupun yang sudah bosan juga tidak kalah banyak.” Oke, penulis terima
komentar tersebut. Namun sebagaimana yang sudah penulis sebutkan di atas,
sinetron yang seperti itu, suatu saat nanti, entah masih lama atau tidak, pasti
akan membuat penonton bosan. Sedangkan sinetron yang tetap mengutamakan
kualitas cerita, Insya Allah akan lebih berkesan di hati penonton. Buktinya?
Banyak yang sependapat dengan penulis, bahwa kisah yang ringkas tapi padat itu
lebih disukai mayoritas masyarakat. Dengan demikian, menurut penulis, idealis
tetap harus nomor satu. Idealis tetap harus lebih diutamakan dari komersialis.
Idealis harus lebih banyak dari komersialis. Bukan fifty-fifty atau seimbang. Idealis 60 persen, sedangkan bisnis 40
persen, atau bahkan idealis bisa 70 persen, sedangkan bisnis hanya 30 persen,
atau bisa juga lebih dari itu.
Buktinya? Banyak atau ada karya yang
dibangun dengan idealisme, kemudian mendapat tanggapan luar biasa dari
masyarakat. Contohnya: ‘Kembalinya Sang Pendekar Rajawali,’ yang mengisahkan
percintaan Yoko dan Gadis Naga Kecil, wanita cantik yang berstatus bibi
asuhnya. Jumlah seri-nya cukup 30. Ketika film seri silat Mandarin tersebut
pertama kali ditayangkan Indosiar pada hari senin-jumat, mayoritas orang
menyediakan waktu untuk melihatnya. Setelah kisah itu selesai, mayoritas
penonton benar-benar terkesan. Sampai-sampai penulis melihat sendiri, ada
spanduk yang berbunyi: “Selamat Berbahagia Yoko dan Bibi Lung.” Padahal itu
hanya kisah fiktif. Sungguh luar biasa.
Tapi bisa kita bayangkan, seandainya
Yoko itu jumlah episode-nya lebih dari 30, tanggapan masyarakat akan berbeda,
bahkan tidak menutup kemungkinan ceritanya menjadi tidak atau kurang bagus.
Coba kita bayangkan kalau Yoko itu ada kelanjutannya. Coba kita bayangkan kalau
Yoko yang sudah mencapai seri 30 itu ada lagi seri ke 31, 35 hingga 40 atau 45,
tentu nuansanya akan berbeda, dan para penonton yang menjadi penggemarnya belum
tentu akan memberi tanggapan positif. Dengan demikian, kalau suatu cerita itu
memang bagusnya sudah habis, ya sudah, dihabiskan saja, setelah itu buat lagi
cerita yang lain. Jangan malah dipanjangkan atau diputar-putar menjadi tidak
karuan. Mungkin awalnya si penulis cerita sudah berniat menghabiskan ceritanya
sampai seri 15, tapi begitu melihat penggemarnya semakin membludak, jumlah
seri-nya langsung ditambah. Akibatnya, kualitas ceritanya menjadi terbengkelai.
Ceritanya menjadi bertele-tele.
Demikian saja pembahasan singkat
tentang perkembangan film dan sinetron di negeri tercinta kita. Penulis hanya
berharap, mudah-mudahan naskah singkat ini bisa menjadi masukan atau nasehat
yang berharga atau bermanfaat bagi para pemilik Rumah Produksi, juga bagi para
sineas di Indonesia, khususnya para sineas yang masih muda. Amin. Kritik dan
saran dari pembaca yang budiman selalu dinanti penulis. Wassalam.
Yogyakarta, 29 Juni 2013
Harry Puter PKC (Penulis Kelas Coro)

0 comments:
Post a Comment