Saturday, 29 June 2013

Budaya Bertele-Tele

           Naskah ini kami harapkan bisa menjadi masukan atau nasehat untuk para seniman dan sastrawan semacam penulis novel, sutradara, penulis skenario film, drama atau sinetron. Bahkan penulis juga berharap, semoga naskah singkat ini bisa menjadi masukan yang bermakna untuk para pemilik Prodution House atau Rumah Produksi di Indonesia. Penulis sangat berharap, semoga naskah singkat ini sedikit banyak bisa membantu perkembangan film dan drama di negeri kita.
         
Kami sebagai PKC (Penulis Kelas Coro), sama sekali tidak berniat menggurui para pembaca yang budiman, khususnya para pecinta film dan sinetron karya anak bangsa. Kami sebagai penulis yang masih minim pengalaman, juga tidak boleh merasa lebih hebat dari mereka (para penulis skenario film dan sinetron, baik film seri maupun film cerita). Kami sebagai seorang Muslim (semoga Muslim yang baik, bukan yang KTP atau abangan), hanya mencoba mengamalkan surat Al-Ashr ayat ketiga atau ayat terakhir yang artinya: “..Dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.” Motivator Mario Teguh juga pernah berkata: “Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Sedangkan orang yang tidak pernah berhenti akan menjadi pemilik masa depan.” Karena itu, kami sebagai Penulis Kelas Coro, akan selalu berusaha untuk terus belajar. Dan mudah-mudahan para pembaca yang budiman juga tidak akan pernah berhenti belajar. Amin.           
          Sekarang ke perkara inti. Penulis memang menggemari karya seni macam film, sinetron dan sejenisnya. Hal itu karena sejak kecil penulis sudah sering nonton film Super Hero buatan Jepang atau Amerika, juga film silat klasik Mandarin semacam Reincarnated (Pendekar Ulat Sutera), Legend of The Condor Hero (Legenda Pendekar Rajawali), Return of The Condor Hero (Kembalinya Sang Pendekar Rajawali, tokoh utamanya bernama Yoko, yang tentunya para pembaca sudah banyak yang tahu), Heaven Sword and The Dragon Sabre (Pedang Langit/Surga dan Golok Naga), The Flying Dagger (Pisau Terbang), The Flying Fox of Snowy Mountain (Rase Terbang dari Gunung Salju), dan lain-lain.
          Ketika itu acara di televisi masih TVRI. Penulis dan keluarga melihat acara-acaranya yang berupa film lepas, film seri dan sinetron. Setelah saluran-saluran lain bermunculan di televisi, acaranya menjadi jauh lebih baik dan berkembang. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan penulis sekeluarga. Waktu itu RCTI, SCTV, Trans TV, TPI atau Indosiar sering menayangkan film silat klasik yang sudah penulis sebutkan di atas. Selain itu, RCTI atau SCTV juga sering menanyangkan sinetron dari Venezuela, Amerika Latin, yang terkenal dengan sebutan Telenovela. Sayangnya, sekarang saluran-saluran TV kita sudah tidak pernah menayangkan acara-acara tersebut. Entah apa sebabnya, penulis tidak atau belum tahu. Mungkin sudah kalah oleh sinetron.
          Dalam naskah singkat ini, Penulis mencoba membandingkan drama atau sinetron di TVRI dulu dengan sinetron-sinetron yang sekarang ditayangkan RCTI dan SCTV. Menurut penulis, sinetron-sinetron sekarang ini ceritanya sering berbelit-belit atau diputar-putar. Kita lihat sinetron ‘Tersanjung,’ sinetron yang dibintangi oleh Ari Wibowo dan Lulu Tobing. Sinetron yang diputar di Indosiar itu seri atau episodenya dibuat terlalu banyak. Sinetron Tersanjung dibuat sampai enam episode, padahal satu sampai tiga episode saja sudah cukup panjang. Ceritanya juga semakin tidak karuan dan mengada-ada. Ceritanya yang mungkin sudah habis di episode tiga, malah dibuat atau ditambah-tambah menjadi episode empat, lima sampai enam. Begitu juga dengan sinetron yang sekarang masih ditayangkan RCTI. Sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’ dan ‘Berkah.’ Tukang Bubur Naik Haji, konon dibuat sampai lima ratus episode. Begitu juga dengan sinetron ‘RKS (Raden Kian Santang),’ sinetron kolosal yang ditayangkan MNC TV (dulu TPI). Kemarin penulis membaca tabloid GENIE, sinetron silat tersebut akan dibuat 1007 episode. Wah, wah, banyak sekali ya?
          Menurut penulis, sinetron yang dibuat sampai ratusan episode itu terlalu banyak. Bahkan bagi penulis, sinetron yang episode-nya di atas lima puluh itu sudah kebanyakan. Menurut penulis, sinetron atau film seri yang ideal itu justru yang episode-nya tidak terlalu banyak. Episode-nya sekitar 30-40 saja, bahkan bisa kurang dari itu. Kita bisa melihat film silat klasik macam Pendekar Ulat Sutra, Rase Terbang dari Gunung Salju, atau Pemanah Burung Rajawali. Jumlah episode-nya kurang lebih hanya tiga puluh, bahkan ada yang hanya dua lima atau dua puluh. Kita juga bisa melihat telenovela jadul yang pernah ditayangkan TVRI. Telenovela macam ‘Little Missy’ atau ‘Escrava Isaura,’ atau telenovela yang pernah ditayangkan SCTV macam Maria Marcedes, Cassandra atau Alicia. Sinetron-sinetron dari Amerika Latin tersebut jumlah episodenya kurang lebih hanya sekitar 50, maksimal 60.
          Awalnya penulis mengikuti sinetron ‘Berkah,’ sinetron yang ditayangkan RCTI pada pukul 21.00, lalu diubah menjadi pukul 19.00. Bagi penulis, drama yang dibintangi oleh Samuel Zylgwyn, Irish Bella, Meyda Safira dan Cuti Mini itu ceritanya cukup bagus, namun itu hanya di awal hingga pertengahan episode. Setelah itu ceritanya menjadi tidak karuan, terkesan mengada-mengada, berputar-putar atau bertele-tele. Karena ceritanya semakin tidak jelas jluntrungnya, penulis pun akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti sinetron religi tersebut. Cerita yang seharusnya sudah habis di seri ke 45, malah dibuat atau ditambah menjadi seri ke 55 atau 60, atau bahkan 70 hingga 100. Padahal yang namanya film atau drama seri itu ceritanya harus dibatasi, bukan malah diperpanjang dan diputer-puter, sehingga terkesan tidak ada habisnya. Para pemirsa yang sudah bosan pun akan bertanya: “Kisah ini selesainya kapan?”  
          Mungkinkah semua ini karena sifat bertele-tele sudah tertanam di jiwa masyarakat kita? Mungkinkah sifat bertele-tele sudah menjamur atau membudaya di masyarakat kita? Jawabannya: Kemungkinan besar iya. Dan untuk masalah bertele-tele, berbelit-belit atau berputar-putar, tidak hanya berlaku dalam pembuatan cerita film atau drama, tapi juga dalam banyak hal lainnya. Kami sebagai Penulis Kelas Coro, sangat berharap agar sinetron-sinetron sekarang mau belajar dari cerita silat Mandarin, telenovela, atau bisa juga belajar dari sinetron-sinetron jadul macam: Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Serumpun Bambu, Jendela Rumah Kita, Rumah Masa Depan, Losmen Bu Broto, Jaklyn, Deru Debu, Jalan Makin Membara, Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara dll. Sinetron-sinetron tersebut jumlah episode-nya tidak terlalu banyak, namun cukup membekas di hati pemirsa yang pernah mengikutinya.

          Bisnis Mengalahkan Idealis
          Menurut analisis penulis dan beberapa teman penulis yang juga menggemari karya seni, salah satu sebab utama sinetron-sinetron sekarang diperpanjang episodenya, sehingga terkesan bertele-tele atau berputar-putar itu karena faktor bisnis. Sekitar tahun 2006, kalau tidak salah sebelum gempa dahsyat yang mengguncang Yogyakarta, penulis bertemu dengan seorang pemuda sebaya penulis yang juga menggemari Super Hero Jepang macam: Voltus V, Goggle, Gaban, Sharivan dan sejenisnya. Penulis berkata: “Film-film Super Hero Jepang sekarang kok nggak ada yang sebagus dulu ya Mas? Kok nggak ada yang se-monumental Voltus V atau Sharivan. Begitu juga silat-silat Mandarin jaman sekarang. Nggak ada yang se-monumental Yoko (Pendekar Rajawali), Wan Fei Yang (Pendekar Ulat Sutra), atau Tio Boe Ki (Golok Pembunuh Naga)?”
          Pemuda berambut agak keriting itu menjawab: “Jaman sudah berubah Mas. Kalau film-film dulu masih sangat idealis. Tapi kalau sekarang lebih mengutamakan bisnis. Kalau sekarang nggak peduli ceritanya bagus atau tidak, menyentuh atau tidak, berkesan atau tidak. Yang terpenting: LAKU.” Penulis setuju dengan pendapat tersebut. Penulis tidak munafik soal bisnis. Penulis tidak memungkiri bisnis untuk hidup. Semua orang pasti butuh uang untuk hidup, dan salah satu cara untuk mendapat uang, apalagi uang yang banyak, ya dengan bisnis, termasuk bisnis karya seni dengan cara menulis novel, membuat film atau drama.             
          Akan tetapi para pembaca yang budiman, untuk soal karya seni, sebisa mungkin tetap harus memperhatikan idealis, walaupun bukan hal yang utama. Seniman yang sudah tidak memiliki idealis, tidak akan bisa konsisten atau teguh dalam menghasilkan karya. Karya seni yang hanya menomorsatukan bisnis, akan berubah-ubah jenisnya karena hanya mengikuti selera pasar. Kalau yang lagi ngetrend ini, ya bikin ini. Yang lagi ngetrend itu, ya bikin itu. Dengan dasar pemikiran seperti ini, seorang seniman atau sastrawan tidak akan bisa menciptakan karya yang berkesan di hati, sebab segala yang berkesan di hati itu belum tentu bisa menjadi kondang atau terkenal, dan segala yang terkenal itu belum tentu bagus atau berkesan di hati.
          Lihatlah sinetron-sinetron sekarang, khususnya yang masih tayang di RCTI, SCTV atau MNC TV. Bagi penulis dan beberapa orang yang sepikiran dengan penulis, sinetron-sinetron sekarang sudah kehilangan idealisme. Sinetron-sinetron sekarang lebih mengutamakan bisnis. Lihat saja. Mentang-mentang rating-nya di masyarakat semakin meningkat, mentang-mentang peminatnya semakin banyak, bahkan menjadi sinetron terfavorit, ceritanya langsung diperpanjang, bahkan setelah itu diputar-putar, seakan tidak ada habisnya. Cerita yang awalnya bagus dan menyentuh hati, yang seharusnya bagus kalau hanya sampai seri ke 20, eh malah dibuat atau dipanjangkan menjadi seri ke 30, atau bahkan sampai seri ke 50.         
          Salah seorang kawan penulis yang hobi sepak bola, khususnya Tim Oranye Belanda, pernah berkata: “Sinetron sekarang memang kayak gitu. Kalau tahu peminatnya semakin banyak, ceritanya langsung dipanjang-panjangkan, bahkan bertele-tele, nggak peduli lagi dengan kualitas ceritanya. Nanti kalau pemirsa sudah pada jenuh, ceritanya langsung ditamatkan.” Penulis setuju dengan pendapat kawan penulis, dan memang begitulah kenyataan yang sudah terjadi sekarang ini. Budaya Bertele-tele.
          Demikianlah naskah singkat tentang Budaya Bertele-Tele dalam pembuatan film atau sinetron. Penulis sangat senang jika ada di antara pembaca yang mau memberi masukan, saran, kritik atau apapun. Insya Allah, penulis akan menerimanya dengan lapang dada. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amin.

                                                                                          Yogyakarta, 28 Juni 2013                      
                                                           
Harry Puter PKC (Penulis Kelas Coro)
          Nama asli Penulis: Harry Prabowo. Dijuluki Harry Puter karena muter-muter cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter karena ditolak-tolak. Penulis tinggal di Yogyakarta. Punya tujuh naskah, semuanya berbentuk novel. Yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku baru tiga naskah, sedangkan yang empat masih dalam bentuk file. Trima kasih

0 comments:

Post a Comment

 
;