Naskah ini kami harapkan bisa menjadi
masukan atau nasehat untuk para seniman dan sastrawan semacam penulis novel,
sutradara, penulis skenario film, drama atau sinetron. Bahkan penulis juga
berharap, semoga naskah singkat ini bisa menjadi masukan yang bermakna untuk
para pemilik Prodution House atau
Rumah Produksi di Indonesia. Penulis sangat berharap, semoga naskah singkat ini
sedikit banyak bisa membantu perkembangan film dan drama di negeri kita.
Kami sebagai PKC (Penulis Kelas Coro), sama sekali tidak berniat menggurui para pembaca yang budiman, khususnya para pecinta film dan sinetron karya anak bangsa. Kami sebagai penulis yang masih minim pengalaman, juga tidak boleh merasa lebih hebat dari mereka (para penulis skenario film dan sinetron, baik film seri maupun film cerita). Kami sebagai seorang Muslim (semoga Muslim yang baik, bukan yang KTP atau abangan), hanya mencoba mengamalkan surat Al-Ashr ayat ketiga atau ayat terakhir yang artinya: “..Dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.” Motivator Mario Teguh juga pernah berkata: “Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Sedangkan orang yang tidak pernah berhenti akan menjadi pemilik masa depan.” Karena itu, kami sebagai Penulis Kelas Coro, akan selalu berusaha untuk terus belajar. Dan mudah-mudahan para pembaca yang budiman juga tidak akan pernah berhenti belajar. Amin.
Kami sebagai PKC (Penulis Kelas Coro), sama sekali tidak berniat menggurui para pembaca yang budiman, khususnya para pecinta film dan sinetron karya anak bangsa. Kami sebagai penulis yang masih minim pengalaman, juga tidak boleh merasa lebih hebat dari mereka (para penulis skenario film dan sinetron, baik film seri maupun film cerita). Kami sebagai seorang Muslim (semoga Muslim yang baik, bukan yang KTP atau abangan), hanya mencoba mengamalkan surat Al-Ashr ayat ketiga atau ayat terakhir yang artinya: “..Dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran.” Motivator Mario Teguh juga pernah berkata: “Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Sedangkan orang yang tidak pernah berhenti akan menjadi pemilik masa depan.” Karena itu, kami sebagai Penulis Kelas Coro, akan selalu berusaha untuk terus belajar. Dan mudah-mudahan para pembaca yang budiman juga tidak akan pernah berhenti belajar. Amin.
Sekarang ke perkara inti. Penulis
memang menggemari karya seni macam film, sinetron dan sejenisnya. Hal itu
karena sejak kecil penulis sudah sering nonton film Super Hero buatan Jepang
atau Amerika, juga film silat klasik Mandarin semacam Reincarnated (Pendekar Ulat Sutera), Legend of The Condor Hero (Legenda Pendekar Rajawali), Return of The Condor Hero (Kembalinya
Sang Pendekar Rajawali, tokoh utamanya bernama Yoko, yang tentunya para pembaca
sudah banyak yang tahu), Heaven Sword and
The Dragon Sabre (Pedang Langit/Surga dan Golok Naga), The Flying Dagger (Pisau Terbang), The Flying Fox of Snowy Mountain (Rase Terbang dari Gunung Salju),
dan lain-lain.
Ketika itu acara di televisi masih
TVRI. Penulis dan keluarga melihat acara-acaranya yang berupa film lepas, film
seri dan sinetron. Setelah saluran-saluran lain bermunculan di televisi,
acaranya menjadi jauh lebih baik dan berkembang. Tentu saja hal itu sangat
menggembirakan penulis sekeluarga. Waktu itu RCTI, SCTV, Trans TV, TPI atau
Indosiar sering menayangkan film silat klasik yang sudah penulis sebutkan di
atas. Selain itu, RCTI atau SCTV juga sering menanyangkan sinetron dari
Venezuela, Amerika Latin, yang terkenal dengan sebutan Telenovela. Sayangnya,
sekarang saluran-saluran TV kita sudah tidak pernah menayangkan acara-acara
tersebut. Entah apa sebabnya, penulis tidak atau belum tahu. Mungkin sudah
kalah oleh sinetron.
Dalam naskah singkat ini, Penulis
mencoba membandingkan drama atau sinetron di TVRI dulu dengan sinetron-sinetron
yang sekarang ditayangkan RCTI dan SCTV. Menurut penulis, sinetron-sinetron
sekarang ini ceritanya sering berbelit-belit atau diputar-putar. Kita lihat
sinetron ‘Tersanjung,’ sinetron yang dibintangi oleh Ari Wibowo dan Lulu
Tobing. Sinetron yang diputar di Indosiar itu seri atau episodenya dibuat
terlalu banyak. Sinetron Tersanjung dibuat sampai enam episode, padahal satu
sampai tiga episode saja sudah cukup panjang. Ceritanya juga semakin tidak
karuan dan mengada-ada. Ceritanya yang mungkin sudah habis di episode tiga,
malah dibuat atau ditambah-tambah menjadi episode empat, lima sampai enam.
Begitu juga dengan sinetron yang sekarang masih ditayangkan RCTI. Sinetron
‘Tukang Bubur Naik Haji’ dan ‘Berkah.’ Tukang Bubur Naik Haji, konon dibuat
sampai lima ratus episode. Begitu juga dengan sinetron ‘RKS (Raden Kian
Santang),’ sinetron kolosal yang ditayangkan MNC TV (dulu TPI). Kemarin penulis
membaca tabloid GENIE, sinetron silat tersebut akan dibuat 1007 episode. Wah,
wah, banyak sekali ya?
Menurut penulis, sinetron yang dibuat
sampai ratusan episode itu terlalu banyak. Bahkan bagi penulis, sinetron yang
episode-nya di atas lima puluh itu sudah kebanyakan. Menurut penulis, sinetron
atau film seri yang ideal itu justru yang episode-nya tidak terlalu banyak.
Episode-nya sekitar 30-40 saja, bahkan bisa kurang dari itu. Kita bisa melihat
film silat klasik macam Pendekar Ulat Sutra, Rase Terbang dari Gunung Salju,
atau Pemanah Burung Rajawali. Jumlah episode-nya kurang lebih hanya tiga puluh,
bahkan ada yang hanya dua lima atau dua puluh. Kita juga bisa melihat
telenovela jadul yang pernah ditayangkan TVRI. Telenovela macam ‘Little Missy’ atau ‘Escrava Isaura,’ atau telenovela yang pernah ditayangkan SCTV
macam Maria Marcedes, Cassandra atau Alicia. Sinetron-sinetron dari Amerika
Latin tersebut jumlah episodenya kurang lebih hanya sekitar 50, maksimal 60.
Awalnya penulis mengikuti sinetron
‘Berkah,’ sinetron yang ditayangkan RCTI pada pukul 21.00, lalu diubah menjadi
pukul 19.00. Bagi penulis, drama yang dibintangi oleh Samuel Zylgwyn, Irish
Bella, Meyda Safira dan Cuti Mini itu ceritanya cukup bagus, namun itu hanya di
awal hingga pertengahan episode. Setelah itu ceritanya menjadi tidak karuan,
terkesan mengada-mengada, berputar-putar atau bertele-tele. Karena ceritanya
semakin tidak jelas jluntrungnya, penulis
pun akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti sinetron religi tersebut. Cerita
yang seharusnya sudah habis di seri ke 45, malah dibuat atau ditambah menjadi
seri ke 55 atau 60, atau bahkan 70 hingga 100. Padahal yang namanya film atau
drama seri itu ceritanya harus dibatasi, bukan malah diperpanjang dan diputer-puter, sehingga terkesan tidak
ada habisnya. Para pemirsa yang sudah bosan pun akan bertanya: “Kisah ini
selesainya kapan?”
Mungkinkah semua ini karena sifat
bertele-tele sudah tertanam di jiwa masyarakat kita? Mungkinkah sifat
bertele-tele sudah menjamur atau membudaya di masyarakat kita? Jawabannya:
Kemungkinan besar iya. Dan untuk masalah bertele-tele, berbelit-belit atau
berputar-putar, tidak hanya berlaku dalam pembuatan cerita film atau drama,
tapi juga dalam banyak hal lainnya. Kami sebagai Penulis Kelas Coro, sangat
berharap agar sinetron-sinetron sekarang mau belajar dari cerita silat
Mandarin, telenovela, atau bisa juga belajar dari sinetron-sinetron jadul
macam: Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Serumpun Bambu, Jendela Rumah
Kita, Rumah Masa Depan, Losmen Bu Broto, Jaklyn, Deru Debu, Jalan Makin
Membara, Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara dll. Sinetron-sinetron
tersebut jumlah episode-nya tidak terlalu banyak, namun cukup membekas di hati
pemirsa yang pernah mengikutinya.
Bisnis Mengalahkan
Idealis
Menurut analisis penulis dan beberapa
teman penulis yang juga menggemari karya seni, salah satu sebab utama
sinetron-sinetron sekarang diperpanjang episodenya, sehingga terkesan
bertele-tele atau berputar-putar itu karena faktor bisnis. Sekitar tahun 2006,
kalau tidak salah sebelum gempa dahsyat yang mengguncang Yogyakarta, penulis
bertemu dengan seorang pemuda sebaya penulis yang juga menggemari Super Hero
Jepang macam: Voltus V, Goggle, Gaban, Sharivan dan sejenisnya. Penulis
berkata: “Film-film Super Hero Jepang sekarang kok nggak ada yang sebagus dulu
ya Mas? Kok nggak ada yang se-monumental Voltus V atau Sharivan. Begitu juga
silat-silat Mandarin jaman sekarang. Nggak ada yang se-monumental Yoko
(Pendekar Rajawali), Wan Fei Yang (Pendekar Ulat Sutra), atau Tio Boe Ki (Golok
Pembunuh Naga)?”
Pemuda berambut agak keriting itu
menjawab: “Jaman sudah berubah Mas. Kalau film-film dulu masih sangat idealis.
Tapi kalau sekarang lebih mengutamakan bisnis. Kalau sekarang nggak peduli
ceritanya bagus atau tidak, menyentuh atau tidak, berkesan atau tidak. Yang
terpenting: LAKU.” Penulis setuju dengan pendapat tersebut. Penulis tidak
munafik soal bisnis. Penulis tidak memungkiri bisnis untuk hidup. Semua orang
pasti butuh uang untuk hidup, dan salah satu cara untuk mendapat uang, apalagi
uang yang banyak, ya dengan bisnis, termasuk bisnis karya seni dengan cara
menulis novel, membuat film atau drama.
Akan tetapi para pembaca yang
budiman, untuk soal karya seni, sebisa mungkin tetap harus memperhatikan
idealis, walaupun bukan hal yang utama. Seniman yang sudah tidak memiliki
idealis, tidak akan bisa konsisten atau teguh dalam menghasilkan karya. Karya
seni yang hanya menomorsatukan bisnis, akan berubah-ubah jenisnya karena hanya
mengikuti selera pasar. Kalau yang lagi ngetrend
ini, ya bikin ini. Yang lagi ngetrend
itu, ya bikin itu. Dengan dasar pemikiran seperti ini, seorang seniman atau
sastrawan tidak akan bisa menciptakan karya yang berkesan di hati, sebab segala
yang berkesan di hati itu belum tentu bisa menjadi kondang atau terkenal, dan
segala yang terkenal itu belum tentu bagus atau berkesan di hati.
Lihatlah sinetron-sinetron sekarang,
khususnya yang masih tayang di RCTI, SCTV atau MNC TV. Bagi penulis dan
beberapa orang yang sepikiran dengan penulis, sinetron-sinetron sekarang sudah
kehilangan idealisme. Sinetron-sinetron sekarang lebih mengutamakan bisnis.
Lihat saja. Mentang-mentang rating-nya
di masyarakat semakin meningkat, mentang-mentang peminatnya semakin banyak,
bahkan menjadi sinetron terfavorit, ceritanya langsung diperpanjang, bahkan
setelah itu diputar-putar, seakan tidak ada habisnya. Cerita yang awalnya bagus
dan menyentuh hati, yang seharusnya bagus kalau hanya sampai seri ke 20, eh
malah dibuat atau dipanjangkan menjadi seri ke 30, atau bahkan sampai seri ke
50.
Salah seorang kawan penulis yang hobi
sepak bola, khususnya Tim Oranye Belanda, pernah berkata: “Sinetron sekarang
memang kayak gitu. Kalau tahu
peminatnya semakin banyak, ceritanya langsung dipanjang-panjangkan, bahkan
bertele-tele, nggak peduli lagi dengan kualitas ceritanya. Nanti kalau pemirsa
sudah pada jenuh, ceritanya langsung ditamatkan.” Penulis setuju dengan
pendapat kawan penulis, dan memang begitulah kenyataan yang sudah terjadi
sekarang ini. Budaya Bertele-tele.
Demikianlah naskah singkat tentang
Budaya Bertele-Tele dalam pembuatan film atau sinetron. Penulis sangat senang
jika ada di antara pembaca yang mau memberi masukan, saran, kritik atau apapun.
Insya Allah, penulis akan menerimanya dengan lapang dada. Semoga yang sedikit
ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Amin.
Yogyakarta, 28 Juni 2013
Harry Puter PKC (Penulis Kelas Coro)
Nama asli Penulis: Harry
Prabowo. Dijuluki Harry Puter karena muter-muter
cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter
karena ditolak-tolak. Penulis tinggal di Yogyakarta. Punya tujuh naskah,
semuanya berbentuk novel. Yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku baru tiga
naskah, sedangkan yang empat masih dalam bentuk file. Trima kasih
0 comments:
Post a Comment