Ada sebuah pondok pesantren kecil
yang terletak di desa terpencil. Namanya Pondok As-Syifa.’ Pemimpinnnya Kyai
Haji Drs. Yunus Subekti. Panggilannya Kyai Yunus atau Kyai Bekti, namun lebih
sering dipanggil Kyai Yunus. Usianya 49 tahun. Posturnya sedang, tidak tinggi
tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus. Jenggot tipis agak tebal menghias
dagunya dengan rapi.
Dua tahun yang lalu istrinya meninggal di usia yang masih relatif muda, 41 tahun. Istrinya yang juga seorang Nyai, meninggal karena diabetes akut. Ia menduda selama dua tahun lebih. Ia betah menduda cukup lama karena ibadahnya yang khusyuk. Selain sibuk mengurus pondoknya, ia juga sibuk bisnis dan ceramah di sana-sini. Hal itulah yang membuatnya tidak atau belum berminat untuk mencari teman hidup lagi. Lelaki sederhana yang kharismatik ini dicintai dan dihormati banyak orang. Tidak heran kalau nama Kyai Yunus lebih kondang dibanding nama Pak Lurah di desa tersebut. Nama desa kecil tersebut menjadi kondang berkat kehadiran Ponpes Asy-Syifa.’
Setelah dua tahun lebih, Yunus baru
menikah lagi dengan Wanti, santriwatinya yang juga seorang janda muda. Usianya 28
tahun, terpaut jauh dengan Yunus. Setahun yang lalu Wanti bercerai dengan
suaminya, setelah tiga tahun berumah tangga tanpa keturunan. Kini Wanti siap
menemani dan merawat Yunus sampai akhir hayatnya. Yunus sendiri sebenarnya
kurang begitu berminat untuk menikah lagi. Ia lebih khusyuk mengurus
santri-santrinya. Namun karena dorongan dari sahabat-sahabatnya, juga demi
memenuhi sunnah Rasul, ia pun menikahi Wanti, wanita cantik dan sholehah yang
masih muda.
*****
Sudah tiga bulan ini Yunus memiliki
seorang santri baru. Namanya Anwar, seorang pemuda dewasa berusia 28 tahun.
Untuk jaman dulu (akhir tahun 1970-an), usia segitu sudah dianggap perjaka agak
tua. Anwar dianggap betah membujang karena teman-teman sebayanya mayoritas sudah
pada menikah di usia 22-24 tahun. Maksimal 25 tahun. Status bujang stw
(setengah tuwo) yang disandang Anwar
ini membuatnya terkenal di Pondok As-Syifa. Yunus sendiri cukup serius
memperhatikan hal itu.
Ia pun memberanikan diri memanggil
Anwar, santri barunya yang cukup unik. Ia bertanya, “Anwar, apa kamu belum
ingin punya teman hidup? Nikah itu sunnah Rasul. Tidak boleh menunda bagi yang
sudah mampu.”
Anwar tersenyum malu. “Kalau ingin
jelas sudah, tapi saya belum mampu. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Saya
masih harus begini-begitu.”
“Belum mampu dari segi apa?” Tanya
Yunus tersenyum. “Kamu bisa begini begitu setelah menikah.”
Anwar yang mukanya merah, menyahut,
“Saya masih banyak masalah.”
“Masalah akan hilang dengan menikah.”
Diam sebentar. “Sekarang niatkan menikah karena ibadah, karena lillahi ta’ala. Insya Allah kamu mampu.
Aku yakin.” Diam lagi sebentar, “Kalau hatimu sudah mantap, kasih tahu aku ya?
Nanti biar kucarikan santriwati. Santriwatiku cantik-cantik. Kamu sudah lihat
sendiri kan?”
“Jangan dulu Kyai, makasih banyak.” Sahut
Anwar semakin malu. “Saya benar-benar belum mampu. Ehmm…baiklah, sekarang saya
beri tahu sebabnya.” Diam beberapa detik, “Selain karena masih banyak problem, saya juga belum menemukan perempuan yang cocok untuk hati
saya.”
Beberapa jam kemudian Anwar melihat
Wanti yang baru pulang dari belanja.
Jaraknya dengan tempat Anwar berdiri terpaut sekitar tiga meter. Jantung Anwar
bergetar keras melihat istri gurunya itu. Apalagi ketika Wanti menatapnya
sambil menunduk dan tersenyum manis. Wanti mengucap salam, lalu berkata lembut,
“Mas Anwar kok tidak ikut teman-teman ke
lapangan?”
“Oh, ke lapangan? Pada ngapain?” Tanya Anwar gugup.
“Main bola.” Sahut Wanti dengan bibir
tetap tersenyum. Anwar yang perasaannya tidak karuan, menjawab, “Ehm..aku sudah
mandi, dan aku juga kurang suka sepak bola.”
Malamnya Anwar tidak bisa tidur. Mata
kepalanya sudah tertutup cukup lama, namun mata hatinya tetap terbuka. Bayangan
wajah ayu Wanti terus hadir di pikirannya. Ia sudah berusaha keras mengusir
Wanti dari hati dan pikirannya, namun tidak atau belum berhasil. Bujang
bertubuh langsing atletis ini bangun dari tidurnya, lalu meneguk segelas air. Wajahnya
berkeringat agak banyak. Dengan posisi duduk ia bergumam,
“Pantaskah aku mencintai wanita yang
sudah jadi milik orang? Pantaskah aku mencintai istri guruku sendiri? Suatu
saat nanti, beranikah aku mengungkapkan perasaanku ini pada Kyai Yunus, lelaki
suci yang sudah menolongku masuk pesantren ini?” diam sebentar, “Aku tahu,
semua ini godaan iblis, godaan nafsu. Tapi…tapi aku benar-benar mencintai
Wanti. Aku tulus mencintai Wanti.”
O’o. Ternyata ini masalah yang
dialami Anwar. Ia jatuh cinta pada Wanti, istri kyainya yang usianya jauh lebih
muda. Usianya sepantaran Anwar. Ternyata ini sebabnya Anwar masih betah
membujang. Mungkin Anwar memang memiliki masalah serius yang membuatnya masih
membujang, namun ternyata ada yang lebih serius, dan mungkin inilah yang paling
serius. Semakin hari perasaan cinta Anwar pada Wanti semakin menggelora. Karena
tidak tahan, akhirnya Anwar memberanikan diri untuk berkata jujur. Ia bergumam,
“Daripada semakin menyiksa hati,
lebih baik kukatakan sejujurnya. Apapun hasilnya, sebesar apapun resiko yang
akan kutanggung nanti, yang penting ganjalan di hati ini sudah kukeluarkan.
Kalau sudah kukeluarkan, Insya Allah aku akan merasa lega untuk selamanya.”
Anwar yang sudah dimabuk cinta,
bertekad menemui Yunus. Seusai sholat Ashar Anwar mendatangi rumah Yunus.
Mereka bicara empat mata. Dengan jantung bergetar keras, Anwar memulai
pembicaraan dengan berkata, “Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Murid Kyai Yunus yang goblog dan tak tahu diri ini mau ngomong sesuatu yang
sebenarnya sangat tidak pantas.” Diam sejenak, “Setelah Kyai tahu nanti,
bisakah Kyai tidak marah?”
“Aku tidak bisa janji,” sahut Yunus
tersenyum dan mengangguk, “Tapi demi melegakan hatimu, demi memecahkan
masalahmu, Insya Allah aku akan berusaha untuk tidak marah.”
Anwar mengangguk sambil
tersenyum. Setelah mengatur nafasnya yang terasa sangat berat, ia mengungkapkan
perasaan cinta dan sayangnya pada Nyonya Yunus Subekti. Kalau orang jaman
sekarang, mungkin sudah marah besar, bahkan mungkin ada yang langsung menampar
atau menempeleng Anwar. Kalau jaman sekarang ada seorang mahasiswa yang jatuh
hati pada istri dosennya, lalu ia ungkapkan perasaan cintanya pada dosennya,
kemungkinan besar si dosen langsung marah atau mengamuk. Si dosen bergumam,
“Anak ini kurang ajar betul! Dia tidak bakal lulus! IP-nya yang selama ini cukup tinggi,
sudah pasti kubuat rendah!”
Namun bagaimana dengan orang-orang
jaman dulu seperti Yunus Subekti? Apakah dia langsung mengamuk, memukul atau
menampar muka Anwar? Ternyata tidak. Ia hanya diam untuk beberapa menit.
Mungkin ia memang ingin marah atau mengamuk. Mungkin hatinya berkata, “Anwar memang
santri kurang ajar dan tak tahu diri!” Namun ia sanggup menahan amarah atau
rasa tersinggungnya. Ia sanggup menyembunyikan kekesalannya. Ia benar-benar
seorang Kyai berhati emas. Yah, beginilah kesabaran orang-orang jaman dulu.
Anwar yang ketakutan melihat gurunya
diam saja, berkata lirih, “Saya mohon beribu-ribu maaf. Kalau hajat saya ini terasa
sangat keterlaluan, Kyai bisa menghukum saya dengan hukuman berat. Bahkan Kyai
bisa langsung mendepak saya dari pesantren ini.”
Yunus yang menundukkan mukanya, belum
bicara sepatah kata pun. Wajahnya hanya terlihat agak bingung, tidak terlihat
marah atau tersinggung. Semenit kemudian Yunus bertanya lembut, “Anwar…kamu
benar-benar mencintai istriku?”
“I…iya Kyai. Saya benar-benar
mencintai Mbak Wanti.”
Yunus menarik nafasnya yang terasa
agak berat, lalu berkata lembut, “Baik muridku..aku bersedia membantumu.” Diam
sejenak, “Wanti akan kuceraikan. Setelah masa iddah*-nya selesai, kamu bisa langsung menikahinya. Tapi ada syarat
yang harus kamu penuhi.” Diam sejenak. “Kamu harus adzan untuk sholat lima
waktu selama 40 hari 40 malam.”
“Hanya itu?” gumam Anwar dalam hati.
Besoknya, sebelum santri yang biasanya mengumandangkan adzan sholat lima waktu
mendatangi tempat adzan, Anwar sudah mendahuluinya. Lima menit sebelum adzan
Anwar sudah duduk di depan mic yang biasa dipakai untuk adzan. Anwar
mengumandangkan adzan sholat lima waktu secara rutin. Dengan demikian, sekarang
ia menjadi muadzinnya masjid Al-Huda, masjidnya ponpes As-Syifa’. Semua itu ia
lakukan agar ia bisa memiliki Wanti, wanita pujaan hatinya.
Ketika adzan yang ia jalankan sudah
sampai di hari ke 39, ia kembali menghadap Yunus. Dengan setulus hati ia
urungkan niatnya untuk menikahi Wanti. Tentu saja sang guru terkejut. Ia
bertanya, “Kenapa tidak jadi? Usahamu
sudah hampir berhasil. Tinggal sehari lagi. ”
Anwar yang sepertinya mendapat
hidayah, berkata lembut, “Saya menyadari kekurangajaran saya ini. Demi Allah
Kyai, saya benar-benar tidak jadi menikahi Wanti.”
“Apa sebabnya?”
Anwar mengatur nafasnya, lalu
berkata, “Adzan rutin yang saya lakukan selama 39 hari ini benar-benar merubah
hati dan pikiran saya. Alhamdulillah, Allah
berkenan memberikan cahaya petunjukNya. Mungkin karena saya ikhlas
melakukannya, jadi..”
“Itu betul.” Potong Yunus tersenyum.
“Selain karena ikhlas, kamu juga rutin melakukan kebaikan. Tidakkah kamu
mendengar Nabi kita bersabda: “Amalan
yang paling dicintai Allah itu amalan yang dilakukan rutin/ terus menerus,
walaupun amal itu kecil dan sedikit.”
“Betul sekali Kyai! Rutin is the Best. Rutin memang yang terbaik.
Apapun yang kita lakukan dengan rutin, itulah yang terbaik di mata Allah SWT.
*Masa menanti seorang janda, 4 bulan
10 hari, setelah itu boleh dinikahi lagi
Yogyakarta, 14 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment