Saturday, 29 June 2013

Rutin is The BEST



       Ada sebuah pondok pesantren kecil yang terletak di desa terpencil. Namanya Pondok As-Syifa.’ Pemimpinnnya Kyai Haji Drs. Yunus Subekti. Panggilannya Kyai Yunus atau Kyai Bekti, namun lebih sering dipanggil Kyai Yunus. Usianya 49 tahun. Posturnya sedang, tidak tinggi tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus. Jenggot tipis agak tebal menghias dagunya dengan rapi.
         
Dua tahun yang lalu istrinya meninggal di usia yang masih relatif muda, 41 tahun. Istrinya yang juga seorang Nyai, meninggal karena diabetes akut. Ia menduda selama dua tahun lebih. Ia betah menduda cukup lama karena ibadahnya yang khusyuk. Selain sibuk mengurus pondoknya, ia juga sibuk bisnis dan ceramah di sana-sini. Hal itulah yang membuatnya tidak  atau belum berminat untuk mencari teman hidup lagi. Lelaki sederhana yang  kharismatik ini dicintai dan dihormati banyak orang. Tidak heran kalau nama Kyai Yunus lebih kondang dibanding nama Pak Lurah di desa tersebut. Nama desa kecil tersebut menjadi kondang berkat kehadiran Ponpes Asy-Syifa.’
          Setelah dua tahun lebih, Yunus baru menikah lagi dengan Wanti, santriwatinya yang juga seorang janda muda. Usianya 28 tahun, terpaut jauh dengan Yunus. Setahun yang lalu Wanti bercerai dengan suaminya, setelah tiga tahun berumah tangga tanpa keturunan. Kini Wanti siap menemani dan merawat Yunus sampai akhir hayatnya. Yunus sendiri sebenarnya kurang begitu berminat untuk menikah lagi. Ia lebih khusyuk mengurus santri-santrinya. Namun karena dorongan dari sahabat-sahabatnya, juga demi memenuhi sunnah Rasul, ia pun menikahi Wanti, wanita cantik dan sholehah yang masih muda.
                                                               *****
          Sudah tiga bulan ini Yunus memiliki seorang santri baru. Namanya Anwar, seorang pemuda dewasa berusia 28 tahun. Untuk jaman dulu (akhir tahun 1970-an), usia segitu sudah dianggap perjaka agak tua. Anwar dianggap betah membujang karena teman-teman sebayanya mayoritas sudah pada menikah di usia 22-24 tahun. Maksimal 25 tahun. Status bujang stw (setengah tuwo) yang disandang Anwar ini membuatnya terkenal di Pondok As-Syifa. Yunus sendiri cukup serius memperhatikan hal itu.
          Ia pun memberanikan diri memanggil Anwar, santri barunya yang cukup unik. Ia bertanya, “Anwar, apa kamu belum ingin punya teman hidup? Nikah itu sunnah Rasul. Tidak boleh menunda bagi yang sudah mampu.”
          Anwar tersenyum malu. “Kalau ingin jelas sudah, tapi saya belum mampu. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Saya masih harus begini-begitu.”
          “Belum mampu dari segi apa?” Tanya Yunus tersenyum. “Kamu bisa begini begitu setelah menikah.”
          Anwar yang mukanya merah, menyahut, “Saya masih banyak masalah.”
          “Masalah akan hilang dengan menikah.” Diam sebentar. “Sekarang niatkan menikah karena ibadah, karena lillahi ta’ala. Insya Allah kamu mampu. Aku yakin.” Diam lagi sebentar, “Kalau hatimu sudah mantap, kasih tahu aku ya? Nanti biar kucarikan santriwati. Santriwatiku cantik-cantik. Kamu sudah lihat sendiri kan?”
          “Jangan dulu Kyai, makasih banyak.” Sahut Anwar semakin malu. “Saya benar-benar belum mampu. Ehmm…baiklah, sekarang saya beri tahu sebabnya.” Diam beberapa detik, “Selain karena  masih banyak problem, saya juga belum menemukan perempuan yang cocok untuk hati saya.”
          Beberapa jam kemudian Anwar melihat Wanti yang baru pulang dari  belanja. Jaraknya dengan tempat Anwar berdiri terpaut sekitar tiga meter. Jantung Anwar bergetar keras melihat istri gurunya itu. Apalagi ketika Wanti menatapnya sambil menunduk dan tersenyum manis. Wanti mengucap salam, lalu berkata lembut, “Mas Anwar  kok tidak ikut teman-teman ke lapangan?”
          “Oh, ke lapangan? Pada ngapain?”  Tanya Anwar gugup.        
          “Main bola.” Sahut Wanti dengan bibir tetap tersenyum. Anwar yang perasaannya tidak karuan, menjawab, “Ehm..aku sudah mandi, dan aku juga kurang suka sepak bola.”
          Malamnya Anwar tidak bisa tidur. Mata kepalanya sudah tertutup cukup lama, namun mata hatinya tetap terbuka. Bayangan wajah ayu Wanti terus hadir di pikirannya. Ia sudah berusaha keras mengusir Wanti dari hati dan pikirannya, namun tidak atau belum berhasil. Bujang bertubuh langsing atletis ini bangun dari tidurnya, lalu meneguk segelas air. Wajahnya berkeringat agak banyak. Dengan posisi duduk  ia bergumam,
          “Pantaskah aku mencintai wanita yang sudah jadi milik orang? Pantaskah aku mencintai istri guruku sendiri? Suatu saat nanti, beranikah aku mengungkapkan perasaanku ini pada Kyai Yunus, lelaki suci yang sudah menolongku masuk pesantren ini?” diam sebentar, “Aku tahu, semua ini godaan iblis, godaan nafsu. Tapi…tapi aku benar-benar mencintai Wanti. Aku tulus mencintai Wanti.”
          O’o. Ternyata ini masalah yang dialami Anwar. Ia jatuh cinta pada Wanti, istri kyainya yang usianya jauh lebih muda. Usianya sepantaran Anwar. Ternyata ini sebabnya Anwar masih betah membujang. Mungkin Anwar memang memiliki masalah serius yang membuatnya masih membujang, namun ternyata ada yang lebih serius, dan mungkin inilah yang paling serius. Semakin hari perasaan cinta Anwar pada Wanti semakin menggelora. Karena tidak tahan, akhirnya Anwar memberanikan diri untuk berkata jujur. Ia bergumam,
          “Daripada semakin menyiksa hati, lebih baik kukatakan sejujurnya. Apapun hasilnya, sebesar apapun resiko yang akan kutanggung nanti, yang penting ganjalan di hati ini sudah kukeluarkan. Kalau sudah kukeluarkan, Insya Allah aku akan merasa lega untuk selamanya.”
          Anwar yang sudah dimabuk cinta, bertekad menemui Yunus. Seusai sholat Ashar Anwar mendatangi rumah Yunus. Mereka bicara empat mata. Dengan jantung bergetar keras, Anwar memulai pembicaraan dengan berkata, “Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Murid Kyai Yunus yang goblog dan tak tahu diri ini mau ngomong sesuatu yang sebenarnya sangat tidak pantas.” Diam sejenak, “Setelah Kyai tahu nanti, bisakah Kyai tidak marah?”
          “Aku tidak bisa janji,” sahut Yunus tersenyum dan mengangguk, “Tapi demi melegakan hatimu, demi memecahkan masalahmu, Insya Allah aku akan berusaha untuk tidak marah.” 
          Anwar mengangguk sambil tersenyum. Setelah mengatur nafasnya yang terasa sangat berat, ia mengungkapkan perasaan cinta dan sayangnya pada Nyonya Yunus Subekti. Kalau orang jaman sekarang, mungkin sudah marah besar, bahkan mungkin ada yang langsung menampar atau menempeleng Anwar. Kalau jaman sekarang ada seorang mahasiswa yang jatuh hati pada istri dosennya, lalu ia ungkapkan perasaan cintanya pada dosennya, kemungkinan besar si dosen langsung marah atau mengamuk. Si dosen bergumam,
          “Anak ini kurang ajar betul! Dia tidak bakal lulus! IP-nya yang selama ini cukup tinggi, sudah pasti kubuat rendah!
          Namun bagaimana dengan orang-orang jaman dulu seperti Yunus Subekti? Apakah dia langsung mengamuk, memukul atau menampar muka Anwar? Ternyata tidak. Ia hanya diam untuk beberapa menit. Mungkin ia memang ingin marah atau mengamuk. Mungkin hatinya berkata, “Anwar memang santri kurang ajar dan tak tahu diri!” Namun ia sanggup menahan amarah atau rasa tersinggungnya. Ia sanggup menyembunyikan kekesalannya. Ia benar-benar seorang Kyai berhati emas. Yah, beginilah kesabaran orang-orang jaman dulu.
          Anwar yang ketakutan melihat gurunya diam saja, berkata lirih, “Saya mohon beribu-ribu maaf. Kalau hajat saya ini terasa sangat keterlaluan, Kyai bisa menghukum saya dengan hukuman berat. Bahkan Kyai bisa langsung mendepak saya dari pesantren ini.”
          Yunus yang menundukkan mukanya, belum bicara sepatah kata pun. Wajahnya hanya terlihat agak bingung, tidak terlihat marah atau tersinggung. Semenit kemudian Yunus bertanya lembut, “Anwar…kamu benar-benar mencintai istriku?”
          “I…iya Kyai. Saya benar-benar mencintai Mbak Wanti.”
          Yunus menarik nafasnya yang terasa agak berat, lalu berkata lembut, “Baik muridku..aku bersedia membantumu.” Diam sejenak, “Wanti akan kuceraikan. Setelah masa iddah*-nya selesai, kamu bisa langsung menikahinya. Tapi ada syarat yang harus kamu penuhi.” Diam sejenak. “Kamu harus adzan untuk sholat lima waktu selama 40 hari 40 malam.”
          “Hanya itu?” gumam Anwar dalam hati. Besoknya, sebelum santri yang biasanya mengumandangkan adzan sholat lima waktu mendatangi tempat adzan, Anwar sudah mendahuluinya. Lima menit sebelum adzan Anwar sudah duduk di depan mic yang biasa dipakai untuk adzan. Anwar mengumandangkan adzan sholat lima waktu secara rutin. Dengan demikian, sekarang ia menjadi muadzinnya masjid Al-Huda, masjidnya ponpes As-Syifa’. Semua itu ia lakukan agar ia bisa memiliki Wanti, wanita pujaan hatinya.
          Ketika adzan yang ia jalankan sudah sampai di hari ke 39, ia kembali menghadap Yunus. Dengan setulus hati ia urungkan niatnya untuk menikahi Wanti. Tentu saja sang guru terkejut. Ia bertanya, “Kenapa tidak  jadi? Usahamu sudah hampir berhasil. Tinggal sehari lagi. ”
          Anwar yang sepertinya mendapat hidayah, berkata lembut, “Saya menyadari kekurangajaran saya ini. Demi Allah Kyai, saya benar-benar tidak jadi menikahi Wanti.”
          “Apa sebabnya?”
          Anwar mengatur nafasnya, lalu berkata, “Adzan rutin yang saya lakukan selama 39 hari ini benar-benar merubah hati dan pikiran saya. Alhamdulillah, Allah berkenan memberikan cahaya petunjukNya. Mungkin karena saya ikhlas melakukannya, jadi..”
          “Itu betul.” Potong Yunus tersenyum. “Selain karena ikhlas, kamu juga rutin melakukan kebaikan. Tidakkah kamu mendengar Nabi kita bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah itu amalan yang dilakukan rutin/ terus menerus, walaupun amal itu kecil dan sedikit.”
          “Betul sekali Kyai! Rutin is the Best. Rutin memang yang terbaik. Apapun yang kita lakukan dengan rutin, itulah yang terbaik di mata Allah SWT.
          *Masa menanti seorang janda, 4 bulan 10 hari, setelah itu boleh dinikahi lagi

    Yogyakarta, 14 Januari 2012 (Harry Puter)                               

0 comments:

Post a Comment

 
;