Dua tahun setelah tamat SMA, Mahmud masuk ke sebuah pesantren kecil di wilayah Jatim. Kyai Haji Aminudin, pimpinan pondok pesantren tersebut, sudah kenal baik dengan Harto, ayah Mahmud. Hal itulah yang membuat Mahmud bisa masuk pesantren itu dengan mudah. Saat duduk di kelas 2 SMA, Mahmud ditawari Harto masuk pondok pesantren karena Harto dan Nuri, istrinya, melihat Mahmud berpotensi besar untuk menjadi ulama atau kyai.
Mahmud pun menurut karena ia ingin berbakti pada ayah-ibunya. Dengan demikian, awalnya Mahmud mau belajar agama di ponpes Al-Hikmah karena ingin menyenangkan ayah-ibunya, padahal Harto hanya menawarkan, tidak pernah memerintah atau mengharuskan, apalagi memaksa. Namun setelah diajak mengaji oleh beberapa kawannya yang alim, hatinya tergerak untuk belajar agama lebih dalam. Hal itu terjadi setelah dua tahun ia lulus SMA, dimana saat itu ia bekerja di sebuah toko kelontong. Setahun sebelumnya ia menganggur.
Kini Mahmud benar-benar serius
menjadi santrinya Kyai Amin. Niatnya belajar agama semata-mata karena mencari
ridho Allah SWT. Betapa bahagianya Harto dan Nuri melihat anaknya benar-benar
serius mengaji. Tidak ada yang paling bisa membahagiakan orang tua, selain
melihat buah hatinya menjadi anak sholeh yang bermanfaat bagi masyarakat,
bangsa dan negara. Harto pun total menyerahkan Mahmud pada Kyai Amin,
sahabatnya, untuk dididik dan digembleng menjadi muttaqin, orang yang bertakwa.
*****
Dua tahun sudah Mahmud nyantri di Pondok Pesantren Al-Hikmah,
Jatim. Orang-orang dekatnya Mahmud, entah itu kerabat atau sahabatnya, mengira
Mahmud sudah menjadi orang sukses, terutama orang-orang di desanya. Mereka
berkata, “Pasti Mahmud sekarang sudah jadi Kyai besar. Sebentar lagi kita akan
melihat dia muncul di TV dan radio. Kita akan melihat dia mengisi pengajian di
mana-mana.”
Benarkah dugaan mereka? Ternyata
tidak. Lihatlah Mahmud yang sampai sekarang belum sukses. Sampai sekarang
Mahmud masih merasa minder, bahkan ia merasa sebagai santri terbodoh di ponpes
Al-Hikmah. Ia merasa kesulitan untuk memahami, apalagi menguasai ilmu-ilmu yang
diberikan gurunya, terutama ilmu agama, ilmu yang selain menuntut kecerdesan
dan ketekunan, juga menuntut kebersihan jiwa.
Semakin hari Mahmud semakin merasa
minder. Akibatnya, ia menjadi sering menyendiri. Ia hanya bisa melihat
teman-teman santrinya belajar bersama. Ia merasa terlalu bodoh untuk bergabung
ke dalam kelompok belajar santri. Rasa rendah diri yang semakin tak terkendali
itu akhirnya membuat Mahmud menyerah. Ia merasa keliru menempuh jalan menjadi
santri, yang ujung-ujungnya nanti menjadi Kyai atau Ustadz.
Kini Mahmud melamun di tepi sawah
yang terletak sekitar 50 meter dari pondok. Senja telah menghampiri bumi. Para
santri habis mandi dan bersih-bersih. Mereka siap menyambut Maghrib yang
sebentar lagi tiba. Berbeda dengan Mahmud yang masih terhanyut dalam perenungan
diri. Wajah pemuda 23 tahun ini tampak memelas karena bingung. Ia bergumam,
“Aku sudah bersalah pada Bapak, Ibu
dan semua orang yang kucintai. Mereka telanjur menaruh harapan besar padaku.
Aku benar-benar sudah mengecewakan mereka…terutama Bapak. Ohh…alangkah tololnya
aku. Bapak sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk belajarku, tapi sampai sekarang
aku masih jauh dari sukses. Sampai sekarang aku masih begini, masih
bodoh, masih tidak bisa apa-apa.”
“Kalau Kyai Amin bukan sahabatnya
Bapak, pasti aku sudah didepak dari dulu, dari kemarin-kemarin. Ooh, betapa
kasihannya para kyai dan guru yang sudah mengajari aku dengan sabar, tapi aku
tidak bisa-bisa karena bodoh, karena iq-ku rendah, hafalanku lemah, analisisku
tumpul, kurang tanggap, kurang kreatif, malas, dll. Aku sama sekali tidak marah
sama mereka, apalagi dendam. Justru aku sangat berterima kasih sama mereka. Aku
merasa tidak enak karena mereka masih mau mendidik pemuda bodoh seperti aku.
Aah…betul sekali kata teman. Aku tidak harus jadi ulama atau kyai, yang penting
punya pekerjaan layak untuk hidup.”
Hening sejenak. Dilihatnya langit
semakin gelap karena sang surya semakin tenggelam. Ia bicara lagi dalam hati,
“Ya sudah, sampai di sini saja petualanganku di pesantren ini. Insya Allah aku
mantap melarikan diri diam-diam. Dan waktu yang paling tepat, besok malam.”
Mahmud benar-benar mantap untuk
‘minggat’ secara gerilya. Keesokan harinya, salah seorang santri menyerahkan
sepucuk surat kepada Aminudin, pemimpin ponpes Al-Hikmah. Ternyata surat itu
dari Mahmud. Intinya, Mahmud memohon maaf yang sebesar-besarnya karena pergi
tanpa pamit, sebab kalau pamit, nanti kemungkinan besar ia tidak diijinkan
pulang oleh Amin yang teman dekat ayahnya. Ia berbuat begini bukan karena tidak
mau melanjutkan belajar agama, namun karena ia merasa sudah gagal menempuh
jalan di pesantren. Ia juga minta maaf pada semua kyai bawahan Amin yang sudah
begitu sabar membimbingnya. Di akhir surat ia mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya. Ia juga menyerahkan amplop berisi uang untuk biaya belajar
dan sewa kamar sebulan.
Setelah membaca surat itu Amin
terlihat sedih, namun kesedihannya tidak berlebihan. Kesedihannya terkendali
karena ia orang sholeh, orang yang hatinya selalu dzikrullah. Dengan wajah kecewa, pria berjenggot tipis berusia
hampir 50 tahun ini berkata lembut,
“Anakku…kamu bukan pemuda bodoh. Justru
sebaliknya, kamu memiliki potensi besar, potensi di atas rata-rata. Selama ini
kamu hanya kurang gigih dan mutungan (mudah
menyerah). Tapi tidak apa-apa kalau kamu memang sudah tidak betah tinggal di
sini. Mungkin pesantren kecil ini memang
bukan jalan hidupmu. Yang penting kamu jadi orang yang bertakwa, agar besok
kamu bisa hidup bahagia. Di manapun kamu berada, yang penting kamu tetap total
beribadah. Yahh…gurumu ini hanya bisa mendoakan, mudah-mudahan kamu bisa jadi
orang sukses lahir-batin. Asal kamu pantang menyerah, Insya Allah kamu pasti
sukses.”
*****
Mahmud berjalan dengan menggendong
tas besar. Ia berjalan menembus gelapnya malam. Beberapa saat kemudian hujan
turun dengan lebatnya. Mahmud yang sebenarnya ingin berjalan terus, mau tidak
mau harus berteduh dulu. Sambil agak menggerutu ia bergumam, “Mantelku
ketinggalan di pondok. Huh! Salahku sendiri, pergi tergesa-gesa. Pergi seperti buronan yang
melarikan diri dari penjara.”
Mahmud berteduh di sebuah rumah kecil
yang tak berpenghuni. Ia duduk di papan kayu, lalu mengeluarkan bungkusan
plastik berisi makanan. Ia tersenyum, “Alhamdulillah,
masih ada yang bisa mengganjal perutku yang keroncongan. Aku tidak jadi mati
kelaparan.”
Mahmud yang perutnya seperti dililit
ular besar, langsung melahap sisa-sisa jajanan itu. Selesai makan, Mahmud
menatap keadaan rumah rusak itu.
Sesekali melihat keadaan di luar rumah. Dilihatnya hujan deras yang belum reda.
Ia bergumam, “Kemungkinan besar aku harus tidur di sini. Hmm (melihat keadaan
ruangan)…okelah, kalau cuma untuk semalam.”
Tak lama kemudian Mahmud mulai
diserang kantuk. Setelah mencari tempat yang cocok untuk tidur, matanya
terbentur pada sebuah batu sebesar kepala manusia. Batu itu berlobang karena
air yang menetes di atasnya. Mahmud menatap serius pemandangan alami di
hadapannya itu. Rasa kantuknya menjadi sirna karena keseriusannya menatap batu
berlubang itu. Perlahan-lahan ia mendekati batu itu, lalu bergumam,
“Benda sekeras batu bisa berlobang
karena air yang menetesinya terus menerus. Demikian juga dengan pisau yang
tumpul. Kalau diasah terus bisa jadi tajam.” Hening sejenak karena berpikir
keras, lalu bergumam lagi,
“Berarti…berarti akal yang bodoh pun…kalau dilatih terus…bisa jadi
cerdas.”
Mahmud seperti petani yang menemukan
emas atau mutiara di sawah yang ia garap. Ia tersenyum gembira, lalu berkata
dengan penuh semangat, “Aku sudah mendapat hidayah. Aku sudah mendapat
petunjuk. Aku harus kembali ke Al-Hikmah! Harus!”
Keesokan harinya Mahmud kembali ke
Al-Hikmah. Kedatangannya menghebohkan suasana pesantren. Aminudin menangkap
gelagat baik di wajah Mahmud yang terlihat cerah. Begitu bertemu dengan Sang
Kyai, Mahmud langsung mencium tangannya, lalu keduanya berpelukan erat. Dengan
suara terbata-bata Mahmud berkata,
“Kyai…saya tidak jadi pulang. Saya
sudah mendapat petunjuk dari sebuah batu
yang begini dan begitu. Insya Allah saya akan melanjutkan perjuangan saya di
sini. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya, terutama ilmu agama. Dengan semangat Laa haula wala quwwata illa billah, saya
akan berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Alhamdulillahi
Rabbil ‘Alamin,” sahut Amin dengan air mata berlinang. “Anakku, aku sudah
tahu kalau kamu mendapat petunjuk.”
“Benarkah!? Subhanallah, Allahu Akbar. Kyai benar-benar orang suci.”
Mahmud melanjutkan belajarnya di
ponpes Al-Hikmah. Berkat perjuangannya yang luar biasa, ia menjadi lelaki
tangguh, lelaki yang pantang menyerah. Lima tahun kemudian, saat usianya masih
di bawah tiga puluh, ia sudah menjadi kyai besar yang banyak muridnya. kyai
besar yang ceramah di mana-mana. Kyai Mahmud Kuncoro. Banyak orang jahat dan
ahli maksiat yang bertobat karena mendengar ceramah-ceramahnya yang sangat
menyentuh hati. Karena kesuksesannya terinspirasi sebuah batu yang ditetesi air
hujan, orang-orang pun menjulukinya ‘Kyai Batu.’ Julukan ini lebih terkenal
dari nama aslinya.
Yogyakarta, 13 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment