Saturday, 29 June 2013

Kyai Batu


                Dua tahun setelah tamat SMA, Mahmud masuk ke sebuah pesantren kecil di wilayah Jatim. Kyai Haji Aminudin, pimpinan pondok pesantren tersebut, sudah kenal baik dengan Harto, ayah Mahmud. Hal itulah yang membuat Mahmud bisa masuk pesantren itu dengan mudah. Saat duduk di kelas 2  SMA, Mahmud ditawari Harto masuk pondok pesantren karena Harto dan Nuri, istrinya, melihat Mahmud berpotensi besar untuk menjadi ulama atau kyai.
         
Mahmud pun menurut karena ia ingin berbakti pada ayah-ibunya. Dengan  demikian, awalnya Mahmud mau belajar agama di ponpes Al-Hikmah karena ingin menyenangkan ayah-ibunya, padahal Harto hanya menawarkan, tidak pernah memerintah atau mengharuskan, apalagi memaksa. Namun setelah diajak mengaji oleh beberapa kawannya yang alim, hatinya tergerak untuk belajar agama lebih dalam. Hal itu terjadi setelah dua tahun ia lulus SMA, dimana saat itu ia bekerja di sebuah toko kelontong. Setahun sebelumnya ia menganggur.
          Kini Mahmud benar-benar serius menjadi santrinya Kyai Amin. Niatnya belajar agama semata-mata karena mencari ridho Allah SWT. Betapa bahagianya Harto dan Nuri melihat anaknya benar-benar serius mengaji. Tidak ada yang paling bisa membahagiakan orang tua, selain melihat buah hatinya menjadi anak sholeh yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Harto pun total menyerahkan Mahmud pada Kyai Amin, sahabatnya, untuk dididik dan digembleng menjadi muttaqin, orang yang bertakwa.  
                                                     *****
          Dua tahun sudah Mahmud nyantri di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Jatim. Orang-orang dekatnya Mahmud, entah itu kerabat atau sahabatnya, mengira Mahmud sudah menjadi orang sukses, terutama orang-orang di desanya. Mereka berkata, “Pasti Mahmud sekarang sudah jadi Kyai besar. Sebentar lagi kita akan melihat dia muncul di TV dan radio. Kita akan melihat dia mengisi pengajian di mana-mana.”
          Benarkah dugaan mereka? Ternyata tidak. Lihatlah Mahmud yang sampai sekarang belum sukses. Sampai sekarang Mahmud masih merasa minder, bahkan ia merasa sebagai santri terbodoh di ponpes Al-Hikmah. Ia merasa kesulitan untuk memahami, apalagi menguasai ilmu-ilmu yang diberikan gurunya, terutama ilmu agama, ilmu yang selain menuntut kecerdesan dan ketekunan, juga menuntut kebersihan jiwa.  
          Semakin hari Mahmud semakin merasa minder. Akibatnya, ia menjadi sering menyendiri. Ia hanya bisa melihat teman-teman santrinya belajar bersama. Ia merasa terlalu bodoh untuk bergabung ke dalam kelompok belajar santri. Rasa rendah diri yang semakin tak terkendali itu akhirnya membuat Mahmud menyerah. Ia merasa keliru menempuh jalan menjadi santri, yang ujung-ujungnya nanti menjadi Kyai atau Ustadz.
          Kini Mahmud melamun di tepi sawah yang terletak sekitar 50 meter dari pondok. Senja telah menghampiri bumi. Para santri habis mandi dan bersih-bersih. Mereka siap menyambut Maghrib yang sebentar lagi tiba. Berbeda dengan Mahmud yang masih terhanyut dalam perenungan diri. Wajah pemuda 23 tahun ini tampak memelas karena bingung. Ia bergumam,
          “Aku sudah bersalah pada Bapak, Ibu dan semua orang yang kucintai. Mereka telanjur menaruh harapan besar padaku. Aku benar-benar sudah mengecewakan mereka…terutama Bapak. Ohh…alangkah tololnya aku. Bapak sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk belajarku, tapi sampai sekarang aku masih jauh dari sukses. Sampai sekarang aku masih begini, masih bodoh, masih tidak bisa apa-apa.”
          “Kalau Kyai Amin bukan sahabatnya Bapak, pasti aku sudah didepak dari dulu, dari kemarin-kemarin. Ooh, betapa kasihannya para kyai dan guru yang sudah mengajari aku dengan sabar, tapi aku tidak bisa-bisa karena bodoh, karena iq-ku rendah, hafalanku lemah, analisisku tumpul, kurang tanggap, kurang kreatif, malas, dll. Aku sama sekali tidak marah sama mereka, apalagi dendam. Justru aku sangat berterima kasih sama mereka. Aku merasa tidak enak karena mereka masih mau mendidik pemuda bodoh seperti aku. Aah…betul sekali kata teman. Aku tidak harus jadi ulama atau kyai, yang penting punya pekerjaan layak untuk hidup.”
          Hening sejenak. Dilihatnya langit semakin gelap karena sang surya semakin tenggelam. Ia bicara lagi dalam hati, “Ya sudah, sampai di sini saja petualanganku di pesantren ini. Insya Allah aku mantap melarikan diri diam-diam. Dan waktu yang paling tepat, besok malam.”
          Mahmud benar-benar mantap untuk ‘minggat’ secara gerilya. Keesokan harinya, salah seorang santri menyerahkan sepucuk surat kepada Aminudin, pemimpin ponpes Al-Hikmah. Ternyata surat itu dari Mahmud. Intinya, Mahmud memohon maaf yang sebesar-besarnya karena pergi tanpa pamit, sebab kalau pamit, nanti kemungkinan besar ia tidak diijinkan pulang oleh Amin yang teman dekat ayahnya. Ia berbuat begini bukan karena tidak mau melanjutkan belajar agama, namun karena ia merasa sudah gagal menempuh jalan di pesantren. Ia juga minta maaf pada semua kyai bawahan Amin yang sudah begitu sabar membimbingnya. Di akhir surat ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Ia juga menyerahkan amplop berisi uang untuk biaya belajar dan sewa kamar sebulan.
          Setelah membaca surat itu Amin terlihat sedih, namun kesedihannya tidak berlebihan. Kesedihannya terkendali karena ia orang sholeh, orang yang hatinya selalu dzikrullah. Dengan wajah kecewa, pria berjenggot tipis berusia hampir 50 tahun ini berkata lembut,
          “Anakku…kamu bukan pemuda bodoh. Justru sebaliknya, kamu memiliki potensi besar, potensi di atas rata-rata. Selama ini kamu hanya kurang gigih dan mutungan (mudah menyerah). Tapi tidak apa-apa kalau kamu memang sudah tidak betah tinggal di sini. Mungkin  pesantren kecil ini memang bukan jalan hidupmu. Yang penting kamu jadi orang yang bertakwa, agar besok kamu bisa hidup bahagia. Di manapun kamu berada, yang penting kamu tetap total beribadah. Yahh…gurumu ini hanya bisa mendoakan, mudah-mudahan kamu bisa jadi orang sukses lahir-batin. Asal kamu pantang menyerah, Insya Allah kamu pasti sukses.”  
                                                          *****
           Mahmud berjalan dengan menggendong tas besar. Ia berjalan menembus gelapnya malam. Beberapa saat kemudian hujan turun dengan lebatnya. Mahmud yang sebenarnya ingin berjalan terus, mau tidak mau harus berteduh dulu. Sambil agak menggerutu ia bergumam, “Mantelku ketinggalan di pondok. Huh! Salahku sendiri, pergi tergesa-gesa. Pergi seperti buronan yang melarikan diri dari penjara.”
          Mahmud berteduh di sebuah rumah kecil yang tak berpenghuni. Ia duduk di papan kayu, lalu mengeluarkan bungkusan plastik berisi makanan. Ia tersenyum, “Alhamdulillah, masih ada yang bisa mengganjal perutku yang keroncongan. Aku tidak jadi mati kelaparan.”
          Mahmud yang perutnya seperti dililit ular besar, langsung melahap sisa-sisa jajanan itu. Selesai makan, Mahmud menatap keadaan rumah  rusak itu. Sesekali melihat keadaan di luar rumah. Dilihatnya hujan deras yang belum reda. Ia bergumam, “Kemungkinan besar aku harus tidur di sini. Hmm (melihat keadaan ruangan)…okelah, kalau cuma untuk semalam.”
          Tak lama kemudian Mahmud mulai diserang kantuk. Setelah mencari tempat yang cocok untuk tidur, matanya terbentur pada sebuah batu sebesar kepala manusia. Batu itu berlobang karena air yang menetes di atasnya. Mahmud menatap serius pemandangan alami di hadapannya itu. Rasa kantuknya menjadi sirna karena keseriusannya menatap batu berlubang itu. Perlahan-lahan ia mendekati batu itu, lalu bergumam,
          “Benda sekeras batu bisa berlobang karena air yang menetesinya terus menerus. Demikian juga dengan pisau yang tumpul. Kalau diasah terus bisa jadi tajam.” Hening sejenak karena berpikir keras, lalu bergumam lagi,  “Berarti…berarti akal yang bodoh pun…kalau dilatih terus…bisa jadi cerdas.”
         Mahmud seperti petani yang menemukan emas atau mutiara di sawah yang ia garap. Ia tersenyum gembira, lalu berkata dengan penuh semangat, “Aku sudah mendapat hidayah. Aku sudah mendapat petunjuk. Aku harus kembali ke Al-Hikmah! Harus!”
 
          Keesokan harinya Mahmud kembali ke Al-Hikmah. Kedatangannya menghebohkan suasana pesantren. Aminudin menangkap gelagat baik di wajah Mahmud yang terlihat cerah. Begitu bertemu dengan Sang Kyai, Mahmud langsung mencium tangannya, lalu keduanya berpelukan erat. Dengan suara terbata-bata Mahmud berkata, 
          “Kyai…saya tidak jadi pulang. Saya sudah  mendapat petunjuk dari sebuah batu yang begini dan begitu. Insya Allah saya akan melanjutkan perjuangan saya di sini. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya, terutama ilmu agama. Dengan semangat Laa haula wala quwwata illa billah, saya akan berjuang sampai titik darah penghabisan.”
          “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin,” sahut Amin dengan air mata berlinang. “Anakku, aku sudah tahu kalau kamu mendapat petunjuk.”
          “Benarkah!? Subhanallah, Allahu Akbar. Kyai benar-benar orang suci.”
          Mahmud melanjutkan belajarnya di ponpes Al-Hikmah. Berkat perjuangannya yang luar biasa, ia menjadi lelaki tangguh, lelaki yang pantang menyerah. Lima tahun kemudian, saat usianya masih di bawah tiga puluh, ia sudah menjadi kyai besar yang banyak muridnya. kyai besar yang ceramah di mana-mana. Kyai Mahmud Kuncoro. Banyak orang jahat dan ahli maksiat yang bertobat karena mendengar ceramah-ceramahnya yang sangat menyentuh hati. Karena kesuksesannya terinspirasi sebuah batu yang ditetesi air hujan, orang-orang pun menjulukinya ‘Kyai Batu.’ Julukan ini lebih terkenal dari nama aslinya.

                                                                                                 Yogyakarta, 13 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;