Saturday, 29 June 2013

Niat Suci


             Malam yang gelap menyelimuti hutan, sawah dan sekitarnya. Rombongan perampok yang terdiri dari tujuh lelaki kekar, berjalan menembus kegelapan. Mereka membawa senjata tajam dan tas besar berisi hasil rampokan. Kini mereka berkumpul di bawah bukit, menunggu rombongan saudagar yang mau lewat. Setelah menunggu lama, pemimpin perampok berkata,
         
“Kelihatannya mereka sudah mencium kehadiran kita. Ya sudah, kita balik saja. Toh hasil rampokan kita hari ini sudah lumayan. Sekarang kita cari tempat bermalam.”
          “Okelah, kami juga sudah lelah..sahut perampok yang lain. Mereka mencari warung, rumah penduduk atau rumah kosong di desa yang berada di sekitar hutan. Beberapa saat kemudian rombongan penjahat ini menemukan rumah kecil dan sederhana. Si pemimpin berkata, “Kita bermalam di sini saja.”
          “Apa mau kita jarah juga?” Tanya salah satu anak buahnya.
           “Goblog! Jelas tidak! Memang gubug ini isinya apa!?”
          Pemimpin perampok menyuruh anak buahnya melihat penghuni rumah sederhana itu dari jendela. Penghuninya tiga orang. Lelaki perempuan dewasa dan seorang anak lelaki yang cacat kakinya. Usianya sekitar 13 tahun. Setelah mengetahui penghuninya, si pemimpin mengetuk pintu rumah itu. Pintu dibuka oleh lelaki yang sedang menemani anaknya. Usianya empat puluhan. Pemimpin perampok cukup trenyuh melihat keadaan rumah yang sangat sederhana, juga penghuninya yang tampak polos. Sambil tersenyum dibuat-buat, pemimpin perampok menyapa, “Assalamu’alaikum Pak Kyai..”
          “Wa’alaikumus salaam. Siapa ya? Kok saya baru lihat sekarang.”
          “Saya Warto, musafir yang kehabisan bekal. Bapak siapa? Yang punya rumah ini?”
          “Iya, saya Kusmadi, panggilannya Kus. Saya penduduk tulen desa ini.”
          “Pak Kus ya? Hah, kebetulan sekali. Kami hamba Allah yang baru pulang dari menolong dan melindungi saudara-saudara sesama Muslim. Pak Kus pasti sudah dengar, desa di belakang hutan sedang tertimpa tanah longsor, juga sedang diserang rombongan penjahat yang mayoritas orang kafir. Kami relawan yang dikirim dari tempat jauh untuk menolong mereka. Kami menolong tanpa pamrih. Bukankah sudah kewajiban kita untuk menolong saudara kita yang seiman. Nah, sekarang kami mau minta ijin Pak Kus. Bolehkah kami istirahat di sini? Sebentar saja.”
          “Masya Allah...” ujar Kusmadi tersenyum gembira. “Malam ini saya kedatangan tamu mulia. Kalian saudara saya juga, jadi mana mungkin saya tidak mengijinkan saudara sesama Muslim mampir di sini. Tapi mohon maaf, rumah kami jelek.”
          “Itu tidak masalah,“ sahut Warto pura-pura lembut, “yang penting bisa untuk istirahat.”
          Kus mendekati wanita yang sedang membaca Al-Quran, lalu berkata, “Ini Munaroh, istriku.”
          Munaroh menunduk sambil tersenyum. Kus berkata lirih pada istrinya, “Tolong buatkan teh hangat dan gorengkan tempe. Mereka tamu-tamu istimewa.”
          Munaroh bergegas ke belakang, sedangkan Kus menggelar tikar tua untuk tujuh tamunya. Warto berkata, “Jangan repot-repot lho Pak, kami cuma sebentar.”
          “Lama juga tidak apa-apa. Kehadiran mujahidin seperti kalian Insya Allah  menjadi berkah di rumah jelek ini.”
          Warto tersenyum malu, “Pak Kus jangan terlalu merendah dan memuji kami. Rumah ini memang sederhana, tapi nyamannya tidak kalah sama istana.”
          Sesaat kemudian Nyonya Kusmadi keluar sambil  membawa nampan berisi teh delapan gelas, sepiring tempe goreng dan  setandan pisang. Kus berkata, “Silahkan teman-teman, jangan sungkan. Habiskan saja.”
          Warto dkk yang kelaparan itu langsung melahap hidangan  di hadapan mereka. Tidak kurang dari lima menit hidangan  itu sudah  amblas. Kus dan istrinya bahagia sekali bisa  menjamu para pejuang di jalan Allah. Sambil tersenyum gembira Kus berkata, “Mohon maaf  saudara-saudaraku..kami hanya bisa menghidangkan ini.”
          Warto menyahut, “Bisa mampir di sini saja kami sudah sangat bersyukur.”
          Melihat Warto pura-pura baik dan ramah, semua bawahannya langsung bertindak sama tanpa isyarat atau dikomandoi. Salah satu bawahannya berujar, “Makanan ini sudah lebih dari cukup buat kami.”
          “Betul!” sahut yang lain. “Ini sudah nikmat besar bagi kami.”
          Selesai makan, Kus bertanya, “Apa kalian sudah sholat Isya’?”
          Warto yang pura-pura alim menjawab, “Sudah Pak Kus, tadi kami jamak sama Maghrib.”
          Setelah itu Warto bergumam, “Padahal kami tidak  pernah sholat lima waktu. Satu waktu pun tidak. Hah ha ha!”
          Kus bertanya lagi, “Mungkin di antara kalian ada yang mau mandi?”
          “Ya, kalau ada  air. Kami mau membasuh muka, sekalian memperbarui wudhu.”
          Kus tersenyum, “Itulah kebiasaan para sahabat. Abu Hurairah dan Bilal Bin Rabah selalu memperbarui wudhu. Mereka berusaha maksimal untuk menjaga kesucian mereka.”
           “Ya, sebisa mungkin kami ingin meniru para sahabat Nabi.”
           Salah seorang perampok tersenyum geli melihat akting bossnya yang sangat bagus, namun Kus dan Munaroh tidak melihat senyumnya. Kus mempersilahkan Warto cs berwudhu di kendi besar yang berada di dapur. Sesuai permintaan Kus, perampok-perampok ini mengalirkan air wudhu mereka ke baskom dan panci. Maksudnya agar air bekas wudhu itu tidak terbuang sia-sia. Mungkin masih bisa untuk minum hewan ternak dan  menyiram tanaman.
          Warto tersenyum, “Kami bisa maklum. Di musim kemarau begini air lebih berharga dari emas atau permata.”
          Setelah berwudhu, rombongan perampok yang menyamar sebagai rombongan mujahid ini memohon diri. Sebelumnya Warto sempat melihat seorang remaja lelaki yang berdiri dengan tongkat. Kusmadi tersenyum, “Dia Yusuf, anak kami satu-satunya. Kaki kirinya cacat sejak lahir.”
          Warto menimpali, “Nabi kita bersabda, setiap penyakit ada obatnya. Insya Allah, penyakit Yusuf juga ada obatnya.”
          “Amin!” sahut Kusmadi dan Munaroh serentak.
          Besok paginya, usai sholat Shubuh di langgar, Kusmadi berkata pada sang istri, “Suruh Yusuf membasuh kakinya dengan air bekas wudhu Warto semalam. Mereka relawan suci, relawan yang hatinya benar-benar ikhlas karena Allah. Insya Allah air bekas wudhu mereka ada berkahnya.”
         Tanpa pikir panjang, Munaroh langsung membasuh kaki kiri Yusuf yang cacat. Satu jam kemudian terjadilah keajaiban. Cacat di kaki kiri Yusuf musnah. Yusuf pun bisa berjalan dengan normal. Kus dan Munaroh langsung sujud syukur, kemudian saling berpelukan. Penyakit anak mereka sembuh berkat kesucian niat dan  keyakinan mereka akan kebesaran Allah. Sambil menangis karena bahagia, Kus dan istri memeluk dan menciumi pipi Yusuf.
                                                     *****                     
          Besok sorenya Warto cs berniat mendatangi rumah Kusmadi. Ia berkata pada kawan-kawannya, “Rumah Kusmadi memang hanya ‘gubug,’ tapi entah kenapa, aku merasa  damai saat berada di dalam rumah sempit itu. Mungkin karena penghuninya orang sholeh ya?”
            Beberapa langkah kemudian tibalah Warto cs di rumah Kusmadi, rumah sederhana yang berada di wilayah sepi. Mereka membawa bungkusan besar berisi hasil rampokan. Kusmadi kembali menyambut rombongan Warto dengan hangat. Lelaki miskin namun sholeh ini tidak atau belum curiga kalau Warto cs itu kawanan perampok yang sewaktu-waktu bisa berbuat jahat terhadap dirinya. Dengan ramah ia berkata,
          “Silahkan masuk tamu-tamuku yang mulia. Senang sekali kalian mau mampir lagi.”
          Ketika Warto dan konco-konconya hendak masuk ke rumah, Yusuf muncul di hadapan mereka. Warto terkejut melihat anak itu bisa berjalan dengan normal. Ia bertanya, “Pak Kyai..bukannya dia anak yang kemarin malam cacat kaki kirinya?”
          “Betul.” sahut Yusuf tersenyum bahagia. “Alhamdulillah, sekarang dia sudah sembuh. Allah SWT menyembuhkan dia lewat perantara kalian.”
          “Perantara kami? Kok bisa?”
          “Air bekas wudhu kalian  kemarin kami gunakan untuk membasuh kaki kirinya yang cacat. Kami yakin, Insya Allah, air yang disentuh orang-orang sholeh seperti kalian bisa membawa berkah. Dan inilah buktinya.”
          Penjelasan itu membuat tubuh Warto bergetar keras. Hati nuraninya yang selama ini tertutup hawa nafsu, tiba-tiba menjadi terang oleh kebesaran Allah yang diperlihatkan langsung di hadapannya. Pria kekar berusia sekitar 35 tahun ini menangis, lalu berlutut di hadapan Kus. Tentu saja Kus terkejut. Dengan posisi berlutut Warto berkata,
          “Kamu yang orang sholeh Pak Kus, bukan kami. Subhanallah. Allahu Akbar. Maha Suci Allah. Allah Maha Besar. Sebenarnya kami ini bukan relawan, apalagi rombongan mujahidin. Kami kawanan perampok.“ hening sejenak, lalu bicara lagi dengan air mata berlinang. “Allah SWT menyembuhkan anakmu karena niatmu yang suci. Dia menyembuhkan Yusuf karena kecintaanmu pada orang-orang sholeh, orang-orang yang berjuang di jalan Allah.”
          Warto berdiri. Dilihatnya semua kawannya juga menangis sesenggukan. Ia mengatur nafasnya yang berat, lalu berkata, “Demi Allah, Tuhan yang menguasai seluruh jagat raya…sore ini juga kami menyatakan tobat, tobat yang sebenar-benarnya. Kami berjanji tidak akan merampok lagi.”
                                                                                             9 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;