Malam yang gelap menyelimuti hutan, sawah dan sekitarnya. Rombongan perampok yang terdiri dari tujuh lelaki kekar, berjalan menembus kegelapan. Mereka membawa senjata tajam dan tas besar berisi hasil rampokan. Kini mereka berkumpul di bawah bukit, menunggu rombongan saudagar yang mau lewat. Setelah menunggu lama, pemimpin perampok berkata,
“Kelihatannya mereka sudah mencium kehadiran kita. Ya sudah, kita balik saja. Toh hasil rampokan kita hari ini sudah lumayan. Sekarang kita cari tempat bermalam.”
“Okelah, kami juga sudah lelah..” sahut perampok yang lain.
Mereka mencari warung, rumah penduduk atau rumah kosong di desa yang berada di
sekitar hutan. Beberapa saat kemudian rombongan penjahat ini menemukan rumah
kecil dan sederhana. Si pemimpin berkata, “Kita bermalam di sini saja.”
“Apa mau kita jarah juga?” Tanya
salah satu anak buahnya.
“Goblog! Jelas tidak! Memang gubug
ini isinya apa!?”
Pemimpin perampok menyuruh anak
buahnya melihat penghuni rumah sederhana itu dari jendela. Penghuninya tiga
orang. Lelaki perempuan dewasa dan seorang anak lelaki yang cacat kakinya.
Usianya sekitar 13 tahun. Setelah mengetahui penghuninya, si pemimpin mengetuk
pintu rumah itu. Pintu dibuka oleh lelaki yang sedang menemani anaknya. Usianya
empat puluhan. Pemimpin perampok cukup trenyuh
melihat keadaan rumah yang sangat sederhana, juga penghuninya yang tampak
polos. Sambil tersenyum dibuat-buat, pemimpin perampok menyapa,
“Assalamu’alaikum Pak Kyai..”
“Wa’alaikumus salaam. Siapa ya? Kok
saya baru lihat sekarang.”
“Saya Warto, musafir yang kehabisan
bekal. Bapak siapa? Yang punya rumah ini?”
“Iya, saya Kusmadi, panggilannya Kus.
Saya penduduk tulen desa ini.”
“Pak Kus ya? Hah, kebetulan sekali.
Kami hamba Allah yang baru pulang dari menolong dan melindungi saudara-saudara
sesama Muslim. Pak Kus pasti sudah dengar, desa di belakang hutan sedang
tertimpa tanah longsor, juga sedang diserang rombongan penjahat yang mayoritas
orang kafir. Kami relawan yang dikirim dari tempat jauh untuk menolong mereka.
Kami menolong tanpa pamrih. Bukankah sudah kewajiban kita untuk menolong
saudara kita yang seiman. Nah, sekarang kami mau minta ijin Pak Kus. Bolehkah
kami istirahat di sini? Sebentar saja.”
“Masya Allah...” ujar Kusmadi
tersenyum gembira. “Malam ini saya kedatangan tamu mulia. Kalian saudara saya
juga, jadi mana mungkin saya tidak mengijinkan saudara sesama Muslim mampir di
sini. Tapi mohon maaf, rumah kami jelek.”
“Itu tidak masalah,“ sahut Warto
pura-pura lembut, “yang penting bisa untuk istirahat.”
Kus mendekati wanita yang sedang
membaca Al-Quran, lalu berkata, “Ini Munaroh, istriku.”
Munaroh menunduk sambil tersenyum.
Kus berkata lirih pada istrinya, “Tolong buatkan teh hangat dan gorengkan
tempe. Mereka tamu-tamu istimewa.”
Munaroh bergegas ke belakang,
sedangkan Kus menggelar tikar tua untuk tujuh tamunya. Warto berkata, “Jangan
repot-repot lho Pak, kami cuma sebentar.”
“Lama juga tidak apa-apa. Kehadiran
mujahidin seperti kalian Insya Allah
menjadi berkah di rumah jelek ini.”
Warto tersenyum malu, “Pak Kus jangan
terlalu merendah dan memuji kami. Rumah ini memang sederhana, tapi nyamannya
tidak kalah sama istana.”
Sesaat kemudian Nyonya Kusmadi keluar
sambil membawa nampan berisi teh delapan
gelas, sepiring tempe goreng dan
setandan pisang. Kus berkata, “Silahkan teman-teman, jangan sungkan.
Habiskan saja.”
Warto dkk yang kelaparan itu langsung
melahap hidangan di hadapan mereka.
Tidak kurang dari lima menit hidangan
itu sudah amblas. Kus dan
istrinya bahagia sekali bisa menjamu
para pejuang di jalan Allah. Sambil tersenyum gembira Kus berkata, “Mohon
maaf saudara-saudaraku..kami hanya bisa
menghidangkan ini.”
Warto menyahut, “Bisa mampir di sini
saja kami sudah sangat bersyukur.”
Melihat Warto pura-pura baik dan
ramah, semua bawahannya langsung bertindak sama tanpa isyarat atau dikomandoi. Salah
satu bawahannya berujar, “Makanan ini sudah lebih dari cukup buat kami.”
“Betul!” sahut yang lain. “Ini sudah
nikmat besar bagi kami.”
Selesai makan, Kus bertanya, “Apa kalian
sudah sholat Isya’?”
Warto yang pura-pura alim menjawab,
“Sudah Pak Kus, tadi kami jamak sama Maghrib.”
Setelah itu Warto bergumam, “Padahal
kami tidak pernah sholat lima waktu.
Satu waktu pun tidak. Hah ha ha!”
Kus bertanya lagi, “Mungkin di antara
kalian ada yang mau mandi?”
“Ya, kalau ada air. Kami mau membasuh muka, sekalian
memperbarui wudhu.”
Kus tersenyum, “Itulah kebiasaan para
sahabat. Abu Hurairah dan Bilal Bin Rabah selalu memperbarui wudhu. Mereka
berusaha maksimal untuk menjaga kesucian mereka.”
“Ya, sebisa mungkin kami ingin
meniru para sahabat Nabi.”
Salah seorang perampok tersenyum
geli melihat akting bossnya yang sangat bagus, namun Kus dan Munaroh tidak
melihat senyumnya. Kus mempersilahkan Warto cs berwudhu di kendi besar yang
berada di dapur. Sesuai permintaan Kus, perampok-perampok ini mengalirkan air
wudhu mereka ke baskom dan panci. Maksudnya agar air bekas wudhu itu tidak
terbuang sia-sia. Mungkin masih bisa untuk minum hewan ternak dan menyiram tanaman.
Warto tersenyum, “Kami bisa maklum. Di
musim kemarau begini air lebih berharga dari emas atau permata.”
Setelah berwudhu, rombongan perampok
yang menyamar sebagai rombongan mujahid ini memohon diri. Sebelumnya Warto
sempat melihat seorang remaja lelaki yang berdiri dengan tongkat. Kusmadi
tersenyum, “Dia Yusuf, anak kami satu-satunya. Kaki kirinya cacat sejak lahir.”
Warto menimpali, “Nabi kita bersabda,
setiap penyakit ada obatnya. Insya Allah, penyakit Yusuf juga ada obatnya.”
“Amin!” sahut Kusmadi dan Munaroh
serentak.
Besok paginya, usai sholat Shubuh di
langgar, Kusmadi berkata pada sang istri, “Suruh Yusuf membasuh kakinya dengan
air bekas wudhu Warto semalam. Mereka relawan suci, relawan yang hatinya
benar-benar ikhlas karena Allah. Insya Allah air bekas wudhu mereka ada
berkahnya.”
Tanpa pikir panjang, Munaroh langsung
membasuh kaki kiri Yusuf yang cacat. Satu jam kemudian terjadilah keajaiban.
Cacat di kaki kiri Yusuf musnah. Yusuf pun bisa berjalan dengan normal. Kus dan
Munaroh langsung sujud syukur, kemudian saling berpelukan. Penyakit anak mereka
sembuh berkat kesucian niat dan
keyakinan mereka akan kebesaran Allah. Sambil menangis karena bahagia,
Kus dan istri memeluk dan menciumi pipi Yusuf.
*****
Besok sorenya Warto cs berniat
mendatangi rumah Kusmadi. Ia berkata pada kawan-kawannya, “Rumah Kusmadi memang
hanya ‘gubug,’ tapi entah kenapa, aku merasa
damai saat berada di dalam rumah sempit itu. Mungkin karena penghuninya
orang sholeh ya?”
Beberapa langkah kemudian tibalah
Warto cs di rumah Kusmadi, rumah sederhana yang berada di wilayah sepi. Mereka membawa
bungkusan besar berisi hasil rampokan. Kusmadi kembali menyambut rombongan Warto
dengan hangat. Lelaki miskin namun sholeh ini tidak atau belum curiga kalau
Warto cs itu kawanan perampok yang sewaktu-waktu bisa berbuat jahat terhadap
dirinya. Dengan ramah ia berkata,
“Silahkan masuk tamu-tamuku yang
mulia. Senang sekali kalian mau mampir lagi.”
Ketika Warto dan konco-konconya
hendak masuk ke rumah, Yusuf muncul di hadapan mereka. Warto terkejut melihat
anak itu bisa berjalan dengan normal. Ia bertanya, “Pak Kyai..bukannya dia anak
yang kemarin malam cacat kaki
kirinya?”
“Betul.” sahut Yusuf tersenyum
bahagia. “Alhamdulillah, sekarang dia
sudah sembuh. Allah SWT menyembuhkan dia lewat perantara kalian.”
“Perantara kami? Kok bisa?”
“Air bekas wudhu kalian kemarin kami gunakan untuk membasuh kaki
kirinya yang cacat. Kami yakin, Insya Allah, air yang disentuh orang-orang
sholeh seperti kalian bisa membawa berkah. Dan inilah buktinya.”
Penjelasan itu membuat tubuh Warto
bergetar keras. Hati nuraninya yang selama ini tertutup hawa nafsu, tiba-tiba
menjadi terang oleh kebesaran Allah yang diperlihatkan langsung di hadapannya.
Pria kekar berusia sekitar 35 tahun ini menangis, lalu berlutut di hadapan Kus.
Tentu saja Kus terkejut. Dengan posisi berlutut Warto berkata,
“Kamu yang orang sholeh Pak Kus,
bukan kami. Subhanallah. Allahu Akbar.
Maha Suci Allah. Allah Maha Besar. Sebenarnya kami ini bukan relawan, apalagi rombongan
mujahidin. Kami kawanan perampok.“ hening sejenak, lalu bicara lagi dengan air
mata berlinang. “Allah SWT menyembuhkan anakmu karena niatmu yang suci. Dia
menyembuhkan Yusuf karena kecintaanmu pada orang-orang sholeh, orang-orang yang
berjuang di jalan Allah.”
Warto berdiri. Dilihatnya semua
kawannya juga menangis sesenggukan. Ia mengatur nafasnya yang berat, lalu
berkata, “Demi Allah, Tuhan yang menguasai seluruh jagat raya…sore ini juga kami
menyatakan tobat, tobat yang sebenar-benarnya. Kami berjanji tidak akan
merampok lagi.”
9 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment