Saturday, 29 June 2013

Anak Berbakti

           Alkisah, ada seorang lelaki yang tinggal di sebuah kampung kecil di tepi kota. Ia miskin namun rajin beribadah. Namanya Hasan. Ia memiliki empat anak lelaki yang sudah dewasa. Yang nomor satu dan nomor dua sudah  berkeluarga. Arif, anak yang nomer tiga, menjadi anak yang paling dekat dengan ayahnya. Dialah putra Hasan yang paling taat pada agama, seperti ayahnya, bahkan melebihi.
      
    Kini Hasan sudah berusia enam puluh dan sudah sakit-sakitan. Kesehatannya menurun drastis sejak  empat tahun yang lalu. Mengetahui hal itu, Arif bertanya pada adik dan kedua kakaknya, “Apa kalian mau merawat Bapak? walau tidak dapat warisan. Atau aku saja yang merawat beliau?”
          Arif bertanya demikian karena  ia tahu ayahnya tidak memiliki apa-apa yang bisa diwariskan pada dirinya dan ketiga saudaranya. Ia takut saudara-saudaranya nanti tidak serius merawat Hasan, atau berhenti di tengah jalan karena kecewa, kecewa karena tidak dapat imbalan atau warisan berupa harta benda. Ia tahu ayahnya bisa mewariskan harta benda, namun harta yang sedikit itu jelas tidak cukup kalau dibagi rata untuk empat anak.
          Arif pun sadar kalau ia yang paling miskin dari ketiga saudaranya, namun  demi ayah tercinta, ia siap berkorban apapun. Ia berprinsip, segala sesuatu yang dilakukan ikhlas karena mengharap ridhoNya, pasti akan terasa ringan dan nikmat. Ketiga saudaranya yang agak angkuh itu spontan menjawab, “Kamu saja  yang merawat Bapak, sebab dari dulu kamu yang paling dekat sama Bapak.”
          Arif sudah  menduga kalau adik dan  kakak-kakaknya menjawab begitu. Namun pemuda lugu yang murah senyum ini tidak kecewa, sebab merawat orang tua yang sudah  sakit-sakitan merupakan amal sholeh yang tak ternilai. Baginya, bisa merawat orang tua sampai akhir hayatnya  merupakan kebahagiaan tiada tara.   
                                                  *****
          Setahun kemudian, Hasan berpulang ke rahmatullah di usianya yang ke 61 lebih 3 bulan. Ia wafat dalam pelukan Siti, istrinya, dan Arif, anak kesayangannya. Arif tidak mendapat warisan sedikit pun, kecuali nasehat-nasehat bijak sang ayah. Namun Arif tidak mempermasalahkan  hal itu. Baginya, menjadi anak yang berbakti pada ortu itu pasti akan mendatangkan berkah yang lebih besar dari tumpukan emas segunung.
          Beberapa waktu kemudian, tepatnya di malam hari, Arif bermimpi didatangi seorang pria berwajah menyenangkan. Pria itu berkata, “Bekerjalah di tempat ini selama seminggu, nanti upahmu seratus ribu.”
          “Apa ada berkahnya?” Tanya Arif.
          “Tidak ada.”
          Paginya, Arif menceritakan mimpinya pada Siti. Arif yang sudah menganggur tiga bulan, langsung diperintah ibunya untuk mendatangi tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan. Sang ibu berkata, “Ini kesempatan emas, anakku. Kalau kamu bekerja lagi, kebutuhan sehari-hari kita bisa terpenuhi dengan layak.”
            Namun Arif menolak karena tidak ada berkahnya. Besok malamnya Arif kembali bermimpi didatangi lelaki itu. Ia berkata, “Bekerjalah di sana selama seminggu, nanti upahmu enam puluh ribu.”
           Arif kembali bertanya, “Apa ada berkahnya?”
          “Tidak ada.”
          Paginya, Siti kembali menyuruh Arif mendatangi tempat dalam mimpinya itu, namun Arif tetap menolak karena tidak ada berkahnya. Malamnya, pria berwajah menyenangkan itu kembali menghampiri Arif untuk yang ketiga kalinya. Ia berkata, “Bekerjalah di sana selama seminggu. Upahmu dua puluh ribu.”
          “Apa ada berkahnya?” Tanya Arif untuk yang ketiga kalinya.
          “Ada, banyak!”
          Arif terbangun dari tidurnya dengan tersentak gembira. Ia langsung mendatangi tempat dalam mimpinya, lalu bekerja sebagai penjual kertas dan kerdus bekas. Tempat yang didatanginya itu ternyata warung makan dan toko kelontong kecil. Setelah bekerja selama seminggu, Arif mendapat upah dua puluh ribu, seperti yang ia lihat dalam mimpinya. Ia langsung pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-harinya, terutama untuk sang ibu tercinta yang sudah menantinya di rumah.
          Ketika mau belanja, bujang 25 tahun ini bertemu dengan seorang lelaki yang membawa  seekor ikan laut yang bentuknya lucu, tidak seperti ikan pada umumnya. Arif yang tertarik hatinya, bertanya, “Berapa harganya?”
          “Lima belas.”
          Arif bergumam, “Masih sisa lima ribu, untuk makan ibu.”
          Arif pulang dengan membawa belanjaan dan seekor ikan yang bentuknya tidak wajar. Ia taruh ikan itu di tempat yang terbuat dari kaca. Besoknya Arif terkejut karena penjual ikan lucu itu mendatanginya. Lelaki berkumis tipis itu membawa seorang lelaki yang ternyata seorang tokoh penting. Ia seorang tabib  atau dokter pribadinya Harno, seorang pengusaha besar. Tabib itu bercerita, putri Harno yang bernama Retno sedang sakit keras. Sudah dua bulan ini Retno belum sembuh, walaupun sakitnya sudah berkurang. Padahal segala macam pengobatan sudah dijalankan. Kata si tabib, yang bisa  menyembuhkan  penyakit Retno hanya ikan lucu yang sekarang sudah jadi milik Arif.
          Tabib pun memeriksa ikan itu, lalu berkata, “Benar Bung, inilah ikan ajaib itu.”
          Tabib membujuk Arif agar bersedia menjual ikan itu. Berapapun harganya, Harno yang kaya raya itu akan membayarnya. Yang penting Retno, putri tercintanya bisa sembuh seperti sedia kala. Arif bertutur, “Baiklah. Tolong sampaikan dua hal untuk Pak Harno yang terhormat.”
          “Lima puluh hal pun akan kusampaikan!” sahut tabib semangat. Arif tersenyum geli, lalu berkata lembut, “Pertama, ikan ini kujual 150 ribu. Kedua, aku minta tolong dicarikan pekerjaan di  kantornya Pak Harno. Kalau sudah tidak ada lowongan, Pak  Harno yang orang  besar itu pasti punya banyak  kenalan. Siapa tahu, ada teman beliau yang bisa memberiku pekerjaan.”
          “Baiklah,” sahut tabib mantap, “bagi Tuan Harno, permintaanmu itu hanya soal sepele.”
          Retno pun sembuh setelah makan ikan lucu itu. Harno dan istrinya menangis karena rasa syukur yang tiada tara kepada Allah SWT. Harno langsung  memasukkan Arif ke kantornya yang sudah ternama. Arif mendapat kenikmatan besar.  Pemuda sholeh yang bertahun-tahun hidup miskin ini sekarang hidup enak. Ia mendapat posisi yang cukup terhormat di kantornya. Ia yakin, inilah buah dari baktinya pada sang ayah tercinta.

                                                                                                          7 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;