Alkisah, ada seorang lelaki yang
tinggal di sebuah kampung kecil di tepi kota. Ia miskin namun rajin beribadah.
Namanya Hasan. Ia memiliki empat anak lelaki yang sudah dewasa. Yang nomor satu
dan nomor dua sudah berkeluarga. Arif,
anak yang nomer tiga, menjadi anak yang paling dekat dengan ayahnya. Dialah
putra Hasan yang paling taat pada agama, seperti ayahnya, bahkan melebihi.
Kini Hasan sudah berusia enam puluh dan sudah sakit-sakitan. Kesehatannya menurun drastis sejak empat tahun yang lalu. Mengetahui hal itu, Arif bertanya pada adik dan kedua kakaknya, “Apa kalian mau merawat Bapak? walau tidak dapat warisan. Atau aku saja yang merawat beliau?”
Kini Hasan sudah berusia enam puluh dan sudah sakit-sakitan. Kesehatannya menurun drastis sejak empat tahun yang lalu. Mengetahui hal itu, Arif bertanya pada adik dan kedua kakaknya, “Apa kalian mau merawat Bapak? walau tidak dapat warisan. Atau aku saja yang merawat beliau?”
Arif bertanya demikian karena ia tahu ayahnya tidak memiliki apa-apa yang bisa
diwariskan pada dirinya dan ketiga saudaranya. Ia takut saudara-saudaranya
nanti tidak serius merawat Hasan, atau berhenti di tengah jalan karena kecewa,
kecewa karena tidak dapat imbalan atau warisan berupa harta benda. Ia tahu
ayahnya bisa mewariskan harta benda, namun harta yang sedikit itu jelas tidak
cukup kalau dibagi rata untuk empat anak.
Arif pun sadar kalau ia yang paling
miskin dari ketiga saudaranya, namun
demi ayah tercinta, ia siap berkorban apapun. Ia berprinsip, segala
sesuatu yang dilakukan ikhlas karena mengharap ridhoNya, pasti akan terasa
ringan dan nikmat. Ketiga saudaranya yang agak angkuh itu spontan menjawab, “Kamu
saja yang merawat Bapak, sebab dari dulu
kamu yang paling dekat sama Bapak.”
Arif sudah menduga kalau adik dan kakak-kakaknya menjawab begitu. Namun pemuda
lugu yang murah senyum ini tidak kecewa, sebab merawat orang tua yang
sudah sakit-sakitan merupakan amal
sholeh yang tak ternilai. Baginya, bisa merawat orang tua sampai akhir hayatnya merupakan kebahagiaan tiada tara.
*****
Setahun kemudian, Hasan berpulang ke
rahmatullah di usianya yang ke 61 lebih 3 bulan. Ia wafat dalam pelukan Siti,
istrinya, dan Arif, anak kesayangannya. Arif tidak mendapat warisan sedikit
pun, kecuali nasehat-nasehat bijak sang ayah. Namun Arif tidak
mempermasalahkan hal itu. Baginya,
menjadi anak yang berbakti pada ortu itu pasti akan mendatangkan berkah yang
lebih besar dari tumpukan emas segunung.
Beberapa waktu kemudian,
tepatnya di malam hari, Arif bermimpi didatangi seorang pria berwajah
menyenangkan. Pria itu berkata, “Bekerjalah di tempat ini selama seminggu,
nanti upahmu seratus ribu.”
“Apa ada berkahnya?” Tanya Arif.
“Tidak ada.”
Paginya, Arif menceritakan mimpinya
pada Siti. Arif yang sudah menganggur tiga bulan, langsung diperintah ibunya
untuk mendatangi tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan. Sang ibu berkata,
“Ini kesempatan emas, anakku. Kalau kamu bekerja lagi, kebutuhan sehari-hari
kita bisa terpenuhi dengan layak.”
Namun Arif menolak karena tidak ada
berkahnya. Besok malamnya Arif kembali bermimpi didatangi lelaki itu. Ia
berkata, “Bekerjalah di sana selama seminggu, nanti upahmu enam puluh ribu.”
Arif kembali bertanya, “Apa ada
berkahnya?”
“Tidak ada.”
Paginya, Siti kembali menyuruh Arif
mendatangi tempat dalam mimpinya itu, namun Arif tetap menolak karena tidak ada
berkahnya. Malamnya, pria berwajah menyenangkan itu kembali menghampiri Arif
untuk yang ketiga kalinya. Ia berkata, “Bekerjalah di sana selama seminggu.
Upahmu dua puluh ribu.”
“Apa ada berkahnya?” Tanya Arif untuk
yang ketiga kalinya.
“Ada, banyak!”
Arif terbangun dari tidurnya dengan
tersentak gembira. Ia langsung mendatangi tempat dalam mimpinya, lalu bekerja
sebagai penjual kertas dan kerdus bekas. Tempat yang didatanginya itu ternyata
warung makan dan toko kelontong kecil. Setelah bekerja selama seminggu, Arif
mendapat upah dua puluh ribu, seperti yang ia lihat dalam mimpinya. Ia langsung
pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-harinya, terutama untuk sang ibu
tercinta yang sudah menantinya di rumah.
Ketika mau belanja, bujang 25 tahun
ini bertemu dengan seorang lelaki yang membawa
seekor ikan laut yang bentuknya lucu, tidak seperti ikan pada umumnya.
Arif yang tertarik hatinya, bertanya, “Berapa harganya?”
“Lima belas.”
Arif bergumam, “Masih sisa lima ribu,
untuk makan ibu.”
Arif pulang dengan membawa belanjaan
dan seekor ikan yang bentuknya tidak wajar. Ia taruh ikan itu di tempat yang
terbuat dari kaca. Besoknya Arif terkejut karena penjual ikan lucu itu
mendatanginya. Lelaki berkumis tipis itu membawa seorang lelaki yang ternyata
seorang tokoh penting. Ia seorang tabib
atau dokter pribadinya Harno, seorang pengusaha besar. Tabib itu
bercerita, putri Harno yang bernama Retno sedang sakit keras. Sudah dua bulan
ini Retno belum sembuh, walaupun sakitnya sudah berkurang. Padahal segala macam
pengobatan sudah dijalankan. Kata si tabib, yang bisa menyembuhkan
penyakit Retno hanya ikan lucu yang sekarang sudah jadi milik Arif.
Tabib pun memeriksa ikan itu, lalu
berkata, “Benar Bung, inilah ikan ajaib itu.”
Tabib membujuk Arif agar bersedia
menjual ikan itu. Berapapun harganya, Harno yang kaya raya itu akan
membayarnya. Yang penting Retno, putri tercintanya bisa sembuh seperti sedia
kala. Arif bertutur, “Baiklah. Tolong sampaikan dua hal untuk Pak Harno yang
terhormat.”
“Lima puluh hal pun akan
kusampaikan!” sahut tabib semangat. Arif tersenyum geli, lalu berkata lembut,
“Pertama, ikan ini kujual 150 ribu. Kedua, aku minta tolong dicarikan pekerjaan
di kantornya Pak Harno. Kalau sudah
tidak ada lowongan, Pak Harno yang
orang besar itu pasti punya banyak kenalan. Siapa tahu, ada teman beliau yang
bisa memberiku pekerjaan.”
“Baiklah,” sahut tabib mantap, “bagi
Tuan Harno, permintaanmu itu hanya soal sepele.”
Retno pun sembuh setelah makan ikan
lucu itu. Harno dan istrinya menangis karena rasa syukur yang tiada tara kepada
Allah SWT. Harno langsung memasukkan
Arif ke kantornya yang sudah ternama. Arif mendapat kenikmatan besar. Pemuda sholeh yang bertahun-tahun hidup
miskin ini sekarang hidup enak. Ia mendapat posisi yang cukup terhormat di
kantornya. Ia yakin, inilah buah dari baktinya pada sang ayah tercinta.
7 Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment