Sudah
bertahun-tahun Hamdan dan keluarganya hidup miskin. Dulu ia sempat hidup agak
enak, namun hanya berlangsung dua tahun karena usaha yang ia jalani bersama
keluarganya kandas di tengah jalan. Walaupun begitu, Hamdan tidak mengeluh
berlarut-larut karena ia seorang lelaki yang sholeh. Ia selalu berusaha untuk bersabar
dalam menerima segala keadaan yang memang sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Hamdan, lelaki berusia 29 tahun yang menikah dengan Rusti, gadis tetangga desanya. Setahun usia pernikahan mereka. Usia Hamdan empat tahun di atas Rusti, gadis manis yang sederhana namun bersahaja. Pasangan muda yang belum dikaruniai buah hati ini tinggal di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Hamdan bekerja serabutan untuk menghidupi diri dan istrinya. Apapun ia jalani, yang penting halal. Namun sudah dua bulan ini Hamdan menganggur. Bukan karena ia tidak mau atau malas bekerja, namun karena ia belum dapat pekerjaan lagi, atau belum ada orang yang membutuhkan jasa, tenaga atau pikirannya.
Hamdan, lelaki berusia 29 tahun yang menikah dengan Rusti, gadis tetangga desanya. Setahun usia pernikahan mereka. Usia Hamdan empat tahun di atas Rusti, gadis manis yang sederhana namun bersahaja. Pasangan muda yang belum dikaruniai buah hati ini tinggal di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Hamdan bekerja serabutan untuk menghidupi diri dan istrinya. Apapun ia jalani, yang penting halal. Namun sudah dua bulan ini Hamdan menganggur. Bukan karena ia tidak mau atau malas bekerja, namun karena ia belum dapat pekerjaan lagi, atau belum ada orang yang membutuhkan jasa, tenaga atau pikirannya.
*****
Hamdan berniat menjual kambingnya
untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya. Ketika langit masih agak gelap,
Hamdan sudah keluar rumah bersama kambingnya yang cuma seekor. Kambing itulah
satu-satunya harta miliknya. Beberapa jam kemudian ia pulang dengan wajah lebih
cerah karena membawa uang 50 ribu. Untuk jaman dulu (tahun 1980-an), uang 50
ribu sudah cukup banyak.
Beberapa langkah kemudian Hamdan melihat
dua lelaki muda yang berkelahi. Tidak ada orang yang memisah mereka karena
tempat itu memang sepi. Hamdan pun melerai mereka, lalu bertanya, “Ada apa ini?
Kenapa kalian sampai berkelahi habis-habisan!? Ada masalah apa?”
Satu dari dua pemuda itu menjelaskan,
mereka berkelahi hanya karena berebut uang 50 ribu. Hamdan yang orang sholeh,
langsung tersentuh hatinya begitu mengetahui penyebab perkelahian dua pemuda
itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyerahkan uang 50 ribu di tangannya
pada dua pemuda itu. Uang hasil menjual kambing itu ia bagi dengan adil.
Masing-masing dapat dua lima.
Hamdan yang sudah tidak memiliki
apapun, pulang dengan tangan hampa. Begitu ketemu Rusti, Hamdan langsung
menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Rusti yang juga perempuan
sholelah, tidak mengeluh sedikitpun. Ia langsung mengumpulkan semua barang yang
ada di rumah untuk dijual, namun semuanya sudah tidak laku. Hamdan pergi lagi
sambil membawa barang-barang yang sudah tidak layak dijual. Ia berjalan dengan
langkah gontai. Ia bergumam, “Ya Allah, kuatkan hatiku, agar aku bisa tetap
sabar dan ridho dalam menghadapi semua ujianMu ini. Kuatkan imanku yang rapuh,
agar aku tetap yakin bahwa semua ini termasuk nikmatMu untukku.”
Ketika sampai di tepi hutan kecil,
Hamdan bertemu seorang lelaki yang membawa ikan yang sudah rusak. Lelaki gemuk
sepantaran Hamdan itu berkata, “Kita senasib Sobat..sama-sama membawa barang
yang sudah tidak laku. Sekarang gimana kalau barang-barangmu kubeli dengan
barangku ini?”
Hamdan mengangguk karena perutnya
sudah keroncongan. Ia pulang dengan membawa ikan rusak. Begitu sampai di rumah,
Hamdan berkata pada Rusti, “Istriku, cepat bersihkan ikan ini, biar kita
tidak mati kelaparan.”
“Dimasak atau digoreng Mas?”
“Terserah kamu, yang penting bisa mengganjal perut
kita.”
Rusti pun membersihkan ikan itu.
Ketika membelah perutnya, pisaunya menyentuh sesuatu. Rusti terkejut melihat
sebuah benda berkilauan di dalam perut ikan itu. Ia ambil benda itu, lalu
menghampiri suaminya. “Mas Ham, aku menemukan sesuatu di perut ikan itu. Kelihatannya
mutiara. Coba kamu lihat.”
Hamdan memeriksa mutiara itu dengan
teliti. Sedetik kemudian ia tersenyum gembira, “Maha Suci Allah. Kita
benar-benar mendapat rejeki nomplok.”
Rusti tersenyum manis, lalu bertanya,
“Kalau dijual, kira-kira berapa harganya?”
“Aku tidak tahu, tapi Insya Allah aku
akan menemui temanku yang ahli mutiara.”
Hamdan langsung mendatangi rumah temannya
yang ahli mutiara. Ia bertanya, “Kawanku, “Kira-kira berapa harga mutiara ini?”
Setelah meneliti dengan seksama, pria itu
berkata, “Aku hanya bisa membeli lima ratus. Kalau kamu mau, bisa kubayar
sekarang. Tapi kalau kamu mau yang lebih tinggi, kamu bisa mendatangi Si A.”
Hamdan pun menemui Si A, lalu
menawarkan mutiaranya. Setelah memeriksa mutiara dengan teliti, Si A berkata,
“Aku hanya mampu membeli Sembilan ratus. Kalau kamu mau, bisa kubayar sekarang.
Tapi kalau kamu mau yang lebih tinggi, datangilah rumah Si B.”
Hamdan langsung mendatangi rumah Si B,
lalu memintanya untuk memeriksa mutiaranya. Sesaat kemudian Si B berkata,
“Mutiaramu ini kubeli dua juta. Aku yakin, tidak ada lagi yang berani memberi
kamu lebih dari dua juta.”
Hamdan mengangguk mantap sambil
tersenyum gembira. Ia pulang dengan membawa tiga karung besar. Ia dan Rusti
berpelukan erat. Rusti yang menaruh kepalanya di dada Hamdan, berkata, “Inilah
keajaiban sedekah. Inilah buah kesabaranmu selama ini. Betapa bahagianya aku,
bisa jadi istri lelaki sholeh. Makasih banyak ya Mas..”
“Sama-sama, Manisku (mengelus rambut Rusti
yang lurus agak berombak).”
Dengan uang dua juta, keadaan ekonomi
Hamdan dan Rusti menjadi jauh lebih baik dan layak. Setahun kemudian Hamdan
menjadi orang terkaya nomor tiga di desanya. Walaupun begitu, Hamdan dan Rusti
tidak lupa diri. Mereka tetap menjadi pasangan yang rajin beribadah, bahkan
mereka semakin rajin beribadah karena fasilitas yang semakin mendukung.
*****
Pagi itu Hamdan dan motornya pulang
dari suatu tempat. Ia melihat seorang pengemis lelaki yang berdiri dekat pohon
yang tumbuh beberapa meter dari rumahnya. Hatinya yang lembut, langsung trenyuh begitu melihat keadaan lelaki
berusia 40 tahunan itu. Dengan hati ikhlas Hamdan merogoh uang di dompetnya,
lalu ia serahkan pada pengemis itu. Ia berkata sambil tersenyum ramah,
“Sesama Muslim itu saudara. Keadaanku
dulu seperti keadaan Bapak sekarang, jadi aku bisa merasakan derita yang Bapak
rasakan.”
Malam harinya Hamdan bermimpi
didatangi seorang pemuda gagah tampan berpakaian indah. Hamdan bertanya, “Aku
belum pernah melihat lelaki seganteng dan segagah kamu. Siapa kamu?”
“Aku pengemis yang kamu tolong tadi
siang. Allah SWT membalas kebaikanmu dengan dua puluh kebaikan. Yang satu sudah
kamu rasakan sekarang ini, yang sembilan
belas disimpan Allah untuk kehidupan akhiratmu kelak.”
Yogyakarta, 5 Januari 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment