Saturday, 29 June 2013

Keajaiban Sedekah

           Sudah bertahun-tahun Hamdan dan keluarganya hidup miskin. Dulu ia sempat hidup agak enak, namun hanya berlangsung dua tahun karena usaha yang ia jalani bersama keluarganya kandas di tengah jalan. Walaupun begitu, Hamdan tidak mengeluh berlarut-larut karena ia seorang lelaki yang sholeh. Ia selalu berusaha untuk bersabar dalam menerima segala keadaan yang memang sudah menjadi kehendak Allah SWT.
        
  Hamdan, lelaki berusia 29 tahun yang menikah dengan Rusti, gadis tetangga desanya. Setahun usia pernikahan mereka. Usia Hamdan empat tahun di atas Rusti, gadis manis yang sederhana namun bersahaja. Pasangan muda yang belum dikaruniai buah hati ini tinggal di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Hamdan bekerja serabutan untuk menghidupi diri dan istrinya. Apapun ia jalani, yang penting halal. Namun sudah  dua bulan ini Hamdan menganggur. Bukan karena ia tidak mau atau malas bekerja, namun karena ia belum dapat pekerjaan lagi, atau belum ada orang yang membutuhkan jasa, tenaga atau pikirannya.
                                                        *****
          Hamdan berniat menjual kambingnya untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya. Ketika langit masih agak gelap, Hamdan sudah keluar rumah bersama kambingnya yang cuma seekor. Kambing itulah satu-satunya harta miliknya. Beberapa jam kemudian ia pulang dengan wajah lebih cerah karena membawa uang 50 ribu. Untuk jaman dulu (tahun 1980-an), uang 50 ribu sudah cukup banyak.
          Beberapa langkah kemudian Hamdan melihat dua lelaki muda yang berkelahi. Tidak ada orang yang memisah mereka karena tempat itu memang sepi. Hamdan pun melerai mereka, lalu bertanya, “Ada apa ini? Kenapa kalian sampai berkelahi habis-habisan!? Ada masalah apa?”
          Satu dari dua pemuda itu menjelaskan, mereka berkelahi hanya karena berebut uang 50 ribu. Hamdan yang orang sholeh, langsung tersentuh hatinya begitu mengetahui penyebab perkelahian dua pemuda itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyerahkan uang 50 ribu di tangannya pada dua pemuda itu. Uang hasil menjual kambing itu ia bagi dengan adil. Masing-masing dapat dua lima.
          Hamdan yang sudah tidak memiliki apapun, pulang dengan tangan hampa. Begitu ketemu Rusti, Hamdan langsung menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Rusti yang juga perempuan sholelah, tidak mengeluh sedikitpun. Ia langsung mengumpulkan semua barang yang ada di rumah untuk dijual, namun semuanya sudah tidak laku. Hamdan pergi lagi sambil membawa barang-barang yang sudah tidak layak dijual. Ia berjalan dengan langkah gontai. Ia bergumam, “Ya Allah, kuatkan hatiku, agar aku bisa tetap sabar dan ridho dalam menghadapi semua ujianMu ini. Kuatkan imanku yang rapuh, agar aku tetap yakin bahwa semua ini termasuk nikmatMu untukku.”
          Ketika sampai di tepi hutan kecil, Hamdan bertemu seorang lelaki yang membawa ikan yang sudah rusak. Lelaki gemuk sepantaran Hamdan itu berkata, “Kita senasib Sobat..sama-sama membawa barang yang sudah tidak laku. Sekarang gimana kalau barang-barangmu kubeli dengan barangku ini?”
          Hamdan mengangguk karena perutnya sudah keroncongan. Ia pulang dengan membawa ikan rusak. Begitu sampai di rumah, Hamdan berkata pada Rusti, “Istriku, cepat bersihkan ikan ini, biar kita tidak  mati kelaparan.”
          “Dimasak atau digoreng Mas?”
          “Terserah  kamu, yang penting bisa mengganjal perut kita.”
          Rusti pun membersihkan ikan itu. Ketika membelah perutnya, pisaunya menyentuh sesuatu. Rusti terkejut melihat sebuah benda berkilauan di dalam perut ikan itu. Ia ambil benda itu, lalu menghampiri suaminya. “Mas Ham, aku menemukan sesuatu di perut ikan itu. Kelihatannya mutiara. Coba kamu lihat.”
          Hamdan memeriksa mutiara itu dengan teliti. Sedetik kemudian ia tersenyum gembira, “Maha Suci Allah. Kita benar-benar mendapat rejeki nomplok.”
          Rusti tersenyum manis, lalu bertanya, “Kalau dijual, kira-kira berapa harganya?”
          “Aku tidak tahu, tapi Insya Allah aku akan menemui temanku yang ahli mutiara.”
          Hamdan langsung mendatangi rumah temannya yang ahli mutiara. Ia bertanya, “Kawanku, “Kira-kira berapa harga mutiara ini?”
          Setelah meneliti dengan seksama, pria itu berkata, “Aku hanya bisa membeli lima ratus. Kalau kamu mau, bisa kubayar sekarang. Tapi kalau kamu mau yang lebih tinggi, kamu bisa mendatangi Si A.”
          Hamdan pun menemui Si A, lalu menawarkan mutiaranya. Setelah memeriksa mutiara dengan teliti, Si A berkata, “Aku hanya mampu membeli Sembilan ratus. Kalau kamu mau, bisa kubayar sekarang. Tapi kalau kamu mau yang lebih tinggi, datangilah rumah Si B.”
          Hamdan langsung mendatangi rumah Si B, lalu memintanya untuk memeriksa mutiaranya. Sesaat kemudian Si B berkata, “Mutiaramu ini kubeli dua juta. Aku yakin, tidak ada lagi yang berani memberi kamu lebih dari dua juta.”
          Hamdan mengangguk mantap sambil tersenyum gembira. Ia pulang dengan membawa tiga karung besar. Ia dan Rusti berpelukan erat. Rusti yang menaruh kepalanya di dada Hamdan, berkata, “Inilah keajaiban sedekah. Inilah buah kesabaranmu selama ini. Betapa bahagianya aku, bisa jadi istri lelaki sholeh. Makasih banyak ya Mas..”
          “Sama-sama, Manisku (mengelus rambut Rusti yang lurus agak berombak).”
          Dengan uang dua juta, keadaan ekonomi Hamdan dan Rusti menjadi jauh lebih baik dan layak. Setahun kemudian Hamdan menjadi orang terkaya nomor tiga di desanya. Walaupun begitu, Hamdan dan Rusti tidak lupa diri. Mereka tetap menjadi pasangan yang rajin beribadah, bahkan mereka semakin rajin beribadah karena fasilitas yang semakin mendukung.
                                                     *****
          Pagi itu Hamdan dan motornya pulang dari suatu tempat. Ia melihat seorang pengemis lelaki yang berdiri dekat pohon yang tumbuh beberapa meter dari rumahnya. Hatinya yang lembut, langsung trenyuh begitu melihat keadaan lelaki berusia 40 tahunan itu. Dengan hati ikhlas Hamdan merogoh uang di dompetnya, lalu ia serahkan pada pengemis itu. Ia berkata sambil tersenyum ramah,
          “Sesama Muslim itu saudara. Keadaanku dulu seperti keadaan Bapak sekarang, jadi aku bisa merasakan derita yang Bapak rasakan.”
          Malam harinya Hamdan bermimpi didatangi seorang pemuda gagah tampan berpakaian indah. Hamdan bertanya, “Aku belum pernah melihat lelaki seganteng dan segagah kamu. Siapa kamu?”
          “Aku pengemis yang kamu tolong tadi siang. Allah SWT membalas kebaikanmu dengan dua puluh kebaikan. Yang satu sudah kamu rasakan sekarang ini,  yang sembilan belas disimpan Allah untuk kehidupan akhiratmu kelak.”
        
                                                                                           Yogyakarta, 5 Januari 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;