Setahun sebelum berpulang ke rahmatullah, Yusuf berpesan pada Ninih, istrinya, agar salah satu dari lima anaknya yang masih muda disumbangkan pada agama. Maksudnya, satu dari lima anaknya harus ada yang mendalami ilmu agama. Kelima anaknya masih belia. Empat lelaki satu perempuan. Yang sulung baru berusia 18 tahun. Yang perempuan alias yang bungsu masih berusia 5 tahun.
Yusuf meninggal di usia yang masih relatitf muda, 51 tahun. Ia meninggal karena stroke yang sudah dideritanya selama lima tahun. Kebanyakan orang memanggilnya Pak Ustadz Yusuf. Kadang juga dipanggil Pak Haji, padahal ia belum pernah pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji. Hal itu karena keadaan ekonominya tidak memungkinkan. Ia juga tidak pernah menganggap dirinya seorang ulama, kyai atau ustadz. Ia merasa ilmunya terlalu dangkal untuk dianggap ustadz.
Sejak dulu Yusuf dan Ninih menganggap Abdul Kadir atau Kadir, anak
mereka yang nomor tiga, sebagai anak satu-satunya yang paling pantas untuk
mengabdi pada agama. Anggapan itu tidak berlebihan, sebab Kadir memang yang
paling rajin sholat, paling banyak hafalan Al-Qurannya, dan yang paling baik
akhlaknya. Usianya baru 13 tahun, namun sikap dan cara berpikirnya sehari-hari
sudah seperti remaja berusia di atas 15 tahun. Banyak orang menganggap Kadir
lebih dewasa dari kedua kakaknya. Pada Kadirlah Yusuf menaruh harapan besar.
Amanat agung itu dipegang erat oleh
Ninih. Walaupun ia tahu kalau menuntut ilmu itu penuh rintangan berat, termasuk
butuh biaya yang tidak sedikit, wanita berusia 45 tahun ini bertekad bulat
untuk mewujudkan pesan mulia almarhum suaminya. Kini ia tinggal di rumah
bersama Kadir dan kedua adiknya. Anaknya yang sulung dan yang nomor dua sudah
tidak di rumah. Mereka bekerja ikut pamannya, adik sepupunya Yusuf.
*****
Pagi itu Kadir disuruh ibunya belanja
di pasar yang letaknya cukup dekat dengan desa tempat tinggalnya. Siangnya
Kadir bekerja di ladang bersama tetangganya. Ia bekerja sampai sore. Mungkin
seharusnya anak seusia dia masih sekolah dan bermain bersama teman-teman
sebanya. Namun karena sejak kecil ia sudah dididik keras oleh Yusuf, juga
karena ayahnya telah pergi untuk selamanya, mau tidak mau ia harus menjalani
kejamnya hidup.
Malamnya, seusai sholat Isya’ di
surau, Kadir langsung tidur karena kelelahan. Ninih yang kebetulan lewat di
kamarnya yang kecil, berdiri sejenak di pintu kamar yang terbuka sedikit.
Ditatapnya sang buah hati yang sudah tidur nyenyak. Ia mendekati Kadir, lalu
duduk di sampingnya. Wanita empat puluh tahunan yang masih terlihat cantik ini
tersenyum manis, lalu bergumam,
“Demi mewujudkan niat luhur ayahmu,
Insya Allah apapun akan kulakukan. Dengan semangat laa haula walaa quwwata illaa billah, tiada daya dan kekuatan
kecuali dari Allah, aku akan berusaha dengan segenap jiwa ragaku.”
Ninih menyelimuti kaki dan badan
Kadir, lalu meninggalkan kamar dengan menutup pintunya. Bunga tidur pun
menghampiri Kadir. Ia melihat seorang lelaki gagah dan tampan memakai baju
serba putih. Wajahnya teduh dan bercahaya. Ia menghampiri Kadir, lalu berkata
lembut namun tegas, “Kadir, kamu harus menjalankan amanat ayahmu. Jangan
mengulur waktu. Sekarang juga kamu harus meninggalkan rumah untuk tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu), terutama
ilmu agama.”
Kadir yang agak ketakutan, menyahut,
“Tapi Ibuku gimana? Nanti tidak ada yang menjaga dan menemani ibuku? Kedua
adikku masih kecil.”
“Itu bukan alasan bagimu untuk tidak
merantau. Serahkan ibumu pada Zat Yang Maha Sempurna. Dia sendiri yang akan
menjamin kehidupan ibu dan kedua adikmu.
Percayalah.”
Kadir tersenyum gembira. “Baiklah,
sekarang aku lega. Insya Allah, secepat mungkin aku akan merantau, merantau untuk menimba ilmu.”
Paginya, Kadir langsung melaporkan
mimpinya pada Ninih. Ia berkata, “Dua minggu yang lalu Pak Kyai Damar juga
bilang begitu. Insya Allah aku mantap Bu. Relakan aku pergi untuk tujuan yang
paling mulia dalam hidup singkat ini. Relakan aku pergi untuk mengabdi pada
agama, sebagaimana pesan Ayah.” Hening sejenak, lalu bertanya, “Ibu ikhlas
kan?”
Ninih yang sangat terharu, tidak bisa
berkata apapun. Pertanyaan anaknya itu hanya ia jawab dengan linangan air mata.
Kebahagiaan tiada tara memenuhi hatinya. Malam harinya Ninih sholat tahajud. Ia
berdoa, “Ya Allah, kalau ini memang yang terbaik untuk Kadir, aku rela
melepasnya dalam waktu yang cukup lama. Percikkanlah cahaya cintaMu, agar dia
bisa terus berada di jalan yang Engkau ridhoi. Amin.”
Besok paginya Ninih memberi uang 60
ribu untuk bekal perjalanan Kadir. Hanya itu warisan Yusuf yang berwujud harta.
Untuk tahun 1960-an, uang 60 ribu sudah agak banyak. Ninih berpesan, “Selama
belajar nanti, kamu tidak boleh bohong. Kamu harus jujur. Apapun yang akan kamu
hadapi nanti, sebisa mungkin kamu harus jujur. Jujur kunci kesuksesan dan
kebahagiaan kita, sedangkan dusta kunci kegagalan dan kehancuran kita. Camkan
itu, buah hatiku.”
“Insya Allah Bu..” sahut Kadir
mantap. Ninih mencium dahi Kadir, lalu Kadir mencium tangan kanan ibunya. Ia
tinggalkan rumah dengan diantar temannya naik motor. Sang Ibu melepas
kepergiaannya dengan tangis bahagia. Setelah sampai di pintu gerbang desa,
Kadir langsung naik bus angkot yang kebetulan berhenti di situ. Perjalanan
panjang dan melelahkan pun dimulai.
Bus kecil itu sesak oleh penumpang.
Kadir termasuk beruntung karena dapat tempat duduk, walaupun berdesakan.
Setelah penumpangnya semakin berkurang, Kadir dan yang lain bisa lebih
‘bernafas’. Semua itu berkat kesabarannya sejak tadi pagi. Beberapa jam
kemudian, bus yang ditunggangi Kadir mendapat rintangan berat dan berbahaya.
Bus itu dihentikan oleh sepuluh lelaki kekar bertampang garang. Hampir semuanya
membawa senjata tajam. Ternyata mereka perampok.
Begitu masuk ke dalam bus, mereka
langsung menodong penumpang dengan pedang, golok, pisau besar, clurit dan
sejenisnya. Seorang pria brewok berusia tiga puluhan berseru, “Pokoknya kalian
tinggal menyerahkan uang atau harta kalian! Setelah itu semuanya beres!”
Rupanya dia pemimpin
penjahat-penjahat itu. Karena ketakutan, para penumpang itu langsung menyerahkan
uang dan harta benda mereka. Ada beberapa orang yang masih menyembunyikan harta
mereka, namun hal itu hanya berlangsung sebentar karena mereka diancam akan
dibunuh. Mata perampok-perampok itu langsung hijau begitu melihat uang yang
mereka raih. Mereka tertawa binal.
“Masih ada lagi!?” Tanya si pemimpin
sambil mengacungkan goloknya. Mukanya lebih seram dari harimau kelaparan.
Melihat semuanya diam, ia kembali bertanya dengan nada membentak, “Orang-orang
tolol! Masih ada lagi yang punya barang berharga tidak!!? Kalau masih ingin
hidup, cepat serahkan!”
“Ya! Aku punya 60 ribu!” seru Kadir
dengan gagah berani. Si Brewok dan kawan-kawan terkejut melihat keberanian
bocah yang baru mau baligh atau dewasa.
Demikian pula dengan semua penumpang bus. Kini pandangan semuanya
tertuju pada Kadir.
Si Brewok mendekati Kadir yang duduk
di jok paling belakang. Dengan mata melotot ia berkata, “Hei Bocah…apa aku
tidak salah dengar? Kamu jangan main-main sama aku. Seluruh wilayah ini sudah
tahu namaku! Siapapun yang sudah kenal Gondo, dia pasti takut!”
Tangan kanan Gondo yang kekar itu
mencengkeram baju Kadir, lalu berkata, “Semua orang berusaha menyembunyikan
hartanya, tapi kenapa kamu malah ngomong!? Apa kamu sudah tidak waras!? Haa!?
Kamu jangan main-main sama Gondo!”
“Aku tidak main-main..” sahut Kadir tenang. “Aku punya
60 ribu. Kalau tidak percaya, silahkan buka tasku.”
Gondo langsung menyuruh salah seorang
kawannya menggeledah tas Kadir. Ternyata benar. Di tas kecil itu ada uang 60
ribu. Gondo dan begundal-begundalnya terperangah melihat kejujuran dan keluguan
Kadir. Hati kecilnya tergetar oleh ketegaran seorang bocah ingusan. Inilah
ketakutan yang pertama kali ia rasakan dalam hidupnya. Dengan nada suara lebih
lembut ia bertanya,
“Kenapa?...kenapa kamu bisa sejujur
ini? Kenapa kamu bisa seberani ini?”
Kadir menjawab, “Ibuku
berpesan…selama menimba ilmu nanti, terutama ilmu agama, aku tidak boleh bohong. Aku harus jujur. Kalau aku bohong,
tidak ada gunanya aku belajar.”
Kata-kata itu langsung memusnahkan
kesombongan di hati Gondo. Dengan tubuh bergetar keras, ia berlutut di hadapan
Kadir. Melihat bossnya berlutut, semua anaknya buahnya langsung ikut berlutut.
Gondo yang menangis, berkata, “Hari ini juga aku menyatakan tobat.”
Semua penumpang bus berterima kasih
pada kadir. Mereka yakin Kadir itu anak ajaib yang dikirim Tuhan untuk
melindungi mereka. Beberapa tahun kemudian, Kadir sudah menjadi ustadz besar di usianya yang baru 24
tahun. Gondo menjadi murid pertamanya. Gondo yang dulu penjahat kelas berat itu
sekarang menjadi orang sholeh. Ia menjadi asistennya Kadir. Jika Kadir pergi ke
mana-mana untuk berdakwah, Gondo selalu menyertainya. Gondo yang dulu dikenal
sebagai perampok yang menakutkan, sekarang dipanggil ‘Ustadz Gondo.’
Semakin lama jamaah pengajiannya
Kadir semakin tak terhitung. Yang menakjubkan, banyak orang jahat yang bertobat
setelah mengikuti pengajian itu. Karena sibuk berdakwah, Kadir tidak sadar
kalau usianya sudah empat puluh. Ia betah membujang karena asyik berdzikir,
bahkan ia mantap untuk membujang saja. Namun demi memenuhi sunnah Nabi Saw, akhirnya Kadir menikahi empat wanita
sholehah. Kadir meninggal di usia 75 tahun. Ia meninggalkan pondok pesantren
besar, ustadz-ustadz hebat hasil didikannya, dan karya tulis yang tak terhitung
jumlahnya.
Awal Januari 2012 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment