Di sebuah desa yang sudah agak jauh
dari kota, hiduplah seorang lelaki yang terkenal alim dan sholeh. Namanya Hasan
Rofiq, panggilannya Pak Kyai Rofiq. Dia ketua takmir masjid besar di desa
tersebut. Usianya 50 tahun. Jambang dan jenggotnya cukup lebat namun rapi.
Badannya gempal, tidak tinggi tidak pendek. Dadanya lebar, namun tidak selebar
pegulat atau petinju kelas berat. Dia
sangat disegani karena ilmu agama dan akhlaknya yang mulia.
Dia dikenal sebagai orang yang selalu mengamalkan ilmunya. Dia dikenal sebagai orang yang perkataannya selaras dengan perbuatannya. Semua orang yang sudah mengenalnya selalu berkata, “Kyai Rofiq itu berani ngomong begini begitu karena beliau sudah membuktikan dengan tindakan.” Dialah orang yang paling dihormati di tempat tinggalnya. Kharismanya melebihi Pak Lurah di desanya. Namanya sudah terkenal di desa-desa sebelah. Banyak orang yang sudah mendengar nama Kyai Haji Hasan Rofiq, namun belum pernah melihat orangnya.
*****
Suatu ketika, tepatnya di pagi hari
yang cerah, Rofiq kedatangan tamu enam orang lelaki. Sebagian tetangga di
desanya, sebagian lagi dari desa lain. Saat itu Rofiq hanya memiliki sepotong
roti. Tentu saja roti itu tidak cukup untuk suguhan tamunya, namun ia tetap
tenang. Ia menyuruh pembantunya untuk menghidangkan sepotong roti selai itu
pada keenam tamunya. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pemuda yang
membawa tiga potong roti. Pemuda itu pembantu tetangganya Rofiq.
Rofiq menatap tiga potong roti itu,
lalu berkata lembut, “Ini pasti salah alamat. Silahkan dibawa ke alamat yang
benar.”
Pemuda itu kebingungan, namun sesaat
kemudian ia langsung menuruti perintah Sang Kyai. Enam tamu itu juga heran
melihat Sang Kyai menolak pemberian si pemuda. Melihat enam lelaki yang
mayoritas masih muda itu pada heran, Rofiq hanya tersenyum, lalu berkata,
“Insya Allah, sebentar lagi kalian akan melihat bukti kemurahan Allah.”
“Maksud Kyai?” Tanya salah seorang
tamu.
“Pokoknya lihat saja.”
Rofiq dan enam tamunya melanjutkan
perbincangan mereka yang tampak semakin asyik. Karena asyik ngobrol, enam
lelaki itu tidak mempermasalahkan hanya disuguhi sepotong roti dan air putih.
Bahkan tidak disuguhi pun tidak apa-apa karena mereka sudah puas bisa ketemu
guru ngaji mereka. Mereka sudah kenyang mendapat santapan rohani dari Kyai yang
sangat mereka cintai.
Satu jam kemudian, datanglah seorang pemuda
yang usianya sedikit lebih tua dari pemuda yang tadi. Ia juga membawa roti yang
sama, namun jumlahnya sepuluh potong. Rofiq menyambutnya dengan gembira. Ia
berkata, “Nah, ini baru roti untukku.”
Ia langsung menghidangkan sepuluh
roti itu untuk tamunya. Tentu saja makanan itu masih tersisa karena melebihi
jumlah tamunya. Enam lelaki itu semakin heran melihat kejadian yang dialami
Rofiq. Salah satu dari mereka bertanya,
“Sekarang Kyai mau menerima roti ini.
Kenapa?”
Rofiq yang sejak tadi hanya
tersenyum-senyum, menjawab, “Allah SWT sudah berjanji untuk mengganti sepotong
roti dengan sepuluh roti, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan, bahkan bisa
sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan bisa lebih. Inilah kemurahan Allah yang
kumaksud tadi.”
Enam lelaki itu hanya termangu-mangu.
Kejadian di depan mata mereka itu membuat mereka semakin hormat pada Rofiq.
Hati kecil mereka juga semakin yakin bahwa Kyai Rofiq benar-benar hambaNya yang
bertakwa. Setelah kejadian hebat itu, orang-orang yang menimba ilmu agama pada
Rofiq semakin bertambah. Orang-orang yang menghadiri pengajian di majelis
taklimnya Hasan Rofiq semakin hari semakin banyak.
*****
Rofiq memiliki tetangga Nasrani yang
taat pada agama, seperti dirinya.
Namanya Yulius, panggilannya Yuli. Usianya sedikit lebih muda dari Rofiq. Ia
memiliki kamar kecil di loteng di atas rumahnya. Atap rumahnya menjadi satu
dengan atap rumah Rofiq. Air kencing di kamar kecil Yuli itu selalu merembes
dan menetes di kamar Rofiq. Hal itu sudah berlangsung lama, namun Yuli tidak
menyadarinya. Rofiq pun berusaha untuk bersabar. Ia yang berjiwa besar,
berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Ia menyuruh istri atau
pembantunya untuk menyediakan wadah buat
menampung air kencing itu.
Sesekali istrinya marah dengan
berkata, “Ini sudah keterlaluan Pak! Sesekali Bapak harus menegur Pak Yuli.
Sabar itu ada batasnya!”
Dengan tenang Rofiq menyahut, “Insya
Allah aku masih bisa bersabar. Aku begini karena ingin sekalian dakwah,
pelan-pelan. Aku ingin menunjukkan keindahan Islam.”
Rofiq benar-benar ingin mengamalkan
sabda Rasulullah Saw yang berbunyi: “Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memulikan/bersikap
baik pada tetangganya.” HR Muslim
(Hadits Shahih)
Suatu hari Rofiq sakit agak keras. Ia
flu berat karena kelelahan. Yuli dan beberapa tetangga dekatnya menjenguknya.
Ketika Yuli berada di kamar Rofiq, ia melihat air yang menetes dari atap kamar.
Air itu terkumpul di baskom. Yuli merasa aneh melihat air itu. Apalagi setelah
didekati, air itu ternyata pesing. Yuli berseru dalam hati, “Demi Kristus yang
agung, ini air kencing. Dan ini…ini dari kamar kecilku.”
Yuli terkejut bukan main setelah
menyadari kesalahannya selama ini. Mukanya menjadi pucat. Ia mendekati Rofiq
yang duduk setengah berbaring di ranjang, lalu bertanya, “Kyai…sudah berapa
lama anda bersabar menghadapi tetesan air kencing kami?”
Rofiq tidak mau menjawab. Ia tidak
ingin membuat Yuli merasa tidak enak.
Walaupun beda agama, Yuli termasuk tetangga baiknya. Namun Yuli terus mendesak
dengan berkata,
“Kyai…kalau anda tidak mau
bilang..aku dan anak istriku akan merasa bersalah seumur hidup. Jawablah
sejujurnya. Sejak kapan anda bersabar menghadapi ketololan kami? ”
“Sejak tiga tahun yang lalu..” sahut Rofiq dengan suara agak parau.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang ke aku?”
“Karena aku ingin mengamalkan salah
satu nasehat junjungan besar kami, Rasulullah Muhammad Saw. Beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir, hendaknya ia berbuat baik pada tetangganya.”
Yuli semakin terpana. Hati kecilnya
yang terdalam mengatakan, inilah kebenaran sejati yang selama ini ia cari.
Setelah bengong beberapa saat, Yuli menyentuh kedua bahu Rofiq, lalu berkata
lembut, “Kamu benar-benar Kyai sejati. Kamu orang terbaik yang pernah kukenal.
Hari ini juga, pagi ini, jam ini, detik ini..aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Dan
aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”
“Alhamdulillaahi
Rabbil ‘Aalamiin.” Sahut Rofiq tersenyum bahagia. Ia dan Yuli berpelukan
erat. Dengan mata berkaca-kaca, Rofiq berkata, “Selama ini kita hanya tetangga
baik, tetangga dekat. Tapi sekarang..selain tetangga baik, kita juga saudara
sesama Muslim.”
Akhir Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment