Saturday, 29 June 2013

Akhlak Kyai Sejati



          Di sebuah desa yang sudah agak jauh dari kota, hiduplah seorang lelaki yang terkenal alim dan sholeh. Namanya Hasan Rofiq, panggilannya Pak Kyai Rofiq. Dia ketua takmir masjid besar di desa tersebut. Usianya 50 tahun. Jambang dan jenggotnya cukup lebat namun rapi. Badannya gempal, tidak tinggi tidak pendek. Dadanya lebar, namun tidak selebar pegulat atau petinju kelas berat.  Dia sangat disegani karena ilmu agama dan akhlaknya yang mulia.
        
  Dia dikenal sebagai orang yang selalu mengamalkan ilmunya. Dia dikenal sebagai orang yang perkataannya selaras dengan perbuatannya. Semua orang yang sudah mengenalnya selalu berkata, “Kyai Rofiq itu berani ngomong begini begitu karena beliau sudah membuktikan dengan tindakan.” Dialah orang yang paling dihormati di tempat tinggalnya. Kharismanya melebihi Pak Lurah di desanya. Namanya sudah terkenal di desa-desa sebelah. Banyak orang yang sudah mendengar nama Kyai Haji Hasan Rofiq, namun belum pernah  melihat orangnya.
                                                                    *****
           Suatu ketika, tepatnya di pagi hari yang cerah, Rofiq kedatangan tamu enam orang lelaki. Sebagian tetangga di desanya, sebagian lagi dari desa lain. Saat itu Rofiq hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti itu tidak cukup untuk suguhan tamunya, namun ia tetap tenang. Ia menyuruh pembantunya untuk menghidangkan sepotong roti selai itu pada keenam tamunya. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pemuda yang membawa tiga potong roti. Pemuda itu pembantu tetangganya Rofiq.
          Rofiq menatap tiga potong roti itu, lalu berkata lembut, “Ini pasti salah alamat. Silahkan dibawa ke alamat yang benar.”
          Pemuda itu kebingungan, namun sesaat kemudian ia langsung menuruti perintah Sang Kyai. Enam tamu itu juga heran melihat Sang Kyai menolak pemberian si pemuda. Melihat enam lelaki yang mayoritas masih muda itu pada heran, Rofiq hanya tersenyum, lalu berkata, “Insya Allah, sebentar lagi kalian akan melihat bukti kemurahan Allah.”
          “Maksud Kyai?” Tanya salah seorang tamu.
          “Pokoknya lihat saja.”
          Rofiq dan enam tamunya melanjutkan perbincangan mereka yang tampak semakin asyik. Karena asyik ngobrol, enam lelaki itu tidak mempermasalahkan hanya disuguhi sepotong roti dan air putih. Bahkan tidak disuguhi pun tidak apa-apa karena mereka sudah puas bisa ketemu guru ngaji mereka. Mereka sudah kenyang mendapat santapan rohani dari Kyai yang sangat mereka cintai.
          Satu jam kemudian, datanglah seorang pemuda yang usianya sedikit lebih tua dari pemuda yang tadi. Ia juga membawa roti yang sama, namun jumlahnya sepuluh potong. Rofiq menyambutnya dengan gembira. Ia berkata, “Nah, ini baru roti untukku.”
          Ia langsung menghidangkan sepuluh roti itu untuk tamunya. Tentu saja makanan itu masih tersisa karena melebihi jumlah tamunya. Enam lelaki itu semakin heran melihat kejadian yang dialami Rofiq. Salah satu dari mereka bertanya,
          “Sekarang Kyai mau menerima roti ini. Kenapa?”
          Rofiq yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum, menjawab, “Allah SWT sudah berjanji untuk mengganti sepotong roti dengan sepuluh roti, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan, bahkan bisa sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan bisa lebih. Inilah kemurahan Allah yang kumaksud tadi.”     
          Enam lelaki itu hanya termangu-mangu. Kejadian di depan mata mereka itu membuat mereka semakin hormat pada Rofiq. Hati kecil mereka juga semakin yakin bahwa Kyai Rofiq benar-benar hambaNya yang bertakwa. Setelah kejadian hebat itu, orang-orang yang menimba ilmu agama pada Rofiq semakin bertambah. Orang-orang yang menghadiri pengajian di majelis taklimnya Hasan Rofiq semakin hari semakin banyak.  
                                     *****
          Rofiq memiliki tetangga Nasrani yang taat pada  agama, seperti dirinya. Namanya Yulius, panggilannya Yuli. Usianya sedikit lebih muda dari Rofiq. Ia memiliki kamar kecil di loteng di atas rumahnya. Atap rumahnya menjadi satu dengan atap rumah Rofiq. Air kencing di kamar kecil Yuli itu selalu merembes dan menetes di kamar Rofiq. Hal itu sudah berlangsung lama, namun Yuli tidak menyadarinya. Rofiq pun berusaha untuk bersabar. Ia yang berjiwa besar, berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Ia menyuruh istri atau pembantunya untuk  menyediakan wadah buat menampung air kencing itu.
          Sesekali istrinya marah dengan berkata, “Ini sudah keterlaluan Pak! Sesekali Bapak harus menegur Pak Yuli. Sabar itu ada batasnya!”
          Dengan tenang Rofiq menyahut, “Insya Allah aku masih bisa bersabar. Aku begini karena ingin sekalian dakwah, pelan-pelan. Aku ingin menunjukkan keindahan Islam.”
          Rofiq benar-benar ingin mengamalkan sabda Rasulullah Saw yang berbunyi: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memulikan/bersikap baik pada tetangganya.” HR Muslim (Hadits Shahih)
          Suatu hari Rofiq sakit agak keras. Ia flu berat karena kelelahan. Yuli dan beberapa tetangga dekatnya menjenguknya. Ketika Yuli berada di kamar Rofiq, ia melihat air yang menetes dari atap kamar. Air itu terkumpul di baskom. Yuli merasa aneh melihat air itu. Apalagi setelah didekati, air itu ternyata pesing. Yuli berseru dalam hati, “Demi Kristus yang agung, ini air kencing. Dan ini…ini dari kamar kecilku.”
             Yuli terkejut bukan main setelah menyadari kesalahannya selama ini. Mukanya menjadi pucat. Ia mendekati Rofiq yang duduk setengah berbaring di ranjang, lalu bertanya, “Kyai…sudah berapa lama anda bersabar menghadapi tetesan air kencing kami?”
          Rofiq tidak mau menjawab. Ia tidak ingin membuat Yuli merasa tidak  enak. Walaupun beda agama, Yuli termasuk tetangga baiknya. Namun Yuli terus mendesak dengan berkata,
          “Kyai…kalau anda tidak mau bilang..aku dan anak istriku akan merasa bersalah seumur hidup. Jawablah sejujurnya. Sejak kapan anda bersabar menghadapi ketololan kami? ”
          “Sejak tiga tahun yang lalu..”  sahut Rofiq dengan suara agak parau.
          “Kenapa kamu tidak  pernah bilang ke aku?”
          “Karena aku ingin mengamalkan salah satu nasehat junjungan besar kami, Rasulullah Muhammad Saw. Beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berbuat baik pada tetangganya.”
          Yuli semakin terpana. Hati kecilnya yang terdalam mengatakan, inilah kebenaran sejati yang selama ini ia cari. Setelah bengong beberapa saat, Yuli menyentuh kedua bahu Rofiq, lalu berkata lembut, “Kamu benar-benar Kyai sejati. Kamu orang terbaik yang pernah kukenal. Hari ini juga, pagi ini, jam ini, detik ini..aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.”           
          “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.” Sahut Rofiq tersenyum bahagia. Ia dan Yuli berpelukan erat. Dengan mata berkaca-kaca, Rofiq berkata, “Selama ini kita hanya tetangga baik, tetangga dekat. Tapi sekarang..selain tetangga baik, kita juga saudara sesama Muslim.”

                                                                                              Akhir Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;