Sudah empat tahun lebih Gebo menjadi tukang parkir di warnet Global. Ia hidup dari uang gopek atau lima ratus perak yang ia peroleh dari setiap pengunjung warnet. Sehari rata-rata ia mendapat uang 20-25 ribu. Kalau warnet sedang ramai, ia bisa dapat 30-35 ribu. Kadang juga bisa dapat di atas 40 ribu.
Gebo, pemuda kurus kecil berkulit gelap. Usianya 27 tahun. Nama aslinya Supri. Entah apa sebabnya dia dipanggil Gebo oleh teman-temannya. Gebo seorang pria yang banyak omong dan berakhlak tidak baik. Ia tinggal di perkampungan yang cukup dekat dengan tempat kerjanya. Di sebelah selatan warnet persis ada warung makan sederhana milik Hamid, lelaki gemuk asli Pati. Orang-orang di tempat itu memanggilnya Pak Kyai atau Pak Ustadz Hamid. Usianya 38 tahun, namun wajahnya sudah terlihat seperti lelaki berusia di atas 40 tahun. Walaupun sosoknya agamis, ia tetap sering bercanda dengan semua orang, termasuk dengan Supri atau Gebo.
Walaupun Gebo sering hutang
makan-minum, Hamid tetap bersikap baik pada Gebo. Walaupun hutang Gebo sudah
tak terhitung, Hamid tidak pernah menagih sekalipun. Kalaupun sudah sangat kepepet, Hamid akan menagih secara halus
atau secara tidak langsung. Hamid tahu kalau Gebo itu uangnya sedikit, bahkan
sering tidak punya uang karena uangnya yang sedikit itu habis untuk beli rokok
dan membayar hutang. Walaupun demikian, Hamid tidak pernah menunjukkan rasa
tidak sukanya pada Gebo. Ia tetap berusaha bersikap ramah dan menebar senyum pada
pemuda perokok yang omongannya gedhe itu.
Di sela-sela bercandanya dengan Gebo,
Hamid sering memberi nasehat luhur. Ia
menasehati dengan kutipan ayat-ayat suci Al-Quran, Hadits dan perkataan
ulama-ulama besar. Demikianlah akhlak Hamid terhadap orang yang sudah sering
merugikannya. Tidak heran kalau ia dijuluki Pak Ustadz oleh orang-orang di
sekitar warnet Global, warnet yang terletak di dekat sawah dan kolam.
*****
Beberapa waktu kemudian, Gebo
mendapat kawan baru, seorang pria yang sering berkunjung ke Global. Namanya
Heru, pria 30 tahun. Sebelum berkenalan dengan Gebo, Heru sudah beberapa kali
mendatangi Global. Ia seorang wiraswastawan yang belum sukses, namun hidupnya
masih lebih baik dari Gebo. Selain masih bujang seperti Gebo, Heru berasal dari
keluarga menengah ke atas, sehingga kehidupan sehari-harinya sedikit banyak
masih ditanggung ayahnya yang sudah berusia cukup lanjut.
Ia seorang pemuda dewasa yang gagah
dan berwajah lumayan. Kulitnya sawo matang kekuning-kuningan. Tunggangan
sehari-harinya motor Honda Mega Pro berusia tiga tahun. Ia tersenyum geli saat
mendengar nama ‘Gebo,’ yang nama aslinya
Supri. Karena merasa cocok dengan Gebo, Heru menjadi sering berkunjung ke
‘kantornya’ Gebo. Heru juga perokok, namun tidak berat seperti Gebo. Sehabis nge-net, Heru menghampiri Gebo yang
duduk di parkiran, lalu memberinya rokok. Kadang beberapa batang, kadang satu
atau setengah bungkus, namun seringnya hanya beberapa batang.
Hamid yang mengetahui hal itu,
berniat menasehati Heru dengan halus. Saat Heru mampir ke warungnya, ia berkata
lembut sambil bercanda, “Kalau sampeyan mau
ngasih Gebo, sebaiknya jangan rokok
terus. Ganti yang lain, yang ‘halal.’ “
“Iya Pak Ustadz,” sahut Heru tersenyum malu.
“Sebenarnya aku sudah berniat, kalau datang ke sini bawain dia makanan atau jajan.”
“Nah, kalau makanan bagus!”
Awalnya Heru menyukai Gebo yang
sepintas polos dan mudah dimintai tolong. Namun setelah semakin mengenal watak
Gebo yang pintar ngomong, suka pamrih dan hobi hutang ke sana kemari, Heru
mulai merasa sebal pada pemuda berkulit gelap itu. Sebelumnya Heru sudah
mendengar watak Gebo dari teman-teman dekat Gebo dan orang-orang di sekitar
warnet Global. Heru pun menyadari kesalahannya. Ia sadar kalau ia terlalu cepat
menilai Gebo sebagai orang baik. Ia sadar bahwa ia terlalu cepat menjadikan
Gebo sebagai teman dekatnya.
Ia sering mentraktir Gebo di
warungnya Pak Ustadz Hamid. Bahkan ketika Gebo sedang mendapat masalah yang
cukup berat, ia menolong dengan memberi Gebo sejumlah uang yang tidak sedikit.
Namun apa balasannya? Ternyata Gebo menjadi tuman
atau ketagihan atau suka bergantung pada orang lain. Tentu saja Heru
menjadi semakin jengkel pada Gebo. Baginya, semakin lama Gebo semakin tak tahu
diri, dan kebanyakan orang pun berpendapat demikian.
Hamid berkata, “Aku juga kena
imbasnya. Beberapa waktu yang lalu aku punya pengunjung tetap yang
menyenangkan. Namanya Pak Kumis. Orangnya baik, lembut, agamanya bagus, dari
kalangan menengah ke atas. Hampir tiap hari dia ke sini. Dia sering nraktir Gebo. Tapi akhirnya..ya seperti
yang sampeyan alami sekarang ini.
Karena sering ditraktir, Gebo jadi tuman.
Dia jadi berani hutang Pak Kumis. Dia mau hutang lima ratus.”
Gara-gara itu, Pak Kumis tidak pernah
ke sini lagi. Kira-kira sudah hampir sebulan dia tidak mampir ke warungnya Pak
Hamid. Dan kemungkinan besar…dia tidak akan ke sini lagi untuk selamanya.”
*****
Beberapa waktu kemudian Global
mengalami krisis ekonomi. Pengunjungnya menjadi sepi karena akses internetnya
lambat. Mengetahui hal itu, pemiliknya langsung menggratiskan parkir kendaraan
para pengunjung. Tentu saja Supri alias Gebo terkena dampaknya. Ia tidak bisa
lagi mendapat lima ratus perak dari para pengunjung warnet yang rata-rata
memakai motor. Kini ia hanya bisa menyandarkan hidupnya dari uang 350 ribu yang
ia terima setiap bulan.
Ia menjadi sebal pada bossnya yang
katanya angkuh dan pelit. Karena sebal, ia menjadi tidak semangat dalam
menolong para pengunjung yang mau mengambil
motornya di parkiran. Siang itu ia dan Heru nongkrong di warungnya
Hamid. Heru melihat seorang gadis muda yang agak kesulitan mengambil motornya
yang diapit dua motor besar. Heru berkata,
“Cewek cantik Bo. Cepat tolong dia!”
“Biarin aja..” Jawab Gebo kesal
sambil menghisap rokok kreteknya.
“Jangan sia-siakan kesempatan emas
Bo,” sambung Hamid bercanda.
“Huh! Kesempatan emas kalau nggak
dapat duit, buat apa!?”
“Jangan begitu Bo,” ujar Heru,
“melakukan segala sesuatu harus ikhlas, apalagi kebaikan.”
“Ikhlas ya ikhlas Boss, tapi aku juga
butuh duit. Duit untuk hidup Boss, untuk hidup! Sekarang ini makan aja susah,
gimana mau mikir ini itu.”
Heru tersenyum, “Makanya, mulai
sekarang kamu harus mengurangi rokokmu. Kalau tahu duitmu sebulan cuma 350,
sekarang kamu harus super hemat.”
Hening sejenak. Gebo
menatap jalan, lalu bicara lagi, “Kalau begini terus, jadi nggak semangat kerja
nih. Huh! Boss pelit! Pelit!”
Setelah menghabiskan rokok dan kopi,
Gebo meninggalkan Heru dan Hamid yang sedang membersihkan meja. Hamid berkata,
“Dia memang menyebalkan, tapi kalau sudah
begini, ya jadi kasihan. He he..”
Heru menimpali, “Yah, dia sudah
memetik buah kelakuannya selama ini.”
Waktu terus berjalan, sampai tiba
lebaran. Pagi itu, beberapa hari setelah lebaran, Heru dan Gebo sudah nongkrong
lagi di parkiran warnet. Hari ini di parkiran hanya ada dua motor pengunjung.
Heru berkata, “Warnet ini benar-benar mau hancur ya?”
“Sudah di tepi jurang kehancuran.”
Sahut Gebo. Heru menyahut dalam hati, “Ya..seperti kamu, kalau kamu tidak
segera cari kerjaan lain.”
Lalu
ia berkata, “Kalau kamu mau maju, mau lebih baik, kamu harus segera banting
setir. Cari kerjaan lain yang lebih bagus.”
“Sudah Boss!” sahut Gebo kesal. “Aku
sudah cari-cari, sudah tanya-tanya temanku..”
Heru tersenyum agak mengejek, lalu
berkata, “Kamu memang sudah berusaha,
tapi kemauanmu belum keras. Aku yakin, Insya Allah, kalau kemauanmu sudah
sekeras baja, tekadmu benar-benar sudah bulat, kamu pasti bisa dapat yang lebih
baik dari ini.”
Beberapa hari kemudian Heru menemui
Hamid. Ia berujar, “Kang Hamid, aku makin muak sama dia. Dia punya sejuta
alasan untuk tetap di sini. Ternyata dia memang ingin di sini saja, nggak mau
keluar.”
“Ya jelas. Di sini sudah enak kok. Tinggal duduk, ngrokok, ngopi,
makan tidur. Apalagi sekarang dia sudah dapat uang parkiran lagi. Misalkan dia dapat
kerjaan lain, dia belum tentu bisa sesantai sekarang, walaupun gajinya lebih
besar dan lebih layak.”
Hamid tersenyum geli melihat muka Heru yang
hitam merah karena kebenciannya pada Gebo, padahal dulu ia menyukai Gebo. Hamid
berkata lembut, “Sabar Sobat. Insya Allah semua ada hikmahnya. Sampeyan boleh membenci Gebo, tapi
jangan berlebihan. Kebencianmu itu jangan sampai membuatmu nggak pernah main ke
sini lagi.”
Heru tersenyum malu, “Dulu aku sering
ke sini karena Gebo, tapi sekarang aku ke sini karena ingin mengunjungi Pak
Ustadz Hamid.”
Setahun kemudian Heru kembali mendatangi
warnet Global. Betapa jengkelnya Heru melihat Gebo masih di situ. Beberapa hari
kemudian Gebo mendengar berita dari salah satu kawan karib Gebo. Katanya, dua
minggu yang lalu Gebo sempat ikut rombongan tukang mengambil pasir di sungai.
Sehari upahnya 50 ribu. Lumayan. Namun Gebo hanya menjalani pekerjaan itu
selama empat hari. Heru menggelengkan kepala setelah mendengar cerita itu.
Ia menggerutu, “Dia benar-benar
pembual kelas berat. Bagi dia, kerja empat hari sudah cukup, sudah dapat uang untuk
beli rokok dan senang-senang. Hutangnya yang numpuk itu juga nggak pernah
dipikirkan. Dulu dia sering mengkritik teman-temannya yang nggak mau kerja.
Tapi nyatanya? Dia sendiri juga begitu. Masya Allah. Dasar tukang parkir. Maunya
dapat uang tanpa susah payah. Untung sekarang aku sudah nggak pernah ke Global
lagi.”
Akhir Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment