Saturday, 29 June 2013

Tukang Parkir


          Sudah empat tahun lebih Gebo menjadi tukang parkir di warnet Global. Ia hidup dari uang gopek atau lima ratus perak yang ia peroleh dari setiap pengunjung  warnet. Sehari rata-rata ia  mendapat uang 20-25 ribu. Kalau warnet sedang ramai, ia bisa dapat 30-35 ribu. Kadang juga bisa dapat di atas 40  ribu. 
        
  Gebo, pemuda kurus kecil berkulit gelap. Usianya 27 tahun. Nama aslinya Supri. Entah apa sebabnya dia dipanggil Gebo oleh teman-temannya. Gebo seorang pria yang banyak omong dan berakhlak tidak baik. Ia tinggal di perkampungan yang cukup dekat dengan tempat kerjanya. Di sebelah selatan warnet persis ada warung makan sederhana milik Hamid, lelaki gemuk asli Pati. Orang-orang di tempat itu memanggilnya Pak Kyai atau Pak Ustadz Hamid. Usianya 38 tahun, namun wajahnya sudah terlihat seperti lelaki berusia di atas 40 tahun. Walaupun sosoknya agamis, ia tetap sering bercanda dengan semua orang, termasuk dengan Supri atau Gebo.             
          Walaupun Gebo sering hutang makan-minum, Hamid tetap bersikap baik pada Gebo. Walaupun hutang Gebo sudah tak terhitung, Hamid tidak pernah menagih sekalipun. Kalaupun sudah sangat kepepet, Hamid akan menagih secara halus atau secara tidak langsung. Hamid tahu kalau Gebo itu uangnya sedikit, bahkan sering tidak punya uang karena uangnya yang sedikit itu habis untuk beli rokok dan membayar hutang. Walaupun demikian, Hamid tidak pernah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Gebo. Ia tetap berusaha bersikap ramah dan menebar senyum pada pemuda perokok yang omongannya gedhe itu.
          Di sela-sela bercandanya dengan Gebo, Hamid sering memberi nasehat luhur. Ia  menasehati dengan kutipan ayat-ayat suci Al-Quran, Hadits dan perkataan ulama-ulama besar. Demikianlah akhlak Hamid terhadap orang yang sudah sering merugikannya. Tidak heran kalau ia dijuluki Pak Ustadz oleh orang-orang di sekitar warnet Global, warnet yang terletak di dekat sawah dan kolam.
                                                                *****
          Beberapa waktu kemudian, Gebo mendapat kawan baru, seorang pria yang sering berkunjung ke Global. Namanya Heru, pria 30 tahun. Sebelum berkenalan dengan Gebo, Heru sudah beberapa kali mendatangi Global. Ia seorang wiraswastawan yang belum sukses, namun hidupnya masih lebih baik dari Gebo. Selain masih bujang seperti Gebo, Heru berasal dari keluarga menengah ke atas, sehingga kehidupan sehari-harinya sedikit banyak masih ditanggung ayahnya yang sudah berusia cukup lanjut.   
          Ia seorang pemuda dewasa yang gagah dan berwajah lumayan. Kulitnya sawo matang kekuning-kuningan. Tunggangan sehari-harinya motor Honda Mega Pro berusia tiga tahun. Ia tersenyum geli saat mendengar nama ‘Gebo,’  yang nama aslinya Supri. Karena merasa cocok dengan Gebo, Heru menjadi sering berkunjung ke ‘kantornya’ Gebo. Heru juga perokok, namun tidak berat seperti Gebo. Sehabis nge-net, Heru menghampiri Gebo yang duduk di parkiran, lalu memberinya rokok. Kadang beberapa batang, kadang satu atau setengah bungkus, namun seringnya hanya beberapa batang.
          Hamid yang mengetahui hal itu, berniat menasehati Heru dengan halus. Saat Heru mampir ke warungnya, ia berkata lembut sambil bercanda, “Kalau sampeyan mau ngasih Gebo, sebaiknya jangan rokok terus. Ganti yang lain, yang ‘halal.’ “
          “Iya Pak Ustadz,sahut Heru tersenyum malu. “Sebenarnya aku sudah berniat, kalau datang ke sini bawain dia makanan atau jajan.”
          “Nah, kalau makanan bagus!”
          Awalnya Heru menyukai Gebo yang sepintas polos dan mudah dimintai tolong. Namun setelah semakin mengenal watak Gebo yang pintar ngomong, suka pamrih dan hobi hutang ke sana kemari, Heru mulai merasa sebal pada pemuda berkulit gelap itu. Sebelumnya Heru sudah mendengar watak Gebo dari teman-teman dekat Gebo dan orang-orang di sekitar warnet Global. Heru pun menyadari kesalahannya. Ia sadar kalau ia terlalu cepat menilai Gebo sebagai orang baik. Ia sadar bahwa ia terlalu cepat menjadikan Gebo sebagai teman dekatnya.
          Ia sering mentraktir Gebo di warungnya Pak Ustadz Hamid. Bahkan ketika Gebo sedang mendapat masalah yang cukup berat, ia menolong dengan memberi Gebo sejumlah uang yang tidak sedikit. Namun apa balasannya? Ternyata Gebo menjadi tuman atau ketagihan atau suka bergantung pada orang lain. Tentu saja Heru menjadi semakin jengkel pada Gebo. Baginya, semakin lama Gebo semakin tak tahu diri, dan kebanyakan orang pun berpendapat demikian.
          Hamid berkata, “Aku juga kena imbasnya. Beberapa waktu yang lalu aku punya pengunjung tetap yang menyenangkan. Namanya Pak Kumis. Orangnya baik, lembut, agamanya bagus, dari kalangan menengah ke atas. Hampir tiap hari dia ke sini. Dia sering nraktir Gebo. Tapi akhirnya..ya seperti yang sampeyan alami sekarang ini. Karena sering ditraktir, Gebo jadi tuman. Dia jadi berani hutang Pak Kumis. Dia mau hutang lima ratus.”
          Gara-gara itu, Pak Kumis tidak pernah ke sini lagi. Kira-kira sudah hampir sebulan dia tidak mampir ke warungnya Pak Hamid. Dan kemungkinan besar…dia tidak akan ke sini lagi untuk selamanya.”
                                                           *****
          Beberapa waktu kemudian Global mengalami krisis ekonomi. Pengunjungnya menjadi sepi karena akses internetnya lambat. Mengetahui hal itu, pemiliknya langsung menggratiskan parkir kendaraan para pengunjung. Tentu saja Supri alias Gebo terkena dampaknya. Ia tidak bisa lagi mendapat lima ratus perak dari para pengunjung warnet yang rata-rata memakai motor. Kini ia hanya bisa menyandarkan hidupnya dari uang 350 ribu yang ia terima setiap bulan.
          Ia menjadi sebal pada bossnya yang katanya angkuh dan pelit. Karena sebal, ia menjadi tidak semangat dalam menolong para pengunjung yang mau mengambil  motornya di parkiran. Siang itu ia dan Heru nongkrong di warungnya Hamid. Heru melihat seorang gadis muda yang agak kesulitan mengambil motornya yang diapit dua motor besar. Heru berkata,
          “Cewek cantik Bo. Cepat tolong dia!”
          “Biarin aja..” Jawab Gebo kesal sambil menghisap rokok kreteknya.
          “Jangan sia-siakan kesempatan emas Bo,” sambung Hamid bercanda.
          “Huh! Kesempatan emas kalau nggak dapat duit, buat apa!?”
         “Jangan begitu Bo,” ujar Heru, “melakukan segala sesuatu harus ikhlas, apalagi kebaikan.”
          “Ikhlas ya ikhlas Boss, tapi aku juga butuh duit. Duit untuk hidup Boss, untuk hidup! Sekarang ini makan aja susah, gimana mau mikir ini itu.”
          Heru tersenyum, “Makanya, mulai sekarang kamu harus mengurangi rokokmu. Kalau tahu duitmu sebulan cuma 350, sekarang kamu harus super hemat.”
          Hening sejenak. Gebo menatap jalan, lalu bicara lagi, “Kalau begini terus, jadi nggak semangat kerja nih. Huh! Boss pelit!  Pelit!”
          Setelah menghabiskan rokok dan kopi, Gebo meninggalkan Heru dan Hamid yang sedang membersihkan meja. Hamid berkata, “Dia memang menyebalkan, tapi kalau sudah  begini, ya jadi kasihan. He he..”
          Heru menimpali, “Yah, dia sudah memetik buah kelakuannya selama ini.”      
          Waktu terus berjalan, sampai tiba lebaran. Pagi itu, beberapa hari setelah lebaran, Heru dan Gebo sudah nongkrong lagi di parkiran warnet. Hari ini di parkiran hanya ada dua motor pengunjung. Heru berkata, “Warnet ini benar-benar mau hancur ya?”
          “Sudah di tepi jurang kehancuran.” Sahut Gebo. Heru menyahut dalam hati, “Ya..seperti kamu, kalau kamu tidak segera cari kerjaan lain.”
          Lalu ia berkata, “Kalau kamu mau maju, mau lebih baik, kamu harus segera banting setir. Cari kerjaan lain yang lebih bagus.”
          “Sudah Boss!” sahut Gebo kesal. “Aku sudah cari-cari, sudah tanya-tanya temanku..”
          Heru tersenyum agak mengejek, lalu berkata, “Kamu memang sudah  berusaha, tapi kemauanmu belum keras. Aku yakin, Insya Allah, kalau kemauanmu sudah sekeras baja, tekadmu benar-benar sudah bulat, kamu pasti bisa dapat yang lebih baik dari ini.”
          Beberapa hari kemudian Heru menemui Hamid. Ia berujar, “Kang Hamid, aku makin muak sama dia. Dia punya sejuta alasan untuk tetap di sini. Ternyata dia memang ingin di sini saja, nggak mau keluar.”
          “Ya jelas. Di sini sudah  enak kok. Tinggal duduk, ngrokok, ngopi, makan tidur. Apalagi sekarang dia sudah dapat uang parkiran lagi. Misalkan dia dapat kerjaan lain, dia belum tentu bisa sesantai sekarang, walaupun gajinya lebih besar dan lebih layak.”
          Hamid tersenyum geli melihat muka Heru yang hitam merah karena kebenciannya pada Gebo, padahal dulu ia menyukai Gebo. Hamid berkata lembut, “Sabar Sobat. Insya Allah semua ada hikmahnya. Sampeyan boleh membenci Gebo, tapi jangan berlebihan. Kebencianmu itu jangan sampai membuatmu nggak pernah main ke sini lagi.”         
          Heru tersenyum malu, “Dulu aku sering ke sini karena Gebo, tapi sekarang aku ke sini karena ingin mengunjungi Pak Ustadz Hamid.”
          Setahun kemudian Heru kembali mendatangi warnet Global. Betapa jengkelnya Heru melihat Gebo masih di situ. Beberapa hari kemudian Gebo mendengar berita dari salah satu kawan karib Gebo. Katanya, dua minggu yang lalu Gebo sempat ikut rombongan tukang mengambil pasir di sungai. Sehari upahnya 50 ribu. Lumayan. Namun Gebo hanya menjalani pekerjaan itu selama empat hari. Heru menggelengkan kepala setelah mendengar cerita itu.
          Ia menggerutu, “Dia benar-benar pembual kelas berat. Bagi dia, kerja empat hari sudah cukup, sudah dapat uang untuk beli rokok dan senang-senang. Hutangnya yang numpuk itu juga nggak pernah dipikirkan. Dulu dia sering mengkritik teman-temannya yang nggak mau kerja. Tapi nyatanya? Dia sendiri juga begitu. Masya Allah. Dasar tukang parkir. Maunya dapat uang tanpa susah payah. Untung sekarang aku sudah nggak pernah ke Global lagi.”
  
                                                                                                      Akhir Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;