Terik mentari yang menyengat
menyinari bumi. Waktu menunjukkan pukul 10.45, atau jam sebelas kurang
seperempat. Kebanyakan orang masih pada sibuk mencari nafkah. Kecuali Hamdan.
Sejak pagi sampai hampir jam sebelas ini ia tidak atau belum keluar. Sejak
habis shubuh tadi ia hanya bersih-bersih kamar dan halaman depan-belakang rumah.
Tidak seperti biasanya, yang sejak habis
shubuh ia sudah keluar rumah, mondar-mandir menjemput rejeki. Alifah, sang
istri, juga heran melihat Hamdan masih mendekam di rumah.
Kini Hamdan duduk di ruang tamu sambil membaca buku tipis. Alifah yang habis mengambil jemuran di samping rumah, menghampiri Hamdan, lalu berkata lembut,
Kini Hamdan duduk di ruang tamu sambil membaca buku tipis. Alifah yang habis mengambil jemuran di samping rumah, menghampiri Hamdan, lalu berkata lembut,
“Kang…sejak pagi kita belum makan.
Bahan makanan di dapur sudah habis. Sekarang tolong Kakang ke pasar, belanja
ini dan itu. Kalau pasar kejauhan, ya di warungnya Mbok Ratmi saja. Tolong ya
Kang?”
Kata-kata lembut Alifah itu menusuk
hati Hamdan. Mukanya memerah karena malu. Pria 30 tahun bertubuh atletis ini
berkata, “Maafkan aku Ipah. Hari ini aku sama sekali tidak punya uang. Kamu
tahu sendiri kan? Seharian kemarin aku habis membantu saudara-saudara kita yang
terkena musibah, jadi aku belum sempat cari uang.”
Alifah atau Ipah tersenyum sabar. Ia
teringat kalau ia masih punya uang 30 ribu dari hasil menjahit pakaian
tetangga. Wanita cantik ini langsung menyerahkan uang itu pada suaminya.
“Kuharap ini cukup.” Ujar Ipah
lembut. Hamdan mengangguk, “Kalau cuma untuk makan, Insya Allah cukup.”
Hamdan langsung meninggalkan rumahnya
dengan berjalan cepat. Sepuluh menit kemudian Hamdan berjumpa dengan seorang
lelaki tua yang terlihat lemah. Usianya sekitar 60 tahun. Ia sudah cukup
mengenal Hamdan karena tempat tinggalnya tidak jauh dari kampungnya Hamdan.
Dengan wajah penuh derita, bapak tua itu berkata,
“Mas Hamdan, tolonglah aku. Keadaanku
sudah sangat gawat. Anda mau bantu aku kan?”
“Asal aku mampu, Insya Allah Bapak
pasti kubantu. Ada apa Pak?”
“Sudah tiga hari aku dan keluargaku
tidak makan. Kuharap aku bisa mendapat belas kasihan anda. Kalau anda keberatan
memberi, ya aku dipinjami saja. Berapapun kuterima. Besok kalau keadaanku sudah
agak lapang, Insya Allah akan kukembalikan uangmu, sedikit-sedikit. Kucicil.”
Permintaan memelas itu membuat Hamdan
berpikir keras. Ia bergumam, “Uang yang kupegang hanya tiga puluh. Semua ini
hanya untuk belanja, untuk makan siang dan malam. Syukur bisa sampai besok.
Tapi sekarang…ahh. Ya Allah…apa yang harus kulakukan sekarang? Siapa yang harus
kutolong duluan? Bapak ini atau istri dan kedua anakku yang mungil?”
Hening sejenak, lalu bergumam lagi,
“Tapi sekarang dia lebih membutuhkan pertolongan.”
Akhirnya Hamdan mantap mensedekahkan
uangnya untuk bapak tersebut. Ia pun pulang dengan tangan kosong. Ipah yang
heran melihat suaminya tidak membawa apapun, bertanya, “Belanjaannya mana
Kang?”
Hamdan menceritakan kisah yang baru
saja dialaminya. Mendengar cerita itu, Ipah menatap dua buah hatinya yang
tertidur pulas di kamar. Dua lelaki kembar yang amat menggemaskan. Usianya dua tahunan.
Kedua mata Ipah berkaca-kaca. Ia berkata lembut,
“Kang Hamdan…kalau yang kelaparan
hanya kita, Insya Allah bukan masalah besar bagiku. Tapi bagaimana dengan
mereka (menunjuk si kembar)? Kalau keadaannya segenting ini, Kang Hamdan tidak
usah jadi dermawan dulu.”
Hamdan mengatur nafasnya yang agak
berat, lalu berkata, “Ya sudah, akan kucoba minta tolong Ustadz Ahmad. Dialah
orang paling dermawan yang pernah kukenal. Orang-orang di tempat tinggalnya
juga sudah mengakui kedermawanannya.“
Hamdan yang hari ini tidak memiliki
kendaraan satupun, kembali meninggalkan rumah dengan berjalan cepat. Kali ini
ia bergegas ke rumah Ustadz Ahmad, guru ngajinya yang terkenal alim dan
pemurah. Beberapa langkah kemudian, tibalah Hamdan di jalan tempat ia bertemu dengan
bapak tadi. Ia bertemu Salman, tetangga baik sekaligus teman mengajinya. Salman
itu salah satu murid seniornya Ustadz Ahmad.
Ia menuntun motor Honda GL-Max. Ia
gembira sekali bertemu Hamdan dengan tidak sengaja. Lelaki bertubuh tegap
berusia sekitar 40 tahun ini mengaku sudah mencari Hamdan sejak beberapa minggu
yang lalu, namun baru bisa bertemu sekarang. Ia berkata,
“Aku punya hajat sama kamu.”
“Apa?” Tanya Hamdan bersabar. Ya, ia
harus bersabar karena sedang terburu-buru ke rumah gurunya.
“Aku mau jual motor ini ke kamu. Ini
motor akhir tahun 80-an. Kondisinya masih bagus. Kujual 1,5 juta. Gimana?
Berminat?”
Hamdan mengamati motor Honda itu,
lalu berkata, “Aku tertarik, tapi sayang sekali, sekarang aku belum punya
uang.”
“Oh tidak masalah. Bayarlah
kapan-kapan, kalau kamu sudah punya uang.”
“Baiklah, trima kasih banyak..” sahut Hamdan gembira. Ia
melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Kali ini ada sarana yang bisa
mempercepat langkahnya. Ketika melewati jalan sempit, ia melihat Suryo, lelaki
40 tahunan yang juga mengaji di majelisnya Ustadz Ahmad. Suryo habis membeli
sesuatu di warung kecil. Hamdan pun
menghentikan laju motornya.
“Dari mana? Mau ke mana?” Tanya
Suryo.
“Dari rumah, mau ke rumah Ustadz
Ahmad.”
Suryo mengamati motor baru Hamdan,
lalu berkata, “Kalau Mas Hamdan mau, aku mau beli motor ini. Aku beli 2,5
juta.”
Hamdan tersentak gembira. “Silahkan
kalau Pak Suryo berminat.”
“Aku berminat. Kubayar tunai.”
Transaksi selesai. Suryo langsung
menaiki motor GL-Max, sedangkan Hamdan berlari sambil membawa uang 2,5 juta.
Hamdan berniat mengejar Salman yang dijumpainya sekitar sepuluh menit yang
lalu. Karena Salman sudah tidak ada di tempat tadi, Hamdan langsung mendatangi
rumahnya. Begitu ketemu Salman, Hamdan langsung membayar uang 1,5 juta untuk
pembelian motor GL-Max. Dengan demikian, Hamdan masih punya satu juta yang bisa
ia gunakan untuk belanja. Setelah belanja, Hamdan langsung sujud syukur di
serambi rumahnya.
Alifah sangat terharu mendengar
kejadian luar biasa yang dialami suaminya. Ia berkata sambil menangis, “Itulah
buah kedermawananmu selama ini. Itulah keajaiban sedekah. Trima kasih ya
Allah…Engkau sudah memberiku suami yang sholeh.”
Ipah menaruh kepalanya di dada bidang
Hamdan. Ia tersenyum manis, lalu berkata lembut, “Makasih banyak ya Kang…”
“Sama-sama, Sayangku.”
Yogyakarta, Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment