Saturday, 29 June 2013

Dermawan

               Terik mentari yang menyengat menyinari bumi. Waktu menunjukkan pukul 10.45, atau jam sebelas kurang seperempat. Kebanyakan orang masih pada sibuk mencari nafkah. Kecuali Hamdan. Sejak pagi sampai hampir jam sebelas ini ia tidak atau belum keluar. Sejak habis shubuh tadi ia hanya bersih-bersih kamar dan halaman depan-belakang rumah. Tidak seperti biasanya,  yang sejak habis shubuh ia sudah keluar rumah, mondar-mandir menjemput rejeki. Alifah, sang istri, juga heran melihat Hamdan masih mendekam di rumah.
         
Kini Hamdan duduk di ruang tamu sambil membaca buku tipis. Alifah yang habis mengambil jemuran di samping rumah, menghampiri Hamdan, lalu berkata lembut,
          “Kang…sejak pagi kita belum makan. Bahan makanan di dapur sudah habis. Sekarang tolong Kakang ke pasar, belanja ini dan itu. Kalau pasar kejauhan, ya di warungnya Mbok Ratmi saja. Tolong ya Kang?”
          Kata-kata lembut Alifah itu menusuk hati Hamdan. Mukanya memerah karena malu. Pria 30 tahun bertubuh atletis ini berkata, “Maafkan aku Ipah. Hari ini aku sama sekali tidak punya uang. Kamu tahu sendiri kan? Seharian kemarin aku habis membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah, jadi aku belum sempat cari uang.”
          Alifah atau Ipah tersenyum sabar. Ia teringat kalau ia masih punya uang 30 ribu dari hasil menjahit pakaian tetangga. Wanita cantik ini langsung menyerahkan uang itu pada suaminya.       
          “Kuharap ini cukup.” Ujar Ipah lembut. Hamdan mengangguk, “Kalau cuma untuk makan, Insya Allah cukup.”
          Hamdan langsung meninggalkan rumahnya dengan berjalan cepat. Sepuluh menit kemudian Hamdan berjumpa dengan seorang lelaki tua yang terlihat lemah. Usianya sekitar 60 tahun. Ia sudah cukup mengenal Hamdan karena tempat tinggalnya tidak jauh dari kampungnya Hamdan. Dengan wajah penuh derita, bapak tua itu berkata,
          “Mas Hamdan, tolonglah aku. Keadaanku sudah sangat gawat. Anda mau bantu aku kan?”
          “Asal aku mampu, Insya Allah Bapak pasti kubantu. Ada apa Pak?”
          “Sudah tiga hari aku dan keluargaku tidak makan. Kuharap aku bisa mendapat belas kasihan anda. Kalau anda keberatan memberi, ya aku dipinjami saja. Berapapun kuterima. Besok kalau keadaanku sudah agak lapang, Insya Allah akan kukembalikan uangmu, sedikit-sedikit. Kucicil.”
          Permintaan memelas itu membuat Hamdan berpikir keras. Ia bergumam, “Uang yang kupegang hanya tiga puluh. Semua ini hanya untuk belanja, untuk makan siang dan malam. Syukur bisa sampai besok. Tapi sekarang…ahh. Ya Allah…apa yang harus kulakukan sekarang? Siapa yang harus kutolong duluan? Bapak ini atau istri dan kedua anakku yang mungil?”
          Hening sejenak, lalu bergumam lagi, “Tapi sekarang dia lebih membutuhkan pertolongan.”
          Akhirnya Hamdan mantap mensedekahkan uangnya untuk bapak tersebut. Ia pun pulang dengan tangan kosong. Ipah yang heran melihat suaminya tidak membawa apapun, bertanya, “Belanjaannya mana Kang?”
          Hamdan menceritakan kisah yang baru saja dialaminya. Mendengar cerita itu, Ipah menatap dua buah hatinya yang tertidur pulas di kamar. Dua lelaki kembar yang amat menggemaskan. Usianya dua tahunan. Kedua mata Ipah berkaca-kaca. Ia berkata lembut,
          “Kang Hamdan…kalau yang kelaparan hanya kita, Insya Allah bukan masalah besar bagiku. Tapi bagaimana dengan mereka (menunjuk si kembar)? Kalau keadaannya segenting ini, Kang Hamdan tidak usah jadi dermawan dulu.”
          Hamdan mengatur nafasnya yang agak berat, lalu berkata, “Ya sudah, akan kucoba minta tolong Ustadz Ahmad. Dialah orang paling dermawan yang pernah kukenal. Orang-orang di tempat tinggalnya juga sudah mengakui kedermawanannya.“
           Hamdan yang hari ini tidak memiliki kendaraan satupun, kembali meninggalkan rumah dengan berjalan cepat. Kali ini ia bergegas ke rumah Ustadz Ahmad, guru ngajinya yang terkenal alim dan pemurah. Beberapa langkah kemudian, tibalah Hamdan di jalan tempat ia bertemu dengan bapak tadi. Ia bertemu Salman, tetangga baik sekaligus teman mengajinya. Salman itu salah satu murid seniornya Ustadz Ahmad.
          Ia menuntun motor Honda GL-Max. Ia gembira sekali bertemu Hamdan dengan tidak sengaja. Lelaki bertubuh tegap berusia sekitar 40 tahun ini mengaku sudah mencari Hamdan sejak beberapa minggu yang lalu, namun baru bisa bertemu sekarang. Ia berkata,
          “Aku punya hajat sama kamu.”
          “Apa?” Tanya Hamdan bersabar. Ya, ia harus bersabar karena sedang terburu-buru ke rumah gurunya.
          “Aku mau jual motor ini ke kamu. Ini motor akhir tahun 80-an. Kondisinya masih bagus. Kujual 1,5 juta. Gimana? Berminat?”
          Hamdan mengamati motor Honda itu, lalu berkata, “Aku tertarik, tapi sayang sekali, sekarang aku belum punya uang.”
           “Oh tidak masalah. Bayarlah kapan-kapan, kalau kamu sudah punya uang.”
          “Baiklah, trima kasih banyak..sahut Hamdan gembira. Ia melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Kali ini ada sarana yang bisa mempercepat langkahnya. Ketika melewati jalan sempit, ia melihat Suryo, lelaki 40 tahunan yang juga mengaji di majelisnya Ustadz Ahmad. Suryo habis membeli sesuatu di warung  kecil. Hamdan pun menghentikan laju motornya.
          “Dari mana? Mau ke mana?” Tanya Suryo.
          “Dari rumah, mau ke rumah Ustadz Ahmad.”
          Suryo mengamati motor baru Hamdan, lalu berkata, “Kalau Mas Hamdan mau, aku mau beli motor ini. Aku beli 2,5 juta.”
          Hamdan tersentak gembira. “Silahkan kalau Pak Suryo berminat.”
          “Aku berminat. Kubayar tunai.”
          Transaksi selesai. Suryo langsung menaiki motor GL-Max, sedangkan Hamdan berlari sambil membawa uang 2,5 juta. Hamdan berniat mengejar Salman yang dijumpainya sekitar sepuluh menit yang lalu. Karena Salman sudah tidak ada di tempat tadi, Hamdan langsung mendatangi rumahnya. Begitu ketemu Salman, Hamdan langsung membayar uang 1,5 juta untuk pembelian motor GL-Max. Dengan demikian, Hamdan masih punya satu juta yang bisa ia gunakan untuk belanja. Setelah belanja, Hamdan langsung sujud syukur di serambi rumahnya.   
          Alifah sangat terharu mendengar kejadian luar biasa yang dialami suaminya. Ia berkata sambil menangis, “Itulah buah kedermawananmu selama ini. Itulah keajaiban sedekah. Trima kasih ya Allah…Engkau sudah memberiku suami yang sholeh.”
          Ipah menaruh kepalanya di dada bidang Hamdan. Ia tersenyum manis, lalu berkata lembut, “Makasih banyak ya Kang…”
          “Sama-sama, Sayangku.”
                                                                                        Yogyakarta, Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;