Seluruh penduduk dusun Lembayung
sudah mengenal Hasyim sebagai kyai atau ustadz sekaligus pengusaha sukses. Selain
berilmu tinggi, terutama ilmu agama, ia juga sangat dermawan. Ia selalu
menolong setiap orang yang mendatangi rumahnya. Siapapun orangnya, entah yang
seiman atau tidak, asal ia masih mampu menolong, ia pasti akan berusaha sekuat
tenaga untuk membantu. Ia benar-benar contoh nyata sebagai orang alim yang
selalu mengamalkan ilmunya. Tidak heran kalau orang-orang yang sudah
mengenalnya sering bilang; “Harusnya Pak Ustadz Hasyim yang jadi lurah desa
ini.”
Nama lengkapnya Hasyim Kuncoro Bin Abdullah. Usianya 45 tahun. Posturnya tinggi sedang dan atletis. Mukanya dipenuhi jambang dan jenggot yang agak lebat namun rapi. Anisah, istrinya, keturunan Arab. Anaknya tiga, perempuan semua. Ia bisa dikatakan seorang pria yang nyaris sempurna. Sudah gagah, tampan, sholeh, cerdas dan rajin. Istrinya cantik dan sholehah. Ketiga putrinya juga cantik luar dalam. Dari segi ekonomi, ia sudah termasuk kaya raya, setidaknya menurut ukuran desa Lembayung.
Nama lengkapnya Hasyim Kuncoro Bin Abdullah. Usianya 45 tahun. Posturnya tinggi sedang dan atletis. Mukanya dipenuhi jambang dan jenggot yang agak lebat namun rapi. Anisah, istrinya, keturunan Arab. Anaknya tiga, perempuan semua. Ia bisa dikatakan seorang pria yang nyaris sempurna. Sudah gagah, tampan, sholeh, cerdas dan rajin. Istrinya cantik dan sholehah. Ketiga putrinya juga cantik luar dalam. Dari segi ekonomi, ia sudah termasuk kaya raya, setidaknya menurut ukuran desa Lembayung.
*****
Suatu hari, ada seorang lelaki
pengangguran yang mendatangi Hasyim. Namanya Antok. Ia datang dari desa
sebelah. Usianya masih relatif muda. Badannya juga masih terlihat segar bugar,
namun ia dikenal sebagai Pemalas dan suka minta-minta. Salah seorang tetangga
Hasyim yang melihat Antok mendatangi rumah kyai-nya desa Lembayung, bergumam,
“Pemalas itu mencoba mengandalkan
belas kasihannya Ustadz Hasyim. Huh! Mentang-mentang beliau dermawan, dia
mengira bisa mengemis seenaknya. Dia mengira bisa mendapat sedekah dengan
mudah. Huh! Benar-benar tak tahu diri!”
Antok memang ingin memanfaatkan
kedermawanan Hasyim. Ia mengira bisa dengan mudah mendapatkan uluran tangan
Hasyim. Namun apa yang terjadi? Ternyata Hasyim tidak langsung memberinya
sedekah berupa uang, makanan atau yang lain. Hasyim bertanya, apakah Antok
masih memiliki sesuatu di rumahnya? entah apa wujudnya, yang penting masih bisa
dipakai. Antok menjawab, di rumahnya ada cangkir, gelas dan selimut yang biasa
ia pakai untuk menutupi tubuhnya.
Hasyim yang dengan sabar meladeni
Antok, berkata, “Bawa sini barang-barangmu itu.”
“Untuk apa Ustadz?” Tanya Antok agak
terkejut.
“Saya akan mencoba mendayagunakan.”
“Tapi barang-barangku itu sudah lama,
sudah lusuh.”
“Tidak apa-apa. Bawa dulu ke sini.”
Antok pun pulang dengan kecewa. Ia
tidak berani membantah perintah Hasyim. Sebagaimana kebanyakan orang yang sudah
mengenal Hasyim, lelaki 35 tahunan yang badannya agak kekar ini juga segan pada
Hasyim yang alim, tegas dan disiplin. Satu jam kemudian Antok sudah berdiri lagi di hadapan Hasyim.
Kali ini ia membawa cangkir, gelas kaca dan selimut yang sudah kumal.
“Aku hanya punya ini.” Ujar Antok
agak tegang. Hasyim mengangguk, “Silahkan tunggu di sini, saya akan coba
menjual barang-barang ini.”
“Ke mana Pak Ustadz?”
“Ke tetangga dekat dan sahabat-sahabatku.”
Hasyim pun menawarkan barang-barang
itu ke teman-teman dekat dan tetangganya. Ia berharap ada yang mau membelinya
dengan harga lebih, atau membelinya dengan harga yang layak. Hasyim yang
dihormati karena kesholehannya, jelas tidak kesulitan untuk meraih apa yang ia
inginkan. Benda-benda tua milik Antok itu berhasil dijualnya. Ia pulang sambil
membawa uang 40 ribu. Ia kembali menemui Antok yang menunggu di serambi
rumahnya. Ia serahkan uang 40 ribu itu pada Antok sambil berkata, “Pakai
uang ini untuk beli kapak, sisanya untuk kebutuhanmu.”
Antok yang mulai menyadari
kemalasannya selama ini, langsung bergerak menuruti perintah Sang Kyai. Ia
membeli kapak yang keadaannya belum sempurna. Tangkainya rusak. Hasyim langsung
memperbaiki tangkai kapak itu dengan tangannya sendiri. Setelah jadi, Hasyim
bertutur, “Pergilah ke hutan, sawah, ladang, atau sungai. Carilah kayu dengan
kapak ini. Jangan temui aku sebelum 15 hari.”
Dua pekan kemudian Antok kembali
menemui Hasyim. Keadaannya sudah lebih baik. Wajahnya terlihat lebih cerah. Penampilannya
juga lebih rapi dari sebelumnya. Hasyim bertanya, apa yang sudah ia peroleh
selama dua minggu? Antok menjawab,
“Dari hasil menjual kayu bakar, aku
berhasil mendapat uang 80 ribu. Uang ini kupakai untuk beli beras dan beberapa
helai kain.”
Hasyim berkata, “Apa yang sudah kamu
lakukan ini lebih baik daripada mengemis, karena mengemis akan membuat noda
hitam di wajahmu pada hari kiamat nanti.”
Peristiwa ini menjadi buah bibir di
seluruh desa Lembayung dan sekitarnya. Seorang bapak yang termasuk teman dekatnya
Hasyim,
bertutur, “Hasyim benar-benar sudah memberi pelajaran berharga buat kita semua.
Cara terbaik menolong orang itu dengan memberi pekerjaan, bukan memberi uang.
Kalau hanya satu-dua kali diberi uang, tidak masalah, tapi kalau terus-terusan,
nanti orang yang minta tolong itu akan terus bergantung pada sedekah. Nanti dia
bisa jadi pengemis.”
“Betul sekali,” sambung seorang bapak yang lebih muda. “Peduli tidak
sama dengan memberi. Ustadz Hasyim memang sangat dermawan, tapi beliau tahu,
siapa yang benar-benar pantas disedekahi, dipinjami uang, dan siapa yang tidak
boleh langsung diberi uang atau benda. Mudah-mudahan, pelajaran yang diberikan
beliau ini bisa merubah jiwa lelaki pemalas seperti Antok. Amin.”
Yogyakarta, Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment