Saturday, 29 June 2013

Harun dan Ruslan

Orang-orang desa Kembang Arum dan sekitarnya sudah mengenal Harun sebagai orang kaya yang sangat dermawan. Setiap orang yang datang ke rumah Harun untuk minta bantuan, lelaki sholeh itu selalu siap membantu. Ia selalu memikirkan dan mengutamakan kepentingan orang banyak, dan nyaris tidak pernah memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Hal itu terus berlangsung sampai hartanya berkurang.



Waktu terus berjalan. Harun pun menjadi miskin karena tidak pernah berhenti menolong orang. Begitu jatuh miskin, ia menutup pintu rumahnya dan hidup seadanya dengan harta  yang masih ada. Lelaki yang rajin sholat berjamaah di masjid ini juga memiliki rasa malu yang sangat tinggi, sehingga ia tidak pernah mengemis pada siapapun, walaupun keadaannya sudah sangat menyedihkan. Sebenarnya bisa saja ia mengemis pada tetangga atau teman dekatnya, namun ia benar-benar melarang dirinya melakukan perbuatan rendah itu. Ia benar-benar sangat disiplin pada dirinya sendiri.   
          Keadaan hidupnya yang sangat memprihatinkan itu diketahui oleh Ruslan, pengusaha sukses di desa Kembang Arum. Ia tidak tega melihat keadaan itu. Ia bergumam, “Bagaimana mungkin orang yang dulu dikenal sebagai dermawan sekarang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.”
          Ruslan yang juga seorang Muslim taat, tergerak hatinya untuk menolong Harun. Tanpa berpikir panjang lebar, ia langsung bergerak secepat kilat. Malam harinya ia mengambil uang di gudang perusahaan desa yang ia pegang. Wajahnya tertutup oleh topi dan cadar hitam. Hanya kedua matanya yang terlihat. Ia tinggalkan rumahnya diam-diam, lalu menembus malam dengan motor lelaki. Setengah jam kemudian ia tiba di rumah Harun.
          Tentu saja Harun terkejut melihat lelaki bertopeng di hadapannya. Ia mengira lelaki itu perampok, namun Ruslan langsung menenangkan dengan berkata, “Aku bukan maling atau perampok. Aku ke sini cuma mau ngasih ini ( menyerahkan kantong besar). Terimalah.”
          “Apa ini?”
          “Untuk memperbaiki hidupmu. Untuk istri dan anak-anakmu. Terimalah!”
          Harun menerima kantong besar itu, lalu melihat isinya. Ternyata isinya uang. Ia taruh uang itu di lantai, lalu mengejar pria bertopeng yang hendak kabur dengan motornya. Ia berdiri di hadapan si topeng yang sudah menunggangi motornya, lalu memintanya untuk memberitahu siapa dirinya. Si Topeng berkata, “Aku datang diam-diam karena tidak ingin dikenal. Sudahlah, pakai saja uang itu untuk memperbaiki hidupmu.”
          Harun menggelengkan kepala. “Kalau kamu tidak mau memberitahu siapa kamu, aku juga tidak mau menerima uang itu.”
           “Baiklah kalau kamu memaksa. Aku Abdullah, hamba Allah yang ingin menolong Si Dermawan dari pengkhianatan zaman.”
          Setelah berkata begitu, Ruslan dan motornya langsung menghilang di kegelapan malam. Harun pun masuk ke dalam rumah, lalu menemui istrinya yang sudah mau tidur. Begitu semangatnya ia menceritakan kabar gembira tentang ‘Hamba Allah yang ingin menolong Si Dermawan dari pengkhianatan zaman.’ Pagi harinya Harun keluar rumah dengan wajah cerah. Ia langsung membayar semua hutangnya, lalu membeli makanan untuk kedua anaknya.
                                                         *****
          Beberapa waktu kemudian, Allah SWT kembali menunjukkan rahmatNya yang tanpa batas kepada siapapun yang Dia kehendaki. Keadaan ekonomi Harun semakin membaik, dan akhirnya ia diminta Haji Wahid, Pak Lurahnya desa Kembang Arum, untuk menggantikan Ruslan sebagai pemimpin perusahaan Mentari, perusahaan di desa tersebut. Ketika menemui Haji Wahid, Harun menceritakan pria bercadar yang menolongnya. Wahid sangat takjub akan akhlak penolong bercadar itu. Ia berkata,                     
          “Seandainya aku tahu siapa dia, aku pasti sudah memberi dia penghargaan terbaik sebagai penduduk Kembang Arum dan sekitarnya. Aku yakin, Insya Allah, dia orang sekitar sini saja.”
          “Aku juga sependapat sama Pak Lurah.” Sahut Harun gembira. Selanjutnya, Wahid meminta Harun untuk memeriksa keuangan PT Mentari selama dipegang Ruslan. Ruslan yang mengetahui Harun diangkat sebagai pemimpin, langsung memberi ucapan selamat dengan setulus hati.
          Besoknya, Harun memerintahkan bendaharanya untuk memeriksa keuangan masa pemerintahan Ruslan. Setelah diperiksa, si bendahara menemukan sejumlah uang yang berkurang sebanyak empat ratus ribu rupiah (Untuk jaman dulu, uang segitu sudah banyak, kira-kira setara dengan empat juta rupiah). Harun langsung meminta Ruslan untuk melunasinya, namun Ruslan menyahut dengan tenang,
          “Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekarang aku belum punya uang, dan aku tidak tahu kapan akan punya uang..jadi aku tidak bisa melunasi sekarang.”
          Harun langsung menyuruh anak buahnya untuk menjebloskan Ruslan ke rutan (rumah tahanan) desa. Keadilan harus ditegakkan, walaupun pada teman sendiri. Ruslan pun masuk penjara desa tanpa berkata apapun. Ia akan tinggal di penjara selama kurang lebih dua bulan. Tentu saja istrinya sedih sekali ketika mendengar ia dipenjara. Ia minta tolong adik sepupu lelakinya untuk menemui Harun.
          Si Sepupu langsung mendatangi rumah Harun yang kebetulan dekat dengan kantor, lalu berkata, “Boss Harun, beginikah cara anda membalas kebaikan Hamba Allah yang ingin menolong Si Dermawan dari pengkhianatan zaman’?“
          “Maksudmu!?” Tanya Harun melotot. “Ruslan orang bercadar malam itu!?”
          “Ya siapa lagi?”
          Harun berteriak, “ASTAGHFIRULLAHAL‘AZHIM!! Aku menganiaya orang yang sudah menolongku. Alangkah terkutuknya aku!”
          Harun dan beberapa tokoh penting desa Kembang Arum bergegas menuju ke penjara desa. Harun melihat Ruslan yang kurus dan berpakaian lusuh. Harun menangis, lalu memeluk Ruslan sambil mencium kepalanya. Dengan suara terbata-bata Harun berkata,
          “Kemuliaan akhlakmu kubalas dengan kekejaman. Maafkan aku Ruslan, saudaraku yang berhati mulia. Mohonlah pada Allah agar dia  menghukumku.”
          “Allah mengampuni kamu, Harun, saudaraku..” sahut Ruslan yang matanya juga basah. Harun ganti minta dipenjara. Permintaan aneh itu jelas membuat kaget semuanya. Harun berkata, “Aku hanya ingin merasakan derita yang sudah dirasakan Ruslan selama dua  bulan.”
          Ruslan menyentuh kedua bahu Harun, lalu berkata lembut, “Demi Allah saudaraku…aku tidak akan keluar dari penjara ini tanpa kamu.”
          Akhirnya mereka keluar dari rumah tahanan desa. Harun tidak mengijinkan Ruslan pulang sebelum keadaan fisik Ruslan membaik seperti sedia kala. Harun pun mengajak Ruslan ke rumahnya dan menjamunya dengan sebaik-baiknya. Peristiwa ini menjadi peristiwa terbesar di desa Kembang Arum. Para penduduk yang mendengar kejadian hebat ini pada berdoa;
          “Ya Allah, kami mohon dengan rahmatMu. Penuhilah dunia ini dengan orang-orang sholeh seperti Harun dan Ruslan. Amin.”
                                                                                 Yogyakarta, Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;