Orang-orang desa Kembang Arum dan
sekitarnya sudah mengenal Harun sebagai orang kaya yang sangat dermawan. Setiap
orang yang datang ke rumah Harun untuk minta bantuan, lelaki sholeh itu selalu
siap membantu. Ia selalu memikirkan dan mengutamakan kepentingan orang banyak,
dan nyaris tidak pernah memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Hal itu
terus berlangsung sampai hartanya berkurang.
Waktu terus berjalan. Harun pun menjadi miskin karena tidak pernah berhenti menolong orang. Begitu jatuh miskin, ia menutup pintu rumahnya dan hidup seadanya dengan harta yang masih ada. Lelaki yang rajin sholat berjamaah di masjid ini juga memiliki rasa malu yang sangat tinggi, sehingga ia tidak pernah mengemis pada siapapun, walaupun keadaannya sudah sangat menyedihkan. Sebenarnya bisa saja ia mengemis pada tetangga atau teman dekatnya, namun ia benar-benar melarang dirinya melakukan perbuatan rendah itu. Ia benar-benar sangat disiplin pada dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan. Harun pun menjadi miskin karena tidak pernah berhenti menolong orang. Begitu jatuh miskin, ia menutup pintu rumahnya dan hidup seadanya dengan harta yang masih ada. Lelaki yang rajin sholat berjamaah di masjid ini juga memiliki rasa malu yang sangat tinggi, sehingga ia tidak pernah mengemis pada siapapun, walaupun keadaannya sudah sangat menyedihkan. Sebenarnya bisa saja ia mengemis pada tetangga atau teman dekatnya, namun ia benar-benar melarang dirinya melakukan perbuatan rendah itu. Ia benar-benar sangat disiplin pada dirinya sendiri.
Keadaan hidupnya yang sangat
memprihatinkan itu diketahui oleh Ruslan, pengusaha sukses di desa Kembang
Arum. Ia tidak tega melihat keadaan itu. Ia bergumam, “Bagaimana mungkin orang
yang dulu dikenal sebagai dermawan sekarang hidup dalam kemiskinan dan
kelaparan.”
Ruslan yang juga seorang Muslim taat,
tergerak hatinya untuk menolong Harun. Tanpa berpikir panjang lebar, ia
langsung bergerak secepat kilat. Malam harinya ia mengambil uang di gudang
perusahaan desa yang ia pegang. Wajahnya tertutup oleh topi dan cadar hitam.
Hanya kedua matanya yang terlihat. Ia tinggalkan rumahnya diam-diam, lalu menembus
malam dengan motor lelaki. Setengah jam kemudian ia tiba di rumah Harun.
Tentu saja Harun terkejut melihat
lelaki bertopeng di hadapannya. Ia mengira lelaki itu perampok, namun Ruslan
langsung menenangkan dengan berkata, “Aku bukan maling atau perampok. Aku ke
sini cuma mau ngasih ini (
menyerahkan kantong besar). Terimalah.”
“Apa ini?”
“Untuk memperbaiki hidupmu. Untuk
istri dan anak-anakmu. Terimalah!”
Harun menerima kantong besar itu,
lalu melihat isinya. Ternyata isinya uang. Ia taruh uang itu di lantai, lalu
mengejar pria bertopeng yang hendak kabur dengan motornya. Ia berdiri di
hadapan si topeng yang sudah menunggangi motornya, lalu memintanya untuk
memberitahu siapa dirinya. Si Topeng berkata, “Aku datang diam-diam karena
tidak ingin dikenal. Sudahlah, pakai saja uang itu untuk memperbaiki hidupmu.”
Harun menggelengkan kepala. “Kalau
kamu tidak mau memberitahu siapa kamu, aku juga tidak mau menerima uang itu.”
“Baiklah kalau kamu memaksa. Aku Abdullah, hamba Allah yang ingin menolong Si
Dermawan dari pengkhianatan zaman.”
Setelah berkata begitu, Ruslan dan
motornya langsung menghilang di kegelapan malam. Harun pun masuk ke dalam
rumah, lalu menemui istrinya yang sudah mau tidur. Begitu semangatnya ia
menceritakan kabar gembira tentang ‘Hamba Allah yang ingin menolong Si Dermawan
dari pengkhianatan zaman.’ Pagi harinya Harun keluar rumah dengan wajah cerah.
Ia langsung membayar semua hutangnya, lalu membeli makanan untuk kedua anaknya.
*****
Beberapa waktu kemudian, Allah SWT
kembali menunjukkan rahmatNya yang tanpa batas kepada siapapun yang Dia
kehendaki. Keadaan ekonomi Harun semakin membaik, dan akhirnya ia diminta Haji
Wahid, Pak Lurahnya desa Kembang Arum, untuk menggantikan Ruslan sebagai
pemimpin perusahaan Mentari, perusahaan di desa tersebut. Ketika menemui Haji
Wahid, Harun menceritakan pria bercadar yang menolongnya. Wahid sangat takjub
akan akhlak penolong bercadar itu. Ia berkata,
“Seandainya aku tahu siapa dia, aku
pasti sudah memberi dia penghargaan terbaik sebagai penduduk Kembang Arum dan
sekitarnya. Aku yakin, Insya Allah, dia orang sekitar sini saja.”
“Aku juga sependapat sama Pak Lurah.”
Sahut Harun gembira. Selanjutnya, Wahid meminta Harun untuk memeriksa keuangan
PT Mentari selama dipegang Ruslan. Ruslan yang mengetahui Harun diangkat
sebagai pemimpin, langsung memberi ucapan selamat dengan setulus hati.
Besoknya, Harun memerintahkan
bendaharanya untuk memeriksa keuangan masa pemerintahan Ruslan. Setelah
diperiksa, si bendahara menemukan sejumlah uang yang berkurang sebanyak empat
ratus ribu rupiah (Untuk jaman dulu, uang segitu sudah banyak, kira-kira setara
dengan empat juta rupiah). Harun langsung meminta Ruslan untuk melunasinya,
namun Ruslan menyahut dengan tenang,
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Sekarang aku belum punya uang, dan aku tidak tahu kapan akan punya uang..jadi
aku tidak bisa melunasi sekarang.”
Harun langsung menyuruh anak
buahnya untuk menjebloskan Ruslan ke rutan (rumah tahanan) desa. Keadilan harus
ditegakkan, walaupun pada teman sendiri. Ruslan pun masuk penjara desa tanpa
berkata apapun. Ia akan tinggal di penjara selama kurang lebih dua bulan. Tentu
saja istrinya sedih sekali ketika mendengar ia dipenjara. Ia minta tolong adik
sepupu lelakinya untuk menemui Harun.
Si Sepupu langsung mendatangi rumah
Harun yang kebetulan dekat dengan kantor, lalu berkata, “Boss Harun, beginikah
cara anda membalas kebaikan Hamba Allah
yang ingin menolong Si Dermawan dari pengkhianatan zaman’?“
“Maksudmu!?” Tanya Harun melotot. “Ruslan
orang bercadar malam itu!?”
“Ya siapa lagi?”
Harun berteriak, “ASTAGHFIRULLAHAL‘AZHIM!!
Aku menganiaya orang yang sudah menolongku. Alangkah terkutuknya aku!”
Harun dan beberapa tokoh penting desa
Kembang Arum bergegas menuju ke penjara desa. Harun melihat Ruslan yang kurus dan
berpakaian lusuh. Harun menangis, lalu memeluk Ruslan sambil mencium kepalanya.
Dengan suara terbata-bata Harun berkata,
“Kemuliaan akhlakmu kubalas dengan
kekejaman. Maafkan aku Ruslan, saudaraku yang berhati mulia. Mohonlah pada
Allah agar dia menghukumku.”
“Allah mengampuni kamu, Harun,
saudaraku..” sahut Ruslan yang matanya juga basah. Harun ganti minta dipenjara.
Permintaan aneh itu jelas membuat kaget semuanya. Harun berkata, “Aku hanya
ingin merasakan derita yang sudah dirasakan Ruslan selama dua bulan.”
Ruslan menyentuh kedua bahu Harun,
lalu berkata lembut, “Demi Allah saudaraku…aku tidak akan keluar dari penjara
ini tanpa kamu.”
Akhirnya mereka keluar dari rumah
tahanan desa. Harun tidak mengijinkan Ruslan pulang sebelum keadaan fisik
Ruslan membaik seperti sedia kala. Harun pun mengajak Ruslan ke rumahnya dan
menjamunya dengan sebaik-baiknya. Peristiwa ini menjadi peristiwa terbesar di
desa Kembang Arum. Para penduduk yang mendengar kejadian hebat ini pada berdoa;
“Ya Allah, kami mohon dengan
rahmatMu. Penuhilah dunia ini dengan orang-orang sholeh seperti Harun dan
Ruslan. Amin.”
Yogyakarta, Desember 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment