Saturday, 29 June 2013

Ketulusan Tiga Pemuda

Kasno (28  tahun), Harno (30  tahun) dan Darman (28) adalah tiga lelaki yang sudah bersahabat sejak usia remaja. Eratnya persahabatan itu membuat mereka menjadi saudara. Kini ketiganya sudah berkeluarga dan sudah hidup mapan. Harno masih tinggal di Jogja, kota kelahirannya. Sedangkan Kasno dan Darman yang juga asli Kota Gudeg, tinggal di Jakarta dan Banten.
         
          Walaupun sudah tinggal di tempat yang berjauhan, tiga pemuda ini masih terus berhubungan lewat HP. Sekarang Kasno  dan Darman sedang libur. Mereka pulang ke kampung halaman tercinta. Kasno yang paling mapan ekonominya, sering mentraktir Harno dan Darman. Kalau sudah bernostalgia, mereka sering lupa waktu. Kalau sudah asyik bercengkerama, mereka bisa ngobrol sampai berjam-jam. Meskipun begitu, Harno, Kasno dan Darman tidak pernah melupakan kewajiban utama mereka sebagai seorang Muslim, yaitu; sholat lima waktu. Walaupun sudah pada jadi orang, tiga sekawan ini tetap dikenal sebagai Muslim yang taat.
                                                            *****
          Hari itu Kasno mengajak dua sobatnya berlibur dengan mobil Taruna merahnya. Mereka pergi dari pagi sampai sore. Saat senja tiba, Taruna merah Kasno berjalan di pegunungan. Darman yang duduk sendirian di jok kedua, menunjuk sebuah gua di bebukitan batu. Pemuda agak gemuk ini tersenyum,
          “Aku ingin masuk ke situ. Yah, mudah-mudahan besok kita punya kesempatan untuk mampir.”
          “Itu gua hantu, tempat semedinya Si Buta..ujar Harno bercanda. “Memang kamu mau apa? Cari wangsit?”         
          “Ya ingin tahu aja.  Kelihatannya serem, tapi juga indah. Penuh misteri.”
          Beberapa detik setelah Darman begitu, mendadak mobil mereka seperti oleng, berjalan tidak teratur.  Hal itu memperlambat laju mobil tersebut. Harno berkata, “Wah, jangan-jangan bannya kempes.”
          “Iya nih,” sambung Kasno yang memperlambat laju mobilnya. “Wah, bisa gawat kalau macet di sini. Nggak ada siapa-siapa, jauh dari mana-mana.”
          “Biar kulihat!” ujar Darman langsung keluar.
          Ternyata benar. Ban sebelah kiri yang depan bocor cukup parah. Kasno menatap keadaan sekitar, lalu berkata, “Sekarang kita benar-benar terisolasi.”
          Harno menatap kedua sahabatnya, lalu berkata lembut, “Kita sedang diuji. Bersabarlah.”           
          Mereka kembali ke dalam mobil dengan pintu dan jendela terbuka. Waktu menunjukkan pukul 17.15. Darman menguap, lalu berkata, “Setengah jam lagi Maghrib.”  
          Kasno yang terlihat paling cemas, bertutur, “Mungkin kita harus tidur di sini.”
          Setelah hening beberapa menit, Harno berkata, “Aku akan coba minta tolong temanku, tukang tambal ban keliling. Tapi kalau disuruh ke sini, rasanya hampir tidak mungkin. Tapi tetap  tidak ada salahnya kucoba. Semoga dia  bisa menolong kita.”
          Kecemasan menyelimuti mobil Taruna merah. Tiga sekawan ini hanya bisa berharap, mudah-mudahan kawan Harno itu bisa segera datang untuk menolong mereka. Harno menjauhi mobil beberapa langkah. Ditatapnya pemandangan sekitar yang menawan. Ia bergumam,
          “Pemandangannya indah sekali. Tapi sayang, kami tidak bisa menikmati karena keadaan kami sedang genting.”
          Harno kembali ke mobil. Dengan posisi masih berdiri di samping mobil, ia menatap Darman  sambil tersenyum, “Tampaknya keinginanmu bakal terwujud.”  
          “Keinginan apa?”
          Harno menunjuk gua. “Di sini kan nggak enak. Sumpek, panas.
          Darman mengangguk sambil tersenyum. Kasno yang masih duduk menghadap setir pun setuju. Kini mereka berdiri di pintu gua. Harno menerangi gua itu dengan senternya, lalu berkata, “Kelihatannya dalamnya cukup luas. Ya sudah, kita masuk aja.”
          Mengetahui gua itu aman-aman saja, mereka langsung  masuk ke  dalam gua tersebut. Darman berkata, “Ini akan menjadi peristiwa bersejarah dalam hidup kita.”
          Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jatuhnya batu besar di pintu gua. Begitu besarnya batu itu, sehingga menutupi seluruh pintu gua. Yang tersisa tinggal beberapa lobang yang bisa dilalui seekor anjing. Harno cs benar-benar seperti mengalami kiamat kecil. Kini yang ada di hadapan mereka hanya kegelapan. Mereka hampir seperti orang buta. Hanya senter Harno dan secuil sinar mentari yang masih sedikit menerangi mereka.
          Kasno berkata, “Ya Allah, dosa apa yang pernah kulakukan!? Sampai aku harus menghadapi cobaan seberat ini.”
          “Apakah ini akhir hidup kita?” sambung Darman. Harno yang sejak tadi terlihat paling sabar, berkata, “Sekarang kita tidak bisa apa-apa, kecuali berdoa. Keimanan kita benar-benar sedang diuji. Dan Insya Allah, inilah tolok ukur sejati keimanan kita.” Diam sebentar, “Tetaplah berbaik sangka sama Allah. Dia tidak akan memberi  cobaan pada hambaNya, kecuali sesuai dengan kemampuan si hamba.”*
          Karena sudah kehabisan akal, tiga sekawan ini hanya bisa pasrah. Harno meminta semuanya berdoa dengan wasilah atau perantara amal sholeh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas, walaupun amal yang dilakukan cuma sedikit atau sekali. Mereka mulai mengingat-ingat, amal sholeh apa yang pernah mereka lakukan dengan niat murni mengharapkan ridhoNya.             
          Kasno memiliki kebiasaan memberi susu untuk kedua ortunya. Suatu ketika, ayah ibunya sudah tidur karena lelah, jadi mereka belum sempat minum susu. Kasno yang tidak tega membangunkan ayah ibunya, memutuskan untuk menunggu mereka sampai bangun. Ia mendengar anak perempuannya yang masih balita menangis karena lapar atau haus, namun ia tetap duduk di samping ayah ibunya yang tertidur pulas. Bukannya ia tidak mempedulikan buah hatinya. Ia hanya berpikir, apa yang akan ia lakukan untuk kedua ortunya lebih besar pahalanya, juga karena masih ada istrinya yang bisa mengurus anaknya.
           Setelah ayah ibunya bangun, ia langsung memberikan susu di tangannya kepada mereka.  Ia berkata, “Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, sungguh Engkau tahu, aku melakukan semua itu dengan hati yang tulus. Aku melakukan semua itu dengan satu niat. Mengharapkan cintaMu. Karena itu ya  Allah, bukalah batu yang menutupi gua ini.”
          Berkat rahmat Allah melalui kebaikan yang pernah dilakukan Kasno, batu besar yang menutupi gua itu terbuka. Namun sayang, batu itu hanya bergeser sedikit, jadi belum cukup untuk dijadikan jalan keluar. Melihat keadaan itu, gantian Harno yang berdoa dengan amal sholeh yang pernah ia lakukan.
          Lima tahun yang lalu, saat Harno masih bujang, Harno pernah jatuh cinta pada Ratna, wanita cantik yang masih sepupunya. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Harno yang saat itu belum mengaji atau mendalami ilmu agama, menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki Ratna, wanita sholehah anak pamannya. Kalaupun tidak bisa memiliki Ratna selamanya, setidaknya ia bisa memilikinya untuk sementara waktu.
          Suatu hari, Ratna mengalami musibah ekonomi. Ia mendatangi Harno untuk meminjam uang yang akan ia gunakan untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras. Harno yang keadaannya sudah mapan, benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ia berkata pada Ratna, “Boleh. Tapi ada syaratnya. Kamu harus menyerahkan tubuhmu.”
          Ratna yang sholehah itu jelas langsung menolak, namun karena keadaan sudah sangat gawat, akhirnya ia bersedia memenuhi keinginan rendah Harno. Mereka pun berduaan di kamar Harno. Harno menyentuh bahu Ratna, lalu mencium pipinya. Dan ketika Harno ingin melakukan lebih dari itu, mendadak tubuh Ratna bergetar keras.
          “Kamu kenapa?” Tanya Harno terkejut. Ratna menyahut,  “Aku takut sama Allah, Zat  yang Maha  Melihat.”
          Harno tersentak sadar. “Kamu?...yang dalam keadaan hancur begini masih takut sama Allah!? Sedangkan aku..? ooh! Seharusnya aku lebih takut sama Allah!”
          Harno menyerahkan sejumlah uang yang diperlukan Ratna, lalu pergi begitu saja. Ia berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau tahu…aku melakukan semua itu hanya karena mengharap ridhoMu. Karena itu ya Allah, singkirkan batu yang menutupi gua ini.”
          Batu sebesar gajah itu kembali bergeser, namun masih belum cukup untuk dijadikan jalan keluar. Sekarang gilliran Darman yang berdoa. Dulu ia pernah memiliki pekerja yang pamit tanpa mengambil gaji atau haknya. Beberapa waktu kemudian pekerjanya itu mendatanginya  untuk mengambil haknya. Darman pun memintanya untuk mengambil beberapa kambing dan domba di kandang dekat rumahnya. Tentu saja mantan karyawannya itu  bingung. Ia bertanya,
          “Mas Darman, saya cuma mau ambil hak saya dulu., tidak perlu berlebihan begini.”
          Darman menjawab, “Gajimu dulu sudah kubuat begini. Ambillah semua.”
          Mantan karyawannya itu gembira bukan kepalang. Ia langsung mencium tangan kanan  Darman. Darman berkata, “Sungguh Engkau tahu…aku melakukan semua itu dengan satu niat tulus. Mengharap ridhoMu. Karena itu Ya Allah, singkirkan batu gua ini.”  
          Akhirnya batu besar itu bergeser dengan sempurna. Keadaan gua kembali seperti semula. Darman cs yang nyaris kehabisan nafas, langsung sujud syukur bersama. Harno berkata, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amal besar bisa bernilai kecil karena tidak atau kurang ikhlas. Demikian juga sebaliknya. Amal kecil bisa jadi besar karena ketulusan atau keikhlasan niat kita.”
           *Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat  terakhir/286
                                                                              
                                                                                          
Yogyakarta, November 2011 (Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;