Kasno (28 tahun), Harno (30 tahun) dan Darman (28) adalah tiga lelaki
yang sudah bersahabat sejak usia remaja. Eratnya persahabatan itu membuat mereka
menjadi saudara. Kini ketiganya sudah berkeluarga dan sudah hidup mapan. Harno
masih tinggal di Jogja, kota kelahirannya. Sedangkan Kasno dan Darman yang juga
asli Kota Gudeg, tinggal di Jakarta dan Banten.
Yogyakarta, November 2011 (Harry Puter)
Walaupun sudah tinggal di tempat yang
berjauhan, tiga pemuda ini masih terus berhubungan lewat HP. Sekarang
Kasno dan Darman sedang libur. Mereka
pulang ke kampung halaman tercinta. Kasno yang paling mapan ekonominya, sering
mentraktir Harno dan Darman. Kalau sudah bernostalgia, mereka sering lupa
waktu. Kalau sudah asyik bercengkerama, mereka bisa ngobrol sampai berjam-jam.
Meskipun begitu, Harno, Kasno dan Darman tidak pernah melupakan kewajiban utama
mereka sebagai seorang Muslim, yaitu; sholat lima waktu. Walaupun sudah pada
jadi orang, tiga sekawan ini tetap dikenal sebagai Muslim yang taat.
*****
Hari itu Kasno mengajak dua sobatnya
berlibur dengan mobil Taruna merahnya. Mereka pergi dari pagi sampai sore. Saat
senja tiba, Taruna merah Kasno berjalan di pegunungan. Darman yang duduk
sendirian di jok kedua, menunjuk sebuah gua di bebukitan batu. Pemuda agak
gemuk ini tersenyum,
“Aku ingin masuk ke situ. Yah,
mudah-mudahan besok kita punya kesempatan untuk mampir.”
“Itu gua hantu, tempat semedinya Si
Buta..” ujar Harno bercanda.
“Memang kamu mau apa? Cari wangsit?”
“Ya ingin tahu aja. Kelihatannya serem, tapi juga indah. Penuh
misteri.”
Beberapa detik setelah Darman begitu,
mendadak mobil mereka seperti oleng, berjalan
tidak teratur. Hal itu memperlambat laju
mobil tersebut. Harno berkata, “Wah, jangan-jangan bannya kempes.”
“Iya nih,” sambung Kasno yang
memperlambat laju mobilnya. “Wah, bisa gawat kalau macet di sini. Nggak ada
siapa-siapa, jauh dari mana-mana.”
“Biar kulihat!” ujar Darman langsung
keluar.
Ternyata benar. Ban sebelah kiri yang
depan bocor cukup parah. Kasno menatap keadaan sekitar, lalu berkata, “Sekarang
kita benar-benar terisolasi.”
Harno menatap kedua sahabatnya, lalu
berkata lembut, “Kita sedang diuji. Bersabarlah.”
Mereka kembali ke dalam mobil dengan
pintu dan jendela terbuka. Waktu menunjukkan pukul 17.15. Darman menguap, lalu
berkata, “Setengah jam lagi Maghrib.”
Kasno yang terlihat paling cemas,
bertutur, “Mungkin kita harus tidur di sini.”
Setelah hening beberapa menit, Harno
berkata, “Aku akan coba minta tolong temanku, tukang tambal ban keliling. Tapi
kalau disuruh ke sini, rasanya hampir tidak mungkin. Tapi tetap tidak ada salahnya kucoba. Semoga dia bisa menolong kita.”
Kecemasan menyelimuti mobil Taruna
merah. Tiga sekawan ini hanya bisa berharap, mudah-mudahan kawan Harno itu bisa
segera datang untuk menolong mereka. Harno menjauhi mobil beberapa langkah.
Ditatapnya pemandangan sekitar yang menawan. Ia bergumam,
“Pemandangannya indah sekali. Tapi
sayang, kami tidak bisa menikmati karena keadaan kami sedang genting.”
Harno kembali ke mobil. Dengan posisi
masih berdiri di samping mobil, ia menatap Darman sambil tersenyum, “Tampaknya keinginanmu
bakal terwujud.”
“Keinginan apa?”
Harno menunjuk gua. “Di sini kan nggak
enak. Sumpek, panas.”
Darman mengangguk sambil tersenyum.
Kasno yang masih duduk menghadap setir pun setuju. Kini mereka berdiri di pintu
gua. Harno menerangi gua itu dengan senternya, lalu berkata, “Kelihatannya dalamnya
cukup luas. Ya sudah, kita masuk aja.”
Mengetahui gua itu aman-aman saja,
mereka langsung masuk ke dalam gua tersebut. Darman berkata, “Ini akan
menjadi peristiwa bersejarah dalam hidup kita.”
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh
jatuhnya batu besar di pintu gua. Begitu besarnya batu itu, sehingga menutupi
seluruh pintu gua. Yang tersisa tinggal beberapa lobang yang bisa dilalui
seekor anjing. Harno cs benar-benar seperti mengalami kiamat kecil. Kini yang
ada di hadapan mereka hanya kegelapan. Mereka hampir seperti orang buta. Hanya senter
Harno dan secuil sinar mentari yang masih sedikit menerangi mereka.
Kasno berkata, “Ya Allah, dosa apa yang pernah
kulakukan!? Sampai aku harus menghadapi cobaan seberat ini.”
“Apakah ini akhir hidup
kita?” sambung Darman. Harno yang sejak tadi terlihat paling sabar, berkata,
“Sekarang kita tidak bisa apa-apa, kecuali berdoa. Keimanan kita benar-benar
sedang diuji. Dan Insya Allah, inilah tolok ukur sejati keimanan kita.” Diam
sebentar, “Tetaplah berbaik sangka sama Allah. Dia tidak akan memberi cobaan
pada hambaNya, kecuali sesuai dengan kemampuan si hamba.”*
Karena sudah kehabisan akal, tiga
sekawan ini hanya bisa pasrah. Harno meminta semuanya berdoa dengan wasilah atau
perantara amal sholeh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas, walaupun amal
yang dilakukan cuma sedikit atau sekali. Mereka mulai mengingat-ingat, amal
sholeh apa yang pernah mereka lakukan dengan niat murni mengharapkan ridhoNya.
Kasno memiliki kebiasaan memberi susu
untuk kedua ortunya. Suatu ketika, ayah ibunya sudah tidur karena lelah, jadi
mereka belum sempat minum susu. Kasno yang tidak tega membangunkan ayah ibunya,
memutuskan untuk menunggu mereka sampai bangun. Ia mendengar anak perempuannya
yang masih balita menangis karena lapar atau haus, namun ia tetap duduk di
samping ayah ibunya yang tertidur pulas. Bukannya ia tidak mempedulikan buah
hatinya. Ia hanya berpikir, apa yang akan ia lakukan untuk kedua ortunya lebih
besar pahalanya, juga karena masih ada istrinya yang bisa mengurus anaknya.
Setelah ayah ibunya bangun, ia
langsung memberikan susu di tangannya kepada mereka. Ia berkata, “Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim,
sungguh Engkau tahu, aku melakukan semua itu dengan hati yang tulus. Aku
melakukan semua itu dengan satu niat. Mengharapkan cintaMu. Karena itu ya Allah, bukalah batu yang menutupi gua ini.”
Berkat rahmat Allah melalui kebaikan
yang pernah dilakukan Kasno, batu besar yang menutupi gua itu terbuka. Namun
sayang, batu itu hanya bergeser sedikit, jadi belum cukup untuk dijadikan jalan
keluar. Melihat keadaan itu, gantian Harno yang berdoa dengan amal sholeh yang
pernah ia lakukan.
Lima tahun yang lalu, saat Harno
masih bujang, Harno pernah jatuh cinta pada Ratna, wanita cantik yang masih
sepupunya. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Harno yang saat itu belum
mengaji atau mendalami ilmu agama, menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki
Ratna, wanita sholehah anak pamannya. Kalaupun tidak bisa memiliki Ratna
selamanya, setidaknya ia bisa memilikinya untuk sementara waktu.
Suatu hari, Ratna mengalami musibah
ekonomi. Ia mendatangi Harno untuk meminjam uang yang akan ia gunakan untuk
pengobatan ayahnya yang sakit keras. Harno yang keadaannya sudah mapan,
benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ia berkata pada Ratna,
“Boleh. Tapi ada syaratnya. Kamu harus menyerahkan tubuhmu.”
Ratna yang sholehah itu jelas
langsung menolak, namun karena keadaan sudah sangat gawat, akhirnya ia bersedia
memenuhi keinginan rendah Harno. Mereka pun berduaan di kamar Harno. Harno
menyentuh bahu Ratna, lalu mencium pipinya. Dan ketika Harno ingin melakukan
lebih dari itu, mendadak tubuh Ratna bergetar keras.
“Kamu kenapa?” Tanya Harno terkejut.
Ratna menyahut, “Aku takut sama Allah, Zat yang Maha
Melihat.”
Harno tersentak sadar. “Kamu?...yang
dalam keadaan hancur begini masih takut sama Allah!? Sedangkan aku..? ooh!
Seharusnya aku lebih takut sama Allah!”
Harno menyerahkan sejumlah uang yang
diperlukan Ratna, lalu pergi begitu saja. Ia berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau
tahu…aku melakukan semua itu hanya karena mengharap ridhoMu. Karena itu ya
Allah, singkirkan batu yang menutupi gua ini.”
Batu sebesar gajah itu kembali bergeser,
namun masih belum cukup untuk dijadikan jalan keluar. Sekarang gilliran Darman
yang berdoa. Dulu ia pernah memiliki pekerja yang pamit tanpa mengambil gaji
atau haknya. Beberapa waktu kemudian pekerjanya itu mendatanginya untuk mengambil haknya. Darman pun memintanya
untuk mengambil beberapa kambing dan domba di kandang dekat rumahnya. Tentu
saja mantan karyawannya itu bingung. Ia
bertanya,
“Mas Darman, saya cuma mau ambil hak
saya dulu., tidak perlu berlebihan begini.”
Darman menjawab, “Gajimu dulu sudah
kubuat begini. Ambillah semua.”
Mantan karyawannya itu gembira bukan
kepalang. Ia langsung mencium tangan kanan
Darman. Darman berkata, “Sungguh Engkau tahu…aku melakukan semua itu
dengan satu niat tulus. Mengharap ridhoMu. Karena itu Ya Allah, singkirkan batu
gua ini.”
Akhirnya batu besar itu bergeser
dengan sempurna. Keadaan gua kembali seperti semula. Darman cs yang nyaris
kehabisan nafas, langsung sujud syukur bersama. Harno berkata, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Segala puji hanya untuk
Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amal besar bisa bernilai kecil karena
tidak atau kurang ikhlas. Demikian juga sebaliknya. Amal kecil bisa jadi besar
karena ketulusan atau keikhlasan niat kita.”
*Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat terakhir/286
Yogyakarta, November 2011 (Harry Puter)

0 comments:
Post a Comment