Saturday, 29 June 2013

Si Lugu Yang Sholeh

Sudah setahun lebih Hamzah menganggur, sejak ia dikeluarkan dari Fakultas Sastra Inggris UGM bagian administrasi dan TU (Tata Usaha). Pemuda miskin namun sholeh ini sudah empat tahun bekerja di UGM. Ia dikeluarkan karena dianggap terlalu keras dalam berdakwah. Kini yang ia lakukan hanya berdoa dan terus berusaha mencari pekerjaan lagi.     

         
                  
         
          Dulu Hamzah bisa masuk UGM karena ada yang menolong atau karena punya kenalan, namun sekarang dia tidak punya kenalan yang bisa membantunya meraih pekerjaan lagi. Dengan demikian, lelaki asli Gunungkidul, Wonosari ini harus berusaha lebih keras dari sebelumnya. Dia yang tahu diri, jelas malu kalau terus menggantungkan hidupnya pada ibunya yang telah menjanda. Ayahnya meninggal dua tahun yang lalu karena asma.
          Malam itu Hamzah merenung di kamarnya yang kecil dan agak acak-acakan. Ia merenungi usaha kerasnya yang sampai sekarang belum membuahkan hasil. Ia bergumam, “Sekarang aku mau kerja apa saja, yang penting halal.”
          Allah Yang Maha Pengasih jelas tidak tega membiarkan makhlukNya terus menerus terpuruk. HambaNya yang durhaka saja masih Dia tolong, apalagi hambaNya yang bertakwa. Beberapa hari kemudian Hamzah mendapat kabar gembira. Salah satu tetangga di desanya yang bekerja di Jogja, mempunyai kenalan seorang pengusaha sukses. Namanya Drs Margono, pria asli Bandung yang sudah 12 tahun tinggal di Jogja. Usianya 50 tahun.   
           Ia memiliki kebun durian yang cukup luas yang berada di samping rumahnya, dan kini ia sedang mencari orang yang mau jadi penjaga kebunnya. Hamzah langsung bergerak begitu mendengar lowongan pekerjaan itu. Ia langsung turun gunung untuk menemui pemilik kebun durian itu. Berkat perjuangannya selama ini, ia pun diterima sebagai penjaga kebun  durian milik Bapak Drs Margono. 
         Sambil tersenyum bahagia, Hamzah bergumam, “Aku kerja lagi di Kota Gudeg.”
         Bujang 28 tahun ini bertekad untuk bekerja sebaik-baiknya, bekerja dengan seluruh jiwa raganya. Akhlaknya yang luhur itu membuatnya disenangi penduduk sekitar kebun. Setelah agak lama menjadi pekerjanya Margono, penduduk di kampung tersebut memanggilnya ‘Pak Kyai.’ Semua itu karena ia rajin sholat lima waktu di masjid, juga karena ia sering memberi nasehat agama pada orang-orang di sekitar kebun durian.           
                                                  *****
          Pagi itu Hamzah sedang membersihkan halaman depan rumah Margono. Margono yang sedang berada di serambi rumahnya, berkata, “Hamzah, tolong petikkan durian yang sudah matang, satu saja.”
          Hamzah mengangguk, lalu bergegas menuju kebun untuk memetik durian. Setelah menerima durian dari Hamzah, Margono masuk ke dalam rumah, dan Hamzah kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sejenak. Setengah jam kemudian Margono keluar lagi dengan wajah merah karena menahan marah. Ia tatap Hamzah yang sedang menyirami tanaman, lalu berkata setengah membentak,
          “Hei! Tadi aku minta durian yang sudah matang, yang sudah manis!”
          “Memang itu belum matang!?” sahut Hamzah terkejut.
          Keluguan pemuda alim ini semakin membakar emosi Margono. Ia menggelengkan kepalanya, “Masa’ kamu tidak bisa membedakan buah yang manis dan yang kecut? Yang sudah matang atau yang sudah busuk!? Huh! Apa kamu belum pernah makan durian!?”
          “Mohon maaf Pak,” sahut Hamzah lembut, “saya belum bisa membedakan durian yang sudah matang dan yang masih mentah.”
          Jawaban polos itu bukannya menyentuh perasaan Margono, namun malah membuatnya semakin jengkel. Ia kembali menggelengkan kepalanya, “Hamzah, Hamzah. Jadi orang jangan terlalu lugu!”
          Hamzah hanya menunduk. Margono berkata lagi, “Kenapa kamu belum bisa membedakan durian yang sudah manis dan yang masih kecut!? Kamu kan tiap hari merawat durian!?”            
          “Tapi saya belum pernah mencoba durian di kebun ini.”
          “Sekalipun belum pernah!?”
          “Belum Pak.”
          Hening sejenak. Margono menatap Hamzah yang menunduk, lalu bicara lagi, “Sudah setahun kamu ikut aku..masa’ sekalipun belum pernah makan durianku!? Kamu jangan main-main! Aku sedang ada masalah sama istriku. Kamu jangan membuatku pusing!”
         “Demi Allah Pak,jawab Hamzah tetap tenang. “Satu kali pun saya belum pernah mencicipi durian Bapak.”
          “Kenapa kamu tidak mencoba!?”  
          “Karena Bapak hanya menyuruh saya menjaga kebun ini, jadi saya tidak berani bertindak lebih dari itu.”     
          Kali ini Margono agak tersentuh. Pria yang Islamnya abangan ini mulai merasakan kebenaran yang selama ini jauh dari hatinya. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja. Untuk membuktikan kejujuran Hamzah, ia mendatangi tetangga dan teman-teman dekat Hamzah, lalu bertanya pada mereka. Salah seorang teman dekat Hamzah berkata,
           “Selama ini Mas Hamzah tidak pernah bohong. Dia sangat lugu. Insya Allah dia benar-benar Pak Kyai, benar-benar baik luar-dalam.”
          “Dia juga selalu amanat dalam menjalankan sesuatu.“ sambung yang lain. “Dia orang paling jujur yang pernah kukenal.”
                                                      *****
          Orang-orang yang ditanyai Margono itu dikenal sebagai orang baik-baik di kampung tersebut. Dengan demikian Margono semakin yakin akan keluhuran akhlak Hamzah. Ia pun sadar kalau selama ini ia belum begitu  baik memperlakukan kyai muda  dari Wonosari itu. Namun karena masih agak ragu, ia kembali mendatangi penjaga kebunnya, lalu berkata,
          “Hamzah, aku tanya sekali lagi, tolong jawab sejujurnya. Kamu berani sumpah demi Allah (menunjuk atas)? kamu benar-benar belum pernah makan durianku? Walau cuma sekali?”
          “Demi Allah, Zat Yang Menguasai jiwa kita semua…saya belum pernah sekalipun makan duriannya Pak Margono.”
          “Apa alasanmu? Tolong beri alasan yang bisa kuterima.”     
          Hamzah yang tetap terlihat tenang, berkata, “Saya tidak tahu, nanti Bapak bisa  menerima penjelasan saya atau tidak.” Diam beberapa detik, “Waktu pertama saya datang ke sini dulu, Bapak hanya memerintah saya untuk menjaga kebun ini. Bapak tidak atau belum pernah mengijinkan saya mencicipi durian yang saya jaga. Selama ini saya selalu berusaha menjaga perut saya dari makanan syubhat,* apalagi yang haram. Jadi kalau Bapak belum mengjinkan, saya tidak berani makan durian Bapak, walau cuma coba-coba.”
         Walau cuma durian yang jatuh di tanah?”
          “Iya Pak…walau cuma durian yang jatuh di tanah. Kecuali kalau pemiliknya sudah mengijinkan.”
*Ragu-ragu/samar, tercela. Tidak sampai haram, tapi sebaiknya ditinggal.        

           Jawaban polos itu membuat kedua mata Margono berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia bergumam, “Maafkan aku, Hamzah. Selama ini aku belum yakin dengan kesholehanmu. Sekarang aku baru sadar sepenuh hati. Kamu benar-benar pemuda suci, sebagaimana yang diomongkan orang selama ini.”

          Beberapa hari kemudian, Hamzah diajak Margono bicara empat mata di ruang tamu. Margono hanya memiliki seorang anak lelaki, namun sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Kini ia hanya memiliki ponakan seorang gadis muda yang cantik dan pintar. Ibunya adik sepupunya Margono. Ayahnya sudah lama meninggal, jadi selama ini Margono-lah yang menafkahi kebutuhan hidupnya. Namanya Ririn, usianya 24 tahun. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di  Ekonomi UGM. Margono bertutur,
          “Ponakanku itu agamanya masih minim, tapi setidaknya masih lebih bagus dari pamannya ini. Dia sering ngomong sama aku. Kalau sudah mau nikah, dia minta dicarikan suami yang sholeh, yang bisa mengajari ilmu agama, agar bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.“ hening sejenak, lalu menatap Hamzah, “Menurutmu, dia harus kunikahkan sama siapa?”
          Hamzah menjawab, “Orang Yahudi menikahkan anaknya karena kekayaan. Orang Nasrani menikahkan karena keindahan. Orang Arab menikahkan karena nasab atau keturunan. Kalau kaum Muslim karena iman dan ketakwaan.” Hening sejenak. Ditatapnya Margono yang bengong, lalu bicara lagi, “Pak Margono tinggal pilih, mau masuk golongan yang mana?”
          Margono tersenyum bahagia, “Untuk saat ini, kamulah orang paling bertakwa yang kukenal.”
          “Maksud Bapak!?” sahut Hamzah tersentak gembira.
          “Ya…kamulah yang paling pantas jadi suaminya Ririn.”
          Margono pun menikahkan Hamzah dengan Ririn. Ketakwaan Hamzah selama ini membuatnya mendapatkan dua nikmat. Ekonomi yang mapan dan istri cantik yang bertabiat lembut. Dengan kejujuran dan kesabaran, Hamzah berhasil membimbing Ririn menjadi wanita sholehah, wanita cantik luar dalam. Mereka hidup bahagia, hidup dalam rumah tangga yang dipenuhi kedamaian.
                                                                                    Yogyakarta, November 2011   ( Harry Puter)

0 comments:

Post a Comment

 
;