Sudah
setahun lebih Hamzah menganggur, sejak ia dikeluarkan dari Fakultas Sastra
Inggris UGM bagian administrasi dan TU (Tata Usaha). Pemuda miskin namun sholeh
ini sudah empat tahun bekerja di UGM. Ia dikeluarkan karena dianggap terlalu
keras dalam berdakwah. Kini yang ia lakukan hanya berdoa dan terus berusaha
mencari pekerjaan lagi.
Dulu Hamzah bisa masuk UGM karena ada
yang menolong atau karena punya kenalan, namun sekarang dia tidak punya kenalan
yang bisa membantunya meraih pekerjaan lagi. Dengan demikian, lelaki asli
Gunungkidul, Wonosari ini harus berusaha lebih keras dari sebelumnya. Dia yang
tahu diri, jelas malu kalau terus menggantungkan hidupnya pada ibunya yang
telah menjanda. Ayahnya meninggal dua tahun yang lalu karena asma.
Malam itu Hamzah merenung di
kamarnya yang kecil dan agak acak-acakan. Ia merenungi usaha kerasnya yang
sampai sekarang belum membuahkan hasil. Ia bergumam, “Sekarang aku mau kerja
apa saja, yang penting halal.”
Allah Yang Maha Pengasih jelas tidak
tega membiarkan makhlukNya terus menerus terpuruk. HambaNya yang durhaka saja
masih Dia tolong, apalagi hambaNya yang bertakwa. Beberapa hari kemudian Hamzah
mendapat kabar gembira. Salah satu tetangga di desanya yang bekerja di Jogja,
mempunyai kenalan seorang pengusaha sukses. Namanya Drs Margono, pria asli
Bandung yang sudah 12 tahun tinggal di Jogja. Usianya 50 tahun.
Ia memiliki kebun durian yang cukup
luas yang berada di samping rumahnya, dan kini ia sedang mencari orang yang mau
jadi penjaga kebunnya. Hamzah langsung bergerak begitu mendengar lowongan
pekerjaan itu. Ia langsung turun gunung untuk menemui pemilik kebun durian itu.
Berkat perjuangannya selama ini, ia pun diterima sebagai penjaga kebun durian milik Bapak Drs Margono.
Sambil tersenyum bahagia, Hamzah
bergumam, “Aku kerja lagi di Kota Gudeg.”
Bujang 28 tahun ini bertekad untuk
bekerja sebaik-baiknya, bekerja dengan seluruh jiwa raganya. Akhlaknya yang
luhur itu membuatnya disenangi penduduk sekitar kebun. Setelah agak lama
menjadi pekerjanya Margono, penduduk di kampung tersebut memanggilnya ‘Pak
Kyai.’ Semua itu karena ia rajin sholat lima waktu di masjid, juga karena ia
sering memberi nasehat agama pada orang-orang di sekitar kebun durian.
*****
Pagi itu Hamzah sedang membersihkan
halaman depan rumah Margono. Margono yang sedang berada di serambi rumahnya,
berkata, “Hamzah, tolong petikkan durian yang sudah matang, satu saja.”
Hamzah mengangguk, lalu bergegas
menuju kebun untuk memetik durian. Setelah menerima durian dari Hamzah, Margono
masuk ke dalam rumah, dan Hamzah kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda
sejenak. Setengah jam kemudian Margono keluar lagi dengan wajah merah karena
menahan marah. Ia tatap Hamzah yang sedang menyirami tanaman, lalu berkata
setengah membentak,
“Hei! Tadi aku minta durian yang
sudah matang, yang sudah manis!”
“Memang itu belum matang!?” sahut
Hamzah terkejut.
Keluguan pemuda alim ini semakin
membakar emosi Margono. Ia menggelengkan kepalanya, “Masa’ kamu tidak bisa
membedakan buah yang manis dan yang kecut? Yang sudah matang atau yang sudah
busuk!? Huh! Apa kamu belum pernah makan durian!?”
“Mohon maaf Pak,” sahut Hamzah
lembut, “saya belum bisa membedakan durian yang sudah matang dan yang masih
mentah.”
Jawaban polos itu bukannya menyentuh
perasaan Margono, namun malah membuatnya semakin jengkel. Ia kembali menggelengkan
kepalanya, “Hamzah, Hamzah. Jadi orang jangan terlalu lugu!”
Hamzah hanya menunduk. Margono
berkata lagi, “Kenapa kamu belum bisa membedakan durian yang sudah manis dan
yang masih kecut!? Kamu kan tiap hari merawat durian!?”
“Tapi saya belum pernah mencoba
durian di kebun ini.”
“Sekalipun belum pernah!?”
“Belum Pak.”
Hening sejenak. Margono menatap
Hamzah yang menunduk, lalu bicara lagi, “Sudah setahun kamu ikut aku..masa’
sekalipun belum pernah makan durianku!? Kamu jangan main-main! Aku sedang ada
masalah sama istriku. Kamu jangan membuatku pusing!”
“Demi Allah Pak,” jawab Hamzah tetap tenang.
“Satu kali pun saya belum pernah mencicipi durian Bapak.”
“Kenapa kamu tidak mencoba!?”
“Karena Bapak hanya menyuruh saya
menjaga kebun ini, jadi saya tidak berani bertindak lebih dari itu.”
Kali ini Margono agak tersentuh. Pria
yang Islamnya abangan ini mulai merasakan
kebenaran yang selama ini jauh dari hatinya. Namun ia tidak langsung percaya
begitu saja. Untuk membuktikan kejujuran Hamzah, ia mendatangi tetangga dan
teman-teman dekat Hamzah, lalu bertanya pada mereka. Salah seorang teman dekat
Hamzah berkata,
“Selama ini Mas Hamzah tidak pernah
bohong. Dia sangat lugu. Insya Allah dia benar-benar Pak Kyai, benar-benar baik
luar-dalam.”
“Dia juga selalu amanat dalam
menjalankan sesuatu.“ sambung yang lain. “Dia orang paling jujur yang pernah kukenal.”
*****
Orang-orang yang ditanyai Margono itu
dikenal sebagai orang baik-baik di kampung tersebut. Dengan demikian Margono
semakin yakin akan keluhuran akhlak Hamzah. Ia pun sadar kalau selama ini ia
belum begitu baik memperlakukan kyai
muda dari Wonosari itu. Namun karena
masih agak ragu, ia kembali mendatangi penjaga kebunnya, lalu berkata,
“Hamzah, aku tanya sekali lagi,
tolong jawab sejujurnya. Kamu berani sumpah demi Allah (menunjuk atas)? kamu
benar-benar belum pernah makan durianku? Walau cuma sekali?”
“Demi Allah, Zat Yang Menguasai jiwa
kita semua…saya belum pernah sekalipun makan duriannya Pak Margono.”
“Apa alasanmu? Tolong beri alasan
yang bisa kuterima.”
Hamzah yang tetap terlihat tenang,
berkata, “Saya tidak tahu, nanti Bapak bisa
menerima penjelasan saya atau tidak.” Diam beberapa detik, “Waktu
pertama saya datang ke sini dulu, Bapak hanya memerintah saya untuk menjaga
kebun ini. Bapak tidak atau belum pernah mengijinkan saya mencicipi durian yang
saya jaga. Selama ini saya selalu berusaha menjaga perut saya dari makanan syubhat,* apalagi yang haram. Jadi kalau
Bapak belum mengjinkan, saya tidak berani makan durian Bapak, walau cuma
coba-coba.”
“ Walau
cuma durian yang jatuh di tanah?”
“Iya Pak…walau cuma durian yang jatuh
di tanah. Kecuali kalau pemiliknya sudah mengijinkan.”
*Ragu-ragu/samar,
tercela. Tidak sampai haram, tapi sebaiknya ditinggal.
Jawaban polos itu membuat kedua mata Margono berkaca-kaca. Ia sangat tersentuh dan terharu. Ia bergumam, “Maafkan aku, Hamzah. Selama ini aku belum yakin dengan kesholehanmu. Sekarang aku baru sadar sepenuh hati. Kamu benar-benar pemuda suci, sebagaimana yang diomongkan orang selama ini.”
Beberapa hari kemudian, Hamzah diajak
Margono bicara empat mata di ruang tamu. Margono hanya memiliki seorang anak
lelaki, namun sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Kini ia
hanya memiliki ponakan seorang gadis muda yang cantik dan pintar. Ibunya adik
sepupunya Margono. Ayahnya sudah lama meninggal, jadi selama ini Margono-lah
yang menafkahi kebutuhan hidupnya. Namanya Ririn, usianya 24 tahun. Ia baru
saja menyelesaikan kuliahnya di Ekonomi
UGM. Margono bertutur,
“Ponakanku itu agamanya masih minim,
tapi setidaknya masih lebih bagus dari pamannya ini. Dia sering ngomong sama
aku. Kalau sudah mau nikah, dia minta dicarikan suami yang sholeh, yang bisa
mengajari ilmu agama, agar bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.“ hening
sejenak, lalu menatap Hamzah, “Menurutmu, dia harus kunikahkan sama siapa?”
Hamzah menjawab, “Orang Yahudi
menikahkan anaknya karena kekayaan. Orang Nasrani menikahkan karena keindahan.
Orang Arab menikahkan karena nasab atau keturunan. Kalau kaum Muslim karena
iman dan ketakwaan.” Hening sejenak. Ditatapnya Margono yang bengong, lalu
bicara lagi, “Pak Margono tinggal pilih, mau masuk golongan yang mana?”
Margono tersenyum bahagia, “Untuk
saat ini, kamulah orang paling bertakwa yang kukenal.”
“Maksud Bapak!?” sahut Hamzah
tersentak gembira.
“Ya…kamulah yang paling pantas jadi
suaminya Ririn.”
Margono pun menikahkan Hamzah dengan
Ririn. Ketakwaan Hamzah selama ini membuatnya mendapatkan dua nikmat. Ekonomi
yang mapan dan istri cantik yang bertabiat lembut. Dengan kejujuran dan
kesabaran, Hamzah berhasil membimbing Ririn menjadi wanita sholehah, wanita
cantik luar dalam. Mereka hidup bahagia, hidup dalam rumah tangga yang dipenuhi
kedamaian.
Yogyakarta,
November 2011 ( Harry Puter)
0 comments:
Post a Comment