Angin malam
bertiup pelan. Hembusannya yang segar membuat dedaunan bergerak pelan. Bintang
gemintang berkilauan, laksana kedipan mata bidadari. Pesona lampu alam itu
membuat suasana malam semakin indah. Waktu menunjukkan pukul 22.00, atau jam 10
malam. Suasana komplek Bumi Indah sudah sepi. Sebagian besar penduduknya sudah
pada kembali ke peraduan masing-masing. Kecuali seorang lelaki penghuni rumah
yang letaknya persis di sebelah utara masjid Al-Furqan. Tubuhnya sudah
berbaring di ranjang, namun matanya belum tertutup. Semua itu karena hati dan
pikirannya selalu tercurah pada perempuan cantik penjual kue bolu.
Dengan posisi berbaring, Hamdi
meletakkan buku bacaannya di atas dadanya. Sambil terus menatap langit-langit
kamar dan lampu yang masih menyala, Hamdi bergumam, “Kemarin dia ultah yang ke
29. Hmmm (tersenyum)…berarti sama aku selisih dua tahun empat bulan. …Anak
perempuannya kemarin meninggal umur empat kurang tiga bulan. Sedikit lebih tua
dari Septi. …Berarti dia menikah sekitar
umur 22-23. …Dia menikah sama lelaki yang umurnya jauh di atasnya…yang
selisihnya di atas 10 tahun. …Kasihan juga dia. Kehilangan anak perempuan
satu-satunya.“
“Nasibnya hampir sama Mama. …Dan aku
juga yakin, tingkat kesedihan mereka nyaris sama. …Isma kehilangan anaknya,
padahal anaknya hanya itu. Sedangkan Mama..kehilangan anak bungsu, dan masih
punya tiga anak lelaki. …..Tapi waktu itu Mama sedih banget, soalnya Mama sudah
lama mendambakan anak perempuan. Bahkan kata Eyang putri, sebelum Septi lahir,
Mama sudah berniat memiliki anak pungut perempuan.”
Hening sejenak, lalu bangun dari
tidurnya sambil menggelengkan kepala. “Aah sudahlah, jangan dipikir lagi.
Jangan larut dalam lamunan masa lalu yang kurang baik. Lebih baik sekarang
memikirkan pekerjaan yang masih numpuk, juga bekal yang belum jelas untuk masa
depan.”
Keesokan harinya, Hamdi pergi ke
warung dengan sepeda. Ketika pulang, Hamdi melewati gang rumah Isma. Hamdi
tersentak. Keinginan untuk melewati rumah Isma langsung muncul. Mati-matian
Hamdi berusaha mengubur niatnya itu, namun gagal total. Keinginannya itu sudah
menghujam kuat di lubuk hatinya yang terdalam. Setelah merenung beberapa detik,
akhirnya Hamdi bergumam, “Baiklah kalau cuma lewat..cuma ingin tahu keadaan
rumahnya. Yang penting tidak lebih dari itu. Toh sekarang dia belum tentu ada
di depan. …Ehmm…Oke. …Hanya lewat.”
Tanpa ragu lagi, Hamdi dan sepedanya
berjalan ke arah rumah Kandar. Namun ketika Hamdi masih berada di sekitar 10
meter dari rumah Kandar, Hamdi sudah melihat Isma berdiri di samping mobil
Taruna-nya.
Hamdi melihat Sutris yang mau menjalankan mobil itu. Di sampingnya ada Hartoyo.
Tentu saja Hamdi kelabakan bukan main. Ia mau kembali ke jalan yang tadi, namun
sudah terlambat. Isma sudah melihatnya sambil tersenyum manis.
Dengan perasaan gado-gado, takut
sekaligus gembira bukan main, Hamdi turun dari sepedanya, kemudian menuntunnya.
Setelah berada di depan rumah Isma, Hamdi mengucap salam kepada semuanya,
setelah itu bersalaman dengan Sutris. Pria berkumis itu tersenyum ramah. “Apa
kabar Mas Hamdi?”
“Baik sekali Pak, Alhamdulillah. Mau mengantar Bapak ke kantor?”
“Oh tidak, kami mau belanja. Bapak
sudah berangkat tadi pagi.”
“Bapak dijemput orang kantor,“ sambung
Isma tersenyum gembira. “Dari mana Mas?”
“Ohh (tersenyum malu), dari taman
bacaan, pinjam buku.”
Isma tersenyum. “Dua buku kemarin
sudah kulahap. Semuanya bagus.”
“Berarti Mbak Is suka?”
“Suka sekali, terutama yang novel.”
“Ya sudah Mas,” potong Sutris sambil
masuk ke mobil, “saya pergi dulu ya?”
“Saya juga mau terusan.”
“Lho, mau ke mana?!” Cegah Isma
terkejut. “Kok terburu-buru?!”
“Ehm..saya ada perlu.”
“Perlu apa? Pentingkah?!”
“Kalau tidak penting,“ sambung Sutris,
“bisa dikerjakan nanti. Sudahlah Mas, silahkan mampir dulu, minum-minum.”
“Iya Mas,” sambung Isma semangat,
“Mumpung Murni lagi masak air. Mari.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian,” sahut Sutris.
“Rejeki tidak boleh ditolak. Hahh. Memang di rumah ngapain sih? Kok kelihatannya terburu-buru sekali?”
Hening sejenak. Hamdi yang sebenarnya
gembira sekali, bergumam, “Ini seperti
mimpi. Ohh…aku akan berdekatan lagi dengan Si Cantik ini.”
“Ya sudah,” tutur Sutris, “jangan cuma
bengong di situ. Saya tinggal dulu ya? Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumus
salaam,” sahut Hamdi sambil menepuk bagian belakang Taruna. Hamdi menatap
kepergian mobil merah itu. Sedangkan Isma, berdiri di belakangnya. Kaca mobil
yang gelap itu membuat Hamdi tidak menyadari kehadiran Toyo. Pria itu menatap Hamdi dengan
wajah bengis, lalu bertanya, “Siapa dia?”
“Mas Hamdi, putranya Pak Sujar, ketua
takmir masjid Al-Furqan.”
Toyo yang masih menatap belakang
dengan serius, mengangguk-angguk. “Kelihatannya dia akrab banget sama Mbak Is.”
Sutris tersenyum. “Ya jelaslah, dia
orang penting di komplek ini. Ibunya juga pelanggan kuenya Mbak Is.”
Sutris yang masih asyik memegang
setir, tidak menyadari keseriusan wajah Toyo. Pria aneh dan mencurigakan ini
masih terus memikirkan Hamdi. Dengan wajah seperti orang marah, ia bergumam,
“Sudah bisa kutebak. Pria bertubuh gempal itu juga jatuh cinta sama Isma. …Berarti
sebentar lagi akan terjadi sesuatu di rumah Kandar. …Yah, itu pasti. Heh he hee. Baiklah kalau begitu. Akan kulihat
dulu sandiwara yang semakin seru ini. …Setelah mengetahui semua, baru akan
kuhancurkan si Kandar busuk! juga istri dan semua hartanya. Hah ha haa!”
Kini kembali
ke Hamdi yang berduaan dengan Isma. Hamdi dan sepedanya masih berdiri mematung
di hadapan Isma. Isma pun malu-malu. Ia semakin kikuk menghadapi lelaki yang
sekarang selalu ada di hatinya itu. Setelah hening beberapa detik, Hamdi
memecah kesunyian dengan berkata, “Makasih banyak untuk roti dan sari apelnya.
Saya jadi ketagihan sama sari apelnya. Sudah bergizi, enak, murah.”
“Makasih juga untuk bukunya,” sahut
Isma tersenyum manis. “Kalau Mas mau nambah sirup apelnya, tinggal bilang aku,
nanti kuberi gratis.”
“Waduuh, makasih banyak sekali ya?”
“Akulah yang seharusnya bilang begitu. Kado dari Mas kemarin lain dari
yang lain. …Dan yang sulit kupercaya…novel itu karangan Mas Hamdi. Ternyata Mas
bisa nulis novel bagus. Itu berarti Mas juga bisa membuat karya hebat.”
“Hebat apa ah?!” sahut Hamdi dengan
muka merah. Pujian demi pujian yang terus mengalir itu semakin membuat Hamdi
tersanjung. Sesaat kemudian Hamdi memohon diri. Isma pun mengiyakan permohonan
Hamdi itu. Namun beberapa detik kemudian Isma tersentak. Isma yang menatap
Hamdi yang berjalan sambil menuntun sepedanya, bergumam, “Inilah kesempatan
emas untuk mengungkapkan perasaanku. Sekaranglah kesempatan emas untuk membuang
beban terberat di hatiku selama ini. …Yah..sekarang saja. …Kalau tidak
sekarang, kapan lagi?!”
Tanpa ragu lagi, Isma langsung
memanggil Hamdi dengan berteriak. Hamdi terkejut. Dilihatnya Isma yang
mendekatinya, kemudian memintanya untuk tidak pulang dulu. Tentu saja Hamdi
kegirangan. Bukankah tadi Isma memang memintanya untuk mampir dulu ke rumahnya?
Tapi kenapa sekarang ia harus terburu-buru pulang? Hamdi tersenyum gembira.
Namun sedetik kemudian senyumnya musnah. Hamdi terkejut melihat wajah Isma
menjadi sedih dan tegang, padahal beberapa detik tadi Isma masih bergembira
ria. Hening beberapa detik. Isma mengatur nafasnya yang berat. Setelah itu Isma
mengatakan, ada hal yang sangat penting yang harus ia bicarakan dengan Hamdi. Dan
hal maha penting itu harus dibicarakan hari ini, pagi ini, jam ini, menit ini
dan detik ini.
Hamdi yang sudah mulai kontak batin
dengan Isma, langsung mengiyakan keinginan istri Kandar itu. Sesaat kemudian
Hamdi sudah dijamu Isma di ruang tamu. Di hadapan Hamdi sudah tersedia teh
hangat dan sepotong kue. Sebelum salah satu dari keduanya memulai pembicaraan,
Isma menangis sesenggukan. Tentu saja Hamdi semakin bingung. Apa yang membuat
Isma menangis dengan tiba-tiba? Setelah mencicipi hidangan itu, Hamdi meminta
Isma untuk menceritakan sebab kesedihannya. Hamdi yang duduk agak jauh dari
Isma, berkata lembut, “Kalau saya boleh menebak…Mbak sedih begini karena Pak
Kandar. Betul?”
“Betul sekali Mas..” sahut Isma dengan
suara sesenggukan. “Semalam Mas. …Semalam dan tadi pagi.”
Hamdi melotot. “Semalam dan tadi
pagi?”
Isma mengangguk sambil berusaha mengeringkan
air matanya. Hamdi melanjutkan, “Semalam dan tadi pagi…Mbak Is disakiti lagi?”
Isma mengangguk lagi. Sedetik kemudian
tangisnya semakin sesenggukan. Wanita yang sedang memendam masalah berat ini
menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Hening sejenak. Hanya tangis pilu Isma yang terdengar di ruang tamu rumah
Kandar. Hamdi yang semakin merasa iba pada perempuan di hadapannya itu, hanya
bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada. Beberapa saat kemudian, ketika
tangis Isma mulai reda, Hamdi
memberanikan diri untuk berkata lembut, “Ingat Allah saja Mbak. Dzikir. Istighfar, Tahlil, Takbir, atau apa
saja. Sebab hanya itu yang bisa menenangkan hati kita. Apalagi kalau kita sedang
menghadapi masalah berat. …Cobalah Mbak. Sebut asmaNya..apa saja.”
Isma yang sudah terlihat lebih tenang,
mengangguk. “Iya Mas..makasih.”
Setelah hatinya terasa lebih enteng,
Isma menceritakan segala yang dialaminya tadi malam, juga beberapa jam tadi.
Semalam Kandar kembali menunjukkan egonya yang masih sangat tinggi. Hanya
karena sedikit terlambat menyediakan makan malam, terlambat karena Isma dan
Murni kelelahan, mereka sudah dimarahi habis-habisan oleh Kandar, bahkan Isma
juga ditampar dan dijambak. Semua itu karena Isma mencegah suaminya yang hendak
menempeleng Murni. Penyebab yang lain, Kandar menganggap Isma lebih
mengutamakan atau lebih memperhatikan Bu Darti dibanding dirinya. Tentu saja
Isma tidak terima dengan tuduhan itu. Isma yang biasanya sabar dan suka
mengalah, semalam marah besar.
Tentu saja Kandar semakin berang melihat
istrinya yang biasanya penurut itu sekarang menjadi pembangkang. Tangan Kandar
yang agak berotot itu langsung menggasak muka Isma. Setelah disakiti secara
fisik, Isma ganti disakiti secara batin. Berulang kali Kandar mengumpat dengan
kata-kata kotor dan kasar. Pelakukan bejat Kandar terhadap istrinya itu
berlangsung sampai pagi. Sutris yang tidak tega melihat majikan perempuannya
disakiti, langsung mencegah perilaku Kandar yang sudah kelewatan itu.
Akibatnya, Sutris juga kena semprot. Itulah sebabnya tadi pagi Kandar tidak mau
diantar Sutris ke kantor. Karena masih ngambek
pada Sutris, akhirnya Kandar minta
dijemput salah satu anak buahnya di kantor.
“Begitulah ceritanya,” tutur Isma yang
sudah terlihat lebih tegar. “Semakin lama aku semakin tidak
mencintainya…walaupun dia masih suamiku yang sah.”
Hening sejenak. Isma menatap Hamdi
dengan tatapan penuh kasih. Sedetik kemudian Isma duduk di sebelah kiri Hamdi.
Kini jarak mereka hanya terpaut sekitar 60 cm. Hamdi jelas terkejut
melihat tindakan Isma yang tiba-tiba itu, namun ia juga tidak bisa menghindar.
Mengetahui Isma semakin mendekat, Hamdi hanya bisa memojok dan menunduk.
Setelah diam beberapa detik, Isma berkata tanpa menatap Hamdi. “Sekarang
ini…aku sudah menemukan seseorang yang kucintai dengan tulus.”
Hamdi melotot, lalu melirik Isma. Isma
pun menatapnya, lalu bertanya, “Mas ingin tahu siapa dia?”
Hamdi semakin tersentak. Isma
tersenyum. “Mas tinggal bilang, ingin tahu atau tidak. Kenapa harus kaget
begitu?”
Diam beberapa saat. Hamdi kembali
menatap depan atau bawah. Isma bertanya lagi, “Ingin tahu atau tidak Mas?”
Hamdi yang menunduk sambil menutup
muka, bergumam, “Ya Allah, apalagi yang harus kualami sekarang? Kenapa
perempuan yang kukasihi ini sekarang malah membuatku bingung? …Kenapa sekarang
dia malah menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi?”
“Ingin tahu atau tidak Mas?” Tanya
Isma lagi. Nada suaranya penuh harap. Hamdi benar-benar tidak tahu harus
menjawab apa. Ia merasa dirinya dipojokkan secara halus. Ia bergumam, “Kalau
aku menjawab ‘ya,’ nanti keadaanku bisa tambah runyam. Tapi aku benar-benar
ingin tahu. …Yah..aku benar-benar harus tahu. Harus!”
Karena tidak ingin pusing terlalu
lama, akhirnya Hamdi mengangguk. Tentu saja Isma gembira sekali. Isma
mengatakan, mulai detik ini hingga selamanya, ia ingin agar Hamdi jangan
memanggilnya ‘Mbak’ lagi. Ia juga tidak ingin Hamdi memanggilnya ‘Bu Kandar,’
kecuali saat di tempat umum. Ia meminta Hamdi untuk memanggil namanya langsung.
Dengan begitu, mereka bisa semakin akrab. Hamdi yang polos dan sedang bingung itu langsung menuruti saja
permintaan Isma itu.
Tanpa menatap Hamdi, Isma yang matanya
kembali berkaca-kaca, “Lelaki yang kucintai itu..sekarang ada di dekatku..di
sampingku.”
Hamdi tersentak. Telinganya seperti
ditusuk sepuluh panah. Yah, panah asmara yang membara. Isma yang terlihat
begitu tenang, kembali berkata, “Namanya..Hamdi Rusmanto.”
Mendengar kata-kata itu, kedua mata
Hamdi melotot bulat seperti telur. Tubuhnya bergetar keras. Ia seperti disambar
geledek di pagi buta. Perlahan-lahan, Isma menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sedetik kemudian ia menangis. Kedua tangan halusnya mencengkeram tangan kanan
Hamdi yang besar. Ia berkata, “Mas Hamdi…ohh. …Mas Hamdi…aku…aku mencintaimu. Aku
sungguh mencintaimu.”
Hamdi yang sudah memiliki keberanian,
menimpali, “Aku…ohh. …Demi Allah. Aku juga mencintaimu, Isma. Aku sangat
mencintaimu.”
Tangan kiri Hamdi memeluk kedua tangan Isma
yang memeluk tangan kanannya. Hamdi bertanya, “Manisku..sejak kapan kamu
mencintaiku?”
“Sejak pagi itu. ..Sejak Mas nolong
Sutris mendorong mobil. Hik..hik. Yah…sejak pagi itu, Mas Hamdiku..kekasihku.
Sejak pagi itu..kamu selalu ada di hatiku. ….Sejak pagi itu, aku benar-benar
sudah menemukan cinta sejati. Cinta sejati..hik, hik..yang selama ini kucari.
Hik, hik…”
Hamdi yang bahagia bukan main, juga tidak
sanggup menahan air matanya, namun tangisnya tidak sampai sesenggukan seperti
Isma. Tangisnya hanya satu-dua tetes air mata. Jari tangan kanannya menghapus
air mata yang membasahi kedua pipi empuk Isma. Alangkah bahagianya pasangan
kekasih baru ini. Gejolak cinta yang sudah lama terpendam di hati
masing-masing, kini bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sambil tetap memeluk
kedua tangan Isma, Hamdi berkata, “Sudah lama aku mengharapkan cinta yang tulus
dari seorang perempuan cantik dan baik hati. …Berkali-kali cintaku ditolak. Tapi
kali ini…ohh. ….Ya Allah, apakah semua ini hanya mimpi?!”
“TIdak Mas. Semua ini bukan mimpi.
Semua ini kenyataan.”
“Berarti…perempuan jelita di hadapanku
ini sekarang jadi milikku? Iya?!”
“Iya Mas (mengangguk), betul sekali.
Sekarang aku bukan milik Mas Kandar lagi. Sekarang aku milik Mas Hamdi
Rusmanto, kekasih sejatiku.”
“Benarkah itu, Sayangku?”
“Kekasihku, apa kamu masih ragu? Apa
kamu perlu bukti lagi?”
Hamdi menggelengkan kepala sambil
tersenyum. “Tidak perlu Sayangku. Aku benar-benar sudah percaya seratus persen.
Ooh (menatap atas)..ya Allah, ini benar-benar sulit kupercaya. …Berkali-kali
cintaku ditolak. …Tapi kali ini (memejamkan mata)…aku bisa mencintai dan
dicintai.”
“Mas Hamdiku..kekasihku..”
“Iya Sayang? Ada apa?”
“Kesedihanku ditinggal Tari sudah
hilang. Semua ini berkat kamu Mas.”
“Alhamdulillaah.
Alangkah senangnya aku, bisa menghilangkan kesedihan bidadariku ini. “
Isma tersenyum manis sekali. Ia bicara
lagi, “Mas Hamdi…tolong kabulkan permintaanku ini.”
Mendengar itu, kedua tangan Hamdi
memeluk kembali kedua tangan Isma, lalu ia taruh di depan dadanya. Pria alim
yang sedang mabuk cinta ini berkata, “Asal aku masih mampu, Insya Allah, seberat apapun
permintaanmu, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkan. ….Demi bungaku ini
(membelai rambut Isma), seberat apapun akan kulakukan.”
“Baiklah,” sahut Isma mengangguk dan
tersenyum gembira. “Mas Hamdi…tolong lindungi aku. Lindungilah aku dari Mas
Kandar..dan dari semua orang yang ingin mengganggu aku, dan mengganggu hubungan
cinta kita ini.”
Hamdi tersenyum. “Kalau soal itu,
tanpa kamu suruh pun aku pasti melakukannya. Aku janji (mengacungkan tinju
kanannya).”
Alangkah tersanjungnya Isma mendengar
tuturan Hamdi itu. Tangis bahagia kembali membasahi kedua pipinya nan empuk
seperti kue terang bulan. Sedetik kemudian Isma menaruh kepalanya di dada
bidang Hamdi. Isma berkata lirih, “Lindungilah aku, kekasihku.”
Hamdi mengangguk sambil tersenyum,
“Pasti Sayangku (mengelus rambut ngombak
Isma)..pasti. …Takkan kubiarkan siapapun mengganggu kamu..apalagi sampai berani
menyakiti bunga hatiku ini. Huhh! Dia harus berhadapan dengan Hamdi Rusmanto.” (Bersambung)
* * * * *
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment