Wednesday, 3 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Empat)

Angin malam bertiup pelan. Hembusannya yang segar membuat dedaunan bergerak pelan. Bintang gemintang berkilauan, laksana kedipan mata bidadari. Pesona lampu alam itu membuat suasana malam semakin indah. Waktu menunjukkan pukul 22.00, atau jam 10 malam. Suasana komplek Bumi Indah sudah sepi. Sebagian besar penduduknya sudah pada kembali ke peraduan masing-masing. Kecuali seorang lelaki penghuni rumah yang letaknya persis di sebelah utara masjid Al-Furqan. Tubuhnya sudah berbaring di ranjang, namun matanya belum tertutup. Semua itu karena hati dan pikirannya selalu tercurah pada perempuan cantik penjual kue bolu. 



         Dengan posisi berbaring, Hamdi meletakkan buku bacaannya di atas dadanya. Sambil terus menatap langit-langit kamar dan lampu yang masih menyala, Hamdi bergumam, “Kemarin dia ultah yang ke 29. Hmmm (tersenyum)…berarti sama aku selisih dua tahun empat bulan. …Anak perempuannya kemarin meninggal umur empat kurang tiga bulan. Sedikit lebih tua dari Septi. …Berarti dia menikah sekitar  umur 22-23. …Dia menikah sama lelaki yang umurnya jauh di atasnya…yang selisihnya di atas 10 tahun. …Kasihan juga dia. Kehilangan anak perempuan satu-satunya.“
         “Nasibnya hampir sama Mama. …Dan aku juga yakin, tingkat kesedihan mereka nyaris sama. …Isma kehilangan anaknya, padahal anaknya hanya itu. Sedangkan Mama..kehilangan anak bungsu, dan masih punya tiga anak lelaki. …..Tapi waktu itu Mama sedih banget, soalnya Mama sudah lama mendambakan anak perempuan. Bahkan kata Eyang putri, sebelum Septi lahir, Mama sudah berniat memiliki anak pungut perempuan.”
         Hening sejenak, lalu bangun dari tidurnya sambil menggelengkan kepala. “Aah sudahlah, jangan dipikir lagi. Jangan larut dalam lamunan masa lalu yang kurang baik. Lebih baik sekarang memikirkan pekerjaan yang masih numpuk, juga bekal yang belum jelas untuk masa depan.”         
         Keesokan harinya, Hamdi pergi ke warung dengan sepeda. Ketika pulang, Hamdi melewati gang rumah Isma. Hamdi tersentak. Keinginan untuk melewati rumah Isma langsung muncul. Mati-matian Hamdi berusaha mengubur niatnya itu, namun gagal total. Keinginannya itu sudah menghujam kuat di lubuk hatinya yang terdalam. Setelah merenung beberapa detik, akhirnya Hamdi bergumam, “Baiklah kalau cuma lewat..cuma ingin tahu keadaan rumahnya. Yang penting tidak lebih dari itu. Toh sekarang dia belum tentu ada di depan. …Ehmm…Oke. …Hanya lewat.”
         Tanpa ragu lagi, Hamdi dan sepedanya berjalan ke arah rumah Kandar. Namun ketika Hamdi masih berada di sekitar 10 meter dari rumah Kandar, Hamdi sudah melihat Isma berdiri di samping mobil Taruna-nya. Hamdi melihat Sutris yang mau menjalankan mobil itu. Di sampingnya ada Hartoyo. Tentu saja Hamdi kelabakan bukan main. Ia mau kembali ke jalan yang tadi, namun sudah terlambat. Isma sudah melihatnya sambil tersenyum manis.
         Dengan perasaan gado-gado, takut sekaligus gembira bukan main, Hamdi turun dari sepedanya, kemudian menuntunnya. Setelah berada di depan rumah Isma, Hamdi mengucap salam kepada semuanya, setelah itu bersalaman dengan Sutris. Pria berkumis itu tersenyum ramah. “Apa kabar Mas Hamdi?”
         “Baik sekali Pak, Alhamdulillah. Mau mengantar Bapak ke kantor?”
         “Oh tidak, kami mau belanja. Bapak sudah berangkat tadi pagi.”
         “Bapak dijemput orang kantor,“ sambung Isma tersenyum gembira. “Dari mana Mas?”
         “Ohh (tersenyum malu), dari taman bacaan, pinjam buku.”
         Isma tersenyum. “Dua buku kemarin sudah kulahap. Semuanya bagus.”
         “Berarti Mbak Is suka?”
         “Suka sekali, terutama yang novel.”
         “Ya sudah Mas,” potong Sutris sambil masuk ke mobil, “saya pergi dulu ya?”
         “Saya juga mau terusan.”
         “Lho, mau ke mana?!” Cegah Isma terkejut. “Kok terburu-buru?!”
         “Ehm..saya ada perlu.”
         “Perlu apa? Pentingkah?!”
         “Kalau tidak penting,“ sambung Sutris, “bisa dikerjakan nanti. Sudahlah Mas, silahkan mampir dulu, minum-minum.”
         “Iya Mas,” sambung Isma semangat, “Mumpung Murni lagi masak air. Mari.”
         “Tapi…”
         “Tidak ada tapi-tapian,” sahut Sutris. “Rejeki tidak boleh ditolak. Hahh. Memang di rumah ngapain sih? Kok kelihatannya terburu-buru sekali?”
         Hening sejenak. Hamdi yang sebenarnya gembira sekali, bergumam, “Ini  seperti mimpi. Ohh…aku akan berdekatan lagi dengan Si Cantik ini.”
         “Ya sudah,” tutur Sutris, “jangan cuma bengong di situ. Saya tinggal dulu ya? Assalamu’alaikum.”
         “Wa’alaikumus salaam,” sahut Hamdi sambil menepuk bagian belakang Taruna. Hamdi menatap kepergian mobil merah itu. Sedangkan Isma, berdiri di belakangnya. Kaca mobil yang gelap itu membuat Hamdi tidak menyadari kehadiran Toyo. Pria itu menatap Hamdi dengan wajah bengis, lalu bertanya, “Siapa dia?”
         “Mas Hamdi, putranya Pak Sujar, ketua takmir masjid Al-Furqan.”
         Toyo yang masih menatap belakang dengan serius, mengangguk-angguk. “Kelihatannya dia akrab banget sama Mbak Is.”
         Sutris tersenyum. “Ya jelaslah, dia orang penting di komplek ini. Ibunya juga pelanggan kuenya Mbak Is.”  
         Sutris yang masih asyik memegang setir, tidak menyadari keseriusan wajah Toyo. Pria aneh dan mencurigakan ini masih terus memikirkan Hamdi. Dengan wajah seperti orang marah, ia bergumam, “Sudah bisa kutebak. Pria bertubuh gempal itu juga jatuh cinta sama Isma. …Berarti sebentar lagi akan terjadi sesuatu di rumah Kandar. …Yah, itu pasti.  Heh he hee. Baiklah kalau begitu. Akan kulihat dulu sandiwara yang semakin seru ini. …Setelah mengetahui semua, baru akan kuhancurkan si Kandar busuk! juga istri dan semua hartanya. Hah ha haa!”
     Kini kembali ke Hamdi yang berduaan dengan Isma. Hamdi dan sepedanya masih berdiri mematung di hadapan Isma. Isma pun malu-malu. Ia semakin kikuk menghadapi lelaki yang sekarang selalu ada di hatinya itu. Setelah hening beberapa detik, Hamdi memecah kesunyian dengan berkata, “Makasih banyak untuk roti dan sari apelnya. Saya jadi ketagihan sama sari apelnya. Sudah bergizi, enak, murah.”
         “Makasih juga untuk bukunya,” sahut Isma tersenyum manis. “Kalau Mas mau nambah sirup apelnya, tinggal bilang aku, nanti kuberi gratis.”
         “Waduuh, makasih banyak sekali ya?”
         “Akulah yang seharusnya bilang begitu. Kado dari Mas kemarin lain dari yang lain. …Dan yang sulit kupercaya…novel itu karangan Mas Hamdi. Ternyata Mas bisa nulis novel bagus. Itu berarti Mas juga bisa membuat karya hebat.”
         “Hebat apa ah?!” sahut Hamdi dengan muka merah. Pujian demi pujian yang terus mengalir itu semakin membuat Hamdi tersanjung. Sesaat kemudian Hamdi memohon diri. Isma pun mengiyakan permohonan Hamdi itu. Namun beberapa detik kemudian Isma tersentak. Isma yang menatap Hamdi yang berjalan sambil menuntun sepedanya, bergumam, “Inilah kesempatan emas untuk mengungkapkan perasaanku. Sekaranglah kesempatan emas untuk membuang beban terberat di hatiku selama ini. …Yah..sekarang saja. …Kalau tidak sekarang, kapan lagi?!”
         Tanpa ragu lagi, Isma langsung memanggil Hamdi dengan berteriak. Hamdi terkejut. Dilihatnya Isma yang mendekatinya, kemudian memintanya untuk tidak pulang dulu. Tentu saja Hamdi kegirangan. Bukankah tadi Isma memang memintanya untuk mampir dulu ke rumahnya? Tapi kenapa sekarang ia harus terburu-buru pulang? Hamdi tersenyum gembira. Namun sedetik kemudian senyumnya musnah. Hamdi terkejut melihat wajah Isma menjadi sedih dan tegang, padahal beberapa detik tadi Isma masih bergembira ria. Hening beberapa detik. Isma mengatur nafasnya yang berat. Setelah itu Isma mengatakan, ada hal yang sangat penting yang harus ia bicarakan dengan Hamdi. Dan hal maha penting itu harus dibicarakan hari ini, pagi ini, jam ini, menit ini dan detik ini.
         Hamdi yang sudah mulai kontak batin dengan Isma, langsung mengiyakan keinginan istri Kandar itu. Sesaat kemudian Hamdi sudah dijamu Isma di ruang tamu. Di hadapan Hamdi sudah tersedia teh hangat dan sepotong kue. Sebelum salah satu dari keduanya memulai pembicaraan, Isma menangis sesenggukan. Tentu saja Hamdi semakin bingung. Apa yang membuat Isma menangis dengan tiba-tiba? Setelah mencicipi hidangan itu, Hamdi meminta Isma untuk menceritakan sebab kesedihannya. Hamdi yang duduk agak jauh dari Isma, berkata lembut, “Kalau saya boleh menebak…Mbak sedih begini karena Pak Kandar. Betul?”
         “Betul sekali Mas..” sahut Isma dengan suara sesenggukan. “Semalam Mas. …Semalam dan tadi pagi.”
         Hamdi melotot. “Semalam dan tadi pagi?”
         Isma mengangguk sambil berusaha mengeringkan air matanya. Hamdi melanjutkan, “Semalam dan tadi pagi…Mbak Is disakiti lagi?”
         Isma mengangguk lagi. Sedetik kemudian tangisnya semakin sesenggukan. Wanita yang sedang memendam masalah berat ini menutup mukanya dengan kedua  tangannya. Hening sejenak. Hanya tangis pilu Isma yang terdengar di ruang tamu rumah Kandar. Hamdi yang semakin merasa iba pada perempuan di hadapannya itu, hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada. Beberapa saat kemudian, ketika tangis Isma  mulai reda, Hamdi memberanikan diri untuk berkata lembut, “Ingat Allah saja Mbak. Dzikir. Istighfar, Tahlil, Takbir, atau apa saja. Sebab hanya itu yang bisa menenangkan hati kita. Apalagi kalau kita sedang menghadapi masalah berat. …Cobalah Mbak. Sebut asmaNya..apa saja.”
         Isma yang sudah terlihat lebih tenang, mengangguk. “Iya Mas..makasih.”
         Setelah hatinya terasa lebih enteng, Isma menceritakan segala yang dialaminya tadi malam, juga beberapa jam tadi. Semalam Kandar kembali menunjukkan egonya yang masih sangat tinggi. Hanya karena sedikit terlambat menyediakan makan malam, terlambat karena Isma dan Murni kelelahan, mereka sudah dimarahi habis-habisan oleh Kandar, bahkan Isma juga ditampar dan dijambak. Semua itu karena Isma mencegah suaminya yang hendak menempeleng Murni. Penyebab yang lain, Kandar menganggap Isma lebih mengutamakan atau lebih memperhatikan Bu Darti dibanding dirinya. Tentu saja Isma tidak terima dengan tuduhan itu. Isma yang biasanya sabar dan suka mengalah, semalam marah besar.
         Tentu saja Kandar semakin berang melihat istrinya yang biasanya penurut itu sekarang menjadi pembangkang. Tangan Kandar yang agak berotot itu langsung menggasak muka Isma. Setelah disakiti secara fisik, Isma ganti disakiti secara batin. Berulang kali Kandar mengumpat dengan kata-kata kotor dan kasar. Pelakukan bejat Kandar terhadap istrinya itu berlangsung sampai pagi. Sutris yang tidak tega melihat majikan perempuannya disakiti, langsung mencegah perilaku Kandar yang sudah kelewatan itu. Akibatnya, Sutris juga kena semprot. Itulah sebabnya tadi pagi Kandar tidak mau diantar Sutris ke kantor. Karena masih ngambek pada Sutris, akhirnya Kandar  minta dijemput salah satu anak buahnya di kantor. 
         “Begitulah ceritanya,” tutur Isma yang sudah terlihat lebih tegar. “Semakin lama aku semakin tidak mencintainya…walaupun dia masih suamiku yang sah.”
         Hening sejenak. Isma menatap Hamdi dengan tatapan penuh kasih. Sedetik kemudian Isma duduk di sebelah kiri Hamdi. Kini jarak mereka hanya terpaut sekitar 60 cm. Hamdi jelas terkejut melihat tindakan Isma yang tiba-tiba itu, namun ia juga tidak bisa menghindar. Mengetahui Isma semakin mendekat, Hamdi hanya bisa memojok dan menunduk. Setelah diam beberapa detik, Isma berkata tanpa menatap Hamdi. “Sekarang ini…aku sudah menemukan seseorang yang kucintai dengan tulus.”
         Hamdi melotot, lalu melirik Isma. Isma pun menatapnya, lalu bertanya, “Mas ingin tahu siapa dia?”
         Hamdi semakin tersentak. Isma tersenyum. “Mas tinggal bilang, ingin tahu atau tidak. Kenapa harus kaget begitu?”
         Diam beberapa saat. Hamdi kembali menatap depan atau bawah. Isma bertanya lagi, “Ingin tahu atau tidak Mas?”
         Hamdi yang menunduk sambil menutup muka, bergumam, “Ya Allah, apalagi yang harus kualami sekarang? Kenapa perempuan yang kukasihi ini sekarang malah membuatku bingung? …Kenapa sekarang dia malah menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi?”
          “Ingin tahu atau tidak Mas?” Tanya Isma lagi. Nada suaranya penuh harap. Hamdi benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa dirinya dipojokkan secara halus. Ia bergumam, “Kalau aku menjawab ‘ya,’ nanti keadaanku bisa tambah runyam. Tapi aku benar-benar ingin tahu. …Yah..aku benar-benar harus tahu. Harus!”
         Karena tidak ingin pusing terlalu lama, akhirnya Hamdi mengangguk. Tentu saja Isma gembira sekali. Isma mengatakan, mulai detik ini hingga selamanya, ia ingin agar Hamdi jangan memanggilnya ‘Mbak’ lagi. Ia juga tidak ingin Hamdi memanggilnya ‘Bu Kandar,’ kecuali saat di tempat umum. Ia meminta Hamdi untuk memanggil namanya langsung. Dengan begitu, mereka bisa semakin akrab. Hamdi yang polos dan sedang bingung itu langsung menuruti saja permintaan Isma itu.
         Tanpa menatap Hamdi, Isma yang matanya kembali berkaca-kaca, “Lelaki yang kucintai itu..sekarang ada di dekatku..di sampingku.”
         Hamdi tersentak. Telinganya seperti ditusuk sepuluh panah. Yah, panah asmara yang membara. Isma yang terlihat begitu tenang, kembali berkata, “Namanya..Hamdi Rusmanto.”
         Mendengar kata-kata itu, kedua mata Hamdi melotot bulat seperti telur. Tubuhnya bergetar keras. Ia seperti disambar geledek di pagi buta. Perlahan-lahan, Isma menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sedetik kemudian ia menangis. Kedua tangan halusnya mencengkeram tangan kanan Hamdi yang besar. Ia berkata, “Mas Hamdi…ohh. …Mas Hamdi…aku…aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu.”
         Hamdi yang sudah memiliki keberanian, menimpali, “Aku…ohh. …Demi Allah. Aku juga mencintaimu, Isma. Aku sangat mencintaimu.”
         Tangan kiri Hamdi memeluk kedua tangan Isma yang memeluk tangan kanannya. Hamdi bertanya, “Manisku..sejak kapan kamu mencintaiku?”
         “Sejak pagi itu. ..Sejak Mas nolong Sutris mendorong mobil. Hik..hik. Yah…sejak pagi itu, Mas Hamdiku..kekasihku. Sejak pagi itu..kamu selalu ada di hatiku. ….Sejak pagi itu, aku benar-benar sudah menemukan cinta sejati. Cinta sejati..hik, hik..yang selama ini kucari. Hik, hik…”
         Hamdi yang bahagia bukan main, juga tidak sanggup menahan air matanya, namun tangisnya tidak sampai sesenggukan seperti Isma. Tangisnya hanya satu-dua tetes air mata. Jari tangan kanannya menghapus air mata yang membasahi kedua pipi empuk Isma. Alangkah bahagianya pasangan kekasih baru ini. Gejolak cinta yang sudah lama terpendam di hati masing-masing, kini bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sambil tetap memeluk kedua tangan Isma, Hamdi berkata, “Sudah lama aku mengharapkan cinta yang tulus dari seorang perempuan cantik dan baik hati. …Berkali-kali cintaku ditolak. Tapi kali ini…ohh. ….Ya Allah, apakah semua ini hanya mimpi?!”
         “TIdak Mas. Semua ini bukan mimpi. Semua ini kenyataan.”              
         “Berarti…perempuan jelita di hadapanku ini sekarang jadi milikku? Iya?!”
         “Iya Mas (mengangguk), betul sekali. Sekarang aku bukan milik Mas Kandar lagi. Sekarang aku milik Mas Hamdi Rusmanto, kekasih sejatiku.”
         “Benarkah itu, Sayangku?”
         “Kekasihku, apa kamu masih ragu? Apa kamu perlu bukti lagi?”
         Hamdi menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Tidak perlu Sayangku. Aku benar-benar sudah percaya seratus persen. Ooh (menatap atas)..ya Allah, ini benar-benar sulit kupercaya. …Berkali-kali cintaku ditolak. …Tapi kali ini (memejamkan mata)…aku bisa mencintai dan dicintai.”
         “Mas Hamdiku..kekasihku..”
         “Iya Sayang? Ada apa?”
         “Kesedihanku ditinggal Tari sudah hilang. Semua ini berkat kamu Mas.”
         “Alhamdulillaah. Alangkah senangnya aku, bisa menghilangkan kesedihan bidadariku ini. “
         Isma tersenyum manis sekali. Ia bicara lagi, “Mas Hamdi…tolong kabulkan permintaanku ini.”
         Mendengar itu, kedua tangan Hamdi memeluk kembali kedua tangan Isma, lalu ia taruh di depan dadanya. Pria alim yang sedang mabuk cinta ini berkata, “Asal aku masih mampu, Insya Allah, seberat apapun permintaanmu, aku pasti akan berusaha untuk mengabulkan. ….Demi bungaku ini (membelai rambut Isma), seberat apapun akan kulakukan.”
         “Baiklah,” sahut Isma mengangguk dan tersenyum gembira. “Mas Hamdi…tolong lindungi aku. Lindungilah aku dari Mas Kandar..dan dari semua orang yang ingin mengganggu aku, dan mengganggu hubungan cinta kita ini.”
         Hamdi tersenyum. “Kalau soal itu, tanpa kamu suruh pun aku pasti melakukannya. Aku janji (mengacungkan tinju kanannya).
         Alangkah tersanjungnya Isma mendengar tuturan Hamdi itu. Tangis bahagia kembali membasahi kedua pipinya nan empuk seperti kue terang bulan. Sedetik kemudian Isma menaruh kepalanya di dada bidang Hamdi. Isma berkata lirih, “Lindungilah aku, kekasihku.”
         Hamdi mengangguk sambil tersenyum, “Pasti Sayangku (mengelus rambut ngombak Isma)..pasti. …Takkan kubiarkan siapapun mengganggu kamu..apalagi sampai berani menyakiti bunga hatiku ini. Huhh! Dia harus berhadapan dengan Hamdi Rusmanto.” (Bersambung)
    
                                                        * * * * * 

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;