Cinta memang
segalanya. Cinta itu anugerah terbesar untuk semua makhluk hidup. Tanpa cinta,
kehidupan takkan pernah ada. Manusia tidak akan bekerja atau beraktivitas,
kecuali karena cinta. Sama halnya dengan niat atau keinginan. Tidak ada satu
pun manusia yang melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas, kecuali karena
didasari niat. Tidak mungkin seseorang keluar dari rumahnya, kecuali karena
punya niat. Tidak mungkin seseorang bekerja keras membanting tulang, kecuali
karena punya niat. Tidak mungkin seseorang menginginkan sesuatu, kecuali karena
ia mencintai sesuatu itu.
Cinta itu pasti ada di hati setiap
makhluk hidup, baik manusia atau hewan. Cinta dan kasih sayang itu manifestasi (perwujudan) halus dari hawa
nafsu. Setiap manusia, entah itu manusia
suci semacam Nabi, Rasul dan para ulama, maupun manusia-manusia jahat, pasti
memiliki hawa nafsu. Dengan demikian, tidak ada perbedaan dalam nafsu yang
dimiliki manusia yang paling suci dengan manusia yang paling bejat. Yang
membedakan hanya satu. Kontrol atau pengendalian. Pengendalian setiap individu
terhadap nafsu yang ada pada diri masing-masing. Pengendalian terhadap nafsu
itulah yang akan mencerminkan akhlak manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Pengendalian
terhadap nafsu itulah yang akan membedakan akhlak si Arman dan si Joni. Kontrol
terhadap nafsu itulah yang akan membuat manusia mencintai sesuatu dengan
berlebihan atau sekedarnya saja.
Jika manusia sudah berlebihan dalam
mengumbar nafsunya, dia akan binasa. Sebaliknya, jika manusia terlalu mengekang
nafsunya, bahkan sampai nyaris membunuh nafsunya, dia akan hidup loyo atau
tanpa gairah, bahkan kemungkinan besar, dia bisa mati sebelum saatnya. Jika
seseorang mencintai sesuatu dengan berlebihan, sesuatu yang dicintainya itu
bisa membuatnya buta atau mabuk. Namun jika seseorang bisa mengendalikan kadar
cintanya terhadap sesuatu, dia akan mendapatkan ketenangan jiwa. Apalagi kalau
cintanya itu karena Allah, maka dia akan meraih kedamaian hati yang kekal.
Manusia tidak akan meraih apapun,
kecuali apa yang sudah menjadi niatnya. Jika seseorang menolong tetangganya
karena ingin dipuji atau ingin mendapat imbalan, atas ijin Allah Yang Maha Pemurah,
dia pasti akan mendapat pujian atau imbalan tersebut, dan tidak lebih dari itu.
Jika seseorang hijrah karena Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya juga akan
menuju ke Allah dan Rasul-Nya. Dan jika seseorang hijrah hanya karena dunia
yang diinginkannya, atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya
juga hanya akan menuju ke situ.” *
Lantas bagaimana dengan cinta yang
kini sedang dirasakan Hamdi dan Isma? Apakah cinta mereka itu suci, atau
sekedar ingin memuaskan hawa nafsu masing-masing? Benarkah Hamdi yang alim itu
tulus mencintai istri tetangganya? Lantas bagaimana dengan Isma sendiri? Apa
benar sekarang ini cintanya pada Hamdi melebihi cintanya pada suaminya sendiri?
Untuk masalah yang cukup rumit ini, hanya waktu yang akan menjawab. Namun yang
jelas, saat ini Hamdi dan Isma sama-sama tidak meragukan ketulusan cinta
mereka.
Catatan Kaki: * Hadits Riwayat dua imam
ahli hadits : Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim
Kemarin Hamdi mengatakan pada Isma.
Cinta yang ia rasakan sekarang ini nyaris sama dengan cintanya Abdurrahman
Al-Qass terhadap Salamah. Abdurrahman itu seorang tokoh Salaf yang hidup di
masa Dinasti Bani Umayah. Dia seorang pemuda yang sangat alim dan sholeh. Dia
mendapat julukan Al-Qass, yang
artinya : orang sholeh dan mahir ilmu agama. Suatu ketika, Abdurrahman jatuh
hati pada budak wanita yang cantik jelita. Namanya Salamah. Dia seorang
biduanita, atau penyanyi wanita. Abdurrahman jatuh cinta pada pandangan pertama,
demikian pula sebaliknya.
Hubungan cinta mereka menggemparkan
seluruh Mekkah. Pada masa itu, penyanyi dianggap sebagai profesi yang hina. Semua
orang menganggap Abdurrahman sudah sesat. Bagaimana mungkin pemuda yang sangat
taat pada agama itu bisa menjalin cinta dengan Salamah, seorang budak sekaligus
penyanyi. Sudah budak, pekerjaannya penyanyi. Tentu saja berita itu sangat
menyakitkan hati semua sahabat Abdurrahman, terutama Abul Wafa’, gurunya.
Lelaki tua yang sholeh itu ingin membantah berita miring yang sudah menimpa
muridnya.
Setelah benar-benar percaya dengan
berita itu, Abul Wafa’ memutuskan hubungan guru-muridnya dengan Abdurrahman.
Nama baik Abdurrahman semakin tercoreng. Pada awalnya Abdurrahman sempat
bingung, namun akhirnya ia bisa membuktikan kalau percintaannya dengan Salamah
tidak membuatnya tersesat. Abdurrahman bisa membuktikan kalau cintanya pada
Salamah itu cinta suci, bukan nafsu semata. Setelah Abdurrahman bisa menikmati
dan menghayati keindahan musik, ia menjadi semakin khusyuk beribadah. Setelah
menjalin cinta dengan Salamah, Abdurrahman menjadi semakin khusyuk dalam sholat
dan membaca Al-Quran. Pada akhirnya, Abdurrahman dan Salamah ini tidak bisa
bersatu. Salamah dibeli khalifah dari Madinah.
Demikianlah sedikit kisah tentang
cinta suci yang dijalin oleh seorang lelaki sholeh dengan seorang budak wanita.
Sebuah kisah cinta yang ingin ditiru Hamdi yang sedang dimabuk asmara. Hamdi pun
merasa, cintanya pada Isma sekarang ini cinta suci. Ia sudah merasa seperti
Abdurrahman Al-Qass. Begitulah yang
ia ungkapkan pada Isma. Tentu saja Isma bahagia sekali mendengar tuturan Hamdi
itu. Isma yang sudah lebih dulu mencintai Hamdi, merasa semakin damai dengan
cinta Hamdi yang suci. Apalagi ia juga yakin kalau Hamdi itu tidak suka bohong.
Namun
yang menjadi pertanyaan, benarkah cinta yang mereka jalin sekarang ini
benar-benar cinta suci? Kalau benar, kenapa kualitas iman dan ibadah Hamdi
sekarang ini merosot drastis? Kalau benar-benar cinta suci, kenapa Hamdi berani
menjalin cinta dengan perempuan yang sudah menjadi istri orang? Benarkah ia
tidak takut dengan resiko yang akan dihadapinya kelak? Kalau benar-benar cinta
suci, seharusnya kualitas ibadah Hamdi sekarang ini semakin meningkat, namun
yang terjadi justru sebaliknya.
Sejak jadian dengan Isma, Hamdi
menjadi sering terlambat sholat jama’ah lima waktu, terutama sholat Shubuh, sholat
wajib yang paling sulit dikerjakan oleh sebagian besar kaum Muslim. Hal ini
wajar, sebab sholat yang satu ini memang yang paling banyak ganjarannya. Barang siapa yang menunaikan sholat Shubuh
berjama’ah, dia seperti mengerjakan sholat semalam suntuk.* Bagaimana tidak? Begitu bangun tidur, kita
yang masih ngantuk, masih ogah-ogahan, harus langsung mengambil air wudhu, lalu
berangkat ke masjid. Atau kalau tidak di masjid ya di rumah saja, asal tetap
sholat berjama’ah.
Catatan Kaki: * Hadits Riwayat : Malik,
Muslim dari Utsman : At-Targhib, 1: 231
Bagi kaum Muslim yang hobi begadang
sampai malam, tentu akan sangat kesulitan untuk menunaikan ibadah wajib yang
satu ini. Dan seperti inilah keadaan Hamdi sekarang ini. Akibat sering
terlambat datang ke masjid, Hamdi menjadi jarang memimpin sholat jama’ah. Sudah
hampir sebulan ini Hamdi tidak menjadi imam. Akhir-akhir ini Hamdi sering
melamun di kamarnya. Hal itulah yang membuatnya sering bangun kesiangan. Bahkan
beberapa waktu kemudian, Hamdi menjadi jarang sholat Shubuh berjama’ah di
Al-Furqan. Itu karena ia sering bangun ketika langit sudah agak terang. Karena malu
pada matahari, Hamdi memutuskan untuk sholat sendirian di kamarnya.
Beberapa minggu kemudian, Hamdi menjadi
jarang sholat jama’ah lima waktu di Al-Furqan. Selain karena sering terlambat,
akhir-akhir ini Hamdi juga sering ngeluyur.
Ia selalu mencari kesempatan untuk ‘pacaran’ dengan Isma. Ia selalu mencari
waktu ketika Kandar dan Sutris sedang tidak di rumah. Selain itu, Hamdi juga
jarang, bahkan nyaris tidak pernah mengikuti pengajian, padahal dulu dia selalu
datang paling awal di majelis taklim. Jangankan pengajian yang diselenggarakan
di masjid atau di majelis taklim yang letaknya agak jauh dengan Bumi Indah,
pengajian yang diselenggarakan di masjid Al-Furqan saja Hamdi sudah nyaris
tidak pernah menghadiri lagi. Padahal kalau mau ke Al-Furqan, Hamdi tinggal
berjalan dua-tiga langkah.
Akhlak Hamdi yang berubah 75 persen
itu semakin mengherankan warga Bumi Indah, terutama mereka yang sering sholat
jama’ah di Al-Furqan. Mereka berkomentar, “Apa yang sudah terjadi pada diri Pak
Imam kita? Kenapa sekarang beliau jarang mengimami sholat jama’ah lima waktu?”
Yang lain berkomentar, “Ustadz Hamdi
kenapa ya? Kok sekarang jarang kelihatan di masjid? Apa sekarang ini beliau
super sibuk ya?”
Yang lain lagi menimpali, “Mungkin
beliau lagi pergi.”
“Pergi ke mana? Tidak ah. Kata Pak
Sujar, Mas Hamdi ada di rumah kok.”
Yang lain berkata, “Jangan-jangan
Ustadz Hamdi sedang punya masalah berat.”
“Bisa juga ya?” sahut seorang lelaki
berkepala botak. “Soalnya dengar-dengar, bisnisnya Pak Sujar sudah hancur.
Supermarket dan toko kayunya sudah lama gulung tikar. Ehmm…kalau tidak keliru,
sudah dua tahunan.”
“Ya sudahlah, tidak usah menggunjing,”
tutur Priyo, lelaki tua yang rajin sholat jama’ah di Al-Furqan. “Kita baik
sangka saja. Mungkin Mas Hamdi sedang sibuk banget di tempat lain, jadi tidak
sempat menjamah masjid kita.”
Begitulah komentar jama’ah Al-Furqan
tentang Hamdi Rusmanto sekarang ini. Semakin hari mereka semakin merasakan
kejanggalan. Apalagi kaum hawa yang mayoritas kerjanya menggunjing. Ada yang
sudah curiga dan berprasangka kurang baik, ada pula yang masih tetap berbaik
sangka terhadap Hamdi. Kebanyakan dari mereka berpendapat, sekarang ini Hamdi
sedang sibuk, pergi, atau sedang banyak masalah, terutama masalah keluarga.
Dari tiga perkiraan ini, yang ketigalah yang menjadi dugaan terkuat. Sebagian
besar warga Bumi Indah, khususnya kaum hawa, pada ngotot mencari tahu tentang
kejanggalan yang sudah menimpa lelaki yang beberapa waktu yang lalu terkenal
sholeh itu. Sering tidak hadirnya Hamdi di masjid sekarang ini benar-benar
menjadi tanda tanya besar bagi semua jama’ah Al-Furqan.
* * * * *
Setelah menjadi ‘kekasih gelap’ Hamdi,
Isma memberanikan diri untuk mendatangi Bu Mardi atau Bu Endah. Isma yang sudah
tahu siapa Endah, langsung curhat pada ibu kedua Hamdi itu. Ia ceritakan
sejujurnya tentang hubungan asmaranya dengan Hamdi sekarang ini. Sudah sebulan
lebih sedikit Isma dan Hamdi menjadi pasangan kekasih. Tentu saja Endah
terkejut bukan main. Namun karena wanita yang satu ini sangat sholehah, sangat
sabar dan penuh pengertian terhadap masalah orang lain, dia hanya terkejut
sebentar, setelah itu sudah terlihat tenang lagi. Dia langsung bisa mengerti
masalah yang sedang menimpa Isma.
Endah mengatakan, beberapa saat
sebelum Isma curhat, Hamdi sudah sering membicarakan Isma. Dengan begitu,
sebelum Isma mengungkapkan ikatan batinnya dengan Hamdi sekarang ini, Endah
sudah tahu sedikit-sedikit. Itulah yang membuat Endah tidak begitu kaget, atau
hanya kaget sebentar. Endah hanya mengingatkan satu hal penting. Apa yang sudah
dilakukan Isma dan Hamdi sekarang ini merupakan hal yang amat wajar. Namun Isma
harus tahu, jalinan asmaranya dengan Hamdi sekarang ini sangat berbahaya.
Karena itu, Isma dan Hamdi harus siap menghadapi resiko besar. Isma yang
semakin larut dalam curhatnya, sedetik kemudian menangis. Apalagi setelah ia
mendengar nasehat Endah itu.
Isma mengangguk mantap, tanda kalau ia
benar-benar mengetahui hal itu. Ia pun sadar kalau yang dilakukannya sekarang
ini salah. Namun di satu sisi ia merasa benar karena ia punya alasan yang
sangat kuat. Endah yang terlihat sangat sabar, berkata, “Mungkin Mbak Is bisa
menjelaskan alasan yang Mbak anggap benar itu.”
Isma yang matanya basah, mengangguk,
“Baiklah Bu..akan saya jelaskan. …Insya Allah, setelah saya jelaskan nanti, Ibu
akan semakin memahami keadaan saya. Tapi Ibu jangan bilang siapa-siapa ya?”
Endah tersenyum dan mengangguk. Isma
berkata lagi, “Insya Allah, saya
percaya dengan cerita Mas Hamdi tentang Bu Mardi selama ini.”
“Apa itu?”
“Bu Mardi selalu bisa memegang amanat,
menutup aib saudara, tetangga, atau teman baik Ibu. Betul kan?”
Endah tersenyum, “Insya Allah Mbak. Semoga Allah berkenan menjaga hatiku. …Nah,
sekarang ceritakanlah.”
Karena sudah percaya seratus persen
pada Endah, Isma langsung menceritakan semua derita di hatinya selama ini. Isma menceritakan perilaku
Kandar terhadap dirinya selama ini. Perilaku suaminya yang kejam dan kelewatan
itu sudah dideritanya sejak empat tahun, atau dua tahun setelah mereka menikah.
Sekarang usia pernikahan mereka sudah enam tahun. Selama enam tahun, Isma hanya
merasa bahagia selama dua tahun awal. Isma hanya mendapat kasih sayang dari
Kandar selama dua tahun. Selebihnya, atau empat tahu sesudahnya, termasuk
sekarang ini, Isma selalu mendapat perlakuan buruk dari Kandar yang sombong
itu. Hanya sesekali saja Isma disayang suaminya. Kalau Isma tidak bisa punya
anak, Kandar sudah lebih membencinya, bahkan kemungkinan besar, Kandar sudah
menceraikannya.
Namun untunglah, berkat kasih
sayangNya yang tanpa batas, Isma tidak menjadi perempuan mandul. Setelah
setahun lebih sebulan Kandar menikahi Isma, perempuan berambut ngombak ini mengandung, dan lahirlah
Utari. Berkat kehadiran si buah hati, hubungan Kandar dan Isma menjadi cukup
baik. Perlakuan Kandar yang biasanya kasar itu menjadi lebih lembut. Tentu saja
hal itu membuat kehidupan sehari-hari Isma terasa lebih enteng. Isma bahagia
sekali. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas perubahan sifat Kandar. Walaupun
suaminya itu belum menjadi baik seratus persen, setidaknya sudah berubah cukup
banyak. Berkat kehadiran Tari, Kandar menjadi sering tersenyum pada Isma,
bahkan juga sering memanjakan Isma.
Setelah Tari dipanggil Sang Raja jagat
raya, kehidupan rumah tangga Kandar dan Isma kembali memburuk. Kandar yang
sudah cukup lama menjadi orang sabar dan penyantun, kembali menjadi galak dan
egois. Kandar menjadi sering menyakiti Isma lagi, dan itu masih terjadi sampai
saat ini. Namun Isma menegaskan, perlakuan buruk Kandar tehadap dirinya sekarang
ini bukan semata karena sekarang Isma belum punya anak lagi. Isma berani
mengatakan, untuk saat ini Kandar tidak begitu memikirkan soal anak, atau belum
begitu berminat punya anak lagi. Dengan demikian, perlakuan buruk Kandar yang
diterima Isma saat ini lebih disebabkan karena kesombongan Kandar yang semakin
hari semakin menjadi. Semua itu karena Kandar semakin sibuk berjualan
barang-barang antiknya, terutama lampu.
Endah yang melihat tangis Isma sudah
cukup mereda, bertanya, “Apa memang sudah sejak dulu sifat buruk Mas Kandar itu? …Ehmm, maksudku…saat
beliau mau menikahi Mbak Is, apa Mbak Is memang sudah tahu sifat calon suami
Mbak Is itu?”
Isma yang matanya sudah cukup
mengering, mengangguk. Setelah menarik nafas, kekasih Hamdi ini berkata,
“Sebenarnya Bu…sebenarnya….”
Hening sejenak. Endah terkejut melihat
Isma bimbang, namun sedetik kemudian Endah langsung menenangkannya. Isma pun
menjadi lega. Ia berkata lagi, “Sebenarnya…sejak kami mau menikah dulu…saya
tidak pernah mencintai Mas Kandar. …Sampai saat ini, cinta saya terhadap Mas
Kandar hanya setengah hati…bahkan kurang dari setengah.”
“Jadi?..kenapa Mbak Ayu mau jadi
istrinya?”
Itu karena…ehmm..baiklah ( mengangguk
), akan saya ceritakan selengkapnya.”
Endah tersenyum, lalu menyentuh kedua
tangan Isma nan halus. “Jangan kuatir Mbak Ayu. Perempuan tua di hadapanmu ini
benar-benar berjanji untuk membantumu. Perempuan di hadapanmu ini akan berusaha
maksimal untuk membantu menghilangkan derita hatimu. Nah, apalagi yang
membuatmu ragu?”
Isma yang matanya masih agak basah,
tersenyum manis. Ia lanjutkan ceritanya yang sedikit tertunda. Seperti yang
sudah dijelaskan di bab awal, Ismayani Puspita ini mantan dokter gigi. Ia
berasal dari keluarga menengah ke bawah. Suatu ketika, saat ia masih berstatus
mahasiswi Kedokteran Gigi, ekonomi keluarganya terpuruk drastis. Hal itu jelas
membuat studinya di KG UGM terganggu. Apalagi kuliah di Kedokteran itu
membutuhkan biaya yang cukup banyak. Ayahnya yang hanya wiraswastawan kelas
bawah, mengaku tidak mampu lagi membiayai kuliah putri tercintanya yang masih
agak jauh dari selesai. Isma yang saat itu masih bersemangat menyelesaikan
studinya, harus mau menerima kenyataan pahit itu.
Isma yang cantik dan baik hati ini
jelas mudah saja untuk memahami keadaan diri dan keluarganya. Isma pun cuti
kuliah selama tujuh bulan. Ia bekerja di sana-sini untuk membantu ekonomi
keluarganya, juga untuk melanjutkan studinya yang tersendat. Isma sangat
menyayangkan seandainya sekolahnya tidak selesai. Demi tujuan mulia, Isma yang
saat itu masih seorang Katolik yang taat, bekerja sangat keras. Isma yang
disukai banyak orang, selalu mendapat kemudahan dalam segala urusannya.
Saat bekerja keras untuk melanjutkan
studinya, Isma sering ditolong teman-temannya. Sampai pada suatu ketika, Isma bertemu
Iskandar, seorang pedagang dari Cilacap, Jateng, yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Saat itu Kandar
sedang membuka toko barang pecah belahnya di Jl. Godean. Ketika Kandar makan
siang, uangnya tertinggal di restoran kecil tempat Isma bekerja. Kandar tidak
sadar kalau uangnya tertinggal. Uang yang jumlahnya cukup banyak itu disimpan
sebentar oleh Isma, kemudian besoknya dikembalikan ke pemiliknya.
Uang itu kembali ke pemiliknya dalam
keadaan utuh, tidak berkurang secuil pun. Saat itulah, Kandar mulai tergoda
pada gadis cantik yang sudah mengembalikan uangnya. Ia langsung bertanya-tanya
pada anak buahnya, atau pada orang yang kira-kira mengenal Isma. Mendengar
pertanyaan itu, salah satu anak buah Kandar menyarankan agar Kandar bertanya
langsung pada pemilik restoran sederhana tempat Isma bekerja. Kandar tersentak
gembira. Ia langsung meminta salah satu anak buahnya untuk mencari info tentang
Isma. Saat itu juga, semua bawahan dan teman-teman Kandar langsung tahu kalau
Kandar sudah jatuh cinta pada Isma.
Beberapa hari kemudian Kandar mendapat
informasi tentang Isma. Gadis jelita berhidung mancung itu asli Gombong, jadi
wajar kalau bahasa Jawanya ngapak. Dia
seorang gadis sederhana yang berasal
dari kalangan bawah. Sekarang dia sedang bekerja keras untuk membantu ortu dan
kakak-adiknya di Kebumen. Selain itu, dia juga bekerja ekstra keras untuk
melanjutkan kuliahnya yang masih agak lama. Mendengar semua informasi itu,
Kandar mengangguk-angguk dan tersenyum gembira. “Luar biasa! Gadis lugu itu
ternyata seorang mahasiswi KG UGM. Kelihatannya polos, sederhana, tapi
sekolahnya tinggi. Hah ha haa! Ini benar-benar hebat! …Wah, aku jadi semakin
mencintainya.”
Memang benar. Setelah semakin mengenal
Isma, Kandar menjadi semakin mencintai gadis kalem itu. Kandar yang cintanya
sudah serius, langsung memanfaatkan kesempatan emas di hadapannya itu. Tanpa
ragu lagi, Kandar menemui orang tua Isma di desanya, kemudian menawarkan diri
untuk membantu kuliah Isma yang sekarang masih tersendat. Kandar berjanji akan
membiayai kuliah Isma sampai selesai.
Awalnya Isma dan keluarganya ragu, terutama Isma sendiri, namun setelah
berpikir masak-masak, akhirnya Isma mau menerima tawaran Kandar itu. Ortu Isma
yang lebih dulu menerima tawaran itu, selalu mendorong Isma untuk
mengatakan:Ya. Ibunya berkata, “Sudahlah Nduk,
terima saja. Mas Kandar itu orang baik kok. Dia tulus ingin membantu kamu.
Sudah baik, kaya lagi.“
“Iya Mbak,” sambung adik perempuannya
yang masih SMA. “Ada bantuan besar kok ditolak.”
“Ini kesempatan emas Nduk,” sambung ayahnya. “Hanya sedikit
orang yang bisa mendapat kesempatan
seperti ini. Kalau kamu mau menerima tawaran Mas Kandar, berarti kamu sudah
menyenangkan dia. Nah, mau menerima pemberian atau bantuan orang itu
ganjarannya besar sekali.”
Hening sejenak. Sang ayah kembali
berkata, “Apa mungkin karena Mas Kandar itu beda keyakinan sama kita? …Mungkin
karena dia seorang Muslim, dan kita Katolik, kamu jadi enggan menerima
tawarannya? Apa karena itu Nduk?”
Isma menggelengkan kepala. “Sama
sekali bukan karena itu Pak.”
“Terus karena apa?”
Diam beberapa detik. Isma yang bingung
ini menjawab dalam hati, “Karena aku tidak suka dia. …Tapi baiklah, demi
Bapak-Ibu dan adik-adik tercinta.”
“Sejak awal aku sudah tahu,” tutur Isma
pada Endah, “Mas Kandar hanya ingin mendekati aku, ingin memiliki aku. Bahkan
ingin menikahi aku.”
Memang benar tuturan Isma itu. Kandar
yang saat itu seorang lelaki setengah tua, 34 tahun, yang masih bujang, merasa
sudah menemukan perempuan yang akan ia jadikan pendamping hidupnya. Isma yang
sudah mengetahui hal itu, ingin menolak tawaran Kandar dengan halus. Namun
karena Isma seorang gadis yang cantik wajah dan hatinya, akhirnya Isma bersedia
menerima tawaran Kandar yang mengandung pamrih. Semua itu ia lakukan karena
dorongan positif yang sangat kuat. Ingin membantu ekonomi keluarganya yang saat
itu terseok-seok.
Berkat bantuan Kandar, Isma berhasil
menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Tentu saja ayah-ibunya sangat bahagia.
Mereka semakin sungkan dan hormat pada Kandar. Kandar yang memang sudah angkuh
sejak dulu itu menjadi semakin tinggi hati. Ia semakin berani membusungkan dada
di hadapan orang tua Isma. Setelah meluluskan Isma dari KG, Kandar langsung
menagih janjinya pada Isma dan kedua ortunya. Janji yang dulu ia ucapkan secara
tidak langsung. Menikahi Isma.
Mendengar tagihan itu, ortu Isma sama
sekali tidak terkejut, bahkan sangat gembira. Mereka langsung menerima lamaran
Kandar itu dengan lapang dada. Namun bagaimana dengan Isma sendiri? Lamaran itu
ia rasakan seperti sambaran halilintar. Isma yang saat itu sudah memiliki Mardan,
kekasih hatinya, penduduk kampung sebelah, tetangga kampungnya, ingin menolak
lamaran Kandar. Apalagi hubungan cintanya dengan Mardan sudah sangat kuat.
Mardan yang lulusan D-3 Ekonomi UGM itu sudah pernah melamar Isma, namun
lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ayah Isma. Alasannya karena Mardan
dianggap tidak memiliki masa depan yang menjamin.
Sungguh berat cobaan yang harus
diterima Isma. Ia harus berlagak menyukai Kandar di hadapan orang tua dan semua
saudaranya. Betapa sedihnya Isma melihat kedua ortunya tidak bisa memahami
perasaannya. Yang paling bisa mengerti beban hatinya hanya Yanti, adik
bungsunya yang manis, yang masih kelas 2 SMA. Isma memiliki tiga adik. Marno,
Yuni dan Yanti. Sejak dulu, ketika Isma dan adik-adiknya masih kecil, Isma
memang selalu dekat dengan Yanti.
Isma yang batinnya tersiksa, selalu
curhat pada Yanti, adik satu-satunya yang paling bisa mengerti dirinya. Isma selalu
mengatakan keberatannya menjadi istri Kandar. Namun mau bagaimana lagi? Apapun yang
terjadi, Isma tidak mungkin menolak lamaran Kandar, lelaki yang sudah menolong
diri dan keluarganya. Dengan sangat berat hati, Isma yang polos ini menerima
lamaran Suryo Iskandar. Kalau bukan karena motivasi besar, Isma sudah menolak
menjadi milik Kandar untuk selamanya. Isma bertanya, “Apa motivasi besar itu? Bu
Endah tahu tidak?”
Endah tersenyum. “Membahagiakan orang
tua.”
“Tepat sekali. …Membahagiakan orang
tua..walaupun aku sendiri harus menyiksa diri.”
Diam sejenak. Walaupun belum menangis
lagi, wajah Isma terlihat sangat menderita. Ia melanjutkan, “Sebenarnya Bu…aku
sudah tidak begitu kaget dengan keinginan Mas Kandar untuk melamarku. Toh saat
pertama menawarkan bantuan, aku sudah tahu kalau Mas Kandar itu minta imbalan.“
“Terus apa yang membuat Mbak Ayu kaget
dan sedih bukan main?”
Isma memejamkan mata, setelah itu berkata,
“Keluargaku. …Tidak ada satupun dari keluargaku yang mendukung penolakanku.
…Hanya Yanti yang mendukung. Tapi dukungannya jelas lemah sekali. Dukungannya tidak
membantuku sedikit pun. …Itu yang pertama. …Lalu yang kedua. …Walaupun semua
anggota keluargaku menolak, itu tidak ada artinya. Mas Kandar tetap bisa
mendapatkan aku. Seumpama kami semua menolak, Mas Kandar pasti akan mengancam
kami. Mas Kandar pasti akan menjelekkan aku, mencemarkan nama baik keluargaku,
dan menginjak-injak harga diri keluargaku.”
Setelah Isma menerima lamaran lelaki
yang tidak pernah dicintainya, pihak keluarga Kandar menginginkan agar
pernikahan mereka segera dilangsungkan. Tiga bulan kemudian, atau setengah
tahun setelah Isma tamat KG, Isma resmi menjadi istri Kandar. Beberapa hari
sebelum mereka menikah, Mardan patah hati berat. Ia menangis dan mengurung diri
di kamar selama seminggu. Namun untunglah, Mardan bukan lelaki yang lemah iman,
yang selalu mengakhiri setiap masalahnya dengan Jalan Pintas.* Mardan termasuk
pemuda yang cukup tegar.
Catatan Kaki: *Bunuh Diri
Tiga minggu setelah Ismayani Puspita
menjadi milik Suryo Iskandar untuk selamanya, kehidupan sehari-hari Mardan
masih loyo. Waktunya habis untuk melamun di kamar. Tentu saja ayah-ibunya sedih
sekali. Namun untunglah, selama melamun itu, Mardan tidak pernah meninggalkan
kewajibannya sebagai seorang Muslim, yaitu mengerjakan sholat waktu. Beberapa
hari setelah itu, Mardan mendapat wejangan dari kyai yang bertempat tinggal di
desa sebelah desanya. Kyai yang belum begitu tua itu selalu mengatakan, “Ittaqillaah (bertakwalah kepada Allah) Mas Mardan..ittaqillaah..dzikrullaah. Hanya itu
yang bisa menentramkan hati anda.”
Berkat semua itulah, akhirnya Mardan
bisa mengikhlaskan Isma, bidadari hatinya, menjadi milik orang. Berkat semua
itulah, akhirnya Mardan bisa semangat lagi dalam menjalankan aktivitasnya
sehari-hari. Hanya saja, kalau wajah Isma muncul lagi di pikirannya, hatinya
kembali tertusuk. Hatinya seperti ditusuk tombak membara. Namun sedetik
kemudian ia langsung teringat pesan sang kyai yang berbunyi: “Obat paling
mujarab untuk sakit hati itu ingat Allah.” Seketika itu juga, Mardan langsung dzikir dengan cara apapun. Kadang ia
langsung mengambil air wudhu untuk sholat sunnah, lalu membaca kitab suci
Al-Quran. Kadang ia hanya duduk bersila sambil mengucap asma Allah. Hal itu
selalu ia lakukan kalau ia teringat Isma. Begitu wajah Isma muncul di benaknya,
ia langsung berseru, “Tidak! Jangan! Jangan mengkhayalkan dia lagi!! Jangan
menginginkan dia lagi!! Dia sudah jadi milik orang! Laa ilaaha illallaah. Ya Allah ya Rabbi, usirlah Isma dari hatiku.”
Berkat menjalin cinta dengan Mardan,
Isma menjadi banyak tahu tentang Islam. Hal itulah yang membuat Isma semakin
tertarik pada Islam. Dengan demikian, Mardan-lah yang sudah meng-Islamkan Isma,
walaupun Isma baru memeluk Islam setelah menjadi istri Kandar. Tanpa dorongan
besar dari Mardan, Isma tidak akan menjadi Muslimah seperti sekarang ini.
Demikianlah kisah tentang asal-usul kehidupan rumah tangga Isma dan Iskandar.
Isma harus menikah tanpa didasari cinta. Isma hanya menikah karena amal sholeh
yang tak ternilai harganya. Pernikahan yang seharusnya membahagiakan semua
pihak, tidak berlaku bagi Isma yang mengorbankan kebahagiaannya.
Beberapa minggu sebelum menikah, Isma
pernah dinasehati Ningsih, salah satu tetangganya yang baik hati, yang sangat
dekat dengan Isma. Ningsih itu wanita setengah tua. Usianya sekitar 40 tahun.
Ia mengatakan, “Saat pertama menjadi istri lelaki yang tidak pernah kamu
cintai, kamu benar-benar akan tersiksa. Tapi Insya Allah, semua itu bisa kamu atasi dengan bersabar dan bertawakkal.
Dengan dua bekal itu, kamu bisa belajar mencintainya. Lakukanlah pelan-pelan. Insya Allah, suatu saat nanti kamu pasti
bisa mencintainya, walaupun cintamu tidak bisa penuh, sebagaimana kamu
mencintai Mardan. Percayalah adikku, percayalah dengan nasehatku ini.”
Dengan
bekal itulah, Isma mau hidup bersama Kandar. Dengan bekal itu pula, akhirnya
Isma bisa mencintai Kandar dengan lebih dari separuh hatinya. Isma bisa
menyayangi Kandar dengan 70 persen cintanya. Hingga saat ini, cinta Isma pada
Kandar tidak lebih dari itu. Tapi kalau Kandar sedang gemar berlaku kasar,
cinta Isma pada suaminya itu menjadi separuh, bahkan bisa kurang dari itu. Apalagi
untuk sekarang ini, dimana perlakuan Kandar yang buruk itu semakin
menjadi-menjadi. Ditambah lagi, sekarang ini Isma sudah menemukan lelaki yang
menurutnya agak mirip dengan Mardan, mantan kekasihnya. Yah, siapa lagi lelaki
itu kalau bukan imamnya masjid Al-Furqan.
“Terus sekarang Mardan di mana?” Tanya
Endah. Isma mengatur nafasnya, lalu menyahut, “Sampai sekarang tidak ada
kabarnya. …Dia seperti ditelan bumi. Sudah tiga tahun dia meninggalkan desaku. …Dan
kemungkinan besar, dia akan meninggalkan desaku untuk selamanya.“
Hening sejenak. Isma menghapus air
matanya yang hanya setitik, kemudian melepas nafas lega. “Begitulah ceritanya.”
Endah tersenyum, lalu kedua tangannya
memeluk erat tangan kanan Isma. “Masalah akan selalu mendatangi manusia. Sebab
memang hanya masalah yang bisa membuat manusia berkembang.”
“Betul sekali Bu..” sahut Isma tersenyum
manis. Endah melanjutkan, “Mbak Ayu sudah menceritakan semuanya. Nah, sekarang
ganti aku yang ingin menceritakan seluk beluk keluarganya Mas Hamdi. Mau?”
“Mau sekali!” jawab Isma semangat.
Endah tersenyum. “Baiklah. Aku mau cerita karena aku yakin Mbak Ayu bisa dipercaya.”
“Insya
Allah. Bu Endah bisa mempercayai aku, sebagaimana aku bisa mempercayai Bu
Endah.”
Endah tersenyum. “Indah sekali
kata-katamu itu, seindah yang mengucapkan. Baiklah kalau begitu. Sekarang
dengarkan baik-baik.”
Sampai sekarang, putra-putri Hasan Sujardi yang sudah pada
dewasa itu belum ada yang menikah. Sujar dan Retno belum memiliki mantu,
begitulah yang diketahui masyarakat umum. Namun sebenarnya, kalau dilihat
dengan lebih spesifik, Sujar dan Retno sekarang ini sudah memiliki mantu,
bahkan seorang cucu perempuan. Dengan demikian, dari semua putra Sujar, entah
Hamdi, Ardan, Darwan atau Dina, sudah ada yang menikah. Tentu saja berita ini
sangat mengejutkan bagi siapapun yang belum tahu, termasuk Isma.
Lantas siapa dari keempat putra Sujar
yang sudah married? Tentu saja ini
merupakan rahasia yang amat sangat besar bagi keluarga Sujardi. Tahun 2002, salah satu putra Sujar itu
menikah dengan seorang perempuan yang secara umum bukan perempuan baik-baik,
entah tidak baik dari segi status maupun kepribadian. Sekarang tahun 2007,
berarti pernikahan putra Sujar dengan perempuan misterius itu sudah berjalan
lima tahun. Anak perempuannya berusia empat tahun, dan sekarang sedang ingin
disekolahkan oleh ayahnya. Sampai sekarang, mantu Sujar itu belum pernah
sekalipun menginjakkan kakinya di rumah Sujar. Sejak menikah dengan putra
Sujar, perempuan misterius itu belum sekalipun bertemu dengan Sujar dan Retno.
Semua itu karena Sujar dan Retno tidak atau belum bisa menerima dirinya sebagai
anggota keluarga Hasan Sujardi.
Lantas siapa putra Sujar yang sudah memiliki
teman hidup itu? Apakah Hamdi, Ardan, Darwan atau Dina? Endah bertanya, “Mbak
Is benar-benar ingin tahu?”
“Sangat ingin Bu. Bagiku, rasa penasaran itu
sesuatu yang paling menyiksa.”
Endah tersenyum, lalu melanjutkan
ceritanya. Putra Pak-Bu Sujar yang sudah menikah itu Ardan Ibrahim, putra kedua
mereka yang sejak dulu memang terkenal mbeling,
nakal. Pemuda yang sebenarnya cukup tampan dan gagah itu menikah dengan
Lastri, perempuan anak penjual krupuk keliling. Perempuan asli Klaten itu
dulunya pembantu rumahnya Pak Warno, salah satu tetangga Retno di Bumi Indah.
Rumahnya dengan rumah Retno terpaut cukup jauh, sekitar 500 meter. Saat menjadi
PRT-nya Warno, Ardan memang sudah sering memacari
dan mengapeli-nya diam-diam. Sampai akhirnya mereka menjadi pasangan kekasih.
Saat dinikahi Ardan dulu, Lastri sudah
keluar dari rumah Warno. Ia keluar karena diusir oleh Bu Warno atau Titi. Semua
itu karena Bu Warno sudah mengetahui hubungan asmaranya dengan putra kedua
Sujar itu. Setelah keluar dari komplek Bumi Indah, gadis berwajah lumayan
cantik itu bekerja di sebuah toko kecil yang letaknya juga di gang kecil. Saat
bekerja sebagai pelayan toko, Ardan masih terus mengejarnya. Tentu saja Lastri
semakin takut dan bingung. Ia merasa tidak pantas menjadi kekasih Ardan, pemuda
yang strata sosialnya jauh di atasnya. Namun karena Ardan mengaku sudah sangat
serius mencintai Lastri, juga karena ia pantang menyerah dalam mengejar Lastri,
gadis dusun yang katanya agak jahat itu akhirnya pasrah. Bagaimana tidak? Gadis
dusun mana yang tidak mau dinikahi Ardan? Gadis dusun mana yang tidak mau jadi
istrinya seorang pemuda gagah-tampan yang berasal dari kalangan menengah ke
atas? Gadis dusun mana yang tidak mau jadi menantunya orang terhormat seperti
Hasan Sujardi?
Saat Lastri masih tinggal di rumah
Warno, Retno sudah menduga kalau Ardan mulai jatuh hati pada gadis asli Ceper,
Klaten itu. Retno pun menasehati Ardan agar jangan sampai jatuh cinta pada
Lastri, pembantu tetangganya. Selain tidak pantas dari segi sosial, menurut
keterangan kuat dari orang-orang yang terpercaya, akhlak Lastri itu kurang baik.
Katanya Lastri pernah mengambil perhiasan Titi. Dengan demikian, sudah bagus
Retno hanya mengatakan ‘kurang’ baik, bukan ‘tidak’ baik. Retno sangat
mewanti-wanti Ardan akan hal itu. Retno sering mengatakan, Ardan tetap harus bisa
menjaga nama baik keluarganya, seberat apapun caranya. Hamdi pun sudah sering
menasehati adik keduanya yang angkuh itu.
Sama halnya dengan Darwan, putra
ketiga Sujar yang paling kuat agamanya. Ia juga sudah berkali-kali menasehati
kakak keduanya yang sering bertindak sesuka hatinya. Kalau ngobrol atau curhat
dengan Hamdi, Ardan sering ribut, bahkan akhirnya bertengkar dengan kakaknya
itu. Sejak dulu Ardan dan Hamdi memang tidak pernah cocok. Sejak kecil Ardan
dan Hamdi sering bertengkar, dan Hamdi-lah. yang selalu kena semprot
ayah-ibunya, walaupun ia sering di pihak yang benar. Ardan mengaku lebih cocok
curhat dengan Darwan atau Dina, terutama Darwan. Dari kedua adiknya itu,
Darwan-lah yang paling bisa memahami dirinya.
Ardan dan Darwan memang agak sering
ribut, namun kadarnya tidak sama dengan kalau Ardan sedang ribut dengan Hamdi.
Bagi Ardan, adiknya yang alim itu agak
cocok untuk dirinya. Jika dibanding semua anggota keluarganya, Darwan-lah yang
paling bisa dia jadikan teman curhat, setelah itu baru ayahnya, kemudian Dina. Kalau
ngobrol sama Dina, Ardan juga sering merasa tidak puas. Ardan dan Dina cukup
sering ribut, namun Dina selalu mengalah. Adik perempuannya yang sabar itu
lebih dekat dengan Hamdi, jadi wajar kalau dia dan Dina kurang cocok. Walaupun
begitu, Ardan selalu mengatakan, kalau dibanding Hamdi atau ibunya, Dina itu
masih lebih cocok untuk dirinya.
Beberapa minggu sebelum Ardan menikahi
Lastri, semua sahabatnya yang dulu ia rekrut di toko Maryani, toko buatan Sujar
yang ia pegang, pada menasehatinya untuk tidak bertindak gegabah. Semua sahabatnya
berkata, “Dan, apa rencanamu itu sudah kamu pikirkan
masak-masak? Apa rencanamu
itu tidak
terlalu cepat? Apa kamu tidak berpikir jauh ke depan?”
Ardan yang sudah mabuk cinta, menyahut
dengan semangat, “Aku sudah gedhe, jadi tidak mungkin main-main. Aku sudah
sering jatuh cinta, tapi belum pernah seserius cintaku pada Lastri sekarang
ini.”
Sahabatnya yang lain menasehati,
“Kalau kamu mau bersabar, Insya Allah,
kamu bisa dapat gadis lain yang lebih baik, lebih pantas untuk kamu, untuk
keluargamu. Kamu bisa dapat gadis yang sederajat. Ingat Dan, pernikahan itu
untuk selamanya. Dalam pandangan agama, pernikahan itu sesuatu yang sangat
sakral. Kamu jangan hanya melihat boleh atau tidak. Kamu harus melihat yang
lebih tinggi dari itu. Kamu harus melihat pantas atau tidak.”
Nasehat itu malah membuat emosi Ardan
meledak. Ia berkata setengah membentak, “Lastri itu gadis baik-baik. Dia pantas
untukku! Pantas untuk jadi istriku! Huhh! Kamu bisa ngomong sembarangan karena
kamu belum kenal dia. Dan kamu juga tidak tahu isi hatiku! Huhh! Sudah! Tidak
usah kita lanjutkan! …..Sekarang kamu pergi saja..dari pada nanti aku semakin
marah.”
Hening sejenak. Melihat temannya itu
belum pergi, Ardan melotot. “Apalagi yang kamu tunggu!? Haa?! Cepat pergi! Aku
tidak mau lihat kamu lagi!”
Temannya itu berdiri sambil
menggelengkan kepala. “Keterlaluan kamu Dan. Huh! Benar sekali kata Mas Hamdi
dan Dik Dina. Kamu memang egois. Kamu tidak pernah memperhatikan kepentingan
orang banyak. Bahkan menjaga nama baik orang tua pun kamu tidak mau.”
“Cukup!” bentak Ardan yang semakin
marah. “Simpan saja nasehatmu, lalu berikan ke temanmu yang lain. Sekarang kamu
sudah membuat aku semakin marah. Kalau kamu tidak mau kukasari, sekarang juga
kamu harus pergi!”
Si teman meninggalkan Ardan sambil
mengelus dada. Ketika posisinya sudah membelakangi Ardan, adik kedua Hamdi yang
sombong ini berkata, “Kamu juga tidak usah menggubris omongan Hamdi dan Dina.
Mereka itu brengsek! …Sejak dulu mereka sudah tidak suka sama aku. Sejak dulu
mereka selalu ngatur aku..terutama Hamdi! Huhh! Ngatur diri sendiri saja belum
bisa, kok berani-beraninya ngatur aku!”
Beberapa minggu kemudian, Ardan siap
menikahi Lastri. Ia mendatangi desa Lastri dengan mobil pinjaman. Mobil Taft
Feroza milik adik sepupunya. Karena tidak ada satupun dari anggota keluarganya
yang menyetujui jalinan cintanya dengan Lastri, pemuda yang sudah buta hatinya
ini nekat untuk nikah siri atau kawin
lari. Awalnya Lastri dan keluarganya takut.
Lastri sendiri menyadari kalau ia tidak pantas menjadi istri Ardan
Ibrahim. Lastri sadar seratus persen. Perbedaannya dengan Ardan laksana ukuran
tubuh kucing dan kerbau. Dirinya yang hanya anak penjual krupuk, jelas sangat
jauh di bawah Ardan Ibrahim, putranya orang terhormat di masyarakat.
Setelah bersusah payah, akhirnya Ardan
berhasil meyakinkan Lastri dan keluarganya. Ardan selalu mengatakan, untuk saat
ini ayah-ibunya memang tidak setuju, tapi suatu saat nanti mereka pasti bisa
menerima Lastri sebagai menantunya. Karena percaya dengan kata-kata Ardan yang
sangat meyakinkan itu, akhirnya Lastri bersedia dinikahi Ardan. Mereka menikah
dengan sangat sederhana. Setelah aqad nikah, mereka mengadakan walimahan atau
pesta pernikahan kecil-kecilan. Setelah resmi menjadi suami-istri, namun belum
resmi bagi Sujar dan Retno yang belum tahu, Lastri dan Ardan tinggal di rumah
Lastri untuk sementara. Empat bulan kemudian, Ardan memboyong istrinya ke rumah
kontrakan yang ia cari dengan susah payah. Ardan membiayai rumah kontrakannya
itu dengan uang dari supermaketnya yang sekarang sudah musnah, juga hasil dari
penjualan semua barang miliknya. Ardan dan Lastri hidup bahagia, walaupun sebenarnya hati kecil
mereka sangat cemas.
Sampai Lastri mengandung beberapa
bulan, Sujar, Retno, Hamdi, Darwan dan Dina belum tahu kalau Ardan sudah
memiliki teman hidup yang baginya sudah sah. Tujuh bulan setelah Ardan menikahi
Lastri, barulah Sujar dan Retno mengetahui hubungan gelap putra kedua mereka
dengan gadis pelayan toko yang dulu pernah menjadi PRT tetangga mereka.
Informasi itu mereka peroleh dari Parman, ponakan mereka, adik sepupu Hamdi
dari pihak Sujar. Sebelumnya, Parman sudah memberitahukan perkara heboh ini ke
Darwan, namun Darwan masih ingin menyembunyikannya karena ia takut kalau
ayah-ibunya jantungan, terutama sang ibu.
Setelah mengetahui Ardan berulah,
Sujar dan Retno seperti disambar geledek. Mereka nyaris tidak percaya dengan
apa yang mereka hadapi itu. Retno benar-benar histeris. Ia seperti orang yang
baru sadar dari mimpi panjang. Ia stress berat selama beberapa bulan. Hampir
setiap hari ia menangis. Namun untunglah, Retno punya Endah, tetangga terbaiknya
yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Tanpa kehadiran wanita tangguh
itu, Retno sudah ling lung. Beberapa minggu kemudian, Retno yang hatinya
terluka parah, meminta Ardan untuk menceraikan Lastri.
Tentu saja Ardan bingung berat. Awalnya
ia bersedia, namun setelah melihat istri gelapnya sudah hamil, ia langsung
mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Pemuda angkuh ini merasa iba pada
Lastri, dan terutama pada si jabang bayi. Biar bagaimanapun, anak yang
dikandung Lastri itu darah dagingnya. Retno dan Sujar pun akhirnya pasrah,
walaupun mereka tetap belum mengakui Lastri sebagai menantu mereka. Demikianlah
big trouble yang menimpa keluarga
Hasan Sujardi. Endah berkata, “Di semua keluarga, pasti ada salah satu
anggotanya yang tidak beres, yang rusak, yang membuat ulah, yang menyakiti
kedua ortunya. Anaknya Nabi Nuh saja jadi kafir, apalagi cuma anak-anak kita
yang lemah ini. Kesholehan Nabi Nuh itu sangat jauh di atas kita, tapi beliau
tidak bisa membuat anaknya beriman. Jadi..yah, kita harus terima semua
kekurangan ini.”
“Betul sekali,” sahut Isma yang
wajahnya memelas. “Jadi sampai sekarang, Mas Ardan belum pernah membawa Lastri
ke rumah?”
Endah menggelengkan kepala sambil
tersenyum. Isma bertanya lagi, “Sampai sekarang, Mas Ardan belum pernah
mempertemukan Lastri dengan Pak-Bu Sujar?”
Endah kembali menggelengkan kepala.
Isma yang wajahnya semakin memelas, berkata, “Ya Allah. …Kasihan sekali Pak-Bu
Sujar. …Mas Hamdi, sungguh berat cobaan yang menimpa keluargamu. Ohh. …Pantas saja, sampai
sekarang Mas Hamdi masih ingin menyendiri.”
Endah tersenyum, “Makanya, kalau
orang-orang sini sampai tahu hubungan cinta kalian, wah (menggelengkan kepala).
Langit kelap-kelip bumi gonjang-ganjing. …Nama baik Pak-Bu Sujar bisa remuk.”
Hening sejenak. Isma yang matanya
mulai berkaca-kaca, berkata, “Yang jadi masalah besar…kenapa cinta sejati baru
kurasakan sekarang? Kenapa cinta sejati baru kurasakan di saat aku sudah
bersuami? Oohhh (air mata menetes)..”
Isma menangis lirih. Endah yang
hatinya begitu lembut, langsung ikut meneteskan air mata, namun kadar tangisnya
lebih kecil dari Isma. Hening beberapa saat. Kedua tangan Isma memeluk tangan
kanan Endah, lalu ia taruh di depan dadanya. Dengan wajah penuh harap, kekasih
Hamdi ini berkata, “Ibu bersedia membantu aku kan? Ibu bersedia melindungi
hubunganku sama Mas Hamdi ini?
…..Bersedia kan?!”
Endah tersenyum dan mengangguk. “Insya Allah, Mbak Ayu. Aku akan berusaha
sebisaku.”
Tentu saja Isma gembira sekali. Dua
perempuan cantik ini berpelukan erat. Isma berkata, “Bu Endah memang perempuan
berhati emas.”
* *
* * *
Beberapa hari kemudian, tibalah
waktunya bagi Asyraf untuk mohon pamit pada Sujar, Retno dan Hamdi. Sebagaimana
yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya, Asyraf harus memegang bisnis ayahnya
yang ada di Jl. Imogiri. Asyraf yang sebenarnya masih ingin menjadi takmir masjid
Al-Furqan, harus meninggalkan Bumi Indah dengan berat hati. Sujar dan Retno pun
agak kecewa dengan kepergian Asyraf. Maklum saja, kemampuan Asyraf sebagai
takmir masjid sudah layak diacungi jempol, walaupun masih satu-dua tingkat di
bawah pendahulunya, Abu Muslih Ardi Wahyudi dan Nur Ikhwan Muslim. Namun Asyraf
berjanji pada Hamdi. Jika suatu saat nanti Al-Furqan mau menggelar acara-acara
besar yang tentunya juga membutuhkan tenaga besar, Muhammad Asyraf Pranowo siap
membantu.
Setelah Asyraf keluar, Nurman
sendirian mengurus Al-Furqan. Walaupun kuat, rajin dan cukup disiplin,
mahasiswa HI (Hubungan Internasional) UGM ini akhirnya mengaku kewalahan. Namun
ia tidak langsung mengeluhkan tugas beratnya itu kepada Sujar, Retno, Hamdi
atau siapapun. Ia sudah bertekad bulat untuk bersabar dulu. Pemuda tampan bertubuh
atletis ini berprinsip, semakin berat kesulitan yang kita hadapi, Insya Allah, akan semakin berat pula
kebaikan yang akan kita raih nanti.
Beberapa hari kemudian kesabaran
Nurman membuahkan hasil. Setelah dua minggu mengurus masjid sendirian, akhirnya
Nurman mendapat teman yang sesama ikhwan Salaf. Dia mahasiswa Teknik Elektro
UGM. Daerah asalnya Sukabumi. Namanya Rian Purnama. Pemuda bertubuh kecil namun
cukup berotot itu akan membantu Nurman yang sebentar lagi mau pergi untuk sementara
waktu. Saat waktu kepergian Nurman tiba, Sujar menjadi agak bingung lagi. Ya
tentu saja, sebab Rian yang etos kerjanya masih di bawah Nurman, apalagi
Asyraf, apalagi Ardi, akan sendirian mengurus masjid.
Namun tak lama kemudian Ardi berhasil
menemukan orang yang akan membantu Rian. Namanya Andi Aji. Pemuda asli Kemusu,
Boyolali itu kuliah di Teknik Industri UGM. Posturnya mirip Rian. Kecil,
pendek, agak berotot. Bedanya, warna kulit Rian kuning langsat kecoklatan,
sedangkan kulit Andi coklat agak tua. Dua pemuda ini disiapkan untuk menyambut
bulan suci Ramadhan yang akan datang sebulan lagi. Berkat kehadiran dua takmir
baru itu, Hamdi menjadi malu untuk ogah-ogahan. Hamdi yang akhir-akhir ini
jarang sholat di masjid karena terserang penyakit M atau malas, menjadi
bersemangat lagi untuk menjamah masjid. Yah, Hamdi memang sedang terkena
penyakit malas, malas karena sedang mabuk cinta.
Sekarang ia ingin menunjukkan kesan
positif di hadapan Andi dan Rian. Di hadapan dua takmir baru itu, Hamdi harus
bisa memberi suri tauladan yang baik. Semua itu agar mereka betah menjadi
pengurus Al-Furqan. Selama Hamdi absen, Asyraf-lah yang memimpin sholat
jama’ah. Kalau dia lagi tidak ada, Nurman yang menggantikannya. Sekarang Hamdi
sudah nongol lagi, setelah sekitar satu setengah bulan tidak kelihatan. Tentu
saja kehadirannya langsung membuat para jama’ah menyerbunya dengan berbagai
pertanyaan. Hamdi yang hatinya sedang kacau, hanya menjawab, “Saya repot, saya
pergi ke luar kota, cari kerjaan, dll.”
Beberapa hari kemudian, Nurman sudah
menyelesaikan keperluan pentingnya. Ia kembali ke rumah Sujar untuk membantu
Rian dan Andi yang masih hijau. Sekarang ada tiga pemuda yang mengurus masjid
Al-Furqan. Dari tiga pemuda itu, Nurman-lah yang paling tangguh, jadi dia harus
sering menasehati dan membimbing dua teman barunya itu. Selain soal masjid, Nurman juga memberi pengarahan tentang
keluarga Sujar. Nurman hanya memberitahukan sesuatu yang ia ketahui. Ia
menjelaskan, kalau Rian dan Andi sedang berhadapan dengan Retno, Hamdi atau
Ardan, mereka harus begini, harus begitu, dan seterusnya.
Siang itu Sutris dan Hartoyo
menunaikan sholat Jum’at di Al-Furqan. Ketika ustadz-nya sedang ber-khotbah, Toyo yang duduk di shaf paling belakang, berbincang dan
bercanda dengan teman-temannya. Suara canda tawanya itu begitu keras, sehingga
terdengar oleh seluruh jama’ah yang sedang khusyuk mendengarkan wasiat takwa
dari sang ustadz. Suasana masjid yang semula tenang itu menjadi gaduh oleh
suara Toyo yang kasar.
Hamdi yang duduk di shaf paling depan bersama Nurman, Andi
dan Rian, menoleh ke belakang dengan wajah serius. Ia mencari jama’ah yang
sudah membuat gaduh. Setelah ketemu, Hamdi berdiri sambil melotot, kemudian
memberi isyarat kepada Toyo untuk diam. Hamdi hanya memberi isyarat, dan tidak
berkata sepatah kata pun. Sebab kalau Hamdi mengucapkan satu kata, walau
sekedar untuk mengingatkan jama’ah yang lain untuk diam, hal itu sudah membuat
pahala sholat Jum’atnya sia-sia.
Setelah diperingatkan Hamdi, Toyo
langsung menghentikan pembicaraannya dengan teman-temannya yang duduk di
kanan-kirinya. Amarahnya meledak. Wajahnya merah hitam. Matanya melotot,
bibirnya cengar-cengir. Kedua tangan kekarnya dikepalkan. Wajahnya yang seram itu
menjadi semakin seram karena menahan
amarah yang sudah menggelora. Pria kekar ini memelototi Hamdi, lalu hatinya
mengumpat, “Kurang ajar! Sok alim! Huhh!! Berani benar mempermalukan aku di
hadapan orang banyak! Mentang-mentang dia duduk di barisan pertama.
Mentang-mentang pengurus masjid, lalu seenaknya membentak-bentak aku. Huhh!
Mungkin aku memang salah, tapi kenapa harus dibentak seperti tadi?! Huhh!
Keparat! Kamu benar-benar sudah membuatku marah! Grrrhh..!! Baiklah sok alim,
kita tentukan setelah sholat.”
Namun setelah sholat Jum’at, Toyo
tidak berbuat apapun terhadap Hamdi. Toyo hanya berdiri di dekat pagar atau
gapura masjid. Dilihatnya Hamdi sedang berbincang dengan kawan-kawannya. Sesaat
kemudian Hamdi sadar kalau dirinya sedang diawasi oleh seorang lelaki kekar berwajah sangar. Dilihatnya Toyo yang berdiri
sambil melotot. Sikapnya yang super arogan itu benar-benar membuat dirinya seperti menantang. Hamdi yang
juga sudah mulai emosi, ganti menatapnya dengan mata setajam pedang. Bagi Hamdi,
sikap Toyo yang berlebihan itu membuatnya terlihat semakin menyebalkan.
Melihat Toyo masih berdiri di gapura
masjid dengan sikap menantang, kesabaran Hamdi yang tinggal sedikit itu musnah.
Hamdi berdiri tegak, lalu keluar dengan langkah mantap. Dihampirinya Hartoyo
yang sudah membuat pandangannya tidak sedap. Nurman, Andi dan Rian yang masih
berada di masjid, sedetik kemudian langsung keluar. Tiga pemuda ini melihat
Hamdi berhadapan dengan Hartoyo. Jarak mereka terpaut sekitar empat meter. Andi
yang berada paling dekat dengan Hamdi, berkata lirih, “Yang sabar
Mas..pelan-pelan.”
Hening sejenak. Hamdi dan Toyo saling
melotot. Amarah dua lelaki ini semakin membara. Hamdi yang terlihat lebih
tenang, berkata, “Sejak selesai sholat tadi anda terus memelototi saya. …Memang
ada apa ya?”
Toyo diam saja. Hamdi mengatur nafasnya,
setelah itu bicara lagi, “Yang anda lakukan tadi salah, jadi saya harus membetulkan anda. …Ngobrol
di saat khotib sedang khotbah itu hukumnya haram. …Tadi Anda sudah
berdosa. Apalagi suara anda tadi keras sekali.”
Hening sejenak. Toyo tidak mengucap
sepatah kata pun. Ia hanya menunjukkan sikapnya yang semakin menyebalkan. Kedua
matanya masih terus menatap Hamdi dengan tajam. Tatapan matanya seperti tatapan
harimau terhadap hewan buruannya. Beberapa detik kemudian Toyo pergi begitu
saja. Ia tinggalkan Hamdi dan ketiga temannya. Rupanya ia sudah puas memelototi
Hamdi yang dianggapnya sudah mempermalukan dirinya di hadapan orang banyak.
Hamdi mengikutinya sampai di gapura. Nurman, Andi dan Rian menyusul. Empat
sekawan ini melihat Toyo yang sudah agak jauh dari masjid. Beberapa detik
kemudian Toyo menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang dengan
perlahan.
Dilihatnya Hamdi yang berdiri di tempat
ia berdiri tadi. Pria kekar ini tersenyum mengejek, lalu berkata lirih, “Hamdi
brengsek! Sekarang aku kalah dulu. Tapi besok…kamu benar-benar akan kuberi
pelajaran. Huh! Kalau mau, tadi aku bisa langsung membereskan kamu. Tapi
setelah kurenungkan, sebaiknya jangan dulu. …..Bedebah seperti kamu terlalu
menarik untuk kubereskan hari ini. hah ha haa! Oke, sekarang aku sabar dulu.
Besok kalau aku sudah punya waktu yang tepat, kamu pasti kulumat!”
Tampaknya ancaman Toyo itu tidak
main-main. Setelah Toyo lenyap, Hamdi menggelengkan kepala, “Sudah salah malah
marah. Huhh! Orang itu…dari wajahnya saja sudah kelihatan orang jahat.”
“Iya tuh,” sambung Rian. “Wajahnya
menyebalkan.”
“Memang dia siapa sih?” Tanya Andi.
Hamdi menggelengkan kepala. “Aku baru lihat sekarang. Tapi aku yakin, tempat
tinggalnya di sekitar sini. Toh dia juga jum’atan di sini.”
Andi berkata, “Kemungkinan besar, dia
mau memusuhi antum.”
Hamdi menyahut, “Aku siap menghadapi
manusia tak tahu diri seperti dia.”
Nurman tersenyum, “Itulah orang yang
jahil terhadap agama. Ya sudah Mas, tidak usah dipikir lagi. Insya Allah, dia bukan masalah besar
untuk anda.”
Hamdi tersenyum sinis, “Buat apa aku
menghabiskan waktuku untuk memusingkan atau mencemaskan begundal seperti dia.”
Beberapa waktu kemudian Isma mulai rajin mengikuti sholat Shubuh
berjama’ah. Kalau dulu ia hanya mengerjakannya kadang-kadang, sekarang ia ingin
mencoba mengerjakannya dengan rutin. Sebelumnya Isma sudah mendengar. Setiap
sholat Shubuh di masjid Al-Furqan,
jama’ah wanitanya selalu banyak, bahkan sering lebih banyak dari jama’ah
pria. Itulah yang membuat Isma terdorong untuk mengikuti sholat Shubuh
berjama’ah secara rutin. Dalam sebuah riwayat dikatakan, walaupun sholat yang
terbaik bagi wanita itu sholat yang dikerjakan di rumah, kalau mereka hendak pergi
ke masjid, kita tidak boleh melarang mereka.
Disamping itu Isma juga memiliki
motivasi lain yang bisa jadi lebih kuat. Yah, apalagi kalau bukan ingin ketemu
Hamdi, atau sekedar melihat kekasihnya yang sekarang sudah jarang jadi imam.
Seusai sholat, Hamdi dan Isma berdiri di depan masjid. Jarak mereka terpaut
sekitar 5 meter. Tanpa sepengetahuan para jama’ah, lelaki dan perempuan yang
sedang mabuk asmara ini saling menatap dan menebar senyum. Hal ini cukup sering
mereka lakukan, dan belum ada satu orang pun yang tahu. Biasanya, seusai sholat
Shubuh, Isma yang sudah mau pulang itu dipanggil Hamdi dengan suara lirih atau
isyarat. Isma pun menghentikan langkahnya, lalu melirik kanan-kiri. Ia melihat
dulu keadaan, sudah aman atau belum. Setelah dirasa cukup aman, Isma menoleh ke
belakang atau ke samping agak belakang dengan perlahan. Dilihatnya Hamdi yang
tersenyum atau melambaikan tangan ke arahnya.
Sedetik kemudian, Isma yang masih memakai mukena
ini membalas senyum PIL (Pria Idaman Lain)-nya itu. Mukena yang dikenakan
wanita keturunan Arab ini membuatnya terlihat semakin cantik. Demikianlah
kebiasaan yang sekarang dilakukan Hamdi dan Isma. Hanya sekali saja perbuatan
mereka itu disaksikan Nurman tanpa sengaja. Nurman yang polos itu tidak curiga
sedikitpun. Nurman yang polos itu tidak punya pikiran apapun. Pemuda bertubuh
atletis itu hanya beranggapan, Hamdi sedang menghormati tetangga atau jama’ahnya.
Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya
seusai sholat Shubuh, ketika Andi baru sekitar lima hari menjadi takmir
Al-Furqan, Andi melihat jama’ah wanita pada mengaji, termasuk Retno, Endah,
Darti dan Isma. Sama halnya dengan Hamdi dulu, kehadiran Isma juga menarik
perhatian Andi. Dari semua ibu-ibu yang mengaji, Isma-lah yang paling muda dan
paling cantik. Pemuda asli Boyolali ini juga mendengar suara Isma yang paling
menonjol, paling terdengar. Suaranya yang lembut agak serak itu memang
terdengar lain dari semuanya. Bukan lain karena volumenya paling keras, tapi
karena terdengar berbeda dari suara semua ibu yang hadir di situ.
Andi yang duduk di shaf depan sambil membaca buku, terus
mencari kesempatan untuk melirik Isma. Andi yang polos ini tersenyum, lalu
bergumam, “Kelihatannya dia istrinya Mas Hamdi. He he he.”
Beberapa waktu kemudian, ketika Andi
mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Hamdi, pemuda berpostur kecil namun
cukup kekar ini bertutur, “Kukira dia istri antum lho. He he hee.”
“Istriku?” sahut Hamdi tersentak
gembira. “Hebat banget perkiraanmu.”
“Hanya bercanda kok, hah haa. Jangan
marah ya?”
Hamdi tersenyum, “Aku tidak punya
alasan secuil pun untuk marah. Sudah
berkali-kali aku dikira sudah beristri.”
“Ya makanya, segera saja.”
Hamdi tersenyum malu. “Insya Allah, kalau keadaanku sudah
membaik.”
Andi tersenyum. “Tapi sebenarnya
antum memang cocok sama dia. He he.”
“Benarkah itu?” Tanya Hamdi dalam
hati. Kata-kata Andi itu semakin menyanjung hatinya. Kata-kata Andi itu
terdengar sangat indah di telinga Hamdi. Kata-kata Andi itu seperti kabar baik
yang sudah lama dinanti orang. Kata-kata itu seperti limpahan hujan yang
menyiram tanah yang kering kerontang. Kata-kata seperti itulah yang selama ini dinanti Hamdi.
Sejak saat itu, cinta Hamdi pada Isma semakin kuat. Hamdi pun bertekad kuat
untuk terus menjaga tali cintanya dengan Isma, walaupun ia tahu resiko besar
yang akan dihadapinya nanti.
*****
Pagi itu, sekitar pukul delapan, Hamdi
main ke rumah Isma. Ia mendatangi rumah kekasihya itu dengan bersepeda.
Sebelumnya, Isma sudah memberitahu Hamdi tentang waktu-waktu yang tepat untuk
mereka. Waktu di mana Kandar, Sutris dan Hartoyo sedang pergi. Isma sudah
menjadwal waktunya untuk pacaran dengan si kekasih gelap. Kini Hamdi dan
sepedanya sudah hampir sampai di rumah Isma. Setelah Hamdi berada di tujuh
meter dari rumah Isma, Hamdi melihat Toyo yang baru keluar dari rumah. Lelaki
berkulit gelap itu menunggangi motor bebek Suzuki.
Tentu saja Hamdi tersentak bukan main.
Hamdi yang sudah menuntun sepedanya, bergumam, “Jadi…manusia tak tahu diri ini
tinggal di sini?! Jadi dia pembantunya Isma?! …..Oohh (mata semakin melotot)…sejak
kapan dia tinggal di sini? Kenapa baru kulihat sekarang?”
“Kenapa?” Tanya Toyo tersenyum
mengejek. “Kaget ya?”
Hamdi yang memang terkejut sekali,
hanya diam sambil memelototi Toyo. Toyo yang sudah mau pergi dengan motornya,
ganti memelototi Hamdi. Jarak dua lelaki ini terpaut sekitar 3 meter. Hamdi
baru datang, sedangkan Toyo baru mau pergi. Hening beberapa detik. Toyo yang
sudah menghidupkan mesin motornya, terus menatap Hamdi dengan tersenyum
mengejek. Ia bergumam, “Kenapa keparat ini datang ke sini sekarang? Kenapa dia
ke sini di saat rumah sedang kosong? Juga di saat kami semua sedang kerja? Huhh!
brengsek! Aku jadi curiga. Jangan-jangan…ada apa-apa di antara dia dan Isma.”
Hening
sejenak. Dua lelaki ini masih terus saling menatap. Toyo terlihat lebih tenang
dari Hamdi, namun Hamdi juga tetap berusaha menampakkan sikap tenang. Hamdi
berpikir, di hadapan lelaki angkuh itu ia tidak boleh menunjukkan kebingungan
dan kegelisahannya. Setelah puas memelototi Hamdi, Toyo pergi dengan melempar senyum mengejek. Hamdi yang
masih bengong, sedetik kemudian langsung sadar oleh kehadiran Murni yang
membukakan pintu pagar. Murni tersenyum gembira sambil berkata, “Mas Hamdi kok
bengong di situ?”
Hamdi
tersenyum. “Anu Mur…aku tadi baru…”
“Sudahlah Mas (tersenyum manja), tidak
apa-apa, tidak usah malu. Besok lagi kalau ke sini, Mas langsung masuk saja.
Yang penting Bapak dan Kang Tris lagi pergi. Insya
Allah, Murni yang bodoh ini bisa dipercaya kok. Mas Hamdi tenang saja. Hi
hi hii. Kan Mas Hamdi sudah cukup sering ke sini, jadi kenapa masih takut?”
Hamdi tersenyum malu, lalu bergumam,
“Iya-ya. Sekarang pemilik rumah ini sudah jadi kekasihku, jadi kenapa aku harus
sungkan atau takut? Ahh…aku memang bodoh. …Untuk yang kedua kalinya aku ke
sini, sejak kami menjadi pasangan kekasih. Untuk yang kedua kalinya aku mau
memadu kasih dengan permata hatiku itu. Hah haa. Baiklah kalau begitu. Bismillah..”
Melihat Hamdi masuk ke taman dengan
langkah mantap, Murni tersenyum manis, “Nah, begitu dong. Ini baru Mas Hamdi
Rusmanto.”
Hamdi tersipu. “Kamu juga sudah tahu
nama lengkapku?”
“Ya jelas sudah. Ah Mas Hamdi
ini..masih menganggap saya orang asing. Saya dan Mbak Isma kan sudah seperti amplop
dan perangko.”
Sambil berjalan mengikuti Murni yang
mau membuka pintu ruang tamu, Hamdi bertanya tentang Hartoyo. Murni pun
menjelaskan. Sudah empat bulan Toyo tinggal di rumah Kandar. Walaupun sulit diakrabi,
kinerja Toyo sangat jempolan. Walaupun sampai sekarang Isma mengaku masih agak
takut pada Toyo, ia harus mengakui etos kerjanya yang sulit dicarikan
tandingan. Isma dan Kandar sering mengatakan, Toyo itu bertenaga kuda, kuat
sekali. Toyo selalu membereskan semua pekerjaan rumah yang berat. Semuanya ia
lakukan sendiri.
“Potongannya memang seram Mas,” tutur
Murni seraya tersenyum, “tapi kalau sudah kenal akrab, dia enak diajak ngobrol.
Hi hi hii. Bapak merasa sangat beruntung, bisa memiliki tenaga seperti dia.
Bapak berharap, mudah-mudahan Mas Toyo bisa tinggal lama di sini.”
“Tapi aku tidak suka dia!” bentak
Hamdi dalam hati. Wajahnya terlihat sebal mendengar Toyo dipuji-puji. Namun ia
tetap berusaha menyembunyikan rasa bencinya itu dengan pura-pura gembira.
Setelah masuk ke ruang tamu, Murni meminta Hamdi untuk menunggu Isma yang masih
mandi dan bersih-bersih kamar. Selang tiga menit kemudian, Murni kambali ke
ruang tamu sambil membawa nampan berisi segelas sirup kuning dan satu piring
berisi tiga potong pisang goreng.
Hamdi langsung menyantap hidangan di
hadapannya itu. Beberapa menit kemudian, tatkala pisang goreng di piring kecil
itu tinggal sepotong, muncullah sang nona jelita yang sudah dinanti sejak tadi.
Pagi ini Isma kelihatan cantik sekali. Ia memakai baju lengan pendek kuning.
Rok hitamnya sedikit di bawah lutut, sehingga masih sedikit menampakkan betisnya
yang bersih. Bandul jambon (merah
muda) mengikat rambutnya yang bagian atas agak ke belakang. Ia tebarkan senyum
manisnya ke pria pujaan hati yang masih bengong. Sedetik kemudian Hamdi
melangkah ke Isma, lalu menjulurkan tangan kanannya
Isma menyambut tangan Hamdi dengan
kedua tangan halusnya. Ia menunduk, lalu mencium tangan yang cukup berotot itu
dengan dahi dan hidungnya. Sedetik kemudian mereka pacaran cukup bebas. Mereka
duduk di sofa dengan berdekatan. Sikap mereka sudah seperti suami-istri. Hamdi
membelai rambut, pipi dan dagu Isma. Nyonya Kandar tersenyum, “Maaf ya? Aku
membuatmu menunggu lama.”
Hamdi tersenyum sambil menggelengkan
kepala. “Bisa ketemu kamu saja aku sudah senang sekali, apalagi bisa sedekat
ini. He he. …Memang baru begini yang bisa kita lakukan. Keadaan masih belum
memungkinkan kita untuk pergi berduaan. Kuharap kamu bisa mengerti (menyentuh
tangan kanan Isma dengan kedua tangannya). Pahamilah semua keadaan ini,
Sayangku.”
Isma mengangguk mantap sambil
tersenyum manis. “Aku ngerti Mas. Sangat mengerti.”
Hamdi tersenyum gembira. “Aku bahagia
sekali melihat bunga hatiku ini bisa mengerti aku.”
Pujian itu membuat hati Isma semakin
berbunga-bunga. Hamdi menyampaikan perkataan Andi yang berbunyi, “Kukira dia (
Isma ) istrimu lho.” Hamdi juga menyampaikan omongan Andi yang mengatakan kalau
dia dan Isma benar-benar cocok. Hamdi membelai dagu Isma, lalu berkata,
“Berarti sudah ada yang mengatakan kita serasi. Wah..aku senang sekali.”
Isma tersipu, “Aku tersanjung Mas..sangat
tersanjung.”
Hamdi tersenyum, “Sudah sebulan kita
tidak ketemu..tapi aku merasa sudah setahun. …Manisku, aku kangen banget sama
kamu.”
“Aku juga kangen banget sama Mas.”
“Benarkah?”
“Masa’ aku tega membohongi kekasihku
ini?”
Hamdi tersenyum gembira. “Permataku,
indah sekali kata-katamu itu.”
Selanjutnya, Isma menaruh kepalanya di
dada bidang Hamdi. Hamdi pun mengelus rambut sang kekasih, kemudian memeluknya.
Kehangatan cinta semakin merebak ke seluruh rongga hati Hamdi dan Isma.
Beginilah keadaan mereka sekarang. Beginilah keadaan mantan imam masjid
Al-Furqan. Ia dan istri tetangganya itu benar-benar sudah terjerat dalam
pergaulan bebas. Namun anehnya, hingga detik ini Hamdi masih menganggap
cintanya pada Isma itu suci. Begitu pula Isma yang sudah berselingkuh. Isma
merasa tidak bersalah karena ia merasa sudah menemukan cinta sejati yang ia
dambakan selama ini. Dan cinta sejati itu tidak ada pada diri Suryo Iskandar,
teman hidupnya yang sah.
Tadi Hamdi mengucap basmalah saat ia hendak masuk ke rumah
Isma, padahal ucapan itu sudah salah arah. Hamdi menjadi lupa dengan salah satu
sabda Baginda Agung Rasulullah saw yang berbunyi: ‘Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah.’ Kalau Hamdi mengucap’Bismillah’ untuk perbuatan makruf, baik dan halal, itu bagus sekali.
Bahkan kalau mau jujur, setiap Muslim dianjurkan untuk mengucap basmalah ketika ia mau melakukan segala
perbuatan yang halal, baik dan pantas. Tapi kalau kalimat mulia itu diucapkan
oleh seseorang yang mau mencuri, apakah itu masih boleh atau pantas? Jawabannya
: Jelas Tidak.
Lantas bagaimana dengan yang sudah
dilakukan Hamdi dan Isma sekarang ini? Pantaskah Hamdi mengucap asma Allah
ketika ia mau bergaul bebas dengan perempuan yang bukan mahrom-nya? Pantaskah Hamdi mengucap Basmalah ketika ia mau pacaran dengan istri orang? Begitu mesranya mereka,
sampai lupa dengan status masing-masing. Begitu mesranya mereka, sampai lupa
dengan hukum halal-haram. Begitu mesranya Hamdi dan Isma yang sudah dimabuk
cinta yang hanya berdasarkan hawa nafsu, sampai mereka lupa dengan kehadiran
sesosok misterius yang kini ada di serambi rumah Isma. Tampaknya sosok
misterius itu sudah mengawasi Hamdi dan Isma sejak tadi. Sosok misterius itu mengenakan topi dan
cadar. Matanya melotot bulat saat mengintip kemesraan Hamdi dan Isma. Matanya
merah menyala, terutama saat menatap Hamdi.
Setelah puas mengintip, sosok aneh ini
pergi dengan mengendap. Sambil berjalan cepat, hatinya mengumpat, “Kurang ajar!
Keparat itu berani pacaran dengan istri musuh kami. Keparat itu berani
bermesraan dengan mantan pacar Kang Kasman! Huh! Setan! Dia benar-benar harus
mampus!”
Setelah berada agak jauh dari rumah
Isma, sosok aneh ini membuka topi dan cadarnya. Ternyata dia Hartoyo. Dia belum
pergi sejak tadi mencurigai Hamdi. Dia hanya bersembunyi di sekitar 50 meter dari rumah Isma.
Kini ia menghampiri motornya yang ia taruh di dekat pohon dan tiang listrik.
Lelaki yang tampangnya sudah terlihat kejam ini langsung menelpon Kasman,
kakaknya, lalu melaporkan segala yang ia lihat. Kasman yang wajahnya belum bisa
digambarkan, hanya kulit dahi dan pipinya yang berkerut, geram bukan main.
Sosok aneh yang kini berada di ruangan gelap ini mengumpat, “Kurang ajar! Siapa
lagi Hamdi itu!? berani-beraninya mengajak Isma selingkuh! Huhh! dia
benar-benar harus kulumat!”
“Dia pasti mampus Kang!” sahut Toyo,
“Dan aku yang akan memakannya! Lihat saja nanti atau besok! Grrrrh! Soalnya aku
juga sudah sebal banget sama dia! Huhh! Dia dan Isma urusanku Kang! Kamu tetap
konsentrasi saja pada Kandar.”
“Ya sudah kalau begitu! Segera cari kesempatan
untuk membereskan Hamdi!”
“Beres Kang!”
Setelah Toyo menutup telpon, Kasman
mengomel sendirian di kamar gelapnya. Wajah lelaki aneh ini belum bisa dilihat.
Hanya sosoknya yang sekilas bisa digambarkan. Sosoknya tinggi–besar dan tegap.
Setelah mondar-mandir ke sana-sini, ia berdiri di samping meja, lalu
mengacungkan tinjunya sambil mengucap:
“Iskandar brengsek! Sebentar lagi kamu akan menderita panjang! Hah haa! Dan
kamu Hamdi! Keparat baru yang sudah berani mengganggu urusanku. Kalau kamu
masih berani menyelingkuhi Isma, akan kubuat nasibmu seperti ini (meremas gelas
di tangan kanannya)! Nasibmu bisa seburuk Kandar…bahkan bisa kubuat lebih
buruk! Camkan itu, bedebah!”
Kemarahan lelaki seram ini mencapai
puncak. Tenaganya juga luar biasa, sanggup memecah gelas dengan sekali remas.
Siapakah dia sebenarnya? Kenapa dia sangat membenci Iskandar? Bahkan sekarang
dia juga membenci Hamdi yang diam-diam menjalin asmara dengan istri musuhnya.
Benarkah pria alim yang sekarang imannya sedang down itu akan berurusan dengan kakak Toyo ini? Kalau benar, berarti Hamdi
harus waspada, sebab sosok misterius ini tampaknya tangguh.
Setelah pertemuan siang itu, Hamdi dan
Isma berniat untuk tidak ketemu dulu. Karena bulan suci Ramadhan tinggal dua
minggu kurang sedikit, pasangan kekasih ini berniat untuk libur pacaran dulu.
Walaupun sekarang ini Hamdi dan Isma sudah terjerat dalam pergaulan bebas,
mereka masih tetap punya prinsip terhadap agama. Mereka wajib menghormati bulan
suci Ramadhan. Besok setelah Ramadhan baru mereka pacaran lagi. Demikianlah
keadaan Hamdi sekarang. Ia benar-benar sedang jauh dari Allah. Ia semakin tidak
menyadari dengan kabut kemaksiatan yang semakin tebal menutup hatinya. Ia tidak
menyadari dengan resiko besar yang akan ia hadapi kelak. Hingga detik ini Hamdi
masih enjoy saja dengan apa yang
sudah ia lakukan bersama Isma.
* *
* * *
Singkat cerita, Ramadhan 1428 Hijriyah
telah berakhir di pertengahan bulan Oktober 2007. Hamdi dan Isma kembali memadu
kasih. Hamdi kembali mendatangi Isma
dengan sembunyi-sembunyi. Untuk yang ketiga kalinya Hamdi mendapat kesempatan
emas untuk bermesraan dengan Isma. Di bulan Syawal ini hubungan cinta mereka
semakin kuat. Maklum saja, sudah sebulan lebih sedikit mereka tidak
ketemu-ketemuan, jadi wajar kalau mereka rindu. Hal itulah yang membuat pacaran
mereka terasa semakin hangat.
Namun beberapa hari kemudian, Isma
merasa kalau pacaran di rumahnya itu semakin hari semakin tidak aman. Setelah
berunding, Isma dan kekasih gelapnya sepakat untuk ketemu di suatu tempat. Isma
akan diantar Murni dengan motor bebeknya, sedangkan Hamdi akan menunggu di
tempat tersebut. Begitulah rencana mereka. Sebuah rencana yang dianggap lebih
baik dari sebelumnya, namun sebenarnya tetap mengandung resiko besar, bahkan
mungkin bisa lebih besar.
Lantas apa yang membuat Isma merasa
tidak aman bermesraan dengan Hamdi di rumahnya? Benarkah Kandar sudah mencium
perselingkuhannya itu? atau mungkin karena akhir-akhir ini Kandar menjadi
sering di rumah? Jawabnya: Tidak, bukan karena itu. Isma merasa tidak aman
karena melihat Toyo yang selalu menampakkan sikap tidak ramah. Sudah
potongannya seram, kalau ketemu Isma jarang tersenyum. Toyo yang wajahnya sangar itu cukup sering memelototi Isma.
Toyo juga sering bertanya, “Nanti rumah kosong tidak? Mbak Is atau Murni mau
pergi tidak? Kalau rumah sering kosong, nanti biar saya yang jaga. Nanti atau
besok saya mau minta Bapak agar jam jaga saya di toko dikurangi. Gimana? ”
Mendengar pertanyaan itu, Isma
menyahut dengan agak gugup, “Tidak usah Yo, kamu tetap ikut Mas Kandar saja.
Kamu tidak perlu ikut repot memikirkan rumah, memikirkan aku atau Murni. Kami
tidak apa-apa kok. Cukup kami yang memikirkan segala aktivitas rumah. Lagipula,
pekerjaan utamaku di rumah, jadi aku yang harus lebih banyak di rumah. …..Kamu
cukup membantu yang berat-berat saja. Itupun kalau lagi ada. Ehmm (tersenyum
dibuat-buat)..makasih banyak untuk perhatianmu.”
Mendengar jawaban itu, Toyo tersenyum
sinis, lalu bergumam, “Supaya kamu bisa terus berduaan dengan lelaki sok alim
itu. huhh! Aku belum punya kesempatan untuk membongkar perselingkuhanmu. Yahh…aku
memang harus sabar dulu. Besok kalau sudah saatnya, kebusukanmu itu akan
kulaporkan ke suamimu yang goblog itu! hah ha haa!”
Selain itu, Isma juga pernah ditanya
Hartoyo tentang Hamdi. Tentu saja Isma tersentak, namun sedetik kemudian ia
langsung berusaha bersikap tenang. Walaupun pertanyaan itu hanya sesekali diajukan
Toyo, Isma jelas sudah cemas bukan main. Isma langsung berpikir, jangan-jangan
Toyo sudah mengetahui tali kasihnya dengan Hamdi yang semakin waktu semakin
kuat. Isma langsung melaporkan kekuatirannya itu pada Murni, namun gadis manis
nan lugu itu langsung membantah. Dengan tenangnya Murni meyakinkan Isma kalau
hal itu tidak atau belum terjadi. Murni hanya berpesan, asal Isma dan Hamdi
bisa terus berhati-hati, hubungan mereka tidak akan diketahui siapapun, kecuali
kalau Isma sendiri yang membocorkan. Dan ia sudah membocorkannya pada dua orang
yang sangat dipercayainya. Darti dan Endah.
Mendengar penjelasan Murni yang sangat
meyakinkan itu, Isma lega bukan main. Apalagi ia juga percaya sepenuhnya pada
Murni. Isma sudah mempercayai kesetiaan Murni selama ini. Isma juga yakin kalau
Murni tidak mungkin berkhianat. Namun kalau mau jujur, sebenarnya hati terdalam
Isma agak meragukan pendapat Murni itu. Walaupun percaya penuh pada Murni,
hatinya yang terdalam tetap selalu mengatakan, jangan-jangan Toyo sudah tahu
hubungannya dengan Hamdi. Mungkin waktu ia dan Hamdi bermesraan, tanpa sengaja
Toyo memergoki mereka.
Beberapa hari kemudian, Hamdi dan Isma
berhasil melaksanakan rencana mereka. Untuk yang kedua kalinya Murni mengantar
Isma menemui Hamdi di tempat yang telah mereka rencanakan. Jika mau pergi
menemui sang kekasih, Isma selalu pamit mau ke pasar, mau arisan, atau mau ke
rumah temannya yang juga hobi masak. Untuk sejauh ini Kandar belum curiga
sedikitpun, jadi ia selalu memberi ijin istrinya dengan mudah. Kandar yang
super sibuk itu belum tahu kalau istrinya yang kelihatannya setia itu sudah
berbuat serong.
Siang itu Murni kembali mengantar
Isma menemui Hamdi. Murni membonceng Isma dengan motor bebek Suzuki. Sebelum sampai
ke tempat tujuan, Murni diminta Isma untuk berhenti sejenak di warung kecil
atau kios di pinggir jalan. Di depan kios itu ada warung angkringan, atau lebih
terkenal dengan sebutan warung kowboy. Tanpa sepengetahuan Isma dan Murni, ada
sosok yang mengamati mereka dengan tatapan tajam. Yah, siapa lagi dia kalau
bukan Hartoyo. Ia terkejut melihat Isma dan Murni ada di situ.
“Mau ke mana mereka?” gumam Toyo yang
menghentikan makannya. Ketika Isma dan
Murni mau jalan lagi, Toyo tersentak. “Hahh! Mungkin mereka mau ke tempat
khusus, tempat rahasia. …..Hahh! Jangan-jangan…mereka mau…mau menemui… ahh!
sebaiknya kuikuti saja!”
Toyo langsung meloncat ke motornya,
lalu menyalakan mesinnya. Sedetik kemudian Toyo sudah membuntuti Murni dan Isma
yang berjalan cukup cepat. Helm cakilnya membuat wajahnya tidak mudah dikenal.
Beberapa detik kemudian, Toyo terhambat lampu merah. Begitu lampu hijau, Toyo
melihat mangsanya sudah semakin jauh. Toyo langsung melejitkan motornya dengan
kecepatan tinggi. Keadaan jalan yang cukup ramai itu membuat Toyo agak
kesulitan untuk berjalan cepat.
“Busyet! Gadis desa itu ternyata juga
pintar kebut-kebutan. Huhh! Ayo cepat! Jangan sampai kehilangan jejak dua
kuntilanak itu!”
Setelah bersusah payah mengatasi
keramaian jalan, akhirnya Toyo berhasil mendapat posisi nyaman. Kini Toyo masih
terus mengikuti Murni yang membonceng Isma. Beberapa menit kemudian Murni dan
Isma tiba di tempat sepi. Setelah turun dari motor, mereka masuk ke jalan
setapak yang berada di semak belukar lebat dan rerumputan tinggi. Toyo yang
juga sudah menghentikan mesin motornya, menggelengkan kepala.
“Ngapain
juga mereka sampai sini?! Huhh! Benar-benar sudah gila! …Tapi sebaiknya tetap
kuikuti. Siapa tahu, nanti aku bisa dapat sesuatu.”
Toyo menyembunyikan motornya di semak
belukar lebat yang jaraknya dengan motor Isma terpaut sekitar 12 meter.
Selanjutnya, Toyo mengenakan topi dan cadar. Karena didorong oleh rasa ingin
tahu yang kuat, Toyo langsung menyusul Isma dan Murni dengan berjalan
mengendap. Beberapa langkah kemudian Toyo tersentak. Ia melihat Murni dan Isma
menemui Hamdi di sebuah gardu atau pos kamling reot, pos kamling kecil yang
sebagian besar terbuat dari kayu.
“Nanti dijemput jam berapa Mbak?”
Tanya Murni manja. Isma yang sudah duduk di samping Hamdi, menyahut, “Sore saja
ya? Jam empatan. Atau nanti ku-SMS sajalah.”
“Itu lebih baik,” sahut Hamdi. Sedetik
kemudian tangan kanannya memeluk kedua bahu Isma, lalu berkata, “Murni,
kuucapkan terima kasih banyak sekali, kamu sudah bersedia mengantar Tuan
Putrimu ini.”
Murni tersenyum manis, “Kalau Mas
Hamdi bisa membahagiakan Mbak Isma, Murni ikut bahagia sekali.”
“Insya Allah. Bunga hatiku ini akan kubahagiakan.
Betul tidak Say (membelai dagu Isma)?”
Isma hanya menjawab dengan senyum
manisnya yang semakin lama semakin menawan. Setelah Murni meninggalkan tempat
itu, Hamdi dan Isma kembali bermesraan. Hamdi yang terlihat agak sedih karena
habis disemprot ibunya, langsung dihibur oleh bidadarinya. Sungguh ajaib
kata-kata dan sikap sang kekasih. Kegundahan Hamdi langsung musnah oleh suara
lembut dan senyum manis Isma yang lebih menawan dari pelangi. Kelembutan Isma
benar-benar menghangatkan jiwa Hamdi yang kedinginan. Kelembutan Isma
benar-benar memberi kesejukan di hati Hamdi yang gersang, laksana salju
menyiram bumi.
Tanpa sepengetahuan mereka yang
sudah mabuk kepalang, ada sepasang mata tajam yang terus mengamati segala aksi
mereka dengan cermat. Jarak tempat Toyo bersembunyi dengan tempat Hamdi terpaut
sekitar tujuh meter. Jarak yang sebenarnya cukup dekat. Namun karena Toyo
pandai bersembunyi, juga karena yang diintip sedang dibuai kesenangan nafsu,
kehadiran pria bertubuh padat ini seolah tidak ada. Bibirnya cengar-cengir
melihat Hamdi dan Isma bercengkerama. Dengan wajah penuh bara emosi, ia
bergumam,
“Kemarin..waktu kupergoki di rumah…aku
masih belum yakin dengan apa yang kulihat. Tapi sekarang…grrhhh (mengangkat
kepalan kanannya)! Bukan hanya aku yang seperti disengat listrik bertegangan
tinggi. Tikus, jangkrik, semut dan cacing di tempat ini pun merasa mual melihat
perselingkuhan mereka. …Isma…huhh! juga kamu, keparat sok suci! Kelihatannya
sholeh, pengurus masjid, ternyata hobi maksiat juga. Hah ha haa! Baiklah kalau
begitu. Semua ini bisa kujadikan senjata andalan untuk memusnahkan kalian. Dengarkan
ancamanku ini, orang-orang tolol! …Dan kamu, Iskandar goblog! Sebentar lagi,
semua harta di rumahmu akan kukeruk habis! Hua ha haa!”
Toyo sudah menebarkan ancamannya yang
mengerikan. Benarkah ia akan menghancurkan rumah tangga Iskandar yang saat ini
memang sudah amburadul? Benarkah Toyo juga akan memanfaatkan perselingkuhan
Isma untuk melumat Iskandar? Beberapa hari kemudian, tepatnya di siang hari
yang panas, rumah Kandar didatangi empat pria kekar yang ternyata bawahannya
Toyo. Empat pria itu langsung masuk ke rumah, kemudian mengambil barang-barang
berharga yang kebetulan ada di situ. Isma yang terkejut bukan main, spontan
saja berteriak, ‘Maliiing!!!’ Namun teriakannya itu terpotong oleh bentakan
Toyo. Isma terkejut melihat Toyo yang masuk dari ruang belakang, ruang menuju
kebun dan dapur. Yang lebih mengejutkan, Toyo menyandera Murni. Golok di tangan
kanan Toyo siap menebas leher Murni. Jarak leher Murni dengan golok hanya
terpaut 3 cm. Murni menangis ketakutan.
Isma memelototi Toyo yang mau
menganiaya Murni, lalu membentak, “Toyo! Apa-apaan ini!? Apa yang sudah kamu
lakukan?! Siapa mereka (menunjuk empat pria di hadapannya)?!”
Toyo tersenyum mengejek. Sedetik kemudian
ia membentak, “Perempuan jalang! Apa kamu sudah benar-benar lupa sama Kasman
Hendratmo?!”
Isma tersentak. “Kas..Kasman? …Kasman
Hendratmo? …Kenapa kamu tanyakan dia ke aku?! Dan bagaimana kamu bisa tahu
Kasman Hendratmo?!”
Salah satu dari kawan Toyo berkata, “Kasman
Hendratmo itu mantan pacarmu kan?”
Ucapan itu semakin menggetarkan
jantung Isma. Hening beberapa detik. Isma yang semakin terlongong-longong, kembali
memelototi Toyo, lalu bertanya, “Siapa?…Siapa kamu sebenarnya? …Kamu kok bisa
tahu semuanya?! Haa?! Apa hubunganmu dengan Kasman?”
Toyo tersenyum mengejek, lalu
menjelaskan semuanya. Isma yang semakin lemas, menggelengkan kepala, lalu
melangkah mundur dengan perlahan. Ia berkata, “Dari awal aku sudah menduga. Oohh.. …Pantas..wajahmu
sangat mirip Kasman. Pantas juga…sejak pertama lihat kamu, aku selalu merasa
tidak nyaman.”
“Jelas! Itu karena aku mau menghancurkan kehidupan rumah tanggamu! Kamu sudah berani menyakiti kakakku!”
Isma menggelengkan kepala. “Aku tidak
pernah menyakiti kakakmu. Aku memang tidak pernah mencintainya, jadi sudah
bagus dia kuanggap kakakku.”
“Cukup! Tidak usah cerewet! Nanti
pembantu setiamu ini bisa celaka! Sekarang serahkan seluruh hartamu!”
“Hartaku?..ahh..aku tidak punya harta
apapun.”
“Omong kosong! Istrinya orang kaya kok
tidak punya uang! Huhh! Jangan membuang waktuku! Cepat serahkan semua uangmu!”
Isma yang semakin ketakutan, menyahut,
“Aku tidak punya harta apapun, kecuali peralatan masak di dapur, dan alat-alat
untuk membuat kue.”
“Tidak mungkin! Suamimu pasti memberi
kamu uang saku! Dan aku yakin..jumlahnya pasti cukup banyak. Iya kan?!”
Isma menggelengkan kepala. “Demi Allah
Yo, Mas Kandar yang kikir itu tidak pernah memberiku uang banyak. Dia hanya
memberi uang untuk kebutuhan pokok, untuk belanja, membayar listrik, dan lain-lain.
Memang sih, kalau roti boluku lagi laku keras, uangku jadi banyak. Tapi sudah
sebulan lebih aku tidak membuat roti.”
Hening beberapa detik. Toyo yang masih
mencekik Murni, memelototi Isma dan empat anak buahnya. Sedetik kemudian ia
membentak lagi, “Ya sudah! Sekarang serahkan harta benda apapun yang kamu
miliki! Serahkanlah dengan baik-baik. Kalau tidak, empat orangku ini bisa kasar
sama kamu, juga sama gadis dusun goblog ini! Huh! sekarang cepat
serahkan! Biar aku bisa segera pergi!”
“Jangan Mbak!” seru Murni yang menangis
ketakutan. “Sekarang Mbak cepat keluar! Minta tolong tetangga! Jangan pedulikan
aku lagi!
cepat!”
“Diam kamu!” bentak Toyo sambil
menarik rambut Murni bagian belakang. “Setan cilik! Huhh (kembali memelototi
Isma)! Kenapa kamu masih bengong!? Cepat serahkan harta apapun yang kamu
miliki! Cepat!”
“Murniii..!” seru Isma yang matanya
berkaca-kaca. “Toyo! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu dan kakakmu hanya
menginginkan aku! Jadi jangan melibatkan Murni! Kumohon..jangan sakiti Murni!
Lepaskan dia!”
“Makanya! Sekarang cepat serahkan
hartamu! Huhh! Atau kamu ingin empat orangku ini menggeledah kamarmu?!”
“Silahkan geledah kamarku. Kalian tidak
akan menemukan apa-apa.”
“Grrrh!!..lantas apa yang kamu
miliki?!”
“Ini dan ini (menunjukkan kalung dan
cincin emas di jari manis kanan). Silahkan ambil semua.”
Isma melepas cincin dan kalung
emasnya, lalu menaruhnya di meja makan yang berada di dekat Toyo dan Murni. Toyo tersenyum
mengejek, “Bagus. …Tapi ini masih kurang.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi,
“Sekarang uang. …Serahkan semua uang yang kamu miliki.”
“Tidak mungkin kamu tidak punya uang
sedikit pun!” sambung salah satu anak buah Toyo. Isma pun mengeluarkan semua
uang simpanannya di dompet dan lemari. Semuanya tujuh ratus ribu. Isma
menaruhnya di samping cincin dan kalungnya. Toyo masih terus berpikir. Benda
berharga apalagi yang bisa ia bawa kabur. Beberapa detik kemudian, salah satu
anak buah Toyo menyarankan sesuatu. Ia mendekati Toyo, kemudian membisikkan
sesuatu. Sedetik kemudian Toyo tertawa binal.
Bagus (menepuk bahu anak buahnya)!
Bagus sekali! Hua ha haa! Benar juga ya? Hahh! Kenapa tidak terpikir dari tadi?!”
“Itu karena tadi Boss masih terlalu
emosi.”
“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Isma
yang semakin ketakutan. Ia benar-benar mencium gelagat buruk. Setelah tertawa,
Toyo menjelaskan keinginannya. Ia ingin mengambil sebagian besar dari benda
berharga di rumah ini. Ia ingin mengambil mobil Kandar yang lama. Suzuki Escudo
biru yang sekarang ada di garasi. Itulah mobil Kandar sebelum ia memiliki
Taruna merah. Mendengar permintaan itu, Murni kembali menjerit dan meronta. Ia
meminta agar Isma jangan menuruti perintah Toyo. Isma yang lebih mengutamakan keselamatan Tari,
akhirnya pasrah saja melihat manusia kejam di hadapannya itu berbuat seenaknya.
Toyo menyuruh anak buahnya mengambil
kontak mobil Escudo, juga semua benda berharga di rumah Kandar. Setelah
semuanya dimasukkan ke mobil, empat pria kekar itu diminta Toyo untuk pergi
duluan. Mereka pun pergi dengan mobil curian. Ketika mereka mau keluar dari
gang atau blok rumah Isma, mereka berpapasan dengan Hamdi yang menunggangi
sepeda. Hamdi terkejut melihat mobil Escudo biru tua itu. Hamdi menghentikan
sepedanya, lalu menatap tajam mobil tersebut.
“Kalau tidak salah..itu mobilnya Pak
Kandar. Lalu siapa orang-orang yang memakai mobil itu? Ada perlu apa mereka di
rumah Isma?”
Sekarang balik ke rumah Isma,
dimana keadaannya masih sangat genting. Toyo yang masih menyandera Murni,
tersenyum mengejek. “Sebenarnya masih ada yang ingin kulakukan. Itu karena aku
belum puas. Tapi untuk sementara ini, cukup sampai sini dulu. Hah haa!”
Isma menggelengkan kepala. “Toyo…kamu
dan kakakmu sama-sama bejat. Kalian berdua memang manusia setan!”
Toyo tertawa mengejek. Isma bicara
lagi, “Sekarang kumohon dengan amat sangat. Lepaskan Murni.”
“Tidak!”
“Tapi kamu sudah janji!”
“Iya, tapi sebentar lagi! biar kalian tidak
macam-macam!”
“Kamu sudah dapat seluruh hartaku.
Sekarang apalagi maumu?!”
“Mauku?...ehmm…apa ya?”
“Ingin menyakiti suamiku?”
Toyo tersenyum. “Itu juga bisa..tapi
besok saja. Yang penting sekarang aku sudah berhasil mengambil sebagian besar
kenikmatannya. Ha ha haa! Manusia sombong seperti dia, apa yang paling dia
cintai kalau bukan harta bendanya. Betul tidak?! Ha haa!”
“Ismaaa..!” seru Hamdi yang berdiri di
depan pintu ruang tamu. Suaranya membuat tiga orang ini tersentak. Toyo
melotot, “Siapa itu?!”
“Hamdi.”
“Ooo…si brengsek itu. Kekasih gelapmu. …Huhh!
Berani benar ganggu aku. Mau cari mati ya?”
Isma melotot, lalu bergumam, “Gawat
kalau Hamdi sampai masuk. Nanti dia bisa celaka. Waduh, gimana ini?”
“Sayang..kamu lagi apa?” ujar Hamdi
lagi. Hening beberapa saat. Tiga orang ini hanya bengong. Mereka tidak tahu
harus berbuat apa. Toyo yang juga agak cemas, berkata lirih, “Kalian tetap di
tempat! Jangan macam-macam. Jangan membangkang perintahku sedikit pun. Itu
kalau kalian tidak ingin kubinasakan pagi ini!”
Ismaaa…” seru Hamdi lagi. “Kamu kok
tidak muncul-muncul sih? Lagi sibuk banget ya?”
Kehadiran Hamdi itu membuat Toyo semakin cemas. Ia menjadi lengah.
Akibatnya, pisau besar di tangan kanannya ia turunkan dari leher Murni, dan itu
sama sekali tidak ia sadari. Murni yang melihat secuil kesempatan emas,
langsung memanfaatkannya. Ia gigit tangan kiri Toyo yang mencekik lehernya.
Toyo menjerit. Murni pun lepas dari cengkeramannya. Gadis ramping itu langsung
meleset ke ruang tamu sambil berteriak, “Mas Hamdii! Toloong!!”
Isma yang melihat Toyo masih
mengeluhkan tangan kirinya, langsung bertindak cepat. Ia ambil sapu yang
kebetulan berada di dekatnya, lalu ia pukulkan ke kepala Toyo yang sebelah
kiri. Pukulan sepenuh tenaga itu kembali membuat Toyo berteriak kesakitan. Toyo
terkena dua serangan beruntun dari dua wanita yang sepintas terlihat lemah.
Melihat Toyo sempoyongan, Isma langsung menyusul Murni yang hendak membukakan
pintu. Hamdi yang masih berada di serambi, terkejut mendengar teriakan dua
perempuan. Setelah pintu terbuka, Hamdi melihat Murni dan Isma seperti dikejar
setan neraka. Hamdi melotot.
“Lho, ada apa ini?!”
“Jangan masuk Mas!” seru Isma. Murni
menyambung, “Iya Mas, nanti Mas Hamdi bisa celaka!”
“Memang di dalam ada apa?! Haa?! Kenapa
orang-orang tadi memakai mobilmu? Siapa mereka?!”
Isma yang mau menangis, langsung
menceritakan semuanya. Setelah bercerita, Isma ingin agar mereka bertiga lari,
lalu minta tolong para tetangga. Namun Hamdi menolak ajakan itu. Darahnya
justru terbakar begitu mendengar ulah Hartoyo. Dengan tubuh bergetar keras
menahan amarah, Hamdi berkata, “Jadi sekarang keparat itu ada di dalam?!
...Grrrh! kurang ajar banget dia! ...Ya sudah, kalian tidak usah takut
berlebihan. Sekarang kalian di sini. Brengsek itu akan kuhadapi.”
“Jangan Mas!” seru Isma sambil
mencengkeram lengan kiri sang kekasih. “Dia kuat banget!”
“Iya Mas!” sambung Murni. “Selain
kuat, dia juga bawa senjata.”
“Aku tidak takut!” bentak Hamdi dengan
yakinnya. “Dia sudah berani menyakiti kalian, terutama kamu Say. Huhh! Dia
harus kuberi pelajaran!”
“Tapi Mas (masih mencengkeram lengan
kiri Hamdi)..”
Hamdi yang tetap terlihat tenang,
berkata, “Insya Allah, masih bisa
kuatasi. Percayalah. Kampret itu harus dibereskan sekarang, biar nanti cepat
selesai.”
Sedetik kemudian Hamdi masuk ke rumah Isma
dengan langkah pelan. Ia berjalan ke ruang keluarga plus ruang makan. Semua itu
ia lakukan dengan super hati-hati. Ia harus siap menghadapi Toyo yang akan
menyerangnya sewaktu-waktu, atau menyerangnya dengan membokong. Isma yang cemas
bukan main, akhirnya memutuskan untuk mengikuti kekasihnya. Murni pun
menguntilnya dengan langkah teramat pelan. Setelah berada di ruang keluarga,
Hamdi langsung siap tempur. Ia langsung pasang kuda-kuda, namun Toyo belum terlihat.
Ia berjalan ke kanan-kiri dengan pelan, berusaha mencari tempat yang aman untuk
menghadapi lawannya yang belum muncul.
“Mana dia?” gumam Hamdi dengan
kewaspadaan penuh. Sesaat kemudian, terdengar suara berat yang berkata, “Jangan
takut Bung, aku bukan pengecut.“
Hamdi menoleh ke samping kanan.
Dilihatnya Toyo yang berdiri tegak di pintu menuju dapur dan halaman belakang.
Tangan kanannya masih menggenggam parang yang tadi ia pakai untuk menyandera
Murni. Sambil tersenyum mengejek, Toyo berkata, “Aku paling benci berbuat
licik. Aku paling benci menyerang dari belakang. …Aku ini satria sejati, jadi
aku selalu menghadapi semua lawanku dengan jantan. …Huhh! Padahal kalau mau,
beberapa detik tadi aku bisa menyerangmu dari belakang. Tapi aku bukan
pecundang. Aku satria sejati.”
Hamdi ganti tersenyum mengejek. “Kalau
memang satria sejati, seharusnya kamu mau mengakui kesalahanmu waktu jum’atan
kemarin. Kamu mau mengakui kesalahanmu dengan lapang dada. Kalau memang satria
sejati, seharusnya kamu tidak berbuat serendah ini!”
“Tutup mulutmu!” bentak Toyo dengan
mata melotot. Amarahnya mulai meledak. Lanjutnya, “Sejak Jumat itu…aku
benar-benar ingin menghancurkan kamu! Dan sekaranglah saatnya (mengacungkan
kepalan kanannya)! Ayo kita duel yang jantan!”
Toyo menantang Hamdi duel di halaman
belakang. Hamdi mengangguk mantap. “Baik. Siapa takut?!”
Sesaat kemudian Hamdi dan Toyo sudah berhadapan.
Isma dan Murni yang baru sampai di halaman belakang, terkejut melihat dua pria
kekar ini siap fight. Toyo
melemparkan goloknya di rerumputan, tanda ia akan mengajak duel dengan tangan
kosong. Isma yang ketakutan, berteriak, “Mas Hamdiii!!”
“Tenang, tidak apa-apa!” sahut Hamdi
sambil mengacungkan tapak kirinya ke Isma. “Brengsek ini harus dibereskan
sekarang, biar dia tidak ganggu kamu lagi.”
“Kalau ngomong jangan terbalik!” sahut Toyo.
“Siapa yang harus dibereskan? Aku atau kamu!?”
Hamdi tersenyum mengejek. ”Kamu sudah
berani menyakiti kekasihku..jadi seberat apapun resikonya, kamu harus bisa
kubereskan.”
Toyo mengajukan sebuah syarat, dan ia
berjanji akan memenuhi syaratnya itu. Jika ia takluk dalam duel ini, ia
berjanji untuk tidak mengganggu lagi kehidupan rumah tangga Isma-Iskandar.
Namun jika Hamdi gagal menaklukkan Toyo, lelaki kejam ini akan menjadi teror
seumur hidup bagi Isma dan Kandar, bahkan juga teror untuk Hamdi, orang yang
sudah dianggapnya sangat lancang, lancang karena sudah berani mencampuri
urusannya dengan Iskandar. Mendengar syarat itu, Hamdi mengangguk mantap.
“Baik…kupegang syaratmu.”
“Bagus (mengangguk). Sekarang mari
kita duel yang marak!”
Toyo mendekati Hamdi dengan perlahan.
Hamdi melangkah mundur. Toyo menghadapkan tubuhnya ke samping kiri. Sedetik kemudian,
kaki kanannya melepas tendangan samping ke Hamdi, namun Hamdi sudah siaga. Ia
melangkah mundur, sehingga tendangan maut itu hanya menerpa angin. Gagal pada
serangan pertama, Toyo langsung mengirim serangan kedua. Kaki kanannya meng-gajul Hamdi, namun Hamdi bisa
menangkisnya dengan kedua tapaknya. Toyo kembali melepas tendangan ketiga
dengan kaki kanan, namun sekali lagi, Hamdi masih bisa mengatasi tendangan maut
itu.
Melihat pertahanan muka Toyo terbuka,
Hamdi langsung memanfaatkannya dengan menghujamkan bogem kanannya, namun masih
belum berhasil. Tangan kiri Toyo mengeblok
kepalan penuh tenaga itu. Saat itulah, Toyo melihat pertahanan dada dan muka
Hamdi terbuka. Spontan saja Toyo melontarkan tinju kanannya, dan tepat mengenai
pipi kiri Hamdi yang dekat mulut. Hamdi meringis sambil melangkah mundur.
Berhasil! Toyo berhasil membuka pertahanan Hamdi yang kuat.
Sedetik kemudian, jual beli pukulan
dan tendangan kembali berlangsung sengit. Dua pukulan Toyo kembali menghujam
kepala Hamdi. Kali ini hidungnya yang terkena tinju kanan-kiri Toyo. Sedetik
kemudian hidung Hamdi berdarah. Untuk gebrakan pertama ini Toyo bisa dikatakan
unggul. Isma dan Murni semakin cemas melihat Hamdi terdesak. Walaupun postur
Hamdi lebih besar dan lebih tinggi dari Toyo yang agak pendek, hal itu tidak
menjamin Hamdi bisa mengalahkan lawannya dengan mudah. Di gebrakan pertama ini
sudah terbukti. Toyo yang lebih kecil namun lebih kekar itu bisa membuat Hamdi
kelabakan.
Sesaat kemudian duel sengit kembali
berlangsung. Hamdi yang begitu semangat untuk membereskan Toyo, menyerang
dengan sekuat tenaga. Beberapa gebrakan kemudian, Hamdi berhasil mematahkan
jurus-jurus Toyo yang cepat dan mematikan. Toyo yang tampaknya menguasai ilmu
bela diri tingkat tinggi, mulai kewalahan oleh serangan beruntun Hamdi.
Beberapa detik kemudian Hamdi berhasil menjebol pertahanan Toyo yang sangat
kuat. Tendangan kaki kanannya menghujam perut Toyo, disusul pukulan tangan
kirinya yang mendarat di dada kanan Toyo.
Pukulan dan tendangan geledek itu
membuat Toyo terhuyung-huyung. Ia kembali melontarkan kepalan kanannya, namun
Hamdi berhasil menangkisnya dengan tangan kirinya. Begitu melihat pertahanan
kepala Toyo terbuka, tangan kanan-kiri Hamdi langsung menamparnya sekuat tenaga.
Toyo yang belum roboh itu kembali menyerang, namun gerakannya melambat. Hamdi
yang mengetahui Toyo sudah mulai loyo, langsung memanfaatkannya. Dua bogem
kanannya mendarat di muka Toyo. Sedetik kemudian pria berotot ini roboh dengan
hidung berdarah. Bibirnya yang besar juga berdarah sedikit. Darah yang mengucur
dari hidungnya lebih banyak dari darah yang keluar dari hidung Hamdi tadi.
Kini Toyo duduk agak berbaring di
rerumputan. Ia tidak sanggup bangkit lagi. Hamdi yang ngos-ngosan, berkata, “Sekarang
kamu sudah takluk..jadi kamu harus menepati janjimu tadi.”
Toyo yang nafasnya terputus-putus,
memelototi Hamdi dengan kebencian sepenuh hatinya. Hamdi membalikkan tubuhnya,
kemudian meninggalkan Toyo dengan langkah pelan. Toyo yang masih belum bisa
menerima kekalahan, menggeram. Ia melirik parangnya yang tergeletak di tanah.
Jaraknya dengan parang itu terpaut sekitar dua meter. Setelah mengatur nafas,
Toyo bangkit lagi, kemudian mengambil parang tersebut. Ia kembali menyerang
Hamdi yang sudah membelakanginya. Murni yang pertama melihat itu, berteriak
lantang, “Mas Hamdi! Awas belakang!!”
Hamdi menoleh ke belakang,
dan…dilihatnya sebuah parang yang hendak membabatnya dengan sepenuh tenaga.
Hamdi yang terkejut ini hanya bisa bergerak secara refleks, bergerak menuruti
nalurinya. Ia berhasil menghindari serangan golok maut itu dengan melangkah
mundur, namun tangan kirinya yang di bawah siku tertebas. Sedetik kemudian
darah mengucur di tangan kirinya. Ia masih beruntung, tebasan golok itu tidak
begitu telak mengenai tangannya. Ia melangkah mundur sambil memegang tangan
kirinya yang terluka. Sambil meringis menahan sakit, Hamdi berseru,
“Pengecut! Pecundang kelas berat! Yang
seperti ini satria sejati!?”
“Iya! Aku akan merasa jadi satria
kalau sudah berhasil bunuh kamu. Aku akan jadi satria kalau sudah berhasil
membalas dendam kakakku!”
“Dengan cara apa!?” bentak Isma.
“Menghabisi suamiku?! Iya!?”
Toyo yang mengacungkan parangnya ke
Hamdi, ganti memelototi Isma yang berdiri di samping kanannya. Akibatnya, Toyo
menjadi agak lengah, dan itu langsung dimanfaatkan Hamdi dengan mengambil
tongkat kayu yang kebetulan tersandar di tembok. Kini Hamdi menggenggam tongkat
yang panjangnya di atas satu meter. Kini posisi Hamdi dan Toyo kembali
seimbang, sama-sama menggenggam senjata. Melihat mereka mau duel lagi, Isma bergumam;
“Kekasihku ini…Maha Suci Allah.
Ternyata jago berkelahi juga. Oohh…aku benar-benar bahagia bersama
dia..walaupun sebenarnya aku merasa lebih gelisah. Yah, gelisah karena aku
sudah berdosa. Berdosa karena sudah nyeleweng.”
Kini kembali ke duel babak tiga. Duel
dengan senjata. Untuk beberapa detik keduanya tampak seimbang. Berkali-kali
keduanya menyerang dan menangkis serangan lawan. Namun sesaat kemudian
pemenangnya mulai terlihat. Toyo mulai sering melangkah mundur. Ia semakin
kesulitan menahan gebrakan tongkat Hamdi yang beruntun. Hamdi yang bersemangat
menyelesaikan duel, terus menyerang sepenuh tenaga. Beberapa gebrakan kemudian,
tongkat Hamdi berhasil mementalkan parang Toyo. Selanjutnya, Hamdi memukul
perut, paha dan betis Toyo dengan keras. Toyo mengerang keras, kemudian jatuh
berlutut. Ia hendak bangun lagi, namun Hamdi langsung memukul bahu kirinya.
Kini Toyo merangkak di hadapan Hamdi.
Tenaganya sudah habis. Tinggal semangat duel yang masih menggelora. Hamdi yang
melihat Toyo mau bangun lagi, langsung bertindak cepat. Ia tendang dada Toyo
bagian tengah, setelah itu ia todongkan golok ke leher pemiliknya. Hamdi membentak,
“Aku yakin, manusia banyak dosa seperti kamu, pasti belum berani mati. Jadi
kamu jangan melawan lagi!”
Toyo yang sudah tidak berdaya,
akhirnya mengaku kalah dengan satria. Toyo pun meninggalkan Hamdi, Isma dan
Murni. Namun ketika baru sampai di pintu menuju ruang keluarga, Toyo
membalikkan tubuhnya. Ia kembali memelototi Hamdi, Isma dan Murni. Dengan nafas
tersengal-sengal, Toyo berkata, “Kalian jangan gembira dulu. Semua ini belum
berakhir!”
Beberapa jam kemudian rumah Isma
terlihat ramai. Rupanya para tetangga pada menjenguknya, termasuk Darti, Endah
dan Partono, ketua RW Bumi Indah. Beberapa menit kemudian Iskandar dan Sutris
datang. Begitu turun dari mobil, Kandar langsung menghampiri Isma yang
dikerumuni banyak orang. Isma pun menyambut suaminya dengan hangat. Kandar
memeluk dan menciumi istrinya, lalu bertanya, “Sayang, kamu tidak apa-apa?”
Isma yang menangis, menyahut, “Alhamdulillah Mas..aku baik-baik saja.”
“Berkat Mas Hamdi,” sambung Partono.
Hamdi yang tersipu, berkata, “Ini semua hanya kebetulan. Tadi saya disuruh Ibu
mengambil roti, lalu…”
Pak RW memotong, “Seperti biasa..Mas
Hamdi selalu merendah.”
Kandar menatap Hamdi dengan tersenyum,
kemudian ia sentuh bahu Hamdi yang lebar. “Untuk yang ketiga kalinya Pak Imam
kita ini menolong istri saya. …Sekarang apa yang harus saya lakukan untuk
berterima kasih?”
Hamdi tersenyum malu. “Cukup bersyukur
kepada Allah yang Maha Pengasih. Pak Kandar jangan menyebut saya Pak Imam.
Sekarang saya bukan imam lagi.”
“Bukan imam lagi?” Tanya Kandar agak
terkejut. “Memang kenapa?”
“Ehmm..anu (menatap semuanya dengan
tersenyum malu)..ya sudah, tidak usah dibahas lagi.”
Darti yang berdiri di samping Isma,
bergumam, “Memang sudah lama dia tidak jadi imam. Mungkin sudah empat bulanan. Bahkan
nongol di masjid pun tidak pernah. Ahh..aneh sekali. Apa hubungannya dengan
Isma bisa berakibat sebesar ini ya? …Tapi sudahlah. Buat apa kupikirkan terlalu
jauh. Aku juga tidak boleh buruk sangka. Apalagi buruk sangka sama sobat mudaku
ini (menatap Isma). Apapun yang sudah terjadi pada dirinya, Insya Allah, aku tetap akan menjadi
temannya di kala suka maupun duka.”
Endah pun merasa prihatin pada Hamdi
dan Isma. Ia bergumam, “Anakku (menatap Hamdi yang mukanya berkeringat), sudah
sedalam inikah hubungan cintamu dengan Ny. Iskandar? Sampai kamu rela berkorban
sejauh ini. …Oh anakku…kenapa kamu memilih perempuan yang sudah bersuami? Tidak
adakah perempuan lain yang bisa kamu jadikan teman hidupmu yang sah?”
Beberapa jam kemudian, setelah
suasananya tenang, Kandar meminta semua tamunya untuk berkumpul di ruang tamu.
Kandar akan bercerita tentang Kasman, musuh bebuyutannya, juga salah satu saingannya
dalam mendapatkan Isma. Kandar terkejut sekali setelah mengetahui siapa Hartoyo.
Ia berkata, “Saya benar-benar bodoh, tolol! Kok bisa-bisanya saya memasukkan
adik kandung musuh bebuyutan saya ke rumah ini. Huhh!”
“Mas Kandar, semuanya sudah terjadi,”
tutur Darti. “Yang penting Mas Kandar dan Mbak Isma bisa mengambil pelajaran
berharga dari semua kejadian ini.”
Kandar mengangguk. “Bu Darti betul
sekali.”
Endah menyambung, “Mas Kandar harus bersyukur,
yang hilang cuma barang-barang Mas Kandar, bukan nyawanya Mbak Is atau Murni.”
Kandar tersenyum, namun hatinya
mengumpat, “Sialan perempuan ini! harta bendaku yang selangit itu dibilang
‘cuma.’ Huhh! Kamu tidak merasakan kehilangan lebih dari separo harta bendamu.
Huhh! Dasar perempuan bodoh! Tidak tegas. Terlalu baik, terlalu sabar.”
Namun kebalikan dengan Isma. Ia menatap Endah
sambil tersenyum, lalu bergumam, “Senang sekali Mas Hamdi, punya ibu kedua
berhati malaikat.”
Kandar berkata, “Baiklah, sekarang
akan saya ceritakan tentang Kasman.”
Seperti yang sudah dijelaskan di atas,
Kasman dan Isma pernah pacaran, namun hanya empat bulan. Isma yang memutus
hubungan cinta mereka. Alasannya karena sudah tidak cocok. Kasman yang sombong
itu patah hati berat. Ia mengaku kalau cintanya pada Isma sudah sangat serius.
Beberapa saat sebelum Isma memutus hubungan cintanya, Kasman sudah berniat
melamar Isma. Dengan demikian, Kasman benar-benar ingin menikahi Isma, bukan
sekedar untuk dijadikan pacar, dijadikan wanita simpanan, wanita yang bisa
dibanggakan atau dipamer-pamerkan, dan sebagainya. Sebelum Kandar bertemu Isma,
Kasman lebih dulu mengenal Isma. Kasman, lelaki berpostur tinggi sedang dan
tegap. Wajah cukupan, tidak tampan tidak jelek. Usianya sebaya Kandar, hanya
dua tahun lebih muda.
Dulu Kandar dan Kasman bersahabat,
namun setelah memperebutkan Isma, persahabatan mereka yang sudah cukup lama itu
berubah menjadi permusuhan sengit. Ketika Kandar mendengar Kasman mau melamar Isma,
Kandar langsung menyewa sejumlah orang untuk melumat Kasman. Kandar meminta agar
Kasman dibuat setengah mati. Tapi kalau Kasman nekat melawan, ya dihabisi saja.
Kandar yang sejak dulu sudah berduit, sudah berasal dari keluarga elit, mudah
saja menyuruh orang untuk memukuli Kasman.
Malam itu, sekitar jam delapan, dua
hari sebelum Kasman melamar Isma, rumah kontrakannya diserbu delapan pria kekar
yang rata-rata masih muda. Usia mereka sekitar 25-30 tahun. Kasman yang
sebenarnya cukup jago berkelahi, tidak
kuasa menghadapi delapan lelaki berotot yang semuanya jago bela diri.
Kasman remuk. Wajahnya yang tidak jelek
itu menjadi lebih jelek dari simpanse. Karena sudah setengah mati, delapan
pemuda kekar itu membuang Kasman di hutan dekat sungai. Mereka beranggapan,
dengan kondisinya yang lebih lemah dari seekor kucing, besok pagi atau siang,
Kasman pasti sudah mati.
“Masya
Allah..” gumam Hamdi sambil mengelus dada. “Iskandar…kamu tega berbuat
sekejam itu. …Hahh! Pantas saja kalau istrimu tersiksa. Pantas saja kalau dia
tidak pernah bahagia. Pantas saja kalau kamu dibenci banyak orang.”
Iskandar yang wajahnya tampak murung,
berkata, “Melihat kondisinya saat
itu, aku yakin, kemungkinan besar dia sudah mati. …Misalkan dia mendapatkan
dirinya masih selamat, harusnya dia langsung bersyukur kepada Allah. Dan rasa syukur itu bisa dia
wujudkan dengan tobat, memperbaiki hidup, menjadi orang sholeh, dll.”
“Kamu sendiri sudah tobat belum?”
Tanya Darti dengan lisan hatinya. “Kalau sudah, kenapa sampai sekarang kamu
masih suka menyakiti istrimu?”
“Tapi sekarang..” lanjut Kandar, “ada adiknya, atau mungkin juga keturunannya, yang
ingin menghancurkan rumah tanggaku. …Aahh…kenapa masalahnya jadi
serumit ini ya?”
Hening sejenak, lalu Kandar tersenyum,
“Demikianlah ceritanya, ibu-ibu dan bapak-bapak. Sekarang saya sedang
menghadapi saudaranya orang jahat yang sudah lama hilang, bahkan sudah saya anggap musnah
dari muka bumi ini. …Yah..semua yang
kualami ini karena cinta.”
Endah tersenyum. “Cinta memang
segalanya. Cinta memiliki dua sisi, seperti pedang bermata dua. Cinta bisa
membahagiakan manusia, tapi juga bisa membinasakan.”
Setelah hari semakin sore, semua tamu
Kandar memohon diri. Kandar dan Isma sangat berterima kasih atas kepedulian
mereka. Saat Kandar merangkul dan mencium pipi istrinya, Hamdi melirik mereka.
Hatinya seperti ditusuk pedang membara. Namun untunglah, Isma memahami hal itu.
Ia langsung mengajak Hamdi kontak batin. Sambil melirik Hamdi, hatinya berkata,
“Tenanglah kekasihku..bersabarlah. Semua ini hanya untuk menguatkan cinta kita.
Percayalah. Aku hanya mencintaimu. Aku milikmu, kekasihku.”
Hamdi tersenyum lega. Bibir hatinya
menyahut, “Trima kasih Isma. Kamu memang bunga hatiku. Seberat apapun rintangan
yang menghalang, dan seberat apapun resikonya, cintaku padamu takkan berubah.”
“Sama-sama, Mas Hamdiku. Apapun yang
terjadi, aku akan selalu mencintaimu.”
*****
Pagi yang cerah menghampiri bumi.
Sutris pergi bersama Kandar dengan mobil Taruna merah. Ketika mobil besar ini
sampai di sawah dan ladang, tiba-tiba ada lelaki pengendara motor bebek yang
berada di samping kanan Taruna. Lelaki itu ingin mengatakan sesuatu pada Sutris
yang sedang mengemudi. Sutris membuka kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa
yang ingin disampaikan pemuda berhelm standart itu. Rupanya pemuda itu meminta
Kandar berhenti sejenak. Katanya ada perlu penting. Kandar pun meminta Sutris
untuk menghentikan mobilnya.
Setelah berhenti, pemuda itu
menghampiri Kandar yang masih berada di mobil. Pemuda itu mengatakan, ada teman
lama Kandar yang butuh pertolongan. Sekarang temannya Kandar itu ada di gubug
yang berada di sawah. Kandar yang kebingungan, bertanya, “Siapa teman lama saya
itu?!”
“Saya tidak tahu Pak. Katanya teman
kuliah Bapak.”
Kandar dan Sutris saling menatap. Si
pemuda melanjutkan, “Sekarang dia sangat butuh bantuan. Dia sangat ingin ketemu
Pak Kandar, jadi kalau bisa Pak Kandar ke sana sekarang!”
“Baik, baik, saya ke sana sekarang.
Ehmm (menatap Sutris), kamu di sini dulu ya? Kuusahakan tidak lama. Nanti kalau
aku butuh bantuan, kamu langsung kupanggil.”
“Baik Pak.”
“Mari saya antar,” ujar si pemuda. Ia
mengantar Kandar ke gubug di tengah sawah yang tadi ia tunjukkan. Jaraknya
dengan mobil Taruna terpaut sekitar 30 meter. Dengan demikian, Kandar masih
bisa terlihat oleh Sutris yang berada di mobil. Kalau Kandar butuh apa-apa, ia
tinggal memakai isyarat untuk memanggil Sutris. Beberapa saat kemudian, ketika
Kandar dan si pemuda semakin dekat dengan gubug, tiba-tiba muncullah Toyo di
samping Sutris yang duduk menghadap setir. Toyo tersenyum mengejek, “Halo Pak
Sopir?”
“Toyo!” seru Sutris melotot. Toyo tetap
tersenyum “Kenapa? Kaget ya?”
“Kamu..hah! kenapa kamu di sini?”
Toyo masih tersenyum mengejek, namun
sedetik kemudian matanya melotot. “Karena aku ingin menghancurkan kalian!”
Sedetik setelah Toyo berkata begitu,
ia lontarkan bogem kanannya ke muka Sutris yang duduk di jok. Hidung Sutris
langsung berdarah cukup banyak. Ia membentak, “Toyo! Apa-apaan kamu!”
“Tenang Bung, sebentar lagi kamu akan
tidur nyenyak.”
Toyo langsung menyumpel hidung dan mulut Sutris dengan sapu tangan yang sudah
diberi zat penidur. Setelah lebih dari 20 detik, Sutris pingsan di depan setir
mobil. Posisi tidurnya dibuat nyaman oleh Toyo. Melihat Sutris benar-benar
sudah pingsan, Toyo mengelus dahinya sambil tersenyum mengejek,
”Kawanku, kamu di sini saja ya? Tidak usah ke mana-mana. Sekarang akan kubereskan dulu Bossmu.”
”Kawanku, kamu di sini saja ya? Tidak usah ke mana-mana. Sekarang akan kubereskan dulu Bossmu.”
Sementara itu, Kandar yang sudah
sampai di gubug, kebingungan. Ia tidak melihat siapa pun di gubug kecil itu. Ia
menatap si pemuda, “Mana? Katanya ada teman lamaku?!”
Pemuda yang tadi tampak ramah dan
lugu, sekarang terlihat serius. Ia tersenyum mengejek, “Memang ada, tapi tidak
di sini.”
“Tidak di sini (mulai gusar)!? Terus di
mana?!”
Setelah Kandar bertanya begitu, dari
balik gubug itu muncullah seorang lelaki tinggi besar yang memakai jaket hitam.
Ia mendekati Kandar yang masih kebingungan. Kandar belum menyadari kehadiran
sosok besar di belakangnya itu. Kandar yang emosinya mulai meluap, berkata agak
membentak, “Kamu jangan main-main! Siapa teman lamaku itu?!”
“Sebentar lagi Bapak akan tahu.”
Setelah berkata begitu, pria tinggi
besar yang berdiri di belakang Kandar persis, memukul tengkuk Kandar dengan
tangan kanannya. Pukulan maut itu langsung membuat Kandar pingsan. Begitu
sadar, Kandar mendapati dirinya terikat erat di sebuah ranjang kecil. Tak jauh
dari tempat Kandar diikat, tampaklah Sutris yang juga diikat erat di sebuah
kursi. Sutris masih tertidur. Kandar yang masih agak ngantuk, melihat lima pria
yang berdiri tegak di hadapannya. Lima pemuda kekar itu semuanya bertampang sangar. Hanya satu orang yang wajahnya
agak mendingan.
Dengan kedua tangan diikat, Kandar
berseru, “Apa-apaan ini!? di mana aku?! Huhh! Siapa kalian!?”
Pertanyaan Kandar itu langsung
terjawab dengan munculnya pemuda yang tadi mengantarnya ke gubug. Begitu
melihat pemuda itu, amarah Kandar langsung meledak. Ia membentak, “Keparat!
Siapa kamu sebenarnya!? Ha!? Apa maumu!? Kenapa kamu membawa aku ke sini?
Tempat apa ini!? Hahh (menatap Sutris)! Kenapa sopirku juga dibius!?”
“Sebenarnya kami tidak berniat begitu,”
sahut pemuda misterius, “tapi kalau dia tidak dibius, nanti dia bisa kabur,
lalu lapor polisi. Wahh. Nanti urusannya bisa panjang. Betul tidak !?”
“Terus sekarang kamu mau apa!?”
“Kan tadi aku sudah bilang, aku mau
mempertemukan anda dengan teman lama anda.”
“Ya sekarang mana keparat yang mengaku
teman lamaku itu?! mana?!”
“Sebentar lagi kamu akan ketemu dia,”
sahut Toyo yang tiba-tiba muncul di hadapan Kandar. Dengan kedua tangan masih
diikat, Kandar membentak, “Toyo!..kamu…huhh! jadi kamu yang sudah merencanakan
semua ini?! grrrrh!...Kamu nyaris mencelakai istriku! Kamu bajingan!”
Toyo yang masih tenang, berkata
lembut, “Jangan salah kalau ngomong. Kamu yang bajingan, bukan aku.”
Kandar menggeram, lalu meludahi muka
Toyo. Toyo mengusap ludah Kandar yang menyiram pipi kirinya. Wajahnya belum
terlihat ingin marah. Beberapa detik kemudian, Toyo menyuruh anak buahnya
membuka tali yang mengikat kedua tangan Kandar. Begitu dilepas, Kandar langsung
bangkit, lalu merangsek Toyo dengan amarah meluap, namun Toyo bertindak lebih
cepat. Bogem kanannya menghujam muka Kandar dengan mantapnya. Kandar ambruk lagi di ranjang.
Selanjutnya, dua anak buah Toyo yang
tinggi besar, mengajak Kandar untuk mengikuti Toyo yang berjalan menuju sebuah
ruangan. Setelah masuk ke ruangan itu, Kandar disuruh duduk dengan paksa oleh
dua pria kekar yang mencengkeram tangan kanan-kirinya. Beberapa detik kemudian,
dua buah lampu kuning menerangi ruangan gelap tersebut. Samar-samar, Kandar
melihat sesosok tubuh yang duduk di hadapannya. Sosok itu duduk menghadap meja
yang berada di kegelapan. Jaraknya dengan Kandar terpaut sekitar tiga meter
lebih sedikit. Kandar belum bisa melihat wajahnya yang masih tertutup
kegelapan. Kandar baru bisa mendengar suaranya yang mengatakan, ‘Apa kabar,
teman lamaku? Cukup lama kita tidak jumpa.’ Suaranya besar dan serak.
Sebenarnya Kandar semakin merinding,
namun karena angkuh, ia tetap pura-pura tenang dan sok berani. Dengan
keberanian dipaksakan, Kandar berkata, “Orang aneh yang mengaku teman lamaku,
kenapa kamu berani lancang sama Suryo Iskandar?! Tempat apa ini? siapa kamu
sebenarnya? Apa yang kamu inginkan dari aku?!”
Pria aneh itu tertawa mengejek dengan
suara lirih. Ia berkata, “Kamu benar-benar sudah lupa aku?”
“Huh! Jangankan lupa, kenal saja
tidak. Jangankan kenal, lihat saja belum pernah. …Sudah! tidak usah
bertele-tele! Sekarang cepat katakan maumu! Biar aku bisa segera pergi!
Setengah jam lagi aku ada acara penting.”
“He he he..kamu tidak akan bisa
menghadiri acaramu itu.”
“Kenapa?!”
“Karena kamu harus di sini dulu. Kamu
akan mendapat sesuatu yang maha penting. He he.”
“Tapi masih lebih penting urusanku.
Aku mau bisnis!”
“Bisnis memang penting..apalagi untuk
pedagang kikir seperti kamu. He he he. Tapi percayalah..yang akan kamu dapatkan
ini jauh lebih penting.”
Kandar melotot. “Memang apa yang akan
kudapat dari bedebah seperti kamu!?”
“Makanya, dengarkan dulu
penjelasanku..jangan tergesa-gesa.”
Sesaat kemudian, ada lima lampu kuning
lagi yang menerangi ruangan gelap itu. Cahaya lima lampu itu membuat keadaan
ruangan menjadi semakin terang. Namun wajah sosok misterius di hadapan Kandar
itu masih belum terlihat. Ia berkata, “Kalau ceritaku ini sudah selesai, kamu
akan tahu siapa aku.”
Setelah berkata begitu sosok aneh ini
berdiri tegak di depan mejanya. Posturnya tinggi besar. Ia memakai baju lengan
panjang warna gelap. Setelah tertawa mengejek, ia utarakan semua keinginannya.
Ia bercerita tentang masa lalunya, ketika ia dan Iskandar bersaing keras
memperebutkan Isma. Ia mengeluhkan derita panjangnya yang dibuat Kandar. Ia
bercerita ini dan itu. Kandar yang mendengarkan semua cerita itu, tersenyum
mengejek. Ia berkata, “Aku tidak kenal kamu, jadi kumohon..kamu jangan ganggu
aku. Hahh! Sainganku untuk menikahi Isma banyak, jadi aku tidak hafal
nama-namanya. …Yah, mungkin kamu termasuk salah satunya.”
“Tapi aku yakin, kamu hanya pecundang.
Dalam arti, kamu, Kasman atau Muji itu bukan saingan beratku. Saingan beratku
hanya satu..dan itu memang yang terberat. ….Siapa lagi kalau bukan Mardan, mantan
pacarnya Isma..pemuda dari desa sebelah, tetangga desanya Isma. …Kamu juga
sudah tahu Mardan kan? Atau minimal pernah dengar.”
Pria aneh mengangguk-angguk.
“Bagus..bagus. he he. Mardan memang saingan terberatmu, tapi itu sudah lama
berlalu. Sekarang kamu punya rival baru
yang jauh lebih kuat dari Mardan.”
Kandar tersentak. “Maksudmu…ada
laki-laki yang sedang mendekati istriku?!”
“Bukan cuma sedang mendekati, “ sahut
Toyo, “sekarang dia dan istrimu sudah jadi pasangan kekasih. He he he. Sekarang Isma sedang selingkuh,
dan itu sudah berlangsung cukup lama. Ha ha haa!”
Kandar melotot. “Itu tidak mungkin,
pembohong! Tidak mungkin! grrhhh! Isma itu cantik luar dalam, jadi dia tidak mungkin
berani mengkhianati aku! TIDAK MUNGKIN!!”
Toyo tertawa mengejek dengan lebih
keras. “Kasihan banget kamu. Hah ha ha! Jadi kamu belum sadar kalau sekarang
ini kamu sudah dikhianati istrimu?!”
Kandar melotot. Ia belum percaya
dengan semua yang didengarnya, namun ia juga tidak bisa mengingkari begitu
saja. Pria misterius bicara lagi, “Kamu juga tidak percaya kalau aku Kasman
Hendratmo?”
Kandar menggelengkan kepala. “Kasman
sudah mati enam tahun yang lalu.”
“Oh iya? Hahh! Apa kamu yakin!?”
Kandar diam beberapa detik. Sambil
mengernyitkan dahi, Kandar bicara lagi, “Aku memang tidak berniat membunuh
Kasman.” Hening sejenak. ”Peristiwa enam tahun yang lalu itu…aku hanya menyuruh
anak buahku untuk membuat Kasman sekarat, atau setengah mati. Tapi kalau
melihat kondisi fisiknya yang sudah seperti kodok digilas mobil, 95 persen dia
sudah mati. Apalagi orang-orangku juga membuang tubuh brengsek itu di hutan.”
Hening sejenak. Pria aneh yang
wajahnya masih belum terlihat, mengangguk-angguk. “Begitu ya? …Heh he he.
Kandar, Kandar. Kasihan banget kamu. Hahh. …..Lalu siapa dia ( menunjuk
Hartoyo).”
Kandar menatap Toyo, lalu tersenyum
sinis. “Dia hanya keparat yang mengaku adiknya Kasman.” Hening sebentar. “Oke,
dia memang mirip Kasman..tapi aku yakin, dia bukan adik kandungnya. Dia memang
mirip Kasman, tapi lebih mirip kurang ajarnya, bukan wajahnya.”
Pria aneh tersenyum mengejek. Ia
berdiri, lalu meminta Roy, pemuda yang tadi mengajak Kasman ke gubug di sawah,
untuk membuka tiga pintu yang berada di samping kiri Kasman. Roy membuka tiga
pintu itu dengan menggeser, dan…tampaklah mobil Suzuki Escudo warna biru tua.
Pria aneh berkata, “Apa itu mobilmu? Juga benda-benda berharga itu?....”
Kandar tersentak. Ia langsung berdiri,
kemudian mendekati mobil Escudo itu, juga barang-barang pecah belah yang
harganya selangit. Kandar menyentuh Escudo dan benda-benda berharga itu.
Tubuhnya bergeter keras menahan marah. Bibirnya meringis, kesepuluh jarinya
dikepalkan. Ia kembali menatap orang-orang aneh di hadapannya, lalu membentak,
“Brengsek!! Kalian sudah mengambil barang-barangku! Grrrh! Kalian benar-benar
perampok!”
Kandar menunjuk Toyo dengan melotot. “Kamu!…Yahh..kamu
biangnya semua ini! Rupanya kamu ingin menghancurkan rumahku, mengambil
sebagian besar hartaku! Huhh! Kamu bangsat!”
Kandar melontarkan tinju kanannya,
namun tangan kiri Toyo mengepres
tinju itu dengan mudah. Toyo ganti melontarkan bogem kanannya, dan tepat
mengenai muka Kandar. Kandar terhuyung-huyung dengan hidung berdarah. Toyo yang
emosinya mulai terbakar, langsung mengirim serangan berikutnya. Kaki kanannya
menghujam ulu hati Kandar. Tendangan maut itu langsung membuat Kandar jatuh
terduduk. Sambil meringis kesakitan, Kandar berusaha berdiri. Sesaat kemudian,
sebuah lampu menerangi si sosok aneh, sehingga tampaklah wujudnya secara total.
Kandar yang sudah berdiri lagi, terperangah melihat sosok di hadapannya itu.
Kandar melihat seorang lelaki
berpostur tinggi besar. Tingginya sekitar 185 cm. Beratnya 95 kg, bahkan bisa jadi 100 kg.
Ia memakai baju lengan panjang yang juga besar. Warnanya hijau tua. Dan yang
paling membuat Kandar ngeri, wajah lelaki di hadapannya itu sangat menyeramkan.
Wajahnya amat sangat sulit digambarkan. Rambutnya hitam, tebal dan agak
gondrong. Panjangnya hampir sebahu. Kulit pipi dan dahi berkerut. Sebagian
uratnya menyembul ke permukaan kulit, seolah ada cacing-cacing besar yang
menempel di wajahnya. Bibir besar dan dower. Kulit di bawah mata memar, sampai
berwarna kelabu tua. Sungguh, wajahnya benar-benar lebih mengerikan dari singa.
Inilah wujud si aneh yang selama ini selalu bersembunyi di kegelapan.
Hening beberapa detik. Kandar yang
masih melotot, menunjuk pria seram sambil menggelengkan kepala. “Ya ampun.
…Kamu…kamu…”
Pria seram tersenyum. “Inilah teman
lamamu. He he heh. Walaupun wajahku berubah banyak, teman lamaku ini tetap
ingat. Hah ha ha. Senang sekali aku.”
Kandar yang seperti melihat setan
neraka, berkata, “Masya Allah. …kamu…kamu
benar-benar Kasman!”
“Memang siapa lagi?!” sahut Kasman
tersenyum mengejek. Kandar berkata lagi, “Bagaimana mungkin kamu masih hidup?!”
“Yahh…mungkin karena Dewi Fortuna
masih membelaku, juga masih memberiku kesempatan untuk membalas perlakuan
terkutukmu enam tahun lalu. Hah ha ha haa! …..Baiklah. Sebelum ke urusan kita,
adikku mau cerita dulu. Dia mau membeberkan perselingkuhan istrimu dengan seorang
pemuda yang katanya alim.”
“Pemuda alim?!” sahut Kandar
tersentak. Kasman mengangguk. “Di komplekmu, lelaki selingkuhan Isma itu sudah
dianggap orang sholeh, jadi dia tidak mungkin berbuat rendah. …Tapi
nyatanya…hahh! …Dia hanya sholeh-sholehan. Penampilan luarnya memang baik, tapi
dalamnya…bah! …Dalamnya busuk sekali.”
Hening sejenak. Kasman dan konco-konco-nya
bertambah senang melihat Kandar semakin terlongong-longong. Kandar seperti
kehabisan darah. Kasman bicara lagi, “Katanya dia pengurus masjid
Al-Furqan…masjid satu-satunya di perumahanmu. …Nyaris semua tetanggamu
memanggil dia Pak Kyai, Pak Ustad.”
“Memang siapa dia!!?” bentak Kandar
yang emosinya sudah meledak. “Cepat katakan! Tidak usah bertele-tele! Grrrhh!
Siapa bedebah yang sudah sangat lancang itu!? haa!? bedebah macam apa yang
ingin merebut Isma-ku! Bedebah macam apa yang sudah berani mengganggu
istriku?!”
Kasman tertawa keras, lalu berkata,
“Salahmu sendiri. Hahh. Terlalu sibuk bisnis. Akibatnya, istrimu yang butuh
kasih sayang itu lari ke pelukan lelaki lain. Lelaki yang dia anggap lebih baik
dari suaminya sendiri. Hah ha haa!”
Kandar semakin termangu-mangu.
Kata-kata Kasman itu laksana seratus bisa ular Cobra yang menyengat jantungnya.
Kasman meminta Toyo untuk menceritakan semuanya. Sesaat kemudian mata Kandar semakin melotot bulat.
Tubuhnya bergetar keras menahan api amarahnya yang menggelora. Telinganya
benar-benar seperti disambar petir. Toyo tersenyum mengejek, lalu berkata, “Aku
bisa bantu kamu membuktikan perselingkuhan istrimu dengan pengurus masjid
brengsek itu. Tapi ada syarat yang harus
kamu penuhi.”
“Apa itu!?”
“Ya kamu mau kerja sama atau tidak?”
Kandar melotot, setelah itu menjawab,
“Baik..aku mau!”
“Bagus sekali. Hah ha haa!”
Tanpa merasa sungkan sedikit pun,
Hartoyo langsung mengatakan keinginannya. Kalau besok Toyo bisa membantu Kandar
membuktikan hubungan gelap Hamdi-Isma, Toyo minta imbalan uang sebanyak 20
juta. Awalnya Kandar tersentak mendengar syarat yang diajukan Toyo itu, namun
beberapa detik kemudian Kandar menyahut, “Baik! aku mau! Huhh! Hanya 20 juta
kan?”
“Tidak lebih dari itu. Aku janji.”
Kandar tersenyum angkuh. “Bagi orang
sekaya Suryo Iskandar, 20 juta itu tidak begitu banyak. …Huhh! Baiklah
setan-setan! Karena aku sudah mau diajak kerja sama, sekarang ijinkan aku pulang.
Aku sudah muak di ruangan busuk ini!”
Kasman tersenyum, “Tenang sobatku, jangan
panik. Kamu akan pulang dengan selamat. Kami sudah cukup puas mendapat sebagian
besar hartamu. Apalagi kami mau dapat harta lagi dari kamu. Sebentar lagi kami
dapat 20 juta. Hah ha haa!”
Kandar ikut tersenyum, namun sedetik
kemudian senyumnya musnah oleh amarahnya yang meledak. Ia membentak, “Kalian
tidak akan dapat apapun dari hartaku! Secuil pun tidak! Huhh! Kalian pikir aku
takut sama kalian! Haa!? Walaupun aku mampu menyediakan 20 juta, aku sangat
menyayangkan kalau hartaku sampai jatuh ke tangan brengsek-brengsek seperti
kalian! Terutama kamu dan kamu (Kasman dan Hartoyo)! Kakak adik keparat! Huhh!
Berani benar cecunguk-cecunguk macam kalian mengancam Iskandar! Grrhh!
Kasman!..kamu biang keladi semua ini. Kamu juga yang sudah membawaku ke tempat
busuk ini! grrhh..! Sekarang kamu akan merasakan lagi deritamu enam tahun yang lalu!”
Kandar yang sudah marah besar, menjadi
tidak takut dengan bahaya sebesar apapun. Ia mendekati Kasman, lalu memukul
kepalanya lima kali. Satu dengan tangan kiri, empat dengan tangan kanan. Kandar
tersentak. Lima pukulan sepenuh tenaganya itu hanya membuat kepala Kasman
bergerak sedikit. Kasman juga tidak kesakitan sedikit pun. Kandar melangkah
mundur seraya bergumam, “Apa-apaan ini!? Aku seperti memukul kayu.”
Kasman tersenyum mengejek. “Kalau kamu
belum puas, ayo…serang aku lagi. Pukul
aku lagi. Pukul yang lebih keras.”
Kandar melihat sebuah pentung kayu
yang tersandar di lemari. Ia langsung memungut pentung tersebut, kemudian
memukulkannya ke kepala Kasman, namun tidak mengenai sasaran. Tangan kiri
Kasman yang kokoh, menangkis pentung tersebut. Kandar semakin tersentak.
Bagaimana mungkin pentung yang cukup keras itu dapat ditahan Kasman dengan
mudah? Kasman juga tidak terlihat kesakitan sedikit pun, bahkan selanjutnya
Kasman tersenyum mengejek. Benarkah tangan Kasman lebih keras dari pentung kayu
tersebut?
Melihat Kandar hanya melongo, Kasman
menggeram, lalu menghujamkan bogem kanannya ke muka Kandar. Pukulan seberat 15
kg itu langsung merobohkan Kandar. Kepalanya hampir membentur kaki ranjang. Ia
mencoba bangkit, namun kepalanya terasa mau pecah. Kasman yang amarahnya sudah
meledak, mendekati Kandar yang masih berbaring di lantai, kemudian membantunya
berdiri dengan menarik bajunya. Kasman yang wajahnya seperti monster,
memelototi Kandar yang hidungnya banjir darah. Ukuran tubuh dua kawan lama ini
terpaut jauh. Kandar terlihat kecil di hadapan Kasman yang seperti petinju
kelas berat.
Kasman yang emosinya sudah seperti
gunung meletus, membentak sambil mengguncangkan tubuh Kandar. “Kamu mau kerja
sama tidak?! Haa!!? mau tidak!!?”
Kandar yang sebenarnya ketakutan,
tetap berusaha menjaga gengsi. Ia diam saja. Tentu saja Kasman semakin marah.
Ia kembali membentak, “Mau kerja sama tidak!? Brengsek! Grrhhh! Kalau kamu
tidak mau menjawab, kamu akan kubuat menderita seumur hidup! Huhh! Aku serius!
…Mau tidak!? Keparat!”
Kandar yang sombong itu tetap diam saja. Namun
beberapa detik kemudian keangkuhannya musnah oleh rasa takutnya pada Kasman
yang lebih mengerikan dari beruang Gryzzli. Dengan sangat berat hati, akhirnya Kandar
mau bekerja sama dengan Kasman, Hartoyo, dan semua bawahannya. Kandar pun
pulang dengan kepala tertunduk. Alangkah marah dan malunya Kandar yang selama
ini dikenal sebagai pedagang sukses. Kandar yang selama ini disegani karena
uangnya banyak, sekarang ada yang berani menginjak-injak kepalanya. Harga
dirinya benar-benar ternodai.
Namun ia juga merasa beruntung karena
mendapat informasi besar. Informasi tentang perselingkuhan istrinya dengan imam
masjid Al-Furqan. Sejak bertemu dengan Kasman kemarin, Kandar bertekad untuk
menyelidiki hal buruk yang sudah meresahkan hatinya. Kandar ingin membuktikan
berita miring tentang istrinya. Kandar mulai mengurangi jam kerjanya yang
ekstra padat, dan menyediakan waktu untuk berada di rumah. Semua itu agar ia
bisa mengawasi Isma.
Setelah seminggu melakukan
penyelidikan, Kandar belum mendapatkan apa yang ia cari. Sampai sejauh ini,
Kandar menganggap Isma masih baik-baik saja. Sedikit pun Kandar belum mencium
pengkhianatan atau perselingkuhan yang dilakukan Isma. Kandar menganggap, belum
ada sesuatu yang mencurigakan pada diri dan sikap istrinya. Sampai hampir dua
minggu, Kandar masih menganggap Isma normal-normal saja. Tentu saja hal ini
membuat Kandar bingung. Sampai detik ini, Kandar tidak atau belum bisa membuktikan
kebenaran cerita Kasman dan Toyo.
Kandar yang semakin gusar, bergumam,
“Jangan-jangan semua ini hanya karangan Kasman brengsek, biar rumah tanggaku
dengan Isma retak, bahkan akhirnya hancur. …..Tapi kalau melihat keseriusannya
kemarin, mustahil kalau semua yang dia katakan itu bohong. …Lelaki yang satu
itu memang lelaki paling terkutuk yang pernah kukenal. Tapi kalau melihat
wajahnya kemarin, juga cara bicaranya yang sepenuh hati…mustahil kalau
omongannya itu hanya main-main. …Si Toyo itu juga. Dia dan kakaknya sama-sama
bangsat! …Tapi kemarin dia juga kelihatan serius sekali. Bahkan dia juga
bilang…kalau semua ceritanya itu bohong…dia siap disambar geledek. …Aahh…kenapa
aku jadi sebingung ini ya?”
Kandar benar-benar gelisah. Ia tidak
mengira akan mendapat masalah seruwet ini. Karena sudah tidak tahan, akhirnya
Kandar menelpon Kasman. Mendengar Kandar mengeluh, Kasman tertawa mengejek.
Kandar yang merasa tidak mantap berkomunikasi lewat telpon, memberanikan diri
untuk bertemu Kasman lagi di markasnya. Kasman pun menyambutnya dengan senang
hati. Ia meminta Kandar untuk bersabar dan terus melakukan penyelidikan. Kalau
penyelidikannya itu tetap belum membuahkan hasil, Kasman menyuruh Kandar untuk
menuruti siasat Toyo. Sambil tersenyum-senyum, Kasman berkata, “Percayalah Ndar,
siasat adikku ini pasti berhasil.”
Kandar yang sudah emosi, menyahut, “Baik..kuturuti nasehatmu, juga siasat adikmu.
Kalau besok berhasil, imbalanmu kutambah lima juta. Tapi kalau siasatmu ini
gagal, aku tidak segan untuk melaporkan kalian ke polisi.”
Kasman tersenyum sinis. “Hanya ingin
membuktikan perselingkuhan Isma dengan Hamdi kan? Hanya itu kan maumu?”
Kandar mengangguk mantap. “Hanya itu
yang kuminta.”
“Heh he he. Baik, tunggu tiga hari
lagi.”
Malam itu, Kandar dan Isma makan
bersama di meja makan. Kandar mengatakan, besok pagi ia dan teman-teman
bisnisnya mau pergi ke Cilacap selama empat hari. Seperti biasa, Sutris yang
akan mengantar Kandar dengan Taruna merah. Jam setengah tujuh pagi besok Kandar
sudah harus berkumpul di rumah salah satu kawannya, jadi malam ini ia harus
segera tidur. Agar besok pagi bisa bangun tepat waktu, malam ini Kandar tidak
boleh tidur terlalu larut, sebagaimana kebiasaannya selama ini. Mendengar
penjelasan itu, Isma bersorak gembira. Hatinya berseru, “Ini luar biasa!
Oohh…sudah sebulan lebih aku tidak ketemu Mas Hamdi.”
Isma tersenyum, lalu memeluk kedua
bahu suaminya. “Ya sudah kalau begitu, sekarang Mas langsung tidur saja, biar besok
bisa bangun sebelum Shubuh.”
“Sama kamu yuk,” sahut Kandar manja.
Isma tersenyum manis. “Aku masih ada sedikit kerjaan di dapur. Lima menit lagi
kususul. Oke?!”
“Oke Honey.”
Kandar mencium pipi Isma, setelah itu
melangkah ke kamar. Sedetik kemudian Isma berlari ke dapur, kemudian
memencet-mencet tombol HP-nya. Rupanya Isma sedang mengirim pesan untuk sang
kekasih gelap. Pesan singkat itu mengatakan, besok pagi Kandar pergi ke Cilacap
untuk melebarkan sayap bisnisnya. Selama empat hari itu rumahnya kosong. Dengan
demikian, si kekasih gelap bisa datang lagi ke rumah Iskandar untuk menemui
Isma. Mendapat pesan tersebut, si kekasih gelap
langsung menyahut, “Dengan senang hati, Permata Hatiku. Aku juga sudah
rindu berat sama kamu.”
Alangkah gembiranya Isma setelah
membaca SMS balasan dari si pria idaman lain. Dengan bibir tersenyum manis, ia
sandarkan tubuh rampingnya di tembok. Sambil menempelkan Hand Phone di dada,
Isma bergumam, “Trima kasih ya Allah.. ooh. …Setelah cukup lama tidak ketemu,
akhirnya Engkau memberiku kesempatan untuk ketemu Mas Hamdi lagi. Ooh…alangkah
bahagianya aku. …Mas Hamdi, aku benar-benar kangen kamu Mas. Maafkan aku ya?
Aku benar-benar kesulitan mencari waktu untuk ketemu kamu. …Tapi yang penting
besok kita sudah ketemu lagi.“
Setelah diawasi Kandar selama beberapa
waktu, bisakah Isma menemui kekasih gelapnya lagi? Benarkah Isma belum sadar
kalau Kandar sedang ingin menyelidiki penyelewengannya dengan mantan pria
sholeh itu? Mau tidak mau, sebentar lagi
Isma dan kekasih gelapnya akan mendapat masalah besar.
* * * * *
Tepat pukul setengah delapan, Hamdi
dan motor Honda GL-Pro-nya tiba di rumah Isma. Begitu Murni membuka pintu ruang
tamu, Hamdi langsung diminta masuk ke ruang keluarga. Begitu sampai di ruang
keluarga, Hamdi melihat sang bunga hati sudah menantinya. Dilihatnya Isma duduk
di sofa yang menghadap TV. Wanita cantik berwajah Arab-Jawa ini memakai baju
lengan panjang dan rok serba kuning. Panjang roknya hampir semata kaki. Begitu
melihat si pria idaman lain, Isma langsung berdiri, kemudian tersenyum manis
sekali. Hamdi membalas senyum menawan itu. Sedetik kemudian, pasangan kekasih
gelap ini berpelukan.
Isma yang menaruh kepalanya di dada
bidang Hamdi, berkata, “Aku kangen kamu Mas. Kangeen banget.”
“Apalagi aku Sayang..” sahut Hamdi
tersenyum. Ia elus rambut Isma yang lebat dan berombak. Isma yang air matanya
menetes setitik, berkata, “Andaikan kita tidak usah berpisah lagi.”
“Inginku begitu Sayang,” tutur Hamdi
sambil menghapus air mata Isma yang membasahi pipinya. “Andaikan bisa, aku
ingin menikahi kamu.”
Isma tersentak gembira. “Mas mau
menikahi aku!?”
“Iya.”
“Kamu serius Mas!?”
Hamdi mengangguk mantap sambil
tersenyum. “Inilah bukti ketulusan cintaku padamu.”
Indah sekali kata-kata Hamdi itu,
sampai membuat Isma menangis terharu. Isma benar-benar bahagia. Ia kembali
menaruh kepalanya di dada Hamdi, lalu berkata lembut, “Aku tidak tahu harus
bilang apa. Oooh. …Inilah yang selama ini kutunggu.”
Hamdi yang matanya juga mulai basah,
berkata, “Dan yang kamu tunggu selama ini sudah datang.”
Selanjutnya, Hamdi dan Isma berbincang
di sofa panjang, sofa yang cukup sering dipakai Kandar untuk bersantai. Mereka
duduk berdekatan. Isma memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Hamdi. Ia
memohon maaf karena tidak punya waktu untuk pacaran atau sekedar menemui Hamdi.
Selama 40 hari, Kandar lebih banyak
tinggal di rumah, padahal biasanya Kandar berada di kantor sejak jam delapan
sampai hampir Maghrib, bahkan terkadang sampai jam delapan malam. Hal itu jelas
membuat Isma keheranan sekaligus tersiksa. Mau menemui Hamdi di rumah, jelas
tidak bisa. Mau ketemu di tempat biasa, juga tidak bisa karena tidak punya
waktu untuk keluar rumah.
“Begitulah Mas,” tutur Isma yang
matanya sudah kering. “Selama 40 hari ini, Mas Kandar seperti mengawasi aku
diam-diam. …Ooh..jangan-jangan, dia mulai mengetahui hubungan kita. …Aku takut
Mas…”
Hamdi tersenyum, lalu memeluk kedua
tangan Isma. “Seberat apapun resikonya, aku tetap akan melindungi kamu sekuat
tenaga. Itulah janjiku.”
“Sungguh Mas?”
“Tegakah aku membohongi bunga hatiku
ini?”
Isma tersenyum manis. Hening beberapa
detik, setelah itu Isma bicara lagi. “Maafkan aku ya Mas (memeluk tangan kanan
Hamdi dengan kedua tangannya)? Aku benar-benar tidak bisa nemui kamu. Aku benar-benar kesulitan mencari waktu untuk kita.”
Hamdi tersenyum. “Sama sekali tidak ada
yang perlu dimaafkan. Pokoknya sekarang kita sudah ketemu lagi.”
Isma tersenyum manis. Ia meminta Hamdi
untuk membuktikan keseriusan cintanya pada Isma. Permintaan itu membuat Hamdi
tertantang. Darah mudanya langsung bergolak. Sambil tersenyum gembira, mantan
imam masjid ini berkata, “Bunga hatiku (membelai rambut dan pipi Isma), bukti
apalagi yang kamu butuhkan?”
Pertanyaan itu hanya dijawab Isma
dengan senyum menawannya. Jantung Hamdi bergetar keras. Setelah hanya
tersenyum-senyum, Isma berkata, “Masku..aku hanya minta satu hal.”
“Oh ya?...Apa itu?”
Isma mengatur nafasnya. Dengan raut
wajah lebih serius, Isma berkata, “Mari kita...berhubungan intim.”
Hamdi tersentak. “Apa!? Berhubungan intim!?”
Isma mengangguk. Hamdi yang melotot,
berkata, “Isma…kamu serius!?”
“Sangat serius Mas. …Ayo Mas… ke kamarku.”
Sesaat kemudian, pasangan kekasih gelap ini sudah berada di kamar Isma. Hening beberapa detik. Kini
Isma hanya
memakai kaos singlet dan celana pendek. Wanita cantik ini berkata dengan nada penuh
birahi, “Cium dan peluklah aku, sebagaimana kamu mencium orang yang kamu cintai. …Ayo Mas (memeluk
kedua bahu Hamdi).”
Hamdi yang tadi terlihat gagah, kini
seperti kucing yang dikejar anjing. Tubuh putra Sujar ini bergetar keras. Takut
dan gembira bercampur aduk di hatinya, namun rasa takut masih lebih dominan.
Apalagi saat Isma sudah memejamkan kedua matanya, lalu mendekatkan kepalanya ke
kepala Hamdi. Dengan kedua mata tertutup, Isma berkata lembut, “Ayo Masku
Sayang…lakukanlah…sebagai bukti cintamu padaku. …Ayo.”
Hamdi melotot. Jarak bibirnya dengan
bibir Isma hanya terpaut 10 cm. Hening beberapa detik. Hamdi yang menganggap
Isma ingin membuktikan kejantanannya, langsung bersemangat untuk melakukannya.
Hatinya berkata, “Baiklah Sayangku. Demi cinta kita, kuberi apa maumu.”
Hamdi yang merasa tertantang, langsung
mencium bibir
Isma dengan perlahan. Sekitar 4-5 detik bibir mereka bersentuhan. Jantun Hamdi semakin bergetar ketika Isma hendak melepas kaos singlet
kuningnya. Namun mendadak tubuh Hamdi bergetar keras.
Telinga hatinya seperti mendengar salah satu sabda Rasulullah Muhammad saw yang
berbunyi: “Termasuk dari tujuh golongan
yang akan mendapat perlindungan di hari kiamat ialah, seorang lelaki yang
diajak bermaksiat oleh seorang perempuan cantik dan terhormat, namun ia menolak
dengan mengatakan : Aku takut azab Allah.” *
Begitu mendengar suara agung dari
lubuk hatinya yang terdalam, Hamdi langsung melepaskan kedua tangannya dari
cengkeraman tangan Isma. Tentu saja Isma terkejut melihat Hamdi ketakutan. Hamdi
berkata, “Aku tidak bisa (menggelengkan kepala). Maafkan aku Sayang.”
“Kenapa Mas? kan tinggal selangkah
lagi. Ayolah Mas (kembali meraih kedua tangan Hamdi).”
Hamdi menggelengkan kepala sambil
menarik tangannya. “Aku…aku tidak bisa melakukannya.“
“Kenapa Mas? Apa yang membuatmu tidak
jadi melakukan? …Tidak usah takut atau malu Mas. Di sini hanya ada kita berdua.
Kita bebas melakukan apa saja. Tidak ada siapapun yang melihat kita. …Ayolah
Mas (kembali hendak mencengkeram tangan Hamdi, namun Hamdi langsung menarik
kedua tangannya).“
Hamdi yang wajahnya pucat, berkata,
“Sayangku..di sini memang tidak ada yang melihat kita. Tapi ada satu mata yang
tidak bisa kita tipu. Satu mata yang selalu mengawasi kita. Matanya Zat yang
Maha Sempurna. Gusti Allah SWT.”
Isma tersentak. Wajah dua sejoli ini
ketakutan. Setelah hening beberapa detik, Hamdi berkata, “Sayangku…dengarkanlah
baik-baik.“
Catatan Kaki : * Hadits Riwayat dua imam
ahli Hadits. Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim.
“Sekarang ini aku memang munafik. Sekarang ini aku tidak karuan. …Sudah
setengah tahun lebih imanku menurun drastis. Sudah setengah tahun lebih
akhlakku jadi amburadul. Bahkan sudah lima bulan aku tidak sholat jama’ah di
masjid. …Bahkan (wajah semakin sedih), sekarang ini…sholat lima waktuku bolong-bolong…terutama sholat Shubuh.
…Yah..aku menyadari semua ini. …Tapi kalau disuruh melakukan permintaanmu itu..aku benar-benar tidak
bisa.”
Hening sejenak. Isma tersentuh oleh
kejujuran Hamdi. Kedua mata indahnya kembali berkaca-kaca. Tanpa menatap sang
kekasih, Hamdi bicara lagi, “Sekarang memang kesempatan emas buatku. …Dan kalau
mau jujur, aku sangat ingin melakukan. Tapi aku benar-benar tidak bisa.”
Setelah menatap bawah, Hamdi kembali
menatap Isma dengan mengiba, lalu berkata lembut, “Sayangku..maafkan aku ya? Walaupun
cinta kita sudah sangat kuat, kita tetap harus menjaga dan membatasi hubungan
kita.”
Isma mengusap air matanya, kemudian
berkata lembut, “Apa yang kita lakukan ini masih dalam batasan-batasan yang wajar. ...Hanya sekali ini saja kok
Mas..percayalah.”
Melihat kenekatan Isma, Hamdi menjadi
tertantang lagi. Apalagi Hamdi juga sadar, wanita cantik di hadapannya itulah
yang sekarang ini sudah mengisi kekosongan jiwanya. Melihat Isma kembali
memejamkan matanya dan mau melepas
pakaiannya, jiwa Hamdi kembali cenderung pada
keburukan. Hatinya kembali menuruti bujuk rayu iblis. Isma yang sudah
mendekatkan bibirnya ke bibir Hamdi, berkata lembut, “Sekali ini saja Mas…kita lakukan dengan mesra.
…Ayolah Mas Hamdiku, sayangku.”
“Baiklah..” sahut Hamdi yang nafsu
syahwatnya sudah terbakar. Ia sentuh
kedua bahu mulus Isma. Namun sedetik kemudian ia ketakutan lagi. Ia menggelengkan
kepala sambil berkata, “Tidak Isma, jangan! Aku benar-benar tidak bisa!”
“Jangan mundur Mas. Ayo teruskan.” Sahut
Isma yang masih berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir Hamdi. Hamdi menoleh ke
samping, berusaha menghindari bibir Isma. Hamdi mencengkeram kedua bahu Isma,
lalu berkata setengah membentak, “Isma, ittaqillaah.
Ittaqillaah (menunjuk atas)!”
Isma tersentak lagi, namun ia masih ingin
melanjutkan keinginan syahwatnya yang sudah menggelora. Namun mendadak Hartoyo
muncul. Dilihatnya Isma dan Hamdi yang bermesraan. Hartoyo menggelengkan kepala
sambil tersenyum, lalu bertepuk tangan, “Pemandangan yang sangat indah. Hah ha haa!”
Hamdi dan Isma seperti disambar
halilintar. Isma langsung menjauhi Hamdi. Alangkah malu dan takutnya dua sejoli
ini. Mereka melihat Toyo yang berdiri tegak sambil tersenyum mengejek. Isma yang hanya memakai singlet ketat dan celana
pendek, langsung menutup tubuhnya dengan kain yang cukup lebar, lalu membentak, “Kenapa kamu ada di sini!? Haa!? Semua pintu terkunci
rapat. Kamu masuk dari mana?! ...Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Murni?!”
“Keparat!” bentak Hamdi. “Kenapa kamu
berani ke sini lagi?! haa!? kamu belum kapok ya?!”
Toyo tersenyum mengejek. “Kan kemarin
aku sudah bilang, urusan kita belum selesai..jadi aku pasti ke sini lagi. hah
ha haa!”
Setelah tertawa binal, Toyo memelototi
Hamdi dan Isma, lalu berkata, “Semuanya, silahkan masuk!”
Sedetik kemudian muncullah Kandar dan
empat pria bawahan Toyo. Yang dua tinggi kekar, yang dua lagi agak pendek
seperti Toyo, namun juga berotot. Alangkah terkejutnya Isma dan Hamdi melihat Kandar.
Isma berkata, “Lho..Mas Kandar kok sudah pulang? Tidak jadi pergi ya?”
Kandar diam saja. Hanya wajah muramnya
yang menjadi jawaban pertanyaan Isma. Toyo mendekati Kandar, lalu berkata,
“Gimana Boss Kandar? Apa kamu masih ragu? Apa semua yang kamu lihat ini masih
kamu anggap tipuan?”
Kandar masih memelototi Isma dan
Hamdi, terutama Isma. Tubuhnya bergetar keras menahan bara emosi yang sebentar
lagi meledak. Sedetik kemudian Kandar berseru, “ISMAAA!!!” kemudian menarik
tangan Isma. Hamdi yang juga ketakutan, hanya bisa melongo melihat Isma hendak
dianiaya suaminya. Kandar menjambak rambut
Isma, lalu berseru, “Aku benar-benar tidak mengira semua ini! grrhhh! Kamu
berani mengkhianati aku! Haa!? kamu ingin menderita!?”
“Tidak Mas, tidak! Ampun! Aduh! Sakit
Mas!”
“Hatiku lebih sakit!” bentak Kandar
sambil mencekik kedua pipi Isma. “Aku benar-benar sakit hati! Aku benar-benar
kecewa berat! Grrrhh! Perempuan pembohong! Kelihatannya baik,
cantik, sholehah..tapi nyatanya..huhh!…hatimu lebih busuk dari bangkai tikus!
Grrrhh! Dasar perempuan jalang!”
Kelima jari kanan Kandar mencengkeram
erat pipi Isma yang di dekat mulut. Isma merintih, “Ampun Mas. Lepaskan aku!
Ooohh…kamu tega menyakiti aku?!”
Rintihan Isma itu malah membuat Kandar
semakin marah. Ia membentak, “Kamu yang duluan menyakiti aku! Huhh! Memang apa
salah suamimu ini!? haa!? Memang apa yang sudah kulakukan selama ini!? sampai
kamu berani berbuat sekurang ajar ini! huhh! …Ternyata…di balik kecantikan dan
kelembutanmu…tersimpan racun yang sangat ganas!”
Tangan kanan Kandar menampar pipi
Isma, disusul bogemnya dengan tangan yang sama. Dua pukulan beruntun yang keras
itu nyaris membuat Isma roboh. Isma merintih sambil menyentuh bagian mukanya yang
disakiti suaminya. Sedetik kemudian Isma menangis sesenggukan. Kandar tidak
merasa iba sedikit pun melihat Isma bersedih. Ia malah ingin menambah derita
istrinya. Ia ingin memukul Isma lagi. Melihat sang pujaan hati disakiti, amarah
Hamdi meledak. Ia membentak, “Cukup! Jangan sakiti dia lagi!”
“Diam kamu! Keparat sok alim!” bentak
Kandar sambil mencengkeram tangan kanan Isma yang di atas siku. “Jangan
coba-coba pacaran sama istriku lagi! huhh! Dasar penipu kelas berat!
Kelihatannya alim, tapi dalamnya perampok! …Yahh..kamu sudah merampok. Merampok
istri orang!”
Hening sejenak. Hamdi yang sangat
mencemaskan Isma, berkata lembut, “Pak Kandar, saya mohon dengan amat sangat.
Jangan sakiti Isma lagi.”
Kata-kata yang diucapkan dengan lembut
itu malah semakin meledakkan amarah Kandar. Ia membentak, “Apa urusanmu!?
Haa!!? dia istriku! Dia milikku yang sah! Jadi aku berhak memperlakukan dia
sesuka hatiku!”
“Iya Pak, saya tahu, tapi kalau Bapak
ingin jadi suami yang baik, Bapak tidak boleh memukul Isma seperti tadi.”
“Kurang ajar!! Berani benar menasehati
aku! Grrrhh! Kamu memang minta dihajar! Toyo, tolong hajar dia! Hajarkan
untukku!”
Toyo tersenyum sinis. “Aku nanti saja.
Sekarang biar diurus Wahyu dulu.”
Toyo menyuruh Wahyu, salah satu dari
empat pemuda kekar itu, untuk memberi pelajaran buat Hamdi. Wahyu, pemuda 25
tahunan. Tubuh tinggi, kekar dan atletis. Ia mendekati Hamdi, kemudian
melontarkan kepalan kanannya. Hamdi yang sudah siaga, dengan mudah menangkis
pukulan Wahyu itu dengan tangan kirinya. Melihat pertahanan perut Wahyu terbuka
lebar, tangan kanan Hamdi langsung memukul perut lawan. Pukulan keras itu
nyaris mengenai ulu hati Wahyu. Wahyu meringis kesakitan. Hamdi langsung
melontarkan tinju kedua dengan tangan yang sama. Tinju maut itu menggasak muka
Wahyu. Sedetik kemudian Wahyu roboh dengan hidung berdarah.
Saat Wahyu sudah berdiri lagi, Hamdi
kembali menyerangnya, namun tiba-tiba Toyo membentak, “Hamdi! Kalau kamu berani
melawan, dia (menunjuk Isma yang dicengkeram Kandar) akan lebih menderita!”
Hamdi menggelengkan kepala. “Pak
Kandar ini masih orang baik-baik, jadi dia tidak akan tega menyiksa istrinya
habis-habisan!”
Kandar melotot. “Dia memang istriku.
Tapi kalau dia sudah keterlaluan, aku tidak akan segan berbuat kasar sama dia!”
Kandar kembali menjambak rambut Isma, juga mencekik kedua pipinya yang di dekat
rahang. Hamdi yang ingin menolong Isma, akhirnya pasrah diperlakukan seenaknya
oleh Toyo dan Kandar. Hamdi membiarkan Wahyu menghajar dirinya. Tiga jotosan
Wahyu menghujam muka Hamdi dengan amat telak. Hamdi terhuyung-huyung. Wahyu
langsung melontarkan kaki kanannya. Tendangan maut itu menghujam dada
kanan-kiri Hamdi. Pria alim yang sedang terlena ini jatuh terduduk. Tubuhnya
nyaris menabrak lemari. Hidungnya berdarah agak banyak.
Isma yang masih dicengkeram Kandar,
hanya bisa menangis sesenggukan. Hamdi
yang sekarang masih merangkak, langsung diserang lagi. Bogem kanan Wahyu
kembali menghujam kepala Hamdi dengan telak. Hamdi jatuh tersungkur di lantai. Toyo
dan Kandar tertawa keras. Isma yang air matanya membanjir, berteriak, “Cukuup!
Hentikaan!! Oooh…perlakukan kalian ini sudah sangat di luar batas! Hik, hik.
Kalian jauh lebih kejam dari serigala! Kalian setan!!”
Kandar kembali melotot, lalu mencekik
leher belakang Isma. Isma merintih, “Aduh Mas, jangan! Sudah cukup Mas
menyiksaku! Kumohon!”
Kandar yang geram bukan main,
menyahut, “Kalau aku lagi ditimpa musibah besar, kamu tidak sampai secemas ini!
Huhh (menatap Hamdi yang berusaha berdiri)! Tapi kalau melihat cecunguk sok
alim ini menderita, kamu bisa sehisteris ini! Grrrhh! Jadi benar ya!?
Huhh!...Jadi benar kamu lebih mencintai dia ( mengguncang-guncang tubuh Isma )!
Kamu lebih mencintai dia dari suamimu sendiri! Iyaa!!?”
Isma yang menangis pilu, menatap Hamdi
yang sudah berdiri lagi. Ia berkata, “Mas Hamdi, sekarang kamu pulang saja.
Cepat!”
“Tidak semudah itu,” sahut Toyo. Ia
tersenyum mengejek, lalu menyentuh dagu Isma dengan tangan kirinya. Tuturnya,
“Kamu ini…ahh. Kalau marah malah semakin cantik. Hah ha. Wajar saja kalau
kakakku cinta berat sama kamu. Hah ha haa!”
Setelah tertawa binal, Toyo menatap
anak buahnya yang lain, lalu berkata, “Rijan, bawa kelinci cantik yang
satunya!”
“Siap Boss,” sahut Rijan, pemuda tidak
tinggi namun kekar. Sesaat kemudian, Rijan menggandeng Murni dengan paksa.
Murni menangis. Rijan mendorong Murni dengan keras. Pembantu cantik itu nyaris
roboh. Isma berseru, “Murnii!! Kamu tidak apa-apa Nduk?!”
Murni yang juga menangis sesenggukan,
menggelengkan kepala. “Maafkan saya Mbak..saya tidak sempat memberi tahu
Mbak…”
“Memberi tahu kedatangan kami?” Tanya
Toyo mengejek. “Ya jelaslah, kami cerdik kok. Hah ha ha!”
Murni menceritakan segalanya. Beberapa
menit setelah Hamdi masuk ke ruang keluarga, Wahyu masuk ke ruang belakang
lewat garasi yang kebetulan tidak dikunci. Begitu ketemu Murni, Wahyu langsung
membiusnya, kemudian menyekapnya di gudang. Setelah sadar, Murni mendapati
dirinya terikat kuat dengan tali tambang. Mulutnya juga disumpal dengan sapu
tangan. Murni tidak bisa berteriak minta tolong. Ia hanya bisa menangis pasrah.
Beberapa menit kemudian, Murni mendengar suara gaduh dari kamar Kandar. Murni
langsung yakin kalau saat itu Kandar sudah mengetahui perselingkuhan istrinya.
Hening beberapa saat. Hawa ketegangan
semakin merebak ke seluruh rumah Kandar. Toyo yang amarahnya mulai meledak,
mendekati Hamdi yang kebingungan. Hamdi
tahu kalau Toyo mau menyerangnya. Ia langsung siap fight. Namun beberapa detik kemudian Hamdi sadar akan posisi Isma
yang sedang teraniaya berat. Hamdi langsung teringat dengan omongan Toyo tadi.
Kalau tidak mau melihat Isma disakiti, Hamdi tidak boleh melawan. Dengan begitu,
Hamdi harus pasrah dihajar.
Begitu Toyo berdiri di hadapan Hamdi,
Toyo langsung menggasak muka Hamdi dengan empat pukulan beruntun. Satu dengan
tangan kiri, tiga dengan tangan kanan. Pukulan terakhir langsung merobohkan
Hamdi. Hidung dan mulutnya banjir darah. Ketika Hamdi sudah bisa berdiri dengan
sempoyongan, kaki kanan Toyo kembali menggasak perut Hamdi. Kaki maut itu
merobohkan Hamdi untuk yang kedua kalinya. Saat Hamdi berdiri lagi, Toyo
langsung menyerangnya dengan tendangan berputar. Kaki kanan Toyo menghujam muka
Hamdi. Hamdi roboh lagi untuk yang ketiga kalinya. Demikianlah seterusnya.
Hamdi yang gagah ini sekarang menjadi
bulan-bulanan Toyo. Susah payah Hamdi berusaha untuk bangkit lagi, namun kali
ini tampaknya tidak bisa. Tenanganya sudah habis karena lukanya yang sangat
parah. Selanjutnya, Hamdi hanya bisa menyandarkan tubuhnya di lemari. Melihat
Hamdi babak belur, tangis Isma dan Murni semakin meledak, terutama Isma. Ia
tidak berani lagi melihat muka kekasihnya. Kandar yang sedari tadi hanya
marah-marah, kini bisa tersenyum lega. Emosinya cukup teredam setelah melihat
pemuda yang berani mengganggu istrinya itu tidak berdaya.
Toyo mendekati Hamdi yang bersandar di
lemari, lalu mencengkeram kedua pipi Hamdi yang di dekat bibir. Sambil melotot,
Toyo berkata, “Kalau mau, aku bisa menuduh kamu memperkosa Isma! biar nama
jelekmu semakin terkenal di seluruh Bumi Indah ini. huhh! …Tapi kamu masih
beruntung. Hari ini aku sedang baik hati. Yang penting aku sudah berhasil
mengembalikan perlakuan burukmu kemarin. Yang penting aku sudah berhasil
menginjak-injak kamu! …Dan yang paling penting, sebentar lagi aku akan dapat
uang banyak. Hah ha haa!”
“Kasihan banget kamu Hamdi. Hah ha
haa! Sudah pagi ini kamu setengah mati, besok kamu tidak bisa bercinta lagi
sama si cantik ini (menunjuk Isma yang air matanya masih terus mengalir)! Huah
ha ha haa!!”
Hamdi yang mukanya berlumuran darah,
hanya bisa memelototi Toyo cs yang sudah menginjak-injaknya sampai separah ini.
Beberapa menit kemudian, Rijan dan Wahyu memapah Hamdi dengan mencengkeram
kedua tangannya. Kandar mendekati Hamdi sambil menggelengkan kepala. Kandar
yang emosinya sudah berkurang, berkata, “Mas Hamdi Rusmanto…kamu benar-benar sudah
membuatku kecewa berat. …Kamu ini kelihatannya alim, sholeh. …Tapi nyatanya…huhh!
…Hatimu sepuluh kali lebih busuk dari bangkai kambing.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Jadi
seperti ini ustadz-nya Komplek Bumi Indah ini!? haa!?..Jadi seperti ini imamnya
masjid Al-Furqan!? Jadi seperti ini pemuda yang terkenal sebagai pengurus
masjid!?” …..Mas Hamdi, Mas Hamdi. Ternyata kamu tidak berbeda dengan
orang-orang jahat yang selama ini kukenal. Ternyata kamu juga serigala berbulu
domba!”
Hening sebentar. Kandar memberi Hamdi waktu
untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Beberapa detik kemudian Kandar
bicara lagi, “Selama ini kamu kuhormati karena kesholehanmu, juga karena ilmu
agamamu yang kuanggap sudah cukup dalam. …Tapi nyatanya …di balik penampilanmu
yang suci, ternyata kamu menyimpan keinginan yang hina! Keinginan yang sangat
rendah!”
Hening lagi beberapa detik. Alangkah
malu dan sedihnya Hamdi yang keadaannya nyaris seperti katak digilas truk.
Semua yang dikatakan Kandar itu benar belaka. Kandar yang emosinya mulai
mendidih lagi, mencengkeram baju Hamdi, lalu berkata, “Sekarang tolong kamu
jawab pertanyaanku ini dengan sejujur-jujurnya! Kalau kamu tidak mau bicara
jujur (mengguncangkan tubuh Hamdi), kamu bisa kubuat lebih sengsara! Ngerti!?”
Dengan kedua tangan tetap mencengkeram
baju Hamdi, Kandar berkata lebih lembut. “Mas Hamdi…apa kamu mencintai
istriku?”
Hening sejenak. Hamdi dan Isma saling
menatap dengan mengiba. Murni yang duduk di lantai, juga menaruh simpati yang
besar terhadap Hamdi. Hal itulah yang membuat gadis manis ini masih terus
menangis, walaupun volumenya sudah berkurang. Kandar yang melihat Hamdi hanya
diam saja, kembali mengajukan pertanyaannya sampai dua kali. Dengan demikian,
Kandar sudah bertanya tiga kali. Melihat Hamdi hanya diam sambil mengatur
nafasnya yang berat, emosi Kandar kembali meledak. Kandar mengguncangkan tubuh
Hamdi, “Kamu budheg atau bisu!? Haa!?
…Mas Hamdi Rusmanto! Apa kamu mencintai istriku!?”
Setelah memejamkan mata, Hamdi
mengangguk lemah. “Iya Pak…saya mencintai istri anda.”
Kandar yang masih mencengkeram baju
Hamdi, melotot. “Apa kamu sungguh-sungguh mencintai istriku!?”
Hamdi diam saja. Kandar kembali
berseru, “Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Ismayani Puspita!!? Istriku
satu-satunya!? Wanita yang paling kucintai di dunia ini!? Iya!?”
Hamdi masih diam saja. Kandar
membentak lagi, “Mas Hamdi! Lelaki berhati ular! Apa kamu sungguh-sungguh
mencintai Isma!?”
Hamdi mengatur nafasnya, setelah itu mengangguk
lemah. “Betul, Pak Iskandar. Saya benar-benar mencintai Isma. …Saya mencintai
Isma, sebagaimana Pak Kandar mencintai dia.”
Hening sejenak. Hawa amarah di ruang
keluarga rumah Kandar sudah berkurang banyak. Kandar menarik tangannya dari
baju Hamdi, kemudian melangkah mundur dengan perlahan. Kandar yang sudah bisa
mengendalikan dirinya, berkata lebih lembut, “Makasih banyak atas kejujuranmu.
…Hari ini benar-benar hari bersejarah dalam hidupku. Hari ini benar-benar hari
terburuk dalam hidupku. …..Mas Hamdi, kalau tidak ada halangan, nanti sore akan
kulaporkan semua ulahmu ini ke Pak RW, Pak Dukuh, juga Pak-Bu Hasan Sujardi,
ketua takmir masjid Al-Furqan.”
Hamdi yang menyandarkan tubuhnya di
tembok, menyahut dengan tenang. “Silahkan saja Pak. Silahkan Bapak lakukan
apapun yang Bapak inginkan. …Perlu Bapak ketahui. Kalau cuma diperlakukan tidak
baik itu saya sudah biasa. Hampir setiap hari saya mendapat perlakuan kurang
baik. Entah perlakuan dari teman, sahabat, saudara, maupun dari orang tua. Jadi
silahkan kalau Pak Kandar mau begini, mau begitu..”
Kandar tersenyum angkuh. “Baiklah
kalau begitu. Trims banyak atas dukunganmu. Berarti kamu sudah siap mendapat
hujatan dari seluruh warga Bumi Indah ini. …Sebentar lagi, nama baik Pak-Bu
Sujardi akan tercoreng moreng karena ulah putra sulungnya yang menyebalkan. Sebentar
lagi, Pak-Bu Sujar yang terhormat itu akan menerima kenyataan pahit. Kenyataan
pahit yang sangat menyakitkan hati. …Putranya yang kelihatannya sholeh ini
ternyata pengganggu istri tetangga.”
Demikianlah peringatan keras dari
Kandar. Sore harinya, Kandar melaporkan huru-hara yang sudah terjadi di
rumahnya kepada Partono, ketua RW Bumi Indah. Kandar benar-benar serius dalam
bertindak. Setelah melapor ke Partono dan Pak Dukuh, Kandar yang dendam berat pada
Hamdi, menyebar pengumuman ke seluruh Bumi Indah dan sekitarnya. Berita tentang
hubungan asmara Hamdi dan istri Suryo Iskandar ini benar-benar menggemparkan
seluruh Bumi Indah. Berita menghebohkan ini jelas menjadi bahan gunjingan yang
sangat nikmat, terutama bagi para penggunjing semacam ibu-ibu arisan dan
jama’ah pengajian masjid Al-Furqan.
Bagaimana mungkin Hamdi yang sholeh
itu menjalin cinta dengan Ny. Iskandar? Bagaimana mungkin Hamdi yang imam
masjid itu menjalin hubungan diam-diam dengan istri tetangganya? Bagi sebagian
orang yang rutin mengerjakan sholat jama’ah di Al-Furqan, berita menggemparkan
ini sudah tidak begitu mengejutkan mereka. Kenapa begitu? Karena mereka sudah
cukup lama tidak melihat Hamdi di Al-Furqan. Jangankan menjadi imam sholat
jama’ah, nongol di masjid saja tidak pernah, kecuali hanya sesekali. Dengan
demikian, beberapa jama’ah Al-Furqan sudah pada menebak. Lenyapnya Hamdi dari
masjid selama beberapa bulan ini pasti berhubungan erat dengan berita
menghebohkan ini.
Alangkah malu dan sedihnya Hasan
Sujardi dan Retno Tri Maryani. Sekarang mereka sadar seratus persen. Akhlak dan
ibadah Hamdi yang selama ini turun drastis itu pasti karena semua ini. Betapa
sedihnya Sujar dan Retno mendengar ulah putra sulung mereka yang menggemparkan.
Sujar yang di masyarakat sudah tergolong orang terhormat, merasa kepalanya
diinjak-injak. Dan yang paling menyakitkan, kepalanya diinjak-injak oleh anak
kandungnya sendiri, anak kandungnya yang pertama. Anak yang seharusnya paling
bisa dibanggakan. Anak yang seharusnya paling temuwo, paling dewasa dalam berpikir dan bertindak. Anak yang
seharusnya bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya.
Sujar dan Retno stress berat, terutama
Retno yang masih sakit hati akibat kasus
Ardan. Retno yang selalu menangis setiap habis sholat, selalu berkata,
“Kalau tidak ada akhirat, sekarang aku sudah minum baygon.”
“Jangan ngomong begitu Mah,” sahut Endah, “nanti
diamini malaikat lho. Bersabarlah. Insya
Allah, semua ini ada hikmahnya.”
Demikian pula dengan Sujar. Lelaki
yang sudah berusia senja ini berkata, “Aku ini ayah yang bodoh. Anakku rusak
semua. …Aku tidak bisa membahagiakan anak. …Cuma mencarikan jodoh buat anak
saja tidak bisa.”
Seminggu setelah tragedi di rumah
Iskandar, Retno lebih banyak mengurung diri di rumah. Hampir setiap hari ia
menangis. Ulah putra sulungnya itu benar-benar merobek dadanya. Apalagi berita
heboh itu sudah sampai di kampung-kampung dan komplek tetangganya Bumi Indah.
Bahkan dalam waktu singkat, berita heboh itu sudah tersebar di mana-mana. Siapa
lagi yang menyebarkan kalau bukan mulut-mulut ganas yang gemar mencari aib
orang.
Selama beberapa hari, Retno seperti
orang yang kehabisan darah. Kesedihannya membuat nafsu makannya berkurang
drastis. Ia benar-benar tidak punya gairah untuk beraktivitas. Kalau tidak
punya teman curhat yang baik, Retno sudah bertindak fatal. Hanya Endah dan Dina
yang bisa menghiburnya. Kalau Endah sedang sibuk, Retno langsung curhat pada
Dina, anak perempuan satu-satunya. Gadis manis itu memang tidak sehebat Endah
dalam menjadi teman curhat Retno, namun setidaknya, dari semua putra Sujar yang
ada di rumah, Dina-lah yang paling cocok dengan Retno. Setelah Darwan, Dina-lah
yang paling bisa menghibur ibunya.
Lantas bagaimana dengan Hamdi sendiri?
Apa yang ia lakukan setelah hubungan cintanya dengan penjual kue bolu itu
diketahui publik? Setelah dibantai Kandar dan Toyo, Hamdi mengurung diri di
kamar. Dia hanya keluar kamar kalau ada perlu yang penting sekali. Dia lebih
memilih ‘bertapa’ di kamar. Makan pun hanya dua kali sehari, bahkan terkadang
hanya sekali. Itu pun sedikit sekali. Selama seminggu
lebih, Hamdi tidak dipedulikan ayah-ibunya, juga saudara-saudaranya. Hanya Dina
yang masih peduli pada Hamdi. Hanya Dina yang paling merasa iba pada kakak
sulungnya. Kalau seharian Hamdi belum makan, Dina langsung mengantar makanan ke
kamar Hamdi.
Selama beberapa hari ini, suasana
rumah Sujar benar-benar terasa kering kerontang. Kering dari cahaya kedamaian.
Selain Dina, Nurman, Andi dan Rian juga masih sangat peduli pada Hamdi. Trio
Al-Furqan itu menyempatkan diri untuk menjenguk Hamdi di kamarnya. Namun Hamdi
tidak pernah menemui mereka di kamarnya. Hamdi selalu menemui mereka di luar
kamar atau di halaman belakang. Hamdi selalu beralasan, kamarnya masih seperti
kapal pecah, jadi tidak layak dilihat, apalagi dimasuki. Hamdi mengaku belum
sempat membersihkan kamarnya yang memang berantakan.
Siang yang panas itu, seusai sholat
Dhuhur, Hamdi disidang ayah-ibunya di ruang keluarga. Di situ sudah hadir Dina,
Endah dan Harno, adik sepupu Hamdi dari pihak Sujar. Harno itu seorang pemuda
dewasa yang usianya sedikit di atas Hamdi. Badan agak pendek dan gempal. Kulit
coklat muda, hidung agak mancung. Hubungan
Harno dan Hamdi sekeluarga cukup dekat,
jadi wajar kalau ia sudah paham dengan segala masalah yang sedang
menimpa rumah tangga Sujar. Kini Retno memaki Hamdi habis-habisan. Retno
marah-marah sambil menangis. Ia cengkeram kaos kerah Hamdi, lalu mengguncang-guncangkan
tubuh gempal anaknya.
Setelah puas, Retno melangkah mundur
dengan perlahan. Retno berdiri di hadapan Hamdi yang menunduk. Dengan wajah
seperti singa betina yang kehilangan anaknya, Retno berkata, “Adikmu sudah
merusak nama baik keluarga kita, sekarang ganti kamu! Huhh! Kamu sudah membuat
keluarga ini setengah mati! Kamu sudah menambah penderitaan bapak-ibumu! grrrhh!
…Rumah ini sudah berantakan gara-gara adikmu kawin sama babu! Juga karena
hutangku masih menggunung! Sekarang kamu tambah dengan pacaran sama istri
tetangga! Huhh! Aku benar-benar tidak mengira semua ini! Ooohh…semua ini
seperti mimpi! Mimpi (membanting dua piring ke lantai )!”
Endah dan Dina langsung memeluk Retno
yang histeris. Endah yang terlihat tenang, berkata, “Istighfar Maa, istighfar.
Astaghfirullahal ’azhim. Aku memohon ampun kepada Allah, Tuhan yang Maha
Agung.”
Dina yang juga menangis, berkata,
“Jangan keras-keras Ma, nanti didengar tetangga.”
“Tidak masalah! Toh seluruh Bumi Indah
ini sudah tahu kebejatannya (menunjuk Hamdi yang masih terus menundukkan kepala)!
Huhh! Benar-benar anak goblog! …Perempuan cantik banyak, tapi kenapa kamu malah
memilih perempuan yang sudah bersuami!!? Otakmu itu di mana!? Haa!? Otakmu
pindah di lutut ya!?”
Dina bicara lagi, “Mama jangan terlalu
menuruti nafsu amarah dan kebencian. Sudah, sekarang Mama sholat sunnah saja,
biar hati Mama tenang. …Ayo Ma..sekarang Mama minum dulu.”
“Huhh!” bentak Retno yang masih
memelototi Hamdi. Retno duduk, kemudian
menerima segelas air putih dari Dina. Setelah meneguk air, Retno berseru lagi,
“Anak sialan! Mau dikemanakan muka bapak-ibumu ini!!? haa!?”
Endah mengelus dada adiknya. “Sudah
Ma, sudah. Tenangkan hatimu dengan dzikrullah.
Hanya itu satu-satunya cara untuk menentramkan hatimu yang terluka parah.”
“Kelewat parah!” bentak Retno.
“Gara-gara anak terkutuk ini!”
Endah berkata dengan suara lebih pelan. “Allahu Akbar. Subhanallah. Kendalikan
dirimu. Biar bagaimanapun, dia tetap darah dagingmu.”
Hening sejenak. Suasana ruang keluarga
semakin panas. Yang terdengar hanya isak tangis Retno dan Dina. Sujar sendiri
sejak tadi hanya diam seperti Hamdi. Nurman, Andi dan Rian yang nguping dari halaman belakang, ikut
merasa tegang. Mereka ikut prihatin dengan kehebohan yang sedang menimpa rumah
tangga Retno. Trio Al-Furqan ini semakin kasihan pada Hamdi yang sedang
tersesat. Nurman berkata lirih, “Aku takut, nanti Mas Hamdi bisa semakin lama
menyendiri.”
“Aku juga mau ngomong begitu,” sahut
Andi. “Kalau bosan menyendiri, nanti Mas Hamdi bisa pergi dari rumah ini. Wah,
gawat kan?”
Beberapa saat kemudian, Retno yang
sudah merasa lebih tenang, berkata, “Untuk sementara ini, Darwan jangan diberi
tahu dulu..nanti dia tidak bisa konsentrasi kerja. …Dialah sosok terbaik di
rumah ini. Dialah satu-satunya orang yang bisa dijadikan contoh di rumah kita
yang sedang hancur-hancuran. Dialah satu-satunya anakku yang paling bisa
diandalkan. Dialah satu-satunya anakku yang bisa menjaga nama baik keluarga Hasan
Sujardi. …Dia dan kamu (menyentuh tangan Dina).“
Setelah didamprat keras oleh sang ibu,
Hamdi merasa semakin dikucilkan. Sudah seminggu Hamdi tidak diajak bicara oleh
ayah-ibunya. Sudah seminggu Hamdi dianggap tidak ada di rumah. Hamdi ingin
berontak, namun ia langsung menyadari posisinya yang memang salah. Hal itu
jelas membuat Hamdi merasa semakin terjepit. Karena sudah tidak tahan, Hamdi
memutuskan untuk bertindak berani. Malam itu, seusai sholat Isya’, Hamdi ber-dzikir, kemudian merenung
sedalam-dalamnya. Lelaki yang sedang mendapat musibah ini bergumam,
“Aku memang sudah berbuat kesalahan
besar. Aku memang sudah berdosa besar..jadi pantas kalau Papa-Mama mendiamkan
aku. .Ya Allah (memejamkan mata), Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang…ampuni
hambaMu yang hina ini. Hamba mengakui kesalahan besar yang sudah hamba buat.”
Diam sejenak, lalu bergumam lagi, “Semua
ini salahku sendiri, jadi aku tidak boleh marah sama semua orang di rumah ini.
…..Karena sekarang aku sudah tidak punya muka, sebaiknya aku pergi dulu. …Aku
mau menghilang dulu. Menghilang untuk memperbaiki diri. …Yahh..selama aku pergi
nanti, mudah-mudahan..Insya Allah, aku bisa mendapat kekuatan,
mendapat hikmah dari semua peristiwa ini. …Dan yang paling penting…Engkau berkenan mengampuni
dosaku yang selangit ini.”
Perkiraan Andi kemarin menjadi
kenyataan. Setelah tiga hari mengurung di kamar, Hamdi memutuskan untuk
minggat. Hamdi pergi dari rumah setelah Ashar. Trio Al-furqan yang sedang
membersihkan masjid dan halaman depan rumah Sujar, mengira Hamdi hanya pergi
sebentar. Ah, sayang sekali. Seandainya Nurman, Andi atau Rian mengetahui Hamdi
mau minggat, tentu mereka akan mencegahnya. Besoknya, rumah Sujar kembali
gempar. Sudah lima hari Hamdi tidak pulang, sejak pergi setelah Ashar kemarin.
Motor GL-Pro-nya ada di rumah, demikian pula dengan sepeda kesayangannya,
sepeda yang sering ia pakai ke rumah Isma. Rupanya Hamdi pergi dengan jalan
kaki. (bersambung)
* * * * *
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment