Thursday, 4 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Lima)

Cinta memang segalanya. Cinta itu anugerah terbesar untuk semua makhluk hidup. Tanpa cinta, kehidupan takkan pernah ada. Manusia tidak akan bekerja atau beraktivitas, kecuali karena cinta. Sama halnya dengan niat atau keinginan. Tidak ada satu pun manusia yang melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas, kecuali karena didasari niat. Tidak mungkin seseorang keluar dari rumahnya, kecuali karena punya niat. Tidak mungkin seseorang bekerja keras membanting tulang, kecuali karena punya niat. Tidak mungkin seseorang menginginkan sesuatu, kecuali karena ia mencintai sesuatu itu.



         Cinta itu pasti ada di hati setiap makhluk hidup, baik manusia atau hewan. Cinta dan kasih sayang itu manifestasi (perwujudan) halus dari hawa nafsu. Setiap  manusia, entah itu manusia suci semacam Nabi, Rasul dan para ulama, maupun manusia-manusia jahat, pasti memiliki hawa nafsu. Dengan demikian, tidak ada perbedaan dalam nafsu yang dimiliki manusia yang paling suci dengan manusia yang paling bejat. Yang membedakan hanya satu. Kontrol atau pengendalian. Pengendalian setiap individu terhadap nafsu yang ada pada diri masing-masing. Pengendalian terhadap nafsu itulah yang akan mencerminkan akhlak manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Pengendalian terhadap nafsu itulah yang akan membedakan akhlak si Arman dan si Joni. Kontrol terhadap nafsu itulah yang akan membuat manusia mencintai sesuatu dengan berlebihan atau sekedarnya saja.    
         Jika manusia sudah berlebihan dalam mengumbar nafsunya, dia akan binasa. Sebaliknya, jika manusia terlalu mengekang nafsunya, bahkan sampai nyaris membunuh nafsunya, dia akan hidup loyo atau tanpa gairah, bahkan kemungkinan besar, dia bisa mati sebelum saatnya. Jika seseorang mencintai sesuatu dengan berlebihan, sesuatu yang dicintainya itu bisa membuatnya buta atau mabuk. Namun jika seseorang bisa mengendalikan kadar cintanya terhadap sesuatu, dia akan mendapatkan ketenangan jiwa. Apalagi kalau cintanya itu karena Allah, maka dia akan meraih kedamaian hati yang kekal.
         Manusia tidak akan meraih apapun, kecuali apa yang sudah menjadi niatnya. Jika seseorang menolong tetangganya karena ingin dipuji atau ingin mendapat imbalan, atas ijin Allah Yang Maha Pemurah, dia pasti akan mendapat pujian atau imbalan tersebut, dan tidak lebih dari itu. Jika seseorang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya juga akan menuju ke Allah dan Rasul-Nya. Dan jika seseorang hijrah hanya karena dunia yang diinginkannya, atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya juga  hanya  akan menuju ke situ.” *
         Lantas bagaimana dengan cinta yang kini sedang dirasakan Hamdi dan Isma? Apakah cinta mereka itu suci, atau sekedar ingin memuaskan hawa nafsu masing-masing? Benarkah Hamdi yang alim itu tulus mencintai istri tetangganya? Lantas bagaimana dengan Isma sendiri? Apa benar sekarang ini cintanya pada Hamdi melebihi cintanya pada suaminya sendiri? Untuk masalah yang cukup rumit ini, hanya waktu yang akan menjawab. Namun yang jelas, saat ini Hamdi dan Isma sama-sama tidak meragukan ketulusan cinta mereka.

       Catatan Kaki: * Hadits Riwayat dua imam ahli hadits : Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim
         Kemarin Hamdi mengatakan pada Isma. Cinta yang ia rasakan sekarang ini nyaris sama dengan cintanya Abdurrahman Al-Qass terhadap Salamah. Abdurrahman itu seorang tokoh Salaf yang hidup di masa Dinasti Bani Umayah. Dia seorang pemuda yang sangat alim dan sholeh. Dia mendapat julukan Al-Qass, yang artinya : orang sholeh dan mahir ilmu agama. Suatu ketika, Abdurrahman jatuh hati pada budak wanita yang cantik jelita. Namanya Salamah. Dia seorang biduanita, atau penyanyi wanita. Abdurrahman jatuh cinta pada pandangan pertama, demikian pula sebaliknya.
         Hubungan cinta mereka menggemparkan seluruh Mekkah. Pada masa itu, penyanyi dianggap sebagai profesi yang hina. Semua orang menganggap Abdurrahman sudah sesat. Bagaimana mungkin pemuda yang sangat taat pada agama itu bisa menjalin cinta dengan Salamah, seorang budak sekaligus penyanyi. Sudah budak, pekerjaannya penyanyi. Tentu saja berita itu sangat menyakitkan hati semua sahabat Abdurrahman, terutama Abul Wafa’, gurunya. Lelaki tua yang sholeh itu ingin membantah berita miring yang sudah menimpa muridnya.
         Setelah benar-benar percaya dengan berita itu, Abul Wafa’ memutuskan hubungan guru-muridnya dengan Abdurrahman. Nama baik Abdurrahman semakin tercoreng. Pada awalnya Abdurrahman sempat bingung, namun akhirnya ia bisa membuktikan kalau percintaannya dengan Salamah tidak membuatnya tersesat. Abdurrahman bisa membuktikan kalau cintanya pada Salamah itu cinta suci, bukan nafsu semata. Setelah Abdurrahman bisa menikmati dan menghayati keindahan musik, ia menjadi semakin khusyuk beribadah. Setelah menjalin cinta dengan Salamah, Abdurrahman menjadi semakin khusyuk dalam sholat dan membaca Al-Quran. Pada akhirnya, Abdurrahman dan Salamah ini tidak bisa bersatu. Salamah dibeli khalifah dari Madinah.
         Demikianlah sedikit kisah tentang cinta suci yang dijalin oleh seorang lelaki sholeh dengan seorang budak wanita. Sebuah kisah cinta yang ingin ditiru Hamdi yang sedang dimabuk asmara. Hamdi pun merasa, cintanya pada Isma sekarang ini cinta suci. Ia sudah merasa seperti Abdurrahman Al-Qass. Begitulah yang ia ungkapkan pada Isma. Tentu saja Isma bahagia sekali mendengar tuturan Hamdi itu. Isma yang sudah lebih dulu mencintai Hamdi, merasa semakin damai dengan cinta Hamdi yang suci. Apalagi ia juga yakin kalau Hamdi itu tidak suka bohong.  
        Namun yang menjadi pertanyaan, benarkah cinta yang mereka jalin sekarang ini benar-benar cinta suci? Kalau benar, kenapa kualitas iman dan ibadah Hamdi sekarang ini merosot drastis? Kalau benar-benar cinta suci, kenapa Hamdi berani menjalin cinta dengan perempuan yang sudah menjadi istri orang? Benarkah ia tidak takut dengan resiko yang akan dihadapinya kelak? Kalau benar-benar cinta suci, seharusnya kualitas ibadah Hamdi sekarang ini semakin meningkat, namun yang terjadi justru sebaliknya.
         Sejak jadian dengan Isma, Hamdi menjadi sering terlambat sholat jama’ah lima waktu, terutama sholat Shubuh, sholat wajib yang paling sulit dikerjakan oleh sebagian besar kaum Muslim. Hal ini wajar, sebab sholat yang satu ini memang yang paling banyak ganjarannya. Barang siapa yang menunaikan sholat Shubuh berjama’ah, dia seperti mengerjakan sholat semalam suntuk.*  Bagaimana tidak? Begitu bangun tidur, kita yang masih ngantuk, masih ogah-ogahan, harus langsung mengambil air wudhu, lalu berangkat ke masjid. Atau kalau tidak di masjid ya di rumah saja, asal tetap sholat berjama’ah.
        
      Catatan Kaki: * Hadits Riwayat : Malik, Muslim dari Utsman : At-Targhib, 1: 231

         Bagi kaum Muslim yang hobi begadang sampai malam, tentu akan sangat kesulitan untuk menunaikan ibadah wajib yang satu ini. Dan seperti inilah keadaan Hamdi sekarang ini. Akibat sering terlambat datang ke masjid, Hamdi menjadi jarang memimpin sholat jama’ah. Sudah hampir sebulan ini Hamdi tidak menjadi imam. Akhir-akhir ini Hamdi sering melamun di kamarnya. Hal itulah yang membuatnya sering bangun kesiangan. Bahkan beberapa waktu kemudian, Hamdi menjadi jarang sholat Shubuh berjama’ah di Al-Furqan. Itu karena ia sering bangun ketika langit sudah agak terang. Karena malu pada matahari, Hamdi memutuskan untuk sholat sendirian di kamarnya.             
         Beberapa minggu kemudian, Hamdi menjadi jarang sholat jama’ah lima waktu di Al-Furqan. Selain karena sering terlambat, akhir-akhir ini Hamdi juga sering ngeluyur. Ia selalu mencari kesempatan untuk ‘pacaran’ dengan Isma. Ia selalu mencari waktu ketika Kandar dan Sutris sedang tidak di rumah. Selain itu, Hamdi juga jarang, bahkan nyaris tidak pernah mengikuti pengajian, padahal dulu dia selalu datang paling awal di majelis taklim. Jangankan pengajian yang diselenggarakan di masjid atau di majelis taklim yang letaknya agak jauh dengan Bumi Indah, pengajian yang diselenggarakan di masjid Al-Furqan saja Hamdi sudah nyaris tidak pernah menghadiri lagi. Padahal kalau mau ke Al-Furqan, Hamdi tinggal berjalan dua-tiga langkah.  
         Akhlak Hamdi yang berubah 75 persen itu semakin mengherankan warga Bumi Indah, terutama mereka yang sering sholat jama’ah di Al-Furqan. Mereka berkomentar, “Apa yang sudah terjadi pada diri Pak Imam kita? Kenapa sekarang beliau jarang mengimami sholat jama’ah lima waktu?”
         Yang lain berkomentar, “Ustadz Hamdi kenapa ya? Kok sekarang jarang kelihatan di masjid? Apa sekarang ini beliau super sibuk ya?”
         Yang lain lagi menimpali, “Mungkin beliau lagi pergi.”
         “Pergi ke mana? Tidak ah. Kata Pak Sujar, Mas Hamdi ada di rumah kok.”
         Yang lain berkata, “Jangan-jangan Ustadz Hamdi sedang punya masalah berat.”
         “Bisa juga ya?” sahut seorang lelaki berkepala botak. “Soalnya dengar-dengar, bisnisnya Pak Sujar sudah hancur. Supermarket dan toko kayunya sudah lama gulung tikar. Ehmm…kalau tidak keliru, sudah dua tahunan.”
         “Ya sudahlah, tidak usah menggunjing,” tutur Priyo, lelaki tua yang rajin sholat jama’ah di Al-Furqan. “Kita baik sangka saja. Mungkin Mas Hamdi sedang sibuk banget di tempat lain, jadi tidak sempat menjamah masjid kita.”
         Begitulah komentar jama’ah Al-Furqan tentang Hamdi Rusmanto sekarang ini. Semakin hari mereka semakin merasakan kejanggalan. Apalagi kaum hawa yang mayoritas kerjanya menggunjing. Ada yang sudah curiga dan berprasangka kurang baik, ada pula yang masih tetap berbaik sangka terhadap Hamdi. Kebanyakan dari mereka berpendapat, sekarang ini Hamdi sedang sibuk, pergi, atau sedang banyak masalah, terutama masalah keluarga. Dari tiga perkiraan ini, yang ketigalah yang menjadi dugaan terkuat. Sebagian besar warga Bumi Indah, khususnya kaum hawa, pada ngotot mencari tahu tentang kejanggalan yang sudah menimpa lelaki yang beberapa waktu yang lalu terkenal sholeh itu. Sering tidak hadirnya Hamdi di masjid sekarang ini benar-benar menjadi tanda tanya besar bagi semua jama’ah Al-Furqan.
        

                                                           * * * * *
        

         Setelah menjadi ‘kekasih gelap’ Hamdi, Isma memberanikan diri untuk mendatangi Bu Mardi atau Bu Endah. Isma yang sudah tahu siapa Endah, langsung curhat pada ibu kedua Hamdi itu. Ia ceritakan sejujurnya tentang hubungan asmaranya dengan Hamdi sekarang ini. Sudah sebulan lebih sedikit Isma dan Hamdi menjadi pasangan kekasih. Tentu saja Endah terkejut bukan main. Namun karena wanita yang satu ini sangat sholehah, sangat sabar dan penuh pengertian terhadap masalah orang lain, dia hanya terkejut sebentar, setelah itu sudah terlihat tenang lagi. Dia langsung bisa mengerti masalah yang sedang menimpa Isma.
         Endah mengatakan, beberapa saat sebelum Isma curhat, Hamdi sudah sering membicarakan Isma. Dengan begitu, sebelum Isma mengungkapkan ikatan batinnya dengan Hamdi sekarang ini, Endah sudah tahu sedikit-sedikit. Itulah yang membuat Endah tidak begitu kaget, atau hanya kaget sebentar. Endah hanya mengingatkan satu hal penting. Apa yang sudah dilakukan Isma dan Hamdi sekarang ini merupakan hal yang amat wajar. Namun Isma harus tahu, jalinan asmaranya dengan Hamdi sekarang ini sangat berbahaya. Karena itu, Isma dan Hamdi harus siap menghadapi resiko besar. Isma yang semakin larut dalam curhatnya, sedetik kemudian menangis. Apalagi setelah ia mendengar nasehat Endah itu.
         Isma mengangguk mantap, tanda kalau ia benar-benar mengetahui hal itu. Ia pun sadar kalau yang dilakukannya sekarang ini salah. Namun di satu sisi ia merasa benar karena ia punya alasan yang sangat kuat. Endah yang terlihat sangat sabar, berkata, “Mungkin Mbak Is bisa menjelaskan alasan yang Mbak anggap benar itu.”         
         Isma yang matanya basah, mengangguk, “Baiklah Bu..akan saya jelaskan. …Insya Allah, setelah saya jelaskan nanti, Ibu akan semakin memahami keadaan saya. Tapi Ibu jangan bilang siapa-siapa ya?”
         Endah tersenyum dan mengangguk. Isma berkata lagi, “Insya Allah, saya percaya dengan cerita Mas Hamdi tentang Bu Mardi selama ini.”
         “Apa itu?”
         “Bu Mardi selalu bisa memegang amanat, menutup aib saudara, tetangga, atau teman baik Ibu. Betul kan?”
         Endah tersenyum,Insya Allah Mbak. Semoga Allah berkenan menjaga hatiku. …Nah, sekarang ceritakanlah.”
         Karena sudah percaya seratus persen pada Endah, Isma langsung menceritakan semua derita di hatinya selama ini. Isma menceritakan perilaku Kandar terhadap dirinya selama ini. Perilaku suaminya yang kejam dan kelewatan itu sudah dideritanya sejak empat tahun, atau dua tahun setelah mereka menikah. Sekarang usia pernikahan mereka sudah enam tahun. Selama enam tahun, Isma hanya merasa bahagia selama dua tahun awal. Isma hanya mendapat kasih sayang dari Kandar selama dua tahun. Selebihnya, atau empat tahu sesudahnya, termasuk sekarang ini, Isma selalu mendapat perlakuan buruk dari Kandar yang sombong itu. Hanya sesekali saja Isma disayang suaminya. Kalau Isma tidak bisa punya anak, Kandar sudah lebih membencinya, bahkan kemungkinan besar, Kandar sudah menceraikannya.        
         Namun untunglah, berkat kasih sayangNya yang tanpa batas, Isma tidak menjadi perempuan mandul. Setelah setahun lebih sebulan Kandar menikahi Isma, perempuan berambut ngombak ini mengandung, dan lahirlah Utari. Berkat kehadiran si buah hati, hubungan Kandar dan Isma menjadi cukup baik. Perlakuan Kandar yang biasanya kasar itu menjadi lebih lembut. Tentu saja hal itu membuat kehidupan sehari-hari Isma terasa lebih enteng. Isma bahagia sekali. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas perubahan sifat Kandar. Walaupun suaminya itu belum menjadi baik seratus persen, setidaknya sudah berubah cukup banyak. Berkat kehadiran Tari, Kandar menjadi sering tersenyum pada Isma, bahkan juga sering memanjakan Isma.       
         Setelah Tari dipanggil Sang Raja jagat raya, kehidupan rumah tangga Kandar dan Isma kembali memburuk. Kandar yang sudah cukup lama menjadi orang sabar dan penyantun, kembali menjadi galak dan egois. Kandar menjadi sering menyakiti Isma lagi, dan itu masih terjadi sampai saat ini. Namun Isma menegaskan, perlakuan buruk Kandar tehadap dirinya sekarang ini bukan semata karena sekarang Isma belum punya anak lagi. Isma berani mengatakan, untuk saat ini Kandar tidak begitu memikirkan soal anak, atau belum begitu berminat punya anak lagi. Dengan demikian, perlakuan buruk Kandar yang diterima Isma saat ini lebih disebabkan karena kesombongan Kandar yang semakin hari semakin menjadi. Semua itu karena Kandar semakin sibuk berjualan barang-barang antiknya, terutama lampu.
         Endah yang melihat tangis Isma sudah cukup mereda, bertanya, “Apa memang sudah sejak dulu sifat buruk Mas Kandar itu? …Ehmm, maksudku…saat beliau mau menikahi Mbak Is, apa Mbak Is memang sudah tahu sifat calon suami Mbak Is itu?”
         Isma yang matanya sudah cukup mengering, mengangguk. Setelah menarik nafas, kekasih Hamdi ini berkata, “Sebenarnya Bu…sebenarnya….”
         Hening sejenak. Endah terkejut melihat Isma bimbang, namun sedetik kemudian Endah langsung menenangkannya. Isma pun menjadi lega. Ia berkata lagi, “Sebenarnya…sejak kami mau menikah dulu…saya tidak pernah mencintai Mas Kandar. …Sampai saat ini, cinta saya terhadap Mas Kandar hanya setengah hati…bahkan kurang dari setengah.”     
         “Jadi?..kenapa Mbak Ayu mau jadi istrinya?”
         Itu karena…ehmm..baiklah ( mengangguk ), akan saya ceritakan selengkapnya.”
         Endah tersenyum, lalu menyentuh kedua tangan Isma nan halus. “Jangan kuatir Mbak Ayu. Perempuan tua di hadapanmu ini benar-benar berjanji untuk membantumu. Perempuan di hadapanmu ini akan berusaha maksimal untuk membantu menghilangkan derita hatimu. Nah, apalagi yang membuatmu ragu?”
         Isma yang matanya masih agak basah, tersenyum manis. Ia lanjutkan ceritanya yang sedikit tertunda. Seperti yang sudah dijelaskan di bab awal, Ismayani Puspita ini mantan dokter gigi. Ia berasal dari keluarga menengah ke bawah. Suatu ketika, saat ia masih berstatus mahasiswi Kedokteran Gigi, ekonomi keluarganya terpuruk drastis. Hal itu jelas membuat studinya di KG UGM terganggu. Apalagi kuliah di Kedokteran itu membutuhkan biaya yang cukup banyak. Ayahnya yang hanya wiraswastawan kelas bawah, mengaku tidak mampu lagi membiayai kuliah putri tercintanya yang masih agak jauh dari selesai. Isma yang saat itu masih bersemangat menyelesaikan studinya, harus mau menerima kenyataan pahit itu.
         Isma yang cantik dan baik hati ini jelas mudah saja untuk memahami keadaan diri dan keluarganya. Isma pun cuti kuliah selama tujuh bulan. Ia bekerja di sana-sini untuk membantu ekonomi keluarganya, juga untuk melanjutkan studinya yang tersendat. Isma sangat menyayangkan seandainya sekolahnya tidak selesai. Demi tujuan mulia, Isma yang saat itu masih seorang Katolik yang taat, bekerja sangat keras. Isma yang disukai banyak orang, selalu mendapat kemudahan dalam segala urusannya.
         Saat bekerja keras untuk melanjutkan studinya, Isma sering ditolong teman-temannya. Sampai pada suatu ketika, Isma bertemu Iskandar, seorang pedagang dari Cilacap, Jateng, yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Saat itu Kandar sedang membuka toko barang pecah belahnya di Jl. Godean. Ketika Kandar makan siang, uangnya tertinggal di restoran kecil tempat Isma bekerja. Kandar tidak sadar kalau uangnya tertinggal. Uang yang jumlahnya cukup banyak itu disimpan sebentar oleh Isma, kemudian besoknya dikembalikan ke pemiliknya.
         Uang itu kembali ke pemiliknya dalam keadaan utuh, tidak berkurang secuil pun. Saat itulah, Kandar mulai tergoda pada gadis cantik yang sudah mengembalikan uangnya. Ia langsung bertanya-tanya pada anak buahnya, atau pada orang yang kira-kira mengenal Isma. Mendengar pertanyaan itu, salah satu anak buah Kandar menyarankan agar Kandar bertanya langsung pada pemilik restoran sederhana tempat Isma bekerja. Kandar tersentak gembira. Ia langsung meminta salah satu anak buahnya untuk mencari info tentang Isma. Saat itu juga, semua bawahan dan teman-teman Kandar langsung tahu kalau Kandar sudah jatuh cinta pada Isma.
         Beberapa hari kemudian Kandar mendapat informasi tentang Isma. Gadis jelita berhidung mancung itu asli Gombong, jadi wajar kalau bahasa Jawanya ngapak. Dia  seorang gadis sederhana yang berasal dari kalangan bawah. Sekarang dia sedang bekerja keras untuk membantu ortu dan kakak-adiknya di Kebumen. Selain itu, dia juga bekerja ekstra keras untuk melanjutkan kuliahnya yang masih agak lama. Mendengar semua informasi itu, Kandar mengangguk-angguk dan tersenyum gembira. “Luar biasa! Gadis lugu itu ternyata seorang mahasiswi KG UGM. Kelihatannya polos, sederhana, tapi sekolahnya tinggi. Hah ha haa! Ini benar-benar hebat! …Wah, aku jadi semakin mencintainya.”
         Memang benar. Setelah semakin mengenal Isma, Kandar menjadi semakin mencintai gadis kalem itu. Kandar yang cintanya sudah serius, langsung memanfaatkan kesempatan emas di hadapannya itu. Tanpa ragu lagi, Kandar menemui orang tua Isma di desanya, kemudian menawarkan diri untuk membantu kuliah Isma yang sekarang masih tersendat. Kandar berjanji akan membiayai kuliah Isma sampai selesai.  
         Awalnya Isma dan keluarganya ragu, terutama Isma sendiri, namun setelah berpikir masak-masak, akhirnya Isma mau menerima tawaran Kandar itu. Ortu Isma yang lebih dulu menerima tawaran itu, selalu mendorong Isma untuk mengatakan:Ya. Ibunya berkata, “Sudahlah Nduk, terima saja. Mas Kandar itu orang baik kok. Dia tulus ingin membantu kamu. Sudah baik, kaya lagi.“
         “Iya Mbak,” sambung adik perempuannya yang masih SMA. “Ada bantuan besar kok ditolak.”    
         “Ini kesempatan emas Nduk,” sambung ayahnya. “Hanya sedikit orang  yang bisa mendapat kesempatan seperti ini. Kalau kamu mau menerima tawaran Mas Kandar, berarti kamu sudah menyenangkan dia. Nah, mau menerima pemberian atau bantuan orang itu ganjarannya besar sekali.”
         Hening sejenak. Sang ayah kembali berkata, “Apa mungkin karena Mas Kandar itu beda keyakinan sama kita? …Mungkin karena dia seorang Muslim, dan kita Katolik, kamu jadi enggan menerima tawarannya? Apa karena itu Nduk?”
         Isma menggelengkan kepala. “Sama sekali bukan karena itu Pak.”
         “Terus karena apa?”
         Diam beberapa detik. Isma yang bingung ini menjawab dalam hati, “Karena aku tidak suka dia. …Tapi baiklah, demi Bapak-Ibu dan adik-adik tercinta.”
         “Sejak awal aku sudah tahu,” tutur Isma pada Endah, “Mas Kandar hanya ingin mendekati aku, ingin memiliki aku. Bahkan ingin menikahi aku.”
         Memang benar tuturan Isma itu. Kandar yang saat itu seorang lelaki setengah tua, 34 tahun, yang masih bujang, merasa sudah menemukan perempuan yang akan ia jadikan pendamping hidupnya. Isma yang sudah mengetahui hal itu, ingin menolak tawaran Kandar dengan halus. Namun karena Isma seorang gadis yang cantik wajah dan hatinya, akhirnya Isma bersedia menerima tawaran Kandar yang mengandung pamrih. Semua itu ia lakukan karena dorongan positif yang sangat kuat. Ingin membantu ekonomi keluarganya yang saat itu terseok-seok.
         Berkat bantuan Kandar, Isma berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Tentu saja ayah-ibunya sangat bahagia. Mereka semakin sungkan dan hormat pada Kandar. Kandar yang memang sudah angkuh sejak dulu itu menjadi semakin tinggi hati. Ia semakin berani membusungkan dada di hadapan orang tua Isma. Setelah meluluskan Isma dari KG, Kandar langsung menagih janjinya pada Isma dan kedua ortunya. Janji yang dulu ia ucapkan secara tidak langsung. Menikahi Isma. 
         Mendengar tagihan itu, ortu Isma sama sekali tidak terkejut, bahkan sangat gembira. Mereka langsung menerima lamaran Kandar itu dengan lapang dada. Namun bagaimana dengan Isma sendiri? Lamaran itu ia rasakan seperti sambaran halilintar. Isma yang saat itu sudah memiliki Mardan, kekasih hatinya, penduduk kampung sebelah, tetangga kampungnya, ingin menolak lamaran Kandar. Apalagi hubungan cintanya dengan Mardan sudah sangat kuat. Mardan yang lulusan D-3 Ekonomi UGM itu sudah pernah melamar Isma, namun lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ayah Isma. Alasannya karena Mardan dianggap tidak memiliki masa depan yang menjamin.    
         Sungguh berat cobaan yang harus diterima Isma. Ia harus berlagak menyukai Kandar di hadapan orang tua dan semua saudaranya. Betapa sedihnya Isma melihat kedua ortunya tidak bisa memahami perasaannya. Yang paling bisa mengerti beban hatinya hanya Yanti, adik bungsunya yang manis, yang masih kelas 2 SMA. Isma memiliki tiga adik. Marno, Yuni dan Yanti. Sejak dulu, ketika Isma dan adik-adiknya masih kecil, Isma memang selalu dekat dengan Yanti.
         Isma yang batinnya tersiksa, selalu curhat pada Yanti, adik satu-satunya yang paling bisa mengerti dirinya. Isma selalu mengatakan keberatannya menjadi istri Kandar. Namun mau bagaimana lagi? Apapun yang terjadi, Isma tidak mungkin menolak lamaran Kandar, lelaki yang sudah menolong diri dan keluarganya. Dengan sangat berat hati, Isma yang polos ini menerima lamaran Suryo Iskandar. Kalau bukan karena motivasi besar, Isma sudah menolak menjadi milik Kandar untuk selamanya. Isma bertanya, “Apa motivasi besar itu? Bu Endah tahu tidak?”   
         Endah tersenyum. “Membahagiakan orang tua.”
         “Tepat sekali. …Membahagiakan orang tua..walaupun aku sendiri harus menyiksa diri.”
         Diam sejenak. Walaupun belum menangis lagi, wajah Isma terlihat sangat menderita. Ia melanjutkan, “Sebenarnya Bu…aku sudah tidak begitu kaget dengan keinginan Mas Kandar untuk melamarku. Toh saat pertama menawarkan bantuan, aku sudah tahu kalau Mas Kandar itu minta imbalan.“
         “Terus apa yang membuat Mbak Ayu kaget dan sedih bukan main?”
         Isma memejamkan mata, setelah itu berkata, “Keluargaku. …Tidak ada satupun dari keluargaku yang mendukung penolakanku. …Hanya Yanti yang mendukung. Tapi dukungannya jelas lemah sekali. Dukungannya tidak membantuku sedikit pun. …Itu yang pertama. …Lalu yang kedua. …Walaupun semua anggota keluargaku menolak, itu tidak ada artinya. Mas Kandar tetap bisa mendapatkan aku. Seumpama kami semua menolak, Mas Kandar pasti akan mengancam kami. Mas Kandar pasti akan menjelekkan aku, mencemarkan nama baik keluargaku, dan menginjak-injak harga diri keluargaku.”
         Setelah Isma menerima lamaran lelaki yang tidak pernah dicintainya, pihak keluarga Kandar menginginkan agar pernikahan mereka segera dilangsungkan. Tiga bulan kemudian, atau setengah tahun setelah Isma tamat KG, Isma resmi menjadi istri Kandar. Beberapa hari sebelum mereka menikah, Mardan patah hati berat. Ia menangis dan mengurung diri di kamar selama seminggu. Namun untunglah, Mardan bukan lelaki yang lemah iman, yang selalu mengakhiri setiap masalahnya dengan Jalan Pintas.*  Mardan termasuk pemuda yang cukup tegar.
          Catatan Kaki: *Bunuh Diri

         Tiga minggu setelah Ismayani Puspita menjadi milik Suryo Iskandar untuk selamanya, kehidupan sehari-hari Mardan masih loyo. Waktunya habis untuk melamun di kamar. Tentu saja ayah-ibunya sedih sekali. Namun untunglah, selama melamun itu, Mardan tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim, yaitu mengerjakan sholat waktu. Beberapa hari setelah itu, Mardan mendapat wejangan dari kyai yang bertempat tinggal di desa sebelah desanya. Kyai yang belum begitu tua itu selalu mengatakan, “Ittaqillaah (bertakwalah kepada Allah) Mas Mardan..ittaqillaah..dzikrullaah. Hanya itu yang bisa menentramkan hati anda.”
         Berkat semua itulah, akhirnya Mardan bisa mengikhlaskan Isma, bidadari hatinya, menjadi milik orang. Berkat semua itulah, akhirnya Mardan bisa semangat lagi dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Hanya saja, kalau wajah Isma muncul lagi di pikirannya, hatinya kembali tertusuk. Hatinya seperti ditusuk tombak membara. Namun sedetik kemudian ia langsung teringat pesan sang kyai yang berbunyi: “Obat paling mujarab untuk sakit hati itu ingat Allah.” Seketika itu juga, Mardan langsung dzikir dengan cara apapun. Kadang ia langsung mengambil air wudhu untuk sholat sunnah, lalu membaca kitab suci Al-Quran. Kadang ia hanya duduk bersila sambil mengucap asma Allah. Hal itu selalu ia lakukan kalau ia teringat Isma. Begitu wajah Isma muncul di benaknya, ia langsung berseru, “Tidak! Jangan! Jangan mengkhayalkan dia lagi!! Jangan menginginkan dia lagi!! Dia sudah jadi milik orang! Laa ilaaha illallaah. Ya Allah ya Rabbi, usirlah Isma dari hatiku.”
         Berkat menjalin cinta dengan Mardan, Isma menjadi banyak tahu tentang Islam. Hal itulah yang membuat Isma semakin tertarik pada Islam. Dengan demikian, Mardan-lah yang sudah meng-Islamkan Isma, walaupun Isma baru memeluk Islam setelah menjadi istri Kandar. Tanpa dorongan besar dari Mardan, Isma tidak akan menjadi Muslimah seperti sekarang ini. Demikianlah kisah tentang asal-usul kehidupan rumah tangga Isma dan Iskandar. Isma harus menikah tanpa didasari cinta. Isma hanya menikah karena amal sholeh yang tak ternilai harganya. Pernikahan yang seharusnya membahagiakan semua pihak, tidak berlaku bagi Isma yang mengorbankan kebahagiaannya.     
         Beberapa minggu sebelum menikah, Isma pernah dinasehati Ningsih, salah satu tetangganya yang baik hati, yang sangat dekat dengan Isma. Ningsih itu wanita setengah tua. Usianya sekitar 40 tahun. Ia mengatakan, “Saat pertama menjadi istri lelaki yang tidak pernah kamu cintai, kamu benar-benar akan tersiksa. Tapi Insya Allah, semua itu bisa kamu atasi dengan bersabar dan bertawakkal. Dengan dua bekal itu, kamu bisa belajar mencintainya. Lakukanlah pelan-pelan. Insya Allah, suatu saat nanti kamu pasti bisa mencintainya, walaupun cintamu tidak bisa penuh, sebagaimana kamu mencintai Mardan. Percayalah adikku, percayalah dengan nasehatku ini.”
         Dengan bekal itulah, Isma mau hidup bersama Kandar. Dengan bekal itu pula, akhirnya Isma bisa mencintai Kandar dengan lebih dari separuh hatinya. Isma bisa menyayangi Kandar dengan 70 persen cintanya. Hingga saat ini, cinta Isma pada Kandar tidak lebih dari itu. Tapi kalau Kandar sedang gemar berlaku kasar, cinta Isma pada suaminya itu menjadi separuh, bahkan bisa kurang dari itu. Apalagi untuk sekarang ini, dimana perlakuan Kandar yang buruk itu semakin menjadi-menjadi. Ditambah lagi, sekarang ini Isma sudah menemukan lelaki yang menurutnya agak mirip dengan Mardan, mantan kekasihnya. Yah, siapa lagi lelaki itu kalau bukan imamnya masjid Al-Furqan.
         “Terus sekarang Mardan di mana?” Tanya Endah. Isma mengatur nafasnya, lalu menyahut, “Sampai sekarang tidak ada kabarnya. …Dia seperti ditelan bumi. Sudah tiga tahun dia meninggalkan desaku. …Dan kemungkinan besar, dia akan meninggalkan desaku untuk selamanya.“
         Hening sejenak. Isma menghapus air matanya yang hanya setitik, kemudian melepas nafas lega. “Begitulah ceritanya.”
         Endah tersenyum, lalu kedua tangannya memeluk erat tangan kanan Isma. “Masalah akan selalu mendatangi manusia. Sebab memang hanya masalah yang bisa membuat manusia berkembang.”
         “Betul sekali Bu..sahut Isma tersenyum manis. Endah melanjutkan, “Mbak Ayu sudah menceritakan semuanya. Nah, sekarang ganti aku yang ingin menceritakan seluk beluk keluarganya Mas Hamdi. Mau?”
         “Mau sekali!” jawab Isma semangat. Endah tersenyum. “Baiklah. Aku mau cerita karena aku yakin Mbak Ayu bisa dipercaya.”
         Insya Allah. Bu Endah bisa mempercayai aku, sebagaimana aku bisa mempercayai Bu Endah.”
         Endah tersenyum. “Indah sekali kata-katamu itu, seindah yang mengucapkan. Baiklah kalau begitu. Sekarang dengarkan baik-baik.”
         Sampai sekarang,  putra-putri Hasan Sujardi yang sudah pada dewasa itu belum ada yang menikah. Sujar dan Retno belum memiliki mantu, begitulah yang diketahui masyarakat umum. Namun sebenarnya, kalau dilihat dengan lebih spesifik, Sujar dan Retno sekarang ini sudah memiliki mantu, bahkan seorang cucu perempuan. Dengan demikian, dari semua putra Sujar, entah Hamdi, Ardan, Darwan atau Dina, sudah ada yang menikah. Tentu saja berita ini sangat mengejutkan bagi siapapun yang belum tahu, termasuk Isma.
         Lantas siapa dari keempat putra Sujar yang sudah married? Tentu saja ini merupakan rahasia yang amat sangat besar bagi keluarga Sujardi.  Tahun 2002, salah satu putra Sujar itu menikah dengan seorang perempuan yang secara umum bukan perempuan baik-baik, entah tidak baik dari segi status maupun kepribadian. Sekarang tahun 2007, berarti pernikahan putra Sujar dengan perempuan misterius itu sudah berjalan lima tahun. Anak perempuannya berusia empat tahun, dan sekarang sedang ingin disekolahkan oleh ayahnya. Sampai sekarang, mantu Sujar itu belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di rumah Sujar. Sejak menikah dengan putra Sujar, perempuan misterius itu belum sekalipun bertemu dengan Sujar dan Retno. Semua itu karena Sujar dan Retno tidak atau belum bisa menerima dirinya sebagai anggota keluarga Hasan Sujardi.
         Lantas siapa putra Sujar yang sudah memiliki teman hidup itu? Apakah Hamdi, Ardan, Darwan atau Dina? Endah bertanya, “Mbak Is benar-benar ingin tahu?”
         “Sangat ingin Bu. Bagiku, rasa penasaran itu sesuatu yang paling menyiksa.”
         Endah tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya. Putra Pak-Bu Sujar yang sudah menikah itu Ardan Ibrahim, putra kedua mereka yang sejak dulu memang terkenal mbeling, nakal. Pemuda yang sebenarnya cukup tampan dan gagah itu menikah dengan Lastri, perempuan anak penjual krupuk keliling. Perempuan asli Klaten itu dulunya pembantu rumahnya Pak Warno, salah satu tetangga Retno di Bumi Indah. Rumahnya dengan rumah Retno terpaut cukup jauh, sekitar 500 meter. Saat menjadi PRT-nya Warno, Ardan memang sudah sering memacari dan mengapeli-nya diam-diam. Sampai akhirnya mereka menjadi pasangan kekasih.
         Saat dinikahi Ardan dulu, Lastri sudah keluar dari rumah Warno. Ia keluar karena diusir oleh Bu Warno atau Titi. Semua itu karena Bu Warno sudah mengetahui hubungan asmaranya dengan putra kedua Sujar itu. Setelah keluar dari komplek Bumi Indah, gadis berwajah lumayan cantik itu bekerja di sebuah toko kecil yang letaknya juga di gang kecil. Saat bekerja sebagai pelayan toko, Ardan masih terus mengejarnya. Tentu saja Lastri semakin takut dan bingung. Ia merasa tidak pantas menjadi kekasih Ardan, pemuda yang strata sosialnya jauh di atasnya. Namun karena Ardan mengaku sudah sangat serius mencintai Lastri, juga karena ia pantang menyerah dalam mengejar Lastri, gadis dusun yang katanya agak jahat itu akhirnya pasrah. Bagaimana tidak? Gadis dusun mana yang tidak mau dinikahi Ardan? Gadis dusun mana yang tidak mau jadi istrinya seorang pemuda gagah-tampan yang berasal dari kalangan menengah ke atas? Gadis dusun mana yang tidak mau jadi menantunya orang terhormat seperti Hasan Sujardi?
         Saat Lastri masih tinggal di rumah Warno, Retno sudah menduga kalau Ardan mulai jatuh hati pada gadis asli Ceper, Klaten itu. Retno pun menasehati Ardan agar jangan sampai jatuh cinta pada Lastri, pembantu tetangganya. Selain tidak pantas dari segi sosial, menurut keterangan kuat dari orang-orang yang terpercaya, akhlak Lastri itu kurang baik. Katanya Lastri pernah mengambil perhiasan Titi. Dengan demikian, sudah bagus Retno hanya mengatakan ‘kurang’ baik, bukan ‘tidak’ baik. Retno sangat mewanti-wanti Ardan akan hal itu. Retno sering mengatakan, Ardan tetap harus bisa menjaga nama baik keluarganya, seberat apapun caranya. Hamdi pun sudah sering menasehati adik keduanya yang angkuh itu.       
         Sama halnya dengan Darwan, putra ketiga Sujar yang paling kuat agamanya. Ia juga sudah berkali-kali menasehati kakak keduanya yang sering bertindak sesuka hatinya. Kalau ngobrol atau curhat dengan Hamdi, Ardan sering ribut, bahkan akhirnya bertengkar dengan kakaknya itu. Sejak dulu Ardan dan Hamdi memang tidak pernah cocok. Sejak kecil Ardan dan Hamdi sering bertengkar, dan Hamdi-lah. yang selalu kena semprot ayah-ibunya, walaupun ia sering di pihak yang benar. Ardan mengaku lebih cocok curhat dengan Darwan atau Dina, terutama Darwan. Dari kedua adiknya itu, Darwan-lah yang paling bisa memahami dirinya.
         Ardan dan Darwan memang agak sering ribut, namun kadarnya tidak sama dengan kalau Ardan sedang ribut dengan Hamdi. Bagi Ardan, adiknya yang alim itu  agak cocok untuk dirinya. Jika dibanding semua anggota keluarganya, Darwan-lah yang paling bisa dia jadikan teman curhat, setelah itu baru ayahnya, kemudian Dina. Kalau ngobrol sama Dina, Ardan juga sering merasa tidak puas. Ardan dan Dina cukup sering ribut, namun Dina selalu mengalah. Adik perempuannya yang sabar itu lebih dekat dengan Hamdi, jadi wajar kalau dia dan Dina kurang cocok. Walaupun begitu, Ardan selalu mengatakan, kalau dibanding Hamdi atau ibunya, Dina itu masih lebih cocok untuk dirinya.                
         Beberapa minggu sebelum Ardan menikahi Lastri, semua sahabatnya yang dulu ia rekrut di toko Maryani, toko buatan Sujar yang ia pegang, pada menasehatinya untuk tidak bertindak gegabah. Semua sahabatnya berkata, “Dan, apa rencanamu itu sudah kamu pikirkan masak-masak? Apa rencanamu itu tidak terlalu cepat? Apa kamu tidak berpikir jauh ke depan?”
         Ardan yang sudah mabuk cinta, menyahut dengan semangat, “Aku sudah gedhe, jadi tidak mungkin main-main. Aku sudah sering jatuh cinta, tapi belum pernah seserius cintaku pada Lastri sekarang ini.”
         Sahabatnya yang lain menasehati, “Kalau kamu mau bersabar, Insya Allah, kamu bisa dapat gadis lain yang lebih baik, lebih pantas untuk kamu, untuk keluargamu. Kamu bisa dapat gadis yang sederajat. Ingat Dan, pernikahan itu untuk selamanya. Dalam pandangan agama, pernikahan itu sesuatu yang sangat sakral. Kamu jangan hanya melihat boleh atau tidak. Kamu harus melihat yang lebih tinggi dari itu. Kamu harus melihat pantas atau tidak.”
         Nasehat itu malah membuat emosi Ardan meledak. Ia berkata setengah membentak, “Lastri itu gadis baik-baik. Dia pantas untukku! Pantas untuk jadi istriku! Huhh! Kamu bisa ngomong sembarangan karena kamu belum kenal dia. Dan kamu juga tidak tahu isi hatiku! Huhh! Sudah! Tidak usah kita lanjutkan! …..Sekarang kamu pergi saja..dari pada nanti aku semakin marah.”
         Hening sejenak. Melihat temannya itu belum pergi, Ardan melotot. “Apalagi yang kamu tunggu!? Haa?! Cepat pergi! Aku tidak mau lihat kamu lagi!”
         Temannya itu berdiri sambil menggelengkan kepala. “Keterlaluan kamu Dan. Huh! Benar sekali kata Mas Hamdi dan Dik Dina. Kamu memang egois. Kamu tidak pernah memperhatikan kepentingan orang banyak. Bahkan menjaga nama baik orang tua pun kamu tidak mau.”
         “Cukup!” bentak Ardan yang semakin marah. “Simpan saja nasehatmu, lalu berikan ke temanmu yang lain. Sekarang kamu sudah membuat aku semakin marah. Kalau kamu tidak mau kukasari, sekarang juga kamu harus pergi!”
         Si teman meninggalkan Ardan sambil mengelus dada. Ketika posisinya sudah membelakangi Ardan, adik kedua Hamdi yang sombong ini berkata, “Kamu juga tidak usah menggubris omongan Hamdi dan Dina. Mereka itu brengsek! …Sejak dulu mereka sudah tidak suka sama aku. Sejak dulu mereka selalu ngatur aku..terutama Hamdi! Huhh! Ngatur diri sendiri saja belum bisa,  kok berani-beraninya ngatur aku!”
         Beberapa minggu kemudian, Ardan siap menikahi Lastri. Ia mendatangi desa Lastri dengan mobil pinjaman. Mobil Taft Feroza milik adik sepupunya. Karena tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang menyetujui jalinan cintanya dengan Lastri, pemuda yang sudah buta hatinya ini nekat untuk nikah siri atau kawin lari. Awalnya Lastri dan keluarganya takut.  Lastri sendiri menyadari kalau ia tidak pantas menjadi istri Ardan Ibrahim. Lastri sadar seratus persen. Perbedaannya dengan Ardan laksana ukuran tubuh kucing dan kerbau. Dirinya yang hanya anak penjual krupuk, jelas sangat jauh di bawah Ardan Ibrahim, putranya orang terhormat di masyarakat.
         Setelah bersusah payah, akhirnya Ardan berhasil meyakinkan Lastri dan keluarganya. Ardan selalu mengatakan, untuk saat ini ayah-ibunya memang tidak setuju, tapi suatu saat nanti mereka pasti bisa menerima Lastri sebagai menantunya. Karena percaya dengan kata-kata Ardan yang sangat meyakinkan itu, akhirnya Lastri bersedia dinikahi Ardan. Mereka menikah dengan sangat sederhana. Setelah aqad nikah, mereka mengadakan walimahan atau pesta pernikahan kecil-kecilan. Setelah resmi menjadi suami-istri, namun belum resmi bagi Sujar dan Retno yang belum tahu, Lastri dan Ardan tinggal di rumah Lastri untuk sementara. Empat bulan kemudian, Ardan memboyong istrinya ke rumah kontrakan yang ia cari dengan susah payah. Ardan membiayai rumah kontrakannya itu dengan uang dari supermaketnya yang sekarang sudah musnah, juga hasil dari penjualan semua barang miliknya. Ardan dan Lastri  hidup bahagia, walaupun sebenarnya hati kecil mereka sangat cemas.
         Sampai Lastri mengandung beberapa bulan, Sujar, Retno, Hamdi, Darwan dan Dina belum tahu kalau Ardan sudah memiliki teman hidup yang baginya sudah sah. Tujuh bulan setelah Ardan menikahi Lastri, barulah Sujar dan Retno mengetahui hubungan gelap putra kedua mereka dengan gadis pelayan toko yang dulu pernah menjadi PRT tetangga mereka. Informasi itu mereka peroleh dari Parman, ponakan mereka, adik sepupu Hamdi dari pihak Sujar. Sebelumnya, Parman sudah memberitahukan perkara heboh ini ke Darwan, namun Darwan masih ingin menyembunyikannya karena ia takut kalau ayah-ibunya jantungan, terutama sang ibu.
         Setelah mengetahui Ardan berulah, Sujar dan Retno seperti disambar geledek. Mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang mereka hadapi itu. Retno benar-benar histeris. Ia seperti orang yang baru sadar dari mimpi panjang. Ia stress berat selama beberapa bulan. Hampir setiap hari ia menangis. Namun untunglah, Retno punya Endah, tetangga terbaiknya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Tanpa kehadiran wanita tangguh itu, Retno sudah ling lung. Beberapa minggu kemudian, Retno yang hatinya terluka parah, meminta Ardan untuk menceraikan Lastri.
         Tentu saja Ardan bingung berat. Awalnya ia bersedia, namun setelah melihat istri gelapnya sudah hamil, ia langsung mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Pemuda angkuh ini merasa iba pada Lastri, dan terutama pada si jabang bayi. Biar bagaimanapun, anak yang dikandung Lastri itu darah dagingnya. Retno dan Sujar pun akhirnya pasrah, walaupun mereka tetap belum mengakui Lastri sebagai menantu mereka. Demikianlah big trouble yang menimpa keluarga Hasan Sujardi. Endah berkata, “Di semua keluarga, pasti ada salah satu anggotanya yang tidak beres, yang rusak, yang membuat ulah, yang menyakiti kedua ortunya. Anaknya Nabi Nuh saja jadi kafir, apalagi cuma anak-anak kita yang lemah ini. Kesholehan Nabi Nuh itu sangat jauh di atas kita, tapi beliau tidak bisa membuat anaknya beriman. Jadi..yah, kita harus terima semua kekurangan ini.”
          “Betul sekali,” sahut Isma yang wajahnya memelas. “Jadi sampai sekarang, Mas Ardan belum pernah membawa Lastri ke rumah?”
         Endah menggelengkan kepala sambil tersenyum. Isma bertanya lagi, “Sampai sekarang, Mas Ardan belum pernah mempertemukan Lastri dengan Pak-Bu Sujar?”
         Endah kembali menggelengkan kepala. Isma yang wajahnya semakin memelas, berkata, “Ya Allah. …Kasihan sekali Pak-Bu Sujar. …Mas Hamdi, sungguh berat cobaan yang menimpa keluargamu. Ohh. …Pantas saja, sampai sekarang Mas Hamdi masih ingin menyendiri.”
         Endah tersenyum, “Makanya, kalau orang-orang sini sampai tahu hubungan cinta kalian, wah (menggelengkan kepala). Langit kelap-kelip bumi gonjang-ganjing. …Nama baik Pak-Bu Sujar bisa remuk.”
         Hening sejenak. Isma yang matanya mulai berkaca-kaca, berkata, “Yang jadi masalah besar…kenapa cinta sejati baru kurasakan sekarang? Kenapa cinta sejati baru kurasakan di saat aku sudah bersuami? Oohhh (air mata menetes)..”
         Isma menangis lirih. Endah yang hatinya begitu lembut, langsung ikut meneteskan air mata, namun kadar tangisnya lebih kecil dari Isma. Hening beberapa saat. Kedua tangan Isma memeluk tangan kanan Endah, lalu ia taruh di depan dadanya. Dengan wajah penuh harap, kekasih Hamdi ini berkata, “Ibu bersedia membantu aku kan? Ibu bersedia melindungi hubunganku sama Mas Hamdi ini? …..Bersedia kan?!”
         Endah tersenyum dan mengangguk. “Insya Allah, Mbak Ayu. Aku akan berusaha sebisaku.”
         Tentu saja Isma gembira sekali. Dua perempuan cantik ini berpelukan erat. Isma berkata, “Bu Endah memang perempuan berhati emas.”      
       

                                                       * * * * *
         Beberapa hari kemudian, tibalah waktunya bagi Asyraf untuk mohon pamit pada Sujar, Retno dan Hamdi. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya, Asyraf harus memegang bisnis ayahnya yang ada di Jl. Imogiri. Asyraf yang sebenarnya masih ingin menjadi takmir masjid Al-Furqan, harus meninggalkan Bumi Indah dengan berat hati. Sujar dan Retno pun agak kecewa dengan kepergian Asyraf. Maklum saja, kemampuan Asyraf sebagai takmir masjid sudah layak diacungi jempol, walaupun masih satu-dua tingkat di bawah pendahulunya, Abu Muslih Ardi Wahyudi dan Nur Ikhwan Muslim. Namun Asyraf berjanji pada Hamdi. Jika suatu saat nanti Al-Furqan mau menggelar acara-acara besar yang tentunya juga membutuhkan tenaga besar, Muhammad Asyraf Pranowo siap membantu.
         Setelah Asyraf keluar, Nurman sendirian mengurus Al-Furqan. Walaupun kuat, rajin dan cukup disiplin, mahasiswa HI (Hubungan Internasional) UGM ini akhirnya mengaku kewalahan. Namun ia tidak langsung mengeluhkan tugas beratnya itu kepada Sujar, Retno, Hamdi atau siapapun. Ia sudah bertekad bulat untuk bersabar dulu. Pemuda tampan bertubuh atletis ini berprinsip, semakin berat kesulitan yang kita hadapi, Insya Allah, akan semakin berat pula kebaikan yang akan kita raih nanti.
         Beberapa hari kemudian kesabaran Nurman membuahkan hasil. Setelah dua minggu mengurus masjid sendirian, akhirnya Nurman mendapat teman yang sesama ikhwan Salaf. Dia mahasiswa Teknik Elektro UGM. Daerah asalnya Sukabumi. Namanya Rian Purnama. Pemuda bertubuh kecil namun cukup berotot itu akan membantu Nurman yang sebentar lagi mau pergi untuk sementara waktu. Saat waktu kepergian Nurman tiba, Sujar menjadi agak bingung lagi. Ya tentu saja, sebab Rian yang etos kerjanya masih di bawah Nurman, apalagi Asyraf, apalagi Ardi, akan sendirian mengurus masjid.
         Namun tak lama kemudian Ardi berhasil menemukan orang yang akan membantu Rian. Namanya Andi Aji. Pemuda asli Kemusu, Boyolali itu kuliah di Teknik Industri UGM. Posturnya mirip Rian. Kecil, pendek, agak berotot. Bedanya, warna kulit Rian kuning langsat kecoklatan, sedangkan kulit Andi coklat agak tua. Dua pemuda ini disiapkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang akan datang sebulan lagi. Berkat kehadiran dua takmir baru itu, Hamdi menjadi malu untuk ogah-ogahan. Hamdi yang akhir-akhir ini jarang sholat di masjid karena terserang penyakit M atau malas, menjadi bersemangat lagi untuk menjamah masjid. Yah, Hamdi memang sedang terkena penyakit malas, malas karena sedang mabuk cinta. 
         Sekarang ia ingin menunjukkan kesan positif di hadapan Andi dan Rian. Di hadapan dua takmir baru itu, Hamdi harus bisa memberi suri tauladan yang baik. Semua itu agar mereka betah menjadi pengurus Al-Furqan. Selama Hamdi absen, Asyraf-lah yang memimpin sholat jama’ah. Kalau dia lagi tidak ada, Nurman yang menggantikannya. Sekarang Hamdi sudah nongol lagi, setelah sekitar satu setengah bulan tidak kelihatan. Tentu saja kehadirannya langsung membuat para jama’ah menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Hamdi yang hatinya sedang kacau, hanya menjawab, “Saya repot, saya pergi ke luar kota, cari kerjaan, dll.”
         Beberapa hari kemudian, Nurman sudah menyelesaikan keperluan pentingnya. Ia kembali ke rumah Sujar untuk membantu Rian dan Andi yang masih hijau. Sekarang ada tiga pemuda yang mengurus masjid Al-Furqan. Dari tiga pemuda itu, Nurman-lah yang paling tangguh, jadi dia harus sering menasehati dan membimbing dua teman barunya itu. Selain soal masjid,  Nurman juga memberi pengarahan tentang keluarga Sujar. Nurman hanya memberitahukan sesuatu yang ia ketahui. Ia menjelaskan, kalau Rian dan Andi sedang berhadapan dengan Retno, Hamdi atau Ardan, mereka harus begini, harus begitu, dan seterusnya.
         Siang itu Sutris dan Hartoyo menunaikan sholat Jum’at di Al-Furqan. Ketika ustadz-nya sedang ber-khotbah, Toyo yang duduk di shaf paling belakang, berbincang dan bercanda dengan teman-temannya. Suara canda tawanya itu begitu keras, sehingga terdengar oleh seluruh jama’ah yang sedang khusyuk mendengarkan wasiat takwa dari sang ustadz. Suasana masjid yang semula tenang itu menjadi gaduh oleh suara Toyo yang kasar.
         Hamdi yang duduk di shaf paling depan bersama Nurman, Andi dan Rian, menoleh ke belakang dengan wajah serius. Ia mencari jama’ah yang sudah membuat gaduh. Setelah ketemu, Hamdi berdiri sambil melotot, kemudian memberi isyarat kepada Toyo untuk diam. Hamdi hanya memberi isyarat, dan tidak berkata sepatah kata pun. Sebab kalau Hamdi mengucapkan satu kata, walau sekedar untuk mengingatkan jama’ah yang lain untuk diam, hal itu sudah membuat pahala sholat Jum’atnya sia-sia.
         Setelah diperingatkan Hamdi, Toyo langsung menghentikan pembicaraannya dengan teman-temannya yang duduk di kanan-kirinya. Amarahnya meledak. Wajahnya merah hitam. Matanya melotot, bibirnya cengar-cengir. Kedua tangan kekarnya dikepalkan. Wajahnya yang seram itu menjadi semakin seram karena  menahan amarah yang sudah menggelora. Pria kekar ini memelototi Hamdi, lalu hatinya mengumpat, “Kurang ajar! Sok alim! Huhh!! Berani benar mempermalukan aku di hadapan orang banyak! Mentang-mentang dia duduk di barisan pertama. Mentang-mentang pengurus masjid, lalu seenaknya membentak-bentak aku. Huhh! Mungkin aku memang salah, tapi kenapa harus dibentak seperti tadi?! Huhh! Keparat! Kamu benar-benar sudah membuatku marah! Grrrhh..!! Baiklah sok alim, kita tentukan setelah sholat.”
         Namun setelah sholat Jum’at, Toyo tidak berbuat apapun terhadap Hamdi. Toyo hanya berdiri di dekat pagar atau gapura masjid. Dilihatnya Hamdi sedang berbincang dengan kawan-kawannya. Sesaat kemudian Hamdi sadar kalau dirinya sedang diawasi  oleh seorang lelaki kekar berwajah sangar. Dilihatnya Toyo yang berdiri sambil melotot. Sikapnya yang super arogan itu benar-benar  membuat dirinya seperti menantang. Hamdi yang juga sudah mulai emosi, ganti menatapnya dengan mata setajam pedang. Bagi Hamdi, sikap Toyo yang berlebihan itu membuatnya terlihat semakin menyebalkan.
         Melihat Toyo masih berdiri di gapura masjid dengan sikap menantang, kesabaran Hamdi yang tinggal sedikit itu musnah. Hamdi berdiri tegak, lalu keluar dengan langkah mantap. Dihampirinya Hartoyo yang sudah membuat pandangannya tidak sedap. Nurman, Andi dan Rian yang masih berada di masjid, sedetik kemudian langsung keluar. Tiga pemuda ini melihat Hamdi berhadapan dengan Hartoyo. Jarak mereka terpaut sekitar empat meter. Andi yang berada paling dekat dengan Hamdi, berkata lirih, “Yang sabar Mas..pelan-pelan.”
         Hening sejenak. Hamdi dan Toyo saling melotot. Amarah dua lelaki ini semakin membara. Hamdi yang terlihat lebih tenang, berkata, “Sejak selesai sholat tadi anda terus memelototi saya. …Memang ada apa ya?”
         Toyo diam saja. Hamdi mengatur nafasnya, setelah itu bicara lagi, “Yang anda lakukan tadi salah, jadi saya harus membetulkan anda. …Ngobrol di saat khotib sedang khotbah itu hukumnya haram. …Tadi Anda sudah berdosa. Apalagi suara anda tadi keras sekali.”
         Hening sejenak. Toyo tidak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya menunjukkan sikapnya yang semakin menyebalkan. Kedua matanya masih terus menatap Hamdi dengan tajam. Tatapan matanya seperti tatapan harimau terhadap hewan buruannya. Beberapa detik kemudian Toyo pergi begitu saja. Ia tinggalkan Hamdi dan ketiga temannya. Rupanya ia sudah puas memelototi Hamdi yang dianggapnya sudah mempermalukan dirinya di hadapan orang banyak. Hamdi mengikutinya sampai di gapura. Nurman, Andi dan Rian menyusul. Empat sekawan ini melihat Toyo yang sudah agak jauh dari masjid. Beberapa detik kemudian Toyo menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang dengan perlahan.
         Dilihatnya Hamdi yang berdiri di tempat ia berdiri tadi. Pria kekar ini tersenyum mengejek, lalu berkata lirih, “Hamdi brengsek! Sekarang aku kalah dulu. Tapi besok…kamu benar-benar akan kuberi pelajaran. Huh! Kalau mau, tadi aku bisa langsung membereskan kamu. Tapi setelah kurenungkan, sebaiknya jangan dulu. …..Bedebah seperti kamu terlalu menarik untuk kubereskan hari ini. hah ha haa! Oke, sekarang aku sabar dulu. Besok kalau aku sudah punya waktu yang tepat, kamu pasti kulumat!”
         Tampaknya ancaman Toyo itu tidak main-main. Setelah Toyo lenyap, Hamdi menggelengkan kepala, “Sudah salah malah marah. Huhh! Orang itu…dari wajahnya saja sudah kelihatan orang jahat.”
         “Iya tuh,” sambung Rian. “Wajahnya menyebalkan.”
         “Memang dia siapa sih?” Tanya Andi. Hamdi menggelengkan kepala. “Aku baru lihat sekarang. Tapi aku yakin, tempat tinggalnya di sekitar sini. Toh dia juga jum’atan di sini.”
         Andi berkata, “Kemungkinan besar, dia mau memusuhi antum.”
         Hamdi menyahut, “Aku siap menghadapi manusia tak tahu diri seperti dia.”
         Nurman tersenyum, “Itulah orang yang jahil terhadap agama. Ya sudah Mas, tidak usah dipikir lagi. Insya Allah, dia bukan masalah besar untuk anda.”
         Hamdi tersenyum sinis, “Buat apa aku menghabiskan waktuku untuk memusingkan atau mencemaskan begundal seperti dia.”
         Beberapa waktu kemudian Isma mulai rajin mengikuti sholat Shubuh berjama’ah. Kalau dulu ia hanya mengerjakannya kadang-kadang, sekarang ia ingin mencoba mengerjakannya dengan rutin. Sebelumnya Isma sudah mendengar. Setiap sholat Shubuh di masjid Al-Furqan,  jama’ah wanitanya selalu banyak, bahkan sering lebih banyak dari jama’ah pria. Itulah yang membuat Isma terdorong untuk mengikuti sholat Shubuh berjama’ah secara rutin. Dalam sebuah riwayat dikatakan, walaupun sholat yang terbaik bagi wanita itu sholat yang dikerjakan di rumah, kalau mereka hendak pergi ke masjid, kita tidak boleh melarang mereka.
         Disamping itu Isma juga memiliki motivasi lain yang bisa jadi lebih kuat. Yah, apalagi kalau bukan ingin ketemu Hamdi, atau sekedar melihat kekasihnya yang sekarang sudah jarang jadi imam. Seusai sholat, Hamdi dan Isma berdiri di depan masjid. Jarak mereka terpaut sekitar 5 meter. Tanpa sepengetahuan para jama’ah, lelaki dan perempuan yang sedang mabuk asmara ini saling menatap dan menebar senyum. Hal ini cukup sering mereka lakukan, dan belum ada satu orang pun yang tahu. Biasanya, seusai sholat Shubuh, Isma yang sudah mau pulang itu dipanggil Hamdi dengan suara lirih atau isyarat. Isma pun menghentikan langkahnya, lalu melirik kanan-kiri. Ia melihat dulu keadaan, sudah aman atau belum. Setelah dirasa cukup aman, Isma menoleh ke belakang atau ke samping agak belakang dengan perlahan. Dilihatnya Hamdi yang tersenyum atau melambaikan tangan ke arahnya.
         Sedetik kemudian, Isma yang masih memakai mukena ini membalas senyum PIL (Pria Idaman Lain)-nya itu. Mukena yang dikenakan wanita keturunan Arab ini membuatnya terlihat semakin cantik. Demikianlah kebiasaan yang sekarang dilakukan Hamdi dan Isma. Hanya sekali saja perbuatan mereka itu disaksikan Nurman tanpa sengaja. Nurman yang polos itu tidak curiga sedikitpun. Nurman yang polos itu tidak punya pikiran apapun. Pemuda bertubuh atletis itu hanya beranggapan, Hamdi sedang menghormati tetangga atau jama’ahnya.
         Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya seusai sholat Shubuh, ketika Andi baru sekitar lima hari menjadi takmir Al-Furqan, Andi melihat jama’ah wanita pada mengaji, termasuk Retno, Endah, Darti dan Isma. Sama halnya dengan Hamdi dulu, kehadiran Isma juga menarik perhatian Andi. Dari semua ibu-ibu yang mengaji, Isma-lah yang paling muda dan paling cantik. Pemuda asli Boyolali ini juga mendengar suara Isma yang paling menonjol, paling terdengar. Suaranya yang lembut agak serak itu memang terdengar lain dari semuanya. Bukan lain karena volumenya paling keras, tapi karena terdengar berbeda dari suara semua ibu yang hadir di situ.
         Andi yang duduk di shaf depan sambil membaca buku, terus mencari kesempatan untuk melirik Isma. Andi yang polos ini tersenyum, lalu bergumam, “Kelihatannya dia istrinya Mas Hamdi. He he he.”
         Beberapa waktu kemudian, ketika Andi mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Hamdi, pemuda berpostur kecil namun cukup kekar ini bertutur, “Kukira dia istri antum lho. He he hee.”
         “Istriku?” sahut Hamdi tersentak gembira. “Hebat banget perkiraanmu.”
         “Hanya bercanda kok, hah haa. Jangan marah ya?”
         Hamdi tersenyum, “Aku tidak punya alasan secuil pun untuk marah. Sudah  berkali-kali aku dikira sudah beristri.”
         “Ya makanya, segera saja.”
         Hamdi tersenyum malu. “Insya Allah, kalau keadaanku sudah membaik.”
         Andi tersenyum. “Tapi sebenarnya antum  memang cocok sama dia. He he.”
         “Benarkah itu?” Tanya Hamdi dalam hati. Kata-kata Andi itu semakin menyanjung hatinya. Kata-kata Andi itu terdengar sangat indah di telinga Hamdi. Kata-kata Andi itu seperti kabar baik yang sudah lama dinanti orang. Kata-kata itu seperti limpahan hujan yang menyiram tanah yang kering kerontang. Kata-kata  seperti itulah yang selama ini dinanti Hamdi. Sejak saat itu, cinta Hamdi pada Isma semakin kuat. Hamdi pun bertekad kuat untuk terus menjaga tali cintanya dengan Isma, walaupun ia tahu resiko besar yang akan dihadapinya nanti.

                                                *****

         Pagi itu, sekitar pukul delapan, Hamdi main ke rumah Isma. Ia mendatangi rumah kekasihya itu dengan bersepeda. Sebelumnya, Isma sudah memberitahu Hamdi tentang waktu-waktu yang tepat untuk mereka. Waktu di mana Kandar, Sutris dan Hartoyo sedang pergi. Isma sudah menjadwal waktunya untuk pacaran dengan si kekasih gelap. Kini Hamdi dan sepedanya sudah hampir sampai di rumah Isma. Setelah Hamdi berada di tujuh meter dari rumah Isma, Hamdi melihat Toyo yang baru keluar dari rumah. Lelaki berkulit gelap itu menunggangi motor bebek Suzuki.
         Tentu saja Hamdi tersentak bukan main. Hamdi yang sudah menuntun sepedanya, bergumam, “Jadi…manusia tak tahu diri ini tinggal di sini?! Jadi dia pembantunya Isma?! …..Oohh (mata semakin melotot)…sejak kapan dia tinggal di sini? Kenapa baru kulihat sekarang?”
         “Kenapa?” Tanya Toyo tersenyum mengejek. “Kaget ya?”
         Hamdi yang memang terkejut sekali, hanya diam sambil memelototi Toyo. Toyo yang sudah mau pergi dengan motornya, ganti memelototi Hamdi. Jarak dua lelaki ini terpaut sekitar 3 meter. Hamdi baru datang, sedangkan Toyo baru mau pergi. Hening beberapa detik. Toyo yang sudah menghidupkan mesin motornya, terus menatap Hamdi dengan tersenyum mengejek. Ia bergumam, “Kenapa keparat ini datang ke sini sekarang? Kenapa dia ke sini di saat rumah sedang kosong? Juga di saat kami semua sedang kerja? Huhh! brengsek! Aku jadi curiga. Jangan-jangan…ada apa-apa di antara dia dan Isma.”          
         Hening sejenak. Dua lelaki ini masih terus saling menatap. Toyo terlihat lebih tenang dari Hamdi, namun Hamdi juga tetap berusaha menampakkan sikap tenang. Hamdi berpikir, di hadapan lelaki angkuh itu ia tidak boleh menunjukkan kebingungan dan kegelisahannya. Setelah puas memelototi Hamdi, Toyo pergi  dengan melempar senyum mengejek. Hamdi yang masih bengong, sedetik kemudian langsung sadar oleh kehadiran Murni yang membukakan pintu pagar. Murni tersenyum gembira sambil berkata, “Mas Hamdi kok bengong di situ?”
         Hamdi tersenyum. “Anu Mur…aku tadi baru…”
         “Sudahlah Mas (tersenyum manja), tidak apa-apa, tidak usah malu. Besok lagi kalau ke sini, Mas langsung masuk saja. Yang penting Bapak dan Kang Tris lagi  pergi. Insya Allah, Murni yang bodoh ini bisa dipercaya kok. Mas Hamdi tenang saja. Hi hi hii. Kan Mas Hamdi sudah cukup sering ke sini, jadi kenapa masih takut?”
         Hamdi tersenyum malu, lalu bergumam, “Iya-ya. Sekarang pemilik rumah ini sudah jadi kekasihku, jadi kenapa aku harus sungkan atau takut? Ahh…aku memang bodoh. …Untuk yang kedua kalinya aku ke sini, sejak kami menjadi pasangan kekasih. Untuk yang kedua kalinya aku mau memadu kasih dengan permata hatiku itu. Hah haa. Baiklah kalau begitu. Bismillah..”
         Melihat Hamdi masuk ke taman dengan langkah mantap, Murni tersenyum manis, “Nah, begitu dong. Ini baru Mas Hamdi Rusmanto.”
         Hamdi tersipu. “Kamu juga sudah tahu nama lengkapku?”
         “Ya jelas sudah. Ah Mas Hamdi ini..masih menganggap saya orang asing. Saya dan Mbak Isma kan sudah seperti amplop dan perangko.”                 
         Sambil berjalan mengikuti Murni yang mau membuka pintu ruang tamu, Hamdi bertanya tentang Hartoyo. Murni pun menjelaskan. Sudah empat bulan Toyo tinggal di rumah Kandar. Walaupun sulit diakrabi, kinerja Toyo sangat jempolan. Walaupun sampai sekarang Isma mengaku masih agak takut pada Toyo, ia harus mengakui etos kerjanya yang sulit dicarikan tandingan. Isma dan Kandar sering mengatakan, Toyo itu bertenaga kuda, kuat sekali. Toyo selalu membereskan semua pekerjaan rumah yang berat. Semuanya ia lakukan sendiri.
         “Potongannya memang seram Mas,” tutur Murni seraya tersenyum, “tapi kalau sudah kenal akrab, dia enak diajak ngobrol. Hi hi hii. Bapak merasa sangat beruntung, bisa memiliki tenaga seperti dia. Bapak berharap, mudah-mudahan Mas Toyo bisa tinggal lama di sini.”    
         “Tapi aku tidak suka dia!” bentak Hamdi dalam hati. Wajahnya terlihat sebal mendengar Toyo dipuji-puji. Namun ia tetap berusaha menyembunyikan rasa bencinya itu dengan pura-pura gembira. Setelah masuk ke ruang tamu, Murni meminta Hamdi untuk menunggu Isma yang masih mandi dan bersih-bersih kamar. Selang tiga menit kemudian, Murni kambali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi segelas sirup kuning dan satu piring berisi tiga potong pisang goreng.
         Hamdi langsung menyantap hidangan di hadapannya itu. Beberapa menit kemudian, tatkala pisang goreng di piring kecil itu tinggal sepotong, muncullah sang nona jelita yang sudah dinanti sejak tadi. Pagi ini Isma kelihatan cantik sekali. Ia memakai baju lengan pendek kuning. Rok hitamnya sedikit di bawah lutut, sehingga masih sedikit menampakkan betisnya yang bersih. Bandul jambon (merah muda) mengikat rambutnya yang bagian atas agak ke belakang. Ia tebarkan senyum manisnya ke pria pujaan hati yang masih bengong. Sedetik kemudian Hamdi melangkah ke Isma, lalu menjulurkan tangan kanannya
         Isma menyambut tangan Hamdi dengan kedua tangan halusnya. Ia menunduk, lalu mencium tangan yang cukup berotot itu dengan dahi dan hidungnya. Sedetik kemudian mereka pacaran cukup bebas. Mereka duduk di sofa dengan berdekatan. Sikap mereka sudah seperti suami-istri. Hamdi membelai rambut, pipi dan dagu Isma. Nyonya Kandar tersenyum, “Maaf ya? Aku membuatmu menunggu lama.”
         Hamdi tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Bisa ketemu kamu saja aku sudah senang sekali, apalagi bisa sedekat ini. He he. …Memang baru begini yang bisa kita lakukan. Keadaan masih belum memungkinkan kita untuk pergi berduaan. Kuharap kamu bisa mengerti (menyentuh tangan kanan Isma dengan kedua tangannya). Pahamilah semua keadaan ini, Sayangku.”
         Isma mengangguk mantap sambil tersenyum manis. “Aku ngerti Mas. Sangat mengerti.”
         Hamdi tersenyum gembira. “Aku bahagia sekali melihat bunga hatiku ini bisa mengerti aku.”
         Pujian itu membuat hati Isma semakin berbunga-bunga. Hamdi menyampaikan perkataan Andi yang berbunyi, “Kukira dia ( Isma ) istrimu lho.” Hamdi juga menyampaikan omongan Andi yang mengatakan kalau dia dan Isma benar-benar cocok. Hamdi membelai dagu Isma, lalu berkata, “Berarti sudah ada yang mengatakan kita serasi. Wah..aku senang sekali.”
         Isma tersipu, “Aku tersanjung Mas..sangat tersanjung.”
         Hamdi tersenyum, “Sudah sebulan kita tidak ketemu..tapi aku merasa sudah setahun. …Manisku, aku kangen banget sama kamu.”
         “Aku juga kangen banget sama Mas.”
         “Benarkah?”
         “Masa’ aku tega membohongi kekasihku ini?”
         Hamdi tersenyum gembira. “Permataku, indah sekali kata-katamu itu.”
         Selanjutnya, Isma menaruh kepalanya di dada bidang Hamdi. Hamdi pun mengelus rambut sang kekasih, kemudian memeluknya. Kehangatan cinta semakin merebak ke seluruh rongga hati Hamdi dan Isma. Beginilah keadaan mereka sekarang. Beginilah keadaan mantan imam masjid Al-Furqan. Ia dan istri tetangganya itu benar-benar sudah terjerat dalam pergaulan bebas. Namun anehnya, hingga detik ini Hamdi masih menganggap cintanya pada Isma itu suci. Begitu pula Isma yang sudah berselingkuh. Isma merasa tidak bersalah karena ia merasa sudah menemukan cinta sejati yang ia dambakan selama ini. Dan cinta sejati itu tidak ada pada diri Suryo Iskandar, teman hidupnya yang sah.    
         Tadi Hamdi mengucap basmalah saat ia hendak masuk ke rumah Isma, padahal ucapan itu sudah salah arah. Hamdi menjadi lupa dengan salah satu sabda Baginda Agung Rasulullah saw yang berbunyi: ‘Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah.’  Kalau Hamdi mengucap’Bismillah’ untuk perbuatan makruf, baik dan halal, itu bagus sekali. Bahkan kalau mau jujur, setiap Muslim dianjurkan untuk mengucap basmalah ketika ia mau melakukan segala perbuatan yang halal, baik dan pantas. Tapi kalau kalimat mulia itu diucapkan oleh seseorang yang mau mencuri, apakah itu masih boleh atau pantas? Jawabannya : Jelas Tidak.    
         Lantas bagaimana dengan yang sudah dilakukan Hamdi dan Isma sekarang ini? Pantaskah Hamdi mengucap asma Allah ketika ia mau bergaul bebas dengan perempuan yang bukan mahrom-nya? Pantaskah Hamdi mengucap Basmalah ketika ia mau pacaran dengan istri orang? Begitu mesranya mereka, sampai lupa dengan status masing-masing. Begitu mesranya mereka, sampai lupa dengan hukum halal-haram. Begitu mesranya Hamdi dan Isma yang sudah dimabuk cinta yang hanya berdasarkan hawa nafsu, sampai mereka lupa dengan kehadiran sesosok misterius yang kini ada di serambi rumah Isma. Tampaknya sosok misterius itu sudah mengawasi Hamdi dan Isma sejak tadi. Sosok misterius itu mengenakan topi dan cadar. Matanya melotot bulat saat mengintip kemesraan Hamdi dan Isma. Matanya merah menyala, terutama saat menatap Hamdi.
         Setelah puas mengintip, sosok aneh ini pergi dengan mengendap. Sambil berjalan cepat, hatinya mengumpat, “Kurang ajar! Keparat itu berani pacaran dengan istri musuh kami. Keparat itu berani bermesraan dengan mantan pacar Kang Kasman! Huh! Setan! Dia benar-benar harus mampus!”
         Setelah berada agak jauh dari rumah Isma, sosok aneh ini membuka topi dan cadarnya. Ternyata dia Hartoyo. Dia belum pergi sejak tadi mencurigai Hamdi. Dia hanya bersembunyi di sekitar 50 meter dari rumah Isma. Kini ia menghampiri motornya yang ia taruh di dekat pohon dan tiang listrik. Lelaki yang tampangnya sudah terlihat kejam ini langsung menelpon Kasman, kakaknya, lalu melaporkan segala yang ia lihat. Kasman yang wajahnya belum bisa digambarkan, hanya kulit dahi dan pipinya yang berkerut, geram bukan main. Sosok aneh yang kini berada di ruangan gelap ini mengumpat, “Kurang ajar! Siapa lagi Hamdi itu!? berani-beraninya mengajak Isma selingkuh! Huhh! dia benar-benar harus kulumat!”
         “Dia pasti mampus Kang!” sahut Toyo, “Dan aku yang akan memakannya! Lihat saja nanti atau besok! Grrrrh! Soalnya aku juga sudah sebal banget sama dia! Huhh! Dia dan Isma urusanku Kang! Kamu tetap konsentrasi saja pada Kandar.”
         “Ya sudah kalau begitu! Segera cari kesempatan untuk membereskan Hamdi!”
         “Beres Kang!”
         Setelah Toyo menutup telpon, Kasman mengomel sendirian di kamar gelapnya. Wajah lelaki aneh ini belum bisa dilihat. Hanya sosoknya yang sekilas bisa digambarkan. Sosoknya tinggi–besar dan tegap. Setelah mondar-mandir ke sana-sini, ia berdiri di samping meja, lalu mengacungkan tinjunya sambil mengucap:         “Iskandar brengsek! Sebentar lagi kamu akan menderita panjang! Hah haa! Dan kamu Hamdi! Keparat baru yang sudah berani mengganggu urusanku. Kalau kamu masih berani menyelingkuhi Isma, akan kubuat nasibmu seperti ini (meremas gelas di tangan kanannya)! Nasibmu bisa seburuk Kandar…bahkan bisa kubuat lebih buruk! Camkan itu, bedebah!”
         Kemarahan lelaki seram ini mencapai puncak. Tenaganya juga luar biasa, sanggup memecah gelas dengan sekali remas. Siapakah dia sebenarnya? Kenapa dia sangat membenci Iskandar? Bahkan sekarang dia juga membenci Hamdi yang diam-diam menjalin asmara dengan istri musuhnya. Benarkah pria alim yang sekarang imannya sedang down itu akan berurusan dengan kakak Toyo ini? Kalau benar, berarti Hamdi harus waspada, sebab sosok misterius ini tampaknya tangguh.
         Setelah pertemuan siang itu, Hamdi dan Isma berniat untuk tidak ketemu dulu. Karena bulan suci Ramadhan tinggal dua minggu kurang sedikit, pasangan kekasih ini berniat untuk libur pacaran dulu. Walaupun sekarang ini Hamdi dan Isma sudah terjerat dalam pergaulan bebas, mereka masih tetap punya prinsip terhadap agama. Mereka wajib menghormati bulan suci Ramadhan. Besok setelah Ramadhan baru mereka pacaran lagi. Demikianlah keadaan Hamdi sekarang. Ia benar-benar sedang jauh dari Allah. Ia semakin tidak menyadari dengan kabut kemaksiatan yang semakin tebal menutup hatinya. Ia tidak menyadari dengan resiko besar yang akan ia hadapi kelak. Hingga detik ini Hamdi masih enjoy saja dengan apa yang sudah ia lakukan bersama Isma.  
                                                                * * * * *   
         Singkat cerita, Ramadhan 1428 Hijriyah telah berakhir di pertengahan bulan Oktober 2007. Hamdi dan Isma kembali memadu kasih. Hamdi kembali mendatangi  Isma dengan sembunyi-sembunyi. Untuk yang ketiga kalinya Hamdi mendapat kesempatan emas untuk bermesraan dengan Isma. Di bulan Syawal ini hubungan cinta mereka semakin kuat. Maklum saja, sudah sebulan lebih sedikit mereka tidak ketemu-ketemuan, jadi wajar kalau mereka rindu. Hal itulah yang membuat pacaran mereka terasa semakin hangat.
         Namun beberapa hari kemudian, Isma merasa kalau pacaran di rumahnya itu semakin hari semakin tidak aman. Setelah berunding, Isma dan kekasih gelapnya sepakat untuk ketemu di suatu tempat. Isma akan diantar Murni dengan motor bebeknya, sedangkan Hamdi akan menunggu di tempat tersebut. Begitulah rencana mereka. Sebuah rencana yang dianggap lebih baik dari sebelumnya, namun sebenarnya tetap mengandung resiko besar, bahkan mungkin bisa lebih besar.
         Lantas apa yang membuat Isma merasa tidak aman bermesraan dengan Hamdi di rumahnya? Benarkah Kandar sudah mencium perselingkuhannya itu? atau mungkin karena akhir-akhir ini Kandar menjadi sering di rumah? Jawabnya: Tidak, bukan karena itu. Isma merasa tidak aman karena melihat Toyo yang selalu menampakkan sikap tidak ramah. Sudah potongannya seram, kalau ketemu Isma jarang tersenyum. Toyo yang wajahnya sangar itu cukup sering memelototi Isma. Toyo juga sering bertanya, “Nanti rumah kosong tidak? Mbak Is atau Murni mau pergi tidak? Kalau rumah sering kosong, nanti biar saya yang jaga. Nanti atau besok saya mau minta Bapak agar jam jaga saya di toko dikurangi. Gimana? ”   
         Mendengar pertanyaan itu, Isma menyahut dengan agak gugup, “Tidak usah Yo, kamu tetap ikut Mas Kandar saja. Kamu tidak perlu ikut repot memikirkan rumah, memikirkan aku atau Murni. Kami tidak apa-apa kok. Cukup kami yang memikirkan segala aktivitas rumah. Lagipula, pekerjaan utamaku di rumah, jadi aku yang harus lebih banyak di rumah. …..Kamu cukup membantu yang berat-berat saja. Itupun kalau lagi ada. Ehmm (tersenyum dibuat-buat)..makasih banyak untuk perhatianmu.”
         Mendengar jawaban itu, Toyo tersenyum sinis, lalu bergumam, “Supaya kamu bisa terus berduaan dengan lelaki sok alim itu. huhh! Aku belum punya kesempatan untuk membongkar perselingkuhanmu. Yahh…aku memang harus sabar dulu. Besok kalau sudah saatnya, kebusukanmu itu akan kulaporkan ke suamimu yang goblog itu! hah ha haa!”
         Selain itu, Isma juga pernah ditanya Hartoyo tentang Hamdi. Tentu saja Isma tersentak, namun sedetik kemudian ia langsung berusaha bersikap tenang. Walaupun pertanyaan itu hanya sesekali diajukan Toyo, Isma jelas sudah cemas bukan main. Isma langsung berpikir, jangan-jangan Toyo sudah mengetahui tali kasihnya dengan Hamdi yang semakin waktu semakin kuat. Isma langsung melaporkan kekuatirannya itu pada Murni, namun gadis manis nan lugu itu langsung membantah. Dengan tenangnya Murni meyakinkan Isma kalau hal itu tidak atau belum terjadi. Murni hanya berpesan, asal Isma dan Hamdi bisa terus berhati-hati, hubungan mereka tidak akan diketahui siapapun, kecuali kalau Isma sendiri yang membocorkan. Dan ia sudah membocorkannya pada dua orang yang sangat dipercayainya. Darti dan Endah. 
         Mendengar penjelasan Murni yang sangat meyakinkan itu, Isma lega bukan main. Apalagi ia juga percaya sepenuhnya pada Murni. Isma sudah mempercayai kesetiaan Murni selama ini. Isma juga yakin kalau Murni tidak mungkin berkhianat. Namun kalau mau jujur, sebenarnya hati terdalam Isma agak meragukan pendapat Murni itu. Walaupun percaya penuh pada Murni, hatinya yang terdalam tetap selalu mengatakan, jangan-jangan Toyo sudah tahu hubungannya dengan Hamdi. Mungkin waktu ia dan Hamdi bermesraan, tanpa sengaja Toyo memergoki mereka.
         Beberapa hari kemudian, Hamdi dan Isma berhasil melaksanakan rencana mereka. Untuk yang kedua kalinya Murni mengantar Isma menemui Hamdi di tempat yang telah mereka rencanakan. Jika mau pergi menemui sang kekasih, Isma selalu pamit mau ke pasar, mau arisan, atau mau ke rumah temannya yang juga hobi masak. Untuk sejauh ini Kandar belum curiga sedikitpun, jadi ia selalu memberi ijin istrinya dengan mudah. Kandar yang super sibuk itu belum tahu kalau istrinya yang kelihatannya setia itu sudah berbuat serong.
          Siang itu Murni kembali mengantar Isma menemui Hamdi. Murni membonceng Isma dengan motor bebek Suzuki. Sebelum sampai ke tempat tujuan, Murni diminta Isma untuk berhenti sejenak di warung kecil atau kios di pinggir jalan. Di depan kios itu ada warung angkringan, atau lebih terkenal dengan sebutan warung kowboy. Tanpa sepengetahuan Isma dan Murni, ada sosok yang mengamati mereka dengan tatapan tajam. Yah, siapa lagi dia kalau bukan Hartoyo. Ia terkejut melihat Isma dan Murni ada di situ.
         “Mau ke mana mereka?” gumam Toyo yang menghentikan makannya. Ketika  Isma dan Murni mau jalan lagi, Toyo tersentak. “Hahh! Mungkin mereka mau ke tempat khusus, tempat rahasia. …..Hahh! Jangan-jangan…mereka mau…mau menemui… ahh! sebaiknya kuikuti saja!”  
         Toyo langsung meloncat ke motornya, lalu menyalakan mesinnya. Sedetik kemudian Toyo sudah membuntuti Murni dan Isma yang berjalan cukup cepat. Helm cakilnya membuat wajahnya tidak mudah dikenal. Beberapa detik kemudian, Toyo terhambat lampu merah. Begitu lampu hijau, Toyo melihat mangsanya sudah semakin jauh. Toyo langsung melejitkan motornya dengan kecepatan tinggi. Keadaan jalan yang cukup ramai itu membuat Toyo agak kesulitan untuk berjalan cepat.
         “Busyet! Gadis desa itu ternyata juga pintar kebut-kebutan. Huhh! Ayo cepat! Jangan sampai kehilangan jejak dua kuntilanak itu!”
         Setelah bersusah payah mengatasi keramaian jalan, akhirnya Toyo berhasil mendapat posisi nyaman. Kini Toyo masih terus mengikuti Murni yang membonceng Isma. Beberapa menit kemudian Murni dan Isma tiba di tempat sepi. Setelah turun dari motor, mereka masuk ke jalan setapak yang berada di semak belukar lebat dan rerumputan tinggi. Toyo yang juga sudah menghentikan mesin motornya, menggelengkan kepala.
         Ngapain juga mereka sampai sini?! Huhh! Benar-benar sudah gila! …Tapi sebaiknya tetap kuikuti. Siapa tahu, nanti aku bisa dapat sesuatu.”
         Toyo menyembunyikan motornya di semak belukar lebat yang jaraknya dengan motor Isma terpaut sekitar 12 meter. Selanjutnya, Toyo mengenakan topi dan cadar. Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, Toyo langsung menyusul Isma dan Murni dengan berjalan mengendap. Beberapa langkah kemudian Toyo tersentak. Ia melihat Murni dan Isma menemui Hamdi di sebuah gardu atau pos kamling reot, pos kamling kecil yang sebagian besar terbuat dari kayu.
         “Nanti dijemput jam berapa Mbak?” Tanya Murni manja. Isma yang sudah duduk di samping Hamdi, menyahut, “Sore saja ya? Jam empatan. Atau nanti ku-SMS sajalah.”
         “Itu lebih baik,” sahut Hamdi. Sedetik kemudian tangan kanannya memeluk kedua bahu Isma, lalu berkata, “Murni, kuucapkan terima kasih banyak sekali, kamu sudah bersedia mengantar Tuan Putrimu ini.”   
         Murni tersenyum manis, “Kalau Mas Hamdi bisa membahagiakan Mbak Isma, Murni ikut bahagia sekali.”
         “Insya Allah. Bunga hatiku ini akan kubahagiakan. Betul tidak Say (membelai dagu Isma)?”
         Isma hanya menjawab dengan senyum manisnya yang semakin lama semakin menawan. Setelah Murni meninggalkan tempat itu, Hamdi dan Isma kembali bermesraan. Hamdi yang terlihat agak sedih karena habis disemprot ibunya, langsung dihibur oleh bidadarinya. Sungguh ajaib kata-kata dan sikap sang kekasih. Kegundahan Hamdi langsung musnah oleh suara lembut dan senyum manis Isma yang lebih menawan dari pelangi. Kelembutan Isma benar-benar menghangatkan jiwa Hamdi yang kedinginan. Kelembutan Isma benar-benar memberi kesejukan di hati Hamdi yang gersang, laksana salju menyiram bumi.
            Tanpa sepengetahuan mereka yang sudah mabuk kepalang, ada sepasang mata tajam yang terus mengamati segala aksi mereka dengan cermat. Jarak tempat Toyo bersembunyi dengan tempat Hamdi terpaut sekitar tujuh meter. Jarak yang sebenarnya cukup dekat. Namun karena Toyo pandai bersembunyi, juga karena yang diintip sedang dibuai kesenangan nafsu, kehadiran pria bertubuh padat ini seolah tidak ada. Bibirnya cengar-cengir melihat Hamdi dan Isma bercengkerama. Dengan wajah penuh bara emosi, ia bergumam,
         “Kemarin..waktu kupergoki di rumah…aku masih belum yakin dengan apa yang kulihat. Tapi sekarang…grrhhh (mengangkat kepalan kanannya)! Bukan hanya aku yang seperti disengat listrik bertegangan tinggi. Tikus, jangkrik, semut dan cacing di tempat ini pun merasa mual melihat perselingkuhan mereka. …Isma…huhh! juga kamu, keparat sok suci! Kelihatannya sholeh, pengurus masjid, ternyata hobi maksiat juga. Hah ha haa! Baiklah kalau begitu. Semua ini bisa kujadikan senjata andalan untuk memusnahkan kalian. Dengarkan ancamanku ini, orang-orang tolol! …Dan kamu, Iskandar goblog! Sebentar lagi, semua harta di rumahmu akan kukeruk habis! Hua ha haa!”
         Toyo sudah menebarkan ancamannya yang mengerikan. Benarkah ia akan menghancurkan rumah tangga Iskandar yang saat ini memang sudah amburadul? Benarkah Toyo juga akan memanfaatkan perselingkuhan Isma untuk melumat Iskandar? Beberapa hari kemudian, tepatnya di siang hari yang panas, rumah Kandar didatangi empat pria kekar yang ternyata bawahannya Toyo. Empat pria itu langsung masuk ke rumah, kemudian mengambil barang-barang berharga yang kebetulan ada di situ. Isma yang terkejut bukan main, spontan saja berteriak, ‘Maliiing!!!’ Namun teriakannya itu terpotong oleh bentakan Toyo. Isma terkejut melihat Toyo yang masuk dari ruang belakang, ruang menuju kebun dan dapur. Yang lebih mengejutkan, Toyo menyandera Murni. Golok di tangan kanan Toyo siap menebas leher Murni. Jarak leher Murni dengan golok hanya terpaut 3 cm. Murni menangis ketakutan.
         Isma memelototi Toyo yang mau menganiaya Murni, lalu membentak, “Toyo! Apa-apaan ini!? Apa yang sudah kamu lakukan?! Siapa mereka (menunjuk empat pria di hadapannya)?!”
      Toyo tersenyum mengejek. Sedetik kemudian ia membentak, “Perempuan jalang! Apa kamu sudah benar-benar lupa sama Kasman Hendratmo?!”
         Isma tersentak. “Kas..Kasman? …Kasman Hendratmo? …Kenapa kamu tanyakan dia ke aku?! Dan bagaimana kamu bisa tahu Kasman Hendratmo?!”
         Salah satu dari kawan Toyo berkata, “Kasman Hendratmo itu mantan pacarmu kan?”
         Ucapan itu semakin menggetarkan jantung Isma. Hening beberapa detik. Isma yang semakin terlongong-longong, kembali memelototi Toyo, lalu bertanya, “Siapa?…Siapa kamu sebenarnya? …Kamu kok bisa tahu semuanya?! Haa?! Apa hubunganmu dengan Kasman?”
         Toyo tersenyum mengejek, lalu menjelaskan semuanya. Isma yang semakin lemas, menggelengkan kepala, lalu melangkah mundur dengan perlahan. Ia berkata, “Dari awal aku sudah menduga. Oohh.. …Pantas..wajahmu sangat mirip Kasman. Pantas juga…sejak pertama lihat kamu, aku selalu merasa tidak nyaman.”
         “Jelas! Itu karena aku mau menghancurkan kehidupan rumah tanggamu! Kamu  sudah berani menyakiti kakakku!”
         Isma menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah menyakiti kakakmu. Aku memang tidak pernah mencintainya, jadi sudah bagus dia kuanggap kakakku.”
         “Cukup! Tidak usah cerewet! Nanti pembantu setiamu ini bisa celaka! Sekarang serahkan seluruh hartamu!”
         “Hartaku?..ahh..aku tidak punya harta apapun.”
         “Omong kosong! Istrinya orang kaya kok tidak punya uang! Huhh! Jangan membuang waktuku! Cepat serahkan semua uangmu!”
         Isma yang semakin ketakutan, menyahut, “Aku tidak punya harta apapun, kecuali peralatan masak di dapur, dan alat-alat untuk membuat kue.”
         “Tidak mungkin! Suamimu pasti memberi kamu uang saku! Dan aku yakin..jumlahnya pasti cukup banyak. Iya kan?!”
         Isma menggelengkan kepala. “Demi Allah Yo, Mas Kandar yang kikir itu tidak pernah memberiku uang banyak. Dia hanya memberi uang untuk kebutuhan pokok, untuk belanja, membayar listrik, dan lain-lain. Memang sih, kalau roti boluku lagi laku keras, uangku jadi banyak. Tapi sudah sebulan lebih aku tidak membuat roti.”
         Hening beberapa detik. Toyo yang masih mencekik Murni, memelototi Isma dan empat anak buahnya. Sedetik kemudian ia membentak lagi, “Ya sudah! Sekarang serahkan harta benda apapun yang kamu miliki! Serahkanlah dengan baik-baik. Kalau tidak, empat orangku ini bisa kasar sama kamu, juga sama gadis dusun goblog ini! Huh! sekarang cepat serahkan! Biar aku bisa segera pergi!”
         “Jangan Mbak!” seru Murni yang menangis ketakutan. “Sekarang Mbak cepat keluar! Minta tolong tetangga! Jangan pedulikan aku lagi! cepat!”
         “Diam kamu!” bentak Toyo sambil menarik rambut Murni bagian belakang. “Setan cilik! Huhh (kembali memelototi Isma)! Kenapa kamu masih bengong!? Cepat serahkan harta apapun yang kamu miliki! Cepat!”
         “Murniii..!” seru Isma yang matanya berkaca-kaca. “Toyo! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu dan kakakmu hanya menginginkan aku! Jadi jangan melibatkan Murni! Kumohon..jangan sakiti Murni! Lepaskan dia!”
         “Makanya! Sekarang cepat serahkan hartamu! Huhh! Atau kamu ingin empat orangku ini menggeledah kamarmu?!”
         “Silahkan geledah kamarku. Kalian tidak akan menemukan apa-apa.”                  
         “Grrrh!!..lantas apa yang kamu miliki?!”
         “Ini dan ini (menunjukkan kalung dan cincin emas di jari manis kanan). Silahkan ambil semua.”
         Isma melepas cincin dan kalung emasnya, lalu menaruhnya di meja makan yang  berada di dekat Toyo dan Murni. Toyo tersenyum mengejek, “Bagus. …Tapi ini masih kurang.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Sekarang uang. …Serahkan semua uang yang kamu miliki.”
         “Tidak mungkin kamu tidak punya uang sedikit pun!” sambung salah satu anak buah Toyo. Isma pun mengeluarkan semua uang simpanannya di dompet dan lemari. Semuanya tujuh ratus ribu. Isma menaruhnya di samping cincin dan kalungnya. Toyo masih terus berpikir. Benda berharga apalagi yang bisa ia bawa kabur. Beberapa detik kemudian, salah satu anak buah Toyo menyarankan sesuatu. Ia mendekati Toyo, kemudian membisikkan sesuatu. Sedetik kemudian Toyo tertawa binal.
        Bagus (menepuk bahu anak buahnya)! Bagus sekali! Hua ha haa! Benar juga ya? Hahh! Kenapa tidak terpikir dari tadi?!”
         “Itu karena tadi Boss masih terlalu emosi.”
         “Apa yang kalian inginkan?” Tanya Isma yang semakin ketakutan. Ia benar-benar mencium gelagat buruk. Setelah tertawa, Toyo menjelaskan keinginannya. Ia ingin mengambil sebagian besar dari benda berharga di rumah ini. Ia ingin mengambil mobil Kandar yang lama. Suzuki Escudo biru yang sekarang ada di garasi. Itulah mobil Kandar sebelum ia memiliki Taruna merah. Mendengar permintaan itu, Murni kembali menjerit dan meronta. Ia meminta agar Isma jangan menuruti perintah Toyo.  Isma yang lebih mengutamakan keselamatan Tari, akhirnya pasrah saja melihat manusia kejam di hadapannya itu berbuat seenaknya.
         Toyo menyuruh anak buahnya mengambil kontak mobil Escudo, juga semua benda berharga di rumah Kandar. Setelah semuanya dimasukkan ke mobil, empat pria kekar itu diminta Toyo untuk pergi duluan. Mereka pun pergi dengan mobil curian. Ketika mereka mau keluar dari gang atau blok rumah Isma, mereka berpapasan dengan Hamdi yang menunggangi sepeda. Hamdi terkejut melihat mobil Escudo biru tua itu. Hamdi menghentikan sepedanya, lalu menatap tajam mobil tersebut.
         “Kalau tidak salah..itu mobilnya Pak Kandar. Lalu siapa orang-orang yang memakai mobil itu? Ada perlu apa mereka di rumah Isma?”  
         Sekarang balik ke rumah  Isma, dimana keadaannya masih sangat genting. Toyo yang masih menyandera Murni, tersenyum mengejek. “Sebenarnya masih ada yang ingin kulakukan. Itu karena aku belum puas. Tapi untuk sementara ini, cukup sampai  sini dulu. Hah haa!”
         Isma menggelengkan kepala. “Toyo…kamu dan kakakmu sama-sama bejat. Kalian berdua memang manusia setan!”
         Toyo tertawa mengejek. Isma bicara lagi, “Sekarang kumohon dengan amat sangat. Lepaskan Murni.”
         “Tidak!”
         “Tapi kamu sudah janji!”
         “Iya, tapi sebentar lagi! biar kalian tidak macam-macam!”
         “Kamu sudah dapat seluruh hartaku. Sekarang apalagi maumu?!”
         “Mauku?...ehmm…apa ya?”
         “Ingin menyakiti suamiku?”
         Toyo tersenyum. “Itu juga bisa..tapi besok saja. Yang penting sekarang aku sudah berhasil mengambil sebagian besar kenikmatannya. Ha ha haa! Manusia sombong seperti dia, apa yang paling dia cintai kalau bukan harta bendanya. Betul tidak?! Ha haa!”
         “Ismaaa..!” seru Hamdi yang berdiri di depan pintu ruang tamu. Suaranya membuat tiga orang ini tersentak. Toyo melotot, “Siapa itu?!”
         “Hamdi.”
         “Ooo…si brengsek itu. Kekasih gelapmu. …Huhh! Berani benar ganggu aku. Mau cari mati ya?”
         Isma melotot, lalu bergumam, “Gawat kalau Hamdi sampai masuk. Nanti dia bisa celaka. Waduh, gimana ini?”   
         “Sayang..kamu lagi apa?” ujar Hamdi lagi. Hening beberapa saat. Tiga orang ini hanya bengong. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Toyo yang juga agak cemas, berkata lirih, “Kalian tetap di tempat! Jangan macam-macam. Jangan membangkang perintahku sedikit pun. Itu kalau kalian tidak ingin kubinasakan pagi ini!”
         Ismaaa…” seru Hamdi lagi. “Kamu kok tidak muncul-muncul sih? Lagi sibuk banget ya?”
         Kehadiran Hamdi itu membuat Toyo semakin cemas. Ia menjadi lengah. Akibatnya, pisau besar di tangan kanannya ia turunkan dari leher Murni, dan itu sama sekali tidak ia sadari. Murni yang melihat secuil kesempatan emas, langsung memanfaatkannya. Ia gigit tangan kiri Toyo yang mencekik lehernya. Toyo menjerit. Murni pun lepas dari cengkeramannya. Gadis ramping itu langsung meleset ke ruang tamu sambil berteriak, “Mas Hamdii! Toloong!!”
         Isma yang melihat Toyo masih mengeluhkan tangan kirinya, langsung bertindak cepat. Ia ambil sapu yang kebetulan berada di dekatnya, lalu ia pukulkan ke kepala Toyo yang sebelah kiri. Pukulan sepenuh tenaga itu kembali membuat Toyo berteriak kesakitan. Toyo terkena dua serangan beruntun dari dua wanita yang sepintas terlihat lemah. Melihat Toyo sempoyongan, Isma langsung menyusul Murni yang hendak membukakan pintu. Hamdi yang masih berada di serambi, terkejut mendengar teriakan dua perempuan. Setelah pintu terbuka, Hamdi melihat Murni dan Isma seperti dikejar setan neraka. Hamdi melotot.
         “Lho, ada apa ini?!”
         “Jangan masuk Mas!” seru Isma. Murni menyambung, “Iya Mas, nanti Mas Hamdi bisa celaka!”
         “Memang di dalam ada apa?! Haa?! Kenapa orang-orang tadi memakai mobilmu? Siapa mereka?!”
         Isma yang mau menangis, langsung menceritakan semuanya. Setelah bercerita, Isma ingin agar mereka bertiga lari, lalu minta tolong para tetangga. Namun Hamdi menolak ajakan itu. Darahnya justru terbakar begitu mendengar ulah Hartoyo. Dengan tubuh bergetar keras menahan amarah, Hamdi berkata, “Jadi sekarang keparat itu ada di dalam?! ...Grrrh! kurang ajar banget dia! ...Ya sudah, kalian tidak usah takut berlebihan. Sekarang kalian di sini. Brengsek itu akan kuhadapi.”
         “Jangan Mas!” seru Isma sambil mencengkeram lengan kiri sang kekasih. “Dia kuat banget!”
         “Iya Mas!” sambung Murni. “Selain kuat, dia juga bawa senjata.”
         “Aku tidak takut!” bentak Hamdi dengan yakinnya. “Dia sudah berani menyakiti kalian, terutama kamu Say. Huhh! Dia harus kuberi pelajaran!”
         “Tapi Mas (masih mencengkeram lengan kiri Hamdi)..”
         Hamdi yang tetap terlihat tenang, berkata, “Insya Allah, masih bisa kuatasi. Percayalah. Kampret itu harus dibereskan sekarang, biar nanti cepat selesai.”  
         Sedetik kemudian Hamdi masuk ke rumah Isma dengan langkah pelan. Ia berjalan ke ruang keluarga plus ruang makan. Semua itu ia lakukan dengan super hati-hati. Ia harus siap menghadapi Toyo yang akan menyerangnya sewaktu-waktu, atau menyerangnya dengan membokong. Isma yang cemas bukan main, akhirnya memutuskan untuk mengikuti kekasihnya. Murni pun menguntilnya dengan langkah teramat pelan. Setelah berada di ruang keluarga, Hamdi langsung siap tempur. Ia langsung pasang kuda-kuda, namun Toyo belum terlihat. Ia berjalan ke kanan-kiri dengan pelan, berusaha mencari tempat yang aman untuk menghadapi lawannya yang belum muncul.
         “Mana dia?” gumam Hamdi dengan kewaspadaan penuh. Sesaat kemudian, terdengar suara berat yang berkata, “Jangan takut Bung, aku bukan pengecut.“
         Hamdi menoleh ke samping kanan. Dilihatnya Toyo yang berdiri tegak di pintu menuju dapur dan halaman belakang. Tangan kanannya masih menggenggam parang yang tadi ia pakai untuk menyandera Murni. Sambil tersenyum mengejek, Toyo berkata, “Aku paling benci berbuat licik. Aku paling benci menyerang dari belakang. …Aku ini satria sejati, jadi aku selalu menghadapi semua lawanku dengan jantan. …Huhh! Padahal kalau mau, beberapa detik tadi aku bisa menyerangmu dari belakang. Tapi aku bukan pecundang. Aku satria sejati.”
         Hamdi ganti tersenyum mengejek. “Kalau memang satria sejati, seharusnya kamu mau mengakui kesalahanmu waktu jum’atan kemarin. Kamu mau mengakui kesalahanmu dengan lapang dada. Kalau memang satria sejati, seharusnya kamu tidak berbuat serendah ini!”
         “Tutup mulutmu!” bentak Toyo dengan mata melotot. Amarahnya mulai meledak. Lanjutnya, “Sejak Jumat itu…aku benar-benar ingin menghancurkan kamu! Dan sekaranglah saatnya (mengacungkan kepalan kanannya)! Ayo kita duel yang jantan!”
         Toyo menantang Hamdi duel di halaman belakang. Hamdi mengangguk mantap. “Baik. Siapa takut?!”
         Sesaat kemudian Hamdi dan Toyo sudah berhadapan. Isma dan Murni yang baru sampai di halaman belakang, terkejut melihat dua pria kekar ini siap fight. Toyo melemparkan goloknya di rerumputan, tanda ia akan mengajak duel dengan tangan kosong. Isma yang ketakutan, berteriak, “Mas Hamdiii!!”
         “Tenang, tidak apa-apa!” sahut Hamdi sambil mengacungkan tapak kirinya ke Isma. “Brengsek ini harus dibereskan sekarang, biar dia tidak ganggu kamu lagi.”
         “Kalau ngomong jangan terbalik!” sahut Toyo. “Siapa yang harus dibereskan? Aku atau kamu!?”
         Hamdi tersenyum mengejek. ”Kamu sudah berani menyakiti kekasihku..jadi seberat apapun resikonya, kamu harus bisa kubereskan.”
         Toyo mengajukan sebuah syarat, dan ia berjanji akan memenuhi syaratnya itu. Jika ia takluk dalam duel ini, ia berjanji untuk tidak mengganggu lagi kehidupan rumah tangga Isma-Iskandar. Namun jika Hamdi gagal menaklukkan Toyo, lelaki kejam ini akan menjadi teror seumur hidup bagi Isma dan Kandar, bahkan juga teror untuk Hamdi, orang yang sudah dianggapnya sangat lancang, lancang karena sudah berani mencampuri urusannya dengan Iskandar. Mendengar syarat itu, Hamdi mengangguk mantap. “Baik…kupegang syaratmu.”
         “Bagus (mengangguk). Sekarang mari kita duel yang marak!”
         Toyo mendekati Hamdi dengan perlahan. Hamdi melangkah mundur. Toyo menghadapkan tubuhnya ke samping kiri. Sedetik kemudian, kaki kanannya melepas tendangan samping ke Hamdi, namun Hamdi sudah siaga. Ia melangkah mundur, sehingga tendangan maut itu hanya menerpa angin. Gagal pada serangan pertama, Toyo langsung mengirim serangan kedua. Kaki kanannya meng-gajul Hamdi, namun Hamdi bisa menangkisnya dengan kedua tapaknya. Toyo kembali melepas tendangan ketiga dengan kaki kanan, namun sekali lagi, Hamdi masih bisa mengatasi tendangan maut itu.
         Melihat pertahanan muka Toyo terbuka, Hamdi langsung memanfaatkannya dengan menghujamkan bogem kanannya, namun masih belum berhasil. Tangan kiri Toyo mengeblok kepalan penuh tenaga itu. Saat itulah, Toyo melihat pertahanan dada dan muka Hamdi terbuka. Spontan saja Toyo melontarkan tinju kanannya, dan tepat mengenai pipi kiri Hamdi yang dekat mulut. Hamdi meringis sambil melangkah mundur. Berhasil! Toyo berhasil membuka pertahanan Hamdi yang  kuat.
         Sedetik kemudian, jual beli pukulan dan tendangan kembali berlangsung sengit. Dua pukulan Toyo kembali menghujam kepala Hamdi. Kali ini hidungnya yang terkena tinju kanan-kiri Toyo. Sedetik kemudian hidung Hamdi berdarah. Untuk gebrakan pertama ini Toyo bisa dikatakan unggul. Isma dan Murni semakin cemas melihat Hamdi terdesak. Walaupun postur Hamdi lebih besar dan lebih tinggi dari Toyo yang agak pendek, hal itu tidak menjamin Hamdi bisa mengalahkan lawannya dengan mudah. Di gebrakan pertama ini sudah terbukti. Toyo yang lebih kecil namun lebih kekar itu bisa membuat Hamdi kelabakan.
         Sesaat kemudian duel sengit kembali berlangsung. Hamdi yang begitu semangat untuk membereskan Toyo, menyerang dengan sekuat tenaga. Beberapa gebrakan kemudian, Hamdi berhasil mematahkan jurus-jurus Toyo yang cepat dan mematikan. Toyo yang tampaknya menguasai ilmu bela diri tingkat tinggi, mulai kewalahan oleh serangan beruntun Hamdi. Beberapa detik kemudian Hamdi berhasil menjebol pertahanan Toyo yang sangat kuat. Tendangan kaki kanannya menghujam perut Toyo, disusul pukulan tangan kirinya yang mendarat di dada kanan Toyo.
         Pukulan dan tendangan geledek itu membuat Toyo terhuyung-huyung. Ia kembali melontarkan kepalan kanannya, namun Hamdi berhasil menangkisnya dengan tangan kirinya. Begitu melihat pertahanan kepala Toyo terbuka, tangan kanan-kiri Hamdi langsung menamparnya sekuat tenaga. Toyo yang belum roboh itu kembali menyerang, namun gerakannya melambat. Hamdi yang mengetahui Toyo sudah mulai loyo, langsung memanfaatkannya. Dua bogem kanannya mendarat di muka Toyo. Sedetik kemudian pria berotot ini roboh dengan hidung berdarah. Bibirnya yang besar juga berdarah sedikit. Darah yang mengucur dari hidungnya lebih banyak dari darah yang keluar dari hidung Hamdi tadi.
         Kini Toyo duduk agak berbaring di rerumputan. Ia tidak sanggup bangkit lagi. Hamdi yang ngos-ngosan, berkata, “Sekarang kamu sudah takluk..jadi kamu harus menepati janjimu tadi.”
         Toyo yang nafasnya terputus-putus, memelototi Hamdi dengan kebencian sepenuh hatinya. Hamdi membalikkan tubuhnya, kemudian meninggalkan Toyo dengan langkah pelan. Toyo yang masih belum bisa menerima kekalahan, menggeram. Ia melirik parangnya yang tergeletak di tanah. Jaraknya dengan parang itu terpaut sekitar dua meter. Setelah mengatur nafas, Toyo bangkit lagi, kemudian mengambil parang tersebut. Ia kembali menyerang Hamdi yang sudah membelakanginya. Murni yang pertama melihat itu, berteriak lantang, “Mas Hamdi! Awas belakang!!”
         Hamdi menoleh ke belakang, dan…dilihatnya sebuah parang yang hendak membabatnya dengan sepenuh tenaga. Hamdi yang terkejut ini hanya bisa bergerak secara refleks, bergerak menuruti nalurinya. Ia berhasil menghindari serangan golok maut itu dengan melangkah mundur, namun tangan kirinya yang di bawah siku tertebas. Sedetik kemudian darah mengucur di tangan kirinya. Ia masih beruntung, tebasan golok itu tidak begitu telak mengenai tangannya. Ia melangkah mundur sambil memegang tangan kirinya yang terluka. Sambil meringis menahan sakit, Hamdi berseru,
         “Pengecut! Pecundang kelas berat! Yang seperti ini satria sejati!?”
         “Iya! Aku akan merasa jadi satria kalau sudah berhasil bunuh kamu. Aku akan jadi satria kalau sudah berhasil membalas dendam kakakku!”
         “Dengan cara apa!?” bentak Isma. “Menghabisi suamiku?! Iya!?”
         Toyo yang mengacungkan parangnya ke Hamdi, ganti memelototi Isma yang berdiri di samping kanannya. Akibatnya, Toyo menjadi agak lengah, dan itu langsung dimanfaatkan Hamdi dengan mengambil tongkat kayu yang kebetulan tersandar di tembok. Kini Hamdi menggenggam tongkat yang panjangnya di atas satu meter. Kini posisi Hamdi dan Toyo kembali seimbang, sama-sama menggenggam senjata.  Melihat mereka mau duel lagi, Isma bergumam;
         “Kekasihku ini…Maha Suci Allah. Ternyata jago berkelahi juga. Oohh…aku benar-benar bahagia bersama dia..walaupun sebenarnya aku merasa lebih gelisah. Yah, gelisah karena aku sudah berdosa. Berdosa karena sudah nyeleweng.”
         Kini kembali ke duel babak tiga. Duel dengan senjata. Untuk beberapa detik keduanya tampak seimbang. Berkali-kali keduanya menyerang dan menangkis serangan lawan. Namun sesaat kemudian pemenangnya mulai terlihat. Toyo mulai sering melangkah mundur. Ia semakin kesulitan menahan gebrakan tongkat Hamdi yang beruntun. Hamdi yang bersemangat menyelesaikan duel, terus menyerang sepenuh tenaga. Beberapa gebrakan kemudian, tongkat Hamdi berhasil mementalkan parang Toyo. Selanjutnya, Hamdi memukul perut, paha dan betis Toyo dengan keras. Toyo mengerang keras, kemudian jatuh berlutut. Ia hendak bangun lagi, namun Hamdi langsung memukul bahu kirinya.
         Kini Toyo merangkak di hadapan Hamdi. Tenaganya sudah habis. Tinggal semangat duel yang masih menggelora. Hamdi yang melihat Toyo mau bangun lagi, langsung bertindak cepat. Ia tendang dada Toyo bagian tengah, setelah itu ia todongkan golok ke leher pemiliknya. Hamdi membentak, “Aku yakin, manusia banyak dosa seperti kamu, pasti belum berani mati. Jadi kamu jangan melawan lagi!”       
         Toyo yang sudah tidak berdaya, akhirnya mengaku kalah dengan satria. Toyo pun meninggalkan Hamdi, Isma dan Murni. Namun ketika baru sampai di pintu menuju ruang keluarga, Toyo membalikkan tubuhnya. Ia kembali memelototi Hamdi, Isma dan Murni. Dengan nafas tersengal-sengal, Toyo berkata, “Kalian jangan gembira dulu. Semua ini belum berakhir!”
         Beberapa jam kemudian rumah Isma terlihat ramai. Rupanya para tetangga pada menjenguknya, termasuk Darti, Endah dan Partono, ketua RW Bumi Indah. Beberapa menit kemudian Iskandar dan Sutris datang. Begitu turun dari mobil, Kandar langsung menghampiri Isma yang dikerumuni banyak orang. Isma pun menyambut suaminya dengan hangat. Kandar memeluk dan menciumi istrinya, lalu bertanya, “Sayang, kamu tidak apa-apa?”
         Isma yang menangis, menyahut, “Alhamdulillah Mas..aku baik-baik saja.”
         “Berkat Mas Hamdi,” sambung Partono. Hamdi yang tersipu, berkata, “Ini semua hanya kebetulan. Tadi saya disuruh Ibu mengambil roti, lalu…”
         Pak RW memotong, “Seperti biasa..Mas Hamdi selalu merendah.”
         Kandar menatap Hamdi dengan tersenyum, kemudian ia sentuh bahu Hamdi yang lebar. “Untuk yang ketiga kalinya Pak Imam kita ini menolong istri saya. …Sekarang apa yang harus saya lakukan untuk berterima kasih?”
         Hamdi tersenyum malu. “Cukup bersyukur kepada Allah yang Maha Pengasih. Pak Kandar jangan menyebut saya Pak Imam. Sekarang saya bukan imam lagi.”
         “Bukan imam lagi?” Tanya Kandar agak terkejut. “Memang kenapa?”
         “Ehmm..anu (menatap semuanya dengan tersenyum malu)..ya sudah, tidak usah dibahas lagi.”
         Darti yang berdiri di samping Isma, bergumam, “Memang sudah lama dia tidak jadi imam. Mungkin sudah empat bulanan. Bahkan nongol di masjid pun tidak pernah. Ahh..aneh sekali. Apa hubungannya dengan Isma bisa berakibat sebesar ini ya? …Tapi sudahlah. Buat apa kupikirkan terlalu jauh. Aku juga tidak boleh buruk sangka. Apalagi buruk sangka sama sobat mudaku ini (menatap Isma). Apapun yang sudah terjadi pada dirinya, Insya Allah, aku tetap akan menjadi temannya di kala suka maupun duka.”
         Endah pun merasa prihatin pada Hamdi dan Isma. Ia bergumam, “Anakku (menatap Hamdi yang mukanya berkeringat), sudah sedalam inikah hubungan cintamu dengan Ny. Iskandar? Sampai kamu rela berkorban sejauh ini. …Oh anakku…kenapa kamu memilih perempuan yang sudah bersuami? Tidak adakah perempuan lain yang bisa kamu jadikan teman hidupmu yang sah?”
         Beberapa jam kemudian, setelah suasananya tenang, Kandar meminta semua tamunya untuk berkumpul di ruang tamu. Kandar akan bercerita tentang Kasman, musuh bebuyutannya, juga salah satu saingannya dalam mendapatkan Isma. Kandar terkejut sekali setelah mengetahui siapa Hartoyo. Ia berkata, “Saya benar-benar bodoh, tolol! Kok bisa-bisanya saya memasukkan adik kandung musuh bebuyutan saya ke rumah ini. Huhh!”
         “Mas Kandar, semuanya sudah terjadi,” tutur Darti. “Yang penting Mas Kandar dan Mbak Isma bisa mengambil pelajaran berharga dari semua kejadian ini.”
         Kandar mengangguk. “Bu Darti betul sekali.”
         Endah menyambung, “Mas Kandar harus bersyukur, yang hilang cuma barang-barang Mas Kandar, bukan nyawanya Mbak Is atau Murni.”
         Kandar tersenyum, namun hatinya mengumpat, “Sialan perempuan ini! harta bendaku yang selangit itu dibilang ‘cuma.’ Huhh! Kamu tidak merasakan kehilangan lebih dari separo harta bendamu. Huhh! Dasar perempuan bodoh! Tidak tegas. Terlalu baik, terlalu sabar.”
         Namun kebalikan dengan Isma. Ia menatap Endah sambil tersenyum, lalu bergumam, “Senang sekali Mas Hamdi, punya ibu kedua berhati malaikat.”
         Kandar berkata, “Baiklah, sekarang akan saya ceritakan tentang Kasman.”
         Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Kasman dan Isma pernah pacaran, namun hanya empat bulan. Isma yang memutus hubungan cinta mereka. Alasannya karena sudah tidak cocok. Kasman yang sombong itu patah hati berat. Ia mengaku kalau cintanya pada Isma sudah sangat serius. Beberapa saat sebelum Isma memutus hubungan cintanya, Kasman sudah berniat melamar Isma. Dengan demikian, Kasman benar-benar ingin menikahi Isma, bukan sekedar untuk dijadikan pacar, dijadikan wanita simpanan, wanita yang bisa dibanggakan atau dipamer-pamerkan, dan sebagainya. Sebelum Kandar bertemu Isma, Kasman lebih dulu mengenal Isma. Kasman, lelaki berpostur tinggi sedang dan tegap. Wajah cukupan, tidak tampan tidak jelek. Usianya sebaya Kandar, hanya dua tahun lebih muda.
         Dulu Kandar dan Kasman bersahabat, namun setelah memperebutkan Isma, persahabatan mereka yang sudah cukup lama itu berubah menjadi permusuhan sengit. Ketika Kandar mendengar Kasman mau melamar Isma, Kandar langsung menyewa sejumlah orang untuk melumat Kasman. Kandar meminta agar Kasman dibuat setengah mati. Tapi kalau Kasman nekat melawan, ya dihabisi saja. Kandar yang sejak dulu sudah berduit, sudah berasal dari keluarga elit, mudah saja menyuruh orang untuk memukuli Kasman.
         Malam itu, sekitar jam delapan, dua hari sebelum Kasman melamar Isma, rumah kontrakannya diserbu delapan pria kekar yang rata-rata masih muda. Usia mereka sekitar 25-30 tahun. Kasman yang sebenarnya cukup jago berkelahi,  tidak kuasa menghadapi delapan lelaki berotot yang semuanya jago bela diri. Kasman  remuk. Wajahnya yang tidak jelek itu menjadi lebih jelek dari simpanse. Karena sudah setengah mati, delapan pemuda kekar itu membuang Kasman di hutan dekat sungai. Mereka beranggapan, dengan kondisinya yang lebih lemah dari seekor kucing, besok pagi atau siang, Kasman pasti sudah mati.
         Masya Allah..” gumam Hamdi sambil mengelus dada. “Iskandar…kamu tega berbuat sekejam itu. …Hahh! Pantas saja kalau istrimu tersiksa. Pantas saja kalau dia tidak pernah bahagia. Pantas saja kalau kamu dibenci banyak orang.”
         Iskandar yang wajahnya tampak murung, berkata, “Melihat kondisinya saat itu, aku yakin, kemungkinan besar dia sudah mati.Misalkan dia mendapatkan dirinya masih selamat, harusnya dia langsung bersyukur kepada Allah. Dan rasa syukur itu bisa dia wujudkan dengan tobat, memperbaiki hidup, menjadi orang sholeh, dll.”
         “Kamu sendiri sudah tobat belum?” Tanya Darti dengan lisan hatinya. “Kalau sudah, kenapa sampai sekarang kamu masih suka menyakiti istrimu?”
         “Tapi sekarang..” lanjut Kandar, “ada adiknya, atau mungkin juga keturunannya, yang ingin menghancurkan rumah tanggaku. …Aahh…kenapa masalahnya jadi serumit ini ya?”
         Hening sejenak, lalu Kandar tersenyum, “Demikianlah ceritanya, ibu-ibu dan bapak-bapak. Sekarang saya sedang menghadapi saudaranya orang jahat yang sudah lama hilang, bahkan sudah saya anggap musnah dari muka bumi ini.  …Yah..semua yang kualami ini karena cinta.”
         Endah tersenyum. “Cinta memang segalanya. Cinta memiliki dua sisi, seperti pedang bermata dua. Cinta bisa membahagiakan manusia, tapi juga bisa membinasakan.”
         Setelah hari semakin sore, semua tamu Kandar memohon diri. Kandar dan Isma sangat berterima kasih atas kepedulian mereka. Saat Kandar merangkul dan mencium pipi istrinya, Hamdi melirik mereka. Hatinya seperti ditusuk pedang membara. Namun untunglah, Isma memahami hal itu. Ia langsung mengajak Hamdi kontak batin. Sambil melirik Hamdi, hatinya berkata, “Tenanglah kekasihku..bersabarlah. Semua ini hanya untuk menguatkan cinta kita. Percayalah. Aku hanya mencintaimu. Aku milikmu, kekasihku.”
         Hamdi tersenyum lega. Bibir hatinya menyahut, “Trima kasih Isma. Kamu memang bunga hatiku. Seberat apapun rintangan yang menghalang, dan seberat apapun resikonya, cintaku padamu takkan berubah.”
         “Sama-sama, Mas Hamdiku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu.”
                                                   *****

         Pagi yang cerah menghampiri bumi. Sutris pergi bersama Kandar dengan mobil Taruna merah. Ketika mobil besar ini sampai di sawah dan ladang, tiba-tiba ada lelaki pengendara motor bebek yang berada di samping kanan Taruna. Lelaki itu ingin mengatakan sesuatu pada Sutris yang sedang mengemudi. Sutris membuka kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa yang ingin disampaikan pemuda berhelm standart itu. Rupanya pemuda itu meminta Kandar berhenti sejenak. Katanya ada perlu penting. Kandar pun meminta Sutris untuk menghentikan mobilnya.  
         Setelah berhenti, pemuda itu menghampiri Kandar yang masih berada di mobil. Pemuda itu mengatakan, ada teman lama Kandar yang butuh pertolongan. Sekarang temannya Kandar itu ada di gubug yang berada di sawah. Kandar yang kebingungan, bertanya, “Siapa teman lama saya itu?!”
         “Saya tidak tahu Pak. Katanya teman kuliah Bapak.”
         Kandar dan Sutris saling menatap. Si pemuda melanjutkan, “Sekarang dia sangat butuh bantuan. Dia sangat ingin ketemu Pak Kandar, jadi kalau bisa Pak Kandar ke sana sekarang!”
         “Baik, baik, saya ke sana sekarang. Ehmm (menatap Sutris), kamu di sini dulu ya? Kuusahakan tidak lama. Nanti kalau aku butuh bantuan, kamu langsung kupanggil.”
         “Baik Pak.”
         “Mari saya antar,” ujar si pemuda. Ia mengantar Kandar ke gubug di tengah sawah yang tadi ia tunjukkan. Jaraknya dengan mobil Taruna terpaut sekitar 30 meter. Dengan demikian, Kandar masih bisa terlihat oleh Sutris yang berada di mobil. Kalau Kandar butuh apa-apa, ia tinggal memakai isyarat untuk memanggil Sutris. Beberapa saat kemudian, ketika Kandar dan si pemuda semakin dekat dengan gubug, tiba-tiba muncullah Toyo di samping Sutris yang duduk menghadap setir. Toyo tersenyum mengejek, “Halo Pak Sopir?”
         “Toyo!” seru Sutris melotot. Toyo tetap tersenyum “Kenapa? Kaget ya?”
         “Kamu..hah! kenapa kamu di sini?”
         Toyo masih tersenyum mengejek, namun sedetik kemudian matanya melotot. “Karena aku ingin menghancurkan kalian!”
         Sedetik setelah Toyo berkata begitu, ia lontarkan bogem kanannya ke muka Sutris yang duduk di jok. Hidung Sutris langsung berdarah cukup banyak. Ia membentak, “Toyo! Apa-apaan kamu!”
         “Tenang Bung, sebentar lagi kamu akan tidur nyenyak.”
         Toyo langsung menyumpel hidung dan mulut Sutris dengan sapu tangan yang sudah diberi zat penidur. Setelah lebih dari 20 detik, Sutris pingsan di depan setir mobil. Posisi tidurnya dibuat nyaman oleh Toyo. Melihat Sutris benar-benar sudah pingsan, Toyo mengelus dahinya sambil tersenyum mengejek,
”Kawanku, kamu di sini saja ya? Tidak usah ke mana-mana. Sekarang akan kubereskan dulu Bossmu.”
         Sementara itu, Kandar yang sudah sampai di gubug, kebingungan. Ia tidak melihat siapa pun di gubug kecil itu. Ia menatap si pemuda, “Mana? Katanya ada teman lamaku?!”
         Pemuda yang tadi tampak ramah dan lugu, sekarang terlihat serius. Ia tersenyum mengejek, “Memang ada, tapi tidak di sini.”
         “Tidak di sini (mulai gusar)!? Terus di mana?!”
         Setelah Kandar bertanya begitu, dari balik gubug itu muncullah seorang lelaki tinggi besar yang memakai jaket hitam. Ia mendekati Kandar yang masih kebingungan. Kandar belum menyadari kehadiran sosok besar di belakangnya itu. Kandar yang emosinya mulai meluap, berkata agak membentak, “Kamu jangan main-main! Siapa teman lamaku itu?!”
         “Sebentar lagi Bapak akan tahu.”
         Setelah berkata begitu, pria tinggi besar yang berdiri di belakang Kandar persis, memukul tengkuk Kandar dengan tangan kanannya. Pukulan maut itu langsung membuat Kandar pingsan. Begitu sadar, Kandar mendapati dirinya terikat erat di sebuah ranjang kecil. Tak jauh dari tempat Kandar diikat, tampaklah Sutris yang juga diikat erat di sebuah kursi. Sutris masih tertidur. Kandar yang masih agak ngantuk, melihat lima pria yang berdiri tegak di hadapannya. Lima pemuda kekar itu semuanya bertampang sangar. Hanya satu orang yang wajahnya agak mendingan.
         Dengan kedua tangan diikat, Kandar berseru, “Apa-apaan ini!? di mana aku?! Huhh! Siapa kalian!?”
         Pertanyaan Kandar itu langsung terjawab dengan munculnya pemuda yang tadi mengantarnya ke gubug. Begitu melihat pemuda itu, amarah Kandar langsung meledak. Ia membentak, “Keparat! Siapa kamu sebenarnya!? Ha!? Apa maumu!? Kenapa kamu membawa aku ke sini? Tempat apa ini!? Hahh (menatap Sutris)! Kenapa sopirku juga dibius!?”
         “Sebenarnya kami tidak berniat begitu,” sahut pemuda misterius, “tapi kalau dia tidak dibius, nanti dia bisa kabur, lalu lapor polisi. Wahh. Nanti urusannya bisa panjang. Betul tidak !?”
         “Terus sekarang kamu mau apa!?”
         “Kan tadi aku sudah bilang, aku mau mempertemukan anda dengan teman lama anda.”
         “Ya sekarang mana keparat yang mengaku teman lamaku itu?! mana?!”
         “Sebentar lagi kamu akan ketemu dia,” sahut Toyo yang tiba-tiba muncul di hadapan Kandar. Dengan kedua tangan masih diikat, Kandar membentak, “Toyo!..kamu…huhh! jadi kamu yang sudah merencanakan semua ini?! grrrrh!...Kamu nyaris mencelakai istriku! Kamu bajingan!”
         Toyo yang masih tenang, berkata lembut, “Jangan salah kalau ngomong. Kamu yang bajingan, bukan aku.”
         Kandar menggeram, lalu meludahi muka Toyo. Toyo mengusap ludah Kandar yang menyiram pipi kirinya. Wajahnya belum terlihat ingin marah. Beberapa detik kemudian, Toyo menyuruh anak buahnya membuka tali yang mengikat kedua tangan Kandar. Begitu dilepas, Kandar langsung bangkit, lalu merangsek Toyo dengan amarah meluap, namun Toyo bertindak lebih cepat. Bogem kanannya menghujam muka Kandar dengan mantapnya. Kandar  ambruk lagi di ranjang.
         Selanjutnya, dua anak buah Toyo yang tinggi besar, mengajak Kandar untuk mengikuti Toyo yang berjalan menuju sebuah ruangan. Setelah masuk ke ruangan itu, Kandar disuruh duduk dengan paksa oleh dua pria kekar yang mencengkeram tangan kanan-kirinya. Beberapa detik kemudian, dua buah lampu kuning menerangi ruangan gelap tersebut. Samar-samar, Kandar melihat sesosok tubuh yang duduk di hadapannya. Sosok itu duduk menghadap meja yang berada di kegelapan. Jaraknya dengan Kandar terpaut sekitar tiga meter lebih sedikit. Kandar belum bisa melihat wajahnya yang masih tertutup kegelapan. Kandar baru bisa mendengar suaranya yang mengatakan, ‘Apa kabar, teman lamaku? Cukup lama kita tidak jumpa.’ Suaranya besar dan serak.
         Sebenarnya Kandar semakin merinding, namun karena angkuh, ia tetap pura-pura tenang dan sok berani. Dengan keberanian dipaksakan, Kandar berkata, “Orang aneh yang mengaku teman lamaku, kenapa kamu berani lancang sama Suryo Iskandar?! Tempat apa ini? siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan dari aku?!”
         Pria aneh itu tertawa mengejek dengan suara lirih. Ia berkata, “Kamu benar-benar sudah lupa aku?”
         “Huh! Jangankan lupa, kenal saja tidak. Jangankan kenal, lihat saja belum pernah. …Sudah! tidak usah bertele-tele! Sekarang cepat katakan maumu! Biar aku bisa segera pergi! Setengah jam lagi aku ada acara penting.”
         “He he he..kamu tidak akan bisa menghadiri acaramu itu.”
         “Kenapa?!”
         “Karena kamu harus di sini dulu. Kamu akan mendapat sesuatu yang maha penting. He he.”
         “Tapi masih lebih penting urusanku. Aku mau bisnis!”
         “Bisnis memang penting..apalagi untuk pedagang kikir seperti kamu. He he he. Tapi percayalah..yang akan kamu dapatkan ini jauh lebih penting.”
         Kandar melotot. “Memang apa yang akan kudapat dari bedebah seperti kamu!?”
         “Makanya, dengarkan dulu penjelasanku..jangan tergesa-gesa.”
         Sesaat kemudian, ada lima lampu kuning lagi yang menerangi ruangan gelap itu. Cahaya lima lampu itu membuat keadaan ruangan menjadi semakin terang. Namun wajah sosok misterius di hadapan Kandar itu masih belum terlihat. Ia berkata, “Kalau ceritaku ini sudah selesai, kamu akan tahu siapa aku.”
         Setelah berkata begitu sosok aneh ini berdiri tegak di depan mejanya. Posturnya tinggi besar. Ia memakai baju lengan panjang warna gelap. Setelah tertawa mengejek, ia utarakan semua keinginannya. Ia bercerita tentang masa lalunya, ketika ia dan Iskandar bersaing keras memperebutkan Isma. Ia mengeluhkan derita panjangnya yang dibuat Kandar. Ia bercerita ini dan itu. Kandar yang mendengarkan semua cerita itu, tersenyum mengejek. Ia berkata, “Aku tidak kenal kamu, jadi kumohon..kamu jangan ganggu aku. Hahh! Sainganku untuk menikahi Isma banyak, jadi aku tidak hafal nama-namanya. …Yah, mungkin kamu termasuk salah satunya.”
         “Tapi aku yakin, kamu hanya pecundang. Dalam arti, kamu, Kasman atau Muji itu bukan saingan beratku. Saingan beratku hanya satu..dan itu memang yang terberat. ….Siapa lagi kalau bukan Mardan, mantan pacarnya Isma..pemuda dari desa sebelah, tetangga desanya Isma. …Kamu juga sudah tahu Mardan kan? Atau minimal pernah dengar.”
         Pria aneh mengangguk-angguk. “Bagus..bagus. he he. Mardan memang saingan terberatmu, tapi itu sudah lama berlalu. Sekarang kamu punya rival baru yang jauh lebih kuat dari Mardan.”
         Kandar tersentak. “Maksudmu…ada laki-laki yang sedang mendekati istriku?!”
         “Bukan cuma sedang mendekati, “ sahut Toyo, “sekarang dia dan istrimu sudah jadi pasangan kekasih. He he he. Sekarang Isma sedang selingkuh, dan itu sudah berlangsung cukup lama. Ha ha haa!”
         Kandar melotot. “Itu tidak mungkin, pembohong! Tidak mungkin! grrhhh! Isma itu cantik luar dalam, jadi dia tidak mungkin berani mengkhianati aku! TIDAK MUNGKIN!!”
         Toyo tertawa mengejek dengan lebih keras. “Kasihan banget kamu. Hah ha ha! Jadi kamu belum sadar kalau sekarang ini kamu sudah dikhianati istrimu?!”
         Kandar melotot. Ia belum percaya dengan semua yang didengarnya, namun ia juga tidak bisa mengingkari begitu saja. Pria misterius bicara lagi, “Kamu juga tidak percaya kalau aku Kasman Hendratmo?”
         Kandar menggelengkan kepala. “Kasman sudah mati enam tahun yang lalu.”
         “Oh iya? Hahh! Apa kamu yakin!?”
         Kandar diam beberapa detik. Sambil mengernyitkan dahi, Kandar bicara lagi, “Aku memang tidak berniat membunuh Kasman.” Hening sejenak. ”Peristiwa enam tahun yang lalu itu…aku hanya menyuruh anak buahku untuk membuat Kasman sekarat, atau setengah mati. Tapi kalau melihat kondisi fisiknya yang sudah seperti kodok digilas mobil, 95 persen dia sudah mati. Apalagi orang-orangku juga membuang tubuh brengsek itu di hutan.”
         Hening sejenak. Pria aneh yang wajahnya masih belum terlihat, mengangguk-angguk. “Begitu ya? …Heh he he. Kandar, Kandar. Kasihan banget kamu. Hahh. …..Lalu siapa dia ( menunjuk Hartoyo).”
         Kandar menatap Toyo, lalu tersenyum sinis. “Dia hanya keparat yang mengaku adiknya Kasman.” Hening sebentar. “Oke, dia memang mirip Kasman..tapi aku yakin, dia bukan adik kandungnya. Dia memang mirip Kasman, tapi lebih mirip kurang ajarnya, bukan wajahnya.”
         Pria aneh tersenyum mengejek. Ia berdiri, lalu meminta Roy, pemuda yang tadi mengajak Kasman ke gubug di sawah, untuk membuka tiga pintu yang berada di samping kiri Kasman. Roy membuka tiga pintu itu dengan menggeser, dan…tampaklah mobil Suzuki Escudo warna biru tua. Pria aneh berkata, “Apa itu mobilmu? Juga benda-benda berharga itu?....”
         Kandar tersentak. Ia langsung berdiri, kemudian mendekati mobil Escudo itu, juga barang-barang pecah belah yang harganya selangit. Kandar menyentuh Escudo dan benda-benda berharga itu. Tubuhnya bergeter keras menahan marah. Bibirnya meringis, kesepuluh jarinya dikepalkan. Ia kembali menatap orang-orang aneh di hadapannya, lalu membentak, “Brengsek!! Kalian sudah mengambil barang-barangku! Grrrh! Kalian benar-benar perampok!”
          Kandar menunjuk Toyo dengan melotot. “Kamu!…Yahh..kamu biangnya semua ini! Rupanya kamu ingin menghancurkan rumahku, mengambil sebagian besar hartaku! Huhh! Kamu bangsat!”
         Kandar melontarkan tinju kanannya, namun tangan kiri Toyo mengepres tinju itu dengan mudah. Toyo ganti melontarkan bogem kanannya, dan tepat mengenai muka Kandar. Kandar terhuyung-huyung dengan hidung berdarah. Toyo yang emosinya mulai terbakar, langsung mengirim serangan berikutnya. Kaki kanannya menghujam ulu hati Kandar. Tendangan maut itu langsung membuat Kandar jatuh terduduk. Sambil meringis kesakitan, Kandar berusaha berdiri. Sesaat kemudian, sebuah lampu menerangi si sosok aneh, sehingga tampaklah wujudnya secara total. Kandar yang sudah berdiri lagi, terperangah melihat sosok di hadapannya itu.
         Kandar melihat seorang lelaki berpostur tinggi besar. Tingginya sekitar 185 cm. Beratnya 95 kg, bahkan bisa jadi 100 kg. Ia memakai baju lengan panjang yang juga besar. Warnanya hijau tua. Dan yang paling membuat Kandar ngeri, wajah lelaki di hadapannya itu sangat menyeramkan. Wajahnya amat sangat sulit digambarkan. Rambutnya hitam, tebal dan agak gondrong. Panjangnya hampir sebahu. Kulit pipi dan dahi berkerut. Sebagian uratnya menyembul ke permukaan kulit, seolah ada cacing-cacing besar yang menempel di wajahnya. Bibir besar dan dower. Kulit di bawah mata memar, sampai berwarna kelabu tua. Sungguh, wajahnya benar-benar lebih mengerikan dari singa. Inilah wujud si aneh yang selama ini selalu bersembunyi di kegelapan.   
         Hening beberapa detik. Kandar yang masih melotot, menunjuk pria seram sambil menggelengkan kepala. “Ya ampun. …Kamu…kamu…”
         Pria seram tersenyum. “Inilah teman lamamu. He he heh. Walaupun wajahku berubah banyak, teman lamaku ini tetap ingat. Hah ha ha. Senang sekali aku.”
         Kandar yang seperti melihat setan neraka, berkata, “Masya Allah. …kamu…kamu benar-benar Kasman!”
         “Memang siapa lagi?!” sahut Kasman tersenyum mengejek. Kandar berkata lagi, “Bagaimana mungkin kamu masih hidup?!”
         “Yahh…mungkin karena Dewi Fortuna masih membelaku, juga masih memberiku kesempatan untuk membalas perlakuan terkutukmu enam tahun lalu. Hah ha ha haa! …..Baiklah. Sebelum ke urusan kita, adikku mau cerita dulu. Dia mau membeberkan perselingkuhan istrimu dengan seorang pemuda yang katanya alim.”
         “Pemuda alim?!” sahut Kandar tersentak. Kasman mengangguk. “Di komplekmu, lelaki selingkuhan Isma itu sudah dianggap orang sholeh, jadi dia tidak mungkin berbuat rendah. …Tapi nyatanya…hahh! …Dia hanya sholeh-sholehan. Penampilan luarnya memang baik, tapi dalamnya…bah! …Dalamnya busuk sekali.”
         Hening sejenak. Kasman dan konco-konco-nya bertambah senang melihat Kandar semakin terlongong-longong. Kandar seperti kehabisan darah. Kasman bicara lagi, “Katanya dia pengurus masjid Al-Furqan…masjid satu-satunya di perumahanmu. …Nyaris semua tetanggamu memanggil dia Pak Kyai, Pak Ustad.”
         “Memang siapa dia!!?” bentak Kandar yang emosinya sudah meledak. “Cepat katakan! Tidak usah bertele-tele! Grrrhh! Siapa bedebah yang sudah sangat lancang itu!? haa!? bedebah macam apa yang ingin merebut Isma-ku! Bedebah macam apa yang sudah berani mengganggu istriku?!”
         Kasman tertawa keras, lalu berkata, “Salahmu sendiri. Hahh. Terlalu sibuk bisnis. Akibatnya, istrimu yang butuh kasih sayang itu lari ke pelukan lelaki lain. Lelaki yang dia anggap lebih baik dari suaminya sendiri. Hah ha haa!”
         Kandar semakin termangu-mangu. Kata-kata Kasman itu laksana seratus bisa ular Cobra yang menyengat jantungnya. Kasman meminta Toyo untuk menceritakan semuanya. Sesaat kemudian mata Kandar semakin melotot bulat. Tubuhnya bergetar keras menahan api amarahnya yang menggelora. Telinganya benar-benar seperti disambar petir. Toyo tersenyum mengejek, lalu berkata, “Aku bisa bantu kamu membuktikan perselingkuhan istrimu dengan pengurus masjid brengsek itu. Tapi ada  syarat yang harus kamu penuhi.”
         “Apa itu!?”
         “Ya kamu mau kerja sama atau tidak?”
         Kandar melotot, setelah itu menjawab, “Baik..aku mau!”
         “Bagus sekali. Hah ha haa!”
         Tanpa merasa sungkan sedikit pun, Hartoyo langsung mengatakan keinginannya. Kalau besok Toyo bisa membantu Kandar membuktikan hubungan gelap Hamdi-Isma, Toyo minta imbalan uang sebanyak 20 juta. Awalnya Kandar tersentak mendengar syarat yang diajukan Toyo itu, namun beberapa detik kemudian Kandar menyahut, “Baik! aku mau! Huhh! Hanya 20 juta kan?”
         “Tidak lebih dari itu. Aku janji.”
         Kandar tersenyum angkuh. “Bagi orang sekaya Suryo Iskandar, 20 juta itu tidak begitu banyak. …Huhh! Baiklah setan-setan! Karena aku sudah mau diajak kerja sama, sekarang ijinkan aku pulang. Aku sudah muak di ruangan busuk ini!”
         Kasman tersenyum, “Tenang sobatku, jangan panik. Kamu akan pulang dengan selamat. Kami sudah cukup puas mendapat sebagian besar hartamu. Apalagi kami mau dapat harta lagi dari kamu. Sebentar lagi kami dapat 20 juta. Hah ha haa!”
         Kandar ikut tersenyum, namun sedetik kemudian senyumnya musnah oleh amarahnya yang meledak. Ia membentak, “Kalian tidak akan dapat apapun dari hartaku! Secuil pun tidak! Huhh! Kalian pikir aku takut sama kalian! Haa!? Walaupun aku mampu menyediakan 20 juta, aku sangat menyayangkan kalau hartaku sampai jatuh ke tangan brengsek-brengsek seperti kalian! Terutama kamu dan kamu (Kasman dan Hartoyo)! Kakak adik keparat! Huhh! Berani benar cecunguk-cecunguk macam kalian mengancam Iskandar! Grrhh! Kasman!..kamu biang keladi semua ini. Kamu juga yang sudah membawaku ke tempat busuk ini! grrhh..! Sekarang kamu akan merasakan lagi deritamu enam tahun yang lalu!”
        Kandar yang sudah marah besar, menjadi tidak takut dengan bahaya sebesar apapun. Ia mendekati Kasman, lalu memukul kepalanya lima kali. Satu dengan tangan kiri, empat dengan tangan kanan. Kandar tersentak. Lima pukulan sepenuh tenaganya itu hanya membuat kepala Kasman bergerak sedikit. Kasman juga tidak kesakitan sedikit pun. Kandar melangkah mundur seraya bergumam, “Apa-apaan ini!? Aku seperti memukul kayu.”
         Kasman tersenyum mengejek. “Kalau kamu belum puas, ayo…serang aku lagi.  Pukul aku lagi. Pukul yang lebih keras.”
         Kandar melihat sebuah pentung kayu yang tersandar di lemari. Ia langsung memungut pentung tersebut, kemudian memukulkannya ke kepala Kasman, namun tidak mengenai sasaran. Tangan kiri Kasman yang kokoh, menangkis pentung tersebut. Kandar semakin tersentak. Bagaimana mungkin pentung yang cukup keras itu dapat ditahan Kasman dengan mudah? Kasman juga tidak terlihat kesakitan sedikit pun, bahkan selanjutnya Kasman tersenyum mengejek. Benarkah tangan Kasman lebih keras dari pentung kayu tersebut?   
         Melihat Kandar hanya melongo, Kasman menggeram, lalu menghujamkan bogem kanannya ke muka Kandar. Pukulan seberat 15 kg itu langsung merobohkan Kandar. Kepalanya hampir membentur kaki ranjang. Ia mencoba bangkit, namun kepalanya terasa mau pecah. Kasman yang amarahnya sudah meledak, mendekati Kandar yang masih berbaring di lantai, kemudian membantunya berdiri dengan menarik bajunya. Kasman yang wajahnya seperti monster, memelototi Kandar yang hidungnya banjir darah. Ukuran tubuh dua kawan lama ini terpaut jauh. Kandar terlihat kecil di hadapan Kasman yang seperti petinju kelas berat.
         Kasman yang emosinya sudah seperti gunung meletus, membentak sambil mengguncangkan tubuh Kandar. “Kamu mau kerja sama tidak?! Haa!!? mau tidak!!?”
         Kandar yang sebenarnya ketakutan, tetap berusaha menjaga gengsi. Ia diam saja. Tentu saja Kasman semakin marah. Ia kembali membentak, “Mau kerja sama tidak!? Brengsek! Grrhhh! Kalau kamu tidak mau menjawab, kamu akan kubuat menderita seumur hidup! Huhh! Aku serius! …Mau tidak!? Keparat!”
         Kandar yang sombong itu tetap diam saja. Namun beberapa detik kemudian keangkuhannya musnah oleh rasa takutnya pada Kasman yang lebih mengerikan dari beruang Gryzzli. Dengan sangat berat hati, akhirnya Kandar mau bekerja sama dengan Kasman, Hartoyo, dan semua bawahannya. Kandar pun pulang dengan kepala tertunduk. Alangkah marah dan malunya Kandar yang selama ini dikenal sebagai pedagang sukses. Kandar yang selama ini disegani karena uangnya banyak, sekarang ada yang berani menginjak-injak kepalanya. Harga dirinya benar-benar ternodai.      
         Namun ia juga merasa beruntung karena mendapat informasi besar. Informasi tentang perselingkuhan istrinya dengan imam masjid Al-Furqan. Sejak bertemu dengan Kasman kemarin, Kandar bertekad untuk menyelidiki hal buruk yang sudah meresahkan hatinya. Kandar ingin membuktikan berita miring tentang istrinya. Kandar mulai mengurangi jam kerjanya yang ekstra padat, dan menyediakan waktu untuk berada di rumah. Semua itu agar ia bisa mengawasi Isma.  
         Setelah seminggu melakukan penyelidikan, Kandar belum mendapatkan apa yang ia cari. Sampai sejauh ini, Kandar menganggap Isma masih baik-baik saja. Sedikit pun Kandar belum mencium pengkhianatan atau perselingkuhan yang dilakukan Isma. Kandar menganggap, belum ada sesuatu yang mencurigakan pada diri dan sikap istrinya. Sampai hampir dua minggu, Kandar masih menganggap Isma normal-normal saja. Tentu saja hal ini membuat Kandar bingung. Sampai detik ini, Kandar tidak atau belum bisa membuktikan kebenaran cerita Kasman dan Toyo.
         Kandar yang semakin gusar, bergumam, “Jangan-jangan semua ini hanya karangan Kasman brengsek, biar rumah tanggaku dengan Isma retak, bahkan akhirnya hancur. …..Tapi kalau melihat keseriusannya kemarin, mustahil kalau semua yang dia katakan itu bohong. …Lelaki yang satu itu memang lelaki paling terkutuk yang pernah kukenal. Tapi kalau melihat wajahnya kemarin, juga cara bicaranya yang sepenuh hati…mustahil kalau omongannya itu hanya main-main. …Si Toyo itu juga. Dia dan kakaknya sama-sama bangsat! …Tapi kemarin dia juga kelihatan serius sekali. Bahkan dia juga bilang…kalau semua ceritanya itu bohong…dia siap disambar geledek. …Aahh…kenapa aku jadi sebingung ini ya?”     
         Kandar benar-benar gelisah. Ia tidak mengira akan mendapat masalah seruwet ini. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Kandar menelpon Kasman. Mendengar Kandar mengeluh, Kasman tertawa mengejek. Kandar yang merasa tidak mantap berkomunikasi lewat telpon, memberanikan diri untuk bertemu Kasman lagi di markasnya. Kasman pun menyambutnya dengan senang hati. Ia meminta Kandar untuk bersabar dan terus melakukan penyelidikan. Kalau penyelidikannya itu tetap belum membuahkan hasil, Kasman menyuruh Kandar untuk menuruti siasat Toyo. Sambil tersenyum-senyum, Kasman berkata, “Percayalah Ndar, siasat adikku ini pasti berhasil.”
         Kandar yang sudah emosi, menyahut,  “Baik..kuturuti nasehatmu, juga siasat adikmu. Kalau besok berhasil, imbalanmu kutambah lima juta. Tapi kalau siasatmu ini gagal, aku tidak segan untuk melaporkan kalian ke polisi.”
         Kasman tersenyum sinis. “Hanya ingin membuktikan perselingkuhan Isma dengan Hamdi kan? Hanya itu kan maumu?”              
         Kandar mengangguk mantap. “Hanya itu yang kuminta.”
         “Heh he he. Baik, tunggu tiga hari lagi.”
         Malam itu, Kandar dan Isma makan bersama di meja makan. Kandar mengatakan, besok pagi ia dan teman-teman bisnisnya mau pergi ke Cilacap selama empat hari. Seperti biasa, Sutris yang akan mengantar Kandar dengan Taruna merah. Jam setengah tujuh pagi besok Kandar sudah harus berkumpul di rumah salah satu kawannya, jadi malam ini ia harus segera tidur. Agar besok pagi bisa bangun tepat waktu, malam ini Kandar tidak boleh tidur terlalu larut, sebagaimana kebiasaannya selama ini. Mendengar penjelasan itu, Isma bersorak gembira. Hatinya berseru, “Ini luar biasa! Oohh…sudah sebulan lebih aku tidak ketemu Mas Hamdi.”
         Isma tersenyum, lalu memeluk kedua bahu suaminya. “Ya sudah kalau begitu, sekarang Mas langsung tidur saja, biar besok bisa bangun sebelum Shubuh.”
         “Sama kamu yuk,” sahut Kandar manja. Isma tersenyum manis. “Aku masih ada sedikit kerjaan di dapur. Lima menit lagi kususul. Oke?!”
         “Oke Honey.”
         Kandar mencium pipi Isma, setelah itu melangkah ke kamar. Sedetik kemudian Isma berlari ke dapur, kemudian memencet-mencet tombol HP-nya. Rupanya Isma sedang mengirim pesan untuk sang kekasih gelap. Pesan singkat itu mengatakan, besok pagi Kandar pergi ke Cilacap untuk melebarkan sayap bisnisnya. Selama empat hari itu rumahnya kosong. Dengan demikian, si kekasih gelap bisa datang lagi ke rumah Iskandar untuk menemui Isma. Mendapat pesan tersebut, si kekasih gelap  langsung menyahut, “Dengan senang hati, Permata Hatiku. Aku juga sudah rindu berat sama kamu.”
         Alangkah gembiranya Isma setelah membaca SMS balasan dari si pria idaman lain. Dengan bibir tersenyum manis, ia sandarkan tubuh rampingnya di tembok. Sambil menempelkan Hand Phone di dada, Isma bergumam, “Trima kasih ya Allah.. ooh. …Setelah cukup lama tidak ketemu, akhirnya Engkau memberiku kesempatan untuk ketemu Mas Hamdi lagi. Ooh…alangkah bahagianya aku. …Mas Hamdi, aku benar-benar kangen kamu Mas. Maafkan aku ya? Aku benar-benar kesulitan mencari waktu untuk ketemu kamu. …Tapi yang penting besok kita sudah ketemu lagi.“
         Setelah diawasi Kandar selama beberapa waktu, bisakah Isma menemui kekasih gelapnya lagi? Benarkah Isma belum sadar kalau Kandar sedang ingin menyelidiki penyelewengannya dengan mantan pria sholeh itu? Mau tidak mau, sebentar lagi  Isma dan kekasih gelapnya akan mendapat masalah besar.
                                                        * * * * *

         Tepat pukul setengah delapan, Hamdi dan motor Honda GL-Pro-nya tiba di rumah Isma. Begitu Murni membuka pintu ruang tamu, Hamdi langsung diminta masuk ke ruang keluarga. Begitu sampai di ruang keluarga, Hamdi melihat sang bunga hati sudah menantinya. Dilihatnya Isma duduk di sofa yang menghadap TV. Wanita cantik berwajah Arab-Jawa ini memakai baju lengan panjang dan rok serba kuning. Panjang roknya hampir semata kaki. Begitu melihat si pria idaman lain, Isma langsung berdiri, kemudian tersenyum manis sekali. Hamdi membalas senyum menawan itu. Sedetik kemudian, pasangan kekasih gelap ini berpelukan.
         Isma yang menaruh kepalanya di dada bidang Hamdi, berkata, “Aku kangen kamu Mas. Kangeen banget.”                 
         “Apalagi aku Sayang..” sahut Hamdi tersenyum. Ia elus rambut Isma yang lebat dan berombak. Isma yang air matanya menetes setitik, berkata, “Andaikan kita tidak usah berpisah lagi.”
         “Inginku begitu Sayang,” tutur Hamdi sambil menghapus air mata Isma yang membasahi pipinya. “Andaikan bisa, aku ingin menikahi kamu.”
         Isma tersentak gembira. “Mas mau menikahi aku!?”
         “Iya.”
         “Kamu serius Mas!?”
          Hamdi mengangguk mantap sambil tersenyum. “Inilah bukti ketulusan cintaku padamu.”
         Indah sekali kata-kata Hamdi itu, sampai membuat Isma menangis terharu. Isma benar-benar bahagia. Ia kembali menaruh kepalanya di dada Hamdi, lalu berkata lembut, “Aku tidak tahu harus bilang apa. Oooh. …Inilah yang selama ini kutunggu.”
         Hamdi yang matanya juga mulai basah, berkata, “Dan yang kamu tunggu selama ini sudah datang.”
         Selanjutnya, Hamdi dan Isma berbincang di sofa panjang, sofa yang cukup sering dipakai Kandar untuk bersantai. Mereka duduk berdekatan. Isma memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Hamdi. Ia memohon maaf karena tidak punya waktu untuk pacaran atau sekedar menemui Hamdi. Selama 40 hari, Kandar lebih  banyak tinggal di rumah, padahal biasanya Kandar berada di kantor sejak jam delapan sampai hampir Maghrib, bahkan terkadang sampai jam delapan malam. Hal itu jelas membuat Isma keheranan sekaligus tersiksa. Mau menemui Hamdi di rumah, jelas tidak bisa. Mau ketemu di tempat biasa, juga tidak bisa karena tidak punya waktu untuk keluar rumah.
         “Begitulah Mas,” tutur Isma yang matanya sudah kering. “Selama 40 hari ini, Mas Kandar seperti mengawasi aku diam-diam. …Ooh..jangan-jangan, dia mulai mengetahui hubungan kita. …Aku takut Mas…”
         Hamdi tersenyum, lalu memeluk kedua tangan Isma. “Seberat apapun resikonya, aku tetap akan melindungi kamu sekuat tenaga. Itulah janjiku.”
         “Sungguh Mas?”
         “Tegakah aku membohongi bunga hatiku ini?”
         Isma tersenyum manis. Hening beberapa detik, setelah itu Isma bicara lagi. “Maafkan aku ya Mas (memeluk tangan kanan Hamdi dengan kedua tangannya)? Aku benar-benar tidak bisa nemui kamu. Aku benar-benar kesulitan mencari waktu untuk kita.”
         Hamdi tersenyum. “Sama sekali tidak ada yang perlu dimaafkan. Pokoknya sekarang kita sudah ketemu lagi.”
         Isma tersenyum manis. Ia meminta Hamdi untuk membuktikan keseriusan cintanya pada Isma. Permintaan itu membuat Hamdi tertantang. Darah mudanya langsung bergolak. Sambil tersenyum gembira, mantan imam masjid ini berkata, “Bunga hatiku (membelai rambut dan pipi Isma), bukti apalagi yang kamu butuhkan?”
         Pertanyaan itu hanya dijawab Isma dengan senyum menawannya. Jantung Hamdi bergetar keras. Setelah hanya tersenyum-senyum, Isma berkata, “Masku..aku hanya minta satu hal.”
         “Oh ya?...Apa itu?”
         Isma mengatur nafasnya. Dengan raut wajah lebih serius, Isma berkata, “Mari kita...berhubungan intim.”
         Hamdi tersentak. “Apa!? Berhubungan intim!?”
         Isma mengangguk. Hamdi yang melotot, berkata, “Isma…kamu serius!?”
         “Sangat serius Mas. …Ayo Mas… ke kamarku.”
         Sesaat kemudian, pasangan kekasih gelap ini sudah berada di kamar Isma. Hening beberapa detik. Kini Isma hanya memakai kaos singlet dan celana pendek. Wanita cantik ini berkata dengan nada penuh birahi, “Cium dan peluklah aku, sebagaimana kamu mencium orang yang kamu cintai. …Ayo Mas (memeluk kedua bahu Hamdi).”
         Hamdi yang tadi terlihat gagah, kini seperti kucing yang dikejar anjing. Tubuh putra Sujar ini bergetar keras. Takut dan gembira bercampur aduk di hatinya, namun rasa takut masih lebih dominan. Apalagi saat Isma sudah memejamkan kedua matanya, lalu mendekatkan kepalanya ke kepala Hamdi. Dengan kedua mata tertutup, Isma berkata lembut, “Ayo Masku Sayang…lakukanlah…sebagai bukti cintamu padaku. …Ayo.”
         Hamdi melotot. Jarak bibirnya dengan bibir Isma hanya terpaut 10 cm. Hening beberapa detik. Hamdi yang menganggap Isma ingin membuktikan kejantanannya, langsung bersemangat untuk melakukannya. Hatinya berkata, “Baiklah Sayangku. Demi cinta kita, kuberi apa maumu.”
         Hamdi yang merasa tertantang, langsung mencium bibir Isma dengan perlahan. Sekitar 4-5 detik bibir mereka bersentuhan. Jantun Hamdi semakin bergetar ketika Isma hendak melepas kaos singlet kuningnya. Namun mendadak tubuh Hamdi bergetar keras. Telinga hatinya seperti mendengar salah satu sabda Rasulullah Muhammad saw yang berbunyi: “Termasuk dari tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan di hari kiamat ialah, seorang lelaki yang diajak bermaksiat oleh seorang perempuan cantik dan terhormat, namun ia menolak dengan mengatakan : Aku takut azab Allah.” *      
         Begitu mendengar suara agung dari lubuk hatinya yang terdalam, Hamdi langsung melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman tangan Isma. Tentu saja Isma terkejut melihat Hamdi ketakutan. Hamdi berkata, “Aku tidak bisa (menggelengkan kepala). Maafkan aku Sayang.”
         “Kenapa Mas? kan tinggal selangkah lagi. Ayolah Mas (kembali meraih kedua tangan Hamdi).”
         Hamdi menggelengkan kepala sambil menarik tangannya. “Aku…aku tidak bisa melakukannya.“
         “Kenapa Mas? Apa yang membuatmu tidak jadi melakukan? …Tidak usah takut atau malu Mas. Di sini hanya ada kita berdua. Kita bebas melakukan apa saja. Tidak ada siapapun yang melihat kita. …Ayolah Mas (kembali hendak mencengkeram tangan Hamdi, namun Hamdi langsung menarik kedua tangannya).“
         Hamdi yang wajahnya pucat, berkata, “Sayangku..di sini memang tidak ada yang melihat kita. Tapi ada satu mata yang tidak bisa kita tipu. Satu mata yang selalu mengawasi kita. Matanya Zat yang Maha Sempurna. Gusti Allah SWT.”
         Isma tersentak. Wajah dua sejoli ini ketakutan. Setelah hening beberapa detik, Hamdi berkata, “Sayangku…dengarkanlah baik-baik.“
   Catatan Kaki : * Hadits Riwayat dua imam ahli Hadits. Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim.           
         “Sekarang ini aku memang munafik. Sekarang ini aku tidak karuan. …Sudah setengah tahun lebih imanku menurun drastis. Sudah setengah tahun lebih akhlakku jadi amburadul. Bahkan sudah lima bulan aku tidak sholat jama’ah di masjid. …Bahkan (wajah semakin sedih), sekarang ini…sholat lima waktuku bolong-bolong…terutama sholat Shubuh. …Yah..aku menyadari semua ini. …Tapi kalau disuruh melakukan permintaanmu itu..aku benar-benar tidak bisa.”
         Hening sejenak. Isma tersentuh oleh kejujuran Hamdi. Kedua mata indahnya kembali berkaca-kaca. Tanpa menatap sang kekasih, Hamdi bicara lagi, “Sekarang memang kesempatan emas buatku. …Dan kalau mau jujur, aku sangat ingin melakukan. Tapi aku benar-benar tidak bisa.”
         Setelah menatap bawah, Hamdi kembali menatap Isma dengan mengiba, lalu berkata lembut, “Sayangku..maafkan aku ya? Walaupun cinta kita sudah sangat kuat, kita tetap harus menjaga dan membatasi hubungan kita.”
         Isma mengusap air matanya, kemudian berkata lembut, “Apa yang kita lakukan ini masih dalam batasan-batasan yang wajar. ...Hanya sekali ini saja kok Mas..percayalah.”
         Melihat kenekatan Isma, Hamdi menjadi tertantang lagi. Apalagi Hamdi juga sadar, wanita cantik di hadapannya itulah yang sekarang ini sudah mengisi kekosongan jiwanya. Melihat Isma kembali memejamkan matanya dan mau melepas pakaiannya, jiwa Hamdi kembali cenderung pada keburukan. Hatinya kembali menuruti bujuk rayu iblis. Isma yang sudah mendekatkan bibirnya ke bibir Hamdi, berkata lembut, “Sekali ini saja Mas…kita lakukan dengan mesra. …Ayolah Mas Hamdiku, sayangku.”
         “Baiklah..” sahut Hamdi yang nafsu syahwatnya sudah terbakar. Ia sentuh kedua bahu mulus Isma. Namun sedetik kemudian ia ketakutan lagi. Ia menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak Isma, jangan! Aku benar-benar tidak bisa!”
         “Jangan mundur Mas. Ayo teruskan.” Sahut Isma yang masih berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir Hamdi. Hamdi menoleh ke samping, berusaha menghindari bibir Isma. Hamdi mencengkeram kedua bahu Isma, lalu berkata setengah membentak, “Isma, ittaqillaah. Ittaqillaah (menunjuk atas)!  
         Isma tersentak lagi, namun ia masih ingin melanjutkan keinginan syahwatnya yang sudah menggelora. Namun mendadak Hartoyo muncul. Dilihatnya Isma dan Hamdi yang bermesraan. Hartoyo menggelengkan kepala sambil tersenyum, lalu bertepuk tangan, “Pemandangan yang sangat indah. Hah ha haa!
         Hamdi dan Isma seperti disambar halilintar. Isma langsung menjauhi Hamdi. Alangkah malu dan takutnya dua sejoli ini. Mereka melihat Toyo yang berdiri tegak sambil tersenyum mengejek. Isma yang hanya memakai singlet ketat dan celana pendek, langsung menutup tubuhnya dengan kain yang cukup lebar, lalu membentak, “Kenapa kamu ada di sini!? Haa!? Semua pintu terkunci rapat. Kamu masuk dari mana?! ...Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Murni?!”
         “Keparat!” bentak Hamdi. “Kenapa kamu berani ke sini lagi?! haa!? kamu belum kapok ya?!”
         Toyo tersenyum mengejek. “Kan kemarin aku sudah bilang, urusan kita belum selesai..jadi aku pasti ke sini lagi. hah ha haa!”
         Setelah tertawa binal, Toyo memelototi Hamdi dan Isma, lalu berkata, “Semuanya, silahkan masuk!”
         Sedetik kemudian muncullah Kandar dan empat pria bawahan Toyo. Yang dua tinggi kekar, yang dua lagi agak pendek seperti Toyo, namun juga berotot. Alangkah terkejutnya Isma dan Hamdi melihat Kandar. Isma berkata, “Lho..Mas Kandar kok sudah pulang? Tidak jadi pergi ya?”
         Kandar diam saja. Hanya wajah muramnya yang menjadi jawaban pertanyaan Isma. Toyo mendekati Kandar, lalu berkata, “Gimana Boss Kandar? Apa kamu masih ragu? Apa semua yang kamu lihat ini masih kamu anggap tipuan?”
         Kandar masih memelototi Isma dan Hamdi, terutama Isma. Tubuhnya bergetar keras menahan bara emosi yang sebentar lagi meledak. Sedetik kemudian Kandar berseru, “ISMAAA!!!” kemudian menarik tangan Isma. Hamdi yang juga ketakutan, hanya bisa melongo melihat Isma hendak dianiaya suaminya. Kandar menjambak rambut Isma, lalu berseru, “Aku benar-benar tidak mengira semua ini! grrhhh! Kamu berani mengkhianati aku! Haa!? kamu ingin menderita!?”
         “Tidak Mas, tidak! Ampun! Aduh! Sakit Mas!”
         “Hatiku lebih sakit!” bentak Kandar sambil mencekik kedua pipi Isma. “Aku benar-benar sakit hati! Aku benar-benar kecewa berat! Grrrhh! Perempuan pembohong! Kelihatannya baik, cantik, sholehah..tapi nyatanya..huhh!…hatimu lebih busuk dari bangkai tikus! Grrrhh! Dasar perempuan jalang!”
         Kelima jari kanan Kandar mencengkeram erat pipi Isma yang di dekat mulut. Isma merintih, “Ampun Mas. Lepaskan aku! Ooohh…kamu tega menyakiti aku?!”
         Rintihan Isma itu malah membuat Kandar semakin marah. Ia membentak, “Kamu yang duluan menyakiti aku! Huhh! Memang apa salah suamimu ini!? haa!? Memang apa yang sudah kulakukan selama ini!? sampai kamu berani berbuat sekurang ajar ini! huhh! …Ternyata…di balik kecantikan dan kelembutanmu…tersimpan racun yang sangat ganas!
         Tangan kanan Kandar menampar pipi Isma, disusul bogemnya dengan tangan yang sama. Dua pukulan beruntun yang keras itu nyaris membuat Isma roboh. Isma merintih sambil menyentuh bagian mukanya yang disakiti suaminya. Sedetik kemudian Isma menangis sesenggukan. Kandar tidak merasa iba sedikit pun melihat Isma bersedih. Ia malah ingin menambah derita istrinya. Ia ingin memukul Isma lagi. Melihat sang pujaan hati disakiti, amarah Hamdi meledak. Ia membentak, “Cukup! Jangan sakiti dia lagi!”
         “Diam kamu! Keparat sok alim!” bentak Kandar sambil mencengkeram tangan kanan Isma yang di atas siku. “Jangan coba-coba pacaran sama istriku lagi! huhh! Dasar penipu kelas berat! Kelihatannya alim, tapi dalamnya perampok! …Yahh..kamu sudah merampok. Merampok istri orang!”
         Hening sejenak. Hamdi yang sangat mencemaskan Isma, berkata lembut, “Pak Kandar, saya mohon dengan amat sangat. Jangan sakiti Isma lagi.”
         Kata-kata yang diucapkan dengan lembut itu malah semakin meledakkan amarah Kandar. Ia membentak, “Apa urusanmu!? Haa!!? dia istriku! Dia milikku yang sah! Jadi aku berhak memperlakukan dia sesuka hatiku!”
         “Iya Pak, saya tahu, tapi kalau Bapak ingin jadi suami yang baik, Bapak tidak boleh memukul Isma seperti tadi.”
         “Kurang ajar!! Berani benar menasehati aku! Grrrhh! Kamu memang minta dihajar! Toyo, tolong hajar dia! Hajarkan untukku!”
         Toyo tersenyum sinis. “Aku nanti saja. Sekarang biar diurus Wahyu dulu.”
         Toyo menyuruh Wahyu, salah satu dari empat pemuda kekar itu, untuk memberi pelajaran buat Hamdi. Wahyu, pemuda 25 tahunan. Tubuh tinggi, kekar dan atletis. Ia mendekati Hamdi, kemudian melontarkan kepalan kanannya. Hamdi yang sudah siaga, dengan mudah menangkis pukulan Wahyu itu dengan tangan kirinya. Melihat pertahanan perut Wahyu terbuka lebar, tangan kanan Hamdi langsung memukul perut lawan. Pukulan keras itu nyaris mengenai ulu hati Wahyu. Wahyu meringis kesakitan. Hamdi langsung melontarkan tinju kedua dengan tangan yang sama. Tinju maut itu menggasak muka Wahyu. Sedetik kemudian Wahyu roboh dengan hidung berdarah.
         Saat Wahyu sudah berdiri lagi, Hamdi kembali menyerangnya, namun tiba-tiba Toyo membentak, “Hamdi! Kalau kamu berani melawan, dia (menunjuk Isma yang dicengkeram Kandar) akan lebih menderita!”
         Hamdi menggelengkan kepala. “Pak Kandar ini masih orang baik-baik, jadi dia tidak akan tega menyiksa istrinya habis-habisan!”
         Kandar melotot. “Dia memang istriku. Tapi kalau dia sudah keterlaluan, aku tidak akan segan berbuat kasar sama dia!”
         Kandar kembali menjambak rambut Isma, juga mencekik kedua pipinya yang di dekat rahang. Hamdi yang ingin menolong Isma, akhirnya pasrah diperlakukan seenaknya oleh Toyo dan Kandar. Hamdi membiarkan Wahyu menghajar dirinya. Tiga jotosan Wahyu menghujam muka Hamdi dengan amat telak. Hamdi terhuyung-huyung. Wahyu langsung melontarkan kaki kanannya. Tendangan maut itu menghujam dada kanan-kiri Hamdi. Pria alim yang sedang terlena ini jatuh terduduk. Tubuhnya nyaris menabrak lemari. Hidungnya berdarah agak banyak.
         Isma yang masih dicengkeram Kandar, hanya bisa menangis sesenggukan.  Hamdi yang sekarang masih merangkak, langsung diserang lagi. Bogem kanan Wahyu kembali menghujam kepala Hamdi dengan telak. Hamdi jatuh tersungkur di lantai. Toyo dan Kandar tertawa keras. Isma yang air matanya membanjir, berteriak, “Cukuup! Hentikaan!! Oooh…perlakukan kalian ini sudah sangat di luar batas! Hik, hik. Kalian jauh lebih kejam dari serigala! Kalian setan!!” 
         Kandar kembali melotot, lalu mencekik leher belakang Isma. Isma merintih, “Aduh Mas, jangan! Sudah cukup Mas menyiksaku! Kumohon!”
         Kandar yang geram bukan main, menyahut, “Kalau aku lagi ditimpa musibah besar, kamu tidak sampai secemas ini! Huhh (menatap Hamdi yang berusaha berdiri)! Tapi kalau melihat cecunguk sok alim ini menderita, kamu bisa sehisteris ini! Grrrhh! Jadi benar ya!? Huhh!...Jadi benar kamu lebih mencintai dia ( mengguncang-guncang tubuh Isma )! Kamu lebih mencintai dia dari suamimu sendiri! Iyaa!!?”
         Isma yang menangis pilu, menatap Hamdi yang sudah berdiri lagi. Ia berkata, “Mas Hamdi, sekarang kamu pulang saja. Cepat!”
         “Tidak semudah itu,” sahut Toyo. Ia tersenyum mengejek, lalu menyentuh dagu Isma dengan tangan kirinya. Tuturnya, “Kamu ini…ahh. Kalau marah malah semakin cantik. Hah ha. Wajar saja kalau kakakku cinta berat sama kamu. Hah ha haa!”
         Setelah tertawa binal, Toyo menatap anak buahnya yang lain, lalu berkata, “Rijan, bawa kelinci cantik yang satunya!”
         “Siap Boss,” sahut Rijan, pemuda tidak tinggi namun kekar. Sesaat kemudian, Rijan menggandeng Murni dengan paksa. Murni menangis. Rijan mendorong Murni dengan keras. Pembantu cantik itu nyaris roboh. Isma berseru, “Murnii!! Kamu tidak apa-apa Nduk?!”
         Murni yang juga menangis sesenggukan, menggelengkan kepala. “Maafkan saya Mbak..saya tidak sempat memberi tahu Mbak…” 
         “Memberi tahu kedatangan kami?” Tanya Toyo mengejek. “Ya jelaslah, kami cerdik kok. Hah ha ha!”
         Murni menceritakan segalanya. Beberapa menit setelah Hamdi masuk ke ruang keluarga, Wahyu masuk ke ruang belakang lewat garasi yang kebetulan tidak dikunci. Begitu ketemu Murni, Wahyu langsung membiusnya, kemudian menyekapnya di gudang. Setelah sadar, Murni mendapati dirinya terikat kuat dengan tali tambang. Mulutnya juga disumpal dengan sapu tangan. Murni tidak bisa berteriak minta tolong. Ia hanya bisa menangis pasrah. Beberapa menit kemudian, Murni mendengar suara gaduh dari kamar Kandar. Murni langsung yakin kalau saat itu Kandar sudah mengetahui perselingkuhan istrinya.
         Hening beberapa saat. Hawa ketegangan semakin merebak ke seluruh rumah Kandar. Toyo yang amarahnya mulai meledak, mendekati Hamdi yang kebingungan. Hamdi tahu kalau Toyo mau menyerangnya. Ia langsung siap fight. Namun beberapa detik kemudian Hamdi sadar akan posisi Isma yang sedang teraniaya berat. Hamdi langsung teringat dengan omongan Toyo tadi. Kalau tidak mau melihat Isma disakiti, Hamdi tidak boleh melawan. Dengan begitu, Hamdi harus pasrah dihajar.
         Begitu Toyo berdiri di hadapan Hamdi, Toyo langsung menggasak muka Hamdi dengan empat pukulan beruntun. Satu dengan tangan kiri, tiga dengan tangan kanan. Pukulan terakhir langsung merobohkan Hamdi. Hidung dan mulutnya banjir darah. Ketika Hamdi sudah bisa berdiri dengan sempoyongan, kaki kanan Toyo kembali menggasak perut Hamdi. Kaki maut itu merobohkan Hamdi untuk yang kedua kalinya. Saat Hamdi berdiri lagi, Toyo langsung menyerangnya dengan tendangan berputar. Kaki kanan Toyo menghujam muka Hamdi. Hamdi roboh lagi untuk yang ketiga kalinya. Demikianlah seterusnya.
         Hamdi yang gagah ini sekarang menjadi bulan-bulanan Toyo. Susah payah Hamdi berusaha untuk bangkit lagi, namun kali ini tampaknya tidak bisa. Tenanganya sudah habis karena lukanya yang sangat parah. Selanjutnya, Hamdi hanya bisa menyandarkan tubuhnya di lemari. Melihat Hamdi babak belur, tangis Isma dan Murni semakin meledak, terutama Isma. Ia tidak berani lagi melihat muka kekasihnya. Kandar yang sedari tadi hanya marah-marah, kini bisa tersenyum lega. Emosinya cukup teredam setelah melihat pemuda yang berani mengganggu istrinya itu tidak berdaya.
         Toyo mendekati Hamdi yang bersandar di lemari, lalu mencengkeram kedua pipi Hamdi yang di dekat bibir. Sambil melotot, Toyo berkata, “Kalau mau, aku bisa menuduh kamu memperkosa Isma! biar nama jelekmu semakin terkenal di seluruh Bumi Indah ini. huhh! …Tapi kamu masih beruntung. Hari ini aku sedang baik hati. Yang penting aku sudah berhasil mengembalikan perlakuan burukmu kemarin. Yang penting aku sudah berhasil menginjak-injak kamu! …Dan yang paling penting, sebentar lagi aku akan dapat uang banyak. Hah ha haa!”
         “Kasihan banget kamu Hamdi. Hah ha haa! Sudah pagi ini kamu setengah mati, besok kamu tidak bisa bercinta lagi sama si cantik ini (menunjuk Isma yang air matanya masih terus mengalir)! Huah ha ha haa!!”
         Hamdi yang mukanya berlumuran darah, hanya bisa memelototi Toyo cs yang sudah menginjak-injaknya sampai separah ini. Beberapa menit kemudian, Rijan dan Wahyu memapah Hamdi dengan mencengkeram kedua tangannya. Kandar mendekati Hamdi sambil menggelengkan kepala. Kandar yang emosinya sudah berkurang, berkata, “Mas Hamdi Rusmanto…kamu benar-benar sudah membuatku kecewa berat. …Kamu ini kelihatannya alim, sholeh. …Tapi nyatanya…huhh! …Hatimu sepuluh kali lebih busuk dari bangkai kambing.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Jadi seperti ini ustadz-nya Komplek Bumi Indah ini!? haa!?..Jadi seperti ini imamnya masjid Al-Furqan!? Jadi seperti ini pemuda yang terkenal sebagai pengurus masjid!?” …..Mas Hamdi, Mas Hamdi. Ternyata kamu tidak berbeda dengan orang-orang jahat yang selama ini kukenal. Ternyata kamu juga serigala berbulu domba!”
         Hening sebentar. Kandar memberi Hamdi waktu untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Beberapa detik kemudian Kandar bicara lagi, “Selama ini kamu kuhormati karena kesholehanmu, juga karena ilmu agamamu yang kuanggap sudah cukup dalam. …Tapi nyatanya …di balik penampilanmu yang suci, ternyata kamu menyimpan keinginan yang hina! Keinginan yang sangat rendah!” 
         Hening lagi beberapa detik. Alangkah malu dan sedihnya Hamdi yang keadaannya nyaris seperti katak digilas truk. Semua yang dikatakan Kandar itu benar belaka. Kandar yang emosinya mulai mendidih lagi, mencengkeram baju Hamdi, lalu berkata, “Sekarang tolong kamu jawab pertanyaanku ini dengan sejujur-jujurnya! Kalau kamu tidak mau bicara jujur (mengguncangkan tubuh Hamdi), kamu bisa kubuat lebih sengsara! Ngerti!?”
         Dengan kedua tangan tetap mencengkeram baju Hamdi, Kandar berkata lebih lembut. “Mas Hamdi…apa kamu mencintai istriku?”
         Hening sejenak. Hamdi dan Isma saling menatap dengan mengiba. Murni yang duduk di lantai, juga menaruh simpati yang besar terhadap Hamdi. Hal itulah yang membuat gadis manis ini masih terus menangis, walaupun volumenya sudah berkurang. Kandar yang melihat Hamdi hanya diam saja, kembali mengajukan pertanyaannya sampai dua kali. Dengan demikian, Kandar sudah bertanya tiga kali. Melihat Hamdi hanya diam sambil mengatur nafasnya yang berat, emosi Kandar kembali meledak. Kandar mengguncangkan tubuh Hamdi, “Kamu budheg atau bisu!? Haa!? …Mas Hamdi Rusmanto! Apa kamu mencintai istriku!?”
         Setelah memejamkan mata, Hamdi mengangguk lemah. “Iya Pak…saya mencintai istri anda.”
         Kandar yang masih mencengkeram baju Hamdi, melotot. “Apa kamu sungguh-sungguh mencintai istriku!?”
         Hamdi diam saja. Kandar kembali berseru, “Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Ismayani Puspita!!? Istriku satu-satunya!? Wanita yang paling kucintai di dunia ini!? Iya!?”
         Hamdi masih diam saja. Kandar membentak lagi, “Mas Hamdi! Lelaki berhati ular! Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Isma!?”
         Hamdi mengatur nafasnya, setelah itu mengangguk lemah. “Betul, Pak Iskandar. Saya benar-benar mencintai Isma. …Saya mencintai Isma, sebagaimana Pak Kandar mencintai dia.”
         Hening sejenak. Hawa amarah di ruang keluarga rumah Kandar sudah berkurang banyak. Kandar menarik tangannya dari baju Hamdi, kemudian melangkah mundur dengan perlahan. Kandar yang sudah bisa mengendalikan dirinya, berkata lebih lembut, “Makasih banyak atas kejujuranmu. …Hari ini benar-benar hari bersejarah dalam hidupku. Hari ini benar-benar hari terburuk dalam hidupku. …..Mas Hamdi, kalau tidak ada halangan, nanti sore akan kulaporkan semua ulahmu ini ke Pak RW, Pak Dukuh, juga Pak-Bu Hasan Sujardi, ketua takmir masjid Al-Furqan.”
         Hamdi yang menyandarkan tubuhnya di tembok, menyahut dengan tenang. “Silahkan saja Pak. Silahkan Bapak lakukan apapun yang Bapak inginkan. …Perlu Bapak ketahui. Kalau cuma diperlakukan tidak baik itu saya sudah biasa. Hampir setiap hari saya mendapat perlakuan kurang baik. Entah perlakuan dari teman, sahabat, saudara, maupun dari orang tua. Jadi silahkan kalau Pak Kandar mau begini, mau begitu..”
         Kandar tersenyum angkuh. “Baiklah kalau begitu. Trims banyak atas dukunganmu. Berarti kamu sudah siap mendapat hujatan dari seluruh warga Bumi Indah ini. …Sebentar lagi, nama baik Pak-Bu Sujardi akan tercoreng moreng karena ulah putra sulungnya yang menyebalkan. Sebentar lagi, Pak-Bu Sujar yang terhormat itu akan menerima kenyataan pahit. Kenyataan pahit yang sangat menyakitkan hati. …Putranya yang kelihatannya sholeh ini ternyata pengganggu istri tetangga.”
         Demikianlah peringatan keras dari Kandar. Sore harinya, Kandar melaporkan huru-hara yang sudah terjadi di rumahnya kepada Partono, ketua RW Bumi Indah. Kandar benar-benar serius dalam bertindak. Setelah melapor ke Partono dan Pak Dukuh, Kandar yang dendam berat pada Hamdi, menyebar pengumuman ke seluruh Bumi Indah dan sekitarnya. Berita tentang hubungan asmara Hamdi dan istri Suryo Iskandar ini benar-benar menggemparkan seluruh Bumi Indah. Berita menghebohkan ini jelas menjadi bahan gunjingan yang sangat nikmat, terutama bagi para penggunjing semacam ibu-ibu arisan dan jama’ah pengajian masjid Al-Furqan.
         Bagaimana mungkin Hamdi yang sholeh itu menjalin cinta dengan Ny. Iskandar? Bagaimana mungkin Hamdi yang imam masjid itu menjalin hubungan diam-diam dengan istri tetangganya? Bagi sebagian orang yang rutin mengerjakan sholat jama’ah di Al-Furqan, berita menggemparkan ini sudah tidak begitu mengejutkan mereka. Kenapa begitu? Karena mereka sudah cukup lama tidak melihat Hamdi di Al-Furqan. Jangankan menjadi imam sholat jama’ah, nongol di masjid saja tidak pernah, kecuali hanya sesekali. Dengan demikian, beberapa jama’ah Al-Furqan sudah pada menebak. Lenyapnya Hamdi dari masjid selama beberapa bulan ini pasti berhubungan erat dengan berita menghebohkan ini.
         Alangkah malu dan sedihnya Hasan Sujardi dan Retno Tri Maryani. Sekarang mereka sadar seratus persen. Akhlak dan ibadah Hamdi yang selama ini turun drastis itu pasti karena semua ini. Betapa sedihnya Sujar dan Retno mendengar ulah putra sulung mereka yang menggemparkan. Sujar yang di masyarakat sudah tergolong orang terhormat, merasa kepalanya diinjak-injak. Dan yang paling menyakitkan, kepalanya diinjak-injak oleh anak kandungnya sendiri, anak kandungnya yang pertama. Anak yang seharusnya paling bisa dibanggakan. Anak yang seharusnya paling temuwo, paling dewasa dalam berpikir dan bertindak. Anak yang seharusnya bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya.
         Sujar dan Retno stress berat, terutama Retno yang masih sakit hati akibat kasus   Ardan. Retno yang selalu menangis setiap habis sholat, selalu berkata, “Kalau tidak ada akhirat, sekarang aku sudah minum baygon.”
         “Jangan ngomong begitu Mah,” sahut Endah, “nanti diamini malaikat lho. Bersabarlah. Insya Allah, semua ini ada hikmahnya.”
         Demikian pula dengan Sujar. Lelaki yang sudah berusia senja ini berkata, “Aku ini ayah yang bodoh. Anakku rusak semua. …Aku tidak bisa membahagiakan anak. …Cuma mencarikan jodoh buat anak saja tidak bisa.”
         Seminggu setelah tragedi di rumah Iskandar, Retno lebih banyak mengurung diri di rumah. Hampir setiap hari ia menangis. Ulah putra sulungnya itu benar-benar merobek dadanya. Apalagi berita heboh itu sudah sampai di kampung-kampung dan komplek tetangganya Bumi Indah. Bahkan dalam waktu singkat, berita heboh itu sudah tersebar di mana-mana. Siapa lagi yang menyebarkan kalau bukan mulut-mulut ganas yang gemar mencari aib orang.
         Selama beberapa hari, Retno seperti orang yang kehabisan darah. Kesedihannya membuat nafsu makannya berkurang drastis. Ia benar-benar tidak punya gairah untuk beraktivitas. Kalau tidak punya teman curhat yang baik, Retno sudah bertindak fatal. Hanya Endah dan Dina yang bisa menghiburnya. Kalau Endah sedang sibuk, Retno langsung curhat pada Dina, anak perempuan satu-satunya. Gadis manis itu memang tidak sehebat Endah dalam menjadi teman curhat Retno, namun setidaknya, dari semua putra Sujar yang ada di rumah, Dina-lah yang paling cocok dengan Retno. Setelah Darwan, Dina-lah yang paling bisa menghibur ibunya.
         Lantas bagaimana dengan Hamdi sendiri? Apa yang ia lakukan setelah hubungan cintanya dengan penjual kue bolu itu diketahui publik? Setelah dibantai Kandar dan Toyo, Hamdi mengurung diri di kamar. Dia hanya keluar kamar kalau ada perlu yang penting sekali. Dia lebih memilih ‘bertapa’ di kamar. Makan pun hanya dua kali sehari, bahkan terkadang hanya sekali. Itu pun sedikit sekali. Selama  seminggu lebih, Hamdi tidak dipedulikan ayah-ibunya, juga saudara-saudaranya. Hanya Dina yang masih peduli pada Hamdi. Hanya Dina yang paling merasa iba pada kakak sulungnya. Kalau seharian Hamdi belum makan, Dina langsung mengantar makanan ke kamar Hamdi.
         Selama beberapa hari ini, suasana rumah Sujar benar-benar terasa kering kerontang. Kering dari cahaya kedamaian. Selain Dina, Nurman, Andi dan Rian juga masih sangat peduli pada Hamdi. Trio Al-Furqan itu menyempatkan diri untuk menjenguk Hamdi di kamarnya. Namun Hamdi tidak pernah menemui mereka di kamarnya. Hamdi selalu menemui mereka di luar kamar atau di halaman belakang. Hamdi selalu beralasan, kamarnya masih seperti kapal pecah, jadi tidak layak dilihat, apalagi dimasuki. Hamdi mengaku belum sempat membersihkan kamarnya yang memang berantakan.
         Siang yang panas itu, seusai sholat Dhuhur, Hamdi disidang ayah-ibunya di ruang keluarga. Di situ sudah hadir Dina, Endah dan Harno, adik sepupu Hamdi dari pihak Sujar. Harno itu seorang pemuda dewasa yang usianya sedikit di atas Hamdi. Badan agak pendek dan gempal. Kulit coklat muda, hidung agak mancung. Hubungan  Harno dan Hamdi sekeluarga cukup dekat,  jadi wajar kalau ia sudah paham dengan segala masalah yang sedang menimpa rumah tangga Sujar. Kini Retno memaki Hamdi habis-habisan. Retno marah-marah sambil menangis. Ia cengkeram kaos kerah Hamdi, lalu mengguncang-guncangkan tubuh gempal anaknya.
         Setelah puas, Retno melangkah mundur dengan perlahan. Retno berdiri di hadapan Hamdi yang menunduk. Dengan wajah seperti singa betina yang kehilangan anaknya, Retno berkata, “Adikmu sudah merusak nama baik keluarga kita, sekarang ganti kamu! Huhh! Kamu sudah membuat keluarga ini setengah mati! Kamu sudah menambah penderitaan bapak-ibumu! grrrhh! …Rumah ini sudah berantakan gara-gara adikmu kawin sama babu! Juga karena hutangku masih menggunung! Sekarang kamu tambah dengan pacaran sama istri tetangga! Huhh! Aku benar-benar tidak mengira semua ini! Ooohh…semua ini seperti mimpi! Mimpi (membanting dua piring ke lantai )!”
         Endah dan Dina langsung memeluk Retno yang histeris. Endah yang terlihat tenang, berkata, “Istighfar Maa, istighfar. Astaghfirullahal ’azhim. Aku memohon ampun kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung.”
         Dina yang juga menangis, berkata, “Jangan keras-keras Ma, nanti didengar tetangga.”
         “Tidak masalah! Toh seluruh Bumi Indah ini sudah tahu kebejatannya (menunjuk Hamdi yang masih terus menundukkan kepala)! Huhh! Benar-benar anak goblog! …Perempuan cantik banyak, tapi kenapa kamu malah memilih perempuan yang sudah bersuami!!? Otakmu itu di mana!? Haa!? Otakmu pindah di lutut ya!?”
         Dina bicara lagi, “Mama jangan terlalu menuruti nafsu amarah dan kebencian. Sudah, sekarang Mama sholat sunnah saja, biar hati Mama tenang. …Ayo Ma..sekarang Mama minum dulu.”
         “Huhh!” bentak Retno yang masih memelototi Hamdi.  Retno duduk, kemudian menerima segelas air putih dari Dina. Setelah meneguk air, Retno berseru lagi, “Anak sialan! Mau dikemanakan muka bapak-ibumu ini!!? haa!?”
         Endah mengelus dada adiknya. “Sudah Ma, sudah. Tenangkan hatimu dengan dzikrullah. Hanya itu satu-satunya cara untuk menentramkan hatimu yang terluka parah.”
         “Kelewat parah!” bentak Retno. “Gara-gara anak terkutuk ini!”
         Endah berkata dengan suara lebih pelan. “Allahu Akbar. Subhanallah. Kendalikan dirimu. Biar bagaimanapun, dia tetap darah dagingmu.”
         Hening sejenak. Suasana ruang keluarga semakin panas. Yang terdengar hanya isak tangis Retno dan Dina. Sujar sendiri sejak tadi hanya diam seperti Hamdi. Nurman, Andi dan Rian yang nguping dari halaman belakang, ikut merasa tegang. Mereka ikut prihatin dengan kehebohan yang sedang menimpa rumah tangga Retno. Trio Al-Furqan ini semakin kasihan pada Hamdi yang sedang tersesat. Nurman berkata lirih, “Aku takut, nanti Mas Hamdi bisa semakin lama menyendiri.”
         “Aku juga mau ngomong begitu,” sahut Andi. “Kalau bosan menyendiri, nanti Mas Hamdi bisa pergi dari rumah ini. Wah, gawat kan?”   
         Beberapa saat kemudian, Retno yang sudah merasa lebih tenang, berkata, “Untuk sementara ini, Darwan jangan diberi tahu dulu..nanti dia tidak bisa konsentrasi kerja. …Dialah sosok terbaik di rumah ini. Dialah satu-satunya orang yang bisa dijadikan contoh di rumah kita yang sedang hancur-hancuran. Dialah satu-satunya anakku yang paling bisa diandalkan. Dialah satu-satunya anakku yang bisa menjaga nama baik keluarga Hasan Sujardi. …Dia dan kamu (menyentuh tangan Dina).“
         Setelah didamprat keras oleh sang ibu, Hamdi merasa semakin dikucilkan. Sudah seminggu Hamdi tidak diajak bicara oleh ayah-ibunya. Sudah seminggu Hamdi dianggap tidak ada di rumah. Hamdi ingin berontak, namun ia langsung menyadari posisinya yang memang salah. Hal itu jelas membuat Hamdi merasa semakin terjepit. Karena sudah tidak tahan, Hamdi memutuskan untuk bertindak berani. Malam itu, seusai sholat Isya’, Hamdi ber-dzikir, kemudian merenung sedalam-dalamnya. Lelaki yang sedang mendapat musibah ini bergumam,
         “Aku memang sudah berbuat kesalahan besar. Aku memang sudah berdosa besar..jadi pantas kalau Papa-Mama mendiamkan aku. .Ya Allah (memejamkan mata), Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang…ampuni hambaMu yang hina ini. Hamba mengakui kesalahan besar yang sudah hamba buat.”
         Diam sejenak, lalu bergumam lagi, “Semua ini salahku sendiri, jadi aku tidak boleh marah sama semua orang di rumah ini. …..Karena sekarang aku sudah tidak punya muka, sebaiknya aku pergi dulu. …Aku mau menghilang dulu. Menghilang untuk memperbaiki diri. …Yahh..selama aku pergi nanti, mudah-mudahan..Insya Allah, aku bisa mendapat kekuatan, mendapat hikmah dari semua peristiwa ini. …Dan yang paling penting…Engkau berkenan mengampuni dosaku yang selangit ini.”
         Perkiraan Andi kemarin menjadi kenyataan. Setelah tiga hari mengurung di kamar, Hamdi memutuskan untuk minggat. Hamdi pergi dari rumah setelah Ashar. Trio Al-furqan yang sedang membersihkan masjid dan halaman depan rumah Sujar, mengira Hamdi hanya pergi sebentar. Ah, sayang sekali. Seandainya Nurman, Andi atau Rian mengetahui Hamdi mau minggat, tentu mereka akan mencegahnya. Besoknya, rumah Sujar kembali gempar. Sudah lima hari Hamdi tidak pulang, sejak pergi setelah Ashar kemarin. Motor GL-Pro-nya ada di rumah, demikian pula dengan sepeda kesayangannya, sepeda yang sering ia pakai ke rumah Isma. Rupanya Hamdi pergi dengan jalan kaki. (bersambung)

                                                     * * * * *    

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;