Friday, 5 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Enam)

Sudah dua minggu Hamdi meninggalkan rumah. Retno yang masih membenci Hamdi, mulai merasa resah. Perlahan-lahan, penyesalan mulai tumbuh di lubuk hatinya yang terdalam. Setelah dua minggu Hamdi minggat, Retno dan Sujar mulai merasa kehilangan Hamdi, terutama Retno. Ia teringat dengan kata-kata Endah kemarin. Biar bagaimanapun, Hamdi itu tetap anak kandungnya, darah dagingnya. Endah juga mengatakan, apa yang sudah diperbuat Hamdi sekarang ini masih sedikit lebih baik dari
Ardan. Hamdi memang sudah keterlaluan, tapi di sisi lain masih dalam batas wajar, sebab masalah yang dibuat Hamdi sekarang ini masalah perasaan, masalah yang sangat sulit diatasi. Selain itu, Hamdi juga masih memiliki sedikit kebaikan. Sampai saat ini, Hamdi selalu membantu Retno membereskan pekerjaan rumah. Walaupun sudah tidak pernah sholat jama’ah di Al-Furqan, apalagi mengikuti pengajian-pengajian, Hamdi masih terus membantu Retno belanja, membersihkan dapur, mencuci piring, pakaian, dan sejenisnya. Kalau membersihkan masjid Al-Furqan sudah tidak pernah, sebab masjid sudah ditangani trio-nya. 

        
          Walaupun Dina yang paling rajin membantu Retno mengurus rumah, terutama pekerjaan dapur, peran Hamdi tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak seperti Ardan yang sombong, yang hobinya cuma ngeluyur, tidak mau berpikir jauh ke depan, tidak pernah memikirkan kepentingan orang banyak, dan sebagainya. Demikianlah Endah menyebutkan kebaikan-kebaikan Hamdi selama ini. Kebaikan yang mungkin hanya secuil kalau dibandingkan kegemparan yang dibuat Hamdi sekarang ini. Meskipun begitu, Hamdi tetap harus dihargai.   
         Nasehat Endah yang luhur itu membuat rasa sesal Retno semakin besar. Kini Retno sedang menelpon Endah. Retno mengaku kalau ia sudah rindu pada putra sulungnya itu. Endah yang sholehah, sangat bisa memaklumi keluhan Retno itu. Retno sudah menelpon Harno dan Markun, dua adik sepupu Hamdi yang sudah berkeluarga. Retno hanya menanyakan, apakah Hamdi ada di rumah mereka? Markun, kakak Harno yang sudah memiliki satu anak lelaki berusia 3 tahun, mengatakan, saat pertama minggat dari rumah kemarin, Hamdi memang tinggal di rumahnya selama dua hari dua malam. Hamdi cuma numpang tidur. Namun setelah itu Markun tidak tahu lagi keberadaan Hamdi.
         Markun berkata, “Mas Hamdi cuma numpang tidur. Waktu saya beri makan, dia cuma ambil sedikit sekali. Dia hampir tidak mau makan.”
         Harno pun memberi penjelasan yang sama. Setelah dua hari numpang di rumah Markun, Hamdi ganti menginap di rumah Harno selama tiga hari. Di rumah Harno dan Tutik, istrinya, keadaan Hamdi lebih layak. Itu karena ekonomi Harno memang di atas kakaknya. Walaupun begitu, selama tiga hari di rumah Harno itu Hamdi hanya makan sedikit sekali. Selama sehari, Hamdi hanya makan sekali, makan pagi. Itupun hanya sepiring nasi dengan porsi yang amat sedikit. Selebihnya, Hamdi hanya makan cemilan.
         “Terus sekarang dia di mana?” Tanya Retno lewat telpon. Harno menjawab, “Kemarin katanya mau ke rumah temannya, tapi temannya yang mana saya tidak tahu. …Ehmm..jadi Mas Hamdi belum pulang?”
         “Sudah dua minggu No,” sahut Retno yang cemas bukan main. Harno berkata, “Ya sudah, sekarang Budhe berdoa terus saja, sebab cuma itu cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Percayalah Budhe..Insya Allah, besok Mas Hamdi pasti pulang.”
         “Mudah-mudahan No.”
         Harno tersenyum. “Budhe jangan cemas berlebihan. Nanti kalau ada apa-apa, langsung panggil saya. Besok kalau saya dapat kabar Mas Hamdi, Budhe langsung saya kontak.”  
         Hening beberapa detik. Retno yang sudah terlihat lebih tenang, berkata, “Ya sudah kalau begitu. Makasih banyak ya?”
         “Sama-sama Budhe.”
         Lantas ke mana lakon kita itu pergi? Selama seminggu, ternyata Hamdi sudah ada di Bumi Indah lagi. Ia tinggal di rumah Pak Marto, lelaki tua yang sholeh, yang juga rajin sholat jama’ah di Al-Furqan. Sumarto itu duda beranak dua, lelaki-perempuan. Yang sulung perempuan. Semua sudah mapan. Sebagaimana Endah yang sudah dianggap ibu kedua oleh Hamdi, Marto juga sudah dianggap ayah kedua oleh Hamdi. Dengan begitu, wajar kalau Marto sudah mengetahui masalah yang sedang menimpa Hamdi dan keluarganya. Sebelum tinggal di rumah Marto, dan sesudah pergi dari rumah Harno, Hamdi numpang tidur di rumah temannya SMA selama dua hari satu malam. Satu malam berikutnya, sehari sebelum mendatangi rumah Marto, Hamdi tidur di langgar kecil.
         Selama seminggu, Hamdi tinggal di kamar belakang rumah Marto, kamar yang biasanya dipakai pembantu. Sudah tiga tahun Marto tidak memiliki pembantu, jadi wajar kalau kamar itu sudah lama tidak terjamah. Alangkah bersyukurnya Hamdi mendapat tempat tinggal sementara. Ia benar-benar beruntung memiliki tetangga sebaik Marto. Sebagai tanda terima kasih, Hamdi akan membersihkan kamar yang sekarang ia pakai itu. Hamdi berjanji pada Marto, besok kalau Hamdi sudah pergi lagi, ia tidak akan meninggalkan kamar itu dalam keadaan kotor.   
         Selama seminggu di rumah Marto, Hamdi sudah rutin mengerjakan sholat wajib lima waktu. Dalam keadaan yang menyengsarakan ini, di mana Hamdi sangat membutuhkan ketenangan dan ketegaran hati, Hamdi bertekad akan menunaikan lagi kewajibannya sebagai seorang Muslim. Kewajiban yang sudah cukup lama ia tinggalkan dengan sengaja. Semua itu agar ia bisa mendapat bimbinganNya lagi. Kini, setelah seminggu lebih sedikit Hamdi tinggal di rumah Marto, Hamdi mulai merasa tidak enak.
         Malam itu, setelah Marto mengerjakan sholat Isya’ berjama’ah di masjid Al-Furqan, Hamdi menghampiri Marto, kemudian mengutarakan keinginannya. Kini Hamdi dan Marto bicara empat mata di ruang makan. Dengan sangat hati-hati, Hamdi mengungkapkan kegelisahan hatinya pada ayah keduanya itu. Kegelisahan karena semakin sungkan tinggal di rumah Marto. Besok pagi Hamdi ingin pergi lagi. Ia merasa sudah cukup merepotkan Marto. Selama ini ia sudah sering ditolong Marto, namun ia belum pernah menolong Marto sekalipun. Mendengar tuturan Hamdi itu, Marto tersenyum seraya menggelengkan kepala.
         “Memang besok Mas Hamdi mau ke mana?”
         “Saya tidak tahu Pak,” sahut Hamdi dengan wajah bingung. “Mungkin…saya mau mengembara dulu. Entah mengembara ke mana..yang jelas..Insya Allah, saya akan baik-baik saja.”
         Hening sejenak. Marto bertanya, “Anda tidak ingin tinggal di sini lagi?”
         “Sangat ingin Pak, tapi rasa sungkan saya ini jauh lebih besar.”        
         Marto tersenyum. “Katanya aku sudah dianggap bapak kedua? Tapi kenapa anda masih sungkan sama aku? Itu berarti anda masih menganggap aku orang asing.”
         “Bukan begitu Pak,” sahut Hamdi tersipu. “Saya benar-benar harus berkelana dulu. Berkelana singkat. …Siapa tahu, Insya Allah..saya bisa dapat hikmah luhur.”
         “Terus kapan mau balik ke rumah? Papa-Mama sudah cemas lho.”
         Hamdi tersipu. “Insya Allah, besok saya pasti balik.”
         “Tapi jangan lama-lama ya?”
         “Saya tidak janji Pak. Tapi saya usahakan, maksimal sebulan.”
         “Kalau bisa kurang.”
         Hamdi tersenyum. Marto berkata, “Kalau butuh tempat tinggal lagi, langsung ke sini saja. Kamar belakang itu selalu menanti anda.”
         Makasih banyak Pak,” sahut Hamdi semangat, lalu mencium tangan kanan Marto. Marto tersenyum, “Ya sudah kalau itu memang sudah jadi tekadmu yang bulat. Bapak keduamu ini hanya bisa mendoakan, semoga Mas selalu dalam lindunganNya, agar besok bisa sukses meraih semua cita-citamu.”
         “Amin. Makasih banyak.”
         Besok paginya, tepat seusai sholat Shubuh, Hamdi memohon diri pada Marto. Hamdi berjanji untuk segera pulang ke rumah. Marto memberinya uang sebanyak lima ratus ribu rupiah. Semula Hamdi menolak pemberian itu. Hamdi  hanya mau menerima kalau status uang itu pinjaman atau hutangan. Dengan demikian, suatu saat nanti Hamdi harus mengembalikan uang itu. Namun Marto menolak mentah-mentah permintaan Hamdi itu. Marto hanya mengatakan, kalau ia sudah dianggap ayah kedua oleh Hamdi, seharusnya Hamdi tidak boleh menolak pemberiannya, sebagaimana seorang anak yang diberi sesuatu oleh ayah atau ibunya. Si anak tidak perlu merasa tidak enak pada orang tuanya sendiri.
         Alangkah terharunya Hamdi mendengar tuturan Marto itu. Jiwanya seperti terbang ke surga firdaus. Hamdi langsung menunduk, kemudian memeluk tangan kanan Marto dengan kedua tangannya. Ia cium tangan Marto dengan dahi dan hidungnya. Setelah meninggalkan rumah Marto, Hamdi sholat Dhuha di sebuah masjid yang jaraknya dengan kompleknya tidak begitu jauh. Ia memohon kepada Sang Pencipta. Ia hanya memohon, sudilah kiranya Zat yang Maha Sempurna membalas amal bapak berusia 69 tahun itu.
         Setelah meninggalkan Bumi Indah dengan berjalan kaki, Hamdi kembali numpang tidur di rumah temannya. Selama dua hari dua malam, Hamdi tidur di rumah Risman, pemuda lajang yang mau menikah tiga bulan lagi. Usianya agak jauh di bawah Hamdi. Sekitar 25 tahun. Setelah dua hari, Hamdi ingin numpang tidur sehari lagi. Hamdi akan membayar Risman sebanyak 150-200 ribu. Anggap saja untuk sewa kamar, juga sebagai tanda terima kasih karena Risman sudah memberinya tempat tinggal sementara. Hamdi akan menggunakan uang pemberian Marto.  
         Namun Risman menolak pemberian Hamdi itu. Risman yang kebingungan, berkata, “Maafkan aku Kang..aku mengaku keberatan. Sekarang aku tidak bisa nolong kamu lagi.”
         Jawaban Risman itu membuat Hamdi heran. Ia bertanya, “Apa bayaranku ini kurang?”
         “Bukan itu Kang?”
         Hamdi tersenyum. “Kamu tidak usah malu untuk mengatakan alasan yang sebenarnya. Kalau memang kurang, nanti kutambah jadi tiga ratus. Gimana?”
         Risman kembali menggelengkan kepala. “Ini bukan soal uang Kang.”
         “Terus karena apa?”
         “Karena aku takut sama orang tuamu. Sudah dua minggu lebih kamu pergi. Apa bapak-ibumu tidak cari kamu?”
         Pertanyaan itu hanya dijawab Hamdi dengan senyuman. Risman yang kebingungan, bicara lagi. “Ini bukan soal uang Kang. Percayalah. Walaupun kamu ngasih sejuta, aku tidak akan menerima uang itu. Demi Allah Kang, aku sangat ingin nolong kamu. kamu sudah seperti kakakku. Betul!  Tapi untuk kali ini..aku benar-benar tidak bisa nolong kamu.”
         Hamdi tersenyum. “Trima kasih atas kejujuranmu.”
         “Kejujuranku?”
         “Iya. Kamu sudah ngusir aku. He he.”
         Risman menggelengkan kepala. “Kang Hamdi, aku sama sekali tidak berniat begitu. Kapan pun kamu boleh tinggal di sini, tidur di kamarku, dan sebagainya. Tapi kalau keadaanmu seperti ini, aku terpaksa menolak kehadiranmu. Demi Allah, Kang Hamdi yang gagah dan ganteng…aku melakukan semua ini demi kebaikanmu.”
         Hamdi tersenyum. “Karena kamu takut sama Papa-Mamaku? Iya?”
         Risman mengangguk. “Jujur saja, aku memang takut sama Papa-Mamamu.”
         Hamdi kembali tersenyum geli. Sesaat kemudian, Hamdi memohon diri pada Risman dan orang tuanya. Ibunya Risman memberi Hamdi uang sebanyak 50 ribu. Hamdi tersenyum geli. Tadi dia ingin membayar Risman, sekarang dia malah mendapat tambahan rejeki. Sungguh tak terhingga rasa terima kasih Hamdi kepada Risman dan ibunya. Sesaat kemudian, Hamdi meninggalkan rumah salah satu sobatnya itu, kemudian kembali berkelana keliling Jogja. Setelah berjalan terus sejak pagi hingga senja, Hamdi mulai berpikir lagi untuk mencari tempat untuk tidur. Setelah kebingungan cukup lama, Hamdi tersentak gembira. Ia berniat numpang tidur di rumah kontrakan Gatot, ponakannya dari pihak Sujar.
         Setelah Maghrib, Hamdi tiba di rumah Gatot. Gatot terkejut melihat pamannya terlihat lusuh. Setelah bersih-bersih diri, Hamdi menceritakan semuanya. Ia terkejut melihat Gatot sudah tidak begitu terkejut. Rupanya Gatot juga sudah tahu kepergian Hamdi dari rumah. Tiga hari yang lalu Gatot diberi tahu Harno lewat SMS. Kini Gatot dan Hamdi makan malam di lantai yang dilapisi tikar. Gatot tersenyum geli, lalu berkata,  “Aku terkejut bukan karena mendengar kamu minggat, tapi karena lihat wajahmu yang kotor sekali. Hah ha haa!”
         Hamdi tersenyum malu. Setelah diam sekitar lima detik, Hamdi mengutarakan keinginannya. Ia ingin menginap di rumah Gatot selama lima hari, atau bisa juga lebih sedikit. Ia sangat berharap, semoga Gatot mau mengabulkan keinginannya itu. Mendengar keinginan Hamdi itu, Gatot hanya tersenyum, lalu berkata lembut, “Nanti gimana kalau Papa-Mama semakin gelisah?”
         “Itu urusanku, kamu tidak perlu ikut cemas. Yang penting sekarang kamu bersedia memberi aku tempat tinggal sementara.”      
         Gatot tersenyum. “Om Hamdi, Om Hamdi. Memang aku ini siapa? Ha? Kok pakai sungkan segala. He he. Mau tinggal di sini selamanya juga boleh.”
         Alangkah lega dan gembiranya Hamdi mendengar tuturan Gatot itu. Sebagai tanda terima kasihnya pada Gatot, Hamdi  berjanji pada diri sendiri. Setelah ngalor-ngidul selama hampir sebulan, Hamdi akan pulang ke rumah. Hamdi yang masih memiliki sisa-sisa kesholehan, sedikit banyak bisa berkontak batin dengan ayah-ibunya. Ia bisa merasakan kecemasan Sujar dan Retno, terutama Retno. Hamdi juga berjanji akan membalas kebaikan Gatot, duda yang bekerja di lab. Fakultas Peternakan UGM. Usianya 5-6 tahun di atas Hamdi, sekitar 37-38. Kumis tipis, jenggot agak tebal. Badan pendek menurut ukuran lelaki, sekitar 160 cm, namun kekar. Kedua lengannya seperti kuli bangunan. Bagi kebanyakan orang yang sudah mengenal Gatot, akan mengatakan kalau Gatot itu orangnya menyenangkan. Ia  murah senyum, jarang sekali marah, mudah dimintai tolong, dan terampil bekerja. Hal itulah yang membuat Hamdi merasa nyaman tinggal di rumah Gatot.

                                                       * * * * *

         Sejak tragedy pagi itu, Kandar dan Isma nyaris tidak pernah berbincang lagi. Mereka hanya berkomunikasi kalau ada hal yang sangat penting. Isma yang lebih banyak mengurung diri di kamar, hanya keluar rumah kalau belanja. Itu pun jarang sekali, sebab ia bisa menyuruh Murni. Nafsu makannya menurun drastis. Dalam sehari semalam, Isma hanya makan sekali dengan sepiring nasi yang jumlahnya setara dengan empat sendok. Itu pun terkadang tidak habis.
         Selain makan sedikit, Isma juga nyaris tidak pernah bicara sepatah kata pun. Ia  seperti puasa bicara. Tentu saja Murni sedih sekali melihat kondisi Isma yang memilukan. Murni menangis melihat majikan tercintanya linglung. Ia hanya bisa membujuk Isma untuk mau makan, walau hanya dua-tiga sendok  Akibat sehari hanya makan sekali, Isma menjadi lemas. Wajah jelitanya terlihat pucat dan tanpa gairah. Keadaannya persis dengan saat ia kehilangan Tari dulu, bahkan bisa dikatakan lebih parah. Demikianlah kondisi perempuan cantik yang biasanya selalu ramah dan murah senyum ini.       
         Namun ada sisi positif dari musibah yang sekarang dirasakan Isma. Kandar yang biasanya angkuh, sedikit demi sedikit mulai bisa bersabar. Kandar yang awalnya tidak peduli pada Isma, perlahan-lahan mulai trenyuh melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan. Kesombongannya mulai takluk oleh rasa kasihannya pada Isma. Hal itulah yang membuat Kandar mau membuka tabir kesunyian yang menghalangi mereka. Pagi itu Kandar mencoba menegur Isma dengan sangat lembut. Suatu sikap yang jauh berbeda dari biasanya.
         Ia hanya mengingatkan Isma agar jangan mogok makan, juga jangan terlalu  lama mengurung diri di kamar. Namun Isma diam saja. Semua perkataan Kandar itu seolah tidak terdengar sedikit pun di telinganya. Tentu Kandar semakin sedih melihat istrinya itu seperti patung. Besok-besoknya Kandar mencoba lagi dengan lebih lembut. Ia mengaku sedih melihat Isma terus-terusan seperti itu. Namun sekali lagi, Isma tetap tidak berkata sepatah kata pun, bahkan menatap Kandar pun tidak. Kandar yang sudah mau belajar ikhlas dan sabar, tetap pantang menyerah untuk berusaha menghilangkan kesedihan sang istri.
         Kondisi yang menyedihkan ini membuat Kandar sadar seratus persen. Walaupun selama ini ia selalu bersikap semena-mena terhadap Isma, hati kecilnya mengakui kalau ia tetap mencintai Isma. Ia berkata, “Seburuk apapun perlakuanku terhadap Isma selama ini, aku tetap mencintainyya. Biar bagaimana pun, Isma tetap cinta sejatiku.”
         Hal itulah yang membuat Kandar menjadi jauh lebih sabar dari biasanya. Hal itulah yang membuat Kandar pantang menyerah untuk terus memperbaiki hubungannya dengan Isma yang sudah berantakan. Sampai pada suatu hari, Isma mau bicara beberapa patah kata, namun kata yang diucapkan itu sangat menusuk hati Kandar. Isma menginginkan sesuatu yang dihalalkan agama, namun dibenci Allah SWT. Isma minta cerai.
         Isma mengaku sudah tidak bisa hidup seatap lagi dengan Kandar. Isma sudah lelah hidup menderita cukup lama. Isma ingin hidup bahagia. Hal itulah yang membuat Isma menganggap perceraian itu jalan terbaik untuk mengeluarkannya dari kubang derita. Tentu saja permintaan Isma itu seperti sambaran halilintar bagi Kandar. Pria berambut agak keriting ini langsung diam seribu bahasa. Ia benar-benar tidak mengira kalau istrinya mengajukan permintaan yang sangat sulit untuk ia wujudkan. 
         Setelah diam sekitar tiga menit, Kandar yang bingung ini berkata, “Pasti semua ini karena kehadiran lelaki lain di hatimu. …Lelaki lain yang lebih kamu cintai dari suamimu sendiri. …Betul kan?”
         Isma yang duduk di ranjang, tersenyum sinis. Tanpa menatap Kandar, Isma berkata lemah, “Kamu sudah tahu jawabannya, jadi kenapa kamu masih tanya?”
         Ucapan dan sikap Isma yang dingin itu semakin melukai hati Kandar. Hening sejenak. Kandar terus menatap Isma yang duduk membelakanginya. Setelah bengong beberapa detik, Kandar berdiri, lalu berkata, “Sikapmu sangat menusuk hatiku. …Tapi di satu sisi aku bersyukur. Bersyukur karena istriku ini sudah mau bicara..walau hanya beberapa patah kata.”
         Isma yang duduk menghadap jendela, berkata, “Jadi kamu masih menganggap aku istrimu?”
         Hening beberapa detik. Kandar mengatur nafasnya yang berat, setelah itu berkata, “Sampai kapan pun, si cantik di hadapanku ini akan selalu kuanggap belahan jiwaku. …Makanya, sekarang aku sekalian minta maaf sama kamu. Minta maaf atas perlakuanku selama ini. …Istriku..kamu mau memaafkan aku kan?”
         Isma diam saja. Wajahnya terlihat sangat loyo. Perkataan Kandar itu hanya dianggapnya angin lalu. Setelah diam beberapa detik, Kandar tersenyum dibuat-buat. “Ya sudah..mungkin kamu masih butuh waktu untuk menenangkan diri. …Ehmm..aku tinggal kerja dulu ya?”
         Kandar meninggalkan Isma dengan langkah pelan. Ketika ia sampai di pintu kamar, Isma memanggilnya. Ia hentikan langkahnya, lalu menoleh ke Isma dengan perlahan. Isma yang masih menghadap jendela, berkata, “Aku masih terus menunggu jawabanmu.”
         “Jawaban apa?” Tanya Kandar agak terkejut. Isma tersenyum sinis, “Jawaban dari pertanyaanku tadi.”
         “Pertanyaanmu tadi?” Tanya Kandar semakin terkejut. Isma mengangguk. Hening beberapa detik. Jantung Kandar berdegup semakin kencang. Lelaki yang biasanya tinggi hati ini sekarang seperti anak lima tahun yang kebingungan mencari mainannya yang hilang. Isma yang belum mau menatap Kandar, bicara lagi, “Mungkin Mas Kandar masih butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku tadi. …..Yah..tidak apa-apa. Mas Kandar kuberi waktu. …Tapi jangan lama-lama ya? Mas kuberi waktu…lima hari. …Ya sudah, sekarang silahkan kalau mau ke kantor, aku mau nyepi lagi.”   
         Hening sejenak. Kandar semakin bengong setelah mendengar tuturan Isma itu. Dengan tubuh seperti kehilangan banyak darah, Kandar meninggalkan kamar Isma. Besok siangnya, ketika Kandar selesai sholat Dhuhur berjama’ah di masjid kecil yang berada di dekat kantornya, Kandar mendengarkan pengajian singkat. Pengajian yang berlangsung sekitar lima belas menit. Ustadz yang mengisi pengajian tersebut menyampaikan sebuah hadits yang artinya, ‘Jika ada seorang wanita yang minta cerai dengan alasan yang tidak syar’i, tidak dibenarkan agama, hal itu termasuk dosa besar.’ Bahkan selanjutnya diterangkan, ‘Wanita yang seperti itu tidak akan mencium baunya surga.’ Sang ustadz menerangkan, biar bagaimanapun, kehidupan rumah tangga itu kalau bisa jangan dihancurkan. Kehidupan rumah tangga itu kalau bisa dipertahankan sampai akhir hayat.
         Seberat apapun musibah atau cobaan yang menimpa suatu keluarga, cobaan yang bisa membuat hubungan suami-istri nyaris patah, hal itu jangan membuat suami atau istri mengajukan cerai dengan mudah. Suami-istri tetap dianjurkan untuk rujuk kembali. Kalau alasannya tidak betul-betul penting, perceraian itu haram bagi suami-istri. Dengan demikian, perceraian itu tidak semudah yang dibayangkan. Seberat apapun masalah yang melanda rumah tangga seseorang, masalah yang membuat suami-istri bertengkar setiap hari, pisah ranjang, tidak mau berkomunikasi, dan lain-lain, kalau semua itu masih bisa diselesaikan, ya sebaiknya diselesaikan.      
         Segala penjelasan di atas sangat menyentuh jiwa Kandar . Ia bergumam, “Awal tahun 2008 ini memang saat yang paling bersejarah dalam hidupku. Bersejarah karena sangat menyakitkan. Sudah hartaku dirampok Kasman dan Toyo, istriku nyeleweng sama lelaki yang secara umum dianggap alim dan sholeh. …Yahh..inilah momentum terbesar dalam hidupku. …Selama ini aku memang sudah sangat keterlaluan. Selama ini aku memang sudah membuat Isma menderita. …Tapi aku tetap mencintainya, sebagaimana saat aku ingin menikahinya dulu. …Apapun yang terjadi, hanya Isma satu-satunya wanita yang paling kucintai. Apapun resikonya, rumah tangga kami yang sudah tujuh tahun ini tetap akan kupertahankan.”
         Hening sejenak, lalu Kandar tersenyum bahagia. “Trima kasih Duh Gusti Allah, Gusti Yang Maha Welas Asih. Engkau telah memberiku hidayah melalui ustadz itu. Berarti Engkau masih sayang sama Iskandar yang hina dina ini. Oohh…alangkah bahagianya aku. Demi Zat yang menguasai jiwa-jiwa, aku belum pernah merasa sebahagia siang ini.  …Aahh..aku harus berterima kasih pada ustadz itu.”
         Kandar yang melamun ini tersentak melihat masjid sudah sepi. Ia langsung mencari ustadz yang ceramah tadi, namun sudah tidak ada. Ia bertanya-tanya pada semua orang yang tadi juga mengikuti pengajian. Mereka menjawab, ustadz-nya sudah pulang. Tempat tinggalnya agak jauh dari situ. Namanya Ustadz Hasan, ustadz dari Bandung. Beliau memang sudah dianggap ustadz top, jadi wajar kalau ceramahnya selalu bagus. Mendengar semua penjelasan itu, Kandar berniat silaturrahmi ke rumah Ustadz Hasan. Kandar mau ke rumah beliau nanti sore. Namun niatnya langsung pudar begitu mendengar Ustadz itu dua jam lagi mau pergi ke Surabaya. Tentu saja Kandar kecewa. Ia kembali ke kantor dengan berjalan kaki. Ia bergumam,
         “Mungkin sekarang memang belum jodoh. Ya sudah, kapan-kapan saja.”        Hening sejenak, lalu tersenyum, “Ini benar-benar luar biasa. …Aku tidak pernah sholat..apalagi sholat jama’ah. Dan begitu ikut sholat bersama untuk yang pertama kalinya, aku langsung mendapat permata kehidupan. …Ohh…trima kasih ya Allah, Gusti Yang Maha Sempurna. Berilah aku kekuatan untuk memperbaiki hubunganku dengan istriku. Berilah aku kekuatan untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.”
         Setelah lima hari, Isma kembali meminta jawaban dari pertanyan yang kemarin ia ajukan pada suaminya. Kandar yang sudah merasa memiliki kekuatan batin yang memadai, langsung menjawab dengan lembut. Kandar menolak gugatan cerai Isma. Apapun yang terjadi, Kandar tetap akan mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Tentu saja Isma kecewa berat. Ia ingin mencaci Kandar, namun Kandar yang sudah banyak berubah itu tidak mau ribut. Ia langsung mengemukakan argumen yang ia anggap sebagai argumen terkuat untuk mengubur dalam-dalam keinginan Isma. Ia sampaikan materi pengajian yang ia peroleh kemarin siang.
         Ada hadits Nabi saw yang mengatakan, seorang istri yang minta dicerai itu termasuk dosa besar sekali. Wanita semacam itu tidak akan mencium baunya surga, padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak yang sangat jauh. Istri hanya boleh minta cerai kalau alasannya benar-benar dibenarkan agama. Isma cukup tersentak mendengar penjelasan Kandar itu, namun hanya sebentar. Sesaat kemudian Isma berkata, “Alasanku ini sangat dibenarkan agama. …Aku sudah tidak bisa bahagia lagi hidup sama kamu. Jadi kumohon Mas…ceraikan aku. …Demi kebahagiaan kita…ceraikan aku seminggu lagi.”
         Kandar tersentak. Dengan suara lemah, ia berkata, “Tapi aku masih mencintaimu.”   
         Isma tersenyum mengejek. “Kamu masih mencintaiku? ...Iya Mas?”
         “Tentu Sayang (semangat)! Aku akan selalu mencintaimu.”
         Isma tersenyum mengejek. Kandar yang wajahnya harap-harap cemas, bicara lagi, “Ehmm…memang sih…kelakuanku selama ini sangat keterlaluan. Kelakuanku lebih kejam dari binatang yang terbuas. …Tapi Sayangku…sekarang aku benar-benar sudah sadar. Sekarang aku ingin memperbaiki hubungan kita. Makanya, sekarang aku minta maaf sama kamu, minta maaf yang sebesar-besarnya. …Dan aku sangat berharap, kamu mau memberi aku kesempatan sekali lagi. Kesempatan  untuk memperbaiki rumah tangga kita yang nyaris hancur.”
         Hening lima detik, setelah itu Kandar berkata lagi, “Isma..kamu mau memaafkan aku kan? Kamu mau mengurungkan niatmu untuk cerai kan?”
         Hening lagi lima detik. Isma yang membelakangi Kandar, perlahan-lahan menoleh ke belakang. Isma yang sejak kemarin tidak mau menatap Kandar, kini menatap suaminya dengan wajah kesal. Setelah mengatur nafas, Isma berkata lembut, “Tapi aku sudah tidak cinta kamu Mas. …Makanya Mas..sekarang aku minta cerai. …Aku serius Mas...sangat serius.”
         Kandar melotot. Kata-kata Isma yang lembut namun tajam itu bagaikan pedang panas yang menusuk jantung Kandar. Pria berhidung pesek ini termangu-mangu. Isma yang sudah tidak peduli pada suaminya, kembali menatap arah lain. Hati Kandar semakin terluka melihat sikap istrinya yang begitu dingin. Walaupun sudah berniat tobat, sifat lamanya jelas tidak bisa dihilangkan dalam waktu singkat. Sifat angkuh dan pemarahnya kembali muncul. Sambil memelototi Isma, Kandar berkata setengah membentak, “Jadi kamu tidak mau menerima aku lagi?!”
         Isma yang menatap jendela, menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat emosi Kandar semakin bergolak. Kandar berkata lagi, “Kamu benar-benar minta cerai!?”
         Isma mengangguk. Kandar melotot, “Perceraian itu sesuatu yang besar..jadi kamu tidak boleh main-main!”
         Isma tersenyum mengejek. “Sebelum Mas menjelaskan hadits Nabi tadi, aku sudah pernah mendengar dari Ustadzah Aminah…jadi Mas tidak perlu ngotot menjelaskan lebih lanjut. ..Aku sudah tahu Mas. Apa yang kukatakan ini tidak main-main. Aku serius Mas.”
         Hening lima detik. Kandar yang wajahnya merah-hitam karena menahan marah, berkata, “Ini semua gara-gara bedebah itu! Bedebah yang pura-pura jadi sholeh, jadi pengurus masjid…bahkan jadi imam sholat jama’ah lima waktu. …Betul kan!? Kamu minta cerai karena bedebah itu kan?!”       
         Jantung Isma tercabik-cabik mendengar kekasihnya dihina, walaupun yang menghina itu teman hidupnya yang sah. Setelah hening lima detik, Kandar berkata, “Aku tidak akan menceraikan kamu.”
         Isma melotot. Ia langsung menatap Kandar dengan tajam. Kandar bicara lagi, “Sampai kapan pun..aku tidak akan menceraikan kamu. Sampai kapan pun, kamu akan tetap jadi milikku. Miliku yang sah! …Camkan itu baik-baik!”
         Setelah menceramahi Isma, Kandar menutup pintu kamar dengan agak membanting. Beberapa detik kemudian air mata Isma mengalir. Ia berbaring, lalu menaruh kepalanya di guling. Musnah sudah harapannya untuk melepaskan diri dari tali pernikahan yang tidak didasari cinta dan kasih sayang. Musnah sudah harapannya untuk hidup bersama kekasih sejatinya, Hamdi Rusmanto. Musnah sudah harapannya untuk menjadi istri putra sulung Hasan Sujardi itu. Kenyataan yang sangat pahit ini membuat Isma harus mengakhiri hubungan asmaranya dengan Hamdi Rusmanto, pria alim yang imannya lagi goyah.
         Dua hari kemudian, Kandar teringat pada Kasman dan Hartoyo. Hal itu membuat dendam dan amarahnya bangkit lagi. Selain Hamdi, kakak beradik jahat itu juga sudah menghancurkan kehidupan rumah tangganya. Hamdi dan Kasman menghancurkan rumah tangga Kandar dari dua sisi, dan dua sisi itu sangat berarti bagi Kandar. Hamdi menghancurkan hubungan Kandar dengan istrinya, sedangkan Kasman dan Toyo sudah merampas separuh hartanya, bahkan lebih sedikit. Tubuh Kandar bergetar keras menahan bara emosinya yang sudah menggelora. Kandar bertekad akan menghancurkan Kasman dan konco-konco-nya.
         Namun ketika teringat dirinya dibantai kemarin, Kandar menjadi berpikir dua kali untuk meluruk Kasman dan Hartoyo. Kandar teringat dengan kekuatan Kasman yang luar biasa. Kekuatannya beberapa kali lipatnya manusia biasa. Kandar pun menyadari perbedaan kekuatannya dengan kekuatan musuh bebuyutannya itu. Setelah berpikir masak-masak, Kandar memutuskan untuk minta tolong semua temannya. Kandar yang kaya raya dan memiliki jaringan luas, jelas tidak susah  untuk mewujudkan keinginannya. Dalam waktu singkat, Kandar sudah berhasil mengumpulkan teman-temannya yang polisi. Kandar menceritakan semuanya.   
         Delapan tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan tahun 2000, setahun sebelum Kandar menikahi Isma, Kandar menyuruh orang untuk mengganyang Kasman yang mau melamar Isma. Sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya, Kasman diinjak-injak delapan pria kekar, sampai nyaris mati. Malam harinya, saat Kasman pingsan, delapan orang itu membuang tubuhnya di hutan yang berada di dekat sungai. Kandar yang mendengar Kasman sudah dibereskan, tertawa gembira. Kandar berkata, “Dia memang belum mati, tapi sebentar lagi pasti mati. Kalau pun setelah malam ini dia masih hidup, dia tidak lebih kuat dari kelinci kelaparan.”
         Memang benar apa yang dikatakan Kandar. Kasman yang pingsan di tepi sungai itu kondisinya memang lebih jelek dari tikus yang kejang-kejang akibat keracunan. Di tengah sadar dan tidak, Kasman mengumpat Kandar habis-habisan. Kasman bersumpah akan menghancurkan Kandar. Namun Kasman  juga sadar kalau Kandar itu orang hebat, hebat karena kekayaannya. Karena itu, untuk mengimbangi kekuatan Kandar, apalagi untuk menghancurkannya, Kasman harus memiliki kekuatan besar. Seberat apapun cara dan resikonya, Kasman harus bisa memiliki kekuatan besar.
         Ketika malam semakin larut, Kasman pingsan lagi. Beberapa jam kemudian, ada sesosok tubuh tinggi kekar yang mendatangi Kasman. Sosok itu memakai pakaian serba gelap. Cadar yang menutup wajahnya juga berwarna gelap. Ia berdiri tegak di hadapan Kasman yang sekarat. Ia pandangi Kasman dengan melotot. Ia menggelengkan kepala, setelah itu bergumam, “Benar-benar sarapan empuk. Hahh! Tampaknya ini yang paling dicari Boss selama beberapa bulan ini. hah ha haa! aku benar-benar beruntung!”    
         Kasman yang masih setengah sadar, terkejut melihat sosok di hadapannya itu. Ia bertanya lemah, “Siapa?…Siapa kamu?”
         Pria aneh duduk di samping kanan Kasman. Ia tersenyum, “Temanku, kamu tidak usah takut. Aku datang untuk menolongmu.”
         “Me…menolongku?”
         “Iya. Hua ha ha haa!!”
         Setelah tertawa binal, pria aneh ini menancapkan suntik di dada tengah Kasman. Suntikan itu menusuk dada Kasman cukup dalam. Tidak sampai lima detik, Kasman sudah tak sadarkan diri. Selanjutnya, pria tinggi kekar ini menggendong Kasman dengan kedua tangannya. Tubuh Kasman yang cukup besar itu digendongnya dengan mudah. Beberapa langkah kemudian, ia masuk ke sebuah mobil sedan mewah yang berhenti di dekat semak belukar lebat. Mobil misterius itu tampaknya memang sudah menunggunya sejak tadi.
         Beberapa jam kemudian Kasman membuka matanya. Musuh bebuyutan Kandar ini mendapati dirinya berbaring di sebuah ranjang kecil, ranjang yang hanya cukup untuk satu orang. Kasman tersentak. Ia melihat sebuah ruangan mewah yang cukup luas. Di samping kanan-kirinya berdiri tujuh pria kekar. Tiga di sebelah kanannya, empat di sebelah kirinya. Satu dari empat pria yang berdiri di samping kirinya tersenyum, “Akulah yang sudah membawamu ke sini.”
         “Ka…kamu?”
         Pria tinggi kekar mengangguk. “Akulah orang yang kamu lihat dini hari tadi.”
         Kasman yang masih lemas, berkata lemah, “Jadi kamu yang tadi nyuntik aku?”
         “Tepat. He he he.”
         Kasman menatap seisi ruangan itu, lalu bertanya, “Di mana aku sekarang? …Tempat apa ini?”
         Pria agak pendek yang berdiri di samping kanannya tersenyum. “Kamu tidak usah takut. Kamu aman di sini. Kami semua temanmu.”
         “Temanku?”
         “Benar. He he he. Nah teman kami, selamat datang di istana kami. Istana Langit Merah. Selamat datang di kediamannya Dokter Marjun.”
         “Istana Langit Merah?” Tanya Kasman semakin keheranan. “Kediamannya dokter Marjun? …Siapa itu?”
         “Inilah aku, kawanku..” sahut suara yang mendadak muncul dari hadapan Kasman. Sedetik kemudian, sebuah lampu menerangi sesosok tubuh yang tadi dibungkus kegelapan. Sosok aneh itu duduk di kursi putar yang menghadap meja. Jaraknya dengan Kasman terpaut sekitar empat meter. Beberapa detik kemudian, sosok yang membelakangi Kasman ini memutar kursinya dengan perlahan. Kasman yang masih duduk di ranjang, tersentak. Ia melihat seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun, atau mungkin kurang sedikit. Ia tersenyum, lalu berkata lembut,
         “Kawanku, kamu pingsan lama sekali.”   
         Kasman yang masih terlongong-longong, bertanya, “Berapa lama aku pingsan?”
         “Ehmm (menatap jam dinding)…kamu pingsan jam dua dini hari..dan baru sadar jam empat sore. Hahh…kira-kira berapa jam ya?”
         Kasman melotot. “APA!!?...Jadi sekarang sudah jam empat sore!?”
         Pria aneh mengangguk seraya tersenyum. Ia berdiri sambil berkata, “Akulah yang dipanggil Dokter Marjun. Dokter dan fisikawan. Akulah calon dokter number one di Indonesia.”
         Melihat Marjun mendekat sambil menjulurkan tangannya, Kasman yang masih gelisah ini langsung ikut berdiri, kemudian menjabat tangan lelaki misterius itu. Sambil menyentuh bahu kanan Kasman, Marjun bertanya, “Kawan Kasman, berapa umurmu sekarang?”
         Kasman yang masih belum tenang, bertanya balik, “Kenapa kamu tanya itu?”
         Marjun tersenyum, “Jawab saja dulu. …Berapa umurmu, Kawan Kasman?”
         Hening beberapa detik. Dengan wajah tidak suka, Kasman berkata, “Tiga-tiga, dua bulan lagi. …Aku dua tahun di bawah keparat itu.”
         “Keparat?”
         “Yahh…keparat yang sudah merebut gadisku.”
         Marjun tersenyum, “Keparat yang sudah membuat Kawan Kasman jadi begini?”
         Kasman melotot, “Dari mana kamu tahu?”
         Marjun tersenyum angkuh, “Aku orang jenius.”
         “Huh! Sombong sekali!” bentak bibir hati Kasman. “Menyebalkannya hampir seperti Kandar. …Huh! Mungkin memang sudah nasibku untuk selalu berurusan dengan manusia-manusia sombong.”
         Marjun tersenyum, “Kawan Kasman, sekarang silahkan anda tebak. Berapa umurku? Kira-kira saja.”
         Kasman mengernyitkan dahinya, kemudian berkata, “Mungkin sedikit di atasku. …Yahh..sekitar 35-36. Maksimal 38.”
         Marjun tersenyum. “Kebanyakan orang memang mengira umurku segitu. Hah ha haa. Aku memang awet muda.”
         “Memang berapa umurmu?”
         Marjun tersenyum, lalu menyentuh bahu kanan Kasman. “Sekarang Kawan Kasman ikut aku ke ruang rahasiaku, nanti Kawan bisa tahu semuanya.”
         Kasman kembali tersentak. Ia ingin menolak ajakan Marjun, namun karena hati kecilnya menyimpan rasa penasaran yang melebihi keraguannya, akhirnya ia mau saja mengikuti ajakan dokter sombong itu. Beberapa langkah kemudian Kasman tiba di ruang rahasia Marjun. Sebuah ruangan yang ukurannya sedikit lebih kecil dari ruangan yang tadi. Di ruangan tersebut ada sebuah alat aneh. Alat yang berbentuk lemari berkaca yang menyambung dengan meja dan kursi. Tinggi lemari itu sekitar 230 cm, atau 2 meter lebih 30 cm. Bentuk lemari itu seperti gelas.
         Kasman tidak tahu, benda apa di hadapannya itu, namun ia tahu satu hal. Benda aneh di hadapannya itu hasil teknologi tingkat tinggi. Marjun semakin gembira melihat Kasman semakin termangu-mangu. Ia langsung menceritakan segalanya. Benda antik itu hasil ciptaan profesornya atau gurunya yang sekarang masih tinggal di Jerman. Gurunya itu orang Indonesia keturunan Inggris. Konon, ia dan kawan-kawannya membuat alat itu selama 17 tahun, bahkan lebih. Menurut keterangan kuat, alat itu sudah ada jauh sebelum Ferdi, gurunya Marjun, menjadi ilmuwan hebat, atau menjadi gurunya Marjun. Dengan demikian, Ferdi hanya mewarisi, atau hanya menyempurnakan alat antik itu. Sebagaimana Thomas Alva Edison, ilmuwan serba bisa, penemu bola lampu pijar.
         Menurut keterangan yang kuat kebenarannya, ilmuwan nyentrik itu bukan orang pertama yang menemukan sistem penerangan listrik. Beberapa tahun sebelumnya, lampu pijar sudah ada yang menciptakan. Dengan demikian, Edison hanya mengembangkan atau menyempurnakan penemuan yang sudah ada. Namun pengembangan yang dibuat Edison itu sangat mencengangkan dunia. Hal itulah yang membuat kesan Edison orang pertama yang membuat lampu pijar. Begitulah kurang lebih, peran Ferdi terhadap alat antik itu.
         Marjun menerangkan, alat itu bisa merubah jaringan tubuh semua makhluk hidup, termasuk manusia, menjadi beberapa kali lipat lebih kuat. Di dalam alat itu ada zat imun atau zat kekebalan, zat penguat, yang diciptakan oleh Ferdi selama lima tahun, kemudian dikembangkan oleh Marjun. Dengan demikian, siapapun yang sudah terkena zat itu, kekuatan tubuhnya menjadi tujuh kali, delapan kali, bahkan sepuluh kali lebih kuat dari kekuatan aslinya. Kekuatannya bisa sama dengan sepuluh lelaki kekar yang masih muda. Bahkan kekuatannya bisa setara dengan satu ekor harimau muda yang terbesar dan terkuat.  Karena zat kekebalan itu bisa memperkuat struktur tubuh manusia, otomatis zat tersebut juga bisa membuat tubuh manusia awet muda. Siapapun yang sudah terkena zat tersebut, tubuhnya bisa terlihat 8-10 tahun lebih muda dari usianya, bahkan bisa lebih. Itulah yang membuat fisik Marjun terlihat seperti lelaki berusia di bawah 40, padahal usianya sudah 50.
         Marjun mengatakan, saat Kasman pingsan tadi, ia sudah memeriksa semua struktur tubuh Kasman. Menurut Marjun, fisik Kasman memang istimewa. Fisik Kasman tiga kali lebih kuat dari fisik manusia biasa. Hal itulah yang membuat Kasman masih hidup, walaupun sudah dihajar habis-habisan oleh delapan lelaki kekar. Kalau fisik Kasman hanya seperti manusia pada umumnya, 97 persen Kasman sudah pergi ke alam baka. Namun kenyataannya? Kasman masih bernafas, walaupun kondisinya tidak lebih baik dari kecoak yang teler karena disemprot Baygon.
         Kasman sendiri heran bukan main. Kenapa sekarang ia merasakan kondisi tubuhnya jauh lebih baik? Padahal lukanya tadi sudah teramat parah. Sekarang ini Kasman masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya, namun rasa sakitnya itu tinggal sedikit sekali, dan sebentar lagi pasti hilang. Melihat keheranan Kasman, Marjun semakin bergembira ria. Marjun melanjutkan, ada beberapa tulang di tubuh Kasman yang retak, bahkan patah. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa sakitnya mengalami patah tulang. Namun semua rasa sakit itu bisa teredam oleh zat penenang sekaligus obat bius yang ada di jarum suntik yang tadi sudah disuntikkan Jarno, pria tinggi kekar yang dini hari tadi menemukan Kasman. Kasman sendiri mengakui, begitu dadanya disuntik, ia langsung diserang rasa kantuk yang sangat hebat. Rasa kantuk yang langsung membuatnya pingsan dalam hitungan detik.        
         Marjun menjelaskan, dini hari tadi Jarno dan tiga kawannya sedang jalan-jalan dengan sedan, dan tanpa sengaja mereka melihat Kasman sedang dihajar habis-habisan oleh delapan orang suruhan Kandar. Sebenarnya Jarno dan tiga kawannya bisa saja menolong Kasman, namun mereka tidak ingin mencampuri urusan orang. Selain itu, Jarno dan tiga temannya menjadi penasaran. Mereka jadi ingin tahu, perkara apa yang membuat Kasman sampai diperlakukan sekejam itu. Setelah Kasman sekarat, baru Jarno mengetahui perkara apa yang sudah menimpa Kasman.
         Marjun melanjutkan, sudah setahun ini ia mencari-cari orang yang bisa ia jadikan kelinci percobaan dengan alat antiknya. Dan begitu mengenal Kasman, Marjun langsung menyimpulkan, Kasman-lah orang yang ia cari selama ini. Marjun berkata, “Aku bisa membantumu menghabisi Kandar brengsek itu. Aku bisa memberimu kekuatan besar..kekuatan untuk melumat musuh bebuyutanmu itu..juga konco-konco-nya. He he he. Tapi ada syaratnya. Kamu harus mau begini dan begitu.”
         Kasman melotot, “APA!!? Aku mau kamu jadikan kelinci percobaanmu!?”
         Marjun mengangguk, “Hanya itu satu-satunya jalan untuk memiliki kekuatan dahsyat.”
         Kasman yang sudah marah besar, mencekik kerah baju Marjun, lalu mengumpat, “Ilmuwan gadungan busuk! Dokter penipu! Aku memang orang jahat, tapi aku tetap punya martabat! Punya harga diri! Huhh! Ternyata kamu sama bangsatnya dengan Kandar! Grrhhh! Kalau kamu berani memperlakukan aku lebih hina dari tikus, lehermu langsung kupatahkan! Aku serius!!”   
         “Kurang ajar!” bentak salah satu bawahan Marjun yang berkepala plonthos. “Kamu jangan lancang sama Boss kami!”
         “Didi, tenanglah,” sahut Marjun tersenyum mengejek. “Kawan kita ini hanya butuh waktu.”
         “Butuh waktu apa!!? Haa (mengguncangkan tubuh Marjun)!!? Dokter busuk! Kamu masih berani main-main!?”
         Marjun yang tetap tersenyum mengejek, berkata, “Main-main tapi serius. He he. Tenanglah Kawan, kendalikan dulu emosimu, nanti biar kujelaskan lebih lanjut.”
         Kasman melepas Marjun dengan mendorong tubuhnya. Kasman berkata, “Daripada diperlakukan lebih hina dari binatang piaraan, lebih baik aku mati! MATI!”
         Marjun yang tetap terlihat tenang, menyahut, “Berarti keinginanmu untuk balas dendam akan musnah, musnah untuk selamanya. He he.”
         Kata-kata itu membuat Kasman agak tersentak. Hening beberapa detik. Marjun mendekati Kasman yang membelakanginya, kemudian ia sentuh bahu kanannya. Dengan tetap tersenyum angkuh, orang aneh yang memang jenius ini berkata, “Kawan Kasman…segala sesuatu itu yang penting akhirnya. Betul tidak? ...Pada awalnya, apa yang ingin kulakukan ini mungkin terlihat merendahkan dirimu. Tapi cobalah kamu bersabar, bersabar untuk menunggu hasil akhir dari percobaanku ini. Kalau Kawan Kasman bisa menahan diri, Kawan akan menuai hasil akhir yang luar biasa. …Awalnya memang pahit, bahkan sangat pahit. Tapi akhirnya…nikmat sekali. Hah ha haa. …Nah..gimana?...mau?”
         Kasman masih diam saja. Marjun melanjutkan, “Pikirkanlah. Renungkanlah dendam kesumatmu terhadap Kandar, brengsek yang sudah merebut Isma, bunga hatimu. …Untuk saat ini, kekuatanmu masih jauh di bawahnya. Dia orang kaya, kenalannya banyak. Dengan uangnya yang melimpah, dia bisa menghimpun kekuatan besar. Dengan uangnya yang segudang, dia bisa begini, begitu, dan lain-lain. …Kalau sekarang Kawan ingin menyerang dia, atau bahkan ingin menghancurkan keparat itu, nanti Kawan hanya akan kecewa berat. Nasib Kawan bisa seburuk dini hari tadi, bahkan bisa lebih buruk.”
         Hening sekitar lima detik. Marjun yang begitu yakin bisa menundukkan hati Kasman, kembali bertanya, “Gimana Kawan Kasman? Kawan mau mencoba gelas elektronikku  ini?”
         Kasman yang membelakangi Marjun, perlahan-perlahan membalikkan tubuhnya. Dengan wajah campur aduk, dongkol, gelisah dan putus asa, Kasman mengangguk, “Baik…aku mau.”
         Marjun tersenyum gembira. Kasman melanjutkan, “Tapi kamu benar-benar harus bisa menjamin. Setelah aku keluar dari gelas anehmu ini, aku benar-benar bisa meremukkan tubuh hidung pesek itu!”
         Marjun tersenyum, “Penggallah leherku, kalau ternyata aku bohong. Itulah janjiku.”  
         “Baik (mengacungkan tinju kanannya ke muka Marjun)! Aku pegang janjimu.”
         Setelah sepakat untuk bekerja sama, Marjun akan langsung memulai pekerjaan gilanya itu besok pagi. Marjun mengatakan, percobaan merombak tubuh Kasman itu memakan waktu sekitar dua tahun, atau bisa juga kurang sedikit. Waktu sekian sudah termasuk cepat, sebab kebanyakan manusia yang dijadikan kelinci percobaan Marjun,  paling cepat bisa memakan waktu lima tahun lebih. Mendengar penjelasan itu, Kasman semakin mantap untuk diperlakukan seperti apapun oleh dokter jahat itu. Yang penting ia bisa memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan manusia normal. Dan yang lebih penting lagi, ia bisa mengganyang musuh bebuyutannya.
         Marjun berkata, “Berkat fisik Kawan Kasman yang istimewa, Kawan bisa lebih cepat dalam melalui proses eksperimenku ini.”    
         Besoknya, Marjun dan beberapa anak buahnya yang juga ilmuwan sains, mulai mewujudkan impiannya yang selangit. Terlebih dahulu, Marjun merombak tubuh Kasman dengan mengoperasi tulang dan ototnya. Dalam waktu enam bulan, tubuh Kasman berubah drastis. Tingginya bertambah banyak, demikian pula dengan otot-ototnya yang menjadi jauh lebih besar. Otot-ototnya menjadi terlihat tidak wajar. Tinggi badannya yang semula 170 cm, kini menjadi 185 cm, sebagaimana yang sudah dilihat Kandar kemarin. Luka-luka di badan dan kepalanya dijahit sedemikian rupa. Itulah asal-usul goretan atau sayatan di wajah dan kepalanya sekarang ini. Sayatan-sayatan yang membuat wajahnya lebih seram dari serigala.   
         Setelah itu Kasman dimasukkan ke gelas antik. Tubuhnya siap dimasuki zat kekebalan hasil ciptaan ilmuwan gila selama bertahun-tahun. Selama setahun setengah, Kasman terus menjadi bahan eksperimen gelas itu. Hasilnya? Fantastis.  Kasman yang menjadi tinggi besar itu sekarang memiliki kekuatan yang kurang lebih setara dengan satu ekor banteng muda yang terkuat, atau sama dengan dua belas lelaki muda yang tinggi-kekar. Marjun benar-benar puas dengan hasil eksperimennya. Kasman sendiri pada awalnya takut melihat wujud dirinya sendiri. Namun tak lama kemudian, kegelisahannya itu langsung musnah oleh keinginannya yang nyaris terwujud.
         Kasman yang sekarang seperti monster, mengacungkan tinju kanannya di depan dada, lalu mengumpat, “Arab bedebah! Perampas calon istri orang! suatu saat nanti aku akan membuatmu menderita seumur hidup! Huhh! Sekarang kamu kuijinkan dulu  berbahagia bersama Isma. Tapi suatu saat nanti, kebahagiaan rumah tanggamu akan berubah menjadi neraka! Tunggu saja, bedebah!”
         Beberapa minggu kemudian, tibalah waktunya bagi Marjun untuk menyempurnakan eksperimennya. Kasman kembali dimasukkan ke gelas antik, agar kekuatannya semakin berlipat ganda. Namun tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Sehebat apapun segala sesuatu, tetap memiliki kekurangan, termasuk alat aneh berbentuk gelas raksasa itu. Ketika Marjun mengoperasikan alat itu sampai ke puncak fungsinya, Marjun lupa atau belum tahu dengan beberapa hal yang sangat penting. Marjun lupa dengan fungsi tombol-tombol di benda itu. Ia lupa, tombol-tombol mana yang harus ia tekan untuk menyempurnakan percobaannya.
         Entah siapa yang salah. Entah alat canggih itu masih belum sempurna, atau karena Marjun yang ilmunya masih kurang. Mungkin alat itu sudah bisa dikatakan komplit, dan penguasaan Marjun terhadap alat itu juga sudah sempurna. Tapi mungkin karena ilmuwan jahat ini terlalu gembira melihat ambisi iblisnya nyaris terwujud, ia menjadi lupa diri. Hal itulah yang membuat hati dan pikirannya menjadi kacau balau. Akibatnya, pekerjaannya yang nyaris selesai itu menjadi hancur berantakan. Kasman yang berada di gelas raksasa, tersiksa oleh sengatan listrik dan sinar radiasi akibat kekacauan tombol-tombol yang ditekan Marjun.
         Akibatnya, sel-sel saraf otak Kasman mengalami kekacauan berat. Akal sehat Kasman musnah 80 persen. Gelas sakti itu meledak oleh sinar radiasi dan percikan listrik bertegangan tinggi. Marjun dan semua bawahannya termangu-mangu. Marjun yang mukanya kotor akibat serpihan alat yang sangat dibanggakannya, berkata lemah, “Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Ini TIDAK MUNGKIIIN!!! Marjun tidak pernah gagal dalam meraih ambisinya!! TIDAK PERNAAAH!!!”
         “Tapi kali ini kita gagal Boss..” sahut salah satu anak buahnya yang mukanya juga seperti arang. “Boss harus menerima semua ini dengan lapang dada. Boss harus menyadari…segala sesuatu di dunia ini pasti punya kelemahan.“
         “Iya Boss,” sahut anak buahnya yang lain. “Hanya  Tuhan yang sempurna.”
         “Diam kalian!!” bentak Marjun yang stress berat. “Kalian anjing-anjing kurap! Tidak usah menceramahi aku! Huhh! Memang siapa yang sudah memelihara kalian selama ini!? Haa!!? kok sekarang berani-beraninya kalian menasehati aku! Grrhhh! Kalian pada ingin memberontak ya!?”
         “Kami tidak bermaksud begitu Boss. Kami hanya…”
         “Sudah!! Diam!!!”
         Tiba-tiba, salah satu anak buah Marjun yang duduk di lantai, melotot. “Boss…Boss…lihat itu (menunjuk gelas sakti)!”
         Marjun dan semuanya terpana. Di tengah serpihan gelas sakti, berdiri sesosok tinggi besar yang telanjang dada. Keadaannya terlihat semakin kacau. Ia mendekati Marjun dan semua bawahannya yang pada bengong, Bibirnya menyeringai, siap mengamuk sesaat lagi. Wajahnya terlihat semakin mengerikan, dan tentunya juga semakin kuat. Ia mendekati Marjun yang melangkah mundur dengan perlahan.  Marjun yang wajahnya penuh harap, berkata, “Kasman…kamu baik-baik kan? …Kamu..merasa semakin kuat kan? …Oh..berarti kita tidak gagal! Tidak gagal!”
         Marjun yang seperti orang gila, menatap semua bawahannya yang bengong, lalu berkata, “Jerih payah kita berhasil! Berhasil! Hah ha haa!”
         Setelah tertawa keras, Marjun kembali menatap Kasman yang memelototinya. Kasman berkata, “Siapa kamu? siapa kalian? Siapa pula Kasman?”
         Marjun dan semuanya melotot. Marjun yang ketakutan, berkata, “Kasman itu kamu!”  
         “Aku bukan Kasman!  Aku…aku…aahh! …Siapa aku!? haa!? siapa aku!!?”
         Hening sejenak. Kasman terus menggelengkan kepala sambil menyentuh botaknya dengan kedua tangannya. Setelah terus berkata ‘siapa aku,’ Kasman memelototi Marjun dan semua orang yang ada di ruangan itu. Wajahnya yang lebih seram dari bison mengamuk itu membuat Marjun merinding. Salah satu anak buah Marjun berseru, “Gawat Boss! Kelihatannya dia hilang ingatan!”
         “Celaka!” seru anak buah Marjun yang lain. “Dia bisa ngamuk! Oohh..sebaiknya kita segera pergi dari sini! Ayo Boss! Kita pergi saja!”
         Marjun yang masih terpana, menggelengkan kepala dengan perlahan. Ia berkata lemah, “Tidak mudah bagiku untuk meninggalkan hasil karyaku yang fantastis ini.”
         “Tapi sekarang nyawa Boss terancam! Nyawa Boss jauh lebih penting!”
         Marjun tersentak. Hatinya yang terdalam membenarkan nasehat anak buahnya itu. Sesaat kemudian Kasman berteriak lantang, lalu menyerang Marjun dan konco-konco-nya dengan membabi buta. Tidak sampai lima menit, Marjun cs sudah terkapar tak bernyawa. Setelah itu Kasman berlari sambil menggeram, kemudian berteriak, “Siapa akuu!!? Kenapa aku jadi pembunuh kejam!!? Kenapa si bodoh itu memanggilku Kasmaan!!? Hahh! Hahh!...Aku bukan Kasman! Aku Iblis Pembunuh!”  
         Kasman meninggalkan laboratoriumnya ilmuwan jahat. Ilmuwan jahat yang tewas di tangan hasil karyanya sendiri. Beberapa langkah kemudian Kasman tiba di sebuah rumah kosong yang bangunannya sudah pada rusak. Kasman pingsan agak lama. Dan begitu sadar, ingatannya sudah pulih. Kasman kembali ke laboratorium Marjun. Alangkah menyesalnya Kasman melihat mayat-mayat yang tergeletak di lantai lab. Namun rasa sesalnya itu hanya berlangsung sesaat. Kasman yang sekarang sudah jadi pembunuh kejam, menginjak dada Marjun, lalu berkata, “Dokter setan, aku tidak perlu menyesali kematianmu, toh kamu sendiri yang membuatku jadi begini. Kamu sendiri juga orang jahat. Kamu tidak lebih baik dari Kandar. Hua ha ha haa!!”
         “Tapi aku juga wajib berterima kasih sama kamu, ilmuwan rakus! Terima kasih banyak untuk kekuatan tubuhku sekarang ini. Hua ha haa!”
         “Begitulah ceritanya,” tutur Kandar dengan wajah tegang. “Kasman memang keparat..tapi aku yakin seratus persen…semua ceritanya ini tidak bohong. Aku bisa melihat kejujuran di wajahnya.”
         Diam sejenak. Ketegangan semakin mencengkeram hati Kandar dan semua kawannya yang jumlahnya sekitar sepuluh orang, ditambah Kandar jadi sebelas. Rudi, salah satu kawan Kandar yang potongannya cepak, berkata, “Tapi aku masih ragu Mas. Masa’ di negara kita ini sudah ada ilmuwan sehebat itu? …Kalau Marjun itu memang sehebat yang diceritakan Kasman, seharusnya sekarang dia sudah jadi tokoh kondang di negara kita ini.”                                             
         “Ya tapi bisa saja kan?” sahut Syamsul, kawan Kandar yang polisi. “Mungkin dia benar-benar ilmuwan jenius, ilmuwan nyentrik…ilmuwan yang tidak ingin terkenal. Ilmuwan yang ilmunya dimakan sendiri. Ilmuwan yang tidak ingin ilmunya dikuasai orang lain.”
         “Bisa jadi Sul,” sambung Gugun, pria 39 tahunan. “Negara kita ini masih belum pandai menghargai orang-orang hebat..termasuk para ilmuwan alam. Orang-orang sombong dan bodoh malah dihargai, bahkan diangkat jadi pemimpin, eh yang sholeh dan super jenius malah ditelantarkan. Betul tidak!?”
         “Otak Kang Gun memang encer,” sahut Rudi tersenyum. Kandar berkata, “Marjun itu sekolahnya di Jerman..negaranya ilmuwan-ilmuwan hebat. Jadi wajar kalau dia bisa membuat, atau sekedar mengendalikan gelas sakti itu.”
         “Mas Kandar betul sekali,” sahut Yudi, pemuda 25 tahunan. “Jerman memang negaranya iptek. Contoh yang paling nyata, Pak Habibie. Beliau salah satu produk universitas alam Jerman. Siapa di antara kita yang masih meragukan kehebatan ilmu beliau?”
         Gugun tersenyum, “Hanya orang goblog yang tidak mau mengakui kehebatan ilmu Baharudin Jusuf Habibie.”
         Kandar tersenyum. “Ya sudah. Yang penting sekarang aku ingin kalian segera mengganyang Kasman, Hartoyo, dan antek-anteknya yang sudah berani menginjak-injak kepala Suryo Iskandar. Kalian sanggup kan?”
         Syamsul yang terlihat paling semangat, menjawab, “Demi persaudaraan kami dengan Mas Kandar, kami siap melakukan yang terbaik, walaupun itu sangat sulit.”
         “Kalian memang sobat sejatiku..sahut Kandar tersenyum gembira. Syamsul bicara lagi, “Tapi sebelumnya, kita harus tahu dulu markas Kasman dan Hartoyo.”
         “Betul juga ya?” sahut Yudi mengangguk-angguk. “Dan yang paling tahu hanya Mas Kandar. “
         Ucapan Yudi itu membuat Kandar mengernyitkan dahinya. Setelah hening beberapa detik, Kandar berkata, “Letak markasnya belum jelas. Tapi percayalah..Insya Allah, kita pasti bisa menemukan markas brengsek itu. Aku hanya butuh waktu untuk mengingat.”    
         Beberapa hari kemudian, Kandar berhasil menemukan markas rahasia Kasman yang sempat hilang dari memorinya. Begitu teringat dengan alamat markas Kasman, Kandar dan teman-temannya langsung meluruk tanpa ampun. Kandar membawa dua puluh orang, termasuk Gugun, Rudi, Syamsul dan Yudi. Sedangkan di markas Kasman, Hartoyo hanya ditemani delapan orang. Pertempuran sengit pun terjadi. Toyo dan delapan kawannya yang jago bela diri itu sempat memberikan perlawanan sengit, namun akhirnya takluk oleh Gugun cs yang lebih pengalaman, juga karena jumlah mereka yang lebih banyak.              
         Kandar mengacungkan pedangnya ke leher Toyo yang berlutut di hadapannya. Kandar hanya menanyakan keberadaan Kasman. Toyo yang sudah menyerah itu akhirnya mau bicara jujur. Toyo mengatakan, kakaknya sedang semedi di tempat Mbah Gurunya, semedi agar ilmu hitamnya sempurna. Sudah satu setengah bulan Kasman meninggalkan rumah. Kalau tidak ada halangan, seminggu lagi Kasman sudah balik ke markas. Mendengar penjelasan itu, Kandar dkk menggelengkan kepala. Kandar bertutur, “Bedebah itu memang hebat. Sudah fisiknya dirombak gelas sakti, sekarang dia belajar ilmu santet. Huhh! Benar-benar iblis!”
         Alangkah sakitnya hati Toyo mendengar kakaknya disebut ‘iblis’ oleh musuh bebuyutannya. Sambil melirik Kandar dengan tajam, Toyo mengumpat dalam batin, “Arab busuk! Mulutmu itu harus kusumpal dengan tahi kerbau! Huhh! Aku ingin sekali membuat hidungmu semakin pesek! …Awas ya? Kalau nanti ada kesempatan. Hidungmu akan kubuat rata dengan dahimu! 
         Toyo melirik semua kawannya, memberi isyarat agar berontak. Sesaat kemudian Toyo cs melihat peluang perak untuk berontak. Ia dan delapan kawannya berusaha meloloskan diri. Kandar cs sempat kalang kabut dalam menghadapi pemberontakan Toyo dkk yang memang tangguh. Namun untunglah, beberapa teman Kandar yang AKPOL dan AKMIL, langsung bisa mengatasi keganasan orang-orang itu. Karno, kawan Kandar yang Akmil, melihat Toyo sudah berhasil melarikan diri. Toyo berlari kencang menuju semak belukar. Melihat itu, Karno langsung bertindak cepat. Ia todongkan pistolnya, lalu mengancam akan menembak Toyo, namun adik Kasman itu tetap berusaha kabur. Karno yang merasa sudah tidak punya pilihan, langsung bertindak mengikuti refleksnya.
         Pemuda tampan bertubuh atletis ini meledakkan pistolnya, dan mengenai dada kiri Toyo bagian belakang. Toyo menjerit, kemudian roboh di semak belukar. Karno berkata, “Salahmu sendiri. Aku sudah memperingatkan, tapi kamu tetap nekat. Huhh! Benar-benar kepala batu!”
         Karno mendekati semak belukar tempat Toyo roboh. Beberapa langkah kemudian Karno melotot, “Hah! Mana dia!?”
         Karno mengacungkan pistolnya ke kanan-kiri dan depan-belakang. Karno bergumam, “Pasti dia masih ada di sekitar sini. …Dia sudah terluka parah, jadi harusnya tidak bisa menghilang secepat ini. …Huh! Keparat itu benar-benar kuat.”
         Karno berdiri di situ sampai lima menit. Sesaat kemudian Karno yang benar-benar yakin kalau Toyo sudah hilang dari situ, langsung kembali ke markas Kasman. Dengan wajah kecewa, Karno menceritakan semuanya pada Kandar. Ia mohon maaf atas kegagalannya menangkap Toyo. Mendengar tuturan Karno itu, Kandar tersenyum, lalu menyentuh bahu kirinya. “Pemuda ganteng, kamu sama sekali tidak perlu minta maaf. Kamu sudah berusaha semampumu. Toh brengsek itu sudah terluka parah kan?”
         Karno mengangguk sambil tersenyum. “Peluruku tidak sampai menembus jantungnya, jadi Insya Allah dia tidak akan mati. Dia hanya akan terluka parah.”
         “Itu sudah bagus sekali, soalnya dari keparat-keparat ini (menunjuk semua anak buah Kasman yang sudah tidak berdaya), Toyo-lah yang paling kuat. Nah, dengan lumpuhnya Toyo, mereka jadi kehilangan separoh kekuatan mereka. Betul tidak!?”
         Semua kawan Kandar mengangguk. Karno berkata, “Aku benar-benar tidak mengira, Mas Kandar bisa berurusan dengan manusia gila seperti Kasman.”
         Kandar tersenyum, “Mungkin semua ini memang sudah takdirku…jadi seberat apapun, tetap harus kuhadapi. Yang penting Isma-ku selamat dari cengkeraman  bedebah itu. …Biar bagaimanapun, Isma tetap segalanya bagiku.”
         Betapa lega dan bahagianya Kandar dan semua kawannya yang sudah merasa menang. Sesaat kemudian Kandar menyuruh semua bawahannya untuk meringkus semua bawahan Kasman. Namun tiba-tiba, salah satu kawan Kandar yang Akmil, terkejut melihat jumlah anak buah Kasman berkurang satu. Tadi mereka ada delapan orang, tanpa Toyo. Sekarang mereka tinggal tujuh orang. Tentu saja Kandar menjadi dongkol. Ia mengumpat, “Huhh! Masih ada juga yang hebat.” Namun beberapa detik kemudian Kandar sudah terlihat tenang lagi. Ia berpikir, salah satu anak buah Kasman yang berhasil lolos itu bukan orang pilihan Kasman, bukan termasuk anak buah Kasman yang tangguh, jadi tidak perlu terlalu dicemaskan. Yang paling dicemaskan Kandar hanya Hartoyo, terlebih lagi kakaknya.            
         Beberapa menit kemudian, Kandar cs meninggalkan markas Kasman dengan membawa semua bawahan Kasman. Ketika Kandar cs pada pulang dengan kendaraan masing-masing, ada sesosok tubuh yang mengintip mereka dari balik pohon yang tumbuh di semak-semak. Sesosok tubuh yang meringis karena menahan rasa sakit di bahu dan dada kirinya. Rasa sakit yang teramat sangat. Darah di bahu dan dada kirinya mengalir cukup banyak. Alangkah menderitanya Toyo yang mengalami sakit lahir-batin.
         Lahirnya sakit karena ditembak Karno, sedangkan batinnya sakit karena ditaklukkan Kandar di rumahnya sendiri. Sambil terus menyentuh bahu dan dadanya yang berdarah-darah, Toyo menatap tajam kendaraan Kandar cs yang berjalan pulang. Sambil cengar-cengir, Toyo menggeram. “Kandar keparat! Huhh! Aku belum kalah..dan takkan pernah kalah! Kamu dengar, keparat! …Ooohh (melihat lukanya). Walaupun lukaku lebih parah dari ini, aku takkan berhenti mengejakmu perang!  …Sebelum membuatmu menderita panjang, aku tidak boleh mati dulu. Tidak boleh!”
         Itulah sumpah serapah yang diucapkan Hartoyo pada Iskandar. Bisakah terwujud? Kita lihat saja nanti. Sekarang beralih ke tempat lain. Tampaklah seorang lelaki kekar yang berjalan tertatih-tatih. Usianya sekitar 28 tahun. Wajahnya penuh luka. Bibirnya pecah, kedua pipi dan dagunya bengkak. Darah yang keluar dari hidung dan dahinya sudah mengering. Sesaat kemudian, ia tidak sanggup lagi melanjutkan langkahnya. Ia duduk di rerumputan yang berada di bawah pohon yang cukup besar. Dia Tono, salah satu bawahan Kasman yang berhasil lolos. Sambil meringis menahan sakit, Tono mengeluarkan Hand Phone-nya, kemudian menelpon Kasman yang sedang menyempurnakan tenaga dalam hitamnya. Dengan nafas berat, ia ceritakan semua yang sudah ia alami bersama Toyo dan semua temannya.
         Tentu saja kabar dari Tono itu membuat Kasman seperti disambar petir. Konsentrasi semedinya buyar. Ia langsung minta ijin Mbah Gurunya untuk pulang sebentar. Namun Mbah Gurunya yang berambut dan berjenggot putih panjang dan lebat itu langsung membentaknya, kemudian memintanya untuk kembali konsentrasi. Orang aneh itu mengatakan, Kasman harus menyelesaikan semedinya yang tinggal dua hari lagi. Ada masalah seberat apapun, Kasman harus tetap menyempurnakan ilmu ghaibnya yang tinggal 15 persen. Sangat patut disayangkan seandainya Kasman sampai gagal menyempurnakan ilmu ghaibnya. Ilmu ghaib yang ia raih dari semedinya yang tak kenal waktu selama tujuh bulan, juga dari biaya yang sudah ia keluarkan dari hasil keringatnya sendiri. Biaya yang tentunya tidak sedikit.
         Mbah Gurunya mengatakan, berita buruk yang didengarnya itu menjadi puncak godaannya, atau godaan terberat yang ia alami saat ia bersemedi. Di saat-saat terakhir, di mana ilmu hitamnya hampir sempurna, datanglah godaan atau gangguan terberat. Karena itu, Kasman tetap harus bisa mengatasi gangguan itu, dan tetap konsentrasi pada semedinya yang tinggal dua langkah. Jika Kasman berhasil mengendalikan dirinya, ia benar-benar akan sukses besar.          
         Mendengar motivasi besar dari sang guru, hati dan pikiran Kasman langsung tenang lagi. Hatinya yang tadi resah karena memikirkan markasnya yang sudah dihancurkan Kandar, kini bisa terfokus lagi pada keinginannya untuk memiliki kesaktian. Bahkan berita buruk itu malah semakin membangkitkan semangatnya. Berita buruk itu semakin membesarkan dendam kesumatnya pada Suryo Iskandar.
         Sekarang kita tengok Kandar yang sedang bergembira. Ia sudah cukup puas dengan hasil kerjanya kemarin. Ia berkata, “Untuk sementara ini, Kasman sudah takluk 80 persen. hah ha haa. …Sekarang tinggal meluluhkan hati Isma lagi. …Asal aku bisa sabar, Insya Allah, aku pasti bisa. Toh niatku ini luhur.  …Yang penting dia tidak berhubungan lagi sama imam masjid gadungan itu.”

                                                     * * * * *

         Sejak hubungan gelapnya dengan Hamdi diketahui publik, Isma menjadi sering curhat pada Endah. Bagi Isma, Endah-lah satu-satunya orang yang paling bisa mengerti dirinya, sebagaimana Endah satu-satunya orang yang paling bisa mengerti Hamdi dan ayah-ibunya. Isma selalu memuji kesabaran Endah, sebagaimana Hamdi dan Retno yang selama ini selalu memuji kesholehan perempuan itu. Isma benar-benar mengagumi ketegaran hati Endah. Setiap kali Isma berkunjung ke rumah Endah untuk curhat, Isma selalu mengatakan, Endah itu perempuan yang sangat sulit dicari, terlebih di jaman sekarang ini. Endah itu seribu satu, bahkan sepuluh ribu satu.
         Mendengar pujian Isma itu, Endah hanya tersipu. Perempuan kepala enam yang masih terlihat cantik ini berkata, “Marah itu menghabiskan waktu dan tenaga. Kalau tidak penting sekali, kita tetap dianjurkan untuk tidak marah.  Aku sudah tua, jadi buat apa aku habiskan tenaga untuk sesuatu yang kurang penting? Betul tidak!? Hi hi hii. Mbak Is sendiri sudah termasuk sabar..apalagi menghadapi cobaan berat seperti sekarang ini. Menurutku, Mbak Is tetap terlihat tegar, walaupun lebih banyak terlihat sedih.”
         Isma tersenyum manis,Insya Allah Bu. Saya akan terus berusaha menguatkan hati. Kalau tidak ada Bu Endah, mungkin aku sudah linglung.”
         Endah tersenyum. “Dan aku juga hanya bisa berusaha. Itulah kewajiban manusia yang bertuhan.”  
         Hening sejenak, lalu Isma menanyakan Hamdi. Sudah hampir dua bulan Hamdi lenyap dari Bumi Indah. Isma yang sampai sekarang masih memberikan cinta sejatinya pada Hamdi, jelas cemas bukan main mendengar kekasihnya hilang tanpa bekas. Sudah dua bulan, sejak peristiwa yang sangat menyedihkan itu, Hamdi tidak kelihatan batang hidungnya. Sejak peristiwa besar itu, peristiwa terkuaknya hubungan gelap Hamdi-Isma, putra Hasan Sujardi itu seperti hilang ditelan bumi.
         Endah tidak terkejut mendengar pertanyaan Isma yang penuh harap. Endah bertanya, “Jadi Mbak Ayu belum dengar?”
         Isma menggelengkan kepala. Pertanyaan itu langsung membuat Isma cemas bukan main. Dengan wajah tegang, istri Kandar ini bertanya, “Memang apa yang sudah terjadi pada Mas Hamdi?...Mas Hamdi kenapa Bu (mencengkeram tangan Endah dengan kedua tangannya)!?”
         Endah tersenyum. Tangan kirinya menyentuh bahu kanan Isma, lalu berkata, “Mas Hamdi tidak kenapa-kenapa. Mas Hamdi baik-baik saja. Dia hanya pergi dari rumah.”
         Isma melotot, “Pergi dari rumah Ibu bilang tidak apa-apa!?”
         Endah tersenyum, “Sudah nyaris sebulan dia meninggalkan rumah, tapi Insya Allah, dia baik-baik saja. Percayalah. Dia terus mengontak ibu keduanya ini.”
         Isma melongo. Endah melanjutkan, “Sekarang dia tinggal di salah satu kampung yang berada di Jalan Magelang.”
         “Jalan Magelang!?”
          Endah mengangguk, “Sudah seminggu ini dia tinggal di rumah kontrakannya Gatot, ponakannya, cucunya Pak Sujar. Dia sudah kusuruh pulang. Insya Allah, 2-3 hari lagi dia pulang. Orang tuanya sudah cemas sekali, terutama ibunya. …Yahh (tersenyum)..Mbak Ayu sudah tahu kan? Seperti apa hubungan Hamdi dan Bu Sujar selama ini. …Tapi biar bagaimanapun, mereka tetap ibu dan anak.”
         Isma yang wajahnya mengiba, mengangguk. “Betul sekali Bu. …Seburuk apapun hubungan Mas Hamdi dan Bu Sujar, mereka tetap sedarah dan sedaging. Sebesar apapun rasa benci Bu Retno terhadap Mas Hamdi…Mas Hamdi tetap buah hatinya.”
         Endah tersenyum, “Indah sekali kata-katamu itu.”
         Sekarang beralih ke rumah ketua takmir Al-Furqan, di mana ibunda Hamdi sedang sholat tahajud di kamarnya. Dinginnya udara dini hari tidak menghalangi semangatnya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Seusai sholat, Retno berdoa dengan sangat khusyuk, sehingga air matanya berlinang. Ia berdoa, “Ya Allah, Gusti yang Maha Welas Asih…ampunilah hambaMu yang lemah ini. Hamba benar-benar menyesal. …Seburuk apapun kelakuan Hamdi sekarang ini, dia tetap anak kandungku, darah dagingku. …Sebejat apapun ulah yang sudah dibuatnya sekarang ini, dia tetap buah hatiku.”
         “Karena itu ya Allah, kembalikanlah dia ke pangkuanku. Aku  dan bapaknya benar-benar sudah kangen berat sama dia. …Selama ini aku memang sering memarahi dia. Selama ini aku memang menganggapnya menyebalkan. Tapi rasa sayangku terhadap dia tetap lebih besar. Dan Engkau pasti tahu semua itu, Duh Gusti yang Rahman dan Rahim. …Ampunilah aku, kalau perlakuanku terhadap dia selama ini memang salah. Dan ampunilah dia, kalau perlakuannya padaku selama ini memang keliru.”
         Hening sejenak. Retno menundukkan kepala sambil menutup kedua matanya. Air mata kepedihan membanjiri kedua pipinya yang sudah berkerut. Setelah mengatur nafasnya yang berat, Retno kembali bicara dengan suara lirih, “Ya Allah, Gusti yang Maha Pengampun…masukkanlah cahaya hidayah ke dalam hati anak sulungku itu, agar dia bisa segera keluar dari lobang kesesatan, dan kembali ke pelukan ridhoMu. Ulurkanlah tangan kasihMu, agar dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus.”
         “Duh Gusti yang Maha Bijaksana…kalau Hamdi benar-benar tulus mencintai Nyonya Iskandar, berikanlah jalan yang terbaik untuk dia, juga untuk Isma. Kalau penjual kue bolu yang cantik itu memang sudah Engkau takdirkan jadi mantuku, berikanlah kesabaran pada Hamdi, agar dia bisa menunggu Isma dicerai Kandar dengan jalan baik-baik, jalan yang tentunya Engkau ridhoi. …Tapi kalau Engkau tidak menghendaki Hamdi dan Isma jadi pasangan, berikanlah ketegaran pada Hamdi, agar dia bisa melupakan Isma untuk selamanya. Begitu pula sebaliknya. …Ya Allah ya Rahman ya Rahim…kalau Engkau memang tidak menghendaki Isma dan Hamdi bersatu, berikanlah ganti untuk Hamdi, ganti yang sebaik Isma, syukur lebih baik.”
         Tangis Retno semakin sesenggukan. Heningnya malam benar-benar membuat doanya semakin khusyuk. Setelah dadanya terasa lebih plong, ia kembali berdoa, “Duh Gusti Allah…Gusti Yang Maha Segalanya…sekali lagi hamba mohon dengan sepenuh hati. Berikanlah ketegaran di hati Hamdi, agar dia bisa melupakan Isma untuk selamanya, dan bisa segera mendapat pendamping hidup yang lebih tepat. …Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu pula kami memohon pertolongan. Hanya kepadaMu hambaMu yang hina ini memohon, karena memang hanya Engkau yang bisa mengabulkan permohonanku.”
         Demikianlah doa yang dipanjatkan ibunda Hamdi. Doa yang sangat menyentuh relung hati setiap insan yang mendengarnya. Sama halnya dengan Hamdi yang sekarang juga sedang bersimpuh di hadapanNya. Sambil duduk bersila di atas sajadah, Hamdi memejamkan kedua matanya. Mulutnya terus berkomat-kamit. Memar-memar di wajahnya sudah berkurang banyak. Memar karena dihajar Toyo dan kawan-kawan. Walaupun sudah disemprot habis-habisan oleh Retno, sekarang ini Hamdi masih bisa berkontak batin dengan sang ibu. Hamdi yang wajahnya murung, berdoa,
         “Duh Gusti Allah…Gusti yang Maha Pengasih dan Penyayang…ampunilah hambaMu yang rendah dan hina ini. Ampunilah hambaMu yang telah berbuat dosa besar. Ampunilah hamba yang telah bergaul dengan perempuan yang bukan mahram-ku. Ampunilah aku yang sudah sangat mendekati zina. Ampunilah aku yang sudah menghancurkan nama baik keluarga, mempermalukan dan menyakiti rang tua..Ampuni aku yang sudah berburuk sangka pada orang tua sendiri. …Aku berpikir, Papa-Mama senang melihat aku minggat. Padahal kenyataannya, mereka pasti cemas sekali melihat ulah putra sulung mereka yang hina ini. …Sekarang ini, Papa-Mama pasti cemas sekali melihat aku belum pulang..terutama Mama, orang yang selama ini selalu ribut sama aku. Seburuk apapun hubunganku sama Mama selama ini, kami tetap sedarah dan sedaging. Seburuk apapun hubunganku sama Mama selama ini, dialah satu-satunya orang yang sudah melahirkan Hamdi yang bejat ini.”
         “Ya Allah…tadi aku sempat merasakan kegelisahan Mama. …Apakah semua ini benar-benar petunjukMu? Petunjuk agar aku segera balik ke rumah? …Kalau benar, kuhaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya untukMu. Dengan kasihMu yang tanpa batas, Engkau masih berkenan membimbing Hamdi yang bejat ini ke jalan yang lurus. …Setelah pulang nanti, aku akan berusaha keras untuk tobat. Aku akan berusaha keras untuk memperbaiki akhlak dan ibadahku yang sudah lama rusak.”
         “Ya Allah, Gusti Yang Maha Welas Asih…untuk yang terakhir, hambaMu yang hina ini memohon tentang Isma. …Dengan kehendakMu yang pasti terjadi, usirlah Isma dari hati dan pikiranku, jika Engkau memang tidak menghendaki dia jadi milikku di dunia ini. …Kalau Engkau menghendaki dia jadi milikku di surgaMu nanti, berikanlah aku ketegaran hati, agar aku bisa bersabar dalam menunggu surgaMu yang masih jauh. …Tapi kalau Engkau memang tidak menghendaki aku dan Isma jadi pasangan, baik di dunia maupun di akhirat nanti, perbaikilah hubungan Isma dengan Kandar, agar mereka bisa jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
         Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, Engkau tahu sendiri, aku memohon begini karena aku sangat mencintai Isma. Aku memohon begini karena aku tidak tahan lagi melihat Isma disiksa suaminya. Karena itu ya Allah, segeralah Engkau tunjukkan keadilanMu, agar Kandar yang galak dan angkuh itu bisa segera menyadari keburukan akhlaknya selama ini. Segeralah Engkau tunjukkan kasihMu yang tanpa batas, agar Isma bisa lepas dari jerat penderitaan, dan bisa segera meraih kedamaian yang hakiki.  …Duh Gusti Yang Maha Segalanya, hanya kepadaMu aku memohon, karena Engkaulah sebaik-baik tempat memohon.”
         Selesai berdoa, Hamdi bersujud, kemudian menyandarkan tubuhnya di tembok kamar. Wajahnya terlihat lebih cerah dibanding beberapa saat tadi. Mungkin karena hatinya sudah terasa lebih tenang dan lebih tegar. Doa yang dipanjatkannya dengan amat khusyuk tadi seolah berubah menjadi kekuatan besar. Kekuatan yang sanggup menegarkan hatinya dari masalah seberat atau serumit apapun, termasuk masalah yang sedang dialaminya sekarang ini.    
         Demikianlah kontak batin yang terjadi antara Hamdi dan Retno. Seburuk apapun hubungan mereka selama ini, kontak batin itu akan selalu ada, apalagi di saat mereka sedang sedih seperti sekarang ini. Ibarat pasangan kekasih yang berpisah lama karena bertengkar hebat. Selama cinta kasih di hati mereka belum musnah seratus persen, suatu saat nanti mereka pasti akan kembali menjadi pasangan sejati. Retno, Sujar dan Dini sangat ingin agar Hamdi segera pulang, sebab seminggu lagi, tepatnya hari kamis tanggal 6 Maret 2008, usia Hamdi genap 32 tahun. Usia yang sudah lebih dari cukup untuk memiliki teman hidup.
         Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, jika Hamdi ulang tahun, Retno dan Sujar selalu merayakan ultah putra sulung mereka itu dengan pesta kecil-kecilan. Namun apa jadinya kalau seminggu lagi Hamdi belum pulang ke rumah? Tentu rumah Sujar akan diselimuti kabut kehampaan yang sangat tebal. Karena itu, Retno benar-benar berharap, semoga Hamdi sudah ada di rumah sebelum hari ultahnya besok. Endah sendiri sudah mewanti-wanti Hamdi akan kekuatiran ayah-ibunya itu. Hamdi yang selama ini selalu percaya penuh pada ibu keduanya itu, langsung mengangguk mantap. Ia berjanji akan pulang 2-3 hari lagi.
         Besok paginya, selesai membersihkan halaman belakang rumah Gatot, Hamdi duduk di kursi kayu yang berada di bawah pohon rambutan. Sambil menyantap cemilan, Hamdi menatap jemuran dan tanaman-tanaman yang tersusun rapi. Beberapa menit kemudian lamunan Hamdi terpecah oleh suara yang berbunyi; “Assalamu’alaikum, Akhi Hamdi.”
         Hamdi tersentak, lalu menjawab salam itu dengan gugup. Hamdi melihat dua lelaki muda yang berdiri di pintu menuju halaman belakang. Dua lelaki berusia dewasa, sekitar 26-28 tahun. Keduanya memakai kopiah hitam dan hijau muda. Posturnya mirip, kurus dan agak tinggi. Yang berkopiah hijau muda memakai baju koko biru tua, sedangkan yang berkopiah hitam memakai baju koko kelabu. Keduanya memakai celana kombor dan congkrang, hampir sama dengan celana yang dipakai Hamdi selama ini.      
         Hamdi yang sebenarnya terkejut sekali, langsung pura-pura gembira. Ia menatap pria berkopiah hijau muda, lalu berkata, “Masya Allaah…Akhi Jafar.”
         Jafar tersenyum gembira. Sedetik kemudian, ia bersalaman dengan Hamdi, kemudian berpelukan. Jafar yang terlihat sangat gembira, bertanya, “Antum sehat-sehat kan?”
         Hamdi yang masih gugup, menyahut, “Alhamdulillah, seperti yang antum lihat.”
         “Antum kelihatan sehat. …Semoga batin antum juga sehat.”
         “Mudah-mudahan, Insya Allah. …Ehmm..kok bisa tahu saya ada di sini?”
         Jafar tersenyum, “Antum tidak usah kaget, saya diberi tahu trio Al-Furqan. Trio Al-Furqan diberi tahu Mas Gatot.”
         “Jadi…trio Al-Furqan sudah ketemu Gatot?”
         “Sudah, kira-kira tiga hari yang lalu. Saya sendiri ketemu ANUR (Andi-Nurman-Rian) kemarin pagi, di Maskam (Masjid Kampus) UGM.”
         “Begitu ya?” ujar Hamdi lemas. Jafar tersenyum, lalu menyentuh kedua bahu Hamdi. “Antum tidak usah tegang. Saya sudah tahu masalah yang sedang menimpa antum. Kemarin ortu antum datang ke pondok, lalu konsultasi sama Ustadz Arwan.”
         “Ortuku?!” sahut Hamdi tersentak. Jafar mengangguk dengan tetap tersenyum. Ia melanjutkan, “Sekarang antum ke pondok, Ustadz Arwan mau bicara sama antum.”
         Hamdi tersentak lagi. “Ke pondok Taruna!? Sekarang!?”
         Jafar mengangguk. Hamdi yang cemas, berkata, “Kalau sekarang, kelihatannya aku tidak bisa.”
         Jafar tersenyum. “Saya ke sini khusus untuk menjemput antum. …Sudahlah, tidak ada yang perlu antum takutkan. Insya Allah, nanti Ustadz Arwan akan memberi solusi untuk masalah antum. …Gimana Mas? …kita bisa berangkat sekarang?”
         Hamdi yang sebenarnya ingin menolak, tersentuh hatinya melihat Jafar yang sudah bersusah payah mencarinya sampai ke tempat persembunyiannya. Setelah hening beberapa detik, Hamdi mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja Jafar gembira sekali. Ia menunjuk temannya yang berdiri di belakangnya, lalu berkata, “Kenalkan dulu, ini Akhi Mamat.”
         “Assalamu’alaikum Mas Hamdi..” sapa Mamat ramah. Ia dan Hamdi langsung bersalaman, kemudian berpelukan. Sesaat kemudian, Jafar dan Mamat mengantar Hamdi ke pondok pesantren Taruna Al-Quran. Begitu sampai di pondok, Hamdi langsung menghadap Ustadz Arwan Nugroho, salah satu ustadz nomor satu di pondok tersebut. Usianya masih muda, sekitar 28 tahun, namun ilmu dan wibawanya sudah seperti kyai yang berusia di atas 40 tahun. Kini Arwan dan Hamdi berbincang empat mata di sebuah ruangan khusus. Arwan berkata, “Sebenarnya Ustadz Aris yang mau bicara sama Mas Hamdi, soalnya beliau lebih cocok dan lebih mengenal antum.”
          “Tapi sekarang beliau lagi super sibuk, jadi ana diminta menggantikan beliau.  …Yahh (tersenyum malu) ana minta maaf kalau nanti ana tidak bisa memuaskan hati antum. Maklumlah..ilmu ana masih jauh di bawah Ustadz Aris..jadi sebelumnya ana mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
         Hamdi tersenyum, “Siapapun ustadz di hadapan saya ini, yang jelas ilmunya jauh di atas saya..jadi kenapa antum harus merendah di hadapan Hamdi yang bodoh ini?”
         “Astaghfirullahal’azhim (menggelengkan kepala seraya tersenyum malu).”
         “Umur antum berapa?”
         “Dua delapan.”
         Hamdi tersenyum. “Empat tahun di bawah saya, tapi ilmu agamanya empat puluh tingkat di atas saya.”
         Arwan kembali tersipu sambil menggelengkan kepala. Hamdi melanjutkan, “Kalau antum yang ilmunya jauh di atas saya saja merasa tidak ada apa-apanya Ustadz Aris, tentu Hamdi yang bodoh tapi sok pintar ini lebih berhak untuk merasa ciut di hadapan beliau.“
         Setelah membuka pembicaraan dengan humor segar, Arwan langsung mengajak Hamdi membahas topik utama. Begitu inti perkara dibahas panjang lebar, canda tawa di bibir mereka langsung musnah. Arwan yang serius tapi santai, santai tapi serius, benar-benar membuat Hamdi tegang. Ia tidak berani lagi mengajak Arwan bercanda seperti beberapa menit yang lalu. Kini Hamdi dibantai habis-habisan oleh Arwan. Ia bicara dengan lembut, namun tegas dan mengenai sasaran. Hamdi hanya menunduk sambil mengangguk-angguk. Walaupun ustadz muda di hadapannya itu tidak sampai marah, wibawanya benar-benar menciutkan nyalinya.
         Arwan berkata, “Antum sudah berdosa besar. Antum sudah berhubungan terlalu dekat dengan wanita asing…wanita yang bukan mahram antum. …Sudah wanita asing, dia tetangga antum sendiri. …Ini benar-benar musibah besar. …Tanpa antum sadari…antum sudah mendekati zina. Bahkan menurut sebagian ulama…antum sudah berzina, tapi berzina yang tidak sempurna.“   
         Hening sejenak. Hamdi tidak berani menatap Arwan yang semakin serius. Kata-kata Arwan itu sangat menusuk hatinya. Namun di sisi lain ia sangat berterima kasih pada Arwan. Hatinya yang terdalam mengatakan, semua yang dikatakan Arwan itu benar belaka. Semua yang disampaikan Arwan itu memang sesuai dengan kenyataan yang sedang dialaminya sekarang ini. Setelah hening beberapa detik, Arwan berkata, “Saya sangat berharap, semoga antum bisa mengerti, bisa menghayati semua yang saya sampaikan ini. …Antum bisa mengerti, Mas Hamdi?”
         Hamdi yang masih terus menundukkan muka, menyahut lemah, “Iya Ustadz…saya  mengerti. …Saya mengerti..dan berusaha menghayati.”     
         Arwan tersenyum. “Alhamdulillaah, saya senang dan lega sekali. …Tapi saya juga minta maaf kalau ada omongan saya yang menyinggung hati antum.”
         Hamdi tersenyum. “Tidak ada yang tersinggung dengan nasehat Ustadz, kecuali orang-orang jahil..orang-orang yang tidak mau bertobat.”
         Hening beberapa detik, setelah itu Arwan bertanya, “Terus apa langkah antum selanjutnya?”
         Hamdi menarik nafas sambil memejamkan mata. Setelah itu ia menyahut, “Saya akan menikahi Isma.”
         “Antum serius?” Tanya Arwan yang sudah tidak terkejut. Hamdi mengangguk mantap.
         “Antum sudah yakin dengan sepenuh hati?”
         “Insya Allah, akan saya mantapkan dengan sholat Istikharoh.*“    
         Arwan tersenyum gembira. “Subhanallah. Saya senang sekali mendengar keputusan antum ini. Semoga Allah merahmati antum.”
         “Amin. Syukron katsiiron (terima kasih banyak)  Ustadz.”   
         Arwan juga mengagumi ketegaran Hamdi ketika menolak ajakan Isma untuk bermaksiat besar. Padahal kalau mau, Hamdi bisa melakukan itu, toh waktu itu ia mendapat kesempatan emas untuk melampiaskan hasratnya yang sudah cukup lama menggebu. Dan yang paling membuat Arwan kagum, Hamdi menolak ajakan Isma itu karena ia teringat dengan salah satu dari tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan di hari yang amat dahsyat. Hari yang tidak ada perlindungan lagi, kecuali perlindungan dari Allah SWT.

         Catatan kaki: *Secara umum, Istikharoh itu sholat sunnah yang dikerjakan  seorang Muslim atau Muslimah untuk menentukan pilihannya masing-masing. Namun menurut pengertian yang lebih tepat, Istikharoh itu sholat sunnah yang dikerjakan untuk memantapkan hati dalam menentukan pilihannya.
                               
         Setelah merasa cukup berbincang dan saling tukar pikiran, Hamdi dan Arwan berpelukan erat. Arwan berkata, “Ruangan ini selalu terbuka untuk Mas Hamdi.  Silahkan datang kapan pun. Insya Allah, selama saya masih mampu, saya siap membantu Mas Hamdi.”
         Alhamdulillaah...” sahut Hamdi tersenyum bahagia. “Saya benar-benar bersyukur, bisa punya kenalan ustadz sebaik antum.” 
         Sekarang beralih ke rumah Sujar. Ketika Dina baru selesai membersihkan dapur, Hand Phone-nya berbunyi, tanda ada SMS masuk. Gadis manis ini langsung menghampiri HP-nya yang ia taruh di dekat mesin cuci. Begitu selesai membaca SMS singkat itu, Dina tersenyum bahagia. Ia langsung menghampiri Retno yang duduk menghadap meja makan, lalu berkata, “Mah, Mas Hamdi baru saja SMS aku.”
         “Apa isinya!?” Tanya Retno tersentak gembira. Dina tersenyum manis, “Insya Allah, besok pagi dia sudah pulang.”
         “Betulkah!? …Ooh (memejamkan mata sambil mengelus dada). Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamin. …Trima kasih banyak ya Allah. Akhirnya Engkau kabulkan doaku (mata mulai berkaca-kaca). …Mudah-mudahan, saat dia pulang besok, hatinya sudah Engkau isi dengan hidayahMu. Amin.”   
         Sore yang cerah ini benar-benar secerah hati Retno, Dina, Sujar, dan trio Al-Furqan. Menurut Gatot, Ustadz Aris dan Ustadz Arwan, sekarang Hamdi jadi agak kurus. Siapapun yang melihat Hamdi sekarang, pasti akan pangling. Besok paginya, sekitar jam sembilan, Hamdi diantar Gatot dengan motor bebek Suzuki-nya. Hamdi sengaja tidak ingin diturunkan di depan rumahnya persis. Ia minta diturunkan di tempat yang masih agak jauh dari rumahnya. Beberapa langkah kemudian, Hamdi yang membawa tas besar yang ia cangklongkan di bahu kanannya, tiba di rumah.
         Retno yang duduk di ruang tamu, sudah melihat Hamdi saat ia berjalan di depan masjid. Hamdi masuk lewat garasi. Begitu masuk, Trio Al-Furqan langsung menyambutnya. Hamdi memeluk mereka satu persatu. Sungguh tak terlukiskan rasa rindu Nurman, Andi dan Rian terhadap imam mereka yang sudah cukup lama menghilang. Setelah berpelukan dengan tiga pemuda ini, Hamdi melihat seorang gadis manis berjilbab yang berdiri sekitar 2,5 meter di belakang Trio Al-Furqan. Gadis itu tersenyum manis. Ia melihat Hamdi yang wajahnya tampak kusut, demikian pula dengan kemeja lengan panjangnya yang terlihat kotor.
         Alangkah ibanya Dina melihat kondisi Hamdi yang tidak karuan. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Hamdi membalas senyum manis itu, lalu ia dekati adiknya sambil menjulurkan tangan kanannya. Dina menyambut tangan besar itu dengan kedua tangannya, lalu ia cium tangan sang kakak dengan dahi dan hidungnya. Dengan suara terbata-bata, Dina berkata, “Mas benar-benar jadi lebih langsing.”
         Hamdi tersenyum, kemudian masuk ke ruang tamu. Ia hampiri sang bunda yang sudah menantinya sejak tadi. Retno tersenyum, lalu menjulurkan tangan kanannya ke putra sulung yang tampak awut-awutan. Hamdi menyambut tangan Retno dengan kedua tangannya, lalu ia cium tangan sang bunda dengan dahi dan hidungnya. Besok nya, Hamdi sudah sholat lagi di masjid. Hamdi merasa asing dengan Al-Furqan yang sudah hampir setahun ia tinggalkan. Alangkah bahagianya Retno dan Sujar melihat Hamdi sudah mau sholat jamaah lagi di masjid. Walaupun belum menjadi imam lagi, setidaknya Hamdi sudah mau menjamah masjid lagi. Kehadirannya langsung disambut gembira oleh semua jama’ah Al-Furqan.
         Alangkah bahagia dan panglingnya para jama’ah Al-Furqan melihat Hamdi menjadi agak kurus. Pengembaraannya selama sebulan ini benar-benar membuat dirinya berubah agak banyak. Di sisi lain, badan Hamdi yang menjadi agak kurus itu mendapat banyak pujian. Banyak yang mengatakan Hamdi tambah keren atau tambah gagah. Selain itu, Hamdi juga terlihat semakin matang, semakin dewasa, dan semakin sabar. Begitulah komentar semua orang terhadap Hamdi sekarang. Hamdi sendiri hanya menjadikan komentar-komentar itu sebagai motivasi kuat untuk menjadi lebih baik, juga untuk kembali rajin beribadah seperti dulu.
         Beberapa minggu kemudian, ketika orang-orang pada sholat jama’ah lima waktu di masjid Al-Furqan, mereka melihat Hamdi sudah menjadi imam lagi. Tentu saja hal itu membuat kabut kedamain kembali memayungi seluruh perum. Bumi Indah. Ulah yang dibuat Hamdi beberapa waktu yang lalu, yang membuat nama baik ortunya nyaris hancur, seolah sudah ia tutup semuanya dengan kesediaannya untuk kembali mengerjakan sholat jama’ah di masjid Al-Furqan.
         Beberapa waktu kemudian, Hamdi benar-benar sudah kembali menjadi imam tetap masjid Al-Furqan, jantungnya komplek Bumi Indah. Komentar-komentar positif pun bermunculan. Semua jama’ah Al-Furqan mengatakan: “Hamdi is Back. Mas Hamdi Rusmanto telah kembali dari perantauannya yang cukup lama. Imam masjid kita yang sudah cukup lama menghilang, kini sudah kembali dengan keadaan yang Insya Allah lebih baik. Beliau benar-benar kembali untuk kita.”
         Sedikit demi sedikit, nama baik Hamdi Rusmanto kembali terdengar ke seluruh pelosok Bumi Indah.  Para wanita yang mulutnya ganas, yang hobinya menggunjing dan mengorek kejelekan keluarga orang, jelas tidak bisa berburuk sangka lagi pada keluarganya Hamdi Rusmanto. Alangkah bahagianya Hamdi yang telah berhasil mengembalikan nama baik diri dan keluarganya, terutama nama baik kedua ortunya yang terhormat. Hal ini jelas menjadi kenikmatan tersendiri bagi seorang anak yang benar-benar ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya.

                                                  * * * * *

         Pagi yang cerah menghampiri bumi pertiwi. Di sebuah hutan kecil yang berada di bebukitan, tampaklah seorang lelaki yang berjalan tertatih-tatih sambil meringis. Ia memakai topi hijau muda. Baju merah tuanya terlihat kotor. Tampaknya ia sedang menahan rasa sakit di salah satu bagian tubuhnya. Yah, siapa lagi dia kalau Hartoyo. Ia tampak sangat menderita. Luka di bahu dan dada kirinya masih terasa sangat menggigit. Dengan nafas terputus-putus, Hartoyo berkata lirih,
         “Aku tidak boleh mati dulu. Hah, hah…tidak boleh. …Sebelum menginjak-injak  hidung pesek itu, aku tidak boleh mati! Tidak boleh!”
         Hening sebentar, lalu menatap atas, “Ya Tuhan..berilah aku sedikit kekuatan, agar aku bisa membalas perlakuan Arab busuk itu. …Setelah itu, Engkau boleh mencabut nyawaku. …Setelah menginjak-injak kepalanya, aku akan mati dengan lega.”
         Dengan nasib yang sudah di ujung tanduk, Toyo masih memiliki keinginan besar. Menghancurkan musuh bebuyutannya, juga musuh bebuyutan kakaknya. Kini ia terus berjalan menerobos semak belukar, sampai akhirnya tiba di jalan raya. Dengan langkah gontai, Toyo menginjakkan kakinya di aspal. Tanpa sepengetahuan Toyo yang loyo, dari sebelah baratnya, atau dari sebelah kirinya, berjalan sebuah mobil Chevrolet Luv yang dikendarai empat pemuda. Mobil besar itu melaju dengan kecepatan tinggi.
         Dua lelaki yang sedang ngarit di rerumputan yang jaraknya dengan Toyo terpaut sekitar 10 meter, berteriak, “Awas Maass!!!” Toyo yang seperti orang mabuk, menoleh ke kiri, dan…DHIES!!! Terdengar suara yang sangat keras sekali. Suara yang sanggup membelah batu menjadi beberapa bagian. Tubuh Toyo terpental sekitar tiga meter. Pemuda yang mengendarai mobil terkejut sekali. Jarak mobilnya dengan tubuh Toyo terpaut sekitar tujuh meter. Ia ingin keluar dari mobilnya, dan mencoba menolong Toyo yang terkapar di aspal, namun ketiga temannya yang ketakutan itu mencegahnya, dan memintanya untuk kabur saja. Pemuda yang duduk di sampingnya berkata, “Kamu tidak salah Yon. kamu tidak sengaja!”
         “Tapi Wan..”
         “Sudah! Sekarang kita cabut! Mumpung di sini baru ada dua orang itu (menunjuk dua pria yang ngarit)! Nanti kalau datang sepuluh orang lagi, kita bisa dikeroyok!”
         “Betul Yon!” sambung temannya yang duduk di belakangnya. “Aku belum mau mati! Apalagi mati konyol!”
         Hening beberapa detik. Yon yang sebenarnya ingin bertanggung jawab itu masih terus menatap tubuh Toyo yang sekarang ditolong oleh dua pria pencabut rumput. Melihat Yon masih bengong, Wandi membentaknya, “Tunggu apalagi Yon!!? Ayo kita kabur! Cepat!!”
         “Kamu ini goblog atau tolol sih Yon!!?” bentak temannya yang keriting. “Apa kamu mau mobilmu ini diremukkan orang-orang kampung sini!? Haa!!? Ayo cepat jalan!!”
         Karena tidak ingin mati muda, akhirnya Yon mau melakukan keinginan semua temannya. Salah satu dari dua pria yang kini menolong Toyo, mengejar mobil Yon yang sudah berjalan pelan. Ketika mobil Luv itu meningkatkan kecepatannya, pria kekar berusia 40 tahunan itu juga meningkatkan kecepatan larinya. Sambil mengacungkan clurit, ia berteriak lantang, “Hoi pengecut! Jangan lari dulu! Kalian harus tanggung jawab!! Heiii!! Keparaaat!!!”
        Teriakannya hanya menerpa angin. Mobil yang ditunggangi empat anak muda nakal itu sudah hampir hilang dari pandangannya. Setelah bengong beberapa detik, ia kembali ke temannya yang sedang memangku Toyo yang keadaannya amat sangat mengenaskan. Toyo benar-benar seperti kecoak yang dipukul sapu lidi. Darah segar mengalir dari mulut, hidung dan dahinya. Lelaki yang memangkunya berkata,
         “Istighfar Mas, istighfar! Sebut asma Allah, apa saja! Cepat Mas!”
         Toyo yang sakratul maut, berkata lemah, “As…astagh..uuuhh!! …Al..Allaa..”
         “Allahu Akbar! Iya Mas, terus Mas! terus sebut asmaNya!”
         Beberapa detik kemudian Toyo tidak dapat bicara lagi. Nafasnya tersengal-sengal. Kedua matanya nyaris tertutup rapat. Mata pria yang memangkunya berkaca-kaca. Sambil memegang tangan kanan Toyo, ia bertanya lembut, “Siapa namamu Mas? Dari mana asalmu?”
         “Iya Mas,” sambung temannya. “Kok kamu bisa tiba-tiba muncul di hutan ini?”
         Hening sejenak. Toyo yang masih memiliki secuil tenaga, hanya bisa menyebutkan namanya, itupun nyaris tidak bisa didengar. Setelah mengetahui namanya, dua pria yang sudah menolongnya itu juga menyebutkan nama mereka. Yang sedang memangku Toyo namanya Yatno, sedangkan temannya yang tadi mengejar mobil Yon namanya Wardi. Setelah saling memperkenalkan diri, bibir Toyo yang penuh darah itu tersenyum lega. Sesaat kemudian terjadilah keajaiban. Toyo yang tadi sudah tidak bisa bicara sepatah kata pun, kini bicara dengan lebih lancar, walaupun suaranya terputus-putus. Adik kandung Kasman ini berkata,                      
         “Semoga..Allah…berkenan…mengampuni…dosa-dosaku…yang selangit. …..Semoga…Allah…berkenan…membalas…kebaikan…Pak Yatno..dan Pak Wardi. ….Semoga…di akhirat nanti…kita bisa…ketemu lagi. Amin. … Aaahh!!!”
         Kedua mata Toyo melotot, setelah itu tertutup, tertutup untuk selamanya. Kepergian Toyo itu sangat menusuk hati Yatno dan Wardi. Sambil mengguncangkan tubuh Toyo yang sudah tidak bernyawa, Yatno berseru; “Mas! Mas Toyoo!! Mas Toyooo!!!”
         “Dia sudah meninggal Yat,” ujar Wardi yang juga sedih bukan main. Sesaat kemudian, dua pria baik hati ini mengucap, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kita semua milik Allah, dan kepadaNya kita semua akan kembali kelak.”
         Besok paginya, berita kematian Hartoyo ini dimuat di KOMPAS, KR, dan beberapa surat kabar lainnya. Di surat kabar diberitakan, Hartoyo, seorang lelaki berusia 33 tahun, meninggal dunia di dekat hutan kecil yang berada di desa Sembungan, Kulon Progo. Toyo, nama panggilan Hartoyo, meninggal karena tertabrak mobil Chevrolet Luv. Peristiwa tragis itu terjadi di tempat yang sudah cukup dekat dengan sungai Progo. Menurut Wardi (42 tahun), dan Yatno (40 tahun), dua saksi mata satu-satunya, pemuda pengendara mobil Luv yang menabrak Toyo itu kemungkinan besar sedang mabuk, sehingga ia tidak berhati-hati dalam mengemudikan mobilnya. Sudah begitu, Toyo sendiri juga tidak melihat keadaan jalan. Saat mau menginjak aspal, Toyo tidak melihat kanan-kiri, sampai akhirnya ada mobil besar yang menabraknya dengan sangat keras.
         Yatno menjelaskan, keadaan jalan raya saat itu memang masih sepi. Di pagi yang cerah itu, Yatno dan Wardi yang baru mencari makanan untuk hewan ternak piaraan mereka, hanya melihat mobil Luv biru itu. Mobil itulah satu-satunya kendaraan yang sudah lewat di jalan tersebut. Yatno juga menjelaskan, sebelum tertabrak mobil yang pengendaranya serampangan, Toyo sudah terluka parah. Hal itu terlihat dari cara berjalannya yang sempoyongan, juga darah yang membasahi bahu dan dada kirinya. Walaupun darah itu sudah mengering, Yatno yang saat itu memeluk Toyo, tetap bisa melihat bekas luka tersebut.
         Dengan demikian, sebelum akhirnya dijemput maut, Toyo sudah mengalami sesuatu yang buruk, sesuatu yang membuat bahu dan dada kirinya terluka parah. Entah apa sesuatu itu, hanya Tuhan dan Toyo sendiri yang tahu. Yatno menyampaikan semua ini dengan tenang dan tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajah dan cara bicaranya. Semua keterangannya semakin dipercaya setelah dokter menemukan dua buah peluru di dada kiri Toyo. Walaupun tidak sampai mengenai jantung, dua peluru itu sudah cukup dalam menusuk dada kiri Toyo bagian belakang. Hal itulah yang membuat bahu kiri Toyo seperti lumpuh.
         Demikianlah keterangan yang disampaikan Yatno dan Wardi, dua saksi mata yang melihat langsung peristiwa tragis itu. Sekarang jasad Hartoyo masih disimpan di kamar mayat rumah sakit Kulon Progo. Bagi siapapun yang masih memiliki hubungan family dengan Toyo, bisa mengambil jenazahnya, agar bisa dimakamkan dengan layak. Berita heboh ini sudah sampai di mana-mana, termasuk di telinga dan mata Iskandar. Walaupun Toyo itu musuh bebuyutannya, berita kematiannya yang mengerikan itu tetap mengejutkannya. Di satu sisi Kandar merasa lega, namun di sisi lain ia semakin cemas.
         Kandar yang sekarang ini sudah mencoba berdamai dengan Isma, bergumam, “Akhirnya pergi juga ancamanku yang paling berbahaya dalam hidupku. He he. …..Tapi dia benar-benar kuat. …Setelah ditembak Karno, dia masih bisa bertahan selama empat hari. Bahkan kalau dia terpelihara…dia bisa sembuh total.”
         Hening sejenak, lalu bergumam lagi, “Untuk saat ini…hanya satu yang paling harus kuwaspadai. …KASMAN. …Keparat itu pasti akan membalas kematian adiknya. Huhh! benar-benar mengerikan. Sekarang dia sudah jadi monster yang sangat sulit ditaklukkan..apalagi dibunuh. …Sebentar lagi monster itu pasti ngamuk. Sebentar lagi dia pasti melabrakku, juga semua temanku yang sudah menghancurkan markas dan semua anak buahnya.”
         “Wah, wah…ini benar-benar ancaman besar. …Tapi Insya Allah, sekarang aku sudah lebih tenang, lebih memiliki kekuatan batin. Sekarang aku sudah punya Allah SWT..tempat bersandar paling aman. Dari dulu aku punya Allah…tapi sekarang aku merasa lebih mantap, lebih dekat dengan Allah. …Untuk sekarang ini,  keyakinanku terhadap Allah semakin tebal, semakin nyata. Subhanallah.  Yah, mudah-mudahan semua ini karena sekarang aku sudah berusaha bertobat, berusaha menjadi seorang Muslim yang baik, yang taat pada perintah agama. …Dan yang paling penting…sekarang aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untuk Isma, permata hatiku, hartaku yang paling berharga di dunia fana ini.” 
         Lantas bagaimana dengan Kasman yang baru saja menyelesaikan semedinya? Setelah mengambil jasad Hartoyo di rumah sakit Kulon Progo, Kasman memakamkan jasad adiknya dengan layak. Toyo di makamkan di Prambanan, tempat kelahirannya. Kini Kasman sedang menatap foto Toyo. Kedua tangannya bergetar keras. Beberapa detik kemudian, ia taruh foto adiknya di meja, kemudian ia melangkah ke kaca. Ia melihat wajahnya yang lebih mengerikan dari beruang mengamuk. Apalagi sekarang ini, di mana hatinya sedang dikuasai dendam kesumat yang semakin menggelora.
         Bibirnya cengar-cengir, kedua matanya melotot bulat seperti telur. Dengan tubuh bergetar keras karena menahan amarah yang sudah meluap, Kasman berseru, “Kandar bajingan! Sebentar lagi kamu akan menderita. Menderita untuk selamanya! …Deritamu akan kubuat lima kali lebih menyakitkan dari deritaku ini!   ...Kamu tidak akan bisa berbahagia lagi sama Isma-mu. Hah ha haa! lihat saja besok. Lihat saja apa yang akan menimpa Isma-mu. …Sekarang aku tidak main-main lagi! Sekarang aku SERIUS (meninju kaca dengan tangan kirinya)!!”
         Hening sejenak, setelah itu Kasman melotot sambil berteriak sepenuh tenaganya, “Dengarkan janjiku ini, bedebaah!! DENGARKAAAN!!!”

                                                 * * * * *

         Pagi itu, sekitar pukul delapan, Hamdi disuruh ibunya belanja di warung yang jaraknya dengan rumahnya terpaut sekitar 80 meter. Hamdi meminjam sepeda balap  Andi. Begitu sampai di warung, Hamdi melihat pemandangan luar biasa. Ia melihat Isma yang sedang membayar belanjaannya. Bidadari hatinya itu juga meliriknya. Namun sedetik kemudian Isma langsung memalingkan mukanya, kemudian meninggalkan warung dengan langkah pelan. Hamdi yang sedang belanja, menatap Isma yang wajahnya terlihat sedih dan takut. Pagi ini Isma memakai baju serba putih. Baju lengan pendek putih dan rok panjang yang juga putih. Rambutnya yang lebat dibiarkan terurai.
         Sesaat kemudian Hamdi terkejut, terkejut karena gembira. Ia melihat Isma menghentikan langkahnya. Perempuan itu seperti menunggunya, lalu ingin mengajaknya bicara. Ya tentu saja. Dua insan muda yang pernah berhubungan intim ini sudah pada rindu. Maklum saja, sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Dan pagi ini mereka ingin mengetahui kabar diri masing-masing. Hamdi yang sudah selesai belanja, langsung mendekati Isma sambil menuntun sepedanya. Setelah berdiri dua meter di belakang Isma, Hamdi berkata lembut, “Isma…”
         Isma diam saja. Hamdi kembali menyapa lembut, “Apa kabarmu? …Kamu sehat-sehat kan?”
         Isma yang ketakutan, perlahan-lahan menoleh ke belakang. Ditatapnya Hamdi dengan wajah sayu. Hamdi tersenyum, lalu berkata lagi, “Apa kabarmu, Isma? …Kamu sehat-sehat kan?”
         Isma mengangguk. “Seperti yang Mas lihat.”
         Hamdi tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.”
         Hening beberapa detik, setelah itu Isma bertanya, “Kapan Mas pulang?”
         “Sudah dua setengah bulan yang lalu.”
         “Ke mana saja Mas kemarin?”
         Hamdi tersenyum. Setelah mengatur nafas, Hamdi menyahut, “Berkelana. Mencari bekal dan hikmah. ..Hikmah untuk bisa kembali ke jalan yang lurus.”
         “Dan Mas sudah mendapat semua itu kan?”
         Insya Allah..” sahut Hamdi mengangguk seraya tersenyum. Isma yang sejak tadi belum tersenyum, ikut mengangguk. Hening sejenak. Hamdi melihat Isma seperti menyimpan kesedihan yang mendalam. Hamdi bisa melihat kesedihan itu di kedua mata Isma. Walaupun kedua mata indahnya tertutup kaca mata, Hamdi tetap bisa melihat kesedihannya dengan cinta kasih yang masih bercokol kuat di hatinya. Ia berkata, “Biasanya kamu selalu murah senyum. …Tapi pagi ini kamu kelihatan sedih sekali. …Kamu kenapa (mendekati Isma)? lagi ada masalah besar?”
         Isma melangkah mundur sambil menggelengkan kepala. “Tidak Mas…jangan dekati aku lagi. Kumohon..”
         Hamdi tersentak. Isma melanjutkan, “Kita tidak boleh ketemu-ketemu lagi. Kita tidak boleh berhubungan lagi. Hubungan kita cukup sampai di sini.”
         Hening sejenak. Hamdi yang tetap terlihat tenang, berkata lembut, “Aku tahu. …Tapi pagi ini aku mau menyampaikan kebaikan. Dan kebetulan sekali, kita bisa langsung ketemu. …Percayalah…pagi ini aku mau menyampaikan kebaikan.”
         “Kebaikan?”
         Hamdi mengangguk. “Kebaikan untuk hubungan kita.”
         Isma tersentak. “Kebaikan untuk hubungan kita!?”
         Hamdi mengangguk seraya tersenyum. Isma yang kebingungan, bertanya, “Apa maksudmu!?”
         Hamdi tersenyum. “Aku ingin memperbaiki hubungan gelap kita. …Aku ingin meresmikan hubungan kita selama tujuh bulan ini.”
         Isma semakin tersentak. Hamdi yang tetap tenang, melanjutkan, “Aku sudah konsultasi sama Ustadz Aris, Ustadz Arwan, Ustadz Ilham…dan terutama orang tuaku. …Alhamdulillah, mereka mendukung keputusanku ini. …Isma, aku ingin melamarmu.”
         “Melamarku!?” sahut Isma melotot. Hamdi mengangguk sambil tersenyum. Isma yang seperti disengat listrik bertegangan tinggi, bicara lagi, “Kamu…mau melamarku!? ...Kamu…mau menikahi aku!?…iya Mas!?”
         “Iya Manis,” sahut Hamdi tersenyum bahagia. “Aku serius. …Insya Allah, inilah hasil dari Istikharoh-ku.”
         Hening sebentar. Isma benar-benar tidak percaya dengan semua yang didengarnya. Ia semakin sedih dan takut. Setelah pada bengong, Hamdi bicara lagi, “Mungkin kamu butuh waktu untuk memikirkan lamaranku ini. …Kalau kamu mau menerima lamaranku, berarti Pak Kandar harus segera menceraikan kamu. …Tapi kalau kamu tidak mau…kalau kamu tetap ingin mempertahankan rumah tanggamu…ya sudah, tidak apa-apa. Semua itu hakmu.“ 
         Diam beberapa detik, lalu bicara lagi. “Perlu kamu ketahui. Selama aku minggat kemarin, aku selalu memohon pada Allah. Aku selalu memohon…jika kamu memang jodohku di dunia ini, aku tidak usah bersusah payah mengejarmu. Toh suatu saat nanti kamu bisa kupeluk untuk selamanya. …Jika Allah hanya menghendaki kamu jadi milikku di akhirat nanti, berarti aku harus sabar. Dan hanya Allah yang bisa memberiku kesabaran. …Tapi kalau Allah tidak menghendaki kamu jadi milikku, baik di dunia maupun di akhirat nanti…aku hanya bisa berdoa. Mudah-mudahan, hubunganmu dengan suamimu bisa baik, bahkan bisa langgeng.”
         Hening beberapa detik. Isma memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Setelah itu ia berkata lembut, “Insya Allah, doamu sudah terkabul Mas. Doamu yang terakhir tadi.”
         Hamdi tersentak, “Doaku yang terakhir!?”
         Isma mengangguk. “Urungkan saja niatmu untuk melamarku.”
         “Maksudmu!?”
         Isma mengatur nafasnya, lalu berkata, “Alhamdulillah, hubunganku sama Mas Kandar sudah semakin baik…sebagaimana doamu yang terakhir tadi. …Semalam..Mas Kandar menangis seperti anak kecil. …Semalam…Mas Kandar berlutut di hadapanku. …Mas Kandar memeluk kedua kakiku..bahkan mencium telapak kakiku.”
         Isma bercerita. Semalam Kandar benar-benar menyesali perbuatan buruknya selama ini. Kandar tidak ingin menceraikan Isma. Itu karena Kandar masih mencintai Isma, dan akan selalu mencintai Isma. Kandar berjanji pada Isma, jika Isma mau memberinya kesempatan sekali lagi, ia benar-benar akan berusaha menjadi suami yang baik. Kandar juga mengingatkan kebaikannya pada Isma dulu, di mana saat itu Isma nyaris tidak bisa melanjutkan studinya di Kedokteran Gigi UGM. Isma yang saat itu sudah tidak punya uang, benar-benar nyaris putus sekolah. Namun berkat bantuan Kandar yang kaya raya, akhirnya Isma bisa menjadi dokter gigi.
         Mengingat jasa Kandar yang luar biasa itu, Isma jelas tidak bisa memandangnya sebelah mata. Isma yang berhati lembut, jelas sangat tersentuh untuk menjaga dan membalas kebaikan Kandar tersebut. Dan salah satu cara terbaik untuk membalas kebaikan Kandar itu Isma harus mau menjadi pendamping hidup Kandar untuk selamanya. Isma mengatakan, perceraian itu sesuatu yang halal namun dibenci Allah. Karena itu, Isma tidak ingin ikatan sucinya dengan Kandar hancur hanya karena hubungan gelapnya dengan lelaki asing, walaupun lelaki asing itu lelaki idamannya selama ini.    
         “Tapi kamu tidak mencintainya,” tutur Hamdi kecewa. Isma mengangguk. “Memang. …Tapi aku akan berusaha mencintainya. Aku akan belajar mencintainya. …Kata Ustadzah Aminah..daripada kami cerai, lebih baik aku belajar mengorbankan perasaanku sendiri. …Aku tahu ini sangat berat. Tapi Insya Allah (memejamkan mata), dengan kesabaran, suatu saat nanti aku pasti bisa bahagia. …Mungkin pada awalnya, aku hanya pura-pura mencintai Mas Kandar, sebagaimana yang sudah kulakukan sekarang ini. …Tapi suatu saat nanti…seiring dengan bertambahnya waktu…aku pasti bisa mencintai Mas Kandar dengan sungguh-sungguh. Aku pasti bisa mencintai Mas Kandar, sebagaimana aku mencintai lelaki idamanku selama ini.”
         Hening sejenak. Isma menatap Hamdi yang kecewa, lalu berkata lembut, “Mas Hamdi Rusmanto yang sangat kuhormati..sekarang anda sudah tahu isi hatiku. Karena itu, kuburlah dalam-dalam niatmu untuk memperistri aku. …Lelaki sebaik Mas Hamdi, pasti bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari Isma. …Aku yakin..Mas Hamdi pasti bisa mendapatkan perempuan cantik, pintar, sholehah, dan masih perawan.”
         Hening sejenak. Sebenarnya Isma merasa iba melihat Hamdi yang bengong. Semua yang dikatakannya itu benar-benar menyakitkan hati Hamdi. Namun mau bagaimana lagi? Apapun resikonya, Isma sudah bulat untuk menyampaikan kebenaran. Isma berkata lagi, “Mas Hamdi yang sangat kuhormati…sekali lagi kukatakan. …Dengan sangat berat hati, aku tolak pinanganmu.”
         Hening sejenak. Dengan mata berkaca-kaca Isma berkata, “Dengan sangat berat hati…aku tidak bisa jadi istrimu. Aku tidak bisa jadi mantunya Pak-Bu Hasan Sujardi yang terhormat. “
         Hening lagi sejenak. Isma mengusap air matanya yang membasahi pipi. Hamdi mendekatinya sambil berkata, “Isma..”
         Isma melangkah mundur seraya menggelengkan kepala. “Sudah cukup Mas. kita tidak boleh berduaan lagi. Nanti kita dibicarakan orang. Nanti nama baik kita jadi jelek lagi. Aku permisi dulu Mas. Makasih untuk segalanya.”
         Ketika Isma hendak melangkah pulang, Hamdi berkata, “Kamu membohongi hatimu sendiri, Isma.”
         Kata-kata itu membuat Isma tersentak. Langkahnya langsung terhenti. Hamdi melanjutkan, “Aku bisa merasakan. …Sebenarnya kamu juga kangen aku kan?”
         Isma diam saja. Hatinya yang terdalam membenarkan ucapan Hamdi itu. Hamdi bicara lagi, “Tapi tidak apa-apa, kalau kamu benar-benar tidak mau jadi teman hidupku. …Berarti kita memang bukan jodoh. …Aku hanya bisa berdoa…mudah-mudahan, kamu benar-benar sudah mantap dengan keputusanmu itu. …Mudah-mudahan, Allah memang sudah memberimu pilihan hidup yang terbaik. Amin.”
         Hening sesaat. Hamdi yang sekarang sudah alim lagi, terlihat tegar dalam menghadapi kekecewaannya. Ia berkata lembut, “Terima kasih banyak atas kebaikanmu selama ini. Terima kasih banyak atas kesediaanmu menjadi tambatan hatiku, juga teman curhatku selama tujuh bulan. …Dan yang terakhir…terima kasih banyak untuk kue-kue bolumu yang tidak ada duanya.”
         Setelah berkata begitu, Hamdi meninggalkan Isma dengan langkah slow. Isma langsung membalikkan tubuhnya. Dengan kedua mata berkaca-kaca, Isma menatap Hamdi yang menuntun sepedanya. Setelah Hamdi lenyap dari hadapannya, air matanya  membasahi kedua pipinya. Ia berkata, “Mas Hamdi…maafkan aku ya? Hik, hik. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti kamu. Hik, hik. Walaupun aku masih mencintaimu, sekarang ini aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita. …Mas Hamdi…makasih banyak untuk cintamu selama tujuh kemarin. Aku takkan pernah melupakannya.”     
         Beberapa hari kemudian, Isma sholat Shubuh berjama’ah di Al-Furqan. Seusai sholat, Isma yang duduk di pojok utara, melirik sang imam yang mengenakan kopiah hitam dan baju koko biru tua. Biar tidak ketahuan, Isma menunduk sambil menutup mukanya dengan mukena. Ketika Hamdi melangkah keluar masjid, Isma masih terus meliriknya. Besok sorenya, Isma melewati lapangan Bumi Indah dengan motor bebeknya. Lapangan itu tampak ramai. Isma melihat orang-orang pada bermain bola. Kebanyakan dari mereka anak muda atau mahasiswa. Hanya satu-dua orang yang usianya sudah tiga puluhan.
         Isma yang berjalan pelan, melihat seorang lelaki dewasa berdada bidang. Lelaki itu kelihatan paling tua dari semuanya. Ia ikut bermain bola sambil bercanda ria, namun canda rianya terlihat yang paling santun. Jika kebanyakan anak muda yang ada di lapangan itu pada berteriak, Hamdi hanya ikut tertawa dengan suara yang tidak keras. Jika ada cewek cantik yang berjalan melewati lapangan, nyaris semua anak muda yang sedang bermain bola pada bersiul. Namun Hamdi tidak ikut melakukan itu. Ia hanya tersenyum, setelah itu langsung mengalihkan pandangannya.
         Isma yang kini berhenti di tepi lapangan, terus melirik Hamdi yang sedang menggiring bola. Kebetulan Isma memakai helm ciduk dan cadar yang cukup rapat, sehingga tidak ada yang mengenal dirinya. Walaupun Isma sudah bertekad melupakan Hamdi untuk selamanya, kedua matanya masih saja mencuri pandang. Kedua mata indahnya masih terus mencari kesempatan untuk memandang lelaki pujaan hatinya. Setelah puas memandang Hamdi, Isma langsung pulang. Begitu sampai di rumah, Isma langsung masuk ke kamar, kemudian menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Sedetik kemudian Isma menangis sesenggukan.
         “Mas Hamdi…hik, hik. …Sebenarnya aku juga kangen kamu Mas. Hik, hik. …Memang benar apa yang kamu katakan kemarin. …Aku hanya menipu diriku sendiri. …Hanya perempuan tolol yang tidak mau menerima lamaranmu. Hik, hik. …Sekarang aku benar-benar sadar. Cinta kasih di antara kita sudah sangat kuat..jadi tidak mungkin aku bisa melupakan kamu dengan mudah. Tidak mungkin!”
         Beberapa hari kemudian, Hamdi mendapat SMS dari Isma. Isinya, Hamdi masih memiliki kesempatan untuk menikahi Isma, dengan syarat, Kandar berkenan menceraikan Isma. Segala keputusan ada di tangan Kandar. Jika Kandar tidak mau menceraikan Isma, mau tidak mau Hamdi harus mengubur dalam-dalam hasratnya untuk memperistri Isma. Begitulah inti SMS singkat itu. Tentu saja Hamdi tersentak gembira. Cahaya harapan yang tadi nyaris redup, kini mulai bersinar lagi.
         Hamdi langsung mengutarakan keinginannya pada Retno, Sujar, dan sang ibu kedua, Endah Martini. Ia ingin agar Retno dan Sujar melamar Isma secepatnya. Setelah berunding masak-masak, Sujar akan melamar Isma seminggu lagi. Sujar dan Retno akan mendatangi rumah Kandar bersama Endah, Ustadz Aris dan Ustadz Arwan. Seminggu kemudian, di mana saat yang mendebarkan itu tiba, Sujar mendatangi rumah Iskandar dengan beramai-ramai, sebagaimana yang sudah menjadi niatnya kemarin. Kandar menyambut rombongan Sujar dengan hangat.
         Sesaat kemudian Kandar dan Isma menjamu Sujar cs di ruang tamu. Ruangan yang tidak besar namun mewah itu sesak dengan orang. Kandar menjamu Sujar, Retno, Endah, Harno, adik sepupu Hamdi, Gatot, ponakan Hamdi, duo Al-Furqan, Nurman dan Andi, Ustadz Aris dan Ustadz Arwan. Setelah basa-basi untuk pembukaan, Sujar dan Retno langsung ke inti perkara. Mereka berusaha menyampaikan keinginan mereka dengan sehalus-halusnya. Kandar yang sudah tahu tujuan utama mereka berkunjung ke rumahnya, juga menanggapinya dengan sehalus mungkin. Isma yang duduk di samping kiri Kandar, hanya bisa berharap-harap cemas. Wajah ayunya terlihat tidak karuan. Sedih tapi bahagia, bahagia tapi sedih.
         Sekarang kita tengok Hamdi yang sedang berada di sebuah ladang dan sawah. Hamdi duduk di tepi ladang, menikmati pemandangan sore yang menawan. Motor Honda GL-Pronya berdiri tidak jauh dari tempat ia nongkrong. Dengan wajah cemas sekaligus penuh harap, Hamdi bergumam, “Lamaranku diterima atau ditolak ya? …Aahh. Aku sangat berharap, Kandar mau menceraikan Isma. Itu kalau dia mau mengalah, mau berbesar hati. …Kandar yang angkuh itu..yang katanya sudah berubah cukup banyak...akan berhadapan dengan Papa, Mama, Bu Endah, Ustadz Aris dan Ustadz Arwan. He he he.”           
         “Tapi kenapa jantungku bergetar keras ya? Kenapa perasaanku sejak tadi tidak enak? …Apakah ini pertanda lamaran Papa-Mama ditolak? …Apakah ini pertanda aku akan gagal menikahi Ismaku tersayang? …Sejak tadi aku selalu berusaha optimis, berusaha berpikiran positif. Tapi kenapa perasaan gagal ini terasa lebih kuat? …Apa aku terlalu percaya diri ya? Apa rasa optimisku ini terlalu tinggi  (memejamkan kedua matanya)? …Ah tidak. …Dari dulu aku tidak pernah terlalu optimis. …Rasa percaya diriku ini tidak berlebihan. Rasa percaya diriku ini masih dalam batas wajar.”
         “Aku juga tahu kok, apa dampak buruk terlalu optimis. …Kita akan kecewa berat ketika melihat sesuatu yang sangat kita inginkan itu gagal kita raih. …Tapi kalau rasa optimis kita ini tidak berlebihan..dan kita juga sudah siap gagal, Insya Allah, kita hanya akan kecewa sedikit. …Kita tidak akan sakit hati berat, apalagi   stress.”    
         Hening sejenak, lalu bergumam lagi, “Tapi, sekeras apapun usaha manusia…hanya akan menghasilkan dua hal. …Ya atau tidak, gagal atau berhasil, diterima atau ditolak, dan lain-lain. …Kalau untuk aku sekarang ini…hanya akan menunggu diterima atau ditolak. …Sejak tadi jantungku bergetar keras. Bergetar keras karena takut gagal. …Aku sudah berusaha menenangkan diri. Tapi entah kenapa…hatiku masih terasa gelisah. …Hati kecilku mengatakan…aku akan gagal.”
         Hening sesaat. Hamdi menunduk sambil menutup kedua matanya. Ia terus berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang gelisah. Sesaat kemudian hatinya berkata lagi, “Tapi sudahlah…jangan buruk sangka dulu. Sekarang sebaiknya aku berdoa saja, memohon agar diberi yang terbaik. …Apapun hasil lamaranku nanti…pokoknya kami sudah berusaha maksimal.”
         Beberapa menit kemudian HP Hamdi berbunyi. Rupanya itu telpon dari Endah. Ibu kedua Hamdi itu mengatakan, hasil lamaran Isma sudah keluar, jadi silahkan kalau sekarang Hamdi mau melihat atau mendengarnya. Tentu saja berita itu membuat jantung Hamdi bergetar keras sekali. Dengan perasaan cemas sekaligus gembira, Hamdi mendesak Endah agar mau mengatakan sekarang juga, namun sang ibu kedua menolak dengan halus. Ia berkata, “Lewat telpon kurang mantap. Sudahlah, sekarang sebaiknya kamu ke sini.”
         Hamdi mengangguk mantap, “Baiklah Bu, aku segera ke situ.”
         Beberapa menit kemudian Hamdi sudah berada di ruang tamu rumah Endah. Endah yang wajahnya terlihat murung, menatap Hamdi yang wajahnya penuh keringat dingin. Ia tatap sang putra angkat dengan wajah penuh kasih sayang. Walaupun terlihat sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak menyenangkan, Endah tetap berusaha menampakkan wajah ceria. Endah yang sudah tidak tahan melihat Hamdi tersiksa oleh rasa penasaran berat, berkata lembut, “Anakku, tabahkan hatimu ya?”        
         “Maksud ibu!?” Tanya Hamdi tersentak. Keringat dingin di wajahnya semakin banyak. Endah mengatur nafasnya, setelah itu kembali berkata lembut, “Insya Allah, sekarang kamu sudah sholeh lagi seperti dulu. …Insya Allah, setelah kamu mengembara selama sebulan kemarin, kamu jadi semakin sabar dan tegar. Betul kan anakku?”
         Hamdi yang sudah mencium gelagat buruk, mengangguk lemah,Insya Allah Bu. …Saya hanya bisa berusaha kembali ke jalanNya.”
         Endah tersenyum. “Bagus anakku..bagus sekali. …Baiklah, ini hanya basa-basi untuk pembukaan, sekaligus untuk menguji mentalmu. …Sekarang langsung ke perkara inti.”
         Kata-kata Endah itu membuat Hamdi semakin tegang. Setelah hening sejenak, Endah berkata, “Anakku sayang…lamaranmu…lamaranmu…”
         “Lamaranku diterima atau ditolak!?”
         Endah mengatur nafasnya, setelah itu melanjutkan, “Lamaranmu…DITOLAK.”
         Hamdi tersentak. Jantungnya seperti ditusuk sepuluh tombak. Walaupun sudah siap gagal, berita mengecewakan itu tetap menyakitkan hatinya. Setelah hening beberapa detik, Endah melanjutkan, “Kami sudah memohon pada Pak Kandar. Kami sudah memohon dengan sehalus-halusnya. Kami memohon agar beliau mau menceraikan Mbak Isma, agar bisa kamu nikahi. …Tapi beliau menolak permohonan kami. Alasannya karena beliau masih sayang sama Mbak Is. Beliau masih mencintai Mbak Is, dan akan selalu mencintainya sampai akhir hayatnya.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Pak Kandar sudah mengakui kesalahannya selama ini. Makanya itu, sekarang Pak Kandar ingin bertobat, ingin memperbaiki hubungannya dengan Mbak Is. …Isma juga sudah cerita ke kamu. Akhir-akhir ini hubungannya dengan suaminya sudah semakin baik. Betul kan?”
         Hamdi hanya bengong. Endah yang berhati lembut, bisa merasakan kepedihan hati putranya. Walaupun tidak sampai menangis, Endah benar-benar ikut merasakan luka batin yang mendalam. Ia berkata, “Sayangku, tegarkan hatimu ya? Aku yakin kamu bisa. …Sekarang kukatakan sejujurnya. …Sebenarnya kamu dan Isma sangat cocok. Isma juga sangat mencintaimu. Dia sangat ingin jadi istrimu. Tapi dia tetap harus menghormati keluarganya, juga keluarga suaminya. Dia harus begini, begitu, dan lain-lain.”
         Diam beberapa detik. Endah menatap Hamdi yang seperti mati rasa, namun di sisi lain Hamdi juga terlihat tegar. Hal itulah yang membuat Endah tidak begitu cemas. Endah yakin kalau Hamdi bisa mengendalikan kekecewaan di hatinya. Endah berkata, “Kalau kamu bisa tegar, bisa mengikhlaskan semua ini…Insya Allah, kamu akan mendapat ganti sebaik Isma, bahkan lebih baik. …Yakinlah itu..anakku.”
         Hamdi mengangguk. “Insya Allah Bu. …Aku akan berusaha menerima semua ini dengan lapang dada. …Insya Allah, ada kebaikan di balik semua ini.”
         Endah tersenyum lega. “Bagus Sayangku. Bagus sekali. Subhanallah. Kamu benar-benar sudah sesholeh dulu. Bahkan aku berani bilang…Insya Allah, sekarang ini kamu lebih sholeh dari dulu, dari kemarin-kemarin. …Ternyata benar dugaanku. Pengembaraanmu kemarin benar-benar semakin mematangkan imanmu.
         “Amin,” sahut Hamdi tersenyum. “Semua ini juga berkat doa Ibu.”
         Demikianlah tanggapan Hamdi terhadap penolakan lamarannya. Berkat doa dan dzikir-nya yang sangat kuat, ia sanggup menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada. Ia memang sakit hati, namun hal itu sangat manusiawi. Sakit hatinya itu masih dalam batas yang wajar. Ia tidak sampai sedih berlarut-larut, apalagi sampai stress, linglung, atau nyaris gila. Hanya dalam waktu singkat, Hamdi sudah berhasil mengobati kekecewaannya dengan dzikrullah. Tidak berlebihan jika Endah mengatakan Hamdi sudah alim seperti dulu, seperti saat ia belum berhubungan dengan Isma.
         Kini Hamdi sedang menyendiri di alam terbuka. Sambil duduk di motor GL-Pro, Hamdi menatap foto Isma yang sedang tersenyum manis. Dengan wajah yang masih terlihat kecewa, Hamdi tersenyum gurih, lalu berkata, “Terima kasih banyak, Isma. Terima kasih atas kejujuranmu, juga kebaikanmu selama kamu jadi kekasihku kemarin. …Rupanya Gusti Allah memang tidak menghendaki kita jadi pasangan. …Tapi kalau Gusti Allah menghendaki kamu jadi milikku di surgaNya kelak, entah berapa puluh tahun lagi, bahkan berapa ratus atau berapa ribu tahun lagi…kamu pasti akan kembali ke pelukanku.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Untuk saat ini…hanya satu yang kumohon pada Gusti Yang Maha Agung. …Ketegaran hati…agar aku bisa segera melupakan kamu…dan agar aku bisa bersabar menanti datangnya tambatan hati yang lain. Tambatan hati yang sebaik kamu, syukur yang lebih baik. …Mudah-mudahan, Gusti Allah segera mengabulkan permohonanku ini. Amin, ya Rabbal ‘Aalamin.”
         “Duh Gusti Yang Maha Sempurna, ulurkan tangan kasihMu, agar hambaMu yang hina dina ini benar-benar bisa kembali ke pelukan ridhoMu. Percikkan cahaya kasihMu, agar hambaMu yang lemah ini bisa menerima semua takdirMu dengan hati yang lapang. Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu pula kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. Yaitu ke jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, bukan ke jalan orang-orang yang Engkau murkai, bukan pula ke jalan orang-orang yang sesat.*     
         Selesai berdoa, Hamdi kembali menatap foto Isma. Ia elus pipi mantan kekasihnya, lalu berkata lembut, “Bunga hatiku, terima kasih banyak untuk segalanya. Aku takkan pernah melupakan kamu. Apapun yang terjadi, aku akan mencintaimu sampai Hari Akhir nanti. Dan Insya Allah, cintaku ini tulus…cintaku ini suci. …Selamat tinggal Bunga Hatiku. Semoga kamu dan Mas Kandar bisa membuka lembaran baru yang lebih baik. Amin.”

         Catatan Kaki: * Al-Quran surat Al-Fatihah ayat 5-7 atau ayat 4-6

                                                               *****
         Beberapa minggu kemudian, seluruh warga bumi Indah mendapat kabar yang cukup menyedihkan. Kalau tidak ada halangan, dua bulan lagi Iskandar dan Isma akan hijrah ke Bandung. Selain karena pekerjaan, rumah Kandar yang ada di Bumi Indah itu mau dibeli orang asing. Dengan demikian, riwayat Isma dan Kandar di Bumi Indah segera berakhir. Alangkah sedihnya sebagian besar warga Bumi Indah melihat salah satu tetangga terbaik mereka akan pergi untuk selamanya. Alangkah sedihnya jama’ah pengajian Al-Furqan dan masjid-masjid di sekitarnya. Sebentar lagi mereka tidak akan bisa lagi mencicipi Bolu Isma yang rasanya sulit dicarikan tandingan.
         Walaupun hanya dua tahun lebih sedikit menjadi penduduk komplek Bumi Indah, sejak awal tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2008, nama Ismayani Puspita sudah melegenda di seluruh pelosok Bumi Indah dan sekitarnya. Semua itu berkat kelihaiannya membuat kue lezat, juga berkat hubungan asmaranya dengan si imam masjid. Tentu saja kabar Isma mau pindah ini langsung menggemparkan Bumi Indah. Bagi mereka yang gemar menggunjing dan mengorek kejelekan orang, terutama kaum hawa, akan langsung berkesimpulan, kepergian Isma dan suaminya besok pasti terkait erat dengan si imam masjid.   
         Pendapat ini tidak berlebihan, bahkan sangat logis, sebab hanya selang sebulan setelah lamaran Hamdi ditolak, Kandar langsung mengumumkan kalau ia dan istrinya akan meninggalkan Bumi Indah untuk selamanya. Dengan demikian, sangat wajar jika semua orang mengatakan, Kandar pindah karena tidak ingin istrinya selingkuh lagi. Kandar pindah karena ingin melindungi istrinya dari kejaran Hamdi, dan sejenisnya. Namun Kandar dan Isma sendiri tidak mau pusing. Mereka tidak peduli dengan pendapat semua orang tentang diri mereka.
         Kandar yang hatinya sudah tegar, berkata pada Isma, “Sayang, kita tidak usah mempedulikan gunjingan orang-orang bodoh itu. Yang penting sekarang kita sudah berusaha menjalani hidup baru, membuka lembaran baru, dan menutup lembaran lama yang kelam. Yang penting Kandarmu ini sudah berusaha menjadi suami yang sholeh, yang tidak egois, yang selalu berusaha menyayangi istrinya. Betul tidak?”
         Isma mengangguk seraya tersenyum manis. “Tanpa Mas suruh pun aku sudah tidak ingin mempedulikan gunjingan orang terhadap kita. Mereka tidak punya kerjaan. Mereka hanya iri melihat kita sekarang sudah rukun. Mereka, dan terutama keluarganya Pak Sujar, hanya kecewa melihat kita sudah bisa menjalani hidup baru.”
         Kandar tersenyum gembira. “Istriku, kamu benar-benar pelangi hatiku. Oohh (memeluk tangan Isma dengan kedua tangannya). Seumur hidup, baru sekarang hatiku bisa merasa sedamai ini. …Mungkinkah, semua ini karena aku sudah bertobat? Juga karena aku sudah berusaha mengaji dan sholat lima waktu dengan tertib?”
         Insya Allah Mas,” sahut Isma sambil menaruh kepalanya di dada Kandar. “Semua ini karena kamu sudah berusaha untuk menjadi hambaNya yang sholeh. Semua ini karena Mas Kandar sudah berusaha menjadi suami yang selalu menyayangi dan melindungi istrinya.”
         Kandar tersenyum bahagia. “Istriku (mengelus rambut Isma), indah sekali kata-katamu itu. Maha Suci Allah. …Mudah-mudahan, setelah kita tinggal di Bandung nanti, kita bisa semakin meraih ketenangan hati. Amin.”
         Beberapa hari kemudian, Kandar pergi ke Banten selama dua minggu. Karena hubungannya dengan Isma sudah semakin baik, ia percaya kalau Isma tidak akan berbuat serong lagi. Walaupun Kandar harus meninggalkan Isma agak lama, Kandar tidak perlu merasa cemas istrinya akan aneh-aneh lagi. Kandar yang sekarang sudah berubah banyak, benar-benar percaya pada kesetiaan Isma.  Kandar juga percaya pada Murni, pembantunya yang polos, jujur dan amanah. Isma berani menjadikan Murni sebagai bukti, bukti kalau dia sudah tidak ingin berhubungan gelap lagi dengan Hamdi Rusmanto.     
         Kini Kandar dan Isma sedang berbincang lewat telpon. Kandar hanya memberi tahu kalau ia sudah tiba di Banten dengan selamat. Kandar yang menelpon Isma dengan HP-nya, tersenyum, “Sebenarnya aku malas banget. Aku ingin di rumah saja, berduaan sama kamu. He he he. Tapi mau bagaimana lagi? Toh semua ini juga untuk masa depan rumah tangga kita. Betul tidak?”
         Isma tersenyum. “Jangan terlalu capek lho Mas. Nanti kalau Mas sakit, bisa repot kan? Tidak ada yang ngurus. Hi hi hi. …Ya sudah, jangan terlalu lama.  Langsung pulang begitu kerjaanmu selesai.”
         Kandar tersenyum, “Ada bidadari di rumah, ngapain aku pergi lama-lama?”
         Isma tersenyum manis. Setelah perbincangan di telpon berakhir, Kandar masih tersenyum bahagia. Ia berkata, “Terima kasih ya Allah…terima kasih yang tak terhingga. Engkau benar-benar sudah memberiku hidayah, memberiku semangat. Semangat untuk mencintai istriku dengan tulus, semangat untuk membangun kembali rumah tanggaku yang nyaris hancur, dan semangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain. …Berkat cahaya petunjukMu, aku berhasil mengusir perasaan mendewakan pekerjaan, perasaan buruk yang selama ini sudah membuatku menelantarkan istriku. Berkat cahaya kasihMu, sekarang hatiku benar-benar tertambat pada rumah…tempat terindah di seluruh dunia.”   (Bersambung)

Karya: Harry Puter
                                                           

                                        

0 comments:

Post a Comment

 
;