Malam itu Kandar
berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap.
Semuanya terlihat hitam pekat. Kandar benar-benar merinding. Bagaimana mungkin
ada tempat yang tidak tersinari cahaya sedikit pun? Segelap-gelapnya malam,
tetap ada secuil cahaya yang bersinar, entah itu cahaya bulan atau bintang. Benarkah
Kandar sedang berada di goa? Tiba-tiba Kasman muncul di hadapan Kandar. Wajahnya yang
buruk itu terlihat semakin mengerikan. Ia berseru, “Musuh bebuyutanku, manusia
yan
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”
“Kasman!” bentak Kandar. “Jadi kamu
yang sudah membawaku ke sini!? Grrrhh! Berani benar kamu selancang ini sama
aku! Grrhh! Rupanya kamu benar-benar ingin mampus!?”
“Kamu yang akan mampus, terkutuk!
Grrhh! Kamu harus membayar nyawa adikku!”
“Huh! Kematiannya bukan salahku! Juga
buka salah teman-temanku! Dia mati karena kebodohannya sendiri! Kalau kamu
ingin menyalahkan orang,
salahkan saja pengendara mobil itu! Dialah yang sudah menabrak Toyo! Dia yang
salah!”
“Tutup mulutmu, brengsek! Sebentar lagi kamu
mampus! Jadi kamu tidak usah
cerewet!”
“Kamu yang akan mampus, bajingan!!
Grrhhh! Kamu sudah terlalu lama mengganggu kehidupan rumah tanggaku! Kamu sudah
terlalu lama meneror Isma! Gara-gara gagal meraih cinta Isma, sekarang kamu
jadi setan begini! Huhh! …Harusnya kamu sadar, Kasman. Harusnya kamu koreksi
diri! Kenapa kamu tidak bisa memiliki Isma? Kenapa kamu tidak bisa meraih
cintanya!? …Itu karena Isma bukan jodohmu!” Hening sejenak, lalu tersenyum
mengejek sambil menggelengkan kepala. “Kasman, Kasman. Kamu memang payah!
…Kalau kamu orang sholeh, orang yang imannya kuat, kamu tidak akan stress
karena gagal memiliki gadis yang sangat kamu cintai. …Tapi karena imanmu sangat
lemah, karena kamu tidak tahu agama sedikit pun…sekarang kamu jadi iblis!
Bahkan lebih buruk!”
“CUKUP!! Tidak usah ngoceh
lagi! sambut saja mimpi burukmu!”
“Kamu yang akan menderita! Kalau kamu
berani ganggu Isma lagi, sekarang juga lehermu akan kuplintir! Aku serius,
manusia setan!!”
Kasman tersenyum mengejek, “Makhluk lemah, apa kamu
bisa menghentikan aku!?”
“KURANG AJAR!!!” Bentak Kandar. Amarahnya
mencapai puncak. “Berani benar mengatakan aku lemah!!?”
“He he he. Bagiku, sekarang ini kamu
memang lebih lemah dari kelinci.”
“BRENGSEK!!!”
Kandar
menyerang Kasman dengan sepenuh tenaga yang ia miliki. Kandar melontarkan lima pukulan sekaligus.
Semuanya mengenai muka Kasman dengan telak. Satu dengan tangan kiri, empat
dengan tangan kanan.
Namun lima
pukulan dengan tenaga penuh itu tidak membuat Kasman terluka sedikit pun.
Hidung, bibir atau pipinya tidak berdarah setetes pun, bahkan bengkak pun tidak.
Lima pukulan
berantai itu hanya membuat kepala Kasman bergerak sedikit. Kandar
terlongong-longong melihat lawannya yang seperti manusia baja. Namun Kandar
tidak ingin larut dalam keheranan panjang. Ia langsung bertindak lagi.
Kandar ganti memukul perut Kasman. Lima pukulan sepenuh
tenaganya menghujam perut Kasman dengan telak, laksana bogem petinju yang
memukuli sansak. Kandar semakin terpana
melihat ketangguhan Kasman. Dengan tubuh merinding, Kandar berkata lemah, “Apa-apaan ini!? …Kamu
manusia atau bukan!?”
Kasman tersenyum mengejek. “Aku kan sudah bilang..untuk
saat ini, kamu tidak lebih kuat dari kucing kelaparan. Pukulanmu lebih lemah
dari tamparan bayi. Hua ha ha haa!!!”
Tawa binal Kasman membuat amarah
Kandar semakin meledak. Ia kembali melontarkan bogem kanannya, namun kali ini tidak mengenai sasaran.
Tapak kiri Kasman menangkis bogem Kandar
dengan mudah. Kasman menggeram, kemudian melontarkan bogem kanannya ke lawan. Pukulan dahsyat itu tepat
mengenai dada tengah Kandar.
Kandar terlempar ke belakang, lalu muntah darah. Dadanya seperti terbelah. Dengan
posisi merangkak di tanah, Kandar
mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata. Sesaat kemudian Kandar meraih kayu sebesar lengan pria
dewasa. Kandar melihat Kasman
mendekatinya dengan langkah santai. Kasman tersenyum mengejek, “Ayo…serang
lagi. Keluarkan seluruh kekuatanmu.”
Betapa marahnya Kandar diremehkan. Ia menggeram, lalu
memukulkan kayunya ke muka Kasman. Lagi-lagi Kasman tidak berniat menghindar atau menangkis serangan
lawan. Kayu itu ia adu dengan kepalanya. Hasilnya? Kayu itu langsung patah, dan
kepala Kasman tidak terluka sedikit pun. Tentu saja Kandar semakin terpana melihat ketangguhan
musuhnya. Melihat Kandar hanya bengong, Kasman langsung memanfaatkannya. Bogem
kirinya menghujam muka Kandar
dengan sangat telak. Kandar terjungkal ke belakang. Mulut dan hidungnya banjir
darah. Kandar hendak bangkit lagi, namun kepalanya seperti mau pecah.
Dengan tubuh berbaring di tanah,
Kandar melihat Kasman berdiri di samping kanannya.
Kandar merinding melihat wajah Kasman yang seperti setan neraka. Kasman
berkata, “Kalau mau, dari tadi kamu bisa kubunuh dengan mudah. Tapi aku tidak
ingin kamu mati dengan mudah. …Sebagaimana yang tadi sudah kukatakan, kamu
harus menjalani siksaan dulu. Kamu harus menderita dulu! Kamu akan menderita lahir-batin! Tubuhmu akan hancur
dengan perlahan, sedangkan batinmu…hahh! …Batinmu akan lebih sakit dari
tubuhmu!”
Hening sejenak, lalu bicara lagi,
“Kamu akan melihat Isma-mu menangis dan menjerit-jerit. Hua ha ha haa!!”
Kandar yang kini sudah bisa duduk,
mengumpat, “Berani kamu menyentuh Isma, walau hanya menyentuh sehelai rambutnya,
aku takkan mengampuni kamu! Aku pastikan kamu mampus! Mampus!!”
“Tapi nyatanya, kamulah yang sebentar
lagi mampus.”
Kandar melotot. “Bedebah! Apa
maumu!!?”
“Sesaat lagi kamu akan tahu (menjauhi Kandar).”
Kandar yang masih bersusah payah untuk
berdiri lagi, membentak Kasman yang membelakanginya. “Aku yang paling kamu
inginkan! Jadi kamu tidak usah melibatkan siapapun! Termasuk Isma!”
Sesaat kemudian Kasman mengeluarkan Isma
dari kegelapan. Isma terlihat kacau balau. Kedua tangannya terikat. Wajahnya
pucat, rambutnya acak-acakan. Ada
memar-memar kecil di pipi, dahi dan dagunya. Kini Kasman dan Isma berdiri
sekitar 3 meter di hadapan Kandar yang duduk di tanah. Tangan kanan Kasman memaksa Isma duduk di tanah.
Dengan suara teramat lemah, Isma berkata, “Mas Kandar…tolong aku Mas…”
“Ismaaa!!!”
Kandar
memelototi Kasman yang berdiri tegak, lalu membentak, “Keparat! Apa yang sudah
kamu lakukan terhadap istriku!!?”
Kasman melotot, “Kalau kamu tidak mau
menyerah, tidak mau mengakui keunggulanku, dia (mencekik tengkuk Isma) akan
semakin menderita!”
Kandar yang sudah bisa berdiri,
menyahut, “Aku takkan menyerah di tangan iblis seperti kamu! Lebih baik aku
mati! MATI!!”
“Baiklah kalau begitu. Kukabulkan
permintaanmu!”
Tangan kanan Kandar mengeluarkan pisau
dari baju besarnya. Sedetik kemudian, pisau itu ia lemparkan ke Kandar, dan
membabat paha kanan Kandar yang sejak tadi bergetar. Kandar menjerit. Darah segar
muncrat dari mulut luka di paha kanannya. Isma yang bisa merasakan derita
suaminya, berteriak, “Mas Kandaaar!!!”
Kandar kembali berlutut. Kaki kanannya seperti terpotong.
Sedetik kemudian Kasman kembali melempar pisau
mautnya, dan membabat paha kiri Kandar. Kandar yang sedang berusaha berdiri, langsung
berlutut lagi. Kedua kakinya seperti terjepit perangkap beruang Gryzzli,
beruang terbesar dan terganas. Selanjutnya, pisau maut Kasman memotong kedua
tangan Kandar.
Kandar menjerit sekeras-kerasnya. Kali ini ia benar-benar lumpuh. Kedua tangan
dan kakinya tidak bisa difungsikan lagi. Betapa puasnya Kasman melihat musuh
bebuyutannya sudah tidak berkutik. Ia tertawa
sekeras-sekerasnya.
Setelah tertawa binal, Kasman kembali
melotot, lalu mencekik tengkuk Isma. Cekikan baja itu membuat Isma melotot.
Kandar yang sudah tidak bisa berbuat apapun, memohon dengan merendah, “Jangan
Kasman…jangan!...Kumohon..lepaskan dia! Kamu akan kuberi apapun. Kamu akan
kuberi semua hartaku. Tapi kumohon..lepaskan dia!”
Kasman menggelengkan kepala. “Coba
kamu mohon ampun dari tadi. Huh!...Kamu dan istrimu tidak perlu sampai
menderita seperti ini! …Sudah tahu bukan tandinganku, kok kamu masih
berani-beraninya melawan Kasman. …Kamu benar-benar goblog!”
Hening sejenak, lalu bicara lagi,
“Ragamu sudah kubuat setengah mati. Sekarang ganti batinmu. Batinmu akan jauh
lebih menderita dari fisikmu!”
Setelah berkata begitu, kelima jari
kanan Kasman yang bagai besi itu mematahkan leher Isma. Kandar langsung
memalingkan muka sambil menutup kedua matanya. Sedetik kemudian, Kandar melihat
kepala Isma menggelinding di depan kedua kakinya yang patah. Kandar melotot,
lalu menjerit dengan sepenuh jiwa raganya. Dengan kedua mata basah oleh air
mata derita, Kandar
mengumpat, “Makhluk terkutuk! Calon penghuni neraka!! Kamu benar-benar
bajingan!!”
“Hinalah aku sepuasmu, karena aku
sudah mendapat apa yang paling kuinginkan. Aku tidak bisa memiliki Isma, tapi
kamu dan semua lelaki sainganku juga tidak bisa memilikinya. Ha ha haa!”
Setelah tertawa seperti keledai, tubuh
Kasman lenyap di kegelapan. Setelah itu Kandar hanya mendengar suara Kasman yang mengumpat.
Beberapa saat kemudian, Kandar melihat tulisan di dinding yang berada di
samping kirinya. Baunya yang amis menyengat hidung Kandar. Tulisan dari darah
segar itu berbunyi: “Sebentar lagi,
keparat! Sebentar lagi kamu akan merasakan penderitaan abadi! Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati
yang paling pedih dalam hidupmu! Hartamu yang segudang itu tidak akan hilang sedikit pun! Demikian pula
dengan fisikmu. Fisikmu tetap akan utuh.”
Kamu
tidak akan kehilangan anggota tubuhmu. Kamu tidak akan kehilangan kedua tangan
dan kakimu, kedua mata dan telingamu, hidungmu, mulutmu, atau gigimu. Bahkan sehelai rambutmu pun tidak! Tapi
kamu benar-benar akan sengsara! Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik!
Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik! Kamu akan melihat belahan
hatimu kucabik-cabik!! Aku tidak main-main, keparat!! Tunggu saja tanggal
mainnya!”
Kandar terbangun dari tidurnya dengan
tersentak. Wajahnya basah oleh keringat dingin. Ia menyentuh dada, kedua tangan
dan kakinya, setelah itu berkata, “Masya
Allah. Hanya mimpi! …Hahh! “
Hening sejenak, lalu bergumam, “Tapi
seperti betulan. …Tadi aku merasa, kedua tangan-kakiku benar-benar buntung.
…Oohh ( menyandarkan tubuh di sofa)…”
Kandar melihat jam wekernya di meja.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Kandar yang ketakutan berat, langsung
bangun dari sofa, kemudian keluar dari kamarnya dengan berjalan setengah
berlari. Ketika sampai di ruang tamu, Kandar menghentikan langkahnya. Ia
melotot. Di salah satu tembok ruang tamu ada tulisan berwarna merah. Tulisan itu
tertulis di samping lukisan bergambar pemandangan. Dengan jantung bergetar
keras, Kandar
mendekati tulisan itu, kemudian membacanya. Jari kanannya menyentuh tulisan
itu, lalu ia cium jari kanannya. Ia berkata, “Ya Allah. DARAH!”
Kedua mata Kandar semakin melotot.
Kata-kata dalam tulisan yang diukir dengan darah itu sama persis dengan tulisan
yang ia lihat di mimpi buruknya beberapa saat tadi. Kandar melihat kalimat yang
berbunyi, “Kamu akan melihat belahan
hatimu kucabik-cabik!” ditulis
tiga kali. Benar-benar persis dengan tulisan di mimpinya tadi. Setelah
terlongong-longong beberapa detik, Kandar menggelengkan kepalanya, lalu
melangkah mundur dengan perlahan.
“Ini tidak mungkin! Tidak mungkin!
…Ini semua hanya mimpi! Mimpi!”
Kandar langsung keluar rumah, lalu
berteriak minta tolong. Beberapa detik kemudian datanglah lima teman lelakinya. Mereka terkejut melihat
Kandar ketakutan
berat. Mereka menanyakan apa yang terjadi. Kandar berkata, “Tadi aku mimpi
seram banget! dan sekarang jadi kenyataan!”
Semua tersentak. Kandar yang otaknya
sudah buntu, langsung meminta semua temannya untuk masuk ke ruang tamu. Begitu masuk
ruang tamu, Kandar
terkejut lagi. Tulisan dari darah tadi lenyap tanpa bekas. Salah satu
bawahannya yang bertubuh kekar, bertanya, “Tadi Boss benar-benar melihat
tulisan dari darah?...Boss yakin tidak sedang berimimpi atau berhalusinasi!?”
Kandar yang seperti mimpi, berkata
lemah, “Ini semua ulah Kasman. …Dia menggunakan ilmu hitamnya.”
“Ilmu hitam!?” sahut semuanya
tersentak. Kandar mengangguk. “Selain tubuhnya menjadi sekuat macan, dia juga
belajar ilmu setan, ilmu santet. Dan inilah hasilnya.”
Semua bawahan Kandar langsung merinding.
Kandar melanjutkan, “Kemungkinan besar…ilmu setannya sudah sempurna. Dan inilah
buktinya. …Dia benar-benar semakin sakti. Dia benar-benar semakin mengerikan. Kita
semua harus ekstra waspada. Terutama aku sendiri.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Untuk
saat ini…hanya satu yang paling kupikirkan. …Keselamatan istriku.”
Setelah keadaan terasa lebih tenang, Doyok,
anak buah Kandar
yang memakai topi merah, berkata, “Salah satu dari kami biar tidur di serambi.
Jadi kalau nanti Boss Kandar ada apa-apa lagi, Boss tinggal panggil kami.”
Kandar tersenyum. “Kenapa kalian harus
bersusah payah tidur di luar? Di luar kan
dingin. …Sudahlah, kalian tidak usah sungkan. Kalian boleh tidur di dalam. Nanti
aku bisa lebih mudah minta tolong
kalian.”
Beberapa menit kemudian, Kandar berniat menelpon
Isma. Ia hanya ingin tahu keadaan istrinya. Namun setelah berpikir lebih masak,
Kandar mengurungkan niatnya untuk menelpon rumah atau HP Isma. Kandar berpikir,
sekarang masih jam dua kurang seperempat, jadi Isma pasti sedang tidur.
Walaupun hanya menelpon sebentar, suara dering telpon itu pasti sudah
mengganggu Isma. Ditambah lagi, kalau dini hari begini Kandar menelpon Isma, nanti Isma bisa
terkejut dan berpikir yang bukan-bukan. Nanti Isma bisa berpikir, siapa yang
menelponnya jam sekian? Jangan-jangan ada yang berniat jahat pada dirinya? Dan lain-lain.
Sekarang kita tengok Isma yang sedang
berada di alam terbuka yang begitu indah.
Isma mengenakan baju kuning dan rok panjang merah. Di sekitarnya hanya ada
warna hijau daun dan rerumputan yang sangat menyejukkan mata dan hati. Sesaat
kemudian Isma melihat bunga-bunga bermekaran. Di tengah bunga itu berdiri
sebuah pohon yang ada buah antiknya. Buah berwarna merah itu bentuknya mirip
strawberry, namun besarnya sama dengan pepaya. Isma yang keheranan sekaligus
semakin gembira, berniat
mengambil buah aneh itu. Isma mencari kayu atau tongkat panjang yang bisa ia
jadikan alat untuk mengambil buah itu. Namun setelah mencari ke sana kemari, Isma tidak atau
belum menemukan apa yang ia cari. Isma pun sadar dengan terbatasnya kemampuan
dirinya.
Karena belum menemukan cara untuk meraih buah itu, akhirnya Isma hanya
duduk di bawah pohon tersebut. Isma berpikir, kemungkinan besar ia harus
mengurungkan niatnya untuk mengambil buah aneh itu. Namun karena keinginannya
untuk mengambil buah itu sudah sangat kuat, akhirnya Isma mantap untuk memanjat
pohon itu. Sesulit apapun, Isma harus bisa mengambil buah antik yang sudah
mencuri hatinya itu. Namun ketika Isma baru menyentuh pohon itu, kedua
tangannya seperti menyentuh listrik bertegangan tinggi. Isma tersentak. Tubuh
rampingnya ambruk ke belakang. Namun mendadak, ada sesosok tubuh lelaki yang
menahan tubuh Isma, sehingga Isma tidak jadi roboh di rerumputan. Isma
tersentak. Lelaki yang menolongnya itu ternyata Hamdi Rusmanto.
Isma yang terkejut sekaligus gembira,
berkata, “Mas Hamdi?”
Hamdi mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu tidak akan bisa mengambil buah itu. …Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa
mengambilnya.”
“Maksudnya?” Tanya Isma sambil
melepaskan tubuhnya dari pelukan Hamdi. Hamdi menyahut, “Kamu harus tahu
Isma…itu buah spesial, buah keabadian. …Siapapun yang sudah memakan buah itu,
dia akan mendapat kebahagiaan cinta yang abadi.”
Penjelasan itu membuat Isma semakin
terpana. Ia bertanya, “Lalu siapa yang bisa mengambil buah itu?”
Hamdi tersenyum, “Kamu ingin mengambil
dan memakan buah itu?”
“Sangat ingin Mas. Buah itu benar-benar
sudah mencuri hatiku.”
Hamdi tersenyum gembira. “Baiklah. Sekarang
dengarkan dulu suara ini.”
Beberapa detik kemudian terdengarlah suara lelaki yang besar. Suara yang
seperti suara raksasa itu berkata, “Isma…kamu harus menjawab pertanyaanku ini
dengan jujur.”
Isma terkejut, namun Hamdi langsung
menenangkan. Suara raksasa melanjutkan, “Isma…buah itu hanya bisa diambil oleh
lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu.”
“Benar-benar tulus mencintaiku!?”
“Betul Cah Ayu. …Mungkin banyak lelaki
yang tulus mencintaimu…termasuk Kandar..suamimu.
...Tapi hanya satu lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi.
“Isma…siapa lelaki yang paling kamu cintai?”
“Lelaki yang paling kucintai?” Tanya
Isma tersentak. Suara raksasa menjawab, “Ya. …Untuk saat ini…siapa lelaki yang
paling kamu cintai di dunia ini?”
Isma diam beberapa detik. Setelah
mengatur nafas, wanita cantik ini berkata, “Siapa lagi kalau bukan kamu.”
“Aku?” Tanya Hamdi tersenyum. Isma
mengangguk mantap. “Hanya kamu Mas. Hanya kamu satu-satunya lelaki yang paling
kucintai. Hanya kamu yang selalu ada di hatiku. …Hanya Mas Hamdi Rusmanto yang
bisa memiliki hatiku. Memiliku hatiku untuk SELAMANYA.”
“Benarkah itu?”
“Demi Allah Mas.”
Hamdi tersenyum bahagia. “Aku pun
hanya mencintaimu, Ismaku..bunga hatiku. …Sekarang akan kuambilkan buah itu. Kuambilkan
untukmu.”
Hamdi mengarahkan kelima jari kanannya
ke buah strawberry raksasa, lalu berkata, “Atas ijin Allah, jatuhlah di
tanganku.”
Buah aneh sebesar pepaya itu jatuh
tepat di tapak tangan kanan
Hamdi. Hamdi tersenyum, lalu ia serahkan buah itu kepada Isma. Isma tersenyum
manis sekali, kemudian menerima buah itu dengan kedua tangannya. Ia cium baunya
yang begitu harum. Setelah itu ia mendekati Hamdi, lalu ia letakkan kepalanya
di dada bidang Hamdi. Sambil tersenyum bahagia, Isma berkata lembut, “Walaupun
sudah rujuk lagi sama Mas Kandar, aku tetap tidak bisa melupakan kamu..Mas
Hamdiku...Sayangku. Apapun yang terjadi, kamulah cinta sejatiku.”
Hamdi yang juga tersenyum bahagia,
mengelus rambut Isma yang tebal. “Aku pun begitu, Manisku. Cintaku padamu
abadi.”
“Terima kasih, Mas Hamdiku. Terima
kasih untuk segalanya.”
“Sama-sama, bidadariku.”
Sedetik kemudian Isma terbangun dari
tidurnya dengan tersentak. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang bulat agak
lonjong. Sambil mengatur nafas dan rambutnya yang acak-acakan, Isma berkata lemah,
“Ya Allah. …Hanya mimpi. Tapi seperti betulan. ...Ooh…ini tidak mungkin (menggelengkan kepala).
Tidak mungkin!”
Hening sebentar, lalu bergumam, “Aku
tidak boleh mencintainya lagi. Aku tidak boleh memikirkan dan mengharapkan dia
lagi. Tidak boleh! …Hubungan kami sudah berakhir. Sudah berakhir! …Yahh (mengangguk-angguk)…sejak
Mas Kandar tidak mau menceraikan aku kemarin, aku dan dia sudah tidak ada
hubungan apa-apa lagi. …Sekarang aku dan dia hanya teman…teman baik, sahabat,
saudara, dan sejenisnya.”
Isma menutup mukanya dengan kedua
tangannya, setelah itu bergumam lagi, “Kenapa setiap aku berusaha keras
melupakannya, wajahnya justru semakin tampak
di mata hatiku? …Tapi…sesulit apapun…aku harus bisa melupakan Hamdi. …Sesulit
apapun, di kamar hatiku tidak boleh ada lagi nama Hamdi Rusmanto. …Apapun yang
terjadi…sekarang aku hanya boleh menyimpan satu lelaki di kamar hatiku yang
terdalam. …Mas Suryo Iskandar…suamiku, pasangan hidupku yang sah. …Dulu dia
memang amburadul…tapi sekarang, Insya Allah, dia sudah berubah drastis.
…Sekarang dia sudah berusaha keras menjadi suami yang baik, yang sholeh, yang
selalu menyayangi istrinya. …Buktinya? Sejak tiga bulan yang lalu dia tidak
pernah meninggalkan sholat wajib lima
waktu. Ditambah lagi, dia juga sudah cukup rajin mengikuti
pengajian-pengajian.”
“Dan yang paling penting…sekarang dia
sudah tidak menomorsatukan pekerjaannya. Sekarang dia sudah banyak menyediakan
waktunya untuk tinggal di rumah…memperhatikan kebutuhan rumah…dan memperhatikan
kebutuhan istrinya yang bodoh ini. …Oohh..alangkah bahagianya aku sekarang.
…Terima kasih banyak ya Allah, Gusti Yang Maha Pengampun. Engkau benar-benar
sudah memberiku nikmat sejati, nikmat yang sesungguhnya. Segala puji memang
hanya untukMu.”
Ketika langit sudah terang, Kandar langsung
menelpon rumah. Kandar yang cemas bukan main, menanyakan keadaan Isma. Ia
ceritakan mimpi buruknya semalam, namun ia tidak menceritakan tulisan darah
yang menjadi kenyataan,
sebab ia takut kalau nanti Isma tidak percaya, bingung, dan menganggap dirinya
mengigau atau berhalusinasi. Mendengar semua penjelasan Kandar, Isma hanya
tersenyum, lalu berkata, “Sekarang Mas
tahu sendiri, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
“Betul?”
Isma tersenyum manis. “Insya Allah Mas. Pokoknya kita banyak
berdoa saja.”
Kandar tersenyum lega. “Ya sudah kalau
begitu. Aku bisa kembali kerja dengan tenang.”
Setelah menutup Hand Phone, Kandar
yang kini sedang menghadap laptopnya, bergumam, “Sekarang Isma memang masih
baik-baik saja. Tapi kalau nanti atau besok-besok...? …Maha Suci Allah. Firasatku
masih tetap tidak enak. Aku harus tetap ekstra waspada. Mimpiku semalam
benar-benar hidup, benar-benar seperti nyata. …Biar bagaimanapun, ancaman
Kasman tadi malam tidak boleh kupandang sebelah mata. Firasatku
mengatakan…kemungkinan besar…mimpiku semalam akan menjadi nyata.”
Hening sejenak. Kandar meneguk minuman
di gelas
plastik, setelah itu bergumam lagi, “Tapi sudahlah, aku banyak berdoa saja…sebagaimana
nasehat Isma tadi. …Yahh..untuk saat ini..memang hanya berdoa satu-satunya cara
untuk mengusir rasa takutku ini. …..Huhh!...mimpi semalam benar-benar
mengerikan. …Inilah mimpi terburuk dalam hidupku.”
*****
Jam setengah delapan pagi. Isma bersantai di
kamarnya. Sambil tengkurap di ranjang, Isma membaca buku novel karangan Hamdi.
Ia terlihat asyik dalam membaca buku tipis karya mantan kekasihnya itu. Beberapa
menit kemudian, Isma dikejutkan oleh pintu kamarnya yang terbuka sendiri. Isma
berkata agak berseru, “Siapa itu!?”
Isma hanya bertanya pada angin. Ia
tidak melihat siapapun yang berdiri atau lewat di depan pintu kamarnya.
Ia kembali bertanya, “Murni…kamu di situ?”
Lagi-lagi Isma hanya bertanya pada angin.
Beberapa saat kemudian Isma tersentak. “Lho…kenapa bulu kudukku tiba-tiba
merinding? Ada apa ini!?”
Isma yang mendadak dicekam rasa takut,
kembali menatap pintu kamarnya, lalu berseru,
“Hei! Siapa di situ!? Jangan main-main ya!? …Murni!...kamu
di situ!?”
Hening sejenak. Isma yang semakin
merinding, memutuskan untuk mendekati pintu kamarnya
dengan perlahan. Setelah berdiri di depan pintu, Isma menoleh ke sana kemari, melihat
keadaan luar kamarnya, namun ia tidak melihat siapapun. Tidak ada yang membuka
kamarnya, tidak ada angin kencang yang meniup kamarnya.
Lagipula, kalau dipikir logis, angin sekencang apapun, tidak akan bisa membuka
pintu yang sudah ditutup rapat. Namun Isma yakin kalau tadi ada orang yang
membuka pintu kamarnya. Ia juga langsung ingat kalau Murni
sekarang sedang belanja. Dengan demikian, sekarang ia sendirian di rumah.
Lantas siapa yang sudah membuka pintu kamarnya? Benarkah ada orang yang sudah masuk ke rumahnya? Dengan
hati yang semakin dicekam rasa takut, Isma bergumam, “Ini benar-benar aneh. Benar-benar
ada yang tidak beres.”
Isma melangkah mundur dengan perlahan,
kemudian kembali duduk di ranjang. Sesaat kemudian Isma melotot. Ada kekuatan besar yang
merasuki tubuhnya. Kekuatan yang membuat tubuhnya kejang-kejang. Ia berdiri
dengan tiba-tiba, kemudian meloncat dari ranjang. Ia berlutut di lantai,
kemudian bersujud seperti orang
sholat. Beberapa detik kemudian Isma mengangkat kepalanya. Dan…wajahnya berubah
menjadi sangat mengerikan. Wajahnya pucat, kedua matanya putih semua, tidak ada
bola mata hitam. Dengan kedua mata melotot, bibirnya mengenyeringai, lalu
berkata, “Kandar keparat! Sudah kukuasai jiwa belahan hatimu ini. he he he.
Inilah bukti ancamanku. Hua ha ha haa!!”
Benar-benar mengerikan suara yang
keluar dari mulut Isma itu. Suara itu bukan suara Isma lagi. Itu suara lelaki.
Suara yang sangat mirip dengan suara Kasman. Beberapa menit kemudian Murni
datang dengan membawa plastik besar, plastik yang penuh dengan belanjaan. Ia masuk
lewat garasi, kemudian menaruh belanjaannya di dapur. Setelah itu ia masuk ke
ruang keluarga, lalu berkata, “Mbak Is…kacang panjangnya belum dapat. Tidak
apa-apa kan?
Nanti siang biar kucari lagi di warungnya Bu Yun. …Mbak Is (menatap kanan-kiri). Mbak Is di mana? …Mbak Is. …Mbak
Is lagi mandi ya? Lagi bersih-bersih WC?”
Hening sejenak. Murni terus mengitari
ruang keluarga dengan perlahan, kemudian melangkah ke ruang tamu. Ia berkata
lirih, “Mbak Is di mana sih? …Kalau pergi, harusnya pintu ini (ruang tamu)
dikunci.”
Setelah itu ia bergumam, “Kalau mau
pergi, biasanya dia SMS atau nelpon aku. Tapi seingatku…tadi dia tidak bilang
mau pergi.”
Karena tidak menemukan Isma di ruang
tamu, Murni langsung melangkah ke kamar mandi,
namun ia juga belum menemukan Isma. Setelah berpikir beberapa detik, Murni mengangguk sambil tersenyum. Ia menganggap Isma
sedang berada di ruang jemuran, ruang yang berada di atas dapur. Murni langsung
bergegas ke ruang jemuran, namun sekali lagi ia harus kecewa. Ia tidak melihat
Isma di ruang jemuran. Sambil menoleh ke sana
kemari, Murni berkata lirih, “Mbak Is ke mana sih? …Apa ke rumah Bu Darti ya? …Tapi…walaupun
cuma ke tetangga depan atau samping rumah, biasanya dia selalu mengunci pintu
depan.”
Hening beberapa detik, setelah itu Murni bergumam sambil tersenyum. “Oh iya, aku ingat. Tadi
dia mau baca buku di kamarnya.”
Setelah sampai di kamar Isma, Murni
melihat pintu kamar majikannya terbuka
sedikit. Sambil mengetuk pintu kamar, Murni
berkata, “Mbak Is di dalam ya? …Mbak Is? ...Aku cuma mau lapor, kacang panjangnya belum dapat. …..Mbak Is (membuka
pintu kamar dengan perlahan ). Mbak Is lagi
apa?”
Setelah membuka pintu, Murni melihat Isma
duduk membelakanginya. Posisi duduknya seperti orang sholat, atau seperti duduk
Iftirasyi, duduk di antara dua sujud.
Murni tersenyum, “Kucari ke mana-mana, ternyata di sini. …Mbak Is…”
Murni memanggil Isma sampai tiga kali,
namun Isma tidak bereaksi
sedikit pun. Murni menjadi agak cemas.
Senyum gembira di bibirnya langsung musnah. Dengan wajah mulai tegang, Murni
mendekati Isma yang duduk di lantai, lalu bertanya lagi, “Mbak Is. …Mbak Is
kenapa? Kok duduk di lantai? …Ada
apa Mbak?”
Begitu tangan kanan Murni menyentuh bahu
kanan Isma, Isma langsung membalikkan mukanya. Murni tersentak, lalu mundur
beberapa langkah. Ia melihat wajah Isma pucat pasi. Kedua matanya tertutup
rapat. Ia berdiri dengan perlahan. Sedetik kemudian Isma membuka kedua matanya.
Murni semakin melotot melihat bola mata Isma tidak ada. Isma berkata, “Jangan
ganggu aku!”
Murni melotot, “Ya Allah! Mbak
Is!...suaramu…!?”
Isma mendekati Murni yang melangkah
mundur. Isma menggeram, lalu tangan kanannya menampar muka Murni
dengan keras. Murni terjerembab di ranjang. Ia berseru, “Mbak Is! Apa-apaan
ini!? Kenapa Mbak Is jadi begini!?”
Isma hanya melotot sambil terus
mendekati Murni. Murni yang ketakutan berat, langsung bangkit dari ranjang,
lalu melangkah mundur. Isma kembali bicara dengan suara lelaki, “Katakan pada Kandar. Aku memang tidak
bisa memiliki Isma…tapi semua lelaki sainganku juga tidak boleh memilikinya!
Tidak boleh!”
Murni melotot sambil menggelengkan
kepala. Isma bicara lagi, “Enak sekali tubuh perempuan ini. Aku benar-benar
betah tinggal di sini! Hua ha ha haa!!”
Murni menangis, “Ya Allah. …Mbak Is…Mbak Is keserupan!”
Isma melotot lagi. Murni yang histeris,
berkata, “Jangan Mbak Is (mengacungkan kedua tangannya), jangan! Kumohon! Sadarlah
Mbak Is. Sadarlah! Eling Gusti Allah
Mbak! Eling! Mbak Is..ini aku, Murni!” …Duh Gusti, apa yang sudah terjadi pada Mbak Is!?”
“Kamu tidak usah cerewet!” bentak Isma
yang amarahnya semakin meledak. Tangan kirinya menonjok muka Murni.
Tubuh ramping Murni nyaris membentur pintu kamar.
Melihat Isma terus mendekat, Murni langsung bangkit lagi. Ia berkata dengan air
mata berlinang, “Jangan Mbak Is. hik, hik. Jangan sakiti aku lagi. hik hik. Ini
aku! Murnii!”
Isma yang sudah tidak sadar itu mau menyerang Murni
lagi, namun Murni bertindak lebih cepat. Ia keluar dari kamar
Isma, kemudian berlari ke ruang makan.
Isma melanjutkan amukannya di ruang makan. Ia mengambil salah satu kursi
yang menghadap meja makan, lalu ia angkat kursi itu di atas kepalanya. Rupanya
ia mau melemparkan kursi itu ke Murni yang
sekarang berdiri di pintu menuju garasi. Murni berseru, “Jangan Mbak Is!
jangan!”
Rengekan minta ampun itu malah semakin
membakar emosi Isma yang kesetanan. Isma menggeram, lalu melempar kursi itu ke Murni. Namun untunglah, Murni sudah siaga, sehingga kursi
itu hanya menghujam pintu tempat ia berdiri. Karena sudah kehabisan akal,
pembantu cantik ini langsung keluar rumah lewat garasi, kemudian berlari ke rumah
Darti sambil berteriak, “Tolooong! Tolooong!! Mbak Isma kesurupaan!! Mbak Isma
kesurupaan!!”
Darti yang kebetulan berada di ruang
tamu, langsung keluar rumah. Dilihatnya Murni yang berdiri di depan pagar
rumahnya. Murni yang seperti dikejar ular raksasa, berseru, “Mbak Isma
kesurupan!”
“APA!!?” sahut Darti dengan kedua mata
bulat seperti bola ping pong. Tanpa pikir panjang lagi, Darti langsung meminta
tolong tiga pemuda. Waluyo, pembantunya, Rujan, sopirnya, dan Ahmad, ponakannya
yang agak angkuh. Mereka langsung
mengikuti Murni yang masuk ke rumah Isma lewat
ruang tamu. Murni dan Darti berdiri di belakang Ahmad, Rujan dan Waluyo. Mereka
berjalan dengan perlahan. Rujan dan Waluyo yang pertama menginjak ruang
keluarga, tidak melihat Isma berada di situ. Saat semuanya sudah menginjak
ruang keluarga, Murni berkata lirih, “Hati-hati..dia bisa menyerang dari segala
arah.”
“Terus mana dia sekarang?” Tanya Ahmad
yang terlihat paling sok jagoan. Waluyo menyahut, “Pokoknya
hati-hati saja. Tengok kanan-kiri, depan-belakang.”
“Gerakannya cepat sekali Mas,” ujar Murni yang terus bersama Darti. Waluyo mengangguk, “Yang
namanya orang kesurupan, kekuatannya jadi sulit dinalar. Kekuatannya jadi lima sampai tujuh kalinya
manusia biasa..bahkan bisa lebih.”
“Mengerikan sekali..” sahut Darti. Murni
menyambung, “Yang lebih mengerikan, suaranya jadi lelaki. Suaranya besar dan
bertenaga.”
Setelah berputar-putar di ruang
keluarga, Murni meminta tiga pemuda itu untuk
memeriksa kamar Isma. Rujan membuka
pintu kamar Isma dengan perlahan, setelah itu ia dan Waluyo masuk ke kamar
dengan gerakan
cepat. Ahmad yang sebenarnya terlihat paling penakut, langsung menyusul kedua
temannya. Tiga pemuda ini tidak melihat Isma di kamarnya. Darti yang berada di
luar kamar bersama Murni, berkata, “Apa
mungkin dia sudah keluar rumah?”
“Bisa jadi,” sahut Murni, “soalnya gerakannya cepat sekali.”
Rujan berkata, “Wah, kalau dia sudah
keluar rumah, keadaan bisa semakin runyam.”
“Tapi kelihatannya belum,” ujar Murni yang terlihat paling cemas. “Aku bisa merasakan
kekuatan tubuhnya.”
“Wah, hebat,” kata Ahmad tersenyum
angkuh. “berarti kamu juga sakti..bisa merasakan energi orang.”
“Memang belum!” bentak Isma yang
tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Isma tersenyum, “Wah, temanku yang mau
bersenang-senang semakin banyak. Ha ha!”
“Masya
Allaah,” tutur Darti melotot. “Mbak Is…kamu…kamu kok jadi..?”
“Kenapa?...Aku jadi semakin cantik kan? Ha ha haa!”
Darti yang seperti mimpi, berkata
lemah, “Kamu benar Mur. Suaranya…”
“Sudah!” bentak Ahmad dengan
angkuhnya. “Tidak ada waktu lagi untuk kaget atau bingung. Sekarang ayo kita
ringkus dia!”
“Hati-hati Mad!” seru Darti yang
melihat ponakannya mendekati Isma dengan sok tenang. Isma kembali berkata
dengan suara lelaki, “Cecunguk macam apa yang sekarang berdiri di depanku? …Hei
keparat, kamu berani nantang aku!?”
Kata-kata itu langsung membangkitkan
darah muda Ahmad yang angkuh. Ia membentak, “Makhluk terkutuk! Aku tidak peduli
kamu ini iblis dari kuburan mana. Pokoknya kamu harus keluar dari tubuh Bu
Kandar! Kalau tidak…!?”
“Kalau tidak!?”
Ahmad menatap empat temannya yang
berdiri di belakangnya. Dengan keberanian yang dipaksakan, keberanian yang hanya
muncul karena gengsi tinggi, Ahmad kembali memelototi Isma, lalu membentak,
“Bedebah! Kamu mau keluar tidak!?”
“Tidak!” sahut Isma tersenyum mengejek. Ahmad yang sebenarnya merinding,
membentak, “Makhluk biadab! Kamu memang minta dihajar! Baiklah bedebah! Rasakan
ini!”
Ahmad melontarkan kepalan kanannya
dengan sepenuh tenaga. Kepalan itu menghujam muka Isma dengan telak, namun Isma
malah tersenyum mengejek. Kepalanya hanya bergerak sedikit. Pukulan keras itu
tidak membuatnya kesakitan sedikit pun. Ketika Ahmad hendak memukul lagi, Murni
berteriak, “Jangan Mas! jangan sakiti Mbak Is!”
“Tenanglah,” sahut Darti. “Pikiran
Mbak Is sedang di bawah kendali iblis, jadi dia tidak akan merasakan apapun.”
“Betul Mbak,” sahut Rujan yang mulai
ketakutan. “Lihat itu, Mbak Is malah tertawa.”
Isma berkata, “Ayo cecunguk…keparat
cilik! Lanjutkan lagi seranganmu.”
Alangkah geramnya Ahmad diremehkan.
Amarahnya langsung mengalahkan rasa takutnya. Dengan jantung yang masih deg-degan, Ahmad kembali menyerang Isma
dengan empat pukulan beruntun. Satu dengan tangan kiri, tiga dengan tangan kanan. Semuanya
menghujam muka Isma dengan telak. Sedetik kemudian Isma tertawa mengejek. Ahmad
semakin terlongong-longong melihat kehebatan lawannya. Pemuda 23 tahunan ini
berseru, “Apa-apaan ini!? …Siapa kamu sebenarnya!?”
Isma melotot. “Aku paling benci
melihat orang yang berani mencampuri urusanku!”
Diam sebentar, setelah itu tertawa
binal. “Aku tak terkalahkan! Aku abadi!”
Ahmad yang sebenarnya ketakutan, berkata,
“Siapapun kamu..aku tidak peduli! Pokoknya
kamu harus kuhancurkan!”
Isma tersenyum mengejek, “Dengan
kekuatan selemah ini, kamu mau menghancurkan aku!? Huh! Jangan mimpi!”
Ahmad kembali melontarkan bogem
kanannya ke muka Isma, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Tapak kiri Isma mengeblok tinju Ahmad. Isma menggeram,
lalu tangan kanannya memukul perut Ahmad. Pukulan dahsyat itu membuat perut
Ahmad seperti ditohok kayu sebesar kaki pria dewasa. Setelah itu Isma
mencengkeram kaos Ahmad yang di dekat leher, kemudian ia lempar tubuh atletis
Ahmad ke lemari kecil di dekat meja makan. Tubuh Ahmad menabrak lemari kecil
dan kursi. Ahmad roboh di lantai bersama dua benda dari kayu itu. Darti dan Murni menjerit. Darti memapah ponakannya yang tidak
berdaya.
“Sudah Mad, kamu jangan nekat! Kamu
tidak bisa melawan dia sendirian!”
Kini ganti Rujan dan Waluyo yang
menghadang Isma. Isma berkata, “Kenapa hanya dua orang? Kenapa tidak lima atau tujuh orang sekaligus!?”
Waluyo dan Rujan saling menatap.
Sedetik kemudian dua pria kekar ini mengeroyok Isma. Rujan berdiri di belakang
Isma, kemudian mengunci kedua tangannya. Sedangkan Waluyo yang berdiri di
hadapan Isma, berkata, “Maafkan aku Mbak Isma, aku terpaksa melakukan ini!”
Waluyo menampar muka Isma dua kali,
masing-masing dengan tangan kanan-kirinya.
Setelah itu Waluyo melontarkan bogem kanannya.
Bagi Isma, tiga pukulan keras itu hanya terasa seperti tamparan tangan balita.
Waluyo melotot, namun ia tidak ingin larut dalam keheranan panjang. Ia langsung
bergerak secepat pikirannya. Tiga bogem mautnya menghujam perut Isma. Dua
dengan tangan kanan,
satu dengan tangan kiri. Namun sekali lagi, Isma yang sudah kerasukan jinnya
Kasman, tertawa mengejek.
Melihat Waluyo bengong, Isma yang
kedua tangannya masih dikunci Rujan, langsung membenturkan kepalanya ke kepala
Waluyo. Sedetik kemudian hidung Waluyo berdarah cukup banyak. Melihat Waluyo
melangkah mundur dengan sempoyongan, Isma langsung mengirim serangan
berikutnya. Kaki kanannya menghujam perut Waluyo dengan sangat keras.
Waluyo mengerang, lalu membungkuk. Isma ganti melirik Rujan yang mengunci kedua
tangannya. Isma menggeram dengan suara lelaki, kemudian ia benturkan kepalanya
yang bagian belakang ke muka Rujan. Rujan mengerang. Benturan keras itu membuat
cengkeramannya mengendur.
Isma yang mengetahui cengkeraman
tangan Rujan sudah mengendur, langsung menyikut perut Rujan dengan siku kanannya. Rujan yang
kesakitan, akhirnya melepaskan kedua tangan Isma. Isma menoleh ke belakang,
lalu menonjok muka lawan dengan bogem kanannya.
Rujan terhuyung-huyung, dan akhirnya roboh. Hidung dan mulutnya berdarah
banyak. Setelah Rujan takluk, Isma ganti memelototi Waluyo yang masih berdiri.
Waluyo yang merinding, langsung bertindak secepat kilat. Ia kembali melontarkan
tinju kanannya, namun tangan kiri Isma menangkisnya dengan mudah. Isma
menggeram keras, kemudian menonjok muka Waluyo dengan bogem kannnya. Pukulan
dahsyat itu akhirnya merobohkan Waluyo. Murni dan Darti semakin tegang
menyaksikan peristiwa menakjubkan sekaligus mengerikan ini.
Setelah pada bengong beberapa detik,
Ahmad bangkit lagi dengan tangan kanan membawa pentung kayu. Ahmad yang angkuh,
tidak sudi menyerah begitu saja. Kini ia sudah siap tempur lagi. Rujan yang
duduk di lantai, berseru, “Jangan nekat Mad! Sekarang kita tidak sedang
berhadapan dengan manusia biasa! Sekarang kita sedang berhadapan dengan jin!”
Ahmad yang sudah mengacungkan pentung
kayunya ke Isma, menyahut, Aku tidak peduli siapa dia! Mau makhluk halus, mau
setan, mau jin, mau gendruwo…pokoknya dia sudah berani mengganggu Bu Kandar! …Hei
keparat! Ayo kita duel lagi! duel yang marak!”
Kali ini amarah Isma mencapai puncak.
Baginya, pemuda di hadapannya itu hanya cecunguk tak tahu diri, namun kenapa ia
berani menantangnya dengan gagah? Isma yang sudah marah besar, bertekad akan melumat
lawannya. Apalagi melihat sikap Ahmad yang sok jagoan, Isma menjadi semakin
mantap untuk menghabisi pemuda angkuh di hadapannya itu. Kali ini ia tidak
ingin main-main lagi. Kali ini ia tidak ingin memberi ampun musuhnya.
Setelah diam beberapa detik, Ahmad
menyerang Isma dengan berteriak lantang. Ia hujamkan pentung kayunya ke muka
Isma, namun tangan kiri Isma yang sakti itu menangkis pentung Ahmad dengan
mudah. Tangan sakti itu hanya seperti menahan pentung plastik. Ahmad melotot
melihat lawannya masih begitu perkasa. Hati kecilnya mengatakan, lawan di
hadapannya itu benar-benar bukan tandingannya. Lawan di hadapannya itu terlalu
tangguh untuk ia lawan. Sementara Ahmad hanya melongo, Isma mengumpulkan
‘tenaga dalamnya’ di kepalan kanannya. Sedetik kemudian Isma menggeram, lalu ia
lontarkan bogem kanannya ke muka Ahmad.
Bogem maut itu kembali merobohkan
Ahmad ke lantai. Hidung dan mulutnya banjir darah. Ia ingin bangun lagi, namun
kepalanya seperti habis dipukul batu sebesar kepala kerbau. Waluyo yang sudah
berdiri lagi, menghampiri Darti sambil berkata, “Sekarang sebaiknya Ibu
memanggil ustadz, kyai, orang pintar atau orang alim yang bisa mengusir jin. Insya Allah, hanya orang-orang seperti
itu yang bisa menyembuhkan Mbak Isma.”
“Betul Bu!” sahut Murni yang mukanya
banjir peluh. “Mungkin Ibu bisa melapor ke takmirnya masjid Al-Furqan.”
“Yah, cocok sekali!” sahut Waluyo.
Rujan yang sudah berdiri, menyambung, “Mungkin Pak Sujar bisa menyembuhkan
orang kesurupan. …Kalau bukan Pak Sujar, mungkin Mas-Masnya yang jaga masjid
itu juga bisa.“
“Iya Bu,” sahut Waluyo. “Mungkin kita
bisa minta tolong Mas Andi, Mas Nurman…atau Mas Rian.”
Murni menyambung, “Kenapa tidak Mas
Hamdi sekalian!?”
Darti mengangguk. “Baiklah, aku akan
nelpon Bu Sujar.”
Begitu Darti hendak menelpon rumah
Sujar, datanglah lima
pemuda berotot. Usianya di bawah tiga puluh. Mereka Yudi, Kunto atau Kukun,
Kokok, Budi dan Hendra. Rupanya mereka teman-teman Waluyo. Hendra dan Budi penduduk
asli Bumi Indah, sedangkan yang lain asli Wonosari, satu desa dengan Waluyo.
Sementara Darti menelpon rumah Sujar dengan telpon di rumah Isma, Waluyo dkk
menghadang Isma yang mau mengamuk lagi. Sesaat kemudian, Retno menerima telpon
dari Darti. Darti langsung menceritakan
semuanya. Darti meminta tolong Retno untuk memanggilkan kyai atau ustadz yang
dapat me-ruqyah* Isma. Retno yang
terkejut bukan main, langsung mengontak Nurman yang masih mengikuti pengajian
di Mustek (Mushola Teknik) UGM.
Catatan Kaki:*Penyembuhan penyakit dengan
cara Islami, biasanya dilakukan untuk menyembuhkan orang kesurupan. Caranya, dengan dibacakan Al-Quran atau didoakan
dengan doa-doa yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.
Nurman yang masih asyik pengajian, langsung
mengontak ustadz-ustadz yang ia anggap bisa menyembuhkan orang kesurupan. Setelah itu Nurman mengontak
Andi yang masih kuliah, kemudian mengontak Hamdi yang sedang bisnis di rumah
temannya di Klaten. Hamdi yang masih asyik berbincang dengan teman-temannya,
terkejut sekali mendengar kabar Bu Kandar kesurupan. Nurman berkata, “Sekarang antum harus pulang. Antum
harus ikut membantu kita menyembuhkan Bu Kandar!”
“Tapi aku masih ada urusan penting!”
“Tapi ini lebih penting Mas!”
Hening sejenak. Hamdi menatap semua
temannya yang pada ngobrol, setelah itu bicara lagi, “Coba kamu minta tolong
Ustadz Abu Salman.”
“Ustadz Salman lagi pergi. Ustadz Aris,
Ustadz Arwan, Ustadz Salam juga tidak bisa. Mereka masih sibuk ngajar. Mas Ardi
masih di Purwokerto.”
“Papa?”
“Bapak masih di Ngawi. Kata Ibu, besok
pagi baru pulang.”
“Andi dan Rian?”
“Rian masih praktek lapangan. Andi
masih kuliah, tapi Insya Allah
sekarang dia lagi perjalanan pulang. Aku sendiri masih di Mustek, tapi sebentar
lagi pulang.”
Alangkah bingungnya Hamdi mendengar semua
penjelasan Nurman itu. Ia masih ingin melanjutkan bisnisnya, bisnis untuk bekal
masa depannya, namun ia juga tidak bisa mengabaikan Isma yang sedang dalam
bahaya besar. Setelah bingung beberapa
menit, akhirnya Hamdi mantap untuk membantu menyembuhkan mantan kekasihnya itu. Ia langsung memohon
diri pada semua temannya. Beberapa saat kemudian Hamdi dan motor GL-Pronya
sudah berada di jalan raya. Sambil konsentrasi penuh pada kemudi, Hamdi
bergumam, “Apalagi yang sudah terjadi pada Isma? …Siapa lagi yang ingin
mengganggu atau mencelakakan mantan pacarku itu? …Tapi memang seperti itulah
resiko wanita secantik dan sebaik Isma. Banyak lelaki yang menginginkannya. Termasuk
Hamdi bodoh ini. He he.“
Sekarang balik ke rumah Iskandar yang
sedang dilanda huru-hara besar. Ketika Darti dan Murni masuk lagi ke ruang
keluarga rumah Kandar, dua perempuan yang usianya beda jauh ini kembali
terkejut setengah mati. Mereka melihat Waluyo cs yang sudah tidak berdaya.
Delapan pemuda berotot ini terkapar di lantai. Rupanya mereka habis dibantai
Isma. Rujan mengatakan, sekarang Isma sedang berada di halaman belakang. Rujan
yang babak belur, berkata, “Apapun yang terjadi, kita harus bisa menahannya,
sampai para pengusir setan itu datang.”
“Gimana Bu Darti?” Tanya Kukun yang
sudah berdiri. “Sudah dapat Kyai pengusir setan?”
“Belum..” sahut Darti yang mau menangis. Hendra bertanya, “Terus gimana sekarang?
Siapa yang akan menghentikan dia!?”
“Kalian sabar dulu,“ sahut Darti, “aku
sudah minta tolong ustadz kenalan suamiku. Ustadz Jamal. Beliau sudah tiga kali
menyembuhkan orang kesurupan, jadi Insya
Allah beliau bisa diandalkan. Sebentar lagi beliau datang. …Sambil menunggu
beliau, kalian harus tetap bisa menahan Mbak Is untuk tidak keluar dari rumah
ini. …Murni, pintu-pintu sudah kamu kunci?”
“Sudah Bu.”
Sesaat kemudian Isma masuk lagi ke
ruang keluarga. Isma yang sekarang sedang gila, siap mengamuk lagi. Waluyo cs
langsung siaga. Mereka mengepung Isma yang berdiri di samping sofa yang biasa
ia pakai untuk bersantai. Isma yang wajahnya semakin mengerikan, memelototi delapan pria kekar yang
mengitarinya. Waluyo yang terlihat paling tenang, berkata, “Kalau bisa kita
tidak usah
berkelahi lagi. Tugas kita hanya menahannya, syukur bisa membuatnya
pingsan.”
Sesaat kemudian Isma kembali menyerang
delapan pria kekar di hadapannya, namun kali ini Waluyo cs bertindak lebih
cepat. Empat kawannya menangkap kedua lengan Isma. Satu tangan dicengkeram dua orang. Isma menggeram
keras, berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Rujan, Kukun, Kokok
dan Hendra. Untuk beberapa detik, Isma yang sejak tadi di atas angin, bisa
dilumpuhkan oleh Waluyo dkk. Murni yang ketakutan berat, berseru, “Hati-hati
semuanya! Kalian jangan sampai menyakiti Mbak Is!”
“Kamu harus sadar Mur,”
sahut Darti sambil menyentuh kedua bahu Murni. “Sekarang kita tidak sedang
berhadapan dengan Mbak Is.”
“Ibu benar..” sahut Waluyo. “Kalau
sekarang kita tidak bertindak tegas, nanti kita bisa semakin sengsara. Kamu
tidak usah kuatir Mur. Insya Allah, teman-temanku tahu apa yang harus mereka lakukan.
Percayalah.”
Beberapa menit kemudian datanglah Nurman dan Andi. Dua pemuda ini
terkejut melihat Isma dicengkeram kuat oleh lima pemuda kekar. Darti berkata, “Seperti
inilah keadaannya. Kami sangat berharap, mudah-mudahan Mas Nurman atau Mas Andi
bisa menolong Mbak Is.”
Nurman menjawab, “Saya dan Andi belum
pernah menyembuhkan orang
kesurupan. Tapi Insya Allah, kami
akan berusaha keras.”
Sesaat kemudian Isma kembali unggul.
Ia berhasil merobohkan semua lawannya. Setelah itu ia ganti menatap Nurman dan
Andi yang berdiri di pintu menuju ruang tamu. Isma berkata, “Korbanku mau
tambah lagi.”
Andi melotot, lalu berkata, “Mek
(panggilan Nurman), kamu dengar suranya?”
Nurman hanya diam sambil melotot.
Darti berujar, “Pokoknya sebelum Ustadz Jamal datang, kita harus bisa
melumpuhkan dia.”
Setelah diam beberapa detik, Isma
mendekati Andi dan Nurman, lalu ia lontarkan kepalan kanannya ke muka Andi.
Pukulan keras itu membuat Andi melangkah mundur dengan terhuyung-huyung.
Hidungnya berdarah sedikit. Setelah itu Isma ganti menyerang Nurman yang masih
bengong. Dua pukulannya menghujam muka Nurman dengan telak. Hidung pemuda asli
Jombang ini berdarah sedikit. Isma kembali melontarkan bogem kanannya, namun kali ini tidak mengenai
sasaran. Tangan kiri Nurman yang cukup berotot itu mengunci tangan kanan Isma.
Melihat pertahanan Isma terbuka, tangan kanan Nurman langsung mencekik lsma,
setelah itu Nurman membaca surat
Al-Ikhlas (Qul huwallahu ahad).
Setelah membacanya untuk yang ketiga
kalinya, Isma mulai kesakitan. Tenaganya yang tadi seperti banteng betina, kini
semakin melemah. Isma membentak, “Diam kamuu!! Jangan kamu baca syair-syair
jelek itu! aahh!! Hentikaaan!!”
Nurman yang masih mencekik leher Isma
sekuat tenaga, berkata, “Katakan! Allah itu satu! Allah tempat bergantung! Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan! Dan tidak ada satupun yang setara dengan
Dia! Tidak ada satupun yang bisa menandingiNya!* Subhanallah! Walhamdulillah! Wa Laa ilaaha illallah! Allahu Akbar! Maha Suci Allah! Segala puji bagi Allah !
Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah! Allah Maha Besar!”
Catatan Kaki : * Al-Quran surat Al-Ikhlas, surat ke 112, ayat awal
sampai akhir ( 1-4 )
“Cukuup!! Hentikaan!!” seru Isma yang
semakin kesakitan. Nurman membentak, “Sebelum kamu keluar dari tubuh Bu Kandar,
aku tidak akan menghentikan bacaanku ini! Hayo keparat! Kamu mau keluar
tidak!!?”
“TIDAAAK!!!” seru Isma sambil meronta
sekuat tenaga. Nurman meminta Andi dan Waluyo untuk mengunci kedua tangan Isma.
Setelah kedua tangan perkasa itu dapat dilumpuhkan, tangan kanan Nurman mencengkeram
kepala kiri Isma bagian atas, lalu ia membaca surat lain. Pemuda bertubuh atletis ini
berkata, “Qul a’uudzu bi Rabbil falaq. Katakan,
‘aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu Shubuh.’ Min syarri maa khalaq. Dari kejahatan makhlukNya. Wa min syarri ghaaysiqin idzaa waqab. Dan dari kejahatan
malam apabila telah gelap. Wa min syarrin
naffaatsaati fil ‘uqad. Dan dari kejahatan tukang-tukang sihir yang meniup
pada ikatan. Wa min syarri haasidzin
idzaa hasad. Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki.” *
“Qul
a’uudzu bi Rabbin naas. Malikin naas. Ilaahin Naas. Min syarril waswaa sil
khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shudhuurin naas. Minal jinnati wan naas.”
Katakan! Aku berlindung kepada Tuhan
yang memelihara manusia. Yang menguasai manusia. Tuhannya (sesembahannya)
manusia. Dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi. Yang membisikkan ke
dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” ** Laa ilaaha illallaah ( tiga kali )! Allaahu Akbar!!”
Isma menjerit. Tubuhnya yang semakin lemah itu membuatnya harus
meletakkan kedua lututnya di lantai. Andi dan Waluyo yang mencengkeram erat
tangan kanan-kirinya,
ikut duduk di lantai, demikian pula dengan Nurman. Beberapa detik kemudian Isma
menundukkan kepalanya. Nafasnya terputus-putus. Waluyo dan
Andi melepaskan
kedua tangan Isma. Kini Isma bersujud di lantai. Nurman yang duduk di
hadapannya, berkata lembut, “Bu Kandar. …Mbak Isma. …Mbak Isma sudah sadar?
…..Mbak Isma sudah baik lagi kan?”
Hening sejenak. Nurman, Andi dan
Waluyo saling melirik. Muka tiga pemuda ini basah kuyub oleh keringat
kengerian. Demikian pula dengan Darti, Murni,
dan semua teman Waluyo. Mereka hanya melongo melihat Isma bersujud. Murni
yang paling cemas, bertanya lirih,
“Gimana Mas Nurman?”
Nurman memberi isyarat agar Murni diam dulu. Melihat Isma seperti pingsan, Nurman,
Andi dan Waluyo menjauhinya dengan perlahan. Kini semuanya berdiri mengitari
Isma yang bersujud di lantai. Untuk beberapa saat, istri Kandar ini masih belum
bergerak. Untuk beberapa saat, semuanya boleh merasa sedikit lega. Murni yang
berdiri paling dekat dengan Isma, berkata seraya tersenyum, “Mas Nurman hebat.
…Makasih banyak ya Mas?”
Nurman tersenyum malu. “Kita masih
harus waspada penuh. Makhluk halus di tubuhnya belum lenyap seratus persen.”
Hening sejenak. Ketegangan masih
mencengkeram hati Nurman cs. Walaupun untuk sementara ini Isma sudah bisa ditaklukkan,
Waluyo cs masih cemas melihat keadaan Isma yang belum pasti. Mereka sudah
melihat dan merasakan hebatnya ilmu santet yang sekarang mencengkeram jiwa raga
Isma. Beberapa menit kemudian, datanglah orang
yang ditunggu sejak tadi. Ustadz Jamaludin Mahrun, atau Ustadz Jamal. Lelaki
bertubuh tinggi sedang dan tegap ini terlihat berwibawa. Usianya sekitar 43
tahun. Kulit coklat muda. Jenggot agak tebal dan rapi.
Catatan Kaki : * Al-Quran surat Al-Falaq, surat ke 113 ayat 1-5
* * -----/// ----- An-Naas,
---///--- 114 ayat 1-6
Darti langsung mengenalkan Jamal pada
semuanya. Jamal menatap tubuh Isma yang duduk setengah tengkurap di lantai.
Beberapa menit kemudian suasana kembali gempar. Isma bangkit lagi dengan tenaga
penuh, padahal beberapa saat tadi tenaganya seperti sudah musnah semua. Ia berdiri
tegak, lalu memelototi Nurman yang berdiri di samping Jamal. Jamal sendiri
langsung terkejut melihat wajah Isma lebih mengerikan dari serigala betina. Isma
menggeram, lalu menyerang Nurman dengan gerakan
secepat kilat. Dua tinju kanan-kirinya
menghujam dada Nurman dengan keras. Nurman roboh. Tubuhnya hampir menabrak meja
kecil dan TV. Semuanya kalang kabut melihat Isma mau mengamuk lagi.
Isma ganti menatap Jamal dengan tajam.
Isma berkata, “Datang lagi satu cecunguk tak tahu diri.”
Jamal melotot. “Masya Allah. Suaranya…?”
“Itulah Pak,” sahut Darti. Jamal
berkata, “Ilmu santet macam apa yang sudah merasuki tubuhnya? …Ilmu santet tingkat
tinggi.”
“Hei keparat!” bentak Isma. “Kalau
kamu berani nantang aku, kamu akan bernasib seperti mereka (menunjuk Nurman
cs)!”
Jamal menggelengkan kepala. “Aku hanya
menjalankan kewajibanku sebagai seorang Muslim. Menolong saudaranya yang benar-benar butuh
pertolongan.”
“BANGSAT!! Rupanya kamu benar-benar
ingin mampus!”
Jamal yang berdiri sekitar 2 meter di
hadapan Isma, berkata, “Sudah kewajibanku untuk melawan iblis seperti kamu!”
Isma menggeram seperti harimau betina
yang mau menerkam rusa. Nurman yang sudah berdiri lagi, berkata, “Hati-hati Pak
Ustadz, dia kuat sekali. Saya sudah tidak mampu lagi melawannya.”
Isma memelototi Nurman yang berdiri di
samping kiri Jamal, lalu berkata, “Kamu cukup hebat, anak muda. Tapi kamu belum
cukup kuat untuk melawan Kasman.“
“Kasman?” sahut Jamal. “Jadi namamu
Kasman?”
Isma yang mau menyerang Jamal,
berkata, “Kelihatannya kamu memang lebih hebat dari anak-anak bodoh ini
(menatap Waluyo dkk). Kelihatannya kamu memang yang paling pantas jadi
lawanku.”
Sedetik kemudian, Isma melontarkan
bogem kanannya
ke muka Jamal, namun tangan kiri Jamal menangkis pukulan maut itu. Kedua tangan
Jamal langsung mencengkeram kepala Isma, lalu Jamal berseru, “Subhanallah wa bi hamdih! Subhanallahil
‘azhim! Laa haula walaa quwwata illaa
billaah! Maha Suci Allah dan Yang
Maha Terpuji. Maha Suci Allah dan Yang Maha Agung! Tiada daya dan kekuatan,
kecuali dari Allah!”
Tiga kali Jamal membaca kalimat tersebut.
Isma mengerang kesakitan. Kedua tangannya mencoba menarik tangan Jamal yang
mencengkeram kepalanya. Jamal yang melihat Isma melemah, langsung membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq
dan An-Naas. Beberapa detik kemudian kekuatan Isma seperti lenyap dengan
perlahan. Isma berlutut, kemudian
merangkak di lantai. Mukanya belum bisa dilihat karena menunduk. Jamal yang
berdiri sekitar 1, 3 meter di hadapan Isma, menggelengkan kepala. Dengan muka
penuh keringat, Jamal berkata,
“Masya Allah. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil‘azhim. Terkutuklah
orang yang sudah melakukan semua ini!”
“Dia bukan orang Pak,” sahut Murni menangis. “Dia setan terkutuk.”
Beberapa detik setelah Murni berkata
begitu, Isma bangkit lagi dengan tubuh segar bugar. Semuanya melotot. Isma yang
kini mengincar Jamal, berkata, “Kamu memang hebat, Kyai gadungan. Tapi kamu
masih belum tandinganku.”
Sedetik kemudian, cakar kiri Isma
menyerang Jamal, namun tangan kanan Jamal menangkis cakar setan itu. Isma ganti
melontarkan bogem kanannya, dan tepat mengenai pipi kiri Jamal. Isma langsung
mengirim serangan berikutnya, namun tangan kiri Jamal menangkis kepalan
kanannya. Kedua tangan Jamal kembali mencengkeram kepala Isma. Setelah itu
Jamal membaca ayat kursi.
Beberapa detik kemudian Isma kembali mengerang kesakitan. Baginya, lantunan ayat-ayat suci itu seperti sambaran halilintar.
Beberapa detik kemudian Isma kembali mengerang kesakitan. Baginya, lantunan ayat-ayat suci itu seperti sambaran halilintar.
Ia menjerit sambil memejamkan kedua
matanya. Kedua tangan Jamal seperti menyedot seluruh kekuatannya. Darti dan
Murni semakin miris melihat Isma tersiksa hebat. Beberapa detik kemudian Isma
berteriak, lalu ia lontarkan kepalan kanannya
ke dada tengah Jamal. Jamal melangkah mundur sambil mengerang. Isma yang
kehabisan tenaga, roboh dengan perlahan. Ia berbaring di lantai yang dilapisi
karpet. Jamal yang nafasnya terputus-putus, berkata, “Semua menjauh dulu. Siapa
tahu dia hanya pura-pura. …Mungkin dia sedang mencari waktu untuk memulihkan
tenaganya.”
Hening sejenak. Isma belum bergerak
lagi. Sejauh ini ia benar-benar terlihat
pingsan. Murni yang berdiri paling dekat dengan Isma, bertanya lirih,
“Gimana Pak Ustadz? Dia benar-benar sudah pingsan?”
“Makhluk halus di tubuhnya juga sudah
hilang?” Tanya Darti yang kecemasannya tidak kalah dari Murni. Jamal yang
mukanya penuh peluh, menjawab, “Biar saya periksa dulu.”
Jamal mendekati Isma dengan ekstra
waspada. Ia sentuh dahi, pipi, leher dan tangan Isma. Beberapa detik kemudian
Jamal berkata, “Dia benar-benar pingsan. …Untuk sementara ini dia sudah baik.”
“Berarti jin di tubuhnya juga sudah
pergi?” Tanya Andi. Jamal menatap Isma, lalu menyahut, “Saya tidak merasakan
lagi kehadiran jin itu. Insya Allah,
untuk sementara ini jinnya sudah pergi. …Tapi kita tetap harus waspada.”
Ucapan Jamal itu membuat semuanya
lega. Jamal menatap Isma yang tak sadarkan diri, setelah itu berkata, “Subhanallah…Laa ilaaha illallah…Allahu
Akbar. …..Baru sekarang saya menghadapi ilmu santet sehebat ini. …Tiga
kasus yang saya tangani sebelum ini tidak seheboh ini. …Berarti Kasman itu
benar-benar hebat.”
Hening sejenak, lalu Jamal berkata,
“Sekarang saya tanya. Siapa sebenarnya Kasman itu? Mungkin Bu Darti atau Mbak
Murni bisa menceritakan.”
Murni mengangguk, “Baiklah Pak Ustadz,
nanti saya ceritakan semuanya. Tapi sekarang Mbak Isma gimana?”
Jamal menatap Isma yang masih tidur
nyenyak di karpet, setelah itu berkata, “Saya tidak bisa menjamin keadaan Mbak
Isma. Tapi atas ijin Allah, untuk sementara ini Mbak Isma sudah bebas dari
cengkeraman jin-jin jahat piaraan Kasman.”
Beberapa menit kemudian Isma
menggeliat. Perlahan-lahan, kedua matanya terbuka. Dengan suara teramat lemah,
Isma berkata, “Murni…Bu Darti.”
“Alhamdulillaah!”
seru Murni dan Darti. Betapa leganya dua
perempuan ini. Mereka langsung menghampiri Isma yang masih berbaring di karpet.
Sambil memangku dan memeluk Isma, Murni yang tersenyum sekaligus menangis,
bertanya, “Mbak Is sudah baik kan?”
Isma yang wajahnya pucat, balik bertanya,
“Apa yang sudah terjadi? Kenapa banyak orang? Kenapa Mas Nurman dan Mas
Andi ada di sini?”
Darti yang juga tersenyum sekaligus
menangis, menyahut, “Mas Nurman sudah berjasa besar. Selain Ustadz Jamal, Mas
Nurman juga sudah menolong Mbak Ayu.”
“Menolongku?”
Darti mengangguk sambil tersenyum. Sesaat
kemudian adzan Dhuhur berkumandang. Jamal tersenyum, “Sekarang mari kita sholat
Dhuhur dulu. …Di dekat sini ada masjid?”
Nurman tersenyum, “Masjid Al-Furqan.”
“Masjid Al-Furqan?” sahut Jamal
tersenyum. “Baiklah, mari kita ke sana.”
Seusai Dhuhur, Kandar menelpon rumah.
Murni yang sebenarnya ingin menyembunyikan masalah besar ini, langsung
menceritakan semuanya. Mendengar kabar Isma dalam bahaya, sekujur tubuh Kandar
seperti tertusuk paku panas. Kandar yang masih sibuk bekerja, langsung ingin
pulang, namun Darti tidak ingin Kandar melakukan itu. Darti yang mentalnya
sudah matang, menganggap tindakan Kandar itu kurang bijaksana. Kandar harus
tetap melanjutkan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Darti hanya meminta
Kandar ikut mendoakan istrinya yang sekarang masih pingsan. Darti yang
kesabarannya hampir setara Endang, berkata,
“Berkat Ustadz Jamal dan Mas Nurman, untuk sementara ini Mbak Is sudah
tidak apa-apa. …Sudahlah, Mas Kandar jangan terlalu cemas, nanti Mas Kandar
malah tidak bisa kerja dengan baik.”
“Tapi Bu…”
“Insya
Allah, sekarang istrimu sedang dijaga orang-orang sholeh.”
Hening sejenak. Kandar tersenyum lega,
lalu berkata, “Orang-orang sholehnya termasuk Bu Darti.”
Darti tersenyum malu. Kandar yang
sudah merasa agak lega, berkata lagi, “Yang penting imam masjid gadungan itu
tidak ada. …Daripada dia, aku malah lebih percaya sama Nurman atau Andi. Nanti
kalau dia ikut campur, keadaan bisa semakin kacau. Betul tidak Bu?”
Darti hanya tersenyum kecut. Setelah
menutup telpon, Darti bergumam, “Kandar…sebesar itukah kebencianmu pada Hamdi? Jadi
kamu belum tahu kalau Hamdi sekarang sudah sholeh lagi? …Insya Allah, kalau mendengar cerita Bu Endah yang sangat
meyakinkan…sekarang ini Hamdi sudah sesholeh dulu. …Tapi wajar kalau dia sangat membenci Hamdi.
Soalnya Hamdi pernah pacaran sama dia (menatap Isma ). Hi hi hi. Sungguh luar
biasa semua peristiwa ini.”
Beberapa menit kemudian, Nurman cs berkumpul
lagi di ruang keluarga rumah Isma. Mereka duduk mengitari Isma yang masih
pingsan. Sekarang Isma tidur di sofa. Tubuhnya dibungkus selimut. Jamal
menyentuh dahinya, lalu berkata, “Suhu tubuhnya biasa saja. Tidak panas tidak
dingin. …Dia juga tidak demam atau meriang. …Yah, seperti inilah sakit karena
hal ghaib.”
Ahmad yang masih angkuh, berkata,
“Yang penting ada orang yang bisa membereskan iblis betina ini.”
“Huss!” bentak Murni marah. “Mas Ahmad,
jaga mulutmu! Jangan menyebut Mbak Is iblis!”
Ahmad tersentak. “Oh maaf Mbak, aku
tidak bermaksud begitu. Yang kumaksud iblis itu keparat yang sudah berani
menyiksa Mbak Is.”
Murni mengelus dahi Isma, lalu
berkata, “Keparat Kasman dan Hartoyo.”
“Hartoyo?” Tanya Ahmad. Murni
mengangguk. “Hartoyo itu adiknya Kasman. …..Kasman itu bekas pacarnya Mbak Is.”
Semua tersentak. Murni melanjutkan, “Setelah Mardan, pacarnya Mbak Is di
desa, Kasman-lah saingan terberat Pak Kandar. …Secara tidak langsung, Pak
Kandar-lah yang sudah membuat Kasman jadi manusia setan seperti sekarang.”
“Jadi Kasman itu setan!?” Tanya
Waluyo. Isma menyahut, “Setengah.”
Hening beberapa detik, lalu Isma
melanjutkan, “Kami benar-benar menyesal. …Orang sejahat Hartoyo, kok
bisa-bisanya kami terima kerja di sini.”
Setelah Murni selesai menceritakan
semuanya, Jamal berkata, “Kasihan Mbak Isma. Dia jadi korban cinta banyak
lelaki.”
Hening sejenak. Jamal menatap
kanan-kiri, lalu bertanya, “Terus sekarang Mas Hamdi-nya mana?”
“Tadi dia SMS saya,” sahut Andi, “Insya Allah, sebentar lagi dia ke sini.”
Beberapa menit kemudian Isma siuman. Alangkah leganya semuanya, terutama
Darti dan Murni. Isma langsung minta diambilkan air putih. Isma yang kehausan,
langsung meneguk air putih di tiga gelas besar. Setelah kenyang, Isma bersandar
di sofa, lalu menatap semuanya. Darti mengenalkan Isma pada Jamal, setelah itu
ia ceritakan semuanya. Beberapa saat kemudian, Isma yang sudah terlihat agak
segar, menatap Nurman dengan senyum manisnya, lalu berkata lembut, “Mas
Nurman…makasih banyak ya?”
“Sama-sama Mbak.” sahut Nurman
tersenyum malu. Isma yang sekarang diapit Darti dan Murni, melanjutkan, “Aku
jadi merasa berhutang sama Mas…”
“Wah, Mbak Is sama sekali tidak perlu
merasa begitu. Mbak Is tidak hutang apapun sama saya. Saya hanya berusaha
menjalankan kewajiban agama. …Ehmm (muka merah karena malu)…kalau mau jujur,
sayalah yang sebenarnya ingin berhutang sama Mbak Is.”
“Maksudnya?”
Nurman menunduk sambil tersenyum malu.
Setelah itu ia berkata, “Seminggu lagi saya ada perlu penting, penting sekali.
Saya butuh uang 150 ribu. Saya sudah mencoba meminjam ke sana kemari, tapi
teman-teman saya pada keberatan untuk meminjami uang segitu. Yah, maklumlah…kami
kaum dhuafa, orang perantauan. He he.
…Nah, kalau sekarang Mbak Is ada uang segitu, mungkin Mbak Is bisa meminjami
saya. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah, 2-3 minggu lagi sudah saya
kembalikan.”
Isma tersenyum manis. Ia meminta Murni
untuk mengambilkan uang di dompetnya yang berada di kamar. Isma mengatakan,
uang itu ia berikan sebagai tanda terima kasihnya pada Nurman. Isma
memberikannya dengan tulus. Dengan demikian, besok Nurman tidak usah
mengembalikan uang 150 ribu itu. Tentu saja Nurman tersentak gembira. Ia
berkata, “Jangan begitu Mbak! Saya hanya pinjam kok. Yang namanya pinjam itu
harus dikembalikan.”
Isma yang wajahnya masih pucat,
menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Anggap saja sebagai tanda terima
kasihku. Kalau mau jujur, uang segitu belum cukup untuk menghargai apa yang
sudah Mas lakukan tadi.”
“Masya
Allah Mbak, saya tidak melakukan apa-apa. Ustadz Jamal yang sudah menolong
Bu Kandar.”
Jamal tersenyum. “Akhi Nurman terlalu
merendah.”
Darti tersenyum, “Sudahlah Mas, terima
saja. Kalau Mas menolak, berarti Mas tidak mensyukuri nikmat Allah.”
“Terima sajalah Mek,” ujar Andi sambil
menyikut lengan kiri Nurman. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaan Nurman. Ia
terima uang itu, lalu berkata, “Semoga Allah segera menyembuhankan Bu Kandar.
Amin.”
Beberapa menit kemudian Kandar
menelpon. Ia menanyakan keadaan Isma. Murni mengatakan kalau Isma sudah sadar,
bahkan sudah bisa bercanda. Tentu saja Kandar lega bukan main. Ia langsung
minta disambungkan ke Isma. Isma yang suaranya masih lemah, menceritakan jasa
Jamal dan Nurman. Mendengar itu, Kandar langsung minta disambungkan ke Nurman.
Kandar berkata, “Terima kasih banyak Mas Nurman. Saya tidak tahu harus
bagaimana, harus bilang apa. …Sekarang katakan saja, apa yang harus saya
lakukan untuk berterima kasih pada anda.”
“Astaghfirullahal’azhim..”sahut
Nurman tersipu. “Pak Kandar tidak perlu repot. Saya tidak melakukan apapun.”
Kandar tersenyum, “Pokoknya terima
kasih tak terhingga untuk Mas Nurman.”
“Sama-sama Pak. Kalau Bapak ingin Mbak
Isma sembuh total, sekarang Bapak harus ikut berdoa.”
Setelah berbincang dengan Nurman, Kandar
minta disambungkan lagi dengan Isma. Isma mengatakan, Kandar juga harus
berterima kasih pada Jamal. Mendengar itu, Kandar tersenyum, “Oke. Haturkan
terima kasih untuk Ustadz Jamal.”
Jamal tersenyum. “Berterima kasihlah
pada Allah SWT.“
Kandar menutup telponnya, lalu kembali
menghadap buku dan laptop. Alangkah leganya Kandar setelah mendengar keadaan
istrinya. Namun beberapa detik kemudian, telinga Kandar mendengar suara besar
dan serak yang berbunyi, “Kandar, kamu jangan gembira dulu.”
Kandar melotot, “Kasman!?”
Kandar berdiri, lalu menatap
kanan-kiri dan depan-belakang. Dengan jantung bergetar keras, Kandar bertanya,
“Kasman…kamu di mana!?”
Suara Kasman menyahut, “Isma sudah
dalam cengkeramanku…jadi harusnya kamu tidak boleh gembira. Harusnya kamu
menangis ketakutan. Ha ha ha haa!”
Tawa Kasman yang begitu mengerikan itu
semakin menggetarkan hati Kandar. Suara Kasman melanjutkan, “Kandar…kamu
benar-benar goblog! Kamu terlalu cepat gembira. Kamu merasa sudah
menang…padahal kamu tidak akan menang! …Sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa
mengalahkan Kasman. Hua ha ha haa!!”
Kandar benar-benar ketakutan. Tubuhnya
seperti lumpuh. Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Beberapa
detik kemudian suara Kasman terdengar lagi. Katanya, “Janjiku kemarin
benar-benar akan terwujud. …Kandar…sebentar lagi kamu akan menangis ketakutan. Tunggu
saja bedebah! Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati yang paling
menyakitkan!”
Suara Kasman tertawa keras. Selang
lima detik kemudian Kandar membentak, “KASMAN! Kamu di mana!!?”
Setelah ditunggu agak lama, suara
mengerikan itu tidak terdengar lagi. Kandar yang sudah bisa bergerak lagi,
langsung kembali duduk. Ia usap keringat dingin yang membanjiri mukanya. Dengan
hati yang masih dicengkeram rasa takut yang luar biasa, Kandar berkata lirih,
“Tidak. …Insya Allah, Isma tidak akan
menderita lagi. Buktinya? Sekarang Isma sudah pulih dari kesurupannya. …..Huh!
Keparat itu hanya mau menakuti aku.”
Sekarang balik ke Isma. Sesaat kemudian
Isma yang masih lemas, minta ijin untuk tidur lagi. Hanya dalam waktu lima
menit, Isma sudah tertidur pulas. Darti yang duduk di sampingnya, berkata,
“Kita belum bisa lega seratus persen. …Maklumlah, kita belum yakin kalau
tubuhnya sudah bebas dari guna-guna Kasman.”
Jamal mengangguk, “Kita berdoa saja Bu. Doa
itu senjata terakhir seorang Mukmin. …Usaha sekeras apapun, tidak akan bisa
merubah takdir. Tapi dengan doa, Insya Allah, sedikit banyak bisa merubah
takdir.”
Beberapa menit kemudian Hamdi datang.
Kehadirannya mengurangi ketegangan yang mencengkeram hati Murni dan semuanya.
Hamdi dan Jamal langsung berkenalan, setelah itu Darti menceritakan huru-hara
yang sudah terjadi beberapa saat tadi. Huru-hara besar yang sudah terjadi sejak
tadi pagi, dan sampai siang ini baru beres 60 persen. Hamdi terlongong-longong
mendengar semua cerita Darti. Namun sekarang ia agak lega melihat Isma tertidur
pulas. Ia berkata, “Me-ruqyah orang
kesurupan itu memang berat sekali. Kalau kita tidak hati-hati, nanti kita bisa
celaka sendiri, soalnya yang kita hadapi itu jin, makhluk halus. …Berhasil
tidaknya seseorang menolong orang kesurupan itu hanya tergantung satu hal. Kesholehannya.
Ketakwaannya.”
“Mas Hamdi betul..” sahut Jamal. “Jadi
sebenarnya kita tidak perlu memanggil orang khusus, orang pintar, orang yang
dianggap spesialis pengusir hantu. Siapa pun orangnya, asal dia benar-benar
sholeh, benar-benar bertakwa, Insya Allah,
dia bisa mengusir jin yang merasuki tubuh orang. …Orang bisa kesurupan itu
bukan hanya karena imannya lemah, tapi juga karena jin atau ilmu santet yang
menyerangnya memang kuat. Dan yang paling tepat, karena dua-duanya.”
“Ustadz Jamal betul sekali,” kata Hamdi.
“Orang kesurupan itu kebanyakan memang karena imannya lemah, banyak dosa,
banyak maksiat, dan sebagainya. Tapi kita tidak bisa langsung memvonis begitu. Kita
sendiri, kalau diri kita kotor, banyak dosa, ya bisa kesurupan, bisa kena
guna-guna. Makanya, kita juga harus hati-hati. Kita harus terus tazkiyatun nafs*.”
Hening sejenak, setelah itu Darti
berkata, “Tadi Mas Nurman sudah membuktikan. Mas Nurman bukan Kyai pengusir
jin…bahkan dia juga mengaku belum pernah menolong orang kesurupan. Tapi buktinya?...Tadi
dia bisa menolong Mbak Ayu.”
“Maha Suci Allah,” sahut Nurman
tersipu. “Tadi hanya untung-untungan Bu.”
Catatan Kaki : *
Mensucikan jiwa/ hati
Waluyo
menatap Hamdi, lalu berkata, “Seumpama nanti Mbak Isma belum sembuh, Mas Hamdi
juga harus turun tangan.”
“Jangan kuatir Mas,” sahut Andi
tersenyum, “ustadznya masjid Al-Furqan ini siap membantu kapan pun.”
“Jangan dengarkan dia Yo,” sahut Hamdi
tersenyum malu. Hamdi menatap Isma dengan tatapan penuh kasih, setelah itu
berkata, “Saya belum pernah menyembuhkan orang kesurupan. …Pengetahuan saya
tentang ruqyah masih sangat dangkal. Jadi
saya tidak yakin bisa menolong dia. …Insya
Allah, Akh Nurman lebih bisa diandalkan, apalagi Ustadz Jamal.”
“Ustadznya Bumi Indah ini memang suka
merendah,” kata Nurman tersenyum. Jamal menyambung, “Mas Hamdi jangan pesimis
dulu. Apapun yang terjadi nanti, antum harus membantu kami.”
“Insya
Allah Tad.” Jawab Hamdi tersipu. “Semua yang di sini harus ikut
berdoa. ...Lantas (menatap Isma yang
masih lela )…apa tubuhnya benar-benar sudah lenyap dari guna-guna?”
Jamal menatap Isma dengan tajam,
setelah itu berkata, “Setahu saya, Insya
Allah…untuk sementara ini saya tidak merasakan guna-guna di tubuhnya. “
Murni menyahut, “Mudah-mudahan sudah
hilang selamanya.”
“Itu yang paling kita harapkan,” jawab
Darti. Beberapa menit kemudian Jamal cs kembali terkejut. Isma bangun dengan
tersentak. Ia mengeluhkan dadanya yang terasa sakit. Beberapa detik kemudian dadanya
semakin bertambah sakit. Dadanya seperti mau terbelah. Ia mengerang, lalu
menjerit minta tolong. Darti yang memeluknya, berseru, “Dzikir Mbak, dzikir! Sebut
asmaNya, apa saja! Cepat! Laa ilaaha
illallaah. Allaahu Akbar.”
Isma menyentuh dadanya dengan kedua
tangannya. Ia mengerang, “Dadaku sakit sekali Bu! Hah, hahh. Dadaku seperti
ditusuk pedang! Ya Allah, kenapa dadaku ini!? Tolong Buu! Tolooong!!”
Murni yang duduk di hadapan Isma,
berseru, “Gimana ini Pak Ustadz!? Kelihatannya jinnya mau datang lagi!”
Jamal mendekati Isma, lalu meminta Murni
dan Darti untuk menyingkir dulu. Setelah
duduk di hadapan Isma, Jamal bertanya, “Gimana rasanya Mbak!?”
Isma yang memejamkan matanya, berseru,
“Sakit banget Pak Ustadz! Dadaku seperti mau berlobang! …Aaah!! Tolong Pak
Ustadz! Tolong akuu!!”
“Astaghfirullahal’azhim!”
seru Jamal melotot. Ia sentuh kedua bahu Isma, lalu membaca doa. Ketegangan
kembali mencengkeram hati semua orang yang berada di ruang keluarga rumah
Kandar. Untuk beberapa saat, Hamdi cs melihat Jamal mencengkeram kedua bahu
Isma sambil menutup matanya. Mulutnya berkomat-kamit, membaca mantera-mantera
Islami. Beberapa saat kemudian Isma berhenti mengerang. Rasa sakit di dadanya
sudah berkurang banyak. Kepalanya menunduk dengan perlahan. Rupanya istri
Kandar ini mau pingsan lagi.
Murni bertanya, “Apa jinnya datang
lagi?!”
Jamal yang masih sibuk mengurus Isma,
hanya mengangguk dengan mata masih tertutup. Setelah Isma pingsan lagi, Jamal
membuka matanya, lalu merebahkan tubuh Isma dengan perlahan.. Jamal
menggelengkan kepala. “Astaghfirullahal’azhiim. Ilmu hitam Kasman benar-benar hebat. …Kalau
begini terus, aku semakin tidak yakin bisa menolong dia.”
Murni yang menangis sesenggukan,
bertanya, “Terus siapa yang nanti bisa menolong dia?! Siapa Pak Ustadz!?”
“Hanya Allah yang tahu. Sekarang Mbak
Murni berdoa saja ya?”
“Iya Mur, sabarlah..” sahut Darti yang
juga menangis. “Sebagaimana kata Pak Ustadz tadi…doa itu senjata terampuh kita
setelah kita berusaha maksimal. Insya Allah, doa itu sedikit banyak bisa merubah
takdir. Percayalah.”
Murni yang mengelus muka Isma,
menyahut, “Sejak tadi saya sudah berdoa. Hik, hik. Tapi Mbak Is masih begini.
Hik, hik. …Yahh…mungkin karena saya ini hambaNya yang hina, jadi doa saya tidak
makbul.”
“Doa juga butuh kesabaran Mur,” sahut
Hamdi. “Kalau Gusti Allah menghendaki Isma selamat, Insya Allah, sehebat apapun ilmu santet Kasman, pada akhirnya akan
musnah. …Mungkin di antara kita tidak ada yang bisa menolong Bu Kandar. Tapi kalau
Allah menghendaki dia selamat, Insya
Allah, nanti pasti ada orang yang bisa menolong dia. …Siapa pun orangnya,
apapun status dan pekerjaannya, yang jelas, dia orang yang benar-benar sholeh.”
Selang satu menit setelah Hamdi
bicara, Isma bangun lagi dengan tersentak. Begitu bangun, Isma langsung
mendorong dada Jamal dengan kedua tangannya. Jamal terjengkang ke belakang.
Isma melotot, lalu berdiri di sofa. Beberapa detik kemudian Isma salto ke
belakang, setelah itu menunduk. Rambutnya yang lebat ikut terjurai ke bawah.
Tindakannya ini benar-benar membuat Hamdi cs semakin terperangah. Beberapa detik
kemudian, Isma mengangkat kepalanya dengan perlahan. Wajahnya menjadi seram
seperti tadi. Kedua matanya masih tertutup rapat.
Darti dan Murni yang berdiri paling
dekat dengan Isma, langsung bergerak menjauh. Sesaat kemudian Isma melotot.
Kedua matanya kembali seperti tadi. Putih semua, tidak ada bola matanya. Hamdi
yang baru melihat keadaan Isma seperti itu, bergumam, “Tiada daya dan kekuatan,
kecuali dari Allah. Apa-apaan ini!? Iblis dari kuburan mana yang sudah merasuki
badannya!? Ilmu santet macam apa yang sudah menguasai jiwanya sampai sejauh
ini!?”
Isma mendekati Jamal yang sudah
berdiri. Jamal melangkah mundur dengan
pelan. Isma kembali bicara dengan suara lelaki, “Ternyata benar dugaanku. Kamu
memang yang paling hebat dari semuanya. Hah ha ha haa!
Kamu satu-satunya orang yang paling bisa menyulitkan aku. Bahkan kamu sudah
bisa mengalahkan aku. Hua ha ha haa!!”
Setelah tertawa keras, Isma melotot,
“Tapi hanya untuk sementara. Kamu harus tahu, Pak Kyai Jamal. Kasman ini tak
terkalahkan!”
Sedetik kemudian Isma melontarkan
pukulan kanannya, dan tepat mengenai muka Jamal. Lelaki bertubuh tegap ini
melangkah mundur dengan sempoyongan. Isma langsung menyerang lagi. Kedua
tangannya mencekik leher Jamal. Susah payah Jamal berusaha melepaskan lehernya
dari tangan Isma yang seperti besi. Karena belum berhasil membebaskan lehernya
dari cekikan Isma, kedua tangan Jamal memukul kedua bahu Isma yang di dekat
leher. Pukulan keras itu membuat cekikan Isma mengendur.
Tangan kanan Jamal mencengkeram
ubun-ubun Isma, setelah itu Jamal kembali membaca surat-surat Al-Quran.
Beberapa detik kemudian Isma mengerang kesakitan. Ia dorong tubuh Jamal, lalu
ia lontarkan lagi kepalan kanannya, namun tangan kiri Jamal mengepres pukulan itu. Melihat
pertahanan Isma terbuka, Jamal langsung mencengkeram kepala Isma dengan kedua
tangannya, setelah itu ia berdoa lagi dengan berseru. Ia membaca surat
Al-Ikhlas beberapa kali, setelah itu ia lanjutkan dengan ayat Kursi dan
lafadz-lafadz dzikir.
Sesaat kemudian Isma kembali mengerang
keras. Tubuhnya kejang-kejang. Kedua tangannya mencoba menarik kedua tangan
Jamal yang mencengkeram kepalanya, namun tidak berhasil. Semakin lama Isma
semakin lemas, dan akhirnya ia roboh lagi dengan posisi bersujud. Jamal
mengatur nafasnya yang nyaris putus. Hening beberapa saat. Hamdi dan
pemuda-pemuda kekar lainnya hanya melotot, sedangkan Darti dan Murni menangis.
Tangis Darti masih lebih baik dari tangis Murni yang sesenggukan. Jamal yang
masih berdiri sekitar 120 cm di hadapan Isma yang bersujud, berkata lirih, “Mbak
Is. …Mbak Isma. …Mbak Isma gimana?”
Sedetik kemudian Isma berdiri tegak
lagi. Jamal melotot, lalu melangkah mundur. Ia menggeram keras. Kali ini
amarahnya benar-benar meledak. Ia lontarkan lagi bogem kanannya, namun tangan
kiri Jamal menangkisnya. Sedetik kemudian, kedua tangan Jamal kembali
mencengkeram kepala Isma. Jamal membaca lagi lafadz-lafadz dzikir, namun kali
ini tidak mempan. Isma memukul perut Jamal dua kali. Jamal mengerang. Kedua
tangannya melepaskan kepala Isma. Melihat Jamal melangkah mundur, Isma langsung
merangsek. Tinju kirinya menghujam pipi Jamal, setelah itu ganti tinju kanannya
yang lebih keras. Pukulan seberat 50 kg itu akhirnya merobohkan Jamal. Hidung
dan bibirnya berdarah cukup banyak.
Isma tertawa binal, setelah itu
berkata, “Akhirnya kamu bisa kutaklukkan!”
Jamal mengatur nafasnya yang
ngos-ngosan, setelah itu berdiri lagi. Sambil menatap semua pemuda di hadapann ya, ia berkata,
“Aku tidak mampu lagi. Mas-Mas semua, bantu aku menghadang dia!”
“Siap Pak Ustadz!” seru Rujan yang
langsung siaga. Sedetik kemudian, Rujan, Kukun, Kokok dan Budi menerkam Isma
yang perhatiannya masih terfokus ke Jamal. Melihat kedua tangan Isma sudah
dikunci oleh empat pemuda kekar, Jamal langsung memanfaatkannya. Ia kembali
membaca doa dan dzikir untuk menyembuhkan Isma. Beberapa detik kemudian doanya
mulai bereaksi, namun hanya berlangsung sebentar. Isma berteriak, setelah itu
ia lemparkan lima lelaki yang mencengkeram tubuhnya. Semuanya roboh di lantai. Isma
memelototi Jamal yang masih duduk di lantai. Kali ini ia benar-benar mengincar
Jamal, orang yang ia anggap musuh terkuatnya.
Jamal merinding melihat Isma mau
menerkamnya. Ia berdiri, lalu mundur beberapa langkah. Bibir Isma menyeringai,
siap menyerang lagi. Namun mendadak, Nurman menyerang Isma dari belakang. Kedua
tangannya mencengkeram bahu dan tengkuk Isma, setelah itu ia membaca surat Al-Falaq
dan An-Naas di telinga Isma. Ia baca surat itu berkali-kali, setelah itu ia
lanjutkan dengan lafadz-lafadz dzikir, namun usahanya itu masih belum berhasil.
Merasa tidak sanggup mengatasi Isma
sendirian, Nurman minta tolong Jamal. Melihat kedua tangan Isma sudah dikunci
Nurman dari belakang, Jamal langsung
kembali me-ruqyah. Dengan
kedua tangan mencengkeram kepala Isma, Jamal kembali membaca ayat-ayat suci
Al-Quran. Isma meronta-ronta. Sekujur tubuhnya terasa sangat perih. Lantunan
ayat-ayat suci itu laksana gigitan seratus ribu semut hitam. Kini Isma dijepit oleh kekuatan putih dua
lelaki sholeh.
Beberapa detik kemudian Isma mengerang
keras, setelah itu pingsan di pelukan Nurman. Jantung pemuda asli Jombang ini
bergetar keras. Ia merasa bersalah karena sudah memeluk perempuan yang bukan mahram-nya. Ia
langsung menidurkan Isma di karpet. Melihat Isma pingsan lagi, Darti dan Murni
langsung memberinya bantal dan guling. Nurman yang tubuhnya basah kuyub oleh
keringat, mendekati Isma yang dijaga Darti dan Murni, setelah itu berkata,
“Mbak Is, maafkan saya ya? Saya terpaksa sekali menyentuh Mbak Is.”
Jamal tersenyum, “Di saat segenting
ini antum masih sempat minta maaf? Subhanallah.
…Di jaman yang rusak ini, susah sekali mencari pemuda sebaik antum. Pemuda
seperti antum ini sekarang seribu satu.”
“Jangan terlalu memuji Tadz,” sahut
Nurman semakin tersipu. Hamdi yang terlongong-longong, bergumam, “Mengerikan
sekali. Baru sekarang aku melihat yang seperti ini. …Ohh…baru melihat saja
nyaliku sudah ciut, apalagi disuruh menyembuhkan. …Wah…kalau disuruh menyembuhkan,
aku jelas angkat tangan.”
Tak lama kemudian, Isma bangkit lagi
dengan tubuh terlihat lebih segar. Darti dan Murni langsung menjauh lagi. Isma
memelototi Nurman dan Jamal, lalu berkata, “Hebat sekali kalian. Huhh! Tapi
sekali lagi, kesaktian kalian masih di bawahku!”
“Kami tidak punya kesaktian apapun,”
sahut Nurman yang sudah berdiri. “Kami hanya punya iman dan amal. …Jadi
kesaktianmu yang menyesatkan itu hanya kamu gunakan untuk menyiksa orang!? Huhh!
Benar-benar iblis! Rupanya kamu sudah membeli tiket ke neraka!”
“Tutup mulutmu! ...Sebelum aku puas,
aku takkan keluar dari tubuhnya!”
“Yang namanya nafsu itu tidak ada
puasnya! ..Hanya satu yang bisa memuaskan nafsumu.”
“Apa!?”
Nurman mengatur nafasnya, setelah itu
berkata mantap, “Azab Allah.”
Isma menggeram. Kedua tangannya siap
mengacau lagi. Hamdi yang melotot, bergumam, “Suaranya kok bisa jadi lelaki!? Masya Allah. Ilmu hitam apa ini!?”
Nurman terus melangkah mundur, sampai
akhirnya berdiri di samping kanan Hamdi. Ia berkata, “Mas Hamdi, kami sudah
tidak mampu lagi. Sekarang giliranmu.”
Hamdi tersentak. “Apa!!? Aku!!?
…Oh…tidak Nur, aku tidak bias!”
Jamal yang berdiri di belakang Isma,
berkata, “Akhi Hamdi jangan pesimis dulu. Cobalah. Berdoalah. Mohonlah kekuatan
pada Allah.”
Hamdi yang melangkah mundur bersama
Nurman, menyahut, “Ustadz saja tidak bisa, apalagi saya!”
“Jangan kalah sebelum perang. Jangan
pesimis sebelum bertindak. Sebelum mencoba, antum tidak boleh bilang tidak
bisa. Nah..sekarang kuatkan hatimu. Percayalah pada aqidahmu.”
“Tapi Tadz…”
“Tidak ada waktu lagi, Akh Hamdi. Aku
yakin, Insya Allah, antum mampu
melakukannya. Cobalah. Mulailah dengan membaca Basmalah. Antum tidak sendiri kok. Aku dan Akh Nurman tetap akan
membantu antum.”
Hamdi menatap Nurman, Nurman mengangguk
mantap, lalu menjauhi Isma. Kini giliran Hamdi yang menghadang Isma. Isma
memelototi Hamdi, lalu bertanya, “Siapa lagi kamu!? Ingin mampus juga!?”
Hamdi yang sebenarnya merinding,
menyahut tenang, “Aku Hamdi.”
Isma mengangguk-angguk. “Oooo. Jadi
kamu yang bernama Hamdi!?”
“Iya.”
“Jadi kamu yang pernah menghajar
adikku di sini!?”
Hamdi mengangguk. “Waktu itu adikmu
ingin berbuat zhalim, jadi aku
terpaksa memberinya pelajaran.”
“Dengan menyelingkuhi perempuan
ini!?” bentak Kasman. Hamdi tersentak, demikian pula dengan yang lain. Ucapan Kasman
itu benar belaka. Ia menjadi teringat dengan keburukan dirinya beberapa bulan
yang lalu. Ia pejamkan matanya sambil mengangguk-angguk. Setelah hening
beberapa detik, Hamdi berkata, “Aku memang sudah pacaran sama dia. Itu karena
aku memang mencintainya. …Aku memang manusia berlumuran dosa. Aku memang hina,
rendah, kotor. Tapi sekarang aku sudah berusaha bertobat. Sekarang aku sudah
berusaha menjadi hambaNya yang bertakwa.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi,
“Sekarang aku minta sama kamu. Tolong kamu keluar dari badannya. Keluarlah
dengan cara baik-baik.”
Isma menggelengkan kepala, “Selain Kandar keparat
itu, sekarang kamu juga musuhku! Musuh besarku!!”
Bogem kanan Isma memukul muka Hamdi
dengan telak, setelah itu ia susulkan bogem kirinya ke pipi kanan Hamdi. Dua
pukulan maut itu membuat Hamdi sempoyongan. Hamdi yang tadi sudah berusaha
bersabar, kini meledak marahnya. Sambil menyentuh hidungnya yang berdarah,
Hamdi berkata, “Ternyata kamu memang iblis! Baiklah..aku tidak perlu segan lagi
untuk menindak kamu!”
Isma menggeram, lalu ia lontarkan lagi
kepalan kanannya ke muka Hamdi, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Hamdi
menangkis pukulan Isma dengan tangan kirinya, setelah itu tangan kanannya
mencengkeram dahi Isma. Hamdi mengucap lafadz-lafadz dzikir, kemudian disusul dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Falaq dan An-Naas.
Beberapa detik kemudian Isma kembali mengerang kesakitan. Ia menjerit keras
dengan suara campuran. Suara Kasman dan suara aslinya. Kedua tangannya mencoba
melepaskan tangan kanan Hamdi yang mencengkeram dahinya. Sesaat kemudian, Isma
berhasil mendorong Hamdi ke belakang. Hamdi roboh di lantai, namun Isma juga
kehabisan tenaga. Ia berlutut sambil menunduk.
Beberapa detik setelah Hamdi bangkit,
Isma hendak menyerang lagi, namun Hamdi bertindak lebih cepat. Kedua tangannya
mencengkeram kepala Isma, lalu ia kembali membaca surat-surat yang tadi.
Setelah melihat Isma mulai kehabisan tenaga, Hamdi melanjutkan bacaannya dengan
ayat Kursi. Beberapa saat kemudian Isma pingsan di pelukan Hamdi. Hamdi yang
sudah alim lagi seperti dulu, langsung menidurkan Isma di karpet. Ia meminta
Murni untuk mengambilkan bantal yang ada di sofa. Setelah berbaring, Hamdi
menyentuh pipi dan dahi Isma yang berkeringat. Hamdi melotot, “Masya Allah! badannya dingin sekali!”
“Padahal tadi panas sekali,” sahut
Jamal dengan wajah tegang. “Laa haula
walaa quwwata illaa billaah. …Kalau
ada dokter yang disuruh memeriksa penyakit ini, dia pasti langsung angkat
tangan.”
“Itu jelas Tadz,” sahut Nurman. “Ini
penyakit ghaib. Perawatan medis sehebat apapun, tidak akan bisa menyembuhkan penyakit
seperti ini.”
“Ini penyakit aneh bin ghaib.“ jawab
Rujan.
Beberapa menit kemudian Isma
menggeliat sambil merintih. Perlahan-lahan, Isma membuka kedua mata indahnya.
Dengan suara lemah, Isma berkata, “Mas Hamdi…?”
“Alhamdulillaah..”
sahut Hamdi tersenyum gembira. “Isma, kamu sudah baik?”
Isma mengangguk sambil tersenyum
manis. Namun semenit kemudian Isma tersentak. Kedua matanya melotot. Tubuhnya
seperti tertusuk sepuluh panah beracun.
Sambil menyentuh tangan kanan Hamdi, Isma berseru, “Tolong Mas Hamdi!
Tolong akuuu!! Aduuuh!! Perut dan dadakuuu!! Aaahh!!!”
“Ustadz, tolong dia!” seru Hamdi
sambil menatap Jamal yang berdiri di belakangnya. Jamal yang sebenarnya sudah
angkat tangan, langsung bertindak lagi. Ia sentuh dahi Isma, lalu ber-dzikir. Beberapa detik kemudian
doa-doanya berhasil mengusir santet yang mencengkeram jiwa raga Isma. Ia
meminta Hamdi dan semuanya untuk membantunya ber-dzikir.
Hening sejenak. Semua menatap Isma
yang pingsan lagi. Murni yang paling merasa iba pada majikan tercintanya,
berkata dengan mata basah, “Sampai kapan Mbak Isma harus menderita seperti
ini!?”
Darti memeluk Murni, lalu berkata
lembut, “Sabar ya Manis…sabar. Semua ini ada hikmahnya.”
“Iya Mur,” sahut Hamdi yang duduk di
samping Jamal. “Di balik kesukaran ada kemudahan. Badai pasti berlalu.”
“Ustadz-ustadz kita ini juga sedang
berjuang,” sahut Waluyo. Setelah hening beberapa saat, Jamal yang terlihat
lega, berkata, “Insya Allah, pengaruh
guna-guna itu sudah hilang.”
Alangkah leganya Hamdi cs mendengar ucapan Jamal
itu. Jamal menyentuh bahu Hamdi, lalu tersenyum, “Maha Suci Allah. Antum benar-benar
hebat. Ternyata antum mampu melakukannya. Ini buktinya.”
“Allahu
Akbar.” Jawab Hamdi menunduk. “Tanpa doa kalian, aku tidak akan berdaya
sedikit pun.”
Dua puluh menit kemudian, Isma masih
tertidur pulas. Hal ini semakin membuat ketegangan di hati Darti cs berkurang
banyak. Beberapa menit kemudian, adzan Ashar berkumandang. Hamdi, Nurman,
Jamal, Andi, Waluyo dan Budi berangkat ke masjid Al-Furqan. Setelah Andi
mengumandangkan iqamat, sang imam mempersilahkan Jamal untuk memimpin sholat
Ashar berjama’ah, namun Jamal menolak dengan halus. Ia berkata, “Tuan rumah
tetap lebih utama.”
Setelah sholat Ashar, mereka kembali
ke rumah Isma. Mereka tidak akan pulang sebelum keadaan Isma benar-benar beres.
Nurman cs melihat Isma sudah ditidurkan lagi di sofa. Murni duduk di samping
kepalanya, sedangkan Darti duduk di dekat kedua kakinya yang dibungkus selimut.
Mantan kekasih Hamdi ini terus dijaga oleh dua perempuan yang sangat
mencintainya. Walaupun Jamal menganggap keadaan Isma sudah membaik, Murni dan
Darti masih sangat cemas melihat keselamatan Isma yan belum terjamin penuh.
Demikian pula dengan mantan kekasih Isma. Ia menatap Isma dengan wajah
mengiba.
Ia bergumam, “Ya Allah, dosa apa yang
sudah dia lakukan? Sampai Engkau memberinya musibah seberat ini. …Apa karena
dia berhubungan gelap
sama aku? …Kalau memang karena itu, tolong ampuni dia. Engkau tahu sendiri,
sekarang dia sudah berusaha bertobat...sama dengan mantan kekasihnya yang tolol
ini.”
“Engkau tahu sendiri ya Rabb, Tuhan
Yang Maha Pengampun. Sekarang dia sudah berusaha menjadi istri yang setia pada
suaminya. Bahkan saat suaminya masih memperlakukannya semena-mena, dia sudah
berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik. …Dan sekarang…saat suaminya sudah
sadar, dia langsung menghentikan hubungan kami yang memang salah. …Berkat
rahmatMu, suaminya yang sombong itu sekarang sudah menjadi jauh lebih baik.”
Karena itu ya Allah…tolonglah dia,
ampunilah dia, kasihanilah dia. Tolonglah dia, dengan kasihMu yang seluas
langit dan bumi. Ampunilah dia, dengan menunjukkan bahwa Engkau tidak mungkin
memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-hambaMu yang lemah. …Hanya
kepadaMu aku memohon, karena Engkaulah sebaik-baik tempat memohon.”
Beberapa menit kemudian Isma kembali menggemparkan suasana. Dengan kedua
mata masih tertutup rapat, Isma berkata lirih, “Kates Abang. …Kates Abang.”
“Dia ngomong apa?!” Tanya Darti pada
Jamal yang duduk di samping Isma. Semua mempertajam pendengarannya. Sesaat
kemudian Isma kembali berkata, “Kates Abang. …Kates Abang.”
“Kates Abang!?” sahut Waluyo melotot.
Isma kembali berkata dengan suara lebih keras, “Kates Abang. …Desa Kates Abang.
…Kasman..ada di…desa…Kates Abang.”
“Kalian dengar!?” Tanya Jamal. Hamdi
mengangguk. “Kasman ada di desa Kates Abang.”
Setelah Isma tertidur lagi, Darti
bertanya, “Desa Kates Abang itu di mana!?”
Hening sejenak. Jamal
mengangguk-angguk, lalu berkata, “Saya pernah dengar desa itu. …Kalau tidak
salah…desa itu ada di ujung utara pulau kita ini.”
Ujung utara pulau Jawa!?” Tanya
Nurman. Jamal mengangguk. “Demak masih ke utara. Atau bisa juga lewat Kudus.”
Hening lagi sejenak. Jamal terus
berusaha keras memecahkan teka-teki ini. Setelah berpikir keras, Jamal berkata,
“Aku punya teman yang ahli dalam masalah ini. Dia mantan pendeta. Baru lima
tahun masuk Islam, sekarang dia sudah jadi Ustadz hebat…termasuk hebat dalam
mengusir setan. …Namanya Rozaq. Ahmad Rozaq Stefanus. …Dia sudah sepuluh kali menyembuhkan
orang
kesurupan. …Hanya saja, sepuluh kasus yang dia hadapi itu mungkin tidak seberat
yang dialami Mbak Isma sekarang ini. …Tapi tidak ada salahnya kita minta tolong
dia…”
“Ya sudah kalau begitu,” sahut Darti,
“sekarang silahkan Pak Ustadz minta tolong dia.”
“Baiklah Bu, akan saya coba. Tiada
daya dan kekuatan, kecuali dari Allah.”
Jamal langsung mengontak Rozaq,
temannya yang katanya ahli menyembuhkan orang
kesurupan. Mantan pendeta berstatus duda tanpa anak itu tinggal di Ambarawa.
Usianya 37 tahun, masih tergolong muda. Dia masuk Islam umur 32. Hanya dalam
waktu 5 tahun, ilmu agamanya sudah sangat dalam. Hafalan Qurannya sudah cukup
banyak. Jamal yang sudah dianggap ustadz, bahkan ustadz yang jauh lebih senior
dari Rozaq, merasa ilmunya di bawah Rozaq yang masih tergolong muallaf.
Rozaq dan Diana, istrinya, bercerai 4 tahun
yang lalu, saat usianya 33. Saat itu namanya masih Stevanus, panggilannya Stevan.
Selain karena masalah keluarga yang tak terbendung, Rozaq dan Diana bercerai
karena Rozaq masuk Islam. Rozaq sudah mati-matian mengajak Diana memeluk agama
yang dibawa Sang Nabi Pamungkas, namun Diana tetap tidak tertarik. Akibat semua
itu, Stevan dan Diana yang sebenarnya masih saling mencintai itu akhirnya harus
berpisah untuk selamanya.
Stefan yang saat itu sangat menderita,
berkata, “Diana, aku sangat mencintaimu, tapi aku harus lebih mencintai Allah
dan Nabi Muhammad saw.”
Demikianlah sedikit kisah tentang
Ustadz Ahmad Rozaq Stefanus. Jamal bertutur, “Kata Rozaq, kalau kita ingin
mengalahkan Kasman, kita harus datang ke tempat semedinya. …Mau tidak mau,
sekarang kita harus ke Kates Abang.”
Semua tersentak. Jamal melanjutkan,
“Kebetulan rumahnya di Ambarawa, sejalur dengan letak desa Kates Abang. …Nah,
sekarang siapa yang masih mau membantu aku? Siapa yang mau ikut aku ke Ambarawa dan Kates
Abang? …Suka rela saja Mas-Mas..jangan ada paksaan di hati. Sedikit pun aku tidak berniat memaksa
anda semua untuk ikut aku ke sana.
Aku juga
tahu, anda semua pasti punya kesibukan sendiri-sendiri. Makanya, kuucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada anda semua. Sudah seharian ini anda berada di sini,
berarti anda sudah rela mengorbankan semua aktivitas anda.”
Hening sejenak, lalu bicara lagi,
“Sekarang keadaan Mbak Isma semakin genting, dan sekarang ini sudah mencapai
puncak. …Kita sudah berusaha maksimal menolong Mbak Isma, tapi sampai sekarang
belum berhasil. …Nah, kata temanku itu, yang Insya Allah memang diberi kelebihan untuk mengetahui hal-hal
semacam ini, kita harus membawa Mbak Isma ke Ambarawa, ke rumah Rozaq, setelah
itu kita lanjutkan ke Kates Abang. …Sekarang sudah mau Maghrib. Mau tidak mau,
suka tidak suka, kita harus berangkat nanti malam atau dini hari.”
Hening sejenak. Jamal menatap semua pemuda
di hadapannya. Mereka terlihat kebingungan. Pria yang posturnya mirip Hamdi ini
tersenyum gurih, “Tidak apa-apa kalau anda semua memang harus menjalankan
pekerjaan rumah. Toh itu juga wajib. …Insya
Allah, nanti biar Bu Darti dan Mbak Murni yang menemani aku.”
Hening lagi sejenak. Hamdi menyentuh
bahu kiri Jamal. Ia tersenyum, lalu berkata, “Aku ikut anda.”
“Betulkah!?” Tanya Jamal tersenyum
gembira. Hamdi mengangguk, “Aku punya alasan yang sangat kuat.”
“Apa?”
Hamdi diam sebentar, setelah itu
berkata, “Aku sudah terlibat jauh dalam masalah besar ini..jadi sudah kewajibanku
untuk membantu anda menolong Isma.”
Hening sebentar. Nurman dan yang lain
saling menatap, setelah itu berkata mantap, “Insya Allah, kami akan membantu Ustadz menyelesaikan masalah ini.”
Alangkah lega dan gembiranya Jamal,
Darti dan Murni. Jamal berkata, “Perjalanan ke
sana kira-kira
lima jam, ditambah menjemput Rozaq. …Baik saudaraku semua, kita berangkat
kapan!?”
Hamdi menyahut, “Insya Allah habis Isya.”
Malamnya, tepat jam setengah delapan,
Hamdi cs berangkat ke Ambarawa dengan dua mobil. Namun sekarang kekuatan mereka
berkurang sedikit. Ahmad, Budi, Hendra, Yudi dan Kokok tidak bisa lagi membantu
Jamal. Empat pemuda itu mengaku takut, namun mereka beralasan karena ada
pekerjaan rumah. Kini yang menyertai Jamal, Darti dan Murni tinggal Kukun,
Rujan, Waluyo, duo Al-Furqan, dan si lakon utama. Rujan, Sopirnya Darti, memegang
setir Escudo biru, mobilnya Kandar. Jamal duduk di sampingnya persis. Sedangkan
Darti, Murni dan Isma yang masih pingsan, duduk di jok kedua dan ketiga.
Sedangkan Hamdi, Nurman, Andi, Waluyo dan yang lain mengendarai mobil Kijang
hitam milik Darti. Waluyo memegang setir, Hamdi duduk di sampingnya. Kukun, Nurman dan Andi duduk di jok kedua.
Singkat cerita, sampailah dua mobil
ini di tempat
tujuan. Rumah Rozaq berada di perkampungan yang agak jauh dari kota. Rumah kecil, sederhana namun nyaman itu
berada di tengah hutan kecil, sehingga membuat suasananya terkesan agak angker.
Begitu Rozaq dan Jamal bertemu, dua sahabat ini langsung berpelukan erat. Jamal
langsung mengenalkan Rozaq dengan semuanya. Tanpa basa-basi lagi, mereka
langsung membahas masalah inti. Kini Hamdi cs berada di ruang tengah rumah
Rozaq. Sebagian dindingnya terbuat dari kayu. Rozaq yang sudah tahu segalanya,
langsung memeriksa Isma yang sampai sekarang masih belum siuman.
Rozaq, lelaki bertubuh sedang dan
berisi. Tidak gemuk tidak kurus, tidak tinggi tidak pendek, tapi cenderung agak
tinggi. Kulit kuning kecoklatan, jenggot dan kumis tipis. Ia duduk menghadap
Isma yang dibaringkan di kasur tanpa ranjang. Sudah sepuluh menit ia
bermeditasi. Tangan kanannya menyentuh dahi Isma. Sesaat kemudian, Rozaq yang
wajahnya sudah terlihat tegang, menggelengkan kepalanya.
“Masya Allaah…Laa haula walaa quwwata illaa billahil’aliyyil’azhiim.”
“Gimana Zaq?” Tanya Jamal yang duduk
di samping Rozaq. Rozaq menyahut, “Ilmu hitam Kasman ini benar-benar hebat.
…Dapat dari mana dia?”
Rozaq menatap semua tamunya, lalu
bertutur, “Mbak Isma bisa sampai begini
bukan hanya karena imannya lemah…tapi karena ilmu setannya Kasman memang
hebat sekali.”
“Betul sekali kata Pak Jamal,” ujar
Kukun. Rozaq berkata, “Apalagi kalau mendengar cerita kalian, Mbak Isma ini
sudah termasuk perempuan baik-baik. Hanya ilmu agamanya yang masih dangkal.
…Tapi itu bisa dimaklumi, soalnya dia muallaf,
seperti saya. ”
Nurman berkata, “Yang Islam sejak
kecil saja banyak yang ilmu agamanya masih dangkal, apalagi yang muallaf. Itu karena mereka malas
mengkaji ilmu agamanya sendiri.”
“Betul
sekali,” sahut Rozaq. “Yang muallaf
kadang malah ilmu agamanya lebih tinggi dari yang Muslim sejak kecil. Itu
karena mereka benar-benar semangat untuk menjadikan Al-Quran dan Al-Hadits
sebagai pedoman hidup.”
“Contohnya Ustadz Rozaq.”
Rozaq tersipu, “Oh tidak, saya masih
harus banyak belajar. Akh Nurman jangan
panggil saya ustadz. Saya belum pantas dipanggil ustadz. …Kalau dia (menyentuh
bahu Jamal) baru layak dipanggil ustadz.”
Hening sejenak. Rozaq kembali menatap Isma yang masih belum bergerak
sedikit pun. Ia berkata, “Tidak berlebihan kalau Kang Jamal bilang, baru sekarang dia menghadapi ilmu santet
sehebat ini. Saya sendiri juga baru sekarang melihat ilmu seaneh ini. …Saya
belum tahu, ini ilmu santet jenis apa.”
“Terus gimana Mas Rozaq!?” Tanya Murni
yang paling gelisah. “Mbak Is bisa ditolong tidak!?”
Rozaq tersenyum, “Insya Allah Mbak, kita akan berusaha terus. Yakinlah, kebathilan
pasti kalah oleh kebenaran. Ilmu santet sehebat apapun, tidak akan bisa
mengalahkan ketakwaan yang murni. Ilmu santet sehebat apapun, tetap kalah oleh
tauhid yang murni. …Kalau ingin menghancurkan ilmu jin ini, kita harus langsung
mendatangi sumbernya. Kalau kita bisa mendekati Kasman, Insya Allah, kita akan lebih mudah untuk mengalahkan dia. …Tapi
kalau nanti kita tetap gagal…berarti kita harus siap mengucapkan selamat
tinggal pada dunia.”
Kata-kata Rozaq itu laksana gempa bumi
dahsyat yang mengguncang tanah tempat Hamdi cs berpisah. Rozaq melanjutkan,
“Manusia sejahat dia, kalau sudah mengalahkan musuhnya…kemungkinan besar akan
membunuh musuhnya. Nah, kalau nanti kita gagal mengalahkan Kasman…95 persen dia
pasti akan mem…ya sudah, tidak usah
kuteruskan.”
Hening sejenak. Rozaq melihat semua
tamunya ketakutan. Setelah mengatur nafas, Rozaq berujar, “Anda semua jangan
takut berlebihan. Pasrahkan saja jiwa kita pada Allah SWT. Setelah kita
berusaha maksimal, kita hanya bisa pasrah. Tiap-tiap yang bernyawa, pasti akan mengalami kematian.*
Catatan Kaki: * Al-Quran surat Ali Imron, surat ke 3 ayat ke 185
“Kalau mau jujur, kita semua tidak ada
yang mau mati. Tapi realitanya.. kematian pasti akan menjemput kita. Sehebat
atau sekuat apapun kita, pada akhirnya tetap mati. ...Allah tidak akan menunda kematian seseorang, apabila waktu kematiannya
memang sudah tiba.* …..Kalau ajal
kita memang sudah datang…kalau nanti kita memang sudah ditakdirkan meninggal di
Kates Abang…mau gimana lagi?”
Hening sejenak. Untuk menghilangkan
ketegangan yang mencengkeram hati Darti cs, Rozaq mendinginkan suasana dengan
mengalihkan pembicaraan. Ia tatap Hamdi dengan senyuman, setelah itu berkata,
“Betul sekali apa yang dikatakan dan dilakukan Mas Hamdi. Bisa tidaknya
seseorang menyembuhkan orang
kesurupan itu tergantung dari tingkat kesholehannya, tingkat ketakwaannya.
…Tadi, sebelum Mas Hamdi, Mas Nurman atau Kang Jamal me-ruqyah Mbak Isma, beliau mencontohkan, ada seorang ustadz yang
menolong orang kesurupan dengan membaca ayat Kursi tiga kali. Nah, itu contoh
konkret yang sangat bagus untuk ditiru.”
“Itu Ustadz Salam,” sahut Hamdi, “salah
satu staf pengajar ponpes Salaf di Tasikmalaya.”
Hening sejenak, setelah itu Rozaq
berkata mantap, “Baiklah semuanya, karena kita sudah tidak tahan melihat Mbak
Isma seperti ini, kita harus bertindak cepat. …kita bisa berangkat kapan?”
“Perjalanan ke sana kira-kira berapa jam?” Tanya Darti.
Rozaq menjawab, “Sekitar 4 jam kurang sedikit. Insya Allah, sampai sana
mendekati shubuh.
“Sekarang jam setengah dua belas,”
sahut Hamdi menatap arlojinya. “Ya sudah, kita berangkat sekarang saja. Lebih
cepat lebih baik. Bismillah.” (Bersambung)
Catatan Kaki: * Al-Quran surat Al-Munafiqun, surat ke 63 ayat 11
(terakhir)
* * * * *
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment