Saturday, 6 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Tujuh)

Malam itu Kandar berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap. Semuanya terlihat hitam pekat. Kandar benar-benar merinding. Bagaimana mungkin ada tempat yang tidak tersinari cahaya sedikit pun? Segelap-gelapnya malam, tetap ada secuil cahaya yang bersinar, entah itu cahaya bulan atau bintang. Benarkah Kandar sedang berada di goa? Tiba-tiba Kasman muncul di hadapan Kandar. Wajahnya yang buruk itu terlihat semakin mengerikan. Ia berseru, “Musuh bebuyutanku, manusia yan
g paling kubenci di dunia ini, hari penderitaanmu sudah tiba! Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati! Sebentar lagi kamu dan istrimu akan kusiksa habis-habisan! Aku serius!!”



         “Kasman!” bentak Kandar. “Jadi kamu yang sudah membawaku ke sini!? Grrrhh! Berani benar kamu selancang ini sama aku! Grrhh! Rupanya kamu benar-benar ingin mampus!?”
         “Kamu yang akan mampus, terkutuk! Grrhh! Kamu harus membayar nyawa adikku!”
         “Huh! Kematiannya bukan salahku! Juga buka salah teman-temanku! Dia mati karena kebodohannya sendiri! Kalau kamu ingin menyalahkan orang, salahkan saja pengendara mobil itu! Dialah yang sudah menabrak Toyo! Dia yang salah!”
         “Tutup mulutmu, brengsek! Sebentar lagi kamu mampus! Jadi kamu tidak usah cerewet!”
         “Kamu yang akan mampus, bajingan!! Grrhhh! Kamu sudah terlalu lama mengganggu kehidupan rumah tanggaku! Kamu sudah terlalu lama meneror Isma! Gara-gara gagal meraih cinta Isma, sekarang kamu jadi setan begini! Huhh! …Harusnya kamu sadar, Kasman. Harusnya kamu koreksi diri! Kenapa kamu tidak bisa memiliki Isma? Kenapa kamu tidak bisa meraih cintanya!? …Itu karena Isma bukan jodohmu!” Hening sejenak, lalu tersenyum mengejek sambil menggelengkan kepala. “Kasman, Kasman. Kamu memang payah! …Kalau kamu orang sholeh, orang yang imannya kuat, kamu tidak akan stress karena gagal memiliki gadis yang sangat kamu cintai. …Tapi karena imanmu sangat lemah, karena kamu tidak tahu agama sedikit pun…sekarang kamu jadi iblis! Bahkan lebih buruk!”
         “CUKUP!! Tidak usah ngoceh lagi! sambut saja mimpi burukmu!”
          “Kamu yang akan menderita! Kalau kamu berani ganggu Isma lagi, sekarang juga lehermu akan kuplintir! Aku serius, manusia setan!!”
         Kasman tersenyum mengejek, “Makhluk lemah, apa kamu bisa menghentikan aku!?”
         “KURANG AJAR!!!” Bentak Kandar. Amarahnya mencapai puncak. “Berani benar mengatakan aku lemah!!?”
         “He he he. Bagiku, sekarang ini kamu memang lebih lemah dari kelinci.”
         “BRENGSEK!!!”
         Kandar menyerang Kasman dengan sepenuh tenaga yang ia miliki. Kandar melontarkan lima pukulan sekaligus. Semuanya mengenai muka Kasman dengan telak. Satu dengan tangan kiri, empat dengan tangan kanan. Namun lima pukulan dengan tenaga penuh itu tidak membuat Kasman terluka sedikit pun. Hidung, bibir atau pipinya tidak berdarah setetes pun, bahkan bengkak pun tidak. Lima pukulan berantai itu hanya membuat kepala Kasman bergerak sedikit. Kandar terlongong-longong melihat lawannya yang seperti manusia baja. Namun Kandar tidak ingin larut dalam keheranan panjang. Ia langsung bertindak lagi.
         Kandar ganti memukul perut Kasman. Lima pukulan sepenuh tenaganya menghujam perut Kasman dengan telak, laksana bogem petinju yang memukuli  sansak. Kandar semakin terpana melihat ketangguhan Kasman. Dengan tubuh merinding, Kandar berkata lemah, “Apa-apaan ini!? …Kamu manusia atau bukan!?”
         Kasman tersenyum mengejek. “Aku kan sudah bilang..untuk saat ini, kamu tidak lebih kuat dari kucing kelaparan. Pukulanmu lebih lemah dari tamparan bayi. Hua ha ha haa!!!”
         Tawa binal Kasman membuat amarah Kandar semakin meledak. Ia kembali melontarkan bogem kanannya, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Tapak kiri Kasman menangkis bogem Kandar dengan mudah. Kasman menggeram, kemudian melontarkan bogem kanannya ke lawan. Pukulan dahsyat itu tepat mengenai dada tengah Kandar. Kandar terlempar ke belakang, lalu muntah darah. Dadanya seperti terbelah. Dengan posisi merangkak di tanah, Kandar mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata. Sesaat kemudian Kandar meraih kayu sebesar lengan pria dewasa.  Kandar melihat Kasman mendekatinya dengan langkah santai. Kasman tersenyum mengejek, “Ayo…serang lagi. Keluarkan seluruh kekuatanmu.”
         Betapa marahnya Kandar diremehkan. Ia menggeram, lalu memukulkan kayunya ke muka Kasman. Lagi-lagi Kasman tidak berniat menghindar atau menangkis serangan lawan. Kayu itu ia adu dengan kepalanya. Hasilnya? Kayu itu langsung patah, dan kepala Kasman tidak terluka sedikit pun. Tentu saja Kandar semakin terpana melihat ketangguhan musuhnya. Melihat Kandar hanya bengong, Kasman langsung memanfaatkannya. Bogem kirinya menghujam muka Kandar dengan sangat telak. Kandar terjungkal ke belakang. Mulut dan hidungnya banjir darah. Kandar hendak bangkit lagi, namun kepalanya seperti mau pecah. 
         Dengan tubuh berbaring di tanah, Kandar melihat Kasman berdiri di samping kanannya. Kandar merinding melihat wajah Kasman yang seperti setan neraka. Kasman berkata, “Kalau mau, dari tadi kamu bisa kubunuh dengan mudah. Tapi aku tidak ingin kamu mati dengan mudah. …Sebagaimana yang tadi sudah kukatakan, kamu harus menjalani siksaan dulu. Kamu harus menderita dulu! Kamu akan menderita lahir-batin! Tubuhmu akan hancur dengan perlahan, sedangkan batinmu…hahh! …Batinmu akan lebih sakit dari tubuhmu!”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Kamu akan melihat Isma-mu menangis dan menjerit-jerit. Hua ha ha haa!!”
         Kandar yang kini sudah bisa duduk, mengumpat, “Berani kamu menyentuh Isma, walau hanya menyentuh sehelai rambutnya, aku takkan mengampuni kamu! Aku pastikan kamu mampus! Mampus!!”
         “Tapi nyatanya, kamulah yang sebentar lagi mampus.”
         Kandar melotot. “Bedebah! Apa maumu!!?”
         “Sesaat lagi kamu akan tahu (menjauhi Kandar).”
         Kandar yang masih bersusah payah untuk berdiri lagi, membentak Kasman yang membelakanginya. “Aku yang paling kamu inginkan! Jadi kamu tidak usah melibatkan siapapun! Termasuk Isma!”
         Sesaat kemudian Kasman mengeluarkan Isma dari kegelapan. Isma terlihat kacau balau. Kedua tangannya terikat. Wajahnya pucat, rambutnya acak-acakan. Ada memar-memar kecil di pipi, dahi dan dagunya. Kini Kasman dan Isma berdiri sekitar 3 meter di hadapan Kandar yang duduk di tanah. Tangan kanan Kasman memaksa Isma duduk di tanah. Dengan suara teramat lemah, Isma berkata, “Mas Kandar…tolong aku Mas…”
         “Ismaaa!!!”
         Kandar memelototi Kasman yang berdiri tegak, lalu membentak, “Keparat! Apa yang sudah kamu lakukan terhadap istriku!!?”
         Kasman melotot, “Kalau kamu tidak mau menyerah, tidak mau mengakui keunggulanku, dia (mencekik tengkuk Isma) akan semakin menderita!”
         Kandar yang sudah bisa berdiri, menyahut, “Aku takkan menyerah di tangan iblis seperti kamu! Lebih baik aku mati! MATI!!”
         “Baiklah kalau begitu. Kukabulkan permintaanmu!”
         Tangan kanan Kandar mengeluarkan pisau dari baju besarnya. Sedetik kemudian, pisau itu ia lemparkan ke Kandar, dan membabat paha kanan Kandar yang sejak tadi bergetar. Kandar menjerit. Darah segar muncrat dari mulut luka di paha kanannya. Isma yang bisa merasakan derita suaminya, berteriak, “Mas Kandaaar!!!”
         Kandar kembali berlutut. Kaki kanannya seperti terpotong. Sedetik kemudian Kasman kembali melempar pisau mautnya, dan membabat paha kiri Kandar.  Kandar yang sedang berusaha berdiri, langsung berlutut lagi. Kedua kakinya seperti terjepit perangkap beruang Gryzzli, beruang terbesar dan terganas. Selanjutnya, pisau maut Kasman memotong kedua tangan Kandar. Kandar menjerit sekeras-kerasnya. Kali ini ia benar-benar lumpuh. Kedua tangan dan kakinya tidak bisa difungsikan lagi. Betapa puasnya Kasman melihat musuh bebuyutannya sudah tidak berkutik. Ia tertawa sekeras-sekerasnya.               
         Setelah tertawa binal, Kasman kembali melotot, lalu mencekik tengkuk Isma. Cekikan baja itu membuat Isma melotot. Kandar yang sudah tidak bisa berbuat apapun, memohon dengan merendah, “Jangan Kasman…jangan!...Kumohon..lepaskan dia! Kamu akan kuberi apapun. Kamu akan kuberi semua hartaku. Tapi kumohon..lepaskan dia!”
         Kasman menggelengkan kepala. “Coba kamu mohon ampun dari tadi. Huh!...Kamu dan istrimu tidak perlu sampai menderita seperti ini! …Sudah tahu bukan tandinganku, kok kamu masih berani-beraninya melawan Kasman. …Kamu benar-benar goblog!”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Ragamu sudah kubuat setengah mati. Sekarang ganti batinmu. Batinmu akan jauh lebih menderita dari fisikmu!”
         Setelah berkata begitu, kelima jari kanan Kasman yang bagai besi itu mematahkan leher Isma. Kandar langsung memalingkan muka sambil menutup kedua matanya. Sedetik kemudian, Kandar melihat kepala Isma menggelinding di depan kedua kakinya yang patah. Kandar melotot, lalu menjerit dengan sepenuh jiwa raganya. Dengan kedua mata basah oleh air mata derita, Kandar mengumpat, “Makhluk terkutuk! Calon penghuni neraka!! Kamu benar-benar bajingan!!”
         “Hinalah aku sepuasmu, karena aku sudah mendapat apa yang paling kuinginkan. Aku tidak bisa memiliki Isma, tapi kamu dan semua lelaki sainganku juga tidak bisa memilikinya. Ha ha haa!”
         Setelah tertawa seperti keledai, tubuh Kasman lenyap di kegelapan. Setelah itu Kandar hanya mendengar suara Kasman yang mengumpat. Beberapa saat kemudian, Kandar melihat tulisan di dinding yang berada di samping kirinya. Baunya yang amis menyengat hidung Kandar. Tulisan dari darah segar itu berbunyi: “Sebentar lagi, keparat! Sebentar lagi kamu akan merasakan penderitaan abadi!  Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati yang paling pedih dalam hidupmu! Hartamu yang segudang itu  tidak akan hilang sedikit pun! Demikian pula dengan fisikmu. Fisikmu tetap akan utuh.”
         Kamu tidak akan kehilangan anggota tubuhmu. Kamu tidak akan kehilangan kedua tangan dan kakimu, kedua mata dan telingamu, hidungmu, mulutmu, atau  gigimu. Bahkan sehelai rambutmu pun tidak! Tapi kamu benar-benar akan sengsara! Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik! Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik! Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik!! Aku tidak main-main, keparat!! Tunggu saja tanggal mainnya!”
         Kandar terbangun dari tidurnya dengan tersentak. Wajahnya basah oleh keringat dingin. Ia menyentuh dada, kedua tangan dan kakinya, setelah itu berkata, “Masya Allah. Hanya mimpi! …Hahh! “
         Hening sejenak, lalu bergumam, “Tapi seperti betulan. …Tadi aku merasa, kedua tangan-kakiku benar-benar buntung. …Oohh ( menyandarkan tubuh di sofa)…”
         Kandar melihat jam wekernya di meja. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Kandar yang ketakutan berat, langsung bangun dari sofa, kemudian keluar dari kamarnya dengan berjalan setengah berlari. Ketika sampai di ruang tamu, Kandar menghentikan langkahnya. Ia melotot. Di salah satu tembok ruang tamu ada tulisan berwarna merah. Tulisan itu tertulis di samping lukisan bergambar pemandangan. Dengan jantung bergetar keras, Kandar mendekati tulisan itu, kemudian membacanya. Jari kanannya menyentuh tulisan itu, lalu ia cium jari kanannya. Ia berkata, “Ya Allah. DARAH!”
         Kedua mata Kandar semakin melotot. Kata-kata dalam tulisan yang diukir dengan darah itu sama persis dengan tulisan yang ia lihat di mimpi buruknya beberapa saat tadi. Kandar melihat kalimat yang berbunyi, “Kamu akan melihat belahan hatimu kucabik-cabik!” ditulis tiga kali. Benar-benar persis dengan tulisan di mimpinya tadi. Setelah terlongong-longong beberapa detik, Kandar menggelengkan kepalanya, lalu melangkah mundur dengan perlahan.
         “Ini tidak mungkin! Tidak mungkin! …Ini semua hanya mimpi! Mimpi!”
         Kandar langsung keluar rumah, lalu berteriak minta tolong. Beberapa detik kemudian datanglah lima teman lelakinya. Mereka terkejut melihat Kandar ketakutan berat. Mereka menanyakan apa yang terjadi. Kandar berkata, “Tadi aku mimpi seram banget! dan sekarang jadi kenyataan!”
         Semua tersentak. Kandar yang otaknya sudah buntu, langsung meminta semua temannya untuk masuk ke ruang tamu. Begitu masuk ruang tamu, Kandar terkejut lagi. Tulisan dari darah tadi lenyap tanpa bekas. Salah satu bawahannya yang bertubuh kekar, bertanya, “Tadi Boss benar-benar melihat tulisan dari darah?...Boss yakin tidak sedang berimimpi atau berhalusinasi!?”
         Kandar yang seperti mimpi, berkata lemah, “Ini semua ulah Kasman. …Dia menggunakan ilmu hitamnya.”
         “Ilmu hitam!?” sahut semuanya tersentak. Kandar mengangguk. “Selain tubuhnya menjadi sekuat macan, dia juga belajar ilmu setan, ilmu santet. Dan inilah hasilnya.”
         Semua bawahan Kandar langsung merinding. Kandar melanjutkan, “Kemungkinan besar…ilmu setannya sudah sempurna. Dan inilah buktinya. …Dia benar-benar semakin sakti. Dia benar-benar semakin mengerikan. Kita semua harus ekstra waspada. Terutama aku sendiri.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Untuk saat ini…hanya satu yang paling kupikirkan. …Keselamatan istriku.”
         Setelah keadaan terasa lebih tenang, Doyok, anak buah Kandar yang memakai topi merah, berkata, “Salah satu dari kami biar tidur di serambi. Jadi kalau nanti Boss Kandar ada apa-apa lagi, Boss tinggal panggil kami.”
         Kandar tersenyum. “Kenapa kalian harus bersusah payah tidur di luar? Di luar kan dingin. …Sudahlah, kalian tidak usah sungkan. Kalian boleh tidur di dalam. Nanti  aku bisa lebih mudah minta tolong kalian.”
         Beberapa menit kemudian, Kandar berniat menelpon Isma. Ia hanya ingin tahu keadaan istrinya. Namun setelah berpikir lebih masak, Kandar mengurungkan niatnya untuk menelpon rumah atau HP Isma. Kandar berpikir, sekarang masih jam dua kurang seperempat, jadi Isma pasti sedang tidur. Walaupun hanya menelpon sebentar, suara dering telpon itu pasti sudah mengganggu Isma. Ditambah lagi, kalau dini hari begini Kandar menelpon Isma, nanti Isma bisa terkejut dan berpikir yang bukan-bukan. Nanti Isma bisa berpikir, siapa yang menelponnya jam sekian? Jangan-jangan ada yang berniat jahat pada dirinya? Dan lain-lain.
         Sekarang kita tengok Isma yang sedang berada di alam terbuka yang begitu indah. Isma mengenakan baju kuning dan rok panjang merah. Di sekitarnya hanya ada warna hijau daun dan rerumputan yang sangat menyejukkan mata dan hati. Sesaat kemudian Isma melihat bunga-bunga bermekaran. Di tengah bunga itu berdiri sebuah pohon yang ada buah antiknya. Buah berwarna merah itu bentuknya mirip strawberry, namun besarnya sama dengan pepaya. Isma yang keheranan sekaligus semakin gembira, berniat mengambil buah aneh itu. Isma mencari kayu atau tongkat panjang yang bisa ia jadikan alat untuk mengambil buah itu. Namun setelah mencari ke sana kemari, Isma tidak atau belum menemukan apa yang ia cari. Isma pun sadar dengan terbatasnya kemampuan dirinya.  
         Karena belum menemukan cara untuk meraih buah itu, akhirnya Isma hanya duduk di bawah pohon tersebut. Isma berpikir, kemungkinan besar ia harus mengurungkan niatnya untuk mengambil buah aneh itu. Namun karena keinginannya untuk mengambil buah itu sudah sangat kuat, akhirnya Isma mantap untuk memanjat pohon itu. Sesulit apapun, Isma harus bisa mengambil buah antik yang sudah mencuri hatinya itu. Namun ketika Isma baru menyentuh pohon itu, kedua tangannya seperti menyentuh listrik bertegangan tinggi. Isma tersentak. Tubuh rampingnya ambruk ke belakang. Namun mendadak, ada sesosok tubuh lelaki yang menahan tubuh Isma, sehingga Isma tidak jadi roboh di rerumputan. Isma tersentak. Lelaki yang menolongnya itu ternyata Hamdi Rusmanto.
         Isma yang terkejut sekaligus gembira, berkata, “Mas Hamdi?”
         Hamdi mengangguk sambil tersenyum. “Kamu tidak akan bisa mengambil buah itu. …Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengambilnya.”
         “Maksudnya?” Tanya Isma sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Hamdi. Hamdi menyahut, “Kamu harus tahu Isma…itu buah spesial, buah keabadian. …Siapapun yang sudah memakan buah itu, dia akan mendapat kebahagiaan cinta yang abadi.”
         Penjelasan itu membuat Isma semakin terpana. Ia bertanya, “Lalu siapa yang bisa mengambil buah itu?”
         Hamdi tersenyum, “Kamu ingin mengambil dan memakan buah itu?”
         “Sangat ingin Mas. Buah itu benar-benar sudah mencuri hatiku.”
         Hamdi tersenyum gembira. “Baiklah. Sekarang dengarkan dulu suara ini.”
         Beberapa detik kemudian terdengarlah suara lelaki yang besar. Suara yang seperti suara raksasa itu berkata, “Isma…kamu harus menjawab pertanyaanku ini dengan jujur.”
         Isma terkejut, namun Hamdi langsung menenangkan. Suara raksasa melanjutkan, “Isma…buah itu hanya bisa diambil oleh lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu.”
         “Benar-benar tulus mencintaiku!?”
         “Betul Cah Ayu. …Mungkin banyak lelaki yang tulus mencintaimu…termasuk Kandar..suamimu. ...Tapi hanya satu lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi. “Isma…siapa lelaki yang paling kamu cintai?”
         “Lelaki yang paling kucintai?” Tanya Isma tersentak. Suara raksasa menjawab, “Ya. …Untuk saat ini…siapa lelaki yang paling kamu cintai di dunia ini?”   
         Isma diam beberapa detik. Setelah mengatur nafas, wanita cantik ini berkata, “Siapa lagi kalau bukan kamu.”
         “Aku?” Tanya Hamdi tersenyum. Isma mengangguk mantap. “Hanya kamu Mas. Hanya kamu satu-satunya lelaki yang paling kucintai. Hanya kamu yang selalu ada di hatiku. …Hanya Mas Hamdi Rusmanto yang bisa memiliki hatiku. Memiliku hatiku untuk SELAMANYA.”
         “Benarkah itu?”
         “Demi Allah Mas.”
         Hamdi tersenyum bahagia. “Aku pun hanya mencintaimu, Ismaku..bunga hatiku. …Sekarang akan kuambilkan buah itu. Kuambilkan untukmu.”
         Hamdi mengarahkan kelima jari kanannya ke buah strawberry raksasa, lalu berkata, “Atas ijin Allah, jatuhlah di tanganku.”
         Buah aneh sebesar pepaya itu jatuh tepat di tapak tangan kanan Hamdi. Hamdi tersenyum, lalu ia serahkan buah itu kepada Isma. Isma tersenyum manis sekali, kemudian menerima buah itu dengan kedua tangannya. Ia cium baunya yang begitu harum. Setelah itu ia mendekati Hamdi, lalu ia letakkan kepalanya di dada bidang Hamdi. Sambil tersenyum bahagia, Isma berkata lembut, “Walaupun sudah rujuk lagi sama Mas Kandar, aku tetap tidak bisa melupakan kamu..Mas Hamdiku...Sayangku. Apapun yang terjadi, kamulah cinta sejatiku.”
         Hamdi yang juga tersenyum bahagia, mengelus rambut Isma yang tebal. “Aku pun begitu, Manisku. Cintaku padamu abadi.”
         “Terima kasih, Mas Hamdiku. Terima kasih untuk segalanya.”
         “Sama-sama, bidadariku.”
         Sedetik kemudian Isma terbangun dari tidurnya dengan tersentak. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang bulat agak lonjong. Sambil mengatur nafas dan rambutnya yang acak-acakan, Isma berkata lemah, “Ya Allah. …Hanya mimpi. Tapi seperti betulan. ...Ooh…ini tidak mungkin (menggelengkan kepala). Tidak mungkin!”
         Hening sebentar, lalu bergumam, “Aku tidak boleh mencintainya lagi. Aku tidak boleh memikirkan dan mengharapkan dia lagi. Tidak boleh! …Hubungan kami sudah berakhir. Sudah berakhir! …Yahh (mengangguk-angguk)…sejak Mas Kandar tidak mau menceraikan aku kemarin, aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. …Sekarang aku dan dia hanya teman…teman baik, sahabat, saudara, dan sejenisnya.”
         Isma menutup mukanya dengan kedua tangannya, setelah itu bergumam lagi, “Kenapa setiap aku berusaha keras melupakannya, wajahnya justru semakin tampak di mata hatiku? …Tapi…sesulit apapun…aku harus bisa melupakan Hamdi. …Sesulit apapun, di kamar hatiku tidak boleh ada lagi nama Hamdi Rusmanto. …Apapun yang terjadi…sekarang aku hanya boleh menyimpan satu lelaki di kamar hatiku yang terdalam. …Mas Suryo Iskandar…suamiku, pasangan hidupku yang sah. …Dulu dia memang amburadul…tapi sekarang, Insya Allah, dia sudah berubah drastis. …Sekarang dia sudah berusaha keras menjadi suami yang baik, yang sholeh, yang selalu menyayangi istrinya. …Buktinya? Sejak tiga bulan yang lalu dia tidak pernah meninggalkan sholat wajib lima waktu. Ditambah lagi, dia juga sudah cukup rajin mengikuti pengajian-pengajian.”
         “Dan yang paling penting…sekarang dia sudah tidak menomorsatukan pekerjaannya. Sekarang dia sudah banyak menyediakan waktunya untuk tinggal di rumah…memperhatikan kebutuhan rumah…dan memperhatikan kebutuhan istrinya yang bodoh ini. …Oohh..alangkah bahagianya aku sekarang. …Terima kasih banyak ya Allah, Gusti Yang Maha Pengampun. Engkau benar-benar sudah memberiku nikmat sejati, nikmat yang sesungguhnya. Segala puji memang hanya untukMu.”   
         Ketika langit sudah terang, Kandar langsung menelpon rumah. Kandar yang cemas bukan main, menanyakan keadaan Isma. Ia ceritakan mimpi buruknya semalam, namun ia tidak menceritakan tulisan darah yang menjadi kenyataan, sebab ia takut kalau nanti Isma tidak percaya, bingung, dan menganggap dirinya mengigau atau berhalusinasi. Mendengar semua penjelasan Kandar, Isma hanya tersenyum, lalu berkata, “Sekarang Mas tahu sendiri, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
         “Betul?”
         Isma tersenyum manis. “Insya Allah Mas. Pokoknya kita banyak berdoa saja.”
         Kandar tersenyum lega. “Ya sudah kalau begitu. Aku bisa kembali kerja dengan tenang.”
         Setelah menutup Hand Phone, Kandar yang kini sedang menghadap laptopnya, bergumam, “Sekarang Isma memang masih baik-baik saja. Tapi kalau nanti atau besok-besok...? …Maha Suci Allah. Firasatku masih tetap tidak enak. Aku harus tetap ekstra waspada. Mimpiku semalam benar-benar hidup, benar-benar seperti nyata. …Biar bagaimanapun, ancaman Kasman tadi malam tidak boleh kupandang sebelah mata. Firasatku mengatakan…kemungkinan besar…mimpiku semalam akan menjadi nyata.”
         Hening sejenak. Kandar meneguk minuman di gelas plastik, setelah itu bergumam lagi, “Tapi sudahlah, aku banyak berdoa saja…sebagaimana nasehat Isma tadi. …Yahh..untuk saat ini..memang hanya berdoa satu-satunya cara untuk mengusir rasa takutku ini. …..Huhh!...mimpi semalam benar-benar mengerikan. …Inilah mimpi terburuk dalam hidupku.”

                                                          *****

         Jam setengah delapan pagi. Isma bersantai di kamarnya. Sambil tengkurap di ranjang, Isma membaca buku novel karangan Hamdi. Ia terlihat asyik dalam membaca buku tipis karya mantan kekasihnya itu. Beberapa menit kemudian, Isma dikejutkan oleh pintu kamarnya yang terbuka sendiri. Isma berkata agak berseru, “Siapa itu!?”
         Isma hanya bertanya pada angin. Ia tidak melihat siapapun yang berdiri atau lewat di depan pintu kamarnya. Ia kembali bertanya, “Murni…kamu di situ?”
         Lagi-lagi Isma hanya bertanya pada angin. Beberapa saat kemudian Isma tersentak. “Lho…kenapa bulu kudukku tiba-tiba merinding? Ada apa ini!?”
         Isma yang mendadak dicekam rasa takut, kembali menatap pintu kamarnya, lalu berseru, “Hei! Siapa di situ!? Jangan main-main ya!? …Murni!...kamu di situ!?”
         Hening sejenak. Isma yang semakin merinding, memutuskan untuk mendekati pintu kamarnya dengan perlahan. Setelah berdiri di depan pintu, Isma menoleh ke sana kemari, melihat keadaan luar kamarnya, namun ia tidak melihat siapapun. Tidak ada yang membuka kamarnya, tidak ada angin kencang yang meniup kamarnya. Lagipula, kalau dipikir logis, angin sekencang apapun, tidak akan bisa membuka pintu yang sudah ditutup rapat. Namun Isma yakin kalau tadi ada orang yang membuka pintu kamarnya. Ia juga langsung ingat kalau Murni sekarang sedang belanja. Dengan demikian, sekarang ia sendirian di rumah.
         Lantas siapa yang sudah membuka pintu kamarnya? Benarkah ada orang yang sudah masuk ke rumahnya? Dengan hati yang semakin dicekam rasa takut, Isma bergumam, “Ini benar-benar aneh. Benar-benar ada yang tidak beres.”
         Isma melangkah mundur dengan perlahan, kemudian kembali duduk di ranjang. Sesaat kemudian Isma melotot. Ada kekuatan besar yang merasuki tubuhnya. Kekuatan yang membuat tubuhnya kejang-kejang. Ia berdiri dengan tiba-tiba, kemudian meloncat dari ranjang. Ia berlutut di lantai, kemudian bersujud seperti orang sholat. Beberapa detik kemudian Isma mengangkat kepalanya. Dan…wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan. Wajahnya pucat, kedua matanya putih semua, tidak ada bola mata hitam. Dengan kedua mata melotot, bibirnya mengenyeringai, lalu berkata, “Kandar keparat! Sudah kukuasai jiwa belahan hatimu ini. he he he. Inilah bukti ancamanku.  Hua ha ha haa!!”
         Benar-benar mengerikan suara yang keluar dari mulut Isma itu. Suara itu bukan suara Isma lagi. Itu suara lelaki. Suara yang sangat mirip dengan suara Kasman. Beberapa menit kemudian Murni datang dengan membawa plastik besar, plastik yang penuh dengan belanjaan. Ia masuk lewat garasi, kemudian menaruh belanjaannya di dapur. Setelah itu ia masuk ke ruang keluarga, lalu berkata, “Mbak Is…kacang panjangnya belum dapat. Tidak apa-apa kan? Nanti siang biar kucari lagi di warungnya Bu Yun. …Mbak Is (menatap kanan-kiri). Mbak Is di mana? …Mbak Is. …Mbak Is lagi mandi ya? Lagi bersih-bersih WC?”        
         Hening sejenak. Murni terus mengitari ruang keluarga dengan perlahan, kemudian melangkah ke ruang tamu. Ia berkata lirih, “Mbak Is di mana sih? …Kalau pergi, harusnya pintu ini (ruang tamu) dikunci.”
         Setelah itu ia bergumam, “Kalau mau pergi, biasanya dia SMS atau nelpon aku. Tapi seingatku…tadi dia tidak bilang mau pergi.”  
         Karena tidak menemukan Isma di ruang tamu, Murni langsung melangkah ke kamar mandi, namun ia juga belum menemukan Isma. Setelah berpikir beberapa detik, Murni mengangguk sambil tersenyum. Ia menganggap Isma sedang berada di ruang jemuran, ruang yang berada di atas dapur. Murni langsung bergegas ke ruang jemuran, namun sekali lagi ia harus kecewa. Ia tidak melihat Isma di ruang jemuran. Sambil menoleh ke sana kemari, Murni berkata lirih, “Mbak Is ke mana sih? …Apa ke rumah Bu Darti ya? …Tapi…walaupun cuma ke tetangga depan atau samping rumah, biasanya dia selalu mengunci pintu depan.”
         Hening beberapa detik, setelah itu Murni bergumam sambil tersenyum. “Oh iya, aku ingat. Tadi dia mau baca buku di kamarnya.”
         Setelah sampai di kamar Isma, Murni melihat pintu kamar majikannya terbuka sedikit. Sambil mengetuk pintu kamar, Murni berkata, “Mbak Is di dalam ya? …Mbak Is? ...Aku cuma mau lapor, kacang panjangnya belum dapat. …..Mbak Is (membuka pintu kamar dengan perlahan ). Mbak Is lagi apa?”
         Setelah membuka pintu, Murni melihat Isma duduk membelakanginya. Posisi duduknya seperti orang sholat, atau seperti duduk Iftirasyi, duduk di antara dua sujud. Murni tersenyum, “Kucari ke mana-mana, ternyata di sini. …Mbak Is…”
         Murni memanggil Isma sampai tiga kali, namun Isma tidak bereaksi sedikit pun.  Murni menjadi agak cemas. Senyum gembira di bibirnya langsung musnah. Dengan wajah mulai tegang, Murni mendekati Isma yang duduk di lantai, lalu bertanya lagi, “Mbak Is. …Mbak Is kenapa? Kok duduk di lantai? …Ada apa Mbak?”  
         Begitu tangan kanan Murni menyentuh bahu kanan Isma, Isma langsung membalikkan mukanya. Murni tersentak, lalu mundur beberapa langkah. Ia melihat wajah Isma pucat pasi. Kedua matanya tertutup rapat. Ia berdiri dengan perlahan. Sedetik kemudian Isma membuka kedua matanya. Murni semakin melotot melihat bola mata Isma tidak ada. Isma berkata, “Jangan ganggu aku!”
        Murni melotot, “Ya Allah! Mbak Is!...suaramu…!?”   
        Isma mendekati Murni yang melangkah mundur. Isma menggeram, lalu tangan kanannya menampar muka Murni dengan keras. Murni terjerembab di ranjang. Ia berseru, “Mbak Is! Apa-apaan ini!? Kenapa Mbak Is jadi begini!?”
         Isma hanya melotot sambil terus mendekati Murni. Murni yang ketakutan berat, langsung bangkit dari ranjang, lalu melangkah mundur. Isma kembali bicara dengan suara lelaki, “Katakan pada Kandar. Aku memang tidak bisa memiliki Isma…tapi semua lelaki sainganku juga tidak boleh memilikinya! Tidak boleh!”
         Murni melotot sambil menggelengkan kepala. Isma bicara lagi, “Enak sekali tubuh perempuan ini. Aku benar-benar betah tinggal di sini! Hua ha ha haa!!”
         Murni menangis, “Ya Allah. …Mbak Is…Mbak Is keserupan!”
         Isma melotot lagi. Murni yang histeris, berkata, “Jangan Mbak Is (mengacungkan kedua tangannya), jangan! Kumohon! Sadarlah Mbak Is. Sadarlah! Eling Gusti Allah Mbak! Eling! Mbak Is..ini aku, Murni!” …Duh Gusti, apa yang sudah terjadi pada Mbak Is!?”
         “Kamu tidak usah cerewet!” bentak Isma yang amarahnya semakin meledak. Tangan kirinya menonjok muka Murni. Tubuh ramping Murni nyaris membentur pintu kamar. Melihat Isma terus mendekat, Murni langsung bangkit lagi. Ia berkata dengan air mata berlinang, “Jangan Mbak Is. hik, hik. Jangan sakiti aku lagi. hik hik. Ini aku! Murnii!”
         Isma yang sudah tidak sadar itu mau menyerang Murni lagi, namun Murni bertindak lebih cepat. Ia keluar dari kamar Isma, kemudian berlari ke ruang makan.  Isma melanjutkan amukannya di ruang makan. Ia mengambil salah satu kursi yang menghadap meja makan, lalu ia angkat kursi itu di atas kepalanya. Rupanya ia mau melemparkan kursi itu ke Murni yang sekarang berdiri di pintu menuju garasi. Murni berseru, “Jangan Mbak Is! jangan!” 
         Rengekan minta ampun itu malah semakin membakar emosi Isma yang kesetanan. Isma menggeram, lalu melempar kursi itu ke Murni. Namun untunglah, Murni sudah siaga, sehingga kursi itu hanya menghujam pintu tempat ia berdiri. Karena sudah kehabisan akal, pembantu cantik ini langsung keluar rumah lewat garasi, kemudian berlari ke rumah Darti sambil berteriak, “Tolooong! Tolooong!! Mbak Isma kesurupaan!! Mbak Isma kesurupaan!!”
         Darti yang kebetulan berada di ruang tamu, langsung keluar rumah. Dilihatnya Murni yang berdiri di depan pagar rumahnya. Murni yang seperti dikejar ular raksasa, berseru, “Mbak Isma kesurupan!”
         “APA!!?” sahut Darti dengan kedua mata bulat seperti bola ping pong. Tanpa pikir panjang lagi, Darti langsung meminta tolong tiga pemuda. Waluyo, pembantunya, Rujan, sopirnya, dan Ahmad, ponakannya yang agak angkuh. Mereka langsung mengikuti Murni yang masuk ke rumah Isma lewat ruang tamu. Murni dan Darti berdiri di belakang Ahmad, Rujan dan Waluyo. Mereka berjalan dengan perlahan. Rujan dan Waluyo yang pertama menginjak ruang keluarga, tidak melihat Isma berada di situ. Saat semuanya sudah menginjak ruang keluarga, Murni berkata lirih, “Hati-hati..dia bisa menyerang dari segala arah.”    
         “Terus mana dia sekarang?” Tanya Ahmad yang terlihat paling sok jagoan. Waluyo menyahut, “Pokoknya hati-hati saja. Tengok kanan-kiri, depan-belakang.”
         “Gerakannya cepat sekali Mas,” ujar Murni yang terus bersama Darti. Waluyo mengangguk, “Yang namanya orang kesurupan, kekuatannya jadi sulit dinalar. Kekuatannya jadi lima sampai tujuh kalinya manusia biasa..bahkan bisa lebih.”
         “Mengerikan sekali..” sahut Darti. Murni menyambung, “Yang lebih mengerikan, suaranya jadi lelaki. Suaranya besar dan bertenaga.”
         Setelah berputar-putar di ruang keluarga, Murni meminta tiga pemuda itu untuk  memeriksa kamar Isma. Rujan membuka pintu kamar Isma dengan perlahan, setelah itu ia dan Waluyo masuk ke kamar dengan gerakan cepat. Ahmad yang sebenarnya terlihat paling penakut, langsung menyusul kedua temannya. Tiga pemuda ini tidak melihat Isma di kamarnya. Darti yang berada di luar kamar bersama Murni, berkata, “Apa mungkin dia sudah keluar rumah?”
         “Bisa jadi,” sahut Murni, “soalnya gerakannya cepat sekali.”
         Rujan berkata, “Wah, kalau dia sudah keluar rumah, keadaan bisa semakin runyam.”
         “Tapi kelihatannya belum,” ujar Murni yang terlihat paling cemas. “Aku bisa merasakan kekuatan tubuhnya.”
         “Wah, hebat,” kata Ahmad tersenyum angkuh. “berarti kamu juga sakti..bisa merasakan energi orang.” 
         “Memang belum!” bentak Isma yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Isma tersenyum, “Wah, temanku yang mau bersenang-senang semakin banyak. Ha ha!”
         Masya Allaah,” tutur Darti melotot. “Mbak Is…kamu…kamu kok jadi..?”
         “Kenapa?...Aku jadi semakin cantik kan? Ha ha haa!”
         Darti yang seperti mimpi, berkata lemah, “Kamu benar Mur. Suaranya…”
         “Sudah!” bentak Ahmad dengan angkuhnya. “Tidak ada waktu lagi untuk kaget atau bingung. Sekarang ayo kita ringkus dia!”
         “Hati-hati Mad!” seru Darti yang melihat ponakannya mendekati Isma dengan sok tenang. Isma kembali berkata dengan suara lelaki, “Cecunguk macam apa yang sekarang berdiri di depanku? …Hei keparat, kamu berani nantang aku!?”
         Kata-kata itu langsung membangkitkan darah muda Ahmad yang angkuh. Ia membentak, “Makhluk terkutuk! Aku tidak peduli kamu ini iblis dari kuburan mana. Pokoknya kamu harus keluar dari tubuh Bu Kandar! Kalau tidak…!?”
         “Kalau tidak!?”
         Ahmad menatap empat temannya yang berdiri di belakangnya. Dengan keberanian yang dipaksakan, keberanian yang hanya muncul karena gengsi tinggi, Ahmad kembali memelototi Isma, lalu membentak, “Bedebah! Kamu mau keluar tidak!?”
         “Tidak!sahut Isma tersenyum mengejek. Ahmad yang sebenarnya merinding, membentak, “Makhluk biadab! Kamu memang minta dihajar! Baiklah bedebah! Rasakan ini!”   
         Ahmad melontarkan kepalan kanannya dengan sepenuh tenaga. Kepalan itu menghujam muka Isma dengan telak, namun Isma malah tersenyum mengejek. Kepalanya hanya bergerak sedikit. Pukulan keras itu tidak membuatnya kesakitan sedikit pun. Ketika Ahmad hendak memukul lagi, Murni berteriak, “Jangan Mas! jangan sakiti Mbak Is!”
         “Tenanglah,” sahut Darti. “Pikiran Mbak Is sedang di bawah kendali iblis, jadi dia tidak akan merasakan apapun.”
         “Betul Mbak,” sahut Rujan yang mulai ketakutan. “Lihat itu, Mbak Is malah tertawa.”
         Isma berkata, “Ayo cecunguk…keparat cilik! Lanjutkan lagi seranganmu.”
         Alangkah geramnya Ahmad diremehkan. Amarahnya langsung mengalahkan rasa takutnya. Dengan jantung yang masih deg-degan, Ahmad kembali menyerang Isma dengan empat pukulan beruntun. Satu dengan tangan kiri, tiga dengan tangan kanan. Semuanya menghujam muka Isma dengan telak. Sedetik kemudian Isma tertawa mengejek. Ahmad semakin terlongong-longong melihat kehebatan lawannya. Pemuda 23 tahunan ini berseru, “Apa-apaan ini!? …Siapa kamu sebenarnya!?”        
         Isma melotot. “Aku paling benci melihat orang yang berani mencampuri urusanku!”
         Diam sebentar, setelah itu tertawa binal. “Aku tak terkalahkan! Aku abadi!”
         Ahmad yang sebenarnya ketakutan, berkata, “Siapapun kamu..aku tidak peduli! Pokoknya kamu harus kuhancurkan!”
         Isma tersenyum mengejek, “Dengan kekuatan selemah ini, kamu mau menghancurkan aku!? Huh! Jangan mimpi!”
         Ahmad kembali melontarkan bogem kanannya ke muka Isma, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Tapak kiri Isma mengeblok tinju Ahmad. Isma menggeram, lalu tangan kanannya memukul perut Ahmad. Pukulan dahsyat itu membuat perut Ahmad seperti ditohok kayu sebesar kaki pria dewasa. Setelah itu Isma mencengkeram kaos Ahmad yang di dekat leher, kemudian ia lempar tubuh atletis Ahmad ke lemari kecil di dekat meja makan. Tubuh Ahmad menabrak lemari kecil dan kursi. Ahmad roboh di lantai bersama dua benda dari kayu itu. Darti dan Murni menjerit. Darti memapah ponakannya yang tidak berdaya.
         “Sudah Mad, kamu jangan nekat! Kamu tidak bisa melawan dia sendirian!”
         Kini ganti Rujan dan Waluyo yang menghadang Isma. Isma berkata, “Kenapa hanya dua orang? Kenapa tidak lima atau tujuh orang sekaligus!?”
         Waluyo dan Rujan saling menatap. Sedetik kemudian dua pria kekar ini mengeroyok Isma. Rujan berdiri di belakang Isma, kemudian mengunci kedua tangannya. Sedangkan Waluyo yang berdiri di hadapan Isma, berkata, “Maafkan aku Mbak Isma, aku terpaksa melakukan ini!”
         Waluyo menampar muka Isma dua kali, masing-masing dengan tangan kanan-kirinya. Setelah itu Waluyo melontarkan bogem kanannya. Bagi Isma, tiga pukulan keras itu hanya terasa seperti tamparan tangan balita. Waluyo melotot, namun ia tidak ingin larut dalam keheranan panjang. Ia langsung bergerak secepat pikirannya. Tiga bogem mautnya menghujam perut Isma. Dua dengan tangan kanan, satu dengan tangan kiri. Namun sekali lagi, Isma yang sudah kerasukan jinnya Kasman, tertawa mengejek. 
         Melihat Waluyo bengong, Isma yang kedua tangannya masih dikunci Rujan, langsung membenturkan kepalanya ke kepala Waluyo. Sedetik kemudian hidung Waluyo berdarah cukup banyak. Melihat Waluyo melangkah mundur dengan sempoyongan, Isma langsung mengirim serangan berikutnya. Kaki kanannya menghujam perut Waluyo dengan sangat keras. Waluyo mengerang, lalu membungkuk. Isma ganti melirik Rujan yang mengunci kedua tangannya. Isma menggeram dengan suara lelaki, kemudian ia benturkan kepalanya yang bagian belakang ke muka Rujan. Rujan mengerang. Benturan keras itu membuat cengkeramannya mengendur.
         Isma yang mengetahui cengkeraman tangan Rujan sudah mengendur, langsung menyikut perut Rujan dengan siku kanannya. Rujan yang kesakitan, akhirnya melepaskan kedua tangan Isma. Isma menoleh ke belakang, lalu menonjok muka lawan dengan bogem kanannya. Rujan terhuyung-huyung, dan akhirnya roboh. Hidung dan mulutnya berdarah banyak. Setelah Rujan takluk, Isma ganti memelototi Waluyo yang masih berdiri. Waluyo yang merinding, langsung bertindak secepat kilat. Ia kembali melontarkan tinju kanannya, namun tangan kiri Isma menangkisnya dengan mudah. Isma menggeram keras, kemudian menonjok muka Waluyo dengan bogem kannnya. Pukulan dahsyat itu akhirnya merobohkan Waluyo. Murni dan Darti semakin tegang menyaksikan peristiwa menakjubkan sekaligus mengerikan ini.       
         Setelah pada bengong beberapa detik, Ahmad bangkit lagi dengan tangan kanan membawa pentung kayu. Ahmad yang angkuh, tidak sudi menyerah begitu saja. Kini ia sudah siap tempur lagi. Rujan yang duduk di lantai, berseru, “Jangan nekat Mad! Sekarang kita tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa! Sekarang kita sedang berhadapan dengan jin!”
         Ahmad yang sudah mengacungkan pentung kayunya ke Isma, menyahut, Aku tidak peduli siapa dia! Mau makhluk halus, mau setan, mau jin, mau gendruwo…pokoknya dia sudah berani mengganggu Bu Kandar! …Hei keparat! Ayo kita duel lagi! duel yang marak!”
         Kali ini amarah Isma mencapai puncak. Baginya, pemuda di hadapannya itu hanya cecunguk tak tahu diri, namun kenapa ia berani menantangnya dengan gagah? Isma yang sudah marah besar, bertekad akan melumat lawannya. Apalagi melihat sikap Ahmad yang sok jagoan, Isma menjadi semakin mantap untuk menghabisi pemuda angkuh di hadapannya itu. Kali ini ia tidak ingin main-main lagi. Kali ini ia tidak ingin memberi ampun musuhnya.
         Setelah diam beberapa detik, Ahmad menyerang Isma dengan berteriak lantang. Ia hujamkan pentung kayunya ke muka Isma, namun tangan kiri Isma yang sakti itu menangkis pentung Ahmad dengan mudah. Tangan sakti itu hanya seperti menahan pentung plastik. Ahmad melotot melihat lawannya masih begitu perkasa. Hati kecilnya mengatakan, lawan di hadapannya itu benar-benar bukan tandingannya. Lawan di hadapannya itu terlalu tangguh untuk ia lawan. Sementara Ahmad hanya melongo, Isma mengumpulkan ‘tenaga dalamnya’ di kepalan kanannya. Sedetik kemudian Isma menggeram, lalu ia lontarkan bogem kanannya ke muka Ahmad.        
         Bogem maut itu kembali merobohkan Ahmad ke lantai. Hidung dan mulutnya banjir darah. Ia ingin bangun lagi, namun kepalanya seperti habis dipukul batu sebesar kepala kerbau. Waluyo yang sudah berdiri lagi, menghampiri Darti sambil berkata, “Sekarang sebaiknya Ibu memanggil ustadz, kyai, orang pintar atau orang alim yang bisa mengusir jin. Insya Allah, hanya orang-orang seperti itu yang bisa menyembuhkan Mbak Isma.”
         “Betul Bu!” sahut Murni yang mukanya banjir peluh. “Mungkin Ibu bisa melapor ke takmirnya masjid Al-Furqan.”
         “Yah, cocok sekali!” sahut Waluyo. Rujan yang sudah berdiri, menyambung, “Mungkin Pak Sujar bisa menyembuhkan orang kesurupan. …Kalau bukan Pak Sujar, mungkin Mas-Masnya yang jaga masjid itu juga bisa.“  
         “Iya Bu,” sahut Waluyo. “Mungkin kita bisa minta tolong Mas Andi, Mas Nurman…atau Mas Rian.”
         Murni menyambung, “Kenapa tidak Mas Hamdi sekalian!?”
         Darti mengangguk. “Baiklah, aku akan nelpon Bu Sujar.”
         Begitu Darti hendak menelpon rumah Sujar, datanglah lima pemuda berotot. Usianya di bawah tiga puluh. Mereka Yudi, Kunto atau Kukun, Kokok, Budi dan Hendra. Rupanya mereka teman-teman Waluyo. Hendra dan Budi penduduk asli Bumi Indah, sedangkan yang lain asli Wonosari, satu desa dengan Waluyo. Sementara Darti menelpon rumah Sujar dengan telpon di rumah Isma, Waluyo dkk menghadang Isma yang mau mengamuk lagi. Sesaat kemudian, Retno menerima telpon dari Darti.  Darti langsung menceritakan semuanya. Darti meminta tolong Retno untuk memanggilkan kyai atau ustadz yang dapat me-ruqyah* Isma. Retno yang terkejut bukan main, langsung mengontak Nurman yang masih mengikuti pengajian di Mustek (Mushola Teknik) UGM.
            Catatan Kaki:*Penyembuhan penyakit dengan cara Islami, biasanya dilakukan untuk menyembuhkan orang kesurupan. Caranya, dengan dibacakan Al-Quran atau didoakan dengan doa-doa yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.
         Nurman yang masih asyik pengajian, langsung mengontak ustadz-ustadz yang ia anggap bisa menyembuhkan orang kesurupan. Setelah itu Nurman mengontak Andi yang masih kuliah, kemudian mengontak Hamdi yang sedang bisnis di rumah temannya di Klaten. Hamdi yang masih asyik berbincang dengan teman-temannya, terkejut sekali mendengar kabar Bu Kandar kesurupan. Nurman berkata,       “Sekarang antum harus pulang. Antum harus ikut membantu kita menyembuhkan Bu Kandar!
         “Tapi aku masih ada urusan penting!”
         “Tapi ini lebih penting Mas!
         Hening sejenak. Hamdi menatap semua temannya yang pada ngobrol, setelah itu bicara lagi, “Coba kamu minta tolong Ustadz Abu Salman.”
         “Ustadz Salman lagi pergi. Ustadz Aris, Ustadz Arwan, Ustadz Salam juga tidak bisa. Mereka masih sibuk ngajar. Mas Ardi masih di Purwokerto.”
         “Papa?”
         “Bapak masih di Ngawi. Kata Ibu, besok pagi baru pulang.”
         “Andi dan Rian?”
          “Rian masih praktek lapangan. Andi masih kuliah, tapi Insya Allah sekarang dia lagi perjalanan pulang. Aku sendiri masih di Mustek, tapi sebentar lagi pulang.”
         Alangkah bingungnya Hamdi mendengar semua penjelasan Nurman itu. Ia masih ingin melanjutkan bisnisnya, bisnis untuk bekal masa depannya, namun ia juga tidak bisa mengabaikan Isma yang sedang dalam bahaya besar. Setelah bingung  beberapa menit, akhirnya Hamdi mantap untuk membantu menyembuhkan mantan kekasihnya itu. Ia langsung memohon diri pada semua temannya. Beberapa saat kemudian Hamdi dan motor GL-Pronya sudah berada di jalan raya. Sambil konsentrasi penuh pada kemudi, Hamdi bergumam, “Apalagi yang sudah terjadi pada Isma? …Siapa lagi yang ingin mengganggu atau mencelakakan mantan pacarku itu? …Tapi memang seperti itulah resiko wanita secantik dan sebaik Isma. Banyak lelaki yang menginginkannya. Termasuk Hamdi bodoh ini. He he.“
         Sekarang balik ke rumah Iskandar yang sedang dilanda huru-hara besar. Ketika Darti dan Murni masuk lagi ke ruang keluarga rumah Kandar, dua perempuan yang usianya beda jauh ini kembali terkejut setengah mati. Mereka melihat Waluyo cs yang sudah tidak berdaya. Delapan pemuda berotot ini terkapar di lantai. Rupanya mereka habis dibantai Isma. Rujan mengatakan, sekarang Isma sedang berada di halaman belakang. Rujan yang babak belur, berkata, “Apapun yang terjadi, kita harus bisa menahannya, sampai para pengusir setan itu datang.”
         “Gimana Bu Darti?” Tanya Kukun yang sudah berdiri. “Sudah dapat Kyai pengusir setan?”
         “Belum..sahut Darti yang mau menangis. Hendra bertanya, “Terus gimana sekarang? Siapa yang akan menghentikan dia!?”
         “Kalian sabar dulu,“ sahut Darti, “aku sudah minta tolong ustadz kenalan suamiku. Ustadz Jamal. Beliau sudah tiga kali menyembuhkan orang kesurupan, jadi Insya Allah beliau bisa diandalkan. Sebentar lagi beliau datang. …Sambil menunggu beliau, kalian harus tetap bisa menahan Mbak Is untuk tidak keluar dari rumah ini. …Murni, pintu-pintu sudah kamu kunci?”
         “Sudah Bu.”
         Sesaat kemudian Isma masuk lagi ke ruang keluarga. Isma yang sekarang sedang gila, siap mengamuk lagi. Waluyo cs langsung siaga. Mereka mengepung Isma yang berdiri di samping sofa yang biasa ia pakai untuk bersantai. Isma yang wajahnya semakin mengerikan, memelototi delapan pria kekar yang mengitarinya. Waluyo yang terlihat paling tenang, berkata, “Kalau bisa kita tidak usah berkelahi lagi. Tugas kita hanya menahannya, syukur bisa membuatnya pingsan.”  
         Sesaat kemudian Isma kembali menyerang delapan pria kekar di hadapannya, namun kali ini Waluyo cs bertindak lebih cepat. Empat kawannya menangkap kedua lengan Isma. Satu tangan dicengkeram dua orang. Isma menggeram keras, berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Rujan, Kukun, Kokok dan Hendra. Untuk beberapa detik, Isma yang sejak tadi di atas angin, bisa dilumpuhkan oleh Waluyo dkk. Murni yang ketakutan berat, berseru, “Hati-hati semuanya! Kalian jangan sampai menyakiti Mbak Is!”    
         “Kamu harus sadar Mur,” sahut Darti sambil menyentuh kedua bahu Murni. “Sekarang kita tidak sedang berhadapan dengan Mbak Is.”
         “Ibu benar..sahut Waluyo. “Kalau sekarang kita tidak bertindak tegas, nanti kita bisa semakin sengsara. Kamu tidak usah kuatir Mur. Insya Allah, teman-temanku tahu apa yang harus mereka lakukan. Percayalah.”
         Beberapa menit kemudian datanglah Nurman dan Andi. Dua pemuda ini terkejut melihat Isma dicengkeram kuat oleh lima pemuda kekar. Darti berkata, “Seperti inilah keadaannya. Kami sangat berharap, mudah-mudahan Mas Nurman atau Mas Andi bisa menolong Mbak Is.” 
         Nurman menjawab, “Saya dan Andi belum pernah menyembuhkan orang kesurupan. Tapi Insya Allah, kami akan berusaha keras.”
         Sesaat kemudian Isma kembali unggul. Ia berhasil merobohkan semua lawannya. Setelah itu ia ganti menatap Nurman dan Andi yang berdiri di pintu menuju ruang tamu. Isma berkata, “Korbanku mau tambah lagi.”
         Andi melotot, lalu berkata, “Mek (panggilan Nurman), kamu dengar suranya?”
         Nurman hanya diam sambil melotot. Darti berujar, “Pokoknya sebelum Ustadz Jamal datang, kita harus bisa melumpuhkan dia.”
         Setelah diam beberapa detik, Isma mendekati Andi dan Nurman, lalu ia lontarkan kepalan kanannya ke muka Andi. Pukulan keras itu membuat Andi melangkah mundur dengan terhuyung-huyung. Hidungnya berdarah sedikit. Setelah itu Isma ganti menyerang Nurman yang masih bengong. Dua pukulannya menghujam muka Nurman dengan telak. Hidung pemuda asli Jombang ini berdarah sedikit. Isma kembali melontarkan bogem kanannya, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Tangan kiri Nurman yang cukup berotot itu mengunci tangan kanan Isma. Melihat pertahanan Isma terbuka, tangan kanan Nurman langsung mencekik lsma, setelah itu Nurman membaca surat Al-Ikhlas (Qul huwallahu ahad).
         Setelah membacanya untuk yang ketiga kalinya, Isma mulai kesakitan. Tenaganya yang tadi seperti banteng betina, kini semakin melemah. Isma membentak, “Diam kamuu!! Jangan kamu baca syair-syair jelek itu! aahh!! Hentikaaan!!”
         Nurman yang masih mencekik leher Isma sekuat tenaga, berkata, “Katakan! Allah itu satu! Allah tempat bergantung! Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan! Dan tidak ada satupun yang setara dengan Dia! Tidak ada satupun yang bisa menandingiNya!* Subhanallah! Walhamdulillah! Wa Laa ilaaha illallah! Allahu Akbar!  Maha Suci Allah! Segala puji bagi Allah ! Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah! Allah Maha Besar!”        

         Catatan Kaki : * Al-Quran surat Al-Ikhlas, surat ke 112, ayat awal sampai akhir ( 1-4 )  
         “Cukuup!! Hentikaan!!” seru Isma yang semakin kesakitan. Nurman membentak, “Sebelum kamu keluar dari tubuh Bu Kandar, aku tidak akan menghentikan bacaanku ini! Hayo keparat! Kamu mau keluar tidak!!?”
         “TIDAAAK!!!” seru Isma sambil meronta sekuat tenaga. Nurman meminta Andi dan Waluyo untuk mengunci kedua tangan Isma. Setelah kedua tangan perkasa itu dapat dilumpuhkan, tangan kanan Nurman mencengkeram kepala kiri Isma bagian atas, lalu ia membaca surat lain. Pemuda bertubuh atletis ini berkata, “Qul a’uudzu bi Rabbil falaq. Katakan, ‘aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu Shubuh.’ Min syarri maa khalaq. Dari kejahatan makhlukNya. Wa min syarri ghaaysiqin idzaa waqab. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap. Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqad. Dan dari kejahatan tukang-tukang sihir yang meniup pada ikatan. Wa min syarri haasidzin idzaa hasad. Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki.” *
         “Qul a’uudzu bi Rabbin naas. Malikin naas. Ilaahin Naas. Min syarril waswaa sil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shudhuurin naas. Minal jinnati wan naas.”
         Katakan! Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia. Yang menguasai manusia. Tuhannya (sesembahannya) manusia. Dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi. Yang membisikkan ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” ** Laa ilaaha illallaah ( tiga kali )! Allaahu Akbar!!”
         Isma menjerit. Tubuhnya yang semakin lemah itu membuatnya harus meletakkan kedua lututnya di lantai. Andi dan Waluyo yang mencengkeram erat tangan kanan-kirinya, ikut duduk di lantai, demikian pula dengan Nurman. Beberapa detik kemudian Isma menundukkan kepalanya. Nafasnya terputus-putus. Waluyo dan
Andi melepaskan kedua tangan Isma. Kini Isma bersujud di lantai. Nurman yang duduk di hadapannya, berkata lembut, “Bu Kandar. …Mbak Isma. …Mbak Isma sudah sadar? …..Mbak Isma sudah baik lagi kan?” 
         Hening sejenak. Nurman, Andi dan Waluyo saling melirik. Muka tiga pemuda ini basah kuyub oleh keringat kengerian. Demikian pula dengan Darti, Murni, dan semua teman Waluyo. Mereka hanya melongo melihat Isma bersujud. Murni yang  paling cemas, bertanya lirih, “Gimana Mas Nurman?”
         Nurman memberi isyarat agar Murni diam dulu. Melihat Isma seperti pingsan, Nurman, Andi dan Waluyo menjauhinya dengan perlahan. Kini semuanya berdiri mengitari Isma yang bersujud di lantai. Untuk beberapa saat, istri Kandar ini masih belum bergerak. Untuk beberapa saat, semuanya boleh merasa sedikit lega. Murni yang berdiri paling dekat dengan Isma, berkata seraya tersenyum, “Mas Nurman hebat. …Makasih banyak ya Mas?” 
         Nurman tersenyum malu. “Kita masih harus waspada penuh. Makhluk halus di tubuhnya belum lenyap seratus persen.”
         Hening sejenak. Ketegangan masih mencengkeram hati Nurman cs. Walaupun untuk sementara ini Isma sudah bisa ditaklukkan, Waluyo cs masih cemas melihat keadaan Isma yang belum pasti. Mereka sudah melihat dan merasakan hebatnya ilmu santet yang sekarang mencengkeram jiwa raga Isma. Beberapa menit kemudian, datanglah orang yang ditunggu sejak tadi. Ustadz Jamaludin Mahrun, atau Ustadz Jamal. Lelaki bertubuh tinggi sedang dan tegap ini terlihat berwibawa. Usianya sekitar 43 tahun. Kulit coklat muda. Jenggot agak tebal dan rapi.

         Catatan Kaki : *    Al-Quran surat Al-Falaq, surat ke 113 ayat 1-5
                                 * *  -----/// -----      An-Naas,  ---///--- 114 ayat 1-6

         Darti langsung mengenalkan Jamal pada semuanya. Jamal menatap tubuh Isma yang duduk setengah tengkurap di lantai. Beberapa menit kemudian suasana kembali gempar. Isma bangkit lagi dengan tenaga penuh, padahal beberapa saat tadi tenaganya seperti sudah musnah semua. Ia berdiri tegak, lalu memelototi Nurman yang berdiri di samping Jamal. Jamal sendiri langsung terkejut melihat wajah Isma lebih mengerikan dari serigala betina. Isma menggeram, lalu menyerang Nurman dengan gerakan secepat kilat. Dua tinju kanan-kirinya menghujam dada Nurman dengan keras. Nurman roboh. Tubuhnya hampir menabrak meja kecil dan TV. Semuanya kalang kabut melihat Isma mau mengamuk lagi.
         Isma ganti menatap Jamal dengan tajam. Isma berkata, “Datang lagi satu cecunguk tak tahu diri.”
         Jamal melotot. “Masya Allah. Suaranya…?”
         “Itulah Pak,” sahut Darti. Jamal berkata, “Ilmu santet macam apa yang sudah merasuki tubuhnya? …Ilmu santet tingkat tinggi.”
         “Hei keparat!” bentak Isma. “Kalau kamu berani nantang aku, kamu akan bernasib seperti mereka (menunjuk Nurman cs)!”
         Jamal menggelengkan kepala. “Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang Muslim. Menolong saudaranya yang benar-benar butuh pertolongan.”
         “BANGSAT!! Rupanya kamu benar-benar ingin mampus!”
         Jamal yang berdiri sekitar 2 meter di hadapan Isma, berkata, “Sudah kewajibanku untuk melawan iblis seperti kamu!”
         Isma menggeram seperti harimau betina yang mau menerkam rusa. Nurman yang sudah berdiri lagi, berkata, “Hati-hati Pak Ustadz, dia kuat sekali. Saya sudah tidak mampu lagi melawannya.”
         Isma memelototi Nurman yang berdiri di samping kiri Jamal, lalu berkata, “Kamu cukup hebat, anak muda. Tapi kamu belum cukup kuat untuk melawan Kasman.“
         “Kasman?” sahut Jamal. “Jadi namamu Kasman?”
         Isma yang mau menyerang Jamal, berkata, “Kelihatannya kamu memang lebih hebat dari anak-anak bodoh ini (menatap Waluyo dkk). Kelihatannya kamu memang yang paling pantas jadi lawanku.”
         Sedetik kemudian, Isma melontarkan bogem kanannya ke muka Jamal, namun tangan kiri Jamal menangkis pukulan maut itu. Kedua tangan Jamal langsung mencengkeram kepala Isma, lalu Jamal berseru, “Subhanallah wa bi hamdih! Subhanallahil ‘azhim! Laa haula walaa  quwwata illaa billaah!  Maha Suci Allah dan Yang Maha Terpuji. Maha Suci Allah dan Yang Maha Agung! Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah!”
         Tiga kali Jamal membaca kalimat tersebut. Isma mengerang kesakitan. Kedua tangannya mencoba menarik tangan Jamal yang mencengkeram kepalanya. Jamal yang melihat Isma melemah, langsung membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Beberapa detik kemudian kekuatan Isma seperti lenyap dengan perlahan. Isma  berlutut, kemudian merangkak di lantai. Mukanya belum bisa dilihat karena menunduk. Jamal yang berdiri sekitar 1, 3 meter di hadapan Isma, menggelengkan kepala. Dengan muka penuh keringat, Jamal berkata,
         “Masya Allah. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil‘azhim. Terkutuklah orang yang sudah melakukan semua ini!”
         “Dia bukan orang Pak,” sahut Murni menangis. “Dia setan terkutuk.”
         Beberapa detik setelah Murni berkata begitu, Isma bangkit lagi dengan tubuh segar bugar. Semuanya melotot. Isma yang kini mengincar Jamal, berkata, “Kamu memang hebat, Kyai gadungan. Tapi kamu masih belum tandinganku.”  
         Sedetik kemudian, cakar kiri Isma menyerang Jamal, namun tangan kanan Jamal menangkis cakar setan itu. Isma ganti melontarkan bogem kanannya, dan tepat mengenai pipi kiri Jamal. Isma langsung mengirim serangan berikutnya, namun tangan kiri Jamal menangkis kepalan kanannya. Kedua tangan Jamal kembali mencengkeram kepala Isma. Setelah itu Jamal membaca ayat kursi. 
Beberapa detik kemudian Isma kembali mengerang kesakitan. Baginya, lantunan ayat-ayat suci itu seperti sambaran halilintar.  
         Ia menjerit sambil memejamkan kedua matanya. Kedua tangan Jamal seperti menyedot seluruh kekuatannya. Darti dan Murni semakin miris melihat Isma tersiksa hebat. Beberapa detik kemudian Isma berteriak, lalu ia lontarkan kepalan kanannya ke dada tengah Jamal. Jamal melangkah mundur sambil mengerang. Isma yang kehabisan tenaga, roboh dengan perlahan. Ia berbaring di lantai yang dilapisi karpet. Jamal yang nafasnya terputus-putus, berkata, “Semua menjauh dulu. Siapa tahu dia hanya pura-pura. …Mungkin dia sedang mencari waktu untuk memulihkan tenaganya.”
         Hening sejenak. Isma belum bergerak lagi. Sejauh ini ia benar-benar terlihat  pingsan. Murni yang berdiri paling dekat dengan Isma, bertanya lirih, “Gimana Pak Ustadz? Dia benar-benar sudah pingsan?”
         “Makhluk halus di tubuhnya juga sudah hilang?” Tanya Darti yang kecemasannya tidak kalah dari Murni. Jamal yang mukanya penuh peluh, menjawab, “Biar saya periksa dulu.”
         Jamal mendekati Isma dengan ekstra waspada. Ia sentuh dahi, pipi, leher dan tangan Isma. Beberapa detik kemudian Jamal berkata, “Dia benar-benar pingsan. …Untuk sementara ini dia sudah baik.”
         “Berarti jin di tubuhnya juga sudah pergi?” Tanya Andi. Jamal menatap Isma, lalu menyahut, “Saya tidak merasakan lagi kehadiran jin itu. Insya Allah, untuk sementara ini jinnya sudah pergi. …Tapi kita tetap harus waspada.”
         Ucapan Jamal itu membuat semuanya lega. Jamal menatap Isma yang tak sadarkan diri, setelah itu berkata, “Subhanallah…Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar. …..Baru sekarang saya menghadapi ilmu santet sehebat ini. …Tiga kasus yang saya tangani sebelum ini tidak seheboh ini. …Berarti Kasman itu benar-benar hebat.”
         Hening sejenak, lalu Jamal berkata, “Sekarang saya tanya. Siapa sebenarnya Kasman itu? Mungkin Bu Darti atau Mbak Murni bisa menceritakan.”     
         Murni mengangguk, “Baiklah Pak Ustadz, nanti saya ceritakan semuanya. Tapi sekarang Mbak Isma gimana?”
         Jamal menatap Isma yang masih tidur nyenyak di karpet, setelah itu berkata, “Saya tidak bisa menjamin keadaan Mbak Isma. Tapi atas ijin Allah, untuk sementara ini Mbak Isma sudah bebas dari cengkeraman jin-jin jahat piaraan Kasman.”
         Beberapa menit kemudian Isma menggeliat. Perlahan-lahan, kedua matanya terbuka. Dengan suara teramat lemah, Isma berkata, “Murni…Bu Darti.”
         “Alhamdulillaah!” seru Murni dan Darti. Betapa leganya dua perempuan ini. Mereka langsung menghampiri Isma yang masih berbaring di karpet. Sambil memangku dan memeluk Isma, Murni yang tersenyum sekaligus menangis, bertanya, “Mbak Is sudah baik kan?”
         Isma yang wajahnya pucat, balik bertanya, “Apa yang sudah terjadi? Kenapa banyak orang? Kenapa Mas Nurman dan Mas Andi ada di sini?”
         Darti yang juga tersenyum sekaligus menangis, menyahut, “Mas Nurman sudah berjasa besar. Selain Ustadz Jamal, Mas Nurman juga sudah menolong Mbak Ayu.”  
         “Menolongku?”
         Darti mengangguk sambil tersenyum. Sesaat kemudian adzan Dhuhur berkumandang. Jamal tersenyum, “Sekarang mari kita sholat Dhuhur dulu. …Di dekat sini ada masjid?”
         Nurman tersenyum, “Masjid Al-Furqan.”
         “Masjid Al-Furqan?” sahut Jamal tersenyum. “Baiklah, mari kita ke sana.”
         Seusai Dhuhur, Kandar menelpon rumah. Murni yang sebenarnya ingin menyembunyikan masalah besar ini, langsung menceritakan semuanya. Mendengar kabar Isma dalam bahaya, sekujur tubuh Kandar seperti tertusuk paku panas. Kandar yang masih sibuk bekerja, langsung ingin pulang, namun Darti tidak ingin Kandar melakukan itu. Darti yang mentalnya sudah matang, menganggap tindakan Kandar itu kurang bijaksana. Kandar harus tetap melanjutkan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Darti hanya meminta Kandar ikut mendoakan istrinya yang sekarang masih pingsan. Darti yang kesabarannya hampir setara Endang, berkata,  “Berkat Ustadz Jamal dan Mas Nurman, untuk sementara ini Mbak Is sudah tidak apa-apa. …Sudahlah, Mas Kandar jangan terlalu cemas, nanti Mas Kandar malah tidak bisa kerja dengan baik.”
         “Tapi Bu…”
         Insya Allah, sekarang istrimu sedang dijaga orang-orang sholeh.”
         Hening sejenak. Kandar tersenyum lega, lalu berkata, “Orang-orang sholehnya termasuk Bu Darti.” 
         Darti tersenyum malu. Kandar yang sudah merasa agak lega, berkata lagi, “Yang penting imam masjid gadungan itu tidak ada. …Daripada dia, aku malah lebih percaya sama Nurman atau Andi. Nanti kalau dia ikut campur, keadaan bisa semakin kacau. Betul tidak Bu?”
         Darti hanya tersenyum kecut. Setelah menutup telpon, Darti bergumam, “Kandar…sebesar itukah kebencianmu pada Hamdi? Jadi kamu belum tahu kalau Hamdi sekarang sudah sholeh lagi? …Insya Allah, kalau mendengar cerita Bu Endah yang sangat meyakinkan…sekarang ini Hamdi sudah sesholeh dulu. …Tapi  wajar kalau dia sangat membenci Hamdi. Soalnya Hamdi pernah pacaran sama dia (menatap Isma ). Hi hi hi. Sungguh luar biasa semua peristiwa ini.”
         Beberapa menit kemudian, Nurman cs berkumpul lagi di ruang keluarga rumah Isma. Mereka duduk mengitari Isma yang masih pingsan. Sekarang Isma tidur di sofa. Tubuhnya dibungkus selimut. Jamal menyentuh dahinya, lalu berkata, “Suhu tubuhnya biasa saja. Tidak panas tidak dingin. …Dia juga tidak demam atau meriang. …Yah, seperti inilah sakit karena hal ghaib.”
         Ahmad yang masih angkuh, berkata, “Yang penting ada orang yang bisa membereskan iblis betina ini.”
         “Huss!” bentak Murni marah. “Mas Ahmad, jaga mulutmu! Jangan menyebut Mbak Is iblis!”        
         Ahmad tersentak. “Oh maaf Mbak, aku tidak bermaksud begitu. Yang kumaksud iblis itu keparat yang sudah berani menyiksa Mbak Is.”
         Murni mengelus dahi Isma, lalu berkata, “Keparat Kasman dan Hartoyo.”    
         “Hartoyo?” Tanya Ahmad. Murni mengangguk. “Hartoyo itu adiknya Kasman. …..Kasman itu bekas pacarnya Mbak Is.”
         Semua tersentak. Murni melanjutkan, “Setelah Mardan, pacarnya Mbak Is di desa, Kasman-lah saingan terberat Pak Kandar. …Secara tidak langsung, Pak Kandar-lah yang sudah membuat Kasman jadi manusia setan seperti sekarang.”
         “Jadi Kasman itu setan!?” Tanya Waluyo. Isma menyahut, “Setengah.”
         Hening beberapa detik, lalu Isma melanjutkan, “Kami benar-benar menyesal. …Orang sejahat Hartoyo, kok bisa-bisanya kami terima kerja di sini.”
         Setelah Murni selesai menceritakan semuanya, Jamal berkata, “Kasihan Mbak Isma. Dia jadi korban cinta banyak lelaki.”
         Hening sejenak. Jamal menatap kanan-kiri, lalu bertanya, “Terus sekarang Mas Hamdi-nya mana?”
         “Tadi dia SMS saya,” sahut Andi, “Insya Allah, sebentar lagi dia ke sini.”
         Beberapa menit kemudian Isma siuman. Alangkah leganya semuanya, terutama Darti dan Murni. Isma langsung minta diambilkan air putih. Isma yang kehausan, langsung meneguk air putih di tiga gelas besar. Setelah kenyang, Isma bersandar di sofa, lalu menatap semuanya. Darti mengenalkan Isma pada Jamal, setelah itu ia ceritakan semuanya. Beberapa saat kemudian, Isma yang sudah terlihat agak segar, menatap Nurman dengan senyum manisnya, lalu berkata lembut, “Mas Nurman…makasih banyak ya?”
         “Sama-sama Mbak.” sahut Nurman tersenyum malu. Isma yang sekarang diapit Darti dan Murni, melanjutkan, “Aku jadi merasa berhutang sama Mas…”
         “Wah, Mbak Is sama sekali tidak perlu merasa begitu. Mbak Is tidak hutang apapun sama saya. Saya hanya berusaha menjalankan kewajiban agama. …Ehmm (muka merah karena malu)…kalau mau jujur, sayalah yang sebenarnya ingin berhutang sama Mbak Is.”
         “Maksudnya?”
         Nurman menunduk sambil tersenyum malu. Setelah itu ia berkata, “Seminggu lagi saya ada perlu penting, penting sekali. Saya butuh uang 150 ribu. Saya sudah mencoba meminjam ke sana kemari, tapi teman-teman saya pada keberatan untuk meminjami uang segitu. Yah, maklumlah…kami kaum dhuafa, orang perantauan. He he. …Nah, kalau sekarang Mbak Is ada uang segitu, mungkin Mbak Is bisa meminjami saya. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah, 2-3 minggu lagi sudah saya kembalikan.”
         Isma tersenyum manis. Ia meminta Murni untuk mengambilkan uang di dompetnya yang berada di kamar. Isma mengatakan, uang itu ia berikan sebagai tanda terima kasihnya pada Nurman. Isma memberikannya dengan tulus. Dengan demikian, besok Nurman tidak usah mengembalikan uang 150 ribu itu. Tentu saja Nurman tersentak gembira. Ia berkata, “Jangan begitu Mbak! Saya hanya pinjam kok. Yang namanya pinjam itu harus dikembalikan.”
         Isma yang wajahnya masih pucat, menggelengkan kepala sambil tersenyum manis. “Anggap saja sebagai tanda terima kasihku. Kalau mau jujur, uang segitu belum cukup untuk menghargai apa yang sudah Mas lakukan tadi.”
         Masya Allah Mbak, saya tidak melakukan apa-apa. Ustadz Jamal yang sudah menolong Bu Kandar.”
         Jamal tersenyum. “Akhi Nurman terlalu merendah.”
         Darti tersenyum, “Sudahlah Mas, terima saja. Kalau Mas menolak, berarti Mas tidak mensyukuri nikmat Allah.”
         “Terima sajalah Mek,” ujar Andi sambil menyikut lengan kiri Nurman. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaan Nurman. Ia terima uang itu, lalu berkata, “Semoga Allah segera menyembuhankan Bu Kandar. Amin.”
         Beberapa menit kemudian Kandar menelpon. Ia menanyakan keadaan Isma. Murni mengatakan kalau Isma sudah sadar, bahkan sudah bisa bercanda. Tentu saja Kandar lega bukan main. Ia langsung minta disambungkan ke Isma. Isma yang suaranya masih lemah, menceritakan jasa Jamal dan Nurman. Mendengar itu, Kandar langsung minta disambungkan ke Nurman. Kandar berkata, “Terima kasih banyak Mas Nurman. Saya tidak tahu harus bagaimana, harus bilang apa. …Sekarang katakan saja, apa yang harus saya lakukan untuk berterima kasih pada anda.”     
         “Astaghfirullahal’azhim..”sahut Nurman tersipu. “Pak Kandar tidak perlu repot. Saya tidak melakukan apapun.”
         Kandar tersenyum, “Pokoknya terima kasih tak terhingga untuk Mas Nurman.”
         “Sama-sama Pak. Kalau Bapak ingin Mbak Isma sembuh total, sekarang Bapak harus ikut berdoa.”
         Setelah berbincang dengan Nurman, Kandar minta disambungkan lagi dengan Isma. Isma mengatakan, Kandar juga harus berterima kasih pada Jamal. Mendengar itu, Kandar tersenyum, “Oke. Haturkan terima kasih untuk Ustadz Jamal.”
         Jamal tersenyum. “Berterima kasihlah pada Allah SWT.“
         Kandar menutup telponnya, lalu kembali menghadap buku dan laptop. Alangkah leganya Kandar setelah mendengar keadaan istrinya. Namun beberapa detik kemudian, telinga Kandar mendengar suara besar dan serak yang berbunyi, “Kandar, kamu jangan gembira dulu.”
         Kandar melotot, “Kasman!?”
         Kandar berdiri, lalu menatap kanan-kiri dan depan-belakang. Dengan jantung bergetar keras, Kandar bertanya, “Kasman…kamu di mana!?”
         Suara Kasman menyahut, “Isma sudah dalam cengkeramanku…jadi harusnya kamu tidak boleh gembira. Harusnya kamu menangis ketakutan. Ha ha ha  haa!”    
         Tawa Kasman yang begitu mengerikan itu semakin menggetarkan hati Kandar. Suara Kasman melanjutkan, “Kandar…kamu benar-benar goblog! Kamu terlalu cepat gembira. Kamu merasa sudah menang…padahal kamu tidak akan menang! …Sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa mengalahkan Kasman. Hua ha ha haa!!”    
         Kandar benar-benar ketakutan. Tubuhnya seperti lumpuh. Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Beberapa detik kemudian suara Kasman terdengar lagi. Katanya, “Janjiku kemarin benar-benar akan terwujud. …Kandar…sebentar lagi kamu akan menangis ketakutan. Tunggu saja bedebah! Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati yang paling menyakitkan!”
         Suara Kasman tertawa keras. Selang lima detik kemudian Kandar membentak, “KASMAN! Kamu di mana!!?”
         Setelah ditunggu agak lama, suara mengerikan itu tidak terdengar lagi. Kandar yang sudah bisa bergerak lagi, langsung kembali duduk. Ia usap keringat dingin yang membanjiri mukanya. Dengan hati yang masih dicengkeram rasa takut yang luar biasa, Kandar berkata lirih, “Tidak. …Insya Allah, Isma tidak akan menderita lagi. Buktinya? Sekarang Isma sudah pulih dari kesurupannya. …..Huh! Keparat itu hanya mau menakuti aku.”
         Sekarang balik ke Isma. Sesaat kemudian Isma yang masih lemas, minta ijin untuk tidur lagi. Hanya dalam waktu lima menit, Isma sudah tertidur pulas. Darti yang duduk di sampingnya, berkata, “Kita belum bisa lega seratus persen. …Maklumlah, kita belum yakin kalau tubuhnya sudah bebas dari guna-guna Kasman.”
         Jamal mengangguk, “Kita berdoa saja Bu. Doa itu senjata terakhir seorang Mukmin. …Usaha sekeras apapun, tidak akan bisa merubah takdir. Tapi dengan doa, Insya Allah, sedikit banyak bisa merubah takdir.”
         Beberapa menit kemudian Hamdi datang. Kehadirannya mengurangi ketegangan yang mencengkeram hati Murni dan semuanya. Hamdi dan Jamal langsung berkenalan, setelah itu Darti menceritakan huru-hara yang sudah terjadi beberapa saat tadi. Huru-hara besar yang sudah terjadi sejak tadi pagi, dan sampai siang ini baru beres 60 persen. Hamdi terlongong-longong mendengar semua cerita Darti. Namun sekarang ia agak lega melihat Isma tertidur pulas. Ia berkata, “Me-ruqyah orang kesurupan itu memang berat sekali. Kalau kita tidak hati-hati, nanti kita bisa celaka sendiri, soalnya yang kita hadapi itu jin, makhluk halus. …Berhasil tidaknya seseorang menolong orang kesurupan itu hanya tergantung satu hal. Kesholehannya. Ketakwaannya.”
         “Mas Hamdi betul..sahut Jamal. “Jadi sebenarnya kita tidak perlu memanggil orang khusus, orang pintar, orang yang dianggap spesialis pengusir hantu. Siapa pun orangnya, asal dia benar-benar sholeh, benar-benar bertakwa, Insya Allah, dia bisa mengusir jin yang merasuki tubuh orang. …Orang bisa kesurupan itu bukan hanya karena imannya lemah, tapi juga karena jin atau ilmu santet yang menyerangnya memang kuat. Dan yang paling tepat, karena dua-duanya.”
         “Ustadz Jamal betul sekali,” kata Hamdi. “Orang kesurupan itu kebanyakan memang karena imannya lemah, banyak dosa, banyak maksiat, dan sebagainya. Tapi kita tidak bisa langsung memvonis begitu. Kita sendiri, kalau diri kita kotor, banyak dosa, ya bisa kesurupan, bisa kena guna-guna. Makanya, kita juga harus hati-hati. Kita harus terus tazkiyatun nafs*.”
         Hening sejenak, setelah itu Darti berkata, “Tadi Mas Nurman sudah membuktikan. Mas Nurman bukan Kyai pengusir jin…bahkan dia juga mengaku belum pernah menolong orang kesurupan. Tapi buktinya?...Tadi dia bisa menolong Mbak Ayu.”
         “Maha Suci Allah,” sahut Nurman tersipu. “Tadi hanya untung-untungan Bu.”
Catatan Kaki : * Mensucikan jiwa/ hati            
         Waluyo menatap Hamdi, lalu berkata, “Seumpama nanti Mbak Isma belum sembuh, Mas Hamdi juga harus turun tangan.”      
         “Jangan kuatir Mas,” sahut Andi tersenyum, “ustadznya masjid Al-Furqan ini siap membantu kapan pun.”
         “Jangan dengarkan dia Yo,” sahut Hamdi tersenyum malu. Hamdi menatap Isma dengan tatapan penuh kasih, setelah itu berkata, “Saya belum pernah menyembuhkan orang kesurupan. …Pengetahuan saya tentang ruqyah masih sangat dangkal. Jadi saya tidak yakin bisa menolong dia. …Insya Allah, Akh Nurman lebih bisa diandalkan, apalagi Ustadz Jamal.”
         “Ustadznya Bumi Indah ini memang suka merendah,” kata Nurman tersenyum. Jamal menyambung, “Mas Hamdi jangan pesimis dulu. Apapun yang terjadi nanti, antum harus membantu kami.”                          
         Insya Allah Tad.” Jawab Hamdi tersipu. “Semua yang di sini harus ikut berdoa.  ...Lantas (menatap Isma yang masih lela )…apa tubuhnya benar-benar sudah lenyap dari guna-guna?”
         Jamal menatap Isma dengan tajam, setelah itu berkata, “Setahu saya, Insya Allah…untuk sementara ini saya tidak merasakan guna-guna di tubuhnya. “
         Murni menyahut, “Mudah-mudahan sudah hilang selamanya.”
         “Itu yang paling kita harapkan,” jawab Darti. Beberapa menit kemudian Jamal cs kembali terkejut. Isma bangun dengan tersentak. Ia mengeluhkan dadanya yang terasa sakit. Beberapa detik kemudian dadanya semakin bertambah sakit. Dadanya seperti mau terbelah. Ia mengerang, lalu menjerit minta tolong. Darti yang memeluknya, berseru, “Dzikir Mbak, dzikir! Sebut asmaNya, apa saja! Cepat! Laa ilaaha illallaah. Allaahu Akbar.”
         Isma menyentuh dadanya dengan kedua tangannya. Ia mengerang, “Dadaku sakit sekali Bu! Hah, hahh. Dadaku seperti ditusuk pedang! Ya Allah, kenapa dadaku ini!? Tolong Buu! Tolooong!!”    
         Murni yang duduk di hadapan Isma, berseru, “Gimana ini Pak Ustadz!? Kelihatannya jinnya mau datang lagi!”
       Jamal mendekati Isma, lalu meminta Murni dan Darti untuk menyingkir dulu. Setelah  duduk di hadapan Isma, Jamal bertanya, “Gimana rasanya Mbak!?”
         Isma yang memejamkan matanya, berseru, “Sakit banget Pak Ustadz! Dadaku seperti mau berlobang! …Aaah!! Tolong Pak Ustadz! Tolong akuu!!”
         Astaghfirullahal’azhim!” seru Jamal melotot. Ia sentuh kedua bahu Isma, lalu membaca doa. Ketegangan kembali mencengkeram hati semua orang yang berada di ruang keluarga rumah Kandar. Untuk beberapa saat, Hamdi cs melihat Jamal mencengkeram kedua bahu Isma sambil menutup matanya. Mulutnya berkomat-kamit, membaca mantera-mantera Islami. Beberapa saat kemudian Isma berhenti mengerang. Rasa sakit di dadanya sudah berkurang banyak. Kepalanya menunduk dengan perlahan. Rupanya istri Kandar ini mau pingsan lagi.
         Murni bertanya, “Apa jinnya datang lagi?!”
         Jamal yang masih sibuk mengurus Isma, hanya mengangguk dengan mata masih tertutup. Setelah Isma pingsan lagi, Jamal membuka matanya, lalu merebahkan tubuh Isma dengan perlahan.. Jamal menggelengkan kepala. “Astaghfirullahal’azhiim. Ilmu hitam Kasman benar-benar hebat. …Kalau begini terus, aku semakin tidak yakin bisa menolong dia.”
         Murni yang menangis sesenggukan, bertanya, “Terus siapa yang nanti bisa menolong dia?! Siapa Pak Ustadz!?”
         “Hanya Allah yang tahu. Sekarang Mbak Murni berdoa saja ya?”
         “Iya Mur, sabarlah..” sahut Darti yang juga menangis. “Sebagaimana kata Pak Ustadz tadi…doa itu senjata terampuh kita setelah kita berusaha maksimal. Insya  Allah, doa itu sedikit banyak bisa merubah takdir. Percayalah.”
         Murni yang mengelus muka Isma, menyahut, “Sejak tadi saya sudah berdoa. Hik, hik. Tapi Mbak Is masih begini. Hik, hik. …Yahh…mungkin karena saya ini hambaNya yang hina, jadi doa saya tidak makbul.”
         “Doa juga butuh kesabaran Mur,” sahut Hamdi. “Kalau Gusti Allah menghendaki Isma selamat, Insya Allah, sehebat apapun ilmu santet Kasman, pada akhirnya akan musnah. …Mungkin di antara kita tidak ada yang bisa menolong Bu Kandar. Tapi kalau Allah menghendaki dia selamat, Insya Allah, nanti pasti ada orang yang bisa menolong dia. …Siapa pun orangnya, apapun status dan pekerjaannya, yang jelas, dia orang yang benar-benar sholeh.”
         Selang satu menit setelah Hamdi bicara, Isma bangun lagi dengan tersentak. Begitu bangun, Isma langsung mendorong dada Jamal dengan kedua tangannya. Jamal terjengkang ke belakang. Isma melotot, lalu berdiri di sofa. Beberapa detik kemudian Isma salto ke belakang, setelah itu menunduk. Rambutnya yang lebat ikut terjurai ke bawah. Tindakannya ini benar-benar membuat Hamdi cs semakin terperangah. Beberapa detik kemudian, Isma mengangkat kepalanya dengan perlahan. Wajahnya menjadi seram seperti tadi. Kedua matanya masih tertutup rapat.
         Darti dan Murni yang berdiri paling dekat dengan Isma, langsung bergerak menjauh. Sesaat kemudian Isma melotot. Kedua matanya kembali seperti tadi. Putih semua, tidak ada bola matanya. Hamdi yang baru melihat keadaan Isma seperti itu, bergumam, “Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah. Apa-apaan ini!? Iblis dari kuburan mana yang sudah merasuki badannya!? Ilmu santet macam apa yang sudah menguasai jiwanya sampai sejauh ini!?”      
         Isma mendekati Jamal yang sudah berdiri. Jamal  melangkah mundur dengan pelan. Isma kembali bicara dengan suara lelaki, “Ternyata benar dugaanku. Kamu memang yang paling hebat  dari semuanya. Hah ha ha haa! Kamu satu-satunya orang yang paling bisa menyulitkan aku. Bahkan kamu sudah bisa mengalahkan aku. Hua ha ha haa!!”
         Setelah tertawa keras, Isma melotot, “Tapi hanya untuk sementara. Kamu harus tahu, Pak Kyai Jamal. Kasman ini tak terkalahkan!”
         Sedetik kemudian Isma melontarkan pukulan kanannya, dan tepat mengenai muka Jamal. Lelaki bertubuh tegap ini melangkah mundur dengan sempoyongan. Isma langsung menyerang lagi. Kedua tangannya mencekik leher Jamal. Susah payah Jamal berusaha melepaskan lehernya dari tangan Isma yang seperti besi. Karena belum berhasil membebaskan lehernya dari cekikan Isma, kedua tangan Jamal memukul kedua bahu Isma yang di dekat leher. Pukulan keras itu membuat cekikan Isma mengendur.
         Tangan kanan Jamal mencengkeram ubun-ubun Isma, setelah itu Jamal kembali membaca surat-surat Al-Quran. Beberapa detik kemudian Isma mengerang kesakitan. Ia dorong tubuh Jamal, lalu ia lontarkan lagi kepalan kanannya, namun tangan kiri Jamal mengepres pukulan itu. Melihat pertahanan Isma terbuka, Jamal langsung mencengkeram kepala Isma dengan kedua tangannya, setelah itu ia berdoa lagi dengan berseru. Ia membaca surat Al-Ikhlas beberapa kali, setelah itu ia lanjutkan dengan ayat Kursi dan lafadz-lafadz dzikir.
         Sesaat kemudian Isma kembali mengerang keras. Tubuhnya kejang-kejang. Kedua tangannya mencoba menarik kedua tangan Jamal yang mencengkeram kepalanya, namun tidak berhasil. Semakin lama Isma semakin lemas, dan akhirnya ia roboh lagi dengan posisi bersujud. Jamal mengatur nafasnya yang nyaris putus. Hening beberapa saat. Hamdi dan pemuda-pemuda kekar lainnya hanya melotot, sedangkan Darti dan Murni menangis. Tangis Darti masih lebih baik dari tangis Murni yang sesenggukan. Jamal yang masih berdiri sekitar 120 cm di hadapan Isma yang bersujud, berkata lirih, “Mbak Is. …Mbak Isma. …Mbak Isma gimana?”
         Sedetik kemudian Isma berdiri tegak lagi. Jamal melotot, lalu melangkah mundur. Ia menggeram keras. Kali ini amarahnya benar-benar meledak. Ia lontarkan lagi bogem kanannya, namun tangan kiri Jamal menangkisnya. Sedetik kemudian, kedua tangan Jamal kembali mencengkeram kepala Isma. Jamal membaca lagi lafadz-lafadz dzikir, namun kali ini tidak mempan. Isma memukul perut Jamal dua kali. Jamal mengerang. Kedua tangannya melepaskan kepala Isma. Melihat Jamal melangkah mundur, Isma langsung merangsek. Tinju kirinya menghujam pipi Jamal, setelah itu ganti tinju kanannya yang lebih keras. Pukulan seberat 50 kg itu akhirnya merobohkan Jamal. Hidung dan bibirnya berdarah cukup banyak.
         Isma tertawa binal, setelah itu berkata, “Akhirnya kamu bisa kutaklukkan!”
         Jamal mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, setelah itu berdiri lagi. Sambil menatap semua pemuda di hadapann ya, ia berkata, “Aku tidak mampu lagi. Mas-Mas semua, bantu aku menghadang dia!”
         “Siap Pak Ustadz!” seru Rujan yang langsung siaga. Sedetik kemudian, Rujan, Kukun, Kokok dan Budi menerkam Isma yang perhatiannya masih terfokus ke Jamal. Melihat kedua tangan Isma sudah dikunci oleh empat pemuda kekar, Jamal langsung memanfaatkannya. Ia kembali membaca doa dan dzikir untuk menyembuhkan Isma. Beberapa detik kemudian doanya mulai bereaksi, namun hanya berlangsung sebentar. Isma berteriak, setelah itu ia lemparkan lima lelaki yang mencengkeram tubuhnya. Semuanya roboh di lantai. Isma memelototi Jamal yang masih duduk di lantai. Kali ini ia benar-benar mengincar Jamal, orang yang ia anggap musuh terkuatnya.    
         Jamal merinding melihat Isma mau menerkamnya. Ia berdiri, lalu mundur beberapa langkah. Bibir Isma menyeringai, siap menyerang lagi. Namun mendadak, Nurman menyerang Isma dari belakang. Kedua tangannya mencengkeram bahu dan tengkuk Isma, setelah itu ia membaca surat Al-Falaq dan An-Naas di telinga Isma. Ia baca surat itu berkali-kali, setelah itu ia lanjutkan dengan lafadz-lafadz dzikir, namun usahanya itu masih belum berhasil.    
         Merasa tidak sanggup mengatasi Isma sendirian, Nurman minta tolong Jamal. Melihat kedua tangan Isma sudah dikunci Nurman dari belakang, Jamal langsung  kembali me-ruqyah. Dengan kedua tangan mencengkeram kepala Isma, Jamal kembali membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Isma meronta-ronta. Sekujur tubuhnya terasa sangat perih. Lantunan ayat-ayat suci itu laksana gigitan seratus ribu semut hitam.  Kini Isma dijepit oleh kekuatan putih dua lelaki sholeh.
         Beberapa detik kemudian Isma mengerang keras, setelah itu pingsan di pelukan Nurman. Jantung pemuda asli Jombang ini bergetar keras. Ia merasa bersalah karena sudah memeluk perempuan yang bukan mahram-nya. Ia langsung menidurkan Isma di karpet. Melihat Isma pingsan lagi, Darti dan Murni langsung memberinya bantal dan guling. Nurman yang tubuhnya basah kuyub oleh keringat, mendekati Isma yang dijaga Darti dan Murni, setelah itu berkata, “Mbak Is, maafkan saya ya? Saya terpaksa sekali menyentuh Mbak Is.”
         Jamal tersenyum, “Di saat segenting ini antum masih sempat minta maaf? Subhanallah. …Di jaman yang rusak ini, susah sekali mencari pemuda sebaik antum. Pemuda seperti antum ini sekarang seribu satu.” 
         “Jangan terlalu memuji Tadz,” sahut Nurman semakin tersipu. Hamdi yang terlongong-longong, bergumam, “Mengerikan sekali. Baru sekarang aku melihat yang seperti ini. …Ohh…baru melihat saja nyaliku sudah ciut, apalagi disuruh menyembuhkan. …Wah…kalau disuruh menyembuhkan, aku jelas angkat tangan.”     
         Tak lama kemudian, Isma bangkit lagi dengan tubuh terlihat lebih segar. Darti dan Murni langsung menjauh lagi. Isma memelototi Nurman dan Jamal, lalu berkata, “Hebat sekali kalian. Huhh! Tapi sekali lagi, kesaktian kalian masih di bawahku!”
         “Kami tidak punya kesaktian apapun,” sahut Nurman yang sudah berdiri. “Kami hanya punya iman dan amal. …Jadi kesaktianmu yang menyesatkan itu hanya kamu gunakan untuk menyiksa orang!? Huhh! Benar-benar iblis! Rupanya kamu sudah membeli tiket ke neraka!”
         “Tutup mulutmu! ...Sebelum aku puas, aku takkan keluar dari tubuhnya!”
         “Yang namanya nafsu itu tidak ada puasnya! ..Hanya satu yang bisa memuaskan nafsumu.”
         “Apa!?”
         Nurman mengatur nafasnya, setelah itu berkata mantap, “Azab Allah.”
         Isma menggeram. Kedua tangannya siap mengacau lagi. Hamdi yang melotot, bergumam, “Suaranya kok bisa jadi lelaki!? Masya Allah. Ilmu hitam apa ini!?”
         Nurman terus melangkah mundur, sampai akhirnya berdiri di samping kanan Hamdi. Ia berkata, “Mas Hamdi, kami sudah tidak mampu lagi. Sekarang giliranmu.”
         Hamdi tersentak. “Apa!!? Aku!!? …Oh…tidak Nur, aku tidak bias!
         Jamal yang berdiri di belakang Isma, berkata, “Akhi Hamdi jangan pesimis dulu. Cobalah. Berdoalah. Mohonlah kekuatan pada Allah.”
         Hamdi yang melangkah mundur bersama Nurman, menyahut, “Ustadz saja tidak bisa, apalagi saya!”
         “Jangan kalah sebelum perang. Jangan pesimis sebelum bertindak. Sebelum mencoba, antum tidak boleh bilang tidak bisa. Nah..sekarang kuatkan hatimu. Percayalah pada aqidahmu.”
         “Tapi Tadz…”
         “Tidak ada waktu lagi, Akh Hamdi. Aku yakin, Insya Allah, antum mampu melakukannya. Cobalah. Mulailah dengan membaca Basmalah. Antum tidak  sendiri kok. Aku dan Akh Nurman tetap akan membantu antum.”
         Hamdi menatap Nurman, Nurman mengangguk mantap, lalu menjauhi Isma. Kini giliran Hamdi yang menghadang Isma. Isma memelototi Hamdi, lalu bertanya, “Siapa lagi kamu!? Ingin mampus juga!?”
         Hamdi yang sebenarnya merinding, menyahut tenang, “Aku Hamdi.”
         Isma mengangguk-angguk. “Oooo. Jadi kamu yang bernama Hamdi!?”
         “Iya.”
         “Jadi kamu yang pernah menghajar adikku di sini!?”
         Hamdi mengangguk. “Waktu itu adikmu ingin berbuat zhalim, jadi aku terpaksa memberinya pelajaran.”
         “Dengan menyelingkuhi perempuan ini!?” bentak Kasman. Hamdi tersentak, demikian pula dengan yang lain. Ucapan Kasman itu benar belaka. Ia menjadi teringat dengan keburukan dirinya beberapa bulan yang lalu. Ia pejamkan matanya sambil mengangguk-angguk. Setelah hening beberapa detik, Hamdi berkata, “Aku memang sudah pacaran sama dia. Itu karena aku memang mencintainya. …Aku memang manusia berlumuran dosa. Aku memang hina, rendah, kotor. Tapi sekarang aku sudah berusaha bertobat. Sekarang aku sudah berusaha menjadi hambaNya yang bertakwa.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Sekarang aku minta sama kamu. Tolong kamu keluar dari badannya. Keluarlah dengan cara baik-baik.”
         Isma menggelengkan kepala, “Selain Kandar keparat itu, sekarang kamu juga musuhku! Musuh besarku!!”   
         Bogem kanan Isma memukul muka Hamdi dengan telak, setelah itu ia susulkan bogem kirinya ke pipi kanan Hamdi. Dua pukulan maut itu membuat Hamdi sempoyongan. Hamdi yang tadi sudah berusaha bersabar, kini meledak marahnya. Sambil menyentuh hidungnya yang berdarah, Hamdi berkata, “Ternyata kamu memang iblis! Baiklah..aku tidak perlu segan lagi untuk menindak kamu!”
         Isma menggeram, lalu ia lontarkan lagi kepalan kanannya ke muka Hamdi, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Hamdi menangkis pukulan Isma dengan tangan kirinya, setelah itu tangan kanannya mencengkeram dahi Isma. Hamdi mengucap lafadz-lafadz dzikir, kemudian disusul dengan membaca surat Al-Fatihah, Al-Falaq dan An-Naas. Beberapa detik kemudian Isma kembali mengerang kesakitan. Ia menjerit keras dengan suara campuran. Suara Kasman dan suara aslinya. Kedua tangannya mencoba melepaskan tangan kanan Hamdi yang mencengkeram dahinya. Sesaat kemudian, Isma berhasil mendorong Hamdi ke belakang. Hamdi roboh di lantai, namun Isma juga kehabisan tenaga. Ia berlutut sambil menunduk.
         Beberapa detik setelah Hamdi bangkit, Isma hendak menyerang lagi, namun Hamdi bertindak lebih cepat. Kedua tangannya mencengkeram kepala Isma, lalu ia kembali membaca surat-surat yang tadi. Setelah melihat Isma mulai kehabisan tenaga, Hamdi melanjutkan bacaannya dengan ayat Kursi. Beberapa saat kemudian Isma pingsan di pelukan Hamdi. Hamdi yang sudah alim lagi seperti dulu, langsung menidurkan Isma di karpet. Ia meminta Murni untuk mengambilkan bantal yang ada di sofa. Setelah berbaring, Hamdi menyentuh pipi dan dahi Isma yang berkeringat. Hamdi melotot,Masya Allah! badannya dingin sekali!”
         “Padahal tadi panas sekali,” sahut Jamal dengan wajah tegang. “Laa haula walaa quwwata illaa billaah. …Kalau ada dokter yang disuruh memeriksa penyakit ini, dia pasti langsung angkat tangan.”
         “Itu jelas Tadz,” sahut Nurman. “Ini penyakit ghaib. Perawatan medis sehebat apapun, tidak akan bisa menyembuhkan penyakit seperti ini.”
         “Ini penyakit aneh bin ghaib.“ jawab Rujan.  
         Beberapa menit kemudian Isma menggeliat sambil merintih. Perlahan-lahan, Isma membuka kedua mata indahnya. Dengan suara lemah, Isma berkata, “Mas Hamdi…?”
         Alhamdulillaah..” sahut Hamdi tersenyum gembira. “Isma, kamu sudah baik?”
         Isma mengangguk sambil tersenyum manis. Namun semenit kemudian Isma tersentak. Kedua matanya melotot. Tubuhnya seperti tertusuk sepuluh panah beracun.  Sambil menyentuh tangan kanan Hamdi, Isma berseru, “Tolong Mas Hamdi! Tolong akuuu!! Aduuuh!! Perut dan dadakuuu!! Aaahh!!!”
         “Ustadz, tolong dia!” seru Hamdi sambil menatap Jamal yang berdiri di belakangnya. Jamal yang sebenarnya sudah angkat tangan, langsung bertindak lagi. Ia sentuh dahi Isma, lalu ber-dzikir. Beberapa detik kemudian doa-doanya berhasil mengusir santet yang mencengkeram jiwa raga Isma. Ia meminta Hamdi dan semuanya untuk membantunya ber-dzikir.
         Hening sejenak. Semua menatap Isma yang pingsan lagi. Murni yang paling merasa iba pada majikan tercintanya, berkata dengan mata basah, “Sampai kapan Mbak Isma harus menderita seperti ini!?”
         Darti memeluk Murni, lalu berkata lembut, “Sabar ya Manis…sabar. Semua ini ada hikmahnya.”      
         “Iya Mur,” sahut Hamdi yang duduk di samping Jamal. “Di balik kesukaran ada kemudahan. Badai pasti berlalu.”
         “Ustadz-ustadz kita ini juga sedang berjuang,” sahut Waluyo. Setelah hening beberapa saat, Jamal yang terlihat lega, berkata, “Insya Allah, pengaruh guna-guna itu sudah hilang.”
         Alangkah leganya Hamdi cs mendengar ucapan Jamal itu. Jamal menyentuh bahu Hamdi, lalu tersenyum, “Maha Suci Allah. Antum benar-benar hebat. Ternyata antum mampu melakukannya. Ini buktinya.”
         Allahu Akbar.” Jawab Hamdi menunduk. “Tanpa doa kalian, aku tidak akan berdaya sedikit pun.”
         Dua puluh menit kemudian, Isma masih tertidur pulas. Hal ini semakin membuat ketegangan di hati Darti cs berkurang banyak. Beberapa menit kemudian, adzan Ashar berkumandang. Hamdi, Nurman, Jamal, Andi, Waluyo dan Budi berangkat ke masjid Al-Furqan. Setelah Andi mengumandangkan iqamat, sang imam mempersilahkan Jamal untuk memimpin sholat Ashar berjama’ah, namun Jamal menolak dengan halus. Ia berkata, “Tuan rumah tetap lebih utama.”
         Setelah sholat Ashar, mereka kembali ke rumah Isma. Mereka tidak akan pulang sebelum keadaan Isma benar-benar beres. Nurman cs melihat Isma sudah ditidurkan lagi di sofa. Murni duduk di samping kepalanya, sedangkan Darti duduk di dekat kedua kakinya yang dibungkus selimut. Mantan kekasih Hamdi ini terus dijaga oleh dua perempuan yang sangat mencintainya. Walaupun Jamal menganggap keadaan Isma sudah membaik, Murni dan Darti masih sangat cemas melihat keselamatan Isma yan belum terjamin penuh. Demikian pula dengan mantan kekasih Isma. Ia menatap Isma dengan wajah mengiba. 
         Ia bergumam, “Ya Allah, dosa apa yang sudah dia lakukan? Sampai Engkau memberinya musibah seberat ini. …Apa karena dia berhubungan gelap sama aku? …Kalau memang karena itu, tolong ampuni dia. Engkau tahu sendiri, sekarang dia sudah berusaha bertobat...sama dengan mantan kekasihnya yang tolol ini.”
         “Engkau tahu sendiri ya Rabb, Tuhan Yang Maha Pengampun. Sekarang dia sudah berusaha menjadi istri yang setia pada suaminya. Bahkan saat suaminya masih memperlakukannya semena-mena, dia sudah berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik. …Dan sekarang…saat suaminya sudah sadar, dia langsung menghentikan hubungan kami yang memang salah. …Berkat rahmatMu, suaminya yang sombong itu sekarang sudah menjadi jauh lebih baik.”
         Karena itu ya Allah…tolonglah dia, ampunilah dia, kasihanilah dia. Tolonglah dia, dengan kasihMu yang seluas langit dan bumi. Ampunilah dia, dengan menunjukkan bahwa Engkau tidak mungkin memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-hambaMu yang lemah. …Hanya kepadaMu aku memohon, karena Engkaulah sebaik-baik tempat memohon.”
         Beberapa menit kemudian Isma kembali menggemparkan suasana. Dengan kedua mata masih tertutup rapat, Isma berkata lirih, “Kates Abang. …Kates Abang.”
         “Dia ngomong apa?!” Tanya Darti pada Jamal yang duduk di samping Isma. Semua mempertajam pendengarannya. Sesaat kemudian Isma kembali berkata, “Kates Abang. …Kates Abang.”
         “Kates Abang!?” sahut Waluyo melotot. Isma kembali berkata dengan suara lebih keras, “Kates Abang. …Desa Kates Abang. …Kasman..ada di…desa…Kates Abang.”
         “Kalian dengar!?” Tanya Jamal. Hamdi mengangguk. “Kasman ada di desa Kates Abang.” 
         Setelah Isma tertidur lagi, Darti bertanya, “Desa Kates Abang itu di mana!?”
         Hening sejenak. Jamal mengangguk-angguk, lalu berkata, “Saya pernah dengar desa itu. …Kalau tidak salah…desa itu ada di ujung utara pulau kita ini.”
         Ujung utara pulau Jawa!?” Tanya Nurman. Jamal mengangguk. “Demak masih ke utara. Atau bisa juga lewat Kudus.”
         Hening lagi sejenak. Jamal terus berusaha keras memecahkan teka-teki ini. Setelah berpikir keras, Jamal berkata, “Aku punya teman yang ahli dalam masalah ini. Dia mantan pendeta. Baru lima tahun masuk Islam, sekarang dia sudah jadi Ustadz hebat…termasuk hebat dalam mengusir setan. …Namanya Rozaq. Ahmad Rozaq Stefanus. …Dia sudah sepuluh kali menyembuhkan orang kesurupan. …Hanya saja, sepuluh kasus yang dia hadapi itu mungkin tidak seberat yang dialami Mbak Isma sekarang ini. …Tapi tidak ada salahnya kita minta tolong dia…”
         “Ya sudah kalau begitu,” sahut Darti, “sekarang silahkan Pak Ustadz minta tolong dia.”
         “Baiklah Bu, akan saya coba. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah.”
         Jamal langsung mengontak Rozaq, temannya yang katanya ahli menyembuhkan orang kesurupan. Mantan pendeta berstatus duda tanpa anak itu tinggal di Ambarawa. Usianya 37 tahun, masih tergolong muda. Dia masuk Islam umur 32. Hanya dalam waktu 5 tahun, ilmu agamanya sudah sangat dalam. Hafalan Qurannya sudah cukup banyak. Jamal yang sudah dianggap ustadz, bahkan ustadz yang jauh lebih senior dari Rozaq, merasa ilmunya di bawah Rozaq yang masih tergolong muallaf.
         Rozaq dan Diana, istrinya, bercerai 4 tahun yang lalu, saat usianya 33. Saat itu namanya masih Stevanus, panggilannya Stevan. Selain karena masalah keluarga yang tak terbendung, Rozaq dan Diana bercerai karena Rozaq masuk Islam. Rozaq sudah mati-matian mengajak Diana memeluk agama yang dibawa Sang Nabi Pamungkas, namun Diana tetap tidak tertarik. Akibat semua itu, Stevan dan Diana yang sebenarnya masih saling mencintai itu akhirnya harus berpisah untuk selamanya.    
         Stefan yang saat itu sangat menderita, berkata, “Diana, aku sangat mencintaimu, tapi aku harus lebih mencintai Allah dan Nabi Muhammad saw.”
         Demikianlah sedikit kisah tentang Ustadz Ahmad Rozaq Stefanus. Jamal bertutur, “Kata Rozaq, kalau kita ingin mengalahkan Kasman, kita harus datang ke tempat semedinya. …Mau tidak mau, sekarang kita harus ke Kates Abang.”
         Semua tersentak. Jamal melanjutkan, “Kebetulan rumahnya di Ambarawa, sejalur dengan letak desa Kates Abang. …Nah, sekarang siapa yang masih mau membantu aku? Siapa yang mau ikut aku ke Ambarawa dan Kates Abang? …Suka rela saja Mas-Mas..jangan ada paksaan di hati. Sedikit pun aku tidak berniat memaksa anda semua untuk ikut aku ke sana. Aku juga tahu, anda semua pasti punya kesibukan sendiri-sendiri. Makanya, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda semua. Sudah seharian ini anda berada di sini, berarti anda sudah rela mengorbankan semua aktivitas anda.”
         Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Sekarang keadaan Mbak Isma semakin genting, dan sekarang ini sudah mencapai puncak. …Kita sudah berusaha maksimal menolong Mbak Isma, tapi sampai sekarang belum berhasil. …Nah, kata temanku itu, yang Insya Allah memang diberi kelebihan untuk mengetahui hal-hal semacam ini, kita harus membawa Mbak Isma ke Ambarawa, ke rumah Rozaq, setelah itu kita lanjutkan ke Kates Abang. …Sekarang sudah mau Maghrib. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus berangkat nanti malam atau dini hari.”
         Hening sejenak. Jamal menatap semua pemuda di hadapannya. Mereka terlihat kebingungan. Pria yang posturnya mirip Hamdi ini tersenyum gurih, “Tidak apa-apa kalau anda semua memang harus menjalankan pekerjaan rumah. Toh itu juga wajib. …Insya Allah, nanti biar Bu Darti dan Mbak Murni yang menemani aku.”
         Hening lagi sejenak. Hamdi menyentuh bahu kiri Jamal. Ia tersenyum, lalu berkata, “Aku ikut anda.”
         “Betulkah!?” Tanya Jamal tersenyum gembira. Hamdi mengangguk, “Aku punya alasan yang sangat kuat.”   
         “Apa?”
         Hamdi diam sebentar, setelah itu berkata, “Aku sudah terlibat jauh dalam masalah besar ini..jadi sudah kewajibanku untuk membantu anda menolong Isma.”
         Hening sebentar. Nurman dan yang lain saling menatap, setelah itu berkata mantap, “Insya Allah, kami akan membantu Ustadz menyelesaikan masalah ini.”
         Alangkah lega dan gembiranya Jamal, Darti dan Murni. Jamal berkata, “Perjalanan ke sana kira-kira lima jam, ditambah menjemput Rozaq. …Baik saudaraku semua, kita berangkat kapan!?”
         Hamdi menyahut, “Insya Allah habis Isya.”
         Malamnya, tepat jam setengah delapan, Hamdi cs berangkat ke Ambarawa dengan dua mobil. Namun sekarang kekuatan mereka berkurang sedikit. Ahmad, Budi, Hendra, Yudi dan Kokok tidak bisa lagi membantu Jamal. Empat pemuda itu mengaku takut, namun mereka beralasan karena ada pekerjaan rumah. Kini yang menyertai Jamal, Darti dan Murni tinggal Kukun, Rujan, Waluyo, duo Al-Furqan, dan si lakon utama. Rujan, Sopirnya Darti, memegang setir Escudo biru, mobilnya Kandar. Jamal duduk di sampingnya persis. Sedangkan Darti, Murni dan Isma yang masih pingsan, duduk di jok kedua dan ketiga. Sedangkan Hamdi, Nurman, Andi, Waluyo dan yang lain mengendarai mobil Kijang hitam milik Darti. Waluyo memegang setir, Hamdi duduk di sampingnya.  Kukun, Nurman dan Andi duduk di jok kedua.  
         Singkat cerita, sampailah dua mobil ini di tempat tujuan. Rumah Rozaq berada di perkampungan yang agak jauh dari kota. Rumah kecil, sederhana namun nyaman itu berada di tengah hutan kecil, sehingga membuat suasananya terkesan agak angker. Begitu Rozaq dan Jamal bertemu, dua sahabat ini langsung berpelukan erat. Jamal langsung mengenalkan Rozaq dengan semuanya. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung membahas masalah inti. Kini Hamdi cs berada di ruang tengah rumah Rozaq. Sebagian dindingnya terbuat dari kayu. Rozaq yang sudah tahu segalanya, langsung memeriksa Isma yang sampai sekarang masih belum siuman.
         Rozaq, lelaki bertubuh sedang dan berisi. Tidak gemuk tidak kurus, tidak tinggi tidak pendek, tapi cenderung agak tinggi. Kulit kuning kecoklatan, jenggot dan kumis tipis. Ia duduk menghadap Isma yang dibaringkan di kasur tanpa ranjang. Sudah sepuluh menit ia bermeditasi. Tangan kanannya menyentuh dahi Isma. Sesaat kemudian, Rozaq yang wajahnya sudah terlihat tegang, menggelengkan kepalanya.
         “Masya Allaah…Laa haula walaa quwwata illaa billahil’aliyyil’azhiim.”
         “Gimana Zaq?” Tanya Jamal yang duduk di samping Rozaq. Rozaq menyahut, “Ilmu hitam Kasman ini benar-benar hebat. …Dapat dari mana dia?”
         Rozaq menatap semua tamunya, lalu bertutur, “Mbak Isma bisa sampai begini   bukan hanya karena imannya lemah…tapi karena ilmu setannya Kasman memang hebat sekali.”
         “Betul sekali kata Pak Jamal,” ujar Kukun. Rozaq berkata, “Apalagi kalau mendengar cerita kalian, Mbak Isma ini sudah termasuk perempuan baik-baik. Hanya ilmu agamanya yang masih dangkal. …Tapi itu bisa dimaklumi, soalnya dia muallaf, seperti saya. ”
         Nurman berkata, “Yang Islam sejak kecil saja banyak yang ilmu agamanya masih dangkal, apalagi yang muallaf. Itu karena mereka malas mengkaji ilmu agamanya sendiri.”
        “Betul sekali,” sahut Rozaq. “Yang muallaf kadang malah ilmu agamanya lebih tinggi dari yang Muslim sejak kecil. Itu karena mereka benar-benar semangat untuk menjadikan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup.”
         “Contohnya Ustadz Rozaq.”  
         Rozaq tersipu, “Oh tidak, saya masih harus banyak belajar. Akh Nurman  jangan panggil saya ustadz. Saya belum pantas dipanggil ustadz. …Kalau dia (menyentuh bahu Jamal) baru layak dipanggil ustadz.”
         Hening sejenak. Rozaq kembali menatap Isma yang masih belum bergerak sedikit pun. Ia berkata, “Tidak berlebihan kalau Kang Jamal bilang,  baru sekarang dia menghadapi ilmu santet sehebat ini. Saya sendiri juga baru sekarang melihat ilmu seaneh ini. …Saya belum tahu, ini ilmu santet jenis apa.”
         “Terus gimana Mas Rozaq!?” Tanya Murni yang paling gelisah. “Mbak Is bisa ditolong tidak!?”
         Rozaq tersenyum, “Insya Allah Mbak, kita akan berusaha terus. Yakinlah, kebathilan pasti kalah oleh kebenaran. Ilmu santet sehebat apapun, tidak akan bisa mengalahkan ketakwaan yang murni. Ilmu santet sehebat apapun, tetap kalah oleh tauhid yang murni. …Kalau ingin menghancurkan ilmu jin ini, kita harus langsung mendatangi sumbernya. Kalau kita bisa mendekati Kasman, Insya Allah, kita akan lebih mudah untuk mengalahkan dia. …Tapi kalau nanti kita tetap gagal…berarti kita harus siap mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”
         Kata-kata Rozaq itu laksana gempa bumi dahsyat yang mengguncang tanah tempat Hamdi cs berpisah. Rozaq melanjutkan, “Manusia sejahat dia, kalau sudah mengalahkan musuhnya…kemungkinan besar akan membunuh musuhnya. Nah, kalau nanti kita gagal mengalahkan Kasman…95 persen dia pasti akan mem…ya sudah, tidak usah kuteruskan.”
         Hening sejenak. Rozaq melihat semua tamunya ketakutan. Setelah mengatur nafas, Rozaq berujar, “Anda semua jangan takut berlebihan. Pasrahkan saja jiwa kita pada Allah SWT. Setelah kita berusaha maksimal, kita hanya bisa pasrah. Tiap-tiap yang bernyawa, pasti akan mengalami kematian.*

         Catatan Kaki: * Al-Quran surat Ali Imron, surat ke 3 ayat ke 185
         “Kalau mau jujur, kita semua tidak ada yang mau mati. Tapi realitanya.. kematian pasti akan menjemput kita. Sehebat atau sekuat apapun kita, pada akhirnya tetap mati. ...Allah tidak akan menunda kematian seseorang, apabila waktu kematiannya memang sudah tiba.*  …..Kalau ajal kita memang sudah datang…kalau nanti kita memang sudah ditakdirkan meninggal di Kates Abang…mau gimana lagi?”
         Hening sejenak. Untuk menghilangkan ketegangan yang mencengkeram hati Darti cs, Rozaq mendinginkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. Ia tatap Hamdi dengan senyuman, setelah itu berkata, “Betul sekali apa yang dikatakan dan dilakukan Mas Hamdi. Bisa tidaknya seseorang menyembuhkan orang kesurupan itu tergantung dari tingkat kesholehannya, tingkat ketakwaannya. …Tadi, sebelum Mas Hamdi, Mas Nurman atau Kang Jamal me-ruqyah Mbak Isma, beliau mencontohkan, ada seorang ustadz yang menolong orang kesurupan dengan membaca ayat Kursi tiga kali. Nah, itu contoh konkret yang sangat bagus untuk ditiru.”
         “Itu Ustadz Salam,” sahut Hamdi, “salah satu staf pengajar ponpes Salaf  di Tasikmalaya.”
         Hening sejenak, setelah itu Rozaq berkata mantap, “Baiklah semuanya, karena kita sudah tidak tahan melihat Mbak Isma seperti ini, kita harus bertindak cepat. …kita bisa berangkat kapan?”          
         “Perjalanan ke sana kira-kira berapa jam?” Tanya Darti. Rozaq menjawab, “Sekitar 4 jam kurang sedikit. Insya Allah, sampai sana mendekati shubuh.
         “Sekarang jam setengah dua belas,” sahut Hamdi menatap arlojinya. “Ya sudah, kita berangkat sekarang saja. Lebih cepat lebih baik. Bismillah.” (Bersambung)

         Catatan Kaki: * Al-Quran surat Al-Munafiqun, surat ke 63 ayat 11 (terakhir)
                  

                                                    * * * * *

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;