Singkat
cerita, tibalah Hamdi cs di desa Kates Abang. Sebuah desa terpencil di ujung
utara Pulau Jawa. Waktu menunjukkan pukul empat kurang seperempat. Seorang pria
tua dari desa sebelah melarang Hamdi cs masuk ke desa mati tersebut. Alasannya
karena desa itu sangat angker. Siapa pun yang sudah masuk ke desa Kates Abang,
yang akan keluar hanya namanya. Desa itu memang terkenal dengan hal-hal
ghaibnya, termasuk untuk mendalami ilmu-ilmu santet. Lelaki tua itu mengatakan,
yang bisa masuk ke desa keram
at itu hanya mereka yang benar-benar bernyali besar. Mendengar penjelasan itu, Rozaq tersenyum, “Terima kasih banyak atas nasehat Bapak, tapi kami lebih takut melihat teman kami tersiksa terus.”
at itu hanya mereka yang benar-benar bernyali besar. Mendengar penjelasan itu, Rozaq tersenyum, “Terima kasih banyak atas nasehat Bapak, tapi kami lebih takut melihat teman kami tersiksa terus.”
Setelah mobil Feroza biru dan Kijang hitam ini
masuk ke desa Kates Abang, pria tua ini menggelengkan kepala, “Dasar anak muda,
banyak tingkah. Huhh! ...Kalau sudah ketemu hantu penghuni Kates Abang, kalian
baru tahu rasa.”
Yang dimaksud hantu penghuni desa
Kates Abang itu Kasman dan mbah gurunya. Kini dua mobil ini semakin masuk ke
desa Kates Abang. Sejauh mata memandang, Rozaq cs hanya melihat pohon dan semak
belukar lebat. Rujan yang masih memegang setir, bertanya pada Rozaq yang duduk
di sampingnya, “Mas Rozaq sudah pernah ke sini?”
“Belum…baru sekarang.”
“Tapi sudah tahu ya?”
Rozaq tersenyum. “Tiga tahun lalu aku ke
desa sebelah tadi, jadi aku bisa tahu tempat ini.”
“Ooo (mengangguk) begitu. …Ada acara apa di desa
yang tadi?”
“Ya sama..menolong orang kesurupan.”
“Berhasil?”
“Alhamdulillah.
…Tapi untuk yang sekarang ini (menengok Isma yang kepalanya dipangku Murni dan Darti ), aku benar-benar tidak yakin.”
Kata-kata itu membuat senyum Rujan
musnah. Ia berkata, “Memang sulit sekali ya Mas? …Aku juga baru sekarang
melihat guna-guna sedahsyat ini. Padahal Ustadz Rozaq yang paling kita
andalkan. …Kalau yang paling diandalkan saja sudah tidak bisa, mau gimana lagi?”
Rozaq tersenyum malu, “Mas Rujan
jangan terlalu memuji.”
Rujan tersenyum. “Tapi aku yakin kok..Insya Allah. Mas Rozaq ini benar-benar
hebat, benar-benar sholeh. Yah, kurang lebih sama dengan Pak Jamal atau Mas
Hamdi.”
“Astaghfirullahal’azhim..” sahut Rozaq semakin tersipu. Ia remas bahu kiri Rujan. Setelah hening
beberapa detik, Rujan berkata, “Tapi kalau nanti Mas Rozaq sama Pak Ustadz
Jamal tetap tidak berhasil, gimana Mas?”
“Subhanallah.
Qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al.* …Sekarang kita memang cemas sekali. Tapi
di sisi lain kita tetap harus optimis. Kebathilan pasti kalah oleh kebenaran. Yakinlah
itu, Mas Rujan.”
Ucapan Rozaq itu membuat Rujan sedikit
tenang. Kini beralih ke mobil Kijang. Kukun yang takjub dengan pemandangan
sekitar, berkata, “Ya Allah…ini desa atau hutan?”
“Desa yang sudah jadi hutan,” sahut
Waluyo yang masih memegang setir. Andi yang duduk ditengah, diapit Nurman dan
Kukun, bertutur, “Tak kusangka…di pulau
kita ini masih ada tempat seprimitif ini.”
“Iya ya Mas,” sahut Kukun merinding.
“Tak kusangka, aku bisa sampai di tempat purbakala begini. …Hiii...masih gelap. Benar-benar
mengerikan. …Kalau aku disuruh jalan sendiri di sini, walau dikasih seratus
juta, atau dikasih istri secantik Dian Sastro atau Sandra Dewi, aku tetap tidak
mau.”
“Dasar penakut!” sahut Waluyo. Kukun menimpali,
“Memang kamu bukan penakut!? Memang kamu berani di sini sendirian!?”
“Yah...setidaknya lebih berani dari
kamu. Tapi kalau diiming-imingi istri secantik Dian Sastro atau Sandra Dewi, ya
harus diberani-beranikan.”
Hening sejenak. Kukun melirik Andi dan
Nurman yang tidak banyak bicara. Kukun tersenyum, “Kalau trio Al-Furqan pasti
berani.”
“Ya jelaslah,” sahut Waluyo tersenyum
mengejek. “Mereka sholeh kok. Tidak seperti kamu. Sholat saja tidak.”
Betapa malunya Kukun di hadapan takmir
Al-Furqan. Sambil tersenyum malu, Kukun berkata, “Mas Hamdi atau Mas Nurman
pasti berani disuruh sendirian di sini. Iya Mas Hamdi?”
Hamdi tersipu, “Aku lebih
takut sama ilmu santetnya Kasman. Benar-benar mengerikan.”
“Iya ya Mas. Kok bisa ada guna-guna
seperti itu. Kasihan banget Mbak Isma. Sehari penuh jiwanya dicengkeram jin
jahat.”
“Jadi di sini Kasman mempelajari ilmu
santetnya?” Tanya Nurman. Hamdi mengangguk, “Kata Mas Rozaq begitu. Pastinya…wallahu a’lam.”
Catatan Kaki: *“Segalanya sudah takdir
Allah. Bila Allah sudah menghendaki sesuatu, sesuatu itu pasti terjadi.” Ucapan
ini disunnahkan (dianjurkan) untuk diucapkan oleh orang yang sedang mendapat ujian atau musibah.
Sekarang kita tengok lagi mobil Feroza.
Murni yang membuka kaca mobil, mendadak tersentak. Ia melihat pemandangan yang
membuat bulu kuduknya merinding. Di dekat bambu-bambu besar, Murni melihat sesosok
tubuh ramping berbaju ungu. Murni melotot, lalu berseru, “Ya Allah! siapa
itu!?”
Semua tersentak, terutama Waluyo yang
masih konsentrasi memegang setir. Darti yang memangku kepala Isma, bertanya, “Ada apa Mur!?”
Murni yang ketakutan, berkata, “Tadi aku
lihat orang, di
dekat bambu-bambu!”
“Yang benar ah?” Tanya Waluyo agak
gusar. “Kamu jangan ngaco!”
“Betul! Tadi aku lihat orang di
bambu-bambu besar!”
Waluyo menyahut, “Kalau hati dan
pikiran sedang kacau, apalagi takut, pikiran kita bisa menimbulkan ilusi yang
bukan-bukan. Nah, jangan-jangan kamu hanya terbawa rasa takutmu.”
“Tidak Mas, aku tidak berkhayal! Aku
juga tidak sedang mengigau. Aku masih sadar. Tadi aku benar-benar lihat orang!”
Keseriusan Murni itu membuat Waluyo
lebih percaya. Darti bertanya, “Lelaki atau perempuan?”
“Kurang
jelas…tapi kelihatannya cenderung perempuan. Bajunya ungu muda, lengan pendek.
Posisi tubuhnya berdiri, membelakangi kita. Wajahnya sama sekali tidak
kelihatan”
Hening sejenak. Darti dan Waluyo mulai
merinding. Apalagi mereka juga tahu kalau Murni itu gadis lugu yang jujur.
Murni yang masih terus menatap keadaan luar, berkata, “Hebat banget perempuan
itu..berani sendirian di tempat sengeri ini.”
“Memang siapa dia?” Tanya Darti.
Waluyo menyahut, “Hanya ada satu orang. Orang gila.”
Hening lagi sejenak. Rozaq yang
terlihat paling tenang, bertanya, “Mbak Murni
yakin kalau yang Mbak lihat tadi perempuan?”
“Yakin banget Mas. Tadi memang hanya samar-samar,
tapi aku yakin itu manusia, perempuan..bukan hewan atau barang.”
Sekarang ke mobil Kijang, di mana
Kukun juga melihat apa yang tadi dilihat Murni.
Rujan yang memegang setir, berkata sambil tersenyum mengejek, “Perempuan macam
apa yang berani di sini sendirian? Perempuan sinting ya?...huh! Kamu
jangan mabuk di sini.”
“Semprul kamu!” sahut Kukun marah.
“Buat apa aku main-main di saat sengeri ini!? Tadi aku benar-benar lihat
perempuan. Perempuan baju ungu!”
Hening sejenak. Kukun yang paling
penakut, terus mengawasi keadaan sekitar. Ia berkata, “Jangan-jangan dia
mengikuti kita.”
“Biarkan saja,” sahut Waluyo, “toh
hanya perempuan.”
“Tapi kenapa bulu kudukku merinding? …Firasatku
mengatakan, perempuan tadi bukan perempuan biasa. …Dia perempuan…”
“Hantu maksudmu?”
“Ehmm…bisa jadi.”
Hamdi yang duduk di depan Kukun, menatap keadaan luar, setelah itu berkata, “Tempat
seseram ini, wajar kalau jadi sarangnya makhluk halus. Mungkin termasuk
perempuan berbaju ungu itu.”
“Dia
belum tentu hantu,” sahut Waluyo. “Mungkin penduduk desa sebelah, atau orang
sinting, kurang kerjaan.”
“Itu penjelasan logisnya,” sahut Andi.
Kukun yang masih menatap semak belukar dan pepohonan, berkata, “Aku tidak
sempat lihat wajahnya. Tadi kelihatannya dia membelakangi kita.”
Beberapa saat kemudian, Hamdi cs
mendengar suara orang yang mengerang kesakitan. Hamdi yang melotot, bertanya,
“Kalian dengar itu?”
Kukun, Andi, Nurman dan Waluyo
mengangguk. Kukun berkata, “Datangnya dari sebelah kiri kita. Sama dengan tubuh
perempuan yang kulihat tadi.”
Lima
pemuda ini semakin merinding. Suara itu terdengar semakin keras di telinga
mereka. Nurman yang menatap kanan-kiri,
berkata, “Suaranya semakin jelas. Suara lelaki. …Tapi di mana (menatap
jendela)?”
Hamdi cs semakin yakin kalau suara
rintihan itu suara lelaki. Suara itu seperti suara tangis seorang lelaki yang
sedang menderita berat. Suara memilukan sekaligus mengerikan itu juga terdengar
di telinga para penumpang Feroza. Rujan berkata, “Suaranya terdengar dari kanan-kiri.”
“Besar sekali.” Tutur Rozaq.
“Seperti suara raksasa.”
“Kunci pintu mobil! Tutup jendela!” seru
Darti ketakutan. Jamal yang habis menelpon Hamdi, berkata, “Semua penumpang Kijang
juga mendengar suara ini. Kita semua bisa mendengar
suara ini.”
Ketegangan semakin mencengkeram hati
Hamdi dkk. Kalau sosok perempuan berbaju ungu tadi hanya bisa dilihat oleh Murni dan Kukun, kini suara aneh itu bisa didengar oleh
semua penumpang Kijang dan Feroza. Suara itu seperti ikut berjalan mengikuti
mereka. Andi berkata, “Suara ini sangat dekat. Suara ini seperti mengikuti
kita.”
“WADUH!” Seru Kukun yang nyalinya
paling ciut. “Jangan-jangan, hantu perempuan tadi mengikuti kita! …Tapi ini
suara lelaki.”
Tanpa sepengetahuan Nurman dkk, ada
sesosok tubuh kecil yang duduk di atas mobil mereka. Sosok lelaki berusia 10
tahun. Wajahnya mengerikan. Kepalanya besar dan botak. Hidung besar, bibir
dower. Telinga besar, panjang dan tajam. Tubuhnya tidak mengenakan apapun,
kecuali celana pendek hitam. Walaupun usianya masih anak-anak, wajahnya sudah
seperti pria 30 tahunan. Tidak salah lagi, dia TUYUL.
Sesaat kemudian, Tuyul menaruh
kepalanya di kaca mobil yang berada di samping kiri Kukun. Posisi kepalanya
mengarah ke bawah. Kukun yang melihat sosok seram yang tiba-tiba muncul di
hadapannya, berseru, “Dia di atas kita! Aaah (menarik tubuhnya ke belakang,
sehingga membuat Andi dan Nurman terjepit)!! ”
Bibir tuyul yang besar itu
menyeringai, sehingga membuat Kukun histeris. Hamdi yang terlihat lebih tenang,
berseru, “Tenang, tenang! Jangan histeris! Dia hanya bisa menakuti kita!”
Tampaknya Tuyul mendengar ucapan Hamdi
itu. Ia ganti menatap Hamdi dengan tajam. Hamdi yang sebenarnya juga merinding,
beradu pandang dengan Tuyul. Mulutnya berkomat-kamit, tanda ia sedang dzikir dengan pelan. Sekitar 15 detik
kemudian, Tuyul yang sudah puas memelototi Hamdi, menarik kepalanya ke atas.
Mengetahui Tuyul berada di atas mobil, Hamdi meminta Waluyo untuk menghentikan
mobil. Hamdi hanya ingin tahu, apakah makhluk itu benar-benar berada di atas
mobil mereka.
Kukun yang nyalinya paling kecil,
jelas terkejut sekali mendengar permintaan Hamdi itu. Melihat Hamdi mau turun
dari mobil, Kukun berseru, “Jangan Mas (mencengkeram tangan kiri Hamdi)!
Bahaya! Kata kakekku, Tuyul itu sakti banget. Selain pintar mencuri, dia juga
bisa bergerak cepat, bahkan menghilang. Jangan jangan turun Mas! Kumohon!”
Hamdi menyentuh tangan kanan Kukun
yang mencengkeram tangan kirinya, lalu bertutur, “Kalau dia benar-benar jin,
benar-benar makhluk halus, Insya Allah,
dia tidak akan bisa melukai kita, apalagi membunuh kita. …Sudahlah, anda tenang
saja. Aku hanya ingin memastikan dia itu apa.”
Hamdi turun dari mobil. Tangan
kanannya menggenggam pisau besar yang tadi ia taruh di dekat kakinya. Begitu
turun dari mobil, Hamdi langsung mencabut pisau besar itu dari sarungnya, lalu
ia arahkan ke atas mobil. Hening beberapa detik. Hamdi tidak melihat apapun di
atas Kijang mereka. Nurman yang penasaran, langsung ikut turun. Sedetik
kemudian Andi menyusul. Waluyo yang lebih pemberani dari Kukun, langsung ikut
turun. Kini tinggal Kukun yang masih berada di dalam mobil.
Murni yang kebetulan menoleh ke
belakang, terkejut melihat mobil Kijang berhenti. Ia berseru, “Lho, ada apa
itu!? kenapa mereka berhenti!?”
Semua langsung menoleh ke belakang.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung turun dari Escudo, kemudian mendekati
Hamdi cs yang sedang memeriksa bagian atap Kijang. Waluyo yang memegang senter,
berkata, “Mungkin dia sudah melompat ke semak-semak.”
“Atau mungkin sudah menghilang,” sahut
Nurman. “Kalau dia benar-benar jin, dia bisa muncul dan menghilang kapan saja. Datang
tak dijemput, pulang tak diantar.”
“Ada
apa ini?” Tanya Jamal. Hamdi langsung menceritakan semuanya. Murni melotot,
“Tuyul di atas Kijang?”
Hamdi menggangguk. “Entah Tuyul atau
bukan, yang jelas wujudnya sama dengan tuyul-tuyul yang sering kudengar selama
ini.”
Tiba-tiba, ada sesuatu yang jatuh di
dekat kaki Waluyo. Sesuatu itu mirip buah besar yang jatuh dari pohon. Mungkin
kelapa atau nangka. Begitu jatuh di dekat kaki Waluyo, benda itu langsung
menggelinding. Waluyo menjerit, lalu melangkah mundur. Kukun yang sudah turun
dari mobil, bertanya, “Apa itu Yo!?”
“Mana kutahu?! Huh! Coba kamu yang
lihat.”
“Sinting apa!?”
Kini perhatian semuanya tertuju ke
benda aneh yang sudah membuat Waluyo jantungan. Dengan kedua mata melotot,
Waluyo mengarahkan senternya ke benda itu. Rujan yang juga membawa senter,
langsung mengikuti Waluyo. Dua pemuda ini berjalan mengendap. Mereka mendekati
benda yang tergeletak di sekitar empat meter dari mereka. Dengan jantung
bergetar keras, Rujan yang berdiri di belakang Waluyo, bertanya, “Kira-kira itu
apa Yo?...Tadi kamu lihat apa?”
“Aku tidak tahu. Tadi aku langsung
mundur. ”
Waluyo dan Rujan terus menerangi benda
aneh itu dengan senternya. Setelah pada diam beberapa detik, Waluyo berkata
lirih, “Kelihatannya seperti buah. …Mungkin kelapa atau semangka.”
“Di sini tidak ada pohon kelapa,”
sahut Rujan sambil menatap atas. “Pohon
semangka juga tidak ada.”
Waluyo semakin tegang ketika jaraknya
dengan buah itu tinggal satu meter. Dengan jantung semakin bergetar keras,
Waluyo berkata, “Kelihatannya kelapa…tapi kok ada bulunya? Bulunya
panjang-panjang, ngombak. Seperti…seperti
rambut.”
Sedetik kemudian benda itu bergerak.
Ternyata itu kepala perempuan berwajah
sangat buruk. Ia memelototi Waluyo dan Rujan, setelah itu tersenyum. Gigi
gerahamnya tajam dan besar. Waluyo dan Rujan menjerit sekeras-kerasnya,
kemudian menjauhi kepala perempuan itu dengan berlari. Jamal mendekati Waluyo
dan Rujan yang histeris, lalu bertanya, “Kalian benar-benar yakin kalau itu
kepala manusia?”
“Demi Allah Pak!” seru Waluyo dengan
jantung nyaris copot. “Itu kepala perempuan!...wajahnya jelek banget. Hah,
hah…wajahnya serem banget!”
Beberapa saat kemudian ganti Murni yang menjerit ketakutan. Ia menunjuk semak belukar
di belakang Hamdi sambil berseru, “Ituu!! Badan tanpa kepalaa!!”
Semua menoleh ke tempat yang ditunjuk Murni. Ada
sesosok tubuh perempuan tanpa kepala. Ia berdiri tegak di samping pohon besar.
Dialah sosok yang tadi sudah dilihat Murni.
Kali ini semuanya bisa melihat sosok tersebut. Semua terperangah. Benarkah
tubuh perempuan berbaju ungu lengan pendek yang berdiri di hadapan mereka itu
bukan ilusi? Rozaq yang melihat semua kawannya ketakutan berat, berseru,
“Tenang semua! Dia tidak bisa mencelakakan kita! Insya Allah, dia hanya bisa menakuti kita.”
Untuk beberapa saat, tubuh tak berkepala itu hanya diam. Hamdi yang
berdiri paling dekat dengan dia, bertanya, “Kamu siapa?…Kenapa kepalamu
copot?”
“Jangan dekat-dekat Mas!” seru Murni histeris. “Hantu tidak bisa diajak ngomong!”
Hamdi yang sebenanya juga deg-degan, menjawab, “Tenang…tidak
apa-apa. Aku hanya ingin memastikan dia
hantu, jin..atau hanya tipuan.”
Dengan lisan terus menyebut asma Allah
dengan pelan, Hamdi mendekati makhluk aneh yang sangat menyeramkan itu. Namun
baru beberapa langkah, Darti yang ketakutannya tidak sebesar Murni, berseru
sambil menunjuk atas, “Awas Mas Hamdi!! Kepala terbang!!”
Hamdi menoleh ke samping kiri.
Dilihatnya kepala perempuan yang tadi sudah mengagetkan Rujan dan Waluyo.
Spontan saja Hamdi mengangkat goloknya, lalu ia tebaskan ke kepala berambut
panjang yang tampaknya
ingin menyerangnya, namun luput. Kepala itu menyatu dengan badannya, namun
posisinya masih belum benar. Wajahnya menghadap belakang. Kedua tangannya
membenarkan posisi kepalanya. Ia putar kepalanya dengan perlahan. Jamal cs
semakin terpana melihat kejadian aneh bin ajaib itu.
Setelah wajahnya menghadap depan, ia
pelototi Hamdi cs yang termangu-mangu, setelah itu ia tertawa sekeras-kerasnya.
Suara tawanya yang melengking itu benar-benar bisa membuat jantung berhenti
berdetak. Setelah puas tertawa binal, perempuan ini menghilang di semak
belukar. Hamdi cs yang sudah merasa agak lega, langsung melanjutkan perjalanan
mereka yang tertunda. Murni yang paling ketakutan, berkata, “Nanti kalau ada
apa-apa lagi, kita tidak usah
turun. …Iiih, serem banget. Sudah
jelas itu hantu, kok Mas Hamdi masih bisa mengatakan tipuan.”
“Mas Hamdi hanya ingin memastikan,”
sahut Darti. Jamal yang duduk di belakangnya, menenangkan, “Mbak Mur dzikir saja ya?”
“Iya Pak Ustadz…Insya Allah.”
Baru sekitar tiga menit dua mobil ini
berjalan, mendadak, mesin dua mobil ini berhenti sendiri. Rujan dan Waluyo yang
memegang setir, mencoba menghidupkan mesin mobil mereka, namun masih belum
berhasil. Murni yang mau menangis, berkata, “Aduh! Ada apa lagi ini!?”
“Mungkin aqcu, busi, atau bensinnya?” Tanya Rozaq. Rujan menggelengkan kepala.
“Semua baik-baik saja Mas. Bensinnya juga masih ada, walau tinggal sedikit.”
Jamal yang melihat belakang, berkata,
“Mobil Kijang juga berhenti.”
Semua menoleh ke belakang. Ketakutan
kembali mencengkeram Hamdi cs. Berkali-kali Waluyo dan Rujan mencoba
menghidupkan mesin Escudo dan Kijang, namun yang terdengar hanya suara ‘ceklek,
ceklik.’ Hamdi berujar, “Bannya juga tidak bocor atau gembos.”
Nurman menyahut, “Kalau mobil berhenti
karena bannya bocor, cara berhentinya tidak seperti ini.”
Hening sejenak. Kukun dan Murni yang
paling ketakutan, selalu melihat keadaan di luar mobil yang sangat gelap.
Mereka takut ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di kaca mobil tempat mereka
duduk. Rozaq yang melihat Rujan jengkel, berkata lembut, “Jangan diteruskan
Mas, nanti tempat kontaknya malah rusak. Kita berhenti bukan karena ada
kerusakan di mobil ini. Kita berhenti karena sesuatu yang sulit dinalar.”
“WADUH!” Seru Murni.
“Jangan-jangan…perempuan tak berkepala tadi yang sudah menghentikan kita!”
Di mobil Kijang hitam, Hamdi juga
memberi nasehat yang sama pada Waluyo. Mobil mereka berhenti karena hal ghaib.
Sesaat kemudian, muncullah Tuyul di hadapan mereka. Ia berdiri tepat di depan
moncong Kijang. Di saat yang sama, perempuan berbaju ungu tadi juga muncul di
hadapan Rujan yang masih bingung menghidupkan mesin Escudo. Kali ini tubuhnya
komplit. Ia pelototi semua penumpang Escudo. Rujan yang duduk paling depan,
jelas paling panik. Rozaq berseru, “Tenang semua! Jangan panik! Jangan
histeris! Wujudnya tidak nyata!”
“Tapi sekarang dia ada di hadapan kita
Pak!” seru Darti yang sejak tadi lebih banyak diam. Rozaq menyahut, “Ya sudah,
sekarang kita pastikan saja.”
“Mas Ustadz mau apa!!?” Tanya Murni.
Rozaq hanya menyahut dengan keluar dari mobil. Murni menjerit, “Jangan Mas
Rozaq! Bahayaa!!”
“Insya
Allah tidak apa-apa,” sahut Rozaq tenang. Begitu Rozaq keluar dari mobil,
perempuan hantu yang kepalanya bisa lepas dari badannya itu bergerak ke semak
belukar. Ia berjalan sekitar 20 cm di atas tanah. Setelah berada di dekat rumput-rumput
tinggi, ia memelototi Rozaq dengan wajah penuh kebencian. Rozaq maju tiga
langkah. Jaraknya dengan perempuan hantu terpaut sekitar 4 meter. Setelah
saling menatap selama beberapa detik, Rozaq bertanya, “Siapa kamu?...Datang
dari alam mana? …Kamu makhluk piaraan orang,
atau makhluk bebas? Makhluk merdeka?”
Wanita baju ungu diam saja. Kedua
matanya yang mengerikan itu terus memelototi Rozaq. Rozaq yang tetap terlihat
tenang, kembali berkata, “Sekarang aku mau ngomong sama kamu. Tolong kamu
dengarkan baik-baik. …Kalau kamu masih berani ngganggu kami, aku tidak segan
untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, biar badanmu panas. Bahkan kalau kamu
masih nekat ngganggu kami, badanmu bisa terbakar habis.”
Hening sejenak. Rozaq yang amarahnya
mulai bangkit, bicara lagi, “Sekarang kuhitung sampai tiga. Kalau kamu masih
belum pergi dari hadapanku, atas ijin Allah, kamu akan kubakar dengan surat Al-Fatihah dan
Al-Ikhlas.”
Hening beberapa detik. Wanita baju ungu
seperti tidak menggubris omongan Rozaq. Ketika Rozaq sudah menyebut angka tiga,
wanita hantu tertawa sekeras-kerasnya. Suara tawanya menggetarkan seluruh
pelosok Kates Abang. Suaranya yang tinggi dan bertenaga itu seperti tidak bisa
habis. Ketika ia sudah lenyap dari hadapan Rozaq, suaranya yang melengking itu
masih terdengar. Beberapa saat kemudian, barulah suara menyeramkan itu lenyap
dengan perlahan.
Di saat yang sama, Hamdi juga turun
dari Kijang, berhadapan dengan Tuyul. Hamdi bertanya, “Kamu siapa? Datang dari
mana?”
Tuyul diam saja. Kedua matanya yang melotot
bulat itu membuat wajahnya semakin mengerikan. Hamdi yang sudah bisa
mengendalikan deg-degan-nya, berkata, “Apa benar
kamu ini makhluk yang sering kudengar dari cerita-cerita yang sudah melegenda? Apa
benar kamu ini makhluk yang suka mencuri uang?”
Tuyul tidak menjawab sepatah kata pun.
Hamdi melanjutkan, “Kalau kamu tidak punya keinginan, sekarang aku minta tolong
sama kamu. Tolong jangan ganggu kami lagi. …Kalau kamu tetap nekat ngganggu kami,
kamu harus mendengarkan surat
Al-Fatihah dan ayat Kursi.”
Tuyul seperti tidak menanggapi omongan
Hamdi. Sikapnya seolah tidak takut dengan gertakan Hamdi. Hamdi berkata,
“Kuhitung sampai lima,
kalau kamu tidak mau pergi, kamu akan kubacakan surat-surat Al-Quran. …Aku
yakin, kalau kamu jin baik-baik, atau jin Muslim yang taat, kamu justru akan
senang mendengarkan ayat-ayat suci. Tapi kalau nanti kamu kesakitan, berarti
kamu jin jahat, jin kafir.”
Setelah Hamdi menghitung sampai lima, Tuyul masih berdiri
melotot di hadapannya. Hamdi tersenyum mengejek. Sedetik kemudian Hamdi membaca
surat
Al-Fatihah. Ketika sampai di ayat Iyyaa
kana’budu wa iyyaa ka nasta’iin (Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya
kepadaMu pula kami memohon pertolongan), Tuyul menyeringai, setelah itu
menghilang dengan berlari secepat kilat. Ia menghilang di hutan.
Setelah berhasil mengusir hantu-hantu itu,
Hamdi dan Rozaq saling mendekat, lalu mereka ceritakan semua kejadian yang
mereka alami. Benar-benar kejadian di luar nalar. Mobil mereka sama-sama
dihentikan oleh dua makhluk halus yang berbeda wujud. Mobil Escudo dihadang
perempuan berbaju ungu yang kepalanya bisa pisah dengan badannya, sedangkan mobil Kijang
hitam diganggu anak kecil berwajah dewasa. Sesaat kemudian, Rozaq dkk
melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.
Kukun yang badannya basah kuyub oleh
keringat kengerian, berkata, “Mas Hamdi kok bisa tenang sekali ya?”
“Ya jelaslah,” sahut Andi, “ustadznya
Al-Furqan kok. He he.”
Hamdi tersipu, “Aku hanya yakin,
makhluk-makhluk itu derajatnya di bawah kita, jadi Insya Allah mereka tidak akan bisa mengalahkan kita.”
“Betul sekali.” sahut Waluyo. “Hanya
yang imannya lemah yang bisa diteror, dibuat ketakutan setengah mati.“
“Huh! Kamu ngejek aku..” sahut Kukun kesal. “Kamu
sendiri juga ketakutan setengah mati.”
“Tapi masih sedikit lebih berani dari
kamu. Buktinya? Tadi aku sama Rujan yang mendekati kepala perempuan itu. He he.”
Nurman menyambung, “Di saat segawat
ini, kita tidak perlu saling mengumbar dan mengukur keberanian yang kita
miliki. Keberanian sejati itu hanya bisa dibuktikan dengan tindakan.”
“Mas Nurman betul sekali,” sahut
Waluyo malu. Sekarang kita tengok sesosok tubuh pria yang duduk bersila di atas
bukit kecil. Ia mengenakan baju besar berwarna gelap. Ternyata dia Kasman. Di tengah
kegelapan, wajahnya terlihat semakin mengerikan. Sambil tersenyum mengejek,
musuh bebuyutan Kandar ini berkata, “Baru menghadapi jin-jinku saja mereka
sudah kelabakan. Hah ha haa!…Padahal di antara mereka ada ustadz, ada
orang-orang yang di mata masyarakat sudah dianggap orang sholeh, orang suci. …Tapi aku
bisa merepotkan mereka, bahkan aku nyaris mengalahkan mereka. Ha ha! Berarti
aku benar-benar hebat! hua ha ha haa!!”
Setelah tertawa binal, Kasman melotot,
lalu berkata, “Kandar keparat! Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati yang
paling menyakitkan dalam hidupmu! …Setelah puas menyiksa Isma, bunga hatiku itu
akan KUBUNUH!!...Hua ha haa!!”
Demikianlah akibat dari cinta yang
ditolak. Dampaknya benar-benar dahsyat. Siapapun yang sakit hati karena cinta,
dia benar-benar akan bertindak nekat, dan menjadi lupa dengan akibat dari
tindakannya yang fatal itu. Orang bijak berkata: “Jika kamu sudah mabuk atau
mencintai sesuatu dengan berlebihan, sesuatu yang kamu cintai itu bisa
membuatmu buta dan tuli. Demikianlah yang sudah terjadi pada diri Kasman
sekarang ini. Hanya karena ingin melampiaskan kebenciannya pada Kandar, ia rela menjadi
manusia setan.
Beberapa saat kemudian, tibalah Rozaq
cs di sebuah rumah kosong berwarna coklat muda. Rozaq berkata, “Kita sudah
sampai. …Insya Allah, kalau dugaanku tidak keliru, Kasman ada di dekat sini.
Aku bisa merasakan hawa energinya.”
Memang benar. Bukit kecil tempat
Kasman duduk itu hanya terpaut sekitar 10 meter dari rumah besar bertingkat dua
itu. Kasman yang kini masih semedi, berkata sambil tersenyum mengejek,
“Bagus…bagus sekali. Orang-orang bodoh itu sudah berani mendatangi
sarangku…berarti mereka sudah siap mampus!!”
Setelah pada diam di mobil, Rozaq meminta
semua temannya untuk turun. Ketika Rozaq membuka pintu mobil, terdengarlah
rintihan lemah Isma. Beberapa detik kemudian, kekasih Hamdi ini membuka matanya
dengan perlahan. Tentu saja semuanya tersentak gembira. Murni yang tersenyum
sekaligus menangis, berkata, “Alhamdulillaah..Mbak
Is sudah sadar. Terima kasih banyak duh Gusti Allah.”
“Murni?”
ujar Isma lemah. “Bu Darti…”
“Iya Cah Ayu,” sahut Darti yang juga
tersenyum sambil menangis. “Aku dan Murni di
sampingmu terus.”
Isma bangkit dari tidurnya, lalu ia
sandarkan tubuhnya di jok. Dengan wajah seperti orang yang tidak makan selama
sepuluh hari sepuluh malam, Isma bertanya, “Di mana ini?…Berapa lama aku
pingsan?…Maksudku, kalau dihitung dari pingsanku yang terakhir tadi, berapa
lama aku tidur?”
“Sekarang hampir Shubuh,” sahut Rozaq.
“Kalau dihitung dari tadi sore, Mbak Isma pingsan hampir sepuluh jam.”
Isma terperangah. Dengan wajah teramat
pucat, Isma berkata, “Hampir sepuluh jam aku pingsan. …Aku tidak merasakan
apapun. Aku tidak mimpi sedikit pun. …Kupikir aku sudah menghadap Allah.”
“Jangan bicara begitu Mbak!” sahut Murni ketakutan. “Kalau Mbak Is meninggal sekarang, nanti
aku sama Pak Kandar gimana!?”
Darti berkata, “Cah Ayu, kenalkan
dulu. Ini Mas Ustadz Rozaq. Beliau juga muallaf
seperti kamu. Beliaulah yang sudah berusaha mati-matian membantu Pak Jamal
menyembuhkan kamu, dan lain-lain.”
Setelah mendengar semua penjelasan Darti, Isma berkata, “Terima kasih
banyak, Mas Rozaq. Saya tidak tahu harus bilang apa.”
“Sama-sama
Mbak,” sahut Rozaq tersipu. “Kita
belum boleh gembira dulu, soalnya guna-guna Kasman itu belum lenyap seratus
persen.”
Hening sejenak. Isma yang tiba-tiba
gelisah, bertanya, “Berarti jiwa saya masih
terancam?”
Pertanyaan itu sangat menusuk hati
Rozaq dan semuanya. Dengan penuh kearifan, Rozaq menjawab, “Kalau dilogis
memang begitu. Tapi Mbak Is yakin saja dengan kekuasaan dan kasih sayang Allah
SWT. Percayalah Mbak…ilmu santet yang paling hebat sekalipun, tetap akan takluk
oleh tauhid yang murni.”
Jawaban Rozaq itu sedikit mengurangi
ketakutan Isma. Beberapa saat kemudian, Hamdi cs menyalakan lampu penerang di
rumah besar itu. Selain senter dan lampu penerang, Hamdi dkk juga menyalakan
obor pemberian penduduk kampung sebelah. Setelah rumah tua itu terlihat cukup
terang, Hamdi dkk berkumpul di ruang tengah atau ruang keluarga rumah tersebut.
Mereka lega melihat Isma sudah sadar.
Sesaat kemudian Jamal menatap arlojinya,
lalu berkata, “Sekarang sudah adzan Shubuh. …Karena kita sedang berada di
tempat terpencil, kita tidak bisa mendengar
suara apapun…termasuk suara adzan.”
“Kita benar-benar sudah jauh dari kota,” ujar Kukun. Waluyo
menyambung, “Kami (menatap Rujan dan Kukun) juga dari desa, tapi kami belum
pernah melihat desa seperti ini. Desa kami di Gunung Kidul tidak seprimitif
ini, padahal desa kami sudah termasuk tempat terpencil.”
“Benar-benar desa mati,” ujar Hamdi.
Darti bertutur, “Kukira tempat-tempat seperti ini hanya ada luar di Jawa.
Hahh…ternyata di pulau kita ini juga masih ada. Maha Suci Allah.”
Rozaq menyambung, “Sampai kapan pun,
tempat seperti ini akan selalu ada.”
Sementara itu, di atas bukit kecil,
Kasman siap beraksi lagi. Kedua tangannya ia arahkan ke rumah tua yang sekarang
dihuni Hamdi cs. Kasman yang sudah marah besar, siap mengirim guna-gunanya
lagi. Dengan wajah lebih seram dari serigala mengamuk, Kasman berkata,
“Keparat-keparat, sebentar lagi kalian mampus! …Huh! Sudah terbukti kalian
tidak bisa melindungi Isma, tapi kalian masih nekat melawan Kasman. Huh!
Benar-benar bodoh! …Sekarang akan kucoba kemampuan orang baru itu. Kelihatannya
dia cukup meyakinkan.”
Sesaat kemudian Isma tersentak. Dada
dan kepalanya terasa sangat sakit. Isma yang duduknya diapit Murni dan Darti,
berteriak, “Kepalaku seperti mau pecah! Dadaku seperti terbelah! Aaah!!! Tolong
akuuu!! Murnii! Bu Dartii! Aaahh!! Dadaku seperti tertusuk! Dadaku seperti
berlobang! Aaargh!!!”
“Masya
Allah!” seru Darti melotot. “Kamu kenapa Non!?”
Darti hendak memeluk Isma yang
menyentuh dada dan kepalanya, namun mantan kekasih Hamdi ini menolak dengan
membentak, “Jangan sentuh aku! Nanti Aku tambah sakit! Dan nanti Ibu juga bisa
ketularan! Aaahh!! Dadakuu! Ooohh…ampuni aku duh Gusti Allah. Ampuni aku! Aaaah
(melotot)!!!”
“Astaghfirullah!”
ujar Darti yang melihat Isma kelesotan di lantai. “Ini pasti guna-guna
lagi!”
Ya Allah, gimana ini!!?” seru Murni histeris. “Mas Rozaq, cepat tolong Mbak Isma!!”
Rozaq yang terlihat ragu, langsung
mendekati Isma yang mengerang keras sambil menyentuh dadanya. Melihat Rozaq
hendak menolong, Isma membentak, “Jangan! Jangan dekati aku! Jangan sentuh aku!
Nanti kamu malah menambah deritaku! Jangan!”
“Tenang Mbak Is, tenang..tidak
apa-apa.”
Isma membentak, “Jangan dekati aku! Hahh!
Kamu budheg ya!?”
Rujan melotot, “Suaranya mulai berubah
lagi.”
“Memang,” sahut Rozaq tenang. “Dia
sudah kesurupan lagi.”
Beberapa detik kemudian, kedua tangan
Rozaq berhasil mencengkeram kepala Isma. Rozaq membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas dan ayat Kursi.
Isma menjerit dengan perpaduan suara lelaki dan perempuan. Setelah kehabisan
tenaga, Isma merangkak di hadapan Rozaq dengan kepala menunduk. Hening sejenak.
Dengan posisi
tubuh tetap merangkak dan menundukkan kepala, Isma tertawa dengan suara lelaki
yang besar dan serak. Rozaq dkk yang sudah bisa bernafas lega selama satu
menit, harus terkejut lagi melihat keanehan di hadapan mereka.
Isma berkata dengan suara lelaki,
“Hebat juga kamu.” Sedetik kemudian Isma menyerang Rozaq. Rozaq tidak sempat
mengantisipasi serangan yang sangat cepat itu. Kedua tangan Isma mendorong dada
Rozaq. Mantan pendeta muda ini roboh. Isma yang sudah berdiri tegak, mengangkat
kepalanya dengan perlahan. Wajahnya menjadi seram lagi seperti tadi. Ia membuka
matanya dengan perlahan. Kalau tadi matanya putih semua, kali ini matanya merah
menyala. Ia benar-benar berubah menjadi iblis betina. Ia tatap Rozaq cs yang
semakin terperangah, setelah itu ia berkata:
“Sekarang akan kujelaskan, siapa
makhluk-makhluk yang tadi sudah mengganggu kalian. Makhluk-makhluk yang sudah
membuat kalian takut setengah mati. hua ha haa!!”
“Suara Kasman..” kata Hamdi. Isma yang
wajahnya semakin mengerikan, berkata, “Perempuan tak berkepala tadi mantan
penduduk Kates Abang ini. Namanya Nilah. …Dia perempuan yang dikhianati
suaminya, sekaligus korban perkosaan tujuh lelaki. …Setelah jiwanya dihancurkan
oleh suaminya sendiri, dia memilih jalan pintas. Dia menggantung diri di pohon
nangka yang ada di halaman belakang rumahnya.”
Suaminya yang hobi main perempuan,
hanya terkejut sedikit saat menemukan jasad Nilah sudah tak bernyawa. Setelah sedih sebentar, perempuan
selingkuhannya minta agar jasad Nilah dihilangkan tanpa bekas. Suaminya yang
iblis itu setuju. Dia potong kepala Nilah, lalu ia buang kepala istrinya ke
tempat yang jauh dari badannya. Setelah itu baru ia kubur badan istrinya di
tanah kosong yang jaraknya dengan rumahnya tidak begitu jauh.”
Hening sesaat. Hamdi cs kian
terlongong-longong mendengar
cerita menyeramkan itu. Suara Kasman melanjutkan, “Lalu anak kecil tadi, yang kalian sebut
Tuyul. …Dia anak kandungnya Nilah…tapi anak hasil perkosaan Tugono, sahabatnya
Gondo, suaminya Nilah. …Saat anak itu lahir, wujudnya memang sudah mengerikan. Kepalanya
lebih besar dari badannya, seperti orang yang terkena tumor. Hidungnya terlalu
mancung, bibirnya terlalu besar dan dower. Kedua telinganya lancip dan panjang.
Orang-orang pintarnya desa ini mengatakan, itu karma dari ulah lelaki bejat bernama Tugono.”
Melihat Hamdi cs hanya melongo, Isma
semakin semangat bercerita. Ia melanjutkan, Tugono tidak mau mengakui anak aneh
itu sebagai anak kandungnya. Dalam kehidupan sehari-harinya, Tugono hanya
memberi anaknya makan-minum. Setelah berusia delapan tahun, Tugono mengusir anak itu. Ia
tidak ingin mempedulikan lagi anak kandungnya
yang sudah membuatnya malu. Anak itu pergi ke hutan, pindah ke desa sebelah,
tidur di tepi jalan, berebut makan dengan binatang, dan sebagainya. Sampai pada
suatu pagi, anak itu tertabrak truk besar tanpa sengaja, dan akhirnya meninggal
dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Orang-orang desa Kates Abang berkata,
“Sudah anaknya jelek, matinya juga jelek. Mungkin sudah takdir nasibnya selalu
jelek.”
Yang lain menyambung, “Itulah wujud
dari anak perkosaan. Apalagi yang memperkosa ibunya lelaki bejat.”
”Tugono itu bukan bejat lagi,” sahut
yang lain. “Dia iblis berwujud manusia.”
“Begitulah kisahnya,” tutur Isma
dengan suara Kasman. “Hah ha haa! Kalian sudah melihat sendiri kehebatanku.
Kalian sudah melihat sendiri
kesaktianku. Aku bisa menguasai
arwah mereka, untuk kujadikan makhluk piaraanku. Hua ha ha haa!!!”
“Perempuan tanpa kepala tadi bukan arwahnya Nilah,” tutur Rozaq tenang.
“Tuyul tadi juga bukan arwah anaknya Tugono.”
“Maksudmu?”
Dengan wajah mengejek, Rozaq bertutur,
“Menurut sumber atau riwayat-riwayat yang shahih, yang kuat kebenarannya…orang yang sudah mati itu
arwahnya tidak bisa gentayangan lagi di dunia. Arwahnya sibuk menghadapi
pertanyaan di alam kuburnya masing-masing, jadi tidak sempat berkeliaran,
apalagi kembali ke alam dunia hanya untuk menakuti orang. …Memang ada beberapa arwah yang bisa
berkeliaran, tapi hanya arwahnya manusia-manusia khusus, manusia-manusia istimewa.
Selebihnya, Rozaq yang bodoh ini tidak tahu. Allahu a’lam.”
Diam sejenak, “Dan untuk masalah ghaib, kita tidak
boleh membahas terlalu dalam. Ilmu kita yang dangkal ini tidak akan bisa
memahami hal-hal ghaib. Hanya Allah yang berhak mengurusi segala perkara ghaib.
Dan jika mereka bertanya kepadamu (Rasul-Nya) tentang roh, katakanlah: Roh itu
termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi ilmu, kecuali hanya sedikit.* ”
“Nah..Rasulullah saw yang manusia
paling suci saja tidak bisa memberi jawaban, apalagi manusia-manusia lemah
seperti kita. …Makanya, aku sangat menyangsikan kamu bisa mengendalikan arwah,
termasuk arwahnya Nilah, juga anaknya yang seperti Tuyul itu. …Tuyul dan
perempuan tak berkepala tadi bukan arwahnya Nilah dan anaknya. Mereka hanya
makhluk halus, hanya jin yang menyerupai Nilah.”
Hening sejenak. Isma termangu-mangu mendengar semua
penjelasan Rozaq. Hati kecilnya mengatakan, semua penjelasan ustadz muda di
hadapannya itu memang benar belaka. Setelah diam beberapa detik, Isma
memejamkan kedua matanya yang merah menyala, lalu menundukkan kepala. Hamdi cs
terkejut melihat Isma tiba-tiba seperti tidur sambil berdiri. Sementara itu,
Kasman yang masih berdiri di atas bukit kecil, berkata, “Huh! Mungkin memang
benar semua penjelasanmu, toh kalian memang ahli agama. Tapi aku tidak peduli!
Pokoknya sekarang aku sudah sakti mandraguna! Dan kalian sudah melihat sendiri
buktinya. Kalian sudah berhasil kubuat kalang kabut! Hua ha ha haa!”
Catatan Kaki: * Al-Quran surat Al-Isra’, surat ke 17 ayat 85
Setelah
tertawa binal, Kasman melotot, “Siapa pun yang berani menghalangi keinginanku,
kupastikan dia mampus! Mampus!!”
Hening sejenak. Dengan nada suara
lebih lembut, Kasman berkata, “Isma…bunga hatiku…perempuan yang paling kucintai
di dunia ini…aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Sebentar lagi kamu akan
kubuat setengah mati. Sebentar lagi kamu akan kusiksa habis-habisan. …Kalau
kamu jadi milik lelaki selain Kandar, aku masih bisa terima. Tapi karena kamu
sudah jadi milik bedebah itu, dengan sangat berat hati, aku harus membuatmu
menderita panjang!”
Wajah Kandar tiba-tiba muncul di
hadapan Kasman. Kehadiran musuh bebuyutannya itu membuat amarahnya mencapai
puncak. Wajahnya benar-benar seperti setan jahanam. Dengan mata melotot dan
bibir cengar-cengir, Kasman berseru, “Keparat!! Sampai kapan pun, kamu tidak akan
bisa membahagiakan Isma! Sebentar lagi hatimu akan terluka untuk selamanya!”
Kasman mengarahkan sepuluh jarinya ke
rumah yang ditempati Hamdi cs, setelah itu berkata, “Nah bunga hatiku, sekarang
rasakanlah puncak ilmu setanku.”
Kasman benar-benar sudah mantap untuk
menyiksa wanita yang sangat dicintainya. Isma yang seperti tidur sambil
berdiri, tiba-tiba bergerak dengan tersentak. Tubuhnya seperti disetrum listrik
bertegangan tinggi. Isma kembali membuka matanya yang merah menyala. Dengan
wajah semakin mengerikan, Isma berseru, “Sekarang aku benar-benar akan
menghabisi kalian! bersiaplah!”
“Masya
Allah!” seru Rozaq. “Hawa iblis di tubuhnya semakin besar. Kemungkinan
besar, inilah puncak ilmu santetnya.”
“Aku juga menduga begitu Zaq,” sambung
Jamal yang berdiri di samping kanan
Rozaq. Kukun yang paling ketakutan, berkata, “Lihat wajahnya. Wajahnya tambah
seram!”
Murni berkata sambil menangis, “Ya
Allah. …Mbak Is, kenapa nasibmu seburuk ini?”
“Kupikir tadi sudah mau beres..” sambung Darti yang juga
mau menangis. Isma yang kini mengincar Rozaq, berkata dengan suara Kasman,
“Sekaranglah saatnya untuk menentukan siapa yang terkuat di antara kita.”
“Subhanallah.”
Jawab Rozaq sambil melangkah mundur. “Makhluk terkutuk! Kamu tidak akan
melawan aku. Kamu akan berhadapan langsung dengan Allah SWT!”
“Tutup mulutmu, ustadz muda! Sekarang
ayo kita duel habis-habisan!”
Isma
menggeram seperti macan betina. Ia lontarkan tinju kanan-kirinya ke Rozaq, namun Rozaq dapat
menangkis dua pukulan maut itu. Melihat dua serangan beruntunnya gagal, Isma
langsung mengirim serangan berikutnya. Tangan kirinya menonjok perut Rozaq,
disusul bogem kanannya
yang menghujam muka lawan dengan telak. Mantan pendeta muda ini melangkah
mundur dengan sempoyongan. Hidungnya berdarah sedikit. Isma yang kesetanan,
terus merangsek lawannya yang mulai terdesak. Ia lontarkan lagi bogem kanannya, namun kali ini
tidak mengenai sasaran. Tangan kiri Rozaq berhasil menangkis pukulan besi itu.
Melihat pertahanan Isma terbuka agak
lebar, Rozaq langsung bertindak menuruti instingnya. Kedua tangan Rozaq
mencengkeram kepala Isma, lalu Rozaq membaca surat Al-Fatihah, namun masih belum berdampak
bagi Isma. Isma meraung, lalu mendorong dada Rozaq. Kedua tangannya yang
seberat 30 kg itu kembali menyerang Rozaq yang melangkah mundur, namun Rozaq
sudah lebih siaga. Ia kunci kedua tangan maut Isma, lalu ia kembali
mencengkeramkan kedua tangannya ke kepala Isma. Ia baca surat Al-Ikhlas tiga kali, setelah itu ia
susul dengan ayat Kursi dan lafadz-lafadz dzikir.
Beberapa saat kemudian, usaha keras Rozaq
mulai membuahkan hasil. Isma yang sekarang dikendalikan oleh puncak ilmu hitam
Kasman, menjerit kesakitan. Kedua tangannya mencoba melepaskan kedua tangan Rozaq
yang mencengkeram erat kepalanya. Rozaq melihat Isma semakin kehabisan tenaga.
Rozaq membentak, “Makhluk biadab! Cepat keluar dari tubuhnya! Jangan pernah
ngganggu dia lagi! Ayo cepat!”
Suara Kasman menyahut, “Aku belum
kalah! Dan takkan pernah kalah!”
Rozaq menggelengkan kepala, “Apa yang
kamu cari di dunia fana ini? sampai kamu rela jadi setan begini. Iblis macam
apa yang sudah merasuki hatimu!? Sampai kamu tega mau membunuh perempuan yang
sangat kamu cintai!”
“Tutup mulutmu!! Sekarang bukan
saatnya ceramah!”
Rozaq kembali menyerukan asma-asma
Allah. Sesaat kemudian, kesholehan mantan pendeta muda ini membuahkan hasil.
Berkat ijinNya, ia berhasil membuat Isma semakin lemas. Ia lemparkan tubuh Isma
ke samping kirinya. Isma roboh dengan posisi tubuh berbaring. Murni yang sangat
mencintai majikan perempuannya, membentak, “Mas Ustadz jangan keras-keras!”
“Tenang Mur, tenang!” ujar Hamdi agak
membentak. “Di saat segenting ini, Mas Rozaq terpaksa melakukan semua ini.
Beliau juga yang paling mengerti masalah ini. …Yakinlah, semua ini beliau
lakukan demi keselamatan Isma. Insya Allah, Isma akan baik-baik saja.
Percayalah Mur.”
Kata-kata bijak Hamdi itu langsung menenangkan
Murni yang sejak tadi cemas berat. Melihat
Isma pingsan lagi, Hamdi cs boleh merasa lega untuk sejenak. Rozaq yang
wajahnya penuh peluh, berkata, “Kalau dia masih bangkit lagi, aku angkat
tangan. …Sekarang aku sudah tidak mampu lagi menolong dia.”
Semua tersentak. Jamal berkata,
“Padahal dari kita semua, kamu yang kami anggap paling bisa mengatasi hal-hal
seperti ini.”
“Iya Mas Ustadz,” sambung Kukun
ketakutan. “Kalau Mas Ustadz Rozaq juga tidak mampu, berarti kita harus siap
dihabisi Kasman satu persatu.”
“Terus gimana ini!?” kata Murni menangis. Hamdi yang sekarang terlihat paling
tenang, berkata, “Tenang dulu semuanya..jangan histeris. Semuanya dzikir saja. Keselamatan mutlak di
tangan Allah.”
“Betul sekali,” sahut Nurman. “Kalau
nanti Mbak Isma masih kesurupan, kami siap membantu Ustadz Rozaq. Insya Allah, aku
akan berjuang sampai titik darah penghabisan.”
Jamal tersenyum, “Semoga Allah
merahmati Akh Nurman.”
Darti menyambung, “Pak Jamal, Mas Rozaq, Mas
Hamdi dan Mas Nurman sudah berusaha maksimal. Nanti berhasil atau tidak,
terserah Gusti Allah. Yang penting sekarang kita sudah pasrah.”
Beberapa
menit kemudian, Isma bangkit lagi dengan kondisi seperti tadi, bahkan kali ini
ia terlihat lebih bertenaga. Hamdi cs yang sudah merasa lega selama beberapa
menit, sekarang harus berjuang lagi melawan ketegangan. Isma yang hawa
membunuhnya semakin besar, kembali menyerang Rozaq dengan sepenuh tenaganya.
Namun Jamal dan Nurman bertindak lebih cepat. Mereka mengunci kedua tangan Isma
dari belakang. Isma meronta-ronta. Masing-masing tangannya dicengkeram erat
oleh dua lelaki bertubuh tegap.
Isma memelototi Jamal, “Kalian lagi.
huhh! Benar-benar goblog! Sudah tahu tidak bisa mengalahkan aku, tapi kalian
masih nekat ingin menghentikan aku. Grrhh! Jangan mimpi ya!?”
Jamal melotot, “Kamu sudah melakukan
kesyirikan, jadi kamu tidak akan bisa menang mutlak! Kesaktianmu ini akan hancur
oleh keikhlasan dan kesabaran! Hanya orang yang beraqidah murni saja yang bisa
memiliki keikhlasan dan kesabaran sejati.”
“Keikhlasan dan kesabaran sejati?”
tanya Hamdi dalam hati. Nasehat Jamal itu merasuk ke relung hatinya yang terdalam.
Melihat kedua tangan Isma sudah dilumpuhkan oleh Jamal dan Nurman, Rozaq
kembali melakukan ruqyah syar’iah, ruqyah
yang sesuai dengan ajaran Nabi saw. Jamal dan Nurman juga ikut ber-dzikir dan membaca ayat-ayat suci
Al-Quran. Sesaat kemudian, doa-doa mereka mulai membuahkan hasil. Kekuatan
‘putih’ itu kembali membuat Isma kesakitan. Ia mengerang keras, berusaha
melepaskan dirinya dari cengkeraman tiga lelaki alim.
Isma menundukkan kepalanya, tanda ia
akan roboh atau pingsan lagi. Namun Beberapa detik kemudian Isma mengangkat
kepalanya. Wajahnya terlihat segar lagi. Ia tersenyum mengejek, “Hebat sekali
usaha kalian. ha ha ha!”
Setelah itu ia melotot, “Tapi kerja
keras kalian cukup sampai di sini!”
Isma meraung keras, lalu ia lemparkan
tubuh tiga pria yang mencengkeram kepala dan kedua lengannya. Darti yang
melihat Rozaq, Jamal dan Nurman sudah tidak berdaya, langsung meminta
pemuda-pemuda kekar di sampingnya untuk membantu Rozaq. Begitu mendengar
perintah Darti, Waluyo, Rujan, Kukun dan Hamdi langsung mengepung Isma. Namun
Rozaq yang masih duduk di karpet, mencegah Waluyo dan kedua temannya yang mau
menerkam Isma. Tuturnya :“Percuma saja, kalian hanya akan membuang tenaga. Dia
tidak bisa lagi dilawan dengan kekuatan fisik.”
Rozaq berdiri, lalu bicara lagi, “Kekuatan
fisik sehebat apapun, tidak akan bisa menghentikan fisiknya yang sudah
dikendalikan kekuatan jahat. …Dia hanya bisa dilawan dengan kekuatan rohani yang
suci, yang bersih dari noda-noda kemusyrikan, kekafiran, kebid’ahan dan
kemunafiqan.”
“Masya
Allah!” ujar Hamdi lirih. Dengan wajah berkeringat dingin, Hamdi menatap
Jamal dan Rozaq, setelah itu bergumam, “Mas Rozaq dan Pak Jamal ini tingkat kesholehannya
sudah tinggi sekali..tapi mereka mengaku sudah tidak mampu menyembuhkan Isma.
Apalagi aku yang hina ini. …Keikhlasan dan kesabaran sejati. …Yahh…memang hanya
dua hal itu yang bisa menjaga iman dan amal sholeh seorang Mukmin. Memang hanya
dua hal itu yang bisa menyelamatkan seorang mukmin dari perangkap iblis,
makhluk jelek yang selalu dilaknat Allah.”
Isma tertawa keras, setelah itu
berkata, “Jadi kalian sudah menyadari keterbatasan kemampuan kalian? Jadi
kalian sudah mengakui keunggulanku? …Hah ha ha! Memang sudah selayaknya.
…..Nah, sekarang siapa lagi yang mau maju!?”
Rozaq menatap Hamdi dengan wajah penuh
harap. Ia berkata, “Mas Hamdi, cobalah.”
Hamdi melotot: “APA!? AKU!!?”
Rozaq mengangguk. Hamdi yang seperti
disambar halilintar, berkata, “Kalian saja tidak bisa, apalagi Hamdi yang
banyak dosa ini.”
“Jangan pesimis sebelum bertindak.
Cobalah…nanti kita bantu.”
“Iya Mas, cobalah…” sambung Nurman.
“Jangan kalah sebelum perang.”
Jamal menyambung, “Setidaknya kemarin siang antum sudah
berhasil menolong dia. Nah, sekarang tidak ada salahnya antum mencoba lagi.”
“Tapi…”
“Tidak ada waktu lagi!” seru Rozaq.
“Cobalah. Berusahalah melakukan dengan seikhlas-ikhlasnya. Insya Allah, nanti antum akan mendapat kekuatan besar.”
“Ikhlasnya itu yang berat sekali,”
sahut Hamdi dalam batin. Ia pejamkan kedua matanya, setelah itu mengangguk
mantap, “Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Sekarang aku harus bertindak
cepat.”
Isma ganti menatap Hamdi yang
menantangnya dengan berani. Setelah berdiri berdekatan, kedua tangan Hamdi
mencengkeram kedua tangan Isma yang mau memukul atau mencakarnya, namun sedetik
kemudian, Isma berhasil menarik kedua tangannya dari cengkeraman tangan mantan
kekasihnya. Ia lontarkan cakar kirinya, namun tangan kanan Hamdi menangkis cakar setan itu. Ia
ganti melepas bogem kanannya, dan tepat mengenai pipi kiri Hamdi.
Melihat Isma terus merangsek, Hamdi
membaca surat
Al-Fatihah. Begitu surat
Pembuka itu selesai dibaca, Isma kembali melepas pukulan kanannya, namun tangan
kiri Hamdi menggagalkan pukulan itu mengenai sasarannya. Hamdi yang melihat
celah, langsung mencengkeram kepala Isma dengan kedua tangannya. Ia kembali
membaca surat
Al-Fatihah, ditambah surat-surat yang lain. Lagi-lagi kekuatan ‘putih’ yang
bersumber dari Quran-Hadits itu kembali membuat Isma mengerang kesakitan.
Setelah membaca surat-surat Al-Quran, Hamdi
mengucap, “Allahumma antas salaam, wa min kas salam, tabaarakta yaa dzal
jalaali wal ikraam. Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syarii kalahu, lahul
mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.”
Ya Allah, Engkau Pemberi keselamatan,
dan dariMu keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan
Kemuliaan. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau. Tidak ada sekutu
bagiNya, bagiNya segala kerajaan dan pujian. Dan Dia berkuasa atas segala
sesuatu.”
Hamdi membacanya berulang kali, sampai
akhirnya membuat Isma menjerit dengan suara lelaki dan perempuan. Kasman yang
berdiri di bukit kecil, terkejut bukan main. Tubuhnya seperti ditusuk dua puluh
panah api. Kasman yang sejak tadi belum bisa dilukai, maksimal hanya bisa
direpotkan oleh doa-doa Rozaq, Jamal atau Nurman, kali ini benar-benar
merasakan dahsyatnya kekuatan doa lawan. Ia muntah darah, disusul darah yang
muncul dari hidung dan kedua telinganya. Rupanya kekuatan setannya gagal
menembus pertahanan lawan, dan kembali ke dirinya.
Sambil berlutut, Kasman mengangkat
kedua tinjunya di atas kepalanya, setelah itu ia berteriak sekeras-kerasnya.
Seiring dengan itu, Isma juga menjerit kesakitan, lalu ia tonjok dada Hamdi
dengan kedua tinjunya. Hamdi dan Isma sama-sama roboh. Isma pingsan dengan
wajah tertutup rambutnya yang panjang dan tebal. Darti dan Murni
yang cemas bukan main, ingin mendekati Isma yang berbaring di lantai, namun
Rozaq melarang mereka. Rozaq ingin memastikan dulu kondisi Isma. Ia mendekati
Isma dengan berjalan mengendap.
Setelah berada satu meter di hadapan
Isma, Rozaq berkata, “Sepertinya aku sudah tidak merasakan lagi hawa iblis di
tubuhnya.”
Sekarang kita tengok Kasman yang
terluka parah akibat ilmu santetnya sendiri. Ia telah menerima senjata makan
tuan. Ia mencoba berdiri, namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit.
Akibatnya, pria kejam yang pernah menjadi pacar Isma ini jatuh dari bukit
dengan tubuh berguling-guling. Setelah berada di bawah bukit kecil, Kasman
berteriak sekuat tenaga. Ia benar-benar menderita ganda. Fisik dan batin. Fisiknya
terluka oleh ilmu setannya sendiri, sedangkan batinnya terluka karena gagal
membalas dendam kesumatnya pada Kandar.
Padahal sebelumnya ia sudah nyaris berhasil membuat hati Kandar terluka untuk selamanya, namun
akhirnya gagal oleh kesucian hati seorang pria pengurus masjid.
Sambil tengkurap di tanah, Kasman yang
wajahnya semakin tidak karuan, berseru, “Hamdi! …Siapa kamu!? Dari mana
asalmu!!? …Kok kamu bisa memadamkan Aji Dhemit Mengamukku!!?…hahh…hahh. …Tenaga dalam (menatap kedua
tapak tangannya) yang kupelajari dengan mati-matian ini…akhirnya bisa
ditaklukkan oleh seorang pemuda yang juga mencintai bunga hatiku.”
Hening sejenak. Kasman yang merasa
tulang belulangnya seperti patah semua, menggeram, “Kurang ajar kamu Hamdi!! KURANG
AJAR!!!”
Dengan susah payah, akhirnya Kasman bisa berdiri
tegak lagi. Dengan tubuh terhuyung-huyung, Kasman berkata, “Aku belum kalah. Hah...hahh. Aku belum
kalah! …Tunggu saja, bedebah-bedebah!”
Sekarang balik ke Isma yang masih
pingsan. Rozaq yang masih berdiri di sampingnya, berkata, “Wajahnya belum
terlihat. Tapi Insya Allah, guna-guna
di tubuhnya sudah hilang.”
“Hilang seratus persen atau belum?”
Tanya Waluyo. Rozaq mengangguk, “Insya Allah sudah.”
“Tapi kenapa Mas Rozaq belum berani
mendekati Mbak Is?” Tanya Darti. Rozaq menyahut, “Aku masih harus waspada.”
Hening sejenak. Hamdi yang sudah
berdiri, mendekati Isma dengan perlahan. Rozaq menyentuh tangan kirinya,
“Jangan dulu Mas.”
Hamdi mengangguk, “Insya Allah tidak apa-apa.”
Hamdi menyentuh tangan Isma, setelah
itu ia sibak rambut yang menutupi wajah mantan kekasihnya. Melihat wajah Isma
sudah normal lagi, Hamdi dan semuanya tersenyum lega. Hamdi berkata, “Ustadz
Rozaq benar. Guna-guna itu sudah lenyap seratus persen.”
“Alhamdulillaah..”
ucap semuanya. Sesaat kemudian Isma sadar. Begitu kedua matanya terbuka
dengan perlahan, ia berkata lemah, “Mas Hamdi…”
Hamdi tersenyum bahagia. “Kamu sudah
baik lagi?”
Isma mengangguk sambil tersenyum. Darti
dan Murni langsung memeluk Isma. Tiga perempuan ini menangis tersedu-sedu.
Darti menceritakan, begitu beratnya perjuangan Hamdi dkk untuk melepaskan Isma
dari jeratan ilmu hitam Kasman yang sangat mengerikan. Setelah mendengar cerita
Darti, Isma menatap mantan kekasihnya dengan wajah penuh kasih. Isma menangis
karena terlalu bahagia. Hamdi yang tersipu, berkata :
“Jadikanlah peristiwa besar ini
sebagai pelajaran paling berharga dalam hidupmu.”
“Pasti Mas,” sahut Isma yang badan dan
kepalanya dipangku Murni. “Inilah peristiwa
terheboh dalam hidupku.”
Rozaq menyambung, “Peristiwa ini bisa
memotivasi Mbak Is untuk belajar agama lebih dalam.”
“Iya Mas Rozaq, aku sudah berniat begitu. Makasih
banyak untuk Mas Rozaq.”
Rozaq tersipu, “Saya tidak berbuat
apapun, selain hanya berusaha.”
Darti menyahut, “Usaha anda itulah
yang ingin dihargai Mbak Ayu.”
Tiba-tiba Hamdi cs dikejutkan oleh
suara teriakan dari luar rumah. Sesaat kemudian, muncullah sesosok tinggi besar
dari pintu masuk rumah itu. Ternyata itu Kasman. Wajahnya berkeringat darah. Dengan nafas
tersengal-sengal, ia menunjuk Hamdi dkk, lalu mengumpat, “Keparat-keparat!
Kalian jangan gembira dulu! Aku belum kalah! Hah..hah. Aku tidak akan kalah
semudah ini!”
Setelah mengumpat, Kasman roboh di
hadapan Nurman dkk. Hamdi mendekati Kasman yang duduk di lantai, lalu berujar,
“Kasman…kejahatanmu cukup sampai pagi ini. Jangan pernah ganggu Isma lagi. …Sekarang
bertobatlah, mumpung kamu masih punya kesempatan secuil. Kalau tidak, kamu akan
menderita untuk selamanya.”
Jamal menyambung, “Bertobatlah. Allah
Maha Pengampun. Tenangkan hatimu yang kotor itu dengan dzikrullah, agar kamu bisa mengusir dendam kesumatmu pada Pak
Kandar. …Bertobatlah Kasman!”
“TIDAAAK!!!”
Kasman berdiri dengan susah payah. Ia pelototi Hamdi cs dengan
kebencian selangit. Ia berkata, “Kalian semua akan kubinasakan! ...Desa Kates
Abang ini akan menjadi kuburan kalian! …Tapi sayang, masih ada satu bedebah yang sekarang tidak ada. Dialah bedebah yang
paling utama. Dialah yang sudah membuatku jadi setan begini!”
“Omong
kosong!” bentak Hamdi. “Kamu jadi begini karena kamu sendiri!”
“Tutup mulutmu!! Huhh! Kamu tidak tahu
apa-apa soal urusan
pribadiku!”
“Kasman!” bentak Isma yang masih duduk
di lantai bersama Murni dan Darti. “Apa belum
cukup kamu menyiksaku seperti ini!? haa!? apa belum cukup kamu membuatku
menderita begini!!? …Kamu memang aneh, Kasman. …Kamu bilang mencintaiku, tapi
kenapa kamu tega mau bunuh aku!?”
“Huh! Semua ini gara-gara Pesek
bedebah itu! …Kalau bukan karena dia, sekarang kamu sudah jadi istriku!
ISTRIKU!!”
Isma menggelengkan kepala, “Kamu salah, Kasman.
Hubungan kita sudah berakhir sebelum Mas Kandar
melamarku. …Setelah kita putus dulu, kamu hanya kuanggap saudaraku, kakakku. …Sudah
bagus kamu kuanggap kakak. …Tapi inikah balasanmu?”
“CUKUP!!! Aku tidak mau ngomong soal
itu lagi!!”
“Hati-hati semuanya!” seru Hamdi. “Ilmu
shirnya sudah hilang, tapi dia masih punya kekuatan fisiknya!”
Kasman yang siap menyerang Hamdi dkk,
berseru, “Sekarang kalian semua harus mampus! Termasuk kamu (menunjuk Isma)!”
“Langkahi dulu mayatku!!” bentak
Waluyo yang emosinya sudah meledak. Ia menyerang Kasman dengan pentung kayu
sepanjang 50 cm. Tiga pukulannya menghujam sasaran dengan telak. Pukulan
pertama menghujam bahu kanan Kasman, sedangkan pukulan kedua dan ketiga
menghujam muka musuh bebuyutan Kandar
ini. Tiga pukulan maut itu membuat Kasman terhuyung-huyung. Waluyo yang sudah
kalap, langsung mengirim pukulan keempat. Pentung kayunya menghujam gundul
Kasman dengan sangat telak. Kasman jatuh berlutut di hadapan Waluyo.
Sambil metenteng, Waluyo berujar,
“Mana kesaktianmu tadi? Haa!? Kenapa tidak kamu keluarkan lagi!?”
Kasman hanya meringis menahan sakit. Posisi
tubuhnya merangkak. Kepala plonthosnya menunduk. Waluyo merasa terhina melihat
Kasman seperti tidak menggubrisnya. Amarah pemuda kekar ini semakin meledak.
Dengan tubuh bergetar keras karena menahan marah, Waluyo membentak, “Botak
keparat! Kamu harus merasakan akibat perbuatanmu tadi! Kamu harus merasakan
derita Mbak Is! …Sekarang rasakan ini!”
Waluyo memukulkan pentung kayunya
untuk yang kelima kalinya. Pentung kayu itu ingin menghujam botak atau tengkuk
Kasman, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Dengan posisi kepala masih
menunduk, tangan kiri Kasman menangkis pentung kayu itu dengan mudah. Waluyo
tersentak. Kasman menatap bawah, namun
ia bisa menangkis pukulan Waluyo dengan mudah. Benarkah mata Kasman
tidak hanya dua? Benarkah di tubuhnya masih ada sisa-sisa ilmu hitamnya?
Melihat Waluyo bengong, Kasman
langsung menghujamkan bogem kanannya ke muka lawan. Begitu kerasnya pukulan
itu, sehingga membuat Waluyo terkapar. Kasman mencabut pisau besar di pinggang
kirinya, lalu ia acungkan ke Hamdi. “Sekarang ayo kita duel yang jantan!”
Hamdi yang juga sudah emosi,
mengangguk mantap. “Kuterima tantanganmu.
…Asal bisa menolong teman-temanku ini, Insya
Allah, aku siap melakukan apapun.”
Alangkah geramnya Kasman melihat Hamdi
menerima tantangannya dengan gagah berani. Hamdi mencabut pisau besarnya yang
ia taruh di meja. Besarnya kira-kira sama dengan golok Kasman. Hamdi meminta
semua temannya untuk menyingkir. Kasman menggeram, lalu menghujamkan goloknya
ke Hamdi. Duel sengit pun terjadi. Untuk beberapa saat, keduanya tampak seimbang. Kasman
yang sudah terluka parah akibat terkena ilmu setannya sendiri, belum bisa
menembus pertahanan Hamdi yang tangkas memainkan golok. Beberapa tebasan pisau
besarnya selalu bisa ditangkis oleh Hamdi.
Beberapa detik kemudian, Hamdi merasa
terlalu sempit untuk duel di dalam rumah. Sambil terus menangkis tebasan golok
Kasman, Hamdi melangkah mundur, dan akhirnya keluar rumah. Kasman membentak,
“Jangan kabur, pengecut! Kita belum duel habis-habisan!”
Kasman menyusul Hamdi keluar rumah,
setelah itu bertutur, “Duel hidup mati kita baru hampir separoh. Kenapa kamu
sudah ingin lari!?”
“Aku tidak lari. Aku hanya merasa
tidak leluasa duel di dalam rumah. …Menghadapi musuh sekuat apapun, asal aku di
pihak yang benar, aku tidak akan menyerah. Apalagi menghadapi manusia sekejam
kamu, aku tidak boleh mundur selangkah pun!”
Hening beberapa detik. Kasman melotot,
lalu mengangguk-angguk. “Bagus…bagus sekali. Ternyata kamu memang jantan. Kamu
memang satria sejati. Kamulah musuhku yang terkuat. …Kalau dibanding Arab busuk
itu, kamu jauh lebih pantas untuk memiliki Isma.”
Hamdi menggelengkan kepala. “Di dunia
ini..Isma bukan jodohku. Tapi kalau di akhirat nanti, siapa tahu..Insya Allah, Isma akan jadi pendampingku
yang abadi. …Kamu tidak bisa memiliki Isma, walaupun kamu sudah berusaha
mati-matian untuk memilikinya. Itu artinya Isma bukan jodohmu. …Harusnya kamu
berpikiran seperti aku. …Kamu tidak bisa mendapatkan Isma. Itu artinya, Allah
akan memberi kamu wanita lain yang sebaik Isma, bahkan bisa lebih baik. …Harusnya
kamu bersabar…bersabar menanti wanita lain yang akan diberikan Allah. Bukannya
malah jadi setan begini!”
“CUKUP!! Tidak usah ceramah
lagi! Sekarang ayo kita lanjutkan duel hidup mati kita yang tertunda!”
Hamdi menggelengkan kepala, “Memang sulit
sekali menasehati orang
yang sudah jadi budak iblis. Lebih sulit dari mencari sebutir uang logam di
kegelapan.”
Hamdi dan Kasman sudah siap tarung
lagi. Jamal, Rozaq, Nurman dan yang lain juga sudah berada di luar rumah.
Mereka melihat Kasman dan Hamdi berhadapan. Tinggi badan mereka terpaut agak
jauh. Sekitar 10 cm. Badan Kasman juga lebih besar dari Hamdi. Kasman yang
sudah jadi mutan atau makhluk eksperimen, bisa dikatakan unggul segalanya dari
sisi fisik. Badannya lebih tinggi, lebih besar dan lebih berotot dari Hamdi.
Namun semua itu belum menjamin ia bisa melumat Hamdi dengan mudah. Hal itu
sudah terbukti dari duel mereka di dalam rumah tadi.
Setelah pada pasang kuda-kuda, Kasman
membuka serangan. Dua lelaki kekar ini kembali bertarung sengit. Beberapa detik
kemudian, setelah keduanya tampak seimbang, golok Hamdi berhasil menembus
pertahanan Kasman. Tiga kali golok Hamdi menebas sasaran dengan cukup telak.
Tebasan pertama mengenai lengan kiri Kasman yang di atas siku. Tebasan kedua
mengenai perut Kasman, dan tebasan ketiga mengenai dada kirinya. Dari tiga
tebasan golok itu, tebasan terakhirlah yang mengenai sasaran cukup telak.
Kini dada kiri Kasman berdarah agak
banyak. Beruntung, fisik Kasman sudah dirombak menjadi sekuat harimau. Kalau
tidak, Kasman sudah tidak kuat berdiri. Sambil mencoba memampatkan darah di
dada kirinya, Kasman memelototi Hamdi dengan kebencian sepenuh hatinya. Kukun
berseru, “Terus Mas Hamdi! Terus! Iblis seperti dia tidak perlu dikasihani!”
“Iya Mas! cepat sikat dia!” sambung Waluyo
yang sudah benci berat pada Kasman. “Dia bukan manusia lagi, jadi Mas Hamdi
tidak perlu ragu untuk menghabisi dia! Ayo Mas!!”
“Botak jelek!” sambung Rujan. “Kalau
nanti kami sampai ngeroyok kamu, kamu benar-benar akan jadi tempe!”
Amarah Kasman meledak. Ia kembali
menyerang Hamdi dengan sepenuh tenaga dan kebenciannya. Beberapa saat kemudian,
tebasan goloknya yang sangat kuat itu berhasil membuat Hamdi keteteran. Hamdi yang sebenarnya lebih
terampil bermain golok, semakin kerepotan menghadapi kekuatan Kasman yang
seperti tidak bisa habis. Walaupun sudah terluka parah, Kasman masih tetap
menjadi lawan yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Beberapa detik kemudian,
golok Kasman berhasil menebas lengan kiri Hamdi yang di bawah siku, alias
bagian tulang hasta dan pengumpil.
Hamdi meringis kesakitan. Ia masih
beruntung, tebasan golok Kasman tidak mengenai lengannya dengan telak, sehingga
darah yang keluar dari lengan kirinya hanya sedikit. Melihat Hamdi semakin
keteteran, Kasman kembali mengirim serangan dengan sepenuh tenaganya. Beberapa
tebasan kemudian, golok Kasman berhasil menebas dada kiri Hamdi. Kali ini agak
telak mengenai sasaran. Hamdi merintih dengan rintihan yang lebih keras dari yang
tadi. Wajar saja, sebab lukanya sekarang lebih parah dari luka di tangan
kirinya tadi.
“Mas Hamdi!!” seru Isma yang terlihat
paling cemas dari semuanya. Kasman yang terus mendesak Hamdi melangkah mundur, berujar,
“Bahagia sekali kamu, dicemaskan bunga hatimu.”
Setelah berkata begitu, Kasman
melotot. Ia angkat parangnya di depan dadanya, lalu berujar, “Musuh terkuatku,
sekarang kamu akan kutaklukkan! HIAAA!!!”
Kasman
yang amarahnya sudah tak terkendali, menyerang Hamdi dengan membabi buta, namun
hal itu malah membuatnya membuka kelemahan dirinya. Tebasan goloknya menjadi
kacau, sehingga tidak pernah mengenai sasaran. Hamdi yang lebih tenang,
langsung memanfaatkan kelemahan Kasman itu. Beberapa gebrakan kemudian, golok
Hamdi berhasil mementalkan golok Kasman dari tangannya. Golok itu terlempar
cukup jauh dari pemiliknya, sehingga sulit untuk dipungut lagi. Kasman
menyentuh tangan kanannya sambil meringis.
Setelah mengatur nafas, Kasman
menyerang Hamdi dengan kedua lengannya yang dilapisi gelang besi. Namun baru
dua pukulan yang ia lontarkan, perutnya sudah tertebas golok Hamdi. Sedetik
kemudian, ganti dada kanannya yang tertusuk. Kasman mengerang. Ia hendak
menyentuh golok yang sudah menusuk dadanya cukup dalam, namun keburu dicabut
oleh pemiliknya. Kasman yang fisiknya sudah melemah, semakin tidak berkutik
oleh jurus-jurus golok Hamdi.
Selanjutnya, golok Hamdi menebas dada dan
perut Kasman, setelah itu menusuk perut kiri Kasman yang sedikit di atas
pinggang. Tusukan yang cukup dalam itu membuat Kasman menjerit. Pemandangan
mengerikan ini membuat Darti, Murni dan Isma memalingkan muka atau menutup mata
mereka. Mati-matian tangan kiri Kasman berusaha menahan laju parang itu.
Walaupun sudah terluka parah, Kasman yang sudah jadi setan ini masih sulit
untuk ditaklukkan. Beberapa detik kemudian, tangan kiri Kasman berhasil
mencabut golok Hamdi yang menusuk perutnya. Setelah itu tangan kanannya
menjatuhkan golok tersebut ke tanah.
Kasman menggeram. Tinju kanannya
memukul perut Hamdi dua kali. Hamdi membungkuk dan mengerang. Perutnya seperti
dipukul gada besi. Setelah itu mukanya ditonjok Kasman dengan tinju kirinya,
kemudian disusul tinju kanannya. Dua pukulan beruntun itu membuat Hamdi
terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh berlutut. Namun Hamdi langsung bangkit
lagi begitu melihat Kasman bergerak maju dengan sempoyongan. Kasman hendak
menyerang dengan kedua lengannya, namun Hamdi bergerak lebih cepat. Bogem
kanannya memukul muka Kasman, disusul tendangan kaki kanannya yang menghujam
telak dada Kasman. Kasman yang semakin melemah ini akhirnya roboh.
Hening sejenak. Hamdi berdiri di depan
Kasman yang merangkak di tanah. Dengan nafas tersengal-sengal, Hamdi membentak,
“Cukup Kasman! CUKUP!! …Bertobatlah…mumpung masih ada secuil kesempatan. …Bertobatlah
Kasman!!”
“Diam kamu!!”
Kasman bangkit dengan sisa tenaganya,
lalu ia dorong dada Hamdi dengan kedua lengannya yang sebesar betis lelaki
dewasa. Kasman dan Hamdi roboh bersama. Hamdi yang bangkit duluan, mendekati
Kasman yang sedang berusaha bangkit. Bogem kanannya memukul muka Kasman dua
kali. Kasman kembali merangkak. Melihat Kasman sudah nyaris takluk, Hamdi
melontarkan pukulan ketiga, namun kali ini Kasman bertindak. Ia tidak rela kepala
botaknya dijadikan sansak. Tangan kirinya menangkis tinju kanan Hamdi. Tentu
saja Hamdi tersentak. Kasman yang kondisi fisiknya sudah sangat mengenaskan itu
ternyata masih bisa mempertahankan dirinya dari kekalahan.
Melihat Hamdi melongo, Kasman langsung
bangkit, lalu ia pukul perut Hamdi dengan tinju kanannya. Dua pukulan dengan
tangan yang sama itu membuat Hamdi seperti kehilangan separoh tenaganya. Hamdi
harus merelakan perutnya dipukul tiga
kali. Melihat Hamdi membungkuk dan meringis, Kasman langsung mengirim serangan
berikutnya. Tinju kirinya menghujam pipi kanan Hamdi, disusul dua tinju
kanannya yang menggasak mulut dan hidung lawan. Imamnya masjid Al-Furqan ini roboh. Mulut dan
hidungnya berdarah banyak.
Kasman mendekati Hamdi yang sedang
berusaha bangkit, setelah itu ia lemparkan tubuh Hamdi ke semak belukar. Hamdi
nyaris menabrak pohon besar. Kasman yang amarahnya sudah mencapai puncak,
langsung mendekati Hamdi lagi. Fisiknya sudah terluka berat, namun kemarahannya
itulah yang membuat tenaganya masih terus mengalir. Ia bantu Hamdi berdiri
dengan paksa, lalu ia dorong Hamdi ke pohon besar. Kedua tangannya yang
dilapisi gelang besi itu mencekik leher Hamdi. Cekikan baja itu nyaris memutus
nafas Hamdi. Jika tidak ada yang menolong, beberapa detik lagi Hamdi sudah
tamat. Kedua tangannya belum berhasil
menarik kedua tangan Kasman yang mencekik lehernya.
Isma yang paling mencemaskan Hamdi,
berteriak, “Cepat tolong Mas Hamdi! Cepat!!”
Kukun dan Rujan yang sebenarnya
ketakutan, langsung mengambil senjata tajam masing-masing. Dengan keberanian
yang dipaksakan, dua pemuda ini membantu Hamdi yang nyawanya diujung tanduk.
Kasman yang nyaris mematahkan leher Hamdi, mendadak mengerang kesakitan.
Pinggangnya yang belakang ditusuk dengan parang oleh Rujan dan Kukun. Rujan
yang lebih pemberani dari Kukun, membentak, “Lepaskan dia bedebah! Ayo
lepaskan!!”
“Kurang ajar!!” bentak Kasman
kesakitan. Cekikannya di leher Hamdi mengendur. Rujan berkata lagi, “Setan terkutuk!
Kalau dia sampai celaka, hari ini kamu terakhir menikmati keindahan desa ini. Huhh!
Awas kalau kamu berani menyiksa Mbak Isma lagi! Sekarang cepat lepaskan dia!
Atau kamu ingin golokku ini menembus perutmu!!?”
Dua
pisau besar itu semakin menusuk pinggang belakang Kasman. Tentu saja Kasman
semakin kesakitan. Cekikannya makin mengendur, dan akhirnya lepas. Hamdi yang
lega bukan main, menyandarkan tubuhnya di pohon, lalu ia atur nafasnya yang nyaris putus.
Kasman berteriak dengan sepenuh tenaganya. Sedetik kemudian Kasman membalikkan
tubuhnya sambil menghujamkan bogem kanannya ke muka dua pembokongnya. Bogem yang
seperti linggis (besi) itu menghujam muka Rujan dan Kukun dengan sangat telak.
Dua pemuda kekar itu langsung ambruk dengan meninggalkan senjata mereka di pinggang
belakang Kasman.
Perlahan-lahan Kasman mencabut dua
parang yang menancap di pinggangnya. Kasman meringis, menahan nyeri yang luar
biasa. Setelah berhasil mencabut dua senjata itu, Kasman mengerang keras.
Seiring dengan itu, Isma juga meringis sambil menutup matanya. Kasman membuang
dua parang itu ke tanah, lalu membentak, “Cecunguk-cecunguk macam kalian mau
jadi jagoan!? Haa!!?”
Rujan dan Kukun yang duduk di tanah,
merinding melihat tatapan mata Kasman yang lebih tajam dari pedang. Dengan
tubuh sempoyongan, Kasman mendekati dua pemuda ini, lalu bertutur, “Kalian sudah
sangat lancang sama aku. Berarti kalian sudah siap mati!”
Kata-kata maut itu sangat menggetarkan
jantung Rujan, apalagi Kukun. Melihat Kasman mau menghabisi Rujan dan Kukun,
Waluyo yang tadi juga sudah dihajar Kasman, kembali menyerang Kasman dengan
pedang. Sambil berteriak lantang, Waluyo menghujamkan pedangnya ke bahu kanan
Kasman yang di dekat leher. Kasman
dengan sisa tenaganya, berhasil menahan pedang itu dengan tapak tangan
kanannya. Waluyo melotot. Kasman meraung keras, setelah itu ia hujamkan bogem
kanannya ke muka Waluyo. Pembantu Darti ini roboh di samping kedua temannya.
Hening sejenak. Hanya nafas berat
Kasman yang terdengar. Rozaq, Jamal, Andi dan Nurman yang berdiri di serambi
rumah, hanya bisa melongo melihat keperkasaan Kasman. Lukanya sudah sedemikian
parah, namun ia masih sulit ditundukkan. Hamdi yang masih menyandarkan tubuhnya
di pohon besar, bergumam,
“Keparat ini benar-benar monster!
…Kalau kondisi tubuhnya masih segar bugar, belum terluka sedikit pun,
diberondong lima belas peluru pun dia belum tentu bisa mati langsung. …Sungguh
hebat ilmuwan gila yang sudah merombak tubuhnya jadi sekuat ini. …Masya Allah. Tiada daya dan kekuatan,
kecuali dari Allah.”
Kasman yang berdiri di hadapan Waluyo,
Rujan dan Kukun yang sudah pada K.O, berseru, “Ayo! Siapa lagi yang mau maju!!?
AYO!!”
Melihat Kasman mau menghabisi tiga
pemuda di hadapannya, Nurman langsung bertindak mengikuti refleksnya. Ia
lemparkan dua obor yang dibawa Darti dan Andi. Dua obor yang apinya masih
menyala itu mengenai dada dan kepala Kasman. Kasman ganti memelototi Nurman,
lalu mendekatinya dengan langkah sempoyongan. Namun baru beberapa langkah,
Kasman sudah jatuh berlutut. Rupanya ia sudah kehabisan tenaga. Rozaq yang berdiri
di samping Nurman, berkata, “Bertobatlah Kasman…sebelum maut menjemput kamu.
…Bertobatlah sekarang!”
“Kasman..” tutur Isma lembut. “Kalau
kamu mau menuruti perintah Ustadz Rozaq…..aku mau memberi sedikit cintaku
padamu. …Aku mau sedikit mencintaimu…sebagaimana saat kita pacaran dulu.”
“DIAM KAMU!!!” bentak Kasman sambil
menunjuk mantan kekasihnya. “Aku sudah tidak cinta kamu lagi! Sekarang aku
sangat benci kamu! Sebagaimana aku membenci kalian (menunjuk semuanya)!!”
“Kasman..” kata Isma menangis. “Kalau
kamu mau bertobat…kamu boleh nikahi aku.”
Hamdi dan semuanya melotot. Isma
melanjutkan, “Demi Allah Kasman. Kalau kamu mau bertobat…aku mau jadi istrimu.”
“Tutup mulutmu!! Tidak usah ngomong
itu lagi! …Kamu sudah terlambat ngomong itu! SANGAT TERLAMBAT!!!”
“Belum terlambat!” sahut Hamdi yang
berdiri di belakang Kasman. “Aku juga sangat mencintainya (menunjuk Isma).
Bahkan aku berani bilang, rasa cintaku padanya melebihi rasa cinta suaminya.
…Kita semua tahu…selama dia dan suaminya hidup seatap, baru akhir-akhir ini
suaminya bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus. ...Sebelumnya, dia
diperlakukan tidak layak oleh suaminya yang kaya dan sombong itu. …Nah,
sekarang kalian semua sudah tahu. Itulah sebabnya dia nyeleweng. Itulah
sebabnya dia mencari lelaki lain yang dia anggap bisa memberinya cinta dan
kasih sayang sejati.”
Hening sejenak. Hamdi mengatur
nafasnya yang berat, setelah itu melanjutkan, “Tapi Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, sekarang suaminya sudah
sadar. Sekarang suaminya sudah bisa mencintainya dengan sepenuh hatinya.
…..Beberapa bulan yang lalu, saat aku melihat dia dan suaminya masih belum
rukun, aku langsung memberanikan diri untuk melamarnya. …Keluargaku datang ke
rumahnya, lalu minta kerelaan hati suaminya untuk menceraikan dia. …Bukan hanya
ortuku yang nembung suaminya untuk
melepaskan dia, tapi juga ibu keduaku, Ustadz Aris, Ustadz Arwan…dan dua teman
setiaku ini (menunjuk Nurman dan Andi).”
Tapi aku benar-benar kecewa. ...Hatiku
benar-benar sakit. …Suaminya yang kamu anggap musuh bebuyutanmu itu tidak
mengijinkan. Alasannya karena saat itu suaminya sudah mulai sadar. …Dan alasan
yang paling utama…suaminya masih mencintainya, walaupun sikapnya selama ini
semena-mena. …Selain itu, suaminya juga sudah tahu kalau perceraian itu tidak
baik, walaupun halal.”
Diam sejenak. Tangis Isma semakin
pilu. Darti dan Murni yang juga berhati lembut, langsung ikut meneteskan air
mata. Hamdi melanjutkan, “Untuk saat ini, kalau ada lelaki yang ingin menikahi
Isma, entah itu mantan pacarnya atau teman dekatnya, dia harus mengubur
dalam-dalam keinginannya itu. …Mungkin dia beranggapan, sekarang ini Isma masih
sering disiksa Mas Kandar. Mungkin anggapan itu yang membuat dia masih
berkeinginan untuk memiliki Isma. ….Nah..bagi yang masih berpikiran beitu,
sekarang akan kujelaskan. …Sekarang ini, kehidupan rumah tangga Mas Kandar dan
Isma sudah baik lagi, seperti saat pertama mereka menikah.”
”Sekarang ini Mas Kandar sudah tahu
kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Beliau sudah tahu caranya menjadi
suami yang baik, yang sholeh. Semua itu karena beliau sudah memiliki semangat
untuk mempelajari agama lebih dalam.”
Hening sesaat. Air mata Isma mengalir
semakin deras. Ia benar-benar terharu dengan kejujuran mantan kekasihnya. Kasman
yang sekarang menjadi manusia iblis, juga sedikit tersentuh dengan segala
tuturan Hamdi. Ia terkesima untuk beberapa saat. Hamdi mendekati Kasman yang
berlutut di tanah, lalu bicara lagi, “Tapi kamu tidak usah kuatir. …Aku akan
membantumu mendapatkan bunga hati kita ini (menunjuk Isma yang menahan tangisnya
yang sesenggukan). Aku janji Kasman…demi Allah. …Kalau sekarang kamu
benar-benar mau bertobat, insya Allah,
aku akan berusaha keras agar Pak Kandar mau menceraikan dia. Setelah itu kamu
bisa menikahi dia.”
Hening sejenak. Hamdi membelakangi
Kasman yang bengong. Isma menatap Hamdi dengan tatapan kasih sayang sepenuh
hatinya. Ia bergumam, “Mas Hamdi, alangkah mulia hatimu.”
Hamdi kembali menatap Kasman. Dengan
wajah penuh harap, harapan agar Kasman mau kembali ke jalanNya, Hamdi berkata, “Sekarang
bertobatlah. Allah Maha Pengampun. …Kamu masih punya secuil kesempatan untuk
bertobat. …Bertobatlah Kasman.”
“Diam kamu!!” bentak Kasman sambil
berusaha berdiri dengan susah payah. Setelah berdiri dengan sempoyongan, Kasman
berkata, “Sekarang kamu musuh utamaku, jadi mana mungkin aku mau menuruti
nasehatmu! Mana mungkin!!?”
Hamdi menggelengkan kepala. “Rupanya
kamu sudah memilih lembah neraka untuk jadi tempat kembalimu!”
Kasman
melontarkan bogem kanannya, namun pukulannya yang sudah sangat lemah itu dapat dihindari
dengan mudah oleh Hamdi. Begitu menghindari pukulan Kasman dengan membungkuk,
Hamdi langsung memungut salah satu pisau besar milik Rujan atau Kukun. Begitu
Kasman membalikkan tubuhnya, Hamdi langsung menusukkan parangnya ke dada kiri
Kasman. Tusukan itu begitu mantap dan begitu telak mengenai sasaran. Kasman
meraung keras. Hamdi berkata, “Islam sangat melarang pembunuhan…apalagi
membunuh orang yang seiman. …Tapi khusus untuk setan seperti kamu, tidak ada
larangan untuk dihabisi nyawanya. …Kalau kamu dibiarkan hidup, kamu bisa
menjadi pengacau kehidupan orang banyak.”
Kasman berlutut, lalu muntah darah.
Hamdi yang masih menusukkan parangnya di dada kiri Kasman, bertutur, “Dengan
kelakuanmu yang sekejam ini, aku tidak bisa membayangkan, seperti apa nasibmu
di alam kubur nanti. …Aku hanya bisa berharap, mudah-mudahan Allah masih
berkenan mengasihani kamu dengan kasihNya yang tanpa batas.”
Hening sesaat. Hamdi mengucap:
“Selamat tinggal, Kasman.” Setelah itu ia cabut parangnya dengan perlahan.
Kasman menjerit sekeras-kerasnya. Sedetik kemudian, tubuhnya roboh di tanah
dengan perlahan. Kedua matanya tertutup rapat untuk selamanya. Hamdi yang
ngos-ngosan, menaruh parangnya di samping kepala Kasman. Ia berjalan beberapa
langkah, setelah itu berkata, “Alhamdulillahi
Rabbil ‘Aalamin. Terima kasih Duh Gusti yang Maha Welas Asih. Terima kasih
atas pertolonganMu.”
Hamdi bersujud syukur selama beberapa
detik. Jamal, Rozaq, Nurman dan Andi mendekatinya. Rujan, Kukun dan Waluyo
berdiri, lalu ikut mendekati Hamdi yang beradu pandang dengan Isma. Isma yang
matanya masih basah, tersenyum manis. Hamdi membalas senyum menawan itu.
Setelah semuanya pada diam karena tidak bisa melukiskan kebahagiaan di hati
masing-masing, Rozaq berkata, “Kita wajib berterima kasih pada Mas Hamdi.
Beliaulah yang sudah berjasa besar dalam menuntaskan masalah berat ini.”
Jamal menyentuh bahu kanan Hamdi, lalu
berkata sambil tersenyum, “Akh Hamdi…antum benar-benar hebat.”
Hamdi tersipu, “Tiada Tuhan yang patut
disembah selain Allah. Allah Maha Besar. …Semuanya, berterima kasihlah pada
Allah, Zat Yang Maha Sempurna.”
Isma yang masih terus menatap Hamdi
dengan senyum menawannya, bergumam, “Mas Hamdi…kamu lelaki terbaik yang pernah
kukenal.” (Bersambung)
* * * * *
Karya: Harry Puter

0 comments:
Post a Comment