Sunday, 7 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Bagian Delapan)

Singkat cerita, tibalah Hamdi cs di desa Kates Abang. Sebuah desa terpencil di ujung utara Pulau Jawa. Waktu menunjukkan pukul empat kurang seperempat. Seorang pria tua dari desa sebelah melarang Hamdi cs masuk ke desa mati tersebut. Alasannya karena desa itu sangat angker. Siapa pun yang sudah masuk ke desa Kates Abang, yang akan keluar hanya namanya. Desa itu memang terkenal dengan hal-hal ghaibnya, termasuk untuk mendalami ilmu-ilmu santet. Lelaki tua itu mengatakan, yang bisa masuk ke desa keram
at itu hanya mereka yang benar-benar bernyali besar. Mendengar penjelasan itu, Rozaq tersenyum, “Terima kasih banyak atas nasehat Bapak, tapi kami lebih takut melihat teman kami tersiksa terus.”


         Setelah mobil Feroza biru dan Kijang hitam ini masuk ke desa Kates Abang, pria tua ini menggelengkan kepala, “Dasar anak muda, banyak tingkah. Huhh! ...Kalau sudah ketemu hantu penghuni Kates Abang, kalian baru tahu rasa.”
         Yang dimaksud hantu penghuni desa Kates Abang itu Kasman dan mbah gurunya. Kini dua mobil ini semakin masuk ke desa Kates Abang. Sejauh mata memandang, Rozaq cs hanya melihat pohon dan semak belukar lebat. Rujan yang masih memegang setir, bertanya pada Rozaq yang duduk di sampingnya, “Mas Rozaq sudah pernah ke sini?”
         “Belum…baru sekarang.”
         “Tapi sudah tahu ya?”
         Rozaq tersenyum. “Tiga tahun lalu aku ke desa sebelah tadi, jadi aku bisa tahu tempat ini.”
         “Ooo (mengangguk) begitu. …Ada acara apa di desa yang tadi?”
         “Ya sama..menolong orang kesurupan.”
         “Berhasil?”
         Alhamdulillah. …Tapi untuk yang sekarang ini (menengok Isma yang kepalanya dipangku Murni dan Darti ), aku benar-benar tidak yakin.”
         Kata-kata itu membuat senyum Rujan musnah. Ia berkata, “Memang sulit sekali ya Mas? …Aku juga baru sekarang melihat guna-guna sedahsyat ini. Padahal Ustadz Rozaq yang paling kita andalkan. …Kalau yang paling diandalkan saja sudah tidak bisa, mau gimana lagi?”
         Rozaq tersenyum malu, “Mas Rujan jangan terlalu memuji.”
         Rujan tersenyum. “Tapi aku yakin kok..Insya Allah. Mas Rozaq ini benar-benar hebat, benar-benar sholeh. Yah, kurang lebih sama dengan Pak Jamal atau Mas Hamdi.”
         “Astaghfirullahal’azhim.. sahut Rozaq semakin tersipu. Ia remas bahu kiri Rujan. Setelah hening beberapa detik, Rujan berkata, “Tapi kalau nanti Mas Rozaq sama Pak Ustadz Jamal tetap tidak berhasil, gimana Mas?”  
         “Subhanallah. Qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al.* …Sekarang kita memang cemas sekali. Tapi di sisi lain kita tetap harus optimis. Kebathilan pasti kalah oleh kebenaran. Yakinlah itu, Mas Rujan.”
         Ucapan Rozaq itu membuat Rujan sedikit tenang. Kini beralih ke mobil Kijang. Kukun yang takjub dengan pemandangan sekitar, berkata, “Ya Allah…ini desa atau hutan?”
         “Desa yang sudah jadi hutan,” sahut Waluyo yang masih memegang setir. Andi yang duduk ditengah, diapit Nurman dan Kukun, bertutur,  “Tak kusangka…di pulau kita ini masih ada tempat seprimitif ini.”
         “Iya ya Mas,” sahut Kukun merinding. “Tak kusangka, aku bisa sampai di tempat purbakala begini. …Hiii...masih gelap. Benar-benar mengerikan. …Kalau aku disuruh jalan sendiri di sini, walau dikasih seratus juta, atau dikasih istri secantik Dian Sastro atau Sandra Dewi, aku tetap tidak mau.”
         “Dasar penakut!” sahut Waluyo. Kukun menimpali, “Memang kamu bukan penakut!? Memang kamu berani di sini sendirian!?”
         “Yah...setidaknya lebih berani dari kamu. Tapi kalau diiming-imingi istri secantik Dian Sastro atau Sandra Dewi, ya harus diberani-beranikan.”
         Hening sejenak. Kukun melirik Andi dan Nurman yang tidak banyak bicara. Kukun tersenyum, “Kalau trio Al-Furqan pasti berani.”
         “Ya jelaslah,” sahut Waluyo tersenyum mengejek. “Mereka sholeh kok. Tidak seperti kamu. Sholat saja tidak.”
         Betapa malunya Kukun di hadapan takmir Al-Furqan. Sambil tersenyum malu, Kukun berkata, “Mas Hamdi atau Mas Nurman pasti berani disuruh sendirian di sini. Iya Mas Hamdi?”
         Hamdi tersipu, “Aku lebih takut sama ilmu santetnya Kasman. Benar-benar mengerikan.”
         “Iya ya Mas. Kok bisa ada guna-guna seperti itu. Kasihan banget Mbak Isma. Sehari penuh jiwanya dicengkeram jin jahat.”
         “Jadi di sini Kasman mempelajari ilmu santetnya?” Tanya Nurman. Hamdi mengangguk, “Kata Mas Rozaq begitu. Pastinya…wallahu a’lam.”
        
         Catatan Kaki: *“Segalanya sudah takdir Allah. Bila Allah sudah menghendaki sesuatu, sesuatu itu pasti terjadi.” Ucapan ini disunnahkan (dianjurkan) untuk diucapkan oleh orang yang sedang mendapat ujian atau musibah.
         Sekarang kita tengok lagi mobil Feroza. Murni yang membuka kaca mobil, mendadak tersentak. Ia melihat pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding. Di dekat bambu-bambu besar, Murni melihat sesosok tubuh ramping berbaju ungu. Murni melotot, lalu berseru, “Ya Allah! siapa itu!?”
         Semua tersentak, terutama Waluyo yang masih konsentrasi memegang setir. Darti yang memangku kepala Isma, bertanya, “Ada apa Mur!?”
         Murni yang ketakutan, berkata, “Tadi aku lihat orang, di dekat bambu-bambu!”       
         “Yang benar ah?” Tanya Waluyo agak gusar. “Kamu jangan ngaco!”
         “Betul! Tadi aku lihat orang di bambu-bambu besar!”
         Waluyo menyahut, “Kalau hati dan pikiran sedang kacau, apalagi takut, pikiran kita bisa menimbulkan ilusi yang bukan-bukan. Nah, jangan-jangan kamu hanya terbawa rasa takutmu.”
         “Tidak Mas, aku tidak berkhayal! Aku juga tidak sedang mengigau. Aku masih sadar. Tadi aku benar-benar lihat orang!”
         Keseriusan Murni itu membuat Waluyo lebih percaya. Darti bertanya, “Lelaki atau perempuan?”
        “Kurang jelas…tapi kelihatannya cenderung perempuan. Bajunya ungu muda, lengan pendek. Posisi tubuhnya berdiri, membelakangi kita. Wajahnya sama sekali tidak kelihatan”
         Hening sejenak. Darti dan Waluyo mulai merinding. Apalagi mereka juga tahu kalau Murni itu gadis lugu yang jujur. Murni yang masih terus menatap keadaan luar, berkata, “Hebat banget perempuan itu..berani sendirian di tempat sengeri ini.”
         “Memang siapa dia?” Tanya Darti. Waluyo menyahut, “Hanya ada satu orang. Orang gila.”
         Hening lagi sejenak. Rozaq yang terlihat paling tenang, bertanya, “Mbak Murni  yakin kalau yang Mbak lihat tadi perempuan?”
         “Yakin banget Mas. Tadi memang hanya samar-samar, tapi aku yakin itu manusia, perempuan..bukan hewan atau barang.”
         Sekarang ke mobil Kijang, di mana Kukun juga melihat apa yang tadi dilihat Murni. Rujan yang memegang setir, berkata sambil tersenyum mengejek, “Perempuan macam apa yang berani di sini sendirian? Perempuan sinting ya?...huh! Kamu jangan  mabuk di sini.”
         “Semprul kamu!” sahut Kukun marah. “Buat apa aku main-main di saat sengeri ini!? Tadi aku benar-benar lihat perempuan. Perempuan baju ungu!”
         Hening sejenak. Kukun yang paling penakut, terus mengawasi keadaan sekitar. Ia berkata, “Jangan-jangan dia mengikuti kita.”
         “Biarkan saja,” sahut Waluyo, “toh hanya perempuan.”                
         “Tapi kenapa bulu kudukku merinding? …Firasatku mengatakan, perempuan tadi bukan perempuan biasa. …Dia perempuan…”
         “Hantu maksudmu?”
         “Ehmm…bisa jadi.”
         Hamdi yang duduk di depan Kukun,  menatap keadaan luar, setelah itu berkata, “Tempat seseram ini, wajar kalau jadi sarangnya makhluk halus. Mungkin termasuk perempuan berbaju ungu itu.”
         “Dia  belum tentu hantu,” sahut Waluyo. “Mungkin penduduk desa sebelah, atau  orang sinting, kurang kerjaan.”
         “Itu penjelasan logisnya,” sahut Andi. Kukun yang masih menatap semak belukar dan pepohonan, berkata, “Aku tidak sempat lihat wajahnya. Tadi kelihatannya dia membelakangi kita.”
         Beberapa saat kemudian, Hamdi cs mendengar suara orang yang mengerang kesakitan. Hamdi yang melotot, bertanya, “Kalian dengar itu?”
         Kukun, Andi, Nurman dan Waluyo mengangguk. Kukun berkata, “Datangnya dari sebelah kiri kita. Sama dengan tubuh perempuan yang kulihat tadi.”
         Lima pemuda ini semakin merinding. Suara itu terdengar semakin keras di telinga mereka. Nurman yang menatap kanan-kiri,  berkata, “Suaranya semakin jelas. Suara lelaki. …Tapi di mana (menatap jendela)?”
         Hamdi cs semakin yakin kalau suara rintihan itu suara lelaki. Suara itu seperti suara tangis seorang lelaki yang sedang menderita berat. Suara memilukan sekaligus mengerikan itu juga terdengar di telinga para penumpang Feroza. Rujan berkata, “Suaranya terdengar dari kanan-kiri.”
         “Besar sekali.” Tutur Rozaq. “Seperti suara raksasa.”     
         “Kunci pintu mobil! Tutup jendela!” seru Darti ketakutan. Jamal yang habis menelpon Hamdi, berkata, “Semua penumpang Kijang juga mendengar suara ini. Kita semua bisa mendengar suara ini.” 
         Ketegangan semakin mencengkeram hati Hamdi dkk. Kalau sosok perempuan berbaju ungu tadi hanya bisa dilihat oleh Murni dan Kukun, kini suara aneh itu bisa didengar oleh semua penumpang Kijang dan Feroza. Suara itu seperti ikut berjalan mengikuti mereka. Andi berkata, “Suara ini sangat dekat. Suara ini seperti mengikuti kita.”
         “WADUH!” Seru Kukun yang nyalinya paling ciut. “Jangan-jangan, hantu perempuan tadi mengikuti kita! …Tapi ini suara lelaki.”
         Tanpa sepengetahuan Nurman dkk, ada sesosok tubuh kecil yang duduk di atas mobil mereka. Sosok lelaki berusia 10 tahun. Wajahnya mengerikan. Kepalanya besar dan botak. Hidung besar, bibir dower. Telinga besar, panjang dan tajam. Tubuhnya tidak mengenakan apapun, kecuali celana pendek hitam. Walaupun usianya masih anak-anak, wajahnya sudah seperti pria 30 tahunan. Tidak salah lagi, dia TUYUL.
         Sesaat kemudian, Tuyul menaruh kepalanya di kaca mobil yang berada di samping kiri Kukun. Posisi kepalanya mengarah ke bawah. Kukun yang melihat sosok seram yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berseru, “Dia di atas kita! Aaah (menarik tubuhnya ke belakang, sehingga membuat Andi dan Nurman terjepit)!! ”
         Bibir tuyul yang besar itu menyeringai, sehingga membuat Kukun histeris. Hamdi yang terlihat lebih tenang, berseru, “Tenang, tenang! Jangan histeris! Dia hanya bisa menakuti kita!”
         Tampaknya Tuyul mendengar ucapan Hamdi itu. Ia ganti menatap Hamdi dengan tajam. Hamdi yang sebenarnya juga merinding, beradu pandang dengan Tuyul. Mulutnya berkomat-kamit, tanda ia sedang dzikir dengan pelan. Sekitar 15 detik kemudian, Tuyul yang sudah puas memelototi Hamdi, menarik kepalanya ke atas. Mengetahui Tuyul berada di atas mobil, Hamdi meminta Waluyo untuk menghentikan mobil. Hamdi hanya ingin tahu, apakah makhluk itu benar-benar berada di atas mobil mereka.
         Kukun yang nyalinya paling kecil, jelas terkejut sekali mendengar permintaan Hamdi itu. Melihat Hamdi mau turun dari mobil, Kukun berseru, “Jangan Mas (mencengkeram tangan kiri Hamdi)! Bahaya! Kata kakekku, Tuyul itu sakti banget. Selain pintar mencuri, dia juga bisa bergerak cepat, bahkan menghilang.  Jangan jangan turun Mas! Kumohon!”
         Hamdi menyentuh tangan kanan Kukun yang mencengkeram tangan kirinya, lalu bertutur, “Kalau dia benar-benar jin, benar-benar makhluk halus, Insya Allah, dia tidak akan bisa melukai kita, apalagi membunuh kita. …Sudahlah, anda tenang saja. Aku hanya ingin memastikan dia itu apa.”
         Hamdi turun dari mobil. Tangan kanannya menggenggam pisau besar yang tadi ia taruh di dekat kakinya. Begitu turun dari mobil, Hamdi langsung mencabut pisau besar itu dari sarungnya, lalu ia arahkan ke atas mobil. Hening beberapa detik. Hamdi tidak melihat apapun di atas Kijang mereka. Nurman yang penasaran, langsung ikut turun. Sedetik kemudian Andi menyusul. Waluyo yang lebih pemberani dari Kukun, langsung ikut turun. Kini tinggal Kukun yang masih berada di dalam mobil.
         Murni yang kebetulan menoleh ke belakang, terkejut melihat mobil Kijang berhenti. Ia berseru, “Lho, ada apa itu!? kenapa mereka berhenti!?”
         Semua langsung menoleh ke belakang. Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung turun dari Escudo, kemudian mendekati Hamdi cs yang sedang memeriksa bagian atap Kijang. Waluyo yang memegang senter, berkata, “Mungkin dia sudah melompat ke semak-semak.”
       “Atau mungkin sudah menghilang,” sahut Nurman. “Kalau dia benar-benar jin, dia bisa muncul dan menghilang kapan saja. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.”
         “Ada apa ini?” Tanya Jamal. Hamdi langsung menceritakan semuanya. Murni melotot, “Tuyul di atas Kijang?”
         Hamdi menggangguk. “Entah Tuyul atau bukan, yang jelas wujudnya sama dengan tuyul-tuyul yang sering kudengar selama ini.”
         Tiba-tiba, ada sesuatu yang jatuh di dekat kaki Waluyo. Sesuatu itu mirip buah besar yang jatuh dari pohon. Mungkin kelapa atau nangka. Begitu jatuh di dekat kaki Waluyo, benda itu langsung menggelinding. Waluyo menjerit, lalu melangkah mundur. Kukun yang sudah turun dari mobil, bertanya, “Apa itu Yo!?”
         “Mana kutahu?! Huh! Coba kamu yang lihat.”
         “Sinting apa!?”
         Kini perhatian semuanya tertuju ke benda aneh yang sudah membuat Waluyo jantungan. Dengan kedua mata melotot, Waluyo mengarahkan senternya ke benda itu. Rujan yang juga membawa senter, langsung mengikuti Waluyo. Dua pemuda ini berjalan mengendap. Mereka mendekati benda yang tergeletak di sekitar empat meter dari mereka. Dengan jantung bergetar keras, Rujan yang berdiri di belakang Waluyo, bertanya, “Kira-kira itu apa Yo?...Tadi kamu lihat apa?”
         “Aku tidak tahu. Tadi aku langsung mundur. ”
         Waluyo dan Rujan terus menerangi benda aneh itu dengan senternya. Setelah pada diam beberapa detik, Waluyo berkata lirih, “Kelihatannya seperti buah. …Mungkin kelapa atau semangka.”
         “Di sini tidak ada pohon kelapa,” sahut Rujan sambil menatap atas. “Pohon semangka juga tidak ada.”
         Waluyo semakin tegang ketika jaraknya dengan buah itu tinggal satu meter. Dengan jantung semakin bergetar keras, Waluyo berkata, “Kelihatannya kelapa…tapi kok ada bulunya? Bulunya panjang-panjang, ngombak. Seperti…seperti rambut.”
         Sedetik kemudian benda itu bergerak. Ternyata itu kepala perempuan  berwajah sangat buruk. Ia memelototi Waluyo dan Rujan, setelah itu tersenyum. Gigi gerahamnya tajam dan besar. Waluyo dan Rujan menjerit sekeras-kerasnya, kemudian menjauhi kepala perempuan itu dengan berlari. Jamal mendekati Waluyo dan Rujan yang histeris, lalu bertanya, “Kalian benar-benar yakin kalau itu kepala manusia?”
         “Demi Allah Pak!” seru Waluyo dengan jantung nyaris copot. “Itu kepala perempuan!...wajahnya jelek banget. Hah, hah…wajahnya serem banget!”
         Beberapa saat kemudian ganti Murni yang menjerit ketakutan. Ia menunjuk semak belukar di belakang Hamdi sambil berseru, “Ituu!! Badan tanpa kepalaa!!”
         Semua menoleh ke tempat yang ditunjuk Murni. Ada sesosok tubuh perempuan tanpa kepala. Ia berdiri tegak di samping pohon besar. Dialah sosok yang tadi sudah dilihat Murni. Kali ini semuanya bisa melihat sosok tersebut. Semua terperangah. Benarkah tubuh perempuan berbaju ungu lengan pendek yang berdiri di hadapan mereka itu bukan ilusi? Rozaq yang melihat semua kawannya ketakutan berat, berseru, “Tenang semua! Dia tidak bisa mencelakakan kita! Insya Allah, dia hanya bisa menakuti kita.”
         Untuk beberapa saat, tubuh tak berkepala itu hanya diam. Hamdi yang berdiri paling dekat dengan dia, bertanya, “Kamu siapa?…Kenapa kepalamu copot?”  
         “Jangan dekat-dekat Mas!” seru Murni histeris. “Hantu tidak bisa diajak ngomong!”
         Hamdi yang sebenanya juga deg-degan, menjawab, “Tenang…tidak apa-apa.   Aku hanya ingin memastikan dia hantu, jin..atau hanya tipuan.”
         Dengan lisan terus menyebut asma Allah dengan pelan, Hamdi mendekati makhluk aneh yang sangat menyeramkan itu. Namun baru beberapa langkah, Darti yang ketakutannya tidak sebesar Murni, berseru sambil menunjuk atas, “Awas Mas Hamdi!! Kepala terbang!!”
         Hamdi menoleh ke samping kiri. Dilihatnya kepala perempuan yang tadi sudah mengagetkan Rujan dan Waluyo. Spontan saja Hamdi mengangkat goloknya, lalu ia tebaskan ke kepala berambut panjang yang tampaknya ingin menyerangnya, namun luput. Kepala itu menyatu dengan badannya, namun posisinya masih belum benar. Wajahnya menghadap belakang. Kedua tangannya membenarkan posisi kepalanya. Ia putar kepalanya dengan perlahan. Jamal cs semakin terpana melihat kejadian aneh bin ajaib itu. 
         Setelah wajahnya menghadap depan, ia pelototi Hamdi cs yang termangu-mangu, setelah itu ia tertawa sekeras-kerasnya. Suara tawanya yang melengking itu benar-benar bisa membuat jantung berhenti berdetak. Setelah puas tertawa binal, perempuan ini menghilang di semak belukar. Hamdi cs yang sudah merasa agak lega, langsung melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda. Murni yang paling ketakutan, berkata, “Nanti kalau ada apa-apa lagi, kita tidak usah turun. …Iiih, serem banget. Sudah jelas itu hantu, kok Mas Hamdi masih bisa mengatakan tipuan.”
         “Mas Hamdi hanya ingin memastikan,” sahut Darti. Jamal yang duduk di belakangnya, menenangkan, “Mbak Mur dzikir saja ya?”
         “Iya Pak Ustadz…Insya Allah.”
         Baru sekitar tiga menit dua mobil ini berjalan, mendadak, mesin dua mobil ini berhenti sendiri. Rujan dan Waluyo yang memegang setir, mencoba menghidupkan mesin mobil mereka, namun masih belum berhasil. Murni yang mau menangis, berkata, “Aduh! Ada apa lagi ini!?”
         “Mungkin aqcu, busi, atau bensinnya?” Tanya Rozaq. Rujan menggelengkan kepala. “Semua baik-baik saja Mas. Bensinnya juga masih ada, walau tinggal sedikit.”
         Jamal yang melihat belakang, berkata, “Mobil Kijang juga berhenti.”
         Semua menoleh ke belakang. Ketakutan kembali mencengkeram Hamdi cs. Berkali-kali Waluyo dan Rujan mencoba menghidupkan mesin Escudo dan Kijang, namun yang terdengar hanya suara ‘ceklek, ceklik.’ Hamdi berujar, “Bannya juga tidak bocor atau gembos.”
         Nurman menyahut, “Kalau mobil berhenti karena bannya bocor, cara berhentinya tidak seperti ini.”
         Hening sejenak. Kukun dan Murni yang paling ketakutan, selalu melihat keadaan di luar mobil yang sangat gelap. Mereka takut ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di kaca mobil tempat mereka duduk. Rozaq yang melihat Rujan jengkel, berkata lembut, “Jangan diteruskan Mas, nanti tempat kontaknya malah rusak. Kita berhenti bukan karena ada kerusakan di mobil ini. Kita berhenti karena sesuatu yang sulit dinalar.”
         “WADUH!” Seru Murni. “Jangan-jangan…perempuan tak berkepala tadi yang sudah menghentikan kita!”
         Di mobil Kijang hitam, Hamdi juga memberi nasehat yang sama pada Waluyo. Mobil mereka berhenti karena hal ghaib. Sesaat kemudian, muncullah Tuyul di hadapan mereka. Ia berdiri tepat di depan moncong Kijang. Di saat yang sama, perempuan berbaju ungu tadi juga muncul di hadapan Rujan yang masih bingung menghidupkan mesin Escudo. Kali ini tubuhnya komplit. Ia pelototi semua penumpang Escudo. Rujan yang duduk paling depan, jelas paling panik. Rozaq berseru, “Tenang semua! Jangan panik! Jangan histeris! Wujudnya tidak nyata!”
         “Tapi sekarang dia ada di hadapan kita Pak!” seru Darti yang sejak tadi lebih banyak diam. Rozaq menyahut, “Ya sudah, sekarang kita pastikan saja.”
         “Mas Ustadz mau apa!!?” Tanya Murni. Rozaq hanya menyahut dengan keluar dari mobil. Murni menjerit, “Jangan Mas Rozaq! Bahayaa!!”
         Insya Allah tidak apa-apa,” sahut Rozaq tenang. Begitu Rozaq keluar dari mobil, perempuan hantu yang kepalanya bisa lepas dari badannya itu bergerak ke semak belukar. Ia berjalan sekitar 20 cm di atas tanah. Setelah berada di dekat rumput-rumput tinggi, ia memelototi Rozaq dengan wajah penuh kebencian. Rozaq maju tiga langkah. Jaraknya dengan perempuan hantu terpaut sekitar 4 meter. Setelah saling menatap selama beberapa detik, Rozaq bertanya, “Siapa kamu?...Datang dari alam mana? …Kamu makhluk piaraan orang, atau makhluk bebas? Makhluk merdeka?”
         Wanita baju ungu diam saja. Kedua matanya yang mengerikan itu terus memelototi Rozaq. Rozaq yang tetap terlihat tenang, kembali berkata, “Sekarang aku mau ngomong sama kamu. Tolong kamu dengarkan baik-baik. …Kalau kamu masih berani ngganggu kami, aku tidak segan untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, biar badanmu panas. Bahkan kalau kamu masih nekat ngganggu kami, badanmu bisa terbakar habis.”
         Hening sejenak. Rozaq yang amarahnya mulai bangkit, bicara lagi, “Sekarang kuhitung sampai tiga. Kalau kamu masih belum pergi dari hadapanku, atas ijin Allah, kamu akan kubakar dengan surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.”
         Hening beberapa detik. Wanita baju ungu seperti tidak menggubris omongan Rozaq. Ketika Rozaq sudah menyebut angka tiga, wanita hantu tertawa sekeras-kerasnya. Suara tawanya menggetarkan seluruh pelosok Kates Abang. Suaranya yang tinggi dan bertenaga itu seperti tidak bisa habis. Ketika ia sudah lenyap dari hadapan Rozaq, suaranya yang melengking itu masih terdengar. Beberapa saat kemudian, barulah suara menyeramkan itu lenyap dengan perlahan.
         Di saat yang sama, Hamdi juga turun dari Kijang, berhadapan dengan Tuyul. Hamdi bertanya, “Kamu siapa? Datang dari mana?”
         Tuyul diam saja. Kedua matanya yang melotot bulat itu membuat wajahnya semakin mengerikan. Hamdi yang sudah bisa mengendalikan deg-degan-nya, berkata, “Apa benar kamu ini makhluk yang sering kudengar dari cerita-cerita yang sudah melegenda? Apa benar kamu ini makhluk yang suka mencuri uang?”
         Tuyul tidak menjawab sepatah kata pun. Hamdi melanjutkan, “Kalau kamu tidak punya keinginan, sekarang aku minta tolong sama kamu. Tolong jangan ganggu kami lagi. …Kalau kamu tetap nekat ngganggu kami, kamu harus mendengarkan surat Al-Fatihah dan ayat Kursi.”
         Tuyul seperti tidak menanggapi omongan Hamdi. Sikapnya seolah tidak takut dengan gertakan Hamdi. Hamdi berkata, “Kuhitung sampai lima, kalau kamu tidak mau pergi, kamu akan kubacakan surat-surat Al-Quran. …Aku yakin, kalau kamu jin baik-baik, atau jin Muslim yang taat, kamu justru akan senang mendengarkan ayat-ayat suci. Tapi kalau nanti kamu kesakitan, berarti kamu jin jahat, jin kafir.”  
         Setelah Hamdi menghitung sampai lima, Tuyul masih berdiri melotot di hadapannya. Hamdi tersenyum mengejek. Sedetik kemudian Hamdi membaca surat Al-Fatihah. Ketika sampai di ayat Iyyaa kana’budu wa iyyaa ka nasta’iin (Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu pula kami memohon pertolongan), Tuyul menyeringai, setelah itu menghilang dengan berlari secepat kilat. Ia menghilang di hutan.
    Setelah berhasil mengusir hantu-hantu itu, Hamdi dan Rozaq saling mendekat, lalu mereka ceritakan semua kejadian yang mereka alami. Benar-benar kejadian di luar nalar. Mobil mereka sama-sama dihentikan oleh dua makhluk halus yang berbeda wujud. Mobil Escudo dihadang perempuan berbaju ungu yang kepalanya bisa pisah dengan badannya, sedangkan mobil Kijang hitam diganggu anak kecil berwajah dewasa. Sesaat kemudian, Rozaq dkk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.   
         Kukun yang badannya basah kuyub oleh keringat kengerian, berkata, “Mas Hamdi kok bisa tenang sekali ya?”
         “Ya jelaslah,” sahut Andi, “ustadznya Al-Furqan kok. He he.”
         Hamdi tersipu, “Aku hanya yakin, makhluk-makhluk itu derajatnya di bawah kita, jadi Insya Allah mereka tidak akan bisa mengalahkan kita.”
         “Betul sekali.” sahut Waluyo. “Hanya yang imannya lemah yang bisa diteror, dibuat ketakutan setengah mati.“
         “Huh! Kamu ngejek aku..sahut Kukun kesal. “Kamu sendiri juga ketakutan setengah mati.”
         “Tapi masih sedikit lebih berani dari kamu. Buktinya? Tadi aku sama Rujan yang mendekati kepala perempuan itu. He he.”
         Nurman menyambung, “Di saat segawat ini, kita tidak perlu saling mengumbar dan mengukur keberanian yang kita miliki. Keberanian sejati itu hanya bisa dibuktikan dengan tindakan.”
         “Mas Nurman betul sekali,” sahut Waluyo malu. Sekarang kita tengok sesosok tubuh pria yang duduk bersila di atas bukit kecil. Ia mengenakan baju besar berwarna gelap. Ternyata dia Kasman. Di tengah kegelapan, wajahnya terlihat semakin mengerikan. Sambil tersenyum mengejek, musuh bebuyutan Kandar ini berkata, “Baru menghadapi jin-jinku saja mereka sudah kelabakan. Hah ha haa!…Padahal di antara mereka ada ustadz, ada orang-orang yang di mata masyarakat sudah dianggap orang sholeh, orang suci. …Tapi aku bisa merepotkan mereka, bahkan aku nyaris mengalahkan mereka. Ha ha! Berarti aku benar-benar hebat! hua ha ha haa!!”
         Setelah tertawa binal, Kasman melotot, lalu berkata, “Kandar keparat! Sebentar lagi kamu akan merasakan luka hati yang paling menyakitkan dalam hidupmu! …Setelah puas menyiksa Isma, bunga hatiku itu akan KUBUNUH!!...Hua ha haa!!”
         Demikianlah akibat dari cinta yang ditolak. Dampaknya benar-benar dahsyat. Siapapun yang sakit hati karena cinta, dia benar-benar akan bertindak nekat, dan menjadi lupa dengan akibat dari tindakannya yang fatal itu. Orang bijak berkata: “Jika kamu sudah mabuk atau mencintai sesuatu dengan berlebihan, sesuatu yang kamu cintai itu bisa membuatmu buta dan tuli. Demikianlah yang sudah terjadi pada diri Kasman sekarang ini. Hanya karena ingin melampiaskan kebenciannya pada Kandar, ia rela menjadi manusia setan.   
         Beberapa saat kemudian, tibalah Rozaq cs di sebuah rumah kosong berwarna coklat muda. Rozaq berkata, “Kita sudah sampai. …Insya Allah, kalau dugaanku tidak keliru, Kasman ada di dekat sini. Aku bisa merasakan hawa energinya.”
         Memang benar. Bukit kecil tempat Kasman duduk itu hanya terpaut sekitar 10 meter dari rumah besar bertingkat dua itu. Kasman yang kini masih semedi, berkata sambil tersenyum mengejek, “Bagus…bagus sekali. Orang-orang bodoh itu sudah berani mendatangi sarangku…berarti mereka sudah siap mampus!!”
         Setelah pada diam di mobil, Rozaq meminta semua temannya untuk turun. Ketika Rozaq membuka pintu mobil, terdengarlah rintihan lemah Isma. Beberapa detik kemudian, kekasih Hamdi ini membuka matanya dengan perlahan. Tentu saja semuanya tersentak gembira. Murni yang tersenyum sekaligus menangis, berkata, “Alhamdulillaah..Mbak Is sudah sadar. Terima kasih banyak duh Gusti Allah.”
         “Murni?” ujar Isma lemah. “Bu Darti…”
         “Iya Cah Ayu,” sahut Darti yang juga tersenyum sambil menangis. “Aku dan Murni di sampingmu terus.”
         Isma bangkit dari tidurnya, lalu ia sandarkan tubuhnya di jok. Dengan wajah seperti orang yang tidak makan selama sepuluh hari sepuluh malam, Isma bertanya, “Di mana ini?…Berapa lama aku pingsan?…Maksudku, kalau dihitung dari pingsanku yang terakhir tadi, berapa lama aku tidur?”
         “Sekarang hampir Shubuh,” sahut Rozaq. “Kalau dihitung dari tadi sore, Mbak Isma pingsan hampir sepuluh jam.”
         Isma terperangah. Dengan wajah teramat pucat, Isma berkata, “Hampir sepuluh jam aku pingsan. …Aku tidak merasakan apapun. Aku tidak mimpi sedikit pun. …Kupikir aku sudah menghadap Allah.”
         “Jangan bicara begitu Mbak!” sahut Murni ketakutan. “Kalau Mbak Is meninggal sekarang, nanti aku sama Pak Kandar gimana!?”
         Darti berkata, “Cah Ayu, kenalkan dulu. Ini Mas Ustadz Rozaq. Beliau juga muallaf seperti kamu. Beliaulah yang sudah berusaha mati-matian membantu Pak Jamal menyembuhkan kamu, dan lain-lain.”
         Setelah mendengar semua penjelasan Darti, Isma berkata, “Terima kasih banyak, Mas Rozaq. Saya tidak tahu harus bilang apa.”
         “Sama-sama Mbak,” sahut Rozaq tersipu. “Kita belum boleh gembira dulu, soalnya guna-guna Kasman itu belum lenyap seratus persen.”
         Hening sejenak. Isma yang tiba-tiba gelisah, bertanya, “Berarti jiwa saya masih terancam?”    
         Pertanyaan itu sangat menusuk hati Rozaq dan semuanya. Dengan penuh kearifan, Rozaq menjawab, “Kalau dilogis memang begitu. Tapi Mbak Is yakin saja dengan kekuasaan dan kasih sayang Allah SWT. Percayalah Mbak…ilmu santet yang paling hebat sekalipun, tetap akan takluk oleh tauhid yang murni.”
         Jawaban Rozaq itu sedikit mengurangi ketakutan Isma. Beberapa saat kemudian, Hamdi cs menyalakan lampu penerang di rumah besar itu. Selain senter dan lampu penerang, Hamdi dkk juga menyalakan obor pemberian penduduk kampung sebelah. Setelah rumah tua itu terlihat cukup terang, Hamdi dkk berkumpul di ruang tengah atau ruang keluarga rumah tersebut. Mereka lega melihat Isma sudah sadar.
         Sesaat kemudian Jamal menatap arlojinya, lalu berkata, “Sekarang sudah adzan Shubuh. …Karena kita sedang berada di tempat terpencil, kita tidak bisa mendengar suara apapun…termasuk suara adzan.”
         “Kita benar-benar sudah jauh dari kota,” ujar Kukun. Waluyo menyambung, “Kami (menatap Rujan dan Kukun) juga dari desa, tapi kami belum pernah melihat desa seperti ini. Desa kami di Gunung Kidul tidak seprimitif ini, padahal desa kami sudah termasuk tempat terpencil.”
         “Benar-benar desa mati,” ujar Hamdi. Darti bertutur, “Kukira tempat-tempat seperti ini hanya ada luar di Jawa. Hahh…ternyata di pulau kita ini juga masih ada. Maha Suci Allah.”
         Rozaq menyambung, “Sampai kapan pun, tempat seperti ini akan selalu ada.”
         Sementara itu, di atas bukit kecil, Kasman siap beraksi lagi. Kedua tangannya ia arahkan ke rumah tua yang sekarang dihuni Hamdi cs. Kasman yang sudah marah besar, siap mengirim guna-gunanya lagi. Dengan wajah lebih seram dari serigala mengamuk, Kasman berkata, “Keparat-keparat, sebentar lagi kalian mampus! …Huh! Sudah terbukti kalian tidak bisa melindungi Isma, tapi kalian masih nekat melawan Kasman. Huh! Benar-benar bodoh! …Sekarang akan kucoba kemampuan orang baru itu. Kelihatannya dia cukup meyakinkan.”
         Sesaat kemudian Isma tersentak. Dada dan kepalanya terasa sangat sakit. Isma yang duduknya diapit Murni dan Darti, berteriak, “Kepalaku seperti mau pecah! Dadaku seperti terbelah! Aaah!!! Tolong akuuu!! Murnii! Bu Dartii! Aaahh!! Dadaku seperti tertusuk! Dadaku seperti berlobang! Aaargh!!!
         Masya Allah!” seru Darti melotot. “Kamu kenapa Non!?”
         Darti hendak memeluk Isma yang menyentuh dada dan kepalanya, namun mantan kekasih Hamdi ini menolak dengan membentak, “Jangan sentuh aku! Nanti Aku tambah sakit! Dan nanti Ibu juga bisa ketularan! Aaahh!! Dadakuu! Ooohh…ampuni aku duh Gusti Allah. Ampuni aku! Aaaah (melotot)!!!”
         Astaghfirullah!” ujar Darti yang melihat Isma kelesotan di lantai. “Ini pasti guna-guna lagi!”
         Ya Allah, gimana ini!!?” seru Murni histeris. “Mas Rozaq, cepat tolong Mbak Isma!!”
         Rozaq yang terlihat ragu, langsung mendekati Isma yang mengerang keras sambil menyentuh dadanya. Melihat Rozaq hendak menolong, Isma membentak, “Jangan! Jangan dekati aku! Jangan sentuh aku! Nanti kamu malah menambah deritaku! Jangan!”
         “Tenang Mbak Is, tenang..tidak apa-apa.”
         Isma membentak, “Jangan dekati aku! Hahh! Kamu budheg ya!?”
         Rujan melotot, “Suaranya mulai berubah lagi.”
         “Memang,” sahut Rozaq tenang. “Dia sudah kesurupan lagi.”
         Beberapa detik kemudian, kedua tangan Rozaq berhasil mencengkeram kepala Isma. Rozaq membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas dan ayat Kursi. Isma menjerit dengan perpaduan suara lelaki dan perempuan. Setelah kehabisan tenaga, Isma merangkak di hadapan Rozaq dengan kepala menunduk. Hening sejenak. Dengan posisi tubuh tetap merangkak dan menundukkan kepala, Isma tertawa dengan suara lelaki yang besar dan serak. Rozaq dkk yang sudah bisa bernafas lega selama satu menit, harus terkejut lagi melihat keanehan di hadapan mereka.     
         Isma berkata dengan suara lelaki, “Hebat juga kamu.” Sedetik kemudian Isma menyerang Rozaq. Rozaq tidak sempat mengantisipasi serangan yang sangat cepat itu. Kedua tangan Isma mendorong dada Rozaq. Mantan pendeta muda ini roboh. Isma yang sudah berdiri tegak, mengangkat kepalanya dengan perlahan. Wajahnya menjadi seram lagi seperti tadi. Ia membuka matanya dengan perlahan. Kalau tadi matanya putih semua, kali ini matanya merah menyala. Ia benar-benar berubah menjadi iblis betina. Ia tatap Rozaq cs yang semakin terperangah, setelah itu ia berkata:
         “Sekarang akan kujelaskan, siapa makhluk-makhluk yang tadi sudah mengganggu kalian. Makhluk-makhluk yang sudah membuat kalian takut setengah mati. hua ha haa!!”
         “Suara Kasman..” kata Hamdi. Isma yang wajahnya semakin mengerikan, berkata, “Perempuan tak berkepala tadi mantan penduduk Kates Abang ini. Namanya Nilah. …Dia perempuan yang dikhianati suaminya, sekaligus korban perkosaan tujuh lelaki. …Setelah jiwanya dihancurkan oleh suaminya sendiri, dia memilih jalan pintas. Dia menggantung diri di pohon nangka yang ada di halaman belakang rumahnya.”
         Suaminya yang hobi main perempuan, hanya terkejut sedikit saat menemukan jasad Nilah sudah tak bernyawa. Setelah sedih sebentar, perempuan selingkuhannya minta agar jasad Nilah dihilangkan tanpa bekas. Suaminya yang iblis itu setuju. Dia potong kepala Nilah, lalu ia buang kepala istrinya ke tempat yang jauh dari badannya. Setelah itu baru ia kubur badan istrinya di tanah kosong yang jaraknya dengan rumahnya tidak begitu jauh.”
         Hening sesaat. Hamdi cs kian terlongong-longong mendengar cerita menyeramkan itu. Suara Kasman melanjutkan, “Lalu anak kecil tadi, yang kalian sebut Tuyul. …Dia anak kandungnya Nilah…tapi anak hasil perkosaan Tugono, sahabatnya Gondo, suaminya Nilah. …Saat anak itu lahir, wujudnya memang sudah mengerikan. Kepalanya lebih besar dari badannya, seperti orang yang terkena tumor. Hidungnya terlalu mancung, bibirnya terlalu besar dan dower. Kedua telinganya lancip dan panjang. Orang-orang pintarnya desa ini mengatakan, itu karma dari ulah lelaki bejat bernama Tugono.”  
         Melihat Hamdi cs hanya melongo, Isma semakin semangat bercerita. Ia melanjutkan, Tugono tidak mau mengakui anak aneh itu sebagai anak kandungnya. Dalam kehidupan sehari-harinya, Tugono hanya memberi anaknya makan-minum. Setelah berusia delapan tahun, Tugono mengusir anak itu. Ia tidak ingin mempedulikan lagi anak kandungnya yang sudah membuatnya malu. Anak itu pergi ke hutan, pindah ke desa sebelah, tidur di tepi jalan, berebut makan dengan binatang, dan sebagainya. Sampai pada suatu pagi, anak itu tertabrak truk besar tanpa sengaja, dan akhirnya meninggal dengan kondisi yang sangat mengenaskan.  
         Orang-orang desa Kates Abang berkata, “Sudah anaknya jelek, matinya juga jelek. Mungkin sudah takdir nasibnya selalu jelek.”
         Yang lain menyambung, “Itulah wujud dari anak perkosaan. Apalagi yang memperkosa ibunya lelaki bejat.”
         ”Tugono itu bukan bejat lagi,” sahut yang lain. “Dia iblis berwujud manusia.”
         “Begitulah kisahnya,” tutur Isma dengan suara Kasman. “Hah ha haa! Kalian sudah melihat sendiri kehebatanku. Kalian sudah melihat sendiri  kesaktianku. Aku  bisa menguasai arwah mereka, untuk kujadikan makhluk piaraanku. Hua ha ha haa!!!”  
         “Perempuan tanpa kepala tadi bukan arwahnya Nilah,” tutur Rozaq tenang. “Tuyul tadi juga bukan arwah anaknya Tugono.”
         “Maksudmu?”
         Dengan wajah mengejek, Rozaq bertutur, “Menurut sumber atau riwayat-riwayat yang shahih, yang kuat kebenarannya…orang yang sudah mati itu arwahnya tidak bisa gentayangan lagi di dunia. Arwahnya sibuk menghadapi pertanyaan di alam kuburnya masing-masing, jadi tidak sempat berkeliaran, apalagi kembali ke alam dunia hanya untuk menakuti orang. …Memang ada beberapa arwah yang bisa berkeliaran, tapi hanya arwahnya manusia-manusia khusus, manusia-manusia istimewa. Selebihnya, Rozaq yang bodoh ini tidak tahu. Allahu a’lam.”
         Diam sejenak, “Dan untuk masalah ghaib, kita tidak boleh membahas terlalu dalam. Ilmu kita yang dangkal ini tidak akan bisa memahami hal-hal ghaib. Hanya Allah yang berhak mengurusi segala perkara ghaib. Dan jika mereka bertanya kepadamu (Rasul-Nya) tentang roh, katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi ilmu, kecuali hanya sedikit.* ”
         “Nah..Rasulullah saw yang manusia paling suci saja tidak bisa memberi jawaban, apalagi manusia-manusia lemah seperti kita. …Makanya, aku sangat menyangsikan kamu bisa mengendalikan arwah, termasuk arwahnya Nilah, juga anaknya yang seperti Tuyul itu. …Tuyul dan perempuan tak berkepala tadi bukan arwahnya Nilah dan anaknya. Mereka hanya makhluk halus, hanya jin yang menyerupai Nilah.”
         Hening sejenak. Isma termangu-mangu mendengar semua penjelasan Rozaq. Hati kecilnya mengatakan, semua penjelasan ustadz muda di hadapannya itu memang benar belaka. Setelah diam beberapa detik, Isma memejamkan kedua matanya yang merah menyala, lalu menundukkan kepala. Hamdi cs terkejut melihat Isma tiba-tiba seperti tidur sambil berdiri. Sementara itu, Kasman yang masih berdiri di atas bukit kecil, berkata, “Huh! Mungkin memang benar semua penjelasanmu, toh kalian memang ahli agama. Tapi aku tidak peduli! Pokoknya sekarang aku sudah sakti mandraguna! Dan kalian sudah melihat sendiri buktinya. Kalian sudah berhasil kubuat kalang kabut! Hua ha ha haa!” 
         Catatan Kaki: * Al-Quran surat Al-Isra’, surat ke 17 ayat 85

         Setelah tertawa binal, Kasman melotot, “Siapa pun yang berani menghalangi keinginanku, kupastikan dia mampus! Mampus!!”  
         Hening sejenak. Dengan nada suara lebih lembut, Kasman berkata, “Isma…bunga hatiku…perempuan yang paling kucintai di dunia ini…aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Sebentar lagi kamu akan kubuat setengah mati. Sebentar lagi kamu akan kusiksa habis-habisan. …Kalau kamu jadi milik lelaki selain Kandar, aku masih bisa terima. Tapi karena kamu sudah jadi milik bedebah itu, dengan sangat berat hati, aku harus membuatmu menderita panjang!”
         Wajah Kandar tiba-tiba muncul di hadapan Kasman. Kehadiran musuh bebuyutannya itu membuat amarahnya mencapai puncak. Wajahnya benar-benar seperti setan jahanam. Dengan mata melotot dan bibir cengar-cengir, Kasman berseru, “Keparat!! Sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa membahagiakan Isma! Sebentar lagi hatimu akan terluka untuk selamanya!”
         Kasman mengarahkan sepuluh jarinya ke rumah yang ditempati Hamdi cs, setelah itu berkata, “Nah bunga hatiku, sekarang rasakanlah puncak ilmu setanku.”
         Kasman benar-benar sudah mantap untuk menyiksa wanita yang sangat dicintainya. Isma yang seperti tidur sambil berdiri, tiba-tiba bergerak dengan tersentak. Tubuhnya seperti disetrum listrik bertegangan tinggi. Isma kembali membuka matanya yang merah menyala. Dengan wajah semakin mengerikan, Isma berseru, “Sekarang aku benar-benar akan menghabisi kalian! bersiaplah!”
         Masya Allah!” seru Rozaq. “Hawa iblis di tubuhnya semakin besar. Kemungkinan besar, inilah puncak ilmu santetnya.”
         “Aku juga menduga begitu Zaq,” sambung Jamal yang berdiri di samping kanan Rozaq. Kukun yang paling ketakutan, berkata, “Lihat wajahnya. Wajahnya tambah seram!”
         Murni berkata sambil menangis, “Ya Allah. …Mbak Is, kenapa nasibmu seburuk ini?”
        “Kupikir tadi sudah mau beres..sambung Darti yang juga mau menangis. Isma yang kini mengincar Rozaq, berkata dengan suara Kasman, “Sekaranglah saatnya untuk menentukan siapa yang terkuat di antara kita.”
        “Subhanallah.” Jawab Rozaq sambil melangkah mundur. “Makhluk terkutuk! Kamu tidak akan melawan aku. Kamu akan berhadapan langsung dengan Allah SWT!”
         “Tutup mulutmu, ustadz muda! Sekarang ayo kita duel habis-habisan!”
         Isma menggeram seperti macan betina. Ia lontarkan tinju kanan-kirinya ke Rozaq, namun Rozaq dapat menangkis dua pukulan maut itu. Melihat dua serangan beruntunnya gagal, Isma langsung mengirim serangan berikutnya. Tangan kirinya menonjok perut Rozaq, disusul bogem kanannya yang menghujam muka lawan dengan telak. Mantan pendeta muda ini melangkah mundur dengan sempoyongan. Hidungnya berdarah sedikit. Isma yang kesetanan, terus merangsek lawannya yang mulai terdesak. Ia lontarkan lagi bogem kanannya, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Tangan kiri Rozaq berhasil menangkis pukulan besi itu.
         Melihat pertahanan Isma terbuka agak lebar, Rozaq langsung bertindak menuruti instingnya. Kedua tangan Rozaq mencengkeram kepala Isma, lalu Rozaq membaca surat Al-Fatihah, namun masih belum berdampak bagi Isma. Isma meraung, lalu mendorong dada Rozaq. Kedua tangannya yang seberat 30 kg itu kembali menyerang Rozaq yang melangkah mundur, namun Rozaq sudah lebih siaga. Ia kunci kedua tangan maut Isma, lalu ia kembali mencengkeramkan kedua tangannya ke kepala Isma. Ia baca surat Al-Ikhlas tiga kali, setelah itu ia susul dengan ayat Kursi dan lafadz-lafadz dzikir.      
         Beberapa saat kemudian, usaha keras Rozaq mulai membuahkan hasil. Isma yang sekarang dikendalikan oleh puncak ilmu hitam Kasman, menjerit kesakitan. Kedua tangannya mencoba melepaskan kedua tangan Rozaq yang mencengkeram erat kepalanya. Rozaq melihat Isma semakin kehabisan tenaga. Rozaq membentak, “Makhluk biadab! Cepat keluar dari tubuhnya! Jangan pernah ngganggu dia lagi! Ayo cepat!”
         Suara Kasman menyahut, “Aku belum kalah! Dan takkan pernah kalah!”
         Rozaq menggelengkan kepala, “Apa yang kamu cari di dunia fana ini? sampai kamu rela jadi setan begini. Iblis macam apa yang sudah merasuki hatimu!? Sampai kamu tega mau membunuh perempuan yang sangat kamu cintai!”
         “Tutup mulutmu!! Sekarang bukan saatnya ceramah!”
         Rozaq kembali menyerukan asma-asma Allah. Sesaat kemudian, kesholehan mantan pendeta muda ini membuahkan hasil. Berkat ijinNya, ia berhasil membuat Isma semakin lemas. Ia lemparkan tubuh Isma ke samping kirinya. Isma roboh dengan posisi tubuh berbaring. Murni yang sangat mencintai majikan perempuannya, membentak, “Mas Ustadz jangan keras-keras!”
         “Tenang Mur, tenang!” ujar Hamdi agak membentak. “Di saat segenting ini, Mas Rozaq terpaksa melakukan semua ini. Beliau juga yang paling mengerti masalah ini. …Yakinlah, semua ini beliau lakukan demi keselamatan Isma. Insya Allah, Isma akan baik-baik saja. Percayalah Mur.”    
         Kata-kata bijak Hamdi itu langsung menenangkan Murni yang sejak tadi cemas berat. Melihat Isma pingsan lagi, Hamdi cs boleh merasa lega untuk sejenak. Rozaq yang wajahnya penuh peluh, berkata, “Kalau dia masih bangkit lagi, aku angkat tangan. …Sekarang aku sudah tidak mampu lagi menolong dia.”
         Semua tersentak. Jamal berkata, “Padahal dari kita semua, kamu yang kami anggap paling bisa mengatasi hal-hal seperti ini.”
         “Iya Mas Ustadz,” sambung Kukun ketakutan. “Kalau Mas Ustadz Rozaq juga tidak mampu, berarti kita harus siap dihabisi Kasman satu persatu.”
         “Terus gimana ini!?” kata Murni menangis. Hamdi yang sekarang terlihat paling tenang, berkata, “Tenang dulu semuanya..jangan histeris. Semuanya dzikir saja. Keselamatan mutlak di tangan Allah.”
         “Betul sekali,” sahut Nurman. “Kalau nanti Mbak Isma masih kesurupan, kami siap membantu Ustadz Rozaq. Insya Allah, aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan.”
         Jamal tersenyum, “Semoga Allah merahmati Akh Nurman.”
         Darti menyambung, “Pak Jamal, Mas Rozaq, Mas Hamdi dan Mas Nurman sudah berusaha maksimal. Nanti berhasil atau tidak, terserah Gusti Allah. Yang penting sekarang kita sudah pasrah.”
         Beberapa menit kemudian, Isma bangkit lagi dengan kondisi seperti tadi, bahkan kali ini ia terlihat lebih bertenaga. Hamdi cs yang sudah merasa lega selama beberapa menit, sekarang harus berjuang lagi melawan ketegangan. Isma yang hawa membunuhnya semakin besar, kembali menyerang Rozaq dengan sepenuh tenaganya. Namun Jamal dan Nurman bertindak lebih cepat. Mereka mengunci kedua tangan Isma dari belakang. Isma meronta-ronta. Masing-masing tangannya dicengkeram erat oleh dua lelaki bertubuh tegap.
         Isma memelototi Jamal, “Kalian lagi. huhh! Benar-benar goblog! Sudah tahu tidak bisa mengalahkan aku, tapi kalian masih nekat ingin menghentikan aku. Grrhh! Jangan mimpi ya!?”
         Jamal melotot, “Kamu sudah melakukan kesyirikan, jadi kamu tidak akan bisa menang mutlak! Kesaktianmu ini akan hancur oleh keikhlasan dan kesabaran! Hanya orang yang beraqidah murni saja yang bisa memiliki keikhlasan dan kesabaran sejati.”
         “Keikhlasan dan kesabaran sejati?” tanya Hamdi dalam hati. Nasehat Jamal itu  merasuk ke relung hatinya yang terdalam. Melihat kedua tangan Isma sudah dilumpuhkan oleh Jamal dan Nurman, Rozaq kembali melakukan ruqyah syar’iah, ruqyah yang sesuai dengan ajaran Nabi saw. Jamal dan Nurman juga ikut ber-dzikir dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Sesaat kemudian, doa-doa mereka mulai membuahkan hasil. Kekuatan ‘putih’ itu kembali membuat Isma kesakitan. Ia mengerang keras, berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tiga lelaki alim.
         Isma menundukkan kepalanya, tanda ia akan roboh atau pingsan lagi. Namun Beberapa detik kemudian Isma mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat segar lagi. Ia tersenyum mengejek, “Hebat sekali usaha kalian. ha ha ha!”
         Setelah itu ia melotot, “Tapi kerja keras kalian cukup sampai di sini!”
         Isma meraung keras, lalu ia lemparkan tubuh tiga pria yang mencengkeram kepala dan kedua lengannya. Darti yang melihat Rozaq, Jamal dan Nurman sudah tidak berdaya, langsung meminta pemuda-pemuda kekar di sampingnya untuk membantu Rozaq. Begitu mendengar perintah Darti, Waluyo, Rujan, Kukun dan Hamdi langsung mengepung Isma. Namun Rozaq yang masih duduk di karpet, mencegah Waluyo dan kedua temannya yang mau menerkam Isma. Tuturnya :“Percuma saja, kalian hanya akan membuang tenaga. Dia tidak bisa lagi dilawan dengan kekuatan fisik.”
         Rozaq berdiri, lalu bicara lagi, “Kekuatan fisik sehebat apapun, tidak akan bisa menghentikan fisiknya yang sudah dikendalikan kekuatan jahat. …Dia hanya bisa dilawan dengan kekuatan rohani yang suci, yang bersih dari noda-noda kemusyrikan, kekafiran, kebid’ahan dan kemunafiqan.”
         Masya Allah!” ujar Hamdi lirih. Dengan wajah berkeringat dingin, Hamdi menatap Jamal dan Rozaq, setelah itu bergumam, “Mas Rozaq dan Pak Jamal ini tingkat kesholehannya sudah tinggi sekali..tapi mereka mengaku sudah tidak mampu menyembuhkan Isma. Apalagi aku yang hina ini. …Keikhlasan dan kesabaran sejati. …Yahh…memang hanya dua hal itu yang bisa menjaga iman dan amal sholeh seorang Mukmin. Memang hanya dua hal itu yang bisa menyelamatkan seorang mukmin dari perangkap iblis, makhluk jelek yang selalu dilaknat Allah.”
         Isma tertawa keras, setelah itu berkata, “Jadi kalian sudah menyadari keterbatasan kemampuan kalian? Jadi kalian sudah mengakui keunggulanku? …Hah ha ha! Memang sudah selayaknya. …..Nah, sekarang siapa lagi yang mau maju!?”    
         Rozaq menatap Hamdi dengan wajah penuh harap. Ia berkata, “Mas Hamdi, cobalah.”
         Hamdi melotot: “APA!? AKU!!?”
         Rozaq mengangguk. Hamdi yang seperti disambar halilintar, berkata, “Kalian saja tidak bisa, apalagi Hamdi yang banyak dosa ini.”
         “Jangan pesimis sebelum bertindak. Cobalah…nanti kita bantu.”
         “Iya Mas, cobalah…” sambung Nurman. “Jangan kalah sebelum perang.”
         Jamal menyambung, “Setidaknya kemarin siang antum sudah berhasil menolong dia. Nah, sekarang tidak ada salahnya antum mencoba lagi.”
         “Tapi…”
         “Tidak ada waktu lagi!” seru Rozaq. “Cobalah. Berusahalah melakukan dengan seikhlas-ikhlasnya. Insya Allah, nanti antum akan mendapat kekuatan besar.”
         “Ikhlasnya itu yang berat sekali,” sahut Hamdi dalam batin. Ia pejamkan kedua matanya, setelah itu mengangguk mantap, “Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Sekarang aku harus bertindak cepat.”
         Isma ganti menatap Hamdi yang menantangnya dengan berani. Setelah berdiri berdekatan, kedua tangan Hamdi mencengkeram kedua tangan Isma yang mau memukul atau mencakarnya, namun sedetik kemudian, Isma berhasil menarik kedua tangannya dari cengkeraman tangan mantan kekasihnya. Ia lontarkan cakar kirinya, namun tangan kanan Hamdi menangkis cakar setan itu. Ia ganti melepas bogem kanannya, dan tepat mengenai pipi kiri Hamdi.
         Melihat Isma terus merangsek, Hamdi membaca surat Al-Fatihah. Begitu surat Pembuka itu selesai dibaca, Isma kembali melepas pukulan kanannya, namun tangan kiri Hamdi menggagalkan pukulan itu mengenai sasarannya. Hamdi yang melihat celah, langsung mencengkeram kepala Isma dengan kedua tangannya. Ia kembali membaca surat Al-Fatihah, ditambah surat-surat yang lain. Lagi-lagi kekuatan ‘putih’ yang bersumber dari Quran-Hadits itu kembali membuat Isma mengerang kesakitan.
         Setelah membaca surat-surat Al-Quran, Hamdi mengucap, “Allahumma antas  salaam, wa min kas salam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam. Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syarii kalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.”
         Ya Allah, Engkau Pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau. Tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya segala kerajaan dan pujian. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”
         Hamdi membacanya berulang kali, sampai akhirnya membuat Isma menjerit dengan suara lelaki dan perempuan. Kasman yang berdiri di bukit kecil, terkejut bukan main. Tubuhnya seperti ditusuk dua puluh panah api. Kasman yang sejak tadi belum bisa dilukai, maksimal hanya bisa direpotkan oleh doa-doa Rozaq, Jamal atau Nurman, kali ini benar-benar merasakan dahsyatnya kekuatan doa lawan. Ia muntah darah, disusul darah yang muncul dari hidung dan kedua telinganya. Rupanya kekuatan setannya gagal menembus pertahanan lawan, dan kembali ke dirinya.
         Sambil berlutut, Kasman mengangkat kedua tinjunya di atas kepalanya, setelah itu ia berteriak sekeras-kerasnya. Seiring dengan itu, Isma juga menjerit kesakitan, lalu ia tonjok dada Hamdi dengan kedua tinjunya. Hamdi dan Isma sama-sama roboh. Isma pingsan dengan wajah tertutup rambutnya yang panjang dan tebal. Darti dan Murni yang cemas bukan main, ingin mendekati Isma yang berbaring di lantai, namun Rozaq melarang mereka. Rozaq ingin memastikan dulu kondisi Isma. Ia mendekati Isma dengan berjalan mengendap.
         Setelah berada satu meter di hadapan Isma, Rozaq berkata, “Sepertinya aku sudah tidak merasakan lagi hawa iblis di tubuhnya.”
         Sekarang kita tengok Kasman yang terluka parah akibat ilmu santetnya sendiri. Ia telah menerima senjata makan tuan. Ia mencoba berdiri, namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit. Akibatnya, pria kejam yang pernah menjadi pacar Isma ini jatuh dari bukit dengan tubuh berguling-guling. Setelah berada di bawah bukit kecil, Kasman berteriak sekuat tenaga. Ia benar-benar menderita ganda. Fisik dan batin. Fisiknya terluka oleh ilmu setannya sendiri, sedangkan batinnya terluka karena gagal membalas dendam kesumatnya pada Kandar. Padahal sebelumnya ia sudah nyaris berhasil membuat hati Kandar terluka untuk selamanya, namun akhirnya gagal oleh kesucian hati seorang pria pengurus masjid.
         Sambil tengkurap di tanah, Kasman yang wajahnya semakin tidak karuan, berseru, “Hamdi! …Siapa kamu!? Dari mana asalmu!!? …Kok kamu bisa memadamkan Aji Dhemit Mengamukku!!?…hahh…hahh. …Tenaga dalam (menatap kedua tapak tangannya) yang kupelajari dengan mati-matian ini…akhirnya bisa ditaklukkan oleh seorang pemuda yang juga mencintai bunga hatiku.”
         Hening sejenak. Kasman yang merasa tulang belulangnya seperti patah semua, menggeram, “Kurang ajar kamu Hamdi!! KURANG AJAR!!!”   
         Dengan susah payah, akhirnya Kasman bisa berdiri tegak lagi. Dengan tubuh terhuyung-huyung, Kasman berkata, “Aku belum kalah. Hah...hahh. Aku belum kalah! …Tunggu saja, bedebah-bedebah!”
         Sekarang balik ke Isma yang masih pingsan. Rozaq yang masih berdiri di sampingnya, berkata, “Wajahnya belum terlihat. Tapi Insya Allah, guna-guna di tubuhnya sudah hilang.”
         “Hilang seratus persen atau belum?” Tanya Waluyo. Rozaq mengangguk, “Insya Allah sudah.”
         “Tapi kenapa Mas Rozaq belum berani mendekati Mbak Is?” Tanya Darti. Rozaq menyahut, “Aku masih harus waspada.”
         Hening sejenak. Hamdi yang sudah berdiri, mendekati Isma dengan perlahan. Rozaq menyentuh tangan kirinya, “Jangan dulu Mas.”
         Hamdi mengangguk, “Insya Allah tidak apa-apa.”
         Hamdi menyentuh tangan Isma, setelah itu ia sibak rambut yang menutupi wajah mantan kekasihnya. Melihat wajah Isma sudah normal lagi, Hamdi dan semuanya tersenyum lega. Hamdi berkata, “Ustadz Rozaq benar. Guna-guna itu sudah lenyap seratus persen.”
         “Alhamdulillaah..” ucap semuanya. Sesaat kemudian Isma sadar. Begitu kedua matanya terbuka dengan perlahan, ia berkata lemah, “Mas Hamdi…” 
         Hamdi tersenyum bahagia. “Kamu sudah baik lagi?”
         Isma mengangguk sambil tersenyum. Darti dan Murni langsung memeluk Isma. Tiga perempuan ini menangis tersedu-sedu. Darti menceritakan, begitu beratnya perjuangan Hamdi dkk untuk melepaskan Isma dari jeratan ilmu hitam Kasman yang sangat mengerikan. Setelah mendengar cerita Darti, Isma menatap mantan kekasihnya dengan wajah penuh kasih. Isma menangis karena terlalu bahagia. Hamdi yang tersipu, berkata :
         “Jadikanlah peristiwa besar ini sebagai pelajaran paling berharga dalam hidupmu.”
         “Pasti Mas,” sahut Isma yang badan dan kepalanya dipangku Murni. “Inilah peristiwa terheboh dalam hidupku.”
         Rozaq menyambung, “Peristiwa ini bisa memotivasi Mbak Is untuk belajar agama lebih dalam.”
         “Iya Mas Rozaq, aku sudah berniat begitu. Makasih banyak untuk Mas Rozaq.”
         Rozaq tersipu, “Saya tidak berbuat apapun, selain hanya berusaha.”
         Darti menyahut, “Usaha anda itulah yang ingin dihargai Mbak Ayu.”
         Tiba-tiba Hamdi cs dikejutkan oleh suara teriakan dari luar rumah. Sesaat kemudian, muncullah sesosok tinggi besar dari pintu masuk rumah itu. Ternyata itu Kasman. Wajahnya berkeringat darah. Dengan nafas tersengal-sengal, ia menunjuk Hamdi dkk, lalu mengumpat, “Keparat-keparat! Kalian jangan gembira dulu! Aku belum kalah! Hah..hah. Aku tidak akan kalah semudah ini!”  
         Setelah mengumpat, Kasman roboh di hadapan Nurman dkk. Hamdi mendekati Kasman yang duduk di lantai, lalu berujar, “Kasman…kejahatanmu cukup sampai pagi ini. Jangan pernah ganggu Isma lagi. …Sekarang bertobatlah, mumpung kamu masih punya kesempatan secuil. Kalau tidak, kamu akan menderita untuk selamanya.”
         Jamal menyambung, “Bertobatlah. Allah Maha Pengampun. Tenangkan hatimu yang kotor itu dengan dzikrullah, agar kamu bisa mengusir dendam kesumatmu pada Pak Kandar. …Bertobatlah Kasman!”   
         “TIDAAAK!!!”
         Kasman berdiri dengan susah payah. Ia pelototi Hamdi cs dengan kebencian selangit. Ia berkata, “Kalian semua akan kubinasakan! ...Desa Kates Abang ini akan menjadi kuburan kalian! …Tapi sayang, masih ada satu bedebah  yang sekarang tidak ada. Dialah bedebah yang paling utama. Dialah yang sudah membuatku jadi setan begini!”
         “Omong kosong!” bentak Hamdi. “Kamu jadi begini karena kamu sendiri!”
         “Tutup mulutmu!! Huhh! Kamu tidak tahu apa-apa soal urusan pribadiku!”
         “Kasman!” bentak Isma yang masih duduk di lantai bersama Murni dan Darti. “Apa belum cukup kamu menyiksaku seperti ini!? haa!? apa belum cukup kamu membuatku menderita begini!!? …Kamu memang aneh, Kasman. …Kamu bilang mencintaiku, tapi kenapa kamu tega mau bunuh aku!?”
          “Huh! Semua ini gara-gara Pesek bedebah itu! …Kalau bukan karena dia, sekarang kamu sudah jadi istriku! ISTRIKU!!”
         Isma menggelengkan kepala, “Kamu salah, Kasman. Hubungan kita sudah berakhir sebelum Mas Kandar melamarku. …Setelah kita putus dulu, kamu hanya kuanggap saudaraku, kakakku. …Sudah bagus kamu kuanggap kakak. …Tapi inikah balasanmu?”
         “CUKUP!!! Aku tidak mau ngomong soal itu lagi!!”
         “Hati-hati semuanya!” seru Hamdi. “Ilmu shirnya sudah hilang, tapi dia masih punya kekuatan fisiknya!”
         Kasman yang siap menyerang Hamdi dkk, berseru, “Sekarang kalian semua harus mampus! Termasuk kamu (menunjuk Isma)!”
         “Langkahi dulu mayatku!!” bentak Waluyo yang emosinya sudah meledak. Ia menyerang Kasman dengan pentung kayu sepanjang 50 cm. Tiga pukulannya menghujam sasaran dengan telak. Pukulan pertama menghujam bahu kanan Kasman, sedangkan pukulan kedua dan ketiga menghujam muka musuh bebuyutan Kandar ini. Tiga pukulan maut itu membuat Kasman terhuyung-huyung. Waluyo yang sudah kalap, langsung mengirim pukulan keempat. Pentung kayunya menghujam gundul Kasman dengan sangat telak. Kasman jatuh berlutut di hadapan Waluyo.
         Sambil metenteng, Waluyo berujar, “Mana kesaktianmu tadi? Haa!? Kenapa tidak kamu keluarkan lagi!?”
         Kasman hanya meringis menahan sakit. Posisi tubuhnya merangkak. Kepala plonthosnya menunduk. Waluyo merasa terhina melihat Kasman seperti tidak menggubrisnya. Amarah pemuda kekar ini semakin meledak. Dengan tubuh bergetar keras karena menahan marah, Waluyo membentak, “Botak keparat! Kamu harus merasakan akibat perbuatanmu tadi! Kamu harus merasakan derita Mbak Is! …Sekarang rasakan ini!”
         Waluyo memukulkan pentung kayunya untuk yang kelima kalinya. Pentung kayu itu ingin menghujam botak atau tengkuk Kasman, namun kali ini tidak mengenai sasaran. Dengan posisi kepala masih menunduk, tangan kiri Kasman menangkis pentung kayu itu dengan mudah. Waluyo tersentak. Kasman menatap bawah, namun  ia bisa menangkis pukulan Waluyo dengan mudah. Benarkah mata Kasman tidak hanya dua? Benarkah di tubuhnya masih ada sisa-sisa ilmu hitamnya?   
         Melihat Waluyo bengong, Kasman langsung menghujamkan bogem kanannya ke muka lawan. Begitu kerasnya pukulan itu, sehingga membuat Waluyo terkapar. Kasman mencabut pisau besar di pinggang kirinya, lalu ia acungkan ke Hamdi. “Sekarang ayo kita duel yang jantan!”
         Hamdi yang juga sudah emosi, mengangguk mantap. “Kuterima tantanganmu. …Asal bisa menolong teman-temanku ini, Insya Allah, aku siap melakukan apapun.”
         Alangkah geramnya Kasman melihat Hamdi menerima tantangannya dengan gagah berani. Hamdi mencabut pisau besarnya yang ia taruh di meja. Besarnya kira-kira sama dengan golok Kasman. Hamdi meminta semua temannya untuk menyingkir. Kasman menggeram, lalu menghujamkan goloknya ke Hamdi. Duel sengit pun terjadi. Untuk beberapa saat, keduanya tampak seimbang. Kasman yang sudah terluka parah akibat terkena ilmu setannya sendiri, belum bisa menembus pertahanan Hamdi yang tangkas memainkan golok. Beberapa tebasan pisau besarnya selalu bisa ditangkis oleh Hamdi.
         Beberapa detik kemudian, Hamdi merasa terlalu sempit untuk duel di dalam rumah. Sambil terus menangkis tebasan golok Kasman, Hamdi melangkah mundur, dan akhirnya keluar rumah. Kasman membentak, “Jangan kabur, pengecut! Kita belum duel habis-habisan!”
         Kasman menyusul Hamdi keluar rumah, setelah itu bertutur, “Duel hidup mati kita baru hampir separoh. Kenapa kamu sudah ingin lari!?”
         “Aku tidak lari. Aku hanya merasa tidak leluasa duel di dalam rumah. …Menghadapi musuh sekuat apapun, asal aku di pihak yang benar, aku tidak akan menyerah. Apalagi menghadapi manusia sekejam kamu, aku tidak boleh mundur selangkah pun!”
         Hening beberapa detik. Kasman melotot, lalu mengangguk-angguk. “Bagus…bagus sekali. Ternyata kamu memang jantan. Kamu memang satria sejati. Kamulah musuhku yang terkuat. …Kalau dibanding Arab busuk itu, kamu jauh lebih pantas untuk memiliki Isma.”
         Hamdi menggelengkan kepala. “Di dunia ini..Isma bukan jodohku. Tapi kalau di akhirat nanti, siapa tahu..Insya Allah, Isma akan jadi pendampingku yang abadi. …Kamu tidak bisa memiliki Isma, walaupun kamu sudah berusaha mati-matian untuk memilikinya. Itu artinya Isma bukan jodohmu. …Harusnya kamu berpikiran seperti aku. …Kamu tidak bisa mendapatkan Isma. Itu artinya, Allah akan memberi kamu wanita lain yang sebaik Isma, bahkan bisa lebih baik. …Harusnya kamu bersabar…bersabar menanti wanita lain yang akan diberikan Allah. Bukannya malah jadi setan begini!”
         “CUKUP!! Tidak usah ceramah lagi! Sekarang ayo kita lanjutkan duel hidup mati kita yang tertunda!”
         Hamdi menggelengkan kepala, “Memang sulit sekali menasehati orang yang sudah jadi budak iblis. Lebih sulit dari mencari sebutir uang logam di kegelapan.”
         Hamdi dan Kasman sudah siap tarung lagi. Jamal, Rozaq, Nurman dan yang lain juga sudah berada di luar rumah. Mereka melihat Kasman dan Hamdi berhadapan. Tinggi badan mereka terpaut agak jauh. Sekitar 10 cm. Badan Kasman juga lebih besar dari Hamdi. Kasman yang sudah jadi mutan atau makhluk eksperimen, bisa dikatakan unggul segalanya dari sisi fisik. Badannya lebih tinggi, lebih besar dan lebih berotot dari Hamdi. Namun semua itu belum menjamin ia bisa melumat Hamdi dengan mudah. Hal itu sudah terbukti dari duel mereka di dalam rumah tadi.  
         Setelah pada pasang kuda-kuda, Kasman membuka serangan. Dua lelaki kekar ini kembali bertarung sengit. Beberapa detik kemudian, setelah keduanya tampak seimbang, golok Hamdi berhasil menembus pertahanan Kasman. Tiga kali golok Hamdi menebas sasaran dengan cukup telak. Tebasan pertama mengenai lengan kiri Kasman yang di atas siku. Tebasan kedua mengenai perut Kasman, dan tebasan ketiga mengenai dada kirinya. Dari tiga tebasan golok itu, tebasan terakhirlah yang mengenai sasaran cukup telak.
         Kini dada kiri Kasman berdarah agak banyak. Beruntung, fisik Kasman sudah dirombak menjadi sekuat harimau. Kalau tidak, Kasman sudah tidak kuat berdiri. Sambil mencoba memampatkan darah di dada kirinya, Kasman memelototi Hamdi dengan kebencian sepenuh hatinya. Kukun berseru, “Terus Mas Hamdi! Terus! Iblis seperti dia tidak perlu dikasihani!”
         “Iya Mas! cepat sikat dia!” sambung Waluyo yang sudah benci berat pada Kasman. “Dia bukan manusia lagi, jadi Mas Hamdi tidak perlu ragu untuk menghabisi dia! Ayo Mas!!”    
         “Botak jelek!” sambung Rujan. “Kalau nanti kami sampai ngeroyok kamu, kamu benar-benar akan jadi tempe!”
         Amarah Kasman meledak. Ia kembali menyerang Hamdi dengan sepenuh tenaga dan kebenciannya. Beberapa saat kemudian, tebasan goloknya yang sangat kuat itu berhasil membuat Hamdi keteteran. Hamdi yang sebenarnya lebih terampil bermain golok, semakin kerepotan menghadapi kekuatan Kasman yang seperti tidak bisa habis. Walaupun sudah terluka parah, Kasman masih tetap menjadi lawan yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Beberapa detik kemudian, golok Kasman berhasil menebas lengan kiri Hamdi yang di bawah siku, alias bagian tulang hasta dan pengumpil.
         Hamdi meringis kesakitan. Ia masih beruntung, tebasan golok Kasman tidak mengenai lengannya dengan telak, sehingga darah yang keluar dari lengan kirinya hanya sedikit. Melihat Hamdi semakin keteteran, Kasman kembali mengirim serangan dengan sepenuh tenaganya. Beberapa tebasan kemudian, golok Kasman berhasil menebas dada kiri Hamdi. Kali ini agak telak mengenai sasaran. Hamdi merintih dengan rintihan yang lebih keras dari yang tadi. Wajar saja, sebab lukanya sekarang lebih parah dari luka di tangan kirinya tadi.
         “Mas Hamdi!!” seru Isma yang terlihat paling cemas dari semuanya. Kasman yang terus mendesak Hamdi melangkah mundur, berujar, “Bahagia sekali kamu, dicemaskan bunga hatimu.”
         Setelah berkata begitu, Kasman melotot. Ia angkat parangnya di depan dadanya, lalu berujar, “Musuh terkuatku, sekarang kamu akan kutaklukkan! HIAAA!!!”
         Kasman yang amarahnya sudah tak terkendali, menyerang Hamdi dengan membabi buta, namun hal itu malah membuatnya membuka kelemahan dirinya. Tebasan goloknya menjadi kacau, sehingga tidak pernah mengenai sasaran. Hamdi yang lebih tenang, langsung memanfaatkan kelemahan Kasman itu. Beberapa gebrakan kemudian, golok Hamdi berhasil mementalkan golok Kasman dari tangannya. Golok itu terlempar cukup jauh dari pemiliknya, sehingga sulit untuk dipungut lagi. Kasman menyentuh tangan kanannya sambil meringis.
         Setelah mengatur nafas, Kasman menyerang Hamdi dengan kedua lengannya yang dilapisi gelang besi. Namun baru dua pukulan yang ia lontarkan, perutnya sudah tertebas golok Hamdi. Sedetik kemudian, ganti dada kanannya yang tertusuk. Kasman mengerang. Ia hendak menyentuh golok yang sudah menusuk dadanya cukup dalam, namun keburu dicabut oleh pemiliknya. Kasman yang fisiknya sudah melemah, semakin tidak berkutik oleh jurus-jurus golok Hamdi.
         Selanjutnya, golok Hamdi menebas dada dan perut Kasman, setelah itu menusuk perut kiri Kasman yang sedikit di atas pinggang. Tusukan yang cukup dalam itu membuat Kasman menjerit. Pemandangan mengerikan ini membuat Darti, Murni dan Isma memalingkan muka atau menutup mata mereka. Mati-matian tangan kiri Kasman berusaha menahan laju parang itu. Walaupun sudah terluka parah, Kasman yang sudah jadi setan ini masih sulit untuk ditaklukkan. Beberapa detik kemudian, tangan kiri Kasman berhasil mencabut golok Hamdi yang menusuk perutnya. Setelah itu tangan kanannya menjatuhkan golok tersebut ke tanah.
         Kasman menggeram. Tinju kanannya memukul perut Hamdi dua kali. Hamdi membungkuk dan mengerang. Perutnya seperti dipukul gada besi. Setelah itu mukanya ditonjok Kasman dengan tinju kirinya, kemudian disusul tinju kanannya. Dua pukulan beruntun itu membuat Hamdi terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh berlutut. Namun Hamdi langsung bangkit lagi begitu melihat Kasman bergerak maju dengan sempoyongan. Kasman hendak menyerang dengan kedua lengannya, namun Hamdi bergerak lebih cepat. Bogem kanannya memukul muka Kasman, disusul tendangan kaki kanannya yang menghujam telak dada Kasman. Kasman yang semakin melemah ini akhirnya roboh.
         Hening sejenak. Hamdi berdiri di depan Kasman yang merangkak di tanah. Dengan nafas tersengal-sengal, Hamdi membentak, “Cukup Kasman! CUKUP!! …Bertobatlah…mumpung masih ada secuil kesempatan. …Bertobatlah Kasman!!”
         “Diam kamu!!”
         Kasman bangkit dengan sisa tenaganya, lalu ia dorong dada Hamdi dengan kedua lengannya yang sebesar betis lelaki dewasa. Kasman dan Hamdi roboh bersama. Hamdi yang bangkit duluan, mendekati Kasman yang sedang berusaha bangkit. Bogem kanannya memukul muka Kasman dua kali. Kasman kembali merangkak. Melihat Kasman sudah nyaris takluk, Hamdi melontarkan pukulan ketiga, namun kali ini Kasman bertindak. Ia tidak rela kepala botaknya dijadikan sansak. Tangan kirinya menangkis tinju kanan Hamdi. Tentu saja Hamdi tersentak. Kasman yang kondisi fisiknya sudah sangat mengenaskan itu ternyata masih bisa mempertahankan dirinya dari kekalahan.
         Melihat Hamdi melongo, Kasman langsung bangkit, lalu ia pukul perut Hamdi dengan tinju kanannya. Dua pukulan dengan tangan yang sama itu membuat Hamdi seperti kehilangan separoh tenaganya. Hamdi harus merelakan perutnya dipukul  tiga kali. Melihat Hamdi membungkuk dan meringis, Kasman langsung mengirim serangan berikutnya. Tinju kirinya menghujam pipi kanan Hamdi, disusul dua tinju kanannya yang menggasak mulut dan hidung lawan.  Imamnya masjid Al-Furqan ini roboh. Mulut dan hidungnya berdarah banyak.  
         Kasman mendekati Hamdi yang sedang berusaha bangkit, setelah itu ia lemparkan tubuh Hamdi ke semak belukar. Hamdi nyaris menabrak pohon besar. Kasman yang amarahnya sudah mencapai puncak, langsung mendekati Hamdi lagi. Fisiknya sudah terluka berat, namun kemarahannya itulah yang membuat tenaganya masih terus mengalir. Ia bantu Hamdi berdiri dengan paksa, lalu ia dorong Hamdi ke pohon besar. Kedua tangannya yang dilapisi gelang besi itu mencekik leher Hamdi. Cekikan baja itu nyaris memutus nafas Hamdi. Jika tidak ada yang menolong, beberapa detik lagi Hamdi sudah tamat. Kedua tangannya belum berhasil  menarik kedua tangan Kasman yang mencekik lehernya.
         Isma yang paling mencemaskan Hamdi, berteriak, “Cepat tolong Mas Hamdi! Cepat!!”
         Kukun dan Rujan yang sebenarnya ketakutan, langsung mengambil senjata tajam masing-masing. Dengan keberanian yang dipaksakan, dua pemuda ini membantu Hamdi yang nyawanya diujung tanduk. Kasman yang nyaris mematahkan leher Hamdi, mendadak mengerang kesakitan. Pinggangnya yang belakang ditusuk dengan parang oleh Rujan dan Kukun. Rujan yang lebih pemberani dari Kukun, membentak, “Lepaskan dia bedebah! Ayo lepaskan!!”
         “Kurang ajar!!” bentak Kasman kesakitan. Cekikannya di leher Hamdi  mengendur. Rujan berkata lagi, “Setan terkutuk! Kalau dia sampai celaka, hari ini kamu terakhir menikmati keindahan desa ini. Huhh! Awas kalau kamu berani menyiksa Mbak Isma lagi! Sekarang cepat lepaskan dia! Atau kamu ingin golokku ini menembus perutmu!!?”
         Dua pisau besar itu semakin menusuk pinggang belakang Kasman. Tentu saja Kasman semakin kesakitan. Cekikannya makin mengendur, dan akhirnya lepas. Hamdi yang lega bukan main, menyandarkan tubuhnya di pohon, lalu ia atur nafasnya yang nyaris putus. Kasman berteriak dengan sepenuh tenaganya. Sedetik kemudian Kasman membalikkan tubuhnya sambil menghujamkan bogem kanannya ke muka dua pembokongnya. Bogem yang seperti linggis (besi) itu menghujam muka Rujan dan Kukun dengan sangat telak. Dua pemuda kekar itu langsung ambruk dengan meninggalkan senjata mereka di pinggang belakang Kasman.
         Perlahan-lahan Kasman mencabut dua parang yang menancap di pinggangnya. Kasman meringis, menahan nyeri yang luar biasa. Setelah berhasil mencabut dua senjata itu, Kasman mengerang keras. Seiring dengan itu, Isma juga meringis sambil menutup matanya. Kasman membuang dua parang itu ke tanah, lalu membentak, “Cecunguk-cecunguk macam kalian mau jadi jagoan!? Haa!!?”
         Rujan dan Kukun yang duduk di tanah, merinding melihat tatapan mata Kasman yang lebih tajam dari pedang. Dengan tubuh sempoyongan, Kasman mendekati dua pemuda ini, lalu bertutur, “Kalian sudah sangat lancang sama aku. Berarti kalian sudah siap mati!”
         Kata-kata maut itu sangat menggetarkan jantung Rujan, apalagi Kukun. Melihat Kasman mau menghabisi Rujan dan Kukun, Waluyo yang tadi juga sudah dihajar Kasman, kembali menyerang Kasman dengan pedang. Sambil berteriak lantang, Waluyo menghujamkan pedangnya ke bahu kanan Kasman yang di dekat leher.  Kasman dengan sisa tenaganya, berhasil menahan pedang itu dengan tapak tangan kanannya. Waluyo melotot. Kasman meraung keras, setelah itu ia hujamkan bogem kanannya ke muka Waluyo. Pembantu Darti ini roboh di samping kedua temannya.
         Hening sejenak. Hanya nafas berat Kasman yang terdengar. Rozaq, Jamal, Andi dan Nurman yang berdiri di serambi rumah, hanya bisa melongo melihat keperkasaan Kasman. Lukanya sudah sedemikian parah, namun ia masih sulit ditundukkan. Hamdi yang masih menyandarkan tubuhnya di pohon besar, bergumam,
         “Keparat ini benar-benar monster! …Kalau kondisi tubuhnya masih segar bugar, belum terluka sedikit pun, diberondong lima belas peluru pun dia belum tentu bisa mati langsung. …Sungguh hebat ilmuwan gila yang sudah merombak tubuhnya jadi sekuat ini. …Masya Allah. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah.”
         Kasman yang berdiri di hadapan Waluyo, Rujan dan Kukun yang sudah pada K.O, berseru, “Ayo! Siapa lagi yang mau maju!!? AYO!!”
         Melihat Kasman mau menghabisi tiga pemuda di hadapannya, Nurman langsung bertindak mengikuti refleksnya. Ia lemparkan dua obor yang dibawa Darti dan Andi. Dua obor yang apinya masih menyala itu mengenai dada dan kepala Kasman. Kasman ganti memelototi Nurman, lalu mendekatinya dengan langkah sempoyongan. Namun baru beberapa langkah, Kasman sudah jatuh berlutut. Rupanya ia sudah kehabisan tenaga. Rozaq yang berdiri di samping Nurman, berkata, “Bertobatlah Kasman…sebelum maut menjemput kamu. …Bertobatlah sekarang!”
         “Kasman..” tutur Isma lembut. “Kalau kamu mau menuruti perintah Ustadz Rozaq…..aku mau memberi sedikit cintaku padamu. …Aku mau sedikit mencintaimu…sebagaimana saat kita pacaran dulu.”
         “DIAM KAMU!!!” bentak Kasman sambil menunjuk mantan kekasihnya. “Aku sudah tidak cinta kamu lagi! Sekarang aku sangat benci kamu! Sebagaimana aku membenci kalian (menunjuk semuanya)!!”
         “Kasman..” kata Isma menangis. “Kalau kamu mau bertobat…kamu boleh nikahi aku.”
         Hamdi dan semuanya melotot. Isma melanjutkan, “Demi Allah Kasman. Kalau kamu mau bertobat…aku mau jadi istrimu.”
         “Tutup mulutmu!! Tidak usah ngomong itu lagi! …Kamu sudah terlambat ngomong itu! SANGAT TERLAMBAT!!!”
         “Belum terlambat!” sahut Hamdi yang berdiri di belakang Kasman. “Aku juga sangat mencintainya (menunjuk Isma). Bahkan aku berani bilang, rasa cintaku padanya melebihi rasa cinta suaminya. …Kita semua tahu…selama dia dan suaminya hidup seatap, baru akhir-akhir ini suaminya bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus. ...Sebelumnya, dia diperlakukan tidak layak oleh suaminya yang kaya dan sombong itu. …Nah, sekarang kalian semua sudah tahu. Itulah sebabnya dia nyeleweng. Itulah sebabnya dia mencari lelaki lain yang dia anggap bisa memberinya cinta dan kasih sayang sejati.”
         Hening sejenak. Hamdi mengatur nafasnya yang berat, setelah itu melanjutkan, “Tapi Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, sekarang suaminya sudah sadar. Sekarang suaminya sudah bisa mencintainya dengan sepenuh hatinya. …..Beberapa bulan yang lalu, saat aku melihat dia dan suaminya masih belum rukun, aku langsung memberanikan diri untuk melamarnya. …Keluargaku datang ke rumahnya, lalu minta kerelaan hati suaminya untuk menceraikan dia. …Bukan hanya ortuku yang nembung suaminya untuk melepaskan dia, tapi juga ibu keduaku, Ustadz Aris, Ustadz Arwan…dan dua teman setiaku ini (menunjuk Nurman dan Andi).”
         Tapi aku benar-benar kecewa. ...Hatiku benar-benar sakit. …Suaminya yang kamu anggap musuh bebuyutanmu itu tidak mengijinkan. Alasannya karena saat itu suaminya sudah mulai sadar. …Dan alasan yang paling utama…suaminya masih mencintainya, walaupun sikapnya selama ini semena-mena. …Selain itu, suaminya juga sudah tahu kalau perceraian itu tidak baik, walaupun halal.”
         Diam sejenak. Tangis Isma semakin pilu. Darti dan Murni yang juga berhati lembut, langsung ikut meneteskan air mata. Hamdi melanjutkan, “Untuk saat ini, kalau ada lelaki yang ingin menikahi Isma, entah itu mantan pacarnya atau teman dekatnya, dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya itu. …Mungkin dia beranggapan, sekarang ini Isma masih sering disiksa Mas Kandar. Mungkin anggapan itu yang membuat dia masih berkeinginan untuk memiliki Isma. ….Nah..bagi yang masih berpikiran beitu, sekarang akan kujelaskan. …Sekarang ini, kehidupan rumah tangga Mas Kandar dan Isma sudah baik lagi, seperti saat pertama mereka menikah.”
         ”Sekarang ini Mas Kandar sudah tahu kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Beliau sudah tahu caranya menjadi suami yang baik, yang sholeh. Semua itu karena beliau sudah memiliki semangat untuk mempelajari agama lebih dalam.”
         Hening sesaat. Air mata Isma mengalir semakin deras. Ia benar-benar terharu dengan kejujuran mantan kekasihnya. Kasman yang sekarang menjadi manusia iblis, juga sedikit tersentuh dengan segala tuturan Hamdi. Ia terkesima untuk beberapa saat. Hamdi mendekati Kasman yang berlutut di tanah, lalu bicara lagi, “Tapi kamu tidak usah kuatir. …Aku akan membantumu mendapatkan bunga hati kita ini (menunjuk Isma yang menahan tangisnya yang sesenggukan). Aku janji Kasman…demi Allah. …Kalau sekarang kamu benar-benar mau bertobat, insya Allah, aku akan berusaha keras agar Pak Kandar mau menceraikan dia. Setelah itu kamu bisa menikahi dia.”
         Hening sejenak. Hamdi membelakangi Kasman yang bengong. Isma menatap Hamdi dengan tatapan kasih sayang sepenuh hatinya. Ia bergumam, “Mas Hamdi, alangkah mulia hatimu.”
         Hamdi kembali menatap Kasman. Dengan wajah penuh harap, harapan agar Kasman mau kembali ke jalanNya, Hamdi berkata, “Sekarang bertobatlah. Allah Maha Pengampun. …Kamu masih punya secuil kesempatan untuk bertobat. …Bertobatlah Kasman.”
         “Diam kamu!!” bentak Kasman sambil berusaha berdiri dengan susah payah. Setelah berdiri dengan sempoyongan, Kasman berkata, “Sekarang kamu musuh utamaku, jadi mana mungkin aku mau menuruti nasehatmu! Mana mungkin!!?”
         Hamdi menggelengkan kepala. “Rupanya kamu sudah memilih lembah neraka untuk jadi tempat kembalimu!”
        Kasman melontarkan bogem kanannya, namun pukulannya yang sudah sangat lemah itu dapat dihindari dengan mudah oleh Hamdi. Begitu menghindari pukulan Kasman dengan membungkuk, Hamdi langsung memungut salah satu pisau besar milik Rujan atau Kukun. Begitu Kasman membalikkan tubuhnya, Hamdi langsung menusukkan parangnya ke dada kiri Kasman. Tusukan itu begitu mantap dan begitu telak mengenai sasaran. Kasman meraung keras. Hamdi berkata, “Islam sangat melarang pembunuhan…apalagi membunuh orang yang seiman. …Tapi khusus untuk setan seperti kamu, tidak ada larangan untuk dihabisi nyawanya. …Kalau kamu dibiarkan hidup, kamu bisa menjadi pengacau kehidupan orang banyak.”
         Kasman berlutut, lalu muntah darah. Hamdi yang masih menusukkan parangnya di dada kiri Kasman, bertutur, “Dengan kelakuanmu yang sekejam ini, aku tidak bisa membayangkan, seperti apa nasibmu di alam kubur nanti. …Aku hanya bisa berharap, mudah-mudahan Allah masih berkenan mengasihani kamu dengan kasihNya yang tanpa batas.”
         Hening sesaat. Hamdi mengucap: “Selamat tinggal, Kasman.” Setelah itu ia cabut parangnya dengan perlahan. Kasman menjerit sekeras-kerasnya. Sedetik kemudian, tubuhnya roboh di tanah dengan perlahan. Kedua matanya tertutup rapat untuk selamanya. Hamdi yang ngos-ngosan, menaruh parangnya di samping kepala Kasman. Ia berjalan beberapa langkah, setelah itu berkata, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin. Terima kasih Duh Gusti yang Maha Welas Asih. Terima kasih atas pertolonganMu.”
         Hamdi bersujud syukur selama beberapa detik. Jamal, Rozaq, Nurman dan Andi mendekatinya. Rujan, Kukun dan Waluyo berdiri, lalu ikut mendekati Hamdi yang beradu pandang dengan Isma. Isma yang matanya masih basah, tersenyum manis. Hamdi membalas senyum menawan itu. Setelah semuanya pada diam karena tidak bisa melukiskan kebahagiaan di hati masing-masing, Rozaq berkata, “Kita wajib berterima kasih pada Mas Hamdi. Beliaulah yang sudah berjasa besar dalam menuntaskan masalah berat ini.”    
         Jamal menyentuh bahu kanan Hamdi, lalu berkata sambil tersenyum, “Akh Hamdi…antum benar-benar hebat.”
         Hamdi tersipu, “Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Allah Maha Besar. …Semuanya, berterima kasihlah pada Allah, Zat Yang Maha Sempurna.”
         Isma yang masih terus menatap Hamdi dengan senyum menawannya, bergumam, “Mas Hamdi…kamu lelaki terbaik yang pernah kukenal.” (Bersambung)

                                                            * * * * *

Karya: Harry Puter

0 comments:

Post a Comment

 
;