Monday, 8 July 2013

Bolu-Bolu Cinta (Tamat)

Hari Sabtu tanggal 5 Juli 2008 besok, Iskandar dan Isma akan berangkat ke Bandung, sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya. Isma dan Kandar akan mengucapkan: ‘Selamat tinggal,  perum. Bumi Indah tercinta.’ Alangkah sedihnya sebagian besar penduduk Bumi Indah, terutama ibu-ibu arisan dan jama’ah pengajian Al-furqan. Mereka harus kehilangan salah satu tetangga terbaik mereka. Ismayani Puspita Iskandar, penjual kue bolu yang cantik, pintar dan pemurah. Walaupun hanya dua setangah tahun tinggal di komplek Bumi Indah, kehadirannya benar-benar sudah memberi arti yang sangat besar bagi kehidupan komplek elit tersebut.

          Sujar, Retno dan Endah pun bersedih. Retno yang pernah  berkeinginan untuk menjadikan Isma sebagai menantunya, harus merelakan Isma meninggalkan kampung halamannya untuk selamanya. Retno sedih bukan karena gagal menjodohkan Isma dengan putra sulungnya, namun karena ia harus kehilangan salah satu tetangga baiknya yang pandai membuat kue-kue lezat. Jika Isma sudah pergi nanti, Retno akan kesulitan mencari pembuat jajanan lezat untuk acara yang sedang ia selenggerakan.
         Isma sendiri merasa bahagia sekaligus sedih. Sejak menjalin hubungan kasih dengan Hamdi Rusmanto, nama baiknya di Bumi Indah menjadi jelek. Namun sekarang ia sudah lega dan bahagia karena sudah berhasil mengembalikan nama baiknya dan nama baik suaminya. Itulah yang membuat Isma bahagia. Itulah yang membuat Isma bisa meninggalkan Bumi Indah dengan lega. Lebih dari itu, Isma  juga sangat bahagia karena sudah berhasil menyadarkan suaminya yang dulu berakhlak buruk. Isma sudah berhasil memperbaiki rumah tangganya yang nyaris remuk.  
         Namun Isma juga merasa sangat sedih. Ia harus meninggalkan Bumi Indah, tempat tinggal yang sudah memberinya kedamaian selama 2,5 tahun. Ia sedih karena harus meninggalkan jama’ah pengajian Al-Furqan, juga Endah dan Darti, dua perempuan yang sudah menjadi teman curhat terbaiknya. Dengan sangat berat hati, Isma harus meninggalkan dua perempuan yang sudah ia anggap ibu atau bibinya sendiri. Lebih dari itu, ada satu hal lagi yang membuat Isma merasa sangat sedih. Dan kalau mau jujur, satu hal inilah yang menjadi penyebab utama kesedihannya.
         Yah, apalagi kalau bukan karena ia harus berpisah dengan sang kekasih. Hamdi Rusmanto. Walaupun sekarang ini Isma dan Kandar sudah menjadi suami-istri yang baik, Isma tetap tidak bisa melupakan Hamdi. Walaupun sekarang ini Isma sudah bisa mencintai Kandar dengan tulus, Isma tetap lebih mencintai Hamdi. Apalagi sejak peristiwa mengerikan kemarin, di mana nyawanya nyaris terenggut. Sejak peristiwa besar kemarin, Isma kembali jatuh cinta pada Hamdi, padahal sebelumnya Isma sudah bisa melupakan pengurus masjid Al-Furqan  itu.
         Hari Kamis malam, dua hari sebelum Isma dan Kandar pindah ke Bandung, Kandar menyelenggarakan pengajian perpisahan di rumahnya. Pengajian itu diisi oleh Ustadz Didik Rushadi, ustadz muda temannya Ardi Wahyudi yang juga ikhwan Salaf. Pengajian yang isinya sangat bagus itu dihadiri oleh sebagian besar ibu-ibu jama’ah Al-Furqan. Malam yang indah ini Isma mengenakan baju pink (merah muda) dan jilbab merah agak minim. Setelah pengajian, acaranya makan malam bersama. Hamdi yang kebetulan duduk berhadapan dengan Isma, bisa menyaksikan kemolekan mantan kekasihnya. Ia bergumam, “Isma…mungkin malam ini aku terakhir lihat kamu.”
         Isma yang juga menatap Hamdi, tersenyum manis sekali. Jilbab merah yang dikenakannya itu benar-benar membuatnya semakin cantik jelita. Ketika Hamdi sudah tidak memandang Isma, Isma masih terus memandang sang pria pujaan hati. Selesai makan malam, Kandar dan Hamdi bicara empat mata. Kandar sangat berterima kasih karena Hamdi sudah bekerja super keras untuk menolong istrinya dari cengkeraman Kasman. Sebagai tanda terima kasih, Kandar mau memberi apapun yang diminta Hamdi.
         Kandar berkata, “Kalau Mas Hamdi minta uang, berapapun jumlahnya, Insya Allah akan kuusahakan. Kalau mau jujur, jasa Mas Hamdi kemarin tidak bisa diukur dengan uang lima atau tujuh juta.”     
         Kandar tersenyum, lalu tangan kanannya menyentuh bahu kiri Hamdi. “Nah..sekarang anda bilang saja, tidak usah malu atau takut. …Berapa yang anda inginkan?”
         Hamdi tersipu. Ia sentuh tangan Kandar yang menyentuh bahunya, lalu menyahut, “Saya tidak minta uang sepeser pun. …Kalau Pak Kandar ingin memberi saya sesuatu, Pak Kandar harus mau memberi sesuatu yang sangat saya inginkan. Tapi saya yakin, Bapak tidak akan bisa memberi sesuatu yang saya inginkan ini.”
         Kandar tersentak. Tanpa perlu dijelaskan lagi, Kandar sudah tahu apa yang paling diinginkan Hamdi. Setelah berbincang empat mata, dua pria kekasih Isma ini bersalaman erat. Malam harinya, Hamdi mendapat SMS dari Isma, bahwa Isma ingin bertemu Hamdi di sebuah tempat yang masih berada di Bumi Indah, namun sudah agak jauh dari rumah Kandar. Tentu saja Hamdi tersentak gembira. Besok paginya, ketika Hamdi mau berangkat ke tempat yang ditentukan, ia bergumam sambil tersenyum gembira, “Pagi ini benar-benar secerah hatiku. Maha Suci Allah. Ternyata aku masih bisa ketemu dia untuk yang terakhir kalinya.”   
         Setelah sampai di sebuah toko kelontong kecil, Hamdi disambut hangat oleh mantan bidadarinya. Pagi ini Isma mengenakan baju hijau muda dan jilbab kuning tidak sempurna.* Setelah berbincang asyik selama sekitar 15 menit, Isma menangis karena terlalu bahagia. Ia berkata dengan suara terbata-bata, “Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu harus berbuat apa. …..Aku hanya bisa mengucapkan…terima kasih banyak untuk segalanya.”
         “Terima kasih kembali,” sahut Hamdi tersipu. “Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Isma senang hidup di kota besar macam Bandung. Dan mudah-mudahan juga, Isma bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tanggamu. Amin.”
          Catatan Kaki: * Jilbab yang hanya menutupi sebagian rambut
         “Mas Hamdi…indah sekali kata-katamu itu.”
         “Seindah dirimu.”
         Isma tersenyum manis sekali. Sore harinya, Waluyo datang ke rumah Hamdi. Ia hanya disuruh Isma mengantar bingkisan untuk Hamdi. Waluyo mengatakan, sebentar lagi Hamdi akan mendapat SMS dari Murni. Setelah itu Hamdi boleh membuka bingkisan tersebut. Hamdi yang penasaran, langsung membawa dua bungkusan yang cukup besar itu ke kamarnya. Hamdi menatap bungkusan itu, lalu tersenyum, “Pasti ada kuenya. He he. Baunya saja sudah bikin ngiler.” 
         Beberapa menit kemudian Hamdi mendapat SMS dari Murni. Pembantu Isma itu mengatakan, sebenarnya Isma dan suaminya mau berangkat besok pagi, namun karena ada urusan penting, Jumat sore ini Isma sudah meninggalkan Bumi Indah. Sebelum ke Bandung, Isma harus pamitan dulu pada semua teman dan kerabatnya yang ada di Yogya dan Purworejo. Itulah yang membuat Isma mengajukan sedikit waktu keberangkatannya.
         Sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga, Isma hanya bisa memberi hadiah untuk Hamdi. Hadiah yang ada di dua bungkusan itu. Untuk lebih jelasnya, besok pagi Hamdi dipersilahkan datang ke rumah Isma. Dia akan membaca surat Isma yang akan disampaikan oleh Waluyo atau Rujan. Setelah membaca SMS Murni, Hamdi langsung membuka bingkisan itu. 
         Bingkisan pertama berisi roti-roti lezat buatan Isma, sedangkan bingkisan kedua berisi sepucuk amplop besar dan sepotong baju lengan panjang biru tua. Bentuknya setengah koko. Hamdi sangat gembira mendapat bingkisan-bingkisan itu, namun ia agak tersentak ketika melihat amplop besar dan tebal yang belum ia buka. Sambil menyentuh amplop tersebut, Hamdi bergumam, “Isinya apa ya?...Tidak mungkin hanya satu-dua lembar surat.”
         Hamdi membuka amplop itu. Ternyata isinya uang yang jumlahnya cukup banyak. Hamdi tersentak, “Masya Allah. Apa ini!?...Untuk siapa uang sebanyak ini!?”
         Hamdi semakin terkejut ketika mengetahui jumlah uang di tangannya itu. Jumlah keseluruhannya lima juta. Dengan jantung bergetar keras, Hamdi yang sekarang sudah sholeh lagi seperti dulu, bergumam, “Sekarang aku sudah berusaha kembali ke sirothol mustaqim (jalan yang lurus). Sekarang aku sudah berusaha mensucikan hati dan pikiranku. …Uang ini bisa mengganggu pikiranku. Uang ini bisa menurunkan iman dan ibadahku.“
         Karena tidak ingin gelisah terlalu lama, Hamdi langsung menelpon Isma, namun HP-nya tidak aktif. Hamdi ganti menelpon Murni yang sekarang sudah balik ke Wonosari. Hamdi berkata, “Maaf banget Mur, aku tidak bisa menerima uang sebanyak ini. Tolong sampaikan ke Mbak Is.“
         Murni tersenyum manis. “Rejeki tidak boleh ditolak lho Mas. Mbak Is kan tahu apa yang sangat dibutuhkan Mas Hamdi saat ini.”
         Hamdi tersipu. “Iya Mur, aku ngerti. Makasih banyak untuk perhatian Mbak Is, juga perhatianmu. Makasih banyak untuk kalian. …Kalau mau jujur, aku memang sangat membutuhkan uang ini, soalnya ekonomi keluargaku masih krisis.”
         “Jadi? Kenapa harus ditolak?”
         “Ehm (tersenyum malu)…anu Mur…aku…”
         “Sudahlah Mas (kemayu), terima saja. Kalau Mas Hamdi menolak, berarti Mas Hamdi tega menyakiti Mbak Is. Nah, dengan menerima uang itu, berarti Mas Hamdi sudah berusaha menyenangkan sang pujaan hati. Hi hi hi.”
         “Ngomong apa kamu (semakin tersipu). Ya sudah, besok pagi aku ke situ. Sekali lagi kuucapkan, makasih banyak sekali untuk Isma dan Murni.”
         “Sama-sama Mas.”
         Besok paginya, sekitar pukul enam kurang sepuluh, Hamdi mendatangi rumah Isma dengan sepeda federalnya. Rumah tidak besar namun indah itu sudah kosong melompong. Sesaat kemudian Waluyo keluar dari rumah Darti, lalu mendekati Hamdi yang masih duduk di sepedanya. Waluyo langsung menyerahkan sepucuk surat untuk Hamdi. Waluyo tersenyum, “Maaf banget Mas Hamdi, saya lagi repot banget, jadi sekarang saya tidak bisa menemani Mas Hamdi. Ngobrol-ngobrolnya besok saja ya?”
         Hamdi tersenyum. “Aku juga sudah tidak sabar untuk membaca surat ini. Makasih banyak sekali ya?”
         “Sama-sama Mas ( menjabat tangan Hamdi dengan kedua tangannya ).”
         Sesaat kemudian, Hamdi sudah berada di alam terbuka. Pagi yang cerah ini membuat pemandangan sekitar terlihat semakin menawan. Sambil duduk di pos kamling kecil yang berada di tepi ladang, Hamdi membuka surat itu. Dan inilah isi surat dari mantan bidadarinya.
    
         Assalamu’alaikum wr. wb.
         Mas Hamdi, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Makanya itu, aku hanya bisa mengutarakannya lewat surat ini. Mas Hamdi, aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kamu berikan padaku. Terima kasih banyak untuk cintamu beberapa bulan yang lalu, saat kita pacaran diam-diam, juga terima kasih tak terhingga atas pertolonganmu kemarin, pertolongan yang  sangat luar biasa. Pertolongan yang hanya bisa diberikan oleh orang yang hatinya benar-benar suci.
         Mas Hamdi, hubungan gelap kita kemarin memang berdampak sangat buruk bagi diriku dan dirimu, namun di sisi lain juga berdampak baik, terutama untuk suamiku. Sejak saat itu, suamiku benar-benar sadar akan kesalahannya selama ini. Sejak aku minta cerai kemarin, suamiku yang sombong, yang selalu mengutamakan pekerjaannya, yang tidak pernah memperhatikan istrinya, benar-benar ingin bertobat, ingin berubah menjadi orang baik, orang sholeh, seperti lelaki yang sedang membaca surat ini.
         Hal itulah yang membuat suamiku tidak ingin menceraikan aku. Dia memohon belas kasihanku. Dia memohon agar aku berkenan  memberinya kesempatan untuk menjadi suami yang baik, yang selalu menyayangi dan memperhatikan istrinya. Dia memohon dengan berlutut di hadapanku, bahkan dia juga  memeluk kedua kakiku. Tentu saja aku yang cengeng dan lemah ini tak kuasa menahan haru. Aku langsung memaafkan perlakuan bejatnya selama ini, dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga kami yang nyaris  hancur.    
         Alhamdulillah, berkat rahmat Gusti Allah, Mas Kandar bisa membuktikan janjinya itu. Mas Kandar bisa merubah dirinya menjadi jauh lebih baik. Sejak saat itu, Mas Kandar benar-benar mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hatinya. Walaupun kesholehannya masih jauh di bawah lelaki yang sedang membaca surat ini, setidaknya dia sudah mengalami perubahan diri yang amat drastis. Dia sudah bukan Suryo Iskandar yang dulu lagi.
         Segala puji hanya untuk Gusti Allah, Tuhannya seluruh alam semesta. Sekarang ini aku bisa mencintai Mas Kandar dengan tulus. Sekarang aku benar-benar bahagia. Aku berani bilang, kehidupan kami sekarang ini jauh lebih baik dari saat malam  pertama pernikahan kami dulu. Walaupun kami sudah tujuh tahun menikah, sekarang ini aku merasa sedang menjalani hidup baru. Kenapa begitu? karena saat dinikahi Mas Kandar dulu, aku hanya mencintainya dengan separoh hatiku.
         Waktu itu aku hanya mencintainya karena aku lebih mencintai keluargaku. Aku rela mengorbankan perasanku untuk ayah-ibuku tercinta, juga untuk kakak dan adik-adikku. Tapi  sekarang, aku benar-benar tulus mencintainya. Aku benar-benar bisa menerimanya di relung hatiku yang terdalam. Itulah yang membuat dia menolak lamaran Papa-Mamamu kemarin. Selain karena menghindari perceraian, saat itu kami  sudah saling mencintai. Dan yang lebih penting lagi, saat itu aku sudah bisa melupakan Hamdi. Sejak cintaku terhadap Mas Kandar semakin menguat, aku semakin bisa menghapus nama Hamdi Rusmanto, nama yang selama ini selalu terukir di dinding kamar hatiku yang terdalam.             
         Tapi…ohh. Jujur saja Mas Hamdi, untuk kalimat yang ini, aku menulisnya dengan air mata membanjir. Sejak kamu menolongku dari cengkeraman Kasman kemarin, cintaku padamu kembali menguat, bahkan lebih kuat dari saat kita berhubungan selama tujuh bulan kemarin. Sejak kamu menyelamatkan jiwaku kemarin, cintaku padamu menjadi lebih besar dari cintaku pada suamiku. Nama Hamdi Rusmanto yang kemarin sudah bisa kuhapus, sekarang tertulis  lagi di dinding kamar hatiku yang terdalam.
         Demi Allah Mas Hamdi, aku menulis kalimat ini dengan air mata membanjir. Kemarin aku sudah bisa melupakan kamu. Aku benar-benar sudah lega. Tapi sejak kamu menolongku kemarin…oh. Aku sama sekali tidak mengira semua ini. Sekarang ini kamu sudah bertahta lagi di hatiku. Oh Mas Hamdiku, Sayangku, sekarang aku benar-benar sadar. Apapun yang terjadi, aku hanya mencintai satu lelaki. Hatiku hanya milik satu lelaki. Lelaki yang takkan pernah bisa hidup bersamaku di dunia ini. Siapa lagi kalau bukan Mas Hamdi Rusmanto.    
         Sebagaimana yang dulu sering Mas katakan, jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, siapa tahu kita akan jadi pasangan di alam kedua nanti, alam yang abadi, yang kebahagiaannya takkan pernah musnah. Untuk yang terakhir, kukatakan sekali lagi dengan perasaan cinta sepenuh hatiku. Mas Hamdi, aku sangat mencintaimu.  Aku sayaaang banget sama Mas Hamdi.
         Nah kekasihku, ini saja yang ingin kusampaikan. Sekarang aku benar-benar lega. Sebagaimana yang sudah sering Mas nasehatkan, aku akan selalu menjadikan dzikrullah sebagai penawar rindu kita. Aku akan selalu mengingat nasehat-nasehat Mas Hamdi. Sekali lagi kukatakan: aku sayaaang banget sama Mas Hamdi. Trima kasih tak terhingga untuk segalanya. Selamat tinggal. Wassalam…

         Hamdi menutup surat itu dengan perlahan, lalu menempelkannya di dadanya. Ia masukkan surat itu ke amplopnya, lalu ia kembali ke motornya. Ia keluarkan foto Isma dari tas kecilnya. Sambil menikmati pemandangan pagi yang mempesona, Hamdi menatap foto Isma yang tersenyum manis. Hamdi yang hatinya sudah tegar,  berkata, “Aku juga sayang kamu Isma. Sayaang banget.”
         Hening sejenak. Sambil menyentuh kedua stang motor GL-Pro, Hamdi menatap sawah, ladang dan hutan-hutan kecil yang bagai surga dunia. Hamdi tersenyum, “Mudah-mudahan, Gusti Allah berkenan mempertemukan kita di negeri abadi. Negeri
yang penuh kedamaian sejati.”
                                               
                                                     TAMAT        
              
                                                                                      Yogyakarta 2009                                    
          


                                
                                
                                   HARRY PUTER PKC  ( Penulis Kelas Coro )
                       
                          Pogung Baru F-20, Yogyakarta
                               081328256428

             keterangan :
             Nama asli penulis : Harry Prabowo. Dijuluki Harry Puter karena
                muter-muter  cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter  karena  
                ditolak-tolak.

0 comments:

Post a Comment

 
;