Hari Sabtu tanggal 5 Juli 2008 besok, Iskandar
dan Isma akan berangkat ke Bandung, sebagaimana yang sudah dijelaskan di bab
sebelumnya. Isma dan Kandar akan mengucapkan: ‘Selamat tinggal, perum. Bumi Indah tercinta.’ Alangkah sedihnya
sebagian besar penduduk Bumi Indah, terutama ibu-ibu arisan dan jama’ah
pengajian Al-furqan. Mereka harus kehilangan salah satu tetangga terbaik
mereka. Ismayani Puspita Iskandar, penjual kue bolu yang cantik, pintar dan
pemurah. Walaupun hanya dua setangah tahun tinggal di komplek Bumi Indah,
kehadirannya benar-benar sudah memberi arti yang sangat besar bagi kehidupan
komplek elit tersebut.
Sujar, Retno dan Endah pun bersedih. Retno yang pernah berkeinginan untuk menjadikan Isma sebagai menantunya, harus merelakan Isma meninggalkan kampung halamannya untuk selamanya. Retno sedih bukan karena gagal menjodohkan Isma dengan putra sulungnya, namun karena ia harus kehilangan salah satu tetangga baiknya yang pandai membuat kue-kue lezat. Jika Isma sudah pergi nanti, Retno akan kesulitan mencari pembuat jajanan lezat untuk acara yang sedang ia selenggerakan.
Sujar, Retno dan Endah pun bersedih. Retno yang pernah berkeinginan untuk menjadikan Isma sebagai menantunya, harus merelakan Isma meninggalkan kampung halamannya untuk selamanya. Retno sedih bukan karena gagal menjodohkan Isma dengan putra sulungnya, namun karena ia harus kehilangan salah satu tetangga baiknya yang pandai membuat kue-kue lezat. Jika Isma sudah pergi nanti, Retno akan kesulitan mencari pembuat jajanan lezat untuk acara yang sedang ia selenggerakan.
Isma sendiri merasa bahagia sekaligus sedih.
Sejak menjalin hubungan kasih dengan Hamdi Rusmanto, nama baiknya di Bumi Indah
menjadi jelek. Namun sekarang ia sudah lega dan bahagia karena sudah berhasil
mengembalikan nama baiknya dan nama baik suaminya. Itulah yang membuat Isma
bahagia. Itulah yang membuat Isma bisa meninggalkan Bumi Indah dengan lega.
Lebih dari itu, Isma juga sangat bahagia
karena sudah berhasil menyadarkan suaminya yang dulu berakhlak buruk. Isma
sudah berhasil memperbaiki rumah tangganya yang nyaris remuk.
Namun Isma juga merasa sangat sedih.
Ia harus meninggalkan Bumi Indah, tempat tinggal yang sudah memberinya
kedamaian selama 2,5 tahun. Ia sedih karena harus meninggalkan jama’ah
pengajian Al-Furqan, juga Endah dan Darti, dua perempuan yang sudah menjadi
teman curhat terbaiknya. Dengan sangat berat hati, Isma harus meninggalkan dua
perempuan yang sudah ia anggap ibu atau bibinya sendiri. Lebih dari itu, ada
satu hal lagi yang membuat Isma merasa sangat sedih. Dan kalau mau jujur, satu
hal inilah yang menjadi penyebab utama kesedihannya.
Yah, apalagi kalau bukan karena ia
harus berpisah dengan sang kekasih. Hamdi Rusmanto. Walaupun sekarang ini Isma
dan Kandar sudah menjadi suami-istri yang baik, Isma tetap tidak bisa melupakan
Hamdi. Walaupun sekarang ini Isma sudah bisa mencintai Kandar dengan tulus,
Isma tetap lebih mencintai Hamdi. Apalagi sejak peristiwa mengerikan kemarin,
di mana nyawanya nyaris terenggut. Sejak peristiwa besar kemarin, Isma kembali
jatuh cinta pada Hamdi, padahal sebelumnya Isma sudah bisa melupakan pengurus masjid Al-Furqan itu.
Hari Kamis malam, dua hari sebelum
Isma dan Kandar pindah ke Bandung, Kandar menyelenggarakan pengajian perpisahan
di rumahnya. Pengajian itu diisi oleh Ustadz Didik Rushadi, ustadz muda
temannya Ardi Wahyudi yang juga ikhwan Salaf. Pengajian yang isinya sangat
bagus itu dihadiri oleh sebagian besar ibu-ibu jama’ah Al-Furqan. Malam yang
indah ini Isma mengenakan baju pink (merah
muda) dan jilbab merah agak minim. Setelah pengajian, acaranya makan malam
bersama. Hamdi yang kebetulan duduk berhadapan dengan Isma, bisa menyaksikan kemolekan
mantan kekasihnya. Ia bergumam, “Isma…mungkin malam ini aku terakhir lihat
kamu.”
Isma yang juga menatap Hamdi,
tersenyum manis sekali. Jilbab merah yang dikenakannya itu benar-benar
membuatnya semakin cantik jelita. Ketika Hamdi sudah tidak memandang Isma, Isma
masih terus memandang sang pria pujaan hati. Selesai makan malam, Kandar dan
Hamdi bicara empat mata. Kandar sangat berterima kasih karena Hamdi sudah bekerja
super keras untuk menolong istrinya dari cengkeraman Kasman. Sebagai tanda
terima kasih, Kandar mau memberi apapun yang diminta Hamdi.
Kandar berkata, “Kalau Mas Hamdi minta
uang, berapapun jumlahnya, Insya Allah
akan kuusahakan. Kalau mau jujur, jasa Mas Hamdi kemarin tidak bisa diukur
dengan uang lima atau tujuh juta.”
Kandar tersenyum, lalu tangan kanannya
menyentuh bahu kiri Hamdi. “Nah..sekarang anda bilang saja, tidak usah malu
atau takut. …Berapa yang anda inginkan?”
Hamdi tersipu. Ia sentuh tangan Kandar
yang menyentuh bahunya, lalu menyahut, “Saya tidak minta uang sepeser pun. …Kalau
Pak Kandar ingin memberi saya sesuatu, Pak Kandar harus mau memberi sesuatu
yang sangat saya inginkan. Tapi saya yakin, Bapak tidak akan bisa memberi
sesuatu yang saya inginkan ini.”
Kandar tersentak. Tanpa perlu
dijelaskan lagi, Kandar sudah tahu apa yang paling diinginkan Hamdi. Setelah
berbincang empat mata, dua pria kekasih Isma ini bersalaman erat. Malam harinya, Hamdi mendapat SMS dari Isma, bahwa
Isma ingin bertemu Hamdi di sebuah tempat yang masih berada di Bumi Indah,
namun sudah agak jauh dari rumah Kandar. Tentu saja
Hamdi tersentak gembira. Besok paginya, ketika Hamdi mau berangkat ke tempat yang ditentukan, ia bergumam sambil
tersenyum gembira, “Pagi ini benar-benar secerah hatiku. Maha Suci Allah.
Ternyata aku masih bisa ketemu dia untuk yang terakhir kalinya.”
Setelah sampai di sebuah toko kelontong kecil, Hamdi disambut hangat oleh mantan bidadarinya. Pagi ini Isma
mengenakan baju hijau muda dan jilbab kuning tidak sempurna.* Setelah
berbincang asyik selama sekitar 15 menit, Isma menangis karena terlalu bahagia. Ia berkata dengan suara terbata-bata,
“Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu harus berbuat apa. …..Aku
hanya bisa mengucapkan…terima kasih banyak untuk segalanya.”
“Terima kasih kembali,” sahut Hamdi
tersipu. “Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Isma senang hidup di kota
besar macam Bandung.
Dan mudah-mudahan juga, Isma bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tanggamu. Amin.”
Catatan Kaki: * Jilbab yang hanya menutupi
sebagian rambut
“Mas Hamdi…indah sekali kata-katamu itu.”
“Seindah dirimu.”
Isma tersenyum manis sekali. Sore harinya,
Waluyo datang ke rumah Hamdi. Ia hanya disuruh Isma mengantar bingkisan untuk
Hamdi. Waluyo mengatakan, sebentar lagi Hamdi akan mendapat SMS dari Murni.
Setelah itu Hamdi boleh membuka bingkisan tersebut. Hamdi yang penasaran,
langsung membawa dua bungkusan yang cukup besar itu ke kamarnya. Hamdi menatap bungkusan
itu, lalu tersenyum, “Pasti ada kuenya. He he. Baunya saja sudah bikin ngiler.”
Beberapa menit kemudian Hamdi mendapat SMS dari Murni.
Pembantu Isma itu mengatakan, sebenarnya Isma dan suaminya mau berangkat besok
pagi, namun karena ada urusan penting, Jumat sore ini Isma sudah meninggalkan
Bumi Indah. Sebelum ke Bandung,
Isma harus pamitan dulu pada semua teman dan kerabatnya yang ada di Yogya dan
Purworejo. Itulah yang membuat Isma mengajukan sedikit waktu keberangkatannya.
Sebagai tanda terima kasih yang tak
terhingga, Isma hanya bisa memberi hadiah untuk Hamdi. Hadiah yang ada di dua
bungkusan itu. Untuk lebih jelasnya, besok pagi Hamdi dipersilahkan datang ke
rumah Isma. Dia akan membaca surat
Isma yang akan disampaikan oleh Waluyo atau Rujan. Setelah membaca SMS Murni,
Hamdi langsung membuka bingkisan itu.
Bingkisan pertama berisi roti-roti
lezat buatan Isma, sedangkan bingkisan kedua berisi sepucuk amplop besar dan
sepotong baju lengan panjang biru tua. Bentuknya setengah koko. Hamdi sangat
gembira mendapat bingkisan-bingkisan itu, namun ia agak tersentak ketika
melihat amplop besar dan tebal yang belum ia buka. Sambil menyentuh amplop
tersebut, Hamdi bergumam, “Isinya apa ya?...Tidak mungkin hanya satu-dua lembar
surat.”
Hamdi membuka amplop itu. Ternyata
isinya uang yang jumlahnya cukup banyak. Hamdi tersentak, “Masya Allah. Apa ini!?...Untuk siapa uang sebanyak ini!?”
Hamdi semakin terkejut ketika mengetahui
jumlah uang di tangannya itu. Jumlah keseluruhannya lima juta. Dengan jantung bergetar keras, Hamdi
yang sekarang sudah sholeh lagi seperti dulu, bergumam, “Sekarang aku sudah
berusaha kembali ke sirothol mustaqim (jalan
yang lurus). Sekarang aku sudah berusaha mensucikan hati dan pikiranku. …Uang
ini bisa mengganggu pikiranku. Uang ini bisa menurunkan iman dan ibadahku.“
Karena tidak ingin gelisah terlalu lama,
Hamdi langsung menelpon Isma, namun HP-nya tidak aktif. Hamdi ganti menelpon Murni yang
sekarang sudah balik ke Wonosari. Hamdi berkata, “Maaf banget Mur,
aku tidak bisa menerima uang sebanyak ini. Tolong sampaikan ke Mbak Is.“
Murni tersenyum manis. “Rejeki tidak
boleh ditolak lho Mas. Mbak Is kan
tahu apa yang sangat dibutuhkan Mas Hamdi saat ini.”
Hamdi tersipu. “Iya Mur, aku
ngerti. Makasih banyak untuk perhatian Mbak Is, juga perhatianmu. Makasih
banyak untuk kalian. …Kalau mau jujur, aku memang sangat membutuhkan uang ini, soalnya
ekonomi keluargaku masih krisis.”
“Jadi? Kenapa harus ditolak?”
“Ehm (tersenyum malu)…anu Mur…aku…”
“Sudahlah Mas (kemayu), terima saja.
Kalau Mas Hamdi menolak, berarti Mas Hamdi tega menyakiti Mbak Is. Nah, dengan
menerima uang itu, berarti Mas Hamdi sudah berusaha menyenangkan sang pujaan
hati. Hi hi hi.”
“Ngomong apa kamu (semakin tersipu).
Ya sudah, besok pagi aku ke situ. Sekali lagi kuucapkan, makasih banyak sekali
untuk Isma dan Murni.”
“Sama-sama Mas.”
Besok paginya, sekitar pukul enam
kurang sepuluh, Hamdi mendatangi rumah Isma dengan sepeda federalnya. Rumah
tidak besar namun indah itu sudah kosong melompong. Sesaat kemudian Waluyo
keluar dari rumah Darti, lalu mendekati Hamdi yang masih duduk di sepedanya. Waluyo
langsung menyerahkan sepucuk surat
untuk Hamdi. Waluyo tersenyum, “Maaf banget Mas Hamdi, saya lagi repot banget,
jadi sekarang saya tidak bisa menemani Mas Hamdi. Ngobrol-ngobrolnya besok saja
ya?”
Hamdi tersenyum. “Aku juga sudah tidak
sabar untuk membaca surat
ini. Makasih banyak sekali ya?”
“Sama-sama Mas ( menjabat tangan Hamdi
dengan kedua tangannya ).”
Sesaat kemudian, Hamdi sudah berada di
alam terbuka. Pagi yang cerah ini membuat pemandangan sekitar terlihat semakin
menawan. Sambil duduk di pos kamling kecil yang berada di tepi ladang, Hamdi
membuka surat
itu. Dan inilah isi surat
dari mantan bidadarinya.
Assalamu’alaikum
wr. wb.
Mas
Hamdi, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu harus berkata atau
berbuat apa. Makanya itu, aku hanya bisa mengutarakannya lewat surat ini. Mas Hamdi, aku sangat berterima
kasih atas semua yang telah kamu berikan padaku. Terima kasih banyak untuk
cintamu beberapa bulan yang lalu, saat kita pacaran diam-diam, juga terima
kasih tak terhingga atas pertolonganmu kemarin, pertolongan yang sangat luar biasa. Pertolongan yang hanya
bisa diberikan oleh orang
yang hatinya benar-benar suci.
Mas
Hamdi, hubungan gelap
kita kemarin memang berdampak sangat buruk bagi diriku dan dirimu, namun di
sisi lain juga berdampak baik, terutama untuk suamiku. Sejak saat itu, suamiku
benar-benar sadar akan kesalahannya selama ini. Sejak aku minta cerai kemarin,
suamiku yang sombong, yang selalu mengutamakan pekerjaannya, yang tidak pernah
memperhatikan istrinya, benar-benar ingin bertobat, ingin berubah menjadi orang
baik, orang sholeh, seperti lelaki yang sedang membaca surat ini.
Hal
itulah yang membuat suamiku tidak ingin menceraikan aku. Dia memohon belas
kasihanku. Dia memohon agar aku berkenan
memberinya kesempatan untuk menjadi suami yang baik, yang selalu
menyayangi dan memperhatikan istrinya. Dia memohon dengan berlutut di
hadapanku, bahkan dia juga memeluk kedua
kakiku. Tentu saja aku yang cengeng dan lemah ini tak kuasa menahan haru. Aku
langsung memaafkan perlakuan bejatnya selama ini, dan memberinya kesempatan
untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga kami yang nyaris hancur.
Alhamdulillah, berkat rahmat Gusti Allah, Mas Kandar bisa membuktikan
janjinya itu. Mas Kandar
bisa merubah dirinya menjadi jauh lebih baik. Sejak saat itu, Mas Kandar benar-benar
mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hatinya. Walaupun kesholehannya masih
jauh di bawah lelaki yang sedang membaca surat ini, setidaknya dia sudah
mengalami perubahan
diri yang amat drastis. Dia sudah bukan Suryo Iskandar yang dulu lagi.
Segala
puji hanya untuk Gusti Allah, Tuhannya seluruh alam semesta. Sekarang ini aku
bisa mencintai Mas Kandar dengan tulus. Sekarang aku benar-benar bahagia. Aku
berani bilang, kehidupan kami sekarang ini jauh lebih baik dari saat malam pertama pernikahan kami dulu. Walaupun kami
sudah tujuh tahun menikah, sekarang ini aku merasa sedang menjalani hidup baru.
Kenapa begitu? karena saat dinikahi Mas Kandar dulu, aku hanya mencintainya
dengan separoh hatiku.
Waktu
itu aku hanya mencintainya karena aku lebih mencintai keluargaku. Aku rela mengorbankan
perasanku untuk ayah-ibuku tercinta, juga untuk kakak dan adik-adikku. Tapi sekarang, aku benar-benar tulus mencintainya.
Aku benar-benar bisa menerimanya di relung hatiku yang terdalam. Itulah yang
membuat dia menolak lamaran Papa-Mamamu kemarin. Selain karena menghindari
perceraian, saat itu kami sudah saling
mencintai. Dan yang lebih penting lagi, saat itu aku sudah bisa melupakan
Hamdi. Sejak cintaku terhadap Mas Kandar semakin menguat, aku semakin bisa
menghapus nama Hamdi Rusmanto, nama yang selama ini selalu terukir di dinding
kamar hatiku yang terdalam.
Tapi…ohh. Jujur saja Mas Hamdi, untuk kalimat yang ini, aku menulisnya
dengan air mata membanjir. Sejak kamu menolongku dari cengkeraman Kasman
kemarin, cintaku padamu kembali menguat, bahkan lebih kuat dari saat kita
berhubungan selama tujuh bulan kemarin. Sejak kamu menyelamatkan jiwaku
kemarin, cintaku padamu menjadi lebih besar dari cintaku pada suamiku. Nama
Hamdi Rusmanto yang kemarin sudah bisa kuhapus, sekarang tertulis lagi di dinding kamar hatiku yang terdalam.
Demi
Allah Mas Hamdi, aku menulis kalimat ini dengan air mata membanjir. Kemarin aku
sudah bisa melupakan kamu. Aku benar-benar sudah lega. Tapi sejak kamu
menolongku kemarin…oh. Aku sama sekali tidak mengira semua ini. Sekarang ini
kamu sudah bertahta lagi di hatiku. Oh Mas Hamdiku, Sayangku, sekarang aku
benar-benar sadar. Apapun yang terjadi, aku hanya mencintai satu lelaki. Hatiku
hanya milik satu lelaki. Lelaki yang takkan pernah bisa hidup bersamaku di
dunia ini. Siapa lagi kalau bukan Mas Hamdi Rusmanto.
Sebagaimana yang dulu sering Mas katakan,
jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, siapa tahu kita akan jadi pasangan
di alam kedua nanti, alam yang abadi, yang kebahagiaannya takkan pernah musnah.
Untuk yang terakhir, kukatakan sekali lagi dengan perasaan cinta sepenuh
hatiku. Mas Hamdi, aku sangat mencintaimu.
Aku sayaaang banget sama Mas Hamdi.
Nah
kekasihku, ini saja yang ingin kusampaikan. Sekarang aku benar-benar lega.
Sebagaimana yang sudah sering Mas nasehatkan, aku akan selalu menjadikan
dzikrullah sebagai penawar rindu kita. Aku akan selalu mengingat
nasehat-nasehat Mas Hamdi. Sekali lagi kukatakan: aku sayaaang banget sama Mas
Hamdi. Trima kasih tak terhingga untuk segalanya. Selamat tinggal. Wassalam…
Hamdi menutup surat itu dengan perlahan, lalu
menempelkannya di dadanya. Ia masukkan surat
itu ke amplopnya, lalu ia kembali ke motornya. Ia keluarkan foto Isma dari tas
kecilnya. Sambil menikmati pemandangan pagi yang mempesona, Hamdi menatap foto
Isma yang tersenyum manis. Hamdi yang hatinya sudah tegar, berkata, “Aku juga sayang kamu Isma. Sayaang
banget.”
Hening sejenak. Sambil menyentuh kedua
stang motor GL-Pro, Hamdi menatap sawah, ladang dan hutan-hutan kecil yang
bagai surga dunia. Hamdi tersenyum, “Mudah-mudahan, Gusti Allah berkenan
mempertemukan kita di negeri abadi. Negeri
yang penuh
kedamaian sejati.”
TAMAT
Yogyakarta
2009
HARRY
PUTER PKC ( Penulis Kelas Coro )
Pogung Baru F-20, Yogyakarta
081328256428
keterangan :
Nama asli penulis : Harry Prabowo. Dijuluki
Harry Puter karena
muter-muter
cari penerbit buku dan pekerjaan. Muter-muter karena
ditolak-tolak.

0 comments:
Post a Comment