Wednesday, 10 July 2013

New LIAR: Kuda Mas (Kurir dan Gadis Manis) ; Bagian Pertama


Pensiunnya Pembalap Jalanan
 
Malam menyelimuti Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar orang sudah pada lelap di ranjang masing-masing. Di suatu tempat yang terletak agak jauh dari jalan raya, tampaklah rombongan lelaki-perempuan yang mayoritas masih muda. Jumlahnya ada puluhan, bahkan ratusan. Mereka bersorak dengan semangat, seperti sedang menonton pertandingan sepak bola, tinju atau basket. Malam yang gelap menjadi agak terang karena api unggun besar yang mereka nyalakan. Rupanya mereka sedang menonton balap motor.
         
 Seorang gadis berpakaian seksi, berdiri di hadapan lima pemuda bermotor yang sesaat lagi akan ngetrack atau balapan liar. Si gadis seksi berwajah manis itu melangkah ke tepi, lalu mengibarkan bendera di tangan kanannya, tanda balapan dimulai. Lima pemuda itu langsung tancap gas penuh. Para penonton pada menyeru nama, “INDRA! INDRA!!”
          Seorang pemuda berhelm cakil hitam dan berjaket biru tua, terlihat yang paling cepat dari keempat lawannya. Beberapa detik kemudian, ia dan motor bebeknya sudah sampai di garis Finish, kemudian bergerak lagi untuk kembali ke garis Start. Ia tiba paling awal di garis Start. Ia turun dari motornya sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Ia buka helmnya, dan tampaklah wajahnya yang ganteng dan kulitnya yang sawo matang. Keberhasilannya menjuarai balapan membuat sorak penonton semakin meledak. Rupanya dia yang bernama Indra.
          Ia berdiri membelakangi para pendukungnya yang bersorak gembira. Para pendukungnya mengejek geng motor lawan main mereka. Seorang lelaki pendek kekar berkepala plonthos, menatap Indra dan kawan-kawannya dengan tatapan penuh kebencian. Hatinya yang menggeram itu berkata, “Oke, kali ini lo menang lagi. Tapi lihatlah pertemuan kita mendatang. Lo akan gue injak-injak!”
          Seorang anak muda bertubuh langsing dan tinggi sedang, berpelukan dengan Indra. Ia mengenakan kaos biru muda bergambar logo S (Superman). Indra pun mengelus kepala anak muda itu. Rupanya ia adik kandungnya. Wajah keduanya agak jauh berbeda, hanya bentuk dan tinggi badan mereka yang sama. Sama-sama langsing, padat dan atletis. Usia mereka terpaut sekitar 3-4 tahun. Ia juga ikut mengejek geng motor yang sudah dikalahkan kakaknya.
          Sesaat kemudian, salah seorang kawan Indra melangkah ke depan, lalu berkata lantang, “Sobatku semua, siapakah raja jalanan saat ini!?”
          Suasana hening sesaat. Ia tersenyum, lalu berkata lagi, “Yah. Siapa lagi kalau bukan Irgi Indra Haryadiii!!!”   
          Semua pendukung Indra atau Irgi bersorak gembira. Irgi pun pulang bersama adiknya. Ia membonceng adiknya dengan motor bebek yang tadi ia pakai untuk balapan. Beberapa menit kemudian, Irgi melihat tiga pemuda berandal yang mau merampok tas seorang ibu bertubuh agak gemuk. Pemuda kekar berjaket putih itu mengancam Si Ibu dengan belatinya. Wanita empat puluhan itu bersama anak lelakinya yang masih kecil. Irgi yang baik hati, langsung menghentikan motornya, kemudian mendekati Si Ibu yang nyawanya terancam. Dengan setengah berlari, Irgi berseru, “Brengsek-brengsek! Apa yang kalian lakukan!?”
          “Bukan urusanmu!” sahut si jaket putih. “Nggak usah ikut campur kalau nggak ingin mampus!”
          Irgi melotot, “Gue gak takut karena gue di pihak yang benar. Cepat balikin tasnya!”
          Tentu saja tiga perampok itu marah besar. Si jaket putih yang tampaknya pimpinan tiga pemuda itu, menyuruh kedua kawannya untuk membereskan Irgi. Perkelahian sengit pun terjadi. Dengan susah payah, Irgi berhasil membereskan dua berandal itu. Selain jago ngetrack, ternyata Irgi juga cukup jago berantem. Kini tinggal si kekar jaket putih yang harus ia hadapi. Si jaket putih langsung menyerang dengan pisaunya, namun Irgi dengan gesit berhasil menghindari serangan pisau itu. Beberapa detik kemudian Irgi berhasil melempar pisau itu dari tangan pemiliknya. Mereka pun melanjutkan duel dengan tangan kosong.
          Untuk beberapa saat si berandal kekar berada di atas angin. Ia hampir mengalahkan Irgi. Tentu saja hal ini membuat adik Irgi cemas bukan main. Ia yang tetap berada di atas motor, hanya bisa menggigit bibirnya, seolah ikut merasakan derita kakaknya. Namun untunglah, Irgi yang hatinya tulus menolong Si Ibu dan anaknya, berhasil mengatasi keadaan sulit tersebut. Dengan susah payah, akhirnya Irgi berhasil menggagalkan niat buruk tiga perampok itu. Si jaket putih yang sudah merasa takluk, langsung mengajak kabur kedua kawannya.
          Irgi yang nafasnya tersengal-sengal, menyerahkan tas hitam pada si wanita berusia sekitar 42 tahun. Dengan wajah ketakutan, wanita itu berkata, “Makasih banyak ya Mas.”              
          “Iya, sama-sama Bu.” Diam sejenak, lalu bicara lagi, ”Kalau sudah jam segini, tempat ini memang berbahaya sekali. Kalau sudah jam segini, orang yang lewat sini harus berjalan cepat..termasuk Ibu.”
          Beberapa menit kemudian, tibalah kakak adik ini di rumah mereka. Waktu menunjukkan pukul 1.30 dini hari. Sang adik langsung tertidur pulas. Ia masih mengenakan kaos biru muda bergambar logo Superman. Irgi berdiri di depan pintu kamar adiknya yang terbuka. Ditatapnya sang adik dengan tatapan kasih sayang. Ia tersenyum, lalu menutup pintu kamar adiknya dengan perlahan. Setelah itu ia melangkah ke ruang makan yang sekaligus menjadi ruang keluarga.
          Ia membuka penutup makanan di meja makan. Dilihatnya kalau mungkin ada sesuatu yang menarik untuk dimakan. Karena tidak ada hidangan yang dirasa enak untuk disantap, Irgi menutup kembali penutup makanan yang terbuat dari plastik, lalu  berjalan ke rak tempat menaruh gelas, piring, panci dsb. Rak itu berada di dekat wastafel. Diambilnya air putih dengan gelas besar, lalu ia minum sambil berdiri.
          Sesaat kemudian, datanglah sesosok tubuh agak tinggi dan gemuk. Kumisnya cukup tebal. Usianya hampir enam puluh. Ia menatap Irgi yang sedang minum. Tatapan matanya itu tidak bersahabat, ditambah raut mukanya yang menunjukkan rasa tidak senang. Tampaknya ia sedang menahan rasa kesal di hatinya. Irgi yang sudah selesai minum, membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Ia agak terkejut melihat kehadiran pria gemuk berkumis itu.
          Setelah saling menatap, pria gemuk berkata, “Lain kali...kalau kamu mau mati.. matilah sendiri...jangan sekali-kali ngajak adikmu.” Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Kamu mau balapan, mau pulang pagi, mau nongkrong seharian..Papa nggak pernah melarang...karena Papa berpikir, kamu punya cukup hati untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga.” Diam sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi ini apa!?”
          Ia menaruh sepucuk surat di meja makan. Irgi yang bengong, perlahan-lahan mendekati meja makan, lalu membuka surat di dalam amplop coklat itu. Dengan wajah cemas, Irgi membaca surat itu. Namun baru membaca sedikit, sang ayah sudah berkata lagi, “Peringatan dari kampus.”
          Diam sebentar, lalu bicara lagi, “Ternyata selama ini kamu sering bolos kuliah. IP-mu jelek..di bawah rata-rata. Kamu nggak pernah mengerjakan tugas. Kamu hanya datang ke kampus sebentar, setelah itu ngelayap entah ke mana.”
          Hening sejenak. Irgi benar-benar lemas. Ia tidak bisa bicara sepatah kata pun. Ayahnya melanjutkan, “Papa benar-benar kecewa sama kamu Gi. Kecewa karena selama ini sudah mempercayai kamu. Kecewa karena menganggap kamu bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga. Kecewa karena menganggap kamu bisa menjadi teladan bagi adikmu.” Diam sebentar. “Padahal keinginan Papa hanya satu Gik. Kamu bisa dipercaya, bisa bertanggung jawab.”
          Setelah merasa puas menasehati Irgi, Sang Ayah melangkah pergi ke kamarnya, meninggalkan putra sulungnya yang masing bengong. Beberapa hari kemudian, tepatnya di sore hari, Irgi ngeluyur lagi entah ke mana. Ia pergi dengan motor bebek kesayangannya. Rintik-rintik hujan membasahi tubuhnya yang hanya memakai kaos kelabu, tidak memakai jaket atau baju tebal yang bisa menghangatkan badan. Mungkin pemuda bertubuh padat dan atletis ini merasakan dinginnya air hujan. Namun karena hatinya sakit, rasa dingin yang menghinggapi tubuhnya itu menjadi tidak begitu terasa. Air hujan memang dingin, namun luka hatinya karena ‘diceramahi’ Sang Ayah terasa jauh lebih menyakitkan.
          Beberapa saat kemudian, setelah rintik hujan mereda, Irgi duduk di sebuah tempat yang berada di dekat sebuah taman kecil. Hawa kesedihan melingkupi wajahnya yang lumayan tampan. Di satu sisi ia merasa terluka karena ‘disemprot’ Sang Ayah, namun di sisi lain ia mengakui kalau semua yang dikatakan bapaknya kemarin benar seratus persen. Hati kecilnya berkata, kebenaran harus diterima, walaupun sangat menyakitkan. Ia menarik nafasnya yang berat, lalu bergumam,
          “Benarkah aku harus meninggalkan balapan? Benarkah aku harus membuka lembaran baru dengan meninggalkan ngetrack? Aktivitas yang paling kucintai saat ini? Benarkah...?”
          Lamunan Irgi terhenti oleh kedatangan 5-7 orang pengendara motor. Salah satu dari mereka si pendek kekar berkepala plonthos, lawan ngetrack Irgi kemarin, yang tampaknya memang musuh bebuyutannya. Irgi pun tersentak sadar begitu melihat kedatangan musuh-musuhnya. Tiga dari rombongan pemuda itu langsung menyerang Irgi. Perkelahian sengit kembali berlangsung. Irgi masih terlihat perkasa ketika menghadapi tiga orang, namun setelah menghadapi lima orang, ia menjadi keteteran. Bahkan beberapa gebrakan kemudian Irgi tidak berkutik. Si kepala plonthos siap menghabisi Irgi dengan kayu di tangan kanannya.
          Namun ketika ia hendak memukul Irgi dengan kayunya, mendadak ayah Irgi muncul sambil membawa kayu yang cukup besar. Ia menggeram, lalu memukulkan kayunya ke badan dan muka para pemuda itu. Setelah itu ia membantu putranya berdiri. Irgi yang terluka cukup parah, berdiri di belakang ayahnya yang berusaha melindunginya dari terkaman musuh-musuhnya. Sang Ayah yang marah besar, mengacungkan kayunya ke kepala plonthos dkk. Ia berseru, “Bedebah-bedebah! Beraninya cuma main keroyok!”
          Kepala Plonthos melotot, “Pak tua bangka! jangan ikut campur! kami tidak mau menyakiti orang tua! tapi kalau sudah terpaksa..yahh. Jangan salahkan kami!” 
          Sang Ayah menggeram, “Kalau kalian ingin menghabisi Irgi, langkahi dulu mayat bapaknya ini!”
          “Baik!” sahut salah satu kawan si gundul. Ia dan beberapa temannya mencabut pisau besar dari sarungnya, lalu menyerang ayah Irgi dengan brutal. Tentu saja ayah Irgi yang gemuk dan sudah berumur itu tidak bisa mengatasi serangan para pemuda kekar yang jauh lebih muda darinya. Selanjutnya, tidak usah diterangkan lagi. Darah segar membanjir ke mana-mana, bahkan sampai muncrat ke muka dan kaos Irgi. Irgi yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berteriak, “PAPAAA!!!”
          Sedetik kemudian Irgi terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya basah oleh peluh. Bibirnya masih ada bekas luka. Hatinya berkata lirih, “Masya Allah. Mimpi. Mimpi buruk dan mengerikan.”              
          Irgi melihat jam dinding. Jam 3.45 atau jam empat pagi kurang seperempat. Ia keluar dari kamarnya, lalu melangkah ke ruang makan untuk menghilangkan haus. Setelah minum segelas air putih di gelas besar, Irgi berniat kembali ke kamarnya. Namun mendadak pandangannya terbentur pada sesuatu yang berada di ruang tamu. Dengan hati semakin cemas, Irgi melangkah perlahan ke ruang tamu. Ia terkejut melihat sesosok tubuh besar yang tidur di salah satu kursi di ruang tamu. Ternyata itu Sang Ayah. Pria gemuk berkumis itu tiduran dengan mengenakan kaos kerah dan sarung. Irgi yang merasa semakin tidak karuan, bergumam, “Papa jarang sekali tidur di ruang tamu. Ketiduran aja jarang.”    
          Irgi melihat kopiah dan kitab suci Al-Quran yang berada di dekat tangan kanan ayahnya. Ia kembali bergumam, “Kelihatannya Papa habis sholat malam dan ngaji. Dulu Papa sama sekali nggak pernah melakukan itu. Tapi Alhamdulillah, sejak beberapa bulan ini Papa rajin sholat sunnah malam.”
          Irgi mendekati ayahnya dengan perlahan, lalu berkata lirih, “Pah..kok tidur di sini? Di sini dingin lho Pah. Nanti Papa bisa masuk angin.” Diam sebentar, lalu bertanya lagi, “Papa habis sholat di mana? Di sini atau di kamar?”
          Sang Ayah tidak bereaksi sedikit pun. Ia tetap tertidur pulas dengan posisi duduk. Bahkan bergerak sedikit pun tidak. Tentu saja hal ini membuat Irgi semakin merinding. Dengan jantung dag dig dug, Irgi mendekati ayahnya, lalu duduk di samping kanannya. Ia gerakkan bahu dan lengan ayahnya dengan perlahan, lalu berkata lagi, “Jangan tidur di sini Pah. Nanti Papa bisa flu, bisa demam.”
          Sang Ayah tetap diam seperti patung. Irgi yang semakin ketakutan, langsung memeriksa denyut nadi di tangan kiri ortunya. Sedetik kemudian Irgi tersentak sambil berseru, “Ya Allah! Denyut nadinya nggak ada! Paa (menggerakkan tubuh Sang Ayah)! Papaa! Bangun Paa! Bangun! Paa!!”
          Irgi terus berusaha membangunkan ayahnya, namun ortunya itu sudah tidur panjang, tidur untuk selamanya. Rupanya Sang Ayah sudah dipanggil Sang Pencipta.  Irgi yang panik bukan main, berseru, “Maaa!! Papa Maaa!! Papaa!!!”
          Irgi benar-benar seperti dihantam badai mengamuk. Ia memeluk ayahnya sambil menangis keras, menangis seperti anak kecil. Seorang wanita berusia lima puluh lebih sedikit, keluar dari kamarnya. Ia seperti disambar petir ketika melihat Irgi memeluk tubuh ayahnya sambil menangis sesenggukan. Rupanya dia ibundanya Irgi. Dia pun menangis sebagaimana anaknya, namun tangis kesedihannya lebih pelan dan lebih terkendali. Ia elus muka Sang Suami tercinta, lalu berkata lembut, “Innaa lillaahi, wa innaa ilaihi raji’un. Kita semua milik Allah, dan hanya kepadaNya kita semua akan kembali kelak.”
          Singkat cerita, ketika esok telah tiba, ayah kandung Irgi yang bernama Mahmud Haryadi, telah dimakamkan dengan layak, setelah sebelumnya diperiksa dokter. Analisis dokter menyatakan, ayah Irgi itu meninggal karena kanker usus yang sudah dideritanya selama dua tahun. Batu nisan makamnya bertuliskan: Mahmud Haryadi. Lahir; Cirebon, 5 Juni 1951. Wafat; Jakarta, 10 Mei 2008. Dengan demikian, Mahmud meninggal di usianya yang ke 57.
          Irgi berdiri di samping ibunya. Ia mengenakan baju lengan panjang hitam. Demikian pula dengan sang ibu yang memakai baju dan kerudung serba gelap. Bayu* sang adik, duduk setengah jongkok di hadapan makam ayahanda tercinta. Ia memakai baju hitam lengan pendek. Wajahnya merah, matanya sembab karena air mata yang telah mengering. Ia terlihat lebih menderita dari Irgi dan ibunya yang sudah terlihat tabah dan tegar. Irgi sendiri sudah terlihat tenang, walaupun kedukaan masih menyelimuti wajahnya.
          *Catatan Kaki: Di film LIAR diperankan oleh Raffi Ahmad.
          Para takziah (pelayat) yang datang cukup banyak. Siang hingga sore rumah Irgi menjadi ramai. Teman-temannya balapan juga datang. Seorang kyai atau ustadz muda berkumis dan berjenggot tipis, berdiri di hadapan Irgi sekeluarga dan para hadirin, lalu berkata lembut, “Mas Irgi dan Bu Rini Haryadi** menjadi saksi kepergian bapak kita tercinta...Bapak Mahmud Haryadi. Menurut keterangan beliau berdua, Pak Mahmud meninggal sesudah menjalankan ibadah. Bahkan bisa saja beliau meninggal ketika sedang beribadah. Entah itu sholat Tahajud, baca Quran, dizikir, dll.”
          “Dengan demikian..kita bisa menyimpulkan...mudah-mudahan...Insya Allah...Bapak kita tercinta, paman kita, saudara kita, Bapak Mahmud Haryadi.. menghadap Allah SWT dalam keadaan Khusnul Khatimah.***”             
          Semuanya menyahut: “AMIN!” Bayu yang masih sedih pun menyahut dengan suara paling keras. Beberapa saat kemudian Rini meninggalkan ruang keluarga yang masih cukup sesak oleh para takziah. Wanita berusia sekitar 53 tahun ini masuk ke kamarnya. Wajahnya masih cantik untuk wanita kepala lima. Posturnya juga tergolong tinggi menurut ukuran wanita Indonesia. Tinggi badannya hanya selisih sedikit dengan Irgi dan Bayu yang berpostur sekitar  170 cm lebih sedikit.
       **  Catatan Kaki: Di film LIAR diperankan oleh Wieke Widowati.
       *** ----|||--- : Meninggal dengan mulia, meninggal dengan mendapat ridhoNya.
          Janda yang masih relatif muda ini berdiri di depan jendela kamarnya. Wajah ayunya yang masih muram itu diterpa sinar mentari yang hampir tenggelam. Ia tidak sadar kalau putra sulungnya mengikutinya. Sedetik kemudian ia menangis sambil menggelengkan kepalanya. Irgi yang berdiri di pintu kamar, hanya bisa bengong melihat ibunya menangis lagi.
          Beberapa saat kemudian para takziah mohon pamit pada Irgi, Bayu dan Rini. Irgi diajak bicara empat mata oleh ustadz muda yang tadi. Pria berusia sekitar 35 tahun itu menyentuh bahu Irgi, lalu berkata, “Mas Irgi, tugas terpenting anda sekarang ini hanya satu. Menghibur Ibu, menenangkan Ibu, meminta Ibu untuk meningkatkan ibadahnya, agar Allah berkenan memberi ketenangan di hati beliau. Ingat Mas Irgi..kita boleh sedih, tapi jangan berlebihan, jangan berlarut-larut..karena itu bisa membuat arwah si mayat tidak tenang.”
          Irgi mengangguk-angguk. Si Ustadz muda melanjutkan, “Kalau anda mau konsultasi atau ngobrol, silahkan datang ke rumah saya. Tapi kalau bisa ngabari dulu ya, biar saya bisa menyediakan waktu.”
          Irgi mengangguk, “Kami sekeluarga sangat berterima kasih sama Ustadz Wahyu. Tanpa partisipasi Ustadz Wahyu, mungkin jalan hidup kami sudah semakin nggak jelas. Ya, Insya Allah, saya akan berusaha maksimal menjaga Mama. Saya sendiri juga mau meningkatkan ibadah saya yang selama ini masih amburadul.”         
          Alhamdulillah..” sahut wahyu gembira. “Saya senang sekali mendengarnya.”
          Irgi tersenyum. “Insya Allah, kapan-kapan saya berkunjung ke rumah Ustadz.”
          “Silahkan, saya tunggu silaturrahminya.”           

                                                       --- XXXXX---                      
          Malam menghampiri bumi pertiwi. Bayu dan kawan-kawannya sudah nongkrong lagi di sebuah warung kecil. Kesedihan karena kepergian Sang Ayah beberapa hari yang lalu seolah sirna oleh canda tawanya bersama kawan-kawan ngetrack-nya. Dibandingkan sang kakak yang kalem, Bayu memang lebih mbeling karena agak urakan dan cukup sering berfoya-foya.
          Beberapa menit kemudian Irgi datang dengan motor bebeknya. Salah seorang kawannya yang duduk di samping Bayu, berkata, “Langsung pesan aja Ndra! Ayo!”
          Yang lain menimpali, “Sedih ya sedih Ndra, tapi tetap harus makan. Nanti kalau lo nggak makan, lo nggak punya tenaga buat ngetrack. Iya nggak!? Ha ha!”
          Seorang pemuda agak gemuk berkulit gelap, berkata, “Segera pesanin menu terlezat buat raja jalanan kita.”
          “Nggak Yok, makasih..” sahut Irgi lembut.
          “Terus?” tanya Yoyok tidak mengerti. Irgi yang wajahnya masih terlihat sedih, menyahut, “Gue cuma sebentar. Ehmm (menatap semuanya)...gue ke sini cuma mau ngomong sesuatu sama kalian. Sesuatu yang gue anggap penting, dan mungkin juga penting bagi kalian.”
          Kata-kata Irgi itu langsung membuat suasana sepi. Keseriusan di wajahnya bisa dirasakan oleh semua temannya. Mereka yakin kalau jagoan mereka itu benar-benar mau bicara serius. Irgi tidak ikut duduk di samping teman-temannya. Ia hanya berdiri di pintu warung, di dekat Bayu duduk. Setelah mengatur nafas, Irgi berkata lembut, “Malam ini..malam terakhir gue ke sini.” Diam sejenak. “Malam ini, kita terakhir ketemu di sini.”
          Semuanya terperangah, termasuk si adik kandung. Irgi melanjutkan, “Kita udah lama bersahabat. Kita udah lama hidup bersama. Kita udah lama melakukan apa aja bersama-sama.” Diam sejenak. “Jalan bersama...makan bersama...nongkrong bersama...ngetrack bersama...rekreasi bersama..dan bersama-sama menumpas kejahatan yang sering terjadi di dunia balapan.”
          Diam sejenak, lalu bicara lagi, “Kita juga berusaha bersama-sama menghadapi kekejaman Unang alias Jajang, pimpinan Geng Macan, geng yang paling ditakuti semua geng motor.”  
          “Ditakuti sebelum kehadiran kita.” potong salah seorang kawannya. Irgi melanjutkan, “Berkat dukungan dan kepercayaan lo semua, gue bisa jadi juara balap motor, walaupun hanya balap motor jalanan. Tanpa bantuan lo semua, gue nggak kan bisa sukses kayak sekarang.” Diam sebentar. “Gue benar-benar berterimakasih sama lo semua.” Diam lagi sebentar. “Tapi...setelah kepergian bokap* dua minggu yang lalu...hati gue benar-benar berubah. Setelah kepergian bokap kemarin, gue benar-benar ingin berubah. Berubah menjadi lebih baik.”
          Hening sejenak. Irgi menatap semua kawannya yang pada melongo, lalu melanjutkan, “Dengan sangat berat hati..gue menyatakan berhenti ngetrack. Gue mengundurkan diri dari dunia balapan.” Diam sejenak. “Gue berharap, Bayu juga ikut berhenti. Tapi gue nggak maksa dia. Mau berhenti ya syukur, nggak mau ya nggak apa-apa. Yang penting kalian bisa jaga dia, adik gue satu-satunya. Gue yakin, lo semua pasti mau dan bisa jaga Bayu.”
          *Catatan Kaki: Ayah, Bapak. Kalau Ibu: Nyokap.
          Diam beberapa detik, “Tapi lo semua nggak usah kuatir. Walaupun gue udah berhenti ngetrack, kita tetap bersahabat. Kita tetap bersaudara.” Diam sebentar. Sampai kapan pun, lo semua tetap sahabat gue. Lo semua akan selalu ada di sini (menyentuh dada kirinya). Lo semua udah kayak keluarga gue.”
          Setelah merasa puas bicara, Irgi memohon diri pada geng motornya. Keputusannya untuk meninggalkan dunia balap liar benar-benar sudah bulat. Malam ini juga Irgi telah pensiun dari dunia balapan. Sang Raja Jalanan telah meninggalkan dunia balap motor untuk selamanya.
          Beberapa menit kemudian, ketika Irgi berjalan di sebuah jalan yang sepi, datanglah rombongan  motor dari belakangnya. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar sepuluh belas orang. Rombongan motor itu langsung mengepung Irgi yang berjalan agak lambat. Rupanya mereka Geng Macan, geng yang dipimpin Unang atau Jajang, si gundul bertubuh pendek kekar, musuh utamanya Irgi di balap motor. Irgi yang tidak sempat lari, hanya bisa pasrah. Ia dipaksa turun dari motornya. Jajang mendekatinya, lalu berkata, “Buka helmnya!”
          Salah satu anak buahnya melepas helm cakil Irgi dengan paksa. Jajang mendekati Irgi yang ketakutan. Irgi jelas ketakutan menghadapi lawan sebanyak itu, ditambah pemimpinnya yang galak dan sampai hati menyakiti orang. Irgi tidak mungkin menang melawan sepuluh pria yang rata-rata berotot. Jangankan sepuluh  orang, melawan lima orang sekaligus saja kemungkinan menang kecil. Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan Irgi.
          Jajang memelototi Irgi yang menundukkan kepalanya. Tinggi badan mereka terpaut agak jauh, namun Jajang tidak terlihat kecil karena badannya lebih berotot dari badan Irgi yang hanya langsing dan padat. Setelah melotot beberapa detik, Jajang yang tampaknya sudah kalap itu melontarkan bogem kanannya ke muka Irgi. Begitu mantapnya pukulan itu, sehingga membuat Irgi roboh. Irgi bangkit dengan susah payah. Salah seorang anak buah Jajang berseru, “Hajar Boss!”
          Begitu Irgi bisa berdiri tegak, Jajang kembali memukul perutnya dua kali, masing-masing dengan tangan kiri-kanan. Merasa belum puas, Jajang kembali melontarkan bogem kanannya ke muka Irgi. Irgi pun roboh untuk yang kedua kalinya. Hidung dan bibirnya berdarah cukup banyak. Selanjutnya, Jajang meminta semua anak buahnya untuk mengambil bagian.
          Mereka menghajar Irgi seperti menginjak-injak kucing atau tikus. Malam ini Irgi benar-benar mendapat musibah besar, musibah yang membuatnya nyaris menyusul ayahnya. Untungnya, beberapa detik kemudian datanglah beberapa orang yang tinggal di wilayah itu. Geng Macan pun kabur dengan membawa motor Irgi. Irgi yang babak belur, harus merelekan motor kesayangannya dirampas musuhnya. Di tengah sadar dan tidak, Irgi bersyukur karena yang hilang hanya motornya, bukan nyawanya. Orang-orang yang menolongnya itu langsung membawanya ke rumah sakit karena lukanya yang sudah parah. (Bersambung)
                                            
                                                        ---XXXXX---  



0 comments:

Post a Comment

 
;