Pensiunnya Pembalap Jalanan
Seorang gadis berpakaian seksi, berdiri di hadapan lima pemuda bermotor yang sesaat lagi akan ngetrack atau balapan liar. Si gadis seksi berwajah manis itu melangkah ke tepi, lalu mengibarkan bendera di tangan kanannya, tanda balapan dimulai. Lima pemuda itu langsung tancap gas penuh. Para penonton pada menyeru nama, “INDRA! INDRA!!”
Seorang pemuda berhelm
cakil hitam dan berjaket biru tua, terlihat yang paling cepat dari keempat
lawannya. Beberapa detik kemudian, ia dan motor bebeknya sudah sampai di garis Finish, kemudian bergerak lagi untuk
kembali ke garis Start. Ia tiba
paling awal di garis Start. Ia turun
dari motornya sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Ia buka
helmnya, dan tampaklah wajahnya yang ganteng dan kulitnya yang sawo matang.
Keberhasilannya menjuarai balapan membuat sorak penonton semakin meledak.
Rupanya dia yang bernama Indra.
Ia berdiri membelakangi
para pendukungnya yang bersorak gembira. Para pendukungnya mengejek geng motor
lawan main mereka. Seorang lelaki pendek kekar berkepala plonthos, menatap Indra dan kawan-kawannya dengan tatapan penuh
kebencian. Hatinya yang menggeram itu berkata, “Oke, kali ini lo menang lagi.
Tapi lihatlah pertemuan kita mendatang. Lo akan gue injak-injak!”
Seorang anak muda bertubuh langsing dan
tinggi sedang, berpelukan dengan Indra. Ia mengenakan kaos biru muda bergambar
logo S (Superman). Indra pun mengelus kepala anak muda itu. Rupanya ia adik
kandungnya. Wajah keduanya agak jauh berbeda, hanya bentuk dan tinggi badan
mereka yang sama. Sama-sama langsing, padat dan atletis. Usia mereka terpaut
sekitar 3-4 tahun. Ia juga ikut mengejek geng motor yang sudah dikalahkan
kakaknya.
Sesaat kemudian, salah
seorang kawan Indra melangkah ke depan, lalu berkata lantang, “Sobatku semua,
siapakah raja jalanan saat ini!?”
Suasana hening sesaat. Ia
tersenyum, lalu berkata lagi, “Yah. Siapa lagi kalau bukan Irgi Indra
Haryadiii!!!”
Semua pendukung Indra atau
Irgi bersorak gembira. Irgi pun pulang bersama adiknya. Ia membonceng adiknya
dengan motor bebek yang tadi ia pakai untuk balapan. Beberapa menit kemudian,
Irgi melihat tiga pemuda berandal yang mau merampok tas seorang ibu bertubuh
agak gemuk. Pemuda kekar berjaket putih itu mengancam Si Ibu dengan belatinya.
Wanita empat puluhan itu bersama anak lelakinya yang masih kecil. Irgi yang
baik hati, langsung menghentikan motornya, kemudian mendekati Si Ibu yang
nyawanya terancam. Dengan setengah berlari, Irgi berseru, “Brengsek-brengsek!
Apa yang kalian lakukan!?”
“Bukan urusanmu!” sahut si
jaket putih. “Nggak usah ikut campur kalau nggak ingin mampus!”
Irgi melotot, “Gue gak
takut karena gue di pihak yang benar. Cepat
balikin tasnya!”
Tentu saja tiga perampok
itu marah besar. Si jaket putih yang tampaknya pimpinan tiga pemuda itu,
menyuruh kedua kawannya untuk membereskan Irgi. Perkelahian sengit pun terjadi.
Dengan susah payah, Irgi berhasil membereskan dua berandal itu. Selain jago ngetrack, ternyata Irgi juga cukup jago
berantem. Kini tinggal si kekar jaket putih yang harus ia hadapi. Si jaket
putih langsung menyerang dengan pisaunya, namun Irgi dengan gesit berhasil
menghindari serangan pisau itu. Beberapa detik kemudian Irgi berhasil melempar
pisau itu dari tangan pemiliknya. Mereka pun melanjutkan duel dengan tangan
kosong.
Untuk beberapa saat si
berandal kekar berada di atas angin. Ia hampir mengalahkan Irgi. Tentu saja hal
ini membuat adik Irgi cemas bukan main. Ia yang tetap berada di atas motor,
hanya bisa menggigit bibirnya, seolah ikut merasakan derita kakaknya. Namun
untunglah, Irgi yang hatinya tulus menolong Si Ibu dan anaknya, berhasil
mengatasi keadaan sulit tersebut. Dengan susah payah, akhirnya Irgi berhasil
menggagalkan niat buruk tiga perampok itu. Si jaket putih yang sudah merasa
takluk, langsung mengajak kabur kedua kawannya.
Irgi yang nafasnya
tersengal-sengal, menyerahkan tas hitam pada si wanita berusia sekitar 42
tahun. Dengan wajah ketakutan, wanita itu berkata, “Makasih banyak ya Mas.”
“Iya, sama-sama Bu.” Diam
sejenak, lalu bicara lagi, ”Kalau sudah jam segini, tempat ini memang berbahaya
sekali. Kalau sudah jam segini, orang yang lewat sini harus berjalan cepat..termasuk
Ibu.”
Beberapa menit kemudian,
tibalah kakak adik ini di rumah mereka. Waktu menunjukkan pukul 1.30 dini hari.
Sang adik langsung tertidur pulas. Ia masih mengenakan kaos biru muda bergambar
logo Superman. Irgi berdiri di depan pintu kamar adiknya yang terbuka.
Ditatapnya sang adik dengan tatapan kasih sayang. Ia tersenyum, lalu menutup
pintu kamar adiknya dengan perlahan. Setelah itu ia melangkah ke ruang makan
yang sekaligus menjadi ruang keluarga.
Ia membuka penutup makanan
di meja makan. Dilihatnya kalau mungkin ada sesuatu yang menarik untuk dimakan.
Karena tidak ada hidangan yang dirasa enak untuk disantap, Irgi menutup kembali
penutup makanan yang terbuat dari plastik, lalu
berjalan ke rak tempat menaruh gelas, piring, panci dsb. Rak itu berada
di dekat wastafel. Diambilnya air putih dengan gelas besar, lalu ia minum
sambil berdiri.
Sesaat kemudian, datanglah
sesosok tubuh agak tinggi dan gemuk. Kumisnya cukup tebal. Usianya hampir enam
puluh. Ia menatap Irgi yang sedang minum. Tatapan matanya itu tidak bersahabat,
ditambah raut mukanya yang menunjukkan rasa tidak senang. Tampaknya ia sedang
menahan rasa kesal di hatinya. Irgi yang sudah selesai minum, membalikkan
tubuhnya dengan perlahan. Ia agak terkejut melihat kehadiran pria gemuk
berkumis itu.
Setelah saling menatap,
pria gemuk berkata, “Lain kali...kalau kamu mau mati.. matilah sendiri...jangan
sekali-kali ngajak adikmu.” Hening sejenak, lalu bicara lagi, “Kamu mau
balapan, mau pulang pagi, mau nongkrong seharian..Papa nggak pernah
melarang...karena Papa berpikir, kamu punya cukup hati untuk menjadi laki-laki
yang bertanggung jawab pada keluarga.” Diam sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi
ini apa!?”
Ia menaruh sepucuk surat di
meja makan. Irgi yang bengong, perlahan-lahan mendekati meja makan, lalu
membuka surat di dalam amplop coklat itu. Dengan wajah cemas, Irgi membaca
surat itu. Namun baru membaca sedikit, sang ayah sudah berkata lagi,
“Peringatan dari kampus.”
Diam sebentar, lalu bicara
lagi, “Ternyata selama ini kamu sering bolos kuliah. IP-mu jelek..di bawah
rata-rata. Kamu nggak pernah mengerjakan tugas. Kamu hanya datang ke kampus
sebentar, setelah itu ngelayap entah
ke mana.”
Hening sejenak. Irgi
benar-benar lemas. Ia tidak bisa bicara sepatah kata pun. Ayahnya melanjutkan,
“Papa benar-benar kecewa sama kamu Gi. Kecewa karena selama ini sudah
mempercayai kamu. Kecewa karena menganggap kamu bisa menjadi laki-laki yang
bertanggung jawab pada keluarga. Kecewa karena menganggap kamu bisa menjadi
teladan bagi adikmu.” Diam sebentar. “Padahal keinginan Papa hanya satu Gik.
Kamu bisa dipercaya, bisa bertanggung jawab.”
Setelah merasa puas
menasehati Irgi, Sang Ayah melangkah pergi ke kamarnya, meninggalkan putra
sulungnya yang masing bengong. Beberapa hari kemudian, tepatnya di sore hari, Irgi
ngeluyur lagi entah ke mana. Ia pergi
dengan motor bebek kesayangannya. Rintik-rintik hujan membasahi tubuhnya yang
hanya memakai kaos kelabu, tidak memakai jaket atau baju tebal yang bisa
menghangatkan badan. Mungkin pemuda bertubuh padat dan atletis ini merasakan
dinginnya air hujan. Namun karena hatinya sakit, rasa dingin yang menghinggapi
tubuhnya itu menjadi tidak begitu terasa. Air hujan memang dingin, namun luka hatinya
karena ‘diceramahi’ Sang Ayah terasa jauh lebih menyakitkan.
Beberapa saat kemudian,
setelah rintik hujan mereda, Irgi duduk di sebuah tempat yang berada di dekat
sebuah taman kecil. Hawa kesedihan melingkupi wajahnya yang lumayan tampan. Di
satu sisi ia merasa terluka karena ‘disemprot’ Sang Ayah, namun di sisi lain ia
mengakui kalau semua yang dikatakan bapaknya kemarin benar seratus persen. Hati
kecilnya berkata, kebenaran harus diterima, walaupun sangat menyakitkan. Ia
menarik nafasnya yang berat, lalu bergumam,
“Benarkah aku harus
meninggalkan balapan? Benarkah aku harus membuka lembaran baru dengan
meninggalkan ngetrack? Aktivitas yang
paling kucintai saat ini? Benarkah...?”
Lamunan Irgi terhenti oleh
kedatangan 5-7 orang pengendara motor. Salah satu dari mereka si pendek kekar
berkepala plonthos, lawan ngetrack
Irgi kemarin, yang tampaknya memang musuh bebuyutannya. Irgi pun tersentak
sadar begitu melihat kedatangan musuh-musuhnya. Tiga dari rombongan pemuda itu
langsung menyerang Irgi. Perkelahian sengit kembali berlangsung. Irgi masih
terlihat perkasa ketika menghadapi tiga orang, namun setelah menghadapi lima
orang, ia menjadi keteteran. Bahkan
beberapa gebrakan kemudian Irgi tidak berkutik. Si kepala plonthos siap menghabisi Irgi dengan kayu di tangan kanannya.
Namun ketika ia hendak
memukul Irgi dengan kayunya, mendadak ayah Irgi muncul sambil membawa kayu yang
cukup besar. Ia menggeram, lalu memukulkan kayunya ke badan dan muka para
pemuda itu. Setelah itu ia membantu putranya berdiri. Irgi yang terluka cukup
parah, berdiri di belakang ayahnya yang berusaha melindunginya dari terkaman
musuh-musuhnya. Sang Ayah yang marah besar, mengacungkan kayunya ke kepala plonthos dkk. Ia berseru,
“Bedebah-bedebah! Beraninya cuma main keroyok!”
Kepala Plonthos melotot, “Pak tua bangka! jangan ikut campur! kami tidak
mau menyakiti orang tua! tapi kalau sudah terpaksa..yahh. Jangan salahkan
kami!”
Sang Ayah menggeram, “Kalau
kalian ingin menghabisi Irgi, langkahi dulu mayat bapaknya ini!”
“Baik!” sahut salah satu
kawan si gundul. Ia dan beberapa temannya mencabut pisau besar dari sarungnya,
lalu menyerang ayah Irgi dengan brutal. Tentu saja ayah Irgi yang gemuk dan
sudah berumur itu tidak bisa mengatasi serangan para pemuda kekar yang jauh
lebih muda darinya. Selanjutnya, tidak usah diterangkan lagi. Darah segar
membanjir ke mana-mana, bahkan sampai muncrat ke muka dan kaos Irgi. Irgi yang
tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berteriak, “PAPAAA!!!”
Sedetik kemudian Irgi
terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal, wajahnya basah oleh peluh.
Bibirnya masih ada bekas luka. Hatinya berkata lirih, “Masya Allah. Mimpi. Mimpi buruk dan mengerikan.”
Irgi melihat jam dinding.
Jam 3.45 atau jam empat pagi kurang seperempat. Ia keluar dari kamarnya, lalu
melangkah ke ruang makan untuk menghilangkan haus. Setelah minum segelas air
putih di gelas besar, Irgi berniat kembali ke kamarnya. Namun mendadak
pandangannya terbentur pada sesuatu yang berada di ruang tamu. Dengan hati
semakin cemas, Irgi melangkah perlahan ke ruang tamu. Ia terkejut melihat
sesosok tubuh besar yang tidur di salah satu kursi di ruang tamu. Ternyata itu Sang
Ayah. Pria gemuk berkumis itu tiduran dengan mengenakan kaos kerah dan sarung. Irgi
yang merasa semakin tidak karuan, bergumam, “Papa jarang sekali tidur di ruang
tamu. Ketiduran aja jarang.”
Irgi melihat kopiah dan
kitab suci Al-Quran yang berada di dekat tangan kanan ayahnya. Ia kembali
bergumam, “Kelihatannya Papa habis sholat malam dan ngaji. Dulu Papa sama
sekali nggak pernah melakukan itu. Tapi Alhamdulillah,
sejak beberapa bulan ini Papa rajin sholat sunnah malam.”
Irgi mendekati ayahnya
dengan perlahan, lalu berkata lirih, “Pah..kok tidur di sini? Di sini dingin
lho Pah. Nanti Papa bisa masuk angin.” Diam sebentar, lalu bertanya lagi, “Papa
habis sholat di mana? Di sini atau di kamar?”
Sang Ayah tidak bereaksi sedikit
pun. Ia tetap tertidur pulas dengan posisi duduk. Bahkan bergerak sedikit pun
tidak. Tentu saja hal ini membuat Irgi semakin merinding. Dengan jantung dag
dig dug, Irgi mendekati ayahnya, lalu duduk di samping kanannya. Ia gerakkan
bahu dan lengan ayahnya dengan perlahan, lalu berkata lagi, “Jangan tidur di
sini Pah. Nanti Papa bisa flu, bisa demam.”
Sang Ayah tetap diam
seperti patung. Irgi yang semakin ketakutan, langsung memeriksa denyut nadi di
tangan kiri ortunya. Sedetik kemudian Irgi tersentak sambil berseru, “Ya Allah!
Denyut nadinya nggak ada! Paa (menggerakkan tubuh Sang Ayah)! Papaa! Bangun
Paa! Bangun! Paa!!”
Irgi terus berusaha
membangunkan ayahnya, namun ortunya itu sudah tidur panjang, tidur untuk
selamanya. Rupanya Sang Ayah sudah dipanggil Sang Pencipta. Irgi yang panik bukan main, berseru, “Maaa!!
Papa Maaa!! Papaa!!!”
Irgi benar-benar seperti dihantam
badai mengamuk. Ia memeluk ayahnya sambil menangis keras, menangis seperti anak
kecil. Seorang wanita berusia lima puluh lebih sedikit, keluar dari kamarnya.
Ia seperti disambar petir ketika melihat Irgi memeluk tubuh ayahnya sambil
menangis sesenggukan. Rupanya dia ibundanya Irgi. Dia pun menangis sebagaimana
anaknya, namun tangis kesedihannya lebih pelan dan lebih terkendali. Ia elus
muka Sang Suami tercinta, lalu berkata lembut, “Innaa lillaahi, wa innaa ilaihi raji’un. Kita semua milik Allah,
dan hanya kepadaNya kita semua akan kembali kelak.”
Singkat cerita, ketika esok
telah tiba, ayah kandung Irgi yang bernama Mahmud Haryadi, telah dimakamkan
dengan layak, setelah sebelumnya diperiksa dokter. Analisis dokter menyatakan,
ayah Irgi itu meninggal karena kanker usus yang sudah dideritanya selama dua
tahun. Batu nisan makamnya bertuliskan: Mahmud Haryadi. Lahir; Cirebon, 5 Juni
1951. Wafat; Jakarta, 10 Mei 2008. Dengan demikian, Mahmud meninggal di usianya
yang ke 57.
Irgi berdiri di samping
ibunya. Ia mengenakan baju lengan panjang hitam. Demikian pula dengan sang ibu
yang memakai baju dan kerudung serba gelap. Bayu* sang adik, duduk setengah
jongkok di hadapan makam ayahanda tercinta. Ia memakai baju hitam lengan
pendek. Wajahnya merah, matanya sembab karena air mata yang telah mengering. Ia
terlihat lebih menderita dari Irgi dan ibunya yang sudah terlihat tabah dan
tegar. Irgi sendiri sudah terlihat tenang, walaupun kedukaan masih menyelimuti
wajahnya.
*Catatan Kaki: Di film LIAR diperankan oleh Raffi Ahmad.
Para takziah (pelayat) yang datang cukup banyak. Siang hingga sore rumah
Irgi menjadi ramai. Teman-temannya balapan juga datang. Seorang kyai atau
ustadz muda berkumis dan berjenggot tipis, berdiri di hadapan Irgi sekeluarga
dan para hadirin, lalu berkata lembut, “Mas Irgi dan Bu Rini Haryadi** menjadi
saksi kepergian bapak kita tercinta...Bapak Mahmud Haryadi. Menurut keterangan
beliau berdua, Pak Mahmud meninggal sesudah menjalankan ibadah. Bahkan bisa
saja beliau meninggal ketika sedang beribadah. Entah itu sholat Tahajud, baca
Quran, dizikir, dll.”
“Dengan demikian..kita bisa
menyimpulkan...mudah-mudahan...Insya
Allah...Bapak kita tercinta, paman kita, saudara kita, Bapak Mahmud
Haryadi.. menghadap Allah SWT dalam keadaan Khusnul Khatimah.***”
Semuanya menyahut: “AMIN!”
Bayu yang masih sedih pun menyahut dengan suara paling keras. Beberapa saat
kemudian Rini meninggalkan ruang keluarga yang masih cukup sesak oleh para takziah.
Wanita berusia sekitar 53 tahun ini masuk ke kamarnya. Wajahnya masih cantik
untuk wanita kepala lima. Posturnya juga tergolong tinggi menurut ukuran wanita
Indonesia. Tinggi badannya hanya selisih sedikit dengan Irgi dan Bayu yang
berpostur sekitar 170 cm lebih sedikit.
** Catatan Kaki: Di film LIAR diperankan oleh
Wieke Widowati.
*** ----|||---
: Meninggal dengan mulia, meninggal dengan mendapat ridhoNya.
Janda yang masih relatif
muda ini berdiri di depan jendela kamarnya. Wajah ayunya yang masih muram itu
diterpa sinar mentari yang hampir tenggelam. Ia tidak sadar kalau putra
sulungnya mengikutinya. Sedetik kemudian ia menangis sambil menggelengkan
kepalanya. Irgi yang berdiri di pintu kamar, hanya bisa bengong melihat ibunya
menangis lagi.
Beberapa saat kemudian para takziah mohon pamit pada Irgi, Bayu dan
Rini. Irgi diajak bicara empat mata oleh ustadz muda yang tadi. Pria berusia
sekitar 35 tahun itu menyentuh bahu Irgi, lalu berkata, “Mas Irgi, tugas
terpenting anda sekarang ini hanya satu. Menghibur Ibu, menenangkan Ibu,
meminta Ibu untuk meningkatkan ibadahnya, agar Allah berkenan memberi
ketenangan di hati beliau. Ingat Mas Irgi..kita boleh sedih, tapi jangan
berlebihan, jangan berlarut-larut..karena itu bisa membuat arwah si mayat tidak
tenang.”
Irgi mengangguk-angguk. Si
Ustadz muda melanjutkan, “Kalau anda mau konsultasi atau ngobrol, silahkan
datang ke rumah saya. Tapi kalau bisa ngabari
dulu ya, biar saya bisa menyediakan waktu.”
Irgi mengangguk, “Kami
sekeluarga sangat berterima kasih sama Ustadz Wahyu. Tanpa partisipasi Ustadz
Wahyu, mungkin jalan hidup kami sudah semakin nggak jelas. Ya, Insya Allah, saya akan berusaha maksimal
menjaga Mama. Saya sendiri juga mau meningkatkan ibadah saya yang selama ini
masih amburadul.”
“Alhamdulillah..” sahut wahyu gembira. “Saya senang sekali
mendengarnya.”
Irgi tersenyum. “Insya Allah, kapan-kapan saya berkunjung
ke rumah Ustadz.”
“Silahkan, saya tunggu
silaturrahminya.”
--- XXXXX---
Malam menghampiri bumi
pertiwi. Bayu dan kawan-kawannya sudah nongkrong lagi di sebuah warung kecil.
Kesedihan karena kepergian Sang Ayah beberapa hari yang lalu seolah sirna oleh
canda tawanya bersama kawan-kawan ngetrack-nya.
Dibandingkan sang kakak yang kalem, Bayu memang lebih mbeling karena agak urakan dan cukup sering berfoya-foya.
Beberapa menit kemudian
Irgi datang dengan motor bebeknya. Salah seorang kawannya yang duduk di samping
Bayu, berkata, “Langsung pesan aja Ndra! Ayo!”
Yang lain menimpali, “Sedih
ya sedih Ndra, tapi tetap harus makan. Nanti kalau lo nggak makan, lo nggak
punya tenaga buat ngetrack. Iya
nggak!? Ha ha!”
Seorang pemuda agak gemuk berkulit gelap,
berkata, “Segera pesanin menu
terlezat buat raja jalanan kita.”
“Nggak Yok, makasih..”
sahut Irgi lembut.
“Terus?” tanya Yoyok tidak
mengerti. Irgi yang wajahnya masih terlihat sedih, menyahut, “Gue cuma
sebentar. Ehmm (menatap semuanya)...gue ke sini cuma mau ngomong sesuatu sama
kalian. Sesuatu yang gue anggap penting, dan mungkin juga penting bagi kalian.”
Kata-kata Irgi itu langsung
membuat suasana sepi. Keseriusan di wajahnya bisa dirasakan oleh semua
temannya. Mereka yakin kalau jagoan mereka itu benar-benar mau bicara serius.
Irgi tidak ikut duduk di samping teman-temannya. Ia hanya berdiri di pintu
warung, di dekat Bayu duduk. Setelah mengatur nafas, Irgi berkata lembut, “Malam
ini..malam terakhir gue ke sini.” Diam sejenak. “Malam ini, kita terakhir
ketemu di sini.”
Semuanya terperangah,
termasuk si adik kandung. Irgi melanjutkan, “Kita udah lama bersahabat. Kita
udah lama hidup bersama. Kita udah lama melakukan apa aja bersama-sama.” Diam
sejenak. “Jalan bersama...makan bersama...nongkrong bersama...ngetrack bersama...rekreasi bersama..dan
bersama-sama menumpas kejahatan yang sering terjadi di dunia balapan.”
Diam sejenak, lalu bicara
lagi, “Kita juga berusaha bersama-sama menghadapi kekejaman Unang alias Jajang,
pimpinan Geng Macan, geng yang paling ditakuti semua geng motor.”
“Ditakuti sebelum kehadiran
kita.” potong salah seorang kawannya. Irgi melanjutkan, “Berkat dukungan dan
kepercayaan lo semua, gue bisa jadi juara balap motor, walaupun hanya balap
motor jalanan. Tanpa bantuan lo semua, gue nggak kan bisa sukses kayak sekarang.” Diam sebentar. “Gue
benar-benar berterimakasih sama lo semua.” Diam lagi sebentar. “Tapi...setelah kepergian
bokap* dua minggu yang lalu...hati gue benar-benar berubah. Setelah kepergian
bokap kemarin, gue benar-benar ingin berubah. Berubah menjadi lebih baik.”
Hening sejenak. Irgi
menatap semua kawannya yang pada melongo, lalu melanjutkan, “Dengan sangat
berat hati..gue menyatakan berhenti ngetrack.
Gue mengundurkan diri dari dunia balapan.” Diam sejenak. “Gue berharap,
Bayu juga ikut berhenti. Tapi gue nggak maksa
dia. Mau berhenti ya syukur, nggak mau ya nggak apa-apa. Yang penting kalian
bisa jaga dia, adik gue satu-satunya. Gue yakin, lo semua pasti mau dan bisa
jaga Bayu.”
*Catatan Kaki: Ayah, Bapak. Kalau Ibu: Nyokap.
Diam beberapa detik, “Tapi
lo semua nggak usah kuatir. Walaupun gue udah berhenti ngetrack, kita tetap bersahabat. Kita tetap bersaudara.” Diam
sebentar. “Sampai kapan pun, lo semua
tetap sahabat gue. Lo semua akan selalu ada di sini (menyentuh dada kirinya).
Lo semua udah kayak keluarga gue.”
Setelah merasa puas bicara,
Irgi memohon diri pada geng motornya. Keputusannya untuk meninggalkan dunia
balap liar benar-benar sudah bulat. Malam ini juga Irgi telah pensiun dari
dunia balapan. Sang Raja Jalanan telah meninggalkan dunia balap motor untuk
selamanya.
Beberapa menit kemudian,
ketika Irgi berjalan di sebuah jalan yang sepi, datanglah rombongan motor dari belakangnya. Jumlah mereka cukup
banyak, sekitar sepuluh belas orang. Rombongan motor itu langsung mengepung
Irgi yang berjalan agak lambat. Rupanya mereka Geng Macan, geng yang dipimpin
Unang atau Jajang, si gundul bertubuh pendek kekar, musuh utamanya Irgi di
balap motor. Irgi yang tidak sempat lari, hanya bisa pasrah. Ia dipaksa turun
dari motornya. Jajang mendekatinya, lalu berkata, “Buka helmnya!”
Salah satu anak buahnya
melepas helm cakil Irgi dengan paksa. Jajang mendekati Irgi yang ketakutan. Irgi
jelas ketakutan menghadapi lawan sebanyak itu, ditambah pemimpinnya yang galak
dan sampai hati menyakiti orang. Irgi tidak mungkin menang melawan sepuluh pria
yang rata-rata berotot. Jangankan sepuluh orang, melawan lima orang sekaligus saja
kemungkinan menang kecil. Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkan Irgi.
Jajang memelototi Irgi yang
menundukkan kepalanya. Tinggi badan mereka terpaut agak jauh, namun Jajang
tidak terlihat kecil karena badannya lebih berotot dari badan Irgi yang hanya
langsing dan padat. Setelah melotot beberapa detik, Jajang yang tampaknya sudah
kalap itu melontarkan bogem kanannya ke muka Irgi. Begitu mantapnya pukulan
itu, sehingga membuat Irgi roboh. Irgi bangkit dengan susah payah. Salah
seorang anak buah Jajang berseru, “Hajar Boss!”
Begitu Irgi bisa berdiri
tegak, Jajang kembali memukul perutnya dua kali, masing-masing dengan tangan kiri-kanan.
Merasa belum puas, Jajang kembali melontarkan bogem kanannya ke muka Irgi. Irgi
pun roboh untuk yang kedua kalinya. Hidung dan bibirnya berdarah cukup banyak.
Selanjutnya, Jajang meminta semua anak buahnya untuk mengambil bagian.
Mereka menghajar Irgi
seperti menginjak-injak kucing atau tikus. Malam ini Irgi benar-benar mendapat
musibah besar, musibah yang membuatnya nyaris menyusul ayahnya. Untungnya,
beberapa detik kemudian datanglah beberapa orang yang tinggal di wilayah itu. Geng
Macan pun kabur dengan membawa motor Irgi. Irgi yang babak belur, harus
merelekan motor kesayangannya dirampas musuhnya. Di tengah sadar dan tidak,
Irgi bersyukur karena yang hilang hanya motornya, bukan nyawanya. Orang-orang
yang menolongnya itu langsung membawanya ke rumah sakit karena lukanya yang
sudah parah. (Bersambung)
---XXXXX---

0 comments:
Post a Comment