Menjadi Kurir Pizza
Dengan berbekal ijazah SMA, Irgi mencari pekerjaan apa saja dan sedapatnya. Ia tidak peduli misalkan nanti atau besok mendapat pekerjaan yang sifatnya ecek-ecek.* Yang penting halal dan baik. Ia benar-benar sudah bertekad bulat untuk meninggalkan dunia balap motor yang identik dengan kekerasan. Ia tidak ingin lagi hidup dengan nuansa kekerasan.
Setelah sembuh dari luka
parah, Irgi langsung mencari pekerjaan yang bisa membuatnya mandiri, pekerjaan
yang minimal bisa untuk menghidupi dirinya sendiri. Maklum, pemuda berwajah
lumayan ganteng ini sudah dewasa, jadi ia malu kalau masih bergantung pada
ortu, apalagi sekarang ortunya tinggal ibunya. Uang pensiun almarhum ayahnya
hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk biaya kuliah Bayu, adiknya yang
cukup mbeling. Bayu sendiri masih
tergolong mahasiswa baru di sebuah universitas kecil di ibu kota.
Dengan berbekal ijazah SMA, Irgi mencari pekerjaan apa saja dan sedapatnya. Ia tidak peduli misalkan nanti atau besok mendapat pekerjaan yang sifatnya ecek-ecek.* Yang penting halal dan baik. Ia benar-benar sudah bertekad bulat untuk meninggalkan dunia balap motor yang identik dengan kekerasan. Ia tidak ingin lagi hidup dengan nuansa kekerasan.
*Catatan Kaki: Pekerjaan yang sifatnya rendah di mata umum, atau
pekerjaan yang tidak membutuhkan skill atau keahlian khusus. Contoh, Tukang
antar koran, antar susu, antar makanan, tukang sapu dan ngepel, kuli bangunan, kuli pasar, jaga toko, warung atau restoran,
dll.
Kepergian Sang Ayah ke alam
abadi benar-benar merubah jiwanya. Ia akan terus merasa bersalah sebelum
meninggalkan balapan dan mendapat pekerjaan layak Ia benar-benar menyesal belum
bisa membahagiakan Sang Ayah. Hatinya benar-benar terluka karena ayahnya wafat
sebelum melihat ia sukses atau mandiri. Karena itu, sekarang ia benar-benar
bersemangat mencari pekerjaan apa pun.
Berkat usaha keras yang tak
kenal lelah, akhirnya Irgi mendapat pekerjaan yang halal dan cukup baik. Irgi
diterima di sebuah restoran pizza yang sudah cukup besar. Ia menjadi kurir atau
tukang antar pizza. Karena mantan pembalap jalanan, ia dan motornya selalu
bergerak cepat. Ia selalu datang tepat waktu di setiap rumah yang memesan
pizza. Ia begitu tangkas mengendarai motor bebek yang di belakangnya ada kotak
fiber untuk menaruh pizza.
Seiring dengan berjalannya
waktu, luka hatinya karena kepergian sang ayah berkurang cukup banyak. Semua
itu karena ia terus berusaha meningkatkan ibadahnya, juga karena kesibukannya
menjadi kurir pizza. Rasa sesal yang begitu mendalam di hatinya itu semakin
berkurang. Semangat hidupnya yang hampir redup, perlahan-lahan mulai menggelora
seperti dulu, ketika ia mengikuti lomba balap liar. Bedanya, sekarang
semangatnya ia arahkan pada pekerjaannya. Kesibukannya dalam hal positif itu
benar-benar membuat hati dan pikirannya bening. Ia merasa telah membuka
lembaran baru dalam hidupnya, lembaran baru yang indah dan cerah.
Berbeda dengan adiknya yang
sampai sekarang masih sering menghamburkan uang untuk bersenang-senang,
menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting atau tidak perlu. Bayu yang
juga pandai ngetrack itu ingin
mengganti posisi abangnya di dunia balapan. Kemampuan membalapnya memang belum
sehebat abangnya, namun ia begitu bersemangat menekuni balap motor. Ia terus
berlatih dan sering mengikuti pertandingan ngetrack.
Ia berdalih ingin
meneruskan perjuangan abangnya, perjuangan menjadi pembalap tangguh. Bahkan ia
tidak ingin sekedar menjadi pembalap jalanan. Ia ingin menjadi pembalap
profesional, pembalap yang bertanding di sirkuit. Itulah ambisinya saat ini.
Padahal abangnya tidak pernah memintanya untuk melakukan itu. Ditambah lagi,
abangnya belum tentu suka dengan ambisinya menjadi pembalap, baik pembalap
profesional maupun pembalap jalanan. Bahkan sebenarnya sang kakak ingin agar ia
juga meninggalkan balapan untuk selamanya.
---XXXXX---
Gerimis membasahi ibu kota
dan sekitarnya. Di sebuah jalan yang agak sepi, tampaklah tiga lelaki yang
mendorong mobil mereka yang macet. Yang dua mendorong, yang satu memegang
setir. Dua lelaki itu tampak kesulitan mendorong mobil mereka yang mogok. Irgi
yang kebetulan lewat di tempat itu, langsung tergerak hatinya untuk membantu.
Ia menaruh motornya di tepi jalan, lalu membantu mendorong mobil sekuat tenaga.
Beberapa hentakan kemudian,
mobil besar berwarna merah tua itu bisa berjalan. Tiga lelaki yang masih muda
itu langsung berterima kasih pada Irgi. Mereka berjabat tangan. Demikian pula
dengan seorang gadis yang berdiri di tepi jalan. Ia mengucapkan terima kasih
pada Irgi. Rupanya ia juga penumpang mobil merah tersebut. Di belakang mereka
juga ada dua gadis berwajah lumayan. Mereka berdiri di samping mobil sedan Jazz
biru muda. Mereka temannya para penumpang mobil merah tersebut.
Dua gadis berpostur tinggi
semampai itu menatap Irgi dengan tersenyum manis, namun Irgi hanya menatap
mereka sekilas. Irgi yang terburu-buru itu langsung bergerak lagi. Irgi kembali
membalap, namun membalap untuk mengantar makanan, bukan untuk kebut-kebutan
dengan penunggang motor lain. Irgi kembali membalap, namun hanya untuk sampai
di tempat tujuan dengan cepat dan tepat waktu, bukan untuk disebut jagoan naik
motor, jagoan ngebut, penguasa jalanan dan sebagainya. (Bersambung)
---XXXXX---

0 comments:
Post a Comment