Wednesday, 10 July 2013

New LIAR: Kuda Mas (Kurir dan Gadis Manis) ; Bagian Kedua

Menjadi Kurir Pizza
          Setelah sembuh dari luka parah, Irgi langsung mencari pekerjaan yang bisa membuatnya mandiri, pekerjaan yang minimal bisa untuk menghidupi dirinya sendiri. Maklum, pemuda berwajah lumayan ganteng ini sudah dewasa, jadi ia malu kalau masih bergantung pada ortu, apalagi sekarang ortunya tinggal ibunya. Uang pensiun almarhum ayahnya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk biaya kuliah Bayu, adiknya yang cukup mbeling. Bayu sendiri masih tergolong mahasiswa baru di sebuah universitas kecil di ibu kota.
          
Dengan berbekal ijazah SMA, Irgi mencari pekerjaan apa saja dan sedapatnya. Ia tidak peduli misalkan nanti atau besok mendapat pekerjaan yang sifatnya ecek-ecek.* Yang penting halal dan baik. Ia benar-benar sudah bertekad bulat untuk meninggalkan dunia balap motor yang identik dengan kekerasan. Ia tidak ingin lagi hidup dengan nuansa kekerasan.
          *Catatan Kaki: Pekerjaan yang sifatnya rendah di mata umum, atau pekerjaan yang tidak membutuhkan skill atau keahlian khusus. Contoh, Tukang antar koran, antar susu, antar makanan, tukang sapu dan ngepel, kuli bangunan, kuli pasar, jaga toko, warung atau restoran, dll.
          Kepergian Sang Ayah ke alam abadi benar-benar merubah jiwanya. Ia akan terus merasa bersalah sebelum meninggalkan balapan dan mendapat pekerjaan layak Ia benar-benar menyesal belum bisa membahagiakan Sang Ayah. Hatinya benar-benar terluka karena ayahnya wafat sebelum melihat ia sukses atau mandiri. Karena itu, sekarang ia benar-benar bersemangat mencari pekerjaan apa pun.
          Berkat usaha keras yang tak kenal lelah, akhirnya Irgi mendapat pekerjaan yang halal dan cukup baik. Irgi diterima di sebuah restoran pizza yang sudah cukup besar. Ia menjadi kurir atau tukang antar pizza. Karena mantan pembalap jalanan, ia dan motornya selalu bergerak cepat. Ia selalu datang tepat waktu di setiap rumah yang memesan pizza. Ia begitu tangkas mengendarai motor bebek yang di belakangnya ada kotak fiber untuk menaruh pizza.
          Seiring dengan berjalannya waktu, luka hatinya karena kepergian sang ayah berkurang cukup banyak. Semua itu karena ia terus berusaha meningkatkan ibadahnya, juga karena kesibukannya menjadi kurir pizza. Rasa sesal yang begitu mendalam di hatinya itu semakin berkurang. Semangat hidupnya yang hampir redup, perlahan-lahan mulai menggelora seperti dulu, ketika ia mengikuti lomba balap liar. Bedanya, sekarang semangatnya ia arahkan pada pekerjaannya. Kesibukannya dalam hal positif itu benar-benar membuat hati dan pikirannya bening. Ia merasa telah membuka lembaran baru dalam hidupnya, lembaran baru yang indah dan cerah. 
          Berbeda dengan adiknya yang sampai sekarang masih sering menghamburkan uang untuk bersenang-senang, menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting atau tidak perlu. Bayu yang juga pandai ngetrack itu ingin mengganti posisi abangnya di dunia balapan. Kemampuan membalapnya memang belum sehebat abangnya, namun ia begitu bersemangat menekuni balap motor. Ia terus berlatih dan sering mengikuti pertandingan ngetrack.
          Ia berdalih ingin meneruskan perjuangan abangnya, perjuangan menjadi pembalap tangguh. Bahkan ia tidak ingin sekedar menjadi pembalap jalanan. Ia ingin menjadi pembalap profesional, pembalap yang bertanding di sirkuit. Itulah ambisinya saat ini. Padahal abangnya tidak pernah memintanya untuk melakukan itu. Ditambah lagi, abangnya belum tentu suka dengan ambisinya menjadi pembalap, baik pembalap profesional maupun pembalap jalanan. Bahkan sebenarnya sang kakak ingin agar ia juga meninggalkan balapan untuk selamanya.      

                                          ---XXXXX---

          Gerimis membasahi ibu kota dan sekitarnya. Di sebuah jalan yang agak sepi, tampaklah tiga lelaki yang mendorong mobil mereka yang macet. Yang dua mendorong, yang satu memegang setir. Dua lelaki itu tampak kesulitan mendorong mobil mereka yang mogok. Irgi yang kebetulan lewat di tempat itu, langsung tergerak hatinya untuk membantu. Ia menaruh motornya di tepi jalan, lalu membantu mendorong mobil sekuat tenaga.
          Beberapa hentakan kemudian, mobil besar berwarna merah tua itu bisa berjalan. Tiga lelaki yang masih muda itu langsung berterima kasih pada Irgi. Mereka berjabat tangan. Demikian pula dengan seorang gadis yang berdiri di tepi jalan. Ia mengucapkan terima kasih pada Irgi. Rupanya ia juga penumpang mobil merah tersebut. Di belakang mereka juga ada dua gadis berwajah lumayan. Mereka berdiri di samping mobil sedan Jazz biru muda. Mereka temannya para penumpang mobil merah tersebut.
          Dua gadis berpostur tinggi semampai itu menatap Irgi dengan tersenyum manis, namun Irgi hanya menatap mereka sekilas. Irgi yang terburu-buru itu langsung bergerak lagi. Irgi kembali membalap, namun membalap untuk mengantar makanan, bukan untuk kebut-kebutan dengan penunggang motor lain. Irgi kembali membalap, namun hanya untuk sampai di tempat tujuan dengan cepat dan tepat waktu, bukan untuk disebut jagoan naik motor, jagoan ngebut, penguasa jalanan dan sebagainya.   (Bersambung)

                                               ---XXXXX---

0 comments:

Post a Comment

 
;