Bertemu gadis Manis di Halte
Hujan deras mengguyur rombongan pemuda yang sedang mengerumuni sesuatu. Ternyata mereka sedang melihat Bayu yang hendak berkelahi dengan temannya yang usianya sebaya, sekitar 22-23 tahun. Mereka sama-sama telanjang dada, memamerkan tubuh mereka yang kurus dan tidak berotot. Postur pemuda lawan Bayu itu lebih pendek dari Bayu, namun badannya lebih berisi dan cukup ada ototnya. Kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya musuh Bayu itu yang lebih dulu mengajak ribut. Bayu yang keras kepala itu hanya meladeni tantangannya.
Hujan deras mengguyur rombongan pemuda yang sedang mengerumuni sesuatu. Ternyata mereka sedang melihat Bayu yang hendak berkelahi dengan temannya yang usianya sebaya, sekitar 22-23 tahun. Mereka sama-sama telanjang dada, memamerkan tubuh mereka yang kurus dan tidak berotot. Postur pemuda lawan Bayu itu lebih pendek dari Bayu, namun badannya lebih berisi dan cukup ada ototnya. Kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya musuh Bayu itu yang lebih dulu mengajak ribut. Bayu yang keras kepala itu hanya meladeni tantangannya.
Para penonton bersorak dan
bertepuk tangan. Mereka menyebut nama ‘Bayu‘ dan Taufik’ (baca; Topik).
Mayoritas pada menyeru nama Bayu. Hanya beberapa orang saja yang menyeru nama
Taufik. Dengan bertelanjang dada dan masih mengenakan celana panjang
masing-masing, dua anak muda ini saling mengejek. Sesaat kemudian Bayu
mendorong tubuh Taufik ke belakang. Taufik yang melihat pertahanan Bayu
terbuka, langsung melontarkan kepalan kanannya dua kali. Pukulan mantap itu
membuat Bayu tersungkur ke tanah.
Bayu bangkit lagi, dan
Taufik langsung mengirim lagi tinju kanannya, namun kali ini tidak mengenai
sasaran. Pukulan ketiga Taufik itu ditangkis Bayu dengan tangan kirinya. Begitu
melihat pertahanan perut dan dada Taufik terbuka, Bayu langsung memanfaatkannya
dengan menghujamkan kaki kanannya. Tendangan mantap itu mengenai sasaran dengan
telak. Taufik terhuyung-huyung, dan Bayu langsung merangsek dengan tiga
pukulan. Taufik pun gantian roboh.
Sorak penonton semakin
meledak, terutama para pendukung Bayu. Pertarungan dua bocah mbeling ini semakin sengit. Untuk
beberapa detik keduanya terlihat seimbang. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama
gesit dan sama-sama brutal. Namun tak lama kemudian pemenangnya mulai terlihat.
Taufik kewalahan menghadapi kebrutalan Bayu yang nyaris tanpa kendali. Bayu
yang seperti kesetanan itu terus mendesak Taufik, sehingga membuat Taufik roboh
untuk yang ke sekian kalinya. Bayu
menggeram, lalu menghajar Taufik yang sudah tidak berkutik. Ia menendang dan
menginjak-injak tubuh Taufik yang berbaring di tanah.
Kawan-kawannya berseru:
“Cukup Bay! Dia udah kalah!”
Bayu meludahi Taufik, lalu
membentak: “Anjing!! Huh! Ini akibatnya kalau berani ngajak ribut gue!”
---XXXXX---
Jam 12.20 siang. Mendung
membuat langit terlihat sudah sore. Bayu dipanggil ibu dekan di fakultasnya,
lalu diajak bicara empat mata. Bayu berdiri di depan ibu dekan, seorang wanita
agak gemuk berkacamata dan berjilbab. Usianya sekitar 53 tahun. Dengan muka
merah karena marah, wanita itu berkata, “Bayuuu!! Ampun deh! Kali ini kamu
benar-benar sudah sangat keterlaluan!”
Bayu menunduk sambil
cengar-cengir. Kancing bajunya yang atas tidak ditutup, sehingga dadanya
terlihat sedikit. Baju biru muda yang dikenakannya basah karena air hujan dan
keringat. Ibu dekan melanjutkan, “Kamu tahu nggak? Topik itu sekarang masuk
rumah sakit, dan itu gara-gara kamu!”
“Kok gara-gara saya!?”
sahut Bayu kesal. “Dia duluan yang mukul
saya (menunjuk bibir dan pipinya yang bengkak), masa’ saya diam aja!?”
“Oo tidak penting Bayu.
Siapa yang mulai duluan itu tidak penting. Yang jelas, sekarang ini Topik masuk
rumah sakit, dan itu akibat ulahmu.” Diam beberapa detik. “Keluhan yang masuk
ke telinga Ibu itu banyak, Bayu. Keluhan tentang kelakuanmu. Mulai dari mahasiswa-mahasiswi, orang tua
mahasiswa, karyawan TU, tukang sapu, maupun masyarakat di sekitar kampus kita
ini.”
“Ya Ibu jangan dengerin mereka Bu!” potong Bayu marah.
“Saya nggak pernah cari masalah duluan!”
Ibu dekan bengong melihat
keberanian Bayu. Bayu melanjutkan, “Ibu harus tahu. Saya ini bukan anak yang
suka cari masalah! Saya bukan anak yang suka macam-macam! Mereka terus Bu!
Mereka terus yang cari masalah sama saya!”
Ibu dekan membentak, “Cukup
Bayu! Cukup (menggebrak meja)! Kamu ini hanya bisa memalukan nama baik
fakultas.“ diam sejenak, “Ibu dapat amanat dari Pak Rektor. Beliau minta agar
Ibu tidak segan bertindak tegas terhadap mahasiswa senakal kamu!” diam sejenak,
“Terus terang Bayu...Ibu sudah tidak bisa lagi mempertahankan kamu di kampus
ini.”
Bayu tersentak mendengar
kalimat itu. Ibu dekan melanjutkan, “Silahkan kamu cari kampus lain...dan
mudah-mudahan kamu diterima. Oke!?”
Bayu menatap ibu dekan
dengan tajam. Ia masih ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa sangat
berat untuk digerakkan. Akhirnya ia hanya bisa cengar-cengir menahan gejolak
emosi di dadanya. Siang itu juga Bayu resmi di-DO (Drop Out). Bayu yang masih kuliah di semester awal itu harus di-DO
dengan tragis. Nasibnya sama dengan kakaknya. Bedanya, kakaknya di-DO hanya karena
balapan, sedangkan dia di-DO karena kenakalannya yang luar biasa. Entah itu
sering melukai mahasiswa lewat berkelahi, sering menyakiti dosen dan karyawan
dengan kata-kata, sering mengajak ribut mahasiswa kampus lain, tidak pernah
mengerjakan tugas, dan lain-lain.
Kini Bayu disidang oleh
kakak dan ibunya di ruang makan. Bayu duduk di samping lemari yang ada kacanya,
sedangkan Irgi berdiri di samping Rini yang duduk menghadap meja makan. Irgi
yang sudah marah itu berkata,
“Lo benar-benar udah nggak
punya otak ya Bay!?” diam beberapa detik. “Lo pikir cari duit itu gampang
apa!?”
Bayu cuek saja. Ia hanya diam tanpa menatap kakak dan ibunya yang berada
di samping kirinya. Irgi melanjutkan, “Coba!...Pernah nggak sih lo dikit aja mikirin keluarga!? Mikirin Mama nih!”
“Ckk, apaan sih Gi!” potong
Bayu yang mulai kesal. “Yang ngajak ribut duluan itu si Topik, bukan gue! Lo
jangan nyalahin gue terus!”
“Huh! Jelas-jelas lo yang dikeluarin dari kampus, ya pasti lo yang
salah!”
“Tuu kan? lo sekarang gitu
sih Gi!?”
Bayu berdiri sambil berkata, “Males nih kalau
begini!” Diam sebentar. Bayu menatap Irgi dengan tajam, lalu berkata, “Harusnya
ya, dari semua orang yang ngertiin gue
itu lo Gi. Huh! Ngerti apaan!?”
Irgi menggelengkan kepalanya, “Hey! Justru
gue sedih begini ini karena tiap hari gue mikirin
lo!”
Bayu memelototi Irgi, lalu
menunjukkan sikap menantang. Dengan mendongakkan kepala, ia bertanya, “Ngapa?!”
Irgi pun menyahut, “Ngapa!?”
Kakak adik yang gagah ini
benar-benar mau ribut, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka akan berkelahi.
Rini yang hampir menangis, berkata, “Irgi...Bayu...tolong doong!”
Rintihan sang ibu membuat
amarah keduanya mereda. Untuk beberapa detik Irgi dan Bayu masih saling menatap
tajam, setelah itu Irgi menatap meja makan di depannya. Bayu menatap Rini dan
Irgi yang menatap meja, setelah itu melihat depan. Sifat bandelnya
membuatnya tidak merasa bersalah.
Kalaupun merasa bersalah, ya cuma bersalah sedikit. Padahal ia sudah membuat
kesalahan besar, kesalahan yang menyangkut nama baik keluarga Mahmud Haryadi.
Setelah suasana hening
beberapa saat, Irgi berkata, “Seneng
lo, lihat Mama sedih? Ha!?”
Bayu tetap cuek saja. Irgi kembali bertutur tanpa
menatap Bayu, “Gue bener-bener pusing
ngurusin lo!”
Bayu yang menatap depan,
perlahan-lahan menoleh ke Irgi, lalu bertanya, “Apa lo bilang!?”
Irgi menatap Bayu dengan tajam, lalu menyahut,
“Pusing ngurusin lo!”
Kata-kata itu membuat muka
Bayu merah hitam. Ia menimpali, “Kalau lo pusing mikir gue, mulai sekarang lo nggak usah mikir gue lagi! Nggak usah ngurus gue lagi! Gue udah besar sekarang
Gi, udah bisa cari duit sendiri.”
Kalimat ‘Udah bisa cari
duit sendiri’ disambut Irgi dengan bibir mengejek. Bayu melanjutkan, “Lo bukan
bokap, jadi nggak usah banyak ngatur!”
Bayu mengambil jaketnya di
kursi, lalu meninggalkan Irgi dan Rini yang bengong. Rini yang masih duduk, menatap
Irgi yang kebingungan. Irgu benar-benar pusing memikirkan adiknya yang sudah
kelewatan. Mau tidak mau, sekarang ini ia harus menggantikan posisi ayahnya di
rumah. Dengan demikian, ia tetap
berkewajiban menjaga dan mengarahkan adiknya yang mbeling.
Lantas ke manakah Bayu
pergi? Ternyata ia tetap melanjutkan hobinya ngetrack. Bahkan semakin hari semakin gila. Setelah tidak berstatus
mahasiswa, ia menjadi semakin bebas menyalurkan hobinya. Setiap malam ia selalu
kebut-kebutan di arena balap jalanan. Ia bertanding dengan semua geng motor
yang kebetulan sering nongkrong sampai malam.
---XXXXX---
Hari belum begitu sore,
namun langit sudah terlihat cukup gelap karena mendung. Seorang lelaki berhelm
cakil biru dan berjaket kelabu tua, mengendarai motornya dengan gesit. Di jok
belakang motor bebeknya ada kotak fiber pizza. Ia menerobos kerumunan mobil dan
motor dengan cepat. Ketika melewati celah sempit pun ia masih sanggup bergerak
cepat. Sesaat kemudian ia berhenti mendadak karena hampir bertubrukan dengan
mobil besar. Akibat berhenti mendadak, jok dan ban belakang motornya sampai
naik beberapa centi di udara. Orang-orang di tempat itu berdecak kagum. Yah,
siapa lagi dia kalau bukan lakon
kita, mantan Raja Jalanan.
Tak lama kemudian turunlah
hujan lebat. Irgi yang tampaknya terburu-buru itu terpaksa berteduh dulu di
sebuah halte yang cukup besar. Di halte itu Irgi berteduh bersama sekitar lima
belas orang. Ia melihat hujan yang turun dengan stabil. Ia bergumam, “Kayaknya hujannya bakal awet. Wah,
wah..berarti aku harus di sini dulu. Hujan
kayak gini nggak mungkin kuterobos. Kecuali pakai mantel. Aduh duuh..sejak
kemarin lupa terus beli mantel.”
Sesaat kemudian, dari arah
depan halte datanglah seorang gadis cantik yang berlari sambil menutup
kepalanya. Ia memakai rok terusan* lengan pendek berwarna hijau tua. Irgi yang
melihat kehadiran gadis itu, langsung menyediakan tempat untuk berteduh. Gadis
manis itu membawa tas putih. Ia mengusap mukanya yang basah oleh air hujan.
Rambutnya panjang lurus agak berombak. Hidungnya mancung, kedua pipinya ada
lesungnya. Usianya sekitar 23 tahun. Kini di samping kiri Irgi ada seorang
gadis cantik dan manis.
*Catatan Kaki: Rok yang mirip daster namun ada ikat pinggangnya
Hening untuk beberapa
menit. Tak ada satu orang pun yang bicara sepatah dua patah kata. Hanya gemuruh
air hujan yang terdengar seperti sungai yang sedang mengalir deras. Tak ada
yang mereka harapkan selain hujan segera reda. Irgi yang merasakan tempat
berteduhnya kurang nyaman, langsung pindah dengan lewat di depan si gadis
manis. Maksudnya juga ingin mengenakkan tempat berteduh si gadis. Kini si gadis
manis berada di samping kanannya. Si lesung pipit mengernyitkan dahinya. Ditatapnya
Irgi dengan wajah cemberut. Rupanya dia agak kesal melihat sikap Irgi. Kalau
dilihat wajahnya seolah ia bertanya, “Apa maksudnya pindah di samping kananku?”
Tak lama kemudian gadis
manis ini melambaikan tangannya pada sebuah mobil sedan Jazz biru muda. Rupanya
mobil itu mau menjemputnya. Pengendaranya ternyata dua gadis yang pernah
bertemu Irgi beberapa waktu yang lalu, ketika Irgi membantu mendorong mobil
macet. Dua gadis lumayan cakep itu kawannya pemilik mobil merah besar yang
didorong Irgi. Gadis yang memegang setir berkata,
“Lik, kalau nggak salah,
itu cowok yang kemarin ikut dorong mobilnya Rendi. Betul nggak?”
Gadis di sampingnya
menyahut, “Kayaknya iya Cik. Makanya,
aku kok pernah lihat dia..” (bersambung)
-----XXXXX-----

0 comments:
Post a Comment