Karyawan Terbaik
Bagi orang normal yang ingin hidup sehat dan teratur, malam itu dipakai untuk istirahat atau tidur, setelah bekerja sejak pagi sampai siang atau pagi sampai sore. Namun hal itu tidak diperhatikan oleh Bayu yang semakin hari semakin gila balapan. Hampir setiap hari Bayu berlatih, sehingga membuatnya semakin tangguh. Ia sering menang di setiap lomba ngetrack yang ia ikuti. Tinggal dipoles sedikit, kemampuannya sudah sama dengan sang kakak, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih tangguh.
Malam itu Bayu bertanding dengan beberapa geng motor, termasuk Geng Macan. Ia berhasil menjuarai pertandingan keras tersebut. Ia berdiri di hadapan semua kawannya, lalu berseru, “Siapa yang mau duiiit!!?”
Bagi orang normal yang ingin hidup sehat dan teratur, malam itu dipakai untuk istirahat atau tidur, setelah bekerja sejak pagi sampai siang atau pagi sampai sore. Namun hal itu tidak diperhatikan oleh Bayu yang semakin hari semakin gila balapan. Hampir setiap hari Bayu berlatih, sehingga membuatnya semakin tangguh. Ia sering menang di setiap lomba ngetrack yang ia ikuti. Tinggal dipoles sedikit, kemampuannya sudah sama dengan sang kakak, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih tangguh.
Malam itu Bayu bertanding dengan beberapa geng motor, termasuk Geng Macan. Ia berhasil menjuarai pertandingan keras tersebut. Ia berdiri di hadapan semua kawannya, lalu berseru, “Siapa yang mau duiiit!!?”
Tentu saja semua kawannya yang
mayoritas urakan itu langsung menerima uang yang ia sebarkan, uang dari hasil
balapan. Jumlahnya cukup banyak. Hanya seorang pemuda saja yang tidak ikut
berebut uang itu. Ia seorang pemuda berkaca mata. Wajahnya ganteng, badan
tinggi dan atletis, sedikit lebih tinggi dari Bayu dan Irgi. Usianya dewasa,
sebaya Irgi, atau sedikit lebih tua, sekitar 28-29 tahun, maksimal 30 tahun.
Dibandingkan semua kawan Bayu yang ugal-ugalan, dia terlihat yang paling bijak.
Penampilannya juga yang paling rapi.
Salah seorang kawan Bayu
yang baru saja menerima uang, bertanya kepadanya, “Lho, Bang Wiwit nggak ikut
ambil bagian? Ini rejeki nomplok buat kite lo Bang.”
Wiwit* hanya tersenyum,
lalu menyahut, “Buat kalian ajalah. Gue merasa nggak ada hak.”
Ia mendekati Bayu yang
sedang kegirangan, lalu bertutur, “Jangan seneng
berlebihan Bay. Lo tetap harus kontrol diri lo. Perjuangan lo masih panjang
lho.”
“Iyaa, gue tahu apa yang
harus gue lakuin. Tenang ajalah..”
*Catatan Kaki: Di Film Liar diperankan oleh Gunawan
Setelah sorak penonton
mulai mereda, Bayu mendekati seorang pria dari Geng Macan. Pria berjaket itu
duduk di sebuah motor bebek. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rapat oleh
helm cakil. Bayu mengamati motor pria itu, lalu menyentuh stangnya. Ia
bertanya, “Dulu gue dan abang gue punya motor persis kayak gini...tapi sekarang hilang.” Diam sejenak. “Hilangnya
kira-kira hampir setahun yang lalu.”
Diam lagi sejenak, lalu
bicara lagi, “Kalau gue boleh tahu, motor ini lo dapet dari mana?”
Hening sejenak. Bayu yang
mulai emosi itu berkata lagi, “Gue tanya sekali lagi sama lo. Motor ini lo dapet dari mana!?”
Pria dari Geng Macan itu
diam saja. Tentu saja amarah Bayu meledak. Ia berkata, “Lo nggak punya mulut
ya? Atau budheg?...Motor ini lo dapet dari mana!?”
Si pria berhelm cakil tetap
membisu. Bayu yang amarahnya meledak, membentak “ANJING!!!” sambil menendang
kaki kanan pria itu. Tentu saja suasana menjadi heboh. Beberapa pemuda geng
Macan langsung mendekati Bayu, namun lima dari semua kawan Bayu juga ikut
merangsek. Mereka saling memaki dan saling menunjuk dengan berkata, “Hey! Ngapa lo!? Mau ngajak ribut di sini!?”
Seorang kawan Bayu yang
bertubuh tinggi dan agak gemuk, berkata, “Kalian mau balapan apa mau berantem!?
Ha!? Kalau berantem ya oke aja. Ayo!”
Kawan Bayu yang lain
berkata, “Balapan ya balapan, yang sportif! Akui kesalahan dengan jantan!”
Wiwit yang berdiri di belakang
lima kawan Bayu itu berusaha melerai. Bayu berseru pada Geng Macan, “Gue cuma nanya sama temen kalian ini! Motor ini dia dapet dari mana!? Tapi dia diam aja!”
Pria berhelm cakil itu
bangkit dari duduknya. Bayu mendekatinya, lalu membentak, “Anjing!! Lo maling
ya!? Huh (mendorong tubuh pria berhelm)!? Jadi lo yang udah ngambil motor ini!? Haa!?”
Pria berhelm mundur
beberapa langkah, dan ganti seorang pria tinggi besar yang menghadapi Bayu.
Pria itu sejak tadi sudah berdiri di belakang pria berhelm cakil. Rambutnya
keriting gondrong. Jenggot dan kumisnya cukup tebal. Usianya di atas tiga
puluh. Bayu sudah siap duel dengan pria berwajah sangar itu, namun Wiwit
langsung mencegahnya dengan menariknya mundur.
“Udah Bay, udah! Sabar!”
“Anjing! Gue cuma nanya, kok nggak dijawab-jawab! Huh!”
Karena merasa kalah jumlah,
geng Macan akhirnya mundur. Mereka pergi dengan mendapat ejekan dari
kawan-kawan Bayu. Mereka pulang dengan terhina. Wiwit berkata pada Bayu, “Hati-hati
Bay! Lo kan tahu, mereka itu geng Macan, gengnya Jajang, geng paling ditakuti
di...”
“Peduli setan!” potong Bayu
sambil mengelus motornya. “Mau geng Macan, Geng Singa, Geng Iblis Neraka
sekalipun! Gue nggak takut! Ini motor-motor gue. Gue cuma ambil hak gue. Gue
cuma ambil barang gue yang udah lama hilang.”
Bayu menghidupkan mesin
motornya, lalu menekan gasnya beberapa kali. Memang benar. Itulah motor yang
dulu dipakai Irgi balapan. Setelah Bayu mematikan mesin motor tersebut, Wiwit
berkata, “Bay...lo baru aja ngajak perang Geng Macan. Lo udah menabuh genderang
perang.”
Keesokan harinya, ketika
Irgi mau berangkat kerja, ia melihat motornya di halaman rumahnya. Ia terkejut
melihat motornya yang dulu dirampas oleh Jajang dan konco-konconya. Ia
mengamati dan memeriksa motor tersebut. Mungkin hanya persis atau mirip dengan
motornya dulu. Ternyata tidak. Motor itu benar-benar motornya, motor kesayangan
yang sangat berdayaguna. Tentu saja ia heran bukan main. Ia menggelengkan
kepala, lalu bergumam, “Pasti karena balapan semalam. Pantes aja, dia baru pulang pagi.“
Beberapa saat kemudian Irgi
sampai di kantornya, restoran pizza. Ketika ia berjalan melewati sebuah
ruangan, ada suara lelaki yang memanggilnya: “Indraa!” Irgi memasuki ruangan
itu. Dilihatnya seorang pria kecil berusia sekitar 47 tahun. Ia duduk menghadap
meja. Rupanya ia pimpinannya restoran pizza tersebut. Irgi menunduk sambil
bertanya, “Pak Maji* panggil saya?”
*Catatan Kaki: Di film Liar
diperankan oleh Zaenal Abidin Domba
“Iya...duduklah.”
Irgi duduk di hadapan Maji. Maji
mengambil sesuatu dari laci di mejanya, lalu berkata, “Kamu sudah cukup lama
kerja di sini.” Hening sejenak. “Ini (menyerahkan amplop cokelat besar)..bacalah.”
Irgi agak terkejut. Ia
menerima amplop cokelat itu, lalu bertanya, “Surat PHK buat saya?”
Maji tersenyum, “Jangan
terlalu cepat berprasangka. Baca dulu. Ayo..”
Irgi membaca kertas di
amplop besar itu. Tak lama kemudian ia tersenyum gembira. Maji berkata,
“Selamat ya? Kamu terpilih sebagai karyawan terbaik di restoran ini.”
Sesaat kemudian Maji
mengajak Irgi bertemu teman-temannya di sebuah ruangan. Sorak gembira dan tepuk
tangan memenuhi ruangan itu. Maji menyentuh bahu Irgi, lalu menjabat tangannya
sambil berkata, “Selamat ya? Kamu sudah memberi motivasi buat semua karyawan di
sini. Teruslah berkarya dengan tekun.”
“Trima kasih banyak Boss..”
sahut Irgi tersenyum gembira.
---XXXXX---
Di dalam sebuah rumah besar
dan mewah, ada seorang gadis yang membuka sebuah oven. Ia ingin melihat makanan
yang dibuatnya. Ternyata dia si manis pipi lesung yang pernah bertemu Irgi di
halte. Ia terkejut melihat makanan buatannya hangus. Seorang kawannya, gadis
yang kemarin menjemputnya di halte, berkata, “Yaahh...Moniik. Kok gosong sih pizzanya? Emang lo ke mana
aja?”
“Aduh maaaf,” sahut Monik
kebingungan, “tadi aku lagi ditelpon teman.”
Temannya yang satunya,
yang kemarin juga menjemput Monik di halte, menyambung, “Aduh Moniik. Lo itu
kalau masak yang fokus dong, jangan ditinggal ke mana-mana.”
Temannya yang duduk di meja,
berkata, “Buat yang lagi belajar masak kayak
lo, kalau lagi masak jangan nyambi yang
lain. Ya udah, kita pesan pizza aja.”
Monik melihat kawannya
membaca buku telepon, lalu berkata, “Gue mandi dulu ya? Bau nih...”
Si gadis yang memakai kaos
putih tanpa lengan memesan pizza. Ia berkata pada telepon yang digenggamnya,
“Kita pesan pizza yang super. Dua ya Mas. Oke, makasih.”
Sesaat kemudian, datanglah
si mantan pembalap jalanan. Ia mengetuk pintu rumah besar itu, dan muncullah si
gadis yang memakai kaos hitam bertuliskan ‘Beatles.’ Gadis lumayan cakep itu
terkejut melihat Irgi, namun terkejut karena gembira. Irgi berkata, “Pizzanya
Mbak..”
“Iya..” sahutnya sambil
tersenyum gembira. Kawannya yang berada di ruang tengah, yang memakai kaos
putih dan rok mini hitam, berseru: “Ciik! Ini duitnya Ciik!”
“Ba..bawa sini aja Lik!”
sahutnya sambil tetap menatap Irgi. Irgi berkata, “Pesanan Ibu Intan Monik?”
“Iya..”
“Ada dua ya Mbak. Semuanya
sembilan enam. Silahkan dicek
dulu.”
Si gadis kaos putih yang
dipanggil ‘Lik’ tiba di pintu. Ia juga tersentak melihat Irgi, tersentak karena
gembira. Dua gadis ini diam beberapa detik. Irgi yang agak bingung, berkata,
“Mbak..ini pizzanya, silahkan.”
Lik tersenyum sambil bertanya,
“Berapa semuanya Mas?”
“Sembilan enam.”
Lik hanya mengambil
notanya, lalu berkata, “Sebentar ya Mas..nukar duit dulu (mengajak Cik berlari
ke dalam)..”
“Ee ini Mbak..!” ujar Irgi
sambil menyodorkan pizzanya. Ia agak bingung melihat sikap dua gadis itu.
Begitu sampai di ruang tengah, Cik dan Lik bersorak seperti anak kecil. Lik
berseru, “Moniik! Buruan ganti bajunyaa!” setelah itu berpelukan dengan Cik
sambil berkata, “Asyik banget!”
Irgi yang kebetulan mendengar
suara-suara itu, hanya mengernyitkan dahinya. Beberapa detik kemudian ia juga
mendengar suara wanita lain yang berkata, “Iya-iya iya-iyaa.”
Ternyata itu Monik yang
sudah selesai mandi. Lik berkata, “Sini Mon, cepat!”
“Ada apa sih?” tanya Monik
penasaran. Lik menyerahkan nota dan uang, lalu berkata, “Lo aja yang bayar.”
“Kenapa mesti gue? Lo kan
bisa?”
“Tapi bagusnya lo aja.
Ayolah!”
Cik menyambung, “Pokoknya
lo keluar dulu, lo lihat dulu siapa yang datang.”
Monik yang agak kesal,
menyahut, “Hiih, muka-muka jahil!”
“Nggak, bukan!” sahut
keduanya. “Suwer* deh! Betul!”
Cik berkata, “Udah sana
cepetan!” sambil mendorong punggung Monik. Monik memakai kaos oranye lengan
panjang dan celana selutut. Ia terlihat yang paling sopan jika dibandingkan
kedua temannya yang seksi. Di hidungnya masih ada kapas. Rambut panjangnya
masih banyak penjepitnya, namun ia tidak begitu menyadarinya karena
terburu-buru. Ia melangkah perlahan menuju ke ruang tamu. Awalnya ia gugup,
namun beberapa detik kemudian ia cuek
saja terhadap siapapun yang akan ia temui di serambi rumah.
*Catatan Kaki: Maksudnya ‘Swear’ atau sumpah.
Setelah sampai di depan, ia
melihat seorang pria yang membelakanginya. Ia berkata lembut, “Mas.” Irgi
menoleh. Ia agak terkejut melihat Monik. Ia seperti pernah melihat gadis di
hadapannya itu. Demikian pula dengan Monik yang mengernyitkan dahinya. Ia
melihat seorang pemuda dewasa berwajah lumayan tampan. Usianya sekitar 26-27
tahun. Tinggi badannya sekitar 172-173 cm, postur yang sudah tergolong tinggi
menurut ukuran Asia, termasuk Indonesia. Badannya langsing dan berisi. Sore ini
ia memakai jaket kelabu tua dan topi merah, yang merupakan seragam dari
restoran tempat ia bekerja.
Demikian pula dengan Irgi
yang pikirannya menggambarkan ciri wanita di hadapannya. Ia melihat seorang
gadis muda nan cantik dan manis. Lesung menghiasi kedua pipinya. Badan agak
gemuk atau montok, dan sudah tergolong tinggi menurut wanita Indonesia.
Tingginya kurang lebih 160 cm, sedikit lebih pendek dari kedua temannya tadi.
Rambutnya yang sebenarnya panjang lurus itu menjadi berombak karena habis
mandi.
Setelah pada diam beberapa detik, Irgi
berkata, “Pizzanya Mbak..”
Monik tidak langsung
menerima pizza itu. Ia mengangkat jari telunjuk kanannya di depan dada, lalu
berkata sambil tersenyum, “Kayaknyaa,
pernah ketemu ya kita. Tapi di mana ya?”
Irgi tersenyum, “Di halte
Mbak, waktu hujan.”
“Yaahh (tersenyum
gembira)..o iya di haltee. Hih hi hi. Eh..itu udah berapa waktu yang lalu ya?
Udah ada sebulan belum?”
“Kira-kira tiga minggu yang
lalu Mbak..”
“Oh iya ya, tiga mingguan.
Ehmm...”
Setelah senyum Monik
hilang, Irgi kembali berkata, “Pizzanya Mbak..”
“Oh iya (seperti orang yang
sadar dari melamun)..”
“Silahkan Mbak..”
“Ehmm..berapa? berapa
semua?”
“Itu bonnya di tangan
Mbak.”
“Oh iya (menatap secarik
kertas di tangan kanannya). Ini Mas..”
Irgi menerima uang seratus
ribu dari Monik, lalu mengambil kembalian di sakunya, namun Monik berkata, “Eh
udah, nggak usah kembali. Ambil aja semua. Ambil..”
“Oh..makasih banyak Mbak.
Ini Mbak (menyerahkan pizza yang dibungkus plastik putih), silahkan.”
Monik hendak menerima pizza
itu, namun mendadak ada suara berbisik dan siulan yang datang dari belakangnya.
Ternyata itu Cik dan Lik. Monik menoleh ke belakang. Dilihatnya kedua temannya
itu memberi isyarat agar Irgi disuruh masuk. Irgi kembali berkata,
“Mbak..pizzanya...”
Monik tersenyum, “Maaf Mas,
ditaruh dalam aja.”
Irgi mengangguk, lalu
mengikuti Monik masuk ke rumah besar dan mewah itu. Lik berkata, “Masuk Mas,
nggak usah sungkan.”
“Anggap aja rumah sendiri,” sambung Cik yang
berdiri di sampingnya.
“Iya Mbak..” sahut Irgi
tersenyum malu. Tiba-tiba Cik berseru, “Eee stop! Stop dulu! Sepatunya
Mas..dilepas dulu ya?”
“Oh iya..maaf Mbak.”
Lik menyuruh Monik melepas
kapas yang masih menempel di hidungnya. Irgi
mendekati tiga gadis cantik ini, lalu bertanya sambil menyodorkan
pizzanya, “Ini mau ditaruh di mana Mbak?”
Lik menerima pizza itu, lalu
menaruhnya di ruang makan plus dapur. Lik menaruh pizza yang baru matang itu di
atas piring bersih, lalu menaruh pizza hangus buatan Monik tadi di kerdus pizza.
Entah apa maksudnya. Mungkin ia berniat menjahili Irgi. Sementara itu, Cik yang
berdiri di hadapan Irgi bersama Monik, bertanya, “Mas...namanya siapa?”
“Saya Irgi Mbak.”
“Siapa?”
“Irgi.”
“Ooo Mas Irgi (sambil
menyentuh bahu Monik yang tersenyum malu). Tapi di situ (nama di jaket Irgi
yang di dada kiri) kok Indra?”
Irgi tersenyum, “Nama saya
Irgi Indra..”
“Irgi Indra..terus?”
“Irgi Indra Haryadi.”
“Irgi Indra Haryadi.
Wauw..nama yang bagus..kayak orangnya.”
Irgi tersenyum malu. Cik
berkata, “Aku Citra, panggilannya Cicik.* Ini Intan atau Monik, yang tadi pesan
pizza.”
Irgi melirik Intan yang
tersenyum malu. Citra atau Cicik melanjutkan, “Kalau yang lagi di dalam itu
Lili.**” Hening sejenak. “Terus kita harus manggil
apa nih? Irgi atau Indra?”
Irgi tersenyum, “Silahkan
panggil apa aja, terserah Mbaknya.”
“Biasanya dipanggil apa?”
“Yang manggil saya Irgi cuma orang rumah. Kalau udah di luar rumah,
mayoritas manggil saya Indra.”
“Ya udah deh, kita yang
minoritas aja (menatap Intan yang tersenyum manis). Mas Irgi, makasih ya..pizzanya
datangnya cepat.”
Irgi tersenyum,
“Iya..sama-sama Mbak. Saya hanya berusaha disiplin.”
* Catatan
Kaki: Di film LIAR diperankan oleh Fanny Fabriana.
**
--------------------|||---------------|||---------- Nuri Maulida.
Hening sejenak. Cicik
mencubit perut Intan yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum-senyum. Maksudnya
agar Intan ngobrol sama Irgi sepatah dua patah kata. Irgi menatap arloji di
tangan kirinya, lalu berkata, “Ya udah Mbak, saya permisi dulu. Mohon maaf..”
“Lho, mau ke mana?”
“Masih ada yang mau saya
antar.”
Intan yang berdiri di
sebelah kiri Irgi, tersenyum sambil mengangguk. Namun tiba-tiba Lili muncul
sambil bertutur, “Tunggu Mas! Tunggu sebentar!”
“Kenapa Mbak?” sahut Irgi
agak terkejut. Lili yang mukanya tampak gusar, menjawab, “Kita mau complain.* Masa’ pizzanya hangus sih!?”
*Catatan Kaki: Mengeluh, protes
“Hah? Hangus?” sahut Irgi
terkejut. Lili melanjutkan, “Apa baru pertama nganter pizza? Iya!?”
Intan yang berada di
samping kanan Lili, membuka kerdus pizza itu, dan...ia melihat pizzanya yang
hangus tadi. Ia yang pemalu, tidak bisa bicara apapun selain bergumam, “Kalian
ini..cuma mau ngerjain dia.”
Cicik pun mengeluh, “Eh
iyaa. Hey Mas! Ini bukan pizza. Ini buat nimpukin
garam kalii’!“
Irgi yang kebingungan,
berkata lembut, “Mohon maaf Mbak, pizzanya biar saya tukar aja.”
Lili yang marah, menyahut,
“Ya udah, tukar! Yang ini biar di sini aja!”
Lili hanya pura-pura marah,
sebab ketika Irgi tidak menatapnya, ia tersenyum ke arah Cicik yang berdiri di
samping kirinya. Ia melanjutkan, “Cepetan
ya Mas, soalnya mau kita pakai untuk acara.”
“Dan tolong jangan basah..”
sambung Cicik.
“Basah?” sahut Irgi tidak
mengerti. Cicik melanjutkan, “Ya elaah. Ini kan mendung, mau hujan. Jadi tolong
jangan basah ya?”
Irgi mengangguk, “Saya
permisi dulu ya Mbak. Mohon maaf sekali lagi.”
“Nggak usah lama-lama ya?”
sahut Lili. Ketika Irgi sudah lenyap, Lili dan Cicik tertawa geli dengan suara
keras. Cicik merebahkan tubuhnya di sofa. Intan yang juga tersenyum, berkata,
“Lo semua udah keterlaluan. Hih hi...”
Irgi kembali ke restorannya
untuk mengambil pizza yang baru. Ia bergerak cepat karena berlomba dengan air
hujan yang sebentar lagi menyiram bumi. Sesekali ia tunjukkan sisa-sisa
kemampuan membalapnya. Ia tiba di kediaman Intan seiring dengan hujan yang
turun dengan lebatnya. Pintu rumah mewah itu terbuka, dan muncullah Intan
dengan wajah memelas, memelas karena merasa iba pada Irgi yang dikerjain kedua temannya. Irgi langsung
menyerahkan pizza pada Intan. Dengan badan basah kuyub oleh air hujan, Irgi
berkata, “Ini nggak usah dibayar lagi, soalnya untuk ganti yang tadi.”
“Aduuh..makasih banget ya
Mas ya?”
“Iya, sama-sama Mbak.”
Intan masuk ke dalam,
mendekati Cicik dan Lili, sementara Irgi berteduh di halaman rumah besar tersebut. Lili bertanya,
“Lho, Irgi-nya mana?”
“Di depan.”
“Kok nggak diajak masuk?”
tanya Cicik. “Di luar hujan deras lho.”
“Iya Nik,” sambung Lili sambil menarik
tangan Intan yang duduk di karpet. “Masa’ lho tega melihat dia kehujanan? Nanti
kalau dia sakit gimana?”
“Tapi dia terburu-buru, mau
keliling lagi.”
Lili dan Cicik memaksa
Intan untuk mengajak Irgi berteduh. Dua gadis ceriwis ini menarik tubuh Intan.
Intan berkata, “Dia mau nganter
pesanan lagi.”
“Enggak!” sahut Cicik. “Lo
harus turun, terus ajak dia ke sini. Ayo!”
Intan berjalan menembus
derasnya hujan. Ia membawa dua payung. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk
Irgi. Payung yang untuk Irgi itu lebih besar dari payung ia pakai. Sesekali ia
meringis menahan dinginnya angin dan air hujan. Irgi yang berteduh di dekat
pagar, menatap Intan dengan raut wajah tidak suka, tidak suka karena merasa
merepotkan. Ia berkata, “Mbak nggak papa
kok Mbak!”
Setelah berdiri sekitar 150
cm di hadapan Irgi, Intan berkata lembut, “Ehmm...Mas..ini hujannya memang
gedhe banget...mending* di atas saja
dulu Mas..
*Catatan Kaki: Lebih Baik.
Irgi menggelengkan kepala
sambil tersenyum, “Saya udah biasa Mbak, nggak papa Mbak. Saya harus segera jalan lagi. Hujan deras begini
biasanya nggak lama kok.”
Intan menatap Cicik dan Lili yang berada di
teras atas. Dua kawannya itu terus membujuknya. Ia kembali menatap Irgi, lalu
berkata dengan nada agak memelas, “Mas..daripada temen-temen saya bawel, mending
ikut aja ya Mas ya?”
Irgi menatap Cicik dan Lili yang memang
bawel, lalu kembali menatap Intan. Irgi yang kalem, akhirnya merasa iba melihat
ketulusan gadis di hadapannya itu. Intan berkata lagi, “Ayo Mas (menyerahkan
payung). Itu bajunya udah basah semua. Nanti bisa sakit lho.”
Irgi menerima payung besar
dari Intan. Ia membuka payung itu sambil berkata, “Jadi ngerepotin nih Mbak..”
“Ah enggak (tersenyum malu)..”
“Mbaknya pakai yang ini aja
deh, saya pakai yang itu.”
“Iya-iya..” sahut Intan
sambil menukar payungnya yang kecil dengan payung besar yang dipakai Irgi.
Melihat kedekatan mereka, Cicik dan Lili semakin bersorak gembira. Dua gadis
centil ini seolah berkata, “Mereka cocok banget ya?”
Irgi berjalan mengikuti
Intan menuju teras atas rumah itu. Setelah sampai, Cicik dan Lilik langsung
mengajak Irgi masuk, namun Irgi menolak halus dengan berkata, “Makasih banyak
Mbak, baju saya basah semua.”
“Ajak Irgi masuk!” ujar
Lili pada Intan. Cicik menyambung, ”Nanti bisa masuk angin lho.”
“Silahkan masuk Mas..” ujar
Intan lembut. Irgi tersenyum malu, “Makasih Mbak, saya di sini aja, nanti saya
bisa mbasahin rumah.”
“Duduk di sini aja?”
Irgi mengangguk. Intan
berkata pada kedua temannya, “Dia nggak mau masuk,” lalu kembali menatap Irgi,
“Bener di sini aja? Yakin?”
Irgi kembali mengangguk
sambil tersenyum. Intan berkata, “Ya udah, silahkan,” setelah itu ia mendorong
tubuh kedua kawannya ke dalam. Irgi pun duduk sendirian di luar. Ia melepas
topi merahnya yang juga basah kuyub. Beberapa menit kemudian hujan berhenti.
Irgi langsung memohon diri, setelah sebelumnya berterima kasih pada tiga gadis
cantik itu. Ketika ia sudah berada di atas motornya, Cicik berkata, “Besok
pesan pizza lagi ya? Pesan yang banyak. Hi hi hi...”
“Sering-sering ke sini ya?”
sambung Lilik. Irgi hanya tersenyum malu.
---XXXXX---
Di sebuah rumah kosong yang
cukup luas, tampaklah seorang pria botak yang berdiri di hadapan pria agak
tinggi berambut gondrong. Ternyata itu Jajang dan anak buahnya. Jajang yang
marah itu menampar muka pria yang rambutnya dikucir. Ia membentak, “Goblog!
Jaga satu motor aja nggak becus! Tolol!” diam sejenak, “Lo bilang dia adiknya
Indra?”
Pria berambut gondrong yang
ketakutan itu mengangguk. Jajang bicara lagi, “Kok bisa!? Huh! Bikin malu!”
diam sejenak, “Lain kali pakai otakmu!”
Jajang mendorong tubuh pria
gondrong, lalu melangkah ke kursi. Ia menatap anak buahnya yang lain yang
sedang duduk. Ia membentak, “Lo juga goblog! Penakut! Sama anak ingusan aja
takut! Huh ( menampar muka pemuda itu)!”
Sorry Boss..” sahutnya
ketakutan. Jajang menghisap rokok, lalu berkata, “Ketololan kalian bisa
mengancam nama besar Geng Macan! Kelemahan kalian bisa menjatuhkan nama besar
Jajang!” diam sejenak, “Oke..besok pimpinan Geng Macan ini akan turun sendiri.”
Langit mulai gelap karena sang
surya hampir tenggelam. Irgi berjalan pulang melewati jalan sepi. Tiba-tiba
ketenangannya hilang oleh kehadiran dua pria yang menghadangnya. Mereka
berboncengan dengan motor bebek. Ternyata itu Jajang dan si gondrong tinggi
besar yang kemarin mau ribut dengan Bayu. Irgi yang tidak sempat lari atau
sembunyi, hanya pasrah melihat musuh utamanya menghampirinya.
Jajang memelototi Irgi,
lalu berkata, “Masih hidup lo?” diam beberapa detik, “Mau jadi orang bener lo sekarang?”
Irgi hanya diam sambil
menunduk. Jajang berkata sambil menunjuk muka Irgi, “Adik lo punya urusan sama
gue.” Diam beberapa detik, “Suruh hati-hati.” Diam beberapa detik. “Jangan
macam-macam...kalau nggak ingin MAMPUS!” diam sejenak, “Lo tahu gue kan?”
Setelah puas memperingatkan
Irgi, Jajang dan si gondrong brewok langsung lenyap. Irgi pun pulang dengan
lesu. Setiba di rumah, ia beristirahat sejenak di ruang tamu. Sekitar dua menit
kemudian datanglah Bayu dengan motornya. Begitu masuk ke ruang tamu, Bayu agak
terkejut melihat Irgi ada di situ, namun hal itu hanya berlangsung sebentar. Ia
langsung duduk sambil melepas sepatunya. Irgi yang mukanya tampak murung,
berkata tanpa menatap adiknya,
“Motor gue kok ada di
sini?”
Diam sejenak. Bayu yang
berusaha tetap tenang, menyahut, “Nemu
gue...di Kemayoran.”
Diam sejenak, lalu Irgi
kembali bertanya, “Yang bawa?”
Bayu mengernyitkan dahinya,
“Nggak tahu gue...nggak kenal.”
Irgi yang mukanya semakin
serius, berkata, “Nggak mungkin lo nggak kenal.”
Diam sejenak. Bayu yang
emosinya mulai naik, bertanya, “Lo kenapa tiba-tiba ngurusin motor?” diam sejenak, “Waktu motor itu hilang...lo ngapain?”
Irgi diam saja. Bayu
berkata, “Jawab dong...”
Setelah diam sejenak, Irgi
berkata, “Cepat balikin tuh
motor...daripada panjang nanti urusannya. Mau mati lo!?”
Bayu berdiri, “Ngapain gue balikin? Itu motor-motor kita. Bokap dulu yang beli buat kita.”
“Bokap juga lebih
mengutamakan nyawa di atas motor.”
Hening sejenak. Emosi Bayu
mulai terbakar. Ia yang berdiri di hadapan Irgi yang duduk, berkata, “Gik..buat
gue, motor itu bukan sekedar motor. Itu harga diri!” Diam sejenak. “Huh! Kayaknya lo jadi cowok udah nggak punya
harga diri.”
Irgi yang juga mulai emosi,
menatap tajam Bayu sambil berkata, “Lo kok susah banget sih dikasih tahu!?”
diam beberapa detik, “Ini demi keselamatan lo Bay!”
Bayu tersenyum mengejek,
“Gue kan pernah ngomong sama lo. Mulai sekarang, lo nggak usah ngatur-ngatur
gue lagi. Lagian, motor itu gue yang dapet.
Mau gue taruh sini, mau gue jual, mau gue pakai ke mana-mana, ya suka-suka
gue.” Diam sejenak. “Daripada lo ngurusin
gue, mending lo ngurusin jajanan jenis apa yang mau lo antar besok.”
Setelah berkata begitu, Bayu masuk ke
dalam, meninggalkan Irgi yang bengong. Irgi benar-benar stress mengurusi
adiknya yang kelewat mbeling. Namun
ia sudah berjanji pada almarhum ayahnya, bahwa sebisa mungkin ia tetap akan berusaha
menjaga dan mengurus Bayu, dan untuk sekarang ia hanya bisa melakukannya secara
diam-diam. (bersambung)
---XXXXX---

0 comments:
Post a Comment