Friday, 12 July 2013

New LIAR: Kuda Mas (Kurir dan Gadis Manis) ; Bagian Keempat

Karyawan Terbaik
Bagi orang normal yang ingin hidup sehat dan teratur, malam itu dipakai untuk istirahat atau tidur, setelah bekerja sejak pagi sampai siang atau pagi sampai sore. Namun hal itu tidak diperhatikan oleh Bayu yang semakin hari semakin gila balapan. Hampir setiap hari Bayu berlatih, sehingga membuatnya semakin tangguh. Ia sering menang di setiap lomba ngetrack yang ia ikuti. Tinggal dipoles sedikit, kemampuannya sudah sama dengan sang kakak, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih tangguh.
    
    Malam itu Bayu bertanding dengan beberapa geng motor, termasuk Geng Macan. Ia berhasil menjuarai pertandingan keras tersebut. Ia berdiri di hadapan semua kawannya, lalu berseru, “Siapa yang mau duiiit!!?”
          Tentu saja semua kawannya yang mayoritas urakan itu langsung menerima uang yang ia sebarkan, uang dari hasil balapan. Jumlahnya cukup banyak. Hanya seorang pemuda saja yang tidak ikut berebut uang itu. Ia seorang pemuda berkaca mata. Wajahnya ganteng, badan tinggi dan atletis, sedikit lebih tinggi dari Bayu dan Irgi. Usianya dewasa, sebaya Irgi, atau sedikit lebih tua, sekitar 28-29 tahun, maksimal 30 tahun. Dibandingkan semua kawan Bayu yang ugal-ugalan, dia terlihat yang paling bijak. Penampilannya juga yang paling rapi.   
          Salah seorang kawan Bayu yang baru saja menerima uang, bertanya kepadanya, “Lho, Bang Wiwit nggak ikut ambil bagian? Ini rejeki nomplok buat kite lo Bang.”
          Wiwit* hanya tersenyum, lalu menyahut, “Buat kalian ajalah. Gue merasa nggak ada hak.”
          Ia mendekati Bayu yang sedang kegirangan, lalu bertutur, “Jangan seneng berlebihan Bay. Lo tetap harus kontrol diri lo. Perjuangan lo masih panjang lho.”
          “Iyaa, gue tahu apa yang harus gue lakuin. Tenang ajalah..”
         *Catatan Kaki: Di Film Liar diperankan oleh Gunawan
          Setelah sorak penonton mulai mereda, Bayu mendekati seorang pria dari Geng Macan. Pria berjaket itu duduk di sebuah motor bebek. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rapat oleh helm cakil. Bayu mengamati motor pria itu, lalu menyentuh stangnya. Ia bertanya, “Dulu gue dan abang gue punya motor persis kayak gini...tapi sekarang hilang.” Diam sejenak. “Hilangnya kira-kira hampir setahun yang lalu.”
          Diam lagi sejenak, lalu bicara lagi, “Kalau gue boleh tahu, motor ini lo dapet dari mana?”
          Hening sejenak. Bayu yang mulai emosi itu berkata lagi, “Gue tanya sekali lagi sama lo. Motor ini lo dapet dari mana!?”
          Pria dari Geng Macan itu diam saja. Tentu saja amarah Bayu meledak. Ia berkata, “Lo nggak punya mulut ya? Atau budheg?...Motor ini lo dapet dari mana!?”
          Si pria berhelm cakil tetap membisu. Bayu yang amarahnya meledak, membentak “ANJING!!!” sambil menendang kaki kanan pria itu. Tentu saja suasana menjadi heboh. Beberapa pemuda geng Macan langsung mendekati Bayu, namun lima dari semua kawan Bayu juga ikut merangsek. Mereka saling memaki dan saling menunjuk dengan berkata, “Hey! Ngapa lo!? Mau ngajak ribut di sini!?”
          Seorang kawan Bayu yang bertubuh tinggi dan agak gemuk, berkata, “Kalian mau balapan apa mau berantem!? Ha!? Kalau berantem ya oke aja. Ayo!”
          Kawan Bayu yang lain berkata, “Balapan ya balapan, yang sportif! Akui kesalahan dengan jantan!”
          Wiwit yang berdiri di belakang lima kawan Bayu itu berusaha melerai. Bayu berseru pada Geng Macan, “Gue cuma nanya sama temen kalian ini! Motor ini dia dapet dari mana!? Tapi dia diam aja!”
          Pria berhelm cakil itu bangkit dari duduknya. Bayu mendekatinya, lalu membentak, “Anjing!! Lo maling ya!? Huh (mendorong tubuh pria berhelm)!? Jadi lo yang udah ngambil motor ini!? Haa!?”
          Pria berhelm mundur beberapa langkah, dan ganti seorang pria tinggi besar yang menghadapi Bayu. Pria itu sejak tadi sudah berdiri di belakang pria berhelm cakil. Rambutnya keriting gondrong. Jenggot dan kumisnya cukup tebal. Usianya di atas tiga puluh. Bayu sudah siap duel dengan pria berwajah sangar itu, namun Wiwit langsung mencegahnya dengan menariknya mundur.
          “Udah Bay, udah! Sabar!”
           “Anjing! Gue cuma nanya, kok nggak dijawab-jawab! Huh!”
          Karena merasa kalah jumlah, geng Macan akhirnya mundur. Mereka pergi dengan mendapat ejekan dari kawan-kawan Bayu. Mereka pulang dengan terhina. Wiwit berkata pada Bayu, “Hati-hati Bay! Lo kan tahu, mereka itu geng Macan, gengnya Jajang, geng paling ditakuti di...”
          “Peduli setan!” potong Bayu sambil mengelus motornya. “Mau geng Macan, Geng Singa, Geng Iblis Neraka sekalipun! Gue nggak takut! Ini motor-motor gue. Gue cuma ambil hak gue. Gue cuma ambil barang gue yang udah lama hilang.”
          Bayu menghidupkan mesin motornya, lalu menekan gasnya beberapa kali. Memang benar. Itulah motor yang dulu dipakai Irgi balapan. Setelah Bayu mematikan mesin motor tersebut, Wiwit berkata, “Bay...lo baru aja ngajak perang Geng Macan. Lo udah menabuh genderang perang.”      
          Keesokan harinya, ketika Irgi mau berangkat kerja, ia melihat motornya di halaman rumahnya. Ia terkejut melihat motornya yang dulu dirampas oleh Jajang dan konco-konconya. Ia mengamati dan memeriksa motor tersebut. Mungkin hanya persis atau mirip dengan motornya dulu. Ternyata tidak. Motor itu benar-benar motornya, motor kesayangan yang sangat berdayaguna. Tentu saja ia heran bukan main. Ia menggelengkan kepala, lalu bergumam, “Pasti karena balapan semalam. Pantes aja, dia baru pulang pagi.“
          Beberapa saat kemudian Irgi sampai di kantornya, restoran pizza. Ketika ia berjalan melewati sebuah ruangan, ada suara lelaki yang memanggilnya: “Indraa!” Irgi memasuki ruangan itu. Dilihatnya seorang pria kecil berusia sekitar 47 tahun. Ia duduk menghadap meja. Rupanya ia pimpinannya restoran pizza tersebut. Irgi menunduk sambil bertanya, “Pak Maji* panggil saya?”
          *Catatan Kaki: Di film Liar diperankan oleh Zaenal Abidin Domba
          “Iya...duduklah.”
          Irgi duduk di hadapan Maji. Maji mengambil sesuatu dari laci di mejanya, lalu berkata, “Kamu sudah cukup lama kerja di sini.” Hening sejenak. “Ini (menyerahkan amplop cokelat besar)..bacalah.”
          Irgi agak terkejut. Ia menerima amplop cokelat itu, lalu bertanya, “Surat PHK buat saya?”
          Maji tersenyum, “Jangan terlalu cepat berprasangka. Baca dulu. Ayo..”
          Irgi membaca kertas di amplop besar itu. Tak lama kemudian ia tersenyum gembira. Maji berkata, “Selamat ya? Kamu terpilih sebagai karyawan terbaik di restoran ini.”
          Sesaat kemudian Maji mengajak Irgi bertemu teman-temannya di sebuah ruangan. Sorak gembira dan tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Maji menyentuh bahu Irgi, lalu menjabat tangannya sambil berkata, “Selamat ya? Kamu sudah memberi motivasi buat semua karyawan di sini. Teruslah berkarya dengan tekun.”
          “Trima kasih banyak Boss..” sahut Irgi tersenyum gembira.

                                                        ---XXXXX---

          Di dalam sebuah rumah besar dan mewah, ada seorang gadis yang membuka sebuah oven. Ia ingin melihat makanan yang dibuatnya. Ternyata dia si manis pipi lesung yang pernah bertemu Irgi di halte. Ia terkejut melihat makanan buatannya hangus. Seorang kawannya, gadis yang kemarin menjemputnya di halte, berkata, “Yaahh...Moniik. Kok gosong sih pizzanya? Emang lo ke mana aja?”
          “Aduh maaaf,” sahut Monik kebingungan, “tadi aku lagi ditelpon teman.”        
           Temannya yang satunya, yang kemarin juga menjemput Monik di halte, menyambung, “Aduh Moniik. Lo itu kalau masak yang fokus dong, jangan ditinggal ke mana-mana.”
          Temannya yang duduk di meja, berkata, “Buat yang lagi belajar masak kayak lo, kalau lagi masak jangan nyambi yang lain. Ya udah, kita pesan pizza aja.”
          Monik melihat kawannya membaca buku telepon, lalu berkata, “Gue mandi dulu ya? Bau nih...”
          Si gadis yang memakai kaos putih tanpa lengan memesan pizza. Ia berkata pada telepon yang digenggamnya, “Kita pesan pizza yang super. Dua ya Mas. Oke, makasih.”
          Sesaat kemudian, datanglah si mantan pembalap jalanan. Ia mengetuk pintu rumah besar itu, dan muncullah si gadis yang memakai kaos hitam bertuliskan ‘Beatles.’ Gadis lumayan cakep itu terkejut melihat Irgi, namun terkejut karena gembira. Irgi berkata, “Pizzanya Mbak..”
          “Iya..” sahutnya sambil tersenyum gembira. Kawannya yang berada di ruang tengah, yang memakai kaos putih dan rok mini hitam, berseru: “Ciik! Ini duitnya Ciik!”
          “Ba..bawa sini aja Lik!” sahutnya sambil tetap menatap Irgi. Irgi berkata, “Pesanan Ibu Intan Monik?”
          “Iya..”
          “Ada dua ya Mbak. Semuanya sembilan enam. Silahkan dicek dulu.”             
          Si gadis kaos putih yang dipanggil ‘Lik’ tiba di pintu. Ia juga tersentak melihat Irgi, tersentak karena gembira. Dua gadis ini diam beberapa detik. Irgi yang agak bingung, berkata, “Mbak..ini pizzanya, silahkan.”
          Lik tersenyum sambil bertanya, “Berapa semuanya Mas?”
          “Sembilan enam.”
          Lik hanya mengambil notanya, lalu berkata, “Sebentar ya Mas..nukar duit dulu (mengajak Cik berlari ke dalam)..”
          “Ee ini Mbak..!” ujar Irgi sambil menyodorkan pizzanya. Ia agak bingung melihat sikap dua gadis itu. Begitu sampai di ruang tengah, Cik dan Lik bersorak seperti anak kecil. Lik berseru, “Moniik! Buruan ganti bajunyaa!” setelah itu berpelukan dengan Cik sambil berkata, “Asyik banget!”
          Irgi yang kebetulan mendengar suara-suara itu, hanya mengernyitkan dahinya. Beberapa detik kemudian ia juga mendengar suara wanita lain yang berkata, “Iya-iya iya-iyaa.” 
          Ternyata itu Monik yang sudah selesai mandi. Lik berkata, “Sini Mon, cepat!”  
          “Ada apa sih?” tanya Monik penasaran. Lik menyerahkan nota dan uang, lalu berkata, “Lo aja yang bayar.”
          “Kenapa mesti gue? Lo kan bisa?”
          “Tapi bagusnya lo aja. Ayolah!”
          Cik menyambung, “Pokoknya lo keluar dulu, lo lihat dulu siapa yang datang.”
          Monik yang agak kesal, menyahut, “Hiih, muka-muka jahil!”
          “Nggak, bukan!” sahut keduanya. “Suwer* deh! Betul!”
          Cik berkata, “Udah sana cepetan!” sambil mendorong punggung Monik. Monik memakai kaos oranye lengan panjang dan celana selutut. Ia terlihat yang paling sopan jika dibandingkan kedua temannya yang seksi. Di hidungnya masih ada kapas. Rambut panjangnya masih banyak penjepitnya, namun ia tidak begitu menyadarinya karena terburu-buru. Ia melangkah perlahan menuju ke ruang tamu. Awalnya ia gugup, namun beberapa detik kemudian ia cuek saja terhadap siapapun yang akan ia temui di serambi rumah.       
          *Catatan Kaki: Maksudnya ‘Swear’ atau sumpah.
          Setelah sampai di depan, ia melihat seorang pria yang membelakanginya. Ia berkata lembut, “Mas.” Irgi menoleh. Ia agak terkejut melihat Monik. Ia seperti pernah melihat gadis di hadapannya itu. Demikian pula dengan Monik yang mengernyitkan dahinya. Ia melihat seorang pemuda dewasa berwajah lumayan tampan. Usianya sekitar 26-27 tahun. Tinggi badannya sekitar 172-173 cm, postur yang sudah tergolong tinggi menurut ukuran Asia, termasuk Indonesia. Badannya langsing dan berisi. Sore ini ia memakai jaket kelabu tua dan topi merah, yang merupakan seragam dari restoran tempat ia bekerja.
          Demikian pula dengan Irgi yang pikirannya menggambarkan ciri wanita di hadapannya. Ia melihat seorang gadis muda nan cantik dan manis. Lesung menghiasi kedua pipinya. Badan agak gemuk atau montok, dan sudah tergolong tinggi menurut wanita Indonesia. Tingginya kurang lebih 160 cm, sedikit lebih pendek dari kedua temannya tadi. Rambutnya yang sebenarnya panjang lurus itu menjadi berombak karena habis mandi. 
          Setelah pada diam beberapa detik, Irgi berkata, “Pizzanya Mbak..”
          Monik tidak langsung menerima pizza itu. Ia mengangkat jari telunjuk kanannya di depan dada, lalu berkata sambil tersenyum, “Kayaknyaa, pernah ketemu ya kita. Tapi di mana ya?”
          Irgi tersenyum, “Di halte Mbak, waktu hujan.”
          “Yaahh (tersenyum gembira)..o iya di haltee. Hih hi hi. Eh..itu udah berapa waktu yang lalu ya? Udah ada sebulan belum?”
          “Kira-kira tiga minggu yang lalu Mbak..”
          “Oh iya ya, tiga mingguan. Ehmm...”
          Setelah senyum Monik hilang, Irgi kembali berkata, “Pizzanya Mbak..”
          “Oh iya (seperti orang yang sadar dari melamun)..”
          “Silahkan Mbak..”
          “Ehmm..berapa? berapa semua?”
           “Itu bonnya di tangan Mbak.”
          “Oh iya (menatap secarik kertas di tangan kanannya).  Ini Mas..”
          Irgi menerima uang seratus ribu dari Monik, lalu mengambil kembalian di sakunya, namun Monik berkata, “Eh udah, nggak usah kembali. Ambil aja semua. Ambil..”
          “Oh..makasih banyak Mbak. Ini Mbak (menyerahkan pizza yang dibungkus plastik putih), silahkan.”
          Monik hendak menerima pizza itu, namun mendadak ada suara berbisik dan siulan yang datang dari belakangnya. Ternyata itu Cik dan Lik. Monik menoleh ke belakang. Dilihatnya kedua temannya itu memberi isyarat agar Irgi disuruh masuk. Irgi kembali berkata, “Mbak..pizzanya...”
          Monik tersenyum, “Maaf Mas, ditaruh dalam aja.”
          Irgi mengangguk, lalu mengikuti Monik masuk ke rumah besar dan mewah itu. Lik berkata, “Masuk Mas, nggak usah sungkan.” 
          “Anggap aja rumah sendiri,” sambung Cik yang berdiri di sampingnya.
          “Iya Mbak..” sahut Irgi tersenyum malu. Tiba-tiba Cik berseru, “Eee stop! Stop dulu! Sepatunya Mas..dilepas dulu ya?”
          “Oh iya..maaf Mbak.”
          Lik menyuruh Monik melepas kapas yang masih menempel di hidungnya. Irgi  mendekati tiga gadis cantik ini, lalu bertanya sambil menyodorkan pizzanya, “Ini mau ditaruh di mana Mbak?”
          Lik menerima pizza itu, lalu menaruhnya di ruang makan plus dapur. Lik menaruh pizza yang baru matang itu di atas piring bersih, lalu menaruh pizza hangus buatan Monik tadi di kerdus pizza. Entah apa maksudnya. Mungkin ia berniat menjahili Irgi. Sementara itu, Cik yang berdiri di hadapan Irgi bersama Monik, bertanya, “Mas...namanya siapa?”
          “Saya Irgi Mbak.”
          “Siapa?”
          “Irgi.”    
          “Ooo Mas Irgi (sambil menyentuh bahu Monik yang tersenyum malu). Tapi di situ (nama di jaket Irgi yang di dada kiri) kok Indra?”
          Irgi tersenyum, “Nama saya Irgi Indra..”
          “Irgi Indra..terus?”
          “Irgi Indra Haryadi.”
          “Irgi Indra Haryadi. Wauw..nama yang bagus..kayak orangnya.”
          Irgi tersenyum malu. Cik berkata, “Aku Citra, panggilannya Cicik.* Ini Intan atau Monik, yang tadi pesan pizza.”
          Irgi melirik Intan yang tersenyum malu. Citra atau Cicik melanjutkan, “Kalau yang lagi di dalam itu Lili.**” Hening sejenak. “Terus kita harus manggil apa nih? Irgi atau Indra?”
          Irgi tersenyum, “Silahkan panggil apa aja, terserah Mbaknya.”
          “Biasanya dipanggil apa?”
          “Yang manggil saya Irgi cuma orang rumah. Kalau udah di luar rumah, mayoritas manggil saya Indra.”
          “Ya udah deh, kita yang minoritas aja (menatap Intan yang tersenyum manis). Mas Irgi, makasih ya..pizzanya datangnya cepat.”
          Irgi tersenyum, “Iya..sama-sama Mbak. Saya hanya berusaha disiplin.”
          *  Catatan Kaki: Di film LIAR diperankan oleh Fanny Fabriana.
          **    --------------------|||---------------|||----------   Nuri Maulida.
          Hening sejenak. Cicik mencubit perut Intan yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum-senyum. Maksudnya agar Intan ngobrol sama Irgi sepatah dua patah kata. Irgi menatap arloji di tangan kirinya, lalu berkata, “Ya udah Mbak, saya permisi dulu. Mohon maaf..”
          “Lho, mau ke mana?”
          “Masih ada yang mau saya antar.”
          Intan yang berdiri di sebelah kiri Irgi, tersenyum sambil mengangguk. Namun tiba-tiba Lili muncul sambil bertutur, “Tunggu Mas! Tunggu sebentar!”
          “Kenapa Mbak?” sahut Irgi agak terkejut. Lili yang mukanya tampak gusar, menjawab, “Kita mau complain.* Masa’ pizzanya hangus sih!?”
*Catatan Kaki: Mengeluh, protes
          “Hah? Hangus?” sahut Irgi terkejut. Lili melanjutkan, “Apa baru pertama nganter pizza? Iya!?”
          Intan yang berada di samping kanan Lili, membuka kerdus pizza itu, dan...ia melihat pizzanya yang hangus tadi. Ia yang pemalu, tidak bisa bicara apapun selain bergumam, “Kalian ini..cuma mau ngerjain dia.”
          Cicik pun mengeluh, “Eh iyaa. Hey Mas! Ini bukan pizza. Ini buat nimpukin garam kalii’!“
          Irgi yang kebingungan, berkata lembut, “Mohon maaf Mbak, pizzanya biar saya tukar aja.”
          Lili yang marah, menyahut, “Ya udah, tukar! Yang ini biar di sini aja!”
          Lili hanya pura-pura marah, sebab ketika Irgi tidak menatapnya, ia tersenyum ke arah Cicik yang berdiri di samping kirinya. Ia melanjutkan, “Cepetan ya Mas, soalnya mau kita pakai untuk acara.”
          “Dan tolong jangan basah..” sambung Cicik.
          “Basah?” sahut Irgi tidak mengerti. Cicik melanjutkan, “Ya elaah. Ini kan mendung, mau hujan. Jadi tolong jangan basah ya?”   
          Irgi mengangguk, “Saya permisi dulu ya Mbak. Mohon maaf sekali lagi.”
          “Nggak usah lama-lama ya?” sahut Lili. Ketika Irgi sudah lenyap, Lili dan Cicik tertawa geli dengan suara keras. Cicik merebahkan tubuhnya di sofa. Intan yang juga tersenyum, berkata, “Lo semua udah keterlaluan. Hih hi...”
          Irgi kembali ke restorannya untuk mengambil pizza yang baru. Ia bergerak cepat karena berlomba dengan air hujan yang sebentar lagi menyiram bumi. Sesekali ia tunjukkan sisa-sisa kemampuan membalapnya. Ia tiba di kediaman Intan seiring dengan hujan yang turun dengan lebatnya. Pintu rumah mewah itu terbuka, dan muncullah Intan dengan wajah memelas, memelas karena merasa iba pada Irgi yang dikerjain kedua temannya. Irgi langsung menyerahkan pizza pada Intan. Dengan badan basah kuyub oleh air hujan, Irgi berkata, “Ini nggak usah dibayar lagi, soalnya untuk ganti yang tadi.”
          “Aduuh..makasih banget ya Mas ya?”
          “Iya, sama-sama Mbak.”
          Intan masuk ke dalam, mendekati Cicik dan Lili, sementara Irgi berteduh di  halaman rumah besar tersebut. Lili bertanya, “Lho, Irgi-nya mana?”
          “Di depan.”
          “Kok nggak diajak masuk?” tanya Cicik. “Di luar hujan deras lho.”
          “Iya Nik,” sambung Lili sambil menarik tangan Intan yang duduk di karpet. “Masa’ lho tega melihat dia kehujanan? Nanti kalau dia sakit gimana?”
          “Tapi dia terburu-buru, mau keliling lagi.”
          Lili dan Cicik memaksa Intan untuk mengajak Irgi berteduh. Dua gadis ceriwis ini menarik tubuh Intan. Intan berkata, “Dia mau nganter pesanan lagi.” 
          “Enggak!” sahut Cicik. “Lo harus turun, terus ajak dia ke sini. Ayo!”
          Intan berjalan menembus derasnya hujan. Ia membawa dua payung. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Irgi. Payung yang untuk Irgi itu lebih besar dari payung ia pakai. Sesekali ia meringis menahan dinginnya angin dan air hujan. Irgi yang berteduh di dekat pagar, menatap Intan dengan raut wajah tidak suka, tidak suka karena merasa merepotkan. Ia berkata, “Mbak nggak papa kok Mbak!”
          Setelah berdiri sekitar 150 cm di hadapan Irgi, Intan berkata lembut, “Ehmm...Mas..ini hujannya memang gedhe banget...mending* di atas saja dulu Mas..
          *Catatan Kaki: Lebih Baik.
          Irgi menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Saya udah biasa Mbak, nggak papa Mbak. Saya harus segera jalan lagi. Hujan deras begini biasanya nggak lama kok.”
          Intan menatap Cicik dan Lili yang berada di teras atas. Dua kawannya itu terus membujuknya. Ia kembali menatap Irgi, lalu berkata dengan nada agak memelas, “Mas..daripada temen-temen saya bawel, mending ikut aja ya Mas ya?”
          Irgi menatap Cicik dan Lili yang memang bawel, lalu kembali menatap Intan. Irgi yang kalem, akhirnya merasa iba melihat ketulusan gadis di hadapannya itu. Intan berkata lagi, “Ayo Mas (menyerahkan payung). Itu bajunya udah basah semua. Nanti bisa sakit lho.”
          Irgi menerima payung besar dari Intan. Ia membuka payung itu sambil berkata, “Jadi ngerepotin nih Mbak..”
          “Ah enggak (tersenyum malu)..”
          “Mbaknya pakai yang ini aja deh, saya pakai yang itu.”             
          “Iya-iya..” sahut Intan sambil menukar payungnya yang kecil dengan payung besar yang dipakai Irgi. Melihat kedekatan mereka, Cicik dan Lili semakin bersorak gembira. Dua gadis centil ini seolah berkata, “Mereka cocok banget ya?”
          Irgi berjalan mengikuti Intan menuju teras atas rumah itu. Setelah sampai, Cicik dan Lilik langsung mengajak Irgi masuk, namun Irgi menolak halus dengan berkata, “Makasih banyak Mbak, baju saya basah semua.”
          “Ajak Irgi masuk!” ujar Lili pada Intan. Cicik menyambung, ”Nanti bisa masuk angin lho.”
          “Silahkan masuk Mas..” ujar Intan lembut. Irgi tersenyum malu, “Makasih Mbak, saya di sini aja, nanti saya bisa mbasahin rumah.”
          “Duduk di sini aja?”
          Irgi mengangguk. Intan berkata pada kedua temannya, “Dia nggak mau masuk,” lalu kembali menatap Irgi, “Bener di sini aja? Yakin?”
          Irgi kembali mengangguk sambil tersenyum. Intan berkata, “Ya udah, silahkan,” setelah itu ia mendorong tubuh kedua kawannya ke dalam. Irgi pun duduk sendirian di luar. Ia melepas topi merahnya yang juga basah kuyub. Beberapa menit kemudian hujan berhenti. Irgi langsung memohon diri, setelah sebelumnya berterima kasih pada tiga gadis cantik itu. Ketika ia sudah berada di atas motornya, Cicik berkata, “Besok pesan pizza lagi ya? Pesan yang banyak. Hi hi hi...”
          “Sering-sering ke sini ya?” sambung Lilik. Irgi hanya tersenyum malu.

                                               ---XXXXX---

          Di sebuah rumah kosong yang cukup luas, tampaklah seorang pria botak yang berdiri di hadapan pria agak tinggi berambut gondrong. Ternyata itu Jajang dan anak buahnya. Jajang yang marah itu menampar muka pria yang rambutnya dikucir. Ia membentak, “Goblog! Jaga satu motor aja nggak becus! Tolol!” diam sejenak, “Lo bilang dia adiknya Indra?”
          Pria berambut gondrong yang ketakutan itu mengangguk. Jajang bicara lagi, “Kok bisa!? Huh! Bikin malu!” diam sejenak, “Lain kali pakai otakmu!”
          Jajang mendorong tubuh pria gondrong, lalu melangkah ke kursi. Ia menatap anak buahnya yang lain yang sedang duduk. Ia membentak, “Lo juga goblog! Penakut! Sama anak ingusan aja takut! Huh ( menampar muka pemuda itu)!”
          Sorry Boss..” sahutnya ketakutan. Jajang menghisap rokok, lalu berkata, “Ketololan kalian bisa mengancam nama besar Geng Macan! Kelemahan kalian bisa menjatuhkan nama besar Jajang!” diam sejenak, “Oke..besok pimpinan Geng Macan ini akan turun sendiri.”
          Langit mulai gelap karena sang surya hampir tenggelam. Irgi berjalan pulang melewati jalan sepi. Tiba-tiba ketenangannya hilang oleh kehadiran dua pria yang menghadangnya. Mereka berboncengan dengan motor bebek. Ternyata itu Jajang dan si gondrong tinggi besar yang kemarin mau ribut dengan Bayu. Irgi yang tidak sempat lari atau sembunyi, hanya pasrah melihat musuh utamanya menghampirinya.
          Jajang memelototi Irgi, lalu berkata, “Masih hidup lo?” diam beberapa detik, “Mau jadi orang bener lo sekarang?”
          Irgi hanya diam sambil menunduk. Jajang berkata sambil menunjuk muka Irgi, “Adik lo punya urusan sama gue.” Diam beberapa detik, “Suruh hati-hati.” Diam beberapa detik. “Jangan macam-macam...kalau nggak ingin MAMPUS!” diam sejenak, “Lo tahu gue kan?”
          Setelah puas memperingatkan Irgi, Jajang dan si gondrong brewok langsung lenyap. Irgi pun pulang dengan lesu. Setiba di rumah, ia beristirahat sejenak di ruang tamu. Sekitar dua menit kemudian datanglah Bayu dengan motornya. Begitu masuk ke ruang tamu, Bayu agak terkejut melihat Irgi ada di situ, namun hal itu hanya berlangsung sebentar. Ia langsung duduk sambil melepas sepatunya. Irgi yang mukanya tampak murung, berkata tanpa menatap adiknya,
          “Motor gue kok ada di sini?”
          Diam sejenak. Bayu yang berusaha tetap tenang, menyahut, “Nemu gue...di Kemayoran.”
          Diam sejenak, lalu Irgi kembali bertanya, “Yang bawa?”
          Bayu mengernyitkan dahinya, “Nggak tahu gue...nggak kenal.”
          Irgi yang mukanya semakin serius, berkata, “Nggak mungkin lo nggak kenal.”
          Diam sejenak. Bayu yang emosinya mulai naik, bertanya, “Lo kenapa tiba-tiba ngurusin motor?” diam sejenak, “Waktu motor itu hilang...lo ngapain?”
          Irgi diam saja. Bayu berkata, “Jawab dong...”
          Setelah diam sejenak, Irgi berkata, “Cepat balikin tuh motor...daripada panjang nanti urusannya. Mau mati lo!?”       
          Bayu berdiri, “Ngapain gue balikin? Itu motor-motor kita. Bokap dulu yang beli buat kita.”
          “Bokap juga lebih mengutamakan nyawa di atas motor.”
          Hening sejenak. Emosi Bayu mulai terbakar. Ia yang berdiri di hadapan Irgi yang duduk, berkata, “Gik..buat gue, motor itu bukan sekedar motor. Itu harga diri!” Diam sejenak. “Huh! Kayaknya lo jadi cowok udah nggak punya harga diri.”
          Irgi yang juga mulai emosi, menatap tajam Bayu sambil berkata, “Lo kok susah banget sih dikasih tahu!?” diam beberapa detik, “Ini demi keselamatan lo Bay!”
          Bayu tersenyum mengejek, “Gue kan pernah ngomong sama lo. Mulai sekarang, lo nggak usah ngatur-ngatur gue lagi. Lagian, motor itu gue yang dapet. Mau gue taruh sini, mau gue jual, mau gue pakai ke mana-mana, ya suka-suka gue.” Diam sejenak. “Daripada lo ngurusin gue, mending lo ngurusin jajanan jenis apa yang mau lo antar besok.”
          Setelah berkata begitu, Bayu masuk ke dalam, meninggalkan Irgi yang bengong. Irgi benar-benar stress mengurusi adiknya yang kelewat mbeling. Namun ia sudah berjanji pada almarhum ayahnya, bahwa sebisa mungkin ia tetap akan berusaha menjaga dan mengurus Bayu, dan untuk sekarang ia hanya bisa melakukannya secara diam-diam. (bersambung)

                                                      ---XXXXX---
 

0 comments:

Post a Comment

 
;